The lost soul ch 2

Kertas berisi sekelumit pernyataan itu tersodor begitu saja.

"C-Chagi…apa kita benar-benar harus melakukan ini?" Nyonya Cho menatap ragu kepada Tuan Cho untuk kembali –lagi- memastikan langkah terpenting yang harus ia tempuh. Tangannya tremor hebat bahkan tidak sanggup menggenggam pena diatas secarik kertas bermaterai. "Aku tak yakin…" Mata ambernya nyaris meleleh.

"Entah Chagi, aku pun tidak sanggup jika harus melepaskan putera kita begitu saja, tapi apa lagi yang bisa kita lakukan sekarang? Kyuhyun sudah tidak sadar selama 3 bulan lebih…dan aku bahkan tidak sanggup membayar semua tunggakan biaya pengobatan Kyuhyun. Ayah macam apa aku ini! Kyuhyun tidak akan mengalami nasib seperti ini jika bukan karena ayah tidak berguna sepertiku…" Dan untuk pertama kalinya Tuan Cho menangis…air mata yang bahkan sejak awal selalu ia pendam.

"A..ani, jangan bicara seperti itu Chagi. Semua bukan salah siapa-siapa, kita sudah berusaha bukan? Hanya saja…aku masih tidak percaya."

"Tidak apa-apa…kita sudah bicarakan semua ini tadi malam. Lakukanlah…" Tangan besarnya menuntun jemari kecil Nyonya Cho untuk menyentuh pena. "Kyu…maafkan Eomma." Tangisnya pecah begitu goresan tipis pena mulai merayapi permukaan kertas materai.

"ANI! EOMMA! HENTIKAN!...kumohon. Aku masih ingin hidup, jangan lakukan itu!" Sosok hampa Kyuhyun berusaha sekuat tenaga meneriakan suaranya didepan Nyonya Cho, tangannya mengepal seolah berusaha menghentikan pergerakan Nyonya Cho yang tengah menandatangani perjanjian medis.

Sia-sia saja. Karena apapun yang ia lakukan tidak akan mengubah apapun saat ini. Ia hanya roh hampa yang tidak dapat melakukan apa-apa. "Eomma! Appa! Aku ingin hidup…aku ingin hidup untuk Yesung. Kumohon jangan menyerah terhadapku…kumohon. Sekarang aku ingin hidup, jangan seperti ini." Gerakan yang mulanya terlihat berang kini melemah, sia-sia saja tepisannya pada tangan wanita paruh baya itu. Tidak akan mengubah apapun.

Dan liukan utuh garis hitam itu sepenuhnya telah tertera disana.

"Sudah selesai?" Kertas perjanjian itu diraih Dokter. Mata sipit berlapis kacamatanya menatap isi kertas itu dari atas hingga bawah. "Baiklah, ini memang keputusan terbaik…" Sanggahnya. "Tapi sebelum saya melepaskan alat itu dari tubuh putera kalian berdua, saya beri waktu selama 7 hari untuk memastikan apakah Cho Kyuhyun akan sadar dalam tempo selama satu minggu, jika tidak…saya anggap ini sebagai keputusan final." Jelasnya matang. Sebelum tubuhnya bangkit untuk bergegas pergi dari kamar si pasien.

"Hiks…Kyu, maafkan Eomma tidak berguna ini! Jangan membenci kami sayang…Chagi, mungkin Kyuhyun akan membenci kita sekarang." Tubuhnya nyaris roboh jika saja rengkuhan hangat Tuan Cho tidak menahan bobotnya.

"Sudah...mungkin ini memang jalan yang terbaik. Kita berdoa saja jika selama waktu 7 hari itu Kyuhyun akan sadar, semoga saja." Lirihnya.

Sementara Kyuhyun yang berdiri disamping tubuh aslinya hanya bisa tersenyum miris, memandangi wajah pucatnya yang terpejam. Jika saja ia bisa, ia akan memasuki tubuh itu dan kembali sadar. Hingga terlintas niat bodoh untuk kembali memasuki raganya.

BAM

Seperti ada sebuah penahan yang menghalangi tubuhnya untuk bisa masuk.

"SIALAN!"

Harapannya hanyalah Kim Yesung. Hanya itu.

.

PipinPapo

.

Tubuh mulus yang absen dari pakaian itu melorot dalam bath tub berisi busa sabun. Tergelincir semakin dalam ke bawah lapisan air hingga kini big-headnya hanya terlihat setengah, menyisakan sepasang mata sabit yang memesona. Mata itu memincing semakin tipis…memperlihatkan emosi yang meledak-ledak dibalik obsidian darknya.

ZRASH

Yesung mengangkat kepalanya dari air dengan emosional. Menggeleng-gelengkan kepalanya hingga bulir-bulir air terciprat ke seluruh penjuru kamar mandi. Kembali ia teringat dengan peristiwa ajaib yang nyaris menghancurkan pagi indahnya.

"Ha! Kau mengancamku? Kau bisa apa? Kau ini hanyalah hantu tidak jelas yang hanya bisa mengangguku tapi tidak bisa berbuat apa-apa…dan apa kau bilang tadi? Membuat hidupku tidak tenang? Jangan bercanda!" Cercah namja manis itu seolah tengah bersama seseorang, namun pada kenyatananya tidak ada siapa-siapa bersamanya. Mana mungkin ia mandi bersama seseorang -_-.

Sambil terus menggerutu namja itu kembali melanjutkan penjariannya pada seluruh tubuh putihnya.

Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang ia lontarkan dalam kurun waktu tidak sampai satu jam…semenjak si namja roh bernama Cho Kyuhyun itu pergi meninggalkannya bagai segumpal buih. Setelah mengancamnya dengan ancaman yang sama sekali tidak membuatnya takut barang secuil. Sungguh, ia ingin sekali berhenti peduli dengan segala tetek-bengek yang dikatakan Cho Kyuhyun…namun nalurinya sebagai seorang manusia terasa mengganjal, terlebih mengingat permohonan Cho Kyuhyun yang tidak bisa dianggap bercanda. Bukankah itu masalah hidup dan mati…apa pantas Yesung menolaknya?

