"Jadi... ada yang berminat menjelaskan apa yang terjadi? Siapa kalian, dan apa tujuan kalian menculikku?"

Ah.

Seketika aku menutup mulutku dengan sebelah tangan.

Jika seperti ini, kesannya bagai rombongan penjahat dituduh dalam pelaksanaan kriminalitas massal. Padahal belum tentu itulah maksud mereka.

Eh—tunggu.

Tapi mereka memang melakukannya, bukan? Menculikku dari pesta tanpa alasan jelas? Well, kurasa aku dapat mengecap kejadian ini sebagai penculikan untuk sementara.

Aku menurunkan tanganku. Manik mendapati mereka semua berpandang-pandangan—sebelum bibir bergerak serempak; menyebabkan jawaban saling tumpang tindih dalam ruang limousin dan menimbulkan pencemaran suara.

Cinderella Catastrophe

[—introduction—]

Story © alice dreamland

Cinderella © to the right owner

The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi

Warning: Typo(s), all in 1st PoV, GoMxReader/OC (possible Kagami/Himuro), HighSchool!AU, don't like? Click 'back', OC (kakak dan ibu tiri), 4k+

Kepalaku pusing—tolong. Mereka mengucapkannya serempak; membuat benakku tak dapat mencerna apa yang diutarakan setiap insan.

"T-Tunggu! Tolong ucapkan satu per satu, aku tidak dapat menghafalnya!" Aku menjerit—menyilangkan kedua tangan beberapa kali, menunjuk seorang lelaki berambut biru tua di ujung kanan. "Dimulai dari kau."

"Aomine Daiki," jawabnya—sedikit menguap. Ah, kurasa memang sudah sepantasnya ia mengantuk; ini jam dua belas malam—meski diriku belum berniat tidur sebelum mendapatkan penjelasan rinci.

Aku mengangguk. "Aomine-kun, kah?" Tersenyum tipis, mengamati penampilannya. Rambut berwarna navy blue, kulitnya gelap—kecoklatan.

Hm... Apa ia suka pergi ke pantai hingga kulitnya sehitam itu?

Ah sudalah—aku mengalihkan pandang pada lelaki di sebelahnya. Seakan tahu tatapan menuntut introduksi dariku, pemuda bermegane rambut hijau itu menaikkan kacamatanya—yang bahkan kuragu berubah posisi.

"Midorima Shintarou—nanodayo."

Eh? Ini hanya perasaaanku saja atau ia memang bersikap sok cool? Tapi apa-apaan dengan nanodayo? Itu sama sekali tidak keren!

Aku menggelengkan kepala singkat—kebiasaan kala berbagai imajinasi fana mengambil alih benak, kembali berusaha memfokuskan diri pada realita.

Manikku bergulir ke sampingnya—mendapati seorang lelaki berambut kuning (atau pirang) dengan tampang mengantuk; manik setengah terpenjam. Jujur, wajahnya sangat mirip perempuan—cantik dan terawat.

"Kise Ryouta—ssu." Ia mengucek matanya dengan sebelah tangan, berusaha tetap terjaga. Kemudian mengerjap-ngerjap seraya menepuk kedua pipinya keras—dan oh, ajaib; setelah itu ia tampak fresh!

(Atau setidaknya berusaha terlihat seperti itu.)

Eh—tunggu.

Aku memejamkan kedua mataku sejenak, meletakkan jari telunjuk di dagu.

Kise Ryouta? Aku pernah mendengarnya—tapi di mana? Manikku kembali meneliti wajahnya intens—menyebabkan lelaki itu mengerjapkan kedua mata; memandangku heran dengan kepala sedikit dimiringkan ke samping.

Kise... Ryouta.

Hm, Kise... Ryou—tunggu. Kise?

KI-KISE RYOUTA?!

T-Tunggu! Model tenar idola kedua kakakku itu?! Yang katanya tampan, baik, ramah, narsis, tapi tetap keren?! Ada apa ini? Mana mungkin ada artis yang seketika datang menculikku di malam hari?!

Huwaaaa! Tenang, tenang. Aku yakin pasti ada sesuatu yang salah di sini!

"C-Chotto! Kenapa kau ada di sini?! Bukannya kau model?!" [1] Setengah menjerit—menunjuknya dengan wajah pucat. Ia tersentak—limousin masih berjalan menuju lokasi misterius dengan seorang pria dua puluhan sebagai penyetir.

Namun kemudian tersenyum lebar, berucap ceria: "Iya—ssu, tapi kami semua datang untuk menjemputmu!"

"Menjemput? Bukannya menculik?" Aku memicingkan kedua mata—mengesampingkan fakta akhiran aneh (—ssu) pada kalimat yang ia gunakan, melipat tangan di depan dada.

"Chigau—ssu! Kami bukan penjahat!" [2] Suarannya agak meninggi, sepertinya ia berusaha menahan kantuk dan menjelaskan semuanya padaku—dan yap, itulah keinginanku. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi yang pasti—aku ingin penjelasan spesifik dengan detil terperinci kejadian.

