"Kau masih marah?" tanya seorang pria berusia 22 tahun itu kepada istrinya yang sejak sarapan tadi mengacuhkannya bahkan enggan melihat wajahnya.
Sasuke yang saat ini hendak pergi ke kantor tak enak hati karena melihat istrinya yang masih marah kepadanya.
"Baiklah aku minta maaf, aku tak akan melakukannya lagi" ucap Sasuke yang masih saja diacuhkan oleh Sakura.
"Eh tapi kan aku suami mu kenapa aku harus minta maaf hanya karena aku menciu-mmph" Sakura menutup mulut Sasuke dengan telapak tangannya membuat Sasuke berhenti bicara.
'Jangan katakan!'
Seperti de javu Sasuke seakan mendengar suara Sakura saat itu, saat pertama kali ia menciumnya. Kejadian yang sama, ah sungguh ia sangat merindukan Sakura nya yang dulu.
Sasuke memegang tangan Sakura yang menutup mulutnya tadi dan menurunkannya perlahan, lalu ia menarik Sakura dan memeluknya. Sakura pun sedikit kaget saat Sasuke memeluknya dengan tiba-tiba.
"Aku merindukanmu Sakura" ucap Sasuke sambil memejamkan matanya, menghirup aroma cherry yang berasal dari istrinya.
Sakura tak berkata apa-apa ia hanya membalas pelukan Sasuke dan itu cukup membuat Sasuke senang.
Perlahan Sasuke melonggarkan pelukannya tangannya pun sudah beralih menangkup wajah sakura untuk menatapnya. Onyx dan emerald saling menatap, tak dipungkiri wajah Sakura sudah sedikit merona saat ini.
"Sakura.." Suara Sasuke yang rendah dan terkesan err sexy membuat jantung Sakura berdegup cepat. Saking gugupnya tanpa sadar ia mengeratnya kepalannya pada jas Sasuke.
"Sakura.." lagi. Sasuke memanggil namanya dengan suara sexy itu lagi membuat debarannya semakin menggila.
Tatapan Sasuke semakin tajam seakan menembus sampai ke hatinya. Perlahan tapi pasti wajah Sasuke semakin mendekat kearahnya hingga kening mereka saling bersentuhan.
"Sakura.." oh cukup Tuan, kau membuat istrimu nyaris pingsan!
"Sakura... jadii..bagian mana yang boleh aku cium?"
'Ptakk'
"Hei apa yang kau lakukan?!" Sasuke merasa kesakitan karena Sakura menjitaknya. Sasuke hanya bermaksud baik bertanya -bagian-mana-yang-boleh-dicium- toh dari pada Sakura ngambek lagi seperti saat ini.
Tapi ayolah Sasuke dengan jarak yang sudah sedekat itu dan suaramu yang hampir membuat Sakura pingsan kau masih bertanya -bagian-mana-yang-boleh-aku-cium-?- haruskah Sakura menjawabnya? Baka.
"Baka" itulah kalimat yang pas untuk Sasuke saat ini. Sakura pun langsung melengos pergi meninggalkan suami nya yang jenius tapi tiba-tiba menjadi bodoh seketika.
"Dia kenapa sih?" gumam Sasuke sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.
'Drrt drrt'
Sasuke bergetar menandakan ada panggilan masuk dan tentu saja ia langsung menjawabnya.
"Ada apa Karin?"
"..."
"Hn baiklah saat jam makan siang nanti"
"..."
"Hn"
'Pip' dan berakhirlah pembicaraan singkat itu. Sasuke memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya dan ia pun segera bersiap untuk berangkat. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dan-
'Chup' Sakura mencium pipi Sasuke.
"Jangan pulang terlambat" setelah mengatakan itu Sakura kembali pergi meninggalkan Sasuke yang masih terkejut.
"U-um" jawab Sasuke sambil menganggukkan kepalanya kaku dan memegang pipi kanannya yang dicium Sakura untuk pertama kalinya dalam 2 tahun ini.
.
.
.
"Trauma Psikologis?" Tanya Naruto disela acara makan siangnya bersama Sasuke dan Karin.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya Sasuke dan Karin berencana untuk makan siang bersama sambil membahas tentang kondisi Sakura. Tapi yang tidak direncanakan adalah Naruto yang memaksa ingin ikut dengan alasan ingin tau kondisi Sakura yang sebenarnya.
