Disclaimer: Sesungguhnya, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki napas dan jalan kehidupan semua karakter yang ada dalam cerita Puan ini. Puan hanya meminjam nama mereka saja.
Rate: M
Genre: Puan agak kurang paham dengan masalah ini. Bisa jadi genre-nya romance, drama, tragedy and family.
Warning: Boys love, yaoi, m-preg, beberapa butir typo yang kemungkinan terlewat ketika proses peng-edit-an, jalan cerita yang cukup lambat, beberapa adegan penyiksaan, karakter para tokoh yang tidak sesuai kepribadian aslinya pastinya dan banyak lagi yang lainnya.
Cast:
- Kim Jaejoong as Kim Jaejoong/Selir Hwan (15 tahun)
- Jung Yunho as Raja Yi Yunho/Raja Sukjong (30 tahun)
- Kim Junsu as Kepala Pengawal Kim (28 tahun)
- Go Ahra as Permaisuri Yi Ahra (30 tahun)
- Shim Changmin as Putera Mahkota Yi Changmin (15 tahun)
- Park Yoochun akan muncul di chapter yang kesekian, jadi umur dan perannya juga belum Puan tentukan, hehehe.
Sedikit cuap-cuap:
Latar dari cerita ini adalah di era Dinasti Joseon, di bawah kepemimpinan Raja Yi Sun (memerintah sejak tahun 1674-1720) yang untuk keperluan cerita namanya Puan ganti menjadi Raja Yi Yunho. Raja ke-19 dari Joseon. Tidak bermaksud sama sekali untuk menodai sejarah Korea dengan perubahan ini, jadi Puan minta maaf sebelumnya jika ada pihak yang tidak berkenan.
Puan juga berusaha meminimalisir penggunaan bahasa Korea disebabkan karena keterbatasan Puan. Sebagai pendatang baru di fandom ini, Puan ingin turut serta menyalurkan minat menulis Puan yang tentunya belum ada apa-apanya, untuk itu kritik dan saran membangunnya sangat Puan harapkan.
Cerita ini terinspirasi dari banyak drama kolosal Mandarin dan Korea yang Puan tonton juga cersil yang Puan baca, yang paling utama adalah drama Mandarin berjudul The Great Conspiracy serta drama Korea berjudul Jewel in the Palace alias Jang Geum dan serial Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S. Kalau ada beberapa kesamaan, harap dimaafkan, ne?
Puan ingin berterima kasih untuk kedua sahabat Puan, Kak Shanty Hidayat (Sun-T) dan Rin Evans yang selalu menjadi teman untuk bertukar pikiran, memberikan masukan-masukan dan saran-saran yang berharga, meskipun ujung-ujungnya selalu out of the topic, hahaha. Special thanks to Iis: bertukar pikiran denganmu sedikit banyak memberiku pencerahan.
Untuk readers tersayang baik yang lama atau baru, silent readers, ataupun viewers yang sudah menyempatkan diri melihat, membaca, mem-follow, mem-favoritkan, juga memberi jejak di chapter-chapter sebelumnya, sehamparan cinta bersuntingkan ribuan ucapan terima kasih dari lubuk hati terdalam Puan haturkan pada kalian yang namanya tidak bisa Puan tuliskan satu per satu. Terima kasih tak berhingga untuk dorongan semangat dari kalian yang tiada hentinya, hingga membuat Puan tetap semangat menulis di sela-sela kesibukan Puan sebagai ibu rumah tangga. Juga untuk kesabaran kalian menantikan tulisan Puan update. Terima kasih dan terima kasih.
Jujur, Puan sangat kaget dengan respon yang diberikan hampir semua readers yang telah meninggalkan jejak di tulisan Puan pada chapter 5 lalu. Awalnya Puan was-was juga untuk mem-posting chapter yang panjangnya melebihi 20 ribu kata. Puan pikir para pembaca akan mudah bosan. Sama sekali Puan tak menyangka kalau respon yang Puan terima justru sebaliknya. Tapi hal itu membuat hati Puan lebih tenang, tidak perlu was-was lagi kalau mau menulis sepanjang Sungai Han, hahaha. Panjang atau tidaknya tulisan Puan juga tergantung pada kebutuhan cerita. Kalau memang menurut Puan masih bisa dikembangkan, Puan akan menulisnya panjang, tapi kalau benar-benar ide sudah mentok dan jari sudah kapangan, terpaksa Puan tulis seadanya. Dan selalu Puan meminta maaf akan keterlambatan dalam mem-publish chapter demi chapter yang disebabkan oleh banyak hal yang tidak bisa Puan ungkapkan satu per satu, namun Puan berusaha sebisanya untuk bisa mem-publish secepat yang Puan mampu. Puan sangat berharap agar pembaca setia Puan memakluminya. Oh iya, satu lagi, Puan juga merubah dan menambah beberapa adegan di chapter-chapter sebelumnya untuk menyesuaikan dengan jalinan cerita. Jadi kalau ada beberapa bagian di chapter ini yang sedikit membingungkan, para pembaca bisa membaca ulang dengan versi yang sudah Puan edit.
Dan akhirnya, Puan persembahkan chapter 6 kepada kalian semua, selamat membaca dan terima kasih jika ada yang berkenan meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya.
The Great Revenge
by
Puan Hujan
Chapter 6
Semburat mentari di kaki langit sebelah barat yang menyerupai lengkungan cahaya berwarna kuning kemerahan telah sejak beberapa waktu yang lalu menghilang dari pandangan, tertelan oleh lebatnya dedaunan. Mengantarkan senja kembali ke pangkuan malam. Kegelapan berbalut kesunyian akhirnya menyelimuti seluruh permukaan Desa Yeoju, sejauh mata mampu memandang serta telinga mampu mendengar. Tak ada lagi suara hiruk pikuk yang ditingkahi teriakan-teriakan keras yang mengobarkan semangat perang ataupun denting senjata beradu di desa pertanian yang merupakan pintu masuk utama ke Kerajaan Joseon dari sisi timur yang baru saja usai menjadi ladang pertempuran antara pasukan Kerajaan Joseon melawan pasukan Kerajaan Ming yang memang dikenal sebagai salah satu bangsa penakluk itu. Suasana hening seketika. Lewat penerangan seadanya yang berasal dari cahaya lampion yang tergantung di sudut-sudut rumah penduduk maupun obor-obor yang terpancang di setiap penjuru desa, terlihat jelas keadaan desa yang porak-poranda bagaikan baru saja diterjang sekawanan besar gajah liar yang kelaparan.
Yang Mulia Raja Yi Yunho yang masih duduk di atas punggung kudanya bersama selir terkasihnya, Jaejoong, mengedarkan pandangannya merayapi sekeliling. Titik-titik peluh tampak menyembul di beberapa bagian wajah tampan sang raja yang masih mengenakan pakaian perangnya itu. Peluh-peluh itu terlihat berkilau dipantulkan oleh cahaya.
Sang penguasa Joseon itu memerhatikan keadaan di sekitarnya dengan baik. Tak ada satu bagian pun yang terlewat dari pengamatannya. Di setiap jengkal tanah desa pertanian yang memasok persediaan lobak untuk dapur kerajaan itu, terlihat mayat-mayat dari kedua belah pihak bergelimpangan dalam keadaan tumpang tindih berlumuran darah, berbaur dengan bangkai-bangkai kuda tunggangan masing-masing. Pertempuran antara dua kerajaan besar yang pernah menjadi sekutu dimasa lalu itu memang tak hanya mengambil korban berupa nyawa manusia, tetapi juga nyawa ratusan ekor kuda yang turut tergeletak mati dalam keadaan tertembus puluhan anak panah atau terkena lemparan senjata. Beraneka ragam bentuk dan jenis senjata yang masih basah oleh anyir darah yang digunakan dalam pertempuran terlihat berserakan di atas tanah berumput yang keadaannya sudah tak berbentuk lagi karena injakan kaki-kaki kuda. Panji-panji kenegaraan beserta umbul-umbul dari kedua belah pihak juga tampak berserakan di sana-sini dalam keadaan yang tak lagi utuh. Sementara itu, ribuan kuda yang selamat dalam pertempuran namun kehilangan penunggangnya, meringkik keras memecah keheningan malam sambil mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Membuat suasana desa pertanian yang sesaat sempat tenang itu kembali hiruk-pikuk.
"Panglima Kang, kau kuberikan wewenang penuh untuk mengendalikan keadaan dan memimpin pasukan gabungan antara Kerajaan Joseon dan Kerajaan Tiongkok. Segera perintahkan orang-orangmu untuk mengamankan situasi secepat mungkin!" perintah Yang Mulia Raja Yi Yunho dari atas punggung kudanya, dengan nada suara yang begitu berwibawa. Mencerminkan kharisma seorang raja agung pemimpin sebuah kerajaan besar.
"Segera hamba laksanakan, Yang Mulia!" jawab Panglima Kang dengan tegas sambil membungkukkan tubuh memberi hormat kepada sang raja yang secara perlahan mulai menggebah kudanya menuju ke tenda peristirahatan bersama selir terkasihnya.
Panglima Kang yang menerima perintah langsung dari sang raja untuk mengendalikan keadaan setelah pertempuran berakhir, segera membalikkan tubuh dan kembali ke anggota pasukannya. Dengan suara lantang menggelegar, sang panglima kawakan itu mengumpulkan para panglima bawahannya untuk menerima dan menjalankan tugas yang akan didelegasikannya.
"Panglima Choi, kuperintahkan kau untuk memimpin enam ratus orang prajurit Kerajaan Joseon untuk sesegera mungkin mengumpulkan mayat-mayat korban pertempuran. Susun mayat-mayat itu dalam posisi berjajar agar memudahkan proses penguburan yang akan kita lakukan secara massal!" perintah Panglima Kang kepada salah satu bawahannya yang bernama Panglima Choi. Bukan tanpa alasan jika sang panglima kawakan itu ingin sesegera mungkin melakukan acara penguburan, sebab di antara penerangan seadanya, penglihatan sang panglima sempat menangkap adanya sekawanan burung pemakan bangkai yang terbang berputar di atas langit Desa Yeoju. Burung-burung pemangsa yang datang akibat mencium aroma anyir darah.
"Segera saya laksanakan, Panglima Kang!" jawab Panglima Choi yang merupakan salah satu bawahan kepercayaannya yang rupanya juga sempat melihat kehadiran burung-burung pemakan bangkai itu dengan tegas, sambil membungkukkan tubuhnya. Tanpa menunggu perintah dua kali, Panglima Choi bergegas mengumpulkan enam ratus orang prajurit untuk melaksanakan perintah yang diberikan oleh sang Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon tersebut. Sebelumnya, Panglima Choi sempat berpesan kepada para prajurit bawahannya untuk melindungi tangan mereka dengan sarung tangan kulit agar tidak terkena racun dari mayat-mayat yang tewas akibat serangan batu yang mengandung racun dari Selir Hwan. Setelah mendengarkan beberapa pesan dan perintah dari Panglima Choi, para prajurit Kerajaan Joseon bergerak cepat untuk melaksanakan tugas mereka tanpa banyak bicara.
"Panglima Lee, kau kuperintahkan untuk memimpin dua ratus orang prajurit untuk mengumpulkan bangkai-bangkai kuda yang turut menjadi korban dalam peperangan ini. Akan tetapi, cabutlah terlebih dahulu anak-anak panah atau pun senjata lain yang menembus tubuh hewan-hewan malang itu sebelum kalian menguburkannya!" perintah Panglima Kang kepada Panglima Lee.
"Segera saya laksanakan, Panglima Kang!" Sama seperti Panglima Choi, Panglima Lee juga bergegas menjalankan perintah yang diberikan oleh atasan yang sangat dikaguminya itu, setelah sebelumnya membungkukkan tubuh memberi hormat. Dikumpulkannya dua ratus orang prajurit Kerajaan Joseon yang segera berpencar menjalankan tugas setelah mendapat pengarahan darinya.
"Panglima Cho!" Panglima Kang yang terkenal tegas itu memanggil salah seorang panglima yang berusia cukup muda yang bernama Panglima Cho. "Kau kuperintahkan untuk memimpin tiga ratus orang prajurit Joseon untuk mengumpulkan segala jenis senjata maupun panji-panji kenegaraan dan umbul-umbul yang digunakan dalam peperangan!" lanjutnya memberi perintah. Setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, panglima muda itu segera melaksanakan perintah yang ia terima. Ia mengumpulkan prajurit-prajurit bawahannya, kemudian bergegas menjalankan perintah dengan menyisir setapak demi setapak jalan yang mereka lalui.
"Dan kau, Panglima Jang, kau kupercayakan untuk menangani para tawanan perang. Pilih sendiri berapa jumlah prajurit yang kau perlukan untuk membantumu!" perintah Panglima Kang pada Panglima Jang yang berusia tiga tahun lebih muda darinya. Setelah membungkuk memberi hormat, Panglima Jang segera mengumpulkan dua puluh orang prajurit Joseon untuk membantunya menangani para tawanan perang yang pada saat ini sedang berbaris dalam posisi berjongkok, dengan kedua tangan terikat ke belakang punggung oleh sebuah rantai besi yang cukup besar. Tanpa menunggu lama, Panglima Jang segera memerintahkan dua puluh orang prajurit Kerajaan Joseon tersebut untuk mengawal para tawanan perang menuju ke sebuah tanah lapang yang berada tak jauh dari arena bekas pertempuran itu.
"Panglima Hwang, kupercayakan kau untuk memimpin sejumlah pasukan untuk memperbaiki sarana dan prasarana desa ini yang rusak. Kau kuberi kebebasan untuk memilih berapa pun prajurit yang kau butuhkan!" ujar Panglima Kang kepada Panglima Hwang yang merupakan salah seorang panglima utama dari fraksi Barat. Panglima Hwang yang mendapatkan perintah dari panglima yang berasal dari fraksi lawan politiknya itu hanya menjawab dengan sedikit anggukan kepala. Setelah membungkuk memberi hormat, Panglima Hwang segera kembali menemui para prajuritnya untuk secepat mungkin mengerjakan perintah yang diembannya.
Panglima Kang terus bergerak cepat mendelegasikan tugas. Para prajurit Kerajaan Joseon yang belum mendapat tugas digabungkan dengan pasukan Kerajaan Tiongkok, lalu Panglima Kang memerintahkan seorang panglima senior kerajaan tetangga itu untuk memimpin para prajurit untuk menggali dua buah lubang besar dan sebuah lubang berukuran sedang di sebelah utara Desa Yeoju, untuk menguburkan mayat-mayat korban perang dari kedua belah pihak, bangkai-bangkai kuda, juga senjata-senjata yang berhasil dikumpulkan. Panglima senior Kerajaan Tiongkok itu pun segera menjalankan perintah yang diberikan oleh Panglima Kang. Di bawah pimpinannya, sekitar seribu prajurit gabungan bekerja sama bahu-membahu menggali lubang sesuai perintah.
Panglima Jung yang merupakan panglima paling muda di antara para bawahan Panglima Kang yang lain mendapat perintah untuk memimpin para tabib istana dan perawat serta sejumlah prajurit untuk mengobati rekan-rekan mereka yang terluka. Tanpa banyak bicara, Panglima Jung segera memimpin para petugas bagian medis itu untuk melaksanakan perintah Panglima Kang. Panglima Kang dengan cepat kembali mendelegasikan tugas kepada para prajurit gabungan kedua kerajaan hingga tidak ada yang berpangku tangan dan berdiam diri. Para pemuda desa yang sebelumnya juga turut terjun ke dalam pertempuran mendapat tugas untuk membantu para prajurit yang bertugas di bagian perbekalan dan dapur umum untuk menyiapkan makanan dan minuman.
Kepala Desa Sung yang begitu perang berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Kerajaan Joseon langsung memerintahkan beberapa pemuda desa kepercayaannya untuk menjemput keluarganya yang berada di pengungsian yang letaknya tidak terlalu jauh dari desa itu, serta para penduduk lainnya yang turut pula mengungsi, segera menghampiri Panglima Kang. Begitu ia tiba di depan Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon itu, Kepala Desa Sung segera membungkukkan tubuhnya. Ucapan terima kasih tak henti terlontar dari bibir tuanya kepada sang panglima yang masih tampak gagah di usianya yang sudah tidak muda lagi itu. Berkat gerak cepat para prajurit yang dipimpin oleh Panglima Kang, maka Desa Yeoju tidak mengalami nasib yang sama dengan dua desa tetangga yang telah rata dengan tanah dan kini hanya tinggal nama. Panglima Kang tersenyum lembut menerima ucapan terima kasih dari kepala desa itu. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Kepala Desa Sung dan meminta lelaki separuh baya itu untuk kembali ke tengah-tengah penduduk desanya yang satu per satu mulai kembali dari pengungsian. Panglima Kang sempat melirik ke arah tenda besar yang disediakan untuk Kaisar Chen dari Kerajaan Tiongkok. Ia melihat sang kaisar yang merupakan sahabat lama dari junjungannya itu baru saja kembali masuk ke dalam tendanya untuk beristirahat, setelah sebelumnya sempat berbincang-bincang dengan Raja Sukjong. Entah apa yang mereka perbincangkan.
ooo 000 ooo
"Anda yakin akan menjemput keluarga kerajaan di Istana Gyeongbok malam ini juga, Yang Mulia?" tanya Panglima Kang setelah selesai mendelegasikan tugas kepada para bawahannya ketika dilihatnya junjungannya itu sudah melepas pakaian perangnya, dan kembali mengenakan gonryongpo merah berlambang naga lima jari seperti biasanya. Bahkan Jaejoong yang sebelumnya masih mengenakan pakaian perang juga sudah kembali mengenakan dangui dan seuran chima berwarna biru langit. Rambutnya yang lebat dan panjang sepinggang kali ini tidak dikepang atau digelung seperti biasanya, namun dibiarkan lepas tergerai begitu saja. Sebuah hiasan rambut berupa kalung tipis yang terbuat dari susunan batu giok dengan liontin berupa lonceng kecil yang menimbulkan suara indah ketika terkena hembusan angin tampak tersemat di tengah belahan rambutnya. Lonceng kecil itu jatuh tepat di antara kedua alisnya, membuat selir terkasih raja itu terlihat semakin cantik mempesona.
"Tentu, Panglima Kang. Aku dan rombongan akan menjemput Permaisuri serta yang lainnya malam ini juga, hingga besok pagi-pagi sekali bisa langsung kembali ke Istana Changdeok," jawab sang raja dengan sebuah senyum menghias wajah tampannya.
"Maafkan hamba yang lancang ini, Yang Mulia. Tapi, tidakkah Anda lelah? Tenaga Anda baru saja terkuras dalam pertarungan menghadapi pimpinan pasukan Ming. Bukankah akan lebih baik jika Yang Mulia beristirahat saja terlebih dahulu di sini malam ini untuk memulihkan tenaga? Besok pagi Anda bisa kembali ke Istana Changdeok. Dan mengenai keluarga kerajaan, Anda bisa memerintahkan beberapa panglima utama kerajaan untuk menjemput mereka, Yang Mulia," saran Panglima Kang yang buru-buru membungkukkan tubuhnya, khawatir jika sang raja muda itu murka mendengar ucapannya. Meski sesungguhnya kata-kata yang dilontarkan oleh sang panglima itu hanyalah sebagai bentuk perhatian dan kepeduliannya kepada sang raja junjungannya yang sangat disayanginya itu.
"Aku memahami kepedulianmu, Panglima Kang. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Akan tetapi, aku sudah memutuskan untuk menjemput mereka malam ini juga. Mereka keluargaku, jadi merupakan kewajibanku untuk menjemput mereka. Aku tidak bisa membiarkan para panglima yang tentunya tak kalah terkuras tenaganya itu untuk menjemput anggota keluarga kerajaan. Biarkan mereka beristirahat. Kau juga sebaiknya segera beristirahat setelah semuanya selesai, Panglima Kang. Pertempuran tadi tentu sangat melelahkan. Oh ya, aku juga memercayaimu untuk melayani segala kebutuhan Kaisar Chen dengan sebaik mungkin selama beliau berada di sini. Dan aku berharap agar kau tidak mengecewakanku," ujar sang raja, tetap lembut nada suaranya.
"Hamba akan melayani Kaisar Chen sebaik mungkin dan menjaga keselamatannya dengan nyawa hamba, Yang Mulia!" tegas Panglima Kang sambil sedikit mengangkat wajahnya. Bibir sang panglima terlihat kembali bergerak membuka, namun tak ada satu pun suara yang terlontar dari mulutnya. Tingkahnya itu tak urung membuat sang raja mengerutkan keningnya.
"Bagus! Aku senang mendengarnya. Tapi, Panglima Kang, masih adakah ganjalan yang ingin kau sampaikan? Katakanlah!" ujar Yang Mulia Raja yang menangkap gelagat kalau sang panglima kepercayaannya itu ingin menyampaikan sesuatu.
"Ampun, Yang Mulia. Hamba hanya berpikir bahwa alangkah baiknya jika Yang Mulia dan rombongan menggunakan jalur laut dalam rangka menjemput keluarga kerajaan di Istana Gyeongbok. Jika menggunakan perahu, Yang Mulia beserta rombongan bisa menghemat tenaga dan beristirahat," terang Panglima Kang mengemukakan pendapatnya. Sang raja kembali tersenyum lebar melihat kepedulian Panglima Kang yang sangat besar.
"Aku sudah memikirkan semuanya, Panglima Kang. Memang benar aku bisa menghemat tenaga jika menggunakan perahu, akan tetapi baru sore berikutnya rombongan tiba di Istana Gyeongbok. Hal itulah yang menyebabkan aku memutuskan untuk memilih perjalanan berkuda saja ke sana. Sekali lagi aku sangat berterima kasih atas kepedulianmu, Panglima. Akan tetapi keputusanku sudah bulat. Aku percayakan pengamanan desa ini di bawah kendalimu, Panglima Kang."
"Hamba laksanakan, Yang Mulia!" Panglima Kang tak lagi memiliki kata-kata untuk menghalangi niat sang raja junjungannya.
"Bagus! Nah, kalau begitu aku pergi dulu," pamit Yang Mulia Raja sambil menepuk-nepuk pundak panglima yang masih nampak gagah meski usianya sudah setengah baya itu. Sang raja yang memiliki wajah berukuran kecil namun sangat tampan dengan rahangnya yang tegas itu segera melangkahkan kakinya keluar dari tenda yang disediakan untuknya, setelah sebelumnya memasangkan mantel bulu yang cukup tebal ke tubuh selir terkasihnya. Jaejoong mengikuti langkah kaki suaminya dengan bibir terkatup rapat. Mereka segera menghampiri Kepala Pengawal Kim dan Panglima Shin yang sudah duduk di atas punggung kuda masing-masing. Dua orang prajurit yang menuntun sepasang kuda berbulu hitam dan putih segera berjalan menghampiri kedua orang itu, dan segera menyerahkan tali kekang kuda-kuda tersebut pada sang raja dan selirnya. Dalam waktu bersamaan, setelah menerima tali kekang kuda mereka, kedua orang itu segera melompat naik ke punggung kuda masing-masing dan langsung menarik tali kekang kuda tunggangannya.
"Hiyaaa…!"
Tak lama kemudian, dengan diiringi pandangan mata Panglima Kang yang masih berdiri di mulut tenda yang terbuka lebar, rombongan kecil yang terdiri dari Kepala Pengawal Kim, Panglima Shin, Yang Mulia Raja, Jaejoong dan sekitar dua puluh punggawa pilihan bersenjata lengkap yang semuanya menunggang kuda itu mulai menggebah kudanya secara perlahan meninggalkan Desa Yeoju. Kepala Pengawal Kim dan Panglima Shin berkuda paling depan, dengan jarak kira-kira satu batang tombak. Di belakangnya Yang Mulia Raja dan Jaejoong menunggang kuda bersisian, diikuti oleh ke-dua puluh punggawa pilihan di belakang mereka. Para penduduk desa yang telah kembali dari pengungsian turut mengantarkan kepergian rombongan itu dengan berdiri berjajar di sisi kiri dan kanan jalan sambil menenteng lentera di tangan, sehingga keadaan jalan di mulut desa itu terlihat cukup benderang di antara kegelapan malam yang tanpa penerangan dari sang dewi malam yang rupanya masih asyik menyembunyikan diri di balik awan.
"Hidup Yang Mulia Raja Sukjong! Hidup Yang Mulia Raja Sukjong! Hidup Raja Agung Penguasa Joseon!"
Entah siapa yang mulanya meneriakkan kata-kata sanjungan itu, namun para penduduk desa dari berbagai tingkatan usia yang berbaris di tepi jalan secara serempak mengikuti seruan itu. Disusul beberapa seruan lain yang secara terang-terangan menyanjung sang penguasa Joseon itu. Yang Mulia Raja Yi Yunho yang memang dikenal sebagai raja yang dekat dengat rakyat sedikit menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum lebar sambil menunggang kuda hitamnya perlahan melewati barisan penduduk desa yang mengantarkan kepergiannya beserta rombongan menuju Istana Gyeongbok yang bangunan utamanya sudah habis dilahap si Jago Merah itu. Jaejoong yang berkuda di sisi kiri sang suami turut tersenyum, dan mengedarkan pandangannya berkeliling. Angin yang berhembus sedikit kencang mempermainkan helaian rambutnya, dan membuat lonceng kecil di ujung kalung pendek hiasan rambutnya mengeluarkan suara yang sangat indah. Para penduduk Desa Yeoju yang sebagian besarnya baru pertama kalinya melihat secara langsung wajah cantik selir termuda Kerajaan Joseon itu tak kuasa menahan decak kekaguman mereka ketika melihat kecantikan sang selir. Seruan kagum berdengung bagai lebah, tak urung membuat kedua pipi sang selir memerah.
"Waaah, kau lihat itu? Itukah Selir Hwan? Selir termuda Yang Mulia? Lihat wajahnya! Cantik sekali, persis seperti yang dikatakan oleh orang-orang dari kota yang kerap mampir kemari. Dan senyumnya! Begitu indah. Ia juga terlihat sangat ramah," ujar seorang gadis desa berusia sekitar delapan belas tahun kepada seorang gadis lain yang berdiri di sebelahnya. Kedua gadis yang mengenakan hanbok berwarna abu-abu yang sudah agak memudar warnanya itu terlihat memandangi Jaejoong dengan mata nyaris tak berkedip.
"Dia sosok tercantik yang pernah kulihat. Suamiku, semoga bayi kita yang berada dalam kandunganku ini kelak akan terlahir cantik seperti Selir Hwan, ne?" tutur perempuan berwajah cukup cantik dengan tahi lalat di antara kedua alis yang mengenakan hanbok berwarna hijau kusam yang berdiri di sisi kanan jalan. Ia menatap Jaejoong dengan kekaguman yang tak mampu disembunyikan. Tangan kiri perempuan yang sedang mengandung anak pertamanya itu tampak mengapit tangan kanan suaminya dengan begitu erat, sementara tangan kanannya yang bebas mengelus-elus permukaan perutnya yang tampak membuncit. Sang suami yang berdiri di sebelahnya tampak menganggukkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap wajah cantik sang selir terkasih raja yang melintas di hadapannya dengan tatapan begitu memuja. Sang istri yang melihat kelakuan lelaki yang menjadi suaminya itu kesal bukan main dan langsung mencubit pinggang sang suami dengan geram sehingga lelaki desa berwajah cukup tampan itu meringis-ringis kesakitan.
"Selir Hwan tak hanya cantik, tapi juga pintar. Apa kau tahu, katanya keberhasilan para prajurit kita memenangkan pertempuran melawan pasukan Ming tidak terlepas dari campur tangan Selir Hwan yang memiliki strategi perang yang sangat jitu. Ia dengan sangat cerdik memanfaatkan kupu-kupu beracun untuk mengurangi kekuatan pihak lawan. Juga menyerang dengan batu-batu kerikil yang sudah direndam dalam larutan beracun. Bukankah itu sangat mengagumkan? Aku benar-benar mengaguminya!" tambah seorang pemuda desa berbadan kerempeng yang tidak mampu disembunyikan oleh hanbok putih-nya, dengan begitu menggebu-gebu. Ia sedang berbicara dengan pemuda lain yang berbadan cukup kekar, yang berdiri di samping kirinya dengan nada suara yang sedikit menyombongkan diri. Seakan-akan di desa itu hanya dialah yang paling tahu segala hal mengenai Jaejoong.
"Sudah cantik, pintar pula. Benar-benar sosok istri idaman!" balas lawan bicaranya, si pemuda berbadan cukup kekar yang mengenakan hanbok berwarna merah muda, sambil berdecak kagum.
"Sssttt! Pelankan suaramu! Apa kau mau dihukum Yang Mulia Raja karena kedapatan sedang mengagumi salah satu istrinya?" si pemuda kerempeng menyilangkan jari telunjuknya di tengah bibir, meminta lawan bicara yang tak lain adalah sepupunya itu untuk memelankan suaranya. Sepertinya ia lupa bahwa ia pun tadi cukup keras menyuarakan kekagumannya pada selir terkasih raja itu.
"Kau ini! Yang Mulia Raja itu pemimpin yang bijaksana. Beliau tidak akan sembarangan menjatuhkan tangan untuk menghukum rakyatnya. Lagi pula, apa salahku? Aku kan hanya bilang bahwa Selir Hwan benar-benar sosok istri idaman," bantah pemuda satunya lagi, merasa tak terima dengan ucapan sepupu kerempengnya itu.
"Heh, kalian berdua! Hentikan adu mulut kalian itu. Kalau kalian tak mau berhenti, bersiaplah untuk kuadu mulut kalian dengan mulut ayam betinaku!" hardik seorang lelaki tua yang sepertinya cukup berpengaruh di desa itu. Di pinggangnya tergantung sebuah golok berukuran cukup besar. Ucapannya kontan menghentikan debat kusir kedua pemuda desa itu.
Jaejoong yang mendengar dengan jelas seruan-seruan kekaguman yang terlontar dari bibir para penduduk desa yang ditujukan padanya tak kuasa menahan rona merah yang kembali menjalar di kedua pipinya. Ia hanya menundukkan wajahnya, meski sesekali ia akan menutupi mulutnya dengan punggung tangan untuk menyembunyikan tawanya ketika mendengar beberapa ucapan para penduduk desa yang terasa menggelitik perut. Sang raja yang juga mendengar seruan kekaguman dari para penduduk desa yang berbaris di tepi jalan itu tak mampu menyembunyikan perasaan bangga yang menyeruak di hatinya. Senyuman lebar kembali terpatri di wajah tampannya.
"Hidup Selir Hwan! Hidup Selir Hwan! Hidup Selir Hwan!"
Tanpa dikomando, penduduk desa secara serempak meneriakkan seruan-seruan yang menyanjung remaja cantik itu. Jaejoong perlahan mengangkat wajahnya yang masih merona, dan memberikan sebuah senyuman indah kepada para penduduk desa itu. Ia lalu mengangkat tangan kanannya, dan melambaikannya ke arah mereka sebagai pengganti ucapan terima kasih.
Rombongan itu terus memacu kuda tunggangan mereka perlahan-lahan, meninggalkan Desa Yeoju yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan, tertelan oleh kegelapan malam. Cahaya lentera yang dibawa oleh para penduduk semakin lama semakin mengecil dan terlihat bagai sebuah titik putih di atas kertas hitam, sebelum akhirnya benar-benar lenyap dari penglihatan. Tak ada lagi pembicaraan yang terdengar, sehingga suara-suara yang timbul dari gesekan kaki kuda dengan daun-daun kering yang ditingkahi jerit binatang malam terdengar begitu jelas di telinga. Mereka mulai melewati sebuah sungai kecil berair dangkal, dan serentak berhenti dan melompat turun dari punggung kuda masing-masing untuk membiarkan kuda-kuda mereka menikmati jernihnya air sungai. Setelah memastikan kalau kuda-kuda mereka sudah cukup melepas dahaga, mereka kembali naik ke punggung kuda tunggangan masing-masing. Rombongan kecil itu kembali melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan memutar ke selatan yang merupakan jalan pintas terdekat menuju Istana Gyeongbok. Jalanan yang mereka lewati kini merupakan sebuah hutan bambu yang sangat tinggi dan rapat dan tampaknya jarang sekali dilewati penduduk. Begitu tingginya hingga seakan-akan puncak-puncak tanaman bambu itu menyatu membentuk atap berbentuk melengkung. Daun-daun bambu kering menumpuk menutupi permukaan tanah. Beberapa punggawa pilihan di barisan belakang segera membentuk formasi berlapis dua di sisi kiri dan kanan untuk meningkatkan penjagaan sambil memasang lentera tambahan untuk menerangi jalan begitu mendapat perintah langsung dari Kepala Pengawal Kim. Jaejoong segera memindahkan tali kekang kudanya ke tangan kiri, sementara tangan kanannya meraih payung kertas yang tersimpan di bagian punggung kuda putih tunggangannya. Ia lalu mengendalikan kudanya perlahan sambil memayungi kepalanya. Tingkahnya yang tak pernah luput dari perhatian Yang Mulia Raja tentu saja membuat sang suami memandanginya dengan raut wajah penuh tanya.
"Sayang, mengapa kau memakai payung di dalam hutan?" tanya sang raja yang tak mampu menyembunyikan rasa herannya.
"Hanya untuk berjaga-jaga, Yang Mulia. Hutan bambu ini sangat lebat, bahaya yang mengintai juga kemungkinan sangat banyak. Payung ini bisa melindungi kepala Joongie dari serangan bahaya yang tak tampak itu. Bukankah lebih baik bersikap waspada sebelum terlambat?" sahut selir terkasih raja itu sembari balik bertanya. Sang raja mengangguk paham dan lagi-lagi dibuat kagum dengan pemikiran selir terkasihnya itu. Dalam hati, kembali diakuinya kebenaran dari kata-kata remaja cantik itu.
Jaejoong mengedarkan pandangannya berkeliling. Hutan bambu yang mereka lewati semakin rapat, sehingga cahaya bulan pucat yang tergantung sepotong di tirai langit tak mampu menerobos ke dalamnya. Selir terkasih Yang Mulia Raja itu memicingkan matanya yang bulat besar ketika ia mulai merasakan adanya keanehan. Dahinya berkerut dengan kedua alis yang bagaikan sepasang kepak elang terlihat nyaris menyatu. Sebagai seseorang yang sudah terbiasa keluar masuk hutan, Jaejoong bisa merasakan kalau kesunyian yang membekap hutan ini terlihat sedikit tidak wajar. Keadaannya terlalu sunyi sehingga membuat angin seolah tak sudi untuk berhembus dan menggerakkan dedaunan, sekaligus bagaikan mengunci cicitan binatang-binatang malam. Selir terkasih raja itu semakin meningkatkan kewaspadaan diri ketika firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi. Ia juga memasang telinganya tajam-tajam, berusaha menangkap gerakan sekecil apa pun yang terlihat mencurigakan.
Singgg!
Tepat seperti yang diduga oleh remaja cantik itu. Telinganya yang cukup tajam mendengar adanya sebuah desingan yang nyaris tak tertangkap oleh pendengarannya dari arah kiri yang tertuju langsung pada titik syaraf di bagian belakang kepalanya. Secepat kilat remaja cantik itu membuang payung kertasnya dan menarik tali kekang kudanya dengan tangan kiri, lalu merendahkan tubuhnya hingga posisinya menelentang di atas punggung kuda putihnya. Dengan gerakan untung-untungan meski tetap sudah diperhitungkan sebelumnya, ia mengangkat tangan kanannya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir merahnya ketika mendapati sebuah jarum emas yang di bagian pangkalnya dihiasi ronce benang merah terselip di antara jari tengah dan jari telunjuknya. Dalam sekejap saja Jaejoong sudah mengetahui bahwa jarum itu mengandung racun. Jaejoong memindahkan jarum emas itu ke tangan kirinya yang masih memegang tali kekang kuda putih tunggangannya, lalu dengan cepat mengeluarkan seruling bambu peninggalan ibunya dari balik pakaiannya. Didekatkannya seruling itu ke mulutnya, sambil melakukan gerakan memutar pada salah satu sisi seruling. Ia kemudian segera menghembuskan napas kuat-kuat dan mengarahkan jarum beracun di dalam serulingnya yang langsung melesat ke tempat dimana jarum emas beronce benang merah di tangannya berasal.
"Akh…!"
Sraaak!
Terdengar sebuah pekikan tertahan dari sisi kiri atas hutan bambu yang dilewati rombongan itu. Untuk sesaat daun-daun bambu di sisi kiri tersebut tampak bergerak-gerak, lalu terlihat sebuah bayangan meluruk turun dari puncak pohon dan dengan cepat menghilang di antara lebatnya pepohonan bambu yang tumbuh. Seluruh punggawa yang mendengar suara pekikan tertahan itu tanpa diperintah segera membentuk formasi lingkaran berlapis. Masing-masing saling menghunus pedang di depan dada, dengan punggung menempel satu sama lain. Mata-mata mereka nyalang memandangi setiap sudut hutan. Sang raja yang sejak Jaejoong menarik tali kekang kudanya secara tiba-tiba sudah menyadari bahwa ada seseorang yang hendak mencelakakan selir terkasihnya itu merapatkan jarak di antara mereka. Memastikan kalau remaja cantik yang sangat dicintainya itu baik-baik saja. Sang raja sedikit tertegun memandangi sebuah jarum emas beronce benang merah yang masih berada di antara jari lentik selir terkasihnya itu.
"Pengecut! Hiyaaa…!"
