Disclaimer: Sesungguhnya, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki napas dan jalan kehidupan semua karakter yang ada dalam cerita Puan ini. Puan hanya meminjam nama mereka saja.
Rate: M
Genre: Puan agak kurang paham dengan masalah ini. Bisa jadi genre-nya romance, drama, tragedy and family.
Warning: Boys love, yaoi, m-preg, beberapa butir typo yang kemungkinan terlewat ketika proses peng-edit-an, jalan cerita yang cukup lambat, beberapa adegan penyiksaan, karakter para tokoh yang tidak sesuai kepribadian aslinya pastinya dan banyak lagi yang lainnya.
Cast:
- Kim Jaejoong as Kim Jaejoong/Selir Hwan (15 tahun)
- Jung Yunho as Raja Yi Yunho/Raja Sukjong (30 tahun)
- Kim Junsu as Kepala Pengawal Kim (28 tahun)
- Go Ahra as Permaisuri Yi Ahra (30 tahun)
- Shim Changmin as Putera Mahkota Yi Changmin (15 tahun)
- Park Yoochun akan muncul di chapter yang kesekian, jadi umur dan perannya juga belum Puan tentukan, hehehe.
Sedikit cuap-cuap:
Latar dari cerita ini adalah di era Dinasti Joseon, di bawah kepemimpinan Raja Yi Sun (memerintah sejak tahun 1674-1720) yang untuk keperluan cerita namanya Puan ganti menjadi Raja Yi Yunho. Raja ke-19 dari Joseon. Tidak bermaksud sama sekali untuk menodai sejarah Korea dengan perubahan ini, jadi Puan minta maaf sebelumnya jika ada pihak yang tidak berkenan.
Puan juga berusaha meminimalisir penggunaan bahasa Korea disebabkan karena keterbatasan Puan. Sebagai pendatang baru di fandom ini, Puan ingin turut serta menyalurkan minat menulis Puan yang tentunya belum ada apa-apanya, untuk itu kritik dan saran membangunnya sangat Puan harapkan.
Cerita ini terinspirasi dari banyak drama kolosal Mandarin dan Korea yang Puan tonton juga cersil yang Puan baca, yang paling utama adalah drama Mandarin berjudul The Great Conspiracy serta drama Korea berjudul Jewel in the Palace alias Jang Geum dan serial Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S. Kalau ada beberapa kesamaan, harap dimaafkan, ne?
Puan ingin berterima kasih untuk kedua sahabat Puan, Kak Shanty Hidayat (Sun-T) dan Rin Evans yang sudah bersedia Puan teror tengah malam supaya baca draft The Great Revengeyang masih mentah, hahaha. Mereka berdua adalah sahabat yang juga sering memberi masukan dan mengingatkan masalah typo.
Pada kesempatan ini juga Puan ingin sekali berterima kasih sekaligus meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para readers ataupun viewers yang sudah menyempatkan diri melihat, membaca, mem-follow, mem-favoritkan, juga memberi jejak di tulisan sederhana Puan ini.
Terima kasih untuk respon positif kalian, sekaligus Puan dengan segala kerendahan hati meminta maaf atas kehadiran chapter 3 yang teramat sangat terlambat ini. Sama sekali tidak ada niatan Puan untuk mengecewakan kalian semua, tapi memang ada alasan yang sangat pribadi yang tidak bisa Puan ceritakan, sehingga chapter 3 ini terkendala sampai kurang lebih 4 bulan lamanya. Sekali lagi Puan minta maaf. Untuk readers baru (seandainya ada), untuk para silent riders juga, Puan ucapkan terima kasih banyak atas kesediaan kalian membaca karya Puan yang tak seberapa ini.
Maaf juga jika chapter ini agak panjang dan menjemukan, serta belum ada adegan NC-nya seperti yang Puan utarakan di chapter sebelumnya. Setelah Puan baca lagi, akan menjadi sangat panjang jika acara malam pertama Yang Mulia Raja dan Jaejoong dimasukkan dalam chapter ini juga. Oleh karena itu, khusus untuk adegan NC-nya akan Puan masukkan di chapter 4 saja #plaaakkk. Dan seperti biasa, jika ada saran mengenai apa yang enaknya terjadi sama Perdana Menteri Go dan keluarganya, bisa PM Puan, kok. Siapa tahu ide dan saran kalian jauh lebih baik.
Di chapter ini Puan belum bisa membalas review satu persatu, mohon dimaafkan, ne? Puan akan menjawabnya di chapter depan. Terima kasih banyak untuk pengertiannya.
Dan akhirnya, selamat membaca dan terima kasih jika ada yang berkenan untuk meninggalkan jejak.
The Great Revenge
by
Puan Hujan
Chapter 3
Jaejoong mengangkat wajah cantiknya, menatap wajah tampan Raja Sukjong yang memiliki sepasang mata setajam elang itu. Doe eyes-nya yang dibingkai oleh bulu-bulu mata yang panjang dan lebat membulat sempurna mendengar permintaan Yang Mulia Raja itu. Kejap berikutnya, remaja cantik itu kembali menundukkan wajahnya, sembari memainkan ujung simpul jeogori yang ia gunakan dengan jemari lentiknya.
"Yang Mulia Raja meminta Joongie untuk menjadi selir Yang Mulia?" tanya Jaejoong memastikan dengan nada pelan, seolah untuk dirinya sendiri, namun masih mampu ditangkap oleh sepasang indera pendengar Yang Mulia Raja Yi Yunho.
"Ya. Kenapa? Kau keberatan dan ingin menolak?"
"Memangnya Joongie memiliki pilihan untuk menolak? Menjadi seorang selir dari Yang Mulia Raja bukankah merupakan sebuah kehormatan? Tapi…," Jaejoong sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia mengangkat sedikit wajahnya sehingga pandangannya sejajar dengan dada bidang sang raja yang tersembunyi di balik balutan gonryongpo yang digunakan oleh penguasa Joseon tersebut.
"Tapi apa?" desak Yang Mulia Raja, sedikit tak sabar.
"Tapi bukankah Joongie hanya rakyat jelata yang beruntung memiliki sedikit kemampuan hingga mendapat belas kasihan Yang Mulia Raja dan diijinkan tinggal di istana? Apakah memiliki selir yang berasal dari kalangan bawah seperti Joongie tidak akan membuat Yang Mulia Raja malu? Lagipula, kata Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Raja tidak akan mengambil pendamping dari orang kebanyakan seperti Joongie," jelas remaja cantik itu sambil mendongakkan wajahnya hingga pandangan mata mereka berdua beradu di satu titik. Ia sedikit memajukan bibirnya di akhir perkataannya yang mengutip semua ucapan Yang Mulia Permaisuri beberapa waktu yang lalu.
Yang Mulia Raja tersenyum kecil melihat tingkah Jaejoong. Tangan kanannya yang sejak tadi melingkar di pinggang ramping remaja cantik itu perlahan terangkat. Disisipkannya beberapa helai anak rambut Jaejoong yang sedikit meriap dipermainkan angin ke belakang telinga remaja cantik itu. Tindakan sang raja tersebut membuat Jaejoong kembali menundukkan wajahnya dengan muka bersemu merah.
"Jadi itu yang dikatakan oleh Yang Mulia Permaisuri ketika ia menemuimu kemarin?" tanya Yang Mulia Raja dengan nada sedikit menggoda.
"Eh…?!" Jaejoong tersentak kaget. Dibungkamnya mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya membulat, seolah baru menyadari sesuatu. "Ampuni Joongie yang telah lancang bicara, Yang Mulia. Maksud Joongie…," remaja cantik itu berusaha mencari alasan yang tepat ketika ia menyadari telah kelepasan bicara. Namun jauh di dalam hati, remaja cantik itu bersorak kegirangan karena berhasil menjatuhkan sang permaisuri di hadapan suaminya sendiri.
Yang Mulia Raja menutup bibir merah merekah milik remaja cantik itu dengan jari telunjuknya.
"Kau tak perlu menutup-nutupi kelakuan Yang Mulia Permaisuri. Tanpa kau beri tahu, aku juga telah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Aku ini seorang raja, dan aku memiliki hak penuh untuk memilih siapa yang layak menjadi selirku. Yang Mulia Permaisuri memang seorang ratu, tapi ia tak berhak menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk mendampingiku. Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu di paviliun hutan kerajaan, Joongie. Karena itu, menikahlah denganku dan belajarlah membuka hatimu untuk mulai mencintaiku," pinta sang raja.
