Kehampaan itu menakutkan. Gelap yang begitu pekat—seolah tak ada tempat berpijak yang solid. Tak ada suara, hanya hampa dan kosong. Gelap, dan gelap. Ino seolah melayang di antara ketiadaan. Tubuhnya mati rasa—seolah segala organ sensoriknya dirampas paksa dari tubuhnya.
Berbagai kata tanya tentang 'apa', 'dimana', dan 'bagaimana', bertubi-tubi menghantam keras pemikirannya—mendobrak kepalanya untuk segera menghasilkan satu dua kata sebagai jawaban.
Namun hanya kesia-siaanlah yang ia temui.
Seberkas cahaya membuat aliran pertanyaan di kepalanya terputus.
Makin lebar, makin terang. Begitu silau.
Dan sosok lelaki berambut pirang kusam dengan mata cemerlang yang tersenyum lembut menatapnya membuat dunianya terhenti—pemikirannya terlempar pada kepingan memori yang tertanam di kepalanya—menjadikan detik-detik terasa begitu lamban.
Dan sekelebat bayang hitam merengut segala cahaya itu.
Mimpi buruk yang tak pernah berhenti.
Disclaimer: Saya bukan pemilik sah dari series Naruto. Naruto adalah milik Masashi Kishimoto. Dan tidak ada keuntungan komersil yang saya dapat dari pembuatan fanfiction ini.
Warning: AU, possibly OOC, author males riset, fakta ilmiah yang ada disini belum tentu valid
.
.
.
Ino sedang mengecek tumpukan dokumen yang menggunung di mejanya, ketika Kiba Inuzuka datang dengan beberapa lembar map biru di tangan kiri dan sebuah cangkir kopi berwarna putih gading di tangan kanannya.
"Hoi, Yamanaka." Si gadis pirang mendelik tak suka ketika suara Kiba yang keras dan menyebalkan menyusup tanpa permisi ke gendang telinganya. Polusi suara.
"Apa ini sopan santunmu?" balas gadis itu penuh dengan sinisme. Ia meletakan pena dan kertasnya di atas meja, memberi atensi penuh pada sang pembuat onar; pengacau konsentrasinya. Wajahnya masih terlihat kesal dengan bibir yang cemberut dan alis yang menukik tajam. "Apa," tanyanya galak dan to the point.
Dua lembar map biru disodorkan kearahnya. Ino menerima tanpa tanya, karena gadis itu tahu, cepat atau lambat Kiba akan segera menyatakan kepentingannya.
"Berikan ke Neji." Pemuda berambut cokelat berantakan itu menghirup lagi kopinya dengan santai, mengabaikan sosok rekannya yang mendecih tak suka.
"Kau kira aku kurir?" tanggapnya pedas, tapi gadis itu tetap mengambil map biru itu, dan bangkit berdiri dengan gerakan yang kasar, menimbulkan suara derit meja dan kursi yang cukup memekikan.
Kiba tertawa tipis dari mulut pintu ruang kerja Ino. "Tsunade memanggilku ke ruangannya. Aku buru-buru." Ino melotot ketika mendengar panggilan kurang ajar dari pemuda itu. Kapan-kapan ia akan melaporkannya pada Direktur! "Lagipula, kau 'kan orang baik, hmm?" Kiba tersenyum menggoda sebelum akhirnya kabur keluar dari ruang kerja Ino.
Ino mendesis. "Pelajari tata krama dulu, Idiot!"
.
.
.
Ino berjengit samar ketika sebuah pintu besi dengan segala macam teknologi masa kini menjulang tepat dihadapannya, dan menghalangi lajunya.
Gadis itu merogoh kantung jas putihnya, meraih sebuah kartu berukuran sepuluh kali lima senti berwarna biru pucat, dengan nama lengkapnya yang tercetak—ID card-nya— lalu berhati-hati memasukannya.
Suara desisan samar sempat membuat Ino bersiaga—sesungguhnya ia tak begitu yakin ID card-nya teregistrasi untuk bisa membuka pintu itu, mengingat ia bukan bagian dari tim khusus yang diutus Direktur— namun, ketika suara desisan itu disertai dengan sebuah kata 'welcome' yang tercetak di layar kecil di pinggir pintu, juga pintu yang bergeser perlahan-lahan, Ino mengendurkan adrenalinnya.
