Halo semuanya!
waahh, makasii buat semua reader yang udah mau baca! :D
ini chapter 2 buat kalian semua ^^
Enjoy! ^^
Disclaimer.
© Tadatoshi Fujimaki
'-The Past, the Future and Us-'
-The Past of the Future- [02]
[Masa Lalu: -15]
Aomine Daiki kini berada di depan sebuah rumah berukuran sedang dengan plat bertuliskan kanji [Kise] di dinding pagarnya.
Dengan seringai lebar yang tidak bisa dihilangkannya sedari tadi, ia dengan mudah membobol gerbang depan dan berjalan menuju pintu depan.
"Tunggu aku, Kise Ryouta…"
"Akhirmu sudah dekat… Aku akan membunuhmu…"
0-0-0-0-0
Dengan perlahan, Aomine kembali membobol kunci pintu depan, dan dengan sangat perlahan, tanpa menimbulkan suara, ia membuka pintu itu, menampakkan suasana sebuah rumah minimalis dengan barang-barang seadanya berserakan dimana-mana.
Setelah menyiapkan pistol di tangannya, Aomine menutup pintu depan dan menguncinya — memastikan agar tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri bagi 'mangsanya'.
Setelah memastikan bahwa ruangan depan kosong, ia langsung mengendap-endap ke ruangan lainnya, dengan hati-hati mencari keberadaan sang mangsa.
…Dan saking kagetnya, ia hampir saja secara spontan menembakkan pistol di tangannya saat tiba-tiba terdengar suara orang terbatuk-batuk dari kamar di sisi belakang rumah.
Dengan sigap Aomine berjalan menuju kamar itu, bersiaga untuk menembakkan pistolnya kapan saja.
Dari celah pintu yang sedikit terbuka, ia mengintip, mengamati keseluruhan isi kamar itu.
Pakaian berserakan dimana-mana, jendela kamar tertutup rapat, buku dan peralatan lainnya diletakkan secara asal, bertebaran di seluruh penjuru kamar.
Dan di atas sebuah tempat tidur lusuh di sudut kamar, tergeletak sesosok pemuda berambut pirang yang terbaring lemas dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Matanya terpejam rapat. Wajahnya terlihat lusuh dan tubuhnya nampak tidak terawat.
Kise Ryouta.
Amarah Aomine langsung bangkit meluap-luap dari dirinya begitu melihat sosok itu. Ia harus sekuat tenaga berusaha menahan diri agar tidak langsung sembrono menembakkan pistolnya dan mengobrak-abrik seluruh kamar, atau bahkan seisi rumah ini.
Tangannya yang terkepal bergetar menahan amarah. Amarah yang sangat mendalam, mengingat hal-hal keji tak manusiawi yang telah (akan) dilakukan pemuda belasan tahun di hadapannya ini di masa depan.
Sambil menodongkan pistolnya tepat ke kepala sang mangsa, bagaikan hewan buas ia berjalan menghampiri buruannya itu, memperhatikan setiap detail pergerakannya, memastikan bahwa mangsanya tetap diam di tempat.
Sesekali Kise terbatuk-batuk. Wajahnya berkerut seolah sedang menahan rasa sakit. Meskipun begitu, Aomine, dengan tatapan dingin terus berjalan ke arah pemuda tak berdaya itu. Pistolnya tetap terarah tepat tanpa rasa ragu sedikitpun, seolah ia akan menembak, tidak peduli apapun yang terjadi.
Akhirnya ia sampai tepat di sisi tempat tidur, kini dengan mulut pistol yang menempel di kening Kise.
Seringainya melebar, saat akhirnya ia bisa membalaskan dendam orang-orang yang telah meninggal akibat perbuatan pemuda di hadapannya ini.
"Kise Ryouta. Matilah." geram Aomine.
Mendengar namanya dipanggil, perlahan Kise membuka matanya. Pandangannya kabur, dan ia hanya bisa samar-samar melihat siluet Aomine yang berdiri menjulang di sisi tempat tidurnya.
"Si… Siapa…?" ucapnya lirih.
Aomine mulai menarik pelatuk pistolnya.
"Aku dewa kematian yang akan mengakhiri hidupmu sekarang juga." desisnya.
"Dewa… Kematian…?"
Sebuah senyuman pahit terbentuk tipis di bibir Kise.
"Ah… Begitu ya… Aku… Akan mati…"
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Aomine sebelum ia menarik habis pelatuknya.
"Mungkin… Aku ingin meminta maaf…"
"Pasti sangat membosankan membunuh orang tak berdaya sepertiku… Padahal kau sudah repot-repot datang ke sini... Tapi yang seperti ini sama sekali tidak menarik kan? Setelah menembakkan pistol itu... Aku akan mati, lalu kau akan pergi... Hanya itu..."