"Ya sejauh ini hanya itu yang bisa aku simpulkan tentang kondisi Sakura dilihat dari keadaannya selama ini dan penyebab sebelumnya" jawab Karin sambil meneguk Mocca Coffe yang ia pesan sebelumnya.
"Tapi itu bisa disembuhkan kan?!" tanya Naruto lagi, yang masih bernuansa kaget.
"Tentu, dengan dorongan dan masukan dari pihak keluarga ataupun orang-orang terdekat untuk menyemangatinya agar dia sembuh dan tentu kemauan dari si penderita itu sendiri yang akan mempengaruhi cepat atau lambatnya proses pemulihan psikologisnya" Jelas karin pada Naruto.
"Tapi Sasuke kau bilang akhir-akhir ini dia sudah mulai bicara?" Lanjut Karin dan meletakkan gelas yang berisi Mocca Coffe nya itu.
"Hn. Selain bicara ia juga sudah mulai aktif bergerak, bahkan ia sempat pergi ke swalayan bersama Ayame" jelas Sasuke sambil menatap gelas yang berisi Cappucino itu dengan tatapan sendu.
"Apa ada sesuatu yang lain?" tanya Karin menyelidik saat melihat perubahan raut wajah Sasuke.
"Saat itu Ayame bilang kalau Sakura tiba-tiba berteriak histeris, tapi saat aku tanyakan penyebabnya ia tak mau cerita"
"Maksudmu telah terjadi sesuatu pada Sakura-chan sampai ia berteriak seperti itu?" tanya Naruto yang sudah mulai ikut terlarut dengan topik pembicaraan ini.
"Entahlah tapi ku pikir ada yang membuat dia takut atau semacamnya" Jawab sasuke sambil menyuap pancake yang ada dihadapannya.
"Mungkin juga. Tapi bagaimana kondisinya sehak saat itu?" tanya Karin menyelidik.
"Seperti yang ku bilang, ia sudah mulai bicara bahkan ia pun sudah berani memukul ku"
"Memukul mu?!" Naruto hampir tersedak ramennya saat mengetahui hal itu.
"Hn"
"Berarti itu pertanda baik Teme! Sakura-chan perlahan akan kembali seperti dulu!" Naruto merasa sangat senang, tak rugi dia memaksa ikut dengan Sasuke karena bisa mendengar berita baik ini.
"Ya mungkin kau benar" Sasuke pun ikut tersenyum kala mengingat hal itu.
'Grekk'
Tiba-tiba Karin berdiri dari tempat duduknya membuat Naruto dan Sasuke menoleh kearahnya.
"Ada apa?" tanya Sasuke.
"Etto.. maaf Sasuke, Naruto sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting. Aku pergi dulu, jaa.." ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Sasuke dan Naruto yang masih menatapnya bingung.
"Mau kemana?" Naruto bertanya pada Sasuke sambil menyeruput ramennya.
"Entahlah.."
Sasuke dan Naruto melanjutkan obrolan mereka dan membiarkan Karin pergi. Tapi sayangnya diantara mereka tidak ada yang mengetahui niat terselubung dari Karin.
"Kembali seperti dulu eh?" ucap Karin sambil mengeluarkan seringainya.
.
.
.
"Iya iya baiklah.."
-Pip-
Pria itu pun langsung memutuskan panggilannya.
"Siapa?" tanya sang asisten kepada pria itu.
"Hanya orang yang merepotkan" jawab pria yang memiliki tato merah yang ada di kedua pipinya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Oh iya Shino bagaimana rencana pertemuanku dengan Sasuke Uchiha, apakah sudah ada jawaban darinya?"
"Ya, 5 hari dari sekarang kau akan melakujan pertemuan dengannya" jawab sang asisten yang sedang merapihkan berkas-berkas penting perusahaan.
"Uchiha Company... apa kerjasama ini bisa menguntungkan? Yang ku tau perusahaan itu sempat bangkrut dan baru setahun belakangan ini mereka berhasil membuatnya bangkit kembali karena direkturnya yang baru ini"
"Kau benar Kiba. Sebelum menjadi Uchiha Company perusahaan itu sebelumnya adalah milik dari keluarga Haruno. Tapi karena suatu insiden perusahaan itu berubah menjadi milik Sasuke Uchiha" jelas Shino membuat Kiba bingung dan penasaran.
"Insiden? Insiden apa itu?" tanya Kiba penasaran.
"Dulu.."
.