Tidak. Ia bukannya manusia kejam yang tidak punya hati, pun awalnya ia pasti akan menolong Cho Kyuhyun jika saja namja roh itu memintanya secara baik-baik dan tidak pernah membuatnya marah sejak awal. Rasanya tidak salah jika ia menolaknya mentah-mentah.

"Sikapmu itu yang membuatku muak. Jangan salahkan aku! Kau pikir apa yang akan membuatku peduli dan merubah keputusanku? Cho Kyuhyun?" Bertanya pada gumpalan udara. Yesung mengelus-eluskan tangan mungilnya yang penuh busa menuju area leher hingga bahu putihnya. Melumuri tiap inchi kulitnya dengan benda harum beraroma manis itu…matanya terpejam tenang. Menikmati tiap sensasi dingin dan licinnya sabun vanilla milik Eommanya-yang sering diam-diam digunakan Yesung mandi-.

Hingga beberapa lama, Yesung berniat menyudahi acara mandi cantiknya dan mengguyur tubuh mulus itu dengan beberapa guyuran air dingin. Diraihnya handuk merah bermotif kura-kura di atas gantungan lalu memerah(?) rambutnya yang tipis.

Tanpa terbersit apapun di pikirannya, ia berdiri dengan santai tanpa mengenakan sehelai benangpun. Mengekspos tiap sudut tubuh mungilnya yang terlihat berisi di beberapa bagian tempat. Diikuti suara gemericik air akibat kakinya yang ia angkat keluar dari dalam bath tub, ia bersenandung kecil menuju pintu kamar mandi. Jari mungilnya menyentuh ujung knop pintu.

Namun…namun…namun!

"Ternyata benar dugaanku…tubuhmu memang indah dilihat dari sisi manapun juga…" Tersedak siulannya. Wajah Yesung memucat, bukan karena belaian udara dingin pada kulitnya. Melainkan suara bass mengerikan yang ia yakini berasal dari namja yang sama dengan pagi tadi.

Ia tarik nafasnya yang terasa berat…sepenuh hati menengokan kepalanya dan OMFG! Mendapati sesosok namja familiar yang tengah mengamati tiap detail bagian belakang tubuhnya tanpa jeda. Yang tanpa tertutup apapun…mulus dan putih bagai kulit bayi, dengan dua buah gumpalan bulat yang siapapun yakin ingin meremasnya.

"Hehe…" Yesung bersumpah ingin memuntir wajah sialan itu.

Ia merasa dunianya runtuh seketika. Disaat yang sama otaknya terngiang-ngiang dengan ancaman si namja jadi-jadian pagi tadi. Rupanya bualan itu bukan sekedar bualan. Buktinya sekarang Cho Kyuhyun sedang menjalankan ancamannya. Kenapa? Kenapa bisa ia lupa jika sekarang ia sudah berurusan dengan roh ajaib yang dapat muncul dimana saja, kapan saja…dengan cara apa saja!

Persetan dengan tubuh telanjangnya! Ini sudah keterlaluan!

"Berani sekali…berani sekali kau!" Kedua bahunya bergetar hebat.

"SIALAN KAU CHO KYUHYUN!" Ia menutupi bagian tubuh pribadinya dengan brutal.

"ASDFGHJKL! #$%%^&**! BERANINYA KAU MENGINTIPKU DASAR BAJINGAN! SETAN! KURANG AJAR!"

"Aku memang sebentar lagi akan menjadi setan. Dan disaat itu tiba, aku akan selalu berada disekelilingmu untuk mengganggumu dan mengintipmu setiap hari...bahkan disaat kau akan bercinta dengan kekasihmu, meskipun kuharap itu tidak akan terjadi padamu…haha."

Dan Cho Kyuhyun berusaha menahan gelak tawanya saat berbagai produk kamar mandi menembus tubuhnya karena namja seksi di depannya yang melemparkannya secara membabi buta. Dengan mata merah imajiner dan rambut mencuat keatas mirip landak.

"Harusnya kau masih ingat dengan konsekuensimu, aku hanya memohon sekali…tapi kau menolaknya. Sekarang aku mengganggumu, apa kau masih akan bersabar dan kembali menolak permintaanku? Kim Yesung?"

"DALAM MIMPIMU KAU BAJINGAN SIALAN! BRENGSEK! BERHENTI MENATAPKU SEPERTI ITU!"

PLAK

PRANG

DUGH

Mungkin keesokan harinya Heechul akan marah besar begitu mendapati kamar mandi puteranya yang kacau balau layaknya kapal pecah.

.

Tap…tap…tap

Ia menggusur kakinya melewati anak tangga dengan lemas.

"YA! Hyung pabbo kenapa kau lama sekali…aku hampir mati kelaparan karena menunggumu turun untuk sarapan!" Tanpa basa-basi Eunhyuk mencaci-maki Yesung yang perlahan turun dari anak tangga dengan gontai. "Lamban!" Cibirnya menusuk.

'Bukankah kalian bisa makan sendiri, untuk apa menungguku kalau ujungnya malah mencaciku, dasar idiot.'

"Hyukkie benar, akhir-akhir ini kau berubah menjadi pemalas yang mengerikan Hyung. Mandimu bahkan lama sekali melebihi yeoja! Ah…tapi kau memang bukan namja! Haruskah aku memanggilmu Noona?" Namja yang duduk berdampingan dengan Eunhyuk -Donghae- mengacungkan kedua tanggannya yang masing-masing meremas sendok dan garpu. Tidak berniat peduli dengan wajah hyungnya yang lebih kusut dari celana dalam milik Shindong -tetangga mereka-. Oh ayolah, Yesung bahkan belum selesai menuruni tangga tapi kalian sudah mencercanya dengan pertanyaan biadab.

'Jangan bicara seolah aku ini orang yang paling bersalah didunia! Kalian punya tangan dan gunakan itu untuk mengisi perut kalian, bukannya menceramahiku! Kalian tidak tahu apa yang aku rasakan!'

Sebenarnya Yesung ingin sekali membalas perkataan kedua dongsaengnya dengan jawaban yang tidak kalah pedas. Namun otaknya masih waras untuk tidak menjerit bahwa 'Hei! Aku bukannya berubah menjadi pemalas…tapi ada seekor roh yang menghantuiku, menggangguku pagi-pagi dan bahkan mengintipku di kamar mandi tadi!' Bukankah itu alasan yang bagus untuk membuat kedua dongsaengnya itu malah semakin tidak menghargainya sebagai orang yang lebih tua?

