Cinderella Catastrophe
[—the house—]
Story © alice dreamland
Cinderella © to the right owner
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Warning: Typo(s), all in 1st PoV, GoMxReader/OC (possible Kagami/Himuro), HighSchool!AU, don't like? Click 'back', OC (kakak dan ibu tiri), 3k+
Aku masih terus melempar senyum pada Akashi-kun. Namun tiba-tiba, kurasakan bulu kudukku meremang dan ruangan mendingin tanpa sebab. Manikku mengerjap heran sementara pandangan beralih pada kawanan pelangi lainnya.
(... Ini hanya perasaanku saja atau aku melihat aura gelap mencuar dari kelima pemuda lainnya?)
"Chotto, kenapa kau hanya mengucapkannya pada Akashicchi—ssu?!" pekikan Kise-kun kembali membuatku memusatkan pandangan padanya. Dan—eh? Mengapa Kise-kun memandangku seperti itu? Apa aku membuatnya marah tanpa sengaja?
"H-Hah? Bukankah aku akan tinggal dengan Akashi-kun?" tanyaku heran, masih sedikit terusik akan maniknya yang memancarkan rasa sebal.
"Iya—ssu! Tapi mulai hari ini kami akan menjadi keluargamu! Setidaknya katakanlah sesuatu!" Kise-kun mengerucutkan bibirnya. Ia kekanakan, itu pendapatku. Tapi entah, menurutku dirinya manis dengan perilaku semacam itu.
Eh?
A-Apa yang baru saja kupikirkan?! Tidak! Sekarang aku harus fokus mengabulkan keinginan—maksudku merespon penuturan—Kise-kun!
"Em..." Namun aku kehabisan kata-kata. Karena sungguh, aku tidak dapat memikirkan frasa pas sebagai balasan. Memutar otak, memandang mereka satu per satu.
Tapi—hei!
Tidak hanya Kise-kun; ternyata Aomine-kun dan Midorima-kun juga memandangku lekat! Kuroko-kun tampak maklum akan situasi—sementara Murasakibara-kun menatapku malas. Akashi-kun diam menunggu jawaban, mengingat sifatnya memang tenang dan berwibawa (selama kuamati).
Uh, aku jadi semakin gugup.
Menarik napas dalam-dalam, menetralisir ketenangan diri—seraya berujar dengan sedikit membungkuk, "Y-Yoroshiku onegaishimasu untuk kedepannya!"
Entah—kalimat itu terlontar begitu saja. Dan saat sadar akan penuturan yang kuserukan tanpa berpikir; aku pun mengadah.
Meski berpikir setelah mengucapkan, aku rasa tidak perlu menarik kembali perkataan tersebut. Karena itu benar apa adanya.
Yoroshiku onegaishimasu—mohon bantuannya atau dapat dikatakan 'mohon kita bisa akrab'. Yah, aku sendiri ingin mencoba dekat dengan mereka. Meski kurasa cukup sulit karena sebelum ini diriku tidak pernah berhubungan terlalu 'baik' dengan seseorang.
Ingat, bukan? Aku dikurung semenjak sepuluh tahun yang lalu. Tidak diperkenankan keluar rumah bahkan untuk berbelanja. Aku harus memasak sesuai bahan yang ada.
Sekolah? Tidak, aku tidak sekolah—hanya diperbolehkan membaca berbagai buku dalam mansion kami. Mengingat buku dalam mansion kami berjumlah ribuan dan perpustakaan sangatlah luas; seringkali aku seharian berada di sana—kala ibu tiri dan kedua kakakku pergi berlibur meninggalkan rumah.
Karena itulah—aku tidak dekat dengan siapa pun. Sahabatku hanyalah burung-burung yang berkicau ria pada jendela loteng kamarku. Pernah, aku berbincang dengan manusia lain selain keluargaku sebelum ini—namun itu sudah lama sekali.
Dan memoriku pada masa kecil sangat rapuh, membuat gambaran dua orang itu buram dalam benakku.
Yang kuingat hanyalah: mereka lelaki, memiliki rambut merah tua dan hitam, serta seringkali bertemu denganku pada saat aku sekitar... lima tahun.
Ya, kurasa lima tahun.
Latarnya pun tak jelas—tapi jika ingatanku benar, maka kami bertiga sering bermain di lapangan basket. Meski sepertinya mustahil. Aku tidak atletik, dan kurasa kami tidaklah sedekat itu.