Dan rasa heran kembali menyergapnya, ketika ia menemukan koridor putih itu kosong tanpa satupun tanda-tanda kehidupan. Koridor itu tak begitu panjang, dengan cat berwarna putih, dan lampu neon panjang terpasang di langit-langit ruangan dan menyala begitu terang.
Disetiap sisi kiri dan kanannya, terdapat sekitar sebelas pintu berwarna cokelat kayu yang dipoles apik. Lantainya pun berwarna putih mengkilap. Di ujung koridor ada sebuah guci berwarna cream dengan pohon bonsai cantik didalamnya. Di sebelah kanan dan kiri di ujung koridor itu terdapat pula terusan yang berupa lorong lain yang saling terhubung. Seperti membentuk labirin. Ino secara otomatis teringat pada suasana rumah sakit.
Gadis itu perlahan-lahan menyusuri koridor itu. Menatap satu-persatu pintu yang terpampang, menimang-nimang pintu mana yang harus ia tuju.
Ketika gadis itu menemukan sebuah pintu dengan papan putih bertuliskan 'penyilidikan 06'—satu-satunya daun pintu yang tidak terlihat polos— Ino tak dapat menahan kelegaannya.
Tuk, tuk.
Tak ada jawaban.
"Permisi?" Ino mendecak ketika tak ada balasan sama sekali. Ragu-ragu, gadis pirang itu meraih kenop pintu dan memutarnya perlahan. Dan ia nyaris menjerit senang ketika menyadari pintu itu tak terkunci.
Tapi kelegaannya tak bertahan lama, ketika bukan Neji yang ia temukan—melainkan sesosok pemuda yang tengah dalam posisi tidur terlentang di sebuah kasur sederhana. Rasa malu membuat Ino nyaris lari dan kabur dari sini, tapi ia urungkan ketika menyadari satu kejanggalan.
"Ummm ... halo?"
Pemuda itu bergeming. Ino berjalan mendekat, dan butuh tiga detik baginya untuk menyadari identitas lelaki asing itu.
Lelaki ... yang terapung di laut..?
Pemuda itu tertidur dengan posisi terlentang, dalam kondisi yang hanya memakai celana katun berwarna putih kebiruan khas rumah sakit, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos bebas. Matanya terkatup rapat—seolah enggan dibuka— dan nafasnya teratur seperti sedang tertidur.
Ino meletakan beberapa lembar map titipan Kiba di meja kecil, di sebelah tempat tidur sang lelaki. Menunduk lebih rendah untuk bisa menatapnya lebih intens.
Jadi inikah objek dalam kasus pelik yang tengah Shikamaru pegang?
Kulit pemuda itu terlihat begitu pucat—ah, pucat bukan kata yang cukup tepat untuk menggambarkan betapa warna kulit pemuda itu nyaris mendekati warna gigi pada umumnya; putih gading— dengan beberapa gurat sayatan dan bekas luka yang belum sepenuhnya menghilang. Rambutnya berwarna hitam kelam, dan rahangnya tak begitu tegas—menjadikan kesan awet muda yang kentara. Ino bertanya-tanya dalam hati, berapa usia pemuda itu?
Dengar ragu, gadis pirang itu menyentuh lembut lengan putih itu—memastikan pengelihatannya bukan sekedar efek cahaya atau ilusi optik— merasakan tekstur kulit manusia pada umumnya—bahkan dengan kelembutan seperti kulit bayi— tidak sesuai ekspektasi sang gadis. Jari-jari lentiknya menyusuri jaringan otot yang solid itu —mengelus lembut sebuah bekas luka sayatan yang memanjang secara horisontal di dekat siku— terus naik, dan naik hingga ke pangkal lengan.
Ia menatap janggal guratan warna merah pekat yang tercetak apik dengan kulit sekitar tulang selangka sebagai kanvas utamanya. Menyusuri tiap garis yang tercetak membentuk kombinasi beberapa huruf dan angka.