"Kami adalah anak dari teman-teman ayahmu." Ia memulai. "Ayahmu banyak membantu otou-san kami, namun ia meninggal sebelum otou-san kami dapat membalas budi." [3]

"Eh? Kalian semua satu keluarga? Tapi warna rambut kalian berbeda," ujarku heran. Melihat satu per satu dan mendapati warna red cherry, navy blue, sunshine yellow, dark green, violet—eh. Hanya ini? Bukankah ada satu lagi?

Aku mengerjap heran. Kise-kun (kurasa lebih baik memanggilnya seperti ini) tampak hendak menjawab, namun aku memotong ucapannya kala bibir mengutarakan satu pertanyaan:

"A-Are? Bukannya tadi kalian berenam?"

"Aku sedari tadi berada di sini."

Seketika aku menoleh ke asal suara—mendapati seorang lelaki berambut baby blue menatapku lurus dengan kedua manik aquanya. Ups, kurasa ia sedikit kesal—terbukti dengan nada suara datarnya.

T-Tapi, hei! Aku tidak menyadarinya sama sekali! Ia bilang telah berada di sana sejak tadi? Bagaimana bisa aku begitu tak peka?! Uhhh, pasti ada yang salah dengan penglihatanku! Iya—aku harus segera cek mata!

"A-Ah, g-gomenasai!" [4] Aku membungkuk sedikit panik. Ini memalukkan, sungguh!

Lelaki itu mengangguk—wajahnya datar, tubuhnya mungil. Uh, imut sekali! Mungkin karena fisiknya yang terkecil di antara semua pemuda ini, ia jadi sangat tersembunyi.

"Kami tidak sekeluarga—ssu." Jawaban Kise-kun membuatku kembali memfokuskan diri padanya. Dan lelaki itu melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda.

"Jadi, seperti yang kukatakan sebelumnya—ayahmu banyak membantu keluarga kami, namun ia meninggal sebelum keluarga kami sempat membalas budi." Kise-kun berujar. "Awalnya kami merasa tidak dapat melakukan apa-apa, namun semuanya berubah saat kami mengetahui fakta bahwa ayahmu memiliki anak perempuan kandung."

Aku mengerjap. Perempuan itu maksudnya...

"Dan kaulah anak perempuan itu." Kise-kun menatapku lurus. Oh, sebenarnya—semuanya memandangku serius; tidak hanya Kise-kun.

Aku tersenyum ragu—batinku mulai menangkap tujuan mereka, namun tetap! Aku harus memastikan!

"Lalu... kalian menculikku untuk membalas budi?"

"Tepat sekali." Lelaki berambut red cherry yang menarik tanganku tadi berujar datar. Namun uh—kenapa tatapannya sangat mengintimidasi? Dan apa-apaan kedua maniknya yang berbeda warna itu? Apa ia mengenakan lensa warna?

"Tak lama setelah kami mengetahui keberadaanmu, kami mengunjungi rumahmu," lanjut sang red head.

Aku mengerjap. Mereka mengunjungi rumahku? Tapi bagaimana aku bisa tidak menyadarinya?

"Namun kami hanya bertemu seorang wanita dan dua anak gadis yang mengaku tidak mengenalmu—ssu." Kise-kun mengerucutkan bibirnya. "Meski fansku, mereka bahkan tidak mau memberikan secuil informasi pun tentangmu."

Ah—begitulah tipikal kedua kakakku; keras kepala.

Mereka tidak ingin ketahuan memperlakukanku—yang notabene anggota keluarga mereka—dengan buruk.

"Tapi saat hendak pulang, Kurokocchi tidak sengaja melihatmu sedang membersihkan halaman belakang."

Aku memiringkan kepala sedikit—tersenyum ragu. Siapa? Siapa yang melihatku? K-Kurokocchi? Siapa dia? Yang rambut merah, kah?

"Ettou, maksudmu Kurokocchi?" tanyaku heran. Kise-kun menatapku heran, namun kemudian menepuk kedua tangannya dengan wajah terkejut.

"Ah! Gomen! Aku lupa kau belum tahu semua nama kami," ujarnya singkat—lalu menunjuk seorang pemuda berambut baby blue yang tadi tak kusadari hawanya.

"Dia Kuroko Tetsuya, aku memanggilnya Kurokocchi—ssu."

Nicknamenya aneh; namun terkesan imut. Aku pun memandang pemuda mungil itu lurus, tampaknya ia menyadari tatapanku—karenanya ia pun membalas pandanganku.

"Doumo. Kuroko Tetsuya desu, yoroshiku." [5] Ia membungkuk sedikit. Ah! Sopan sekali, tapi... wajahnya datar? Apa ia tidak suka bertemu denganku?

Eh—tunggu. Ia kan sudah memperkenalkan diri, bukankah wajar jika aku membalas introduksi? Aku pun tersenyum ramah.

"K-Kochira koso! Yoroshiku Kuroko-kun, watashi wa—" [6]

"Kau tidak perlu memperkenalkan diri—nanodayo, kami sudah tahu siapa dirimu." Sang rambut hijau, kalau tidak salah namanya... Ah, ya! Midorima-kun! Melihat rambutnya, membantuku mengingat midori. [7]

Tapi—hei! Apa yang ia katakan? Mereka sudah tahu siapa namaku?