Wajah cantik Jaejoong yang terbalut kulit seputih susu sontak memerah selayaknya kepiting rebus mendengar ungkapan perasaan dari Raja Sukjong yang sangat dihormati oleh seluruh rakyatnya itu. Perkataan sang raja tampan yang diketahuinya telah memiliki lima orang selir itu menimbulkan perasaan hangat yang menjalar di sudut hati remaja cantik itu. Rasa hangat yang indah, menelusup perlahan ke setiap sudut di relung hatinya. Namun Jaejoong yang baru berusia lima belas tahun dan belum pernah mengenal jatuh cinta itu sebisa mungkin mengabaikan perasaan asing yang menggelitiknya. Ia tak ingin terlena dalam dekapan rasa yang tidak ia pahami lalu melupakan tujuan awalnya untuk membalaskan dendam keluarganya.
Satu demi satu perkataan sang ibu dalam suratnya melintas di benak Jaejoong. Kenyataan bahwa ayah dari lelaki yang memintanya untuk menjadi selirnya itu merupakan sosok sentral yang memberi perintah dalam eksekusi mati seluruh anggota keluarga Park membuat hati Jaejoong bergejolak. Meskipun hal tersebut dilakukan oleh mendiang raja terdahulu dalam keadaan tidak sadar, karena berada di bawah pengaruh ramuan penakluk pikiran, sanggupkah Jaejoong mengesampingkan kenyataan bahwa ayah dari lelaki yang sedang memeluknya itu tetaplah seseorang yang telah membuatnya kehilangan seluruh anggota keluarganya? Sebuah pemikiran mendadak berkelebat di benak remaja cantik itu. Hal itu membuatnya kembali merebahkan kepalanya di dada bidang sang raja sambil memeluk pinggang kekar penguasa Joseon itu. Yang Mulia Raja membalas tindakan remaja cantik itu dengan turut memeluk erat pinggang ramping Jaejoong. Jaejoong memejamkan matanya, membiarkan sang raja meletakkan dagunya di pundaknya, tanpa menyadari seringai lebar dari remaja cantik yang berada di dalam dekapannya.
Untuk beberapa saat, tak ada suara yang tercipta di antara mereka. Hanya desir angin yang terdengar cukup keras mengetuk-ngetuk permukaan jendela. Yang Mulia Raja Sukjong dan Jaejoong larut dalam pelukan mereka dalam balutan suasana sunyi.
"Yang Mulia…," lirih suara Jaejoong memecah kesunyian, dengan posisi masih dalam dekapan sang raja.
"Hemmm?"
"Joongie bersedia menjadi selir Yang Mulia," ujar Jaejoong dengan nada pelan, namun penuh keyakinan. Yang Mulia Raja sontak mengangkat dagunya dari pundak remaja cantik itu. Dengan ujung jarinya, diangkatnya dagu Jaejoong sehingga pandangan mereka kembali bertemu. Sang raja menemukan kesungguhan dari ucapan remaja cantik itu yang nyata tersirat dari sepasang doe eyes-nya yang besar dan indah. Hal itu membuat Yang Mulia Raja mengembangkan senyuman lebar.
"Tapi Joongie juga mengajukan dua buah syarat," lanjut Jaejoong. Senyum di wajah Yang Mulia Raja mendadak memudar.
"Katakan, apa syaratmu?" tanya Yang Mulia RajaYi Yunho dengan nada suara penuh tekanan.
"Yang pertama, Yang Mulia harus menemani Joongie memetik kangkung di pintu gerbang hutan kerajaan untuk kelinci-kelinci Joongie. Kalau Yang Mulia menolak, Joongie juga tidak bersedia menjadi selir Yang Mulia," sahut Jaejoong dengan sikap yang begitu menggemaskan. Matanya berpijar jenaka dengan sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya.
Penguasa Joseon itu membatu di tempat. Sang raja tampan itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir segala praduga yang sempat singgah di benaknya mengenai syarat yang akan diajukan oleh calon selirnya itu. Dan sungguh, menemani remaja berusia lima belas tahun itu memetik kangkung sama sekali tidak termasuk dalam kemungkinan-kemungkinan yang sempat ia pikirkan! Jawaban yang diberikan oleh si remaja cantik itu benar-benar di luar dugaannya.
"Kenapa Yang Mulia malah menggeleng seperti itu? Yang Mulia tidak mau mengabulkan syarat yang Joongie ajukan? Apakah syaratnya terlalu berat untuk Yang Mulia?" bibir merah merona itu terlihat mengerucut. Yang Mulia Raja yang nyaris tak mampu mengendalikan diri melawan segala pesona yang terpancar dari remaja cantik itu menggeleng cepat.
"Tentu saja aku akan mengabulkannya, Joongie. Jangankan menemanimu memetik kangkung, menemanimu membuka ladang dan menanamnya juga aku tak akan merasa keberatan," sahut Yang Mulia Raja dengan nada meyakinkan. Jaejoong tertawa kecil mendengar jawaban sang raja.
"Lalu apa syaratmu yang kedua?" sambung Yang Mulia Raja, tak peduli pada tertawaan namja cantik itu.
"Yang Mulia harus mengijinkan Joongie untuk menyediakan Sup 12 Rasa untuk Yang Mulia, sehari sebelum penobatan Joongie sebagai selir. Bagaimana?" tanya Jaejoong.
Yang Mulia Raja Yi Yunho benar-benar terdiam mendengar syarat kedua yang meluncur dari bibir remaja cantik itu. Sudah ber-abad lamanya Sup 12 Rasa tak pernah disebut-sebut orang, bahkan dalam nukilan sejarah kerajaan juga ia hampir terlupakan. Hanya beberapa kitab pusaka kerajaan yang berusia sangat tua yang menyinggung mengenai nama makanan yang satu itu. Sulitnya mengolah makanan itu menjadi penyebab mengapa semakin hari namanya semakin meredup dari peredaran.
Sup 12 Rasa, adalah sejenis hidangan yang dimasak oleh seorang calon pengantin wanita sebagai pembuktian kesucian. Hanya seorang perawan suci yang seumur hidupnya belum pernah terjamah tangan lelaki yang mampu menyediakan sup dengan dua belas rasa berbeda itu. Sesuai dengan namanya, air yang digunakan untuk membuat Sup 12 Rasa juga diambil dari mata air suci dari dua belas tempat berbeda yang hanya akan menampakkan diri kepada seorang perawan sejati. Pembuatan Sup 12 Rasa sehari menjelang pernikahan merupakan tradisi kerajaan yang sudah sejak lama ditinggalkan.
Yang Mulia Raja masih berdiam diri untuk beberapa saat lamanya. Benaknya terus memutar pikir. Sup 12 Rasa biasanya disediakan oleh seorang yeoja, apakah hasilnya akan tetap sama apabila disediakan oleh seorang namja, meskipun namja itu juga masih suci? Dan menurut sejarah, sup itu hanya akan menghasilkan dua belas rasa berbeda apabila si pembuat seumur hidupnya belum pernah terjamah lelaki, sedangkan Jaejoong sendiri telah merasakan bibir Yang Mulia Raja menempel di bibirnya. Bahkan saat ini mereka sedang menyatu dalam sebuah pelukan. Bukankah secara tidak langsung remaja cantik itu telah gagal sebelum membuktikan apa pun?
"Apa kau mengetahui sejarah Sup 12 Rasa?" tanya Yang Mulia Raja setelah lama berdiam diri. Jaejoong mengangguk.
"Yang Mulia tidak usah cemas. Joongie yakin Joongie bisa melakukannya," Jaejoong yang menemukan sirat kekhawatiran di kening sang raja berusaha meyakinkan penguasa Joseon itu.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan mengabulkan semua syarat yang kau ajukan," putus Yang Mulia Raja sambil menghembuskan napas berat. Jaejoong tersenyum lebar mendengar ucapan sang raja berwajah tampan itu.