Lalu yang menjadi beragam pertanyaan adalah, apakah benar aku berbicara dengan mereka di lapangan basket? Jika betul, apa yang kami lakukan di sana? Tidak mungkin bermain basket, bukan? Aku bahkan tidak tahu caranya!
Ah, sudalah.
Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Sekali lagi, aku kembali berpikiran hal yang out of topic dari pembicaraan sekarang.
Belum sempat manikku mengamati reaksi mereka, aku merasakan sesak napas yang luar biasa. Seseorang memelukku sangat erat.
Siapa?
Manikku mendapati helaian rambut kuning cerah bergesekan dengan wajah—yah, mengetahui kami dalam mobil; berpelukan semacam ini sangatlah merepotkan. Apalagi tubuhku terpaksa condong ke depan.
Tunggu. Kuning? Berarti... Kise Ryouta? Kise-kun?
Prediksiku terbukti benar kala suara ceria nan riang berseru lantang, "Tentu! Yoroshiku mo! Kuharap kita dapat berhubungan baik—ssu!"
Aku tersenyum kecil. Rasanya senang juga mendengarnya.
Tapi huwaaaa—pasokan oksigenku kian menipis karena dekapannya! Aku pun panik dan berusaha mendorongnya; melepaskan diri. Namun astaga—tenaga perempuan memang sangatlah kecil dibanding pria!
"Ki-Kise-kun..." Aku mencoba berbicara, menyerukan suara sekeras mungkin. "S-Sesakk..."
Tapi artian 'sekeras mungkin' adalah bisikan. Bibirku tidak dapat menuturkan perkataan keras karena tekanan.
Sontak, aku pun semakin panik dan takut. Kuyakin wajahku kini sangat pucat. Namun—syukurlah! Penghelihatanku kini menangkap figur kelima pemuda lainnya berusaha melepaskanku dari Kise-kun sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan padaku—pingsan atau kehilangan kesadaran.
"Oi, Kise! Apa kau mau membuatnya mati, hah?"
"Ryouta, lepaskan dia sekarang juga."
"Kise-kun, sebaiknya Kise-kun segera melepaskannya."
"Are? Apa chibi-chin kurang makan? Ia terlihat pucat..."
"Bukannya peduli, hanya saja ia akan mati jika kau tidak melepaskannya—nanodayo."
Aku mendengar beragam seruan yang entah mengapa terselip rasa cemburu. Tapi—kurasa pendengaranku salah. Untuk apa mereka cemburu? Apa karena Kise-kun jarang memeluk mereka dan lebih memilih memelukku yang notabene baru saling mengenal?
Uh. Lebih baik nanti aku segera membersihkan telinga.
Tiba-tiba kurasakan tangan seseorang—eh? Maksudku beberapa orang—menarik pundakku agar menjauh dari Kise-kun.
Tak lama—akhirnya aku bebas. Cepat, langsung menghirup napas dalam-dalam untuk menadaptasi tubuh kembali dengan persediaan oksigen. Toh aku terkejut tiba-tiba saja dipeluk hingga nyaris tak benyawa—lalu terlepas dengan bantuan tarikan lima pemuda secara paksa.
Kise-kun tampak heran awalnya, namun saat melihat kondisiku, ia segera menyerukan beribu kata maaf. "Huaaa! Gomenasai! Gomen—ssu! Aku tidak tahu kelakuanku tadi membuatmu tidak dapat bernapas! Gomenasai! Hontouni gomen—"
Perkataannya terus berlanjut tanpa henti. Aku menghela napas. Sebenarnya, aku cukup kesal akan perlakuannya tadi. Tapi rasanya tidak tega juga membiarkannya, apalagi ia tampak sangat bersalah.
"Tidak apa-apa Kise-kun," ujarku tersenyum kecil menenangkan. "Yang penting sekarang aku sudah tidak apa-apa."
"Hontou? Kau memaafkanku?" Maniknya berkaca-kaca dan uh—mengapa ia begitu mirip perempuan? Bahkan aku merasa ini bagai adegan romansa antara pria-wanita dalam sebuah sinetron picisan yang tak sengaja kutonton.
(Ya, saat itu aku hendak membawa keranjang baju ke kamar ibu tiriku—dan karena melewati ruang tamu, aku pun mau tak mau melihat adegan sebuah sinetron yang kebetulan ditonton kedua kakakku.)