"Iya—ssu. Kami sudah tahu." Kise-kun menimpali. Kemudian hendak mengutarakan kalimat lain, namun terpotong karena seorang lelaki berambut ungu menguap keras.

"Aku mau tidur... Kise-chin, cepat selesaikan penjelasannya, sudah malam..." Pemuda itu berujar malas sambil mengucek mata dengan sebelah tangan.

Em, ini hanya perasaanku saja atau ia terlihat seperti anak kecil?

Dan... chin? Apa itu?

Kise-kun menggembungkan kedua pipi, kemudian menghela napas. Hahh, aku yakin Kise-kun juga mengantuk, namun memaksa ceritakan semua padaku agar merasa nyaman dengan mereka. Baik sekali.

"Jadi, tadi kita sampai di mana—ssu?" tanya Kise-kun memiringkan kepalanya sedikit ke samping. Hei, dia model kan? Mengapa kesannya polos sekali?

"Saat Tetsu melihatnya, bodoh." Lelaki berambut navy blue menimpali. Tadi dia itu... Ah, ya! Aomine-kun! Tapi, loh? Ia tidak tidur? Daritadi aku tak mendapatinya bersuara, sehingga kusimpulkan sedang terlelap.

"Aaa, iya. Saat Kurokocchi melihatmu." Kise-kun menepuk kedua tangan. "Gomen—ssu, aku sempat lupa untuk sejenak."

Aku mengangguk. "Jadi, Kuroko-kun melihatku? Tapi bagaimana bisa? Aku tidak menyadari dirinya—"

Tunggu. Kuroko-kun yang berambut biru muda, bukan? Yang sama sekali tidak kusadari hawa keberadaannya?

Hei! Jika diingat-ingat; ia seperti hantu—suka muncul dan menghilang mendadak! Hm, apa ia mempunyai bakat alami menghilang dari sudut pandang? Seperti ninja?

Jika seperti itu situasinya—wajar jika aku tak mendapati kehadirannya.

"Kurokocchi memang memiliki hawa keberadaan yang tipis—ssu," terang Kise-kun. "Waktu itu ia terus memanggilmu tapi kau tak sadar dan masuk dalam bangunan lewat pintu belakang tanpa mengetahui apapun."

"Begitukah?" tanyaku antusias. Aku tidak menyangka ada yang melihatku saat itu, bahkan hingga merencanakan sesuatu semacam ini.

"Kami sendiri baru diberitahu Kurokocchi dalam perjalanan pulang—ssu," lanjut Kise-kun. "Jadi kami tidak dapat kembali dan memutuskan memata-matai rumahmu keesokan harinya."

Aku mengangguk. Biasanya aku selalu fokus pada tugas, sehingga jarang memperhatikan sekitar—mungkin ini alasan lain mengapa aku tidak mendengar Kuroko-kun memanggilku; saat itu pikiranku sedang berada di tempat lain.

(Atau memang karena hawa keberadaan Kuroko-kun yang terlalu tipis.)

"Kami tidak dapat masuk ke rumah, hanya memata-matai di dekat gerbang dan rerumputan—tapi cukup membuat kami mengetahui perlakuan tidak adil yang kau terima dari kedua kakak dan ibu tirimu." Kise-kun mengangguk-angguk dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

C-Chotto, mereka tahu bahwa kedua kakak dan ibuku bukan saudara kandung?

"Bagaimana kalian tahu kalau ibuku yang sekarang adalah ibu tiri?" tanyaku heran.

"Koneksi." Aku menoleh pada sang rambut merah yang menjawab dengan intonasi datar. Em—siapa? Oh ya, aku belum menanyakan namanya!

Dan koneksi? Apa maksudnya? Orang kaya, begitu? Ya—memang sih; mengingat aku sedang berada dalam limousin, sudah pasti ada yang 'luar biasa' di sini.

"Akashicchi menyewa detektif handal untuk melakukan penyelidikan latar belakang hidupmu—ssu," Kise-kun menjelaskan.

Akashicchi? Pemuda berambut red cherry tadi, kah?

"Akashicchi?" tanyaku heran, memiringkan kepala sedikit ke samping.

Kise-kun menunjuk sang lelaki merah—pemuda yang menarikku masuk dalam kekacauan ini sejak pertama. Ah! Yappari! Aku sudah curiga! [8]

"Dia Akashicchi, lebih tepatnya Akashi Seijuuro—ssu." Aku mengangguk tanda mengerti. Sepertinya aku harus membiasakan diri menghafal setiap nama mereka, atau kemungkinan tertukar sangatlah besar.

Tapi—tunggu. Apa kata Kise-kun tadi? Akashi-kun (kurasa lebih baik memanggilnya seperti ini) menyewa seorang detektif untuk mengetahui segala lika-liku hidupku?