Sebuah tato permanen.
"SAI ... kosong dua..." desisnya tipis, nyaris menyatu dengan keheningan ruangan.
Ketika ia mengangkat kembali pandangannya, dua buah manik guram seolah menangkap dan mengunci pandangannya. Menenggelamnya pada kekelaman yang begitu dalam; tak berdasar. Gadis itu membatu, seperti terhipnotis oleh pandangan misterius itu.
Butuh beberapa detik bagi Ino untuk lepas dari pandangan yang memikat itu, dan mengekspresikan rasa kagetnya. Gadis itu terlonjak dari posisi membungkuknya, matanya terbelalak lebar. "Kau ... KAU BANGUN—ASTAGA!" pekiknya.
Ia lekas berlari keluar ruangan, berupaya mencari bantuan. Koridor putih itu menyambutnya; masih kosong tanpa ada satu pun eksistensi manusia. Gadis pirang itu menyusuri koridor itu hingga ujung dan berbelok kearah kanan—sebuah lorong lain yang nyaris sama seperti koridor sebelumnya. Kembali ia telusuri sebuah lorong baru yang mengarah ke kanan. Hanya ada koridor putih dengan pintu-pintu yang berjejer rapih di setiap sisinya.
Putus asa, ia merogoh kantung jasnya, mengeluarkan ponselnya, namun belum sempat menghubungi seseorang, sosok berambut cokelat kayu, yang Ino kenali sebagai Neji Hyuuga terlihat keluar dari ruangan di ujung koridor.
Pemuda dengan helaian cokelat sepanjang punggung itu menatap Ino, heran. Dahinya mengerut, dan dari iris lavendernya menyiratkan berjuta tanya. "Sedang apa kau di—"
"Objek dari penyelidikan 06 bangun!" Ino memotong ucapan Neji. Masa bodoh dengan tata krama, ia harus lekas memberi tahu berita besar ini.
Neji membelalakan kedua matanya—semakin meng-ekspose keindahan dua kelereng keunguan itu— setelahnya pemuda itu langsung tergesa, mendahului laju si gadis, menuju ruangan tempat sang objek berada.
Sesampai di depan ruangan itu Neji terbelalak makin horror. Wajahnya mengkaku dan segala kepanikannya tergambar dengan jelas.
"Dia menghilang!"
.
.
.
Neji lekas menyambar ponselnya, pandangannya teralih sebentar ke arah Ino untuk memberi instruksi. "Kau coba cari di lantai ini. Aku akan menghubungi keamanan!"
Ino mengangguk patuh. Gadis pirang segera itu menyusuri koridor itu—mencoba membuka satu-persatu pintu yang ada disana; sebagian pintu terkunci, namun ada juga yang tidak. Sementara Neji sibuk dengan ponselnya.
Neji mendecih gusar. Pemuda itu berseru keras kepada Ino yang juga sibuk menyisiri koridor. "Aku akan kebawah untuk memanggil Direktur dan keamanan!"
Ino tidak juga menoleh, hanya menyahut, "Baiklah!" Pikirannya tengah berputar pada satu hal saja.
Gadis pirang itu menyusuri koridor demi koridor, panik dan khawatir bergumul jadi satu. Kakinya melangkah cepat tanpa bisa ia cegah. Tapi hanya deretan pintu polos yang tertutup rapat yang mampu ia lihat.
Gadis pirang itu nyaris putus asa jika saja kedua iris biru itu tidak menangkap sebuah pintu di ujung koridor yang sedikit terbuka.
Tak perlu untuk menjadi jenius untuk menyimpulkan alasan terbukanya pintu itu.
Perlahan, gadis itu berjalan mengendap, mendekati pintu itu. Gadis pirang itu membukan pintu secara perlahan-lahan, mencoba mengintip ke dalam, dan Ino tersenyum lega ketika menemukan eksistensi seorang pria yang meringkuk di sudut ruangan yang kosong; tepat disamping jendela yang tidak tertutup gorden. Kepalanya menunduk dalam—bersentuhan langsung dengan lututnya. Pemuda itu terlihat sedikit bergetar—entah karena rasa dingin atau takut.