.
.
"Tadaima..." Sasuke tiba di rumahnya saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya dikantor. Sesuai dengan janjinya pada Sakura ia tidak pulang terlambat.
"Okaeri Sasuke-sama" sambut seorang pelayan dirumah ini. Ayame.
"Dimana Sakura?"
"Sakura-sama sedang mandi Tuan"
"Hn baiklah kalau begitu aku akan berganti pakaian dulu" ucapnya dan langsung menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Ayame pun melanjutkan pekerjaannya, membuat makan malam untuk Tuan dan Nona Uchiha nya.
Sasuke masuk kedalam kamarnya dan tak ada siapa-siapa hanya terdengar suara air yang mengalir dari shower kamar mandinya menandakan sang istri yang memang sedang mandi seperti yang Ayame katakan sebelumnya.
Sasuke melepaskan jas dan dasi yang ia pakai, ia hendak mengganti pakaiannya sampai terdengar suara-
'Cklek' pintu kamar mandi yang terbuka
Terlihatlah sosok sang istri yang hanya terbalut oleh handuk putih. Kulitnya yang seputih porselin dan butiran-butiran air yang menetes dari rambutnya membuat kesan yang err menggoda untuk Sasuke. Sasuke tak dapat mengalihkan pandangannya dari Sakura terlebih lagi ia bisa melihat belahan dada Sakura yang membuatnya tak berkedip sedikitpun.
Sakura pun sama, ia terkejut mengetahui Sasuke sudah pulang saat ini. Astaga dia lupa dia sendiri yang menyuruhnya untuk tidak pulang terlambat. Tunggu! Sasuke sudah pulang? Disini? Dikamar? Dan Sakura hanya memakai...
"S-Sakura aku.."
"H-Hentaiiii!" Sakura langsung melemparkan bantal kearah Sasuke yang tak berada jauh darinya.
"Hei.. t-tunggu dulu..!" Sasuke berusaha menghindar dari serangan bantal Sakura. Ia tak habis pikir dia kan suaminya wajar saja kan kalau ia melihat tubuh Sakura.
Sakura belum berhenti melempari Sasuke dengan bantal bahkan tanpa sengaja ia melempar bingkai foto yang ada disamping ranjangnya dan untung saja bingkai itu tak mengenai Sasuke.
.
.
.
"Haaahh" Sasuke menghela nafas sehabis meminum orange juice nya yang ia beli di mesin minuman tadi. Sasuke sedang berada di taman yang tak jauh dari kediamannya. Ya, ia tidak makan malam dirumah karena masih kesal dengan Sakura. Bagaimana tidak, ia benar-benar merasa seperti om-om mesum yang melecehkan gadis dibawah umur. Hei Sasuke adalah suami resmi dari seorang Haruno Sakura bukan? Wajar saja kalau ia melihat tubuh istrinya. Tapi yang ia dapat malah lemparan bantal dan bingkai foto yang hampir saja mengenai kepalanya, 'Sakura sudah mulai melakukan kekerasan dalam rumah tangga' pikirnya.
Kalau dipikir-pikir nasibnya tak seberuntung Naruto, ia yakin saat ini Naruto sedang melakukan 'pekerjaan' bersama Hinata, ya program 2 anak yang ia bicarakan belakangan ini pasti sedang dilakukan olehnya. Sementara Sasuke? ia sudah pulang lebih awal dari biasanya, tapi tak bisa bermesraan dengan Sakura, menyentuhnya pun tidak. Soal kejadian tadi pagi bisa ia maafkan karena walaupun ia tak diperbolehkan mencium Sakura tapi Sakura yang pada akhirnya menciumnya. Tapi sekarang apa? Bukannya dapat ciuman selamat datang malah dapat ciuman dari bantal. Miris bukan?
'Drrtt drrtt'
Ditengah kekesalannya ponselnya bergetar dan menampilkan nama 'Naruto Dobe' di layar ponselnya.
"Temeeeeee!" suara nyaring khas sahabatnya ini langsung menembus gendang telinganya. Dan secara refleks ia menjauhkan ponselnya dari telinganya yang berharga.
"Bisakah kau tak berteriak? Pendengaranku masih normal" omelnya.
"He he gomen" jawab Naruto. Bisa Sasuke bayangkan pasti ia sedang tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hn. ada apa?" tanya Sasuke, ia berharap Naruto tak lagi membahas ataupun bertanya tentang posisi-posisi aneh yang ingin ia lakukan bersama dengan Hinata.