Kepala Pengawal Kim yang raut wajahnya merah padam menahan kemurkaan karena serangan dadakan yang sangat cepat itu segera menarik tali kekang kudanya, hendak mengejar sosok bayangan yang sudah menghilang dari pandangan itu. Namun sebuah suara bernada lembut menghentikan gerakannya.
"Tidak usah dikejar, Kim Ahjussi!" cegah Jaejoong. Membuat Kepala Pengawal Kim segera menghentikan gerakannya dengan raut wajah penuh tanya. Kuda hitam tunggangannya meringkik keras seketika.
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya sang raja yang tak mampu menyembunyikan kekhawatiran dalam nada suaranya. Jaejoong menggeleng sambil memberikan senyuman indahnya. Meyakinkan suaminya itu bahwa ia baik-baik saja. Ia bahkan meminta sang suami yang sudah mencabut pedangnya dari warangka untuk kembali memasukkan pedang itu. Jaejoong lalu menyerahkan jarum emas yang berhasil ditangkapnya kepada sang suami yang segera mendekatkan jarum emas itu ke bawah hidungnya.
"Jarum ini beracun," desis sang raja ketika hidungnya mencium aroma yang cukup menyengat dari jarum emas di tangannya. Ia lalu dengan hati-hati menyelipkan jarum emas itu di balik ikat pinggangnya.
"Racun Kecubung Bulan. Dari serbuk sari tanaman kecubung yang hidup di pegunungan sebelah utara Mongol. Tidak untuk membunuh dan tidak akan berpengaruh apa-apa jika dipegang dengan tangan telanjang, tapi jika lemparan jarum itu tepat mengenai syaraf otak atau masuk ke dalam pembuluh darah, maka korbannya akan mengalami kelumpuhan secara perlahan," jelas Jaejoong sambil mengingat-ingat kembali mengenai buku pengobatan yang pernah dibacanya. "Dan kalau Joongie tidak salah mengingat, racun itu juga membuat korbannya mengalami penurunan berat badan yang cukup drastis, sehingga akhirnya hanya menyisakan kulit pembalut tulang," sambungnya.
"Biadab!" kecam sang raja penuh murka.
"Selir Hwan, mengapa Anda melarang saya untuk mengejar orang itu? Dia nyaris mencelakakan Anda," ujar Kepala Pengawal Kim yang sudah berada di depan sang raja dan selirnya, dengan sikap hormat. Sang kepala pengawal itu sebenarnya merasa gusar pada dirinya sendiri yang terlambat menyadari adanya serangan mendadak yang ditujukan pada selir terkasih raja itu.
"Tidak perlu, Kim Ahjussi. Itu hanya akan membuat perjalanan kita jadi terhambat. Joongie tahu kalau Ahjussi merasa bersalah, tapi hal yang baru saja terjadi sama sekali bukan kesalahan Ahjussi. Serangan tadi memang di luar perkiraan kita semua. Jangan cemas, Joongie tidak apa-apa, Ahjussi. Lagi pula, cepat atau lambat kita akan mengetahui siapa orang itu," jelas Jaejoong sambil menyunggingkan senyum penuh makna, berusaha menghilangkan kegundahan yang merayapi benak kepala pengawal berwajah manis itu.
"Apa maksud Selir Hwan yang mengatakan bahwa cepat atau lambat kita akan mengetahui siapa pelaku penyerangan ini?" tanya Panglima Shin yang turut mendekat, sedikit bergumam, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.
"Sosok tadi terluka oleh jarum Joongie yang juga mengandung sejenis racun yang cukup mematikan, meski tidak akan membuat nyawanya menghilang seketika, Shin Ahjussi. Sampai hari ke-tiga, orang yang terkena racun itu akan merasakan panas luar biasa di bagian tubuhnya yang terluka. Lalu pada hari ke-empat, dia akan merasakan sakit luar biasa pada seluruh tulang-belulang dan persendiannya. Dan pada hari ke-lima, dari bekas lukanya akan timbul benjolan kecil berair yang perlahan-lahan akan semakin membesar, sehingga membuat dagingnya membusuk. Racun dari jarum sumpit Joongie ini, hanya Joongie dan Tabib Lee yang memiliki penawarnya. Jadi, jangan buang tenaga kalian sia-sia, Ahjussi. Percayalah pada Joongie, akan sangat mudah menemukan orang itu," sahut Jaejoong yang rupanya mendengar pertanyaan Panglima Shin itu dengan kalem. Yang Mulia Raja berdecak mendengar selir terkasihnya itu berbicara mengenai racun dan menggelengkan kepalanya. Kemarahannya sedikit demi sedikit mulai mereda. Sang raja lalu memerintahkan anggota rombongannya untuk menyarungkan pedang masing-masing dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Raja berwajah tampan itu sedikit mengerutkan keningnya ketika dilihatnya Kepala Pengawal Kim sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
"Ada apa, Kepala Pengawal Kim?"
"Tidakkan cukup berbahaya jika kita melanjutkan perjalanan ini, Yang Mulia? Bagaimana jika di depan kita kembali diserang oleh orang-orang seperti tadi? Apakah tidak sebaiknya kita bermalam saja di sini?" tanya Kepala Pengawal Kim, mengemukakan pendapat sekaligus ganjalan yang ada di hatinya.
"Justru akan lebih berbahaya jika kita bertahan di tempat seperti ini, Kepala Pengawal Kim. Ruang gerak kita menjadi lebih terbatas. Kupikir sebaiknya kita tetap melanjutkan perjalanan sambil terus meningkatkan kewaspadaan."
"Yang Mulia benar, Kim Ahjussi. Lagi pula, orang itu tidak akan menyerang lagi. Percayalah!" sambung Jaejoong.
"Bagaimana Anda begitu yakin, Selir Hwan?"
"Jika sosok tadi benar-benar berniat untuk mencelakakan Joongie saat ini juga, maka ia tidak akan lari begitu saja ketika ia terkena jarum beracun Joongie. Racun yang ada di jarum beracun milik Joongie bekerja cukup lambat, jadi ia masih memiliki kesempatan untuk kembali melepas jarum beracun miliknya pada Joongie kalau ia mau, tapi yang terjadi justru ia memilih meninggalkan tempat ini. Menurut Joongie, orang itu hanya bermaksud memperingatkan Joongie saja," jelas Jaejoong.
"Siapa pun orangnya, yang jelas aku tidak akan mengampuninya jika berhasil menemukannya, Sayang!" janji sang raja di dalam hati yang cukup murka melihat ada pihak-pihak tertentu yang berniat jahat pada selir terkasihnya. Jaejoong yang terlihat sangat tenang lagi-lagi tersenyum kecil, seakan bisa mendengarkan suara hati suaminya. Ia lalu mengajak Kepala Pengawal Kim untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda, setelah sebelumnya meminta salah seorang punggawa untuk memungut kembali payung kertasnya.
ooo 000 ooo
Lewat tengah malam, rombongan itu akhirnya tiba di bekas bangunan Istana Gyeongbok yang berada tepat di jantung kota Hanyang tanpa mengalami gangguan yang berarti, persis seperti apa yang telah Jaejoong perkirakan sebelumnya. Langit di atas mereka terlihat cerah dengan taburan bintang yang berkedip manja, mengelilingi bulan sepotong yang terlihat merona. Gunung Bugaksan dan Gunung Namsan yang berdiri gagah menjulang tinggi seakan hendak menentang langit mengapit bekas istana itu dari depan dan belakang, dan nampak diselimuti kabut cukup tebal. Mereka mengendalikan kudanya perlahan melewati reruntuhan gerbang yang dijadikan semacam tugu peringatan, yang dulunya merupakan pintu masuk utama ke istana. Di hadapan mereka, membentang jalan besar yang pada jaman kejayaan Istana Gyeongbok dulu dikenal sebagai Jalan Enam Kementrian yang mengarah ke kantor utama pemerintah yang kini sama sekali tak bersisa, meski hanya berupa puing. Mereka terus mengendalikan kudanya ke arah kiri hingga menemui sebuah bukit yang ditumbuhi pepohonan maple berdaun warna-warni yang cukup lebat, lalu berhenti tepat di sebuah gapura yang berbentuk melengkung dari bata merah.
Yang Mulia Raja memerintahkan Kepala Pengawal Kim untuk mencari tanah yang cukup lapang untuk membangun tenda-tenda peristirahatan untuk mereka. Kepala pengawal berwajah manis itu segera melaksanakan perintah junjungannya. Digebahnya kuda hitamnya, hingga dalam waktu sebentar saja tubuhnya sudah menghilang dari pandangan. Tak lama, Kepala Pengawal Kim kembali dan segera memerintahkan para punggawa yang turut dalam rombongan untuk mengikutinya. Ia lalu memerintahkan para punggawa itu untuk membangun tenda tepat di atas lokasi bekas Istana Gyeongbok. Beberapa punggawa melepaskan buntalan besar yang terikat di punggung kuda mereka, lalu bersama rekan-rekannya yang lain bergerak cepat membangun tenda-tenda peristirahatan. Dalam waktu sebentar saja, lima buah tenda sudah berdiri di atas tanah yang merupakan bekas istana pertama yang merupakan istana terbesar sepanjang sejarah Kerajaan Joseon itu. Panglima Shin yang sebelumnya bertugas untuk menjaga Yang Mulia Raja dan Jaejoong segera bergabung dengan Kepala Pengawal Kim dan para punggawa yang lain setelah diperintah oleh sang raja berwajah kecil itu. Panglima muda yang memiliki paras tampan itu mengumpulkan kayu-kayu kering dan ranting-ranting pohon yang banyak terdapat di sekitar bukit itu, lalu menyalakan api unggun untuk mengurangi hawa dingin yang semakin menyergap membekukan tulang. Embun mulai jatuh dan kabut terlihat semakin menebal di sekitar tempat itu, menyebarkan udara dingin yang nyaris tak mampu diusir oleh api unggun yang menyala. Pengawal Shin terlihat mendekap tubuhnya yang kini sudah diselimuti mantel tebal, sambil duduk di atas sebatang pohon tumbang tepat di depan api yang sedang menyala. Sedangkan Kepala Pengawal Kim mulai memerintahkan para punggawa untuk beristirahat setelah membagi-bagikan tugas jaga. Setelah itu kepala pengawal berwajah manis itu ikut menghempaskan tubuhnya yang letih di samping Pengawal Shin.
"Cuaca sangat dingin, sebaiknya Hyung beristirahat di dalam tenda. Hyung terlihat sangat lelah," saran Panglima Shin sambil menggosok-gosok kedua tangannya ketika melihat Kepala Pengawal Kim mulai memejamkan mata di sebelahnya. Sepasang mata sipit yang sudah sempat mengatup itu kembali terbuka mendengar ucapan Panglima Shin.
"Lalu bagaimana denganmu?" ada perasaan hangat yang perlahan-lahan menyeruak di dada panglima muda berwajah tampan itu mendengar pertanyaan bernada khawatir dari sang kepala pengawal yang diam-diam dicintainya itu. Ia menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan sebaris senyum yang mekar di sudut bibirnya.
"Aku juga akan segera tidur jika sudah tiba giliran jaga selanjutnya, Hyung."
"Hmmm, baiklah. Bangunkan aku jika sudah tiba giliranku untuk berjaga, Won Gi-ya!" pesan Kepala Pengawal Kim yang merasa tubuhnya hampir rontok dan nyaris tak mampu lagi mempertahankan sepasang matanya untuk tetap terbuka. Ia lalu segera memasuki tenda paling besar yang dipersiapkan untuknya juga Panglima Shin. Panglima berwajah tampan itu hanya mengangguk kecil menanggapi perkataan sang kepala pengawal berwajah manis itu sambil menambahkan beberapa ranting ke dalam api unggun.
Sementara itu, Yang Mulia Raja didampingi oleh Jaejoong segera menggeser sebuah batu di samping gapura. Seketika keanehan terjadi. Diawali suara bagai gemuruh perlahan-lahan dinding bukit itu bergeser sedikit demi sedikit, membentuk pintu masuk yang cukup untuk dua orang.
Dengan tenang sang raja berwajah tampan yang memiliki sepasang mata tajam bagai elang itu memasuki gua yang terdapat di sebalik pintu masuk yang tercipta di punggung bukit ini sambil menggenggam erat jemari selir terkasihnya. Jaejoong yang terpana penuh kekaguman, mensejajarkan langkah mengikuti suaminya sambil merasakan hangatnya tangan sang raja yang menggenggam jemarinya. Ketika sang raja menggeser sebuah batu sebesar kepala kerbau yang ada di dalam gua, pintu masuk itu menutup kembali. Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak dalam gua di perut bukit yang diterangi oleh sejenis cendawan yang mampu mengeluarkan cahaya berwarna hijau yang banyak terdapat di setiap sudut gua. Jaejoong mengedarkan pandangannya, memerhatikan setiap jengkal yang ia lewati. Remaja cantik itu kembali dibuat terkagum-kagum dengan aneka lukisan timbul yang dipahat langsung pada langit-langit gua maupun dinding yang mereka lewati. Setelah hampir sepeminuman teh berjalan menelusuri jalan setapak bak lorong panjang tak berujung, mereka menuruni beberapa undakan anak tangga batu hingga menemui sebuah hamparan halaman batu maha luas membentuk sebuah komplek bangunan dengan langit-langit yang dibentuk melengkung dan dipenuhi dengan beraneka lukisan yang dipahat. Ratusan pilar besar dari granit terlihat menyangga langit-langit ruangan itu. Sang raja menjelaskan pada selir terkasihnya bahwa saat ini mereka sedang berada di ruangan rahasia bawah tanah yang tepat berada di bawah reruntuhan Istana Gyeongbok. Sebuah ruangan rahasia yang dibangun sebagaimana layaknya kondisi istana utama itu sebelum musnah dilahap api.
Sambil terus menggenggam erat jemari Jaejoong, sang raja mengajak selir terkasihnya itu untuk memasuki pintu gerbang utama istana bawah tanah. Sang raja juga menjelaskan bahwa bangunan yang berdiri di sepanjang poros tengah dari gerbang utama yang mereka lewati adalah istana inti yang terdiri dari ruang tahta kerajaan dan dewan aula yang merupakan tempat raja menyelenggarakan pemerintahan, mengadakan pertemuan dengan para menteri dan pejabat, menerima tamu luar negeri, juga tempat dilaksanakannya upacara penobatan. Sementara dua bangunan utama yang mengapit gerbang utama di sisi kiri dan kanan adalah Kuil Jongmyo dan Altar Sajik.
Sang raja menghentikan ayunan langkahnya sejenak ketika dirasakannya bahwa sang selir telah lebih dahulu berhenti melangkah. Diikutinya arah pandang sang selir terkasih yang menatap takjub pada sebuah bangunan berbentuk paviliun di sisi kanan mereka.
"Bangunan itu dikenal dengan nama Paviliun Gyeonghoeru yang bertiangkan empat puluh delapan tonggak granit dengan kolam bunga teratai yang mengelilinginya, hingga membuat paviliun itu terlihat seperti terapung. Ruangan bawah tanah ini didesain memang persis sama seperti bangunan Istana Gyeongbok yang asli. Terlihat sangat indah, bukan?" jelas sang raja. Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya sambil terus mengagumi paviliun itu. Ingatan tentang pertemuan pertamanya dengan Yang Mulia Raja di paviliun hutan kerajaan mendadak melintas. Paviliun kecil di tengah hutan itu juga dikelilingi oleh kolam bunga teratai, hingga sekilas pandang terlihat seperti mengapung.
"Yang Mulia…." suara Jaejoong terputus, setelah cukup lama terdiam dengan benak mengulang potongan kenang.
"Ne? Ada apa, Sayang?" tanya sang raja dengan nada suara begitu lembut.
"Selain dalam keadaan mendesak, apakah di hari-hari biasanya ada yang tinggal di istana bawah tanah ini?" tanya Jaejoong yang rupanya sejak tadi begitu penasaran ingin menanyakan mengenai hal itu.
"Tidak ada. Hanya saja setiap tiga hari sekali sekitar seratus orang dayang bergiliran mendapatkan tugas untuk membersihkan setiap sudut ruangan di tempat ini," jelas sang raja. Jaejoong memiringkan wajahnya dengan raut wajah bingung.
"Kenapa?"
"Bukankah Yang Mulia pernah mengatakan bahwa hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaan istana bawah tanah ini? Jika setiap tiga hari sekali diadakan pertukaran seratus dayang untuk membersihkan tempat ini, tidakkah itu artinya ada banyak sekali orang yang mengetahui keberadaan ruangan rahasia ini?"
"Memang benar. Karena itulah para dayang yang dibawa kemari biasanya ditutup matanya dengan kain hitam sepanjang perjalanan datang dan pergi, hingga ketika mereka berada di sini mereka tidak akan tahu sedang berada dimana. Dengan begitu kerahasiaan tempat ini akan tetap terjaga," sang raja menjelaskan dengan sabar. Jaejoong mengangguk paham.
Mereka terus berjalan beriringan melintasi beberapa bangunan lainnya. Sang raja selalu menjelaskan secara singkat mengenai bangunan maupun ruangan yang mereka lewati. Seperti misalnya paviliun tunggal di bagian belakang bangunan utama tepat di sisi timur yang berfungsi sebagai tempat tinggal pangeran. Atau pun mengenai bangunan panjang dengan banyak ruangan di belakang istana inti. Istana Gyeongbok sejatinya merupakan istana utama paling luas yang secara keseluruhan terdiri dari tiga ratus tiga puluh buah bangunan dengan hampir enam ribu kamar. Remaja cantik itu terlihat manggut-manggut mendengar penjelasan singkat dari sang suami. Mereka kembali melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap ringan hingga akhirnya berhenti di sebuah bangunan cukup besar di bagian selatan. Yang Mulia Raja perlahan menggeser pintu geser di depannya, dan melangkah masuk ke dalam ruangan yang dijaga oleh dua orang berseragam prajurit bersenjata pedang yang merupakan kamar khusus tempat tinggal raja itu.
"Yang Mulia…!"
"Ayahanda…!"
"Joongie…!"
Sang Raja Sukjong dan Jaejoong tersentak kaget mendengar seruan-seruan penuh kerinduan yang menyambut mereka begitu tiba di dalam ruangan tersebut. Dari tempat mereka berdiri, jelas terlihat anggota keluarga kerajaan yang terdiri dari Yang Mulia Permaisuri, Putera Mahkota Changmin, Selir Suk, Selir Hee, Selir Myeong, Selir Yeong, dan Selir Yu sedang duduk bersila di lantai membentuk setengah lingkaran. Yang Mulia Permaisuri yang pada saat itu mengenakan dangui dan seuran chima berwarna kuning gading berpola emas segera bangkit dari duduknya diikuti oleh Putera Mahkota Changmin yang terlihat gagah dalam balutan gonryongpo berwarna ungu dengan lambang naga empat jari di bagian depan, belakang, dan kedua pundak jubahnya. Mereka berdua lalu berhambur memeluk Yang Mulia Raja yang berhasil kembali dari pertempuran dengan selamat. Air mata bahagia tampak mengalir di sudut mata kedua orang itu. Sedangkan Selir Suk dan ke-empat selir lainnya yang sepertinya sepakat mengenakan dangui dan seuran chima berwarna hijau pucuk daun segera memeluk Jaejoong yang sebenarnya sedikit jengah melihat kemesraan antara Yang Mulia Raja dengan Yang Mulia Permaisuri, namun cepat-cepat menyembunyikan kekesalannya di balik senyum manis yang ia berikan. Bagaimana ia tidak kesal karena saat ini Yang Mulia Raja seakan-akan tidak menanggapi kehadirannya, padahal beberapa saat yang lalu mereka terlihat begitu mesra.
"Mengapa kau masih menangis, hemmm? Tidakkah kau senang melihatku kembali dari medan pertempuran dengan selamat?" tanya sang raja dengan lembut kepada istrinya yang masih memeluknya dengan erat. Yang Mulia Permaisuri menggelengkan kepalanya yang berada dalam pelukan hangat suaminya. Ia kemudian menengadahkan wajahnya, sehingga paras cantiknya yang bersimbah airmata terlihat jelas.
"Justru sebaliknya. Saya menangis karena teramat bahagia Anda bisa kembali dengan selamat, Yang Mulia," jawab Yang Mulia Permaisuri dengan suara sedikit bergetar menahan tangisnya. Yang Mulia Raja memberikan senyum terbaiknya, lalu mengangkat tangan kanannya. Menyeka jejak airmata yang menuruni pipi halus wanita cantik yang telah lima belas tahun lebih mendampinginya itu.
"Karena aku sudah kembali dengan selamat, seharusnya kau menghadiahkanku senyuman manismu. Bukan airmata ini. Apa kau tahu, matamu yang memerah karena menangis membuat kecantikanmu jadi sedikit tersamar," goda sang raja yang membuat warna merah kini menjalar di kedua belah pipi Yang Mulia Permaisuri yang mengenakan tusuk konde naga dengan mutiara merah di mulut naga untuk menghias tatanan rambutnya yang digelung menyerupai sanggul. Putera Mahkota Changmin yang mendengar godaan sang ayah kepada ibunya terkekeh ringan sambil menyeka airmata di sudut matanya dengan ujung lengan bajunya. Tak ada yang menyadari perubahan raut wajah Jaejoong yang mendadak menggigit bibir bagian bawahnya sambil menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Selir Suk.
"Dan kau, Putera Mahkota. Jangan katakan padaku kalau alasanmu masih berjaga sampai saat ini sebenarnya bukan karena kau merindukan ayahmu ini, tapi karena kau tak kuat menahan lapar yang mendera perutmu, hemmm?" tanya sang raja yang membuat wajah kekanakan sang putera tunggalnya itu memerah seketika. Putera Mahkota Changmin terlihat sedikit salah tingkah sebelum akhirnya memberikan sebuah senyuman kelewat lebar kepada sang ayah.
"Tidak begitu. Saya masih berjaga karena memang saya sangat merindukan Ayahanda. Tapi mengenai perut saya yang lapar, itu juga benar," sahut Putera Mahkota Changmin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sang raja tertawa pelan mendengar jawaban sang anak. Ia sudah sangat hapal mengenai kebiasaan makan tengah malam anak satu-satunya itu yang selalu berdalih bahwa hal itu baik untuk pertumbuhannya.
Cukup lama juga ketiga orang itu bertahan dengan posisi masing-masing, hingga akhirnya Yang Mulia Raja melepaskan pelukan dari Yang Mulia Permaisuri dan Putera Mahkota. Ia lalu mendekati selir-selirnya, dan bergantian memeluk dan menciumi kening mereka satu per satu.
"Kenapa kalian semua tidak tidur dan malah berkumpul di sini? Malam sudah sangat larut," ujar sang raja setelah mereka semua kembali duduk, sambil merayapi wajah-wajah lelah di hadapannya.
"Ada seorang utusan yang mengabarkan mengenai kemenangan pasukan kita dan mengatakan bahwa Anda akan kemari malam ini juga. Karena itulah kami semua menunggu Yang Mulia di sini. Hanya Yang Mulia Ibu Suri yang sudah beristirahat terlebih dahulu, setelah saya sedikit memaksanya, mengingat faktor usia beliau yang tidak memungkinkan untuk berjaga sepanjang malam, Yang Mulia," jelas Yang Mulia Permaisuri. Perempuan cantik itu sudah kembali bersikap anggun seperti biasanya. Tidak ada lagi getaran dalam nada suaranya. Ia sempat melirik sebentar ke arah Jaejoong yang terlihat menundukkan kepala di sebelah Selir Suk dengan pandangan yang sukar diartikan.
"Sebaiknya kalian juga cepat beristirahat. Besok pagi-pagi sekali kita akan kembali ke Istana Changdeok. Aku juga ingin langsung merebahkan diri," titah sang raja.
"Anda ingin ditemani, Yang Mulia?" tanya Yang Mulia Permaisuri menawarkan diri. Namun sang raja dengan cepat menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, tapi tidak perlu, Permaisuri. Aku benar-benar sangat lelah. Kembalilah ke kamar kalian masing-masing. Dan Selir Suk, kau bisa menunjukkan letak kamar Joongie, bukan?" tanya sang raja pada salah satu selirnya yang dibalas dengan anggukan cepat oleh Selir Suk.
"Tentu, Yang Mulia."
"Kalau begitu ayo kita ke kamar, Eomma. Joongie sudah sangat lelah dan mengantuk. Punggung Joongie juga rasanya mau patah karena terus-menerus duduk di atas kuda. Ayooo…," desak Jaejoong yang akhirnya mengeluarkan suara sambil menggoyang-goyangkan lengan Selir Suk. Sikapnya dengan jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin lebih lama lagi berada di dalam ruangan itu. Setelah membungkukkan tubuhnya, Selir Suk segera membimbing Jaejoong yang sejak tadi terus menundukkan wajahnya keluar dari ruangan itu. Sang Raja Sukjong sedikit mengerutkan keningnya melihat tingkah Jaejoong yang lebih pendiam dari biasanya. Tak ada celotehan atau pun rengekan manja yang terlontar dari bibir indah sang selir yang selalu terlihat menggoda itu. Remaja cantik itu bahkan sama sekali tidak menatap wajah sang suami ketika ia melintas melewatinya. Dalam hati, sang raja berseru kegirangan ketika menyadari bahwa remaja cantik itu sedang dibakar api cemburu.
Dan ternyata, bukan hanya sang raja yang sedikit heran dengan perubahan sikap Jaejoong, Putera Mahkota Changmin yang bisa dikatakan merupakan temannya dalam menimba ilmu dari para Guru Suci juga tak luput didera perasaan yang sama. Sejak menjejakkan kakinya ke dalam ruangan itu, remaja cantik itu sama sekali tak melirik ke arahnya, apalagi untuk sekedar bertukar sapa. Putera Mahkota berwajah kekanakan itu akhirnya hanya mendesah panjang, dan berjanji dalam hati untuk menanyakannya langsung pada selir terkasih ayahnya itu mengenai perubahan sikapnya itu. Terus terang saja, Jaejoong yang terlihat pendiam membuatnya tidak nyaman. Ia lebih suka jika remaja cantik yang sudah dianggapnya sebagai teman terdekatnya itu ceria seperti biasanya.
Dalam waktu sebentar saja, bayangan tubuh Selir Suk dan Jaejoong sudah menghilang dari pandangan. Setelah Selir Suk dan Jaejoong meninggalkan ruangan kediaman raja itu, satu per satu selir raja yang lain juga turut meninggalkan ruangan, disusul oleh Putera Mahkota Changmin dan Yang Mulia Permaisuri yang keluar paling akhir. Meninggalkan sang raja yang mulai merebahkan diri di atas kasur lipatnya dengan sebuah senyuman lebar tersungging di bibir hati miliknya. Entah apa yang dipikirkan oleh raja tampan itu, namun yang jelas ia terlihat sangat bahagia.
ooo 000 ooo
Kamar yang ditempati Jaejoong terletak tepat di sebelah kamar Selir Suk yang terletak di bangunan bagian utara. Sebagaimana halnya bangunan lain di komplek istana bawah tanah ini yang semuanya berbahan utama kayu dan batu, maka kamar tidur Jaejoong juga terbuat dari bahan serupa, dengan dua pilar besar menyangga beranda di bagian depan. Selir Suk yang rupanya menyadari perubahan sikap dari remaja cantik itu tidak langsung meninggalkan kamar Jaejoong, tapi malah turut menemani selir terkasih raja itu. Jaejoong yang tadi mengatakan bahwa dirinya sangat lelah dan mengantuk juga tidak langsung memejamkan matanya, tapi malah memilih duduk bersandar di tepi jendela, di dekat sebuah meja kecil yang menyangga sebatang lilin merah yang menyala. Selir Suk yang merasa aneh dengan perubahan sikap Jaejoong yang tidak seceria biasanya, ikut mendudukkan dirinya di sebelah namja cantik yang sudah dianggapnya sebagai anak itu.
"Eomma perhatikan, sejak tadi Joongie mendadak berubah jadi pendiam. Apakah ada sesuatu yang mengusik benak Joongie?" tanya Selir Suk membuka percakapan ketika dilihatnya Jaejoong hanya duduk diam tanpa bicara sepatah kata pun.
"Joongie tidak apa-apa, Eomma. Hanya lelah," jawab remaja cantik itu tanpa sedikit pun mengangkat kepalanya yang sejak tadi menunduk sambil memeluk lutut. Ia bahkan menyembunyikan wajahnya dalam lekukan lututnya. Selir Suk tersenyum maklum.
"Joongie cemburu pada Yang Mulia Permaisuri?" tebak Selir Suk langsung, dengan nada keibuan. Jaejoong yang sejak tadi menunduk dengan cepat mengangkat wajahnya. Pandangannya lurus, tepat menatap kedua bola mata wanita cantik yang juga sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu.
"Joongie tidak cemburu! Joongie hanya…," sangkal remaja cantik itu cepat. Tapi ia sendiri akhirnya tak mampu meneruskan ucapannya, karena sejujurnya ia sendiri tidak tahu perasaan apa yang sedang menderanya. Hatinya seketika terasa begitu sakit ketika mengingat kembali kemesraan sang suami dan permaisuri tadi.
"Hanya apa?" desak Selir Suk yang sebenarnya sudah mengetahui isi hati remaja cantik itu.
"Joongie hanya tidak suka melihat Yang Mulia bersikap seperti itu pada Yang Mulia Permaisuri. Tapi Joongie sendiri tidak tahu kenapa Joongie bisa tidak suka," jawab Jaejoong lirih. Selir Suk merengkuh pundak remaja cantik itu, lalu memeluknya dengan erat. Persis seorang ibu yang sedang berusaha meyakinkan anaknya yang tengah gundah bahwa ia tidak sendiri.
"Joongie mungkin belum menyadarinya, tapi dalam pandangan mata Eomma, terlihat jelas kalau Joongie sedang cemburu. Joongie pasti merasakan seolah-olah ada yang meremas jantung Joongie ketika melihat Yang Mulia bersikap manis pada perempuan iblis itu, bukan?" tanya Selir Suk dengan sabar. Kepala Jaejoong yang berada dalam dekapan wanita cantik itu terlihat mengangguk.
"Ce-cemburu? Tapi Joongie tidak merasakan hal ini jika melihat Yang Mulia bermesraan dengan Eomma atau selir-selir yang lain," tutur sang namja cantik itu dengan wajah terlihat cemberut. Selir Suk terkekeh ringan. Tebakannya benar. Putera cantiknya itu sedang cemburu. "Joongie pikir Yang Mulia sengaja melakukan itu hal itu di depan Joongie sebagai bentuk hukuman karena kemarin Joongie melanggar perintah Yang Mulia. Ugh, menyebalkan sekali, padahal Joongie berharap Yang Mulia lupa mengenai hal itu," gerutu remaja cantik itu. Sebelas alis Selir Suk terangkat.
"Hukuman?" tanya Selir Suk yang sedikit kebingungan dengan ucapan Jaejoong.
"Ne," Jaejoong menganggukkan kepalanya. "Yang Mulia memerintahkan Joongie untuk tidak meninggalkan tenda utama saat pertempuran berlangsung, tapi Joongie melanggarnya. Joongie malah bilang Yang Mulia boleh menghukum Joongie apa saja nanti kalau perangnya sudah berakhir. Saat itu Yang Mulia mengatakan bahwa Joongie sendirilah yang meminta hukuman. Wajah Yang Mulia saat mengatakan hal itu terlihat menyeramkan sekali. Eomma, eotteokhae? Kenapa juga bisa-bisanya Joongie bicara seperti itu?" tanya Jaejoong sambil menepuk-nepuk bibir merahnya yang menurutnya telah lancang itu dengan pelan.
"Ha ha ha. Kau tahu, Sayang? Wajahmu yang kebingungan sekaligus cemas ini terlihat sangat menggemaskan," ujar Selir Suk yang sama sekali tak membantu remaja cantik itu. Jaejoong menggembungkan kedua pipinya dan memiringkan tubuhnya.
"Eomma juga sama menyebalkannya seperti Yang Mulia!" seru selir terkasih raja itu dengan sangat kekanakan. Membuat Selir Suk harus mati-matian menahan tawanya yang nyaris saja meledak.
"Dengarkan Eomma, Sayang. Jika Yang Mulia memang benar berniat untuk menghukum Joongie atas kesalahan yang telah Joongie lakukan, maka Yang Mulia akan mengatakan sendiri bentuk hukuman yang harus Joongie jalankan. Dan kemesraan yang telah ditunjukkan oleh Yang Mulia kepada perempuan licik itu sama sekali bukan merupakan sebuah hukuman. Beliau bersikap sebagaimana layaknya seorang suami yang baru pulang dari medan perang," jelas Selir Suk dengan nada lembut.
"Benarkah? Tapi sejak masuk ke ruangan itu Yang Mulia mendiamkan Joongie. Menganggap Joongie seperti tidak ada. Joongie tidak suka," jawab Jaejoong yang rupanya telah terbiasa menjadi pusat perhatian sang raja itu sambil memajukan bibirnya.
"Meski terlihat seperti itu, namun apakah Joongie tidak menyadari kalau tatapan Yang Mulia tidak pernah lepas dari Joongie, hemmm? Ah, tentu saja Joongie tidak menyadarinya karena saat itu Joongie memilih menyembunyikan wajah Joongie dalam pelukan Eomma, bukan?" Selir Suk menjawab sendiri pertanyaannya. Andai kau tahu bahwa maksud Yang Mulia yang sengaja memamerkan kemesraannya dengan perempuan iblis berkedok malaikat itu adalah untuk mengetahui sejauh mana perasaanmu terhadapnya, Joongie, batin Selir Suk sambil tersenyum kecil.
"Apa itu benar, Eomma? Yang Mulia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Joongie?" tanya Jaejoong yang senang sekali mendengar ucapan wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya itu. Selir Suk mengangguk. Jaejoong tersenyum malu sambil menggigit pelan kuku jari telunjuk kanannya.
"Apa Joongie juga tidak sadar kalau perubahan sikap Joongie yang mendadak jadi pendiam itu membuat Putera Mahkota juga tampak resah?" mata besar Jaejoong kembali membulat mendengar pertanyaan sang Eomma.
"Putera Mahkota? Ada apa dengannya?" tanya Jaejoong dengan raut wajah bingung.
"Seharusnya Putera Mahkota yang bertanya seperti itu pada Joongie. Bukankah Joongie sudah menganggap Putera Mahkota sebagai teman dekat? Begitu juga sebaliknya. Tentu saja sebagai teman dekat Joongie Putera Mahkota merasa heran karena tadi Joongie sama sekali tidak menyapanya. Jangankan menyapa, melirik pun tidak," Selir Suk menjelaskan maksud ucapannya dengan penuh kesabaran.
"Joongie akan meminta maaf nanti pada Putera Mahkota. Joongie sama sekali tidak bermaksud mendiamkannya. Mungkin nanti Joongie juga bisa meminta ijin untuk menggunakan Dapur Istana. Joongie ingin membuatkan makanan kesukaan Putera Mahkota sebagai permintaan maaf Joongie," ujar Jaejoong. Selir Suk terkekeh ringan sambil menggelengkan kepala.
"Dasar nakal! Joongie memanfaatkan kelemahan Putera Mahkota terhadap makanan sebagai cara untuk meminta maaf, hemmm?"
"He he he…,"
"Ah, Eomma rasa, Eomma tahu apa yang harus Joongie lakukan untuk mendapatkan kembali perhatian penuh dari Yang Mulia dan membuat perempuan iblis itu gigit jari," ujar Selir Suk sambil menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi membelai rambut hitam Jaejoong yang lurus sepinggang.
"Apa itu, Eomma?"
Selir Suk mendekatkan bibirnya ke telinga remaja cantik itu, membisikkan sesuatu. Setelah wanita cantik itu selesai mengemukakan rencananya, Jaejoong yang masih berada dalam dekapannya segera menegakkan tubuh dan melepaskan diri dari dekapan Selir Suk. Kedua bola matanya yang besar indah terlihat semakin membesar demi mendengar kata demi kata yang dibisikkan sang ibu.
"Tapi bagaimana cara melakukannya? Joongie tidak pernah melakukan hal itu, apalagi di depan orang banyak," bibir merah itu terlihat mengerucut.
"Tenang saja, Eomma yang akan mengajari Joongie. Yang paling penting Joongie harus memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajarinya. Bagaimana?" tanya Selir Suk. Jaejoong menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Joongie mau! Joongie mau!" serunya kekanakan. Senyuman manis yang beberapa waktu lalu sempat menghilang, kini kembali menghiasi wajah cantiknya. "Jadi kapan kita mulai belajar, Eomma? Joongie sudah tidak sabar ingin melakukannya," lanjut remaja cantik itu dengan antusias. Mata besarnya berpijar ceria, membuat Selir Suk kembali terkekeh ringan.
"Sabar dulu, Sayang. Eomma harus mengambil sesuatu di kamar Eomma terlebih dahulu. Joongie tidak sabaran, eoh? Sepertinya baru beberapa saat yang lalu Eomma mendengar rengekan Joongie yang mengatakan bahwa Joongie sangat lelah dan mengantuk. Sekarang sudah tidak lelah dan mengantuk lagi?" goda Selir Suk, membuat semburat merah tercetak jelas di kedua belah pipi remaja cantik itu.
"Eommaaa…!"
"Ha ha ha…. Joongie tunggu sebentar, ne? Eomma akan segera kembali," tukas Selir Suk setelah puas menggoda namja cantik itu. Wanita cantik yang berusia sebaya dengan ibu kandung Jaejoong itu segera bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju pintu. Sebentar saja bayangannya sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan Jaejoong yang kini sudah menelentangkan tubuhnya di atas kasur lipat yang sengaja ia seret ke tengah ruangan, sambil menunggu kedatangan Selir Suk yang sedang mengambil sesuatu – entah apa – dari kamarnya.
ooo 000 ooo
Istana Changdeok, keesokan harinya.
