Disclaimer: Aku juga tidak punya hak apapun atas obat maag yang chapter sebelumnya kusebut-sebut.
Genre: Romance/Hurt
Rating: T
Note: Ini sesuatu yang memalukan sekali tapi kupikir akan seru kalau diceritakan, sekalian memberitahu semuanya apa yang aku inginkan untuk akhirnya.
Aku bukannya benci atau seratus persen menyesal, aku cuma sadar kalau aku tidak akan memilihnya. Itu saja.
Aku menulis ini sambil mendengarkan Loved dari Wonder Girls, album terakhir Wonder Girl itu keren, ya. Aku suka band seperti itu, rasanya aku jadi ingin pegang piano lagi.
+Antasida+
Kyungsoo baru saja pakai celana saat dia mendengar ribut ribut di luar, Kyungsoo punya kebiasaan tidur tanpa pakaian, lagipula semalam panas sekali.
Kyungsoo mengintip keluar, sebenarnya Chanyeol sedang apa sampai kursi terseret seret begitu?
Chanyeol masuk ke kamarnya lagi, kemudian membanting pintu kamarnya, Kyungsoo yang mengintip sampai kaget. Kemudian Chanyeol membuka pintu depan dengan tidak sabaran.
"Chan-"
Lalu dia pergi sambil menutup pintu.
Kenapa sebenarnya anak itu? Pamit saja tidak. Kyungsoo duduk di kursi makan, kursi yang tadi terseret Chanyeol. Matanya melirik bak cuci, kosong, meja makan juga bersih, apa Chanyeol belum makan? Nanti kalau anak itu kambuh, Kyungsoo juga yang repot.
Hari ini jadwal Kyungsoo kosong di pagi hari, dia bisa nonton film dulu di laptopnya, jadi Kyungsoo membuat nasi goreng lalu memutar film di laptopnya dan memakai headset-nya.
Dia tidak tahu di depan apartemen ada tamu yang sudah sangat tidak sabaran sedang menggedor pintu apartemennya. Sambil berteriak, "Kyungsoo! Do Kyungsoo! Aku tahu kau di dalam!"
Tamu itu sepertinya lupa apa gunanya telepon genggam dan malah menggedor, untungnya dia segera ingat dan menghujani Kyungsoo dengan SMS.
Kyungsoo awalnya tidak mempedulikan ponselnya, tapi lama lama bunyinya mengganggu. Kyungsoo membuang ponselnya ke kasur dan membuka pintu, menurutkan dua hal itu pasti berhubungan.
"Kyungsoo!"
"Iya, Baekhyun." Kyungsoo membuka pintu dan bersandar pada tembok.
"Ada Chanyeol?"
"Dia pergi."
"Pergi? Dia tidak ada kuliah pagi!"
Kyungsoo melihat Baekhyun kesal, pasti mereka bertengkar seperti biasa, "Dia marah."
"Marah? Harusnya aku yang marah!"
"Kenapa?"
Baekhyun menghela napas, "Panjang ceritanya, Soo, panjang."
Yah, sebenarnya Kyungsoo juga tidak terlalu minat mendengarkan Baekhyun. Dia punya film yang menunggu.
"Terimakasih, Kyung. Aku pergi dulu." pamit Baekhyun.
Ya, sana pergi yang jauh dengan pacarmu itu biar kalian bisa puas bertengkar. Kyungsoo hanya mengangguk.
Lalu Kyungsoo menyelesaikan filmnya dan berangkat kuliah. Tapi setelah itu dia tidak beli bahan makanan dan menghabiskan waktunya menonton satu episode drama dan melupakan kepenatan kuliah.
Ponselnya berbunyi, dari Chanyeol.
Kau di rumah?
Kyungsoo menjawab
Ya.
Tentu saja Kyungsoo di rumah, untuk apa dia kemana-mana?
Oh! Dia tidak punya apa apa untuk dimakan! Mengingat Chanyeol membuatnya ingat dengan makanan. Kyungsoo menyambar jaketnya dan buru buru ke supermarket.
Kyungsoo sedang di supermarket saat Chanyeol pulang, "Coba kita lihat Kyungsoo masak apa."
Tapi yang dia temui dapurnya kosong, tidak ada makan dan Chanyeol tidak berani makan mie instan kalau begini.
Dia memutuskan masuk ke kamarnya, di lacinya ada sahabatnya, obat maag. Tapi saat Chanyeol mengocoknya, penetral asam lambung itu habis.