"Itu! Ino.. Ino dia sudah kembali ke Jepang!" 'syukurlah' pikirnya. Tunggu, Ino?
"I-Ino? Yamanaka Ino?" tanya nya memastikan kalau ia tak salah dengar.
"Iya ino, teman SMA kita dulu Temee. Dia bilang dia sudah kembali ke Jepang besok ia ingin menemui kita dan juga Sakura" Sasuke tersenyum mengetahui berita baik ini. Sahabat karib Sakura akan segera datang setelah sekian lama ia pergi dan tak memberi kabar sama sekali.
"Hn tapi dari mana kau dapat kabar ini? Apa dia menghubungimu?"
"Ya tadi dia menelponku. Aish orang itu memang tidak berubah dari dulu selalu saja membuatku kesal. Apa kau tau Teme tadi aku sudah hampir 'keluar' sedikit lagi saja aku melakukannya dan karena dia menelponku aku harus memulainya dari awal lagi! Apa dia tak tau kalau Hinata-chan sudah kelelahan?!" Menyesal, itu lah kata yang sesuai untuk Sasuke. Ia menyesal sudah bertanya dan alhasil jawaban yang tak ia inginkan pun di dapatnya.
"Baiklah atur saja waktunya kapan kita akan bertemu dengannya. Dan lanjutkan saja 'pekerjaan panas' mu itu" ucap Sasuke sambil menyindir kegiatan yang sedang Naruto lakukan.
"Hehe baiklah Teme serahkan saja padaku. Jaa.." Naruto langsung memutuskan sambungannya, sepertinya ia ingin cepat-cepat melanjutkan pekerjaannya.
Sasuke segera menyimpan ponselnya kedalam saku sweaternya dan memutuskan untuk kembali kerumah, ingin memberitahu Sakura tentang berita gembira ini. Tapi saat ia berbalik sosok sang istri sudah berada dibelakangnya.
"Sakura"
Sepertinya rencana untuk memberitahu kabar gembira ini berubah sedikit. Ya Sasuke sedang merencanakan hal lain untuk mengerjai Sakura. Sepertinya Tuan Uchiha ini tipe pendendam ya.
.
.
.
"Ini" Sasuke memberikan sekotak susu strawberry kesukaan Sakura, dan dengan gerakan cepat Sakura menerimanya.
'Tidak berubah' pikir Sasuke sambil duduk disamping Sakura.
"Ada apa?" tanyanya sambil memandang Sakura yang masih asik meminum susu strawberry nya. Sakura tak menjawab. Sasuke mengalihkan pandangannya menatap taman yang sudah sepi lama tiba-tiba ia melihat tangan kanan Sakura yang terjulur kearahnya.
Sasuke mengeryit heran. "Apa?" tanyanya lagi.
Sakura tetap tidak menjawab ia malah semakin mengulurkan tangannya kearah Sasuke.
"Apa sih?" Sasuke (berpura-pura) semakin bingung dan tak lama tangannya pun ditarik paksa oleh Sakura.
"Maaf" ucap Sakura sambil mengalihkan pandangannya, tak mau melihat wajah Sasuke. Sasuke hanya menyeringai geli melihat tingkah laku Sakura. Menggemaskan, itu lah pikirnya.
"Jadi kau mau minta maaf? Apa kau pikir aku mau memaafkanmu?" Sasuke melepaskan tangannya yang digenggam paksa oleh Sakura. Sakura langsung menghadap kearah Sasuke yang sudah mengalihkan pandangannya terlebih dulu.
'Seett'
'Apa lagi ini?' Sasuke merasakan tubuh bagian kirinya terasa hangat. Sakura mendekatkan bahkan merapatkan dirinya ke Sasuke.
"Kau sedang menggoda ku?" ucapnya membuat Sakura menatap kearahnya dengan tatapan kesal.
"Apa? Kau mau minta maaf dengan wajah mu yang menyeramkan itu?" ucapnya sambil menunjuk wajah Sakura.
"H-habis kau nya menyebalkan" Sakura bicara lagi, bahkan dengan aksen ngambeknya saat ini membuat Sasuke merasa geli.
"Menyebalkan kenapa? Bukannya kau yang sudah memukul kepalaku dan melempariku dengan bantal bahkan bingkai foto pun juga kau lempar. Kau sudah mulai melakukan KDRT eh?"