Bagian alur di mana sang perempuan berbuat salah dan secara tidak sengaja membuat kesal pemuda pujaannya, lalu wanita itu mengutarakan rasa bersalahnya sambil berlinang air mata. Sang lelaki menjadi tidak tega dan menenangkannya (yang dilakukan dengan pelukan mesra) kemudian pengakuan cinta—dan the end!
Aku kembali menatap manik Kise-kun yang dilingkupi cairan bening, seraya berujar tenang, "Tentu."
Ekspresi Kise-kun berubah, kini menjadi lebih ceria. Ia memandangku antusias seraya merentangkan kedua tangannya—hendak memelukku.
Oh tidak.
Cepat, aku mencoba menghindar. Namun ruangan terbatas dalam limousin mencegah diriku bergerak bebas.
Di saat aku mulai pasrah, tiba-tiba dua tangan berkepemilikan berbeda menahan kedua lengan Kise-kun. Yang kanan dipegang Aomine-kun, yang kiri Akashi-kun. Aku memandang keduanya heran sementara mereka melepaskan cengkraman tangan Kise-kun.
"Jangan mengulangi hal yang beresiko, Ryouta." Aku sedikit melebarkan mata. Huwaaa, suaranya—dingin sekali! Apalagi tatapan Akashi-kun! Kuharap Kise-kun tidak trauma.
"Oi, chibi. Kau tidak apa-apa?" tanya Aomine-kun. Aku memandangnya, mengerjap heran. Maksudnya? Aku kan tidak terluka atau pun sakit, untuk apa ia menanyakannya?
"Aku... tidak apa-apa?" jawabku dengan akhiran bertanya. Yah, terdengar aneh memang—namun kurasa cukup untuk menjawab pertanyaannya. Lagipula Aomine-kun tampak tidak mempermasalahkannya lebih lanjut.
Tiba-tiba kurasakan limousin berhenti beroperasi. Penasaran, aku pun berbalik menghadap jendela—mendapati gelap gulita dengan cahaya lampu berjejer setiap beberapa meter.
Hm... Berarti bukan lampu merah, namun kita semua sudah sampai pada lokasi tujuan. Cepat, aku kembali mengamati sekitar. Puluhan bangunan tampak mewah—mansion di mana-mana. Aku memang tinggal dalam sebuah mansion, namun di sini—semuanya jauh lebih besar dan megah daripada tempatku berasal.
Manikku berbinar antusias, hendak kembali meneliti detil latar jika saja seseorang tidak menepuk pundakku—memaksa berbalik kembali pada posisi semula.
Dan kudapati itu Murasakibara-kun.
"Jika chibi-chin seperti itu, nanti bisa jatuh..." Nadanya malas seperti biasa, meski kurasa rasa khawatirnya padaku ialah tulus.
Aku terdiam sejenak—namun kemudian tersenyum kecil, mengangguk. Meski dalam hati kuragukan ucapan Murasakibara-kun, toh kendaraan telah berhenti—dan aku hanya memutar diri dan meletakkan sikuku di atas kursi (yah, sedikit sulit mengenal gaun yang kukenakkan sangat panjang).
Kuakui, aku cukup pendek untuk berlutut tegak di atas kursi tanpa kepala menyentuh langit-langit kendaraan. Meski limousin ini memang sepertinya cukup tinggi dibanding yang normal.
Tak lama, kudapati suara pintu dibuka dari luar. Dan pria dua puluhan—sang penyetir kendaraan—telah berdiri di balik pintu, menunggu setiap penumpang keluar.
Akashi-kun turun diiringi pemuda warna warni lainnya. Aku yang tak mau ditinggal pun mengikuti mereka—meski ragu. Dan ketika telah berada di luar kendaraan, temperatur berubah drastis.
Dalam limousin, suhu tergolong normal—namun mengingat ini malam hari dan aku mengenakan gaun pesta dengan bagian atas yang cukup terbuka; tentu membuatku merasakan perubahan mencolok. Segera, aku memeluk diriku dengan kedua tangan.
"Dingin," gumamku. Meski mengenakan sarung tangan, itu tidak sepenuhnya membantu.
Dan tiba-tiba, seseorang mengenakkan sesuatu padaku. Aku pun cepat mengamatinya, dan mendapati—sebuah selimut kecil berwarna hijau dengan gambar beruang coklat besar di tengah melingkupiku.