Mengikuti nalurinya, kedua lengan Jaejoong yang semula berada di pinggang Yang Mulia Raja perlahan terangkat, lalu saling mengait di seputar leher sang raja yang berwajah tampan dengan garis tegas itu. Dengan sedikit berjinjit, remaja cantik itu mendekatkan wajah mereka sehingga kening dan hidung mereka saling menempel. Jaejoong bahkan memberanikan diri memberikan sebuah ciuman singkat di pipi Yang Mulia Raja meski wajahnya merah padam, tak kuasa menahan malu.
Dengan sebuah gerakan cepat dan tak terduga, sang raja yang cukup terkejut dengan tindakan calon selirnya itu mengangkat tubuh ramping yang indah itu ke dalam gendongannya, mendekapnya pada dadanya hingga Jaejoong mampu mendengar kerasnya detakan jantung sang raja. Jaejoong yang terperanjat dengan gerakan tiba-tiba itu hanya mampu memekik manja sambil mempererat pelukannya di leher Yang Mulia Raja Yi Yunho.
Sang penguasa Joseon itu membawa Jaejoong ke peraduannya. Ia mendudukkan dirinya di pembaringan Jaejoong yang berlapis sutera merah. Remaja cantik itu sendiri duduk dengan manisnya di atas pangkuan sang raja yang kembali memeluk pinggangnya dengan sebuah pelukan longgar. Dengan sedikit kekanakan, Jaejoong mengayunkan kedua kakinya ke depan dan belakang, membuatnya dihadiahi kekehan ringan dari sang raja. Dan selanjutnya, hanya canda tawa yang terdengar dari ruangan itu, yang sesekali ditingkahi suara pekikan manja Jaejoong ketika Yang Mulia Raja menggelitik pinggang rampingnya.
ooo 000 ooo
Braaakkk!
Sebuah suara gebrakan meja yang cukup keras terdengar dari dalam kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri, mengusik keheningan senja yang baru saja menyelimuti Kerajaan Joseon. Sang pelaku tak lain adalah wanita cantik yang merupakan permaisuri dari Raja Sukjong itu sendiri yang saat ini sedang duduk dengan gelisah. Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Deru napasnya terlihat memburu. Sementara tangan kanannya yang baru saja beradu dengan permukaan meja rendah yang berada di hadapannya tampak mengepal, sehingga buku tangannya terlihat memutih.
Perdana Menteri Go yang merupakan ayah kandung dari wanita cantik itu tampak duduk tenang di depan putrinya, dengan meja rendah dari kayu yang memiliki permukaan halus sebagai pembatas di antara keduanya. Sedikit pun tak tampak kegusaran di wajah tuanya ketika mengetahui bahwa sang raja telah menunjuk pemusik istana termuda yang baru beberapa waktu tinggal di istana sebagai selirnya. Reaksinya tentu saja berbeda dengan reaksi sang anak yang jelas-jelas membenci keputusan sang raja tersebut. Terlebih, ia sendiri telah terlanjur mengatakan bahwa Yang Mulia Raja tidak akan mengambil selir dari orang kebanyakan. Terpilihnya Kim Jaejoong yang berasal dari kalangan rakyat jelata sebagai selir yang baru tak ubah melempar setumpuk kotoran ke wajah Yang Mulia Permaisuri.
"Seharusnya kau bisa bersikap lebih tenang dalam situasi seperti ini, Permaisuri," tegur sang perdana menteri kepada putri bungsunya itu.
"Abeoji[27] memintaku tenang? Bagaimana mungkin sebagai seorang istri aku masih bisa bersikap tenang ketika suamiku memutuskan untuk mengambil seorang selir untuk yang kesekian kalinya, Abeoji? Seumur hidupku, aku paling tidak suka berbagi. Apalagi membagi suamiku dengan orang lain. Bukankah Abeoji mengetahui hal itu?" tanya Yang Mulia Permaisuri dengan nada suara penuh tekanan. Perasaan marah, kecewa, cemburu, juga sakit hati campur aduk di dalam hatinya.
"Apakah kau lupa bahwa suamimu adalah penguasa negeri ini, Permaisuri?" Perdana Menteri Go balik bertanya dengan sikap yang masih terlihat tenang. Diteguknya teh yang mulai dingin di dalam cawan keramik yang terhidang di atas meja di hadapannya.
"Tentu saja tidak, Abeoji. Aku tidak pernah lupa bahwa suamiku adalah penguasa tertinggi kerajaan ini. Tapi mereka, para selir itu adalah ancaman terbesar terhadap kedudukanku sebagai permaisuri. Mereka juga merupakan ancaman untuk Putera Mahkota, puteraku satu-satunya. Selama ini, aku sudah dengan terencana mengadu domba para selir itu melalui dayang kepercayaan mereka, agar mereka membenci satu sama lain. Aku tak ingin mereka bersekutu untuk menggoyahkan kedudukanku. Karena jika hal itu sampai terjadi, maka bukan hanya kedudukanku yang berada dalam bahaya, tapi juga kedudukan keluarga kita dalam pemerintahan. Aku tak ingin apa yang telah kita lakukan kepada keluarga Park berbalik terjadi kepada keluarga kita, Abeoji," ujar Yang Mulia Permaisuri sambil mendengus kesal. "Demi kelangsungan kedudukanku, aku bahkan telah menuruti perintahmu untuk memaksa tabib istana terdahulu untuk memasukkan ramuan pencegah kehamilan ke dalam jamuan makan para selir agar mereka tidak mendapat keturunan untuk selamanya. Aku bahkan sudah memotong lidah dan tangan si tua bangka itu agar ia tidak membuka mulut dan membeberkan semua perbuatanku. Aku sungguh tak ingin usahaku yang telah sampai sejauh ini berakhir sia-sia, Abeoji," lanjut Yang Mulia Permaisuri. Kebencian nyata terpancar dari nada suaranya.
"Semuanya tidak akan terjadi kalau kau mampu mengendalikan emosimu dengan baik dan kembali berpikir dengan tenang, Permaisuri," sahut sang ayah.
"Hal itu bukan mustahil terjadi, Abeoji. Yang Mulia Raja telah menunjuk pemusik istana itu sebagai selirnya. Dan kini Selir Suk mulai memperlihatkan aksi membangkangnya padaku dan terang-terangan mendukung anak kecil itu. Bukan tidak mungkin pula, para selir itu diam-diam bersekutu di belakangku. Katakan padaku, Abeoji, bagaimana aku harus bersikap tenang dalam situasi seperti ini?"
"Permaisuri, keistimewaan apa yang ada pada anak itu hingga ia membuatmu begitu lepas kendali? Anak kecil itu adalah seorang namja. Satu-satunya keluarga yang memiliki keistimewaan dimana para namja memiliki rahim dan dapat mengandung sebagaimana layaknya wanita adalah keluarga Park, dan mereka sudah kita singkirkan. Tak ada yang perlu kau cemaskan dari anak kecil itu. Ia tidak berbahaya dan bukanlah suatu ancaman untuk kedudukanmu. Yang perlu kau waspadai justru adalah Selir Suk. Bukankah katamu dia mengetahui tentang apa yang kita lakukan pada keluarga Park?" Perdana Menteri Go menatap putrinya dalam-dalam. Yang Mulia Permaisuri tampak menghembuskan napas berat. Diraihnya cawan keramik berisi teh yang sejak tadi tak tersentuh. Dengan sekali teguk, isi cawan itu sudah berpindah ke dalam perutnya. Wanita cantik itu kemudian meletakkan kembali cawan keramiknya ke atas meja. Amarahnya mulai mereda. Raut tegang di wajahnya berangsur-angsur mulai mengendur. Dan sekali lagi ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.
"Walaupun ia seorang namja, aku tetap harus mewaspadainya, Abeoji. Aku tetap akan mencari tahu mengenai latar belakang anak itu. Bukankah Abeoji sendiri yang pernah mengatakan untuk selalu mewaspadai orang-orang yang kita anggap musuh? Dan mengenai Selir Suk, kurasa untuk saat ini kita tak perlu melakukan tindakan apa pun terhadapnya ataupun keluarganya, Abeoji. Kita tunggu saat yang tepat. Kudengar, pasukan Ming telah bersiap untuk berperang dengan kita. Dan bukankah ayah dari Selir Suk merupakan tangan kanan panglima perang kerajaan? Abeoji tentu bisa membuat ayahnya berada di garis depan saat peperangan nanti, bukan? Dengan begitu, kita tak perlu mengotori tangan kita dan bersusah payah untuk menyingkirkan musuh sepertinya," terdengar sinis nada suara Yang Mulia Permaisuri. Sebuah senyum meremehkan tersungging di bibirnya.