Suasana di Aula Injeong yang merupakan aula utama Istana Changdeok terlihat begitu meriah ketika bayang matahari perlahan menghilang di balik bukit di bagian belakang, menyisakan bias kemerahan menyerupai barisan panah cahaya yang mengintip dari balik jejeran batang-batang pinus. Ribuan lampion yang dipasang di sekeliling bangunan yang dikelilingi oleh tembok batu itu membuat pemandangan terlihat semakin indah. Empat pilar besar yang dilapisi kain sutera merah berdiri kokoh di empat penjuru halaman, menyangga sebuah tenda putih dengan ujung berbentuk kerucut yang sengaja dibangun di bagian depan bangunan aula yang memiliki atap tumpang dua yang biasanya digunakan para pejabat pemerintahan untuk berbaris. Karpet merah panjang digelar di sisi kiri dan kanan tenda, menyisakan ruang kosong sekitar satu batang tombak di bagian tengah yang searah dengan pintu gerbang masuk. Di bagian depan ruang kosong itu dibentangkan pula sebuah karpet berwarna putih berbentuk segi empat. Beberapa baris meja panjang berkaki rendah yang dipenuhi aneka makanan, buah-buahan, juga minuman terlihat di atas karpet merah itu, yang kini telah sepenuhnya diisi oleh para pejabat pemerintahan baik pejabat sipil maupun pejabat militer yang diundang untuk menghadiri perjamuan dalam rangka merayakan kemenangan pihak Kerajaan Joseon menghadapi serangan dari Kerajaan Ming.
Yang Mulia Raja Sukjong yang terlihat sangat tampan dan berwibawa dalam balutan gonryongpo merah berlambangkan naga lima jari didampingi oleh Yang Mulia Permaisuri yang mengenakan dangui dan seuran chima dengan warna senada, duduk berdampingan di landasan batu pertama di muka aula yang diberi alas berupa karpet merah. Putera Mahkota yang juga mengenakan gonryongpo berwarna merah berlambang naga empat jari, duduk di sebelah kanan sang ayah, dengan posisi agak maju ke depan. Yang Mulia Ibu Suri yang sisa-sisa kecantikan dimasa mudanya masih terlihat hingga saat ini, duduk di samping Putera Mahkota dengan mengenakan dangui dan seuran chima berwarna ungu. Sebuah tusuk konde besar berupa naga dengan mulut terbuka dengan mutiara merah di tengahnya menghiasi rambutnya. Ibu kandung dari sang raja yang tengah berkuasa itu terlihat sedang terlibat dalam percakapan ringan dengan cucu tunggalnya yang mewarisi ketampanan sang ayah. Sementara di sisi kiri sang Raja Sukjong, duduk Perdana Menteri Go yang kali ini datang sebagai mertua raja, bukan sebagai salah seorang pejabat pemerintah. Ia tampak gagah dalam balutan jubah sutera merahnya. Di sebelah Perdana Menteri Go, terlihat Kaisar Chen yang merupakan tamu kehormatan Kerajaan Joseon yang tampak tak kalah gagah dalam balutan jubah sutera biru dengan sulaman benang emas di kedua ujung lengannya. Beberapa meja persegi berkaki rendah yang dipenuhi aneka makanan dan minuman terlihat di depan mereka.
Selir-selir Yang Mulia Raja yang semuanya terlihat cantik dalam balutan dangui dan seuran chima biru langit, kecuali Jaejoong yang tak terlihat batang hidungnya, duduk berjajar di bagian belakang sang raja. Di belakang mereka beberapa dayang istana yang mengenakan dangui berwarna hijau giok yang lebih terang terlihat berdiri sambil memegang kipas merah besar berbentuk bulatan berlambang naga emas yang disangga oleh sebuah pegangan menyerupai tongkat. Dua orang kasim mengenakan jubah berwarna hijau gelap berdiri sejajar di sebelah kanan dan kiri sang raja, sementara beberapa orang berseragam prajurit penjaga yang berwarna merah bata berdiri di pembatas landasan yang dibangun menyerupai pagar batu setinggi betis yang dihiasi ukiran burung hong. Di landasan batu kedua yang lebih rendah dari landasan pertama, digelar sebuah karpet merah dengan tiga baris karpet putih berukuran lebih kecil di bagian tengahnya, sementara di sebelah kanan dan kirinya juga dibentangkan sebuah karpet merah. Beberapa pemain musik istana dalam balutan jubah hitam tampak duduk di atas karpet merah di bagian kiri landasan kedua dengan alat musik di tangan masing-masing, memainkan musik pengiring lagu istana yang sedang dinyanyikan oleh beberapa pemusik wanita yang juga duduk di tempat yang sama.
"Anda terlihat gelisah sekali, Yang Mulia. Ada apa?" tegur Yang Mulia Permaisuri dengan nada berbisik ketika ekor matanya menangkap tingkah sang suami yang terlihat tidak seperti biasanya. Sebagai seorang istri yang sudah belasan tahun mendampingi suaminya, ia bisa dengan mudah mengetahui bahwa ada yang berbeda dari sikap suaminya itu. Sang raja berwajah tampan itu terlihat sedikit tidak tenang dalam duduknya, meski ia sudah berusaha keras untuk menyembunyikan keresahannya itu dan bersikap seolah-olah menikmati perjamuan yang diadakan.
"Aku tidak melihat Jaejoong sejak tadi. Kemana dia sebenarnya? Tidakkah ia tahu bahwa sesungguhnya perjamuan ini kupersiapkan untuknya?" sang raja balik bertanya dengan nada pelan. Yang Mulia Permaisuri menundukkan kepalanya seketika, menyembunyikan perubahan pada raut wajahnya. Ia lalu sedikit berdehem untuk menetralisir perasaannya. Bagaimana tidak? Pertanyaan sang suami seolah hunjaman sebilah belati tajam yang tepat mengenai jantungnya. Setelah mampu menguasai perasaannya, wanita cantik namun licik itu mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lembut pada sang suami.
"Yang Mulia tidak usah khawatir. Mungkin Selir Hwan sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sebaiknya Anda menikmati jamuannya, sebentar lagi pertunjukan tari akan dimulai. Anda tentu tidak bermaksud mengecewakan semua pejabat yang telah hadir, bukan?" tanya Yang Mulia Permaisuri yang langsung mengalihkan pandangannya ke halaman aula, dimana para pemusik wanita sudah selesai menyanyikan beberapa lagu istana. Para pemain alat musik seketika menghentikan permainan mereka, sambil bersiap untuk persembahan selanjutnya. Sang Raja Sukjong masih mengedarkan pandangannya berkeliling, mencari keberadaan selir terkasihnya. Setelah tak menemukan tanda-tanda kehadiran remaja cantik itu dimana pun, Yang Mulia Raja mengikuti saran Yang Mulia Permaisuri untuk menikmati perjamuan istana yang berlangsung.
Musik pertama kembali dibunyikan. Dari sisi kanan landasan batu kedua Aula Injeong, terlihat lima orang penari mengenakan topeng kayu berukuran besar dengan kostum warna-warni dan selendang putih panjang di kedua tangan berjalan perlahan menuju ke arah karpet putih di bagian depan halaman yang rupanya dipersiapkan untuk pertunjukan tarian. Topeng kayu itu terlihat unik dengan warna merah tua dan terlihat seperti wajah seseorang yang sedang tersenyum dengan gigi besar yang diberi cat berwarna putih. Selain topeng kayu itu, para penari juga dilengkapi dengan anting-anting besar serta mengenakan kalung dan topi hitam yang disematkan dengan dua kelopak bunga poeni, ranting pohon dan tujuh buah persik sebagai perlambang pengusir roh jahat. Kostum warna-warni yang dikenakan oleh ke-lima penari itu memiliki arti dan filosofi tersendiri mengenai Teori Lima Elemen dalam kepercayaan yang dianut oleh seluruh rakyat Joseon. Kostum berwarna biru yang dikenakan penari melambangkan arah timur dan musim semi. Kostum berwarna merah melambangkan arah selatan dan musim panas. Kostum berwarna kuning melambangkan bumi dan berada di tengah-tengah. Kostum berwarna hitam melambangkan arah utara dan musim gugur. Sedangkan kostum berwarna putih melambangkan arah barat dan musim dingin.
Musik istana yang diberi judul Hidup Abadi Bagai Langit menjadi musik pembuka pengiring tarian. Ke-lima penari yang mengenakan kostum warna-warni itu berdiri dalam satu baris di tengah karpet putih yang telah disediakan di bagian depan halaman, dengan posisi menghadap raja, lalu secara serempak menyanyikan syair pembuka Cheoyongsa.
Silla seongdae soseongdae
Cheontaepyeong nahudeok
Cheoyong abi, isin insaengae
Sangbureoha sirandae
Samjaepallani ilsisomyeolhasyeotta
Ketika syair pembuka selesai dinyanyikan, ke-lima penari membungkukkan tubuh secara serempak, memberikan penghormatan kepada Raja Sukjong. Mereka kemudian mundur selangkah dari posisi semula, dan membentuk pola lingkaran, lalu saling memberi hormat dengan membungkukkan kepala dan mulai menggerakkan tubuh mengikuti musik yang dimainkan berikutnya. Penari bertubuh mungil yang mengenakan kostum berwarna kuning, berperan sebagai penyanyi utama dalam tarian yang memadukan antara gerakan dan nyanyian yang lebih dikenal dengan Tari Topeng itu. Suara sang penari yang sangat merdu berpadu dengan irama musik pengiring, membentuk suatu harmonisasi nada yang menggetarkan sukma semua orang yang menghadiri perjamuan itu. Musik yang mengalun kemudian berganti, dan ke-lima penari membentuk formasi yang dinamakan Menebar Bunga. Tiap gerakan diperagakan dengan indah dan penuh keanggunan khas tarian istana. Ketika musik yang dimainkan kembali berganti, para penari membentuk formasi empat penjuru mata angin, dan penari yang mengenakan kostum berwarna kuning berdiri di tengah-tengah. Pada formasi puncak, ke-empat penari di empat penjuru sedikit menekuk kaki mereka, menarikan gerakan seperti seseorang yang sedang menguntai dan menaikkan tangan. Sementara sang penari berkostum kuning di tengah-tengah melakukan gerakan yang sama sambil berdiri dengan pola berlawanan. Yang Mulia Raja memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan oleh sang penari berkostum kuning dengan mata nyaris tak berkedip. Sebuah senyuman tipis melengkung di sudut bibirnya ketika ia menyadari siapa sesungguhnya sosok penari berkostum kuning yang menyembunyikan wajahnya di balik topeng kayu itu.
Seorang kasim berbaju hijau menuangkan teh ke dalam cawan yang dipegang oleh Putera Mahkota, yang kemudian menyerahkannya kepada sang raja. Yang Mulia Raja Sukjong tersenyum sambil menerima cawan yang diberikan oleh sang anak, lalu menenggak habis isinya dalam sekali tegukan. Yang Mulia Raja juga mempersilakan Kaisar Chen yang merupakan tamu kehormatannya untuk menikmati hidangan yang telah disajikan sambil menikmati pertunjukan tari yang masih berlangsung.
Sang raja tampan itu sejenak melepaskan pandangannya dari sang penari berkostum kuning, dan beralih merayapi wajah-wajah para pejabat pemerintahannya yang duduk di halaman aula berkarpet merah di hadapannya. Duduk di meja paling depan di sisi kiri adalah para pejabat dari Enam Kementrian yang mewakili enam departemen yang ada dalam pemerintahan: Departemen Personalia, Departemen Perpajakan, Departemen Ritus, Departemen Pertahanan, Departemen Kehakiman dan Departemen Pekerjaan, disusul para pejabat dari Dewan Negara di antaranya Kepala Penasehat Negara, Menteri Kanan serta Menteri Kiri dan beberapa biro penting lainnya. Meja di belakangnya dipenuhi oleh para pejabat dari fraksi Barat yang dipimpin oleh ayah mertuanya sendiri bersama seorang panglima perang yang kedudukannya setingkat di bawah Panglima Kang, namanya Panglima Hwang Jeong In. Para pejabat senior yang duduk di sisi kiri ini semuanya mengenakan pakaian berwarna merah. Sedangkan pejabat yang kedudukannya setingkat di bawah mereka mengenakan jubah biru, dan pejabat junior mengenakan jubah hijau. Yang membedakan kedudukan antara pejabat sipil dengan pejabat militer adalah pola lencana status yang tersulam di jubah masing-masing.
Sementara di sisi kanan, duduk para pejabat teras yang menempati posisi-posisi utama di pemerintahan serta para pejabat dari fraksi Selatan yang dipimpin oleh Pangeran Besar Yi An So yang merupakan adik raja satu-satunya dari selir yang didampingi oleh bawahan kepercayaannya, yakni Panglima Kang. Pejabat senior dari fraksi ini juga mengenakan pakaian berwarna merah untuk tingkatan senior, sementara untuk pejabat yang setingkat di bawahnya dan pejabat junior mengenakan pakaian berwarna sama dengan para pejabat dari fraksi Barat, namun ditambah dengan sulaman bunga teratai berukuran kecil di bagian kerah. Dan seperti halnya fraksi Barat, yang membedakan kedudukan antara pejabat sipil dengan pejabat militer adalah pola lencana status yang tersulam di jubah yang mereka kenakan. Di bagian paling belakang dari para pejabat dari kedua fraksi terbesar dalam pemerintahan itu, duduk para pejabat dari fraksi-fraksi yang lain yang lebih kecil. Mereka semua mengenakan pakaian berwarna merah, hijau dan biru yang dibedakan oleh sulaman bunga poeni di bagian tengah jubah untuk menandakan dari fraksi mana mereka berasal.
Musik kembali berganti, dan ke-lima penari dengan gemulai menarikan salah satu gerakan tari yang dinamakan Menggerakkan Lutut untuk Mengubah Arah. Yang Mulia Raja kembali mencurahkan perhatiannya pada pertunjukan tari yang berlangsung di depannya. Suara indah sang penari berkostum kuning masih mengalun lembut, membius sukma para pejabat pemerintahan serta seluruh tamu yang hadir. Gerakan-gerakan sulit dalam tarian yang ia peragakan sama sekali tak mempengaruhi suaranya. Tak lama, musik pengiring mengalun dalam nada lambat dan para penari kembali membentuk formasi awal yakni berbaris sejajar dan sang penari berkostum kuning mulai menyanyikan syair penutup yang diiringi oleh ke-empat rekannya sambil tetap meliuk indah menggerakkan selendang putih di tangan masing-masing.
Sanha cheolliguk e
Gagiol chongchonghasyatta
Geumjeongujunge myeongilwolhasini
Hoehoeseosokeun chundaesangieoneul
Setelah syair penutup dalam tarian selesai dilantunkan, para penari segera meninggalkan halaman depan yang dijadikan sebagai panggung pertunjukan sambil melakukan gerakan yang dinamakan Kelopak Bunga Jatuh dan Air Mengalir dengan iringan musik pengiring yang kian melambat. Hal ini secara simbolis menggambarkan bahwa ke-lima penari menebarkan keberkatan dan keberuntungan ke arah penonton dengan cara mengayunkan selendang panjang di tangan mereka masing-masing. Ketika para penari sudah menghilang di belakang pintu masuk, tepuk tangan meriah terdengar saling sambut memenuhi ruangan perjamuan yang dihadiri oleh seluruh pejabat pemerintahan Kerajaan Joseon itu.
Pangeran Besar Yi An So berdiri dari duduknya sambil mengangkat cawan berisi teh dengan kedua tangannya, dan menghadapkannya di depan wajahnya.
"Selamat, Yang Mulia! Berkat kepemimpinan Anda dan restu langit, pasukan kita berhasil mengalahkan pihak Ming. Sekali lagi selamat, Yang Mulia," seru adik tiri sang raja itu dengan suara lantang. Seulas senyum menghiasi wajahnya yang memiliki sedikit garis kemiripan dengan sang raja.
"Selamat, Yang Mulia…! Joseon benar-benar di bawah lindungan langit selama kepemimpinan Anda," Panglima Hwang Jeon In yang berwajah angkuh turut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pangeran Besar Yi An So. Ia juga bangkit dari duduknya, dan mengangkat cawan berisi teh ke depan wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya.
"Selamat, Yang Mulia…!" para pejabat dari semua fraksi serempak menyerukan hal yang sama. Sang raja tersenyum dan meminum kembali teh di cawannya yang telah diisi lagi oleh kasim di sampingnya.
"Terima kasih. Namun ketahuilah bahwa kemenangan yang kita peroleh bukan hanya karena usahaku sendiri. Berterima kasihlah pada Selir Hwan, karena strategi jitu yang ia miliki, maka pasukan kita bisa memenangkan pertempuran dalam waktu yang lebih singkat. Jangan lupakan pula jasa-jasa Panglima Kang, serta para prajurit lain yang telah berperang. Terutama juga untuk Kaisar Chen dan para prajurit Kerajaan Tiongkok yang telah membantu kita," jawab sang raja dengan bijak. Sang raja mengarahkan pandangannya ke satu titik, dan tersenyum lebar ketika melihat selir terkasihnya itu sedang berjalan menuju ke arahnya, dengan didampingi seorang dayang yang sebelumnya telah ia perintahkan untuk memanggil si remaja cantik itu.
Jaejoong yang telah melepaskan pakaian penarinya dan terlihat sangat memukau dalam balutan dangui berwarna merah muda dipadukan dengan seuran chima berwarna merah marun memberikan penghormatan kepada sang suami saat jarak antara mereka hanya sekitar dua langkah. Ia menumpukan tangan kanannya di atas tangan kirinya, lalu menundukkan kepala dan membungkuk tiga kali. Senyum sang raja semakin lebar merekah. Ia lalu meminta sang selir untuk duduk tepat di sebelah kirinya, di tengah-tengah antara ia dan Perdana Menteri Go yang duduk agak sedikit ke depan. Jaejoong yang menghiasi sanggulnya dengan tusuk konde berlambang phoenix yang dilengkapi dengan ornamen logam berbentuk bunga di bagian tengah rambutnya tersenyum kecil menatap suaminya, lalu berjalan pelan menghampiri sang raja. Ia lalu mendudukkan diri di samping sang suami setelah sebelumnya sedikit menganggukkan kepala pada Yang Mulia Permaisuri, Yang Mulia Ibu Suri, Putera Mahkota Changmin, juga pada Perdana Menteri Go yang sempat meliriknya tanpa kata.
"Berikan secawan pada Selir Hwan," perintah raja pada kasim di sampingnya.
"Baik, Yang Mulia," jawab kasim sambil menuangkan teh ke dalam cawan yang dengan sigap disiapkan oleh Putera Mahkota Changmin. Putera Mahkota lalu menyerahkan cawan itu pada sang ayah.
"Kontribusi yang kau berikan ketika pertempuran melawan Ming sangat besar. Jika bukan karenamu, mungkin pada hari ini kita semua tidak akan duduk di sini untuk menikmati perjamuan ini. Ini untukmu, Sayang…," ucap sang raja tulus sambil menyerahkan cawan di tangannya. Jaejoong menerima cawan dari tangan sang suami dengan tangan sedikit bergetar dan wajah bersemu merah. Setelah cawan berpindah tangan, sang raja mengangkat cawan miliknya sendiri, lalu menghadapkannya pada sang telir terkasih, sambil mengajak seluruh yang hadir untuk bersulang.
"Untuk Selir Hwan dan kontribusinya yang begitu besar bagi Kerajaan Joseon. Selamat, Selir Hwan…!" seru Pangeran Besar Yi An So sambil mengangkat cawannya, diikuti oleh para pejabat di belakangnya serta para pejabat dari fraksi Barat juga fraksi lainnya. Seruan kekaguman bersahutan terdengar dari para pejabat pemerintahan, baik dari pihak yang sudah pernah melihat raut wajah sang selir terkasih raja itu, mau pun dari pihak yang baru pertama kalinya melihat dari dekat paras menawan sang selir yang sejak menjejakkan kakinya ke dalam istana sudah menjadi bahan pembicaraan karena kecantikan dan kemampuannya memainkan serulingnya itu.
"Sebagai hadiah atas jasa-jasa Selir Hwan, maka aku menghadiahkan lima bidang tanah untuknya di wilayah selatan, serta sebuah paviliun pribadi yang akan dibangun di wilayah utara. Aku juga sudah mempersiapkan sebuah peternakan di wilayah timur atas nama Selir Hwan," tutur sang raja yang disambut dengan anggukan kepala oleh sebagian besar pejabat. Wilayah selatan dikenal dengan tanahnya yang sangat subur, karena itu wilayah tersebut dijadikan sebagai pusat pertanian. Sedangkan wilayah utara dikenal sebagai salah satu wilayah perbukitan yang berhadapan langsung dengan laut. Banyak pejabat pemerintahan yang membangun paviliun pribadi sebagai tempat peristirahatan sementara di tempat ini. Sementara itu, wilayah timur dikenal sebagai wilayah yang banyak memiliki hamparan padang rumput luas, sehingga sangat cocok dijadikan sebagai pusat peternakan. Menurut sebagian besar pejabat yang hadir di dalam perjamuan itu, hadiah yang diberikan oleh sang raja sangat pantas diterima oleh selir Hwan. Akan tetapi, tetap saja ada sebagian pejabat yang berbisik-bisik mengungkapkan keberatan mereka akan hal itu. Menurut mereka, hadiah yang diberikan oleh sang raja terlalu berlebihan. Meski begitu, tidak ada satu pun di antara para pejabat yang tidak setuju dengan keputusan sang raja itu yang mengungkapkan ketidaksenangan mereka secara langsung.
Perdana Menteri Go yang duduk di sebelah Jaejoong dengan sebuah senyuman terkembang di bibirnya sedikit memutar duduknya dan mengarahkan cawan yang sejak tadi dipegangnya menghadap Jaejoong dan mengajaknya bersulang.
"Kau benar-benar hebat, Selir Hwan. Dalam usia semuda ini kau bahkan memiliki kemampuan mengatur strategi perang yang jauh lebih hebat daripada seorang panglima perang kawakan," sanjung Perdana Menteri Go dengan ketulusan yang terlihat nyaris sempurna, setelah menenggak sebagian isi cawannya. Jaejoong yang untuk pertama kalinya berinteraksi secara langsung dengan lelaki separuh baya di depannya yang merupakan musuh utama keluarganya itu mengamati wajah tua sang perdana menteri lekat-lekat. Sekuat tenaga remaja cantik itu berusaha mempertahankan air mukanya agar tidak menampakkan raut kebenciannya kepada lelaki separuh baya yang selalu berpembawaan tenang itu.
"Tuan Perdana Menteri Go terlalu memuji. Joongie tidaklah sehebat itu dan masih harus banyak belajar dari orang-orang seperti Tuan. Dalam peperangan, mengalahkan seribu musuh yang nyata memang jauh lebih mudah daripada menghancurkan seorang musuh dalam selimut, bukan? Setidaknya begitulah yang Joongie ketahui dari sebuah buku yang pernah Joongie baca. Tuan Perdana Menteri dikenal sebagai seorang pejabat yang sangat bijak dan sudah lama mengecap asam garam kehidupan, tentu sangat paham akan makna di sebalik ucapan itu, bukan?" sindir Jaejoong secara halus sambil meneguk teh yang berada dalam cawannya. Seringai tipis terpasang di wajahnya yang sedikit menunduk saat dengan ekor matanya ia melihat Perdana Menteri Go menghentikan gerakan tangannya yang hendak kembali menenggak isi cawannya setelah mendengar ucapan remaja cantik itu. Bahkan rahang sang perdana menteri sempat terlihat mengeras sesaat, sebelum beralih membentuk sebuah senyuman.
"Selir Hwan ternyata memiliki minat membaca yang sangat tinggi, eoh? Apakah di dalam buku yang kau baca juga dituliskan agar sebaiknya seekor anak kucing yang baru saja memiliki gigi sebaiknya mengatupkan saja bibirnya sebelum seluruh giginya tumbuh?" jawab Perdana Menteri Go dengan sikap tenang seperti biasanya. Sebuah senyum kecil lagi-lagi terpasang di wajahnya. Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya dalam gerak lambat, membuatnya terlihat begitu menggemaskan.
"Tidak, Tuan Perdana Menteri. Tidak ada nasehat seperti itu dalam buku yang Joongie baca. Tapi Joongie akan mengingat baik-baik nasehat Tuan Perdana Menteri hari ini. Ternyata apa yang orang-orang katakan tentang Anda itu memang benar. Anda sangat bijak dan Joongie sungguh merasa mendapatkan kehormatan bisa mendapatkan nasehat Anda yang sangat berharga," puji Jaejoong dengan ketulusan palsu. Ia kembali membungkukkan tubuhnya, lalu mengalihkan pandangan pada sang suami.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kau juga sangat pandai menari, Sayang," potong sang raja cepat ketika dilihatnya sang ayah mertua kembali membuka mulut, hendak membalas ucapan selir terkasihnya. Mulut Perdana Menteri Go yang sempat terbuka kembali terkatup rapat. Lelaki setengah baya berpembawaan tenang itu mengalihkan pandangannya ke depan, setelah sebelumnya sempat melirik ke arah putri bungsunya yang tidak menunjukkan perubahan emosi sedikit pun. Sedangkan Yang Mulia Ibu Suri tampak masih mengulas senyuman tipisnya mendengar perkataan demi perkataan yang diucapkan oleh namja cantik itu. Dalam hati, wanita yang masih terlihat cantik itu memuji keberanian Jaejoong dalam bersahut kata dengan Perdana Menteri Go.
"Yang Mulia tahu kalau salah satu dari penari tadi adalah Joongie?" Jaejoong menampilkan ekspresi kaget yang membuatnya terlihat semakin manis dengan mata besarnya yang membulat sempurna.
"Tentu saja aku mengetahuinya," tukas sang raja dengan cepat. Yang Mulia Raja kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong dan mengarahkan bibirnya ke telinga remaja cantik itu. "Aku ini suamimu, dan aku mengenal dengan baik bentuk tubuhmu. Baik ketika kau memakai pakaian, atau tidak sama sekali," bisik sang raja yang kontan membuat rona merah menjalar dari kedua telinga sang selir terkasih, lalu merambat hingga ke kedua belah pipinya. Yang Mulia Permaisuri yang melihat secara jelas semua kejadian itu mengepalkan tangannya yang tersembunyi di balik lengan pakaiannya meski tetap memasang raut wajah tenang. Hal yang ia pelajari dengan baik dari sang ayah.
Jaejoong yang dilanda perasaan malu luar biasa mendengar ucapan suaminya, mengalihkan pandangannya menatap buah-buahan yang terhidang di atas meja persegi berkaki rendah di depannya. Pandangannya tertuju pada rangkaian anggur hijau segar dalam piring keramik datar yang terlihat begitu menggoda.
"Bolehkah Joongie menyuapkan anggur ini kepada Yang Mulia?" tanya Jaejoong meminta ijin dengan nada pelan kepada suaminya setelah menekan perasaan malu yang selalu menyeruak jika ia mengingat kembali kata-kata suaminya itu. Sang raja tersenyum lebar.
"Tentu saja, Sayangku. Tak ada larangan bagi setiap istri untuk menyuapkan anggur pada suami mereka," jawab sang raja. Jaejoong tersenyum kecil, lalu memetik satu buah anggur hijau segar dari tangkainya. Ia lalu menyuapkan anggur hijau itu ke mulut suaminya dan langsung menundukkan wajahnya ketika sang raja tak hanya mengunyah anggur yang ia suapkan, tapi juga menggigit pelan ujung jarinya yang juga ikut masuk ke dalam mulut sang raja.
"Yang Mulia Raja Sukjong, sahabatku. Setahuku Anda adalah seseorang yang sangat menyukai puisi. Bagaimana jika Anda membuat dan membacakan sebuah puisi untuk selir terkasih Anda ini?" celetuk Kaisar Chen sambil memandangi kemesraan sahabat lamanya dengan selir terkasihnya itu dengan wajah berbinar. Ia sangat tahu kalau sahabatnya yang berusia lebih muda beberapa tahun darinya itu termasuk seseorang yang sangat menyukai seni.
"Kaisar Chen, Anda membuatku malu. Kesibukanku memerintah negeri ini membuatku sudah cukup lama juga tidak bergelut dengan dunia seni. Aku khawatir kemampuanku mencipta sebuah puisi sudah jauh menurun," tolak Raja Sukjong dengan halus sambil turut menyuapkan sebutir anggur ke dalam mulut selir terkasihnya yang kecil.
"Anda hanya terlalu merendah, Yang Mulia. Tidak ada yang meragukan kemampuan Anda. Ayolah, apa Anda ingin membuat sepasang mata indah itu dihiasi kabut kekecewaan?" desak Kaisar Chen sambil mengulum senyum.
Sang Raja Sukjong memerhatikan sejenak wajah selir terkasih yang tak pernah bosan untuk dipandanginya. Sebentuk wajah menawan dengan sepasang bola mata besar yang dihiasi bulu-bulu lentik, hidung yang mancung, serta bibir indah merekah yang terlihat seperti kelopak mawar merah.
"Hemmm…, baiklah! Aku akan mencobanya," putus sang raja setelah berpikir untuk beberapa saat.
Raja Sukjong masih terus memandangi selir terkasihnya itu. Ia kemudian mengibaskan lengan jubah yang ia kenakan, lalu bangkit berdiri dari duduknya. Dihembuskannya napas panjang, lalu kembali menatap sepasang mata indah remaja cantik yang sangat dicintainya itu. Jaejoong balas menatap sepasang mata sang suami yang terlihat tajam seperti mata seekor elang, dengan tatapan penuh pemujaan.
Pertama aku melihatmu,
seribu daun maple berguguran mengikuti gerak angin yang bercengkerama di awal musim semi.
Kau datang dengan taburan pesona,
umpama camar kecil yang menyulut pagi dengan sebentuk senyum mentari, dengan pesan cinta meliuk di lentik jemari.
Menjerat sukma dengan jejaring kata, memasung hati dengan kemilau kasih.
Jaejoong menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona merah yang dengan cepat kembali menjalar merambat kedua pipinya demi mendengar bait-bait pertama puisi yang dicipta oleh suaminya itu. Sementara Selir Suk dan selir-selir lainnya yang duduk di belakang sang raja beradu pandang, dan saling bertukar senyum melihat sikap malu-malu selir terkasih raja itu. Sangat berbeda dengan sikap Yang Mulia Permaisuri yang harus mati-matian mempertahankan raut wajah tenangnya, sementara hatinya sendiri bergolak menahan cemburu sekaligus amarah yang mendidih.
Laksana setangkai teratai di permukaan tasik,
maka kau yang terpilih di antara semua padang bunga yang beradu cantik
Jadi genggam jemariku, dan bersama akan kita lepaskan benang cinta yang panjangnya menyentuh langit, hingga usia mencumbu renta.
Lalu ketika senja mengintip dari balik bukit,
saatnya kau menemaniku menyusuri setapak jalan dalam babak kehidupan, dimana aku akan senantiasa berjalan bersisian denganmu, hingga yang kau ingat hanyalah aku.
Hanya aku.
Jaejoong membuka matanya yang dihiasi bulu-bulu mata lentik yang sesaat menutup setelah sang raja selesai membacakan sebuah puisi untuknya. Sebutir airmata bergulir di ekor matanya, namun cepat-cepat disekanya sebelum menuruni lembah pipinya yang merona. Remaja cantik itu merasa wajahnya kian memanas. Hatinya mendadak bergemuruh, seolah tak kuasa menahan rasa bahagia yang membuncah di hatinya mendengarkan ungkapan cinta sang suami yang dituangkan melalui bait-bait puisi dengan kata-kata yang terpilih. Tanpa mempedulikan keadaan di sekelilingnya, Jaejoong bangkit dari duduknya dan menghambur ke dalam pelukan suaminya. Airmata yang sejak tadi ditahannya seketika tumpah ketika berada dalam dekapan hangat lelaki tampan yang selalu membuat aliran darahnya seolah berbalik itu.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu," bisik sang raja sambil terus memeluk selir terkasihnya itu. Jaejoong yang tak membalas ungkapan cinta sang suami karena belum yakin dengan perasaannya sendiri semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang raja. Bukan baru kali ini saja sang raja mengungkapkan perasaannya pada remaja cantik itu, akan tetapi Jaejoong selalu merasa ada sebuah taman bunga yang merekah semerbak dengan aneka kupu-kupu beterbangan di hatinya setiap kali sang suami mengutarakan isi hatinya. Seluruh pejabat pemerintahan serta tamu undangan yang menghadiri perjamuan itu dengan jelas dapat menyaksikan betapa besarnya cinta yang dimiliki oleh sang raja junjungan mereka terhadap remaja cantik yang berada di dalam pelukannya itu.
Malam jatuh semakin larut, namun Jaejoong yang merasakan perasaan damai luar biasa di dalam dekap hangat suaminya tak ingin sedikit pun melepaskan diri dari pelukan itu. Yang Mulia Ibu Suri, Yang Mulia Permaisuri, Putera Mahkota, Perdana Menteri Go, Kaisar Chen juga selir-selir Raja Sukjong yang lain sudah sejak beberapa waktu lalu berpamitan meninggalkan perjamuan untuk beristirahat melepas lelah. Jaejoong perlahan-lahan mengangkat wajahnya, yang langsung disambut dengan tatapan lembut dari sepasang mata elang sang suami. Dengan segenap keberaniannya, Jaejoong yang sedikit berjinjit memberikan sebuah ciuman singkat di pipi suaminya itu, lalu buru-buru menundukkan wajahnya.
Yang Mulia Raja mendudukkan Jaejoong di atas pangkuannya, memeluknya dengan sikap melindungi. Poci-poci berisi teh telah sejak tadi dibiarkan kosong, berganti dengan arak untuk membantu mengusir hawa dingin yang mulai mencumbu setiap pori-pori tubuh. Kabut yang turun di sekitar tempat itu mulai menebal. Sang raja menuangkan arak ke dalam cawan selir terkasihnya, lalu menuangkannya pula ke dalam cawan miliknya. Ia lalu menyerahkan cawan yang telah berisi arak itu kepada selir terkasihnya. Jaejoong menerima cawan dari sang suami dengan sebuah senyuman tipis, lalu segera mendekatkan cawan itu ke bibirnya. Dengan cepat, ditenggaknya isi cawan itu hingga tandas. Sang raja yang masih bisa menyaksikan kulit leher sang selir terkasih yang terlihat menyembul dari balik kerah dangui yang ia kenakan tampak menelan ludahnya dan dengan cepat menghabiskan isi cawannya.
Dimulai dengan cawan pertama, lalu berlanjut pada cawan-cawan berikutnya hingga tak terasa sudah lebih dari tiga guci arak yang mereka habiskan. Kepala Pengawal Kim yang sejak awal mengawasi junjungannya dengan bersembunyi di antara dahan sebatang pohon pinus yang tumbuh di sisi kanan Aula Injeong segera meluruk turun dari tempat persembunyiannya. Ia lalu melangkahkan kaki lebar-lebar menuju ke tempat sang raja. Namun belum juga sampai ke tempat tujuannya, seseorang berjalan dengan tergesa dari arah berlawanan yang langsung menabrak bahunya, membuat kepala pengawal berwajah manis itu nyaris jatuh tersungkur kalau tidak cepat menahan tubuhnya dengan bertumpu pada pedangnya. Kepala Pengawal Kim mengerutkan keningnya begitu menyadari bahwa sosok yang telah menabraknya itu adalah salah seorang pejabat militer dari fraksi Barat yang sepengetahuannya masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Perdana Menteri Go.
"Anda tidak apa-apa, Panglima Go?" tanya Kepala Pengawal Kim kepada pejabat militer yang diketahuinya bernama Go Seung Ri yang berpangkat panglima itu. Kepala pengawal berwajah manis itu cukup heran dengan tingkah sang panglima yang sejak tadi terus memegangi lengan kirinya sambil meringis seolah menahan sakit yang teramat sangat. Kening Kim Junsu semakin mengerut. Matanya yang sipit terlihat semakin menyipit. Ada apa sebenarnya dengan pejabat di depannya itu?