Hanya saja, ia sadar bahwa dalam kondisi sekarang ia yang salah.

Disaat harapan terakhirnya untuk dibela adalah Heechul…namun kini namja cantik itu tengah berdiri angkuh, menatapnya tajam dengan wajah sangar yang mengerikan. Apakah namja cantik itu juga marah terhadapnya? Karena jika Heechul menunjukan wajah mirip yakuza seperti sekarang…itu artinya dia sedang marah besar. Iya, marah besar.

"CEPAT KEMARI DAN HABISKAN SARAPANMU! Kau membuat kedua dongsaengmu terlambat hanya karena mengunggumu yang lama mandi seperti putri raja! Jangan tanya kemana Wookie, dia pergi seorang diri karena terlalu lama menunggumu turun!" Terasa aura legam mengerikan melingkupi ruang makan yang tegang. Lebih tegang dari medan pertempuran.

"Mi-mian…" Cicitnya. Hanya bisa tertunduk malu menyembunyikan wajah kusutnya dari pandangan orang tidak berperasaan didepannya. Diiringi seringai menyebalkan dari kedua namja muda yang sekarang tengah meledeknya dibalik tubuh Heechul.

'Dongsaeng kurang ajar!'

'Ada saatnya nanti aku akan membalasmu, Cho Kyuhyun!'

Oh ayolah!

.

XD

.

Choi Siwon. Banyak hal menarik dari diri namja itu sejak pertemuan pertamanya dengan Yesung. Namja manis itu terkadang sering mengira ada sesuatu di wajahnya sehingga ia selalu menemukan tatapan Choi Siwon yang –selalu- tertuju padanya setiap kali mereka bertemu. Atau mungkin banyak benda aneh yang menempel di celana Yesung karena Choi Siwon –sangat- sering menatapi celana belakangnya dalam waktu lama. Yang Yesung tidak pernah mengerti apa maksudnya…karena baik diwajah maupun celananya sama sekali tidak menunjukkan keganjilan.

Hanya saja mungkin Yesung tidak tahu arti dari tatapan buas si kuda liar…yang tentu saja tidak bermaksud memandangi celana belakangnya yang aneh…melainkan sesuatu dibaliknya. XD.

Choi Siwon juga merupakan namja paling kaya di kelasnya, bahkan di sekolahnya. Ayahnya juga merupakan donator yang memberi asupan dana paling besar. Jadi wajar saja sikap arogan Choi Siwon selama ini didasari oleh 2 faktor di atas…dan juga ketampanannya barangkali. Setiap hari namja tampan itu tidak pernah absen menggoda seseorang…baik namja maupun yeoja. Yesung tidak peduli.

Tapi kejadian kemarin dan yang kemarinnya lagi seolah baru saja membuat Yesung sadar, jika namja bermarga Choi itu tidak hanya arogan, sok kaya dan pelaku pembullyan…tapi juga tukang PEMERKOSA.

Ia tidak tahan jika harus berdekatan dengan namja super kaya itu. Akhir-akhir ini namja manis tersebut memilih untuk menjaga jarak dari Choi Siwon yang duduk tepat di belakangnya. Memutuskan kontak mata saat namja tampan itu menatap Yesung lekat, menghindari keberadaan Choi Siwon dimanapun, secepatnya menjauh saat melihat tindak-tanduk Siwon yang ingin mendekatinya. Semoga saja dengan tingkahnya yang memuakkan bisa membuat Choi Siwon berhenti menguntitnya, atau setidaknya berhenti menatapnya seolah ia adalah barang langka yang jarang sekali ditemui.

Tapi itu tidak cukup.

X*

Zrash

Namja Kim itu memilin setiap jari mungilnya yang tersiram air keran wastafel. Setelah tangannya bersih dan terbebas dari noda ia memutus saluran keran dan bersiap untuk pergi.

"Hei kim Yesung…kau mau kemana? Terlihat buru-buru." Nyaris saja ia menabrak dada Siwon yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan Yesung. Ia mendengus.

'Orang ini selalu saja menemukanku di berbagai tempat, dan hei! Bahkan di toilet?!' Innernya.

"Tidak ada hubungannya denganmu…Choi Siwon, minggir! Aku mau lewat." Balasnya ketus.

"Tapi aku ingin tahu, sungguh…kau pasti marah soal kemarin bukan? Karena aku sudah mengambil kepolosan bibirmu dan juga sudah meraba-rabamu tanpa izin." Ujarnya blak-blakan. Namja itu mengucapkannya seolah yang barusan itu bukan hal serius.

'Dia mengucapkannya segampang itu, memangnya dia pikir yang terjadi kemarin itu apa? For gods sake! Dia nyaris memperkosaku! Tunggu…kenapa itu terdengar seperti aku ini adalah yeoja!?' Yesung memincingkan matanya yang sipit itu semakin sipit lagi. Meneliti setiap tindak-tanduk Siwon yang mungkin saja akan berniat buruk-lagi- terhadapnya. Silahkan saja karena Yesung sudah mempersiapkan gerakan terbaiknya untuk mematahkan leher Choi Siwon jika ia berani menyentuhnya barang sehelai rambut.

Jangan harap ia akan melupakan kejadian kemarin lusa itu dengan mudah!

"Tutup mulutmu, dan jangan pernah ingatkan aku dengan kelakuan bejadmu itu Choi Bastard! Siwon. Dan juga apa kabarnya milikmu yang kemarin berciuman dengan sepatuku? Apa 'ia' merindukan sepatuku lagi?!" Yesung tertawa sinis begitu melihat rahang namja di depannya yang mengeras.

Siwon mempertipis jarak antara mereka dengan maju selangkah demi selangkah, selangkah lagi Siwon maju…maka satu langkah itu juga Yesung mundur. Mereka terus melakukan itu hingga punggung Yesung akhirnya membentur bilik toilet. Namja manis itu mengerutkan dahinya begitu mendapati seringaian buas kembali menghiasi wajah tampan Choi Siwon.