Menoleh ke samping, mendapati Midorima-kun mengalihkan pandangan dariku—pipinya juga sedikit merona. "Itu agar kau tidak kedinginan. Tapi aku melakukannya bukan karena aku cemas akan keadaanmu. Jangan salah paham."
Aku mengerjap.
Dia... tsundere ya?
Mengingat kalimat terakhirnya, kurasa iya.
Juga... aku sedikit heran, darimana ia mendapatkan selimut feminim ini? Toh sepertinya aku tidak melihat ia membawanya turun.
Ah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja.
Lagipula aku senang ia khawatir. Dipedulikan itu indah bagiku yang jarang mendapat perhatian—atau dinotis.
Cepat, aku mengembangkan senyum seraya mengeratkan selimut berbentuk persegi panjang itu pada tubuhku. Menatap lurus Midroima-kun seraya berujar ceria.
"Arigatou, Midorima-kun."
Dan kawaii! Ia tersipu! Mengalihkan pandangan dariku, mengangguk kecil lalu berjalan menyusul kelima temannya yang berada di depan.
Dalam keheningan malam, aku berjalan pelan—meski suara sepatu kaca yang kukenakkan tidak dapat tenang. Langkahku mengikuti mereka hingga kudapati keenam pemuda penyelamatku itu kini berjejer di depan sebuah gerbang besar berukir antik.
Berjalan mendekat kemudian berhenti di samping mereka. Manikku segera beralih membaca papan nama di sebelah gerbang yang menghubung pada kediaman seseorang.
[Akashi]
Aku menangguk mengerti. Oh, jadi ini rumah Akashi-kun—rumah di mana aku akan tinggal setelah ini. Mengadah, mengamati bangunan serta halaman dari celah gerbang.
Ah, gerbang itu sangat lebar—sehingga aku masih dapat melihat jelas meski Kuroko-kun dan lainnya berjejer di sebelah.
Dan seketika manikku membola.
A-Astaga...
Aku bermimpi kan?
Cepat, tangan kananku naik mencubit pipi kanan—yang langsung kurespon dengan pekikan kecil (tapi idak cukup besar untuk membuat keenam lelaki itu mengkhawatirkan keadaanku, meski kuyakin mereka tahu karena suasana sunyi sangatlah kentara).
Jadi... ini realita?
Manikku menatap sekeliling tidak percaya.
Helllooo, rumah—maksudku mansion—Akashi dua hingga tiga kali lipat lebih besar dibandingkan mansion keluargaku! Halamannya sangat indah, didominasi bunga beraneka ragam dengan dedaunan hijau sebagai pelengkap.
Terdapat sebuah jalur panjang lurus bermaterial batu bata oranye kemerahan—dibarisi tumbuhan mawar putih dan merah di kedua sisinya, menuju tangga yang terhubung dengan pintu kayu mahoni bangunan utama.
Bangunan utama indah bagai mansion eropa—tinggi menjulang, berlantai empat (terlihat dari banyaknya jendela), dengan sedikit sulur mawar merambat di bagian sisi-sisi dindingnya. Tak lupa tembok bercat krem yang memperkuat nuansa barat.
Sungguh, ini seperti rumah vampir yang biasa kubaca di buku dongeng.
Aku mengeratkan pelukanku pada selimut Midorima-kun.
Sadar bahwa diri akan tinggal dalam mansion itu, aku menjadi panik. Uhh—bahkan kurasa ini lebih tepat disebut sebagai istana daripada mansion.
Menghela napas, kembali mengamati pemandangan indah tertimpuk sedikit bercak cahaya rembulan. Aku menyinggung senyuman kecil—meski tentu, diri gugup tak menentu.
Senang rasanya mendapat tempat tinggal sebagus ini, namun tentu sedikit aku merasa sungkan. Lagipula—apa Akashi-kun telah memberitahukan tentangku pada kedua orangtuanya?
"Tenang saja, otou-san akan senang jika kau datang kemari."
Aku terlonjak dan menoleh ke samping—mendapati Akashi-kun berada di sebelahku; memandang lurus halaman di balik celah gerbang. Kemudian berjalan melaluiku—menekan tombol di atas papan nama keluarga (selain tombol; terdapat speaker di bawahnya).
Beberapa detik kemudian, terdengar suara dari dalam speaker. Tapi serak dan aku tidak dapat menangkapnya jelas—lain hal dengan Akashi-kun. Ia terlihat paham. Karenanya, ia pun menjawab.