Perdana Menteri Go terkekeh mendengar ucapan putrinya. Lelaki setengah baya itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari mengelus jenggot panjangnya yang mulai memutih.
"Kau memang putriku. Tak sia-sia aku mendidikmu sejak kecil. Mengenai Selir Suk, biar aku yang membereskannya. Sebaiknya kau memusatkan perhatianmu untuk tetap mendapat perhatian utama dari Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ibu Suri. Jangan tunjukkan ketidaksenanganmu di depan Yang Mulia Raja atas penunjukan selir baru itu, Permaisuri. Sebaiknya, bersikaplah seolah-olah kau sama sekali tidak keberatan atas tindakannya itu. Percayalah, kedudukanmu dan keluarga kita aman selama kita mampu memainkan peranan sebaik mungkin. Ingat itu," saran Perdana Menteri Go.
Tak akan ada yang menduga, betapa liciknya sosok yang selalu bersembunyi di balik topeng sikap tenang yang selama ini selalu ia perlihatkan.
Lelaki separuh baya itu kemudian bangkit dari duduknya. Dengan langkah yang masih terlihat tegap, ia melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu. Tangannya baru saja terangkat dan hendak membuka pintu berdaun dua itu ketika suara sang anak menghentikan laju langkahnya.
"Tunggu, Abeoji!"
Perdana Menteri Go menghentikan gerakannya. Ia lalu membalikkan tubuh, memicingkan matanya memandang putri bungsunya yang turut bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan menghampirinya.
"Ada apa, Permaisuri?"
"Abeoji, apa kau masih memiliki Getah Salju Tiongkok?" tanya Yang Mulia Permaisuri dengan nada pelan ketika jaraknya dengan sang ayah hanya sekitar selangkah. Perdana Menteri Go mengerutkan kening mendengar pertanyaan putrinya itu.
"Getah Salju Tiongkok? Untuk apa kau menanyakan racun yang sangat langka itu, Permaisuri?" tanya sang ayah dengan sedikit berbisik, tak mengerti jalan pikiran anak perempuannya itu.
Getah Salju Tiongkok, nama yang mungkin terdengar cukup indah untuk sejenis racun yang paling mematikan sekaligus mengerikan yang pernah ada di muka bumi. Siapapun yang terkena racun ganas ini, baik dalam jumlah banyak atau sedikit, dipastikan akan langsung berdepan dengan kematian. Penyebaran racun yang berlangsung dalam sekelipan mata mampu membuat seluruh daging terlepas dari tubuh, menyisakan rangka yang memutih. Racun yang berasal dari getah pepohonan beracun yang hanya tumbuh di dataran Tiongkok. Dan pohon-pohon beracun tersebut hanya menghasilkan getah yang berwarna putih laksana butiran salju setiap seratus tahun sekali. Getah Salju Tiongkok tak memiliki penawar. Oleh sebab itu, hanya segelintir orang yang bisa memiliki racun yang sangat langka dan mematikan itu.
"Aku hanya merasa bahwa aku akan membutuhkan racun itu suatu hari nanti, Abeoji," sahut Yang Mulia Permaisuri.
"Hemmm…," Perdana Menteri Go bergumam. "Aku tak lagi memilikinya. Terakhir kugunakan saat melenyapkan saksi mata yang sempat menyaksikan saat aku menyelinap masuk ke kediaman keluarga Park, belasan tahun yang lalu. Aku akan meminta teman lamaku, seorang tabib di Tiongkok untuk mengirimkannya kembali jika kau memang membutuhkannya. Tapi berhati-hatilah menggunakannya, Permaisuri. Jangan sampai kau terlibat dalam masalah," ujar sang ayah. Yang Mulia Permaisuri hanya mengangguk kecil, meyakinkan Perdana Menteri Go. Sebuah senyum culas kembali tersungging di bibirnya.
"Abeoji tenang saja. Percaya padaku, aku tak akan ceroboh menggunakannya," balas Yang Mulia Permaisuri. Sang ayah menganggukkan kepala, lalu membalikkan tubuhnya dan membuka pintu. Lelaki setengah baya itu kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kediaman khusus Yang Mulia Permaisuri. Sepeninggal sang ayah, Yang Mulia Permaisuri tampak berpikir keras. Tak lama, sebuah seringai jahat muncul di wajah cantiknya. Sepasang bola matanya yang cukup indah terlihat berkilat, menguarkan aroma kekejian yang terencana dalam benaknya.
"Kim Jaejoong! Abeoji benar, apa istimewanya dirimu hingga Yang Mulia Raja menunjukmu sebagai selir? Hemmm, kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan terhadapmu. Bagaimana mungkin seekor ayam hutan sepertimu berpikir untuk mendampingi merak istana, huh? Siapapun kau, aku tak akan pernah mengijinkanmu untuk mengambil tempatku di sisi Yang Mulia Raja. Tidak akan pernah!" desis Yang Mulia Permaisuri sambil mengeluarkan sebuah tawa sinis penuh kebencian. Sudut bibir wanita cantik itu lagi-lagi terangkat, membentuk seulas senyum licik. Tak lama kemudian, Yang Mulia Permaisuri tampak melangkah tergesa-gesa menghampiri satu sudut di ruangannya. Ia lalu menjatuhkan diri di belakang sebuah meja rendah dan menarik laci yang berada di sisi kanannya, lalu meraih selembar kertas. Dengan gerakan cepat, ia mulai mencelupkan kuas ke dalam botol tinta dan mulai menulis di atas kertas tersebut. Entah apa yang ditulisnya, namun raut wajahnya terlihat kembali menegang sempurna.
ooo 000 ooo
"Tuan Muda," sebuah suara menghentikan gerakan jemari lentik Jaejoong yang saat itu sedang memainkan seruling sambil duduk di depan meja riasnya. Sepasang mata remaja cantik itu yang sebelumnya tertutup rapat perlahan terbuka. Dari pantulan cermin besar di depannya, Jaejoong melihat seorang dayang muda yang diketahuinya bernama Dayang Choi membungkukkan tubuh, memberi hormat.
Jaejoong menyimpan kembali seruling bambunya ke dalam laci meja hiasnya. Untuk sesaat remaja berusia lima belas tahun itu memandangi pantulan dirinya. Ia sedikit mengerucutkan bibirnya ketika melihat penampilannya yang semakin terlihat seperti seorang yeoja dengan rangkaian bunga seruni yang disematkan oleh Dayang Kwan pada rambutnya. Poninya yang dibelah tengah dan dipotong sama panjang sebatas dagu sekilas membuat penampilannya tak ubah Puteri Tiongkok. Jaejoong lalu mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat kepada Dayang Kwan yang saat itu sedang menyisir rambutnya untuk menghentikan kegiatannya. Dayang Kwan mengangguk patuh, lalu meletakkan kembali sisir bambu yang digunakannya ke dalam kotak perhiasan di atas meja.
Remaja cantik itu membalikkan tubuhnya, lalu tersenyum memandang dayang muda yang sedang menundukkan kepala di depannya.
"Ada apa, Dayang Choi?" tanya Jaejoong dengan nada suara begitu lembut.
"Yang Mulia Selir Suk hendak bertemu dengan Tuan Muda. Beliau menunggu di luar," jawab Dayang Choi dengan sikap hormat.
"Kalau begitu, Joongie akan segera menemuinya. Dan kalian berdua boleh pergi, tinggalkan kami!" perintah Jaejoong. Kedua dayang yang setia mendampinginya itu memberikan hormat sekali lagi, lalu bergegas membuka pintu geser yang memisahkan kamar tidur Jaejoong dengan ruang tamu. Di ruang tamu, kedua dayang muda itu dengan sikap penuh hormat mempersilakan Selir Suk yang sedang mengamati beberapa lukisan yang berada di ruangan itu untuk menunggu Tuan Muda mereka, lalu berpamitan untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Selir Suk, wanita muda yang sesungguhnya berusia sebaya dengan ibunya Jaejoong itu hanya tersenyum lebar kepada kedua dayang muda tersebut. Dengan gerakan indah, ia menggerak-gerakkan kipas yang terkembang di dadanya sambil mengayunkan langkah menikmati keindahan lukisan yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Ia baru memutar tubuhnya ketika mendengar suara gesekan dari pintu geser dari kamar Jaejoong. Jaejoong yang mengenakan hanbok berwarna biru cerah melangkah perlahan ke arah Selir Suk. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu mempersilakan Selir Suk untuk mengikutinya.