Kise terbatuk-batuk setelah mengucapkan rentetan kalimat spontan itu.
Entah apa yang dipikirkannya. Tanpa mengetahui efeknya, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Hmm?"
Sedikit rasa ragu mulai terbentuk dalam hati Aomine.
Seberapa besar pun amarah dalam dirinya, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin akhir yang terlalu singkat dan mudah seperti ini.
Ia ingin 'bertarung' one-on-one dengan Kise untuk melampiaskan seluruh amarah dan rasa kesalnya. Ia ingin menyalurkan seluruhnya melalui pertarungan yang adil, pertarungan sampai mati.
Ia lebih memilih meninju Kise berkali-kali, menunjanginya dan menyiksanya, daripada mengakhiri semuanya hanya dengan satu tembakan singkat.
Tidak, itu terlalu membosankan.
…
Mungkin dia adalah hewan buas yang bodoh karena termakan oleh ucapan spontan sang mangsa…
Tapi sang hewan buas ini menginginkan mangsa kuat yang dapat 'menghiburnya' sebelum ia menghabisinya…
…
Sadis, memang. Tapi begitulah sifat seorang Aomine Daiki.
Akhirrnya, dengan seberkas rasa enggan ia menarik kembali pistolnya.
"Kise Ryouta. Kuberi kau perpanjangan waktu."
"Eh?"
"Perpanjangan… Waktu?"
Aomine menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat hati.
Mungkin, — hanya mungkin — ia akan menyesali pilihan ini nanti.
Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat, kan? Lagipula sesekali kau perlu mengambil resiko untuk membuat kehidupanmu lebih menarik.
"Seperti katamu, membunuh orang sakit yang memang sudah berada di ambang kematian itu membosankan. Jadi aku akan memberi perpanjangan waktu hingga kau sembuh dan sehat kembali."
"Dan saat itu terjadi, aku akan kembali untuk bertarung melawanmu dan mengambil nyawamu."
"Jadi berusahalah sekuat tenaga agar nantinya kau tidak akan membuatku bosan, Kise Ryouta."
Aomine mendengus, memasukkan pistolnya dan berbalik menuju pintu.
Tapi saat ia baru saja akan melangkah keluar dari kamar itu—
"Tunggu!"
—Teriakan dari Kise membuatnya berhenti dan menoleh sejenak.
Kise duduk di sisi tempat tidur. Ia menatap Aomine dengan tatapan penuh pengharapan dan rasa kagum.
"Kau… Apa kau benar-benar dewa kematian?"
"Entahlah. Menurutmu?" jawab Aomine asal.
"M-Menurutku kau… K-Kau lebih pantas menjadi… Malaikat… Daripada dewa kematian…"
Aomine menaikkan sebelah alisnya, jelas-jelas tidak mengerti maksud perkataan Kise barusan.
"Hah? Kau benar-benar sakit, ya?"
"Hei, aku memberimu perpanjangan waktu supaya nantinya aku bisa lebih puas menyiksamu. Apa menurutmu itu tindakan seorang malaikat?"
"T-Tapi! Kau mau memberiku kesempatan!"
"Sudahlah, terserahmu."
Tidak ingin berlama-lama berada di dekat orang yang dibencinya, Aomine langsung berjalan keluar dan membanting pintu, sementara Kise terdiam di tempat tidurnya, masih menatap pintu dimana Aomine sebelumnya berada itu dengan rasa kagum.
"Ah…"
"Aku… Lupa menanyakan namanya…" gumamnya.
…
Apakah mungkin…
Sang mangsa memiliki 'perasaan khusus' terhadap sang hewan buas yang akan memangsanya?
…
0-0-0-0-0
"Tch. Apa-apaan dia?! Kukira aku akan sedikit bersenang-senang menghabisinya."
Aomine menendangi kerikil di trotoar seusai pergi meninggalkan rumah Kise.
Rasa kesal tergambar jelas di wajahnya.
"Lagipula, bagaimana mungkin dia bisa sakit separah itu? Dan apa-apaan muka polos tak bersalah dan tubuh lemah itu?! Padahal di masa depan dia begitu sadis."
Ingatan Aomine kembali menggambarkan kembali sosok Kise yang benar-benar lemah tak berdaya itu.
"Apa… Seseorang seperti dia benar-benar menghancurkan masa depan?"
"Ugh!"
Aomine menampar pipinya sendiri, menyadarkan dirinya akan pemikiran yang benar-benar tidak sesuai dengan misinya saat ini.
