Author Space :
Kenapa jadi begini? Kan uda dibilang Oneshoot. Kok minta next sih guys hiks.. hiks...
Padahal Mika belum nyiapin seperti apa kelanjutannya. Soalnya emang sengaja dibikin gantung.
jadi saat Mika menulis next Chap ini, Mika ragu... Sesuai gak ya... Well kalo gak sesuai ga boleh komplain yaa... Kan uda dibilang Onesshoot heheh :p
So, thanks buat semua yang uda mereview.. Gak nyangka bakal dapet review secepat ini :) #Seneng
Dan buat Himawarii-nara... Sebenernya ini terinspirasi dari FF kamu yang sad ending itulohh... Duh,,, sebel kan Shikadai ga jadi sama Himawari. :D Akhirnya Mika bikin sendiri deh... :)
WARNING :
Naruto dkk milik Masashi Kishimoto
Kalo gak Suka dilarang nge Bash apalagi ngeflame
Review saran open
Alur suka-suka penulis
Ein Mikara Present
Jealous Part 2
Apa kau tau rasanya berhubungan dengan saudara teman baikmu? Berpacaran maksudnya, dan yah itu merupakan sebuah dilemma. Dilema ini juga dirasakan oleh Shikadai. Himawari, pada dasarnya gadis itu mendapat posisi yang cukup rumit jika dikaitkan dengan Shikadai. Himawari adalah Putri kedua sang Nanadaime, Hokage konoha yang tersohor. Himawari juga merupakan, seperti yang sudah dikatakan diawal, adik dari teman baik Shikadai. Bukan teman yang benar-benar baik. Tapi, yah begitulah. Shikadai cukup akrab dengan Boruto. Tapi bukan berarti Boruto adalah sahabatnya. Bocah kuning yang bersemangat itu bertolak belakang dengan Shikadai. Namun bagaimana Shikadai bisa memulai sebuah hubungan dengan Himawari? Entahlah. Itu mengalir begitu saja.
Beberapa bulan sebelum ujian chuninnya yang pertama atau sekitar tiga tahun yang lalu, Shikadai mendapati seseorang yang diam-diam selalu membuntutinya. Jangan kira Shikadai tidak peka. Shikadai sangat yakin jika yang membuntutinya adalah Putri Konoha, Uzumaki Himawari. Dan kenapa Himawari selalu membuntutinya, itu juga masih menjadi rahasia sang gadis hingga sekarang.
Kedua pasang mata menatapnya tajam, seolah-olah Shikadai melakukan hal yang sangat fatal. Shikamaru, Tousannya, membuat Shikadai menarik napas beberapa kali. Frustasi. Itulah yang ia rasakan saat ini. Tidak hanya malu, tekanan moral juga ia rasakan hingga tulang-tulangnya terasa menggigil. Keberanian sang Putri Konoha membuatnya terjebak dalam situasi sulit. Yah, sulit dijelaskan. Ia mau menjelaskan apa? Shikadai sendiri bahkan tidak mengerti dimana letak kesalahannya.
Lingkaran biru samar masih menghiasi matanya ketika ia terbangun tadi pagi. Dan diruang makan, suasana menjadi senyap. Biasanya, pagi-pagi Sang Nyonya Nara akan meributkan banyak hal. Tentang kemalasannya, kemalasan Tousannya, kemalasan pengatur rumah tangga, dan banyak hal bisa ia curahkan sepanjang pagi. Namun pagi ini, meskipun sebenarnya cuaca sedang cerah dan agak menghangat, mereka berdua malah memilih untuk diam. Mendiamkan Shikadai tepatnya. Hey, bukan hanya mereka saja yang malu, Shikadai juga. Ia korban disini. Tapi kenapa semua orang menilainya sebagai tersangka?
"Bisakahkah Kaasan berkata sesuatu?", tanya Shikadai dengan muka malasnya.
Mata Temari menatap tepat kearah Shikadai sambal setengah melotot. "Bukannya kau senang jika Kaasan diam?", sindir wanita berambut pirang itu.
