Disclaimer: Sesungguhnya, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki napas dan jalan kehidupan semua karakter yang ada dalam cerita Puan ini. Puan hanya meminjam nama mereka saja.
Rate: M
Genre: Puan agak kurang paham dengan masalah ini. Bisa jadi genre-nya romance, drama, tragedy and family.
Warning: Boys love, yaoi, m-preg, beberapa butir typo yang kemungkinan terlewat ketika proses peng-edit-an, jalan cerita yang cukup lambat, beberapa adegan penyiksaan, karakter para tokoh yang tidak sesuai kepribadian aslinya pastinya dan banyak lagi yang lainnya.
Cast:
- Kim Jaejoong as Kim Jaejoong/Selir Hwan (15 tahun)
- Jung Yunho as Raja Yi Yunho/Raja Sukjong (30 tahun)
- Kim Junsu as Kepala Pengawal Kim (28 tahun)
- Go Ahra as Permaisuri Yi Ahra (30 tahun)
- Shim Changmin as Putera Mahkota Yi Changmin (15 tahun)
- Park Yoochun akan muncul di chapter yang kesekian, jadi umur dan perannya juga belum Puan tentukan, hehehe.
Sedikit cuap-cuap:
Latar dari cerita ini adalah di era Dinasti Joseon, di bawah kepemimpinan Raja Yi Sun (memerintah sejak tahun 1674-1720) yang untuk keperluan cerita namanya Puan ganti menjadi Raja Yi Yunho. Raja ke-19 dari Joseon. Tidak bermaksud sama sekali untuk menodai sejarah Korea dengan perubahan ini, jadi Puan minta maaf sebelumnya jika ada pihak yang tidak berkenan.
Puan juga berusaha meminimalisir penggunaan bahasa Korea disebabkan karena keterbatasan Puan. Sebagai pendatang baru di fandom ini, Puan ingin turut serta menyalurkan minat menulis Puan yang tentunya belum ada apa-apanya, untuk itu kritik dan saran membangunnya sangat Puan harapkan.
Cerita ini terinspirasi dari banyak drama kolosal Mandarin dan Korea yang Puan tonton juga cersil yang Puan baca, yang paling utama adalah drama Mandarin berjudul The Great Conspiracy serta drama Korea berjudul Jewel in the Palace alias Jang Geum dan serial Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S. Kalau ada beberapa kesamaan, harap dimaafkan, ne?
Puan ingin berterima kasih untuk kedua sahabat Puan, Kak Shanty Hidayat (Sun-T) dan Rin Evans yang selalu menjadi teman untuk bertukar pikiran, memberikan masukan-masukan dan saran-saran yang berharga, meskipun ujung-ujungnya selalu out of the topic, hahaha.
Pada kesempatan ini juga Puan kembali ingin berterima kasih kepada para readers baik yang lama atau baru, silent readers, ataupun viewers yang sudah menyempatkan diri melihat, membaca, mem-follow, mem-favoritkan, juga memberi jejak di chapter-chapter sebelumnya. Komentar kalian, sungguh membuat Puan semakin bersemangat menulis diantara seabrek kesibukan Puan sebagai seorang ibu dengan 2 anak.
Ah, iya. Setelah Puan membaca komentar-komentar kalian di chapter 4 yang lalu, Puan banyak menerima pertanyaan seputar racun dari getah akar pala yang diperintahkan Yang Mulia Permaisuri untuk dimasukkan ke dalam salah satu mangkuk keramik yang akan dipakai Joongie. Rata-rata menanyakan pertanyaan serupa, mengapa racunnya tidak berpengaruh terhadap Yang Mulia Raja? Atau, apakah Joongie terlebih dahulu memberikan penawar pada Yang Mulia Raja? Untuk jawabannya, akan kalian temukan di chapter 5 ini. Seperti yang di chapter sebelumnya Puan katakan, Puan akan menguak rahasia-rahasia atau hal-hal yang menjadi pertanyaan pada chapter sebelumnya di chapter selanjutnya.
Puan suka membaca cersil, dan ada beberapa bagian dalam cerita yang Puan tulis ini (chapter 2 dan 5), yang terinspirasi dari beberapa cersil yang telah Puan baca. Di antaranya serial Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S yang berjudul Darah Pendekar, Tengkorak Hitam, juga Iblis Wajah Seribu. Jadi, apabila ada di antara kalian yang kebetulan juga suka membaca cersil dan menemukan kesamaan di dalamnya, harap memakluminya ya?
Awalnya Puan yakin sekali bahwa chapter 4 yang lalu adalah chapter terpanjang yang pernah Puan tulis, tapi ternyata, hasil akhir chapter 5 ini justru mematahkan kenyataan itu. Jadilah chapter 5 ini benar-benar chapter terpanjang sejauh ini yang pernah Puan ketik. Puan sebenarnya ingin lebih memperpendek, tapi jujur, Puan sendiri tidak tahu harus memangkas bagian yang mana. Jadi Puan biarkan saja seperti ini adanya. Ah, tiba-tiba teringat ucapan seorang teman di facebook: Update-nya lumayan lama, eh sekalinya update panjangnya tak kira-kira. Hahaha…. Puan sungguh tidak berharap chapter depan dan depan-depannya lagi akan sepanjang ini.
Dan akhirnya, Puan persembahkan chapter 5 kepada kalian semua, selamat membaca dan terima kasih jika ada yang berkenan untuk meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya.
The Great Revenge
by
Puan Hujan
Chapter 5
Hari terus merangkak, sehingga petang akhirnya menjelang. Cahaya matahari yang mulai meredup membiaskan warna kuning kemerahan di kaki langit yang kemudian memantul di antara pucuk-pucuk pepohonan pinus. Kepak sayap burung-burung bangau yang terbang berkelompok berlatarkan arak-arakan awan putih, membentuk suatu rangkaian indah dalam perjalanan pulang menuju sarang. Sementara itu, angin penghujung musim semi berhembus perlahan, menerbangkan kelopak-kelopak aneka bunga yang telah terlepas dari tangkainya dan berserakan di atas permukaan tanah, menebarkan sisa-sisa keharuman ke setiap sudut semesta. Sungguh suatu petang yang sangat indah.
Namun, suasana petang yang indah itu justru terusik oleh langkah-langkah kaki yang melangkah cepat, seolah berpacu dengan waktu. Dua orang lelaki berwajah dingin dalam balutan seragam prajurit Kerajaan Joseon terlihat berjalan dengan langkah-langkah lebar sambil mengapit seorang wanita yang bagian kepalanya ditutupi selubung kain hitam. Kedua tangan wanita itu terikat ke belakang oleh sebuah tambang, yang kemudian dililitkan menyatu dengan leher. Keadaan wanita itu cukup memprihatinkan. Dia berjalan dengan kaki terseret, dan beberapa kali hampir jatuh, kalau tidak segera disangga salah satu lelaki berwajah dingin yang mengapitnya saat berusaha mengimbangi langkah-langkah lebar kedua lelaki tersebut.
Dari pakaian yang dikenakannya, bisa dipastikan kalau wanita yang berada dalam keadaan terikat sebuah tambang yang cukup berat itu adalah salah satu dayang istana. Dengan tergesa, kedua lelaki berseragam prajurit dengan segaris kumis tipis melintang di atas bibir itu menuruni anak-anak tangga batu menuju ruang bawah tanah di kediaman khusus Perdana Menteri Go yang letaknya terpisah dari Istana Changdeok, tanpa sedikit pun memedulikan wanita yang terlihat meronta-ronta hendak melepaskan diri itu.
Dua lelaki berpakaian prajurit itu lalu dengan kasar mendorong tubuh sang dayang ke tengah ruangan, setelah sampai di ruang bawah tanah yang begitu pengap dan lembab. Aroma darah kering dan daging yang membusuk tercium dengan jelas dari ruangan yang hanya diterangi oleh nyala dua buah lentera kecil yang tergantung di kiri dan kanan ruangan, hingga tak urung membuat perut bergejolak. Ruangan bawah tanah yang tidak pernah mendapatkan sentuhan sinar matahari itu membuat sebagian besar dindingnya yang terbuat dari batu sungai ditutupi oleh lumut liar yang tumbuh dengan subur.
Tubuh sang dayang yang didorong dengan kasar itu akhirnya jatuh tersungkur di kaki seseorang yang berdiri angkuh dalam balutan sebuah jubah indah berwarna merah menyala dari bahan sutera halus yang tak lain adalah Perdana Menteri Go. Lelaki separuh baya yang selalu berpembawaan tenang itu sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu meraih kedua pundak sang dayang. Dengan gerakan lembut, diajaknya dayang istana yang sekujur tubuhnya terikat sebuah tambang itu berdiri. Ia lalu melepaskan selubung kain hitam yang menutupi kepala dayang tersebut. Sang dayang yang telah terlepas dari selubung yang menutupi kepalanya, membuka kedua kelopak matanya. Ia mengerjapkan sepasang matanya yang indah, mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan ruangan yang memiliki penerangan seadanya itu. Ia juga menggerak-gerakkan lehernya, mengusir rasa pegal yang menghinggapinya.
Yang pertama dilihat oleh dayang istana yang ternyata masih berusia muda dan memiliki paras yang cukup cantik itu adalah Perdana Menteri Go yang berdiri tepat di hadapannya, dengan kedua tangan bersilang di belakang punggung. Sebuah senyum tipis terlukis di bibir tua sang perdana menteri. Dayang muda itu lalu mengalihkan pandangannya, merayapi keadaan seluruh ruangan yang sangat asing baginya itu. Ia menyipitkan matanya ketika tatapannya jatuh pada ketiga orang lelaki bertelanjang dada yang tampak terikat di dinding berlumut di sebelah kanan ruangan pengap itu, tak jauh dari tempatnya berdiri. Kedua kaki dan tangan mereka diikat oleh rantai besi yang tertanam di dinding. Tak ada tanda-tanda yang menunjukkan adanya denyut kehidupan dari ketiga lelaki yang sepertinya berusia di akhir tiga puluh itu. Di sekujur tubuh mereka terlukis garis merah memanjang yang merupakan luka bekas cambukan lidah cemeti. Darah kering menutupi seluruh tubuh mereka yang lebam membiru dan sedikit membengkak. Dari tempatnya berdiri, dayang muda itu dengan jelas melihat kalau sudut bibir dan pelipis ketiga lelaki yang tidak bergerak itu dalam keadaan sobek.
Dayang muda berparas cukup cantik itu bergidik ngeri begitu menyadari bahwa dirinya tengah berada di sebuah ruang penyiksaan bawah tanah. Seluruh tubuhnya yang terikat sebuah tambang tampak menggeletar. Di dinding batu berlumut di sebelah kirinya, bergayut rantai-rantai besi yang dikotori oleh darah kering dan sisa-sisa daging manusia yang menjadi sumber aroma tak sedap yang menyeruak hidung saat pertama kalinya ia menjejakkan kaki ke tempat itu. Sementara itu, di salah satu sudut ruangan, tampak sebuah lubang besar menganga dengan sebuah tiang berbentuk palang pintu di atasnya. Seuntai tambang tampak menjuntai di palang tiang, dan berakhir di leher seorang lelaki yang mengenakan seragam prajurit Kerajaan Joseon. Sulit untuk mengenali wajahnya karena posisi kepalanya yang menunduk hingga membuat rambutnya yang awut-awutan menutupi hampir seluruh permukaan wajahnya.
Dayang istana muda itu menutup kembali sepasang matanya rapat-rapat, tak kuasa berlama-lama memandangi sosok lelaki yang tergantung di palang itu, dengan ratusan ular berbisa dari segala jenis yang berdesis mengerikan menjulur-julurkan kepala dari dalam lubang besar yang menganga di salah satu sudut ruangan itu. Akan tetapi, seolah seseorang yang disadarkan dari mimpi buruk yang paling menakutkan, dayang muda itu secepat kilat kembali membuka matanya. Diperhatikannya baik-baik lelaki berseragam prajurit yang berada dalam keadaan tergantung itu. Seuntai kalung dari akar kayu hitam dengan kuku harimau jantan sebagai buah kalung tampak tersembul di antara pakaian lelaki itu yang sudah tidak beraturan lagi bentuknya.
"Abeoji!" seru sang dayang muda ketika menyadari bahwa lelaki yang tergantung itu adalah ayahnya sendiri. Kedua mata dayang muda itu terbeliak lebar. Sosok sang ayah tampak menunjukkan sedikit gerakan ketika mendengar suara sang anak yang menandakan bahwa lelaki yang berada dalam keadaan tergantung itu masih hidup.
"Kau butuh waktu yang sangat lama rupanya untuk mengenali ayahmu sendiri," sela sang perdana menteri dengan nada tenang, namun mengejek. Sebuah senyuman lagi-lagi tersungging di bibirnya. Senyuman yang tak ubah seperti seringai iblis bagi dayang muda itu. "Aku heran, bagaimana caranya kau bisa lulus menjadi dayang istana dengan kinerjamu yang teramat buruk itu."
"Tuan Perdana Menteri, lepaskan ayah saya. Saya yang salah karena gagal melaksanakan perintah Yang Mulia Permaisuri, jadi hukumlah saya saja. Tolong lepaskan ayah saya, Tuan. Saya mohon…," rintih dayang muda itu sambil menjatuhkan diri di kaki Perdana Menteri Go.
"Dayang tidak berguna!" umpat sang perdana menteri dengan kemurkaan yang terlihat jelas. Ekspresi wajahnya yang selalu terlihat tenang mendadak berubah. Senyuman yang menghiasi bibirnya lenyap seketika. Sorot matanya yang teduh berubah tajam, dan rahangnya terlihat mengeras. Wajahnya memerah tak ubah besi di atas tungku. Dengan tangan kanannya, dicengkeramnya rambut dayang muda itu hingga sang dayang mendongak sambil meringis, menghadap persis ke wajah Perdana Menteri Go. Raut kesakitan jelas terpampang dari paras dayang muda itu.
"Kau bahkan masih memiliki kesempatan kedua untuk menuangkan setetes racun dari getah akar pala ketika usaha pertamamu tidak berhasil. Bukankah kau termasuk salah satu dayang yang ditunjuk oleh Dayang Istana Han untuk membawakan hidangan yang telah dibuat oleh Pemusik Kim ke ruang makan kerajaan? Tapi kenapa kesempatan yang sangat bagus di depan mata itu kau lewatkan begitu saja?" cecar Perdana Menteri Go penuh penekanan tanpa mampu menyembunyikan kemarahannya. Cengkeramannya di rambut dayang muda itu semakin kuat. "Apa kau berpikir bahwa Permaisuri hanya bermain-main dengan ucapannya hingga kau menyepelekan ancamannya? Dengar, gadis bodoh! Tidak ada yang namanya ucapan main-main dalam keluarga Go. Dan jika Permaisuri sudah mengatakan bahwa kegagalanmu hanya bisa ditebus dengan nyawa busuk ayahmu, maka itulah yang akan terjadi!" dengus sang perdana menteri sambil melepaskan cengkeramannya di rambut dayang muda itu dengan kasar.
"Tuan Perdana Menteri, beri saya kesempatan sekali lagi. Saya pasti akan melakukan perintah Yang Mulia Permaisuri dengan benar. Saya mohon, Tuan, berikan saya kesempatan sekali lagi. Saya pasti tidak akan gagal," dayang muda itu kembali mencoba untuk melunakkan hati sang perdana menteri. Suaranya terdengar bergetar menahan isakan. Kepalanya terlihat merunduk hingga nyaris mencium kaki sang perdana menteri.
"Sayangnya derajatmu terlalu rendah untuk melakukan tawar-menawar denganku, gadis bodoh!" balas Perdana Menteri Go dengan nada yang begitu dingin. Senyuman sinis tersungging di bibirnya. Tubuh dayang muda yang berada dalam keadaan terikat itu menegang. Ia mengangkat kepalanya. Sirat kemarahan dan kebencian menguar dari sepasang matanya yang akhirnya melahirkan anak-anak hujan.
"Tuan Perdana Menteri, apakah kekuasaan membuat Anda benar-benar telah kehilangan hati nurani sebagai seorang manusia, sehingga Anda tidak akan pernah berpikir dua kali untuk melenyapkan nyawa seseorang?" tanya dayang muda itu dengan nada pelan menusuk setelah beberapa saat terdiam, seolah sedang memikirkan kata-kata yang harus ia pilih untuk dilontarkan. "Kekejaman Anda selangit tembus, Tuan. Tidakkah Anda takut apabila suatu hari kejahatan yang Anda lakukan akan terungkap dan Anda beserta keluarga Anda akan merasakan pembalasan yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang pernah kalian lakukan? Ingat kata-kata saya hari ini, Tuan. Cepat atau lambat aroma busuk dari segunung kejahatan Anda pasti akan tercium. Dan jika saat itu tiba, bahkan di alam kematian pun saya akan tersenyum bahagia atas kehancuran yang menimpa Anda," sambung dayang muda itu dengan airmata yang masih setia mengalir menuruni kedua belah pipinya yang kemerahan.
"Hahaha…!" Perdana Menteri Go justru tergelak mendengar ucapan dayang muda itu, seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat menggelitik perut. Sebuah senyuman mengejek kembali tersungging di bibirnya. "Kau lupa dengan siapa kau berhadapan saat ini, hemmm? Apa perlu kuingatkan kembali bahwa aku adalah ayah dari Yang Mulia Permaisuri yang merupakan istri sah rajamu?" tanya Perdana Menteri Go dengan nada mulai melembut, namun terkesan meremehkan.
"Tidak, saya sama sekali tidak lupa. Saya hanya menyayangkan seorang raja yang agung seperti Yang Mulia Raja harus memiliki mertua berhati iblis seperti Anda, Tuan Perdana Menteri," jawab dayang muda itu tanpa rasa takut, membuat Perdana Menteri Go mendengus kesal.
"Gadis keparat…!"
Sang perdana menteri kemudian membalikkan tubuhnya dan memerintahkan salah satu dari lelaki berwajah bengis yang masih setia berdiri di tepi pintu untuk maju ke depan.
"Tarik tuasnya!" perintah Perdana Menteri Go dengan berang. Lelaki berwajah bengis itu mengangguk patuh. Dengan ayunan kaki mantap, lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu melangkah menghampiri lelaki yang berada dalam keadaan tergantung itu. Tanpa banyak bicara, ditariknya tuas yang terletak di salah satu sudut ruangan hingga tambang yang melilit di kepala prajurit malang yang merupakan ayah dari sang dayang kian masuk ke dalam lubang. Ular-ular berbisa yang sejak tadi menjulur-julurkan kepala mereka segera berlomba merobek daging pria malang itu.
Crash! Crash!
"Aaakkkhhh…!" lolongan panjang terlontar dari mulut prajurit malang berusia setengah baya itu ketika gigi-gigi tajam ular-ular berbisa itu berebut menancap di kulitnya. Beberapa kali lelaki itu menjerit kesakitan sambil menggeliatkan tubuhnya, berusaha menghindari patukan ular-ular berbisa itu. Seragam prajurit yang dikenakannya koyak berlumur darah dengan kulit tubuh dan sebagian daging yang juga ikut terkoyak. Hanya sekejap lolongan dan pekikan kesakitan itu terdengar, berganti dengan desisan ratusan binatang melata yang seolah sedang berpesta menyantap hidangan berupa daging manusia. Dalam waktu sebentar saja, sebagian daging prajurit malang itu dari pinggang ke bawah telah habis disantap oleh ular-ular berbisa itu, menyisakan tulang-tulang yang masih berlumur darah.
"Abeojiii…! Tidaaakkk! Hentikan! Kumohon hentikaaannn…. Abeojiii…!"
Dayang muda itu jatuh tersuruk dalam keadaan tidak sadarkan diri ketika dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan sang ayah menjadi santapan ular-ular berbisa yang kelaparan itu. Jejak-jejak airmata tercetak jelas di wajahnya. Sang perdana menteri lalu menghampiri dayang muda yang pingsan itu, dan duduk berjongkok di sisinya. Dengan tangan kanannya, dicengkeramnya rahang dayang muda itu sehingga mulutnya terbuka. Sementara tangan kirinya mengeluarkan satu bulatan kecil berwarna kuning pekat dari balik jubahnya. Dimasukkannya bulatan berwarna kuning pekat itu ke dalam mulut dayang muda yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu. Tangan kanannya kemudian menutup rapat mulut sang dayang.
Hanya sebentar dayang muda itu menggeliat dengan mata mendelik tak ubah seseorang yang sedang tercekik. Tak lama, dayang muda itu diam tak bergerak-gerak lagi. Dari seluruh lubang di tubuhnya, keluar cairan pekat berwarna merah kehijauan yang menandakan bahwa seluruh pembuluh darah di dalam tubuh dayang muda itu telah pecah. Racun Kalajengking Ekor Kuning sekali lagi merenggut mangsanya. Racun yang tingkat keganasannya hanya setingkat di bawah Getah Salju Tiongkok itu merenggut nyawa seorang dayang muda yang malang hanya dalam waktu yang sangat singkat.
"Buang tubuh dayang tak berguna ini ke dalam jurang! Lakukan pekerjaan kalian serapi mungkin dan jangan meninggalkan jejak sedikit pun! Kalau tidak, kalian juga bisa bernasib sama dengan dayang keparat itu" perintah Perdana Menteri Go disertai ancaman sambil berdiri dan mengibaskan jubah indahnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruang bawah tanah itu dengan langkah-langkah lebar. Kedua lelaki bertampang bengis itu menganggukkan kepalanya, lalu segera membopong tubuh dayang malang yang bersimbah darah itu meninggalkan ruangan. Menyisakan tiga tubuh tanpa nyawa yang berada dalam keadaan terikat di dinding berlumut, serta satu tubuh yang hanya tersisa separuh yang tergantung di ujung tambang.
ooo 000 ooo
Sementara itu, di tepi sebuah sungai kecil berair jernih yang terletak di tengah-tengah Taman Rahasia, Jaejoong yang terlihat sangat cantik dalam balutan dangui berwarna ungu muda dipadukan dengan seuran chima berpola bunga-bunga berwarna senada namun lebih gelap tampak tengah duduk menjuntaikan kakinya di atas sebongkah batu sungai berukuran sebesar kerbau. Batu yang didudukinya menjorok masuk ke sungai, sehingga sebagian kakinya terendam di dalam air jernih yang mengalir tenang. Tak jauh dari tempatnya mendudukkan diri, berdiri tegak sebatang pohon yang tidak terlalu tinggi namun memiliki dahan yang sangat banyak serta daun yang begitu rimbun. Beberapa jenis anggrek hutan berbunga merah muda dan kuning tampak subur menumpang hidup di salah satu bagian batang pohon yang lebarnya kira-kira dua pelukan orang dewasa itu. Sementara di salah satu bagian batang pohon yang tidak terkena sinar matahari juga ditumbuhi sejenis tanaman lumut dan beberapa jenis jamur. Sulur-sulur dari tanaman rambat bergayut di antara dahan-dahan pohon.
Jaejoong duduk dengan tangan kanan menggenggam seutas tali yang mengikat mata kail dari patahan ranting yang telah diberi umpan. Air sungai yang mengalir lembut memantulkan pernik-pernik sinar matahari petang. Sungai kecil itu sedemikian jernih, hingga hilir mudik ikan-ikan beraneka ukuran yang berenang di dalamnya terlihat jelas. Demikian juga dengan batu-batu sungai yang banyak terdapat di dasar sungai serta tumbuhan air yang hidup di dalamnya, sangat jelas terlihat oleh indera penglihatan. Di sekitar batu-batu besar yang banyak terdapat di sekitarnya, tumbuh dengan subur tanaman keladi dan beberapa rumpun bambu hias yang ditata sedemikian rupa. Sekitar lima langkah ke kiri, sehamparan ilalang berbunga putih menyerupai kapas tumbuh subur dengan tangkai bunga yang bergoyang dipermainkan angin petang. Dan beberapa depa dari tempat Jaejoong duduk, hutan pinus yang lebat mengelilingi sungai kecil di dalam taman buatan itu.
Pandangan mata selir termuda Kerajaan Joseon itu sejak tadi tidak lepas dari seutas tali yang mengambang di permukaan air yang ditutupi oleh beberapa bunga teratai berdaun lebar. Sebuah senyuman manis melengkung di sudut bibir merahnya ketika merasakan ujung tali yang berada dalam genggamannya bergetar, menandakan bahwa umpannya telah dimakan oleh ikan untuk kesekian kalinya. Dengan cepat diangkatnya seutas tali yang sejak tadi digenggamnya. Seekor ikan berukuran sebesar telapak tangan menggelepar di ujung talinya.
"Joongie dapat lagi!" serunya girang sambil melepaskan ikan itu dari mata kailnya, lalu memasukkannya ke dalam sebuah wadah dari anyaman bambu yang nyaris terisi penuh dengan ikan hasil pancingannya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan tubuhnya yang berjarak hanya sekitar empat langkah. Tampak Selir Suk yang juga tak kalah cantik dalam balutan dangui dan seuran chima berwarna kuning gading berpola emas sedang duduk di atas akar sebuah pohon yang menyembul di atas permukaan tanah. Pohon yang cukup tinggi dengan sebagian besar dahannya condong ke arah sungai, sehingga membuat kerimbunan daunnya mampu meneduhkan siapa saja yang duduk di bawahnya. Seutas tali kecil juga tergenggam di tangan Selir Suk yang tak lepas memandangi permukaan air yang jernih di hadapannya.
"Eomma, sudah berapa banyak ikan yang Eomma dapatkan?" tegur Jaejoong dengan lembut sambil memberikan senyuman manisnya. Ia lalu sedikit memiringkan wadah dari anyaman bambu miliknya, memamerkan hasil pancingannya. Selir Suk yang dipanggil Eomma oleh Jaejoong menoleh dan langsung cemberut begitu melirik ke dalam wadah milik Jaejoong. Dalam hatinya, salah satu selir Raja Joseon itu mengakui kalah pintar dengan Jaejoong yang dalam waktu bersamaan bisa mendapatkan ikan yang lebih banyak dari yang didapatnya.
"Mana hasil tangkapan Eomma?" tanya Jaejoong lagi dengan nada menggoda. Ia lalu memasukkan sebelah kakinya ke dalam sungai, mempermainkan seekor katak hijau yang sedang duduk di atas bunga teratai berdaun selebar tampah yang tengah mengambang di permukaan air sungai.
"Itu…!" sahut Selir Suk sambil menunjuk dengan bibirnya. Dimiringkannya wadah dari anyaman bambu miliknya yang hanya berisikan dua ekor ikan berukuran dua helai jari. Jaejoong tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat hasil tangkapan Selir Suk, sedang wanita yang dipanggilnya Eomma itu hanya menggerutu kecil.
"Dasar nakal! Bukankah sudah Eomma katakan kalau Eomma tidak bisa memancing? Tapi masih juga diajak. Lagipula, sepertinya ikan-ikan besar di sini sengaja bersekutu menjauhiku. Bagaimana tidak, jelas-jelas aku melihat ikan-ikan besar itu hilir-mudik di bawah bunga-bunga teratai yang mengambang tepat di ujung kakiku, tapi mereka sama sekali tidak menyentuh umpanku dan malah berlalu ke arahmu. Sepertinya mereka hanya tertarik pada yang berusia muda saja," sungut Selir Suk sambil bercanda. Jaejoong yang mendengarnya kembali tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Suara tawanya yang renyah mengalun indah, menelusup terbawa angin di antara pepohonan, bebatuan dan rerumputan.
"Hahaha, yang Eomma maksud itu sebenarnya ikan-ikan itu atau Yang Mulia Raja?" goda Jaejoong dengan usil sambil menaik-turunkan sebelah alisnya.
"Tentu saja ikan-ikan itu!" sahut Selir Suk dengan cepat sambil memalingkan wajahnya ke depan, berpura-pura memusatkan perhatiannya pada tali yang mengambang di atas permukaan air, tanpa mampu menyembunyikan semburat merah yang menghiasi kedua belah pipinya. Dalam hati ia mengutuk tingkahnya sendiri, yang mau saja termakan godaan namja cantik itu.
Jaejoong yang menyaksikan hal itu kembali tak dapat menahan tawanya. Sementara Selir Suk hanya mendengus kesal.
"Eomma…," ujar Jaejoong tiba-tiba sambil menghentikan derai tawanya. Ditatapnya wajah cantik keibuan milik Selir Suk yang pada saat bersamaan juga sedang memandangi wajahnya.
"Ne?"
"Maafkan Joongie yang sudah menggoda Eomma. Sebenarnya, Joongie ingin berterima kasih karena pada saat Joongie membuat Sup 12 Rasa, Eomma terlebih dulu mengingatkan Joongie mengenai niat jahat Yang Mulia Permaisuri. Terima kasih juga karena sudah menyarankan Joongie untuk mencuci kembali mangkuk keramik yang akan Joongie gunakan untuk memasak menggunakan air perasan jeruk nipis itu sehingga racun yang menempel di dalamnya akhirnya luruh. Kalau bukan karena Eomma, mungkin nasib Joongie sudah berakhir di tiang gantungan dengan tuduhan meracuni Yang Mulia Raja sekaligus Yang Mulia Ibu Suri," ucap Jaejoong dengan tulus.
"Haaahhh, kukira kau ingin berterima kasih padaku karena buku teknik bercinta yang kuberikan padamu tempo hari telah berhasil kau praktekkan seluruh isinya," sahut Selir Suk dengan nada menggoda sambil mengerling nakal , seolah ingin membalas remaja yang sudah dianggapnya anak sendiri itu. Senyuman lebar terpasang di wajahnya ketika ia merasa berhasil membalas godaan remaja cantik itu.
"Eommaaa…," rengek Jaejoong sambil menggembungkan kedua pipinya, membuat Selir Suk terkikik pelan. Rona merah merambat di kedua belah pipi selir termuda itu mendengar godaan Selir Suk. Sebelah kakinya yang dimasukkan ke dalam sungai segera ditariknya, menyebabkan katak hijau di atas teratai yang dimainkannya terpelanting ke dalam sungai. Jaejoong langsung menekuk kedua kakinya di atas batu, dan menyembunyikan wajahnya yang memerah di antara lekukan kakinya itu, tak kuasa menahan malu. Tali pancing di tangannya entah sudah sejak kapan dibuangnya begitu saja.
"Hahaha, apakah Joongie-ku saat ini sedang mengingat kembali potongan kejadian di malam pertamanya?" Goda Selir Suk semakin menjadi. Tawa wanita yang berusia sebaya dengan ibu kandung Jaejoong itu semakin keras terdengar ketika dilihatnya Jaejoong yang langsung mengangkat wajahnya yang merah padam sambil mendelik kesal ke arahnya.
"Eomma, cukup! Joongie malu, Eommaaa…," Selir Suk benar-benar menghentikan tawanya ketika dilihatnya sepasang bola mata indah dari namja cantik yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu terlihat berkaca-kaca. Selir Suk lupa bahwa meskipun Jaejoong suka menggodanya, namun remaja cantik itu masih belum terbiasa untuk membicarakan hal-hal seputar ranjangnya. Ia segera membuang begitu saja tali yang ada di tangannya, lalu melangkah tergesa menghampiri Jaejoong. Ia duduk di samping namja berusia lima belas tahun itu, lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Dengan lembut diusapnya punggung remaja berparas menawan yang ternyata sangat pemalu itu.
"Ssshhh, uljima…! Maafkan Eomma, Sayang. Aishhh, Eomma terkadang lupa kalau kau masih sangat muda. Tentu saja hal tabu seperti itu sangat memalukan untuk diperbincangkan. Lain kali Eomma tidak akan menggodamu seperti itu lagi, ne?" bujuk Selir Suk yang akhirnya kelimpungan sendiri. Jaejoong menganggukkan kepalanya dengan mata mengerjap lucu hingga membuat Selir Suk tak kuasa menahan dirinya. Dengan gemas, ditariknya kedua belah pipi namja cantik itu.