"Jadi intinya, detektif itulah yang membuat kami tahu bahwa kau memiliki saudara tiri." Kise-kun mengacak helaian rambut pirangnya dengan tangan kanan. "Tapi gomen—ssu, kami sudah mengetahuinya lima bulan lalu dan baru mengambil tindakan sekarang."

"Eh?" Aku kehabisan kata-kata.

"Sejak saat itu, kami mencoba berbagai rencana untuk membebaskanmu. Namun sulit, kedua kakakmu dan ibu tiri itu bagai penghalang besi bagi kami." Kali ini, Aomine-kun melanjutkan.

Aku terdiam—kalimat terus berputar dalam benak bagai kaset rusak. Mereka mengetahuinya sejak lima bulan yang lalu? Terlebih—mereka mencoba menyelamatkanku?

Tapi kurasa merencanakan 'penculikan' semacam ini memang sulit, mengingat aku tak diperkenankan keluar rumah sekali pun semenjak sepuluh tahun yang lalu.

Ya—semenjak otou-san meninggal.

Tidak, perlakuan mereka padaku telah buruk bahkan sebelum otou-san tewas dalam kecelakaan. Aku sendiri tidak tahu apa salahanku, sehingga dapat memicu kebencian dalam hati mereka.

(Meski mereka memasang topeng memuakkan—bersikap seakan baik padaku—hanya saat otou-san dalam pandangan.)

Awalnya, aku mencoba tidak membenci mereka. Namun sulit—apalagi sudah sepuluh tahun diperalat semacam ini; sungguh membuatku frustasi dan sedih. Andai okaa-san masih di sini, mungkin kehidupanku akan lebih baik. [9]

Tapi...

Hari ini aku sadar, di luar sana—ada orang yang memperhatikanku, bahkan melakukan hal tak terduga hanya karena mencoba menyelamatkanku.

Aku tahu itu untuk balas budi, namun tidak apa kan? Setidaknya kelakuan mereka merupakan bukti bahwa mereka peduli.

Manikku mulai berkaca-kaca.

"Hingga Akashi-kun mendapatkan undangan menuju pesta bisnis keluarga Suzumiko. Kami ingat keluargamu termasuk kaya—apalagi ibu tirimu pemilik perusahaan komunikasi ternama," ucap Kuroko-kun datar. "Karenanya kami yakin keluargamu pun diundang."

Hei, bukannya pesta bisnis itu hanya ditujukan untuk orang-orang ternama atau berpengaruh besar dalam dunia politik? Jadi keluarga Akashi-kun termasuk, ya?

Dan... mengenai perusahaan komunikasi; itu sebenarnya milik ayahku—bukan keluarga tiriku. Mereka mencurinya.

(Meski sebenarnya kutahu itu hanya masalah warisan dari ayah; aku tetap berasumsi demikian.)

"Setelah itu kami mengirimkanmu paket berisi gaun pesta, rasanya tidak mungkin kau tidak tahu apa pun mengenai pestanya—nanodayo." Midorima-kun berujar sambil menaikkan kacamatanya.

Aku tersenyum sedih. Sesungguhnya ucapan Midorima-kun tidak sepenuhnya benar; aku tidak diberitahu apa pun. Mereka memintaku bantu merias, tanpa diperkenankan mengerti situasi.

"Saat itu Murasakibara-kun yang mengantarnya. Jadi ia memastikan kau yang mendapatkan, bukan kedua kakak maupun ibu tirimu." Kuroko-kun berujar datar—meski kudapati sedikit, bibirnya membentuk senyuman.

Eh—Murasakibara?

Aku pun mengamati mereka satu per satu.

Rambut hijau dengan megane—Midorima-kun.

Rambut navy blue berkulit gelap—Aomine-kun.

Rambut kuning serta model tabloid—Kise-kun.

Rambut red cherry bermanik heterokom—Akashi-kun.

Rambut baby blue dengan hawa tipis—Kuroko-kun.

Ah! Berarti yang berambut ungu dan memiliki fisik terbesarlah Murasakibara-kun!

"Aka-chin bilang dengan begitu ia akan membelikanku kue..."

Baru saja dipikirkan—tiba-tiba orangnya bicara. Apalagi mengucapkannya dengan nada kekanakan semacam itu. Kurasa ia memang tipikal childish ya?

(Meski sangat tidak sesuai dengan fisik yang bagai raksasa.)

Oh, jika diingat—pantas saja saat itu aku merasa janggal dengan ukuran tubuh sang pengantar paket. Namun rasa ingin tahu akan isi bingkisan tersebut membuatku tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.

Kise-kun tak mempermasalahkan komentar Murasakibara-kun (kurasa memanggil semua dengan akhiran kun adalah pilihan terbaik). "Awalnya kami ragu jika kau tidak akan datang, namun GPS yang dipasangkan Akashicchi menunjukkan perubahan lokasi—"

Aku mengerjap beberapa kali—heran. "Maksudnya?"

"Aku memasang GPS kecil di gaun yang kau kenakan untuk melacak keberadaanmu." Akashi-kun angkat bicara.

Hah? GPS? Melacak keberadaanku? Oh, jadi mereka akan tahu jika aku keluar rumah, begitu? Manikku melebar, lidahku kelu. Hanya diam tak berkomentar—keringat dingin mengucur deras.