Keduanya berjalan tanpa suara. Jaejoong membawa Selir Suk ke sebuah ruangan khusus yang berada di sebelah kiri ruang tamunya. Sebuah ruangan berukuran cukup luas tempat ia biasanya berbincang dengan Yang Mulia Raja. Meski Jaejoong belum menanyakan maksud kedatangan wanita itu, ia yakin bahwa ada sesuatu hal yang sangat pribadi yang ingin dibicarakan oleh Selir Suk. Oleh sebab itu Jaejoong mengajaknya untuk bicara di dalam ruangan khusus.
Setibanya di dalam ruangan itu, Jaejoong mengangkat ujung jeogori-nya, lalu mendudukkan diri di belakang meja kayu pendek berbentuk bulat yang permukaannya mengilap. Selir Suk juga melakukan hal serupa. Ia mendudukkan diri di depan remaja cantik itu.
"Boleh Joongie tahu maksud Yang Mulia Selir Suk menemui Joongie?" tanya Jaejoong dengan nada lembut. Sebuah senyuman membingkai di bibir indahnya. Selir Suk terkekeh pelan.
"Jangan memanggilku dengan embel-embel Yang Mulia seperti itu, Joongie. Cukup panggil saja aku Selir Suk. Lagipula, bukankah pekan depan adalah penobatanmu sebagai selir yang baru, hemmm? Itu artinya, kau dan aku akan memiliki kedudukan yang sama," jawab Selir Suk dengan nada riang. Jaejoong mengerutkan kening mendengar jawaban itu.
"Baiklah, Selir Suk. Sekali lagi Joongie tanyakan, apa maksud Selir Suk menemui Joongie? Tentunya bukan untuk menjadi yang pertama memberikan ucapan selamat, bukan?" tandas Jaejoong, tak ingin berbasa-basi. Tawa ringan terdengar dari bibir Selir Suk mendengar perkataan Jaejoong.
"Kau tahu?" Selir Suk sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap lekat wajah cantik Jaejoong. "Wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang sangat berarti untukku di masa lalu. Bahkan hingga saat ini," sambung Selir Suk tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Jaejoong.
Deg!
Jaejoong merasakan jantungnya berdetak lebih cepat mendengar ucapan wanita di hadapannya itu. Aliran darahnya seolah berbalik. Benaknya menerka-nerka ke arah mana perbincangan mereka.
"Sejujurnya, sejak melihatmu pertama kali di Taman Rahasia, aku sering sekali membandingkan wajahmu dengan seseorang yang sangat kukenal. Seseorang yang sangat kucintai, namun tak pernah bisa kumiliki. Kau memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan sahabatku, Joongie. Namanya Park Young Woon, dan aku memanggilnya Woonie," tutur Selir Suk dengan nada pelan sambil tetap merayapi wajah remaja cantik di depannya. Kesedihan terlihat nyata dari nada suaranya yang sedikit bergetar. Jaejoong berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya mendengar ucapan salah satu selir Yang Mulia Raja itu dengan memasang wajah datar.
"Aku dan Woonie tumbuh dan besar bersama-sama. Dimana ada aku, disana pasti ada Woonie, begitu juga sebaliknya, meski aku bukanlah satu-satunya teman sepermainan Woonie, karena ia juga sangat dekat dengan Park Yoochun yang merupakan pamannya, yang berusia tiga tahun di atas kami. Juga dengan Kim Junsu, yang berusia dua tahun di bawah kami. Kau mengenalnya, bukan? Kim Junsu saat ini menjadi Kepala Pengawal Khusus Yang Mulia. Woonie selalu melindungiku dari anak-anak sebaya yang kerap mengganggu dan mengejekku karena aku sangat cengeng. Entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa ada perasaan lain yang kurasakan kepada sahabatku itu. Perhatiannya yang begitu besar padaku membuatku diam-diam menaruh hati padanya. Dan dengan mengesampingkan segala perasaan malu, pada suatu hari ketika kami sama-sama berusia empat belas tahun, aku mengutarakan isi hatiku padanya. Woonie begitu terkejut mendengar pernyataanku. Raut wajahnya pada hari itu bahkan masih kuingat dengan baik sampai hari ini. Woonie tak mengatakan apa pun selain kata maaf yang berulang kali ia rapalkan sambil memelukku erat. Dan sebuah kenyataan lain akhirnya membuatku seakan tertampar karena ternyata, Woonie telah lebih dahulu mencintai orang lain, namun ia tak pernah memberitahuku siapa orang yang berhasil mendapatkan cintanya, meski ia mengatakan bahwa hatinya terlanjur diberikan pada seorang namja. Sebagai keturunan Park, Woonie memiliki keistimewaan berupa rahim di dalam tubuhnya, sehingga jika ia menikah dengan namja lain, ia akan bisa mengandung dan melahirkan anak selayaknya seorang yeoja. Setiap namja dalam keluarga Park memang diberi keistimewaan itu. Keistimewaan itu pula yang membuat sang raja menginginkannya untuk menjadi pendamping bagi Putera Mahkota, dan Woonie maupun keluarga Park tidak bisa menolaknya. Aku berusaha menahan perasaan sakit di hatiku saat itu demi mendapati kenyataan perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Ketika kupikir kembali, bukankah hati Woonie juga tak kalah hancur karena ia harus melupakan perasaannya pada orang yang dia cintai dan menyiapkan diri sebagai calon istri Putera Mahkota? Sebagai sahabat, meski hatiku terasa lebur berkeping, aku tetap mendukung dan menguatkan Woonie. Setidaknya, kami tetap akan bersama, walau hanya sebagai sahabat, bukan?" setitik air mata bergulir menuruni pipi halus Selir Suk. Ia menarik napasnya perlahan, sebelum kembali bercerita.
"Hanya berjarak lima purnama setelah hari itu, peristiwa menyakitkan akhirnya terjadi. Fitnah keji yang terencana dan tersusun sangat rapi menimpa keluarga Park. Woonie yang seharusnya menjadi istri Putera Mahkota diasingkan, dan meninggal di tengah perjalanan karena serangan dari sekelompok orang tak dikenal. Semua anggota keluarga Park yang menduduki jabatan penting di pemerintahan dieksekusi dan dijatuhi hukuman hingga tak bersisa. Bahkan anak-anak yang masih kecil yang belum mengerti apa-apa turut menjadi korban. Aku bukan hanya kehilangan seseorang yang sangat kucintai, tapi juga kehilangan seorang sahabat dan kehangatan sebuah keluarga. Oleh karena itu aku bersumpah, demi persahabatan kami, aku akan menuntut balas kepada dalang dibalik pembantaian keji keluarga Park. Aku yang tak pernah percaya kalau keluarga Park yang terkenal baik hati itu melakukan makar akhirnya berusaha mencari keterangan disana-sini, hingga akhirnya aku tahu bahwa keluarga Go adalah otak dibalik semua peristiwa itu," Selir Suk menyeka airmata yang semakin deras menuruni kedua belah pipinya dengan saputangannya yang bersulam benang emas.
Jaejoong terlihat memejamkan matanya, membayangkan peristiwa mengerikan yang menimpa keluarganya. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat. Ketika ia membuka kedua kelopak matanya, airmata mendadak tumpah dari sepasang mata indahnya. Remaja cantik itu terlihat menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang hendak terlontar. Jaejoong lalu terdiam setelah menyeka airmatanya. Mendadak ia teringat akan sebuah buku peninggalan eomma-nya. Ada sebuah nama tertulis di halaman depan buku itu. Choi Dong Yi. Mungkinkah wanita di hadapannya ini adalah pemilik nama itu? Jika benar, bukankah itu berarti saat ini ia sedang bertatap muka dengan sahabat eomma-nya?