"I-itu kan... uhh baiklah aku yang salah, aku minta maaf" ucapnya lagi dan kembali mengulurkan tangannya.
"Apa aku bilang aku mau memaafkanmu?" ucapnya lagi membuat Sakura mendelik kesal.
"Sasuke~!" Sakura merajuk sambil menarik-narik sweater yang dipakai Sasuke. Sasuke masih mengacuhkanya, membuang mukanya tak mau menghadap Sakura. Sepertinya rencananya berhasil untuk mengerjai Sakura. Dasar, licik sekali kau Sasuke.
Sasuke benar-benar tak menggubris Sakura, ia benar-benar mengacuhkannya. Baiklah hanya ada satu cara agar Sasuke mau memaafkannya ya walaupun ini agak sedikit membuatnya malu tapi dari pada Sasuke mengacuhkannya dan kemungkinan terburuknya dia akan berpaling pada gadis berkaca mata itu. Membayangkannya saja sudah membuat Sakura ngeri.
"Sasuke... -kun"
'Deg'
'kun? Sakura memanggilku dengan suffix -kun?' Sasuke yang ingin menoleh kearah Sakura dibuat terkejut lagi dengan-
'Chup' Ciuman Sakura. Sakura mencium pipi Sasuke lagi membuat Sasuke diam membatu. Sasuke pun mencoba lagi untuk menghadap kearah Sakura dan-
"Hontouni gomennasai... Sasuke-kun~" Puppy Eyes attack! Sial Sasuke paling tidak bisa menang melawan Sakura jika ia sudah mengeluarkan jurus pamungkasnya itu.
"Sasuke... -kun?" Sakura mendekatkan wajahnya ke Sasuke. Bisa dilihat ada rona merah di wajah suaminya itu. Dia sudah kalah telak.
"B-baiklah aku maafkan" runtuhlah pertahanan Sasuke yang sejak tadi ia pertahankan. Puppy eyes Attack milik Sakura berhasil merobohkannya.
"Arigato" Sakura terkekeh dan tersenyum senang, ia berhasil mengerjai Sasuke. Sasuke sedikit kesal karena ia sudah kalah tapi perasaan senangnya saat ini lebih besar dari pada rasa kesalnya.
Sasuke yang sedang memandangi istrinya tiba-tiba teringat dengan pembicaraan antara dia dan Naruto sebelumnya. Tentang kembalinya Ino ke Jepang.
"Sakura" Sakura yang masih terkekeh menoleh kearah Sasuke saat dirinya merasa dipanggil.
"Ya?" jawabnya sambil tersenyum. Sasuke yang melihatnya juga ikut tersenyum. Sakuranya sebentar lagi kembali, itu lah yang ia pikir.
"Besok kau mau ikut denganku?"
"Kemana?"
Sasuke memutar bola matanya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Hmm ikut saja dulu, ada seseorang yang mau bertemu denganmu" ucapnya. Sakura pun menautkan alisnya merasa bingung.
"Tenang saja dia orang yang baik, dan tentu saja seorang wanita yang cantik" Jelas Sasuke tanpa ia sadari raut wajah Sakura sudah mulai berubah sedikit lebih murung dari sebelumnya.
Seorang wanita cantik dan baik hati. Hanya satu yang ada dipikiran Sakura, teman dekat Sasuke, gadis cantik berkaca mata yang ia temui di swalayan beberapa hari yang lalu. Karin.
.
.
.
Keesokan harinya
"Kenapa kau lama sekali sih aku sudah lelah menunggumu baka!" omel seorang wanita berambut pirang yang baru saja Naruto jemput di sebuah cafe yang lumayan jauh dari kantornya.
"Sudah ku gilang kan jam 2! Salahmu sendiri datang jam 1!" Naruto pun tak kalah kesal dengan teman lamanya ini. Ya, Ino. Orang yang sedang duduk disampingnya saat ini.
"Wajar saja kan, aku kan hanya ingin segera bertemu dengan Sakura. Cih kau ini sebagai laki-laki memang tak bisa mengerti perasaan seorang wanita" decaknya membuat Naruto yang sedang fokus mengemudi semakin geram. Temannya yang satu ini memang tak berubah sejak dulu membuat dirinya kesal. Kemungkinan ini adalah salah satu hobi gadis pirang pony tail ini.