"Aku lebih suka Kaasan langsung marah-marah daripada mendiamkanku. Merepotkan", gumam Shikadai sambal menusuk telur dadarnya tanpa semangat.
"Baiklah, asal kau ceritakan semuanya. Kenapa mukamu sampai babak belur? Dan benarkah yang dikatakan oleh Boruto bahwa kau mencium Himawari didepannya dan didepan ibunya?", Temari bersendekap sambal mencecar Shikadai dengan pertanyaan. Sedangkan Shikamaru memilih untuk menguap lebar.
"Aku sudah menjelaskan kemarin. Kenapa kita tidak makan saja?", tanya Shikadai sambil mencebikkan mulutnya.
"Kau kira semua sudah selesai? Jangan permalukan nama baik Klan Nara. Kau juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik Sunagakure. Kaasan selalu berkata pikirkan resiko setiap tingkah lakumu. Apa begitu saja sulit?", hardik Temari sambil menggebu-gebu.
"Cukup", potong Shikamaru. "Makan!", putusnya.
Mereka makan dengan hening. Setelah beberapa menit berlalu…
"Ikut Tousan ke Beranda belakang", perintah Shikamaru sebelum beranjak dari kursi makannya.
Shikadai mengikuti tousannya kearah beranda belakang, tempat bisanya kedua Nara itu berbagi cerita atau sekedar bermain Shogi. Shikamaru terlentang sambil menghadap kearah langit yang cerah. Shikadai kemudian ikut terlentang disamping Tousannya sambil menjadikan kedua lengannya sebagai bantal.
"Aku tak akan bertanya tentang apa yang terjadi kemarin", gumam Shikamaru. "Yang harus kau tau adalah, jangan pernah mengecewakan ibumu. Itu saja".
"Baik, Tousan", jawab Shikadai sambil menguap dan segera memejamkan mata disamping pria yang sangat dikaguminya itu.
~Ein-Mikara~
Sementara dikediaman Hokage ke Tujuh...
Sejak kemarin Himawari menolak berinteraksi dengan siapapun, khususnya Boruto. Kakak tersayangnya itu kali ini sudah melakukan tindakan yang kelewatan. Kenapa? Hanya karena sebuah kecupan saja kekasihnya harus babak belur. Dan, Himawari juga kecewa dengan sikap Shikadai. Kekasihnya itu bisa saja melawan kakaknya, tapi ia malah memilih untuk mengalah dan menerima serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Boruto. Ck.. Mengesalkan.
Belum lagi Kaasannya, memang sih Hinata tidak memarahi Himawari. Tapi Istri Hokage itu melaporkan kejadian kemarin pada Tousannya. Well, yang mengejutkan Himawari, bukannya marah Sang Hokage malah sumringah. Apaan itu? Maksudnya Tousannya mendukung penuh Himawari dengan Shikadai? Jika benar begitu sih bagus. Tapi sepertinya bukan. Sepertinya… Well, Tousannya sempat menyinggung-nyinggung perihal tentang neneknya. Khusina. Menurut Tousannya sikap Himawari menurun dari neneknya tersebut. Benarkah?
Apa neneknya juga menyukai hal-hal yang imut-imut seperti pipi tembam Shikadai? Atau apakah neneknya menyukai sifat acuh seperti yang dimiliki Shikadai? Atau… Ah, sudahlah. Himawari sama sekali tidak mengenal neneknya. Pun Sang Tousan juga tidak mengenal neneknya. Pasalnya neneknya itu sudah tiada jauh sebelum Himawari lahir.
Tok Tok
Terdengar suara ketukan dari arah pintu. Himawari hanya menoleh sekilas tanpa menanggapi.
"Hime, boleh Nii-san masuk?", suara Boruto terdengar agak mencicit. "Ayolah, Hime. Sebentar saja", bujuk Boruto sambil kembali mengetuk pintu kamar sang adik.
Himawari yang masih kesal itu akhirnya beranjak berdiri dari Kasur kesayangannya. Berjalan sedikit menghentak-hentakkan kakinya kemudian menarik pintu kamarnya dengan kasar. Boruto agak terjungkal ketika pintu ditarik dengan kuat oleh sang bungsu Uzumaki. Tapi kemudian dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Sambil memberikan cengiran lebar, Boruto menyapa adiknya dengan semangat.