"Appooo[38]! Eomma, sakit!" sungut Jaejoong sambil menjauhkan diri dari Selir Suk. Diusapnya kedua belah pipinya yang cukup sakit karena tarikan Selir Suk. Jaejoong menatap sengit ke arah wanita yang juga sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu dengan bibir mengerucut. Selir Suk yang seolah baru menyadari perbuatannya buru-buru menghampiri Jaejoong dan membelai kedua belah pipi yang terlihat memerah itu.
"Mianhae[39], Sayang. Kau benar-benar membuat Eomma gemas. Eomma selalu tidak mampu mengendalikan diri kalau berada di dekatmu. Apakah pipimu masih sakit, hemmm?" tanya Selir Suk penuh penyesalan. Jaejoong menggelengkan kepalanya. Selir Suk mengajak Jaejoong kembali duduk di atas batu. Jaejoong mengangguk setuju. Ia lalu merebahkan kepalanya di atas paha Selir Suk yang membelai lembut rambutnya. Kekesalannya menguap begitu saja karena ia tahu kalau sesungguhnya Selir Suk tidak bermaksud jahat padanya. Wanita yang dipanggilnya eomma itu justru sangat menyayanginya. Tapi sungguh, remaja cantik itu sangat malu jika sang eomma mulai menggodanya dengan membahas mengenai hal seputar ranjang pengantinnya.
"Ah iya, mengenai Yang Mulia Permaisuri, tidak usah kau pikirkan. Eomma tidak akan pernah membiarkan wanita jelmaan iblis itu mencelakakanmu. Waktu itu Eomma memang sengaja mengawasi kediamannya karena Eomma yakin bahwa ia pasti merencanakan sesuatu, dan ternyata firasat Eomma benar. Untung saja Eomma mendengar semua pembicaraannya dengan orang suruhannya itu."
"Tapi Joongie masih penasaran, bagaimana caranya Eomma berhasil meminta Yang Mulia Raja untuk mengajak Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Ibu Suri untuk turut serta mencicipi sup yang Joongie buat?" tanya Jaejoong penuh rasa ingin tahu.
"Eomma berhasil melakukannya karena pada saat itu kondisi hati Yang Mulia berada dalam keadaan yang sangat baik," jawab Selir Suk sambil tersenyum penuh makna, membuat remaja berparas cantik itu semakin penasaran.
"Maksud Eomma?"
"Eomma tahu bahwa saat itu Yang Mulia menemanimu hingga pagi hampir menjelang. Setelah menitipkan sepucuk surat untukmu pada Dayang Kwan, Eomma bergegas menemui Yang Mulia. Saat itu sinar wajah Yang Mulia terlihat sangat bahagia. Eomma langsung saja mengutarakan maksud Eomma. Eomma katakan saja bahwa kau pasti akan merasa lebih diterima oleh keluarga inti kerajaan apabila Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Ibu Suri turut diajak untuk ikut serta mencicipi sup buatanmu. Dan tepat seperti yang Eomma harapkan, Yang Mulia menyetujui saran Eomma. Tapi Eomma juga meminta agar Yang Mulia tidak memberitahumu mengenai hal itu di saat awal, agar konsentrasimu tidak terpecah. Karena itulah Dayang Istana Han mengatakan hal itu padamu di saat-saat akhir," jelas Selir Suk. Jaejoong mengangkat kepala dari rebahannya. Ia mengangguk paham.
"Ya, dan untung saja Eomma memberitahu Joongie pada waktu yang tepat. Yang Mulia Permaisuri benar-benar perempuan licik. Pantas saja ia tetap bersikap tenang, karena sebagai pemilik racun, ia pasti memiliki penawarnya, hingga ia tidak perlu mencemaskan dirinya. Perubahan rencana itu tentu tidak berpengaruh banyak padanya, karena ia tahu seandainya sup yang sudah dibubuhi racun itu dimakan oleh Yang Mulia Raja ataupun Yang Mulia Ibu Suri, maka hasilnya akan sama saja. Sama-sama mengantarkan Joongie ke tiang gantungan. Tapi untunglah dayang suruhannya itu berlaku ceroboh karena meletakkan racunnya di mangkuk keramik, bukan di mangkuk perunggu."
"Dayang itu hanya melakukannya sesuai perintah karena Yang Mulia Permaisuri mengira hanya Yang Mulia Raja saja yang akan mencicipi sup itu. Ia tidak menyiapkan rencana cadangan karena tidak mengira bahwa Yang Mulia akan merubah rencana awal. Dan sebenarnya, dayang itu memiliki kesempatan kedua untuk memasukkan racun itu ke dalam mangkukmu, sebab ia adalah salah satu dari tiga dayang yang ditunjuk oleh Dayang Istana Han untuk menghidangkannya. Tapi entah mengapa ia tidak melakukannya, padahal ia tahu persis bahwa nyawa ayahnya adalah tebusannya. Hhhh, Eomma yakin kalau ayah dan anak itu saat ini sama-sama sudah kehilangan nyawanya," desah Selir Suk di akhir ucapannya.
"Kasihan sekali nasib dayang itu. Yang Mulia Permaisuri tidak sekadar memberikan ancaman kosong," timpal Jaejoong dengan nada lirih.
"Tentu saja. Wanita itu tidak akan membiarkan seseorang yang gagal melaksanakan perintahnya untuk tetap hidup, karena hal itu sama artinya dengan menggali lubang kubur sendiri."
Jaejoong memungut kembali tali pancingannya yang sempat dibuangnya di atas rerumputan. Ia juga mengambil tali pancing milik Selir Suk yang tak jauh dari tempatnya. Ia lalu memasangkan umpan di kedua tali pancing itu, lalu menyerahkan salah satunya pada Selir Suk. Ia dan Selir Suk kemudian melanjutkan kembali kegiatan memancing mereka yang sempat terhenti, sambil duduk berdampingan di atas batu. Sesekali mereka berbagi canda yang tak urung mengundang tawa lepas keduanya.
ooo 000 ooo
"Pantas saja aku tidak menemukan kalian di kamar peristirahatan masing-masing. Rupanya kalian berada di sini," sebuah suara yang penuh wibawa terdengar dari arah belakang kedua selir berbeda usia itu, kira-kira sepeminuman teh kemudian. Jaejoong yang mendengar suara lelaki yang sangat dikenalnya itu menolehkan kepalanya ke belakang dan kembali melemparkan tali pancingnya ke sembarang tempat, lalu melompat turun dari batu yang didudukinya.
"Yang Mulia!" pekiknya dengan nada riang, sambil memeluk pinggang sang suami yang berdiri tak jauh darinya. Ia menyurukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Menghirup aroma tubuh sang suami yang selalu menenangkannya. Sang raja yang berwajah tampan itu balas memeluk selir terkasihnya, sambil menghadiahkan sebuah kecupan singkat di kening sang selir yang langsung merona. Meskipun sudah sepekan ia resmi menjadi selir, namun ia tetap malu jika beradegan cukup intim dengan suaminya itu di depan orang lain. Sementara Selir Suk yang duduk tak jauh dari mereka hanya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Jaejoong yang begitu manja. Wanita itu kembali memandangi permukaan air di hadapannya setelah sebelumnya ia memberikan penghormatan pada sang suami.
Penguasa Kerajaan Joseon itu lalu membimbing Jaejoong untuk menghampiri Selir Suk. Ia mendudukkan dirinya tepat di samping wanita itu, di tempat yang semula diduduki oleh Jaejoong. Sedang Jaejoong duduk manis di antara kedua paha sang raja sambil membiarkan kedua lengan kokoh suaminya itu melingkar di perutnya.
"Sudah banyak hasil tangkapannya?" tanya Yang Mulia Raja dengan lembut kepada Selir Suk yang dibalas gelengan kepala oleh salah satu selirnya itu.
"Saya tidak sepandai Joongie dalam hal memancing, Yang Mulia. Makanya dari tadi saya baru mendapatkan dua ekor ikan berukuran kecil, sementara Joongie sudah hampir memenuhi wadahnya dengan ikan-ikan besar," jawab Selir Suk dengan sopan sambil tertawa kecil di ujung perkataannya. Yang Mulia Raja memberikan senyuman manisnya menanggapi ucapan selirnya itu.
"Eomma bilang ikan-ikan besar di sungai ini sengaja bersekutu untuk menjauhinya, Yang Mulia," adu Jaejoong sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan, berusaha menyembunyikan tawanya yang hampir terlontar. Namja berparas menawan itu sedikit memiringkan tubuhnya, sehingga wajahnya tepat menghadap dada bidang suaminya. Ia lalu mengangkat wajahnya, memandangi paras tampan sang raja.
"Eomma?" tanya Yang Mulia Raja dengan nada heran mendengar panggilan dari selir terkasihnya itu kepada Selir Suk. Ia lalu memandangi kedua selirnya bergantian, seakan meminta penjelasan.
"Maafkan saya yang telah lancang, Yang Mulia. Saya yang meminta Joongie untuk memanggil saya Eomma. Sejujurnya, saat pertama kali melihatnya, timbul perasaan sayang saya padanya. Karena itulah saya memintanya untuk menganggap saya seperti ibu kandungnya sendiri dan memanggil saya Eomma. Bukankah seandainya saya bisa memiliki anak, maka anak itu mungkin saat ini sudah sebesar Joongie?" tanya Selir Suk dengan lirih sambil menjelaskan mengapa Jaejoong memanggilnya Eomma. Yang Mulia Raja yang mendengar perkataan Selir Suk itu segera merengkuh bahu salah satu selirnya itu dan mengusap punggungnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih melingkar di perut Jaejoong. Diberinya satu kecupan singkat di kening wanita itu.
"Maaf…," ujar Yang Mulia Raja. Begitu pelan suaranya, namun masih mampu ditangkap telinga. Selir Suk menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Wanita berparas cantik itu meletakkan tali pancing yang sejak tadi dipegangnya. Ia lalu meraih tangan kanan sang Raja, dan menggenggamnya dengan erat.
"Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Ketidakmampuan saya juga selir-selir yang lain untuk memberikan keturunan pada Yang Mulia bukanlah kesalahan Yang Mulia. Tabib Istana sudah menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh serbuk salah satu jenis bunga yang di dalamnya mengandung sejenis racun yang dapat menyebabkan ketidaksuburan pada seorang perempuan yang tidak sengaja masuk ke dalam makanan para selir saat terjadi angin badai di istana belasan tahun yang lalu. Saya tidak terlalu kecewa karena ketidakmampuan saya untuk memiliki anak, Yang Mulia. Terlebih, saya bisa sedikit melimpahkan kasih sayang saya sebagai seorang ibu kepada Putera Mahkota," jawab Selir Suk dengan ketegaran yang mengagumkan. Meskipun ia tahu penyebab sebenarnya mengapa para selir tidak mampu untuk mengandung dan melahirkan, namun ia tetap menyembunyikan kenyataan itu dari suaminya dan memilih untuk bersikap seolah-olah percaya dengan perkataan Tabib Istana agar sang raja tidak terpuruk dalam perasaan bersalah.
"Itu benar. Putera Mahkota Changmin juga sangat menyayangimu seperti ibu kandungnya sendiri. Kau tahu, bahkan sampai hari ini aku terus meminta para tabib di istana untuk mencari penawar dari tanaman beracun itu. Meskipun hasilnya belum terlihat sama sekali, tapi kuharap kau tidak berkecil hati" tutur Yang Mulia Raja, berusaha membesarkan hati selirnya itu.
"Eomma jangan bersedih lagi. Bukankah Eomma juga memiliki Joongie?" sela Jaejoong yang sejak tadi hanya diam, mencerna ucapan suaminya dan Selir Suk. Senyuman lebar terukir di wajah cantik Selir Suk. Ia menganggukkan kepala lalu mengangkat tangannya, membelai puncak kepala remaja berparas menawan itu.
"Joongie benar, Eomma tidak boleh larut dalam kesedihan karena Eomma juga memiliki Joongie yang nakal dan suka menggoda Eomma, tapi tidak boleh digoda," sahut Selir Suk membuat sang raja terkekeh pelan. Sementara Jaejoong memajukan bibirnya.
"Joongie tidak nakal. Joongie memang suka menggoda Eomma, tapi itu pun hanya sedikit. Yang sebenarnya nakal dan suka menggoda itu Eomma," balas Jaejoong. Ia lalu menarik-narik jubah suaminya. "Yang Mulia, Joongie tidak nakal, kan? Katakan pada Eomma kalau Joongie tidak nakal," pinta Jaejoong mencari pembelaan dengan sepasang bola mata yang terkesan menghiba. Persis anak kucing yang dibuang pemiliknya di tengah malam saat hujan lebat. Alih-alih menjawab, sang raja malah tertawa pelan demi menyaksikan kelakuan selir terkasihnya itu. Sang raja yang berwajah tampan itu mengetatkan pelukan tangan kirinya di perut Jaejoong.
"Ne, Joongie sama sekali tidak nakal," jawab Yang Mulia Raja akhirnya. Ia tahu benar bahwa selirnya yang paling muda itu akan terus cemberut jika ia tidak meng-iyakan ucapannya. Daripada bibir merah seperti buah plum yang sedang mengerucut itu terus-menerus menggodanya dan membuatnya tidak mampu menahan diri dan hasrat kelelakiannya, lebih baik ia menyudahinya secepat mungkin dengan meng-iyakan ucapan Jaejoong.
Jaejoong yang merasa mendapat pembelaan dari sang suami tersenyum lebar. Dengan sangat kekanakan ia bertepuk tangan dan menjulurkan lidahnya ke arah Selir Suk, yang hanya ditanggapi dengan kekehan ringan dari wanita itu. Seolah ingin menggoda Jaejoong, Selir Suk sengaja merapatkan tubuhnya dengan Yang Mulia Raja, dan meletakkan kepalanya di bahu sang raja yang berwajah tampan itu. Jaejoong yang melihat hal itu tidak mau kalah. Dengan segenap keberaniannya, diciumnya sekilas pipi kanan suaminya, lalu cepat-cepat menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang sang suami. Tingkahnya itu membuat Selir Suk dan Yang Mulia Raja tak mampu menahan tawa. Selir Suk bahkan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala menyaksikan kelakuan remaja cantik itu.
Setelah cukup lama menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang raja, Jaejoong mengangkat wajahnya. Ia lalu melepaskan tangan sang suami yang melingkar di perutnya dan bangkit berdiri. Diedarkannya pandangannya, memandangi sekeliling. Matahari sudah kian tergelincir ke arah barat, dan tak lama lagi kegelapan akan menyelimuti tempat itu. Pandangan Jaejoong tertuju pada seutas tali yang tadi sempat dibuangnya. Dipungutnya tali itu, lalu diserahkannya kepada sang Raja yang terlihat mengerutkan keningnya.
"Hari sudah hampir malam, Joongie buat api dulu, ne? Joongie akan membuat ikan bakar ala rakyat jelata untuk makan malam kita yang rasanya dijamin enak, tak akan kalah dengan masakan istana," kata Jaejoong seraya menyatukan ikan hasil tangkapannya dengan tangkapan Selir Suk di satu wadah, dan meletakkannya tak jauh dari batu besar yang diduduki oleh Yang Mulia Raja dan Selir Suk. Ia lalu segera berlari ringan menuju ke pinggir hutan pinus untuk mencari kayu bakar dan ranting-ranting kering.
"Jangan jauh-jauh, Sayang!" seru Yang Mulia Raja sambil mengawasi selir terkasihnya itu.
"Iya, Yang Mulia. Yang Mulia dan Eomma sebaiknya terus memancing biar banyak," sahut Jaejoong.
Yang Mulia Raja dan Selir Suk saling melempar senyum dan mencoba menekuni pancing masing-masing. Akan tetapi, sang raja pemilik mata setajam elang itu tidak sepenuhnya memusatkan perhatian pada seutas tali di tangannya. Sebentar-sebentar ia mengamati permukaan air, lalu berganti ke tepi hutan di mana tubuh Jaejoong lenyap dari pandangannya. Sang raja yang sebenarnya cukup mahir memancing itu akhirnya kesal sendiri. Sudah cukup lama ia menunggu, tapi tak seekor ikan pun yang mau menyentuh umpannya, meski terlihat jelas ikan-ikan itu hilir-mudik di bawah kakinya. Ia lalu bangkit berdiri dan membuang tali pancingnya dengan kesal ke dalam sungai diiringi tawa lembut Selir Suk yang akhirnya juga membuang tali di genggamannya. Sang raja lalu mengajak Selir Suk untuk menunggu Jaejoong di paviliun kecil beratap jerami yang berada tak jauh dari sungai, sambil menenteng wadah yang hampir dipenuhi ikan hasil tangkapan Jaejoong.
Tak lama Jaejoong kembali menghampiri mereka sambil membawa beberapa kayu bakar dan ranting-ranting kering. Ia meletakkan kayu-kayu dan ranting-ranting itu di halaman paviliun dan menyusunnya sedemikian rupa. Remaja cantik itu lalu membuat api unggun untuk membakar ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Selir Suk membantu Jaejoong menusuk ikan-ikan berukuran besar pada beberapa potong kayu kecil yang lurus. Jaejoong meletakkan dua batu sungai yang berbentuk memanjang di kedua sisi api unggun yang menyala di depannya. Kemudian ia meletakkan satu per satu ikan yang sudah ditusuk dengan kayu di atas batu-batu itu, membakarnya. Tak lupa sebelumnya ia melumuri ikan-ikan tersebut dengan kecap asin yang diberi perasan air jeruk nipis, setetes minyak wijen, serta bawang putih dan jahe yang dihaluskan secara merata. Jaejoong yang rupanya memang berniat untuk menikmati makan malam dengan menu ikan bakar hasil olahannya sendiri membawa beberapa bahan yang dibutuhkannya, yang semuanya dimasukkan ke dalam sebuah keranjang rotan yang diletakkannya di salah satu sudut paviliun.
Beberapa kali Jaejoong menambahkan ranting-ranting kering ke dalam api unggun. Cahaya api seketika menyemburat, menerangi halaman paviliun. Suara bergemeretak dari ranting-ranting yang terbakar seakan-akan ingin mengalahkan deru angin yang berhembus cukup kencang. Bunga-bunga api bermunculan dan terbang rendah. Jaejoong membalikkan ikan bakar olahannya. Malam akhirnya merambat, merayapi seluruh pelosok Kerajaan Joseon. Selir Suk menyalakan lampion yang tergantung di setiap sudut paviliun. Ia juga meletakkan beberapa buah lentera di cabang-cabang pohon yang telah mati, membuat suasana di dalam Taman Rahasia itu akhirnya cukup benderang.
Tak lama kemudian, tercium bau harum ikan bakar menyeruak hidung. Jaejoong mengeluarkan sebuah piring keramik datar dari keranjang rotan dan mengalasinya dengan daun pisang. Ia kemudian meletakkan ikan-ikan bakar hasil olahannya ke atas piring tersebut, dan membawanya ke dalam paviliun. Ia lalu mengeluarkan kembali dua buah piring keramik berukuran lebih kecil dan meletakkan masing-masing dua ekor ikan bakar ke atas piring dan menghidangkannya ke hadapan Yang Mulia Raja dan Selir Suk. Ia juga mengeluarkan dua pasang sumpit, dan sebuah mangkuk keramik kecil berisikan potongan cabai hijau, irisan bawang merah dan bawang putih serta jahe, dan kecap asin dari keranjang rotan yang dibawanya.
"Ikan bakar buatan Joongie sudah siap. Ayo, Yang Mulia dan Eomma harus mencobanya," kata Jaejoong. Ia menyerahkan piring berisi ikan bakar pada Selir Suk beserta sepasang sumpit. Sementara dia sendiri mengambil sumpit dan mencomot sebagian isi ikan yang masih mengepulkan uap dari piring satunya lagi. Sebentar ia meniup-niup daging ikan itu, lalu mencelupkannya ke dalam mangkuk keramik. Ia lalu menyuapkan ikan bakar olahannya ke dalam mulut suaminya menggunakan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menengadah di bawah sikunya. Sang raja mengunyah sebentar daging ikan di dalam mulutnya, lalu mengangkat dua ibu jarinya ke arah selir termudanya itu. Dalam hati, sang raja memuji kepintaran selir terkasihnya itu yang mampu menyajikan makanan dengan bahan seadanya, namun hasilnya luar biasa nikmat.
"Cobalah! Ikan bakar ini benar-benar nikmat," ujar Yang Mulia Raja pada Selir Suk. Selir Suk menganggukkan kepala. Ia memegang sumpit dan mulai mencomot sebagian daging ikan. Setelah mencelupkannya ke dalam mangkuk keramik, ia pun mulai mengunyahnya. Dan Selir Suk benar-benar kaget saat merasakan kelezatan dari makanan berbahan sederhana itu.
"Anda benar Yang Mulia. Ikan bakar ini lezat sekali. Joongie, buka mulutmu, Sayang. Eomma akan menyuapimu," ujar Selir Suk sambil mengambil daging ikan yang lain dan menyuapkannya pada Jaejoong yang dengan senang hati menerimanya. Malam itu akhirnya berakhir dengan kegiatan makan malam dengan menu ikan bakar. Jaejoong dan Selir Suk bergantian menyuapi Yang Mulia Raja, lalu sang raja berwajah tampan itu juga bergantian menyuapi kedua selirnya. Sesekali gelak tawa dan canda terdengar di antara mereka, memecah kesunyian di dalam Taman Rahasia. Setelah acara makan malam sederhana itu berakhir, mereka bertiga duduk di beranda paviliun dengan posisi Jaejoong dan Selir Suk mengapit Yang Mulia Raja. Sang raja merengkuh pundak kedua selirnya, mengajak mereka menikmati pemandangan malam berupa sekumpulan kunang-kunang yang seakan menari di atas permukaan air sungai.
ooo 000 ooo
Waktu tanpa lelah terus berputar, sebagaimana ketentuan hukum alam dalam kitab kehidupan. Dan dunia terus berjalan seiring dengan warna dan rupa-rupa cerita di dalamnya. Dari telik sandi yang disebar oleh Kepala Pengawal Kim, didapat laporan bahwa beberapa buah kapal layar berukuran besar telah mendarat di Pelabuhan Timur Kerajaan Joseon. Dari bendera yang berkibar di tiang kapal, dapat dipastikan kalau kapal tersebut berasal dari Kerajaan Ming. Dengan berlabuhnya kapal-kapal besar dari Kerajaan Ming tersebut, bisa dipastikan bahwa peperangan dengan kerajaan tetangga itu tidak mungkin dapat terelakkan lagi. Genderang perang telah ditabuh. Hanya tinggal menunggu waktu kapan pertempuran hebat itu akan terjadi. Ibarat api yang telah disulut, hanya tinggal menunggu hembusan angin untuk membuatnya menjadi kian berkobar. Kerajaan Ming yang dulunya merupakan sekutu Kerajaan Joseon dalam melawan bajak laut Jepang yang mengacau di wilayah semenanjung Korea kini berbalik menjadi musuh, sebab Yang Mulia Raja Yi Yunho dengan tegas menolak permintaan Pimpinan Tertinggi Kerajaan Ming yang menyatakan bahwa ia menginginkan tanda takluk dari kerajaan itu. Sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, sang Raja Sukjong tentu tak menginginkan negara yang dipimpinnya harus tunduk pada kekuasaan pihak lain.
Sang raja berwajah tampan yang telah menerima kabar itu dari Kepala Pengawal Kim beberapa hari sebelumnya mengambil langkah cepat dengan mengumpulkan seluruh pembesar dan pejabat kerajaan untuk merundingkan tindakan yang harus mereka ambil. Setelah dicapai kata sepakat di antara semua fraksi di pemerintahan bahwa mereka akan mempertahankan kerajaan yang dibangun dengan darah dan keringat leluhur itu hingga tetes darah penghabisan, maka Yang Mulia Raja segera mengumpulkan istri-istrinya. Dan di sinilah mereka akhirnya, di sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk pertemuan keluarga kerajaan. Yang Mulia Raja yang selalu tampak agung dalam balutan gonryongpo berwarna merah duduk dengan didampingi oleh Yang Mulia Permaisuri yang tampak anggun dalam balutan dangui dan seuran chima berwarna scarlet. Sementara di hadapannya, selir-selirnya duduk membentuk setengah lingkaran. Selir Hee dari klan Jang yang mengenakan dangui dan seuran chima berwarna ungu muda duduk paling kanan. Disusul Selir Myeong dari klan Park yang mengenakan dangui dan seuran chima berwarna kuning gading. Di sebelahnya, tampak Selir Yeong dari klan Han yang tampak cantik dalam balutan dangui dan seuran chima berwarna putih. Lalu ada Selir Yu dari klan Choi yang mengenakan dangui dan seuran chima berwarna merah muda berdampingan dengan Selir Suk yang juga berasal dari klan Choi yang terbalut dangui dan seuran chima berwarna biru cerah. Sementara Jaejoong dari klan Kim yang tampak memesona dalam balutan dangui dan seuran chima berwarna hijau pucuk daun duduk paling kiri, tepat di samping Selir Suk.
"Aku yakin kalian sudah mendengar apa yang sedang terjadi di luar sana, dan mengetahui maksudku mengumpulkan kalian semua di sini," ujar Yang Mulia Raja dengan suara penuh wibawa, membuka percakapan. Dipandanginya satu per satu wajah para selirnya itu. Ke-enam selirnya itu menganggukkan kepala dengan hormat.
"Tentang kedatangan kapal-kapal Kerajaan Ming di Pelabuhan Timur, Yang Mulia?" Selir Yeong memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan untuk memperjelas maksud perkataan suaminya. Sang raja sedikit menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan salah satu selirnya itu.
"Hal itu juga kah yang membuat Yang Mulia beberapa hari ini kelihatan resah dan gelisah?" sambung Selir Yu yang lagi-lagi mendapat balasan berupa anggukan kecil dari sang raja yang memiliki mata setajam elang itu.
"Pihak Ming sudah mendarat di Pelabuhan Timur. Itu berarti sasaran mereka adalah Istana Changdeok ini. Benarkah begitu, Yang Mulia?" susul Selir Hee yang juga mendapat balasan berupa anggukan kepala.
"Itu benar. Telik sandi yang kita sebarkan telah melapor bahwa ada cukup banyak kapal besar dengan bendera Kerajaan Ming yang mendarat di Pelabuhan Timur. Hal itu berarti, cepat atau lambat kita akan kembali menghadapi peperangan. Saat ini para prajurit kita yang menjaga setiap perbatasan sudah bersiap siaga, hanya tinggal menunggu pergerakan dari musuh. Dan karena sewaktu-waktu perang bisa saja meletus, aku ingin kalian segera mempersiapkan barang-barang kalian seperlunya, selepas kalian keluar dari ruangan ini. Lima puluh prajurit akan mengiringi kalian. Kalian bersama Permaisuri, juga Ibu Suri dan Putera Mahkota harus secepatnya meninggalkan Istana Changdeok ini untuk mengungsi di istana utama yang lain. Kalian aman selama berada di ruangan rahasia bawah tanah di Istana Gyeongbok. Tidak akan ada yang menyangka keberadaan kalian di sana, mengingat kondisi istana yang hampir seluruh bangunannya telah rata dengan tanah. Beberapa panglima kerajaan akan membawa kalian pergi petang ini juga melalui lorong rahasia," jawab sang Raja dengan tegas. Jaejoong yang sejak tadi menundukkan kepalanya segera mengangkat wajahnya.
"Lalu bagaimana dengan Yang Mulia sendiri?" tanya selir termuda itu dengan benak menerka-nerka jawaban apa yang akan ia terima.
"Aku akan tetap berada di sini untuk memimpin peperangan, Joongie," jawab Yang Mulia Raja, seraya memaksakan sebuah senyum di sudut bibirnya. Jaejoong menggeleng cepat.
"Kalau begitu Joongie juga akan tetap berada di sini bersama Yang Mulia."
"Kau akan ikut ke pengungsian bersama rombongan yang lain, Joongie!"
"Tidak! Joongie tidak mau ikut mengungsi kalau Yang Mulia tetap di sini. Joongie juga akan tetap tinggal di sini untuk menemani Yang Mulia!" sentak remaja cantik itu. Selir Suk yang duduk tepat di samping Jaejoong berusaha menenangkan namja berparas menawan itu. Ia menggenggam erat jemari selir termuda itu yang sedang terkepal erat.
"Kau tidak bisa menolak, sebab ini perintah! Tolong mengertilah, Joongie. Aku melakukan ini untuk keselamatan kalian semua. Percayalah, aku pasti kembali dengan selamat. Tunggulah aku di Istana Gyeongbok."
"Dan Yang Mulia mengabaikan keselamatan Yang Mulia sendiri, begitu?" tukas Jaejoong getir.
"Negara ini membutuhkan sumbangan tenaga dan pikiranku, Joongie…,"
"Tidak! Pokoknya Joongie tidak mau! Joongie akan tetap berada di sini untuk mendampingi Yang Mulia. Jangan paksa Joongie untuk mengungsi. Joongie tidak mau!" tegas Jaejoong sambil mati-matian menahan butiran bening yang hendak menyeruak dari pelupuk matanya. Meski ia belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya pada suaminya itu, namun hatinya tak rela membiarkan sang raja berwajah tampan itu sendirian memimpin prajurit untuk berperang.
"Untuk kali ini, maafkan aku karena tidak bisa mengabulkan permintaanmu, Sayang. Petang ini juga kau bersama rombongan yang lain harus segera meninggalkan istana ini!" jawab sang raja dengan ketegasan yang tak terbantahkan. Jaejoong menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan sakit yang tiba-tiba menikam dadanya. Bibirnya bergetar, namun tak satu kata pun yang bisa ia keluarkan.
Selir Hee dan Selir Myeong beranjak dari duduknya, dan menghampiri Jaejoong yang sedang menundukkan kepalanya. Mereka secara bersamaan memeluk remaja cantik itu sambil berusaha menenangkannya. Sebagai seorang istri, mereka turut merasakan kegundahan yang mendera Jaejoong. Bagaimanapun, istri mana yang bisa duduk diam dengan tenang di pengungsian sementara suami harus bergelut dengan maut yang kapan saja bisa datang menjemput?
"Ssshhh, uljima, Joongie-ya. Yang Mulia pasti sudah memikirkan masak-masak segala keputusannya. Jangan mempersulit keadaan. Ikutlah bersama kami ke pengungsian," bujuk Selir Hee.
"Selir Hee benar, Joongie-ya. Dengan begitu, setidaknya kita turut sedikit meringankan beban pikiran Yang Mulia. Pikiran Yang Mulia pasti tidak akan terpecah saat memimpin peperangan karena mengetahui bahwa kita semua berada dalam keadaan yang aman," sambung Selir Myeong, berusaha membujuk Jaejoong untuk mengurungkan niatnya. Jaejoong kembali menggelengkan kepalanya. Ditatapnya suaminya itu dengan airmata yang tak lagi mampu dibendungnya.
"Yang Mulia, Joongie mohon, ijinkan Joongie untuk tetap tinggal dan menemani Yang Mulia. Jangan memaksa Joongie untuk ikut mengungsi. Setidaknya, untuk kali ini jangan memandang Joongie sebagai salah satu selir Yang Mulia. Tapi pandanglah Joongie sebagai seorang namja yang merasa berkewajiban untuk turut serta mempertahankan kedaulatan negaranya. Joongie bisa bertarung. Kim Ahjussi bilang kemampuan ilmu pedang Joongie meningkat pesat. Guru-guru Suci juga mengatakan kalau Joongie menguasai ilmu tentang strategi perang dengan cepat. Jadi Joongie mohon, ijinkan Joongie untuk turut berperang bersama Yang Mulia. Joongie mohon…," rintih remaja cantik itu sambil menjatuhkan diri dengan posisi berlutut di hadapan suaminya.