"Ini aku."
Dan seketika suara di dalam speaker menjadi ricuh beberapa detik sebelum sambungan terputus. Aku hanya dapat terheran-heran. Apa yang terjadi hingga ketika mereka mendengar Akashi-kun berbicara, semuanya panik?
Namun kusampingkan dahulu rasa keingintahuanku. Memfokuskan diri pada gerbang yang kini dibuka secara perlahan—menampakkan pemandangan luas halaman mansion tanpa ukiran sebagai pembatas.
Cepat, Akashi-kun berjalan masuk diiringi kelima lelaki lainnya. Aku hanya terdiam di depan gerbang, kakiku gemetar.
Bahkan ketika pintu telah dibukakan dan mereka mulai masuk ke dalam, aku masih tak berubah posisi—batinku dinaungi ilham negatif. Sungguh.
Bagaimana pun juga, aku takut. Yang pasti—takut, ragu, cangung, semua bercampur menjadi satu. Aku sendiri sedang berusaha mencari tahu—mengapa aku harus takut? Akashi-kun bahkan mengatakan bahwa ayahnya akan senang aku datang kemari.
Ya.
Akashi-kun yang mengatakannya.
Tapi...
Tetap saja...
Mengapa aku merasa sangat takut untuk sekedar melangkah memasuki kawasan baru?
Lalu kudapati dari kejauhan, Akashi-kun menghela napas setelah Kise-kun, Midorima-kun, Aomine-kun, Kuroko-kun, dan Murasakibara-kun telah memasukki pintu menuju mansion (atau istana) tersebut.
Kemudian, tanpa kuduga—ia berjalan ke arahku. Sontak, aku pun mulai panik—batin berusaha mencari alasan tepat agar tidak perlu ikut menghadiri.
(Meski sebenarnya, aku pun tidak paham. Ada bagian dari diriku yang takut untuk masuk ke dalam, sementara sebagian lainnya—ingin mengikuti mereka.)
Suara hentakkan langkah kaki menyadarkanku dari pikiran—mendapati Akashi-kun telah berhenti setengah meter di depanku.
"Kau merepotkan," ujar Akashi-kun—mengulurkan telapak tangannya tepat di depan wajahku. Otomatis, aku mengerjap sebelum memandang wajahnya bingung. Tapi ekspresi Akashi-kun serius.
Oh—ia tidak main-main.
Jadi ia memintaku untuk menerima ulurannya? Tapi...
Aku belum pernah kemari sebelumnya, tidak mengenal siapa pun selain mereka. Meski Akashi-kun mengatakan ayahnya akan senang aku datang berkunjung, siapa yang dapat menduga apa yang terjadi jika ucapannya salah?
Aku menghela napas. Lebih baik berpikir sejenak di depan gerbang sendirian. Toh sepertinya lokasi ini aman. Lagipula, siapa yang sangat kurang kerjaan sehingga berkeliaran jam dua belas malam hanya untuk melakukan penculikan?
(Eh—tunggu. Aku baru sadar bahwa itulah yang keenam pemuda itu lakukan padaku.)
Akhirnya, aku mendengus seraya menggeleng sebagai balasan permintaan Akashi-kun. Lelaki itu tampak tidak puas akan jawabanku, karena kudapati—kedua sudut bibirnya sedikit melengkung ke bawah.
"Aku memaksa," tuntutnya—masih mengulurkan tangan di hadapanku. Aku menggulum senyuman sedih, sebelum menggeleng kecil. Jika terus di sini, aku hanya akan merepotkan mereka.
Meski aku mengatakan bahwa akan tinggal bersama Akashi-kun, aku tidak menyangka diriku yang diperlakukan sebagai pembantu akan segera berubah kehidupannya secara seratus delapan puluh derajat.
Ini terlalu... drastis.
Maafkan aku Kise-kun, Aomine-kun, Murasakibara-kun, Midorima-kun, Akashi-kun, Kuroko-kun. Sepertinya aku memang tidak ditakdirkan bersama kalian. Lagipula, aku sudah senang dapat bertemu kalian.
Seharusnya, aku tidak boleh berharap lebih.