"B-Baiklah, t-tolong lanjutkan." Suaraku bergetar, aku terkejut—mereka ini punya berbagai akal ya? Aku bahkan sedikit pun tidak pernah menyangka akan ada yang memasangkan alat pelacak pada pakaianku.

"Hm, setelah itu... kami pun membawamu pergi." Kise-kun mengakhiri.

"Maaf, kami tidak bermaksud menakutimu." Aomine-kun menggaruk bagian belakang kepalanya—membuat pandanganku yang semula terpusat pada Kise-kun beralih padanya. "Tapi aku sedikit heran, mengapa kau tidak menjerit atau semacamnya? Mengingat kami semua orang asing."

"Itu pasti karena ia mengenaliku—ssu!" seru Kise-kun ceria.

"Tidak mungkin, cahayanya saat itu terlalu remang untuk melihat wajahmu—nanodayo." Midorima-kun kembali menaikkan kacamatanya. Aku heran, sudah berapa kali kulihat ia menaikkan kacamata yang bahkan kuragukan pergantian posisinya?

Kemudian tiga insan berbeda warna rambut itu mulai bersekukuh pada pendapat masing-masing, memperdebatkan topik mengapa aku tidak menjerit.

Sangat akrab.

Benar-benar manis dan indah dipandang.

Tanpa sadar aku tertawa kecil. Spontan; membuat pandangan mereka semula teralihkan padaku—menatapku dengan beragam ekspresi. Aku langsung menghentikan tawaku—menggantinya dengan senyuman canggung.

"Ah, gomenasai." Menunduk—pipi sedikit memerah malu. "A-Aku tidak bermaksud menertawai kalian, hanya saja aku merasa kalian semua sangat akrab. Rasanya ingin memiliki keluarga seperti kalian."

Hening.

Detik demi detik berlalu.

Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar suara mesin kendaraan berjalan mulus—mengingat ini di jalan raya; tengah malam.

Aku masih tidak berani mengadah—memandang mereka. Bagaimana jika mereka tersinggung oleh komentarku? Uh...

Semenit—kurasa lebih—semakin terlewat.

Kumpulan gagasan negatif berkecamuk dalam pikiranku.

Yappari, kurasa mereka marah! Astaga, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin—

Kereta batinku teralihkan seketika karena sebuah tangan mencakup kedua pipiku lembut—menarikku untuk mengadah. Dan kudapati Kise-kun di hadapanku, tersenyum cerah; bagai bunga matahari.

"Mungkin kau belum tahu, tapi kami akan menjadi keluarga barumu—ssu!" Tanpa melepaskan tangannya, Kise-kun berujar. Aku melebarkan kedua mata. Hei, aku pasti salah dengar kan? Mereka berenam bahkan bukan satu keluarga!

"Ryouta, lepaskan tanganmu dari wajahnya." Akashi-kun memerintah dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Aku meneguk ludah—merasa tak nyaman karena pandangannya ditujukan padaku dan Kise-kun.

Selain itu, ini hanya perasaanku saja atau yang lain juga menatap kami dengan tatapan serupa? Mengisyaratkan rasa... iri dan cemburu? Entahlah. Aku tidak berani mengadili.

"Ha'i, ha'i." Kise-kun melepaskanku setengah hati—menggembungkan kedua pipi kesal. Aku tersenyum kecil, meski masih heran akan kalimat yang dilontarkan Kise-kun tadi.

"Mungkin kau belum tahu, tapi kami akan menjadi keluarga barumu—ssu!"

"Kau tidak akan kembali ke rumah lamamu." Aku menoleh ke asal suara—sekali lagi, Akashi-kun. Tapi, hei! Apa-apaan pandangannya itu? Manik heterokomnya menatapku angkuh penuh intimidasi!

Uhh, aku jadi merasa bagai tersangka diinterogasi seorang polisi.

"Mulai hari ini, kau akan tinggal denganku." Belum sempat aku mencerna kalimat pertamanya, lelaki itu sudah menambah.

Aku mengerjapkan kedua mata—otak memproses beragam info baru menghujan benak.

Wait. Ia bilang aku tidak perlu kembali ke rumah? Dan aku akan tinggal dengannya?

Serius? Maksudku—bersama serumah? Tapi hei, bukankah itu akan sangat merepotkan? Meski untuk balas budi, ini sudah sangat berlebihan!

Cepat, aku menggelengkan kepala—mengibaskan kedua tangan di depan dada. "Tidak, kalian sudah membelikan gaun serta aksesorisnya saja aku sudah senang! Aku tidak mau merepotkan kalian lebih lagi! Kalian bisa mengantarku pulang sekarang."

"Aku tidak ingat memberimu pilihan." Kini Akashi-kun memicingkan kedua matanya padaku. Aku meneguk ludah, sepertinya ia kesal. Kurasa lebih baik tidak membuatnya marah; melihatnya seperti ini saja sudah cukup mengerikan.

Tapi, tinggal bersama orang yang baru saja dikenal itu rasanya kan...