Ino melangkah penuh kehati-hatian—menghapus jarak pada pemuda yang belum juga menyadari kehadirannya itu. Ketika jarak mereka hanya tersisa kurang dari satu meter, gadis itu memanggil, pelan, "... hei."
Sesesaat bahu pucat pemuda itu menegang—saat itulah, Ino sadar ada ketakutan yang begitu besar yang tengah menyelimuti lelaki aneh itu. Pemuda itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya—dan lagi, Ino menemukan manik kelam yang mempesona itu, namun keduanya kini terhias siaga. Terhias takut; seolah si pemuda tengah merasa terancam jiwanya.
"Tenang ... shhh ..." Kedua telapak tangan Ino terentang di depan bahu, memberi gesture menenangkan.
"... ka-ka—"
Suara serak itu sedikit membuat Ino berjengit. Namun Ino tetap bergerak mendekat—pergerakan yang malah membuat pemuda itu mencoba mundur dengan was-was; makin merapat ke sudut ruangan.
"Tenang ... aku tak akan menyakitimu," ucap gadis itu penuh kelembutan. Ia tetap mempertahankan senyum ramahnya. Tapi pemuda itu tak kian menurunkan kewaspadaannya. Raut ketakutan kian menjadi.
"Pe ... per—gi."
"Aku ingin membantumu." Ino mengulur satu tangan untuk mengusap lembut pundak polos itu, tapi pemuda itu malah menutup mata dan berjengit seolah ngeri.
"Hei ... tenang." Ketika satu dua belaian lembut menyapa kulit pucat itu, barulah pemuda itu membuka mata dan menatap gadis pirang itu dengan campuran antara ekspresi bingung dan was-was.
"Tenang ..." Tanpa sadar Ino tersenyum tipis melihat ekspresi polos pemuda itu. Seperti anak kecil, pikirnya. "Aku bukan mau menyakitimu."
"A ... a—apa..."
"Aku disini untuk membantumu." Ino menepuk lembut pundak pemuda itu, lalu dengan tatapan yakin, ia berkata; "Aku akan melindungimu, jadi tidak perlu khawatir. Oke?"
Tak ada jawaban yang meluncur dari bibir pemuda itu—namun hanya dengan pancaran kelegaan yang samar nampak dari kedua manik gelap itu, pun, Ino tahu; ia telah berhasil menenangkan pemuda misterius itu.
.
.
.
"Aku tak pernah tahu kalau kau mempunyai background psikologis, Yamanaka." Adalah Neji yang pertama kali membuka percakapan saat itu. Mereka berdua sedang berdiri di depan sebuah ruangan—menunggu para senior mereka yang sedang mengecek objek penyelidikian yang baru saja terbangun itu.
Ino berjengit samar—tak mau membuat Neji tersinggung—namun dalam hati keheranan karena, adalah langka seorang Neji Hyuuga memulai pembicaraan kasual. Gadis Yamanaka itu pada akhirnya hanya mengendikan bahu, menjawab seadanya. "Apa menenangkan seseorang yang sedang ketakutan butuh ijazah dari fakultas psikologis?"
Jawaban datar itu membuat Neji tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Ya, kau benar juga."
Ino menghela napas berat. "Menurutmu bagaimana keadaannya?" tanyanya tanpa menatap Neji yang ada di sampingnya. Kedua manik biru cerah itu hanya menyorot daun pintu yang tertutup, dengan ekspresi khawatir. Dibanding fakta, bahwa dirinya berhasil menenangkan pemuda itu, Ino lebih tertarik untuk membahas kondisi pemuda itu.
"Dia akan baik-baik saja, secara fisik tidak ada luka yang berarti."
"Bukan itu." Ino menukas. "Apa kau tidak lihat bagaimana reaksinya saat kau datang membawa pengamanan? Ketakutan dan panik." Alisnya bertaut khawatir, saat mengingat reaksi si pemuda saat pertama kali ditemukan dirinya.
Neji berjengit samar. "Itu normal, 'kan? Karena dia belum mengenal siapa kita, dia menjadi waspada. Apalagi dalam kondisi baru bangun dari pingsan selama berhari-hari."