"YA! Jangan mendekat!" Nadanya tidak kentara. Meraba-raba lapisan dibelakangnya yang telak membuatnya tak bisa mundur lagi.

"Kau masih bersikeras menentangku, Kim Yesung?" Tanpa diduga. Tiba-tiba saja namja itu membalikan tubuh mungil Yesung lalu menabrakannya ke dinding. Dan –kembali- menghimpitnya lagi. Tangan yang satunya ia gunakan untuk mencengkram kedua pipi berisi Yesung. Membuat namja mungil itu meringis, bagaimana bisa pertahanan yang beberapa menit lalu ia persiapkan kini hanya berujung kesialan.

"Argh!"

"Bukankah kau tahu aku ini Choi Siwon yang absolut? Kenapa masih menghindariku sementara langkahmu tak selebar langkahku! Kau hanya harus menurut padaku dan buat semuanya menjadi mudah, kay?" Segenap tenaga Choi Siwon menahat hasratnya yang membumbung tinggi saat bagian selatan pribadinya –entah disengaja atau tidak- menyentuh lipatan antara belahan pantat Yesung.

'Sialan kau Choi Bastard Siwon!'

"KAU MAU APA LAGI! L-LEPAS!" Yesung memberontak sekuat tenaga. Otaknya mencerna setiap perbuatan Choi Siwon yang kembali mengingatkannya pada kejadian kemarin sore. Apalagi saat saraf kulit bagian buttnya merasakan sesuatu yang mengeras menusuk pantatnya. 'HIIIIIII A-apa itu!?' Jangan bilang Choi Siwon akan melanjutkan perbuatannya waktu itu? HELL NO!

"Tamat kau, Kim Yesung." Hembusan nafas sensual menerpa bagian belakang tengkuknya.

"He-hei! Kau tidak serius kan? Ini toilet sekolah!...M-maksudku meskipun ini bukan tempat umum kau juga tidak boleh melakukannya padaku!" Ia langsung merutuki perkataan ambigunya.

"Kau pikir aku peduli?" Hingga deraian nafas panas itu bergerak menyusuri tulang rahang hingga tengkuknya yang meremang. "Vanilla eoh? Manis sekali…" Manik kromatik Yesung mengerjap.

'Kenapa juga aku harus mandi sabun vanilla tadi pagi?! Eomma…aku berjanji tidak akan menghabiskan sabunmu lagi jika akhirnya akan terjadi seperti ini!' Well. Bukankah penyesalan memang selalu datang di akhir?

Brak

Tiba-tiba saja siluet seorang namja jangkung menerobos dari balik bilik toilet.

"Bukankah tidak baik menindas orang yang lebih kecil darimu, Choi Siwon?" Sebuah suara bass tenang menginterupsi kegiatan mereka berdua. Di ujung matanya Yesung dapat melihat seorang namja jangkung yang mendekat ke arah mereka. Namja tampan berkacamata yang merupakan teman sekelasnya. "Kim Kibum!" Jerit Yesung ditengah himpitan Siwon yang masih belum mau lepas.

"Apa urusannya denganmu? Kim Kibum! Tidak ada hakmu sama sekali untuk menghentikanku berbuat apapun. Lagipula apa yang kau lakukan sejak tadi didalam sana, kau mengintip!?" Bentaknya. Dengan berat hati sedikit melonggarkan kungkungannya pada Yesung.

"Maaf saja, tapi aku sama sekali tidak berusaha untuk mengintip kegiatan mengerikan kalian. Kau juga tidak perlu tahu alasanku, aku hanya tidak menyukai ada orang yang tersakiti didepan mataku." Sudut kacamatanya berkilat tajam.

"Kalau begitu seharusnya kau pergi sehingga kau tidak akan melihat apapun dan biarkan aku menyelesaikan urusanku disini. Right?"

"Yang benar saja, ditoilet? Lakukan ditempat yang lebih layak, kecuali jika kau memang sudah tidak punya malu untuk membiarkan orang lain melihat aktifitas pribadimu. Hanya saran." Ujarnya ringan menghampiri Siwon.

"Sebenarnya kau itu berniat menolongku atau malah membantu si Sialan ini!" Umpat Yesung. Sia-sia ia menganggap Kibum adalah penyelamat jiwanya, ia salah…Kibum jauh lebih buruk!

"Terserah aku akan melakukan apapun dimana saja, sekarang pergi dan biarkan aku bersenang-senang!"

"Tapi—"

"PERGI!"

Namja dingin itu nampak menimang. Membolak-balikan tatapannya antara Yesung dan Siwon.

'Kumohon selamatkan aku! Akan kulakukan apapun sebagai balasan asalkan kau menjauhkanku dari kuda liar ini!' Mungkin itu arti tatapan dramatis Yesung pada Kim Kibum.

"Cepatlah! Kau membuang waktuku!" Bentak Siwon nampak kehabisan kesabaran.

Haruskah Yesung hilang harapan sekarang. Karena Kim Kibum nampaknya akan meninggalkannya berdua bersama Siwon. Harusnya ia kabur sejak tadi saat Siwon melepaskan cengkramannya, namun ia yang berdiri tanpa daya dibelakang Siwon sekarang bukannya tanpa alasan. Melainkan karena Choi Siwon sama sekali tidak memberinya peluang untuk bahkan sekedar lari dari sana. Terkutuklah semuanya!

"Mian Choi Siwon, sepertinya aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkanmu disini bersama Kim Yesung…" Yesung bersumpah ingin mencium Kibum saat itu juga. Ralat umpatannya tadi. "Kau! Kau tidak mau pergi? Berani…berani sekali kau! Jangan buat aku semakin marah dari ini!" Titahnya.

Mendapati namja berkacamata itu tidak kunjung beranjak dari posisinya. Disaat itu juga titik amarah seorang Choi Siwon mencapai puncaknya. Dengan kecepatan diatas rata-rata ia menerjang tubuh jangkung Kibum dan membenturkannya pada dinding hingga menimbulkan bunyi retak yang nyaring. "Salahkan dirimu sendiri. SHIT!" Lantangnya sebelum…

BUAGH

Tinjunya melayang pada sisi bagian kanan wajah Kim Kibum, membuat luka robek pada bagian dalam gusinya. Kibum merasakan cairan besi itu melumuri mulutnya, diludahkannya secara kasar."Kau pikir aku akan takut!" Balasnya tersulut amarah, tidak pernah rasanya namja dingin itu menampakan emosinya didepan orang lain kecuali saat ini.