"Joongie…!" pekik Selir Suk tanpa sadar saat melihat namja cantik yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu berlutut di hadapan sang raja.
"Joongie, jangan bersikap begini. Bangunlah…!" pinta sang raja melihat selirnya itu berlutut di hadapannya. Jika begini kejadiannya, aku menyesal telah mengijinkanmu untuk belajar bersama Putera Mahkota, Joongie, sambung sang raja di dalam hati. Memang, beberapa waktu sebelumnya Jaejoong merengek kepada suaminya, meminta ijin agar diperbolehkan untuk belajar mengenai ketatanegaraan dan pelajaran lainnya bersama Putera Mahkota Yi Changmin, setelah sehari sebelumnya sang putera mahkota juga meminta hal yang sama kepada sang ayah. Dan Yang Mulia Raja yang sangat mencintai namja cantik yang saat itu belum resmi menjadi selirnya, tanpa berpikir dua kali langsung mengijinkannya. Bukan itu saja, bahkan ketika Jaejoong meminta ijinnya untuk mempelajari ilmu pedang, lagi-lagi sang raja tak mampu menolak permintaannya. Bahkan sang raja sendiri yang memilih Kepala Pengawal Kim sebagai guru pedang remaja cantik itu.
"Joongie tidak akan bangun sebelum Yang Mulia mengijinkan Joongie untuk tetap tinggal di sini dan ikut berperang," jawab remaja cantik itu dengan keras kepala. Selir Suk dan selir-selir yang lain hanya saling pandang demi menyaksikan kekeraskepalaan selir termuda itu. Sedang Yang Mulia Raja hanya bisa menghembuskan napas panjang karena tak tahu lagi harus bersikap bagaimana menghadapi selir terkasihnya yang ternyata memiliki sifat keras kepala dibalik sifat manjanya itu.
"Yang Mulia…," sela Yang Mulia Permaisuri yang sejak tadi hanya diam menyaksikan semua kejadian di depan matanya. Wanita berparas cantik itu meraih tangan kanan suaminya, dan menggenggamnya dengan erat. Sebuah senyuman manis terlukis di bibirnya.
"Ya. Ada apa, Permaisuri?"
"Maafkan saya kalau saya terdengar lancang. Tapi menurut saya, apa yang dikatakan oleh Selir Hwan itu cukup masuk akal. Meskipun Selir Hwan merupakan salah satu selir utama Yang Mulia, namun kita tidak boleh menutup mata pada kenyataan bahwa ia tetaplah seorang namja," ucap Yang Mulia Permaisuri dengan nada lembut.
"Dan namja yang kau maksud itu baru berusia lima belas tahun, Permaisuri!" jawab Raja dengan tegas, begitu ia menangkap arah pembicaraan istrinya itu. Yang Mulia Permaisuri menganggukkan kepalanya sambil kembali menghadiahkan senyuman indah untuk suaminya.
"Saya tahu, Yang Mulia. Tapi Selir Hwan bukanlah remaja biasa. Ia justru seorang remaja yang sangat luar biasa karena bisa bertahan menghadapi banyak ujian kehidupan sejak ia berusia delapan tahun, Yang Mulia."
"Dengar, Permaisuri! Peperangan melawan Kerajaan Ming tidaklah sama dengan ujian kehidupan seperti yang kau maksudkan. Aku tidak bisa mengijinkan Joongie untuk tetap tinggal di sini bersamaku dan terjun dalam peperangan."
"Bukankah itu berarti, secara tidak langsung Yang Mulia meragukan kemampuan Selir Hwan? Apa yang Selir Hwan kemukakan itu benar, Yang Mulia. Saya mendengar dari Ayahanda kalau semua Guru Suci yang bertugas mengajari Selir Hwan dan Putera Mahkota mengenai ilmu ketatanegaraan memuji kemampuan Selir Hwan yang sangat cepat dalam menyerap ilmu baru. Dan Selir Hwan sangat berbakat dalam mempelajari ilmu perang. Bahkan saya mendengar sendiri dari mulut Kepala Pengawal Kim yang mengatakan bahwa kemampuan ilmu pedang Selir Hwan hanya setingkat di bawahnya, padahal ia baru mempelajarinya selama tiga purnama. Bukankah dengan mengikutsertakan Selir Hwan dalam peperangan justru menguntungkan pihak kita? Dengan kemampuannya, ia justru bisa memberi masukan yang sangat berharga untuk pasukan kita, Yang Mulia," papar Yang Mulia Permaisuri penuh kelembutan hingga membuat sang raja langsung terdiam. Ia tercenung sesaat dan berusaha mencerna ucapan sang istri. Sejujurnya, pendiriannya mulai sedikit goyah.
Sementara itu, selir-selir lain yang mendengar pembicaraan itu kembali saling pandang. Meskipun tiap kata yang meluncur dari bibir merah Yang Mulia Permaisuri diucapkan dengan penuh kelembutan, namun mereka menangkap dengan jelas maksud tersembunyi di balik semua itu. Wanita cantik yang selalu bersikap anggun penuh kelembutan di depan Yang Mulia Raja itu sudah pasti memiliki rencana keji di benaknya.
"Maaf jika saya lancang telah menyela pembicaraan, Yang Mulia. Tapi saya tidak setuju jika Joongie harus tetap tinggal di sini dan ikut terjun dalam peperangan melawan Kerajaan Ming. Kerajaan Joseon adalah kerajaan yang sangat besar. Kita memiliki jumlah pasukan yang sangat banyak. Tiga ribu prajurit pilihan, seribu punggawa, dan lima ratus panglima perang dan patih. Lima ribu orang tepatnya. Apakah di antara sedemikian banyak pasukan yang kita miliki tidak ada satu orang pun yang menguasai strategi perang hingga kita harus mengikutsertakan Joongie yang sama sekali belum memiliki pengalaman berperang untuk terlibat di dalamnya?" Selir Suk mengemukakan pendapatnya yang langsung menentang dengan tegas pendapat Yang Mulia Permaisuri. Ia bahkan menatap tajam ke arah wanita cantik itu. Sang raja mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan menyetujui pendapat Selir Suk. Hatinya memang berat untuk mengijinkan selir terkasihnya itu untuk tetap tinggal bersamanya dan ikut serta berperang melawan Kerajaan Ming.
"Apa yang kau katakan itu tidak salah, Selir Suk. Tapi jangan terlalu jumawa dengan jumlah pasukan yang kita miliki. Ketika para pendahulu kita berperang melawan perompak Jepang, di atas kertas kita memiliki jumlah pasukan yang jauh lebih banyak. Terlebih lagi kita mendapat bantuan pasukan yang tidak sedikit dari Kerajaan Ming. Seharusnya kita bisa menang dengan mudah. Tapi kenyataannya kita nyaris menelan pil pahit berupa kekalahan. Padahal musuh kita memiliki pasukan dengan jumlah yang jauh lebih kecil. Kita memang meraih kemenangan pada akhirnya, tapi harga yang harus kita bayar adalah nyawa prajurit dan penduduk yang sangat banyak. Kau tentunya tahu betul apa yang menyebabkan kita nyaris mengalami kekalahan pada waktu itu, bukan? Selain kurangnya informasi mengenai kekuatan pihak musuh, strategi perang yang salah juga menjadi penyebab utama, padahal dari segi persenjataan kita memiliki persenjataan yang canggih seperti meriam dan panah api yang kita impor dari Ming. Belajar dari pengalaman masa lalu, jika saat ini ada seseorang yang menguasai strategi perang dengan baik dan bisa meminimalisir jatuhnya korban jiwa dari pihak kita, mengapa tidak kita coba?" kemuka Yang Mulia Permaisuri.
"Bukankah itu terdengar seperti Anda menginginkan Joongie untuk menjadi kelinci percobaan, Yang Mulia Permaisuri?" sambung Selir Hee. Yang Mulia Permaisuri menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Namun di dalam hati, ia cukup terkejut dan menggeram jengkel ketika menyaksikan para selir yang selama ini bermusuhan karena termakan hasutan dari dayang kepercayaan masing-masing bisa duduk berdampingan dengan damai, tanpa aura permusuhan sedikit pun.
"Selir Hee, seandainya aku memiliki kemampuan yang sama seperti Selir Hwan, maka aku juga akan memutuskan untuk tetap tinggal di sisi Yang Mulia. Sayangnya aku hanya seorang wanita yang tidak memiliki kemampuan untuk merumuskan strategi perang, atau memainkan sebilah pedang. Aku hanya mengutarakan pendapatku. Kupikir Selir Hwan berhak mendapat kesempatan untuk menjajal kemampuannya. Aku yakin Yang Mulia Raja tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Selir Hwan. Dan percayalah, aku tidak akan memaksakan pendapatku. Semua keputusan ada di tangan Yang Mulia Raja. Anda berhak untuk memutuskan apa yang menurut Anda terbaik, Yang Mulia," ujar Yang Mulia Permaisuri sambil mengalihkan pandangannya dari Selir Hee, lalu menatap wajah tampan suaminya.
Sang raja kembali terdiam, menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ambil. Ditatapnya Jaejoong yang masih berlutut di hadapannya. Setelah menghela napas untuk kesekian kalinya, Yang Mulia Raja beranjak dari duduknya dan menghampiri selir terkasihnya itu. Dipegangnya kedua pundak remaja cantik itu, lalu memintanya untuk menegakkan tubuhnya.
"Baiklah! Setelah aku mempertimbangkannya masak-masak, aku memutuskan kalau aku akan mengijinkan kau untuk tetap tinggal di sini dan ikut dalam peperangan bersamaku, Joongie. Tapi kau jangan senang dulu, aku memberimu ijin dengan beberapa syarat…," putus Yang Mulia Raja sambil memenggal kalimat akhirnya. Jaejoong yang mendengar hal itu segera mengangkat wajahnya dan menatap mata setajam elang milik suaminya. Mulutnya yang kecil sedikit ternganga, tak menyangka jika akhirnya suaminya itu akan berubah pikiran.
"Benarkah, Yang Mulia?" tanya Jaejoong berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Kedua bola matanya yang bulat dan indah berpijar ceria. Dengan cepat ia bangun dari posisi berlututnya dan kembali duduk seperti semula, di samping Selir Suk. "Yang Mulia benar-benar mengijinkan Joongie untuk tetap tinggal dan ikut berperang?" tanya Jaejoong lagi, untuk memastikan.
"Jika sekali lagi kau mengajukan pertanyaan yang sama, maka aku akan membatalkan keputusanku. Dan jawaban untuk pertanyaanmu adalah iya. Aku mengijinkan kau untuk menemaniku dalam peperangan asal kau mematuhi syarat yang kuajukan," jawab sang raja.
"Andweee! Joongie tidak akan bertanya seperti itu lagi. Lalu, apa syaratnya, Yang Mulia? Katakan saja, Joongie pasti akan mematuhinya. Bahkan jika salah satu syaratnya Joongie harus membersihkan kandang kuda, akan Joongie lakukan asal Yang Mulia mengijinkan Joongie untuk tetap di sisi Yang Mulia dalam peperangan," sahut Jaejoong dengan mantap
"Akan kupertimbangkan kembali mengenai kesediaanmu membersihkan kandang kuda itu," ujar Yang Mulia Raja, membuat Permaisuri dan selir-selir yang lain terperangah tidak percaya. Tidak ada sedikit pun nada jenaka dalam ucapan Penguasa Josen itu. "Kau boleh tetap di sisiku, tapi tak kuijinkan kau untuk mengangkat senjata melawan musuh. Tugas utamamu adalah membantu mengatur strategi perang dengan ahli siasat kerajaan. Selama ini yang memegang jabatan itu adalah Panglima Kang, yang juga merupakan Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon. Kau harus selalu menggunakan baju besi dan tidak boleh bertindak di luar perintahku. Kalau kau merasa syarat yang kuajukan memberatkanmu, maka kau bisa mengemas barang-barangmu dan ikut serta dalam rombongan untuk mengungsi. Dan satu lagi, sekali saja kau bertindak di luar perintahku, aku akan langsung mengirimmu ke pengungsian!" sambung sang raja dengan tegas. Jaejoong menelan ludahnya yang seolah tersangkut di tenggorokan. Ia buru-buru menganggukkan kepalanya, menyanggupi semua syarat yang diajukan suaminya. Baginya, syarat seberat apa pun akan ia jalani asal ia diijinkan untuk tetap berada di sisi sang suami yang berwajah tampan itu.
"Yang Mulia…!" seru Selir Suk dengan mata membulat sempurna. Ia seakan tidak memercayai pendengarannya sendiri. Benarkah suaminya itu telah memutuskan untuk mengijinkan Jaejoong ikut berperang? Sang raja segera mengangkat tangan kanannya, ketika dilihatnya Selir Suk kembali akan mengajukan bantahan.
"Keputusanku sudah bulat dan tidak akan kuubah lagi, Selir Suk. Joongie akan ikut bersamaku. Tidak usah cemas, aku pasti akan menjaganya dengan nyawaku. Kalian semua sebaiknya segera kembali ke kamar peristirahatan masing-masing, dan bergegas mempersiapkan diri!" perintah sang raja pada istri-istrinya itu. "Kau tetap di sini, Joongie!" sambungnya pada Jaejoong yang dijawab oleh namja cantik itu dengan anggukan patuh.
Yang Mulia Permaisuri memutar tubuhnya, hingga ia kini duduk berhadapan dengan suaminya itu. Tatapannya agak kosong dan matanya sedikit berkaca-kaca. Bibirnya yang merah bergetar, namun tak satu pun kata terlontar dari bibir itu. Dari ujung lengan pakaiannya, dikeluarkannya sebuah selendang putih yang segera dililitkannya di leher suaminya itu. Selendang putih yang melambangkan satu tekad untuk mempertahankan negara sampai titik darah penghabisan.
Sang raja merengkuh istrinya itu ke dalam pelukan, dan mengecup lembut kening wanita yang sudah mendampinginya selama belasan tahun dan memberikannya satu-satunya penerus Dinasti Yi.
"Jangan menangis. Aku pasti akan kembali dengan selamat dan membawa pulang kemenangan. Katakan pada Putera Mahkota bahwa aku menyayanginya. Awasi dia, jangan sampai ia melarikan diri lagi saat pelajaran Sejarah, atau mengusili dayang-dayang di Dapur Kerajaan," pesan sang raja, membuat Yang Mulia Permaisuri tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
"Akan saya lakukan, Yang Mulia. Dan berjanjilah kalau Anda akan kembali dengan selamat. Kami menunggu Yang Mulia di Istana Gyeongbok," sahut Yang Mulia Permaisuri dengan nada begitu perlahan. Yang Mulia Raja turut menganggukkan kepalanya. Dengan lembut, sang raja mengangkat kedua tangan istrinya itu, lalu mendekatkannya ke bibirnya. Diciuminya bergantian jari-jemari lentik yang menghiasi tangan indah itu.
"Aku berjanji. Sekarang pergilah berkemas."
Yang Mulia Permaisuri bangkit berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Ia tak langsung meninggalkan ruangan, tapi malah berjalan mendekati Jaejoong. Wanita cantik itu lalu merendahkan tubuhnya, dan menepuk pundak Jaejoong dengan pelan.
"Jaga Yang Mulia dengan baik, Selir Hwan. Dan pastikan kalian akan kembali dengan selamat," ujar wanita itu, penuh tekanan dalam nada suaranya. Ia kemudian berlalu meninggalkan ruangan pertemuan. Tak ada yang menyadari akan senyuman tipis yang terkesan sinis terukir dari bibir merah wanita itu.
Sementara Jaejoong hanya mengangguk kecil dan menatap lurus ke arah punggung wanita itu, yang akhirnya membelok ke kanan dan menghilang di ujung lorong. Satu per satu selir sang raja maju ke depan, dan bergantian memeluk lelaki gagah itu, seolah hendak mengucapkan salam perpisahan. Sang raja membalas pelukan selir-selirnya itu dengan erat, sambil mengecup kening mereka. Tak lupa ia menitipkan beberapa pesan berbeda kepada selir-selir itu. Dan ketika tiba giliran Selir Suk, sang raja memeluk selirnya itu sedikit lebih lama dari yang lain.
"Aku tahu kau kecewa dengan keputusanku. Tapi percayalah, Joongie akan baik-baik saja. Aku berjanji akan membawanya pulang padamu dengan selamat," kata sang raja sambil menyeka airmata yang merambat turun di antara kedua pipi wanita itu. Selir Suk mengangguk cepat dan menyurukkan wajahnya di dada suaminya, berusaha menyembunyikan tangisnya yang hendak pecah. Di dalam hati, Selir Suk percaya bahwa suaminya itu pasti akan melindungi Jaejoong dengan segala cara. Ia tahu seberapa besar cinta sang suami pada remaja cantik itu.
"Eomma jangan mencemaskan Joongie, ne? Joongie bisa menjaga diri Joongie sendiri. Joongie dan Yang Mulia serta seluruh prajurit kita pasti akan mampu memenangkan pertempuran kali ini, Eomma. Jadi berhentilah menangis. Eomma terlihat jelek kalau menangis begitu," hibur Jaejoong sambil memeluk wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Selir Suk mau tak mau tersenyum mendengar ucapan Jaejoong. Ia mengangkat wajahnya, lalu melepaskan pelukan Jaejoong dan Yang Mulia Raja. Ia lalu membungkukkan tubuh, memberi hormat pada suaminya itu, dan segera melangkahkan kaki meninggalkan ruangan pertemuan menyusul selir-selir lain yang lebih dahulu meninggalkan ruangan itu. Tak lupa sebelumnya ia berpesan supaya kedua lelaki yang disayanginya itu kembali dengan selamat, yang dibalas Jaejoong dengan balik berpesan supaya sang Eomma membawa serta ke-sepuluh ekor kelincinya dalam pengungsian.
Setelah semuanya meninggalkan ruangan pertemuan, sang raja bangkit berdiri dari duduknya dan mengajak selir terkasihnya itu untuk duduk di tepi jendela yang terbuka lebar. Jaejoong hanya menganggukkan kepala, sambil mengikuti langkah-langkah kaki suaminya. Mereka kemudian duduk berhadapan dibatasi meja batu rendah, sambil menikmati hembusan angin yang bertiup perlahan.
"Aku tahu kalau kau tidak akan bersikap begitu keras kepala seperti tadi tanpa alasan yang jelas. Nah, sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya ada di dalam benakmu?" tanya sang raja, setelah cukup lama terdiam.
"Eh? Jadi Yang Mulia mengetahuinya? Ugh, kalau begitu untuk apa Joongie sampai susah payah berlutut hingga kedua siku Joongie ini sakit?" rajuk sang selir dengan nada manja tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Ia malah memajukan bibir merahnya yang terlihat begitu menggiurkan.
"Dasar nakal! Kau sengaja menggodaku, hemmm? Sekarang cepat katakan, apa yang kau pikirkan?" tanya sang raja sambil menarik hidung mancung selir terkasihnya itu.
"Hihihi…," Jaejoong terkikik pelan. Ia lalu menghembuskan napas panjang sambil meletakkan kedua sikunya di atas meja batu, dan menatap lekat wajah tampan suaminya dengan kedua tangan menopang dagu. "Seperti yang dikatakan oleh Selir Hee, mendaratnya kapal-kapal Kerajaan Ming di Pelabuhan Timur menandakan bahwa mereka mengincar Istana Changdeok yang merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Joseon. Sejujurnya, Joongie sudah cukup lama juga mengamati sepak terjang Kerajaan Ming dalam mendapatkan daerah taklukan dan mempelajari taktik perang mereka. Dari hasil pengamatan Joongie, Joongie menarik kesimpulan bahwa mereka selalu menggunakan cara dan taktik perang yang sama. Mereka akan langsung menghancurkan desa yang paling dekat dengan pusat pemerintahan dari kerajaan yang mereka incar. Sementara sepengetahuan Joongie, hanya ada tiga desa yang merupakan desa terdekat dengan Joseon dari sisi timur, yakni Desa Shinjeom, Desa Neunghyeon, dan Desa Yeoju. Dan di antara ke-tiga desa itu, Desa Yeoju adalah desa yang paling dekat dan menjadi pintu gerbang masuk ke istana ini," ucap Jaejoong. Raut wajahnya terlihat begitu serius, berusaha menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya.
"Lalu?" tanya sang raja yang belum mengerti akan jalan pikiran selirnya itu. Ia sama sekali tidak bisa menangkap arah pembicaraan mereka.
"Yang ingin Joongie sampaikan ialah, jika pihak Ming ingin menguasai Istana Changdeok, maka mereka harus masuk dari Desa Yeoju untuk bisa mencapai istana utama. Dan itu artinya, ada bahaya besar mengintai desa itu. Cepat atau lambat, pihak lawan akan menyerang Desa Yeoju. Karena itu kita harus bertindak cepat dan mengatur siasat yang tepat untuk mencegah hal itu terjadi. Menurut Joongie, sebaiknya kita menjadikan Desa Yeoju sebagai pusat pertahanan pasukan kita, Yang Mulia. Joongie sudah mempelajari seluk-beluk desa itu. Di sana ada sebuah hutan yang bisa dilewati pihak musuh sebagai jalan masuk, dengan jurang-jurang yang dalam mengapit di kedua sisi. Di sebelah timur desa itu terdapat bukit-bukit batu yang sangat tinggi. Tapi Joongie yakin pihak Ming tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan menyeberang dari sana. Itu terlalu beresiko. Jadi, mereka pasti akan memilih hutan itu sebagai jalan masuk satu-satunya dan menggempur Desa Yeoju. Dengan begitu, mereka pikir mereka akan menghemat waktu, tenaga, juga menekan jatuhnya korban dari pihak mereka," jelas Jaejoong panjang lebar.
"Tapi tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan melewati jalur sebelah barat, Sayang…," sanggah Yang Mulia Raja setelah merenungkan semua ucapan selir terkasihnya itu.
"Itu benar, Yang Mulia. Tapi mereka harus menyeberangi lautan terlebih dahulu. Dan hal itu justru sangat menguntungkan pasukan kita. Armada Geobukseon[40] akan dengan mudah menggempur dan menghancurkan mereka. Sebagai bekas sekutu kita, mereka pasti akan berpikir dua kali untuk menghadapi armada Kapal Kura-Kura yang kita miliki. Joongie sangat yakin kalau mereka tidak akan menempuh jalan lain lagi. Mereka pasti akan tetap menyerang Desa Yeoju dengan segala cara. Yang Mulia bisa mengirim Kim Ahjussi untuk memastikannya. Jika pihak Ming sampai membangun benteng pertahanan di Desa Yeoju, itu berarti perkiraan Joongie benar, dan kita harus segera menempatkan sebagian besar prajurit di sana untuk mencegah kemungkinan terburuk."
Sang raja terdiam untuk beberapa saat. Dalam hati, ia membenarkan perkataan selirnya itu. Apa yang diutarakan oleh Jaejoong memang sangat masuk akal. Bagaimanapun, Kerajaan Ming pernah menjadi sekutu mereka dan tahu persis kekuatan militer Kerajaan Joseon. Untuk menghadapi musuh yang sangat mengenal kekuatan mereka, tidak bisa hanya dengan mengandalkan jumlah pasukan yang banyak. Strategi perang yang jitu dan tepat sasaran justru sangat diperlukan dalam keadaan seperti sekarang ini.
"Jika apa yang kau katakan mengenai benteng pertahanan itu benar, maka itu artinya pihak Ming memilih peperangan di daratan. Itu sedikit melegakan buatku. Akan sangat sulit bagi kita jika mereka memilih pertempuran di lautan. Meski kita memiliki Kapal Kura-Kura, namun pihak Ming juga memiliki meriam, dan mereka sangat mahir dalam menggunakannya. Hal itulah yang akhir-akhir ini cukup mengganggu pikiranku. Persediaan meriam yang kita miliki sudah menipis, dan delegasi yang kukirim untuk merundingkan kesepakatan pembelian meriam dengan pihak Barat belum membawa hasil seperti yang diinginkan," tutur sang raja. Jaejoong menurunkan kedua tangannya yang sejak tadi menyangga dagunya. Ia lalu beringsut dari duduknya, dan memilih untuk duduk di atas pangkuan suaminya. Sang raja segera memeluk pinggang ramping selir terkasihnya itu dengan kedua lengannya yang kokoh. Aroma vanilla yang menguar dari tubuh sang selir langsung menenangkan hati sang raja.
"Berdasarkan pengamatan Joongie, pihak Ming tidak pernah menghancurkan infrastruktur daerah taklukannya jika mereka memilih berperang di daratan, Yang Mulia. Itulah sebabnya mengapa mereka selalu memilih untuk langsung menyerang ke pusat pemerintahan setiap daerah yang mereka incar. Tapi untuk berjaga-jaga, tidak ada salahnya kita membawa persediaan meriam kita yang sudah menipis itu seperlunya. Paling tidak, sampai negoisasi dengan pihak Barat selesai dan mereka menyetujui penawaran yang kita ajukan," sahut Jaejong sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang suaminya.
Sang Raja kembali menganggukkan kepalanya. Untuk beberapa saat tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Masing-masing larut dalam pikiran sendiri. Jaejoong terlihat mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung telunjuk kanannya, seakan sedang memikirkan sesuatu. Tindakannya itu tentu saja menarik keingintahuan suaminya.
"Ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?" tanya sang raja langsung.
"Eummm…. Sebenarnya, sejak tadi Joongie ingin sekali menanyakan perihal ruangan rahasia bawah tanah yang terdapat di Istana Gyeongbok yang sudah hangus terbakar bersama istana timur dan barat lainnya. Mengapa baru sekarang Joongie mengetahui keberadaan ruangan rahasia itu? Di buku pelajaran Sejarah yang Joongie baca, tidak disebutkan mengenai adanya suatu ruangan rahasia yang terdapat di bawah puing-puing Istana Gyeongbok, Yang Mulia," jawab Jaejoong seraya menjelaskan apa yang mengganjal di hatinya.
"Memang tidak banyak yang mengetahui hal itu, Sayang. Karena itulah maka di dalam kitab atau buku Sejarah mana pun, tak akan kau temui halaman yang membahas mengenai ruangan rahasia bawah tanah Istana Gyeongbok. Setelah kebakaran hebat yang disebabkan oleh pemanas ruangan yang membumihanguskan bagian-bagian vital Istana Gyeongbok, pemimpin kerajaan terdahulu segera memerintahkan pembangunan ruangan rahasia itu. Dengan bantuan arsitek dari Barat, ruangan rahasia bawah tanah itu didesain dengan bentuk yang sama persis dengan ruangan istana yang ada di atasnya. Karena itulah maka tidak usah heran jika di sana juga terdapat ruang belajar dan dapur. Tenaga-tenaga yang membangunnya juga adalah ahli pertukangan dan arsitek yang telah disumpah untuk tidak akan membocorkan keberadaan ruangan rahasia itu. Ketika invasi Jepang beberapa puluh tahun yang lalu, beberapa anggota keluarga kerajaan terdahulu juga mengungsi di ruangan bawah tanah tersebut hingga keadaan kembali aman. Di sana merupakan tempat pengungsian yang paling aman sejauh ini," jelas Yang Mulia Raja Sukjong panjang lebar. Jaejoong terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tak lagi meneruskan pertanyaannya. Untuk beberapa saat mereka kembali terdiam, hingga hanya desir angin yang berhembus menyapa pendengaran.
"Sayang, sebaiknya kau kembali ke kamarmu, dan tunggu aku di sana," kata Yang Mulia Raja, setelah cukup lama mereka berdiam diri. Jaejoong yang masih berada di atas pangkuan suaminya memutar tubuhnya.
"Lalu Yang Mulia sendiri hendak ke mana?"
"Ada beberapa hal yang harus kubicarakan dengan Panglima Kang dan Kepala Pengawal Kim," jelas sang raja. Ditatapnya kedua bola mata sang selir yang begitu indah, dengan bulu-bulu lentik yang menghiasinya. Tangannya terangkat dan menjepit dagu Jaejoong. Sang raja mendekatkan wajahnya ke wajah namja cantik itu. Bibir mungil selir termuda itu sedikit terbuka dengan mata tidak berkedip. Deru napas semakin terasa hangat menerpa permukaan kulit ketika wajah mereka semakin dekat. Bibir tebal berbentuk hati milik sang raja menyentuh lembut bibir Jaejoong. Jaejoong melingkarkan tangannya ke leher suaminya. Ia yang mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan suaminya, perlahan membalas ciuman suaminya. Bibir mereka semakin rapat menyatu.
"Ah…," desah Jaejoong dengan napas sedikit tersengal, ketika sang raja mengakhiri ciuman mereka. Wajahnya yang seputih susu mendadak memerah selayaknya tomat matang. Sang raja tertawa kecil melihat raut malu yang terpampang dari wajah cantik selirnya. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari pinggang ramping Jaejoong, dan mengajak sang selir berdiri.
"Aku pergi dulu," pamit Yang Mulia Raja sambil mengecup kening Jaejoong. Jaejoong hanya mengangguk singkat sambil membungkukkan tubuhnya. Ia terus memandangi punggung suaminya, hingga bayangannya menghilang dari pandangannya. Setelah itu, ia pun turut melangkahkan kakinya, meninggalkan ruangan pertemuan tersebut.
ooo 000 ooo
Malam sudah jatuh sedemikian larut menyelimuti seluruh pelosok Kerajaan Joseon ketika Kepala Pengawal Kim yang didampingi salah seorang panglima muda kepercayaannya yang sering dipanggil Panglima Shin sampai di luar perbatasan. Tetes-tetes embun mulai menitik di dedaunan, di antara hembusan angin yang terasa begitu dingin seolah hendak membekukan tulang-belulang. Binatang-binatang malam juga mulai keluar dari sarangnya. Akan tetapi, keadaan itu tidak sedikit pun membuat mereka memelankan laju kuda yang mereka tunggangi. Malah sebaliknya, kedua orang itu terus memacu kuda tunggangannya dengan cepat, seolah sedang berpacu melawan waktu, semakin jauh meninggalkan kerajaan yang juga menjadi pusat dari penjuru mata angin pertama. Dua ekor kuda gagah berbulu hitam dan coklat itu terus digebah oleh penunggangnya dengan sangat cepat menyeberang sebuah padang rumput yang tidak begitu luas, dan langsung menerobos masuk ke dalam hutan.
Ketika Kepala Pengawal Kim dan Panglima Shin tiba di tepi sebuah sungai kecil yang merupakan tepi hutan yang baru saja mereka lewati, rembulan sudah berada tepat di atas kepala. Warnanya kuning kemerahan dan terlihat membulat sempurna. Kepala Pengawal Kim yang memiliki nama lengkap Kim Junsu itu tiba-tiba menghentikan lari kuda hitamnya, tepat di tepian sungai kecil dengan aliran tenang itu. Panglima Shin yang melihat tindakan kepala pengawal itu juga ikut menghentikan lari kuda coklat tunggangannya. Untuk sesaat, kedua lelaki yang mengenakan pakaian selayaknya rakyat biasa itu saling pandang, kemudian sama-sama melompat turun dari punggung kuda tunggangan masing-masing. Mereka terdiam setelah kaki mereka menapak tanah berumput yang dingin dibasahi embun. Pandangan mereka lurus tertuju ke seberang sungai yang tidak begitu dalam di depan mereka.
"Apa kau mendengar sesuatu, Won Gi?" tanya Kepala Pengawal Kim dengan suara pelan dan agak sedikit ditekan, memecah kesunyian di antara mereka.