"Lebih baik kau ikut Akashicchi saja—ssu! Daripada kembali ke rumah lamamu dan diperlakukan buruk!" seru Kise-kun. Aku menunduk, memainkan jemari tanganku.

Apa tidak apa-apa memilih jalur ini?

"Bodoh, biarkan ia memilih sendiri keputusannya!" Aomine-kun berujar, memukul Kise-kun secara bercanda—kemudian menguap.

"Hidoi—ssu, Aominecchi!" [10] Kise-kun menggembungkan kedua pipi. "Tapi Aominecchi juga sebenarnya setuju dengan ucapanku kan?"

Aomine-kun menghela napas. "Memang, lebih baik kau ikut dengan Akashi dibanding kembali ke rumah neraka itu, chibi." [11]

Aku mendelik. Chibi? Apa-apaan panggilan itu? Aku akui, fisikku kecil—namun sepertinya tidak sekecil itu untuk dipanggil chibi.

Memandangnya tajam—berseru kencang, "Hei! Apa maksudmu chi—"

Kalimatku terhenti karena aksinya. Ia maju sedikit, mengelus kepalaku lembut. "Meski kau akan sangat merepotkan, kurasa lebih baik bersama kami saja. Kami akan menjadi kakak-kakakmu dan menjagamu."

Aku memandangnya polos. Aomine-kun mengalihkan pandangannya; sepertinya sedikit malu akan penuturannya sendiri.

"Tapi sepertinya umur kita tidak berbeda jauh," ucapku terus terang. Aomine-kun melepas tangannya dari kepalaku, menyentil dahiku keras.

"Itaii! Apa yang kau lakukan?!" Aku melotot tidak terima.

"Itu karena badanmu lebih kecil, jadi kami akan berperan sebagai enam anikimu. Mengerti, chibi?" [12]

Aku menggembungkan kedua pipi. "Wakatta, wakatta yo! Dan mou, berhenti memanggilku seperti itu!" [13]

Aomine-kun hendak kembali melontarkan argumen—jika saja Midorima-kun tidak memotong.

"Lebih baik kau memilih berdasarkan kata hatimu—nanodayo. Bukannya aku peduli! Tapi itu yang dikatakan Oha Asa hari ini." Ia kembali menaikkan kacamatanya.

Dan—eh? Aku baru menyadari tangan kirinya diperban. Maksudku—jari-jarinya. Apa ia baru saja melakukan operasi jari?

Lalu... Oha Asa? Siapa dia? Psikolog terkenal, kah?

"Oha Asa?" Aku menaikkan sebelah alis.

"Acara ramalan kesukaan Midorima-kun," jawab Kuroko-kun dengan senyuman tipis. Aku memandang Kuroko-kun seraya mengangguk berterimakasih.

Wah, aku tidak menyangka Midorima-kun menyukai ramalan.

"Lebih baik chibi-chin ikuti ucapan Aka-chin," ucap Murasakibara-kun malas—seakan tidak tertarik. Aku menggembungkan kedua pipi. Huuf, kenapa Murasakibara-kun jadi ikut-ikutan memanggilku chibi?

(Memang dibandingkan dengan tubuh raksasanya—aku seperti anak kecil. Tapi kurasa tidak sekecil itu! Hmph!)

Aku menghela napas. Kembali memandang mereka satu per satu dengan senyuman ragu. "Aku... tidak akan merepotkan kalian, kan?"

"Tentu! Mulai hari ini kau sudah menjadi bagian dari kami—ssu! Kami adalah keluarga barumu!" Kise-kun berujar ceria, diiringi anggukan yang lainnya.

Aku tidak bisa menahannya lagi, kata itu: keluarga—membuat air mataku turun membasahi pipi.

"H-Huwee? A-Apa ada yang salah dengan ucapanku—ssu?!" Kise-kun panik sendiri.

"Oi, chibi. Kau tidak apa-apa kan?" Aomine-kun bertanya—berusaha bersuara tidak tertarik; meski kudapati sedikit kekhawatiran di sana.

"Apa kau tidak apa-apa?" Kuroko-kun memberikanku tisu.

Aku berusaha menghentikan tangisku—menghapus cairan bening yang terus bereproduksi dalam pelupuk. Kemudian mengusahakan sebuah senyuman—yang tentu direspon dengan ekspresi heran mereka.

Maksudku—siapa orang yang tidak tampak aneh jika menangis sambil tersenyum?

"A-Arigatou, minnaa..." [14]

Akhirnya, aku mengucapkannya.

Aomine-kun, Midorima-kun, Kise-kun, dan Kuroko-kun berpandang-pandangan. Murasakibara-kun menatapku malas—seperti biasa. Akashi-kun melipat kedua tangan di depan dada; memandangku dengan tatapan seakan ia mengerti semuanya.

Sementara itu, aku masih berusaha menghentikkan air mata yang terus bergulir menuruni pipi.

Sungguh.

Aku sangat gembira.

Ini kebahagiaan berlimpah yang tidak kurasakan sejak lama.