"KAU-"

Tak mau kalah, Kibum menendang sekuat tenaga bagian perut Choi Siwon lalu balas meninju wajah fabulous Siwon dalam sekali hentak, membuat namja itu kelimbungan hingga tersungkur didepan Yesung. "SIALAN!" Serapahnya seraya bangkit dengan cepat mengulangi gerakan pertamanya saat memulai perkelahian dengan Kibum…menerjangnya namun kali ini gagal meninju wajah Kibum. Kibum menghardik dengan sigap dan menepis tinjuan Siwon, namun tak lama berselang ia merasakan sakit akibat tendangan keras kaki Siwon disisi pinggangnya. Diikuti tinjuan beruntun pada perutnya yang dipelintir.

"Argh!" Raungnya. Siwon menendangnya bertubi-tubi disetiap bagian tubuhnya hingga ia merunduk memegangi perutnya yang terasa ngilu.

Buak

Buak

Namja arogan itu memukulinya tanpa ampun.

"HENTIKAN!" Yesung yang baru saja mengumpulkan segala keberaniannya langsung menghambur menuju tubuh Kibum yang merunduk. Sama sekali tidak menghindari tendangan biadab Siwon hingga beberapa kali menyakiti bahu dan kepalanya."Kumohon hentikan Choi Siwon! Jebal…hentikan…" Rintih namja mungil itu sambil menghalangi tendangan Siwon kepada Kibum. Namun Siwon yang terlanjur marah tidak menggubris Yesung, meskipun kini tendangannya ikut melukai Yesung sendiri. Ia marah…dan saat ia marah tidak ada seorangpun yang dapat meredamnya.

"AH! Jebal…jebal Choi Siwon! Berhenti!" Kini isakan pun tidak dapat dibendung. Ia memeluk tubuh Kibum erat. Hingga pada beberapa tendangan terakhir Siwon mengakhiri aksinya untuk melihat seberapa menyedihkan orang yang tadi berani menantangya. "Cih…hanya itu saja kemampuanmu. Bermulut besar! Menyedihkan…" Tanpa sedikitpun melirik Kibum dan Yesung, namja kasar itu melenggang pergi.

"Dan kau harus ingat Kim Yesung, lain kali kau tidak akan seberuntung ini."

BLAM

Dan pintu toilet itu dibanting secara kasar.

"Kim Kibum? Kau masih sadar?" Bisiknya lemah. Nafasnya meluncur lega mendapati anggukan Kibum yang menyedihkan. "Dasar idiot! Harusnya kau pergi dan bukannya melawan kuda bajingan itu. Kau juga buruk dalam berkelahi, harusnya kau menggunakan cara yang lebih cerdas untuk menyelamatkanku…pabbo, bukankah kau ini pintar?" Menepis fakta bahwa tadi ia yang mengintimidasi Kibum dengan tatapan memohonnya. Jemari mungilnya meraba wajah lebam Kibum. "Kau juga berat, bagaimana bisa aku mengangkatmu!" Protesnya saat ia mencoba mendirikan tubuh Kibum.

"It's okay." Senyum lemah Kibum tersungging untuknya. "Mian sudah menyusahkanmu Kim Yesung, tadinya aku ingin menolongmu tapi malah menyusahkanmu." Suaranya terdengar parau.

"Jangan banyak bicara, lukamu harus cepat kuobati!"

Dengan susah payah ia membopong tubuh tinggi Kim Kibum sambil meringis. Jangan lupa jika ia juga terkena hajaran Choi Siwon.

Hanya saja mereka tidak sadar jika sejak tadi sosok namja Roh Cho Kyuhyun sudah menyaksikan adegan dramatis mereka bertiga. Menatap kedua sosok berbeda tinggi yang menghilang dari balik pintu. "Kau memang disayangi banyak orang, Kim Yesung…jika saja aku bisa, aku akan menolongmu dari siapapun yang akan menyakitimu." Jeda.

"Kau tahu kenapa aku bersikeras ingin tetap hidup dan memohon kepadamu? Itu karena aku ingin hidup sebagai orang yang dapat menjadi pelindungmu suatu hari nanti…dan aku ingin hidup agar dapat menemuimu untuk menjadi orang yang dekat denganmu. Apa aku sudah jatuh cinta? Tentu saja, bahkan saat pertama kali aku melihatmu." Kyuhyun tersenyum miris. Alasannya untuk hidup sekarang demi Kim Yesung, orang pertama yang membuatnya ingin tetap hidup. Hanya saja, mungkin rasa itu harus ia pendam dalam-dalam…karena Kim Yesung sama sekali tidak menginginkannya hidup.

"Aku sudah putus asa sejak awal, aku tidak berharap akan sadar kembali…bahkan aku berharap tuhan akan mempercepat kematianku."

"Tapi aku sekarang ingin hidup…karena aku ingin bersamamu."

"Hanya saja, kau tidak menginginkanku hidup bukan?"

Monolognya.

.

XD

.

"Hei Kim Yesung!"

BRUG

Tubuh namja sipit itu terjungkal hingga punggungnya terasa ngilu akibat berciuman dengan lantai. Terang saja, Cho Kyuhyun tiba-tiba saja muncul dihadapannya saat ia tengah melamunkan hal tidak jelas.

"Eh, mian Sungie sayang, aku tidak menyangka kau akan kaget begitu sampai terjungkal segala." Bibir tebal Kyuhyun menampakan giginya, nyaris mirip keledai.

"Kau!" Desisnya…meredam suaranya karena ia masih ingat sekarang tengah berada di ruang kesehatan. Bokongnya mati rasa.

"Yesung, kau kenapa?" Kibum yang tadinya tertidur pulas kini menatapnya khawatir, sedikit heran juga kenapa namja manis bermaga Kim itu bisa terjatuh. "Kau tidak apa-apa?" Ia tersenyum charming begitu mendapati anggukan kecil Yesung.