"Iya, Hyung[41]. Seperti suara denting senjata yang beradu. Tapi aku tidak terlalu yakin," sahut Panglima Shin yang memiliki nama lengkap Shin Won Gi setelah memasang telinganya baik-baik. Suaranya juga terdengar pelan.
"Aku juga menduga itu suara pertarungan. Menurutku arahnya dari seberang sungai ini, Won Gi. Sepertinya cukup jauh dari sini," sambung Kepala Pengawal Kim sambil mengira-ngira.
Panglima Shin hanya membisu saja, meski ia tetap menajamkan pendengarannya. Dan tanpa bicara lagi, mereka kembali berlompatan naik ke punggung kuda masing-masing dan langsung menggebahnya dengan cepat, menyeberangi sungai yang tidak begitu besar serta berair dangkal ini. Hanya dalam waktu sebentar, mereka sudah berada di seberang sungai. Kuda tunggangan mereka terus digebah menuju arah sumber suara yang terdengar sayup-sayup. Terkadang timbul tenggelam dipermainkan angin.
"Hiya! Hiyaaa…!"
Kepala Pengawal Kim yang merupakan salah seorang ahli pedang utama Kerajaan Joseon itu semakin cepat menggebah kuda hitamnya, saat suara yang semula hanya sayup-sayup semakin jelas terdengar. Panglima Shin yang menunggang kuda berwarna coklat terlihat tertinggal cukup jauh di belakang. Kuda tunggangannya memang tidaklah secepat kuda tunggangan Kepala Pengawal Kim, hingga tidak mungkin ia bisa mengimbangi lari kuda hitam itu.
"Hiya! Hiyaaa…!"
Kepala Pengawal Kim terus memacu kudanya semakin cepat, ketika tak jauh di depannya terlihat kobaran api dari sebuah desa kecil yang diketahuinya bernama Desa Yeoju. Dan suara jeritan-jeritan melengking memecah kesunyian malam serta denting senjata beradu yang ditingkahi teriakan-teriakan pertarungan, begitu jelas terdengar. Tampaknya semua penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani di desa kecil itu sedang mempertahankan desanya yang digempur oleh orang-orang tidak dikenal.
"Hup! Hiyaaat…!" Kepala Pengawal Kim langsung melompat dari punggung kuda hitamnya yang masih terus berlari cepat.
"Hieeegkh…!" kuda hitam itu seketika menghentikan larinya, sambil meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ke udara, begitu penunggangnya tidak lagi ada di punggungnya. Sedangkan Kepala Pengawal Kim langsung mencabut pedangnya yang sejak tadi tersampir di punggungnya dan menghajar orang-orang berpakaian kulit binatang yang sedang menyerang desa kecil itu.
"Sebaiknya kalian semua cepat menyingkir…! Selamatkan keluarga kalian masing-masing…!" seru Kepala Pengawal Kim, menyuruh penduduk Desa Yeoju yang sedang bertempur untuk menyingkir dari arena pertempuran.
"Hiyaaat…!"
Sambil berteriak menggelegar, kepala pengawal yang berwajah manis itu melompat menerjang orang-orang berpakaian kulit binatang itu. Pedangnya yang bergagang kepala naga berkelebat begitu cepat, membuat jeritan-jeritan melengking tinggi terdengar menyayat saling sambut. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, ia berhasil menewaskan hampir separuh pihak lawan. Dan pada saat itu, terlihat Panglima Shin sudah sampai di desa itu. Panglima berwajah tampan yang memiliki lesung pipi itu langsung menerjang orang-orang berpakaian kulit binatang itu dari atas kuda coklatnya. Dengan pedang perak yang merupakan senjata andalannya, sang panglima muda mengamuk bagai banteng yang terluka sambil mengendalikan kuda tunggangannya.
Semua penduduk Desa Yeoju yang mengenali Kepala Pengawal Kim sebagai seorang pendekar pengelana yang sering singgah di desa mereka, langsung bersorak gembira. Seketika, semangat juang mereka yang semula meredup bangkit kembali. Dan mereka tidak mau tinggal diam begitu saja, walaupun Kepala Pengawal Kim sudah menyuruh mereka menyingkir. Sambil berteriak-teriak penuh semangat, mereka membantu menghajar orang-orang yang menyerang desanya dengan persenjataan seadanya. Maka jeritan-jeritan kematian pun semakin sering terdengar bersahutan. Dan tubuh-tubuh bermandikan darah semakin banyak berjatuhan tumpang tindih.
Melihat semua penduduk Desa Yeoju yang terus merangsek membela desa kelahirannya, Kepala Pengawal Kim tidak bisa lagi mencegah. Maka gerakan-gerakan pedangnya semakin dipercepat, membuat tubuhnya seolah lenyap ditelan gulungan angin yang muncul akibat kelebatan pedangnya.
"Hiya! Hiya! Yeaaah…!"
Tak jauh dari Kepala Pengawal Kim, Panglima Shin terus mengendalikan kudanya, sambil menggerakkan pedang perak miliknya, membantu kepala pengawal itu, sehingga membuat orang-orang asing berpakaian kulit binatang itu menjadi kalang kabut. Dan pada saat bersamaan, terdengar satu teriakan memberi perintah yang sangat lantang menggelegar. Dan ternyata, teriakan itu membuat orang-orang asing itu lari tunggang-langgang meninggalkan Desa Yeoju. Namun, beberapa di antaranya masih ada juga yang ambruk bersimbah darah, terkena lemparan tombak, golok bahkan cangkul dari para penduduk.
Cring!
Kepala Pengawal Kim langsung memasukkan pedang bergagang kepala naga miliknya ke dalam warangka yang tersampir di punggungnya. Saat itu, Panglima Shin yang juga telah memasukkan pedang peraknya ke dalam warangka, sudah turun dari punggung kuda coklatnya. Langsung dihampirinya Kepala Pengawal Kim bersamaan dengan seorang lelaki tua berjubah putih yang juga menghampiri sang kepala pengawal itu sambil menggenggam sebilah golok berlumuran darah. Sementara semua penduduk desa tampak bersorak-sorai gembira dapat mengusir para penyerang yang menggempur desa mereka.
"Sungguh kebetulan kalian datang tepat pada waktunya, Tuan Pendekar. Kalau tidak, pasti desa ini hanya tinggal nama dan sudah rata dengan tanah," kata lelaki tua itu yang ternyata adalah Kepala Desa Yeoju. Namanya Sung Ji Wook, atau lebih sering dipanggil Sung Ahjussi oleh Kepala Pengawal Kim. Kepala desa itu memang sudah sangat mengenal Kepala Pengawal Kim yang selalu mengaku sebagai pendekar pengelana setiap kali singgah dan menginap di desa itu. Namun baru kali ini ia melihat Panglima Shin yang mengaku sebagai rekan perjalanan Kim Junsu.
"Siapa orang-orang berpakaian kulit binatang itu, Sung Ahjussi? Mereka tak terlihat seperti penduduk Joseon," tanya Kepala Pengawal Kim.
"Memang, Tuan. Mereka itu adalah para prajurit Ming. Ahjussi yakin mereka pasti akan kembali lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar untuk menyerang desa ini. Mereka bahkan telah menghancurkan Desa Shinjeom dan Desa Neunghyeon sebelum sampai ke sini," jawab sang kepala desa.
"Apa…?!"
Kepala Pengawal Kim terlonjak kaget mendengar berita bahwa dua buah desa yang diketahuinya sebagai desa pemasok bahan sayuran ke istana itu telah dimusnahkan hanya dalam waktu satu malam. Hal itu memang di luar perkiraan mereka. Untung saja ia dan Panglima Shin lebih cepat menghadang di Desa Yeoju, sehingga desa yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian itu tidak bernasib sama dengan dua desa lainnya.
"Sung Ahjussi, sebaiknya tenangkan dulu pendudukmu. Dan singkirkan mayat-mayat ini. Nanti kita bicara lebih banyak lagi di rumahmu," saran Kepala Pengawal Kim.
"Baik, Tuan. Aku senang kalau kalian berdua bersedia tinggal di desa ini, sampai pengacau-pengacau itu tidak ada lagi. Aku yakin mereka tidak akan puas sebelum bisa menghancurkan desa ini. Apalagi, tujuan utama mereka adalah Istana Changdeok. Mereka hendak menguasai Kerajaan Joseon," kata kepala desa itu.
Seketika itu juga, seluruh aliran darah di tubuh Kepala Pengawal Kim jadi berdesir hebat. Diingatnya kembali pembicaraannya dengan Yang Mulia Raja Sukjong dan Panglima Kang mengenai pendapat Selir Hwan. Dan ternyata, semua yang dikatakan oleh selir termuda itu mendekati kebenaran. Pihak Ming sudah melakukan serangan pertama pada Desa Yeoju, dan akan terus menggempur desa itu dengan segala cara untuk dapat masuk ke Joseon dan menguasai Istana Changdeok yang merupakan pusat pemerintahan Joseon. Kepala Desa Sung yang sudah meninggalkan Kepala Pengawal Kim untuk menenangkan penduduknya tidak sempat melihat perubahan wajah pemuda itu. Hanya Panglima Shin yang bisa melihat perubahan raut wajah Kepala Pengawal Kim. Dan menggenggam tangannya erat-erat. Seakan, ingin diberinya kekuatan pada sang kepala pengawal berwajah manis yang diam-diam dicintainya. Kepala Pengawal Kim hanya tersenyum sedikit. Segera tubuhnya berbalik, dan melangkah menghampiri kuda hitamnya. Panglima Shin yang berusia setahun lebih muda mengikuti langkah Kepala Pengawal Kim sambil menuntun kuda coklat tunggangannya.
"Won Gi…. Sebaiknya kau kembali ke Istana Changdeok malam ini juga," kata Kepala Pengawal Kim setelah berada di samping kuda hitam tunggangannya.
"Untuk apa, Hyung…?" tanya Panglima Shin dengan kening berkerut tak mengerti.
"Kau harus segera melaporkan keadaan ini pada Yang Mulia Raja. Katakan padanya tentang keadaan di sini. Juga sampaikan pada beliau bahwa aku meminta untuk melipatgandakan penjagaan di setiap perbatasan. Ada kemungkinan mereka tidak hanya akan menyerang dari sini saja," kata Kepala Pengawal Kim, langsung memerintah.
"Lalu Hyung sendiri?" tanya Panglima Shin lagi, meminta penjelasan lebih jauh.
"Aku akan berusaha menghadang mereka dari desa ini. Kalau perlu, menghancurkannya," sahut Kepala Pengawal Kim dengan tegas.
"Hanya seorang diri?" Panglima Shin memastikan.
"Sejak kapan kau meragukan kemampuanku, Won Gi? Aku bisa menjaga diriku sendiri," sentak Kepala Pengawal Kim, sedikit berang. "Sebaiknya, cepat kembali ke istana! Dan katakan pada Panglima Perang Utama Kerajaan, aku meminta satu pasukan prajurit piihan ke desa ini secepatnya," perintah Kepala Pengawal Kim.
Mendengar perintah tegas itu, Panglima Shin tidak bisa lagi bersuara. Tanpa banyak bicara lagi, panglima muda berwajah tampan itu langsung melompat naik ke punggung kudanya. Sejenak dipandanginya pemuda yang dicintainya itu, lalu digebahnya kuda coklat tunggangannya cepat meninggalkan Desa Yeoju ini. Kepergian Panglima Shin tentu saja mendapat perhatian dari Kepala Desa Sung. Lelaki tua itu bergegas menghampiri Kepala Pengawal Kim yang masih berdiri di samping kuda hitamnya. Kepala Pengawal Kim hanya melirik sedikit saja, saat menyadari Kepala Desa Sung sudah berada di sampingnya.
"Teman perjalananmu itu hendak pergi ke mana, Tuan Pendekar?" tanya Kepala Desa Sung langsung.
"Ke Istana Changdeok," sahut Kepala Pengawal Kim, tanpa berpaling sedikit pun juga.
"Untuk apa?"
"Memberi tahu pihak istana untuk bersiap-siap menghadapi orang-orang dari Ming. Aku juga meminta prajurit dari sana, untuk menjaga desa ini, Ahjussi," jelas Kepala Pengawal Kim singkat.
"Oh! Kau cepat sekali bertindak, Tuan Pendekar. Mereka memang kuat dan banyak sekali, perlu satu pasukan prajurit terlatih untuk menghadapi mereka. Tapi aku yakin, para prajurit Kerajaan Joseon pasti mampu menghancurkan mereka," kata Kepala Desa Sung gembira. "Semua penduduk desa ini akan kukerahkan untuk membantu, Tuan."
"Jangan memanggilku begitu, Ahjussi. Panggil saja aku Junsu," balas Kepala Pengawal Kim sambil tersenyum kecil, tapi terasa hambar sekali. Kepala Pengawal yang berusia muda itu sudah bisa menilai, bagaimana kekuatan pihak Ming kali ini. Walaupun hanya sebentar saja memukul mundur mereka, tapi ia sudah bisa memperkirakan serta mengukur kekuatan pihak musuh. Kerajaan Ming memang lawan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Apalagi, mereka sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi segala macam bentuk pertempuran. Baik di daratan atau di lautan. Sedikit perasaan ragu menyelinap di hati Kepala Pengawal Kim, namun cepat-cepat ditepisnya. Sebagai seorang kepala pengawal, ia sendiri tidak ingin pihak musuh sampai menginjakkan kakinya di Kerajaan Joseon.
ooo 000 ooo
Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan semburat cahayanya yang keemasan di ufuk timur, pasukan prajurit Kerajaan Joseon yang berjumlah lima ratus orang sudah berada di Desa Yeoju ini. Kedatangan mereka dipimpin langsung oleh Yang Mulia Raja Sukjong dan Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon, yakni Panglima Kang Ha Kyo dari fraksi Selatan. Seorang panglima berperawakan tinggi besar dengan kumis tipis melintang di atas bibir, yang semakin menegaskan kesan gagah yang melekat padanya.
Sang Raja Sukjong yang memimpin rombongan dengan menunggang seekor kuda hitam berpelana merah dengan sulaman benang emas di kedua sisinya, terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian perangnya. Jaejoong yang ikut serta dalam rombongan, juga mengenakan pakaian perang sambil menunggang seekor kuda putih yang merupakan hadiah dari sang suami. Rambutnya yang panjang ia ikat sebagian di tengah kepala menyerupai ekor kuda, sementara sisanya ia biarkan tergerai. Sebuah ikat kepala putih tampak melingkar di kepalanya, membuat penampilannya tak ubah seorang pendekar.
Kepala Pengawal Kim yang sudah kembali memakai seragamnya, langsung membawa Yang Mulia Raja dan Panglima Kang serta Jaejoong ke rumah Sung Ahjussi, setelah menempatkan prajurit yang baru tiba di perbatasan desa yang dilalui para prajurit Ming semalam.
Kepala Desa Sung langsung membungkuk memberi hormat pada raja muda yang sangat dihormatinya itu. Ia senang sekali menerima kedatangan mereka. Akan tetapi, kepala desa itu juga sangat terkejut begitu mengetahui bahwa Kim Junsu yang selama ini dikenalnya sebagai seorang pendekar pengelana, ternyata merupakan seorang kepala pengawal kepercayaan Yang Mulia Raja.
Yang Mulia Raja Sukjong, Panglima Kang, Jaejoong dan Kepala Pengawal Kim tidak lama berada di rumah Kepala Desa Sung, karena harus kembali bergabung bersama prajurit penjaga perbatasan yang sudah mendirikan tenda-tenda di sana. Tenda paling besar diperuntukkan bagi Yang Mulia Raja dan Jaejoong, yang diapit oleh tenda yang diperuntukkan bagi Panglima Kang dan Kepala Pengawal Kim. Lalu juga ada puluhan tenda lain untuk para prajurit. Sementara, pemuda-pemuda desa yang memang sudah diperintahkan Kepala Desa Sung, ikut membantu memperkuat prajurit yang akan menyelamatkan desa mereka dari kehancuran. Beberapa di antara mereka menyiapkan makanan dan minuman seadanya untuk para prajurit Kerajaan Joseon.
"Kau datang tidak bersama Panglima Shin, Kang Ahjussi? Di mana dia…?" tanya Kepala Pengawal Kim langsung, begitu berada di dalam tenda peristirahatan yang disediakan untuk Panglima Kang. Saat itu, hari sudah merangkak menjelang petang.
"Panglima Choi meminta Panglima Shin membantunya mengatur penjagaan di seluruh gerbang masuk ke Joseon,"sahut Panglima Kang sambil meneruskan kegiatannya mengasah pedang.
"Lalu, apakah sudah ada tanda-tanda mereka berada di sekitar Joseon, Kang Ahjussi?" tanya Kepala Pengawal Kim lagi.
"Belum, Junsu-ya. Dari telik sandi yang kusebar, belum ada laporan mengenai keberadaan mereka di tempat lain, selain di desa ini. Aku berharap, mereka hanya akan melalui desa ini saja, seperti yang dikatakan oleh Selir Hwan. Sehingga kita bisa lebih mudah memukul mundur mereka," ujar Panglima Kang agak mendesah, seperti bicara pada diri sendiri. Diletaknya kembali pedangnya yang sudah terasah tajam di atas meja kayu persegi berkaki rendah di depannya. Ia lalu menuang arak dari sebuah poci ke dalam dua buah cawan kecil. Satu cawan diberikannya kepada Kepala Pengawal Kim yang langsung menenggak isi cawan hingga tandas begitu cawan tersebut berpindah tangan. Panglima Kang tersenyum tipis, lalu meneguk araknya.
"Mudah-mudahan saja begitu, Kang Ahjussi. Aku juga berharap semua analisa Selir Hwan benar," sahut Kepala Pengawal Kim, sambil meletakkan cawan yang telah kosong ke atas meja. "Yang penting sekarang, kita harus mempersiapkan diri menghadapi serangan mereka. Firasatku mengatakan kalau besok malam mereka akan kembali menyerang desa ini."
"Tapi yang kudengar, mereka tidak selalu bergerak malam hari, Junsu-ya. Menurut pengamatan Selir Hwan, kapan pun pihak Ming mau, mereka pasti akan langsung menyerang dan menghancurkan desa yang terdekat dengan kerajaan yang diincarnya. Ah, jujur kukatakan, aku semakin kagum dengan selir termuda Yang Mulia Raja itu. Sejauh ini, semua yang dikemukakannya memang benar. Aku juga sangat mengagumi siasat-siasat perang yang diutarakannya padaku. Sama sekali tak terlihat jika usianya masih sangat belia ketika ia mulai mengemukakan pemikiran-pemikirannya yang cemerlang," kata Panglima Kang, sambil memuji kemampuan mengatur stategi yang dimiliki oleh Jaejoong. Kim Junsu menanggapinya dengan menyunggingkan sebuah senyuman manis. Kepala pengawal itu mengangguk-angguk tanda setuju.
"Bukan hanya kau saja yang mengaguminya, Ahjussi. Bahkan Guru-guru Suci juga memuji kemampuannya yang sangat cepat dalam mempelajari ilmu baru. Ia memang memiliki bakat besar yang tersembunyi di balik tubuh kecilnya," sambung Kepala Pengawal Kim. Kepala pengawal yang mengajar sang selir ilmu pedang itu dalam hati juga memuji namja cantik yang terkadang kekanakan itu. "Dan jika ia berkata seperti itu, maka kita harus menyiagakan prajurit kita setiap saat untuk berjaga-jaga terhadap serangan mendadak pihak musuh," lanjut Kepala Pengawal Kim.
"Memang begitulah titah Yang Mulia," sahut Panglima Kang yang berusia setengah baya itu. Kembali diisinya cawannya yang telah kosong dengan arak manis yang langsung diteguknya.
Kepala Pengawal Kim kembali mengangguk-angguk. Dikaguminya kemampuan rajanya yang begitu cepat menanggapi akan bahaya ini. Sang raja berwajah tampan itu langsung menyiagakan seluruh prajurit Kerajaan Joseon.
"Aku pergi dulu, Ahjussi," kata Kepala Pengawal Kim sambil bangkit berdiri. Disambarnya pedang bergagang kepala naga miliknya yang diletaknya di atas meja berdampingan dengan pedang Panglima Kang, dan langsung menyampirkannya di punggung.
Dan sebelum Panglima Kang bisa bertanya, Kepala Pengawal Kim sudah melangkah keluar dari tenda. Sementara, Panglima Kang mengikuti dari belakang. Seorang prajurit langsung menghampiri kepala pengawal itu sambil menuntun seekor kuda hitam. Kepala Pengawal Kim menerima tali kekang kuda hitam tunggangannya, dan cepat melompat naik. Sebentar ditatapnya Panglima Kang, kemudian kudanya diputar berbalik.
"Hiyaaa…!"
Tanpa banyak bicara lagi, Kepala Pengawal Kim langsung menggebah cepat kudanya meninggalkan perbatasan Desa Yeoju yang kini dijaga lima ratus orang prajurit dari Kerajaan Joseon, dipimpin langsung Yang Mulia Raja Sukjong dan Panglima Kang. Sengaja kepala pengawal itu menelusuri arah yang dilalui para prajurit Ming semalam. Masih begitu jelas terlihat jejak-jejak mereka yang terus menembus hutan.
"Hooop…!"
Kepala Pengawal Kim menghentikan lari kudanya, setelah tiba di tengah hutan. Kemudian pemuda itu melompat turun dengan gerakan begitu ringan. Begitu banyak jejak kaki tertera di dalam hutan ini, dan sangat jelas terlihat. Sambil menuntun kuda hitamnya, Kepala Pengawal Kim berjalan mengikuti jejak-jejak kaki itu yang semakin jauh masuk ke dalam hutan ini.
Kembali Kepala Pengawal Kim berhenti, setelah sampai di tepi hutan. Tampak di depannya sebuah padang rumput yang sangat luas, membentang bagai tidak bertepi. Seketika itu juga seluruh aliran darahnya berdesir, begitu melihat di tengah-tengah padang rumput itu berdiri sebuah bangunan berbentuk benteng yang sangat besar. Umbul-umbul berwarna merah berkibar menghiasi bagian depan benteng. Dan di tengah-tengah benteng itu, terlihat sebuah bendera berukuran besar berwarna hitam, yang bagian tengahnya bergambar sebuah kapal layar merah dengan dua buah trisula bersilang.
"Kerajaan Ming…," desis Kepala Pengawal Kim perlahan.
Sama sekali kepala pengawal berwajah manis itu tidak menduga kalau Kerajaan Ming sudah mendirikan benteng pertahanan tidak jauh dari istana utama Kerajaan Joseon, persis seperti perkiraan Jaejoong. Padahal, hanya dibutuhkan waktu setengah hari saja untuk sampai ke Istana Changdeok dari tempat ini. Sementara, halangan satu-satunya adalah Desa Yeoju, seperti yang sudah diperkirakan oleh selir termuda Joseon. Walaupun sekarang sudah diperkuat lima ratus prajurit pilihan, tapi masih juga terselip keraguan dalam hati Kepala Pengawal Kim melihat bangunan benteng di tengah padang rumput itu sangat besar. Sudah tentu benteng itu bisa memuat puluhan bahkan ratusan ribu orang.
Sedangkan jumlah prajurit Kerajaan Joseon seluruhnya hanya lima ribu orang. Kalau digempur dengan kekuatan sangat besar, apalagi mereka orang-orang yang sudah berpengalaman berperang, rasanya sulit untuk bisa bertahan. Kim Junsu bisa menyadari ancaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata ini. Suatu ancaman yang bisa saja membuat kejayaan Kerajaan Joseon runtuh.
"Tidak kusangka mereka begitu besar kekuatannya," gumam Kepala Pengawal Kim bicara pada diri sendiri.
Cukup lama juga Kepala Pengawal Kim mengamati keadaan sekitar bangunan benteng di tengah padang rumput luas bagai tak bertepi itu. Sunyi sekali keadaannya, seperti tidak berpenghuni sama sekali. Tapi dia yakin, tempat itu terjaga sangat ketat, dan tidak mungkin bisa dengan mudah didekati. Mereka yang ada di dalam benteng itu sudah barang tentu bisa dengan cepat mengetahui siapa saja yang datang. Bangunan seperti benteng pertahanan itu berdiri di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas, hingga tidak mungkin didekati secara sembunyi-sembunyi.
"Hmmm, ada yang keluar…," kembali Kepala Pengawal Kim bergumam.
Terlihat pintu benteng itu terbuka perlahan-lahan. Kemudian, tampak serombongan prajurit bersenjata lengkap yang mengenakan pakaian dari kulit binatang keluar dari dalam bangunan berpagar tinggi dari balokan kayu pohon yang sangat kokoh itu. Entah berapa banyak orang yang keluar. Tapi yang pasti, jumlah mereka tidak kurang dari seribu orang. Dan mereka semua menunggang kuda. Saat itu juga, jantung Kepala Pengawal Kim seakan jadi berhenti berdetak, melihat rombongan berkuda yang ditunggangi para prajurit berpakaian kulit binatang itu bergerak menuju ke arahnya dengan cepat.
"Uh! Mereka akan kembali menyerang Desa Yeoju," dengus Kepala Pengawal Kim dalam hati.
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, cepat Kepala Pengawal Kim melompat naik ke punggung kuda hitamnya. Lalu, digebahnya kuda hitam itu dengan kecepatan tinggi. Langsung diterobosnya hutan yang tidak begitu lebat ini. Sementara, rombongan prajurit berpakaian kulit binatang dari Kerajaan Ming terus bergerak menuju Desa Yeoju seperti dugaan kepala pengawal itu.
Sedangkan Kepala Pengawal Kim sendiri sudah terlalu jauh memacu kudanya, menembus hutan yang tidak begitu lebat ini. Begitu cepat kuda hitam tunggangannya berlari, hingga sebentar saja sudah dekat dengan perbatasan Desa Yeoju.
Kim Junsu melihat semua prajurit Kerajaan Joseon yang ditempatkan di desa yang terlihat benderang oleh nyala api dari obor-obor yang terpasang di setiap sudut itu masih tetap berjaga-jaga. Dan terlihat Panglima Kang berada di antara prajuritnya bersama Kepada Desa Sung. Melihat kedatangan Kepala Pengawal Kim yang memacu cepat kudanya, mereka bergegas menghampiri.
"Hup!"
Kepala Pengawal Kim langsung melompat turun dari punggung kuda hitam tunggangannya, setelah berada dekat di depan Panglima Kang dan Kepala Desa Sung.
"Ada apa, Junsu-ya? Kenapa kau memacu kudamu dengan cepat seperti itu?" tanya Panglima Kang langsung.
"Siapkan semua prajuritmu, Ahjussi. Mereka sedang menuju tempat ini," kata Kepala Pengawal Kim memberi tahu dengan napas sedikit terengah. Keringat mengucur deras membanjiri wajahnya.
"Apa…?!"
Kepala Desa Sung jadi terbeliak mendengar laporan Kepala Pengawal Kim. Sungguh ia benar-benar tidak menyangka jika pasukan Ming akan kembali menyerang. Ia semula mengira baru besok malam pasukan Ming menyerang kembali. Kepala desa itu mengedarkan pandangannya berkeliling, merayapi kegelapan yang mulai menyelimuti desanya.
Sementara itu Panglima Kang sudah mengumpulkan seluruh prajurit yang ada. Kemudian diaturnya para prajurit untuk mengadakan penyergapan di perbatasan Desa Yeoju. Sebentar saja, semua prajurit Kerajaan Joseon sudah tidak terlihat lagi, bersembunyi di balik pohon dan gerumbul semak untuk menyergap para prajurit dari Kerajaan Ming.
Yang Mulia Raja Yi Yunho yang sudah siap dengan baju perangnya melangkah keluar dari tenda, menghampiri Kepala Pengawal Kim. Sebilah pedang panjang dengan gagang berhias permata merah tergenggam di tangan kanannya. Jaejoong yang juga mengenakan pakaian serupa, berjalan tenang di sisi suaminya tanpa membawa senjata satu pun, sesuai dengan syarat yang diajukan oleh suaminya. Panglima Kang yang merasa seluruh prajuritnya telah menempati tempat yang diinginkan, segera bergabung dengan Yang Mulia Raja, Jaejoong dan Kepala Pengawal Kim. Sedangkan Kepala Desa Sung sendiri sudah pergi untuk mengamankan penduduknya, setelah mendapat perintah dari Kim Junsu.
Malam itu juga, Desa Yeoju kembali terlihat riuh oleh suara penduduk yang bergerak menjauhi desa ini, ke tempat yang lebih aman dari jangkauan pertempuran yang pasti bakal terjadi. Sebagian besar di antara penduduk yang mengungsi adalah anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang tua. Sementara para pemuda desa dan kaum lelakinya, tetap tinggal di desa untuk membantu para prajurit Kerajaan Joseon dalam menumpas pasukan Ming yang akan menyerang desa mereka.
"Berapa orang kekuatan mereka, Kepala Pengawal Kim?" tanya Yang Mulia Raja.
"Tidak kurang dari seribu orang, Yang Mulia," sahut Kepala Pengawal Kim.
"Hmmm…," Yang Mulia Raja hanya menggumam sedikit. Sementara Jaejoong melirik wajah suaminya.
"Jumlah mereka dua kali lipat dari jumlah prajurit yang Kang Ahjussi bawa. Belum lagi, kemampuan para prajuritnya yang sudah sangat terlatih di medan pertempuran. Maaf, bukan Joongie bermaksud meremehkan kemampuan para prajuritmu, Kang Ahjussi. Tapi Ahjussi harus membuat siasat, agar mereka tidak sampai menjarah desa ini. Juga tidak mengorbankan prajurit terlalu banyak," celetuk Jaejoong mengemukakan pendapatnya.
"Saya tahu, Selir Hwan. Itu sebabnya, saya mempersiapkan pasukan panah terlebih dahulu, untuk menghadang mereka di depan. Kalau jumlah mereka sudah berkurang, baru saya mengerahkan pasukan penyerbu dari segala arah. Bahkan saya sudah mengatur, supaya mereka berada di tengah-tengah," kata Panglima Kang memberitahukan semua siasatnya.
"Bagus! Aku ingin mereka semua musnah, agar pemimpin mereka berpikir seribu kali untuk menyerang Kerajaan Joseon. Mereka harus tahu kalau Kerajaan Joseon tidak semudah yang dikira untuk diserang begitu saja," sambut Yang Mulia Raja dengan nada suara penuh tekanan.
"Kita akan hancurkan siapa saja yang mencoba mengganggu ketentraman Kerajaan Joseon, Yang Mulia," tegas Panglima Kang.
Yang Mulia Raja Sukjong tersenyum senang mendengarnya. Begitu pula Jaejoong. Dan saat itu terdengar suara bergemuruh dari hentakan kaki-kaki kuda yang dipacu cepat dari dalam hutan. Dan tidak lama kemudian, para prajurit dari Kerajaan Ming bermunculan dari dalam hutan sambil memacu kudanya dengan cepat. Mereka berteriak-teriak sambil mengangkat senjata masing-masing. Gerakan mereka begitu cepat, seperti air bah yang meluap.
"Pasukan panah, siaaap…!" teriak Panglima Kang langsung memberi perintah.
Saat itu juga, dari balik pepohonan bermunculan para prajurit Joseon dengan anak panah terpasang di busur. Sekitar seratus orang prajurit pemanah sudah siap menunggu perintah. Sedangkan Panglima Kang menunggu sampai para prajurit berpakaian kulit binatang itu berada dalam jangkauan anak panah prajuritnya.
"Seraaang…!" teriak Panglima Kang tiba-tiba. Suaranya keras dan lantang menggelegar.