Sekuat tenaga remaja cantik itu berusaha untuk tidak membuka jati dirinya di hadapan wanita cantik di hadapannya itu. Ia masih harus meyakinkan diri, bahwa Selir Suk benar-benar merupakan sahabat eomma-nya. Ia sudah terlanjur melangkah sejauh ini dan tak ingin rencananya gagal dengan mengambil keputusan yang salah dan tergesa-gesa. Oleh karena itu ia memutuskan untuk tetap menyembunyikan identitas aslinya, dan melanjutkan rencana-rencana yang telah tersusun di benaknya.
"Maafkan Joongie, Selir Suk. Airmata ini turun begitu saja tanpa mampu Joongie tahan. Apa yang Selir Suk ceritakan sangat menyedihkan. Walau Joongie tidak mengalaminya, tapi Joongie mengerti bagaimana perasaan Selir Suk. Kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk kita pastilah sangat menyakitkan," ujar Jaejoong, sedikit terisak. Remaja cantik itu lalu mengangkat tangan kanannya, mengulurkan ibu jarinya untuk menyeka airmata yang kembali menuruni pipi halus Selir Suk. Tindakannya itu justru membuat kedua bola mata Selir Suk membulat. Dengan cepat digenggamnya tangan kanan remaja cantik itu.
"Joongie-ya, apakah aku terlalu dibelenggu halusinasi jika kukatakan bahwa caramu menyeka airmataku bahkan mirip sekali dengan cara Woonie memperlakukanku setiap kali aku menangis?" Jaejoong merasa tubuhnya membatu. Ia terdiam untuk beberapa waktu, dengan otak yang memutar cepat untuk menemukan jawaban atas pertanyaan Selir Suk.
"Selir Suk, apakah Selir Suk bermaksud untuk mengatakan bahwa Joongie ini memiliki hubungan dengan sahabat Selir Suk yang bernama Woonie itu? Bukankah itu adalah hal yang tidak mungkin mengingat sahabat Selir Suk itu sudah tiada?" tanya Jaejoong dengan sedikit hati-hati. Mendengar pertanyaan itu, Selir Suk langsung melepas genggaman tangannya. Ditatapnya kembali paras Jaejoong dengan ekspresi yang sukar dijabarkan.
"Ah, kurasa kau benar. Maafkan aku, Joongie-ya. Kurasa aku hanya terlalu merindukan Woonie," Selir Suk memaksakan diri untuk memberikan sebuah senyuman tipis. Jaejoong hanya menganggukkan kepala seraya menghembuskan napas lega. Remaja cantik itu turut memberikan senyuman manisnya kepada Selir Suk meski kesannya sangat canggung.
"Kudengar, sehari sebelum penobatanmu sebagai selir, kau akan menyajikan Sup 12 Rasa untuk Yang Mulia Raja. Apakah itu benar?" tanya Selir Suk setelah untuk beberapa saat lamanya mereka dibekap keheningan. Jaejoong lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.
"Ba-bagaimana Selir Suk mengetahuinya?" tanya Jaejoong, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. Wajahnya mendadak bersemu merah ketika menemukan senyum menggoda di sudut bibir Selir Suk yang telah berhasil menguasai suasana hatinya.
"Seluruh penghuni kerajaan ini juga tahu bahwa kau akan menyajikan Sup 12 Rasa yang merupakan pembuktian kesucian itu, Joongie. Banyak yang terperanjat ketika Yang Mulia Raja mengumumkan hal tersebut pada pertemuan dengan seluruh pembesar kerajaan kemarin malam. Kau ini betul-betul penuh dengan kejutan, ne?" Selir Suk kembali menatap lurus wajah remaja cantik di hadapannya itu. "Ah, ya! Aku sampai melupakan maksud sebenarnya kedatanganku kemari. Aku ingin memberikanmu ini," Selir Suk mengeluarkan dua buah buku yang tak terlalu tebal dari ujung lengan jeogori-nya yang lebar.
Jaejoong menerima kedua buku yang telihat sudah berusia tua itu dengan kedua tangannya. Ia memerhatikan buku yang paling atas yang ternyata merupakan sebuah buku tentang Rahasia Memasak Dapur Istana peninggalan keluarga Choi. Dibukanya dengan perlahan halaman demi halaman dari buku itu. Gerakan tangannya terhenti ketika menemukan Sup 12 Rasa sebagai salah satu judul dari halaman kesekian yang ia buka. Jaejoong mengangkat wajahnya dan memandangi Selir Suk yang menghadiahkannya sebuah senyuman manis sembari menganggukkan kepala. Jaejoong turut tersenyum, lalu meletakkan buku itu ke atas meja setelah sebelumnya membatasi halamannya.
Jaejoong lalu memerhatikan buku kedua. Keningnya sedikit berkerut menyaksikan sampul buku yang polos dan tidak memiliki keterangan apa pun. Ia lalu membuka halaman pertama buku itu dan spontan melepaskan pegangannya dari buku tersebut. Wajahnya seketika memerah ketika menyadari bahwa buku itu merupakan sebuah buku panduan bercinta ala Tiongkok, lengkap dengan gambarnya. Selir Suk terkikik kecil menyaksikan reaksi remaja berparas cantik itu. Jaejoong mengangkat wajahnya, dan memandang Selir Suk yang masih terkikik sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ke-kenapa Selir Suk memberi Joongie buku ini?" tanya Jaejoong sembari menunjuk buku yang ia maksud dengan dagunya. Senyum di bibir Selir Suk kian melebar mendengar pertanyaan itu.
"Kau harus tahu bahwa Yang Mulia Raja adalah seorang lelaki dewasa yang sangat perkasa di atas ranjang, Joongie. Beliau menguasai banyak teknik dalam bercinta. Oleh karena itu aku memberikanmu buku ini, agar kau bisa mempelajari tata cara memuaskan seorang lelaki perkasa sepertinya. Dan aku yakin, jika kau mampu mempraktekkan semua gaya yang terdapat di dalam buku itu, maka Yang Mulia Raja tak akan pernah berpaling darimu." jawab Selir Suk, terdengar cukup vulgar. Wajah Jaejoong memerah untuk kesekian kalinya mendengar jawaban lugas itu. Ada banyak pertanyaan yang langsung menyergap benaknya, namun remaja cantik itu terlalu malu untuk bertanya hingga ia hanya membiarkan rasa penasaran melingkupinya.
Selir Suk memandangi remaja berparas menawan yang akan segera menjadi seorang selir itu, dengan pandangan yang sukar diartikan. Batinnya kembali berperang tentang kemiripan Jaejoong dengan Woonie, sahabatnya. Berdepan sekaligus berbicara dengan namja cantik itu seolah mengulang kembali kenangan antara ia dan sahabat yang ia cintai. Belum lagi perasaan hangat dan asing di dalam hatinya ketika berdekatan dengan Jaejoong. Perasaan ingin melindungi yang terasa ganjil. Selir Suk menghembuskan napasnya dengan sedikit keras, sehingga menimbulkan sirat keheranan dari Jaejoong.
"Selir Suk masih memikirkan kemungkinan bahwa Joongie ini memiliki ikatan dengan sahabat Selir Suk itu?" tebak Jaejoong langsung. Selir Suk sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, namun ia menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu ini terdengar sangat tidak masuk akal, Joongie. Apalagi kita juga baru saja kenal. Tapi jujur saja, aku seakan telah mengenalmu bertahun-tahun. Aku minta maaf jika membuatmu merasa terbebani atas sikapku. Aku bahkan telah menunjukkan sikap yang tidak pantas sebagai seorang selir padamu. Kau tentu bertanya-tanya dalam hati kenapa aku yang merupakan seorang selir raja malah bercerita tentang perasaanku terhadap lelaki lain kepadamu. Terkadang, apa yang terlihat dari luar tidaklah sama persis seperti di dalamnya, Joongie-ya. Seiring waktu, kau akan mengerti maksudku," jawab Selir Suk. Jaejoong mengangguk paham. Ia tak bertanya apa-apa lagi dan membiarkan Selir Suk meneruskan ucapannya.