"Mian membangunkanmu Kibum, aku terjatuh karena tadi melihat kecoa…hehe." Alasan yang klise…tapi bodohnya Kibum percaya. Sementara Kyuhyun tengah tertawa girang disamping Yesung, menertawai kebodohannya dalam berbohong. "Kembalilah istirahat, lukamu belum sembuh. Jangan banyak bergerak." Imbuhnya bercampur kekhawatiran, ditariknya selimut tebal itu hingga kembali menutupi separuh tubuh Kibum.

"Apa aku menyusahkanmu?" Tiba-tiba saja perkataan itu lolos dari bibir Kibum. Membuat Yesung tercenung.

"Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak, lagipula semua ini kesalahanku hingga kau terluka parah…kalau saja aku bisa melawan Choi Siwon, kau pasti tidak akan menolongku bukan?" Lanjutnya kembali membenahi selimut.

Kibum kembali tersenyum penuh arti. Yesung hanya membalasnya sederhana, meskipun rasa penasarannya terus tumbuh karena Kibum seolah sering sekali tersenyum didekatnya. "Aku menolongmu karena aku tidak mau kau disakiti olehnya, tapi lihat aku sekarang…aku babak belur dan bukannya menolongmu. Aku menyedihkan." Senyuman itu berganti pahit.

"Ya! Kau ini…jangan selalu menyalahkan dirimu. Sudahah, bukankah sudah kubilang untuk jangan banyak bicara? Mulutmu sedikit robek!"

Hening

"Kim Yesung…" Tiba-tiba saja tangan besar Kibum mengamit tangan Yesung dan menuntunnya menuju pipi kanannya yang lebam. Wajah tampannya mengusap lembut telapak tangan Yesung dan terpejam tenang. "N-ne?" Mau tidak mau Yesung terbawa gugup. Sedikit, hanya sedikit rona merah di pipi putihnya.

"Aku menyukaimu…jadilah namjachinguku." Tembaknya to the point. Membuat Yesung harus tercenung untuk sesaat lamanya. Entah kenapa sejak kemarin banyak sekali yang menyatakan perasaan kepadanya, ia tolak semuanya. Tapi kali ini Kibum. Apa yang harus ia katakan? Menolaknya bukan jawaban yang tepat…tapi menerimanya juga tidak Yesung perkirakan. Masalahnya adalah Kibum sudah menolongnya, apakah pantas ia menolaknya sekarang?

"MWO?" Satu-satunya mahluk yang tidak bisa disebut manusia itu mengeluarkan jeritan nyaring. Kyuhyun. Tidak menyangka 'kunjungan'nya pada Yesung bisa membuatnya menyaksikan moment-moment mengerikan seperti ini. Sial sekali, dan sakit sekali rasanya. "Yesung?" suara berat Kibum membuyarkan keterkejutan Yesung. "N-ne..Kibum, a…aku. Aku tidak tahu…" Wajah mungilnya merunduk tertutupi deraian poni."Aku…maksudku kita belum sepenuhnya saling mengenal bukan? Aku hanya…" Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Bibir bawahnya ia kulum kuat-kuat.

"Hmm, aku mengerti. Aku akan memberimu waktu hingga kau bisa menerimaku…dan aku akan dengan senang hati menunggu jika saat itu tiba. Tapi jangan terlalu lama…" Wajah mempesona Kibum membuat Yesung lupa cara bernafas. Tidak, ia tidak menyukai Kibum sama sekali…hanya mengagumi ketampanannya saja, barangkali.

"N-ne…tapi aku tidak bisa memberikan janji apapun."

Dan Yesung bahkan tidak sadar jika Kyuhyun sudah pergi sejak tadi.

.

.

"Aku pulang…" Tanpa menunggu jawaban dari semua anggota keluarganya, Yesung langsung bergegas menuju kamarnya tanpa menghiraukan sahutan dari Eomma dan ketiga dongsaengnya.

Dibukanya pintu kamar itu dengan keras lalu menutupnya lagi dengan sama kasarnya. Tas slempangnya langsung ia banting sambil mempereteli semua baju seragamnya kecuali kaos oblong beserta boxer kura-kura merah maroon kesayangannya.

"Sial! Kenapa setiap hari masalah tidak pernah bosan menyambangiku? Choi bastard! Lalu sekarang Kim Kibum? Apa yang harus kukatakan padanya nanti?!"

Tubuhnya langsung ia tenggelamkan dalam kasur, dengan posisi melintang dan kedua tangan yang merentang. Pikirannya kembali mengelana pada deretan kejadian dari pagi hingga saat ini, entahlah. Semuanya terasa rumit dan terlalu sulit untuk ia terima…mulai dari masalah Choi Siwon hingga Cho Kyuhun. Kedua namja itu seolah membolak balikkan hidupnya bertubi-tubi, membuatnya kelimbungan hingga akhirnya jatuh.

Cho Kyuhyun? Baru ia ingat. Sejak muncul di ruang UKS hingga membuatnya jatuh terpelanting…namja-bukan-manusia itu tiba-tiba hilang begitu saja tanpa mengatakan apapun, mungkin saat Kibum menyatakan perasaaan kepadanya? Bisa jadi. Bahkan saat Kim Kibum mengutarakan perasaanya…Yesung merasakan aura dingin yang lebih kentara dari biasanya, dan ia rasa Kyuhyun menghilang saat itu juga.

"Kemana kau roh sialan? Kau menghilang sejak tadi…kenapa? Kau cemburu dengan Kibum?" Kekehnya pelan. Pertanyan itu bukan ia ajukan untuk Kyuhyun sebenarnya, ia hanya ingin berbicara sendiri. Namun sedetik kemudian ia baru saja sadar, untuk apa ia menanyakan Kyuhyun? Aneh.

"Untuk apa aku menanyakannya? Pabbo!"

"Mencariku?" Dan suara bass tenang dari namja yang sedari tadi Yesung bicarakan tiba-tiba muncul hingga membuatnya membeku untuk sesaat. Ia lalu mencari-cari sosok Kyuhyun ke segala arah, membolak-balikkan kepalanya untuk memastikan dimana namja brunette itu berada. Namun nihil.

"Cho Kyuhyun?" Panggilnya. Namun setelah beberapa saat berlalu, sahutan tidak kunjung Yesung dengar. Apa? Apa itu hanya perasaannya saja? Tapi suara itu terlalu jelas untuk sekedar halusinasi.

