Chapter 2: Popuri's Request
Musim panas memang identik dengan udara yang panas dan terik. Tapi, tidak menghalangi para penduduk Mineral Town dalam beraktifitas. Apalagi Jack yang kerjanya di ladang yang terbuka. Setelah mengurus kebunnya yang baru ditanam dengan tanaman baru, Jack berteduh di bawah pohon apel. Biarpun di sana ada sarang lebahnya, itu tidak mengganggunya. Lebahnya juga tidak merasa terganggu dengan dirinya yang cuma duduk saja di bawah pohon. Brown juga ada di sebelahnya. Berbaring dengan santai menikmati hembusan angin sejuk musim panas.
Jack melihat sarang lebah di atasnya. Sarang lebah itu dibuat di sana setelah terpancing dengan bunga yang ditanam olehnya dan Popuri musim lalu. Karena sekarang sudah pergantian musim, bunga itu pun mati. Terpaksa Jack pun harus mencabutnya dan membuangnya. Memang agak merasa bersalah juga pada Popuri yang begitu senang saat menanam bunga itu.
"Apa sebaiknya aku menggantinya saja?" gumamnya, berpikir. Saking seriusnya berpikir, dia sampai tidak sadar kalau sudah ada orang di sebelahnya.
"Halo, Jack."
Jack menoleh dengan agak kaget karena baru sadar sudah ada orang di sebelahnya. Si gadis berambut merah jambu. "Popuri... Halo," balasnya.
"Jangan melamun terus. Nanti kesambet," nasihat Popuri. Dia memandang kebun Jack yang separuhnya telah menjadi padang rumput yang ditempati para ternak. "Dalam semusim tempat ini kelihatannya sudah banyak berubah. Padahal sebelum kau datang, tempat ini begitu terlantar."
"Aku memang ingin tempat ini kembali bagus seperti dulu. Seperti saat Kakek merawatnya. Biarpun Kakek merawatnya sendiri, tempat ini selalu tampak bagus saat itu," ujar Jack yang juga ikut memandang kebunnya.
"Kau sudah mengganti tanamanmu?" tanya Popuri setelah melihat gundukan tanah yang sebelumnya ditumbuhi tanaman kebun, kini telah kosong.
"Ya, aku sudah menggantinya. Kemarin semua tanaman musim lalu telah mati," jawab Jack. "Juga bunganya..."
"Aku sudah tahu," sela Popuri. "Mau tidak mau bunga itu pasti akan mati saat pergantian musim. Aku tinggal di sini. Jadi sudah tahu akan hal itu."
Jack lega mendengarnya. Dia kira Popuri akan marah karena bunganya telah dicabut karena sudah mati.
"Kau menanam apa saja musim ini?" tanya Popuri sambil duduk di sebelah Brown yang masih berbaring santai.
"Aku baru menanam tomat dan jagung. Aku berencana menambah tanaman lain besok," jawab Jack.
"Kau menanam dalam jumlah banyak, ya?"
"Begitulah. Ternakku sudah bertambah. Jadi, aku perlu biaya tambah untuk merawat mereka."
Jack sudah memiliki 5 ekor ayam yang dua di antaranya masih berupa anak ayam, 2 ekor sapi, dan 2 ekor domba. Itu jumlah yang sudah cukup banyak. Apalagi Jack merawat mereka sendiri. Kadang ada bantuan dari Claire kalau dia sedang menganggur di Inn.
"Sebaiknya kau hati-hati menanam di musim ini. Di sini, saat musim panas, sering terjadi badai," Popuri berpesan dengan serius.
"Ya, aku sudah tahu. Saat aku berkunjung ke sini dulu, badai juga sering terjadi saat itu." Jack teringat pada saat liburannya waktu masih kecil itu. Badainya begitu besar. Lebih parah daripada saat terjadi di musim semi lalu.
"Kau punya cara untuk mengatasinya?" tanya Popuri.
"Sejujurnya aku tidak tahu. Di Perpustakaan tidak ada buku tentang menjaga tanaman dari badai. Kurasa aku harus pandai-pandai saja menyelamatkan tanaman yang terkena badai agar tidak semuanya mati. Lagipula sekarang masih berupa bibit. Jadi, itu tidak masalah."