Bukannya menjawab pertanyaan dari Kepala Pengawal Kim, pemuda tampan yang dipanggil Panglima Go itu malah bergegas meninggalkan tempat itu dengan langkah tergesa sambil terus memegangi lengan kirinya. Lengan jubahnya dikibas-kibaskan, seakan berusaha mendinginkan bagian tubuh yang sejak tadi dipegangnya itu. Suatu kesadaran menyentak benak Kepala Pengawal Kim secara tiba-tiba. Namun cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya, berusaha menyangkal satu pemikiran aneh yang mendadak mengisi ruang pikirnya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya dan bergegas menghampiri sang raja junjungannya. Kepala Pengawal Kim terlihat mencondongkan tubuhnya, dan membisikkan sesuatu ke telinga sang raja. Raja Sukjong yang sepertinya mulai mabuk tertawa pelan setengah bergumam dan mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh kepala pengawal kepercayaannya itu. Ia lalu berdiri dengan sedikit terhuyung dan segera menggendong selir terkasihnya. Jaejoong yang seumur hidupnya baru kali ini merasakan yang namanya mabuk, terlihat terkikik pelan dalam gendongan suaminya dengan wajah memerah. Celotehan-celotehan tak jelas yang diucapkannya dengan setengah sadar terlontar dari bibirnya. Kedua tangannya dengan manja melingkari leher sang suami yang segera meninggalkan aula utama itu setelah sebelumnya masih menyempatkan diri berpamitan pada para pejabat pemerintahannya yang satu per satu juga mulai beranjak meninggalkan tempat perjamuan. Kepala Pengawal Kim dengan setia berjalan di belakangnya, mengantarkan sang raja ke ruangan peristirahatan selir terkasihnya.
ooo 000 ooo
Setelah meminta Dayang Choi dan Dayang Kwan yang merupakan dayang kepercayaan Jaejoong meninggalkan ruangan peristirahatan remaja cantik itu, Yang Mulia Raja rupanya yang belum sepenuhnya mabuk dan masih menggendong selir terkasihnya itu segera membawa Jaejoong menuju kamar tidurnya. Sementara Kepala Pengawal Kim yang mengantarkan sang raja sampai di depan pintu kediaman pribadi Jaejoong segera meninggalkan tempat begitu raja berwajah tampan bersama selir terkasihnya itu berada di dalam. Tak lama, kedua dayang kepercayaan Jaejoong juga mengikuti jejak Kepala Pengawal Kim meninggalkan kediaman pribadi selir terkasih raja itu, setelah terlebih dahulu menutup pintu dengan rapat, menyisakan dua orang berseragam prajurit dengan pedang terhunus di tangan yang mendapat giliran jaga. Yang Mulia Raja yang sebagian kesadarannya telah diambil alih oleh arak yang diminumnya menghentikan langkahnya sejenak ketika jarak antara mereka dengan pembaringan hanya tinggal sekitar lima langkah. Diputar-putarnya tubuhnya yang masih tetap menggendong Jaejoong sambil terkekeh pelan. Jaejoong yang berada dalam gendongannya memekik manja, lalu ikut terkikik pelan. Setelah beberapa kali melakukan gerakan berputar, sang raja segera menurunkan Jaejoong dari gendongannya dengan napas sedikit terengah.
"Joongie…!" desah sang raja ketika sang selir terkasih malah merapatkan tubuhnya ke tubuh kekar sang suami. Dengan gerakan menggoda, Jaejoong yang wajahnya terlihat memerah melingkarkan kedua tangannya ke leher sang suami. Begitu dekat wajah mereka, sehingga Yang Mulia Raja yang menundukkan kepalanya dapat merasakan desahan napas remaja cantik yang sedikit menengadahkan kepalanya itu menerpa kulit wajahnya. Begitu segar dan harum, sekaligus memabukkan. Membuat pikiran sang raja semakin tidak menentu.
Dengan gerakan agak tergesa dan napas sedikit memburu, Jaejoong yang sebagian kesadarannya juga telah diambil alih oleh arak yang sudah berpindah ke dalam perutnya, melepaskan gonryongpo yang membalut tubuh kekar sang suami dan menjatuhkannya begitu saja di ujung kakinya. Sedangkan sang raja dengan sisa kesadaran yang dimiliki hanya diam saja, membiarkan sang selir terkasih yang memegang kendali awal dalam pelayaran mereguk madu cinta mereka. Jaejoong memundurkan langkah kakinya tanpa sedikit pun melepaskan kedua tangannya yang kembali melingkar di leher sang raja, sehingga sang raja juga turut melangkah bersamanya dengan kedua tangan berpegangan pada pinggang ramping sang selir terkasih. Kedua bola matanya yang besar dan indah sedikit pun tidak melepaskan pandangan dari wajah tampan sang suami yang menurutnya terlihat semakin tampan. Begitu merasakan paha bagian belakangnya yang masih terbungkus pakaian lengkap menyentuh sisi pembaringan, Jaejoong segera merendahkan tubuhnya sambil menarik leher sang suami. Yang Mulia Raja jadi ikut merendahkan tubuhnya, berlutut dengan kaki tertekuk sejajar dengan ranjang besar yang menopang berat tubuh mereka berdua. Aliran darah sang raja seketika seakan terhenti ketika bibir Jaejoong melumat bibirnya disertai gairah menggelora.
Tanpa melepaskan lumatannya, tangan Jaejoong yang pada saat sepenuhnya sadar tidak akan berani bertindak seliar sekarang bergerak cepat melepaskan pakaian yang tersisa di tubuh suaminya, hingga dalam waktu sebentar saja sang raja berwajah tampan itu telah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh tegapnya. Jemari lentiknya membelai-belai senjata kelelakian sang suami yang terlihat sudah menegang sempurna. Tegak, seakan seorang prajurit yang sudah siap bertarung di medan laga. Sang raja memejamkan matanya, menikmati kehalusan jari-jemari sang selir terkasih yang semakin piawai memanjakan dirinya. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada senjata kebanggaannya yang akan membawa mereka mengarungi samudera kenikmatan.
"Sayaaang…," desah lelaki bertubuh kekar itu, ketika sang selir terkasih semakin mempercepat gerakan tangannya memanja senjata kebanggaannya. Sang raja yang semula diam saja sambil berusaha menahan gairah yang menggebu-gebu menggelegak dalam dada akhirnya mengambil kendali. Direngkuhnya tengkuk sang selir terkasih dengan sedikit kasar, berusaha memperdalam ciuman mereka. Dilumatnya bibir remaja cantik itu disertai gairah menggelegak, menuntut pelampiasan secepatnya.
"Ahhh…," Jaejoong mendesis saat merasakan jari-jari tangan sang suami merayapi dadanya yang masih terbungkus pakaian. Genggamannya pada senjata kebanggaan sang suami terlepas.
Namja cantik itu merebahkan tubuhnya, begitu pula sang raja yang ikut merebahkan tubuhnya di atas tubuh indah selir terkasihnya itu. Kembali dilumatnya bibir merah menggoda yang terlihat sedikit membengkak itu. Jaejoong menggeliat-geliatkan tubuhnya di bawah himpitan sang suami yang bergerak cepat melepaskan dangui dan seuran chima merah hati yang membalut tubuh indahnya. Jaejoong ikut membantu sang suami melepaskan pakaian dalam yang membalut tubuhnya itu dengan menggerak-gerakkan tubuhnya. Sebentar saja, kondisi Jaejoong sudah polos seperti halnya sang suami, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Pakaiannya berserakan di samping tubuhnya sendiri.
"Ooohhh, Yang Muliaaa…," rintih Jaejoong mendesah.
"Aku menginginkanmu, Sayang…. Sangat menginginkanmu," ujar Yang Mulia Raja dengan deru napas memburu. Sepasang matanya tak berkedip memandangi tubuh polos selir terkasihnya yang dibalut kulit seputih susu yang tampak pasrah di bawah himpitannya.
"Joongie milik Yang Mulia. Joongie tidak akan menolak apa pun yang ingin Yang Mulia lakukan pada Joongie," jawab Jaejoong cukup berani. Sambil berkata begitu, jari-jari tangannya yang lentik meraba rahang tegas sang suami. Jari-jari lentik itu akhirnya merayap turun ke bibir berbentuk hati milik sang raja. Yang Mulia Raja merekahkan sedikit bibirnya, sehingga jari tangan sang selir terkasih itu tergigit pelan olehnya. Pandangan mata mereka masih saling beradu, sampai akhirnya mata Jaejoong menjadi semakin sayu. Bahkan sekarang mata remaja cantik itu menjadi sedikit terpejam, karena sang raja memagut jari-jari lentik itu dengan kelincahan lidahnya yang menggoda hati.
"Ssshhh, ahhh…! Yang Muliaaa…!" Jaejoong mulai mendesis merasakan hangatnya kenikmatan di ujung jari-jarinya itu.
Sang raja turut merabakan jarinya di permukaan bibir merah selir terkasihnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Jaejoong pun merekahkan bibir, membuka sedikit mulutnya, dan menggigit ujung jari sang suami. Akhirnya jari telunjuk sang raja pun sengaja dibenamkan ke mulut Jaejoong oleh remaja cantik itu sendiri. Kepalanya yang maju ke depan membuat jari itu terbenam semakin dalam di mulutnya dan Jaejoong memagutnya dengan liar.
Yang Mulia Raja ikut memejamkan matanya, menikmati pagutan liar Jaejoong pada jari telunjuknya. Tapi tangan yang satunya mulai merayapi paha sang selir terkasih yang terlihat begitu menggoda penglihatannya.
"Ooouuuhhh…!" Jaejoong mengerang sambil melepaskan jari telunjuk sang raja dari mulutnya.
Tangan sang raja di paha remaja cantik itu semakin nakal. Senjata kebanggaannya yang berukuran lebih kecil telah menegang kaku. Sang raja dengan keahliannya sebagai nahkoda handal dalam pelayaran menuju samudera keindahan dunia terus saja mempermainkan daging yang menegang kaku itu. Membelai sambil melakukan gerakan turun naik yang semakin lama semakin cepat pada senjata kebanggaan selir terkasih yang berada dalam genggamannya. Menghadirkan cairan licin yang kemudian dibalurkan sang raja ke seluruh bagian daging yang menegang kaku itu. Jaejoong pun kian menggeliat seraya mendesah panjang. Akhirnya namja cantik itu bergeser lebih maju lagi. Tangannya meraih tengkuk sang raja, mendekatkan kepala sang raja berwajah tampan itu, lalu melumat bibir sang suami dengan gairah menggelora.
Malam semakin jatuh hingga tengah malam hampir menjelang. Semakin larut semakin liar ciuman dan gerakan-gerakan sang raja menerjang sekujur tubuh selir terkasihnya. Remaja cantik itu tak kuasa berbuat apa-apa lagi selain tergeletak di atas pembaringan dalam keadaan polos dengan kedua paha terbuka lebar dan membiarkan bibir dan lidah nakal sang suami menyusuri setiap lekukan indah di tubuhnya.
"Yang Muliaaa…! Joongie sudah tidak kuat lagiii…," rengek Jaejoong sambil menggeliatkan tubuhnya yang seolah terbakar oleh api gairah yang sulit dipadamkan. Di sekujur tubuhnya yang terbalut kulit seputih susu, bertaburan jejak cinta kemerahan yang ditinggalkan oleh sang suami. Ia dengan kuat meremas rambut kepala sang suami untuk menahan ledakan rasa nikmat yang semakin mendorong jiwanya untuk terbang ke puncak kemesraan karena ulah tangan nakal sang suami yang tak melewatkan sejengkal pun bagian tubuhnya untuk disentuh. Remaja cantik itu meraih kepala suaminya dan menuntun mulut sang suami agar menyentuh daging kecil di ujung dadanya yang sedikit membusung, tak seperti layaknya dada namja kebanyakan.
"Ooouuuhhh, Yang Muliaaa…!" remaja cantik itu kembali merengek. Ia menggeram gemas ketika kenikmatan itu datang akibat pagutan lembut sang suami di ujung dadanya.
Akhirnya, setelah mendengar rengekan Jaejoong untuk kesekian kalinya, Yang Mulia Raja memberikan apa yang dituntut batin selir terkasihnya itu. Peluh mulai mengalir dari pori-pori tubuh sang raja yang kekar itu. Butir demi butir menetes membasahi dada selir terkasihnya, membuat sepasang daging kecil berwarna merah hati yang tumbuh di sana terlihat menegang kaku dan menggoda hasrat kelelakiannya. Jaejoong yang masih belia tak ingin kalah oleh suaminya yang terkadang menggerayangi tubuhnya dengan kasar. Remaja cantik itu justru menyukai sikap kasar suaminya dan lebih ganas memberikan perlawanan asmaranya.
"Aaahhh, Yang Muliaaa…!" Jaejoong tersentak mengejang ketika merasakan sang suami telah sepenuhnya menyatu dengan dirinya, membuat pintu surga miliknya terasa sedemikian penuh. Diremasnya lengan sang suami yang menyangga tubuh indahnya itu, sementara kedua kakinya terbuka lebar dan bertumpu di kedua pundak sang suami.
"Kau benar-benar menggodaku, Sayang. Jangan salahkan aku kalau tak mampu menahan diriku lebih lama lagi."
Perahu cinta pun berlayar mengarungi samudera kenikmatan. Sang raja dan selir terkasihnya saling unjuk keganasan. Jaejoong menggerakkan tubuhnya dengan liar di bawah himpitan sang suami yang juga menggeluti tubuhnya dengan gerakan tak kalah liar. Keduanya seakan mengamuk melampiaskan rasa nikmat yang membahagiakan hati. Sang raja sebagai nahkoda handal mengendalikan biduk cinta mereka dengan kecepatan penuh, seakan tak ingin terlambat mencapai puncak kemesraan.
"Aaakkkhhh…!" Jaejoong yang kesadarannya benar-benar telah diambil alih oleh minuman yang diminumnya memekik keras ketika tiba pada puncak kemesraannya. Ia sama sekali tak memikirkan jika jeritan kerasnya bisa didengar dengan jelas oleh para prajurit yang bertugas menjaga kediamannya. Tubuh remaja cantik itu tersentak-sentak, seakan merasakan pusaran air yang mengalirkan seribu serat keindahan. Untuk beberapa saat remaja cantik itu tidak mengeluarkan suara lagi karena tersumbat oleh selaksa nikmat. Ia hanya memejamkan matanya kuat-kuat dan membuka mulutnya bersama hentakan napas terputus-putus.
Sang raja yang belum mendapatkan puncak kemesraannya membalikkan tubuh sang selir yang basah oleh keringat dan masih memeluknya erat, seakan tak ingin tubuh kekar sang suami turun dari atas tubuhnya. Kembali ia mengayuh biduk cinta mereka, membawa sang selir terkasih yang seakan mendapatkan kembali tenaganya untuk menyusuri samudera kenikmatan dalam bentuk penyatuan raga mereka. Waktu yang terus merambat sama sekali tak dipedulikan oleh kedua insan yang tengah berpacu meraih puncak terindah dalam penyatuan cinta itu. Seakan tanpa lelah, mereka terus bergelut memadu cinta. Jaejoong sendiri tak menyadari entah kapan pelayaran mereka menaiki biduk cinta itu berakhir. Yang terdengar di telinganya sebelum matanya merapat sempurna beserta kesadarannya yang sepenuhnya menghilang adalah suara kokok panjang ayam jantan yang terdengar semakin sayup di pendengaran.
ooo 000 ooo
Jaejoong terbangun dari tidur panjangnya setelah hari menjelma siang. Kelopak mata yang melindungi sepasang bola mata besarnya terasa sukar untuk dibuka, akan tetapi remaja cantik itu tetap memutuskan untuk membuka matanya. Rasa ngilu mendera sekujur tubuhnya yang hanya ditutupi selembar sutera tipis yang tembus pandang. Jaejoong meringis ketika merasakan tulang-tulangnya seakan dilolosi dari persendiannya. Bagian bawah tubuh belakangnya juga terasa sangat sakit ketika ia mencoba untuk bangun dari posisi tidur telungkupnya. Rasa panas, pedih juga perih bergabung menjadi satu, menghadirkan denyutan-denyutan yang kembali membuat bibirnya meringis. Sambil menahan sakit, Jaejoong menapakkan kedua kakinya ke lantai, mencoba turun dari pembaringan untuk membersihkan sekujur tubuhnya yang terasa sangat lengket. Kain sutera berwarna kuning gading yang semula menyelimuti tidurnya kini dipakainya untuk membungkus tubuhnya, meski kain tembus pandang itu tak banyak membantu menyembunyikan lekuk tubuh indahnya. Dayang Kwan dan Dayang Choi yang sebelumnya duduk bersimpuh di tepi pembaringan menantikan majikan cantik mereka itu terbangun dari tidurnya bergegas bangkit dan memapah tubuh mungil itu ke pemandian.
Dengan wajah memerah menahan malu, Jaejoong yang masih lemas tak bertenaga setelah pada malam sebelumnya menghabiskan malam panas dengan sang suami, membiarkan kedua dayang kepercayaannya itu membantunya membersihkan diri. Kain sutera yang membungkus tubuhnya perlahan terlepas. Wajah Dayang Kwan dan Dayang Choi yang melihat dengan jelas jejak cinta yang ditinggalkan sang raja junjungan mereka di tubuh indah remaja cantik itu pun tak kalah memerah. Meski begitu, kedua dayang itu tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun. Dengan gerakan lembut namun cekatan, mereka terus membantu remaja cantik itu membersihkan diri sekaligus memberikan pijatan-pijatan lembut di sekujur tubuh selir terkasih raja itu. Untuk beberapa saat, Jaejoong merendam diri di dalam air mandi yang sudah dicampur dengan beraneka bunga yang menghadirkan aroma menenangkan. Dan setelah selesai, kedua dayang berwajah cantik itu segera memakaikan jubah pada remaja cantik itu dan kembali memapah selir terkasih raja itu ke pembaringan yang keadaannya sudah kembali rapi. Dua orang dayang istana yang kedudukannya di bawah Dayang Kwan dan Dayang Choi telah merapikan kamar tidur Jaejoong sesuai perintah kedua dayang yang bertugas melayani Jaejoong selagi remaja cantik itu membersihkan diri. Bantal-bantal yang semula berserakan telah kembali ke posisinya semula, sedang alas pembaringan yang sebelumnya telah kusut masai dan menjadi saksi pelayaran cinta Jaejoong dan sang raja juga sudah ditukar dengan yang baru. Sebuah nampan berisi aneka makanan tampak diletakkan di atas meja di sisi pembaringan.
Setelah selesai berpakaian dan merapikan diri, Dayang Kwan menyerahkan nampan berisi makanan kepada remaja cantik itu. Jaejoong yang memang merasakan perutnya sudah menjerit minta diisi dengan lahap segera menghabiskan makan paginya yang sudah sangat terlambat itu sambil duduk menjuntaikan kakinya di sisi pembaringan. Setelah menghabiskan makanannya dan menyerahkan nampan yang isinya tak sedikit pun bersisa kepada Dayang Kwan, Jaejoong menyandarkan tubuhnya di kepala pembaringan, sambil menahan sakit pada tubuh bagian bawahnya yang kembali terasa berdenyut-denyut. Remaja cantik itu meringis-ringis sambil mencari posisi nyaman untuk duduknya.
"Selir Hwan, Putera Mahkota Changmin datang berkunjung. Beliau meminta ijin untuk masuk," lapor Dayang Choi yang berjalan dari arah pintu depan sambil mendekati remaja cantik itu. Begitu tiba di dekat Jaejoong, ia segera membungkukkan tubuhnya.
"Kalau begitu biarkan beliau masuk. Dan kalian berdua bisa meninggalkan ruangan ini. Joongie akan meminta salah seorang prajurit penjaga untuk memanggil kalian kalau urusan Putera Mahkota di sini sudah selesai," ucap Jaejoong dengan nada tetap lembut.
"Baik, Selir Hwan," jawab kedua dayang itu sambil membungkukkan tubuh dengan hormat. Mereka bergegas meninggalkan kediaman pribadi selir terkasih raja itu setelah terlebih dahulu mempersilakan masuk Putera Mahkota Changmin yang datang berkunjung sambil menenteng sekeranjang besar buah-buahan di tangan kanannya. Pengawal pribadinya dimintanya untuk tetap tinggal dan berjaga di depan pintu.
Putera Mahkota melangkah ringan memasuki kamar peristirahatan selir terkasih sang ayah yang sudah dianggapnya sebagai teman dekatnya itu.
"Sudah, tidak usah memaksakan diri untuk bangun kalau memang tidak bisa. Nanti tubuhmu malah akan semakin sakit," cegah sang putera mahkota dengan cepat ketika dilihatnya Jaejoong yang masih meringis menahan sakit hendak turun dari pembaringan untuk menyambutnya. Remaja berusia lima belas tahun yang mewarisi ketampanan sang ayah namun terlihat kekanakan itu meletakkan keranjang berisi aneka buah-buahan yang dibawanya di atas meja kecil di sisi pembaringan. Jaejoong yang kembali menyandarkan tubuhnya di kepala pembaringan mempersilakan Putera Mahkota Kerajaan Joseon itu untuk duduk di kursi yang berada tak jauh dari meja kecil itu. Sang putera mahkota duduk sambil menghadap Jaejoong.
"Sekujur tubuh Joongie jadi sakit begini juga karena ulah ayah Putera Mahkota sendiri," timpal Jaejoong, setengah mengadu, setengah mendengus. Ia kembali meringis ketika rasa perih itu datang dan membuat tubuh bagian bawahnya berdenyut tak karuan.
"Ha ha ha, apakah kau membutuhkan bantuanku untuk memperingatkan Ayahanda agar lain kali tak terlalu kasar saat 'bermain' denganmu?" tanya Putera Mahkota Changmin dengan nada jahil yang membuat Jaejoong mendelik tajam.
"Yaa[42]! Umur Putera Mahkota masih belum cukup untuk membicarakan hal setabu itu!" sergah Jaejoong dengan wajah memerah. Sepertinya remaja cantik itu melupakan kenyataan bahwa ia dan Putera Mahkota berusia sebaya. Seringai kecil terpasang di raut wajah putera tunggal sang raja penguasa Joseon itu.
"Apa kau lupa kalau usia kita hanya terpaut tiga bulan, Joongie-ya? Kalau menurutmu umurku belum cukup untuk membicarakan hal itu, lantas bagaimana denganmu? Kau bahkan sudah melakukan hal yang kau sebut tabu itu, padahal usiamu sama sepertiku," balas Putera Mahkota yang membuat Jaejoong kontan terdiam dan mati kutu. Rona merah kembali menjalar di wajahnya.
"Joongie tidak tahu apa yang akan rakyat katakan seandainya mereka tahu bahwa Putera Mahkota yang merupakan calon raja masa depan mereka adalah seseorang bermulut cabul!" kecam Jaejoong mengalihkan pembicaraan, membuat tawa sang putera mahkota semakin keras terdengar.
"Paling-paling mereka akan mengatakan bahwa buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Ha ha ha…," kembali tawa meriah berderai dari mulut Putera Mahkota Changmin, membuat Jaejoong memutar matanya dengan malas.
"Aissshhh, sudahlah. Sekarang katakan pada Joongie, angin apa yang membuat Putera Mahkota mengunjungi Joongie?" tanya Jaejoong, tak ingin memperpanjang basa-basi. Putera Mahkota Changmin memiliki kegemaran yang hampir sama dengan Selir Suk, yakni sama-sama suka menggodanya hingga raut wajahnya memerah.
"Tentu saja karena aku ingin meminta pertanggungjawabanmu karena saat berada di istana bawah tanah kau sama sekali tidak menyapaku. Padahal katamu kita ini teman," sungut Putera Mahkota Changmin sambil memasang wajah serius. Akan tetapi, tangan kanannya terulur ke arah keranjang buah-buahan yang tadi dibawanya. Diambilnya setangkai anggur hijau segar, lalu mulai mempretelinya satu per satu dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Oh, itu…. Tadinya Joongie berpikir untuk meminta maaf terlebih dahulu atas kejadian itu. Joongie juga sudah berencana untuk membuatkan makanan kesukaan Putera Mahkota sebagai tanda permintaan maaf Joongie. Tapi Joongie memutuskan untuk mengurungkan niat Joongie karena ucapan cabul Putera Mahkota tadi," tandas Jaejoong tanpa senyum, berbalik mempermainkan sang putera mahkota yang membelalakkan matanya. Buru-buru ditelannya anggur yang masih berada di dalam mulutnya.
"Kau tidak bisa melakukan itu padaku, Joongie-ya!" pekik Putera Mahkota yang langsung bangkit dari duduknya. Benaknya berputar dengan cepat untuk menemukan cara agar bisa membujuk selir terkasih ayahnya itu untuk tetap membuatkan makanan kesukaannya.
"Kenapa tidak?" Jaejoong memasang wajah polos. Sejujurnya remaja cantik itu ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah panik sang putera mahkota.
"Oh ayolah, kau tahu benar kalau ucapanku tadi hanya bercanda. Aku hanya bermaksud menggodamu. Kau sendiri tidak benar-benar akan mengurungkan niatmu, kan?" desak Putera Mahkota Changmin dengan wajah terlihat memelas. Ia lantas berjalan mondar-mandir di depan Jaejoong sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung, membuat remaja cantik itu jengah sendiri.
"Hemmm, akan Joongie pertimbangkan kembali. Asal…," dengan usil Jaejoong menggantung ucapan akhirnya. Sebelah alisnya terangkat, mempermainkan kesabaran remaja berwajah kekanakan di depannya.
"Asal apa?" sambar Putera Mahkota dengan cepat. Gerakan mondar-mandirnya seketika terhenti. Ia memandang Jaejoong dengan wajah diselimuti rasa penasaran yang amat sangat.
"Asal Putera Mahkota mengakui kalau Putera Mahkota memang cabul. Bagaimana?" sebuah seringai nakal tercetak di sudut bibir remaja cantik itu. Sakit di bagian bawah tubuhnya seakan mulai berkurang.
"Yaa! Kau sengaja menggodaku, eoh?" tanya Putera Mahkota yang tidak terima jika dirinya harus mengaku cabul. Terlebih selepas melihat seringai yang muncul di wajah cantik itu. Ia tahu benar kalau selir terkasih ayahnya itu hanya bermaksud membalasnya.
"Kalau tidak mau ya sudah! Padahal Joongie tadi sudah sempat berubah pikiran…,"
"Baiklah, baiklah. Kau menang. Aku memang cabul. Tapi meski begitu tetap saja aku ini tampan. Bahkan jauh lebih tampan darimu," balas sang putera mahkota. Ia terdiam sejurus kemudian, lalu menggelengkan kepalanya, menyangkal ucapannya sendiri. "Aniya[43]! Kau jelas-jelas bukan bandinganku dalam hal ketampanan, karena wajahmu itu tidak bisa dikatakan tampan, tapi cantik," sambung Putera Mahkota Changmin tak mau kalah.
"Apa maksud Putera Mahkota? Joongie ini namja, tentu saja Joongie ini tampan! Sangaaat tampaaan…," puji Jaejoong pada diri sendiri dengan kepercayaan diri berlebih. Putera Mahkota Changmin terbatuk kecil mendengar penyangkalan dari remaja cantik itu.
"Joongie, Joongie…. Di situlah letak benar dan salahmu. Kau dan kata tampan tidak cocok untuk diletakkan dalam satu kalimat. Benar kau namja, tapi wajahmu sangat jauh dari kata tampan. Kau itu cantik. Namja cantik!" jelas sang putera mahkota yang memang terkenal pandai bersilat lidah itu.
"Berhenti mengatai Joongie cantik!" tegas Jaejoong sambil mengerucutkan bibirnya. Putera Mahkota Kerajaan Joseon itu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah polah remaja cantik itu. Kembali didudukkannya pantatnya di atas kursi, lalu meraih sebuah apel hijau dari dalam keranjang dan kembali memakannya.
"Aish, kenapa reaksimu begitu? Padahal kalau Ayahanda yang mengatakan kalau kau cantik, kau akan tersipu-sipu malu seperti seorang gadis desa yang dipuji oleh pemuda yang dicintainya. Lalu di pipimu akan menjalar rona merah, begitu juga di kedua telingamu. Kau akan menundukkan wajahmu untuk menyembunyikan rona merah itu. Lalu…, lalu…," Putera Mahkota Changmin memerhatikan wajah remaja cantik di depannya yang mulai salah tingkah.
"Sudah! Hentikan! Dan berhentilah memakan buah-buahan Joongie. Untuk apa Putera Mahkota membawa buah-buahan itu untuk Joongie kalau ternyata Putera Mahkota juga yang menghabiskannya?" sergah Jaejoong yang tak ingin sang putera mahkota yang bermulut tak kalah cerewet darinya itu melanjutkan perkataannya.
"Yah, kata siapa buah-buahan itu untukmu? Tentu saja untukku, sebagai bekal perjalanan mengunjungimu. Kalau kau mau, kau bisa memintanya padaku. Buah apa yang kau inginkan? Aku membawa semangka, kesemek, jeruk, pepaya, jambu, pisang, dan banyak lagi yang lainnya. Ah, ada salak juga. Kau mau?" Jaejoong ingin sekali membenturkan kepalanya ke sandaran tempat tidur mendengar jawaban sang putera mahkota yang kini terlihat seperti seorang penjaja buah keliling. Remaja berparas rupawan itu menghembuskan napas panjang melihat kelakuan sang calon raja masa depan Joseon itu.
"Kalau maksud kedatangan Putera Mahkota ke sini hanya untuk mengolok-olok Joongie, sebaiknya Putera Mahkota pulang saja. Joongie juga ingin melanjutkan istirahat Joongie," tutur Jaejoong dengan nada penuh kesungguhan.
"Kau mengusirku?"
"Tidak. Tapi kalau Putera Mahkota tak kunjung mengutarakan maksud kedatangan Putera Mahkota yang sebenarnya, jangan salahkan Joongie kalau Joongie benar-benar mengusir Putera Mahkota dari sini," ancam Jaejoong tanpa takut bahwa sosok yang diancamnya adalah seorang Putera Mahkota Kerajaan Joseon.
"Baiklah. Kau ini memang tidak gampang dibohongi ya? Sebenarnya kedatanganku ke sini ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ini…," Putera Mahkota mengeluarkan sesuatu dari balik gonryongpo berwarna ungu yang dikenakannya. Sehelai kain hitam yang dijahit membentuk jubah yang tampak lusuh namun dalam keadaan terlipat rapi. Jaejoong mengernyitkan keningnya, tak mengerti maksud sang putera mahkota yang menunjukkan kain lusuh itu padanya.
"Apa itu?" tanya remaja cantik itu separuh minat.
"Ini adalah jubah sakti yang katanya dulu pernah digunakan oleh Laksmana Yi Sun-sin dalam menumpas gerombolan perompak laut Jepang. Jubah ini membuat Laksmana Yi Sun-sin jadi menghilang dari pandangan orang lain sehingga dengan mudah merangsek ke arah pasukan musuh dan menumpas mereka," jelas Putera Mahkota Changmin sambil tersenyum lebar dan membentangkan jubah hitam lusuh yang disebutnya sakti itu. Jaejoong tertawa kecil mendengar penjelasan itu lalu menatap jubah lusuh di tangan sang putera mahkota yang menurutnya lebih mirip kain yang digunakan di dapur istana itu dengan tatapan meremehkan.
"Dari mana Putera Mahkota mendapatkan jubah itu?" selidik Jaejoong lagi.
"Aku menemukannya di lemari penyimpanan benda-benda bersejarah bagi Kerajaan Joseon yang terdapat di istana bawah tanah saat mengungsi beberapa waktu yang lalu. Menurut keterangan yang tertulis di sana…,"
"Tunggu!" Jaejoong memotong penjelasan sang putera mahkota yang menurutnya tidak penting itu. "Menemukan?" lanjutnya dengan nada tak percaya yang begitu kelihatan.
"Waeyo[44]? Kau tidak percaya kalau aku menemukan jubah ini?"
"Tentu saja tidak. Joongie cukup mengenal siapa Putera Mahkota. Dan Joongie yakin kalau yang Putera Mahkota maksudkan dengan menemukan itu adalah mengambil tanpa ijin jubah yang katanya sakti itu dari dalam lemari penyimpanan, bukan?" terka Jaejoong sambil mencibir. Putera Mahkota Changmin yang tak menyangka kalau Jaejoong mampu menebak dengan benar itu hanya cengar-cengir sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"He he he, ketahuan. Jadi, bagaimana?" tanya Putera Mahkota Changmin yang sedikit salah tingkah sambil menggerak-gerakkan alisnya.
"Apanya yang bagaimana?"
"Kau mau tidak kuperlihatkan kehebatan jubah ini?
"Memangnya benar-benar sakti? Kenapa di mata Joongie jubahnya lebih mirip seperti kain yang biasanya digunakan di dapur?" tanya Jaejoong yang meragukan kebenaran ucapan sang putera mahkota.
"Yaa! Tarik kembali ucapanmu! Kau jangan meremehkan kemampuan jubah ini hanya karena bentuknya terlihat seperti kain rombeng. Akan kutunjukkan padamu bagaimana saktinya jubah ini. Menurut keterangan yang tertulis di bagian bawah lemari penyimpanan, apabila jubah ini dipasangkan ke seluruh tubuh, maka sosok yang memakainya akan menghilang dari pandangan," jelas sang putera mahkota sambil memasangkan jubah itu ke tubuhnya. "Nah, sekarang aku sudah memakai jubah ini menutupi sekujur tubuhku. Kau sekarang tidak bisa lagi melihatku, kan?" tanya Putera Mahkota Changmin dengan memasang wajah penuh senyum kemenangan sambil mengencangkan ikatan jubah itu di lehernya.
Jaejoong membelalakkan matanya yang bulat. Posisi duduknya yang agak santai perlahan ditegakkan. Sementara sang putera mahkota yang menyangka bahwa reaksi terkejut yang ditunjukkan oleh selir terkasih ayahnya itu disebabkan karena ia yang telah berhasil menghilang dari pandangan remaja cantik itu tampak bangkit dari duduknya. Ia berdiri tepat di depan Jaejoong lalu mulai menggerak-gerakkan jari telunjuknya di depan batang hidung remaja cantik itu.
"Aku tahu kalau pada akhirnya kau akan mengakui kehebatan jubah ini, Joongie-ya. Tapi jangan terlalu lebar membuka mulutmu, nanti ada lalat yang masuk dan membuat sarang di sana. Ha ha ha…," ejek sang putera mahkota, membuat Jaejoong mendengus sebal.
"Sekarang coba tebak, aku ada di mana, Joongie-ya?" tanya Putera Mahkota Changmin seakan hendak menguji kehebatan jubah yang sedang dikenakannya. Ia melakukan gerakan berpindah dengan cepat sambil menjinjit kakinya, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
"Putera Mahkota ada di samping kanan Joongie," jawab Jaejoong yang sebenarnya masih bisa dengan jelas melihat wujud sang putera mahkota di depannya. Sejak tadi, Putera Mahkota Kerajaan Joseon yang memakai jubah hitam yang membungkus tubuh tingginya dari leher hingga mata kaki itu sama sekali tidak menghilang dari pandangannya.
"Ah, pasti cuma kebetulan," gumam sang putera mahkota dengan nada pelan setelah Jaejoong dengan tepat mampu menebak keberadaannya.
"Aku yakin sekarang kau tidak bisa menebak dimana aku, Joongie-ya," ujar sang putera mahkota yang bergerak cepat ke arah jendela yang terbuka lebar, memanjakan pandangan dengan jajaran pepohonan maple berdaun warna-warni.
"Putera Mahkota sedang berdiri di samping jendela yang ada di depan Joongie," sahut Jaejoong dengan nada riang. Putera Mahkota Changmin mengerutkan keningnya.
Ah, tertebak lagi. Jangan-jangan aku tadi terlalu berisik saat melangkah, batin sang putera mahkota ketika untuk kedua kalinya remaja cantik yang merupakan selir terkasih ayahnya itu mampu menebak keberadaannya dengan benar.
"Sekarang di mana aku?" tanya putera tunggal sang raja itu kembali ingin memastikan. Ia bergerak dengan cepat berpindah ke ujung pembaringan Jaejoong.
"Putera Mahkota sedang berdiri di ujung pembaringan Joongie," jawab Jaejoong dengan senyum jahil terukir di bibirnya tanpa di sadari oleh sang putera mahkota yang kembali tertegun karena remaja cantik itu lagi-lagi mampu menebak dengan benar. Ia lalu kembali berpindah tempat, bahkan berjalan sambil memperagakan gerakan seekor monyet yang sedang menggaruk pantatnya saat melintas di depan remaja cantik yang mati-matian berusaha menahan tawanya sambil menutup mulut dengan punggung tangannya itu. Bahkan dengan sangat keterlaluan, sang putera mahkota menjulur-julurkan lidahnya ke arah remaja berparas rupawan itu, sambil sesekali bertanya, 'di mana aku?', 'di mana aku?' pada namja cantik itu.
Ini sudah tidak lucu lagi, pikir Jaejoong. Lalu tanpa aba-aba….
Bruuukkk!
"Yaa! Kenapa kau melempar wajahku dengan bantal?" protes sang calon pewaris tahta Kerajaan Joseon itu sambil mengusap-usap keningnya. Dilemparnya tatapan marah pada remaja cantik sang pelaku pelemparan bantal yang balas menatapnya tanpa raut penyesalan.
"Joongie sengaja melakukannya untuk menyadarkan Putera Mahkota bahwa sebenarnya sejak tadi Putera Mahkota sama sekali tidak menghilang dari pandangan Joongie. Joongie bisa melihat dengan jelas semua gerakan yang Putera Mahkota lakukan, termasuk gerakan seekor monyet yang sedang menggaruk pantat sambil menjulurkan lidah itu. Kalau tidak Joongie lempar, memangnya Putera Mahkota akan sadar sendiri kalau jubah yang katanya sakti itu sama sekali tidak mampu membuat Putera Mahkota menghilang dari pandangan?" jelas Jaejoong sambil bersidekap.
"Jeongmal[45]? Ja-jadi…, aku sama sekali tidak menghilang dari pandanganmu sejak tadi?" tanya Putera Mahkota Changmin, ingin memastikan. Jaejoong menganggukkan kepalanya. Wajah tampan namun kekanakan sang putera mahkota tampak memerah. Menahan kesal dan malu sekaligus. Dengan cepat dilepaskannya jubah itu dari tubuhnya, lalu dengan kekesalan yang memuncak dibantingnya jubah lusuh itu di ujung kakinya. Putera Mahkota Kerajaan Joseon itu bahkan langsung menginjak-injak jubah lusuh yang sudah susah payah diambilnya tanpa ijin dari ruang penyimpanan di istana bawah tanah itu. Jaejoong yang menyaksikan ulah sang putera mahkota itu tak kuasa lagi menahan tawanya. Remaja cantik itu terpingkal-pingkal menyaksikan raut wajah sang putera mahkota yang kini sudah merah padam.