"Aku disini, pabbo." Yesung mengerjap. Mendapati namja jangkung itu tengah merebahkan diri disampingnya, dengan senyumn khas yang tidak siapapun miliki…wajah tampannya yang sedikit transparan diterangi sinar lembayung sore yang menawan. Baru saat itu Yesung sadar, Cho Kyuhyun benar-benar tampan. Tidak, Kyuhyun memang tampan sedari awal mereka bertemu, namun kali ini rasanya berbeda.

Tidak disadari semburan merah menyusuri pipi gembul Yesung.

"Yesung? Kenapa memandangku begitu? Ini hanya perasaanku atau memang sekarang wajahmu benar-benar merah?" Pernyataan narsis Kyuhyun sukses membuat Yesung sadar dari euphoria.

"A-ANI! Aku bukannya memandangmu! Aku hanya terkejut melihatmu yang sekarang terlihat lebih aneh dari biasanya! Apanya yang memerah?! Wajahku terkena sinar matahari tahu!" Balasnya sengit, meskipun rona bandel itu masih belum hilang sepenuhnya. Kyuhyun terkekeh dibuatnya…namja didepannya terlalu polos untuk berbohong. Ia jadi ingat saat Yesung berbohong kepada Kibum sewaktu jatuh dari kursi…namja sipit itu benar-benar tidak pandai berbohong.

Kibum? Bukankah tadi namja itu sudah menyatakan perasaanya kepada Yesung?

"Ya ya…aku percaya, jangan terlalu serius begitu, wajahmu jadi semakin merah."

"Hii…kubilang bukan memerah, ini karena matahari!" Salahkan matahari sesukamu, batin Kyuhyun.

"Bukankah tadi kau mencariku? Kenapa?…kau rindu padaku? Dan apa yang tadi kudengar, kau bilang aku cemburu pada Kim Kibum?" Dan Yesung tak bisa membalas apapun. "A-ani…" Cicitnya.

"Kalau boleh dibilang, ya aku cemburu. Itulah kenapa aku langsung pergi tanpa mengatakan apapun…aku merasa sakit saat namja itu menyatakannya padamu, jika saja aku ini manusia…harusnya aku yang bilang itu padamu." Tanpa sedikitpun kebohongan, Kyuhyun mengutarakannya seraya menatap langit-langit kamar Yesung.

Dan wajah namja sipit itu memerah untuk yang kedua kalinya.

"Jangan bicara macam-macam! Mana mungkin namja setengah manusia sepertimu menyukaiku…kau kan hantu!" Yesung membuang muka dengan wajah yang sangat merah. Dadanya terasa bergemuruh.

"Kubilang aku belum jadi hantu, setidaknya dalam seminggu ini aku belum menjadi bagian dari mahluk itu."

"Sama saja bukan?"

"Tentu saja berbeda, aku hanya butuh bantuanmu…kau hanya harus memberitahu orang tuaku, hanya itu." Kyuhyun terduduk dari tidurannya. Mendekatkan tubuh non-human-nya rapat-rapat pada Yesung.

"Kau pikir aku mau percaya? Dalam mimpi-…" Dan saat namja muda itu berbalik, yang ia dapati adalah…wajah tampan Kyuhyun yang menatapnya begitu dekat. Ia kehabisan kata-kata…

"Kenapa diam?" Kyuhyun menatapnya bagai elang yang mengunci buruannya.

"A..aku, ah sudahlah. Aku akan pergi mandi…" Sebelum menyelesiakn ucapannya, Yesung teringat dengan kejadian tadi pagi yang membuatnya harus mematahkan botol shampoo.

"Mandi? Mau kutemani?" Dan keparnoan Yesung terwujud.

"DALAM MIMPIMU!"

.

.

"Ne Hyung, kau tahu aku akan ikut lomba dance bersama Hae?" Wajah orientah Eunhyuk terlihat bersemangat saat menceritakannya, hingga kedua tangannya bahkan tidak bisa diam untuk sejenak." Aku benar-benar terkejut saat Kangin seonsaengnim mengajakku ikut bersama Hae, dia bilang aku dan Hae sangat berbakat makanya dia mengajak kami." Bahkan makan malamnya ia abaikan untuk sekedar mengoceh tentang ia dan Donghae. Bukankah mereka terlalu dekat untuk menjadi saudara?

Sementara si Partner, Donghae terlihat sama antusiasnya. Kemudian merangkul 'mesra' bahu Eunhyuk yang duduk disampingnya. "Kami hebat bukan? Itu lomba besar yang hanya diikuti murid berbakat saja seperti kami!" Ah…bukankah mereka memang terlalu dekat?

"Ne, betul…Hyung tidak mungkin bisa seperti kami, wleee." Dan namja sipit itu tetap menyebalkan seperti biasa.

"Hmm…terserah kau saja Hyukkie. Tadinya Hyung akan memberimu semangat supaya kau menang nanti…tapi tidak jadi. Kau menyebalkan." Yesung memajukan bibirnya mirip anak kecil, membuat Enhyuk dan Donghae terkekeh geli. Hyung mereka terlalu manis untuk jadi orang yang lebih tua.

"Ani, aku hanya bercanda."

"Nadamu terlalu serius untuk disebut sebuah candaan…dasar Dongsaeng kurang ajar."

KREK

"YA! Kalian berdua, jangan terlalu berisik saat sedang makan..itu tidak baik." Ryeowook menghentakkan garpu pada omelettnya hingga nyaris menancap pada piring, ia mulai kehabisan kesabaran melihat kelakuan ketiga saudaranya yang selalu membuat keributan setiap hari. Demi Tuhan tidak bisakah mereka tenang sebentar saja, bahkan dimeja makan!

"Mi…mian Wookie." Eunhyuk lebih takut melihat Ryeowook marah dibanding melihat Yesung marah…karena saat namja paling muda itu sudah marah, maka segala perabotan rumah akan melayang pada mereka.

"Err…dimana Eomma? Hyung tidak melihatnya sejak tadi, Eomma juga tidak memasak hari ini…semuanya kau yang masak bukan Wookie?" Tanya Yesung spontan, mencoba mengalihkan keadaan. Toh memang ia belum melihat Heechul sejak makan malam berlangsung.