"Tapi, biasanya badai itu terjadi mulai akhir minggu pertama musim panas. Biasanya sudah ada yang hampir siap panen, 'kan, kalau menanam sejak awal musim?" celetuk Popuri.
"Rasa-rasanya di sini cuacanya menguji kesabaran sekali, ya?" sindir Jack.
"Mineral Town memang seperti punya pikiran sendiri untuk para penghuninya."
Mereka berdua kemudian tertawa sebentar setelah itu.
"Omong-omong, kenapa kau kemari, Popuri?" tanya Jack. Gadis itu kelihatannya datang bukan cuma sekedar berkunjung.
"Aku hanya sedang tidak ingin di rumah dulu," jawab Popuri agak menunduk.
"Ada masalah?"
Popuri cuma menghela nafas berat.
"Tentang... Kakakmu dan Kai?"
Popuri mengangguk pelan. Jack seharusnya sudah tahu dari awal.
"Tadi pagi Kai datang ke rumah. Dia cuma datang menyapa saja karena hari ini dia akan mulai membuka pondok di pantai. Setelah dia pergi, entah kenapa aku malah menemukan Kakak begitu cemberut sambil menatapku. Aku jadi tidak enak. Makanya aku ke sini."
Jack tidak tahu harus berkomentar apa mengenai kebencian Rick terhadap Kai itu. Menurut penilaiannya terhadap Kai yang telah beberapa hari berada di Mineral Town, memang gaya Kai itu terkesan merendahkan. Bicaranya yang sok keren pun bisa membuat siapa pun jengkel bagi yang baru pertama kali bertemu dengannya. Terutama untuk laki-laki. Tapi, Jack entah kenapa tidak begitu merasa sikap Kai itu perlu dibenci. Dia hanya merasa itu memang gayanya saja. Bukan berarti dia mau bersikap buruk pada orang lain. Kalau mendadak Kai merubah gayanya itu, orang-orang yang sudah tahu seperti apa Kai pasti jadi merasa aneh bahkan mungkin horor. Semuanya pasti langsung menanyakan "Kau ini siapa?".
"Hei, Jack. Menurutmu Kai itu buruk?" tanya Popuri, menatap Jack serius. Dia benar-benar perlu pendapat orang lain mengenai Kai yang selalu dianggap buruk oleh kakaknya.
"Memang belum lama aku mengenalnya, tapi sejauh ini aku tidak punya prasangka buruk apa pun padanya. Biasa saja," jawab Jack.
Wajah popuri menjadi berseri. Senyum cerahnya merekah di bibirnya. "Baguslah. Aku kira kau juga berpikiran buruk tentangnya."
"Semua orang punya cara penilaian yang berbeda," ujar Jack. "Kakakmu itu... kurasa mungkin saja dia bersikap seperti itu karena kau memberikan perhatian lebih pada Kai dibanding padanya yang merupakan kakakmu."
"Maksudmu cemburu?"
"Kurang lebih. dia itu, 'kan, sayang sekali padamu."
Popuri tampak berpikir sebentar. "Sepertinya begitu. Kakak memang mulai bersikap seperti itu semenjak Kai pertama kali datang. Tapi, tetap saja cara Kakak bersikap sangat membuatku tidak nyaman. Aku juga merasa tidak enak pada Kai karena selalu ditatap benci oleh Kakak walaupun dia cuma lewat."
Jack mematung. Sungguh. Sebenci itukah Rick pada Kai? Rasanya agak... kelewatan. Apalagi kebenciannya itu sudah menahun.
"Kau pernah mencoba membicarakan hal ini pada kakakmu?" tanya Jack.
"Sering malah. Tapi, Kakak terlalu keras kepala untuk mendengarkan apa pun yang berhubungan dengan Kai."
"Susah kalau begini," desah Jack.
"Apa kau bisa membantu, Jack? Tolong bantu supaya Kakak tidak lagi bersikap buruk pada Kai." pinta Popuri. Gadis itu bersungguh-sungguh dalam permohonannya. Brown yang mendengar nada bicara Popuri yang serius itu membuatnya terbangun dan menatap gadis berambut merah jambu itu.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Kakak begitu benci padanya. Tapi, aku sangat tidak ingin melihatnya terus-terusan membenci Kai. Aku tidak ingin melihat mereka berdua terus-terusan terlihat bermusuhan. Itu menyakitkan." Mata Popuri sudah berkaca-kaca. "Kai memang tidak mempermasalahkan dirinya dibenci, tapi tetap saja aku tidak ingin ini terus berlangsung."