Ponsel Chanyeol berbunyi tapi dia tidak peduli, dimatikannya saja ponsel itu, apalagi setelah tahu yang mencarinya itu Baekhyun.
Chanyeol minum air, lalu makan apapun yang bisa dimakan yang cuma selembar keju, dan dia minum air lagi.
"Soo!" panggilnya, mungkin Kyungsoo ketiduran atau apa. Tapi saat Chanyeol membuka pintu kamarnya yang dia temui kosong.
Katanya Kyungsoo di rumah? Tapi mungkin saja dia pergi cari makan, Chanyeol pikir menunggu Kyungsoo tidak akan lama, tapi lama lama dia mulai mual.
Wah, ini kumat namanya, Chanyeol turun ke bawah dan mencari tempat makan terdekat dan pulang dengan nasi goreng.
Hal pertama yang dia lakukan saat pulang adalah muntah, dia dua kali muntah, lalu langsung memaksakan diri makan meskipun cuma tiga suap.
Chanyeol tidur di sofa, bungkus nasi goreng yang hangat itu ditaruh di perutnya, lumayan untuk menghilangkan rasa sakit. Chanyeol menghela napas, kenapa dia kambuh? Mungkin karena dia belum makan dari pagi, mungkin karena pikiran.
Chanyeol sedang meringkuk mengaduh-aduh saat Kyungsoo datang, "Aku tahu menurutmu mengaduh tidak akan menghasilkan apa-apa, tapi serius, Soo, ini membantu."
Kyungsoo bersyukur dia beli obat maag, "Kau belum makan dari pagi, kan?"
"Aku sudah makan nasi goreng itu beberapa suap." mata Chanyeol melirik ke nasi goreng di meja.
"Mau makan lagi?" tanya Kyungsoo.
"Mau peluk."
Kyungsoo diam.
Chanyeol diam.
"Ok." kata Kyungsoo, sebuah pelukan tidak mengandung arti macam-macam, kan?
Kyungsoo ikut tidur memenuhi sofa dimana tangan Chanyeol yang lebar memeluknya. Kyungsoo memeluk Chanyeol juga.
"Kyungsoo..." Chanyeol memanggil Kyungsoo sambil menyamankan pelukannya.
Dan tiba tiba dia mencium pipi Kyungsoo.
Kyungsoo menatap mukan Chanyeol yang pucat.
"Ayo, cium aku juga." kata Chanyeol, dia masih bisa bisanya tersenyum.
"Kenapa kau sampai bisa kambuh?"
"Ayolah, Kyungsoo, sekali saja."
Lagipula tidak akan ada yang tahu, dan lagi Kyungsoo tidak wajib merasa bersalah pada Baekhyun, memangnya Baekhyun siapa? Apa Baekhyun itu Buddha?
Lagipula, Kyungsoo juga suka ini.
Dan dia mencium Chanyeol di pipi, lalu Chanyeol memeluknya dengan erat.
Besok semua akan biasa saja, mereka akan kuliah, Chanyeol dan Baekhyun akan tetap berpacaran, Kyungsoo akan kembali nonton drama.
Tapi Kyungsoo tidak bisa merasa biasa. Tidak pernah bisa.
"Kyung-"
Kyungsoo buru buru menutup pintu apartemen saat Chanyeol memanggilnya. Dia bernapas sambil bersandar ke tembok, tetangganya melihat tapi masa bodo, lah.
Sejak hari itu Kyungsoo memutuskan untuk makan di luar.
Di luar dalam arti di rumah orang.
"Aku tidak berpikir kau akan kesini lagi, Kyungsoo."
"Aku akan kesini untuk waktu yang lama, Hyung."
Insung tertawa. Apartemennya cuma jarak beberapa nomor dari apartemen Kyungsoo.
"Ada yang kau hindari?" tanya Insung.
Kyungsoo menghela napas, Insung menyodorkan jajangmyun yang langsung dimakan Kyungsoo.
"Menghindari orang yang kerjanya mempermainkan orang."
"Hm," Kyungsoo menatap Insung, menunggu dia akan bicara apa, "jangan menghindar, Dik. Kau ini laki-laki, hadapi saja."
Tapi Kyungsoo tidak bisa, atau belum bisa. Mungkin nanti dia punya nyali untuk menghadapi Chanyeol, punya nyali untuk bilang pada pemuda itu untuk meninggalkan Baekhyun karena dia ingin memilikinya, Kyungsoo pasti gila kalau itu terjadi.
+TBC+