Dan seketika itu juga, ratusan batang anak panah berhamburan menghujani para prajurit berkuda yang mengenakan pakaian dari kulit binatang itu. Serangan panah itu sama sekali tidak terduga, sehingga mereka yang berada di barisan depan tidak sempat lagi menghindar. Dan malam ini, kembali dipecahkan oleh jeritan-jeritan menyayat laksana senandung pengiring kematian. Ringkikan kuda berbaur menjadi satu dengan denting senjata beradu dan teriakan-teriakan pembangkit semangat pertempuran.
Namun sungguh tidak diduga sama sekali. Walau sudah dihadang ratusan anak panah yang meluncur bagai hujan itu, para prajurit Ming tetap bergerak maju penuh semangat. Tidak dipedulikan lagi teman-teman mereka yang berjatuhan tertembus panah. Dan pada saat mereka sudah masuk ke dalam perangkap yang dibuat, Panglima Kang langsung memberi perintah dengan suara lantang menggelegar bagai guntur membelah angkasa.
"Seraaang…!"
"Hiyaaa…!"
"Yeaaah…!"
Seketika itu juga, dari balik gerumbul semak belukar dan pepohonan berlompatan prajurit-prajurit Joseon dari segala arah. Kemunculan para prajurit Kerajaan Joseon, tentu saja membuat pasukan Ming jadi terkejut setengah mati. Tapi, mereka tidak sempat lagi berbuat sesuatu. Prajurit-prajurit pilihan Kerajaan Joseon itu begitu cepat bergerak, menyerang dari segala penjuru. Maka, pertarungan tidak dapat lagi dihindari. Sedangkan pasukan panah sudah tidak lagi melepaskan anak-anak panahnya. Mereka kini sudah siap dengan pedang dan perisai di tangan, menunggu perintah dari panglimanya.
Jeritan-jeritan panjang melengking mengiringi kematian terdengar saling sambut, ditingkahi dengan senjata dan teriakan-teriakan pembangkit semangat bertempur. Tampak dalam waktu tidak berapa lama, para prajurit dari Ming sudah tidak berdaya lagi menghadapi gempuran prajurit pilihan Kerajaan Joseon yang berjumlah lebih sedikit. Mereka juga mendapat kesulitan untuk keluar dari ajang pertarungan ini. Sepertinya, semua sudut sudah dikuasai para prajurit Joseon. Tapi, beberapa prajurit Ming ada juga yang berhasil melepaskan diri dari ajang pertarungan. Mereka yang berhasil lolos dengan segera memacu kudanya kembali ke benteng pertahanan di tengah padang rumput yang ada di balik hutan itu.
"Mereka tidak mau menyerah juga, Yang Mulia," desis Panglima Kang pada sang raja yang sejak tadi duduk di atas punggung kuda hitamnya, mengawasi jalannya pertarungan. Saat itu, para prajurit Ming yang sudah berkurang jauh jumlahnya masih saja tetap mencoba bertahan. Padahal, mereka sudah tidak mungkin lagi memenangkan pertarungan ini.
Yang Mulia Raja mengalihkan pandangannya ke arah Jaejoong yang menunggang kuda putih di sebelahnya, yang pada saat bersamaan juga memandanginya. Sang raja lalu menganggukkan kepalanya, seolah memberikan ijin pada selir terkasihnya itu untuk mengambil keputusan. Jaejoong membalasnya dengan sebuah anggukan singkat, dan kembali memusatkan perhatiannya pada pertarungan yang masih berlanjut di depan mata.
"Sudutkan mereka ke hutan, Ahjussi," perintah namja cantik itu setelah beberapa lama terdiam.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Panglima Kang segera berteriak memberi perintah untuk menyudutkan lawan yang tersisa ke hutan. Maka kini semua prajurit Joseon segera mengatur tempat masing-masing sambil terus merangsek lawan. Sedikit demi sedikit, para prajurit Ming yang tersisa bergerak mundur mendekati hutan.
"Siapkan pasukan panah, Ahjussi," ujar Jaejoong, kembali memberi perintah. Panglima Kang segera berteriak memberi perintah pada pasukan panah.
"Perintahkan prajuritmu mundur," perintah Jaejoong lagi.
"Munduuur…!" teriak Panglima Kang.
"Serang mereka dengan panah, Ahjussi!"
"Pasukan panah, seraaang…!"
Wusss!
Wing…!
Crab!
Jleb!
"Aaa…!"
Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi seketika itu juga terdengar, saat pasukan panah Joseon menghujani prajurit Ming. Begitu cepat serangan itu berlangsung, hingga tidak ada satu pun yang sempat menyadari. Hingga dalam waktu yang tidak lama, mereka semua sudah ambruk tertembus panah yang mematikan. Sedangkan Panglima Kang segera memerintahkan prajuritnya untuk berhenti menyerang.
Seketika itu juga, suasana jadi sunyi tanpa terdengar suara pertarungan sedikit pun juga. Sementara Yang Mulia Raja Yi Yunho yang masih tetap didampingi Jaejoong, memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan tumpang-tindih di tempatnya. Dalam pertarungan itu, hanya dua belas prajurit Joseon yang terbunuh. Dan, hanya sepuluh orang saja yang menderita luka ringan. Siasat yang dijalankan Panglima Kang dan Jaejoong memang sangat handal. Sehingga, tidak perlu mengorbankan banyak prajurit untuk menghancurkan pasukan Ming.
"Singkirkan mereka, Panglima Kang. Dan kau, Kepala Pengawal Kim, awasi sarang mereka lagi," kata Yang Mulia Raja sambil memberi perintah pada Kepala Pengawal Kim yang baru saja menghampiri mereka, setelah tadi membantu para prajurit menumpas pasukan Ming.
Panglima Kang dan Kepala Pengawal Kim mengangguk patuh. Tanpa banyak bicara lagi, Panglima Kang segera memerintahkan prajuritnya untuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Sedangkan saat itu, Kepala Pengawal Kim sudah memacu kudanya dengan cepat, meninggalkan perbatasan Desa Yeoju, langsung masuk ke dalam hutan yang tidak seberapa lebat itu.
Sementara itu, Kepala Desa Sung mengerahkan pemuda dan kaum lelaki desanya untuk membantu para prajurit Kerajaan Joseon untuk menyingkirkan mayat-mayat itu, dan membantu mengobati para prajurit yang terluka. Ketika semua sibuk membersihkan ajang pertarungan dari mayat-mayat yang bergelimpangan, Kepala Pengawal Kim sudah kembali berada di tepi padang rumput untuk mengawasi benteng pertahanan Kerajaan Ming. Sang kepala pengawal yang memiliki badan cukup berisi itu masih sempat melihat sekitar tiga puluh lima orang prajurit Ming yang berhasil meloloskan diri dari kepungan prajurit Joseon, kembali masuk ke dalam benteng di tengah padang rumput itu.
"Huh! Biar mereka terbuka matanya, kalau tidak mudah menyerang Kerajaan Joseon…!" dengus Kim Junsu bernada sinis.
ooo 000 ooo
Kepala Pengawal Kim masih tetap mengawasi keadaan benteng pertahanan pasukan Ming dari tempat yang cukup tersembunyi, hingga malam bersalin rupa menjelma pagi. Tidak ada seorang pun lagi yang keluar dari bangunan berbentuk benteng di tengah padang rumput itu, sampai matahari naik tinggi menerangi semesta. Kepala Pengawal Kim cepat berpaling ke belakang begitu didengarnya suara bergemerisik dari daun-daun kering yang terpijak sepasang kaki. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman kecil, saat melihat Panglima Shin datang menghampiri dengan berjalan kaki. Entah dimana kuda coklat tunggangannya ia tinggalkan.
"Bukankah Panglima Choi memintamu untuk mengatur penjagaan di setiap pintu masuk, Won Gi?" tanya Kepala Pengawal Kim langsung.
"Itu benar, Hyung. Tapi pagi-pagi sekali utusan dari Panglima Kang datang ke Istana Changdeok dan mengatakan bahwa Yang Mulia Raja meminta tambahan prajurit. Panglima Choi memerintahkanku untuk turut serta dalam rombongan yang berjumlah seribu orang itu. Dan begitu aku tiba, Panglima Kang langsung memintaku menemani Hyung," jelas Panglima Shin dengan sikap hormat. Mungkin Panglima Kang tahu kalau aku merindukanmu, Hyung, sambung Panglima Shin di dalam hati. Kepala pengawal berwajah manis itu mengangguk singkat. "Apakah sudah ada gerakan lagi di sana, Hyung?" tanya Panglima Shin yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Kepala Pengawal Kim.
"Sepertinya belum. Dari tadi malam aku berada di sini, dan belum terlihat ada pergerakan sedikit pun." Pantas saja raut wajahnya terlihat begitu lelah. Rupanya ia belum beristirahat sama sekali, lagi-lagi Panglima Shin membatin.
"Hyung, mengapa kita tidak memusatkan pertahanan di sekitar daerah ini?" saran Panglima Shin sambil mengedarkan pandangannya berkeliling.
"Tidak mudah bertahan di tempat terbuka seperti ini, Won Gi. Mereka bisa dengan mudah menerobos dari bagian lain. Menurutku, bertahan di Desa Yeoju lebih baik. Mereka tidak akan bisa masuk dari arah lain. Hanya hutan ini satu-satunya yang bisa dilewati," jawab Kepala Pengawal Kim yang langsung mematahkan pendapat panglima muda itu. "Seperti yang kau lihat, hutan ini diapit jurang-jurang yang dalam, dan tidak bisa dilalui seorang pun. Kalau mereka memilih menyerang dari sebelah timur, harus melewati bukit itu lebih dahulu," sambung Kepala Pengawal Kim, seraya menunjuk bukit batu yang menjulang di sebelah timur.
"Aku mengerti, Hyung. Di sana ada lembah buntu yang bisa digunakan untuk menyudutkan mereka seandainya mereka tetap pergi ke sana. Tapi kurasa mereka tidak bodoh untuk melakukan itu. Tapi…, bagaimana kalau mereka melalui sebelah barat, Hyung?" tanya Panglima Shin lagi.
"Panglima Kang sudah mengirim utusan pada Panglima Lee, agar turut memusatkan pertahanan di sebelah barat. Di sana memang mudah dilalui, tapi mereka harus menyeberangi lautan terlebih dahulu. Jadi, sudah tentu armada laut kita bisa mudah menghalau dan menghancurkan mereka. Seperti yang diperkirakan oleh Selir Hwan, mereka tidak akan menempuh jalan lain lagi. Mereka pasti akan tetap menyerang dari sini dengan segala cara. Kau bisa lihat sendiri kalau mereka sudah mendirikan benteng pertahanan di sini. Bisa dipastikan semua kekuatan mereka sekarang berada di tempat ini."
"Kalau begitu, kenapa kita tidak menyerang saja lebih dulu, Hyung?" kembali Panglima Shin memberi saran.
"Tidak semudah bayanganmu, Won Gi. Kau lihat sendiri keadaannya. Belum juga sampai ke sana, pasti prajurit kita sudah habis dibantai dengan panah," kata Kepala Pengawal Kim sambil tersenyum getir.
Panglima Shin jadi tertegun. Memang serba sulit keadaan ini. Mereka tidak bisa menyerang benteng itu. Tapi, orang-orang di dalam benteng itu juga menemukan kesulitan untuk menyerang Kerajaan Joseon melalui Desa Yeoju. Karena, memang hanya satu jalan ini yang termudah untuk masuk ke Kerajaan Joseon. Sedangkan untuk melalui jalan lain, mereka tentu tidak mau mendapat bahaya yang terlalu besar. Dan Panglima Shin cepat menyadari keadaannya.
"Junsu Hyung, coba lihat di sana…!" seru Panglima Shin tiba-tiba seraya menunjuk ke kanan.
Kepala Pengawal Kim segera melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh Panglima Shin. Seketika kedua bola matanya jadi terbeliak, melihat serombongan prajurit berpakaian kulit binatang yang begitu besar jumlahnya, bergerak menuju benteng pasukan Ming. Dan saat itu, pintu pagar benteng terbuka lebar.
Rombongan prajurit berpakaian kulit binatang yang berjumlah sangat besar itu langsung masuk ke dalam benteng pertahanan di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas ini. Tampak di antara mereka terlihat sebuah kereta kuda yang sangat indah, ditarik delapan ekor kuda putih. Di dalam kereta itu, duduk seorang lelaki berwajah tampan, berpakaian indah selayaknya seorang raja yang dikawal ratusan prajurit berpakaian kulit binatang. Di tangan kanannya, terlihat sebuah pedang panjang bergagang kepala tengkorak.
Tak lama rombongan itu pun masuk ke dalam bangunan benteng. Pintu gerbang benteng kembali tertutup perlahan-lahan, setelah semuanya masuk. Entah berapa jumlah mereka yang baru datang itu. Tapi, Kepala Pengawal Kim sudah bisa memperkirakan kalau jumlah mereka lebih dari tiga ribu orang. Dan semuanya tertampung di dalam benteng yang sangat besar itu.
Untuk beberapa saat, mereka berdua jadi terdiam. Tidak bisa dibayangkan, berapa jumlah kekuatan pasukan Ming yang ada di dalam benteng itu. Sedangkan mereka yakin, jumlah itu belum ada setengahnya dengan dari jumlah kekuatan penuh pihak lawan.. Kepala Pengawal Kim jadi berdecak sambil menghembuskan napas panjang.
"Hyung…. Apakah kita mampu menghadapi mereka…?" ujar Panglima Shin dengan nada terdengar ragu, melihat kekuatan lawan yang begitu besar.
"Hhh…!"
Kepala Pengawal Kim tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Dia hanya menghembuskan napas panjang-panjang dan begitu dalam. Kepala pengawal berwajah manis itu juga tidak tahu, apakah jumlah prajurit Joseon yang mungkin hanya kurang dari setengahnya bisa menghadang para pasukan Ming? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Tapi yang pasti, kejayaan Kerajaan Joseon kini benar-benar terancam.
Sementara kedua orang itu tengah terdiam membisu, dari arah lain muncul rombongan lagi dari para prajurit yang mengenakan pakaian dari kulit binatang yang jumlahnya empat kali lipat dari jumlah tadi. Mereka juga masuk ke dalam benteng itu. Dan saat itu juga, terdengar sorak-sorai yang gegap-gempita dari dalam benteng.
Tak lama kemudian, kembali terlihat satu rombongan lain lagi yang datang ke benteng itu dengan jumlah tidak kalah besar. Dari pakaian yang mereka kenakan dan beraneka senjata yang disandang, dapat diketahui bahwa mereka adalah para pendekar golongan hitam yang berasal dari seluruh daratan China. Dan kali ini, mereka tidak masuk ke dalam benteng, melainkan mendirikan tenda-tenda di sekeliling benteng yang mungkin sudah padat terisi. Pintu gerbang pun kini terbuka lebar-lebar. Entah, sudah berapa ribu prajurit yang ada sekarang. Sedangkan saat ini masih saja ada yang berdatangan, walau lebih sedikit. Dan Kepala Pengawal Kim sudah memperkirakan kalau jumlah mereka lebih dari sepuluh ribu orang. Hal itu tentu membuat hatinya gelisah saja. Dibanding kekuatan prajurit Joseon yang hanya sekitar lima ribu orang, yang sudah termasuk punggawa dan panglima, rasanya sangat sulit untuk menggempur pasukan Ming yang berlipat ganda itu.
ooo 000 ooo
Raja Sukjong, Panglima Kang, dan Jaejoong terkejut bukan main saat mendengar laporan dari Panglima Shin tentang jumlah kekuatan pasukan Ming. Panglima muda berwajah tampan itu memang diperintahkan oleh Kepala Pengawal Kim untuk kembali ke Desa Yeoju secepatnya, dan melaporkan apa yang mereka lihat kepada sang raja, sementara sang pengawal berwajah manis itu terus mengamati benteng pertahanan di tengah padang rumput. Laporan yang disampaikan Panglima Shin tak pelak membuat sang raja Kerajaan Joseon itu terdiam sesaat. Ia bahkan tidak mampu menutupi kegelisahannya saat mengetahui kekuatan pihak musuh yang hendak menggempur tanah kelahirannya hampir tiga kali lipat besarnya dari jumlah prajurit yang ada di Joseon.
Atas saran dari Jaejoong, Yang Mulia Raja memerintahkan Panglima Kang untuk menarik sebagian besar prajurit Joseon ke Desa Yeoju, dan menyisakan sekitar seribu prajurit untuk memperkuat penjagaan di istana utama, serta di tiap pintu masuk dan perbatasan. Karena, memang hanya dari desa ini saja para prajurit Ming yang juga diperkuat oleh para pendekar golongan hitam dari daratan China yang sudah sangat terkenal dengan ilmu kesaktian mereka bisa masuk ke Joseon. Bahkan Panglima Choi dan Panglima Lee yang kedudukannya setingkat di bawah Panglima Kang, sudah berada di Desa Yeoju bersama para panglima Kerajaan Joseon yang lain. Panglima Choi juga mengerahkan sekitar seratus orang pendekar aliran putih yang tersebar di seluruh Joseon untuk turut memperkuat pertahanan di Desa Yeoju. Sehingga desa yang semula sunyi, kini ramai dihuni para prajurit dan para pendekar penegak keadilan yang dibawa oleh Panglima Choi.
"Hhh…! Mungkinkah ini akhir dari kejayaan Kerajaan Joseon…?" desah Yang Mulia Raja mengeluh lirih, saat beristirahat di dalam tendanya.
"Belum, Yang Mulia," tandas Jaejoong.
Yang Mulia Raja melirik sedikit saja pada namja cantik yang merupakan selir terkasihnya itu. Terdengar tarikan napasnya yang begitu dalam dan terasa berat. Sedangkan Jaejoong sendiri hanya memandang raut wajah tampan suaminya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga. Bisa dirasakannya keresahan yang melanda hati sang raja. Keresahan yang teramat sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
"Kau mendengar sendiri perkataan Panglima Shin, Joongie…. Jumlah mereka tiga kali lipat besarnya dari jumlah prajurit yang kita miliki. Dan mereka juga dibantu oleh kalangan persilatan daratan China yang sudah terkenal dengan kehebatan mereka dalam adu kesaktian," ujar Yang Mulia Raja, lagi-lagi dengan nada mengeluh.
"Meski Joseon tidak memiliki jumlah pasukan sebanyak mereka, tapi kita juga memiliki para pendekar golongan putih yang tidak segan untuk turut membantu memperkuat barisan pertahanan pasukan kita. Jangan lupakan juga kalau kita memiliki ahli pengatur strategi seperti Panglima Kang, Yang Mulia," sambung Jaejoong, memberikan dorongan semangat sekaligus membangkitkan kembali kepercayaan diri suaminya.
"Hanya seratus orang pendekar, Joongie. Tidak ada artinya jika dihadapkan pada ribuan kekuatan pihak Ming. Aku tak cukup yakin kalau kita akan memenangkan pertempuran ini, Joongie…,"
"Yang Mulia! Sejak kapan Yang Mulia ragu dengan kekuatan sendiri? Yang Mulia seperti bukan seorang raja yang selama ini Joongie kenal," dengus Jaejoong, agak sinis nada suaranya. Namja cantik itu bukannya tak menyadari kegundahan yang melanda suaminya itu. Dan hal itulah yang membuatnya gusar. Ia tak lagi melihat sosok suaminya yang gagah dan berwibawa. Kegagahan dan kewibawaannya seakan-akan sirna begitu saja.
"Hhh…," lagi-lagi sang raja menarik napas panjang.
"Anda seorang raja. Pemimpin Tertinggi di kerajaan ini. Segundah apa pun perasaan yang berkelebat di hati Anda, jangan sampai membuat Anda seolah kehilangan jati diri. Kita sudah pernah membahas hal ini, Yang Mulia. Jumlah prajurit yang besar bukanlah jaminan untuk memenangkan suatu pertempuran. Tanpa keyakinan, sebesar apa pun jumlah prajurit yang kita miliki, belum tentu membuat kita bisa menghancurkan pihak musuh. Goyahnya keyakinan Anda pada kemampuan pasukan yang kita miliki berarti membiarkan pihak musuh untuk menang satu langkah dari kita. Mereka berhasil membuat keyakinan Anda goyah, padahal hal itu justru merupakan hal paling terlarang untuk Anda lakukan. Ingatlah, bahwa kemenangan ada bersama pihak yang meyakini bahwa mereka akan mendapatkannya. Dan itulah yang harusnya Anda yakini," sambung Jaejoong penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan.
Yang Mulia Raja terdiam dengan kening sedikit berkerut. Sebentar dipandanginya wajah sang selir. Kemudian tatapannya beralih ke arah hutan yang terlihat jelas dari pintu tenda yang terbuka lebar. Jelas sekali kalau saat itu sang raja sedang merenungkan kata-kata selir terkasihnya barusan. Kata-kata yang mengingatkan dirinya sebagai seorang raja dari kerajaan besar yang tidak pernah kehilangan akal dan kebijaksanaannya. Dan tiba-tiba saja, seulas senyuman mengukir bibirnya yang sejak tadi selalu mengatup rapat mencerminkan kegelisahan.
"Kau benar, Sayang. Maafkan sikapku. Seharusnya aku bisa bersikap bijaksana dalam situasi apa pun. Seberapa besar pun kekuatan musuh, harusnya tak membuat keyakinanku pada kemampuan prajurit yang kumiliki goyah barang sedikit pun," ucap Raja Sukjong itu, kembali penuh semangat. Dipandanginya kembali wajah namja berparas rupawan itu yang kini turut tersenyum lebar. Entah apa arti senyumannya itu.
"Joongie tahu, terlepas dari kedudukan Yang Mulia sebagai seorang raja, Yang Mulia hanyalah manusia biasa. Tapi jangan jadikan itu sebagai sebuah pembenaran untuk langsung menyerah pada keadaan. Kita pasti bisa mengalahkan pasukan Ming dan membuat mereka angkat kaki dari sini, Yang Mulia. Percayalah!" kata Jaejoong, sambil terus mengobarkan api semangat sang suami yang sudah kembali menyala.
"Harus kuakui, lagi-lagi ucapanmu benar. Kini satu-satunya jalan yang terpikir di benakku adalah mengurangi jumlah kekuatan mereka. Entah bagaimana caranya. Benteng pertahanan mereka berada di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas. Belum-belum, pasukan kita bisa tewas terbantai. Posisi mereka memudahkan mereka untuk mengetahui siapa saja yang datang mendekat. Apa akalku sekarang?" tanya Yang Mulia Raja, meminta pendapat selir terkasihnya.
"Joongie sependapat dengan Yang Mulia mengenai hal itu. Kita tidak mungkin menyerang secara terbuka. Itu sama saja dengan membuang nyawa secara percuma. Lain halnya jika kita mencoba menghancurkan kekuatan mereka sedikit demi sedikit, sambil menggoyahkan keyakinan mereka. Meskipun cara itu juga beresiko besar dan membuat mereka akan langsung menggempur kita habis-habisan. Tapi setidaknya kita harus membuat mereka berpikir seribu kali untuk menundukkan Kerajaan Joseon," sahut Jaejoong.
"Caranya?"
Jaejoong baru saja hendak membuka mulut dan menjawab pertanyaan suaminya, ketika seorang prajurit penjaga perbatasan tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah sangkar berukir indah yang tingginya hampir menyamai tinggi tubuhnya. Sangkar itu ditutupi sehelai sutera tipis berwarna kuning. Prajurit itu segera membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada junjungannya.
"Selir Hwan, seorang utusan dari istana membawakan pesanan Anda. Ini…," ujar prajurit itu sambil menyerahkan sangkar yang dibawanya pada Jaejoong. Jaejoong menerima sangkar itu dengan senyuman lebar menghiasi paras cantiknya dan mengucapkan terima kasih pada prajurit penjaga perbatasan. Prajurit itu kembali membungkukkan tubuhnya, dan meninggalkan mereka untuk kembali ke posisinya semula.
"Pesanan? Apa maksudnya?" tanya sang raja yang tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya akan isi sangkar itu.
Jaejoong hanya tersenyum kecil menanggapi rasa penasaran suaminya. Ia lalu melepaskan kain sutera kuning yang menutupi sangkar itu. Kedua bola mata sang raja terbeliak lebar ketika melihat ribuan kupu-kupu aneka ukuran dengan warna-warna memikat hampir memenuhi sangkar itu. Raja Sukjong memandang selirnya dengan penuh keingintahuan.
"Inilah senjata yang bisa kita gunakan untuk mengurangi jumlah kekuatan pihak musuh, Yang Mulia," sahut Jaejoong ringan.
"Senjata? Maksudmu kupu-kupu ini?" tanya sang raja sambil menggelengkan kepalanya. "Jangan katakan kalau kau sedang membuat lelucon, Sayang. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk itu," sambung sang raja, yang mengira bahwa selir terkasihnya itu sedang bercanda.
"Lelucon? Apa Yang Mulia melihat Joongie tertawa?" Jaejoong balik bertanya. Ia berkacak pinggang di depan suaminya sambil menggembungkan kedua pipinya. "Joongie tidak sedang membuat lelucon. Joongie juga tahu ini terlihat seperti main-main, tapi dengarkan dulu penjelasan Joongie sebelum Yang Mulia menuduh Joongie seperti itu. Kupu-kupu yang berada di dalam sangkar ini adalah sejenis kupu-kupu langka yang perkembangbiakannya sangat cepat. Hanya membutuhkan waktu empat hari untuk mengubah kepompongnya yang berwarna semerah darah, untuk menjadi kupu-kupu yang sangat cantik. Joongie sengaja meminta Tabib Lee untuk mengembangbiakkannya, karena Joongie yakin suatu hari akan berguna. Jangan mudah tertipu dengan kecantikan sayapnya, karena kupu-kupu itu justru mengandung liur yang bisa berubah menjadi serbuk racun yang sangat mematikan," papar Jaejoong dengan wajah datar. Ia sedikit tersinggung ketika sang suami seakan meremehkan kemampuan makhluk kecil yang indah itu.
"Benarkah? Baru kali ini aku mendengar adanya kupu-kupu jenis ini. Dari mana asalnya?" tanya sang raja yang cukup terkejut dengan penjelasan selirnya itu.
"Lembah Seribu Bunga," jawab Jaejoong singkat. Agaknya ia masih dongkol dengan suaminya itu. Yang Mulia Raja kembali terdiam. Ia tahu betul tempat yang disebut Lembah Seribu Bunga itu. Sebuah hamparan padang rumput luas yang diapit oleh pegunungan yang sebagian puncaknya ditutupi salju abadi. Pada musim dingin, seluruh permukaan lembah itu akan diselimuti salju tebal yang begitu putih dan bersih. Lalu pada saat musim semi, lembah yang terletak di gugusan pegunungan Himalaya itu akan memiliki napas kehidupan baru. Bunga-bunga aneka warna dan bentuk yang didominasi warna merah dan merah muda, diselingi warna kuning, putih, dan jingga, akan menghiasi padang rumput yang terhampar lembut. Beberapa air terjun juga sumber mata air menjadi batas pemisah di antara bebungaan yang mekar serempak itu. Maka tak heran jika lembah itu kerap disebut Taman Para Dewi.
"Lalu apa maksudmu yang mengatakan bahwa kupu-kupu ini bisa menjadi senjata untuk menghadapi pihak Ming?"
"Seperti Yang Mulia katakan, benteng mereka berada di tengah-tengah padang rumput. Akan sangat beresiko jika kita berusaha menggempur mereka terang-terangan. Tapi dengan bantuan kupu-kupu ini, kita bisa mengurangi jumlah kekuatan mereka. Hewan-hewan cantik ini akan menghasilkan liur saat pagi hari, yang akan langsung berubah menjadi serbuk begitu terkena angin. Serbuk beracun itu akan langsung masuk ke dalam pori-pori, dan membunuh tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Masalahnya sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa membuat ribuan kupu-kupu ini terbang tepat di atas benteng pertahanan mereka?" tanya Jaejoong, yang rupanya sudah melupakan kekesalannya pada sang suami. Sang raja terdiam sambil mengelus dagunya untuk beberapa saat. Sungguh tak disangkanya hewan kecil yang terlihat rapuh itu justru memiliki kekuatan menakutkan di balik keindahan sayap-sayap indah mereka.
"Kau seperti seorang yang memiliki kemampuan untuk melihat dengan mata batin, Sayang. Sampai sejauh ini, bisa dikatakan semua perkiraanmu mendekati kebenaran. Sejujurnya aku sangat penasaran bagaimana caranya kau bisa memperkirakan hal-hal yang berada di luar jangkauan pemikiran seorang ahli siasat kerajaan sekalipun, hemmm?" tanya sang raja yang tak mampu menutup rasa penasarannya. Meskipun begitu, di dalam nada suaranya tersirat kekaguman yang nyata.
"Joongie tidak sehebat itu, Yang Mulia. Bukankah sudah Joongie katakan kalau selama ini Joongie telah mempelajari sepak terjang pihak musuh? Yang Mulia tidak usah memikirkan hal itu. Alangkah baiknya jika saat ini kita lebih memikirkan cara untuk meletakkan kupu-kupu ini di atas benteng pertahanan mereka saja," elak Jaejoong yang tak ingin membiarkan sang raja terus-menerus diliputi rasa penasaran akan kemampuannya.
"Mungkin aku bisa meminta Panglima Kang untuk memerintahkan prajurit-prajuritnya membangun menara-menara kayu di depan hutan kecil itu, lengkap dengan pelontar. Kita bisa menempatkan kupu-kupu ini di wadah lebih kecil seperti jaring dari serat nila berukuran sebesar buah kelapa. Lalu kita sangkutkan jaring-jaring berisi kupu-kupu itu di ujung kayu pelontar dengan sasaran tembak tepat di atas benteng pertahanan mereka. Kita lakukan hal itu menjelang pagi. Kurasa, menggunakan kupu-kupu ini untuk mengurangi jumlah kekuatan mereka bukan ide yang buruk," putus Yang Mulia Raja.
"Tapi bagaimana caranya agar kupu-kupu itu bisa keluar dari jaring serat nila yang mengurung mereka?"
"Jaring-jaring itu akan sobek secara otomatis begitu mereka berada tepat di tengah benteng pertahanan Ming, karena kita juga akan meletakkan batu di dalamnya sebagai pemberat. Sekarang mari kita temui Panglima Kang. Kita harus bergerak cepat sebelum pihak musuh mendahului menyerang," ajak sang raja yang kembali bersemangat.
Jaejoong menganggukkan kepala. Tanpa banyak bicara lagi, mereka melangkah keluar dari tenda dan segera menemui Panglima Kang yang sedang mengatur siasat dengan para panglima yang lain.
ooo 000 ooo
Menjelang pagi, lima puluh menara kayu lengkap dengan pelontar telah selesai dibangun. Para prajurit yang bertugas untuk melontarkan kupu-kupu yang sudah dimasukkan ke dalam jaring-jaring kecil dari serat nila sudah menempati posisi masing-masing, sambil menunggu perintah dari Panglima Kang. Yang Mulia Raja dan Jaejoong terlihat mengapit Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon itu. Sementara Panglima Lee, Panglima Choi, Panglima Shin dan Kepala Desa Sung juga turut mengawasi dari punggung kuda masing-masing, dengan mata tidak berkedip dan dada berdebar keras.
Suara kokok ayam jantan yang terdengar bersahutan dari kandang hewan ternak penduduk desa memecah keheningan di awal pagi. Panglima Kang segera mengangkat pedangnya, mengisyaratkan para prajuritnya yang telah menempati menara pelontar untuk segera melontarkan jaring-jaring mereka yang berisikan kupu-kupu beracun. Hanya dalam waktu sebentar, jaring-jaring yang membentuk bulatan sebesar buah kelapa itu terlontar cepat menembus puncak pepohonan dan melesat tepat di atas benteng pertahanan pasukan Ming yang sebagian besar sedang beristirahat.