"Oh iya bagaimana keadaan Sakura sekarang? Dia sehat-sehat saja kan?" tanyanya di sela rasa kesalnya pada Naruto yang ia kesampingkan sementara.
Naruto tak segera menjawabnya ia hanya fokus mengemudi namun tatapannya berubah menjadi sendu. Ino menyadari hal itu merasa sedikit khawatir.
"H-hei Sakura tak apa-apa kan?! Cepat jawab!" Ino mengguncangkan tubuh Naruto menuntut Naruto untuk menjawab pertanyaannya.
Naruto tiba-tiba menghentikan mobilnya membuat mereka berdua sedikit tersungkur kedepan.
"Naruto-"
"Ino" Naruto memotong perkataan ino membuat ino langsung terdiam.
"Ino.. asal kau tau..." Naruto bicara dengan raut wajah yang sedih membuat Ino semakin merasa cemas.
"Ada apa Naruto?"
Naruto terdiam sebentar dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Sakura-chan... sudah berubah"
.
.
.
"Masuklah" Sasuke membukakan pintu ruangannya untuk Sakura. Sasuke menjemput Sakura tadi untuk ikut bersamanya, awalnya Sakura tak mau tapi Sasuke juga tak mau menyerah hingga berhasil membujuk Sakura.
Sakura terlihat emm murung, sedih, cemas, entahlah Sasuke tak mengerti. Sakura pun duduk di sofa yang memang sudah disediakan disana. Tak lama Sasuke pun datang dan memberikan sekotak susu stawberry kesukaan Sakura.
"Ini" sodornya sambil mendudukkan dirinya disamping Sakura. Sakura meminum habis susu strawberry itu dan meletakkan kotak kosongnya diatas meja. Sakura kembali menundukkan kepalanya menautkan jari-jarinya menandakan ia gelisah dan cemas. Sasuke melihat gelagat Sakura langsung menggenggam tangannya.
"Ada apa denganmu? Sejak tadi kau terlihat aneh. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Sakura hanya menggelengkan jepalanya. Dan Sasuke tau kalau Sakura sedang berbohong.
'Cklek'
Pintu ruangan Sasuke terbuka memperlihatkan 2 sosok manusia yang sedang mereka tunggu.
"Mereka datang" ucapnya, dan Sakura pun menoleh kearah sumber suara itu.
Sakura membelalak tak percaya, ia tak percaya apa yang ia lihat sekarang. Sosok yang benar-benar ia rindukan, sosok sahabatnya, Yamabaka Ino ada dihadapannya.
"I-Ino" air mata sudah mulai menumpuk bersiap untuk keluar.
"Sakuraa.." Ino berlari kearah Sakura dan langsung memeluknya erat, menyalurkan rasa rindunya kepada sahabat pink nya ini.
Air mata mereka tak bisa dibendung lagi, 3 tahun tak bertemu, tanpa kabar, tanpa foto, tanpa komunikasi membuat rasa rindu mereka semakin kuat.
"I-ino... hiks.. k-kau kembali.."
"Ya., aku ., hiks.. aku kembali Sakuraa" Ino dan Sakura sama-sama tak bisa menahan air mata bahagia mereka, bahkan Naruto pun ikut Meneteskan air matanya.
'Ck dasar cengeng' batin Sasuke.
"Gomen aku terlambat, seharusnya aku sudah tiba sejak 1 jam yang lalu kalau bukan karna si bodoh itu yang terlambat menjemput ku" decaknya membuat Naruto yang tadi nya senang sekarang malah mulai kesal.
"Bukankah sudah ku bilang jam 2 bukan jam 1!"
"Tapi harusnya kau sebagai seorang pria harus datang lebih awal dari pada wanita!
"Heh itu salahmu sendiri datang 1 jam lebih awal!"
Kau saja yang tak mengerti perasaan wanita dasar bodoh!"
"Jangan sebut aku bodoh!"
"Sudahlah hentikaan!" pertengkaran Naruto dan Ino terhenti karena suara dari seseorang yang mereka kenal, Sakura. Sakura yang kembali melerai mereka seperti dulu seperti saat mereka masih bersama. Bahkan Sasuke yang melihat itu sedikit terkejut karena Sakura melerai mereka dengan cara khasnya.
Setelah itu hanya terdengar candaan dan tawa ringan dari mereka berempat.
.
.
.
Saat ini Sakura dan Ino sedang duduk berdua di ruangan Sasuke. Sedangkan Naruto dan Sasuke sedang meeting diruangan lain dan ini dijadikan kesempatan untuk mereka melepaskan rasa rindunya.
"Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa Naruto menikah dengan seorang Hyuga? Apa keluarga Hyuga itu sudah buta menerima laki-laki bodoh seperti Naruto?" Ino meneguk minumannya setelah berceloteh tentang Naruto.
"Dan kau juga" ucapnya sambil menunjuk tepat didepan wajah Sakura, dan Sakura hanya mengeryit bingung.
"Kau bilang 2 atau 3 bulan kau pasti akan putus dengan Sasuke, tapi ternyata kau malah menikah dengannya" Sakura yang mendengar itu hanya tertawa kecil dan Ino langsung menghela nafasnya. Sepertinya ia sudah lelah bicara panjang lebar.
"Sakura... maaf" suara Ino tiba-tiba terdengar sedih. "Sakura.. maafkan aku, aku sudah mendengar semuanya dari Naruto.. hiks.. kau..." Sakura langsung memeluk Ino, menenangkan sahabat pirangnya itu.
"Sakura... kau selalu ada disaat aku sedang dalam kesulitan tapi.. tapi.. hiks aku tidak ada saat kau dalam kesulitan, aku.. hiks aku memang jahat Sakura.." Ino semakin deras mengeluarkan air matanya, ia merasa sangat bersalah pada sahabat pinknya itu.
"Sudahlah ino aku tidak apa-apa" ucap Sakura kepada Ino sambil tersenyum, meyakinkan sahabatnya itu.
"Sasuke... selalu ada untukku"
Ino pun menghapus air matanya dan membalas senyuman sakura.
"Sakura, ternyata... Sasuke itu pria yang baik ya"
"Iya.." jawab Sakura masih dengan senyum bahagianya
To be continue
Author Corner
Heii chapter 4 udah update nihh.. :D
Huaaaa aku lagi galauu gara" gak bisa ikut Ennichisaii tgl 9 nanti T^T
Satu pertanyaan lagi yg lagi hot belakangan ini! "Sarada itu anaknya siapaaaa?"
Itu apa-apaan sih ada fotonya Karin segalaa D: pliss itu udah happy ending jangan di otak-atik lagi Masashi-san :'(((
Tapi tenang aku tetep yakin Sarada itu anaknya Sakura :3 #HidupSasuSaku!
Yosh ni dia balasan untuk review kaliaann xD
Suket alang-alang: Iya aku usahain gak lama updatenya ya tapi mau gimana lagi kalo emang tetep ngarett, gomeennn ;_; di chapter ini udah dijelasin Saku nya kenapa :D
Hanazono yuri: nanti bakal dijelasin kok kenapa Sakura nya gak mau bicara, mungkin 1 atau 2 chapter lagi. Ditunggu yaa .. :D
Lizzy0421: udah 2 tahun Lizzy-san ^^
Prince ice cherry: hehe Saku nya malu-malu xD
Mysaki: di shapter ini udah dikasih tau Saku nya kenapa,, tapi penyebabnya nnti ya tunggu 1 chap atau 2 chap lagi :3
Guest: Arigatooo xD pasti dilanjutt..
Kumada Chiyu: Hueee iyaa endingnya bagus tapi ngeselinn bangett! Aku aja sampe sekarang blm bisa move on. Kalo liat gambar kaori-chan nyeseknya nongol lagii :(( Nanti dijelasin kok Saku nya kenapa, keep reading ya :D
Fullbaster: masih dilanjut kok, tenang aja :D iya gomen kalo updatenya lama. Kerjaan ku masih banyak jadi fic nya agak terbengkalai T^T
Yosh terima kasih yang udah review! Buat silent reader juga masih ku tunggu loh review kaliaann. Jaa nee see you next chap !
ScarletGREMORY
…
"Aku hanya berperan sebagai Istrimu Tuan!"/"Pergilah aku bisa melakukannya sendiri"/"Kau masih berhubungan dengannya? Kau itu sudah mempunyai suami!"/"Dia itu hanya laki-laki berengsek Ino!"/"Sial! Karena menikah denganmu hidupku tak akan berakhir dengan bahagia!"/Apa benar ada akhir yang bahagia di dunia ini..?"
"Apa yang lebih kau inginkan? Akhir yang bahagia atau kisah yang bahagia?"
Summary from HAPPY ENDING
Upcoming fanfiction by ScarletGREMORY
