"Homicide Jail"
Disclaimer : Matsui Yuusei is one and only owner
Assassination Classroom
Author : This story is mine, VeraEikon
Warning : AU, OOC, Typo, and ect.
Don't like, Don't read
Chapter 2 : Relation
"Hay, namaku Nagisa. Aku harap kita bisa menjadi teman selama disini."
Kalimat sederhana itu menyadarkannya dari lamunan. Ia sedikit tersentak ketika mendapati seorang remaja laki-laki duduk didepannya dengan senyum dan tangan yang terulur. Alisnya naik beberapa senti. Bingung, adalah hal yang pertama Ia rasakan.
"Kau bisa mendengar ku kan? Siapa nama mu?" kata remaja itu lagi. Masih dengan tangan yang terulur.
Karma terdiam beberapa detik sebelum menyambut uluran tangan laki-laki didepannya. "Oh, jadi kau tahanan baru yang dibicarakan Sipir tak berguna itu ya." katanya setelah selesai memperoses semua data yang ada didepan matanya.
Remaja itu kembali tersenyum. "Ya, salam kenal."
"Salam kenal, Nagisa-kun." balasnya tersenyum.
Perasaan lucu menggelitik perutnya. Setelah nyaris dua tahun Ia ada di sel ini, dan telah ada ratusan puluhan orang yang pernah menjadi rekan satu selnya. Tapi ini pertama kalinya ada tahanan yang memperkenalkan dirinya dengan senyum seperti itu.
Karena biasanya, semua tahanan baru yang satu sel dengannya pasti akan membuang muka dan sebisa mungkin menghindari kontak dalam bentuk apapun.
Lagipula hey, ini penjara. Siapa yang mau berhubungan dengan para tahanan kelas S. Tapi mungkin tahanan baru itu adalah pengecualian.
"Kenapa kau tertawa?" tanya remaja itu bingung.
Ia tersentak. Tak menyangka tawa benar-benar keluar dari mulutnya tanpa perintah dari otak. Tawa normal pertamanya setelah dua tahun.
"Tidak apa-apa Nagisa-kun. Kau lucu ya." Ia tersenyum.
Sementara remaja berambut biru didepannya memiringkan kepala bingung. Ia kembali melanjutkan tawa kecilnya.
Ya, hidup tanpa tawa yang sebernarnya nyaris selama dua tahun membuatnya bosan. Jadi tidak apa-apa kan kalau kali ini Ia sedikit bersenang-senang.
"Lucu?"
"Ya, lucu."
"Terimakasih kalau begitu. Tapi kau belum menyebutkan namamu." katanya ringan. Benar-benar seperti anak SMP biasa yang polos.
"Nama ku Ka―, kau bisa memanggil ku dengan nama julukan Nagisa-kun." jawabnya cepat. Nyaris membocorkan hal yang sangat berbahaya di tempat seperti ini.
"Julukan?"
"Ya julukan." Ia tersenyum. "Kau bisa memanggilku, Cheat."
.
.
Beberapa jam terlewati dalam keheningan. Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam sel penjara yang hanya diisi oleh dua orang. Tapi toh Ia tidak perduli. Terbiasa sendirian dalam sel membuatnya berteman baik dengan keheningan.
Tapi sepertinya rekan satu selnya yang baru tidak seperti itu. Remaja berambut biru itu terlihat mulai bosan memainkan jari-jarinya. Beberapa kali remaja bernama Nagisa itu mencoba mengajaknya bicara, tapi selalu dijawab oleh kata-kata sederhana tidak berminat. Beberapa menit kemudian Nagisa menghela napas kecil, berusaha sedikit mengeluarkan kebosanannya.
Tapi helaan napas kecil itu rupanya tidak luput dari perhatian sang penipu. Ia tahu remaja mungil didepannya itu bosan. Tapi terbiasa sendirian membuatnya tidak tahu harus bagaimana.
"Hey, Cheat-kun," panggil Nagisa pelan. Berharap mendapat respon yang berarti.
Ia mengangkat kepalanya "Ya?"
"Kenapa, kau bisa ada disini?" tanya Nagisa hati-hati.
"Hanya kasus biasa." jawabnya santai. "Kau sendiri, kenapa remaja sepertimu bisa masuk kesini Nagisa-kun?"
"A.. aku membunuh seseorang." jawabnya sambil menundukan kepala.
"Aku tahu, maksudku siapa yang kau bunuh?"
"Se.. seorang guru disekolahku."
"Oh.." responya singkat.
Dan begitu saja, pembicaraan basi mereka terhenti. Nyaris semua tahanan yang ditempatkan di sel-sel sekitarnya adalah pembunuh. Jadi bukan kejutan baginya kalau ternyata remaja yang kelihatan baik-baik didepannya adalah seorang pembunuh juga.
"Kalau kau, si.. siapa yang kau bunuh Cheat-kun?" tanya Nagisa mengangkat kepalanya.
Ia memejamkan matanya dan bersandar ketembok berlumut dibelakangnya. "Hanya sekumpulan Yakuza tak berotak."
"Ya.. yakuza!?.." matanya membesar tak percaya.
"Ya."
Nagisa merangkak dan duduk disebelanya. Ikut bersandar pada dinding beton yang entah telah berumur berapa ratus tahun. Entah kenapa Nagisa tertarik untuk mendengarkan cerita teman barunya itu.
"Boleh aku tahu ceritanya?"
Ia membuka sebelah matanya. "Cerita pembunuhan ku?"
"Ya." Nagisa mengangguk.
Ia menghela napas, "Dua tahun yang lalu ada sekumpulah Yakuza bodoh yang mencari masalah dengan ku. Dan begitulah, tanpa sadar mereka telah mati begitu saja didepanku."
"Mencari masalah?" Nagisa memiringkan kepalanya.
"Ya," Ia kembali menghela napas. "Mereka menyentuh seseorang milikku, dan aku tak akan pernah bisa memaafkannya."
"Apa dia kekasih mu?"
Kedua alisnya terangkat. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Nagisa tersenyum. "Hanya tahu." jawabnya sambil mengerdikan bahu.
Tanpa Ia sadari sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai. Ia mulai menyukai rekan barunya ini.
.
.
Hari ini ada yang berbeda.
Karena seorang remaja laki-laki tiba-tiba menjadi rekan satu sel ku. Dia baik, terlalu baik dan ramah untuk ukuran seorang pembunuh.
Tapi siapa yang tahu. Kekuatan seperti apa yang dia sembunyikan.
Karena disini adalah Homicide Jail. Tempat dimana kebaikan akan berada ditempat sampah.
Jadi nantikan saja, kapan waktunya dia menunjukan taring pembunuhnya.
To Be Continued