Jaring-jaring dari serat nila yang sobek secara otomatis itu langsung mengeluarkan ribuan kupu-kupu yang terlihat menghitam di atas benteng, bagai kelambu raksasa yang dibentangkan. Ketika matahari di ufuk timur mulai menampakkan semburat cahayanya, hewan-hewan cantik itu segera melepaskan liur mereka yang dalam waktu sekejap berubah menjadi serbuk, setelah terkena hembusan angin pagi. Serbuk-serbuk itu melayang pelan dan jatuh di atas permukaan kulit pasukan Ming yang sedang terlelap tidur. Halusnya serbuk membuatnya tak terasa ketika memasuki pori-pori dan melepas racun ke seluruh jaringan tubuh. Hanya dalam waktu singkat, hampir lima ribu prajurit Ming mati bersimbah darah. Membuat rekan-rekannya yang selamat dari serangan serbuk kupu-kupu beracun itu kalang kabut, dan tak tahu harus berbuat apa. Sementara kupu-kupu beracun yang hampir memenuhi langit benteng langsung lebur seketika begitu terkena terpaan sinar matahari yang mulai merangkak naik. Hewan-hewan cantik namun mengandung racun mematikan itu langsung berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang melayang tertiup angin dan menyebar ke segala arah.
"Huh! Biar mata mereka terbuka, siapa lawan yang mereka hadapi sesungguhnya…," dengus Panglima Lee dari atas kudanya dengan nada cukup pelan.
"Tapi itu akan membuat mereka jadi murka, Panglima Lee. Dan mereka tentu akan menyerang balas habis-habisan," ujar Panglima Choi yang rupanya mendengar dengusan panglima di sebelahnya. Nada cemas dalam suaranya tak mampu untuk disembunyikan.
"Kita pasti bisa menghalau mereka dengan kekuatan prajurit kita, Panglima Choi. Selir Hwan pasti sudah memperhitungkan semuanya dengan matang. Itulah sebabnya Yang Mulia Raja juga Panglima Kang langsung menyetujui idenya," bantah Panglima Lee yang rupanya sangat mengagungkan selir terkasih raja itu.
"Aku percaya, Panglima Lee," ujar Panglima Choi.
"Kalau sudah percaya, kenapa Panglima Choi sepertinya terlihat ragu pada pemikiran Selir Hwan?" terdengar agak sinis nada suara Panglima Lee.
"Aku sama sekali tidak meragukan kemampuan Selir Hwan, Panglima Lee. Aku hanya khawatir tindakan yang kita ambil ini akan membuat keadaan semakin bertambah parah."
"Semua hal yang kita lakukan memang mengandung resiko, Panglima Choi. Dan aku yakin kalau Selir Hwan serta Yang Mulia Raja sudah mempertimbangkan masak-masak tindakan yang diambil."
"Mudah-mudahan saja begitu," desah Panglima Choi
Sementara, Panglima Shin dan Kepala Desa Sung yang berkuda di sebelah kedua panglima itu tetap diam, seperti tidak mendengarkan semua perdebatan itu. Tatapan mata keduanya terus terarah pada mulut hutan. Dan saat itu, di tempat yang cukup tersembunyi dari seberang padang rumput tempat benteng besar itu berdiri, terlihat Kepala Pengawal Kim yang tersenyum gembira melihat serangan kupu-kupu beracun ke benteng pertahanan pasukan Ming. Walaupun ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam benteng, tapi ia sudah bisa menduga kalau tidak sedikit korban yang jatuh di sana.
Kepala Pengawal Kim terus mengarahkan tatapannya pada bangunan benteng di tengah padang rumput di depannya. Terlihat para prajurit dan kalangan persilatan yang berada di luar benteng sudah ada yang masuk ke dalam. Jelas mereka dilanda kekacauan yang luar biasa, ketika menemukan teman-teman mereka tewas begitu saja, tanpa sebab yang jelas. Tidak terlihat luka apa pun di tubuh mayat-mayat yang berjatuhan itu, hanya mulut mereka saja yang terus mengeluarkan darah segar.
ooo 000 ooo
Di dalam bangunan yang hanya satu-satunya di dalam benteng di tengah-tengah padang rumput itu, terlihat seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian menyerupai jubah berwarna biru langit yang terbuat dari bahan sutera terbaik sedang berdiri tegak di depan jendela besar sambil mendongakkan kepala memandang ke langit. Tidak jauh di belakangnya, terlihat tiga orang lelaki berusia setengah baya yang bertubuh kekar duduk bersila di lantai sambil menatap punggung pemuda tampan itu.
Pemuda tampan yang sebagian rambutnya digelung di tengah kepala dan diberi ikatan sehelai pita berwarna emas yang ternyata adalah pemimpin tunggal pasukan Ming itu akhirnya membalikkan badannya, setelah cukup lama berdiri di depan jendela menatap langit yang cerah. Hanya sedikit awan putih yang terlihat berarak. Langsung dipandanginya tiga orang lelaki yang duduk di lantai tak jauh di depannya. Kemudian kakinya melangkah mendekati sebuah kursi dengan ukiran indah, lalu duduk di kursi itu dengan wajah kelihatan berselimut mendung.
Ketiga orang lelaki yang masih tetap duduk bersimpuh di lantai itu terus memandangi. Mereka adalah Yin Bersaudara, tokoh yang termasuk dedengkot rimba persilatan China dari aliran hitam. Mereka semua memegang senjata berupa pedang dengan ujung bercabang dua seperti lidah ular. Di daratan China, mereka lebih dikenal dengan julukan Tiga Iblis Pedang Ular. Tidak ada yang mengetahui nama asli mereka, akan tetapi tidak sulit untuk membedakannya, walaupun ketiga orang itu mengenakan pakaian yang sama-sama berwarna hitam, dengan gambar kepala tengkorak yang jumlahnya berlainan tertera pada pakaian bagian punggung. Mungkin, gambar itu menunjukkan tingkatan kepemimpinan mereka. Semakin banyak jumlahnya, semakin tinggi tingkatannya.
"Berapa jumlah prajurit kita yang tewas, Paman?" tanya pemuda tampan yang merupakan Panglima Tertinggi Kerajaan Ming yang sekaligus merupakan adik tiri dari Kaisar Yongzheng. Namanya Panglima Liu Xi.
"Sekitar lima ribu orang, Yang Mulia," sahut salah seorang dari Tiga Iblis Pedang ular yang dipunggungnya tertera gambar dua kepala tengkorak.
"Tidak ada luka di sekujur tubuh para prajurit kita yang tewas, Yang Mulia. Hanya darah segar yang terus mengucur dari mulut mereka. Kemungkinan mereka tewas karena terkena serangan racun yang disebarkan melalui angin, Yang Mulia," sambung lelaki yang dipunggungnya tertera gambar tiga kepala tengkorak.
"Hm…. Lalu, kenapa nada suara kalian terdengar bergetar? Apakah serangan tadi langsung membuat nyali kalian menciut dan mendadak gentar?" terdengar agak dalam nada suara Panglima Liu.
Tatapan mata pemuda itu pun terlihat begitu tajam, menyoroti wajah ketiga orang lelaki yang tetap duduk bersimpuh di lantai, tak jauh di depannya. Dan mereka langsung menundukkan kepala, seakan menyembunyikan perasaan gentar dalam hati yang sudah terbaca oleh pimpinan tunggal mereka. Hingga untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang membuka suara untuk menjawab pertanyaan Panglima Liu itu.
"Seluruh kekuatan yang kita miliki, sekarang sudah berkumpul di sini. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk gentar menaklukkan Kerajaan Joseon. Biar pimpinan mereka menjadi bagianku, sementara kalian memimpin semua pasukan untuk menyerang prajurit Kerajaan Joseon. Bahkan kalau perlu, kita bumihanguskan semuanya," terdengar agak lantang suara Panglima Liu.
"Baik, Yang Mulia," sahut Tiga Iblis Pedang Ular serempak, seraya menganggukkan kepala bersamaan.
"Mereka sudah mulai berani menyerang ke sini. Dan kita kehilangan hampir lima ribu prajurit. Maka sudah sepantasnya kalau kita harus membalas, menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya. Hancurkan Desa Yeoju hari ini juga. Ratakan dengan tanah. Kerahkan prajurit dan orang-orang kalian yang terbaik!" perintah Panglima Liu.
Tanpa diperintah dua kali, tiga orang laki-laki yang dikenal dengan julukan Tiga Iblis Pedang Ular itu segera memberi hormat kepada Panglima Liu. Kemudian mereka bergegas keluar, meninggalkan ruangan berukuran cukup besar ini. Sedangkan Panglima Liu sendiri bangkit berdiri, lantas melangkah ke jendela. Dari jendela ini, tampak terlihat tiga orang lelaki bersenjata pedang bercabang seperti lidah ular tengah mengumpulkan prajurit Ming dan para pendekar golongan hitam dari daratan China di tengah lapangan benteng itu. Ada sekitar lima ribu prajurit berpakaian kulit binatang dan tokoh golongan hitam dengan bentuk senjata beraneka ragam yang langsung terkumpul dengan kuda masing-masing dan berbaris rapi. Dan mereka tampak bersiaga, seperti bersiap untuk bertempur. Sementara prajurit lain yang tersisa tampak sibuk menyingkirkan teman-teman mereka yang sudah menjadi mayat di dalam benteng.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah bergerak keluar dari padang rumput itu dengan menggebah cepat kuda tunggangan masing-masing. Tampak berkuda paling depan adalah Tiga Iblis Pedang Ular. Mereka bergerak cepat, menuju Desa Yeoju yang semula merupakan gerbang termudah untuk masuk ke Kerajaan Joseon sekaligus menguasai Istana Chandeok. Tapi, Desa Yeoju kini tak lagi menjadi gerbang termudah untuk para pasukan Ming, karena ribuan pasukan Joseon juga sudah membuat benteng pertahanan di desa tersebut.
Kim Junsu yang sejak tadi mengawasi keadaan benteng pasukan Ming dari tempat persembunyiannya dengan cepat melompat naik ke punggung kuda hitam tunggangannya dan berbalik. Digebahnya kuda hitam itu dengan kecepatan tinggi, hingga dalam waktu sebentar saja ia sudah sampai di perbatasan Desa Yeoju. Ia segera meminta Panglima Kang untuk menyiagakan prajuritnya, untuk menghadapi serangan pasukan Ming yang kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya.
Panglima Kang yang dibantu Panglima Choi dan Panglima Lee segera mempersiapkan para prajurit untuk menyambut kedatangan pihak musuh. Mereka segera mengumpulkan prajurit-prajurit Kerajaan Joseon dan membentuk sebuah pertahanan di tepi hutan yang berbatasan langsung dengan Desa Yeoju. Hanya dalam waktu sebentar, seluruh prajurit Kerajaan Joseon sudah siap dengan senjata masing-masing, begitu juga dengan para pendekar penegak keadilan dari rimba persilatan yang turut membantu. Pasukan panah juga sudah ditempatkan pada tempatnya masing-masing.
Teriakan-teriakan pembangkit semangat bertempur sudah terdengar, bagai hendak mengoyak habis seluruh rimba yang menjadi perbatasan dari Desa Yeoju ini. Dan kepulan debu bercampur daun-daun kering pun sudah mulai terlihat membubung tinggi ke angkasa. Hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat menembus hutan, bagai hendak meruntuhkan mayapada. Namun, tidak terlihat sedikit pun kegentaran di wajah para prajurit Kerajaan Joseon yang terus menanti, menunggu perintah dari pimpinannya. Sementara, barisan terdepan pasukan Ming sudah mulai terlihat keluar dari dalam hutan. Sambil berteriak-teriak keras menggelegar, mereka terus memacu cepat kudanya, meluruk deras menyerang desa kecil yang menjadi gerbang masuk ke istana utama Kerajaan Joseon itu.
"Seraaang…!"
"Hancurkan…!"
"Hiyaaa…!"
"Yeaaa…!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi, para prajurit yang mengenakan pakaian dari kulit binatang yang dipimpin oleh tokoh rimba persilatan golongan hitam dari daratan China itu langsung saja merangsek, menyerang Desa Yeoju yang sudah dijaga ribuan prajurit pilihan Kerajaan Joseon. Mereka berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan senjata, dan menggebah cepat kudanya. Sehingga membuat debu dan daun-daun kering beterbangan mengangkasa. Hentakan-hentakan kaki kuda yang begitu bergemuruh, membuat jantung siapa saja yang mendengar pasti akan bergetar. Tapi, seluruh prajurit Kerajaan Joseon sedikit pun tidak terlihat gentar. Bahkan tampaknya mereka seperti sudah tidak sabar lagi menunggu perintah untuk menyerang.
"Perintahkan pasukan panah untuk menghambat mereka, Panglima Kang," perintah Yang Mulia Raja Yi Yunho yang memimpin langsung pasukannya dari atas punggung kuda hitamnya, pada Panglima Kang yang berada di sampingnya.
"Baik, Yang Mulia," sahut Panglima Kang.
Dan seketika itu juga, teriakan Panglima Kang yang keras menggelegar pun terdengar bagai guntur hendak membelah langit. Sebuah teriakan yang berisi perintah yang sejak tadi sudah ditunggu-tunggu seluruh prajurit Kerajaan Joseon. Dan belum juga hilang teriakan Panglima Kang dari pendengaran, pasukan panah yang berjumlah lima ratus orang langsung cepat melepaskan anak-anak panah.
Swing…!
Crab!
"Aaakh…!"
Trak!
Seketika itu juga, ribuan anak panah berhamburan menghujani pasukan Ming. Dan mereka yang tidak sempat menghindar, harus terpental dari punggung kuda dengan anak panah menembus tubuh. Tapi, tidak sedikit yang bisa menangkis serangan panah itu dengan senjata. Dan rupanya, pasukan panah dari Kerajaan Joseon memang sudah terlatih dengan sangat baik. Mereka cepat sekali bisa melepaskan anak-anak panah, bagai tidak akan pernah habis dari kantung kulitnya. Sehingga bukan lagi ratusan anak panah yang menghujani pasukan Ming, tapi ribuan yang datang meluruk bagai hujan yang sulit dapat dibendung lagi.
Maka kini jeritan-jeritan melengking tinggi mengiringi kematian pun semakin sering terdengar saling sahut. Dan memang, pergerakan pasukan Ming jadi terhambat oleh pasukan panah ini. Bahkan para pendekar golongan hitam dari daratan China yang turut memimpin pasukan musuh itu tidak dapat lagi berbuat lebih jauh untuk menyelamatkan prajurit yang dipimpinnya yang menjadi kalang kabut tidak terkendalikan lagi. Hanya dalam waktu singkat, sudah terlihat lebih dari tiga ribu orang prajurit Ming yang ambruk bergelimpangan dengan tubuh tertembus anak panah. Dan gerakan mereka benar-benar terhambat sekarang. Tidak mungkin lagi bisa bergerak maju untuk menyerang Desa Yeoju yang menjadi gerbang masuk ke istana utama Kerajaan Joseon.
"Serang mereka dari sayap kiri, Panglima Kang," perintah Yang Mulia Raja yang tidak lepas mengawasi pertarungan dari atas punggung kudanya. Jaejoong yang sejak tadi hanya diam saja, duduk dengan tenang di atas punggung kuda putihnya, tepat di sebelah kanan sang suami. Pandangan matanya juga tidak pernah lepas dari jalannya pertempuran.
"Baik, Yang Mulia," sahut Panglima Kang.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Panglima Kang segera berteriak untuk memerintahkan prajuritnya yang berada di sebelah kiri agar langsung menyerang.
Dan teriakan-teriakan pertempuran pun seketika terdengar membahana gegap-gempita dari para prajurit Kerajaan Joseon yang berhamburan keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka langsung meluruk deras, menyerang para prajurit Ming yang saat itu sudah tidak terkendalikan lagi.
"Hiyaaa…!"
"Bunuh mereka semua…!"
"Hajaaar…!"
"Seraaang…!"
"Yeaaah…!"
Yang Mulia Raja Yi Yunho tersenyum melihat keadaan begitu cepat dapat dikuasai para prajurit Kerajaan Joseon yang tidak seluruhnya diterjunkan dalam pertempuran. Walau dengan jumlah yang lebih sedikit, tapi memang diakui kalau siasat yang didapatnya dari sang selir sangat ampuh untuk memukul mundur lawan.
Pertarungan tidak lama berjalan. Para pasukan Ming yang dipimpin para pendekar golongan hitam dari daratan China yang hanya tersisa separuh, segera bergerak mundur, saat merasakan tidak mungkin lagi meneruskan penyerangannya. Para pendekar itu merasakan ketangguhan dari pertahanan para prajurit Joseon. Kini mereka segera berteriak, memerintahkan orang-orangnya untuk mundur.
Sedikit demi sedikit, para prajurit Ming yang mengenakan pakaian dari kulit binatang itu bergerak mundur, kembali masuk ke dalam hutan. Ditinggalkannya teman-teman mereka yang gugur dalam pertempuran. Hanya dalam waktu tidak begitu lama, lebih dari setengah jumlah mereka yang menyerang Desa Yeoju tewas di tangan para prajurit Kerajaan Joseon yang juga dibantu oleh kalangan pendekar aliran putih. Sementara Panglima Kang segera memerintahkan prajuritnya untuk menghentikan pertarungan, setelah mendapat perintah dari Yang Mulia Raja. Dibiarkannya saja para prajurit dari Ming kembali ke benteng pertahanan yang ada di tengah padang rumput di seberang hutan ini.
"Aku harus mengakui kebenaran ucapan Yang Mulia Permaisuri. Membawamu turut serta dalam pertempuran kali ini memang mampu menekan jatuhnya korban dari pihak kita. Siasat-siasatmu juga sangat hebat. Sejujurnya, kau cocok menjadi Maha Patih, Sayang," puji sang raja sambil memandang selir terkasihnya dengan senyuman lebar menghiasi wajah tampannya. Wajah cantik sang selir terlihat merona seketika mendapat pujian dari sang suami.
"Terima kasih, Yang Mulia…," hanya itu yang bisa diucap Jaejoong, menerima pujian dari suaminya.
Yang Mulia Raja kembali menghadiahkan sebuah senyuman yang manis sekali. Dalam hati, dia memang memuji tulus kemampuan selir terkasihnya itu dalam mengatur siasat pertempuran. Entah, semua kemampuan itu didapatkan dari mana. Sepertinya memang namja cantik itu terlahir dengan bakat alam yang luar biasa dan memiliki kemampuan di banyak bidang.
Sementara, Panglima Kang sudah berada di tengah-tengah prajuritnya. Segera diperintahkannya seluruh prajurit yang masih hidup untuk membersihkan tempat ini dari mayat-mayat yang bergelimpangan, dan sebagian lagi merawat para prajurit yang terluka. Yang Mulia Raja segera meminta selir terkasihnya itu untuk menemui Panglima Kang, untuk merundingkan strategi perang selanjutnya, sementara ia segera memerintahkan Kepala Pengawal Kim untuk kembali mengamati pergerakan pihak Ming. Kepala pengawal berwajah manis itu segera membungkuk memberi hormat dan langsung melompat naik ke punggung kudanya, lalu menggebahnya dengan cepat menerobos hutan.
Jaejoong hanya sekilas memandang kepergian Kepala Pengawal Kim yang juga merupakan orang kepercayaan suaminya itu. Namja cantik itu langsung sibuk membantu Panglima Kang mengatur para prajuritnya untuk kembali berada pada tempatnya dalam mempertahankan gerbang masuk ke Kerajaan Joseon ini. Jaejoong segera merubah keberadaan mereka, hingga tidak mungkin taktik mereka bisa dipelajari pihak lawan yang pasti akan menggempur kembali.
ooo 000 ooo
Sementara itu, Kepala Pengawal Kim sendiri sudah sampai di pinggiran padang rumput yang ada di tengah-tengah hutan ini. Tak jauh di hadapannya, benteng pertahanan pasukan Ming berdiri tegak, bersama ribuan prajuritnya yang semuanya mengenakan pakaian dari kulit binatang. Dan baru saja Kepala Pengawal Kim turun dari punggung kuda, terdengar suara bergemerisik dari daun-daun kering yang terpijak sepasang kaki. Kepala pengawal berwajah manis itu cepat memalingkan wajahnya ke belakang. Dan bibirnya langsung mengukir senyum kecil, saat melihat Panglima Shin datang menghampiri dengan menunggang kuda coklatnya.
"Kubawakan air untukmu, Hyung. Minumlah dulu…," ujar Panglima Shin sambil menyerahkan kantung dari kulit berisi air. Kepala Pengawal Kim segera mengambil kantung kulit itu, membuka tutupnya dan menenggak isinya untuk membasahi tenggorokannya yang memang terasa kering. Setelah dahaga yang menderanya sedikit berkurang, Kepala Pengawal Kim menyerahkan kembali kantung kulit yang kini isinya tinggal setengah pada Panglima Shin.
"Terima kasih," kata kepala pengawal itu sambil menyeka sudut bibirnya. Kepala Pengawal Shin hanya membalasnya dengan sebuah senyuman lebar.
"Apa sudah ada gerakan lagi di sana, Hyung?" tanya Panglima Shin lagi.
"Aku juga baru sampai di sini, Won Gi. Belum sempat memerhatikan mereka," sahut Kepala Pengawal Kim.
"Tampaknya mereka sedang mempersiapkan penyerangan lagi, Hyung," ujar Panglima Shin agak menggumam.
"Ya, kelihatannya memang begitu," sambut Kepala Pengawal Kim juga pelan suaranya.
Mereka memang melihat kesibukan yang terjadi di sekitar benteng pertahanan Kerajaan Ming. Tampak para prajurit yang mengenakan pakaian dari kulit binatang yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang dan bersenjata lengkap sudah berbaris rapi di depan bangunan besar itu. Bahkan terlihat puluhan pedati berbaris rapi di bagian belakang. Rupanya, kali ini pihak Ming akan menyerang dengan kekuatan penuh.
"Lihat, Hyung! Bukankah itu pemimpinnya…?" seru Panglima Shin agak keras suaranya.
"Hm…," Kepala Pengawal Kim hanya menggumam saja sedikit.
Dari bangunan benteng, seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian indah dari sutera halus tampak keluar dengan dikawal oleh puluhan pendekar aliran hitam dari daratan China. Pemuda tampan yang tak lain adalah Panglima Liu Xi yang merupakan Panglima Tertinggi Kerajaan Ming itu menunggang seekor kuda putih yang gagah, dengan sebilah pedang bergagang kepala tengkorak tersampir di punggung. Saat itu juga, terdengar sorak-sorai dari semua prajurit yang berbaris rapi di depan benteng pertahanan pasukan Ming. Mereka mengelu-elukan pemimpin tunggal mereka yang berada di atas kuda putih, dikawal Tiga Iblis Pedang Ular.
"Won Gi! Beritahu Panglima Kang untuk bersiap-siap menghadapi pertempuran besar. Tampaknya mereka akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang kita," kata Kepala Pengawal Kim langsung memberi perintah.
"Baik, Hyung…,"
Tanpa diperintah dua kali, Panglima Shin segera memutar balik kudanya. Kuda cokatnya langsung digebah cepat untuk melaporkan keadaan dan memberitahu agar para prajurit Joseon bersiap menghadapi pertempuran besar yang akan kembali terjadi. Sementara para pasukan Ming yang kini dipimpin langsung oleh panglima tertinggi mereka, sudah mulai bergerak menuju Desa Yeoju. Dan memang, tepat dugaan Kim Junsu. Mereka kini mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk bisa menembus pertahanan para prajurit Joseon yang menjaga gerbang masuk ke Kerajaan Joseon. Tak berapa lama kemudian, Kepala Pengawal Kim juga memutar kudanya, dan menggebahnya dengan cepat menuju Desa Yeoju.
ooo 000 ooo
Terkesiap juga hati Yang Mulia Raja Yi Yunho, saat melihat kekuatan pasukan Ming yang muncul dari dalam hutan dengan dipimpin oleh seorang panglima berwajah tampan. Walaupun sudah tahu seberapa besar jumlah kekuatan mereka, tapi tetap saja membuat seluruh aliran darahnya bagai terbalik. Bahkan semua prajurit yang sudah berada pada tempat masing-masing, sempat terpaku melihat jumlah kekuatan lawan yang berlipat ganda dari jumlah yang ada sekarang.
Akan tetapi, walaupun lawan yang akan dihadapi begitu kuat dan besar, sedikit pun tidak ada kegentaran tersirat dari wajah para prajurit Kerajaan Joseon. Sementara, Yang Mulia Raja yang didampingi Panglima Choi dan Panglima Kang, tampak tegar menanti serangan datang di punggung kuda masing-masing. Dan hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat, semakin jelas terdengar menggetarkan tanah yang mereka pijak. Teriakan pembangkit semangat pertarungan pun terdengar saling sambut. Tampak para prajurit Ming yang semuanya menunggang kuda semakin dekat saja jaraknya dengan perbatasan Desa Yeoju. Sementara, para prajurit Kerajaan Joseon sudah siap menunggu perintah dengan senjata terhunus.
"Pasukan panah, seraaang…!" seru Panglima Kang begitu mendapat perintah dari sang raja.
Dan seketika itu juga, ratusan pasukan panah yang sudah siap sejak tadi langsung melepaskan anak-anak panah dengan cepat, menyambut kedatangan barisan terdepan para prajurit Ming. Hujan panah yang datang dengan cepat, membuat mereka yang berada di barisan depan tidak sempat lagi menghindar. Maka jeritan-jeritan menyayat pun seketika terdengar saling sambut, mengiringi ambruknya tubuh-tubuh prajurit berpakaian kulit binatang dari atas punggung kuda.
Walaupun dihujani anak panah dengan gencar, tapi para prajurit Ming tidak terlihat gentar. Mereka terus maju, menggebah cepat kudanya sambil berteriak-teriak mengangkat senjata di atas kepala. Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi pun semakin sering terdengar saling susul. Dan Panglima Kang kembali mengangkat tangannya, memberi perintah pada para prajuritnya
"Seraaang…!"
Seketika itu juga, ribuan prajurit Joseon berlarian menyerang para prajurit Ming. Teriakan-teriakan keras pembangkit semangat bertempur kini berbaur menjadi satu dengan jeritan-jeritan menyayat, mengiringi tubuh-tubuh yang ambruk bersimbah darah membasahi tanah.
Yang Mulia Raja, Panglima Kang, Panglima Choi, dan Panglima Lee tidak tinggal diam. Mereka segera memacu tali kekang kuda masing-masing, merangsek ke tengah kancah pertempuran. Dengan senjata andalan di tangan, mereka menghajar para pasukan lawan bagai banteng murka. Ringkikan kuda membuat ssusana di pinggiran Desa Yeoju ini semakin hiruk-pikuk tidak menentu.
Walaupun jumlah para prajurit Joseon lebih sedikit, tapi sangat sulit bagi pasukan Ming untuk menembus pertahanan. Terlebih lagi, para pendekar golongan putih dari rimba persilatan juga ikut terjun memperkuat barisan pertahanan para prajurit Kerajaan Joseon yang langsung berhadapan dengan para pendekar aliran hitam dari daratan China. Adu kesaktian pun tak terelakkan lagi, membuat Desa Yeoju dalam sekejap tak ubahnya sebuah ladang pembantaian dengan begitu banyaknya tubuh yang bergelimpangan kehilangan nyawa.
"Kalau begini terus, bisa habis prajurit Joseon, Joongie," ujar Kepala Pengawal Kim, terdengar lirih sekali nada suaranya. Sang kepala pengawal yang memang diperintahkan untuk mendampingi Jaejoong yang tidak diperbolehkan untuk mengangkat senjata oleh Yang Mulia Raja, terlihat putus asa sambil terus mengawasi jalannya pertempuran dari depan tenda khusus yang dibangun untuk sang raja dan selirnya. Jelas sekali terlihat kalau prajurit Joseon perlahan-lahan mulai terdesak.
"Hmmm…," Jaejoong hanya menggumam singkat dari punggung kuda putihnya, tepat di depan tenda peristirahatan yang dibangun untuknya dan sang suami. Ia lalu menghembuskan napas panjang. Sebenarnya tanpa perlu diberitahu oleh Kepala Pengawal Kim, ia juga bisa melihat keadaan para prajurit Joseon yang sudah mulai terdesak. Selir terkasih raja itu segera memutar otaknya dengan cepat agar bisa membalikkan keadaan dan menekan jatuhnya korban dari pihak mereka dalam menghadapi gempuran Ming yang terus merangsek menerobos pertahanan. Meskipun ia tahu bahwa kemampuan prajurit Joseon bisa diandalkan, namun mereka tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi menghadapi gempuran pasukan Ming yang menyerang dengan kekuatan penuh meski jumlahnya sudah sedikit berkurang. Biar bagaimana pun, manusia tentu memiliki segala keterbatasan.
Dalam pertempuran yang masih terus berlangsung ini saja, sudah cukup banyak mereka kehilangan prajurit, walau masih dapat bertahan dari serangan pihak lawan. Sulit diramalkan, apakah prajurit-prajurit Kerajaan Joseon masih mampu untuk terus bertahan dan menembus pertahanan pihak lawan yang begitu kuat.
Pada saat kedua orang itu sedang terdiam, terlihat seorang panglima datang menghampiri tergesa-gesa. Panglima berusia muda dengan keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya itu langsung membungkuk di depan Jaejoong dan Kepala Pengawal Kim.
"Ada apa, Panglima?" tanya Jaejoong dengan nada suara yang sangat lembut, namun berwibawa.
"Ampun, Selir Hwan. Hamba kedatangan seorang utusan prajurit dari istana. Dia menyampaikan kabar, kalau di perbatasan sebelah utara telah datang satu pasukan berjumlah lima ribu orang dari Kerajaan Tiongkok," lapor sang panglima.
"Hm…. Apa yang mereka inginkan?" tanya sang selir dengan kening berkerut.
"Mereka datang untuk membantu kita, Selir Hwan. Bahkan Kaisar Chen sendiri yang memimpin pasukan itu," lapor panglima itu lagi.
Jaejoong langsung terdiam beberapa saat dengan otak berpikir keras. Kerajaan Tiongkok letaknya memang berbatasan dengan Kerajaan Joseon. Dan jika Kerajaan Joseon sampai jatuh ke tangan Kerajaan Ming, akan sangat sulit bagi Kerajaan Tiongkok yang luasnya hanya setengah dari luas Kerajaan Joseon untuk mempertahankan wilayahnya. Rupanya hal itulah yang membuat kaisar mereka tergerak hatinya untuk memperkuat barisan prajurit Kerajaan Joseon. Karena, dia juga tidak ingin wilayah kerajaannya jatuh ke tangan pasukan Ming yang sudah sangat terkenal sebagai bangsa penakluk itu.
"Kirim utusan segera, Panglima. Kalau mereka memang ingin membantu, segeralah datang ke sini," perintah Jaejoong yang memang telah diijinkan oleh sang suami untuk mengambil suatu keputusan yang dianggapnya tepat di saat-saat tertentu.
"Baik, Selir Hwan," sahut panglima muda itu, seraya kembali membungkukkan tubuhnya. Ia lalu bergegas meninggalkan Jaejoong dan Kepala Pengawal Kim. Dihampirinya seorang utusan dari Istana Changdeok yang menunggu di samping kudanya. Hanya sebentar saja panglima itu berbicara, lantas prajurit utusan itu sudah langsung melompat naik ke punggung kudanya. Cepat sekali kudanya digebah hingga berlari kencang meninggalkan Desa Yeoju ini.