Jack benar-benar tidak tega melihat Popuri yang bersedih seperti itu. Itu mengingatkannya pada Claire saat mendapat kabar mengenai kapal yang ditumpanginya. Juga Elli yang bersedih karena sedang ditinggal oleh kedua orangtuanya yang menjadi relawan di tempat lain. Dia tidak ingin melihat wajah seperti itu lagi. Brown pun jadi tampak ikut-ikutan sedih melihat wajah Popuri yang seperti itu.
"Popuri," panggil Jack pelan. "Aku tidak yakin apakah bisa mengubah pandangan Rick terhadap Kai. Berubah atau tidaknya tergantung Rick sendiri. Juga tergantung Kai. Tergantung keputusan mereka sendiri."
Popuri tertunduk. Dia berpikir Jack tidak akan bisa melakukannya juga.
"Tapi."
Wajah Popuri kembali terangkat menatap Jack.
"Aku akan mengusahakan untuk membicarakan hal ini dengan mereka. Kalau mereka memang memikirkanmu, mereka pasti akan mencoba untuk merubahnya. Walaupun sepertinya akan memakan waktu."
Senyum Popuri kembali merekah. Dia sampai tidak sadar telah melompat dan memeluk erat Jack. "Terima kasih, Jack. Terima kasih."
"A, ah... Ya," sahut Jack, perlahan membalas pelukannya dan mengusap pelan kepala gadis itu.
Popuri kemudian melepas pelukannya. Wajahnya tak lagi terlihat sedih. Senyum masih terkembang di bibirnya.
"Aku percaya padamu, Jack. Jadi, tolong, ya."
Jack tersenyum. "Ya," jawabnya.
Popuri pun pamit kembali pulang ke rumahnya. Karena sekarang dia sudah tidak lagi merasa gundah, Popuri pasti bisa kembali menjalankan harinya dengan baik sekarang.
"Wah, kau terlihat dekat sekali dengan Popuri."
"GYAAAAAA!" Jack berteriak histeris dengan sangat tidak bermutunya. Dia berbalik dan membentak siapa pun yang tiba-tiba nongol di belakangnya itu. "Bisakah kalian berhenti tiba-tiba muncul seperti itu, Ann, Claire?!"
"Kaunya saja yang tidak peka dengan keadaan sekitar kalau sudah serius pada satu hal," balas Ann.
"Padahal kami juga tidak bersikap ingin mengagetkanmu," tambah Claire.
"Setidaknya waktu menyapa jangan di saat telah berada tepat di belakangku," ucap Jack yang masih deg-degan karena kaget. "Lalu, ada apa kalian ke sini? Kalian tidak kerja?"
"Hari ini pengunjung sedang sepi," jawab Ann. "Mungkin karena panasnya agak menyengat hari ini, makanya jadi malas keluar rumah. Karena sepi, kami jalan-jalan saja ke bukit. Pemandangan awal musim panas cukup bagus dari sana. Lalu, waktu baliknya kami melihat kau dan Popuri sedang berbincang-bincang. Wajah Popuri terlihat senang sebelum kemudian pergi. Karena penasaran apa yang kalian bicarakan, makanya kami datang menghampiri. Tapi, kaunya malah kagetan begitu."
"Siapa pun pasti kaget kalau tahu-tahu kalian sudah ada di belakang," protes Jack. "Memangnya kalian tidak kepanasan? Siang-siang begini ke gunung."
"Aku sering berada di dapur yang lebih panas dari ini. Jadi, aku sudah terbiasa," jawab Ann enteng.
"Di kota asalku udaranya lebih panas dari ini. Jadi, aku juga sudah terbiasa," jawab Claire sama entengnya dengan Ann, tapi dengan sikap yang lebih tenang.
"Jangan bilang kau tidak tahan berada di suhu yang panas seperti sekarang?" ejek Ann.
"Rumah dan sekolahku dipasangi AC. Jadi, biarpun sedang musim panas, aku tidak begitu merasakannya kecuali aku keluar dari bangunan. Makanya aku tidak begitu tahan dengan suhu yang tinggi begini. Waktu kunjunganku ke sini, udaranya tidak sepanas sekarang," jelas Jack.