"Hei! Ootgejima[46]! Berhentilah menertawakanku!" sentak Putera Mahkota Changmin yang melihat sang selir terkasih ayahnya itu tak kunjung menghentikan tawanya. "Sial! Bagaimana bisa benda tak berguna seperti ini disimpan dalam ruang penyimpanan benda-benda bersejarah bagi kerajaan? Dan betapa bodohnya aku yang sudah begitu saja percaya akan kesaktian kain rombeng terkutuk ini," gerutu sang putera mahkota, memaki panjang pendek, melampiaskan kekesalan hatinya.
"Ha ha ha, lagi pula, kenapa Putera Mahkota begitu saja percaya kalau jubah lusuh itu adalah jubah sakti? Seharusnya Putera Mahkota tidak meninggalkan kelas saat pelajaran Sejarah dan memilih menyusup ke Dapur Istana hingga tidak mudah termakan tipuan. Yang membuat Laksmana Yi Sun-sin seakan menghilang dari pandangan ketika perang menumpas gerombolan perompak laut Jepang bukanlah sebuah jubah, melainkan sebuah tarian perang," jelas Jaejoong sambil masih mengumbar tawanya. Bahunya terguncang-guncang menahan amukan tawa.
"Sebuah tarian perang?" tanya Putera Mahkota Changmin dengan nada tak percaya.
"Ne. Dalam Perang Tujuh Tahun yang berlangsung saat itu, armada laut kita semakin lama semakin berkurang jumlahnya. Karena itulah Laksmana Yi Sun-sin meminta sekitar lima puluh orang dayang istana yang dipakaikan pakaian perang untuk menari di atas sebuah bukit, menghadap tepat ke arah kapal-kapal perompak. Tarian itu berupa gerakan berputar yang dilakukan para dayang sambil berpegangan tangan satu sama lain, yang semakin lama semakin cepat hingga yang tampak oleh pihak musuh seakan-akan pihak Joseon memiliki jumlah pasukan yang sangat banyak. Awalnya Laksmana Yi Sun-sin berdiri di tengah-tengah para penari itu, namun seiring cepatnya gerakan tari itu, maka sang laksmana seolah menghilang dari pandangan. Pihak musuh yang terpaku dengan para penari di atas bukit tidak menyadari ketika akhirnya armada laut kita merangsek maju dan menumpas mereka yang saat itu sedang lengah, " papar Jaejoong yang sudah berhasil mengendalikan tawanya. Sang Putera Mahkota Kerajaan Joseon itu memandangi Jaejoong dengan mulut ternganga, seakan tidak memercayai pendengarannya.
"Benarkah?" Jaejoong menganggukkan kepalanya. Putera Mahkota Changmin menghembuskan napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia lalu tertawa kecil seakan menertawakan kebodohannya. Tangannya kembali terulur ke arah keranjang buah-buahan yang tadi dibawanya. Diambilnya setangkai anggur merah dan langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Sepertinya gerakan berpindah-pindah tempat yang ia lakukan untuk menguji kesaktian jubah lusuh itu membuat perutnya lapar.
"Ada baiknya Putera Mahkota segera mengembalikan jubah itu ke tempat asalnya," saran Jaejoong, kembali menyamankan dirinya di kepala tempat tidur. Sang putera mahkota terlihat menganggukkan kepalanya disela-sela kunyahannya.
"Kurasa kau benar. Nanti aku akan mengutus pengawal kepercayaanku untuk mengembalikan jubah ini ke tempat penyimpannya. Seandainya pun jubah ini memang benar jubah sakti, mungkin ia tidak mau memperlihatkan kesaktiannya kepadaku karena aku yang telah mengambilnya dengan cara tidak semestinya," ujar putera tunggal sang raja Joseon itu. Jaejoong kembali terkikik mendengar ucapan sang putera mahkota. Sambil sedikit meringis, ia menurunkan sepasang kakinya menjejak lantai, lalu melangkah turun dari pembaringan. Dihampirinya jubah lusuh yang sempat diinjak-injak oleh teman dekatnya itu. Dikibas-kibasnya jubah itu, lalu melipatnya seperti semula, sebelum menyerahkannya pada sang putera mahkota yang tampak malas-malasan menerimanya, dan kembali menyimpannya di balik pakaiannya. Sepertinya sang calon pewaris tahta Kerajaan Joseon itu masih sangat kesal dengan jubah hitam lusuh yang menurutnya sudah mempermalukannya di depan selir terkasih ayahnya itu.
ooo 000 ooo
Sepeninggal Putera Mahkota Changmin yang akhirnya berpamitan meninggalkan kediaman khusus sang selir terkasih ayahnya, Dayang Kwan dan Dayang Choi kembali mendatangi majikan cantik mereka itu. Di tangan Dayang Choi tampak sebuah nampan besar yang menyangga sebuah bungkusan kain hijau yang entah apa isinya di atasnya. Mereka langsung menghampiri Jaejoong yang saat itu memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur lipat yang digelar di ruangan tengah kediaman pribadinya. Sebuah kipas berpola naga terbang terkembang di tangannya. Kedua dayang yang mengenakan hanbok berwarna hijau giok itu segera membungkukkan tubuh begitu tiba di dekat remaja cantik itu.
"Bungkusan apa yang kau bawa itu, Dayang Choi?" tanya Jaejoong dengan nada begitu lembut.
"Selir Hwan, saya membawa bungkusan berisi bahan makanan yang dipersiapkan oleh Dayang Istana Han atas perintah langsung dari Yang Mulia. Menurut Dayang Istana Han, Anda diminta oleh Yang Mulia Raja untuk membuat satu jenis makanan yang menurut Anda memiliki filosofi yang nyaris mendekati dengan kepribadian Anda sendiri dari semua bahan yang berada dalam bungkusan ini. Tidak boleh ada satu pun bahan yang tidak terpakai. Hal ini sebagai bentuk hukuman untuk Anda karena telah melanggar perintah Yang Mulia saat perang berlangsung. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa bertanya langsung pada Dayang Istana Han," jelas Dayang Choi dengan sikap begitu hormat. "Dayang Istana Han juga mengatakan bahwa bahan lainnya sudah dipersiapkan di Dapur Istana. Anda bisa menentukan jenis masakan yang ingin Anda sajikan setelah melihat seluruh jenis bahan yang disediakan," dayang muda itu menambahkan. Jaejoong mengatupkan kipas yang sejak tadi digunakannya, lalu terdiam sejenak. Kata-kata Selir Suk terngiang kembali di telinganya.
"Jadi Dayang Istana Han yang menemui kalian, sekaligus menyampaikan bentuk hukuman buat Joongie? Bukan Yang Mulia Raja sendiri?" tanya Jaejoong tanpa mampu menyembunyikan kekecewaannya. Remaja cantik itu mengubah posisinya. Ia kini duduk berhadapan dengan kedua dayang kepercayaannya itu sambil mengangkat sebelah kakinya yang tersembunyi di balik seuran chima berwarna biru langit yang dikenakannya. Nampan berisikan sebuah bungkusan dari kain berwarna hijau menjadi pembatas di antara mereka.
"Sebenarnya Yang Mulia ingin menyampaikannya secara langsung kepada Anda. Ketika Anda sedang menerima kunjungan dari Putera Mahkota Changmin, Yang Mulia sempat mampir kemari. Namun beliau mengurungkan niatnya untuk masuk karena tidak ingin mengganggu kegiatan Anda dan Putera Mahkota. Selain itu beliau juga harus segera memimpin rapat dengan para menteri dari Enam Kementrian. Karena itulah beliau mengutus Dayang Istana Han untuk menyampaikannya kepada Anda. Akan tetapi, disaat Dayang Istana Han ingin menemui Anda, Anda masih terlibat perbincangan dengan Putera Mahkota. Karena itu Dayang Istana Han menitipkan bungkusan beserta pesan untuk Anda melalui kami berdua," papar Dayang Kwan menyambung penjelasan dari rekannya. Wajah Jaejoong yang sempat berselimut mendung kembali ceria. Ia terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Memaklumi keadaan Dayang Istana Han pada saat itu, begitu juga dengan keadaan kedua dayang kepercayaannya itu.
"Coba buka bungkusan itu, Dayang Choi. Joongie ingin melihat isinya," perintah remaja cantik itu lagi. Dayang Choi mengangguk hormat, lalu mulai melepaskan tali jerami yang mengikat bungkusan itu. Dayang muda berwajah cukup cantik itu mengerutkan keningnya begitu melihat ke dalam bungkusan. Segera dituangkannya seluruh isi bungkusan ke atas nampan besar yang dibawanya. Apa yang tersaji di depan biji mata ketiga orang di dalam ruangan itu membuat mata mereka terbelalak lebar. Bagaimana tidak? Kini di atas nampan itu terlihat gundukan berbagai bahan makanan yang digabung menjadi satu. Di antara gundukan beras putih yang terdapat di atas nampan, terlihat beberapa bahan makanan lainnya seperti bawang bombai, bawang merah, bawang putih, cabai merah, lada, paprika hijau, tomat, daun bawang, jamur kancing bahkan butiran garam. Dayang Kwan dan Dayang Choi berbagi pandang dengan ekspresi terkejut yang tak mampu disembunyikan. Sedangkan Jaejoong tertegun sambil memandangi gundukan bahan makanan di depannya.
"Astaga! Jangan-jangan Dayang Istana Han memberikan bungkusan yang salah," ujar Dayang Choi yang sudah sadar dari keterkejutannya.
"Itu benar. Bagaimana mungkin dari bahan makanan yang sudah bercampur aduk seperti ini bisa disajikan sebuah masakan? Sebaiknya kita mengembalikan bungkusan ini kepada Dayang Istana Han dan memintanya untuk mengganti dengan bahan yang benar, Selir Hwan," saran Dayang Kwan menimpali. Tangannya dengan sigap bergerak cepat hendak memasukkan kembali gundukan bahan makanan itu ke dalam bungkusannya. Tapi remaja cantik itu malah mencegahnya sambil menggelengkan kepalanya. Sebuah senyuman tampak menghiasi wajah cantiknya. Senyuman manis yang membuat bingung kedua dayang kepercayaannya.
"Tidak! Kalian tidak perlu mengembalikan bungkusan itu pada Dayang Istana Han. Dia tidak memberikan bungkusan yang salah," tutur remaja cantik itu penuh kelembutan.
"Tapi, Selir Hwan…,"
"Kalian tahu alasan kenapa Joongie harus menyajikan satu jenis masakan dari bahan-bahan ini, bukan? Sebagai bentuk hukuman atas kesalahan Joongie sendiri. Yang Mulia adalah seorang raja yang sangat bijak, karena itulah beliau menghukum Joongie dengan cara seperti ini. Tahukah kalian, menyatukan semua bahan makanan di dalam satu bungkusan ini justru memperlihatkan betapa cerdiknya sosok Yang Mulia Raja," kembali kedua dayang kepercayaan remaja cantik itu beradu pandang mendengar pertanyaan Jaejoong, lalu serempak menggelengkan kepala.
"Setelah selesai menyajikan makanan dari bahan-bahan ini, Joongie berjanji akan memberitahu kalian alasan mengapa Joongie mengatakan bahwa Yang Mulia itu cerdik. Sekarang, kemarikan nampan itu, Dayang Choi," perintah Jaejoong sambil menggulung kedua lengan pakaiannya sebatas siku tanpa melepas senyum dari sudut bibirnya. Tanpa banyak bicara, jari jemari lentik remaja cantik itu bergerak cepat memisah-misahkan bahan makanan yang telah bercampur menjadi satu itu. Mula-mula ia memisahkan paprika hijau dari butiran-butiran beras putih yang membentuk gundukan itu, lalu disusul dengan bawang bombai, bawang merah, bawang putih, cabai merah, tomat, daun bawang, jamur kancing dan biji lada. Bahan-bahan itu disisihkannya di pinggiran nampan. Setelah itu ia melanjutkan pekerjaannya di bagian tersulit, yakni memisahkan butiran-butiran garam dari beras-beras putih. Remaja cantik itu melakukannya dengan sabar, tanpa mengeluh sedikit pun. Dayang Kwan dan Dayang Choi yang merasa kasihan melihat majikan mereka itu menawarkan jasa untuk membantu Jaejoong namun dengan halus ditolak oleh remaja cantik itu, sehingga kedua dayang muda tersebut akhirnya hanya duduk memerhatikan selir terkasih junjungan mereka sambil sesekali bergantian menyeka keringat yang kadang menyembul di wajah remaja berparas rupawan itu.
Kira-kira empat peminuman teh berikutnya, Jaejoong yang dengan kepintarannya bisa dengan cepat mengetahui maksud tersirat sang suami memberikan hukuman yang menurutnya cukup ringan itu telah menyelesaikan pekerjaannya memisahkan semua bahan makanan yang sebelumnya telah tercampur. Dengan ujung lengan bajunya, disekanya beberapa butir keringat yang menyembul di kening dan pelipisnya. Sebuah senyum lebar terpatri di sudut bibir merahnya. Ia kemudian melakukan beberapa gerakan untuk melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku setelah duduk menunduk cukup lama, lalu menarik sebuah laci dari lemari pendek di belakangnya. Dikeluarkannya sehelai kain kuning yang kemudian digunakannya untuk menutupi bahan-bahan makanan di dalam nampan. Tak lama, remaja cantik itu bangkit dari duduknya sambil membawa nampan berisi bahan-bahan makanan yang sudah dipisah-pisah itu. Kedua dayang muda yang mengetahui bahwa majikan cantik mereka itu hendak menuju Dapur Istana turut bangkit dari duduk mereka dan bergegas mendampingi remaja cantik itu.
Dalam perjalanan menuju Dapur Istana yang melewati jalanan berpasir yang dikelilingi pepohonan maple yang memiliki daun beraneka warna, para pekerja istana yang kebetulan berpapasan dengan remaja cantik yang berjalan agak perlahan sambil menyangga nampan besar didampingi oleh kedua dayang kepercayaannya itu tampak membungkukkan tubuh mereka, memberi hormat sambil diam-diam mengagumi kecantikan alami yang dimiliki oleh selir terkasih raja itu. Jaejoong yang sejatinya memang merupakan sosok yang ramah membalas salam hormat mereka sambil sedikit menganggukkan kepala dan menyunggingkan senyuman manisnya. Ia kemudian meneruskan kembali langkah-langkah sepasang kakinya menuju Dapur Istana yang sudah tampak di depan mata.
Dayang Istana Han yang merupakan Juru Masak Utama Kerajaan Joseon tersenyum lebar di undakan teratas tangga batu tepat di depan pintu Dapur Istana, menyambut kedatangan remaja cantik yang sangat dikaguminya itu. Jaejoong sedikit membungkukkan tubuhnya begitu tiba di dekat wanita yang masih tetap terlihat cantik meski usianya sudah tidak muda lagi itu. Dayang Istana Han turut membungkukkan tubuhnya, sambil memuji kerendahan hati yang dimiliki oleh selir termuda Kerajaan Joseon itu. Ia membimbing Jaejoong menuju meja kayu besar tempat para juru masak istana biasanya mengolah bahan makanan, sementara Dayang Kwan dan Dayang Choi hanya mengantarkan sampai di depan pintu. Kedua dayang kepercayaan Jaejoong itu menunggu majikan mereka sambil duduk menikmati hembusan angin di koridor kanan, tak jauh dari gentong-gentong kayu besar bertutup rapat yang berisi beberapa jenis air sebagai bahan memasak. Sekelebatan ingatan ketika menyajikan Sup 12 Rasa singgah di benak Jaejoong, membuatnya tersenyum. Remaja berparas menawan itu kemudian meletakkan nampan yang dibawanya di sebelah nampan besar bertutup kain hitam yang telah lebih dahulu diletakkan di sana.
Dayang Istana Han menarik kain hitam yang menutupi nampan itu, lalu menatap Jaejoong dengan senyum ramah tak lepas dari bibirnya.
"Ini adalah bahan-bahan lain yang telah dipersiapkan sesuai dengan perintah Yang Mulia, Selir Hwan. Ada fillet dada ayam, beberapa lembar daging asap, telur, wortel, pasta tomat, juga minyak wijen untuk memasak. Kesemua bahan ini harus ada di dalam masakan yang akan Anda sajikan. Sementara untuk keindahan penyajian, Anda bisa menggunakan daun-daun selada segar ini, juga kacang panjang serta bahan lain yang menurut Anda bisa digunakan dari bahan yang tersisa. Nah, apakah Anda sudah memikirkan akan menyajikan masakan apa?" tanya Dayang Istana Han di akhir penjelasannya. Jaejoong terdiam sejenak, kelihatan sedang memikirkan jenis makanan yang bisa ia ciptakan dari bahan-bahan yang telah dipilih itu. Sejurus kemudian remaja cantik itu tersenyum lebar.
"Joongie sudah memikirkan makanan apa yang akan Joongie sajikan. Joongie memutuskan untuk membuat Omeuraise[47], Dayang Istana Han," putus Jaejoong. Dayang Istana Han mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu menepuk pelan pundak remaja cantik itu.
"Pilihan yang sangat pintar, Selir Hwan. Filosofi di dalam makanan itu memang sangat tepat untuk menggambarkan diri Anda. Anda bisa memulainya sekarang, Selir Hwan," tutur Dayang Istana Han yang tak lagi memanggil remaja cantik itu dengan sebutan Pemusik Kim karena statusnya yang telah berubah. Perkataan Dayang Istana Han disambut dengan anggukan oleh remaja cantik itu.
Jaejoong menyukat beras putih dari nampan yang dibawanya dengan dua mangkuk keramik kecil lalu memindahkannya ke dalam mangkuk keramik berukuran lebih besar. Setelah mencuci bersih beras itu, ia segera memindahkannya ke dalam gamasot di atas tungku yang apinya sudah menyala. Remaja cantik itu menambahkan air dengan tinggi seruas jari, lalu menutup kembali periuk besi itu dan bersiap mengolah bahan lainnya sambil menunggu beras yang ditanak matang.
Hal yang selanjutnya dilakukan Jaejoong adalah memotong-motong fillet dada ayam dan daging asap berbentuk dadu, disusul dengan memotong paprika hijau dan tomat yang telah dibuang bijinya dengan bentuk yang sama. Setelah itu remaja berparas menawan itu mengiris tipis jamur kancing yang dilanjutkan dengan memotong serong daun bawang dan cabai merah. Ia kemudian memotong wortel berbentuk lidi dengan panjang dua ruas jari. Jari-jemari Jaejoong yang telah terbiasa bergelut dengan pekerjaan memasak bergerak lincah mengupas bawang bombai, bawang merah, juga bawang putih. Ia mencincang bawang bombai dalam bentuk kasar, sementara bawang merah dan bawang putih dicincang halus.
Jaejoong membuka kembali tutup gamasot dan mengaduk pelan beras yang di bagian permukaannya sudah mengeluarkan gelembung-gelembung buih putih kecil, lalu kembali menutup periuk besi itu. Sambil menunggu nasi yang merupakan bahan utama dalam pembuatan Omeuraise itu matang, remaja cantik itu menghaluskan biji lada. Ia kemudian melirik ke arah kacang panjang yang menurut Dayang Istana Han bisa digunakan untuk menambah keindahan dalam penyajian hasil masakannya. Otaknya yang pintar berputar cepat, dan akhirnya ia memutuskan untuk memotong kacang-kacang panjang itu dalam ukuran yang berbeda-beda.
Tidak berapa lama kemudian, nasi yang dimasak akhirnya matang. Jaejoong membuka tutup gamasot dan mendiamkan nasi di dalamnya beberapa saat hingga nasi menjadi lebih dingin agar tidak lengket ketika digoreng. Untuk mempercepat proses pendinginan, remaja cantik itu turut mengipas-ngipas nasi yang baru saja matang. Setelah dirasa cukup, Jaejoong memindahkan nasi dari dalam gamasot ke dalam mangkuk keramik besar dan meletakkannya di atas meja dapur.
Remaja cantik itu lalu bergerak cepat memanaskan minyak wijen dan mulai menumis bawang bombai, bawang merah dan bawang putih. Ketika bau harum dari bawang yang ditumis mulai tercium, remaja cantik itu memasukkan potongan dada ayam ke dalam tumisan dan memasaknya hingga matang. Setelah itu ia menambahkan dengan potongan daging asap, paprika hijau, tomat, wortel, cabai merah serta jamur kancing. Semua bahan diaduk rata hingga akhirnya remaja cantik itu mulai memasukkan nasi, irisan daun bawang, garam, juga lada tumbuk ke dalam penggorengan. Tangan Jaejoong yang kecil namun bertenaga dengan cekatan mengaduk semua bahan yang sedang dimasaknya. Tak lama, nasi goreng yang dimasak oleh remaja berparas menawan itu telah selesai. Ia segera menguak kayu bakar dan mengecilkan api. Nasi goreng yang telah masak ia sisihkan menjadi tiga bagian sama rata, lalu diletakkan ke atas tiga buah piring keramik datar.
Jaejoong menyiapkan sebuah mangkuk keramik berukuran sedang lalu memecahkan enam butir telur untuk dijadikan telur dadar sebagai pembungkus nasi goreng yang telah ia buat sebelumnya. Ditambahkannya sedikit garam dan lada tumbuk juga tiga sendok pasta tomat ke dalam mangkuk dan dengan cepat mengocok isinya. Setelah semua bahan tercampur rata, Jaejoong menyiapkan tiga buah mangkuk keramik kecil dan membagi adonan telur sama rata ke dalam mangkuk-mangkuk tersebut. Remaja cantik yang merupakan selir termuda Kerajaa Joseon itu lalu segera menambahkan kayu bakar di tungku masak dan memanaskan minyak wijen di atas wajan dengan permukaan datar.
Setelah minyak mulai panas, Jaejoong segera menuang satu bagian telur dalam mangkuk keramik pertama ke dalam wajan dan memasaknya hingga matang. Lalu dilanjutkan dengan bagian telur di mangkuk kedua dan ketiga hingga semua matang dengan sempurna. Setelah telur dadar yang dimasak selesai, Jaejoong menguak kayu bakar untuk memadamkan api. Remaja cantik berkulit seputih susu itu kemudian menyiapkan satu piring datar dan meletakkan selembar telur dadar di atasnya. Ia lalu memindahkan nasi goreng di piring pertama di atas telur dadar itu dan menggulungnya dengan rapi. Setelah Omeuraise pertama selesai, Jaejoong melanjutkannya dengan yang lain hingga akhirnya di depannya tersaji tiga buah Omeuraise.
Jaejoong kemudian menyiapkan satu piring keramik putih datar berukuran lebih besar, lalu meletakkan daun-daun selada segar di atasnya yang disusun sedemikian rupa membentuk setengah lingkaran di bagian kanan dan kiri. Potongan-potongan kacang panjang ia selipkan sebagian di bawah daun-daun selada dari yang berukuran paling pendek di awal, disusul kacang berukuran panjang di bagian tengah dan diakhiri dengan kacang berukuran pendek kembali, sehingga membentuk seperti renda. Ia kemudian dengan hati-hati memindahkan nasi goreng yang sudah dibungkus dengan telur dadar itu di atas daun selada. Ia meletakkan dua buah Omeuraise di atas piring itu, yang dibentuk seperti sepasang sayap kupu-kupu, yang diperindah dengan renda dari daun selada segar dan potongan kacang panjang, sementara sisanya diletakkan di piring keramik lain yang lebih kecil. Remaja berkulit seputih susu itu kemudian meletakkan meletakkan potongan wortel yang dibentuknya menyerupai bunga sebagai penghubung kedua Omeuraise yang saling bertemu punggung itu. Ia lalu membelah sebuah cabai merah menjadi empat bagian, dan diletakkannya di bagian depan hingga masing-masing membentuk seperti jungut kupu-kupu. Jaejoong kemudian menuangkan pasta tomat di atas kedua Omeuraise itu sebagai sentuhan akhir dengan bentuk saling silang. Setelah itu, ia mulai menghias Omeuraise tersisa di piring lainnya. Setelah selesai, ia lalu memberikan piring berisi Omeuraise itu kepada Dayang Istana Han yang segera menghampiri remaja cantik itu setelah melihat Jaejoong telah selesai dengan pekerjaannya.
"Sempurna! Anda memiliki bakat alam dalam hal memasak, Selir Hwan. Untuk kedua kalinya, Anda berhasil membuat saya terkagum-kagum dengan kemampuan Anda yang luar biasa itu. Omeuraise buatan Anda ini sangat enak," puji Dayang Istana Han dengan tulus setelah mencicipi nasi goreng gulung buatan Jaejoong, tak urung membuat pipi remaja cantik itu memerah.
"Dayang Istana Han terlalu memuji. Kemampuan Joongie tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemampuan Anda dan juru masak yang lain," sahut Jaejoong merendah. Dayang Istana Han menggeleng pelan melihat tingkah selir terkasih raja itu.
"Sepertinya aku bisa menikmati makan malamku sedikit lebih cepat dari biasanya dan dengan menu yang tidak biasa dan suasana yang berbeda pula," sebuah suara yang terdengar berat namun berwibawa mengintrupsi kedua orang itu. Jaejoong dan Dayang Istana Han tampak terkejut ketika menyadari sosok yang berdiri tepat di depan pintu Dapur Istana itu adalah Yang Mulia Raja Sukjong sendiri dalam balutan gonryongpo berwarna merahnya. Kedua orang itu dengan cepat membungkukkan tubuh mereka. Sang raja mengangkat lengan kanannya, lalu tersenyum lebar memandangi kedua orang yang masih terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu.
"Dayang Istana Han, bawa makanan yang telah dimasak oleh Selir Hwan ke koridor kiri. Aku ingin makan di sana sambil menikmati pemandangan senja. Kudengar, pemandangan di kala senja hari di tempat ini terlihat jauh lebih indah daripada tempat lainnya. Aku ingin membuktikan hal itu," tukas sang raja memberi perintah kepada Dayang Istana Han yang langsung dilaksanakan oleh Juru Masak Utama kerajaan itu. Jaejoong mengayunkan sepasang kakinya mendekati sang suami yang masih menatapnya sambil tersenyum lebar. Begitu jarak di antara mereka tinggal selangkah, sang raja segera merengkuh tubuh mungil selir terkasihnya itu dan membawanya ke dalam pelukan. Jaejoong menyusupkan wajahnya di dada bidang sang suami sambil memejamkan matanya, menikmati belaian lembut sang suami pada punggungnya.
"Maaf karena membuatmu lelah, Sayang. Seharusnya aku membiarkanmu beristirahat lebih lama untuk mengembalikan tenagamu, bukan malah langsung memintamu menjalankan hukumanmu," ucap sang raja penuh nada penyesalan. Jaejoong mengangkat wajahnya. Kedua tangannya yang kecil menangkup wajah sang suami.
"Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Joongie sama sekali tidak keberatan menjalankan hukuman yang sudah seharusnya Joongie terima. Justru Joongie ingin berterima kasih kepada Yang Mulia yang telah mengajarkan Joongie arti sebuah kesabaran dan mematuhi perintah. Joongie harus banyak belajar dari Yang Mulia," sahut remaja cantik sambil tersenyum manis. Senyuman sang raja semakin lebar merekah ketika menyadari sang selir terkasih mampu menangkap dengan baik makna tersirat di sebalik hukuman yang ia berikan.
"Aku senang mendengar kau memahami tujuanku memberikan hukuman itu padamu. Dan aku sangat puas karena kau memilih untuk membuat Omeuraise, karena filosofi yang terkandung di dalam makanan itu memang sangat mendekati kepribadianmu: cantik luar dalam. Sekarang, temani aku bersantap. Aku merindukan makanan hasil olahan jemari lentik ini," tutur sang raja sambil menggenggam jemari lentik selir terkasihnya. Jaejoong menundukkan kepala menahan perasaan malu yang mendadak kembali menyerangnya. Akan tetapi, remaja cantik itu dengan riang mengikuti langkah kaki suaminya menuju koridor Dapur Istana sebelah kiri.
Mereka duduk berhadapan dibatasi oleh sebuah meja persegi berkaki rendah, menikmati tiupan angin yang berhembus cukup kencang dari koridor yang hanya dipagari kayu setinggi lutut orang dewasa. Dayang Istana Kwan dan Dayang Istana Choi serta Dayang Istana Han yang sebelumnya telah diminta oleh Yang Mulia Raja untuk meninggalkannya berdua saja dengan selir terkasihnya sudah tak lagi terlihat. Pemandangan senja yang tersaji memang benar-benar indah. Cahaya matahari yang kemerahan memantul di atas permukaan kolam buatan di sebelah kiri mereka. Sepasang angsa putih tampak berenang menyongsong petang menuju tepian. Jaejoong memotong nasi goreng gulung itu menjadi beberapa bagian, lalu menyuapkannya pada sang suami.
Sang suami mengunyah nasi goreng di dalam mulutnya dengan gerakan perlahan. "Benar-benar enak," pujinya. "Kau juga membentuknya dengan sangat indah. Mencerminkan dirimu yang tak hanya indah dari segi penampilan, tapi juga memiliki sisi dalam yang luar biasa," sambung sang raja, kembali memuji selir terkasihnya.
"Yang Mulia terlalu memuji, Joongie sungguh malu," elak Jaejoong dengan nada merajuk manja sambil menundukkan wajahnya yang beradu merah dengan semburat mentari senja. Meskipun bibirnya berkata begitu, namun hatinya senang luar biasa mendengar pujian suaminya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Sayang. Masakan buatanmu ini benar-benar sangat enak. Ayo buka mulutmu, biarkan aku menyuapimu," pinta sang raja. Jaejoong membuka mulut kecilnya, sementara sang raja dengan sedikit nakal memasukkan nasi goreng yang cukup banyak ke mulut selir terkasihnya itu hingga pipi halus Jaejoong terlihat menggelembung. Sambil mendelik kesal, Jaejoong bersusah payah mengunyah nasi goreng yang berada di dalam mulutnya, menyisakan beberapa butiran nasi di sekitar bibirnya. Yang Mulia Raja mendekatkan wajahnya. Jaejoong yang menyangka kalau sang suami hendak menyeka butiran nasi di bibirnya menggunakan ibu jarinya menatap sang suami lekat-lekat. Namun remaja cantik itu sama sekali tidak menyangka bahwa sang suami malah menyeka butiran nasi di bibirnya menggunakan lidahnya. Wajah remaja cantik itu sontak merah padam. Dalam hati ia berharap beberapa prajurit yang bertugas menjaga sekitaran tempat itu tidak melihat perbuatan sang raja padanya. Sementara itu, sang suami hanya terkekeh pelan melihat tingkah selir kesayangannya yang masih suka bersikap malu-malu.
Sang raja dan selir terkasihnya itu menghabiskan beberapa waktu di koridor kiri tersebut, bahkan meski acara makan malam sudah selesai. Jaejoong duduk di atas pangkuan sang raja, dengan kedua lengan kekar sang raja memeluk erat pinggangnya. Mereka sama-sama menikmati pemandangan senja, menyaksikan mentari yang kian tenggelam dari peredarannya, beralih tugas dengan sang bulan. Memerhatikan barisan cahaya lampion yang cahanya memantul indah di permukaan air kolam buatan. Untuk beberapa saat kedua orang itu masih berada di sana, berbagi peluk dan canda, sebelum akhirnya malam menjelma utuh, membuat mereka segera beranjak meninggalkan tempat itu.
ooo 000 ooo
"Dasar bodoh! Kau benar-benar tidak berguna!" bentakan-bentakan kasar penuh kemarahan terdengar dari ruang keluarga yang tertata indah di kediaman pribadi Perdana Menteri Go. Suara bentakan itu sendiri terlontar dari bibir seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun yang tampak begitu menawan dalam balutan dangui dan seuran chima berwarna merah muda. Wanita cantik itu sepertinya tak mampu menahan kekesalannya yang memuncak. Ia tampak begitu murka. Tulang pipinya mengeras, dan sepasang bola matanya memerah. Menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.
"Bayangkan keterkejutanku saat melihat Selir Hwan muncul di hadapanku dalam keadaan segar bugar tanpa kekurangan apa pun. Dan bayangkan juga keterkejutanku saat mengetahui bahwa kau tak hanya gagal mencelakai selir sialan itu, tapi malah terkena racun dari senjata rahasianya. Aku sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa seorang panglima sepertimu dipecundangi oleh seorang anak kecil? Bukankah itu benar-benar hal yang memalukan, heh?!" semburan penuh kemarahan kembali terlontar dari bibir merah yang tipis itu. Tatapan wanita cantik itu begitu tajam, seakan hendak menembus langsung ke dalam jantung pemuda tampan di hadapannya yang sejak tadi terlihat menundukkan kepalanya tanpa sedikit pun berani mengangkat wajahnya.
"Putriku, tenanglah! Kendalikan amarahmu!" sela seorang lelaki separuh baya berpembawaan tenang yang duduk tepat di samping kiri wanita cantik itu, sambil menasehati dengan nada lembut wanita yang masih terus memandangi pemuda di hadapannya dengan tatapan tajam menusuk itu. Lelaki separuh baya itu tak lain adalah Perdana Menteri Go, sedang wanita cantik yang duduk di sampingnya adalah putri bungsunya sendiri, yang juga merupakan sosok ratu Kerajaan Joseon.
"Tenang? Abeoji memintaku tenang?" dengus wanita cantik itu. Seulas senyum sinis terpatri di sudut bibirnya. "Dia telah gagal menjalankan perintah yang kuberikan, Abeoji. Dan bayaran untuk kegagalannya hanya satu. Nyawanya sendiri!" sambung Yang Mulia Permaisuri dengan nada sangat dingin. Ucapannya tak pelak membuat pemuda yang duduk menunduk di hadapannya terlihat memucat. Butiran peluh yang menghiasi wajahnya terlihat semakin banyak.
"Aku sendiri tidak akan segan mengirimnya ke neraka sebagai imbalan kegagalannya, Ahra-ya. Akan tetapi, aku masih ingin mendengarkan alasannya yang tidak secepatnya menemui kita untuk melaporkan perihal kegagalannya, sekaligus perihal racun yang bersarang di lengan kirinya itu. Setelah itu, baru aku akan mempertimbangkan hukuman yang tepat untuknya. Biar bagaimana pun, dia adalah saudara sepupumu. Satu kali kegagalannya tidak berarti ia akan selamanya gagal," papar Perdana Menteri Go dengan nada tenang. Lelaki separuh baya itu menyangga dagunya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menumpu pada paha kiri.
"Huh! Abeoji terlalu berbaik hati," sungut Yang Mulia Permaisuri. Wanita cantik itu kembali memusatkan perhatiannya pada pemuda di depannya. "Dan kau! Bukankah kau sudah mendengar apa yang Abeoji inginkan? Katakan sesuatu! Jangan diam saja seperti arca batu. Luka di lengan kirimu itu tidak lantas membuatmu mendadak menjadi bisu, bukan?" bentak wanita cantik itu lagi, ketika dilihatnya sang pemuda yang tak lain adalah saudara sepupunya itu hanya tertunduk membisu, diam seribu bahasa.
Go Seung Ri, atau yang biasa dipanggil Panglima Go oleh prajurit bawahannya, perlahan mengangkat kepalanya mendengar bentakan sang kakak sepupu yang kesekian kalinya. Pemuda itu terlihat meringis sambil memegangi lengan kirinya yang terbalut jubah berwarna biru tua.
"Maafkan aku, Noona[48], Samchon[49]. Aku sama sekali tak bermaksud untuk mengelak atau pun menghindari kalian. Aku juga tidak pernah berkeinginan untuk menyembunyikan keadaanku yang terkena racun dari senjata rahasia milik Selir Hwan ini. Keadaannya tidak memungkinkan. Sekembalinya aku dari perjalanan untuk mencelakakan Selir Hwan, lengan kiriku yang terkena jarum sumpit ini rasanya sangat panas, seolah ada api yang menyala di dalam pembuluh darahku. Karena tak kuasa menahan panas yang membakar, aku memutuskan untuk langsung menemui tabib kepercayaan keluarga kita. Tabib Joong mengatakan bahwa pengetahuannya mengenai racun yang menyerangku sangat sedikit, dan ia juga sama sekali tidak mampu untuk menyediakan penawarnya. Akan tetapi Tabib Joong memberiku sejenis ramuan yang bisa membantu untuk mengurangi rasa panas yang seakan membakarku dari dalam tubuh. Dan setelah aku meminum ramuan itu, alih-alih mengurangi rasa sakitnya, aku malah dibuat tertidur dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan ketika aku terbangun, aku baru sadar kalau hari sudah menjelang senja dan aku harus menampakkan muka di perjamuan istana, hingga tak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan salah satu di antara kalian," tutur Seung Ri menjelaskan panjang lebar dengan nada perlahan. Perdana Menteri Go terlihat mengerutkan keningnya mendengar penjelasan keponakannya itu. Sementara Yang Mulia Permaisuri hanya tersenyum meremehkan.
"Menurutku alasanmu terlalu mengada-ngada, Seung Ri!" tukas Yang Mulia Permaisuri, mendahului sang ayah.