Jaejoong memandangi utusan itu hingga lenyap di tikungan jalan yang langsung menuju ke Istana Changdeok. Kemudian sekali lagi dihembuskannya napas panjang, dan berpaling menatap pertempuran yang masih terus berlangsung di depan matanya. Terlihat serombongan besar prajurit berpakaian kulit binatang dengan menunggang kuda kembali keluar dari dalam hutan dan membantu teman-temannya yang terus bertempur dengan prajurit Joseon. Sudah tak terhitung lagi tubuh-tubuh yang jatuh bergelimpangan terkena anak panah atau pun sabetan senjata tajam lainnya.
"Mudah-mudahan saja raja-raja lainnya yang bertetangga dengan kita, tergerak hatinya mengikuti tindakan Kaisar Chen," desah Kepala Pengawal Kim pelan, seperti bicara pada diri sendiri.
Jaejoong berpaling sedikit, lantas menatap wajah manis orang kepercayaan suaminya itu. Terdengar hembusan napas panjangnya. Bantuan dari pihak lain sebenarnya memang sangat diharapkan, sebab dengan penyatuan kekuatan bukan tidak mungkin mereka akan bisa menghancurkan pasukan Ming hingga tak bersisa.
"Joongie! Apa tidak sebaiknya kita mengirimkan utusan pada kerajaan-kerajaan lain yang menjadi sahabat kita untuk meminta bantuan?" usul Kepala Pengawal Kim setelah beberapa saat lamanya terdiam membisu.
"Tidak perlu, Kim Ahjusssi," sahut Jaejoong tegas.
"Tapi kita memang membutuhkan bantuan, Joongie. Dengan jumlah prajurit sekarang ini, tidak mungkin kita bisa bertahan lebih lama lagi. Sedangkan kau tahu sendiri, jumlah mereka begitu besar. Bahkan baru saja mereka kedatangan bala bantuan dengan jumlah yang sangat besar untuk membantu menggempur pasukan kita," kata Kepala Pengawal Kim, agak keras suaranya.
"Joongie tidak akan mengirimkan utusan untuk meminta bantuan, Kim Ahjussi. Tapi kalau mereka datang dan ingin bergabung, tidak akan kita tolak. Biarkan mereka berpijak pada pendiriannya sendiri. Lagi pula, Yang Mulia juga tidak akan menyetujuinya. Kekuatan prajurit yang kita miliki mungkin memang tidak sebanding dengan mereka, Ahjussi. Tapi itu bukan alasan yang tepat untuk berlindung di balik punggung orang lain. Kerajaan Joseon berdiri berkat darah dan keringat leluhur, dan wajib dipertahankan dengan darah juga," tandas Jaejoong, tetap pada pendiriannya.
"Tapi, Joongie…. Kalau Kerajaan Joseon jatuh, mereka juga akan terancam."
"Tidak, Kim Ahjussi…,' ujar Jaejoong sambil tersenyum dan menggelengkan kepala. "Joongie tahu betul sikap Yang Mulia. Yang Mulia tidak akan membiarkan Kerajaan Joseon runtuh. Baginya, lebih baik mati, asalkan Joseon tetap berdiri tegak. Yang Mulia tidak akan pernah mengemis bantuan dari kerajaan sahabat, Ahjussi. Beliau tidak akan mengikuti jejak pendahulunya yang meminta bantuan pihak Ming dalam menghadapi perompak Jepang."
Mendengar kata-kata yang bernada tegas itu, Kepala Pengawal Kim jadi terdiam dan tidak bisa lagi membantah. Sebagai orang kepercayaan raja, sesungguhnya ia juga tahu persis seperti apa kepribadian sang raja.
"Ahjussi, ada cukup banyak prajurit kita yang tidak terjun dalam kancah pertempuran, bukan?" tanya Jaejoong tanpa berpaling. "Bisakah Ahjussi mengumpulkan mereka? Bawa mereka menemui Joongie," perintah sang selir yang membuat kening kepala pengawal itu jadi berkerut.
"Boleh kutahu untuk apa?"
"Untuk menghambat gerakan pasukan Ming sebelum bala bantuan datang. Jika menunggang kuda dengan pelan, butuh setengah hari dari Istana Changdeok menuju desa ini, bukan? Tapi jika kuda-kuda itu digebah dengan cepat, Joongie yakin dalam waktu cukup singkat pasukan Tiongkok akan tiba di sini. Waktu yang tersisa itu harus kita manfaatkan sebaik mungkin, Ahjussi," kata Jaejoong tanpa menjelaskan lebih rinci apa yang ada dalam pikirannya. Meskipun benaknya terus menyulam jaring-jaring tanya, namun Kepala Pengawal Kim tetap menjalankan perintah selir terkasih rajanya yang memang tidak pernah mampu ditebak jalan pikirannya.
Dari punggung kuda hitamnya, Kepala Pengawal Kim bersiul tiga kali. Belum hilang suara siulan itu dari pendengaran, dari beberapa arah bermunculan para prajurit Joseon yang bertugas menjaga persenjataan. Para prajurit yang berjumlah lima puluh orang itu langsung berbaris rapi dan membungkukkan tubuhnya di depan Jaejoong dan Kepala Pengawal Kim.
"Prajurit, kalian lihat batu-batu kecil yang banyak berserakan di sekitar kalian?" tanya Jaejoong langsung yang dibalas dengan anggukan kecil dari para prajurit itu. "Bagus! Joongie ingin kalian semua memungut batu-batu kecil itu sebanyak-banyaknya. Dan bawa ke hadapan Joongie!" perintah Jaejoong yang segera dikerjakan oleh para prajurit itu. Meskipun merasa aneh dengan permintaan selir berwajah cantik itu, namun para prajurit Joseon tersebut tetap melaksanakan perintahnya dengan cepat dan tanpa banyak bicara. Dalam waktu sebentar saja, terlihat beberapa gunungan batu di samping kuda putih yang ditunggangi Jaejoong.
"Ahjussi, kalian berdua pergilah ke tenda khusus bahan perbekalan. Ambil sebuah ember kayu dan isi setengahnya dengan air. Bawa kemari!" kembali Jaejoong memberi perintah pada dua orang prajurit yang sudah kembali berbaris di depannya. Kedua prajurit itu mengangguk patuh dan bergerak cepat melaksanakan perintah namja cantik itu. Tak lama, mereka berdua sudah kembali ke hadapan Jaejoong sambil menenteng sebuah ember kayu yang setengahnya berisi air. Dari lipatan ikat pinggangnya, Jaejoong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi serbuk berwarna jingga. Ia lalu melompat turun dari kudanya dan mencurahkan seluruh isi bungkusan itu ke dalam ember kayu. Dengan sebatang ranting kering yang terdapat di ujung kakinya, diaduknya air di dalam ember kayu itu hingga serbuk yang dituangkannya larut dan berubah warna menjadi jingga. Ia melangkah mundur dari ember kayu itu, lalu memerintahkan beberapa prajurit untuk memasukkan batu-batu kecil yang telah dipungut ke dalam ember kayu sedikit demi sedikit.
"Batu-batu ini telah Joongie rendam dengan sejenis racun yang cukup mematikan bila tersentuh kulit. Ambillah wadah-wadah yang lebih kecil, dan masukkan batu-batu yang telah direndam itu ke dalamnya. Hati-hati, jangan sampai mengenai kulit kalian. Setelah itu, ambillah jalan memutar, dan bawa batu-batu itu ke atas menara kayu. Pindahkan batu-batu itu ke ujung pelontar dan tunggu perintah Joongie selanjutnya. Begitu Joongie mengangkat pedang memberi tanda, lontarkan batu-batu itu ke arah pasukan Ming. Kalian mengerti?" tanya Jaejoong setelah menjelaskan rencananya.
"Mengerti, Selir Hwan!" sahut para prajurit itu secara serempak sambil menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian bergegas menjalankan perintah selir terkasih raja tersebut.
Setelah para prajurit itu menghilang dari hadapannya, Jaejoong segera menarik tali kekang kuda putihnya dengan tangan kirinya. "Ayo, Kim Ahjussi. Kita temui Yang Mulia. Yeaaa…!" tanpa menunggu jawaban, Jaejoong langsung menggebah kudanya dengan cepat memasuki ajang pertempuran. Pedang perak tipis sudah tergenggam di tangan kanannya.
"Joongie…!" Kepala Pengawal Kim yang terkejut bukan main melihat tindakan Jaejoong yang melanggar perintah junjungannya itu segera menggebah kuda hitamnya, menyusul Jaejoong sudah cukup jauh di depannya. Pedangnya yang bergagang kepala naga juga sudah tercabut dari warangka dan terhunus di depan dada.
"Hiyaaa…!"
Trek!
"Yang Mulia! Perintahkan Panglima Kang untuk menarik mundur pasukan kita!" teriak Jaejoong sambil menggerakkan pedang tipisnya ke atas kepala, menangkis sebuah tombak berhulu runcing yang nyaris memecahkan batok kepalanya. Saat itu jaraknya dengan sang suami terpisah sekitar dua tombak. Suara denting senjata yang beradu diiringi jeritan kematian membuat ia harus mengeraskan suaranya. Sang raja yang terkejut bukan main melihat selir terkasihnya sudah ikut terjun dalam kancah pertempuran segera menggebah kuda hitamnya mendekati sang selir, sambil tetap mengayunkan pedangnya, menumbangkan siapa saja yang berusaha menghadang jalannya.
"Joongie! Mengapa kau meninggalkan tempatmu?" tanya sang raja dengan berang begitu ia sudah dekat dengan Jaejoong. Sirat kemurkaan yang terbalut kecemasan nyata tergambar di wajahnya.
"Yang Mulia bisa memarahi dan menghukum Joongie nanti. Yang paling penting sekarang, kita harus bisa menghambat gerakan pasukan Ming sebelum bala bantuan dari Tiongkok sampai ke sini. Tarik mundur pasukan kita, Yang Mulia. Usahakan untuk membuat pasukan Ming berkumpul di tengah-tengah. Cepat, Yang Mulia!" teriak Jaejoong lagi, sambil berusaha menghindari sabetan pedang dari arah kanan yang nyaris menembus dadanya.
"Ingatkan aku kalau kau yang memintaku untuk menghukummu, Joongie!" desis sang raja menahan geram. Meskipun kesal bukan main karena sang selir mengabaikan perintahnya, namun sang raja tetap melakukan permintaan selirnya itu. Ia segera memerintahkan Panglima Kang yang sedang berhadapan dengan lima pendekar aliran hitam dari daratan China untuk menarik mundur pasukannya.
"Munduuur…!"
Suara Panglima Kang terdengar keras menggelegar saat memerintahkan pasukannya untuk mundur. Dan seketika itu juga, pasukan Joseon bergerak cepat, meninggalkan kancah pertempuran yang dipenuhi tubuh-tubuh bergelimpangan tumpang tindih. Membuat posisi pasukan Ming benar-benar berada di tengah-tengah, seperti yang diinginkan oleh Jaejoong.
Setelah memastikan bahwa pasukan Joseon sudah berada di tempat yang cukup aman, Jaejoong mengangkat pedangnya, memberi tanda pada para prajurit yang berada di atas menara kayu. Para prajurit itu langsung bergerak cepat, melontarkan batu-batu beracun ke arah pasukan Ming yang terlonjak kaget menerima serangan yang tidak disangka-sangka itu. Mereka berusaha sebisanya untuk menghadang serangan batu-batu beracun yang terus meluruk bagai hujan itu. Namun sayang, racun ganas yang menempel di batu itu langsung bekerja cepat merusak jaringan kulit saat mengenai tubuh para prajurit Ming. Reaksi racun yang dimulai dengan timbulnya benjolan berair di seluruh tubuh yang disusul rasa panas dan gatal luar biasa membuat seseorang yang terkena biasanya tak mampu menahan diri untuk tidak menggaruk bagian tubuh mereka yang terkena racun tersebut. Dan semakin digaruk, rasa gatal yang timbul semakin hebat hingga menyebabkan korbannya akhirnya tewas dengan sekujur tubuh tercabik kuku sendiri. Maka dalam waktu sebentar saja, sudah tak terhitung berapa banyak pasukan Ming berjatuhan dari kuda dengan tubuh tak ubah kepiting rebus dengan luka cakaran kuku di sekujur tubuh mereka.
"Bantu mereka dengan pasukan panah, Panglima Kang," perintah Yang Mulia Raja melihat siasat yang dijalankan oleh selirnya itu. Lagi-lagi di dalam hati, meskipun kesal karena sang namja cantik itu telah melanggar perintahnya, namun sang raja tetap mengakui kepintaran selirnya itu. Pengetahuannya tentang berbagai jenis racun ternyata sangat berguna saat ini.
"Pasukan panah, seraaang…!" perintah Panglima Kang dengan lantang. Dan kembali, hujan anak panah dan batu beracun menyerang pasukan Ming dari dua arah. Depan dan belakang. Membuat jeritan menyayat mengiringi kematian kembali terdengar, dan tubuh-tubuh bersimbah darah kembali ambruk berjatuhan. Lebih dari separuh pasukan Ming kehilangan nyawanya. Jaejoong kembali mengangkat pedangnya, memerintahkan para prajurit di menara kayu untuk menghentikan serangan. Pasukan panah yang menyerang dari depan juga menghentikan serangan hujan panahnya. Panglima Kang kemudian memerintahkan prajuritnya untuk kembali menyerang pasukan Ming yang cukup kocar-kacir menerima serangan dari prajurit Joseon.
Sementara itu, dari arah lain Desa Yeoju, serombongan besar pasukan prajurit Kerajaan Tiongkok yang langsung dipimpin oleh Kaisar Chen, sudah tiba dan langsung terjun dalam kancah pertarungan, membantu pertahanan Kerajaan Joseon. Jaejoong memacu kudanya pelan, menghampiri sang suami yang kembali terjun ke kancah pertempuran.
"Seraaang…!"
"Hancurkan mereka…!"
Teriakan-teriakan keras bernada perintah kembali terdengar. Para prajurit Kerajaan Joseon yang mendapat bantuan dari Kerajaan Tiongkok seakan mendapatkan semangat tambahan. Mereka kembali merangsek maju menghajar para prajurit Ming yang kini keadaannya cukup terdesak.
Sementara itu, Panglima Liu Xi yang memimpin pasukan Ming terlihat tengah berhadapan dengan Kepala Pengawal Kim. Mereka berdiri berhadapan di depan kuda masing-masing yang berjarak sekitar satu batang tombak, dengan pedang menyilang di depan dada. Sorot mata kedua pemuda yang sama-sama merupakan ahli pedang itu tampak menyorot tajam, seolah mengukur tingkat kemampuan satu sama lain.
"Bersiaplah menyambut kematianmu. Hiyaaat…!" seru Panglima Liu dengan nada dingin menggetarkan. Secepat kilat ia melompat, meluruk ke arah Kepala Pengawal Kim. Akibatnya, kepala pengawal berwajah manis itu jadi terperangah dengan kedua bola mata terbeliak lebar. Ia sungguh tak menyangka serangan yang tiba-tiba itu.
"Hap!"
Cepat-cepat Kepala Pengawal Kim menarik tubuhnya ke belakang, begitu ujung pedang bergagang kepala tengkorak milik Panglima Liu berkelebat cepat sekali mengarah ke dadanya. Dan ujung pedang yang tajam itu hanya lewat sedikit saja di depan kepala pengawal kepercayaan Raja Sukjong itu.
"Hup!"
Kepala Pengawal Kim langsung melompat ke belakang beberapa langkah, begitu terhindar dari serangan Panglima Liu. Tapi baru saja kakinya menjejak tanah, panglima Ming itu sudah kembali melesat cepat, sambil mengebutkan ujung pedangnya beberapa kali.
"Hiyaaa…!"
"Hup! Yeaaa…!"
Mau tak mau, Kepala Pengawal Kim terpaksa harus berjumpalitan, menghindari serangan-serangan cepat yang dilancarkan oleh panglima Ming itu. Beberapa kali ujung pedang bergagang kepala tengkorak itu hampir mengenai tubuhnya, tapi Kim Junsu masih bisa menghindar dengan gerakan tubuh yang sangat indah.
"Hup!"
Begitu memiliki kesempatan, cepat-cepat Kepala Pengawal Kim melenting ke belakang, lalu berputaran beberapa kali di udara sebelum kedua kakinya menjejak tanah. Sedikit kakinya bergeser ke kanan. Tatapan matanya tetap tajam, mengamati setiap gerakan Panglima Liu. Sementara panglima dari Ming itu kembali melompat cepat bagai kilat. Dan dengan cepat pula pedangnya dikebutkan beberapa kali, mengarah ke bagian-bagian tubuh Kepala Pengawal Kim yang mematikan.
"Hap! Yeaaah…!"
Dengan cepat, serangan pedang panglima Ming itu disambut oleh Kepala Pengawal Kim. Bahkan beberapa kali serangan pedang bergagang kepala tengkorak itu dicoba untuk ditangkis. Kemudian sambil berteriak nyaring, tubuh kepala pengawal berwajah manis itu melenting ke udara. Lalu, dengan cepat sekali tubuhnya meluruk deras sambil mengebutkan pedang bergagang kepala naga miliknya. Arahnya langsung ke kepala, leher, dan dada panglima Ming yang berwajah tampan itu.
"Hait…!"
Mendapat serangan balasan yang begitu cepat, Panglima Liu jadi kelabakan juga menghindarinya. Tubuhnya berjumpalitan dan meliuk-liuk untuk menghindari sabetan pedang di tangan Kepala Pengawal Kim yang bagai memiliki mata itu. Ke mana saja Panglima Liu bergerak, pedang bergagang kepala naga itu selalu mengikuti dengan kecepatan sukar diikuti pandangan mata biasa.
"Hiyaat…!"
Begitu cepat Kepala Pengawal Kim mengebutkan pedangnya ke arah dada. Dan kali ini, Panglima Liu tak punya kesempatan menghindar lagi. Terpaksa serangan itu harus ditangkis dengan pedangnya. Hingga….
Tak!
"Ikh…?!"
"Hup!"
Panglima Liu jadi terperanjat setengah mati, begitu pedangnya berbenturan dengan pedang milik kepala pengawal Raja Sukjong itu. Tangannya seolah kesemutan. Sementara, Kepala Pengawal Kim langsung melompat ke belakang. Tubuhnya berputaran beberapa kali, sebelum kakinya kembali menjejak tanah. Tampak bibirnya meringis sambil memindahkan pedangnya ke tangan kiri. Keduanya kembali saling menatap tajam, dengan hati mengakui ketangguhan tenaga dalam satu sama lain.
"Hup!"
Kepala Pengawal Kim kembali menyerang. Pedang di tangan kirinya dikebutkan dengan kecepatan tinggi, mengarah ke kaki Panglima Liu yang menjadi lawannya.
"Hiyaaa…!"
"Hup! Yeaaah…!"
Dan begitu pedang bergagang kepala naga di tangan kiri Kepala Pengawal Kim mengarah ke kaki, Panglima Liu cepat-cepat melesat ke atas. Tapi, tanpa diduga sama sekali, Kepala Pengawal Kim melenting. Dan tubuhnya jadi berbalik, dengan kakinya berada di atas. Lalu dengan gerakan cepat sekali, kakinya dihentakkan. Begitu cepatnya serangan yang dilakukan Kim Junsu kali ini, hingga panglima berwajah tampan dari Ming itu tidak lagi memiliki kesempatan untuk menghindar. Dan….
Desss!
"Akh…!"
Begitu kerasnya tendangan yang dilepaskan Kepala Pengawal Kim, sehingga membuat panglima Ming itu terpental sejauh dua batang tombak. Keras sekali tubuhnya terbanting ke tanah. Dan pada saat itu Kepala Pengawal Kim sudah melesat cepat sambil berteriak keras. Bahkan, pedangnya sudah terangkat naik ke atas kepala, siap ditebaskan ke leher panglima Ming yang menjadi lawannya.
"Hiyaaat…!"
Namun dengan manis sekali Panglima Liu membuang tubuhnya ke samping. Lalu, dengan gerakan tidak terduga, ia melakukan gerakan memutar dengan kedua tangan bertumpu pada pedangnya yang tertancap di tanah. Secepat kilat diarahkannya kakinya ke bagian dada Kepala Pengawal Kim yang tidak sempat lagi menghindar.
"Akh…!"
Satu tendangan balasan yang keras mendarat dengan telak di dada kepala pengawal berwajah manis itu. Sehingga membuat tubuhnya langsung terjengkang ke belakang beberapa langkah. Kepala Pengawal Kim mengeluh pendek sambil memegangi dadanya. Napasnya jadi tersengal memburu. Belum lagi sempat menguasai tubuhnya, Panglima Liu sudah kembali melompat sambil mencabut pedangnya. Langsung diarahkannya pedang bergagang kepala tengkorak itu ke bagian leher Kepala Pengawal Kim yang sudah tidak bisa lagi menghindar.
"Awas…!" teriak keras Yang Mulia Raja yang semenjak tadi rupanya mengamati jalannya pertarungan kedua orang itu. Dan secepat itu pula tubuhnya melesat dari punggung kuda hitamnya dan bagai kilat menyampok pedang Panglima Liu dengan pedang di tangannya.
Trang!
Sang Raja Sukjong sengaja menghantamkan pedangnya ke senjata Panglima Tertinggi Kerajaan Ming itu. Bunga api memercik begitu kedua senjata beradu keras. Pada saat yang sama, kaki sang raja segera melayangkan tendangan ke arah perut lawan. Tendangan yang tidak terduga itu tidak terhindarkan lagi.
"Akh…!" panglima Kerajaan Ming itu jadi terpekik. Tubuhnya terpental ke belakang sejauh lima langkah, kemudian terhuyung-huyung sambil menggerung, merasakan sakit yang tidak terkira pada dadanya yang merasakan tendangan menggeledek dari Penguasa Joseon itu. Tampak darah muncrat dari mulut dan hidungnya. Namun dengan cepat Panglima Liu menguasai dirinya, dan kembali berdiri tegak, berhadapan langsung dengan Yang Mulia Raja Sukjong.
"Phuih!" Panglima Liu menyemburkan ludahnya yang bercampur darah. Lalu dengan ujung lengan bajunya, disekanya darah yang mengalir di sudut bibir dan hidungnya. "Bagus! Akhirnya Raja Joseon turun tangan sendiri untuk menghadapiku. Apakah kerajaan besar ini sudah kekurangan para satria utama, hingga raja mereka sendiri yang harus terjun langsung melawanku?" sindir panglima berwajah tampan itu, berusaha memancing emosi lawan. Raja Sukjong hanya tersenyum tipis memandangi Panglima Tertinggi Kerajaan Ming itu.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu kehilangan kewibawaan sebagai seorang panglima jika harus mati di ujung pedang salah satu prajuritku," sahut Yang Mulia Raja kalem. Raja Sukjong sudah bisa membaca kalau lawan yang dihadapinya termasuk seseorang yang mudah tersulut emosi. Dari tindakannya yang langsung mengerahkan kekuatan penuh pasukannya untuk menghancurkan Desa Yeoju agar bisa secepatnya menaklukkan Joseon, sudah terlihat jelas kalau panglima muda itu masih belum bisa mengontrol emosinya dengan baik. Sebuah tindakan yang justru menguntungkan pihak lawan tanpa disadarinya.
Sambutan Raja Sukjong yang datar itu membuat seluruh darah dalam tubuh Panglima Liu bergolak mendidih. Gerahamnya bergemeletuk menahan kemarahan yang sudah memuncak sampai ke ujung kepala. Dan seluruh wajahnya memerah seperti besi terbakar.
"Sombong! Tahan seranganku! Hiyaaat…!"
Sambil membentak keras menggelegar, Panglima Liu langsung saja melompat menyerang dengan kebutan pedang yang begitu dahsyat, mengarah langsung ke batang leher Yang Mulia Raja.
Bet!
"Haiiit…!"
Namun hanya sedikit saja sang raja mengegoskan kepala, sabetan pedang lawan hanya lewat sedikit di depan tenggorokan. Sang raja cepat-cepat melenting tinggi-tinggi ke atas dan secara tiba-tiba tubuhnya menukik seraya membabatkan pedangnya ke arah Panglima Liu yang masih terkesiap.
Dengan cepat panglima Kerajaan Ming itu menggulingkan tubuhnya ke samping, menghindari serangan pedang sang raja Joseon yang seolah memiliki mata dan mengincar bagian-bagian tubuhnya yang mematikan. Ia kemudian berusaha melepaskan tendangan berputar ke arah rahang sang raja dengan bertumpu pada pedang bergagang kepala tengkorak miliknya yang tertancap di tanah.
Namun dengan mudah serangan itu dapat dipatahkan oleh Raja Sukjong yang memiliki keahlian memainkan pedang tak kalah mengagumkan. Beberapa kali Panglima Liu terpaksa jatuh bangun menghindari serangan balasan yang diberikan oleh Penguasa Joseon itu. Dan berkali-kali pula tubuhnya terhuyung-huyung akibat tendangan sang raja berwajah tampan itu.
Dug!
"Ukh…!" Panglima Liu kembali mengeluh pendek menahan sakit, ketika terkena tendangan Raja Sukjong untuk ke sekian kalinya. Tubuhnya kembali terjajar beberapa langkah ke belakang. Belum lagi sempat mengatur napasnya yang mendadak sesak, Yang Mulia Raja sudah melompat sambil mengayun-ayunkan pedangnya ke arah kepala. Panglima tertinggi dari Ming itu cepat-cepat mengangkat pedangnya, melindungi kepalanya dari tebasan pedang itu.
Tring!
Tring!
"Akh…!" Panglima itu lagi-lagi memekik tertahan. Pedang bergagang kepala tengkorak itu terpenggal jadi dua bagian. Belum lagi hilang rasa keterkejutannya, tiba-tiba Raja Sukjong berteriak keras. Tubuhnya melesat sambil mengibaskan pedangnya beberapa kali ke beberapa bagian tubuh panglima dari Ming itu.
"Aaa…!" panglima itu menjerit keras.
Meskipun sudah berusaha menghindari serangan itu, namun satu tebasan pedang Yang Mulia Raja Yi Yunho itu berhasil membuntungkan tangan kiri Panglima Tertinggi Kerajaan Ming sebatas pangkal lengan. Dan ketika tubuhnya limbung, Raja Sukjong kembali mengibaskan pedangnya ke arah leher. Kali ini panglima itu tidak bisa bersuara lagi.
Sebentar tubuhnya masih mampu berdiri tegak, kemudian limbung dan ambruk ke tanah. Lehernya putus terbabat pedang sang raja Joseon. Darah mengucur deras dari pangkal lengan dan leher yang buntung.
"Panglima Liu tewas…!" entah siapa yang meneriakkan itu, tapi teriakan itu mampu membuat pasukan Ming yang sedang bertempur melawan pasukan Joseon yang dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Tiongkok menjadi terbelah perhatiannya. Hal itu dengan segera dimanfaatkan oleh pasukan gabungan dua kerajaan itu. Panglima Kang segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyerang habis-habisan pasukan Ming yang meskipun dari segi jumlah memiliki pasukan yang sangat besar, namun telah kehilangan semangat bertarungnya karena kematian pemimpin tunggal mereka. Sementara Tiga Iblis Pedang Ular sendiri langsung berhadapan dengan Panglima Choi, Panglima Lee, dan Panglima Shin. Teriakan-teriakan pembakar semangat pertarungan kembali terdengar, beradu dengan denting senjata yang berujung pada jerit kematian. Dalam waktu tak berapa lagi, ke-tiga panglima utama Kerajaan Joseon telah itu telah berhasil menumbangkan lawan masing-masing, dan para prajurit gabungan Kerajaan Joseon dan Tiongkok sudah berbalik menguasai keadaan. Para prajurit Ming terlihat kalang kabut dan sebisa mungkin mempertahankan diri. Namun sayang, kekuatan prajurit Joseon yang mendapat bantuan kerajaan tetangga itu terlalu tangguh untuk mereka. Hingga hanya dalam waktu sebentar, sebagian besar pasukan Ming telah ambruk ke tanah, sementara sisanya memilih membuang senjata masing-masing pertanda menyerah dan menjadi tawanan perang, membuat para prajurit dari dua kerajaan itu bersorak-sorai penuh kegembiraan karena telah berhasil memenangkan pertempuran yang sangat melelahkan itu.
Yang Mulia Raja Yi Yunho segera memasukkan kembali pedangnya yang masih berlumur darah ke dalam warangka, dan bergegas melompat naik ke punggung kuda hitamnya. Ia kemudian menghampiri Kaisar Chen. Ia segera mengulurkan tangannya, dan menjabat erat tangan pemimpin Kerajaan Tiongkok yang sudah memimpin langsung para prajuritnya untuk membantu Joseon itu dengan penuh terima kasih. Sebentar mereka bercakap-cakap, dan Raja Sukjong langsung mengundang sahabatnya itu untuk singgah di Istana Changdeok sebagai tamu kehormatan, beserta seluruh prajuritnya. Kaisar Chen dari Tiongkok menerima dengan senang hati undangan dari Raja Sukjong. Ia lalu memerintahkan prajuritnya untuk turut membantu prajurit Joseon untuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan memenuhi tempat itu, serta membantu merawat tidak sedikit prajurit yang terluka. Ia sendiri lalu bergegas menuju ke sebuah tenda besar yang disediakan untuknya beristirahat.
Jaejoong menghampiri suaminya. Ia lalu melompat naik ke punggung kuda suaminya. Sang Raja Joseon segera memutar tubuhnya dan langsung memeluk tubuh mungil selir terkasihnya. Diciuminya kening namja cantik itu berulang-ulang, membuat Jaejoong tak sanggup menyembunyikan rona merah yang menjalar di kedua pipinya, menyaingi semburat matahari yang perlahan mulai kembali ke peraduannya.
"Kita menang, Joongie…. Kita berhasil memenangkan pertempuran ini," ujar sang raja dengan suara agak bergetar menahan haru. Jaejoong membalas pelukan suaminya itu dengan erat. Wajahnya disembunyikan di dada bidang suaminya, tanpa peduli dengan peluh yang menitik membasahi tubuh sang raja itu.
"Ne, Yang Mulia. Kita berhasil memenangkan pertempuran sekaligus mempertahankan kejayaan Kerajaan Joseon. Joongie bangga pada seluruh prajurit Joseon yang telah bertempur habis-habisan. Juga pada Kerajaan Tiongkok yang sudah turun tangan mengulurkan bantuan. Dan yang utama, Joongie bangga pada Yang Mulia. Permainan pedang Yang Mulia sangat mengagumkan. Sepertinya mata Joongie tidak bisa berkedip saat menyaksikan Yang Mulia menghadapi panglima Ming itu," sahut Jaejoong panjang lebar sambil kembali memeluk suaminya. Ia kemudian mengangkat wajahnya. Setitik airmata bergulir di pipinya, sebagai ungkapan kebahagiaan yang tak mampu diungkap hanya dengan kata-kata. Sang raja menyeka butiran bening itu dengan ujung ibu jarinya, dan kembali mendekap sang selir terkasih.
"Saatnya kita pulang ke istana dan menjemput Eomma-mu serta yang lain," sambung sang raja. Masih dalam dekapan sang suami, Jaejoong menganggukkan kepala. Ia semakin merapatkan tubuhnya dalam pelukan hangat suaminya, dengan hati yang terus mengucapkan syukur tak terhingga.
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Bersambung…
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Catatan:
38. Appo: Sakit.
39. Mianhae: Maaf.
40. Geobukseon: Kapal Kura-Kura.
41. Hyung: Kakak laki-laki (digunakan oleh laki-laki untuk memanggil kakak laki-lakinya, atau orang yang dianggap seperti kakak lelakinya).
Beranda Puan Hujan
(Tempat Puan membalas review para pembaca yang telah berbaik hati meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan)
Balasan review untuk chapter 1:
Cavia Livia: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Salam kenal kembali. Terima kasih untuk pujiannya, ya? Dan terima kasih juga sudah menyukainya. Chapter 2, 3, 4 dan 5 sudah Puan update.