"Satu hal yang harus kau ketahui, sejak melihatmu pertama kali, sebentuk perasaan sayang tumbuh di hatiku. Aneh memang, tapi aku merasa seolah-olah kau adalah puteraku sendiri, meski tak terlahir dari rahimku. Oleh karena itu, selama kau berada di istana ini, ijinkanlah aku untuk menganggapmu sebagai anakku. Kau bisa membagi apa pun keluh-kesahmu padaku. Anggap saja aku ini ibumu, meski kedudukan kita sama-sama sebagai seorang selir. Jangan sungkan padaku. Aku mengatakan hal ini bukan karena aku ingin kau memihakku, atau membantuku menyingkirkan keluarga Go yang telah menghabisi keluarga sahabatku. Aku yakin kau cukup pintar untuk berdiri di atas apa pun keputusanmu, Joongie." Jaejoong terperangah mendengar kelanjutan ucapan Selir Suk. Wanita yang mengaku sebagai sahabat eomma-nya itu meminta ijinnya untuk menganggapnya sebagai anak sendiri?
Jaejoong terdiam, dengan benak menyulam aneka pertanyaan serupa benang kusut tak terurai. Ia mendadak kebingungan untuk membuat sebuah keputusan. Di satu sisi, meng-iyakan permintaan Selir Suk bisa memberikan keuntungan tersendiri untuk menjalankan misi balas dendamnya. Selir Suk jauh lebih lama tinggal di lingkungan istana, sehingga tentunya mengenal betul seluk beluk istana juga para pembesarnya. Wanita itu juga tentu memiliki cukup banyak relasi jika ia sampai berniat untuk menggulingkan keluarga Perdana Menteri Go. Selain itu, dengan kedekatan mereka Jaejoong tentunya bisa memanfaatkan wanita itu untuk mengorek keterangan apa pun yang ia butuhkan. Tapi di sisi lain, apakah jika ia meng-iyakan permintaan wanita cantik itu, ruang geraknya akan tetap lebih leluasa?
Jaejoong menghembuskan napas panjang, seolah ingin melonggarkan jalan pernapasannya yang mendadak tersumbat. Remaja cantik itu akhirnya memutuskan untuk menyetujui permintaan Selir Suk yang ingin menganggapnya sebagai anak sendiri setelah cukup lama bergulat dengan batinnya. Menurut Jaejoong, tak ada salahnya mengambil resiko. Demi membalaskan dendam keluarganya, juga demi mengembalikan nama baik keluarganya, Jaejoong tak akan pernah ragu berdepan dengan sebuah resiko. Sekecil atau sebesar apa pun resiko tersebut.
ooo 000 ooo
Langit masih terlalu gelap untuk memberi pertanda akan kedatangan pagi, isyarat awal bahwa detak kehidupan dimulai kembali. Matahari bahkan masih bergelung manja di peraduan, dan enggan menampakkan semburat cahayanya untuk menerangi mayapada. Binatang-binatang malam masih terlena dalam buaian mimpi indah bermahkotakan titik-titik embun yang juga masih setia bergelayut di ujung dedaunan, seolah tak terusik oleh gerak sepasang kaki dari sesosok tubuh yang tampak mengendap-endap di depan sebuah ruangan berukuran cukup besar yang dalam keadaan gelap gulita. Hanya pancaran sinar bulan yang mulai menipis dari balik kerimbunan dedaunan di sekitar tempat itu yang memberikan sedikit penerangan, sehingga dapat diketahui bahwa sesosok tubuh yang di bahu kanannya sedang memikul dua belas tabung bambu berukuran sama panjang yang entah apa isinya itu adalah sosok seorang remaja dengan paras yang sangat menawan.
Remaja cantik yang ternyata adalah Jaejoong itu tampak tersenyum lebar ketika menyaksikan dua orang prajurit yang bertugas menjaga pintu di kiri dan kanan ruangannya tampak tertidur pulas dengan memeluk tombak masing-masing. Dua buah cawan dengan isi yang tinggal sedikit tampak tergeletak di ujung kaki para prajurit itu. Jaejoong tampak menghembuskan napas lega. Tangan kirinya yang bebas menggeser perlahan pintu ruangannya. Remaja cantik itu berusaha sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara yang akan membangunkan kedua prajurit yang sedang tidur nyenyak dibuai mimpinya itu.
Sesampainya di dalam ruangannya, Jaejoong meletakkan ke-dua belas tabung bambu yang dipikulnya di tepi pintu dengan posisi berjajar. Kayu yang ia gunakan untuk memikul ia berdirikan di sudut ruangan. Ia lalu berjalan pelan ke salah satu sisi ruangan untuk menyalakan lilin yang telah ia padamkan sebelum ia memutuskan untuk keluar istana diam-diam. Dengan senyum yang masih bertengger di sudut bibirnya, remaja cantik itu mengayunkan kakinya menuju kamar tidurnya. Ia ingin mencoba beristirahat sejenak setelah lelah mengelilingi kaki Gunung Bukhasan demi mengumpulkan dua belas jenis air dari dua belas sumber mata air yang berbeda.
Remaja cantik itu merenggangkan tangannya, berusaha mengusir lelah yang mendera. Dengan ujung lengan jeogori-nya, ia menyeka keringat yang menyembul di beberapa bagian wajahnya. Jaejoong lalu menyalakan sebatang lilin yang berada di atas meja tak jauh dari pintu kamarnya, sehingga kamarnya menjadi lebih terang. Remaja cantik itu mengenal dengan baik setiap sudut dalam ruangannya, oleh karena itu meski dalam keadaan gelap gulita sekalipun, ia tak mengalami kesulitan untuk bergerak di dalamnya.
Namun, senyum indah yang terukir di wajah Jaejoong tak bertahan lama, bahkan langsung sirna ketika ia mengarahkan pandangan ke atas tempat tidurnya. Bola matanya yang besar seolah ingin melompat keluar ketika ia mengetahui ada sosok lain yang sedang duduk tenang di atas tempat tidurnya dengan kedua tangan saling menyilang di depan dada. Sosok yang tak lain adalah Yang Mulia Raja Yi Yunho!
Kedua lutut Jaejoong melemah seketika. Ia tak mampu menggerakkan langkah untuk mendekati sang raja, hingga akhirnya ia jatuh terduduk di depan sang raja yang berwajah tampan itu. Jantungnya berpacu dengan cepat, sekaligus berdebar menanti amukan sang penguasa Joseon itu.
"Kau pikir apa yang telah kau lakukan, K-i-m J-a-e-j-o-o-n-g?!" desis sang raja, penuh tekanan. Darah Jaejoong seolah berbalik, membuatnya terkesiap tanpa berani mengangkat kepalanya. Ada sesuatu yang berdenyut di jantungnya, ketika untuk pertama kalinya sang raja memanggilnya dengan nama lengkap. Denyutan sakit mengarah pada perasaan tak rela. "Berani sekali kau melangkahkan kakimu keluar dari istana ini tanpa pengawalan sedikit pun! Apa kau memang sengaja mencari gara-gara agar aku menjatuhkan hukuman kepadamu, hah?! Kali ini apa lagi alasanmu? Jawab!" Jaejoong tersentak dan spontan mengangkat kepalanya. Diperhatikannya wajah sang raja yang tampak menegang menahan kemarahan. Tidak. Bukan kemarahan. Jaejoong bisa melihat dengan jelas bahwa perasaan cemaslah yang terpancar dari sepasang bola mata setajam elang itu. Bahkan sepasang mata itu terlihat digenangi beberapa bulir airmata yang mengambang, dengan semburat rona merah di antara ceruknya. Begitu besarkah perasaan Yang Mulia Raja terhadapnya?
Jaejoong menelan ludahnya dengan susah payah, lalu menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha menenangkan amukan gelombang dalam dadanya, juga mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang raja. Remaja cantik itu membungkukkan tubuhnya.
"Ampuni Joongie, Yang Mulia. Joongie memang bersalah karena melanggar larangan Yang Mulia. Tapi sungguh, Joongie sama sekali tidak bermaksud untuk membuat Yang Mulia cemas untuk yang kesekian kalinya. Joongie keluar istana diam-diam sejak pagi buta karena Joongie ingin mengumpulkan dua belas jenis air dari dua belas mata air berbeda di sekitar Gunung Bukhasan yang Joongie perlukan untuk membuat Sup 12 Rasa. Bukankah hari ini, seperti janji Joongie, Joongie akan menyiapkan Sup 12 Rasa sebagai syarat kedua sebelum Joongie bersedia menjadi selir Yang Mulia? Joongie bukannya tidak ingin meminta bantuan para prajurit, tapi dari buku yang Joongie baca, ke-dua belas mata air itu hanya akan menampakkan diri pada orang yang akan menyajikan makanan tersebut. Karena itulah Joongie pergi diam-diam, Yang Mulia. Maafkan Joongie, Joongie sangat ingin menyajikan Sup 12 Rasa untuk Yang Mulia. Joongie tidak ingin gagal," doe eyes itu akhirnya sukses mengeluarkan cairan bening yang dalam sekejap meredam segala emosi yang tergambar di wajah tampan sang raja.