"Hatiku berat sekali untuk mengatakan hal ini, tapi harus kuakui kalau pendapat Ahra ada benarnya. Aku juga merasa janggal dengan penjelasanmu, Seung Ri. Begini, anggaplah aku bisa menerima alasan keterlambatanmu melaporkan hasil pekerjaanmu padaku kemarin, tapi bukankah hari ini kau memiliki waktu yang cukup panjang untuk memberitahuku? Seandainya aku tidak memanggilmu kemari, akan sampai kapan kau merahasiakan semuanya dariku?" selidik Perdana Menteri Go. Sepasang matanya yang sipit terlihat memicing, penuh isyarat keingintahuan.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Seung Ri-ya?" tuduh Yang Mulia Permaisuri tanpa tedeng aling-aling lagi.
"Noona!" Go Seung Ri terperanjat bukan main mendengar tuduhan langsung dari kakak sepupunya itu. Wajahnya yang semula menunduk langsung terangkat. Kedua bola matanya terbelalak lebar, seakan tidak memercayai pendengarannya sendiri demi mendengar secara langsung pertanyaan bertendensi tuduhan yang terlontar dari bibir wanita cantik itu.
"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan. Tapi jika kau berharap aku dengan mudah percaya begitu saja dengan jawabanmu yang tidak mencerminkan jawaban dari seorang panglima kerajaan sebesar Joseon ini, maka kau sungguh bodoh, Seung Ri-ya," datar sekali jawaban dari wanita cantik yang merupakan istri sah sang Raja Sukjong itu. "Dan jika kau lupa, sekali lagi kuingatkan bahwa aku tidak membutuhkan orang-orang bodoh yang gagal untuk berada di belakangku. Orang-orang semacam itu hanyalah penghambat dalam jalanku. Jadi, kuberi kau kesempatan sekali lagi untuk bicara. Katakan yang sebenarnya, apa yang membuatmu tidak melaporkan berita kegagalanmu?" sambung wanita cantik itu.
Pemuda tampan bernama Go Seung Ri yang dengan jelas menangkap nada ketidakpercayaan pada nada suara sang kakak sepupu segera berlutut di hadapan kedua orang berpengaruh itu.
"Ampun, Noona. Tidak pernah sekalipun terbersit di benakku untuk merencanakan hal yang bertentangan dengan perintahmu. Aku tidak mungkin mengkhianatimu dan keluarga kita. Alasan utamaku tidak memberitahumu mengenai kegagalanku adalah karena aku sangat malu telah mengecewakanmu. Aku merasa tak punya muka untuk berdepan denganmu. Sedang alasanku yang lain mengenai keterlambatanku menemui kalian dikarenakan aku merasa ada seseorang yang mengawasi segala gerak-gerikku. Demi menghindari kecurigaan, aku sengaja tidak menemui salah satu dari kalian berdua. Aku tidak ingin kedokku sebagai sosok yang menyerang Selir Hwan dalam perjalanan terbongkar. Aku belum ingin mati di tiang gantungan. Maafkan aku, Noona," jelas Go Seung Ri terburu-buru. Keringat dingin sebesar butiran jagung memenuhi seluruh permukaan wajahnya, padahal angin yang bertiup melalui sela-sela jendela cukup kencang, membuat ruang keluarga itu dikungkung hawa dingin. Pemuda tampan itu terlihat kembali menundukkan wajahnya.
"Ternyata kau jauh lebih bodoh dari yang kubayangkan, Seung Ri-ya," kecam Yang Mulia Permaisuri, tetap dengan nada sinis.
"Ahra-ya…!" tegur Perdana Menteri Go sambil menatap tajam putri bungsunya itu. Yang Mulia Permaisuri seketika terdiam. Sementara Perdana Menteri Go kembali memusatkan perhatiannya pada sang keponakan yang masih bersimpuh di depannya.
"Seseorang? Siapa maksudmu?" tanya Perdana Menteri Go yang terlihat cukup mulai tertarik mendengar penuturan keponakannya itu. Melihat raut ketertarikan ayahnya, Yang Mulia Permaisuri mulai merubah mimik wajahnya menjadi penuh minat. Sirat kemarahan tak lagi terlihat di wajah wanita cantik itu, berganti dengan pandangan penuh tanya. Seumpama seekor bunglon, sang ratu Kerajaan Joseon itu dengan cepat bisa merubah warna kulitnya.
"Kepala Pengawal Kim, Samchon. Orang kepercayaan Yang Mulia Raja sendiri," sahut Seung Ri yang mulai berani mengangkat wajahnya, meski masih terlihat takut-takut untuk memandang tepat ke wajah sang paman.
"Hemmm," gumam Perdana Menteri Go sambil mengusap dagunya. "Pemuda Kim itu? Kau yakin? Apa yang membuatmu merasa bahwa ia mengawasimu?" selidik ayah mertua sang raja penguasa Joseon itu.
"Aku sendiri tidak terlalu yakin, Samchon. Hanya saja, tatapan matanya kepadaku terlihat tidak biasa. Seakan-akan ia mengetahui sesuatu yang kusembunyikan. Setidaknya itulah yang kurasakan ketika tanpa sengaja aku hampir membuatnya terjatuh di malam perjamuan istana kemarin. Sejak kejadian itu, aku merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-gerikku," jawab Seung Ri sambil kembali meringis, merasakan panas yang seolah membakar lengan kirinya itu. Tingkahnya itu tak luput dari penglihatan Perdana Menteri Go. Lelaki separuh baya itu kembali terlihat memicingkan matanya.
"Racun di lenganmu itu, apakah Tabib Joong tidak mengatakan ada alternatif penyembuhan yang lain?"
"Hanya ada dua pilihan, Samchon. Yang pertama, meminta penawarnya secara langsung kepada Selir Hwan, dan itu sama artinya dengan menyerahkan nyawa cuma-cuma. Atau yang kedua, memotong lengan kiriku agar racunnya tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Menurut Tabib Joong, racun yang mengenaiku ini termasuk salah satu racun yang sangat langka dan berasal dari negeri China. Entah bagaimana caranya Selir Hwan bisa memiliki racun itu. Akan tetapi, Tabib Joong meyakini bahwa Selir Hwan pasti memiliki penawar dari racun itu, karena sejatinya bahan-bahan yang digunakan untuk membuat racun tersebut sama persis dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat penawarnya, hanya bagiannya saja yang berbeda. Dan bahan-bahan itulah yang tidak diketahui oleh Tabib Joong. Bisa saja kita mengirim orang untuk menyelidikinya, akan tetapi hal itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan ketika kita mendapatkan informasi mengenai bahan pembuat racun itu, bisa dipastikan saat itu aku sudah berpindah ke liang kubur," sahut Seung Ri. Perdana Menteri Go tercenung sesaat mendengar penjelasan keponakannya itu. Tabib Joong yang menjadi tabib pribadi keluarganya selama puluhan tahun bukanlah tabib sembarangan. Bahkan Tabib Istana sering meminta pendapat dan rujukannya dalam hal pengobatan. Jika Tabib Joong yang memiliki pengetahuan mengenai ilmu pengobatan yang mumpuni itu saja sampai mengatakan bahwa ia tidak mengetahui mengenai penawar racun yang dimiliki oleh Selir Hwan, maka Perdana Menteri Go dengan cepat bisa memastikan bahwa lawan yang dihadapinya kali ini bukanlah lawan sembarangan, meski berwujud seorang remaja yang berusia sebaya dengan cucunya yang kadang bertingkah kelewat manja. Dalam hati, Perdana Menteri Go membenarkan kecurigaan putrinya, bahwa Selir Hwan bukanlah orang biasa. Bisa jadi sosok yang terlihat lemah itu justru adalah duri yang paling tajam yang akan mengenai kulitnya.
"Lalu apa keputusanmu?" sela Yang Mulia Permaisuri, setelah adik sepupu lelakinya itu selesai memberikan penjelasan dengan gambaran yang begitu gamblang.
"Maksud Noona?"
"Aku bertanya apa yang akan kau lakukan? Apa kau memilih mati perlahan-lahan dengan membiarkan racun itu bersemayam di dalam tubuhmu, atau kau memilih tetap hidup dengan hanya memiliki satu tangan?" dengus Yang Mulia Permaisuri. Seung Ri bersusah-payah menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit.
"A-aku sudah memikirkannya beberapa waktu ini. Aku memilih untuk mengorbankan tangan kiriku. Aku hanya memerlukan alasan yang tepat jika ada yang bertanya mengenai apa yang terjadi dengan tangan kiriku itu, Noona," sahut Seung Ri sedikit terbata.
"Bagus! Keputusan yang sangat tepat. Anggap saja kehilangan tangan kirimu itu sebagai ganjaran yang setimpal untuk kebodohanmu yang gagal menjalankan tugas yang sebenarnya sangat ringan. Dan sebaiknya kau tenang saja, kukira Abeoji akan dengan senang hati mengirimmu ke perbatasan untuk menumpas gerombolan pemberontak yang mulai santer mengacau di sana agar kau terlepas dari jaring kecurigaan. Jika kau kehilangan salah satu anggota tubuhmu karena menumpas gerombolan pengacau kedaulatan istana, bisa kupastikan kau akan mendapat gelar pahlawan. Bukan begitu, Abeoji?" tanya Yang Mulia Permaisuri kepada ayahnya. Perdana Menteri Go menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan sang anak.
"Kukira aku akan meminta Tabib Joong untuk menyertaimu dalam perjalanan, agar bisa melakukan tindakan amputasi di sana. Bersyukurlah karena aku masih memiliki sedikit belas kasihan, sebab jika tidak, bisa kupastikan kau mati di tanganku detik ini juga, Seung Ri. Tolak tepi mengenai hubungan darah yang ada. Sikapmu yang tidak berani melaporkan kegagalanmu benar-benar memalukan!" tukas Perdana Menteri Go dengan nada suara begitu dingin. Seung Ri segera membungkukkan tubuhnya, dengan hati mengakui kebenaran kata-kata lelaki separuh baya itu. Di balik pembawaannya yang tenang, Perdana Menteri Go merupakan lelaki kejam yang tak segan menghabisi nyawa orang lain yang gagal menjalankan perintahnya, meski orang itu merupakan kerabatnya sendiri. Perdana Menteri Go tidak pernah pilih bulu dalam melenyapkan nyawa seseorang. Kekejamannya secara nyata menurun pada sang anak.
"Terima kasih, Samchon. Terima kasih, Noona. Aku berjanji untuk tidak pernah lagi gagal dalam menjalankan perintah kalian," ujar Seung Ri.
"Ku pegang kata-katamu. Dan jika sekali lagi aku mendengar berita kegagalanmu, maka tanganku sendiri yang akan melenyapkan nyawamu. Sekarang pergilah dari hadapanku! Dan cobalah untuk bersikap biasa ketika kau bertemu orang lain agar mereka tidak mencurigaimu. Terutama Kepala Pengawal Kim," kata Perdana Menteri Go sambil mengibaskan tangan kanannya di depan wajah, seolah sedang mengusir seekor lalat. Tanpa menunggu perintah dua kali, Seung Ri segera bangkit dari duduknya, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian dengan cepat meninggalkan ruang keluarga itu. Menyisakan Perdana Menteri Go dan putri bungsunya yang terlihat tenggelam dalam pemikiran mereka sendiri. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh kedua orang itu.
"Abeoji…," tegur Yang Mulia Permaisuri, memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka. "Apakah menurutmu dia mengatakan hal yang sebenarnya?" sambungnya.
"Dia memang gagal, Ahra-ya. Tapi dia mengatakan hal yang sebenarnya. Anak itu tidak akan berani berbuat macam-macam untuk menjatuhkan kita," jawab Perdana Menteri Go.
"Dulu Abeoji juga begitu yakin bahwa Selir Hwan bukanlah ancaman yang berarti untuk kita. Tapi kenyataannya? Selir sialan itu sedikit demi sedikit berhasil meraih simpati dari orang banyak dan mulai menancapkan kukunya. Dan hal itu sama sekali tidak baik untuk kita," tandas Yang Mulia Permaisuri, sambil mengingatkan kembali sang ayah.
"Kesalahan terbesarku adalah tidak mendengarkan ucapanmu dan terlalu meremehkan keberadaan Selir Hwan. Dan baru kini kusadari kebenaran kata-katamu tempo hari, Putriku. Selir Hwan ternyata tidak bisa kita pandang sebelah mata. Pengetahuannya mengenai racun sangat mengerikan. Di samping itu, jika diperhatikan secara seksama, tindak-tanduknya terkadang sama sekali tak mencerminkan diri sebagai anak dari seorang petani biasa. Kita harus mencari tahu siapa dia yang sebenarnya. Lebih cepat kita mengetahui asal-usulnya, semakin cepat kita bisa menyingkirkannya."
"Lalu apa rencana Abeoji? Bukan hanya mengenai Selir Hwan, tapi juga Seung Ri. Terus terang aku tidak lagi menaruh kepercayaan padanya, setelah apa yang dia lakukan. Aku mengenal baik suamiku, beliau pasti tidak akan tinggal diam dan memilih untuk menyelidiki kasus ini diam-diam. Untung saja aku sudah menyuruh orang melenyapkan nyawa pandai besi yang menempa jarum emas yang kupesan. Meski begitu, aku tidak yakin Seung Ri akan selamanya tutup mulut. Karena itu, menurutku lebih baik Abeoji mengirim utusan untuk membungkam mulut anak itu. Potong lidahnya juga jari-jari tangan kanan dan kedua kakinya. Kita bisa menyuap seluruh pasukan di perbatasan untuk mengatakan bahwa ia disandera oleh kawanan pemberontak, dan disiksa sedemikian rupa. Dengan demikian, ia tidak akan buka mulut seandainya suatu saat tertangkap. Jika keadaan memang mendesak, kita habisi saja nyawanya," tutur Yang Mulia Permaisuri, dengan nada sarat kebencian. Perdana Menteri Go terlihat manggut-manggut mendengar penuturan putrinya itu.
"Aku memuji gerakan cepatmu dalam menghilangkan jejak, Anakku. Dan menurutku, idemu mengenai Seung Ri sangat bagus. Aku akan menyusun beberapa rencana dengan orang-orang kita. Dan aku akan mengabarimu mengenai hasilnya nanti. Hhh…, hari sudah semakin larut, sebaiknya kau segera kembali ke kediamanmu, Ahra-ya. Aku tidak ingin memancing kecurigaan orang lain. Mulai saat ini kita harus lebih berhati-hati dalam segala tindakan. Sedikit saja tergelincir akan sangat fatal akibatnya," papar Perdana Menteri Go. Yang Mulia Permaisuri menganggukkan kepalanya. Wanita cantik itu lantas berdiri dari duduknya, dan memasang mantel bulu yang tebal untuk membungkus tubuhnya. Setelah mengencangkan ikatan mantel di bagian leher, wanita cantik itu segera bergerak menuju pintu keluar, setelah sebelumnya berpamitan kepada sang ayah. Perdana Menteri Go mengantarkan putrinya sampai di depan pintu, lalu kembali masuk ke dalam ruangan setelah bayang tubuh sang anak tak lagi nampak di pandangan.
ooo 000 ooo
Beberapa hari kemudian, di ruang pribadi Yang Mulia Raja, sang Raja Sukjong terlihat sedang terlibat pembicaraan serius dengan Kepala Pengawal Kim yang merupakan orang kepercayaannya. Sang raja yang mengenakan gonryongpo berwarna merah terlihat duduk berhadapan dengan kepala pengawal berwajah manis yang berusia dua tahun lebih muda darinya itu. Sebuah meja persegi berkaki rendah menjadi pembatas di antara keduanya.
"Jadi bagaimana hasil penyelidikanmu, Junsu-ya? Sudah menemui titik terang?" tanya sang raja sambil menuang teh dari sebuah poci keramik ke dalam dua cawan putih di atas meja persegi di hadapannya. Ia lalu menyerahkan satu cawan yang berisi teh kepada Kepala Pengawal Kim yang dengan segera menerimanya.
"Ampun, Yang Mulia. Ada beberapa hal yang ingin saya laporkan terkait penyelidikan yang sedang saya lakukan," jawab Kepala Pengawal Kim dengan hormat.
"Hmmm, katakan!" perintah Yang Mulia Raja sambil menyesap teh dari cawan yang berada di dalam genggamannya.
"Yang pertama mengenai perintah Yang Mulia untuk menyelidiki asal-usul Selir Hwan. Sesuai perintah, saya sudah menyebar beberapa telik sandi untuk menyelidiki latar belakang selir terkasih Anda tersebut, Yang Mulia. Menurut keterangan yang berhasil dikumpulkan sejauh ini, asal-usul Selir Hwan tak jauh berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui bersama. Bahwa ia adalah anak dari seorang petani yang bernama Kim Hyun Joong. Kim Hyun Joong menikah dengan seorang gadis kembang desa yang menurunkan jejak kecantikan pada sang anak, namanya Han Young Woon. Dari hasil pernikahan mereka, lahirlah Selir Hwan. Selir Hwan tidak pernah melihat raut wajah sang ayah, sebab ketika Selir Hwan berusia lima bulan di dalam kandungan ibunya, sang ayah meninggal akibat berusaha menghalau kawanan babi hutan liar yang merusak ladang-ladang mereka. Ada sekitar sepuluh orang penduduk desa yang lain turut meninggal dalam kejadian itu. Sepeninggal sang suami, ibunya Selir Hwan tidak menikah lagi, meski banyak pemuda desa yang berniat memperistrinya. Selir Hwan kecil hidup berdua saja dengan ibunya. Sang ibu bekerja sebagai pembuat kue untuk menyambung hidup mereka. Akan tetapi, hanya sampai usia lima tahun Selir Hwan hidup bersama ibunya, karena sang ibu akhirnya menyusul sang ayah. Selir Hwan kemudian diasuh oleh tetangganya, seorang perempuan yang dipanggilnya Kang Ahjumma. Tiga tahun mengasuh Selir Hwan, perempuan baik hati itu pun menyusul kedua orangtua Selir Hwan. Sejak itu Selir Hwan hidup sendiri, namun ada dua tetangganya yang selalu memperhatikannya, yakni suami istri Jang, juga seorang tabib bernama Tabib Lee. Bisa dikatakan, keterangan yang berhasil dikumpulkan sama persis dengan keterangan yang pernah diberikan oleh Selir Hwan, Yang Mulia," papar Kepala Pengawal Kim.
"Benarkah? Jadi ia sama sekali tidak memiliki garis darah bangsawan?" tanya Yang Mulia Raja lagi.
"Seharusnya saya bisa dengan mudah menjawab pertanyaan Anda ini, Yang Mulia. Bahwasanya Selir Hwan memang bukanlah seorang keturunan bangsawan. Akan tetapi, ada satu informasi menarik yang diberikan oleh salah satu telik sandi yang saya kirimkan, Yang Mulia. Dan informasi itu justru mengenai ayah dari Selir Hwan," jawab Kepala Pengawal Kim. Ia kemudian menyesap teh di cawannya yang mulai dingin, untuk melegakan kerongkongannya yang terasa kering.
"Informasi menarik apa yang kau maksud?" desak sang raja, tanpa mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"Penduduk desa tempat Selir Hwan berasal, ternyata sulit sekali dimintai keterangan mengenai sosok ayahnya. Tapi ada seorang lelaki tua sesepuh desa yang secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa sesungguhnya ayah Selir Hwan bukanlah pemuda asli desa itu. Beberapa penduduk menemukannya dalam keadaan pingsan dengan sekujur tubuh penuh luka di bibir pantai yang tidak terlalu jauh dari desa. Penduduk membawanya pulang ke desa, lalu berdasarkan hasil kesepakatan di antara mereka, pemuda yang mereka temukan itu dirawat oleh sepasang suami istri Kim, yang merupakan sesepuh desa yang sampai usia senja tidak juga memiliki keturunan. Beberapa minggu dalam perawatan, pemuda itu akhirnya kembali pulih seperti sedia kala. Akan tetapi, pemuda itu sama sekali tidak bisa mengingat dirinya, dari mana ia berasal, bahkan sama sekali tak mengingat namanya. Menurut tabib, pemuda itu kehilangan ingatannya akibat benturan keras di kepala. Sepasang suami istri Kim akhirnya memutuskan untuk mengangkat pemuda itu sebagai anak mereka, dan pemuda itu diberi nama Kim Hyun Joong," jelas kepala pengawal berwajah manis itu.
"Hmmm, aku tidak bermaksud memotong ceritamu, Junsu-ya. Akan tetapi apa hubungannya ceritamu itu dengan pertanyaanku sebelumnya?" tanya sang raja. Kepala Pengawal Kim tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari junjungannya itu.
"Setelah mendapat informasi itu, saya memutuskan untuk memperluas jangkauan penyelidikan, Yang Mulia. Tidak lagi sebatas desa tempat kelahiran Selir Hwan, tapi juga ke desa lainnya. Dan pada saat bersamaan, seorang telik sandi yang saya sebarkan melaporkan bahwa pada tahun yang sama ketika ditemukannya pemuda yang pingsan dengan tubuh penuh luka di desa kelahiran Selir Hwan, Panglima Tertinggi Kerajaan Joseon terdahulu melaporkan berita kehilangan puteranya yang bernama Kim Tae Jun yang pada saat itu bertugas memerangi kawanan perompak di perairan timur Joseon. Tak ada satu pun yang selamat dalam rombongan putera pertama Panglima Kim Dae Seok itu. Hanya kapal perang mereka saja yang ditemukan, beserta bercak-bercak darah di lantai kapal, sehingga banyak yang berasumsi bahwa putera sang panglima dan seluruh armada kapal telah tewas. Anda tentu bisa menarik kesimpulan dari cerita saya, bukan?" Kepala Pengawal Kim menatap lurus ke sepasang bola mata sang raja.
"Dengan kata lain, kau ingin mengatakan bahwa sesungguhnya ayah dari Selir Hwan adalah putera pertama dari Panglima Kim yang kehilangan ingatannya, begitu? Atau dengan kata lain, Kim Hyun Joong dan Kim Tae Jun adalah orang yang sama, bukan begitu?" senyuman lebar tersungging di bibir sang kepala pengawal yang juga merupakan ahli pedang itu. "Dan jika informasi itu benar, maka itu berarti Selir Hwan adalah cucu dari Panglima Kim Dae Seok yang merupakan bangsawan terkemuka itu. Jika itu benar, maka aku sungguh tidak heran darimana kemampuan mengatur strategi perang selir terkasihku itu berasal. Kakeknya adalah ahli strategi kerajaan. Begitu pula ayahnya, meski aku hanya selentingan saja mengetahui tentang putera pertama Panglima Kim itu. Seingatku kami pernah bertemu beberapa kali di pesta kerajaan. Anak itu betul-betul penuh kejutan, eoh?"
"Saya belum bisa mengatakan bahwa informasi itu benar, Yang Mulia. Masih banyak tahapan penyelidikan yang harus dilakukan sebelum kita sampai pada kesimpulan bahwa ayah Selir Hwan adalah orang yang sama dengan putera pertama Panglima Kim. Saya sudah meminta telik sandi saya untuk menggali keterangan sebanyak mungkin. Kemungkinan besar, informasi itu benar. Akan tetapi, karena informasi ini sangat krusial, maka saya sudah menitipkan orang-orang yang mengetahui tentang latar belakang ayah Selir Hwan yang bukan merupakan penduduk asli desa itu ke tempat yang aman."
"Langkah yang kau ambil sangat tepat, Junsu-ya. Aku ingin kau menjaga informasi tentang Joongie hingga tetap seperti yang sudah diketahui oleh sebagian orang saja," perintah sang raja setelah sebelumnya sempat memberikan pujian untuk tindakan cepat sang kepala pengawal kepercayaannya itu.
"Maksud Anda?"
"Jangan sampai berita mengenai kemungkinan bahwa Joongie adalah cucu dari Bangsawan Kim diketahui oleh orang lain, Junsu-ya! Aku yakin sekali bahwa ada pihak-pihak tertentu di dalam istana yang bermaksud menyingkirkan Joongie dari kehidupanku. Aku tahu kalau tidak semua pihak merasa senang akan keputusanku mengangkat Joongie sebagai selir. Kau bisa membayangkan betapa keselamatan Joongie terancam seandainya ada pihak-pihak tertentu yang mengetahui asal-usul dirinya yang sebenarnya, bukan? Karena itulah aku ingin kau tetap mempertahankan informasi mengenai latar belakangnya. Usahakan hanya sedikit keterangan yang bisa dikumpulkan oleh pihak luar. Aku sangat yakin kalau pihak-pihak tertentu itu juga berusaha mencari celah untuk menyelidiki asal-usul Joongie agar bisa menyingkirkannya. Aku memercayaimu untuk melindungi kerahasiaan jati diri Joongie, Junsu-ya! Kirim beberapa orang utusan untuk terus mengawasi kediaman suami istri Jang dan juga Tabib Lee. Mereka bertiga pastilah sasaran utama pihak-pihak yang ingin mengorek keterangan tentang Joongie. Dan jika keadaan sudah semakin memburuk, bawa mereka ke tempat yang aman. Kau pasti bisa mengendalikan keadaan agar terlihat senatural mungkin, bukan?"
"Saya akan menjalankan perintah Anda dengan sebaik mungkin, Yang Mulia!"
"Aku tahu kalau aku bisa mengandalkanmu. Lalu, berita apa lagi yang kau bawa?" tanya sang raja.
"Saya ingin melaporkan mengenai penyerangan terhadap Desa Shinjeon dan Desa Neunghyeon yang kini sudah rata dengan tanah dan hanya tinggal nama saja, Yang Mulia. Bukankah kalau dipikir, sedikit janggal apabila pasukan Ming sampai membumihanguskan kedua desa itu hanya untuk bisa masuk ke Joseon? Bukankah akan jauh lebih mudah seandainya mereka langsung menyerang Desa Yeoju yang merupakan pintu masuk utama ke Joseon? Tapi kenyataannya berbeda. Mereka seolah sengaja memberi peringatan sekaligus waktu agar pasukan Joseon tiba ke desa itu. Seorang telik sandi melaporkan, bahwa beberapa waktu sebelum serangan pertama Ming pada kedua desa itu berlangsung, seorang utusan Perdana Menteri Go terlihat sedang melakukan pertemuan diam-diam dengan seorang petinggi Kerajaan Ming di dalam salah satu kapal yang bersandar di pelabuhan timur. Telik sandi itu mengikuti utusan tersebut sejak ia keluar dari rumah Perdana Menteri Go. Besar kecurigaan saya bahwa pertemuan itu terkait dengan serangan yang meluluhlantakkan kedua desa yang telah saya sebutkan sebelumnya, Yang Mulia. Anda pasti bisa menebak kaitan kedua kejadian itu, bukan?" jelas Kepala Pengawal Kim.
"Hmmm, setahuku kedua desa itu adalah pemasok bahan makanan utama untuk Dapur Istana. Jika kedua desa itu musnah, maka pihak yang paling diuntungkan adalah Perdana Menteri Go karena keluarga ayah mertuaku itu juga memiliki perkebunan yang selama ini selalu menjadi pilihan kedua. Jika dugaanku benar, maka tak diragukan lagi kalau ada sebuah konspirasi besar yang sedang mereka rencanakan. Huh! Sejak dulu aku memang tidak pernah memercayai lelaki tua itu. Sikapnya yang tenang tetap tak mampu menyembunyikan sinar licik dari sepasang bola matanya," dengus Yang Mulia Raja.
"Saya akan terus menyelidiki kasus ini, Yang Mulia. Saya akan mengumpulkan bukti yang lebih banyak. Hanya saja saya memerlukan lebih banyak telik sandi, Yang Mulia," timpal Kim Junsu.
"Kau tidak usah kuatir mengenai hal itu. Aku akan meminta Panglima Kang menyiapkannya untukmu," tegas sang raja berwajah tampan itu.
"Terima kasih, Yang Mulia. Dan ada satu hal lagi, Yang Mulia. Dari seorang telik sandi yang saya sebarkan, saya juga memperoleh informasi penting mengenai keberadaan satu keluarga Park yang masih tersisa, Yang Mulia," tutur Kepala Pengawal Kim dengan nada sangat pelan.
"Apa?!" Yang Mulia Raja langsung tergesa bangkit dari duduknya mendengar laporan sang kepala pengawal kepercayaannya. Cawan tehnya yang telah kosong turut terpelanting di ujung kakinya. "Katakan sekali lagi, Junsu-ya!" sambung sang raja yang seolah tidak memercayai pendengarannya sendiri.
"Saya menerima laporan bahwa ada satu keluarga Park yang masih hidup, Yang Mulia. Tapi saya sendiri belum menyelidiki kebenaran dari laporan ini. Keterangan yang saya dapatkan menyebutkan kalau keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak lelaki. Sang ayah dan ibu serta anak lelaki pertama keluarga itu menghilang tidak tahu dimana rimbanya, akan tetapi diyakini kalau mereka belum tewas. Sementara anak lelaki bungsunya menjadi gila, dan dipasung oleh warga di sebuah gubuk tua di pinggiran desa setelah sempat membunuh anak kepala desa, Yang Mulia," jelas Kepala Pengawal Kim sambil memungut cawan yang terpelanting dan meletakkannya kembali di atas meja. Yang Mulia Raja yang mulai sedikit tenang juga terlihat kembali duduk di tempatnya semula.
"Selidiki hal ini, Junsu-ya! Selidiki secepatnya! Aku ingin tahu kebenaran tentang berita ini. Jika hal ini benar, maka sedikit demi sedikit kita menemui titik terang tentang kasus yang selama ini kita selidiki. Kau yang harus terjun langsung mencari tahu kebenarannya, Junsu-ya. Aku bisa meminta orang lain untuk menyelidiki keterkaitan ayah mertuaku dengan penyerangan terhadap kedua desa pertanian itu, tapi untuk kasus yang ini, aku ingin kau sendiri yang menanganinya," perintah sang raja berwajah tampan itu.
"Baik, Yang Mulia. Sebenarnya, saya memang ingin meminta secara khusus kepada Yang Mulia untuk memberikan tugas ini kepada saya sepenuhnya. Saya sungguh berterima kasih karena Yang Mulia juga sependapat dengan saya," timpal Kim Junsu bersemangat.
"Kau masih beranggapan kalau dia masih hidup, Junsu-ya?" tanya sang raja dengan nada pelan, sambil mengamati baik-baik wajah manis sang kepala pengawal kepercayaannya yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Ada riak kecil yang bermain di mata Kepala Pengawal Kim mendengar pertanyaan itu.
"Saya baru percaya kalau ia telah tewas jika saya melihat jasadnya, Yang Mulia. Atau paling tidak sekedar menemukan potongan kerangkanya. Tapi sebelum saya menemukan semua itu, saya tetap percaya bahwa dia masih hidup," jawab Kepala Pengawal Kim dengan nada sedikit bergetar. Lelaki berwajah manis itu tampak mengepalkan kedua tangannya, sementara dari sudut matanya, mengalir dua garis cairan bening yang buru-buru disekanya. Ia kemudian menarik napas panjang, berusaha melonggarkan pernapasannya yang mendadak sesak.
"Kau hanya perlu bersabar sedikit lebih lama, Junsu-ya!" kata sang raja yang mengerti betul apa yang dirasakan oleh pemuda manis di hadapannya itu. Kim Junsu menyunggingkan senyum tipisnya.
"Selama lima belas tahun saya bersabar, Yang Mulia. Menunggu sedikit lebih lama lagi tidak akan jadi masalah buat saya," jawab pemuda itu dengan mantap. Suaranya penuh keyakinan dan tekad yang kuat. Sang raja yang mendengar jawaban sang kepala pengawal kepercayaannya itu mau tak mau ikut tersenyum.
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Bersambung…
xoxoxoxoxoxoxoxoxoxox
Catatan:
42. Yaa: Hei.
43. Aniya: Tidak.
44. Waeyo: Kenapa.
45. Jeongmal: Benarkah.
46. Ootgejima: Berhentilah menertawakanku.
47. Omeuraise: Omelet berisi nasi goreng bercita rasa gurih.
48. Noona: Panggilan kepada kakak perempuan dari adik laki-laki.
49. Samchon: Paman (jika memiliki hubungan darah).
Beranda Puan Hujan
(Tempat Puan membalas review para pembaca yang telah berbaik hati meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan)
Balasan review untuk chapter 1:
My beauty jeje: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Mbak. Puan panggil Mbak saja boleh, kan? Salam kenal dari Puan. Bolehkah Puan jujur? Sesungguhnya, Mbak adalah salah satu author fanfic YunJae yang merupakan idola Puan. Awal mula Puan memberanikan diri untuk menulis fic YunJae justru setelah membaca karya-karya Mbak. Bisa dikatakan, Puan sudah membaca semua buah karya Mbak. Meskipun kegagalan untuk meninggalkan jejak yang sering berulang di kolom review membuat Puan akhirnya jadi silent reader, Puan selalu mengikuti tulisan-tulisan Mbak. Puan menangis juga tertawa membaca karya-karya Mbak bersama salah satu sahabat Puan yang juga sangat menyukai tulisan Mbak. Dan sungguh, melihat pen-name Mbak ada di kolom review dan meninggalkan jejak untuk Puan adalah suatu kenyataan paling membanggakan buat Puan. Bayangkan perasaan Puan, saat Mbak yang notabene adalah idola Puan menyempatkan diri untuk mampir, bahkan meninggalkan beberapa kerat kata sebagai jejak. Puan rasanya ingin melompat di tempat. Berkali-kali mengucek mata, jangan-jangan ada yang salah dengan penglihatan Puan. Tapi akhirnya, kyaaa…, Puan tidak salah lihat. Memang Mbak yang me-review tulisan Puan. Astaga, Puan bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi selain terima kasih yang tak terhingga, Mbak #peluk erat.
Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, wahai tamu yang tak Puan ketahui namanya. Terima kasih untuk pujiannya, dan ini sudah Puan lanjutkan kembali. Mohon maaf jika mengecewakan setelah menunggu update-annya sekian lama. Sekali lagi maafkan Puan.
Wennycassiopeia: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan Puan, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujiannya. Semoga Puan tidak mabuk dalam pujian dan malah menelantarkan cerita Puan ini. Puan minta maaf karena tidak bisa membuat Joongie di sini menjadi seorang yeoja, mungkin karena Puan dari sananya sudah jadi fujoshi, maka Puan tidak bisa membuat cerita yang GS untuk Joongie. Sekali lagi maaf. Puan justru kehilangan ide jika harus menulis GS. Mungkin ini hanya masalah selera ya, Sayang? Ada yang menyukai fanfic YunJae yang GS, ada yang lebih suka yaoi. Puan sendiri lebih cenderung ke yaoi, meski terkadang Puan juga suka membaca fanfic YunJae yang GS jika jalan ceritanya memang bagus.
Nee-chan CassieBigeast: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, pesona Joongie terlalu sukar untuk ditampik. Sangat wajar jika Yang Mulia Raja langsung terjerat lalu terpikat, bukan?
Rinayunjaerina: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Silakan, silakan. Baca saja chapter-chapter selanjutnya, Sayang, tidak perlu meminta ijin terlebih dahulu.
Dessy: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan update chapter selanjutnya. Maaf sekali sudah membuat para pembaca sekalian menunggu lama untuk membaca kelanjutan tulisan sederhana ini.
Desi: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan update. Mohon maaf karena sudah membuatmu lama menunggu kelanjutan tulisan Puan ini.
Boo Bear Love Chwang: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, kasihan nasib Joongie. Tapi pada akhirnya Joongie akan hidup bahagia.
Cindyshim07: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Silakan, silakan. Baca saja. Puan tidak pernah melarang siapa pun untuk membaca tulisan Puan.
Balasan review untuk chapter 2:
My beauty jeje: Terima kasih untuk jejak yang telah ditinggalkan, Mbak. Bacanya borongan dalam satu hari ya? Hahaha. Yang Mulia Raja dan Joongie memang sudah menikah, Mbak, tapi Joongie belum akan hamil dalam waktu dekat. Berabe urusannya kalau sebelum dendam terbalas, Joongie malah sudah hamil duluan. Chapter selanjutnya silakan dibaca, Mbak. Semoga tidak mengecewakan.
Nee-chan CassieBigeast: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Hayyah, kenapa pipimu mendadak merona? Bikin Puan gemas saja ingin mencubitnya.
Rinayunjaerina: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, mereka akhirnya menikah, dan Joongie resmi menjadi selir utama. Itu artinya langkah Joongie untuk membalaskan dendamnya selangkah demi selangkah semakin dekat dengan tujuan.
Balasan review untuk chapter 3:
My beauty jeje: Terima kasih untuk jejak yang Mbak tinggalkan di chapter ini. Haha, Mbak mau daftar juga jadi selirnya? Sayangnya pendaftarannya sudah tutup, Mbak. Yang Mulia Raja tidak mau repot dan merepotkan orang untuk membuat jadwalnya menggilir istri-istrinya lagi. Kan sudah pas tujuh, jadi bisa bergiliran seorang satu dalam seminggu. Hahaha. Permaisuri-nya jangan keburu dicemplungin ke sumur, Mbak, terlalu enak buat dia kalau begitu hukumannya. Mengenai posisi Ahra, memang dari awal sudah ter-setting seperti itu di benak Puan. Dia menjadi Permaisuri yang akhirnya digulingkan oleh seorang selir, hehehe. Mungkin kalau The Great Revenge ini sudah tamat, Puan akan menulis cerita baru bertema kerajaan juga tentang dua selir raja yang berebut menjadi selir utama di hati sang raja. Dan bisa jadi yang akan bersaing itu adalah Joongie dan Ahra, hahaha.
Nee-chan CassieBigeast: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Sama seperti harapanmu, Puan juga sangat berharap agar Joongie segera sadar bahwa apa yang ia rasakan adalah cinta. Hohoho.
Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama. Sudikah kamu memberitahu Puan siapakah namamu, Sayang? Kamu bisa menemukan jawaban dari pertanyaanmu di chapter-chapter selanjutnya. Dan mengenai Joongie, ia berhasil membuat Sup 12 Rasa.
Rinayunjaerina: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, itu benar. Perhatian sang raja kepada Joongie memang terkesan berlebihan, itu karena beliau teramat sangat mencintai remaja cantik itu. Puan juga sangat berharap agar keluarga Go secepatnya hancur.
Balasan review untuk chapter 4:
My beauty jeje: Terima kasih kembali untuk jejaknya, Mbak. Sejujurnya, saat menulis adegan tentang pembuatan Sup 12 Rasa, ide di kepala Puan mengalir dengan sangat lancar. Saat jari-jemari bertemu permukaan keyboard tua yang selalu Puan gunakan untuk mengetik ini, rasanya tidak ingin berhenti sama sekali. Puan sendiri takjub ketika selesai mengetikkannya. Di kepala Puan seolah-olah ada sebuah video yang sedang berputar dan Puan tinggal menjabarkannya melalui kata-kata. Sangat menyenangkan. Dan Puan sangat berharap hal yang sama juga Puan alami ketika mengetik adegan yang lain, meski keinginan itu tidak selalu tercapai sih, hehehe. Mungkin hal seperti itu juga yang dirasakan oleh author-author lain ketika menulis di saat ide tergambar nyata di kepala, ya? Puan senang kalau chapter 4 lalu membuat Mbak puas. Dan soal NC, hihihi, sepertinya Puan harus belajar banyak dari Mbak #plaaak. Sudah Puan lanjutkan chapter selanjutnya, Mbak. Selamat membaca. Oh iya, terima kasih karena sudah meng-konfirmasi permintaan pertemanan Puan di facebook.
Nee-chan CassieBigeast: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan Puan, Dian Sayang. Aish, pujianmu sungguh membuat Puan tak kuasa menahan rona merah yang kini merambat di kedua pipi. Terima kasih karena telah jatuh cinta pada tulisan Puan, semoga Puan bisa menghasilkan karya-karya yang jauh lebih baik lagi dari ini.
Syifa: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujiannya, semoga kepala Puan tidak membesar seketika karena mabuk pujian. Oh iya, salam kenal.
Balasan review untuk chapter 5:
Gothiclolita89: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Waaah, kamu jadi reviewer pertama ya? Terima kasih banyak sekali lagi. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tentu saja Joongie bisa hamil, Sayang. Tapi memang kehamilan Joongie tidak akan Puan tulis di chapter 10 ke bawah. Bayangkan bahayanya posisi Joongie saat ini di istana. Kedudukannya yang langsung menjadi selir utama, sekaligus selir kesayangan raja dan kemampuan luar biasa yang ia miliki, tentu saja membuat banyak pihak yang kagum, sekaligus iri hati. Jika Joongie hamil saat ini, akan sangat membahayakan keselamatannya. Dan karena kehamilan Joongie bukanlah inti dari cerita ini, maka Puan tidak akan membuat Joongie hamil dulu. Misi besar Joongie belum berhasil. Ia harus membersihkan nama baik keluarganya dalam catatan sejarah kerajaan, sekaligus membasmi keluarga Go dan antek-anteknya. Jadi, bersabarlah menantikan kehamilan Joongie, ya? Hahaha. Biarkan mereka menikmati indahnya masa-masa berdua dulu. Lagipula, secara usia Joongie belum cukup siap untuk jadi seorang Eomma disaat hatinya sedang berselimut dendam yang membara. Halah, bahasanya Puan. Dan maafkan Puan jika tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menjadikan Changmin sebagai anak Yang Mulia Raja dengan Joongie, tapi malah dengan Yang Mulia Permaisuri. Di tulisan Puan yang lain, suatu saat nanti, Puan akan menulis Changmin sebagai anak mereka. Jadi jangan dibunuh ya karakter Putera Mahkotanya? Puan sengaja menjadikan Changmin anak mereka, karena sepertinya seru juga kalau Puan membuat Yang Mulia Permaisuri berhadapan dengan putera-nya sendiri ketika niat jahatnya hendak melukai Joongie secara tak sengaja diketahui sang anak. Dan ya, tentu saja Joongie bisa menjadi Permaisuri nantinya, saat Permaisuri yang sekarang sudah lengser dan jati dirinya yang sebenarnya sudah terungkap.
YunHolic: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Jika sesuai dengan plot awal, maka Park Yoochun akan Puan hadirkan di chapter 11 (masih cukup lama jidatnya kelihatan, hehehe). Untuk saat ini Puan tidak bisa memberitahu terlebih dahulu akan jadi apakah Mr. Jidat ini. Yang jelas, ia merupakan salah satu tokoh sentral juga yang memiliki kaitan dengan jalinan cerita masa lalu. Biarkan jadi kejutan saja ya? Silahkan menebak kira-kira Park Yoochun ini akan jadi siapa? Oh, terima kasih banyak untuk pujiannya. Puan sempat membaca kembali tulisan Puan di chapter 5 lalu, dan masih menemukan beberapa biji typo, tapi terlalu malas untuk Puan edit #plaaak. Tidak mengapa, Puan justru yang mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak.
Himawari23: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Segala puji untuk Tuhan, terima kasih banyak untuk pujiannya. Semoga tak membuat Puan lekas tinggi hati. Puan juga senang jika tulisan Puan yang lama baru bisa update ini bisa memuaskan pembaca yang menantikan kehadirannya (jiaaah, berasa kayak penyanyi yang lagu barunya selalu ditunggu penggemar, kekeke). Joongie manja karena Yang Mulia memang selalu memanjakannya, bukan karena itu menunjukkan tanda-tanda awal kehamilannya. Joongie belum akan hamil dalam waktu dekat. Justru kalau Joongie hamil Puan ingin merubah sifatnya. Yang biasanya manja justru di awal kehamilan menjadi semakin dewasa, hahaha. Dan mengenai Yang Mulia Raja, Puan ingin membuat sosoknya menjadi seorang raja sekaligus suami yang adil untuk ke-7 istrinya (1 Permaisuri + 6 selir). Walaupun dengan banyak selir kesannya beliau jadi Don Juan, tapi belum ada apa-apanya kok dibanding Kaisar China yang punya 1000 selir apa lebih itu. Hahaha. Kalau istrinya 7, artinya kan dalam satu minggu semuanya mendapat jatah sehari semalam saja. Tak lebih dan tak kurang.
JungJaema: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Syukurlah jika kamu puas dengan chapter yang lalu. Padahal Puan sempat was-was saat akan mem-postingnya. Puan cemas tulisannya yang kepanjangan akan membuat kalian bosan. Tapi untunglah malah sebaliknya. Yup! Changmin memang menjadi anak satu-satunya hasil pernikahan Yang Mulia Raja dengan Permaisuri. Tapi jangan kuatir, darah licik dari keluarga Go tak menjadikannya ikutan licik seperti Ibu dan Kakeknya. Justru ia menjadi remaja baik-baik, karena lebih dominan sifat baik sang ayah yang mengalir dalam darahnya, hehehe. Hahaha, kata siapa Yang Mulia Raja tak pernah mencurigai istrinya itu? Dalam chapter-chapter depan Puan akan menjelaskan mengenai hal itu. Sebagai seorang raja, Yang Mulia berusaha menerapkan prinsip keadilan tak hanya bagi rakyat, tapi juga keluarganya, termasuk istri-istrinya itu. Dan yaaah, Puan bisa saja melengserkan Permaisuri di chapter depan, tapi itu tidak akan sesuai dengan plot awalnya, Sayang. Bersabar ya? Dan terima kasih untuk dorongan semangatnya.
Kikiikyujunmyun: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Syukurlah kalau kamu puas dengan tulisan Puan di chapter lalu ya? Hahaha, Joongie harus memanfaatkan semua kemampuan yang ia miliki untuk semakin memikat hati suaminya. Rencana pembalasan dendamnya memang harus memiliki pondasi yang kuat. Dan untuk itu, maka orang paling berpengaruh di Kerajaan Joseonlah yang harus lebih dulu dipegangnya. Hahaha. Apa ya hukumannya? Kalau Joongie, dia pasti berharap suaminya akan lupa dengan ucapannya itu. Sementara Yang Mulia sendiri, hahaha, berharap saja otak mesumnya tak kumat #plaaak. Puan usahakan untuk update secepat yang Puan bisa ya, Sayang #hug.
Sakuranatsu90: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Eeh, maksudmu ada sebagian teks yang Puan tulis terpotong? Boleh Puan tahu di bagian mana yang terpotong itu? Puan sudah mengecek ulang beberapa kali, tapi tak ada yang terpotong di bagian Puan, Sayang. Bisakah kamu menunjukkan pada Puan bagian yang tidak lengkap itu? Puan minta maaf atas ketidaknyamananmu saat membacanya gara-gara hal itu, Sayang.
Vic89: Terima kasih banyak sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Waaah, jempol Joongie akhirnya jadi enam dong? Puan tidak bisa membayangkan bagaimana rupanya Joongie dengan kelebihan dua jempol itu, hihihi. Yup! Keluarga Go memang kejam, karena itu harus dibinasakan #Puan ikutan geram. Kalau Puan boleh tahu, jika kamu jadi Joongie, pembalasan seperti apa yang akan kamu lakukan?
Cho Sungkyu: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Hehehe, Joongie memang hebat. Dan lihatlah, karena pujianmu hidungnya langsung kembang-kempis, dan pipinya jadi merona. Halah. Dengan kelakuannya itu, Permaisuri memang pantas untuk dibenci. Yuk, kita tunggu saja bersama kehancuran keluarga Go dan antek-anteknya. Oh iya, terima kasih untuk dorongan semangatnya.
: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Hana Sayang. Aissshhh, mungkin pikun bukan kata yang tepat. Wajarlah kalau sebagai manusia terkadang kita lupa, bukan? Awalnya Puan ingin menulis chapter 5 yang lalu full dengan adegan peperangan, dengan penjabaran strategi yang lebih mendetail, juga waktu peperangan yang lebih lama, tapi Puan urungkan. Akan sangat membosankan menurut Puan #plaaak. Saat chapter lalu sudah jadi 80%, untuk sejenak Puan mengistirahatkan jemari dan memilih menonton tv. Tebak film apa yang Puan tonton? Hahaha, Puan nonton Pearl Harbour, saat itu kalau tidak salah tanggal 13 Februari 2014. Puan sampai menangis tersedu-sedu nonton sendirian (soalnya anak dan suami sudah pada tidur). Dan keesokan harinya, Puan langsung merubah beberapa bagian yang sudah Puan tulis, hahaha. Pengetahuan Joongie tentang racun merupakan hasil pertemanannya dengan Tabib Lee, di desa tempat tinggalnya dulu. Dan sejujurnya, mengenai kupu-kupu beracun itu, Puan asli mengarang indah, persis seperti ketika Puan menulis tentang Sup 12 Rasa. Ide itu Puan dapat, karena saat sedang asyik-asyik menulis, ada kupu-kupu yang masuk ke dalam rumah. Dan otak Puan langsung saja tiba-tiba memikirkan penggunaan kupu-kupu beracun sebagai salah satu cara mengurangi jumlah pasukan pihak musuh. Waaah, di desamu ada sawah? Pasti menyenangkan. Puan ingin sekali melihat sawah dengan mata kepala sendiri. Hiks #ikutan curhat. Eeh, bacaanmu dulu juga karya-karya Teguh. S? Kyaaa, Puan menemukan teman seperjuangan kalau begitu, hahaha. Salam kenal, Nisanak.
Madamme Jung: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di sela-sela persiapan Tugas Akhirmu, Luna Sayang. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi jujur, masukan-masukan darimu dalam bentuk review adalah salah satu hal yang paling Puan tunggu. Dan inilah tanggapan Puan untuk jejak yang kamu tinggalkan kemarin, Sayang.
Jika dilihat dari kosakata yang Puan gunakan dalam The Great Revenge, memang besar kemungkinan akan langsung kelihatan kalau Puan ini termasuk salah satu maniak cerita silat. Sekali lagi, mungkin karena itu kebiasaan dari kecil, ya? Akan tetapi, meski Puan sangat suka dengan cerita silat, namun Puan malah tidak suka dengan adegan peperangan. Baik di dalam cerita, atau di dalam film. Dan ya, Puan sungguh minta maaf mengenai ruang penyiksaan bawah tanah keluarga Go itu. Puan yang menulisnya pun sempat bergidik ngeri membayangkan tempat yang ada dalam tulisan Puan itu. Memang, di dalam tulisan Puan ini, Puan menciptakan keluarga Go dengan image sebagai pihak yang licik, kejam, haus kekuasan, ambisius dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dengan harapan agar pembalasan yang nantinya mereka dapatkan juga setimpal dengan perbuatannya. Yah, sesuai dengan sumpah sang dayang yang teraniaya itu.
Untuk adegan di pinggir sungai di dalam Taman Rahasia yang mana idenya Puan dapat setelah nonton The Jungle Book yang merupakan salah satu tontonan favorit Puteri Kecil Puan, akan sangat berbahaya kalau yang Puan tulis adalah adegan ketika kedua bidadari itu sedang mandi. Meskipun kedudukannya sama-sama sebagai selir raja, mereka tetap memiliki jenis kelamin berbeda, Sayang. Bagaimana seandainya Joongie malah menjadi korban perkosaan Selir Suk? #plaaak. Puan ingin sekali menulis sosok Yunho dengan karakter yang sedikit berbeda dari yang selama ini Puan baca. Atas dasar pertimbangan itulah, maka tercipta sosok sang Raja Sukjong versi Puan yang merupakan seorang raja sekaligus suami yang bijaksana, adil, dewasa, penyayang, dan banyak lagi nilai plus lainnya. Walau untuk Joongie, kadar cinta sang raja porsinya sedikit berlebih, kekeke. Dan karena satu-satunya lelaki yang dicintai oleh Selir Suk hanyalah Park Youngwoong alias Eomma-nya Joongie, maka Puan jadikan karakternya di sini sebagai wanita yang keibuan dan lebih cocok dijadikan sebagai teman bertukar pikiran. Sementara Joongie, Puan tampilkan sebagai sosok remaja cerdas yang mampu mengimbangi sang suami, meski terkadang juga manja dan kekanakan.
Atas prinsip keadilan itu pula-lah, Puan jadikan Yang Mulia Raja memiliki satu Permaisuri, dan enam orang selir. Dan beliau memang membagi kasih sayangnya dengan merata pada semua istrinya ini, termasuklah dalam pemberian nafkah lahir juga batin, kekeke. Eeeh, Luna ingin mengisi formulir untuk menjadi selir ke-7? Hahaha, Puan belum mencetak formulirnya. Lagipula, kata Yang Mulia Raja, pendaftaran selir sudah ditutup. Anda kurang beruntung.
Dan inilah komentar favorit Puan, mengenai pertempuran dengan Kerajaan Ming. Puan memang sengaja menciptakan karakter Joongie di sini seperti katamu, bukan hanya sekedar pelayan suami di tiga tempat: sumur, dapur, kasur. Puan memang sengaja menjadikan Joongie sosok penyeimbang bagi sang suami. Alasan Puan sederhana saja, meskipun kedudukan Joongie sebagai seorang selir, Joongie tetap seorang lelaki. Dan kalau tidak salah, di masa lalu, kedudukan seorang pria selalu lebih tinggi dari wanita, bukan?
Puan akui, apa yang kamu katakan mengenai banyaknya plothole di bagian peperangan itu benar. Puan memang tidak menceritakan secara detail alasan mengapa Joongie juga mempelajari ilmu ketatanegaraan, ilmu perang, juga ilmu pedang, sementara ia sebagai seorang selir harusnya cukup sebagai pemuas hasrat sang raja saja. Akan tetapi, dalam benak Puan, sudah tersimpan satu bagian yang memang tidak Puan tuliskan tentang alasan dari hal itu. Meskipun merupakan seorang selir, namun Joongie adalah seorang namja dengan misi utama membalas dendam. Dalam usahanya untuk menarik seluruh perhatian raja dan penghuni istana, ia sendiri perlu melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi di dalam istana, suatu tempat yang masih sangat asing baginya. Karena itulah ia meminta ijin dari sang raja - yang sulit berkata tidak pada remaja yang sangat ia cintai itu – agar mengijinkannya untuk belajar ilmu pedang. Raja mengijinkannya, dan khusus memilih Kim Junsu yang merupakan orang kepercayaannya yang sekaligus ahli pedang Joseon, untuk menjadi guru dari Jaejoong. Sementara mengenai keikutsertaan Joongie mempelajari ilmu ketatanegaraan dan ilmu perang yang merupakan pelajaran bagi anak kaum bangsawan atau anak pejabat, itu merupakan permintaan dari Putera Mahkota yang merasa senang memiliki seorang teman sebaya di dalam istana. Kesalahan Puan mungkin karena Puan menghilangkan bagian itu dari cerita, karena memang Puan merasa tulisan di chapter 5 lalu sudah sedemikian panjang. Terima kasih banyak atas kejelianmu melihat kekurangan itu. Dan setelah Puan baca kembali, Puan memutuskan untuk sedikit memasukkan informasi mengenai hal itu di chapter 5 lalu yang sudah Puan edit, beserta chapter-chapter sebelumnya juga yang mengalami penambahan sana-sini agar sesuai jalinan ceritanya satu sama lain.
Astagaaa! Kurang panjang? Aish, pinjamkan Puan jari-jarimu, biar nanti chapter depannya bisa lebih panjang. Kasihanilah jemari kakakmu yang mulai keriting ini, Sayang. Hahaha. Sekali lagi terima kasih banyak buat review-mu, Sayang. Juga untuk kesabarannya menantikan kelanjutan tulisan ini.
ReDeviL9095/Devil Phantom: Terima kasih sudah kembali datang berkunjung dan meninggalkan jejakmu yang sangat luar biasa, Sayang. Kabar Puan sudah bisa dikatakan baik saat ini, setelah selama lebih kurang dua bulan menikmati rupa-rupa sakit yang silih berganti hingga menghambat kegiatan menulis Puan. Kabarnya Si Kakak baik, sedang persiapan ujian untuk kenaikan kelas meskipun tingkah nakalnya bikin suara Puan kadang jadi serak karena harus memanggil-manggil dia yang lebih sibuk bermain daripada memerhatikan urusan sekolahnya. Sementara sang adik punya kebiasaan yang lebih ajaib lagi dengan hobby begadangnya yang otomatis membuat waktu tidur Puan sangat sedikit. Baby kecil itu terkadang baru tidur pada pukul 3 atau 4 subuh. Itulah salah satu alasan kenapa Puan lama untuk update, karena memang Puan akan sangat sulit mengetik saat dia terjaga, juga sudah sangat mengantuk saat dia tertidur. Terima kasih untuk do'anya, Sayang. Semoga dirimu dan keluargamu serta orang-orang tersayangmu juga senantiasa dalam lindungan Tuhan. Amin.
Aduuuh, sepertinya Puan publish cerita pada waktu yang tidak tepat ya? Saat tengah malam. Kasihan kamunya jadi begadang. Maaf bangeeet. Soalnya Puan memang menyesuaikan waktu untuk online itu sesuai dengan waktu tidur Puteri Kecil Puan. Dan karena kemarin dia tidurnya baru hampir tengah malam, maka saat itulah Puan juga mem-publish ceritanya. Puan senang mendengarnya jika kamu puas akan chapter 5 yang lalu. Kepuasan pembaca membuat Puan selalu tertantang untuk menulis dengan lebih baik lagi #peluk juga.
Ah, kata-kata ini. Rasanya sudah jutaan tahun cahaya Puan tak lagi mendengarnya, halah. Nado saranghae, Chagiya #plaaakkk.
Puan bisa membayangkan kamu yang sedang senyum-senyum membaca part itu. Part yang paling Puan suka dalam chapter yang lalu, karena Puan yang menulisnya juga senyum-senyum sendiri, terkadang malah ngakak tak jelas. Hahaha, kelihatan ya Puan tak mau repot, makanya istrinya Yang Mulia Puan bikin ada tujuh, biar pas waktu ngebagi jatah malamnya. Aduh, encok tidak ya si raja tampan itu kalau tiap malam menggilir istrinya melulu? Eeeh?
Maafkan Puan yang menjadikan Changmin sebagai anak dari Yang Mulia Raja dan Permaisuri, bukannya anak dari Joongie, hehehe. Di cerita yang lain Puan akan menulis Changmin sebagai anak mereka, meski tidak yakin entah kapan waktunya. Dan ya, ini memang m-preg, jadi Joongie akan hamil, tapi mungkin akan ketahuan di chapter ke-sekian, dan lebih jelas di bagian epilog. Konflik dalam cerita ini, sebagaimana ucapanmu, memang ketika Joongie menggulingkan Permaisuri dari kedudukannya, serta membalas dendam keluarganya. Kalau untuk peperangannya sendiri, hanya termasuk salah satu bagian yang mendukung cerita, karena nanti akan ada kaitan dengan chapter selanjutnya, walau tidak banyak. Sedangkan untuk kepintaran Joongie, selain dia juga suka belajar, memang karena dia juga keturunan seorang bangsawan Park. Jadi ya begitulah, tercipta sosok Joongie yang memiliki karakter kompleks.
Puan awalnya ingin memasukkan pair Yochun-Junsu dalam cerita ini, tapi bisa saja hal itu tidak terjadi. Entahlah, Puan belum memiliki bayangan untuk masa depan kedua orang ini dalam cerita Puan. Sedangkan untuk Panglima Shin, cintanya adalah cinta sepihak, karena Kepala Pengawal Kim tidak pernah mengetahui soal perasaannya. Dan juga, kemungkinan ada orang lain yang lebih dahulu menggenggam hati kepala pengawal berwajah manis berbokong montok ini. Untuk Ahjussi Jidat Jenong sendiri, kalau berdasarkan plot awal akan muncul di chapter 11. Jadi bersabar ya menunggu kemunculan jidatnya yang bersinar itu.
Dan akhir kata, terima kasih untuk review-nya, Sayang, juga kesetiaannya membaca tulisan sederhana Puan ini. Untuk do'a dan dukungan yang tiada hentinya, Puan juga hanya bisa bilang terima kasih. Kamu juga teruslah berkarya ya, Sayang? #kitty hug.
Kim anna shinotsuke: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejakmu di sini, Sayang. Terima kasih juga kalau kamu puas membaca hasil tarian jemari Puan di atas keyboard tua ini, hihihi. Ah, benarkah rasanya seperti menonton drama korea? Puan tersanjung membacanya. Eh, benarkah seperti itu yang kamu rasakan ketika membaca adegan pertempurannya? Sejujurnya Puan belum pernah menonton drama The Great Queen Seondok itu, meski sudah teramat sering melihat judulnya di jejeran DVD bajakan yang Puan temui, hehehe.
Terima kasih untuk 4 jempolnya, Sayang. Hahaha, Puan jadi kolektor jempol sekarang. Dan ya, seperti ucapanmu, menyelesaikan chapter terdahulu itu memang membutuhkan waktu yang cukup lama, di tengah kesibukan yang sepertinya tak kunjung reda. Tapi Puan senang sekali ketika bisa menyelesaikannya. Sama halnya ketika Puan menyelesaikan satu demi satu plot yang Puan kembangkan untuk chapter 6 ini. Semoga kamu senang dengan kelanjutannya ini, juga dengan YunJae sweet moment yang menjadi tantangan terberat Puan setiap menuliskannya. Huft, Puan tak piawai menulis NC. Kalau praktek mungkin piawai #plaaak.
YeChun: Terima kasih karena sudah berkunjung di lapak Puan dan meninggalkan jejaknya, Sayang. Hahaha, Joongie memang memiliki seribu pesona yang membuat Yang Mulia Raja jatuh cinta padanya, bukan? Ini chapter selanjutnya sudah Puan update, silahkan dilihat apa lagi tingkah unik Joongie kali ini. Selamat membaca.
Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejakmu di sini, wahai tamu tak bernama. Tak inginkah dirimu menyebutkan siapa namamu, Sayang? Hehehe, maafkan Puan kalau chapter lalu kelewat panjang. Tapi kalau kamu puas membacanya, Puan jadi ikutan senang. Karakter Joongie di sini memang beragam ya? Dan itulah yang membuat ia terlihat semakin memesona. Dan ya, Puan juga berharap agar dengan kecerdikannya, Joongie tidak akan mudah terperangkap dalam siasat licik sang Permaisuri.
Ena: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Puan benar-benar senang kalau mengetahui pembaca tulisan Puan puas dengan hasil kerja keras Puan. Dan ya, memang itulah salah satu kekurangan Puan yang tidak bisa update dengan cepat, Sayang. Puan harap kamu tidak kecewa, karena alasan keterlambatan itu sudah Puan jelaskan di bagian pembuka chapter-chapter yang lalu. Ah, tidak mengapa, jangan katakan dirimu reader tak tahu diri, sebagai sesama reader Puan mengerti rasanya. Hanya saja sebagai author, Puan memiliki keterbatasan waktu untuk mengetik, Sayang. Harap maklum ya? Setiap saat Puan berusaha untuk update lebih cepat dari sebelumnya, namun terkadang manusia cuma bisa berkeinginan, tapi apa yang terjadi kadang tak sesuai harapan.
Michelle Jung: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Aih, Puan malu mendengar pujianmu. Rasanya tulisan Puan ini masih sangat banyak kekurangannya. Sebenarnya, untuk ide awal hingga Puan memutuskan memberi judul tulisan Puan ini The Great Revenge, itu berdasarkan drama Mandarin kolosal yang judulnya The Great Conspiracy. Hanya saja karena Puan tidak ingat secara pasti bagaimana jalan cerita yang Puan tonton jaman SD dulu itu, jadilah Puan membuat sendiri jalan ceritanya yang pada akhirnya terinspirasi oleh drama Korea yang berjudul Jewel in the Palace. Sedangkan untuk beberapa adegan di dalamnya, Puan banyak mengadaptasi sekaligus terinspirasi dari cerita silat yang Puan baca. Misalnya untuk chapter 2 kalau tidak salah, di adegan Permaisuri mendatangi Joongie, itu terinspirasi dari serial Pendekar Rajawali Sakti yang berjudul Darah Pendekar. Untuk adegan memancing di chapter 5 lalu, Puan terinspirasi dari serial Pendekar Rajawali Sakti juga, judulnya Iblis Wajah Seribu. Sedangkan bagian peperangannya terinspirasi dari serial yang sama dengan judul Tengkorak Hitam. Sedangkan sisanya merupakan hasil pemikiran Puan sendiri, hehehe.
Jaena: Terima kasih karena sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Jaena Sayang. Hahaha, mungkin dapurnya ngepul karena sebagian dari do'a kamu juga ya? Aigooo, anak Mommy ngos-ngosan, eoh? Nih, minum air putih dulu #pukpuk. Jiaaah, kenapa kamu malah tertawa di bagian itu? Itu tidak menunjukkan kalau Yang Mulia Raja seorang player, malah ia menunjukkan bahwa ia seorang suami yang penyayang dan menyayangi semua istrinya secara adil, halah. Ini sudah Mommy lanjutkan, selamat membaca ya? Semoga chapter ini tidak mengecewakanmu, Sayang #tarik hidung mancungnya.
Ayana Kim: Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak di sini, Sayang. Hehehe, Joongie memang pintar, dan itu merupakan salah satu caranya untuk semakin mendekatkan diri pada sang raja. Ini sudah Puan lanjutkan, dan maaf sebelumnya telah membuat kalian menunggu lama untuk membaca kelanjutannya. Selamat membaca dan semoga chapter ini tidak mengecewakan ya?
Jongwookie: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Tentu saja kamu boleh memanggil Puan Eomma. Rasanya menyenangkan dipanggil Eomma, apalagi sama anak semanis kamu #belajar gombal sama Mr. Jidat. Ecieee, yang sudah lebih dari cukup umur untuk NC-an #plaaak.
Hahahaha, akan sangat lama kalau Eomma sampai harus menjelaskan kejadian semakin mendekati hari H-nya, Sayang. Maka lebih bagus diskip saja, lagipula jemari Eomma sudah keriting saat menulisnya. Eeeh, Changdola? Nugu? Changmin dipasangkan sama gondola? #plaaak lagi. Aish, untuk chapter lalu, porsi Changmin memang cuma sebatas nama saja, di chapter 6 ini baru ada sedikit interaksinya, dan kemungkinan di chapter 7 nanti baru akan membahas lebih banyak tentangnya. Sabar atuh, neng. Satu-satu pasti akan mendapat bagiannya. Dan di cerita ini tidak akan kejadian Changmin yang ikutan jahat seperti ibunya, justru dia akan jadi sosok baik hati #peluk Changmin sama gondolanya sekalian.
Perang lagi? Eummm, Eomma malah belum memikirkannya sejauh itu. Tapi tenang saja, kalau pun perangnya terjadi, Eomma akan menikahkanmu terlebih dahulu dengan gondolanya, eh dengan Changdolanya. Hehehe. Oh iya, terima kasih untuk semangatnya, Sayang. Ini sudah Eomma update.
Aiska hime-chan: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca, semoga chapter 6 ini tidak mengecewakan. Maaf kalau cerita ini tidak sesuai dengan harapanmu. Puan memang sengaja tidak menjadikan kehamilan Joongie sebagai hal utama dalam tulisan Puan ini. Sekali lagi maaf.
Elzha luv changminnie: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Eh, kamu bacanya sambil merem melek? Bagaimana itu caranya? Puan juga ingin belajar melakukan hal yang sama. Biasanya kalau nonton film yang ada adegan berdarah-darah Puan juga nontonnya sambil merem melek, tapi kalau membaca, Puan belum pernah menerapkan cara serupa, hehehe. Sabar ya, jalan untuk menghancurkan pihak yang berkuasa itu tidak mudah. Joongie membutuhkan banyak dukungan juga. Oleh karena itu yang pertama mesti ia lakukan adalah menarik simpati orang-orang dengan segala keahlian yang ia miliki. Hahaha, tulisan ini dibukukan? Emangnya ada yang mau menerbitkan? Kalau ada ya boleh. Kamu belinya yang banyak ya? #tak mau rugi. Hahaha. Hush, jangan NC-an dulu. Belajar dulu yang benar.
Shanzec: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan Puan ini, Sayang. Hahaha, kamu pas baca cerita Puan ini bukan tengah malam kan, Sayang? Takutnya kalau kamu baca tengah malam, terus teriak, malah membuat tetangga kanan kiri terganggu, hehehe. Yuuuk, kita sama-sama mengasah pisau dan menghancurkan keluarga Go bersama Joongie.
Ifa. : Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Aduh, sampai keringatan begitu. Sini, sini, ngadem dulu di depan kipas angin. Joongie memang keren, kalau ada duplikatnya Puan juga mau satu, hahaha. Belangnya Yang Mulia Permaisuri nantinya pasti akan terbongkar, namun waktu menuju ke sana memang tidak mungkin secepat kilat. Hahahaha, mungkin kehebatan Joongie karena memang faktor keturunan juga ya? Joongie kan keluarga bangsawan Park yang terkenal. Yuk, kita sama-sama menantikan kejatuhan keluarga Go (to hell). Ini sudah Puan lanjutkan kembali, Sayang. Selamat membaca. Apakah panjangnya sudah menyamai panjang Sungai Nil? Hehehe.
YunJae24: Terima kasih juga sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali mendengar kamu puas dengan chapter yang lalu. Hukuman Joongie? Bisa ditemukan di chapter 6 ini. Semoga tidak penasaran lagi ya? Terima kasih sekali lagi untuk pujian dan dukungan semangatnya.
Narita Putri: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejakmu, Sayang. Hayooo, suka yang panjang-panjang, eoh? Hahaha, maaf, Puan tak bermaksud membuatmu sedih. Seperti yang Puan jelaskan di bagian awal chapter 6 ini, panjang atau tidaknya tulisan Puan disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Dan untuk chapter ini, sepertinya yang lebih panjang itu balasan review Puan daripada ceritanya sendiri, hihihi. Dan tenang saja, Puan usahakan untuk tetap menulis chapter-chapter berikutnya panjang, mungkin di atas 20 ribu kata, tidak termasuk balasan reviewnya. Karena itu do'akan Puan agar tetap sehat dan bersemangat melanjutkan tulisan Puan di antara seabreg kesibukan Puan sebagai ibu, ne? Mengenai review, Puan juga berusaha untuk membalas semua review yang masuk satu per satu. Kalian sebagai pembaca sudah meluangkan waktu untuk meninggalkan jejak, karena itu Puan juga merasa berkewajiban melakukan hal yang serupa. Dan Puan tetap suka dengan review-review yang Puan terima, mau itu pendek, sedang, apalagi panjang, hihihi. Untuk karakter Changmin, Puan memang bermaksud menjadikannya sosok yang ceria, seorang putera mahkota yang kelakuannya kadang mengundang tawa, meski ia tetap sangat serius ketika sedang belajar. Dan daripada membuat ia bersaing dengan sang ayah, Puan lebih suka menjadikannya sebagai teman sebaya buat Joongie, dan bisa jadi pada akhirnya mereka akan menjadi sahabat, hohoho. Joongie hamil? Puan tidak bisa melakukannya pada Joongie. Oh ayolah, Puan dan Joongie sama-sama uke #salah maksud. Kehamilan Joongie belum akan terjadi dalam waktu dekat, Sayang. Ada banyak pertimbangannya. Jadi mohon bersabar ya? Ah ya, mengenai panggilan Sayang itu, entahlah, Puan justru merasa lebih dekat dengan kalian semua jika memanggil kalian seperti itu. Kita kan memang keluarga? Sama-sama keluarga dari Bapak Yunho dan Ibu Jaejoong, kan? Dan terakhir, terima kasih buat dukungan do'a dan semangatnya. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca kembali ya? Semoga hasil tulisan kali ini tidak terlalu mengecewakan.
Clein cassie: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali jika kamu puas dengan hasil tulisan Puan yang lalu. Haha, dengan semua kelebihan yang Joongie miliki, tentu saja ia membuat sang raja semakin terjatuh dalam pesonanya. Tapi, Joongie memang harus waspada. Kita tidak tahu apa yang ada dalam benak si raja beruang itu. Waspadalah, Joongie! Waspadalah…!
NaraYuuki: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak untuk kesekian kalinya, Yuuki Sayang. Dalam chapter 6 ini sedikit diceritakan bagian dimana Yang Mulia Raja meminta Kepala Pengawal Kim untuk meneruskan penyelidikan terhadap keluarga Go, keluarga mertuanya sendiri. Hal ini menandakan bahwa sebenarnya Yang Mulia Raja sudah menyimpan kecurigaan terhadap keluarga Go. Di chapter-chapter depan mungkin sedikit demi sedikit kejahatan mereka akan mulai terbongkar. Alurnya memang cukup lambat sih, apalagi untuk keluarga selicik keluarga Go. Eeeh? Yuuki menghapus semua karya Yuuki? Sayang sekali, padahal karyamu bagus-bagus. Semoga ada keajaiban yang membuatmu mengurungkan niat untuk menutup rumah katamu, Sayang. Fighting juga untukmu.
SimviR: Terima kasih untuk kunjungannya juga jejak yang sudah kamu tinggalkan di sini, Sayang. Puan senang membaca kalau kamu suka dengan interaksi ketiga orang itu. Adegan memancing itu termasuk salah satu adegan kesukaan Puan di chapter lalu. Sepanjang penulisan, Puan senyam-senyum tak jelas. Hehehe, Joongie sangat menyayangi kelinci-kelincinya, karena itu mau keadaan segenting apa pun, ia tak akan melupakan hewan-hewan cantik berbulu indah itu. Di chapter ini, Puan memasukkan sedikit adegan NC juga bentuk hukuman yang diberikan Yang Mulia Raja buat Joongie. Mungkin jenis hukumannya tidak seperti apa yang dibayangkan oleh para pembaca, hanya saja Puan berpikir, jika hukuman yang diberikan sang raja berupa tahanan kamar, itu akan membuat image raja menjadi mesum dalam cerita ini, meski Puan juga tidak menampik kalau dalam beberapa adegan, ada kejadian dimana ucapan sang raja menjurus ke sana. Namun dalam cerita Puan ini, Puan ingin menampilkan sosok sang raja yang memberikan hukuman yang mendidik, terlepas hukuman itu diberikan setelah malamnya mereka melewati malam panas #plaaak. Chapter 6 sudah Puan update. Bagaimana? Masihkah kurang panjang? Kalau masih kurang, bantu Puan untuk membuat plot tambahan, agar bisa Puan kembangkan, hehehe. Oh iya, terima kasih buat dukungan semangatnya.
Vivi: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk kembali berkunjung dan meninggalkan jejak di sini, Sayang. Hahaha, Puan juga menantikan kehancuran keluarga Go yang kejam tujuh turunan itu. Selir Suk pasti punya alasan sendiri mengapa ia merahasiakan hal yang sebenarnya dari sang raja. Jadi, tahan emosimu dulu ya, Sayang. Jangan sampai meluap dan meledakkan ubun-ubunmu. Dalam adegan peperangan, bagian yang paling Puan sukai adalah ketika Joongie mengemukakan ide-ide cemerlangnya, hehehe. Apakah sampai sekarang efek tegang itu masih terasa? Oh iya, terima kasih banyak untuk dukungan semangatnya, Sayang.