NaeAizawa: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, yup! Misi Joongie dimulai!
Kim anna shinotsuke: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga untuk pujiannya. Puan juga menyukai karya-karyamu. Sebagai author kamu produktif sekali. Puan suka. Ah ya, salam kenal. Semoga kita bisa menjadi teman yang menyenangkan.
Balasan review untuk chapter 2:
Naruto Lovers: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, Joongie memang imut. Sudah Puan lanjutkan.
NaeAizawa: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak kembali, Sayang. Hahaha, tidak pakai penghulu. Yup! Permaisuri terlalu mencintai suaminya. Ia tak suka berbagi. Makanya bicara begitu.
Kim anna shinotsuke: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak kembali, Sayang. Hahaha, kawinnya di chapter 4, Sayang.
Balasan review untuk chapter 3:
Dennis Park: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya, Dennis Sayang. Iya, nih. Puan sampai geregetan sama tokoh Permaisuri satu ini. Racunnya itu ia gunakan untuk meracuni Yang Mulia Raja. Racunnya sendiri tidak terlalu berbahaya, hanya akan menyebabkan kelumpuhan untuk beberapa waktu. Tujuannya tak lain adalah untuk menyingkirkan Jaejoong. Kalau sampai racun itu termakan oleh Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ibu Suri, dan hasil investigasi membuktikan bahwa racun itu terdapat dalam mangkuk sup buatan Joongie, maka Joongie akan langsung berakhir di tiang gantungan.
Naruto Lovers: Terima kasih kembali karena sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang kalau kamu menyukai chapter ini. Ini sudah Puan lanjutkan.
NaeAizawa: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, setuju. Mungkin keluarga mereka memegang teguh prinsip, 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya.'
Balasan review untuk chapter 4:
Gothiclolita89: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk membaca serta meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya. Hahaha, iya, malam pertama. Apakah sudah cukup hot? Eeh? Puan juga berharap Joongie akan mampu bertahan di lingkungan istana dan membongkar keburukan Yang Mulia Permaisuri beserta keluarga dan antek-anteknya. Mengenai Putera Mahkota, Puan memilih Shim Changmin. Dia adalah anak dari pernikahan Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri, dan merupakan anak satu-satunya. Soalnya para selir tidak bisa hamil seumur hidup karena sudah diberi satu ramuan pencegah kehamilan di dalam makanan mereka.
Hyejeong342: Terima kasih sudah mampir, membaca, dan akhirnya meninggalkan jejaknya di sini. Puan juga sangat senang karena Joongie berhasil membuat Sup 12 Rasa dan pasangan itu sudah menikah. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca.
NaraYuuki: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Sup 12 Rasa dengan citarasa Indonesia? Hahaha, kalau ada Puan juga ingin mencobanya, Sayang. Sayangnya tak ada. Puan senang kalau Yuuki menyukai tulisan sederhana ini. Ahahaha, sesungguhnya Puan malah sangat mengagumi Yuuki dengan imajinasi Yuuki yang begitu luar biasa. Yuuki yang merupakan salah satu author yang paling produktif. Puan sudah membaca semua tulisan Yuuki, meskipun Puan belum berkesempatan untuk meninggalkan jejak, tapi pasti akan Puan lakukan. Teruslah berkarya, Sayang. Puan sempat sedih saat tahu Yuuki menghapus karya-karya Yuuki yang lama, untunglah ada beberapa yang di posting kembali. Terima kasih juga karena tidak menyerah mudah ditengah badai kritikan atau cacian atau apa pun yang mungkin membuat Yuuki gerah. Salut!
Ifa. : Terima kasih karena sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, semoga tidak mabuk ya membaca chapter 4 kemarin. Mengenai siapa orangnya, di chapter 5 ini Puan jelaskan. Joongie hamil? Karena kehamilan Jongie bukanlah inti dari cerita ini, maka Joongie tidak akan hamil dalam waktu dekat. Kehamilan Joongie akan dibahas di bagian mendekati akhir cerita. Ini sudah Puan lanjutkan.
Cho Sungkyu: Terima kasih sudah mampir, membaca dan meninggalkan jejak. Puan senang kalau kamu puas dengan chapter lalu. Hahaha, Puan ingin readers tak tanggung-tanggung membenci Yang Mulia Permaisuri dalam fanfic Puan yang ini, dan itu bisa berarti di masa depan Puan akan menulis sebaliknya. Hehehehe. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca kembali.
ReDevil9095: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk cintanya #menunduk malu-malu ala Joongie #plaaakkk. Ahahaha, iya, Puan memang seorang Ibu. Dan kamu benar, yang kelas 2 SD lagi bandel-bandelnya, namanya juga anak lelaki, ya? Dan yang bungsu lagi senang berjalan, mengeksplorasi dunia baru, lagi demen berceloteh juga, hahaha. Tingkah polah anak-anak ini kadang memang melelahkan, namun Puan usahakan untuk mengetik kalau sedang mood dan kebetulan si baby sedang tidur. Seperti saat menulis chapter 5 ini, karena kebetulan baby suka bangun siang, jadi Puan bisa meluangkan sedikit waktu untuk melanjutkan tulisan. Mengenai bahasa, mungkin karena Puan ini penggemar cerita silat semodel Pendekar Rajawali Sakti, Pendekar Slebor, atau Wiro Sableng gitu, jadi bahasanya agak gimana gitu. Yah, berkaitan dengan hobby masa kecil juga mungkin, saat anak-anak seumuran Puan doyan baca komik, Puan malah melahap koleksi cerita silat milik Paman, hehehe. Terima kasih juga untuk apresiasinya, Sayang. Kamu juga teruslah berkarya, ya?
Kikikyujunmyun: Hai, reader baru. Terima kasih sudah berkunjung dan akhirnya meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan ini, Sayang. Terima kasih juga karena sudah menyukainya. Puan sangat bahagia. Ini sudah Puan update, semoga chapter 5 ini tidak mengecewakan. Oh iya, mengenai racun itu, berhasil atau tidaknya, Puan jelaskan di chapter 5 ini. Selamat membaca.
ViyaHyerin: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak. Iya, kamu benar, dari chapter awal hingga ke empat bahkan chapter 5 ini Puan memang tidak bisa update cepat. Apa penyebabnya sudah Puan jelaskan di bagian atas tulisan Puan. Sungguh Puan minta maaf atas ketidakmampuan Puan untuk update secepatnya. Puan juga berterima kasih jika kamu menyukai tulisan Puan. Soal typo, Puan akan mencoba memperbaikinya di lain waktu jika waktu luang Puan banyak. Terima kasih lagi karena sudah mengingatkan. Ini chapter 5 sudah Puan publish. Selamat membaca.
Zhe: Terima kasih sudah mampir dan berkunjung, Sayang. Ahahahaha, maafkan Puan kalau sampai membuatmu tepar karena membaca chapter 4 yang panjang itu. Puan juga tepar waktu menulisnya, hahaha. Sebenarnya membuat Sup 12 Rasa itu tidak sulit, hanya saja karena dijelaskan satu per satu langkah-langkahnya di tulisan Puan, terkesan jadi ribet. Dan penjelasan mengenai racun itu Puan jelaskan di chapter 5 yang sudah Puan publish ini. Eeh, apanya yang Puan praktekkan? Sup 12 Rasa? Tentu saja tidak. Kan sudah Puan katakan kalau sup itu hanyalah karangan indah Puan semata, Puan masih sayang nyawa, jadi tidak berani untuk mencobanya, hahaha. Dan ya, kamu benar. Adegan NC dalam chapter 4 itu memang terinspirasi dari salah satu novel Harlequin yang Puan lupa apa judulnya. Terus terang Puan malu kalau harus menulis adegan NC-nya secara frontal, karena fic Puan ini kan berlatar kerajaan, jadi Puan usahakan bahasa untuk menjabarkan hubungan intim mereka tidak terlalu gimana gitu, kekeke. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca.
Clein cassie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejaknya di tulisan sederhana Puan. Hahaha, benihnya memang sudah ditanam oleh Yang Mulia Raja, tapi tidak akan berbuah secepat itu. Hal itu disebabkan karena pertumbuhan benihnya bukanlah inti dari cerita yang Puan tulis. Benih itu pasti akan bertumbuh, mungkin di bagian akhir cerita. Puan memang suka memasak, meski itu hanyalah masakan yang gampang-gampang saja. Kalau Puan menjelaskan secara detail mengenai Sup 12 Rasa, itu karena Puan terbayang adegan Jang Geum yang memasak di Dapur Istana.
Madamme Jung: Terima kasih karena sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya, Madam. Waaah, panjang sekali komentarnya, Sayang. Puan ikut berjumpalitan pas membacanya, kekeke. Komentarmu sukses membuat Puan memerah, hahaha, terima kasih banyak untuk apresiasimu, ya? Eh, calonmu mirip Yunho? Daebak, Puan turut mendo'akan agar hubungan kalian akan kekal sampai akhir menutup mata. Amin. Dan adegan NC Joongie dan Yang Mulia Raja boleh kok dipraktekkan saat malam pertama kalian nanti, kekeke.
Soal merendam daging dengan nanas itu, hahaha, jadi begini ceritanya, pas waktu Idul Adha tahun kemarin, di tv itu ada salah satu resep masakan berbahan daging. Di situ dijelaskan bahwa untuk mendapatkan daging yang empuk, salah satu caranya ya dengan merendamnya dalam parutan nanas itu. Jujur sih, bagian yang paling Puan suka di chapter 4 adalah saat Puan menulis tentang pembuatan Sup 12 Rasa. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi saat itu imajinasi Puan begitu liar saat membayangkan tahapan-tahapan membuat sup hasil mengarang indah itu. Puan akui sih, setelah Puan baca lagi, caranya cukup njelimet juga, walau sebenarnya kalau dipraktekkan tidaklah terlalu susah.
Untuk penokohan, memang di chapter 4 itu Puan lebih mengedepankan hubungan YunJae dulu, secara mereka adalah tokoh paling sentral di dalam chapter tersebut. Puan usahakan untuk menulis mengenai karakter yang lain sesuai porsinya, karena itu kalau berdasarkan plot awal Puan, maka tulisan Puan ini akan berakhir di chapter 15.
Puan memang suka tokoh utama berusia muda dan cerdas. Awalnya Puan juga sempat berpikir kalau sosok Joongie terlalu cerdas, namun Puan rasa alasannya masih bisa diterima juga. Sejak berusia 8 tahun Joongie sudah hidup sebatang kara, tapi ia memiliki Tabib Lee sebagai salah satu tokoh yang menyumbangkan beragam pengetahuan dan kebijaksanaan padanya, hehehe. Heo Yeonwoo? The Moon Who Embraces The Sun? Aish, Puan malah sama sekali belum menonton dramanya. Nanti akan Puan coba untuk mencari DVD-nya.
Kalau Puan tidak salah, Hwan itu artinya bersinar. Jadi Kim Hwan-Bin itu Puan artikan sebagai Selir Kim Yang Bersinar, kekeke. Joongie itu kan seperti bintang yang bersinar, menurut Puan.
Katakanlah Yang Mulia Yi Yunho pedofil, tapi di jaman kerajaan dulu memang seperti itu, bukan? Banyak sekali penguasa yang memiliki istri atau selir yang berusia sangat belia. Kekeke. Entahlah, Puan juga pedofil sepertinya, soalnya Puan suka sekali menulis ataupun membaca di mana kedua tokoh utamanya memiliki perbedaan usia yang sangat jauh #plaaak.
Soal Go Ahra, mungkin dikarenakan di banyak fic yang Puan baca dia selalu jadi tokoh antagonisnya, untuk searching di Google pun Puan malas, kekekeke. Iya, Puan lebih suka Changmin menjadi Putera Mahkota, dan tenang saja, Putera Mahkota Changmin tidak akan bersaing dengan Yang Mulia Raja untuk memperebutkan Joongie. Mereka justru berteman baik nantinya. Terima kasih untuk dorongan semangatnya dan sukses buat TA-nya, Madamme.
EMPEROR-NUNEO: Terima kasih karena telah kembali mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Dan terima kasih juga untuk ijinnya. Segala puji untuk Tuhan karena chapter 5 sudah Puan update. Hehehe, memang nanti mendekati akhir cerita atau beberapa chapter sebelum tamat, Yang Mulia Raja mengetahui niat awal selir terkasihnya itu hanyalah untuk memudahkan jalannya balas dendam. Namun nanti ia juga akan mengetahui perasaan Joongie sebenarnya yang memang juga jatuh cinta pada suaminya sendiri.
JungJaema: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, ya? Iya, pasangan fenomenal itu sudah menikah akhirnya, dan iya, kedudukan Joongie sebagai selir utama langsung di bawah Yang Mulia Permaisuri. Penyebab kegagalan itu Puan ceritakan di chapter 5 ini, meskipun tidak terlalu mendetail. Iya, di chapter 5 ini Puan menuliskan tentang pertempuran Kerajaaan Joseon dan Kerajaan Ming dari China. Changmin sebagai Putera Mahkota pasti akan muncul, kemungkinan di chapter-chapter depan. Dan berhubung chapter 5 sudah Puan update, selamat membaca. Semoga sebagian rasa penasarannya sirna, ya?
Hana – Kara: Terima kasih sudah mampir kembali dan lagi-lagi meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, kalau ditanya capek tidaknya, tetu saja capek mengetik sebanyak 21.000 kata lebih. Untung saja penulisannya dicicil. Tapi jika pembaca puas maka kelelahan itu juga tak terasakan lagi bagi Puan. Dan kamu benar, penjelasan mengenai racun itu ada di chapter 5 ini. Selamat membaca, semoga tidak penasaran lagi ya?
: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Hana. Hahaha, mungkin karena Puan yang lama update makanya jadi lupa. Penjelasan mengenai gagal atau tidaknya racun itu ada di chapter 5 ini, selamat membaca, semoga tak lagi dihantui rasa penasaran. Hahaha, Joongie tidak berubah mesum, yakinlah. Hanya saja, kenikmatan bersama Yang Mulia Raja terlalu sukar ditolak #plaaakkk.
Yoon Hyun Woon: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan, Sayang. Hahaha, semoga setelah membaca chapter 4 kemarin kamu tidak megap-megap, ya? Sama, itu juga chapter terpanjang yang Puan tulis (dan Puan harus meralat kalimat Puan sebelumnya, karena ternyata chapter 5 jauuuh lebih panjang dari chapter 4). Do'akan saja perjuangan Joongie tidak terlalu berat. Tapi jika ditilik dari pihak lawan yang luar biasa licik dan berkuasa, maka sepertinya Joongie harus kerja ekstra memutar otak untuk membalaskan dendamnya. Terima kasih sudah menyukai alur cerita ini ya?
The Biggest Fan of Yunjae: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, ya? Hahaha, iya, Joongie akhirnya menjadi selir dan sedang menikmati masa-masa indah pengantin baru #plaaakkk.
Chantycassie: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejaknya, Sayang. Iya, Puan akhirnya bisa juga update chapter 4. Semua berkat dukungan readers tersayang yang bikin Puan semangat menulis. Kamu benar, Joongie pada akhirnya akan mengakui perasaannya pada Yang Mulia Raja. Mengenai surat peninggalan Ibu-nya, Puan justru belum berpikir ke arah sana. Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Puan sudah menulis plot untuk masing-masing chapter hingga cerita ini tamat, jadi Puan tinggal mengembangkannya saja. Dan jika kebetulan saran dari para pembaca sesuai dengan jalan cerita dan bisa Puan masukkan di chapter selanjutnya, maka Puan akan meminta ijin para pembaca agar ide kalian itu bisa Puan gunakan. Dan menurut Puan, pertanyaanmu tentang surat peninggalan Ibunya yang kemungkinan ditemukan oleh sang Raja atau Permaisurinya itu menarik. Kalau suatu hari Puan memakai idemu itu, tidak apa-apa ya? Sesuai dengan judulnya, maka keluarga Go pasti akan menerima balasan yang sangat setimpal atas perbuatannya. Kita tunggu saja kehancurannya. Dan ya, Yang Mulia Raja tetap akan mencintai selir terkasihnya itu, apapun yang terjadi.
Kyoarashi57: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Iya, karena ada adegan NC-nya, Puan harus pindah rating, hahaha. Kamu salah satu reader yang jeli ya, karena langsung tahu kalau dayang yang berkeringat dingin itulah yang disuruh oleh Yang Mulia Permaisuri. Hahaha, Puan ingin membuat tokoh Permaisuri di sini benar-benar jahat, sehingga layak untuk dibinasakan. Eeh? Hahahaha. Pada akhirnya Joongie akan menyadari perasaannya. Hanya saja fokusnya saat ini adalah bagaimana membalaskan dendam keluarganya. Oh iya, terima kasih banyak untuk pengertiannya akan kesibukan Puan sebagai IRT hingga tidak meminta Puan update ASAP, ne? Chapter 5 ini untuk kamu.
KittyBabyBoo Love YunnieBunny: Terima kasih sudah sudah mampir dan meninggalkan jejak, Kitty. Aigooo, panjang sekali penname-nya, ne? Halah. Penjelasan mengenai siapa yang disuruh memasukkan racun, dan kenapa gagal, Puan jelaskan di chapter 5, meski tidak terlalu mendetail. Hahaha, soal malam pertama, ehem, mungkin karena Joongie terlanjur merasa enak, makanya bisa sampai beronde-ronde begitu. Lagipula langsung menikmati NC-nya lebih gampang ketimbang berusaha mempelajari perasaannya. Eeh? Hahahaha. Sekali lagi terima kasih untuk dukungan semangatnya, Kitty Sayang.
Sakuranatsu90: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Eeh, memang kamu mendapat rekomendasi soal tulisan sederhana Puan ini dari mana? Ecieee, bahasa Puan. Sok menggunakan kata rekomendasi. Jadi malu. Semoga saat mencarinya kamu tidak menemukan alamat palsu ya? #keingat Ayu Ting Ting. Ini chapter 5 sudah Puan update. Selamat membaca.
Lizuka. Myori: Salam kenal kembali, Myori. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir membaca tulisan Puan ini, serta tidak lupa meninggalkan jejak. Terima kasih banyak untuk pujiannya, Sayang, tapi tulisan Puan belum pantas untuk menyandang predikat paling keren itu. Masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi sungguh, Puan sangat berterima kasih jika kamu menyukainya, juga chapter-chapternya yang kemungkinan akan panjang-panjang seperti kereta api itu, hehehe.
Willow Aje Kim: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan kembali. Selamat membaca.
PandaMYP: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang jika kamu menyukai tulisan sederhana ini. Puan usahakan untuk menuntaskan ceritanya, jadi tidak ada kesan endingnya nanti menggantung. Do'akan Puan agar selalu sehat, ne?
Haruko2277: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, soal capek, jangan ditanya. Terlebih sudah seminggu belakangan ini Putri Kecil Puan punya kebiasaan baru, yakni begadang di jam-jam ngantuk Puan, dan tidur hingga siang. Otomatis mata Puan sudah semakin mirip panda, dan kekurangan waktu tidur. Anak Puan kemarin hanya demam karena tumbuh gigi, jadi tidak parah sakitnya. Terima kasih untuk dukungan semangatnya ya? Ini sudah Puan lanjutkan.
Paprikapumpkin: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, Puan juga ingin sekali bisa masak seperti Joongie, sayang banget jauh panggang dari api, hehehe. Mengenai racun itu, Puan jelaskan di chapter 5. Semoga tidak kembali penasaran ya? Pesona Joongie kelewat sukar untuk ditepis oleh sang raja. Aduh, Puan malah sama sekali buta soal perform yang kamu bicarakan. Maaf. Maklumlah, emak-emak kurang update, hehehe.
Hongkihanna: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Hanna Sayang. Terima kasih banyak sudah menyukai tulisan sederhana Puan ini, ya? Puan sungguh senang jika hasilnya tidak mengecewakan. Eeh, kamu juga author kah? Boleh Puan membaca tulisanmu juga? Siapa tahu kita bisa bertukar pikiran. Hahaha, ingin membuat Sup 12 Rasa? Kalau betul-betul ada mungkin Puan juga ingin mencoba. Tapi ya itu, 12 mata airnya hanya menampakkan diri pada perawan suci. Lah Puan sendiri sudah jauh banget dari kata perawan, apalagi suci #plaaak. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca.
Shanzec: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Kata Joongie, terima kasih banyak buat dukungan semangatnya. Ia akan berjuang keras.
Diyas: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan kembali. Selamat membaca.
SimviR: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih kalau kamu puas untuk chapter 4 kemarin. Semoga kepuasannya setara dengan kepuasan Yang Mulia Raja di malam pertamanya. Eeh? Hahahaha…. Soal racun itu Puan jelaskan sedikit di chapter 5, semoga bisa menjawab segala pertanyaanmu ya? Dan tak lupa, terima kasih untuk dukungan semangatnya. Ini sudah Puan lanjutkan.
Vivi: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga karena kamu sudah puas membaca chapter 4 kemarin. Yang Mulia Raja memang akan memiliki anak dari Joongie, tapi mungkin itu ada di bagian akhir cerita. Sementara dengan Permaisuri, Yang Mulia telah dikarunia Putera Mahkota Changmin sebagai anak satu-satunya. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca.
TyYJs: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, memang sebenarnya Kim Junsu mengajari Joongie ilmu pedang, tapi tidak Puan tuliskan secara terperinci, dan kebetulan saja di chapter yang lalu, adegannya adalah soal titip-menitip surat itu saja, hehehe. Mengenai racun itu, Puan jelaskan di chapter 5 ini. Kekekeke, memiliki suami seperti Beruang Mesum itu memang membuat Joongie jadi nakal #plaaak. Ini sudah dilanjutkan, selamat membaca.
Tymagh: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan ini. Hehehe, iya. Joongie bingung antara cinta dan dendam, namun Puan pastikan ia berhasil membalaskan dendam keluarganya dengan bonus cinta. Hahaha. Changmin sudah menjadi anak Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Permaisuri, dan usianya sebaya dengan Joongie. Mungkin di 2 chapter lagi ia akan muncul, atau bisa saja lebih cepat. Puan akan membuat seluruh penghuni istana takluk pada pesona Joongie #author egois.
Elzha luv changminnie: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Supaya tidak penasaran lagi, Puan menjelaskannya di chapter 5 ini, meski tidak terlalu detail. Hihihi, apakah adegan NC-nya sudah cukup hot? Halah. Boleh, Puan senang dipanggil Mamah. Mau dipanggil apa saja Puan tidak masalah. Mau Kakak, Teteh, Eonnie, Bunda, Mommy, Mamah, atau Puan saja boleh. Terima kasih untuk kesetiaannya menantikan fic ini. Ini sudah Puan update chapter 5-nya. Selamat membaca.
Vic89: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Pendatang Baru Sayang. Terima kasih juga sudah senang membaca tulisan sederhana Puan. Hahaha, peribahasa yang tepat sekali itu. Hampir mirip dengan, 'sambil menyelam minum air.' Balas dendam sukses, suami tampan dan perhatian dapat, dihujani cinta oleh seluruh penghuni istana pula. Ommooo…!
Jaena: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, reader baru-ku, Sayang. Aduh, suatu kehormatan luar biasa bagi Puan ketika kamu menganggap tulisan sederhana ini seperti novel, Sayang. Hahaha, toss dulu, yuk! Puan juga suka sekali kata-kata 'sepeminuman teh' itu. Terima kasih lagi karena kamu sudah menyukainya, ya? Dan do'amu terkabul, dapur Puan sudah berasap, jadi Puan bisa update, nih. Hehehe. AKTF, Sayang!
Joongwookie: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Dan, hei! Apa itu? Kenapa harus meminta maaf segala, hemmm? Kamu tidak harus meminta maaf karena ketidakmampuanmu untuk log in, Sayang. Jangan sampai malah membuatmu repot harus membuat akun baru segala. Ada yang baca saja tulisan sederhana ini, Puan sudah sangat bahagia. Hahaha, kamu benar sekali. Racun itu sirna karena Joongie sudah terlebih dahulu mencuci mangkuknya. Aaah, seratus buat kamu. Lagi-lagi tebakanmu tepat, kalau orang suruhannya orang dalam istana juga. Puan menjelaskannya di chapter 5 ini, meskipun tidak terlalu mendetail. Issshhh, ini anak. Malah setuju pula soal adegan NC yang lebih enak dipraktekkan daripada dibayangkan. Emang pernah nyoba? Eeh? #plaaak.
Narita Putri: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Narita Sayang. Wow, panjang sekali juga review-nya. Puan ngos-ngosan bacanya, kekeke. Tidak mengapa, Puan memakluminya. Kadang Puan juga mengalami hal yang sama kalau ingin menuliskan komentar. Dan soal Putera Mahkota Changmin, hahaha, tenang saja. Puan juga tidak suka kisah cinta segitiga antara Yunho, Jaejoong dan Changmin, jadi Puan tidak akan membuat Putera Mahkota di sini ikut-ikutan sang ayah jatuh cinta pada Joongie. Itu bukan inti ceritanya. Puan lebih suka menulis tentang mereka berdua yang berteman di sini, karena usia yang sebaya itu. Puan ingin Joongie fokus dengan dendamnya, bukan dengan hatinya #plaaak. Dong Yi? Puan belum pernah nonton malah. Nanti akan Puan usahakan untuk melihatnya. Terima kasih untuk rekomendasinya, Sayang. Hahaha, entah kebetulan atau bagaimana, Puan memang ingin menulis tentang Putera Mahkota yang tetap baik hati, tidak sombong, rajin menabung, suka mencuri makanan di Dapur Istana, dan suka mengusili dayang, meski terlahir dari perempuan jelmaan iblis macam Permaisuri, hehehe. Harapan kamu terkabul, bukan? Dan soal NC, aish, jujur Puan malu menulis NC. Dan mengenai Puan yang tidak menulis detail tubuh Joongie, itulah kelemahan Puan. Harap dimaklumi ya? Chapter selanjutnya sudah Puan publish, selamat membaca, ya?
Guest: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama. Eh, kamu ingin membuat Sup 12 Rasa kah? Sepengetahuan Puan, kalau ingin melembutkan daging itu yang dipakai nanas matang. Penjelasan mengenai niat jahat Permaisuri berhasil atau tidak Puan jelaskan di chapter 5 ini. Bukan kemungkinan lagi, Joongie memang menjadi selir terkasih raja.
YunJae24: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan sungguh terharu. Terima kasih banyak untuk pengertiannya akan tugas utama Puan, Sayang #peluk. Ayo, kita ikat tubuh Yang Mulia Permaisuri dan lontarkan ia menuju tempat semestinya #plaaak. Ini sudah Puan lanjutkan, Sayang. Selamat membaca.
April: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, serta sudah menyukai tulisan sederhana Puan ini, Sayang. Hehehe, inspirasi terbesar chapter 4 yang lalu memang drama Jang Geum itu. Terima kasih juga untuk dorongan semangatnya, ya? Ini sudah Puan lanjutkan.
Himawari23: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Suatu kehormatan luar biasa bagi Puan apabila readers di luar sana menyukai tulisan sederhana ini. Iya, Puan juga suka dengan tokoh utama semodel Joongie di sini. Polos tapi licik. Memang misterius dan membingungkan, bukan? Hahaha. Terima kasih untuk dorongan semangatnya, Sayang. Puan semangat kembali untuk menulis.
NickeYJcassie: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Nicky Sayang. Hahaha, ini dia, sesama ibu-ibu rumah tangga merangkap YunJaehardshipper merangkap fujoshi akut, ya? Hahaha. Aduh, kasihan sekali, sudah menulis panjang lebar tetapi malah tidak masuk. Melelahkan dan mendongkolkan sekali keadaannya itu. Tapi syukurlah yang satu ini akhirnya berhasil masuk ya? Silahkan, silahkan. Puan tidak keberatan dipanggil Eonnie. Nanti kalau ada waktu kita mojok lagi di sudut PM ngobrol ngalur-ngidul ala ibu-ibu, ne? Hahaha, tapi kita kalah rempong tempo hari dibanding Joongie dan Seukie, temen rempongnya itu. Kamu juga semangat menulisnya, Sayang. Puan masih menunggu tulisanmu yang kemarin Puan tanyakan. Semangat dan AKTF! Eh, ini sudah Puan tulis kelanjutannya.
Chibiechan01: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak karena sudah menyempatkan diri membaca tulisan sederhana Puan ini, Sayang. Referensi Puan kalau soal masakan itu berdasarkan drama Jewel in the Palace alias Jang Geum. Kalau yang lain ada yang berdasarkan kegemaran Puan membaca cerita-cerita silat. Ini sudah Puan lanjutkan, Sayang. Selamat membaca.
WineMing: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Aduh, belum-belum diminta lagi NC-nya. Ampuuun, Puan nyerah kalau soal NC. Benar, nih? Yakin tidak mabok? Semoga membaca chapter 5 yang lebih panjang ini membuatmu benar-benar tidak mabok juga ya? Hahaha. Sudah. Anak mereka adalah Putera Mahkota Changmin. Bukan bayi lagi, tapi remaja seusia Joongie. Hahaha, Joongie memang akan hamil, tapi itu masih saaangaaat lama. Sabar ya menunggu ponakannya muncul. Aish, kenapa kamu mengecup basah Puan dan ditarik ke kamar oleh Changminnie? Apakah kalian ingin mengajak Puan threesome? #plaaak. I love you, too. Emmmuuuaaaccchhh!
Aiskaa hime-chan: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Salam kenal kembali. Haha, kalau begitu kamu masih harus bersabar sepertinya, Sayang. Karena Joongie hamil masih lama. Oh iya, ini sudah Puan lanjutkan.
Jaelupme: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Dan terima kasih sudah menyukai tulisan sederhana Puan ini. Ini sudah Puan lanjutkan kembali. Selamat membaca.
Naruto Lovers: Terima kasih sudah mampir dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, apakah kamu jadi kepanasan karena membaca NC-nya? Hehehehe. Ini sudah puan lanjutkan kembali. Selamat membaca.
Misschokyulate2: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, sepeminuman teh itu kalau kira-kira dibuat dalam satuan waktu, mungkin kurang lebih sekitar 15 menitan begitu. Puan punya akun di Twitter juga Facebook. Cuma memang Puan jarang online. Tergantung uang belanja, kalau nyisa baru Puan beli pulsa dan bisa online, hahaha. Maklumlah, emak-emak kudu berhemat. Alamat fb Puan di Ayavia Rainna. Puan lebih sering mangkal di fb ketimbang nge-twit.
Fsitsoniaaa: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Nia Sayang. Panggil Teteh juga boleh. Puan tidak keberatan. Waktu menulis tentang Sup 12 Rasa, mungkin Puan kemasukan roh Jang Geum #plaaak. Hahaha. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca.
Kim anna shinotsuke: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan belum mampir lagi nih ke ceritamu. Sudah ada yang barukah? Pengen baca tapi belum sempat-sempat.
Cavia Livia: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Chapter 5 sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca.
NaeAizawa: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak kembali, Sayang. Soal rencana jahat Permaisuri itu, Puan jelaskan di chapter 5 ini. Selamat membaca.
Jenny: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, untung harapan kamu author seperti Puan akan banyak yang menjamur (Puan aminkan) dalam dunia per-fanfic-an, bukan author seperti Puan banyak yang jamuran #plaaak. Hahaha. Oh iya, boleh, kok. Silahkan panggil Puan Oennie, atau Teteh juga boleh. Hemmm, mengenai hal itu Puan jelaskan di chapter 5 ini. Semoga tidak penasaran lagi ya?