Mendengus pelan, tersenyum sendu. "Kurasa tidak terima kasih, Akashi-kun. Setelah kupikirkan, sepertinya memang lebih baik aku kembali ke—"
"Apa kau mau menyia-nyiakan usaha kami selama lima bulan ini?" Akashi-kun memotong ucapanku, memicingkan kedua matanya—manik kuningnya seakan berpendar terpantul cahaya bulan purnama. Membuatku mau tak mau sedikit merasa takut.
"Aku tidak ingat memberimu pilihan." Belum selesai otakku memproses penuh ucapannya, tiba-tiba pergelangan tanganku telah ditarik kencang seiring Akashi-kun berjalan menuju pintu—tentunya membawaku.
Uh—aku merasa seperti deja vu. Mengingat pertama kala bertemu, juga Akashi-kun lah yang menarikku masuk.
Tapi, hei! Aku sedang membawa selimut kotak dari Midorima-kun! Juga mengenakan gaun panjang dengan sepatu kaca! Tidak bisakah ia sedikit memahami situasi?!
... Kurasa tidak.
Ia tetap bersikap cuek dan dengan pandangan terus ke depan—membuatku berjalan terpogoh-pogoh demi menjaga setiap langkah, agar tidak merusak pakaian yang kukenakan juga menjatuhkan selimut dalam genggaman.
Selama berlari, batinku kembali mengulang ucapan Akashi-kun beberapa kali.
"Apa kau mau menyia-nyiakan usaha kami selama lima bulan ini?"
Aku menggigit bagian bawah bibirku. Bukan begitu, aku sangat menghargai bantuan mereka. Hanya saja...
Kurasa tidak sepantasnya mereka melakukan itu semua untukku, meski tentu aku gembira mendapat perhatian berlebih serta dinotis oleh seseorang.
Hei, aku hanyalah replika Cinderella. Gadis kecil kehilangan orangtua di usia muda, diperalat oleh keluarga tirinya—dan diperlakukan bagai pembatu dalam sebuah rumah tangga; padahal status sangatlah jelas. Seorang anak.
Aku tidak berharga, tidak berguna, juga—
"Karena itulah kami akan menjagamu serta membuatmu merasa berharga kembali. Lagipula, kepercayaan tidak dapat dibayar oleh harta." Tiba-tiba Akashi-kun berucap; sedikit menoleh kala ia melambatkan tempo langkah kakinya.
Huh?
Eh?! Tunggu! Apa ia sekali lagi membaca pikiranku? Seperti saat di depan gerbang?!
Huwaaa, apakah Akashi-kun seorang paranormal? Bagaimana bisa ia mengerti jelas apa yang sedang kupikirkan?!
"Itu terlihat jelas di wajahmu." Lagi-lagi ia berkomentar—ujung matanya melirikku sementara ia menarikku masuk (mengingat pintu dibiarkan terbuka). Rupanya, kita sudah sampai di depan pintu yang menghubung dalam istana bernuansa eropa tersebut.
T-Tapi bukan itu masalahnya! Apa yang terlihat jelas di wajahku?! Sepertinya aku tidak seeksprektif itu!
"Karena itulah kami akan menjagamu serta membuatmu merasa berharga kembali. Lagipula, kepercayaan tidak dapat dibayar oleh harta."
Deg!
Jantungku berdegup kencang seketika. Tiba-tiba terputar kembali bagian di mana Akashi-kun mengucapkan hal itu dengan penuh keyakinan. Jadi maksudnya, ia akan membuatku percaya pada semuanya?
Mempercayai—hingga dapat mengungkapkan bergam emosi serta perasaan, yang selama ini kukubur dalam-dalam dan tak pernah kubuka bagi siapa pun?
Perlahan, bibirku mengembangkan seulas senyuman kecil.
Semoga saja begitu. Akan kunantikan hari dimana hal tersebut terjadi. Karena asal tahu saja—meski aku periang nan murah senyum, selama ini belum pernah ada seorang pun yang kupercayai sepenuh hati.
Ups. Sepertinya aku terlalu banyak berpikir! Karena saat sadar, aku telah berada dalam bangunan utama—sebuah ruangan lebar dengan kandelir mencakup puluhan lilin, lantai terbuat dari keramik putih berbercak merah, dan koridor serta tangga berkarpet crimson yang menghubung menju ruangan/lantai berikutnya.
Dapat disimpulkan, ruangan ini tak memiliki furnitur. Meski terdapat beberapa lukisan terpajang di dinding—mayoritas pemandangan, tapi ada satu berbeda; sebuah foto seorang wanita berambut merah panjang. Parasnya sangat cantik—tampilannya anggun. Mau tak mau, aku terkesima.