"Yah, aku akui kalau sekarang udaranya memang terasa lebih panas dari yang dulu," ucap Ann. "Lalu, apa yang kalian bicarakan tadi?" tanyanya sambil duduk di sebelah Jack. Claire juga ikut duduk dan duduk di sebelah Ann. Brown entah kenapa jadi berpindah tempat duduknya menjadi di pangkuan Claire dan kembali berbaring tidur sambil menikmati hembusan angin dan ditambah elusan tangan gadis pirang itu di kepalanya. Nyaman sekali.
"Cuma membicarakan tentang hubungan Rick dan Kai yang sepertinya makin memburuk," jawab Jack.
"Dan kau mau mencoba mengatasinya?" tebak Ann.
"Mau tidak mau," jawab Jack. "Masalahnya melihat mereka yang semakin bermusuhan sangat menggangu. Popuri sampai bersedih melihat keduanya yang seperti itu. Itu lebih membuatku tidak tega membiarkannya."
"Ya... Aku juga merasa kasihan pada Popuri kalau begitu," sahut Ann.
"Apakah kau sudah punya cara untuk mengatasinya?" tanya Claire.
"Belum, sih... Aku baru saja mau memikirkan bagaimana mengatasi masalah yang satu ini. Sebab kebencian Rick pada Kai itu sudah menahun. Pasti sulit."
"Yah, belum lagi bukan cuma Rick saja yang tidak menyukainya," tambah Ann.
"Astaga... Apa, sih, yang sebenarnya diperbuat oleh Kai sampai seperti ini?" keluh Jack, tidak habis pikir. Tangannya dilipat di depan dada.
"Aku juga ingin membantu mengatasi masalah yang satu ini," kata Claire. "Kalau terus begini, bukan cuma kita yang terganggu. Seluruh penduduk juga."
"Aku setuju!" sahut Ann.
"Tapi, bagaimana caranya? Aku sama sekali belum memikirkan solusinya," kata Jack serius.
"Pertama, kita harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya dipermasalahkan oleh mereka. Kita bisa menanyakannya pada mereka," ujar Ann.
"Kalau mengenai Rick, sejauh ini kurasa dia kalah pamor dan cemburu adiknya lebih dekat pada Kai," kata Jack.
"Tapi, kelihatannya lebih dari itu, deh," sahut Ann. "Kita cari tahu lebih lanjut dulu."
"Kalau begitu aku akan menanyakannya langsung pada Kai," kata Jack.
"Dan kami akan menanyakan ke beberapa penduduk yang berkunjung ke Inn," kata Claire.
"Termasuk Gray dan Cliff. Mereka, 'kan, sekamar," tambah Ann.
"Baiklah, kita mulai saja sekarang," ucap Jack bersemangat.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Oke, awal konfliknya dimulai. Kurasa dari sini ceritanya akan menjadi ribet. Biasanya yang ribet begini yang membuatku mudah kena WB. Maunya membuat masalah yang simpel, tapi jadinya malah seperti ini. Semoga kelanjutan ceritanya tidak bermasalah.
Tambahan: Di Chap 1 ada sedikit tambahan pada awal cerita.
Selanjutnya ke review~
To ainagihara: Sudah ditambah.
To Muneyoshi: Ya, semangat!
To Yuuki moon chan: Sama penasarannya kenapa Kai malah jadi misterius di sini. Perasaan awal rencananya tidak kayak gini.
To Bijuu vs jinchuuriki: Kucing itu akan selalu di sana. Biarpun dikasih atau tidak, akan selalu ditemui Claire setiap hari, 'kan? Dianya juga tinggal di Inn, kok.
To Naizuki Shirvia: Tidak masalah dipanggil begitu. Waktu awal-awal memang mungkin penulisannya masih diperhatikan agar tidak typo. Tapi, nanti mulai ke belakangnya bisa bermunculan satu per satu. Permasalahan Kai itu sebenarnya cuma tidak akur dengan bebera penduduk setempat seperti di game. Tapi, sepertinya di cerita ini permasalahannya akan lebih rumit.
Sekian balasan review-nya. Terima kasih sudah mau membaca~
~Princess Fantasia~