Yang Mulia Raja Yi Yunho melangkah turun dari pembaringan. Dengan langkah tegap, dihampirinya remaja cantik yang sedang dalam posisi berlutut di depannya. Sang raja kemudian turut berlutut di hadapan remaja cantik yang sedang menangis sesenggukan itu. Didekapnya tubuh mungil itu di dalam pelukannya. Salah satu tangannya mengusap punggung remaja itu. dan untuk kesekian kalinya, sang raja takhluk pada airmata seorang Kim Jaejoong.
"Ssshhh, uljima[28], Sayang. Uljima. Dengar, aku sama sekali tak bermaksud untuk memarahimu. Aku hanya dilanda cemas luar biasa ketika tak menemukanmu berada di kamar ini, Sayang. Hentikan airmatamu, Joongie. Aku hanya kuatir kalau kau berubah pikiran dan meninggalkanku," bujuk Yang Mulia Raja sembari terus mengusap punggung remaja cantik itu.
Jaejoong mengangkat wajahnya. Dengan ujung lengan bajunya, ia menyeka airmata yang merambat pelan di kedua pipinya. Ia kemudian menatap lekat sepasang bola mata Yang Mulia Raja yang juga sedang memandanginya.
"Ugh, Yang Mulia tidak boleh berpikir seperti itu. Joongie milik Yang Mulia. Joongie kan pernah bilang kalau Joongie tidak akan pernah meninggalkan Yang Mulia, kecuali Yang Mulia memang tidak menginginkan Joongie lagi. Lagipula, tadi itu Joongie cuma keluar sebentar, bukannya bertahun-tahun,," bibir indah nan memerah itu tampak mengerucut. Membuat Yang Mulia Raja harus mati-matian menahan hasratnya untuk melumat bibir itu.
"Bagaimana aku tidak cemas ketika lewat di depan kamarmu, yang kutemukan hanyalah dua orang prajurit penjaga pintu yang sedang tergeletak, Joongie? Bermacam pikiran buruk langsung menyergap benakku. Tapi melihat semua pakaian dan peralatanmu masih tersimpan rapi di kamar, aku sebenarnya cukup yakin kalau kau baik-baik saja. Namun begitu, tetap saja aku dilanda kecemasan. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menunggumu di kamar. Sekarang jelaskan padaku, apa yang sudah kau lakukan pada kedua prajurit itu, hemmm?" tanya sang raja dengan nada suara yang begitu lembut sambil mendudukkan remaja cantik itu di atas pangkuannya.
"Joongie hanya memasukkan sedikit ramuan yang membuat siapapun yang meminumnya akan langsung tertidur ke dalam cawan teh mereka, Yang Mulia," sahut Jaejoong sambil merebahkan kepalanya di dada bidang sang raja, membuat Yang Mulia Raja Yi Yunho hanya mampu menggelengkan kepala.
"Dasar nakal! Kau benar-benar menginginkan hukuman dariku rupanya, eoh?"
"Andweee! Joongie tidak mau dihukum. Tidak mau!" remaja cantik itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, hingga sang raja akhirnya terkekeh pelan menyaksikan ulah sang calon selir itu. Kau tidak mau dihukum, tapi tindakanmu seolah sengaja memancingku untuk menghukummu, Sayang, sambung Yang Mulia Raja di dalam hati.
"Apakah masih sakit?" tanya Yang Mulia Raja tiba-tiba. Tubuh Jaejoong yang berada di dalam pangkuan sang raja mendadak menegang.
"Apanya yang masih sakit?" Jaejoong balik bertanya.
"Kedua kakimu. Apakah masih sakit? Gunung Bukhasan sangat luas, dan kau mengelilingi kaki gunung itu hanya dengan berjalan kaki. Ditambah lagi, kau juga memikul dua belas tabung bambu berisikan air dalam perjalanan pulang. Kakimu tentu sangat sakit," jelas Yang Mulia Raja, masih dengan nada lembut. Jaejoong yang terharu dengan perhatian sang raja yang begitu besar padanya hanya mampu menggigit bibir bawahnya.
"Joongie tidak apa-apa. Joongie sudah terbiasa berjalan kaki. Hanya Gunung Bukhasan saja bukanlah masalah besar," jawab remaja itu pelan.
Namun sang raja yang tidak begitu saja percaya pada jawaban remaja berusia lima belas tahun itu tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Perlahan, dibopongnya tubuh mungil itu menuju tempat tidur, membuat wajah menawan Jaejoong lagi-lagi dibalut semburat merah. Dengan hati-hati, direbahkannya tubuh Jaejoong di atas pembaringan. Yang Mulia Raja turut duduk di atas pembaringan beralaskan sutera merah itu, tepat di ujung kaki Jaejoong. Diletakkannya kedua kaki remaja cantik itu di atas pangkuannya. Dengan gerakan begitu perlahan, sang raja menaikkan ujung bagji yang Jaejoong kenakan, lalu melepaskan sepasang kaus kaki yang membungkus pergelangan kaki yang indah itu.
Mata Yang Mulia Raja sedikit membesar ketika mendapati beberapa lebam mendominasi telapak kaki remaja cantik itu. Hatinya berdenyut sakit menyaksikan remaja yang begitu ia cintai dalam kondisi seperti itu. Dengan gerakan lembut, Yang Mulia Raja memberikan pijatan di beberapa titik di bagian telapak kaki remaja itu. Jaejoong yang terkejut dengan tindakan sang raja spontan menaikkan tubuhnya, hingga ia dalam posisi duduk dengan kedua kaki masih berada di atas pangkuan sang raja. Tangannya menahan gerakan sang raja.
"Yang Mulia, Joongie tidak apa-apa. Sungguh. Nanti Joongie akan merendam kaki Joongie di air hangat yang sudah diberikan taburan garam, agar rasa lelahnya hilang. Yang Mulia jangan kuatir lagi, ne?" Jaejoong menurunkan sepasang kakinya dari pangkuan sang raja. Sebagai gantinya, ia justru melingkarkan kedua lengannya, memeluk pinggang sang raja.
"Apakah aku perlu memanggilkan Tabib Istana?" tanya Yang Mulia Raja yang langsung dijawab dengan gelengan cepat oleh Jaejoong.
"Kaki Joongie hanya sedikit lelah, Yang Mulia. Tidak perlu sampai harus memanggil Tabib Istana," Jaejoong ingin sekali memutar bola matanya dengan pandangan malas, mengingat sikap sang raja yang dirasanya terlalu berlebihan.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Sebaiknya saat ini kau beristirahat saja. Pagi nanti kau akan sangat sibuk dengan pembuatan Sup 12 Rasa. Aku tak ingin calon istriku kelelahan," wajah Jaejoong serasa menghangat ketika sang raja menyebutnya 'calon istri', bukan 'calon selir.
"Ne, Joongie ingin tidur sebentar. Setelah itu Joongie akan mandi dan mempersiapkan diri untuk menyajikan Sup 12 Rasa. Apa tidak apa-apa kalau Joongie meminta Yang Mulia menemani Joongie tidur saat ini?" tanya Jaejoong dengan nada manja.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kau terlelap," jawab Yang Mulia Raja. Jaejoong kembali merubah posisinya. Diletakkannya kepalanya di atas pangkuan sang raja, lalu perlahan mulai memejamkan kelopak matanya. Yang Mulia Raja mengelus lembut rambut remaja cantik itu, lalu mengecup puncak kepalanya. Sang penguasa Joseon itu baru meninggalkan kamar tersebut setelah remaja cantik berusia lima belas tahun itu terlelap dalam tidurnya.
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Bersambung…
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Catatan:
27. Abeoji: Ayah.
28. Uljima: Jangan menangis.