TyYJS: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan juga teramat sangat senang membaca kalau kamu puas dengan chapter lalu. Seperti halnya dirimu, Puan sendiri berdebar-debar menantikan kehancuran keluarga Go. Menantikan detik demi detik ketika yang namanya pembalasan mulai berlangsung, hihihi. Semoga cepat musnah ya keluarga kejam itu? Chapter 6 sudah Puan lanjut. Sudahkah panjangnya cukup bagimu, Sayang? Di chapter ini memang lebih ringan dari chapter sebelumnya, karena memang belum memasuki bagian intinya menurut Puan. Akan tetapi, Puan tetap berharap agar chapter ini tidak mengecewakan. Hihihi, Puan dipanggil Mama. Senang sekali rasanya. Oh iya, terima kasih juga untuk dukungan semangatnya.
Tymagh: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak di tulisan sederhana Puan, Sayang. Aish, Puan sungguh malu mendengar pujianmu. Tolong lihat, apakah kepala Puan mendadak menjadi besar? Semoga tidak ya? Terima kasih banyak untuk dukunganmu, Sayang. Maafkan Puan yang terlambat meng-update chapter 6 ini. Puan berlomba dengan waktu di antara kesibukan Puan. Apalagi, sudah hampir 2 bulan belakangan ini Puteri Kecil Puan memiliki jadwal tidur yang tidak teratur. Si Baby akan tidur dari jam 7/8 pagi, sampai jam 2/3 siang. Lalu dia akan terjaga dan bermain. Nanti kalau lelah, dia akan tidur lagi jam 8/9 malam, dan pasti akan bangun lagi jam 12/1 pagi. Dan setelah itu dia akan terus berjaga sepanjang malam, dan tidurnya baru akan terjadi pada jam 7/8 pagi keesokan harinya. Dengan jadwal seperti itu, bayangkan betapa sulitnya Puan mencari waktu untuk mengetik. Saat dia tidur di pagi hari, biasanya Puan akan disibukkan dengan tetek bengek urusan rumah tangga, dan setelah selesai badan rasanya rontok semua. Karena itu kalau ada waktu di siang hari, Puan menyempatkan diri untuk tidur sebentar. Sekitar 15 menit. Selama ini Puan mencuri waktu untuk menulis, kalau tidak 1 jam di saat dia tidur malam, mungkin 2 jam di saat dia tidur siang setelah semua pekerjaan rumah beres. Karena itulah Puan tidak bisa update cepat. Puan sangat memohon agar pembaca semua maklum, ne? Eh malah curhat #plaaak. Akhir kata, terima kasih untuk do'a dan dukunganmu, Sayang. Itu berarti sekali buat Puan. Dan sebagai balasan untuk kesetiaanmu menanti, Puan hadiahkan chapter 6 ini untukmu. Selamat membaca.
Sanyewook: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Aha, reader baru? Puan ucapkan selamat datang. Dengan panggilan apakah Puan harus memanggilmu? Terima kasih karena telah mengatakan bahwa cerita yang Puan tulis ini bagus, meski di sana-sini secara jujur Puan akui masih banyak kekurangan. Hahaha, maaf jika di bagian itu membuatmu bosan, Sayang. Legenda Naga? Sepertinya Puan pernah membaca manga itu. Tapi Puan lupa kapan waktunya. Sepertinya sudah sangat lama sekali, dan ingatan Puan tak mampu menjangkaunya. Untuk adegan perangnya sendiri Puan terinspirasi dari cersil Pendekar Rajawali Sakti yang judulnya Tengkorak Hitam. Hemmm, ya. Di sini Joongie bisa hamil, akan tetapi kehamilan Joongie tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tujuannya juga agar jangan sampai rahasianya sebagai seorang keturunan Park terbongkar lebih cepat. Mungkin di chapter depan atau depannya lagi akan sedikit dijelaskan bagaimana caranya Joongie bisa mencegah dirinya dari kehamilan dalam waktu cepat, mengingat betapa banyak ronde yang ia habiskan ketika bercinta bersama sang raja #plaaak. Ah, tidak apa-apa, Puan suka dengan komentar-komentar kalian semua. Baik panjang atau pendek. Nah, chapter 6 sudah Puan update. Semoga tidak terlalu mengecewakan ya?
Chantycassie: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Iya, akhirnya Puan bisa update juga, setelah sekian lama ya? Tentu saja sang raja semakin mencintai selir terkasihnya itu. Dengan segala kelebihan yang dimiliki oleh remaja cantik itu, sangat wajar bukan jika sang ratu merasa posisinya terancam dan memikirkan segala cara untuk dapat mengenyahkan saingannya itu? Hehehe. Puan juga sangat berharap agar keluarga Go mendapat balasan yang seribu kali lebih menyakitkan dari apa yang sudah mereka lakukan. Jika kamu memiliki ide, Puan akan sangat berterima kasih jika kamu mau menyumbangkannya buat Puan. Untuk surat dari mendiang ibunya Joongie, akan Puan pertimbangkan kembali. Dan terakhir, sekali lagi terima kasih untuk segala pujiannya, dukungan semangatnya, serta kesabaran menantikan chapter selanjutnya dari cerita ini dipublish. Terima kasih banyak. Itu sangat berarti untuk Puan.
NickeYJcassie: Terima kasih sudah kembali mampir dan meninggalkan jejak, Nicky Sayang. Puan sangat senang membaca kalau kamu puas dengan chapter 5 yang lalu, Sayang. Ketegangannya sudah jauh mereda, bukan? Wkwkwk, Puan seakan bisa membayangkan ekspresi wajahmu saat kamu menuliskan komentar berupa pertanyaan kapan sang raja akan menceraikan selir-selir yang lain serta permaisurinya dan menjadikan Joongie sebagai satu-satunya istri. Apakah wajahmu ditekuk saat menuliskan komentar itu? Dan apakah kamu memanyunkan bibirmu seperti Joongie karena kesal membaca bagian dimana sang raja berpamitan dengan sang permaisuri? Hihihi. Yang perlu disingkirkan itu cukup permaisurinya saja, menurut Puan. Kasihan Joongie kalau ia menjadi istri satu-satunya, bisa-bisa badannya kurus kering karena setiap malam sang raja meminta jatah melulu karena tak tahan dengan kemolekan tubuh istrinya itu. Bukankah bagus kalau ada selir yang lain? Jadi Joongie juga bisa menarik napas lega karena tidak harus setiap hari bekerja di kasur #plaaak. Dan hahaha, sepertinya lagu yang kamu pilih sangat cepat. Puan membayangkan sang raja menyanyikan lagu Madu Tiga dalam bahasa Korea, wkwkwkw. Salamnya sudah disampaikan kepada anak-anak Puan. Mewakili mereka, Puan ucapkan terima kasih. Salam kembali buat dirimu dan keluarga kecilmu, ya? Dan ya, nanti kalau ada waktu senggang kita akan mojok lagi di jendela PM, dengan pembahasan ala emak-emak yang fujoshi akut sekaligus YunJaehardshipper, kekeke. Kamu juga semangat melanjutkan karya-karyamu, ya? Puan akan tetap setia menantikan kelanjutannya, dan akan meninggalkan jejak jika ada kesempatan. Chapter 6 sudah Puan publish, semoga tidak mengecewakan karena chapter ini memang tidak seberat chapter sebelumnya dari segi penceritaan, menurut Puan tentunya.
Akiramia44: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan juga sangat suka dengan siasat-siasat Joongie itu. Aha, kamu membayangkannya seperti itu? Boleh-boleh saja. Kalau Puan sendiri membayangkan adegan-adegan yang ada di drama laga Mandarin kolosal kalau membaca ulang apa yang sudah Puan tulis. Dan soal permaisuri, tentu saja ia kecewa karena saingannya itu berhasil kembali dalam keadaan segar bugar. Ini sudah Puan lanjutkan, semoga tidak mengecewakan ya? Mr. Jidat kemungkinan akan nongol di chapter 11. Masih cukup lama juga ya? Dan Changmin muncul sepenuhnya di chapter 6 ini. Di chapter depan ada kemungkinan Changmin masih akan mendapat porsi penceritaan yang cukup besar. Yup, happy birthday juga buat YunJaeMin family.
Baby628: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga sudah puas dengan tulisan Puan dan untuk pujiannya. Semoga Puan tidak lekas besar kepala dan terlena dengan pujian. Aha, kamu ingin mendaftar menjadi selir? Akan Puan tanyakan pada pihak kerajaan apakah pendaftaran untuk selir baru akan dibuka dalam waktu dekat atau tidak, hehehe. Chapter 6 sudah Puan update, selamat membaca dan semoga hasilnya tidak mengecewakan.
Fitsoniaaa: Terima kasih sudah berkunjung dan kembali meninggalkan jejak, Sayang. Dasar nakal, kamu pasti berharap hukuman Joongie berupa hukuman yang iya-iya, kan? Makanya tidak rela kalau ceritanya diputus sampai di situ, hahaha #cubit pipinya. Eh, kamu malah membayangkan film The Lord of The Ring? Puan suka sama film itu, terutama sama Legolas, bangsa elf yang pandai memanah itu. Entah mata Puan yang katarak atau bagaimana, Legolas cantik sangat di mata Puan, hihihi. Sebenarnya adegan perang di chapter lalu itu terinspirasi dari cersil serial Pendekar Rajawali Sakti yang judulnya Tengkorak Hitam. Baiklah, Fitson Kece, Sayang. Chapter selanjutnya sudah Puan publish, termasuklah hukuman buat Joongie yang jauh dari hal yang iya-iya itu, hahaha. Selamat membaca dan maaf jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasimu. I love you, too.
Misschokyulate2: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Aish, Puan yang seharusnya berterima kasih atas kesabaranmu menantikan Puan update. Silakan, silakan. Puan sudah konfirmasi pertemanannya, kan? Ahahaha, tidak ada limit di dalam pertemanan. Seribu teman masih sangat sedikit, sementara satu musuh sudah sangat banyak, karena itulah Puan tidak akan menampik siapa pun yang berniat mengulurkan pertemanan kepada Puan, hehehe.
Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama. Alangkah senangnya Puan jika kamu tak keberatan menyebutkan siapa namamu, Sayang. Dan maafkan Puan yang tidak bisa update chapter 6 ini secepat yang kamu harapkan, ya? Bukan maksud hati Puan sengaja melakukannya, tapi memang ada hal-hal yang menjadi kendala. Terima kasih banyak jika kamu menyukai tulisan Puan ini. Juga untuk nasehat-nasehatnya, Puan sangat berterima kasih. Mudah-mudahan Puan bisa menyajikan tulisan yang setidaknya masih bisa memberikan sedikit pelajaran diantara keterbatasan pengetahuan yang Puan miliki. Mengenai selir-selir yang tidak bisa hamil, itu murni ulah sang permaisuri yang tidak ingin sang raja mendapatkan keturunan selain dari dirinya. Dan ya, seperti ucapanmu, di chapter 6 ini Puan menuliskan tentang hadiah sekaligus hukuman yang diterima Joongie. Untuk bonus berupa kehamilan, hal itu belum akan terjadi. Dan lagi-lagi kamu benar, pertarungan yang paling mengerikan adalah ketika menghadapi orang-orang yang selama ini kita percayai. Joongie itu keturunan bangsawan Park, karena itu otaknya cemerlang, hehehe.
Guest: Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan kembali.
Diyas: Terima kasih sudah kembali berkunjung dan memberikan apresiasimu, Sayang. Hahaha, kebanyakan action-nya, ya? Maafkan Puan kalau membuatmu tak mengerti. Karena itulah di chapter 6 ini Puan menulis dengan lebih ringan.
Dennis Park: Terima kasih sudah menyempatkan diri berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, benarkah seperti itu? Saat membaca dalam kurun waktu itu, apakah kamu juga menyediakan cemilan untuk menemanimu? Puan juga memiliki harapan yang sama denganmu, sama-sama menginginkan kejahatan keluarga Go cepat terbongkar. Kita nantikan sama-sama, ya?
Lipminnie:Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Reader baru? Kalau begitu Puan ucapkan salam kenal dan selamat datang. Terima kasih banyak untuk pujiannya, semoga Puan tidak dibuat besar kepala. Puan senang kalau kamu puas membaca tulisan sederhana Puan ini. Hahaha, Joongie memang seperti cabai rawit, kecil tapi pedas. Dengan kepintarannya, seharusnya bisa saja Joongie meracuni permaisuri, tapi itu tidak akan terjadi dalam cerita Puan ini. Justru kepintaran Joongie di bidang racun Puan gunakan untuk menghambat gerak langkah permaisuri, sehingga wanita licik itu akan berpikir seribu kali jika ia ingin menggunakan cara kotor itu terhadap Joongie.
Hana – Kara: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Haha, tidak apa. Mengingat banyaknya kata yang Puan gunakan, wajar saja jika ada yang membacanya dengan cara menyicil. Joongie memang keren dan pintar, karena itu sang raja semakin tidak bisa berpaling dari jeratan pesonanya, haha. Terima kasih untuk dukungan semangat darimu, Sayang. Chapter 6 sudah Puan update.
Tiara2112: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali saat membaca kalau kamu suka sekali dengan cerita yang Puan tulis. Puan jadi semakin semangat untuk menghasilkan karya yang jauh lebih baik lagi.
Zhe: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, wajah Puan memerah mendengar pujianmu. Maaf kalau sebagian ceritanya mungkin membingungkanmu. Memang harus dibaca pelan-pelan. Kalau Puan pandai menggambar, mungkin sudah Puan jadikan komik, hahaha. Oh iya, terima kasih juga buat dukungan semangatnya.
Kyoarashi57: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang membaca kalau kamu puas dengan chapter yang lalu. Hahaha, permaisuri tetap memainkan topeng seorang ratu yang anggun dengan baik. Jadi ia tidak menampakkan keterkejutan sama sekali ketika Joongie berhasil pulang dengan selamat. Hahaha, Puan juga suka dengan interaksi kedua selir beda usia dan beda jenis kelamin itu. Kompak menjadi ibu dan anak, ya? Chapter 6 sudah Puan update. Dan mungkin tidak banyak kejutan atau bahkan tidak ada kejutan sama sekali dalam chapter ini. Dan mengenai Panglima Shin, dia secara sepihak mencintai Kepala Pengawal Kim, sementara kepala pengawal berwajah manis itu sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa kepada panglima muda yang tampan itu.
Yoon HyunWoon: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih untuk pujiannya. Mengenai hukumannya, kamu bisa menemukan jawabannya di chapter 6 ini. Adegan NC-nya tetap ada, tapi itu bukan bagian dari hukuman yang dimaksud oleh sang raja. Dan maaf jika untuk adegan NC-nya tidaklah sesuai dengan ekspektasimu, Sayang. Puan selalu mengalami kesulitan setiap kali menulis adegan intim itu.
Wennycassiopeia: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujian dan sanjungannya. Puan sungguh berharap agar Puan tidak besar kepala dan cepat berpuas hati dengan segala puji dan sanjungan yang Puan terima untuk tulisan sederhana ini. Chapter 6 sudah Puan update. Maaf sekali jika Puan tidak bisa mem-publishnya secepat yang kalian harapkan, Sayang. Ada banyak kendala yang tak bijak juga jika Puan uraikan satu per satu. Tapi percayalah, sesibuk apa pun Puan, Puan selalu menyisihkan sedikit waktu untuk menuliskan kelanjutan tulisan Puan ini.
My beauty jeje: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejaknya di tulisan Puan ini, Mbak Sayang. Hahaha, Puan juga senang sekali lagi-lagi bertemu rekan menulis yang juga berprofesi sebagai ibu, Mbak. Memang butuh perjuangan yang cukup banyak untuk bisa menulis di antara seabrek kegiatan yang sepertinya tidak ada habis-habisnya itu. Untuk pujian dan sanjungannya, Puan merasa belum pantas untuk mendapatkannya. Justru Puan ingin menimba ilmu dari Mbak, bagaimana bisa menghasilkan karya dari ide-ide yang sepertinya tak berhenti mengalir? Mbak hebat dalam mempermainkan emosi pembaca di setiap karya-karya Mbak, hingga wajar saja jika kadang Puan menangis terisak membaca tulisan Mbak yang angst, atau malah tertawa ngakak ketika membaca yang semodel Mak Jujung itu. Ah ya, omong-omong, Mbak memberi Puan sepuluh jempol, yang empat Puan yakini itu dari jempol kaki dan tangan Mbak. Lah terus yang enam lagi jempol siapa yang Mbak mutilasi? Eh? Hahahaha. Mbak suka membaca Wiro Sableng juga? Aish, kalau Puan dulu membacanya juga, tapi tidak sampai suka sekali seperti kesukaan Puan pada serial Pendekar Rajawali Sakti. Baiklah, Nisanak. Kita akhiri pembicaraan kita sampai di sini dulu. Bukankah Nisanak harus segera kembali ke padepokan di Latanah Silam? Eyang Guru sudah menanti #plaaak.
Rins Jumon: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang mendengar jika tulisan tak seberapa ini mampu meredakan stress UN-mu, Sayang. Maafkan Puan, Sayang, jika kehamilan Joongie tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kalau permaisuri yang kebakaran jenggot, mungkin bisa Puan usahakan. Sekali lagi Puan minta maaf karena tidak bisa juga memenuhi keinginanmu untuk update sebulan setelah chapter lalu publish.
Gyujiji: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali jika kamu puas dengan chapter yang lalu, meski panjang. Jika sesuai dengan plot awal yang Puan tulis hingga chapter akhir, maka Yoochun akan muncul di chapter ke-11. Empat chapter sebelum ending. Puan setuju, Joongie memang pintar, ya? Hihihi. Chapter selanjutnya sudah Puan publish. Selamat membaca dan maaf sekali jika hasilnya mengecewakan.
: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga untuk pujian dan sanjungannya. Semoga Puan tidak lekas berbangga hati dan besar kepala karena mabuk pujian dan sanjungan, ya? Joongie tidak akan hamil dalam wakt dekat. Akan sangat berbahaya bagi misinya membalaskan dendam keluarganya jika Joongie hamil saat ini. Chapter selanjutnya sudah Puan update. Maaf jika sudah membuatmu menunggu lama. Oh iya, terima kasih banyak juga untuk dukungan semangatnya.
Jung Jaehyun: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahaha, memang. Joongie merupakan karakter dengan kepribadian yang kompleks.
Bebobobo: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan justru bingung memilih kata yang tepat untuk membalas jejak yang telah kamu tinggalkan. Terima kasih banyak karena sudah mengatakan bahwa tulisan sederhana Puan ini hebat. Kamu benar, Puan sangat serius ketika mulai menulis chapter awal dari fanfic ini. Puan menghabiskan cukup banyak waktu dengan mengumpulkan bermacam artikel yang kira-kira menunjang penulisan cerita ini. Dan karena tidak semua informasi yang Puan inginkan bisa diberikan oleh Google, maka tidak terlalu mengherankan juga jika rentang waktu yang Puan gunakan untuk menulis satu chapter tidaklah secepat author lainnya. Mengirimkan naskah ini ke redaktor? Puan belum berpikir sampai ke sana. Tapi Puan sendiri memiliki niat di dalam hati untuk membukukan tulisan Puan ini jika sudah tamat nanti. Mungkin untuk kolesksi pribadi dulu. Terima kasih banyak untuk masukannya, Sayang.
ChwangKyuh EvilBerry: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali kamu merasa puas dengan hasil tulisan Puan. Hahaha, Puan mungkin memang tidak bisa update kilat, tapi itu tidak berarti bahwa Puan akan menelantarkan tulisan Puan ini. Sebisa mungkin dalam sehari Puan menyempatkan diri untuk menulis selama satu jam. Itu kalau kondisi tubuh fit. Kalau pun tidak, Puan tetap akan menulis di hari lain. Wajar sih jika kamu berpikir begitu, karena adegan peperangan itu sendiri terinspirasi dari sebuah cerita silat. Jadi Puan maklum kalau kamu membayangkan sinetron laga Angling Darma saat membacanya. Hahaha, panjangnya membuat bosan ya? Maaf kalau begitu. Dan chapter selanjutnya sudah Puan lanjutkan lagi. Kali ini dari segi penceritaan jauh lebih ringan dari chapter yang lalu.
Angel Muaffi: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Reader baru? Kalau begitu Puan ucapkan selamat datang dan salam kenal, Angel. Terima kasih banyak untuk rasa kagummu, Sayang. Puan senang jika kamu menyukai rangkaian cerita yang Puan tulis. Chapter selanjutnya sudah Puan lanjutkan. Apakah panjangnya sudah memuaskanmu? Terima kasih banyak juga untuk saranmu buat para tokoh antagonisnya. Mengenai siksaan secara mental untuk permaisuri, Puan rasa kita sependapat. Dalam plot awal chapter 7, Puan memang menulis seperti itu. Sementara untuk tindakan Selir Suk dan selir-selir yang lain belum Puan pikirkan. Namun yang pasti, kehamilan Joongie tidak akan terjadi dalam waktu cepat. Ada alasan tersendiri kenapa hal itu tidak terjadi secepatnya.
Yuu: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih sudah mengatakan tulisan sederhana ini keren. Perjalanan balas dendam Joongie akan cukup berliku, meski menurut rencana awal Puan cerita ini akan selesai di chapter 15. Untuk mencapai tujuan balas dendam itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena Puan juga harus mengembangkan beberapa plot yang saling berkaitan, meski kelihatan secara sekilas tidak berhubungan. Sabar ya, Sayang? Yoochun akan muncul di chapter 11.
Oeat: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Reader baru? Kalau begitu Puan ucapkan selamat datang dan salam kenal. Tidak mengapa, Sayang. Meninggalkan jejak tidaklah merupakan suatu keharusan bagi Puan. Terima kasih banyak sudah menyukai tulisan sederhana Puan ini. Eeh? Yang kamu ingat hanya mengenai sang raja yang memiliki tujuh istri? Wkwkwk. Joongie mendapat giliran hari Sabtu. Tapi, sssttt! Jangan bilang siapa-siapa, ya? Nanti banyak pula yang ikutan mengintip adegan intim mereka seperti kamu. Dan kalau akhirnya matamu bintilan karena mengintip, jangan salahkan Puan ya?
Yunjae lover: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga karena sudah menyukai tulisan sederhana Puan ini. Puan tidak punya kiat khusus dalam menulis, dan sampai saat ini juga masih bertanya-tanya bagaimana caranya supaya bisa menulis dengan bagus? Kalau untuk Puan sendiri, biasanya Puan akan menulis ide dasar per chapter. Seperti dalam tulisan Puan ini, untuk chapter 1 Puan berkeinginan menulis tentang pertemuan awal Joongie dan sang raja serta rahasia keluarga Park. Dari situ Puan membagi lagi menjadi beberapa sub judul yang kemudian Puan kembangkan lagi. Begitu terus hingga selesai. Dan setelah itu, Puan membaca kembali apa yang sudah Puan tulis. Menambah di bagian yang dianggap perlu, serta menghapus bagian yang menurut Puan tidak penting. Hal yang paling Puan titikberatkan selain cerita adalah typo. Puan mengusahakan untuk meng-edit beberapa kali agar tidak ada typo yang terlewat, meski pada kenyataannya ada juga satu dua yang lolos. Ya seperti itulah, hihihi. Puan juga sependapat denganmu. Keinginan kita sama. Ah iya, chapter selanjutnya sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca.
abcdELF: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Reader baru? Aha, selamat datang dan salam kenal kalau begitu. Terima kasih banyak untuk pujiannya. Kalau ditanya mengenai perasaan, bisa Puan katakan bahwa perasaan sang raja kepada permaisuri hanya sebatas sayang seorang lelaki kepada wanita yang sudah lama mendampinginya dan memberikan anak satu-satunya. Perasaan sayang yang dirasakan sang raja kepada permaisurinya, kurang lebih sama dengan perasaannya pada selir-selirnya yang lain. Hanya Joongie yang dicintainya sepenuh hati. Dan mengenai jawabanmu akan sikap Changmin, mungkin bisa kamu temukan di chapter depan, Sayang. Chapter 6 sendiri sudah Puan publish. Selamat membaca. Ahaha, tidak mengapa. Puan senang dengan pertanyaan-pertanyaan kalian.
Zuzull1: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Sepeminuman teh itu merupakan kata-kata yang biasanya sering ditemui dalam cersil. Kalau diartikan sih itu sekitar 15 menitan. Maksud sepeminuman teh itu sendiri kan menyatakan mengenai waktu yang digunakan untuk menghabiskan segelas teh. Tergantung wadah dan kecepatan kita menghabiskan minuman itu juga. Kalau tehnya dimasukkan di dalam galon dan menghabiskannya butuh waktu sejam, maka bisa dikatakan sepeminuman teh itu sama dengan satu jam. Kalau yang digunakan cangkir dan minumnya pelan-pelan, sekitar 15 menitan, ya selama itulah waktunya. Mungkin seperti itu, hehehe.
Guest: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama, Sayang. Keberatankah jika Puan ingin mengetahui namamu? Terima kasih banyak buat dukungan semangat juga pujiannya.
Snow'Queen YunJae: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Kalau mengikut plot awal, Yoochun akan muncul di chapter 11. Masih cukup lama juga. Hahaha, biar kata Changmin anak sang raja dari permaisuri Yi Ahra, namun dia tidak selicik ibu dan kakeknya. Ini sudah Puan lanjutkan, Sayang. Selamat membaca kalau berkenan. Tidak mengapa penname-nya panjang. Kalau boleh tahu, Puan harus memanggilmu apa? Snow? Atau Queen?
WineMing: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Hahahaha, dasar. Bagaimana bisa kamu merasa seperti itu? Apakah memang kata 'bersambung' itu terlalu cepat munculnya? Joongie ikut terjun dalam pertempuran kan di saat-saat akhir, jadi percuma juga mengirimkannya ke tempat pengungsian. Sepertinya kamu harus menunggu lebih lama untuk kehamilan Joongie, karena Puan tidak berencana membuatnya hamil dalam waktu dekat. Itu akan membahayakan keselamatannya. Misinya belum tercapai, nanti saja hamilnya kalau suasana sudah kondusif. Joongie tidak berambisi untuk menempatkan keturunannya sebagai pewaris tahta, terlebih Changmin adalah teman dekatnya. Puan belum memutuskan jenis kelamin anak mereka nantinya, Sayang. Biarlah rahasia seperti judul lagunya Siti Nurhaliza #plaaak. Hahaha, lupakan threesome dan pangkas-memangkas onderdil Changmin. Chapter selanjutnya sudah Puan publish. Semoga panjangnya dan jalan ceritanya tetap memuaskan. Dan tolong rebonding jari-jemari Puan dong.
DahsyattNyaff: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Sudah dilanjutkan. Selamat membaca.
Dewi15: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Sudah Puan lanjutkan ya, Sayang? Selamat membaca.
Zarasukaa: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Maaf sudah membuatmu menunggu lama untuk membaca chapter selanjutnya, ya? Terima kasih banyak juga karena telah menyukai gaya penulisan Puan. Hahaha, mungkin bukan kata-kata kolosal, tapi kata-kata yang biasanya banyak ditemukan dalam cersil. Hal itu memang disebabkan karena Puan sangat menyukai serial Pendekar Rajawali Sakti. Chapter selanjutnya sudah Puan publish, dengan jalan cerita yang jauh lebih ringan tentunya dari chapter sebelumnya. Selamat membaca dan maaf jika hasilnya mengecewakan.
Vidii: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Salam kenal kembali, Vidi si YJS Sejati. Terima kasih juga untuk sanjungan dan pujiannya, akan tetapi Puan merasa belum pantas mendapatkannya. Di luar sana, banyak sekali fanfic YunJae karya-karya para author yang jauh lebih bagus daripada karya Puan. Mereka sangat menginspirasi Puan agar bisa menghasilkan karya yang bagus. Hahaha, silakan, cakar saja. Kalau butuh bantuan untuk menajamkan kuku Jiji, bilang Puan ya? Puan usahakan untuk membuat keluarga Go menderita semenderita-menderitanya atas perbuatan buruk mereka. Ini sudah Puan lanjutkan, maaf jika update-nya tidak secepat yang kamu harapkan, Sayang.
UliBayu619: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujianmu, wajah Puan jadi merona. Puan merasa karya Puan ini belumlah sebagus karya-karya author lain yang lebih dulu terjun dalam dunia per-fanfiction-an. Chapter selanjutnya sudah Puan publish, selamat membaca dan maaf sekali jika hasilnya mengecewakan.
Guest: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama, Sayang. Sudikah memberitahu Puan siapa gerangan namamu? Hahaha, sejujurnya Puan bingung dengan jejak yang kamu tinggalkan di chapter lalu itu. Bisakah kamu menjelaskannya pada Puan?
Desi: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan kembali. Maaf jika menunggu cukup lama untuk membaca kelanjutannya.
M .925: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan. Maaf jika harus menunggu lama untuk membaca kelanjutannya. Ada hal-hal yang menjadi kendala dalam penulisan yang tidak bijak juga jika Puan ungkapkan satu-satu.
Ana Im: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Salam kenal, Ana. Tidak mengapa. Puan tidak mengharuskan siapa saja yang membaca cerita Puan ini untuk meninggalkan jejak. Jika ada Puan sangat bersyukur, jika tidak pun Puan tetap bersyukur. Hahaha, mereka memang pasangan serasi, bukan? Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca dan maaf jika hasilnya tidak seimbang dengan penantian kalian. Oh iya, terima kasih banyak untuk dukungan semangatnya.
Guest: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Tamu Tanpa Nama, Sayang. Puan sangat senang jika kamu tidak keberatan untuk menyebutkan nama. Akan tetapi, Puan senang sekali mengetahui kamu puas dengan chapter yang lalu. Perasaan lelah seolah tidak dirasa lagi. Chapter selanjutnya sudah Puan publish. Maaf jika hasilnya mengecewakan. Ah iya, terima kasih banyak buat dukungan semangatnya.
Miss: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Puan senang sekali jika kamu menyukai karakter Joongie di sini. Benarkah membaca tulisan sederhana Puan ini seperti membaca sebuah novel? Aih, wajah Puan pasti memerah. Rasanya karya Puan masih jauh dari kata bagus. Akan tetapi, Puan tetap berterima kasih untuk apresiasimu. Semoga Puan tidak lekas mabuk dan besar kepala karena pujian. Puan juga senang jika dari tulisan sederhana ini tetap ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan terima kasih juga buat 10 jempol yang sudah diangkat itu.
Reanelisabeth: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Yang ahli racun itu sebenarnya Joongie, kalau permaisuri sendiri tidaklah ahli dalam bidang racun, hanya saja ia cukup tahu beberapa jenis racun yang bisa digunakan untuk memuluskan jalannya. Seperti racun yang ia gunakan untuk membuat para selir tidak bisa hamil, atau Getah Salju Tiongkok yang sangat berbahaya. Pengetahuannya dalam bidang racun tidaklah sebanyak pengetahuan Joongie. Karena itu tenang saja, karena ada dalam sebuah chapter, permaisuri akan kena batunya. Dimana racun yang sejatinya ia sediakan untuk Joongie, malah berbalik mengenai salah seorang yang sangat disayanginya, hahaha. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca dan maaf jika hasilnya mengecewakan.
Subarashihito: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujiannya. Puan berharap agar Puan tidak besar kepala karena pujian dan sanjungan yang Puan terima. Chapter selanjutnya sudah Puan update. Maaf jika hasilnya mengecewakan. Dan ya, Puan juga berharap agar Joongie bisa mengakhiri misinya dengan manis, dan hidup berbahagia bersama sang raja dan anak mereka serta Putera Mahkota Changmin tentunya.
Tie: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Mungkin kamu benar, jika lima ribu pasukan adalah jumlah yang terlalu kecil untuk sebuah kerajaan sebesar Joseon. Pada awalnya Puan memang menulis bahwa Joseon memiliki kekuatan pasukan sebanyak sepuluh ribu orang, namun akhirnya sengaja Puan pangkas dengan beberapa pertimbangan. Salah satu hal yang mnginspirasi Puan dalam hal jumlah lagi-lagi dari cersil yang Puan baca, mengenai sebuah kerajaan besar, namun jumlah pasukannya hanya tiga ribu orang. Namun karena masing-masing anggota pasukan memiliki kemampuan berperang yang memadai, maka mereka berhasil menggulingkan pihak lawan yang jumlahnya nyaris lima kali lipat lebih besar dari mereka. Dan untuk pertanyaan pentingnya, chapter selanjutnya sudah Puan update. Mohon maaf sebesar-besarnya atas keterlambatannya. Ada alasan-alasan tertentu yang tentunya tidak bijak juga jika Puan uraikan satu demi satu. Yang pasti, sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak yang sedang aktif-aktifnya, bisa menulis sejam sehari saja sudah sangat bagus untuk Puan. Puan harap kamu bisa memakluminya ya, Sayang?
Ilma: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk singgah dan meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih juga untuk pujiannya. Semoga pujian tak lekas membuat Puan besar kepala. Fanfic yang Puan tulis ini terinspirasi dari banyak drama kolosal yang pernah Puan tonton, semisal Jang Geum (Jewel in the Palace) dan The Great Conspiracy (drama kolosal Mandarin yang dulu pernah tayang di TPI atau siaran TV Singapura kalau tidak salah, Puan lupa karena sudah lama sekali). Selain itu Puan juga terinspirasi dari serial silat Pendekar Rajawali Sakti karya Teguh. S. Ini sudah Puan lanjutkan. Maaf harus menunggu lama.
Nisa Marni EXO Fans: Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan. Maaf ya sudah membuat kalian menunggu sangat lama. Puan sendiri kecewa karena tidak bisa update secepatnya. Sekali lagi maaf.
Rei: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan meninggalkan jejak, Sayang. Di chapter sebelumnya Joongie sudah bertemu Changmin, namun memang tidak ada adegan khusus di antara mereka, akan tetapi di chapter enam ini kamu bisa menemukan interaksi di antara Changmin dan Joongie, begitu juga di chapter-chapter berikutnya. Iya, Changmin adalah anak dari pernikahan Yang Mulia Raja Yi Yunho dan Permaisuri Yi Ahra. Selir Yang Mulia Raja ada enam orang. Caranya Joongie membalas dendam? Terus terang Puan juga belum memutuskan bagaimana cara terbaik Joongie membalas dendam, meski Puan sudah membuat plot sampai chapter akhir (dengan cara pembalasan dendam yang masih belum maksimal menurut Puan). Untuk itu Puan membebaskan semua pembaca yang jika memiliki ide untuk pembalasan dendam Joongie, agar kiranya mau berbagi dengan Puan. Kalaupun tidak ada maka Puan akan menuliskannya sesuai rencana awal Puan ditambah beberapa masukan dari beberapa pembaca.
Guest: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejaknya, Sayang. Untuk dorongan semangatnya, terima kasih juga. Puan akan berjuang melawan segala kesulitan dan menaklukkan rintangan dalam penulisan ini. Akan tetapi, bolehkah Puan mengetahui namamu?
.9: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Aduh, Puan bikin kamu cenat-cenut? Maaf ya? Puan tidak bermaksud seperti itu. Untuk mengobati cenat-cenutmu, ini chapter enam sudah Puan update.
Oktavian: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca dan maaf jika hasilnya mengecewakan.
Ami Yuzu: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan meninggalkan jejak di sini, Sayang. Salam kenal kembali, Ami. Hahaha, tidak mengapa. Puan tidak memaksakan para pembaca untuk meninggalkan jejak, Sayang. Puan paham kalau kalian juga memiliki kesibukan masing-masing. Aish, kamu terlalu memuji. Puan jadi malu sendiri. Hemmm, Changmin ya? Changmin sebenarnya sudah muncul di chapter sebelumnya, meski masih berupa nama. Namun di chapter ini, Changmin baru benar-benar muncul. Kalau sesuai rencana awal dan mood Puan tidak berubah lagi, maka chapter depan justru ceritanya terpusat pada sang Putera Mahkota ini. Sementara Yoochun, kalau tidak ada aral melintang akan muncul di sebelas. Kalau mengenai acara balas dendamnya, biarlah menjadi rahasia Puan saja, ya? Nanti tidak seru lagi kalau Puan beritahu semua, kan? Hahaha. Joongie hamil masih lama, tapi tenang saja, Puan pastikan hamil, kok. Kekeke. Ini sudah Puan lanjutkan, selamat membaca.
Littlecupcake noona: Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak, Sayang. Semoga chapter enam ini bisa mengobati sedikit kerinduanmu, ya?
ReikoMiao: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan meninggalkan jejak, Sayang. Aduh aduh, Puan jadi malu mendapat pujian ini. Merasa kalau tulisan Puan masih cukup jauh dari kata bagus. Hahaha, mengenai ayah Joongie, akan ada nantinya penjelasan tersendiri tentangnya. Dan hal itu berkaitan dengan bakat yang Joongie miliki. Jika kepintarannya dalam hal memasak dan bakat seninya diturunkan oleh sang Ibu, maka kepintarannya dalam hal strategi perang dan pengaturan siasat adalah bakat turunan dari sang Ayah. Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin itu terjadi sementara yang diketahui Ayahnya hanyalah seorang petani? Nanti benang merahnya akan mulai terlihat. NC-nya kurang hot? Hahahaha, bagian tersulit adalah saat menulis NC. Serba dilema dibuatnya #plaaak. Puan menggunakan kata-kata yang cukup halus saat menulis NC dikarenakan mungkin ada sebagian besar pembacanya yang usianya masih di bawah 18 tahun. Well, akhir kata Puan hanya ingin mengatakan kalau chapter enam sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca.
leeChunnie: Terima kasih sudah berkunjung dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak, Sayang. Terima kasih banyak untuk pujiannya. Ini sudah Puan lanjutkan. Selamat membaca kembali, dan maaf jika hasilnya mengecewakan, ya?