"... ya ... tapi—"
"Kenapa kau begitu peduli, Yamanaka? Masalah ini bahkan bukan berada dalam lingkup kerjamu. Kau tidak terlibat dalam penyelidikan ini." Neji menatap Ino dengan pandangan menyelidik—sukses membuat Ino kesal dan risih.
"Aku merasa kasihan padanya, Neji." Pada akhirnya Ino menghela napas berat. "Kau harus lihat kondisinya, saat pertama kali aku menemukannya. Kondisinya bergetar karena ketakutan. Dia sangat ketakutan. Seperti trauma."
Oh, Neji melupakan fakta bahwa perempuan, dan perasaan empati berlebihannya, tak akan pernah bisa dipisahkan. "Ia akan baik-baik saja," ucap Neji yakin.
"Kuharap juga begitu." Ino memandang kosong kearah pintu yang tak kunjung terbuka. Pikirannya mengalir pada kejadian bertahun-tahun lalu.
Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara lagi. Karena pada dasarnya, tak pernah ada keakraban yang tercipta diantara mereka, kecuali profesionalitas yang patut dijunjung tinggi.
Hingga pintu putih polos itu terbuka dan menampilkan sosok sang senior, Kakashi Hatake, dengan raut wajah datar yang biasa.
"Bagaimana?" Neji-lah yang pertama kali melempar tanya. Mewakili Ino yang merasa kurang berhak terlihat terlalu penasaran. Ino ikut menatap Kakashi dengan tatapan cemas.
Kakashi menghela napas, lalu menjawab dengan nada berat. "Sesuai dugaan." Ia menggaruk rambut keperakannya, terlihat sekali dirinya lelah.
"Dia amnesia."
.
.
.
To be continued.
Informasi tambahan.
Tempat Ino bekerja adalah sebuah laboratorium yang bekerja untuk pemerintah, semacam lembaga penelitian. Bergerak di banyak bidang, mulai dari pengembangan teknologi, penelitian pertanian/botani, penelitian medis, dan penyelidikan kasus yang berhubungan dengan sains.
Wilayah lab-nya sendiri ada lima gedung yang posisinya membentuk lingkaran, dengan taman hijau yang cukup luas di tengahnya. Satu gedung adalah yang utama dan terbesar; sebagai pusat adminitrasi, dua gedung untuk melakukan berbagai penelitian, satu bangunan sebagai perpustakaan dan taman indoor yang menyatu bangunannya, dan satu gedung baru yang difungsikan untuk penelitian atau penyelidikan kasus khusus yang tertentu.
Ino disini ilmuwan biologi dan kimia spesialisasi botani, sementara Sakura ilmuwan biologi spesialisasi medis.
A/N:
Saya sengaja pisahin detail tambahannya karena takut kepanjangan aja kalau taroh di tengah cerita haha:''
Chapter ini pendek banget orz tapi saya nikmatin banget pas ngetik bagian Ino pertama kali nemuin Sai wkwkwk mungkin karena ini salah satu adegan yang muncul di kepala saya pas merancang ide fic ini. Chapter depan konfliknya mulai nanjak, dan bakal ada karakter krusial yang muncul.
.
.
Balesan review:
Kirisha Zwingli; Kirisha-san concern-nya di kesehatan? Waduh, ketauan dong ngaconya saya nih X'D umm sebenernya medis disini kurang lebih cuma sebagai latar belakangnya:' sesuai judul, konflik bakal dateng dari luar; sesuatu yang lebih 'besar'. nianara; saya juga gak mudeng dengan apa yang saya tulis /slap/ Makasih!:D saya usahain penulisan saya tetep konsisten hehehe. Erica719; Buat update saya gabisa janjiin teratur, tapi kusahain banget buat terus lanjut. Adegan Shikaino mah pasti ada, wong mereka satu tempat kerja dan temen dari kecil atuh X")) zielavienaz96; hahah, semoga ino-shika nya gak ooc ya:"" dan ini udah update xP maaf lama ;;
Makasih buat reviewnya /o/