Kemudian kusadari dua maid yang berjaga mengunci pintu kala aku dan Akashi-kun telah mulai memijak tangga menuju lantai atas. Ya—mengingat tangga berada di depan pintu berjarak sekitar lima meter, dan tanpa interior yang menghalangi, aku dapat melihat pergerakan mereka dengan jelas.
Aku menghela napas sementara kaki masih melangkah dengan sebelah tangan menjaga selimut serta gaun agar tidak terinjak sepatu.
Kali ini Akashi-kun memperlambat jalannya—namun terus terang, tidak begitu membantu mengingat pijakan yang semakin ke atas. Menghela napas, membiarkan diriku dibawa menuju ruangan yang tak kuketahui di mana letaknya.
Dan yah—kurasa inilah awal dari kehidupan baruku yang penuh drama.
.
[POLLING MENGENAI ENDING MASIH DIBUKA DI PROFIL SAYA]
Voting masih dibuka. Gomen bagi yang ngevote melalui review, saya tidak dapat menghitungnya seperti apa yang saya lakukan untuk vote nama OC. Karena itulah saya membuat polling di profil. Hanya itu yang akan menentukan lanjutan cerita ini.
Voting nama OC juga masih dibuka. Itu pun kalau cerita ini memang benar-benar akan menggunakan nama, mengingat saya sedang menantang diri sendiri untuk mencoba membuat kesuluruhan kisah tanpa mencantumkan nama sang gadis.
Hasil vote sementara:
Akizuki Airi: 8
Yakimoto Arisu: 5
Iwazumi Yukiko: 3
Okeh—huahaha. Ini stok saya untuk kisah ini. Sebenarnya saya sudah selesein ini sejak saya mengupdatech lalu, karena aslinya chap lalu itu 7k+. Namun ternyata tidak terlalu nyambung—jadi saya pisah.
Maafkan saya sekali lagi karena hint AkaReader/OC yang terlalu mencolok, mengingat favorit saya Akashi. Tapi seperti yang saya bilang di chapter lalu, saya akan menjejerkannya satu per satu.
Saat ini masih sulit melakukannya, toh saya tidak bisa bayangkan reader nginep di rumah orang lain selain Akashi mengingat notabene anak kaya jadi rumahnya besar dan banyak ruangan kosong.
Tapi maaf karena dengan itu pasti chap depan bakalan banyak amat hint AkaReader/OC. Dan KiseReader/OC mungkin huehehehe.
Huff—oke. Ini balasan review anon.
-atsushikun
Iya kah? Um—gomen, saya tidak menerima vote lewat review. Jadi pakai polling di profil saya ;w; sekali lagi maaf... tapi jika dilihat, Nijimura yang vote ada dua orang, lho? :3
Nama OC diusahakan tidak dipakai /dor/ meski kalau terdesak bakalan menggunakkan salah satu dari ketiga di atas. Huehehe. Yosshhh, fightooo! Ganbarimasu!
Terima kasih banyak reviewnya :3
-akashiro46
Bakalan diusahain ngak pakai nama untuk sementara kok, bahkan saya usahain sampe tamat. Tapi ok, saya masukkin votenya ya :3
Terima kasih banyak reviewnya~! X3
-S-chan
Nah, ini juga saya bingungkan. Jujur, fandom KnB itu sudah terkenal dengan fict reader-insertnya yang berjibun.
Mengenai kata 'kamu' itu memang tidak diperbolehkan; tapi tokoh tanpa nama (keseluruhan 1st PoV; nameless OC) sepertinya boleh kok—karena jujur fict ini si cewe punya fisik, kan? Rambut panjang, etc. Karena itu saya sekarang sedang mengusahakan membuat fict ini tanpa nama.
Oke, kalau sempat ya. Saya menulis aja sudah waktunya sangat mepet sekarang :'3
Yah, doa aja saya sanggup membuat kesuluruhan fict ini tanpa nama atau pun [name]. Karena jujur, mengetik itu jugalah sulit :'D
Terima kasih banyak reviewnya, ini sudah dilanjut. Semoga suka! X3
Yak—terima kasih banyak bagi yang sudah review, fave, follow, dan membaca fict ini! Voting masih dibuka di berbagai pihak, tolong bantu ya. Terutama vote ending.
Sekian!
~alice dreamland