Padahal aku sudah senang menerima kado dari mereka, namun tak kusangka—mereka melakukannya hingga sejauh ini.

Meski hanya balas budi, sekali lagi kutekankan—tidak mungkin takkan dilakukan tanpa dilandasi rasa peduli, bukan?

Cairan bening mulai berhenti membasahi pelupuk, meski diriku masih sesenggukan dengan pipi semerah apel. Aku pun memandang mereka satu per satu seraya mengembangkan senyuman manis.

Sebagai balasan ucapan terima kasihku, mereka tersenyum tipis. Bahkan Murasakibara-kun dan Midorima-kun juga.

(Dan sepertinya itu akan menjadi bahan jailan yang bagus bagi Kise-kun untuk menggoda sang rambut hijau.)

Ah. Tiba-tiba terlintas dalam benakku pertanyaan yang belum sempat kujawab. Sontak, aku pun memekik kecil—membuat pandangan mereka beralih heran.

"O-Ohya—mengenai pertanyaan Aomine-kun; alasan mengapa aku tidak menjerit sebenarnya cukup banyak." Rasanya tidak sopan jika tak menjawab pertanyaan yang mereka berikan, padahal aku telah memberi banyak pertanyaan dan dijawab dengan alasan memuaskan.

Mereka tak merespon, aku pun melanjutkan.

"Pertama, jika aku menjerit—ibu tiri dan kedua kakakku akan menyadari kehadiranku. Aku tidak datang bersama mereka; tapi kabur." Aku tersenyum miris, mendapati beberapa memandangku simpati.

Sedangkan sepasang manik heterokom tampak memaklumi—seakan ia mengerti. Namun aku tak tahu, itu hanyalah asumsiku akan tatapan Akashi-kun.

"Kedua, kalian tampak seumuran denganku—kecuali Murasakibara-kun, Kise-kun, Aomine-kun, dan Midorima-kun. Murasakibara-kun sepertinya universitas ya? Kalian bertiga SMA jenjang akhir." Aku menunjuk mereka berempat.

Dan kudapati Akashi-kun serta Kuroko-kun mendelik akan komentarku yang mendiskriminasi mereka—serta sedikit rasis; ups. Tapi hei, wajah mereka tergolong manis dan tinggi mereka pun tak berbeda jauh dariku!

Aku positif mereka berdua—

"Asal kau tahu, kami semua seumuran denganmu."

Kereta batinku terhenti, lidahku tercekat.

Eh?

Tunggu—apa yang tadi dikatakan Akashi-kun?

Kita semua seumuran?

Semuanya?

Bahkan Murasakibara-kun yang tampak bagai titan?

Serius?

"Akashi-kun bercanda, kan? Dari sisi mana pun, aku hanya dapat menduga Akashi-kun dan Kuroko-kun yang seumuran denganku." Aku memandangnya dengan manik melebar.

Yah—aku sadar sedikit menyindir mereka. Namun bagaimana pun, mereka berdualah yang terpendek di antara keenam pemuda ini.

Lelaki berambut merah itu memicingkan kedua mata—membalas tatapanku dengan manik kuning yang sedikit berpendar. Entah karena cahaya lampu ruangan atau dari jendela luar, pastinya—Akashi-kun terlihat tidak main-main dengan ucapannya.

Jadi, apa yang ia katakan itu nyata?

Aku mengerjapkan kedua mata. Memandang mereka semua heran.

"Kalian semua lima belas tahun?" pekikku.

Dan kudapati anggukan kompak dari keenam pemuda di hadapan sebagai respon.

Senyuman ragu mengembang di wajahku. Astaga, bagaimana aku tidak dapat menyadarinya? Eh—tidak. Orang dewasa pun kurasa akan sulit menyimpulkan umur mereka; mengingat tinggi mereka yang tak tergolong normal.

Aku menggelengkan kepala beberapa kali, kemudian menghela napas. Tak kusangka hari ini kudapati berbagai banyak hal yang sangat mengejutkan jiwa.

"Baiklah, aku percaya." Aku kembali tersenyum tulus. "Ngomong-ngomong, aku belum mengucapkan alasan terakhirku."

Kise-kun mengangguk—mewakili mereka, mengisyaratkan diriku untuk melanjutkan.

"Terakhir—" Aku mengambangkan kalimatku; memandang mereka satu per satu dengan senyuman lebar.

"—Aku memiliki firasat kalau kalian bukanlah orang jahat."

Sunyi sejenak.

Namun perlahan, mereka ikut tersenyum denganku. Meski beragam ukuran, namun semua kudapati melakukannya secara tulus. Beberapa saat mengekspresikan kebahagiaan dalam hening, hingga aku mengingat sesuatu.

"Ah, Akashi-kun." Kualihkan pandang pada sang lelaki merah yang telah kembali berekspresi datar nan menusuk.

Uh, kurasa ia harus lebih sering tersenyum—seperti Kise-kun. Lagipula, tampangnya oke—tidak kalah keren dari sang model—sayang kan jika hanya digunakan untuk menakut-nakuti makhluk lain?