"Eomma pergi tadi, aku tidak tahu Eomma pergi kemana…tapi sebelum pergi tadi dia mengangkat telfon dari seseorang. Dan Hyung tidak akan percaya kalau aku bilang wajah Eomma terlihat berseri-seri setelah selesai mengangkat telfon…tidak pernah kulihat Eomma sesenang itu, dia seperti remaja puber." Jawabnya jelas. Meneliti reaksi ketiga saudaranya.

"Mungkin Eomma mengangkat telfon dari pacarnya…awas saja kalau memang benar. Aku tidak rela harus mempunyai Appa tiri! Yang kulihat di sinetron mereka mengerikan!" Mata Eunhyuk yang sipit kini memincing semakin sipit, mengingat kembali sebuah sinetron yang mengisahkan kekejaman ayah tiri pada anak tirinya.

"Tidak semua ayah tiri seperti di sinetron, pabbo…pikiranmu terlalu sempit. Pantas saja kau tidak pernah punya nilai tinggi." Timpal Yesung.

"YA! Kau juga sama! Matematikamu lebih buruk dari anak SD!"

"YA! Itu kan hanya di matematika! Dalam bidang selain itu nilaiku selalu bagus…tidak sepertimu yang minus dalam tiap mata pelajaran!

"Tapi setidaknya matematikaku lebih baik darimu!"

"DIAM KALIAN BERDUA! ATAU AKU AKAN MENYUMPAL MULUT KALIAN!"

"…Mian."

.

.

Tidak terasa malam pun tiba.

Yesung langsung menerjunkan dirinya pada hamparan kasur empuk untuk segera tenggelam dalam mimpi indah. Tangannya meraih guling bermotif kura-kura lalu memeluknya erat.

"Kau mau tidur?" Entah sejak kapan Kyuhyun sudah berdiri disamping ranjang.

"Untuk apa kau kemari, tentu saja aku mau tidur…jangan menggangguku! Hush hush…kau bisa membuatku bermimpi buruk!" Yesung yang sudah terbiasa dengan kemunculan Kyuhyun hanya mendengus kesal tanpa memandang Kyuhyun.

"Entah, aku hanya merasa akan nyaman jika berada didekatmu…biasanya aku akan pergi ke rumah sakit, tapi jika harus melihat tubuhku yang sebentar lagi akan mati…aku jadi tidak betah berada disana, kau tahu?" Ia mendudukkan dirinya disamping Yesung.

"Aku tidak begitu peduli, lagipula kenapa harus ke kamarku? Kau membuat mataku sakit." Posisinya berubah menjadi terlentang, dengan tangan masih memeluk guling. Ada suatu perasaan aneh yang berdesir tiap maniknya bertatap muka dengan Kyuhyun, tapi semua itu ia tepis dengan pura-pura tidak peduli. Mana mungkin ia bisa 'mempunyai rasa' kepada hantu?!

"Kau selalu bilang begitu, wajahmu jadi terlihat menyeramkan. Tapi ini serius, aku ingin tidur bersamamu." Ujarnya penuh keambiguan.

"Apa maksudmu dengan 'tidur bersamaku'? Kau bisa tidur dimana saja asal jangan bersamaku! Aku bahkan tidak tahu jika hantu juga bisa tidur!" Yesung membalikan tubuhnya hingga memunggungi Kyuhyun.

Namun dengan sekejap mata tubuh namja brunette itu berubah menjadi kepulan asap lembut yang terurai dan berpindah tempat menjadi sosok Kyuhyun yang sekarang tengah terbaring dihadapan Yesung. Membuat si namja sipit harus memekik kaget untuk beberapa detik.

"APA YANG KA-…"

"Sstt…kau bisa membuat mereka bangun." Kedua mata Yesung dibuat juling karena menatap telunjuk Kyuhyun yang menahan bibirnya pelan. Hanya sebuah sentuhan yang bahkan tidak bisa ia rasakan, tapi itu sukses membuat Yesung harus menelan semua makiannya. Hal ini berlangsung beberapaa saat hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan kontak fisiknya.

Hingga kedua mata mereka saling bertatapan. Yesung dapat melihat pantulan dirinya dalam cermin bening kedua amber Kyuhyun.

Entah apa yang ada dibalik manik amber itu hingga menatapnya selekat ini. Seolah menghipnotisnya untuk tetap saling menatap dalam keadaan hening yang menghanyutkan. Lidahnya kelu untuk sekedar melayangkan protes kepada si Brunette.

"Tetaplah seperti ini…" Entah hanya perasaan Yesung atau memang sekarang wajah Kyuhyun jadi begitu dekat?

"…"

"Begini lebih baik, cepatlah tidur…Sungie." Ia tahu sosok Kyuhyun tidaklah padat, namun pelukan lembut yang sekarang merengkuhnya terasa begitu nyata. Kehangatan itu melingkupinya erat dengan wajah Kyuhyun yang terpejam didepan wajahnya. Mereka berpelukan dalam ranjang, mungkin lebih tepat jika Kyuhyun yang memeluknya.

"Ne…" Entah apa yang ada dalam pikirannya hingga membiarkan semua larut begitu saja. Mungkin besok ia tidak akan percaya…jika semalaman ia tidur bersama Kyuhyun yang notabene adalah mahluk halus. Dan mereka berpelukan.

Hanya saja sekarang ia tidak ingin mempermasalahkannya lebih jauh. Karena pelukan semu yang diberikan namja roh itu dapat memberinya kehangatan melebihi pelukan nyata.

"Selamat tidur."

.

.

TBC

RnR PLEASE PLEASE PLEASE~~~

YAYYYYYYYYY FINALLY UPDATE #TebarBungaKaktus

Mian kalo mengecewakan :(

Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih buat yang udah review di ch 1, ataupun yang sudah mau read meskipun nggak review :

BTW maaf updatenya lama, tadinya mau update seminggu setelah publish, tapi ternyata rampungnya melebihi perkiraan.

Hihihi…gomawo all (_ _)

Akhir kata THANKS SO MUCH LUPH U MORE DAH :* :* #BLETAK