"Hai Hime, aku..", ujar Boruto memulai sapaannya tapi tentu saja kata-katanya dipotong oleh Himawari yang menguarkan sikap tidak bersahabat.
"Cepat katakan ada perlu apa", potong Himawari tanpa memandang kearah Boruto.
"Hime, nii-san minta maaf", ujar Boruto sambil menampilkan wajah memelas.
Himawari menatap kearah sang kakak. Dia benci keadaan ini. Sekesal-kesalnya, Boruto adalah kakak yang paling disayanginya. Dan salah satu lelaki favoritnya. Himawari mendecih pelan sambil berkacak pinggang.
"Cih, aku benci sekali melakukan ini. Tapi… aku memaafkan, Nii-chan", gerutu Himawari sambil memanyunkan bibirnya. "Tapi sebelumnya, Nii-chan harus meminta maaf pada Shika-kun. Harus!".
"EKH", mata Boruto melotot. Apa? Apa Himawari baru saja memintanya untuk minta maaf ke si Nanas?
"Ukh… ituu…", gumam Boruto ragu.
"Ya! Jangan bilang Nii-chan tidak mau?!", bentak Himawari. "Kau sudah membuatnya babak belur, Nii-chan".
Boruto menggembungkan pipinya sambil berpaling. "Tidak", elaknya. "Dia seenaknya menciummu. Aku tidak terima adikku diperlakukan dengan tidak sopan. Memangnya dia siapa?". Giliran Boruto yang bersikap menyebalkan. Lelaki bersurai kuning ini memang searogan itu dengan keputusannya. Seperti menganggap benar dengan apa yang ia lakukan terhadap kekasih Himawari kemarin. Dan sebagai ceweknya, memangnya Himawari rela kekasihnya dibuat babak belur? Enak saja, tentu saja TIDAK.
"Kau ini", geram Himawari sambil mencubit lengan Boruto.
"Aww, sakit, Hime", geruto Boruto yang mendapati lengannya memerah.
"Kau pantas mendapatkan lebih dari cubitan", geram Himawari. "Memangnya siapa Shikadai? Dia itu Kekasihku, Nii-chan. Kekasihku!", ujar Himawari memberi penekanan pada kata Kekasihku. "Kenapa kau tidak peka sekali sih?".
"Apa? Kekasihmu? Sejak kapan? Biar kuhajar dia!", geram Boruto sambil menggulung lengan bajunya.
"Jika-Niichan-berusaha-melukai-Shikadai….", Aura aneh menguar. Boruto merasa dejavu dengan situasi yang mulai mencekam ini. Mata Himawari perlahan mulai memucat. Biru safirnya terganti dengan warna abu-abu dengan guratan otot disekeliling matanya. Membuat Boruto merinding sekaligus menggigil diwaktu yang bersamaan.
"Err…Hime… Hime… Baiklah… Nii-Nii-Nii-chan ada jadwal latihan. Sudah dulu ya…", gugup Boruto sambil berlari menuruni tangga.
"Kau mau menghindariku, Nii-chan?", bisik Himawari yang tiba-tiba sudah ada dibelakangnya.
"Ahhhh… Kaasan TOLONG!",
End (tbc?)
Big Thanks To :
Byakugan No Hime, seman99i, Nyonya Besar Gaara, Fura-chan Sawayaka, Uzumaki-chan, Name Doni, Unnihikari, chimi wila chan, Daisy uchiha, Kyucel, Red Kushi-chan, himawaarii-nara, TC, RinZitao, Meimy, My Story Follower, My Story favoriters, All Reader,,,, You rock guys. Tanpa kalian author bukan siapa-siapa.
Sedikit dari Author, Kali ini Mika tidak meminta review dengan maksa (haha), kenapa/ Karena Mika gak tau ceritanya beneran end disini apa masih bissa lanjut. Jika ada yang bisa kasih ide, mohon di PM ya :)