(Tapi sepertinya membayangkan Akashi-kun berubah menjadi Kise-kun akan jauh lebih mengerikan dibanding Akashi-kun mengamuk. Uhuk.)

Masih dengan senyuman semanis gulali meski pikiran bercabang, aku menatapnya lurus—direspon pandangan heran seorang Akashi Seijuuro.

Berucap antusias, "Mohon bantuan sebagai teman serumah mulai hari ini ya!"

Ia tampak terkejut. Hei, apakah ia tidak menduganya? Ah, mungkin aku hanya salah lihat—toh Akashi-kun kini telah kembali pada postur absolutnya, mengangguk seraya tersenyum samar.

Meski hanya samar, itu sudah merupakan reaksi positif bukan? Mengetahuinya, aku semakin bersemangat.

Entah apa yang akan terjadi di kehidupan baruku dalam lingkungan mereka.

Yang pasti, kuyakin akan jauh lebih baik dibanding yang lama.

Karena itulah...

Selamat tinggal, kehidupanku sebagai seorang 'Cinderella'.

.

[VOTE ENDING DIBUKA DI PROFIL SAYA]

Huwaaa! Maaf, maaf! Saya ngak nyangka post chap baru (dan menghapus bagian lama) menghasilkan update pehape ;w; saya cenderung suka edit setelah publish—rerata karena nemuin banyak salah hiks.

Sekali lagi saya minta maaf huwaaaa— /ngaistanah/

Aneh? Tentu. Saya yang notabene tidak biasa membuat first PoV emang sulit nulis beginian. Apalagi belum pakai nama.

Ehem. Jadi mungkin untuk pertama banyak AkashixReader/OC; soalnya kan notabene saya buatnya AkaReader. Tapi setelah itu mau saya jejerin satu per satu. Biar adil huehehehe.

Ngomong-ngomong vote cowo ending juga dibuka. Dan saya putuskan untuk menambah Nijimura. Jadi cerita ini bakalan errr... reverse harem parah /dor.

Awalnya pengen Haizaki juga, tapi Haizaki saya susah karakternya—mengetahui saya tipe anak alim ;3 /dicincang

Tapi mungkin scenenya ada huehehehee /woi/

Ini balasan reviewanon:

-megane-chan

Iya, kalau mainstream rasanya kurang ngeh saya #dor. Itu ada alesannya kan kenapa si cewe mau aja ditarik *nunjuk atas* #woi

Iyap. Reverse harem. Ada kemungkinan Himuro/Kagami/Nijimura/Haizaki juga.

Arisu? Oke, makasih review dan votenya x3

-Nikio Suzuka

Saya ngak maksa kok, tapi emang diusahain biar ga perlu pake nama. Oke, Akizuki Airi ya? Namanya memang bagus dalam pendapat saya /dor

Terima kasih banyak reviewnya ;3

-akashiro46

Dengan sangat terpaksa saya mengatakan tidak bisa, soalnya itu ngelanggar guidelines, nak. Author semacam kami juga takut melanggar aturan website ini.

Maaf. Kalau mau, coba baca di wattpad—jika di wattpad, saya membuat xReader menggunakan [name] semua. Sama sekali tidak ada OC.

Terima kasih reviewnya :3

Namanya belum dipake untuk chap ini—tapi chap depan mungkin dipake. Mungkin. Atau bahkan ngak bakal dipake sampe akhir saya gatau /dor.

Untuk sementara hasil voting nama (saya ngak ikut):

Akizuki Airi: 7

Yakimoto Arisu: 5

Iwazumi Yukiko: 2

Makasih banyak yang fave, fol, dan mereview! Saya seneng banget loh; apalagi ngenal ini fict kesannya beda dari fict drama picisan yang biasa saya buat hiksu—agak keCinderellaan #oi.

Ah ya, ini kamusnya. Hanya untuk berjaga-jaga ;3

[1]: "T-Tunggu! Kenapa kau ada di sini?! Bukannya kau model?!"

[2]: "Bukan—ssu! Kami bukan penjahat!"

[3]: "Ayahmu banyak membantu ayah kami, namun ia meninggal sebelum ayah kami dapat membalas budi."

[4]: "A-Ah, maaf!"

[5]: "Halo. Kuroko Tetsuya, salam kenal."

[6]: "A-Aku juga! Salam kenal Kuroko-kun, namaku—"

[7]: Midori berarti hijau, melihat rambut Midorima yang berwarna hijau, membantu untuk mengingat marganya.

[8]: 'Ah! Sudah kuduga! Aku sudah curiga!'

[9]: 'Andai ibu masih di sini, mungkin kehidupanku akan lebih baik.'

[10]: "Kejam—ssu, Aominecchi!"

[11]: Chibi biasanya untuk panggilan anak kecil, rerata SD.

[12]: "Itu karena badanmu lebih kecil, jadi kami akan berperan sebagai enam kakak lelakimu. Mengerti, chibi?"

[13]: "Mengerti, aku mengerti kok! Dan mou, berhenti memanggilku seperti itu!"

[14]: "T-Terima kasih, semuanyaa..."

Sekian!

~alice dreamland.