"Tentu saja, Aho! Apa yang kupikirkan?! Dia itu Kise Ryouta! Kise Ryouta yang menghancurkan masa depan dan membunuh banyak orang! Sosoknya itu harus dimusnahkan demi menyelamatkan masa depan!"
Aomine mengacak-acak rambutnya. Pikirannya sekarang dipenuhi oleh berbagai hal tentang Kise Ryouta — dan itu membuatnya muak akan dirinya sendiri.
"Argh. Sial."
Karena terlalu fokus dengan pikirannya, Aomine tidak memperhatikan langkahnya — hingga membuatnya jatuh menabrak seseorang di persimpangan jalan.
…
"Ah!"
"M-Maaf!"
Menyadari kesalahannya, Aomine buru-buru meminta maaf dan mengulurkan tangannya pada pemuda yang jatuh karena bertubrukan dengannya itu.
"Kau tidak apa-apa?"
Pemuda itu menerima uluran tangan Aomine dan bangkit berdiri. Ia menepuk-nepuk bajunya beberapa kali, sebelum akhirnya menatap Aomine tajam dengan sepasang mata heterochromatic miliknya.
"Aku baik-baik saja. Sebaiknya perhatikan kemana kau melangkah."
"A-Ah, m-maaf, aku tidak sengaja…"
Pemuda itu memandang Aomine lekat-lekat, mengamati setiap detail tubuhnya, hingga akhirnya menaikkan sebelah alisnya dan berkata,
"Kau… Aomine Daiki, bukan?"
"Apa ini hanya perasaanku saja… Atau, kau memang… Bertambah tua?"
"Eh…?"
Aomine tersentak mendengar pernyataan pemuda di hadapannya.
Memang, karena dia datang dari masa depan, tentu saja penampilannya saat ini lebih tua 15 tahun dari dirinya di masa ini. Tapi dia tidak menyangka kalau ada seseorang yang bisa langsung menyadari perbedaan usianya itu.
Panik, tidak tau harus menjawab apa, dan karena merasa terganggu akan tatapan mengintimidasi pemuda di hadapannya, Aomine memalingkan wajahnya, menggaruk-garuk kepalanya, dan dengan gugup berkata,
"E-Eh? A-Apa maksudmu? A-Aku yakin k-kalau itu hanya… P-Perasaanmu saja… T-Tidak mungkin aku… B-Bertambah tua… Aha-ahahaha…"
Oke, itu sama sekali tidak membantu. Dan tawa canggung itu sama sekali tidak memperbaiki keadaan.
Pemuda itu tetap menatap Aomine lekat-lekat.
"Tidak. Aku benar-benar yakin. Penampilanmu bertambah tua sejak terakhir aku melihatmu 3 hari yang lalu. Kira-kira… 15 tahun, mungkin?"
Glek.
Aomine mulai keringat dingin mendengar ucapan pemuda dihadapannya itu.
Dia yakin kalau mereka belum pernah bertemu sebelumnya, lalu mengapa pemuda ini begitu teliti memperhatikannya?
Bahkan Tetsu tidak menyadari perbedaan usianya sama sekali.
"Err, maaf… A-Apa kita memang pernah bertemu sebelumnya?"
"Kau tidak tau siapa aku?"
"Tidak."
"Apa Tetsuya tidak pernah membicarakanku?"
"Seingatku, ti— EH?! Tetsuya, maksudmu… Tetsu? Kuroko Tetsuya?"
"Tentu saja."
"Namaku Akashi Seijuurou, saudara jauh Kuroko Tetsuya."
"EH?!"
Aomine mengerjap-ngerjapkan matanya, mengamati sosok bernama 'Akashi' di hadapannya berulang-ulang.
Tidak. Tetsu tidak pernah menceritakan apapun soal saudara jauhnya.
Tapi kalau dilihat baik-baik, mereka memang punya kemiripan.
Bisa dibilang kalau 'Akashi Seijuurou' ini adalah 'Kuroko Tetsuya berambut merah'. Ya, kira-kira seperti itu.
"Kau… Saudara jauh Tetsu? Tapi… Seingatku Tetsu tidak pernah menceritakan apapun soal saudara jauhnya…"
"Hmm. Sudah kuduga. Sejak awal kami memang tidak terlalu dekat."
Lalu…
Apa kalian sadar kalau sejak tadi mereka 'mengobrol' di persimpangan jalan — dengan kata lain, — menghalangi para pejalan kaki lainnya?
Akashi menghela napas.
"Kita menghalangi jalan. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan, jadi sebaiknya kita lanjutkan di kafe seberang jalan itu."
Glek.
Aomine kembali salah tingkah. Kalau dia menerima tawaran itu, mungkin dia akan 'diinterogasi' oleh Akashi. Jadi, lagi-lagi, dengan gugup, ia berkata,
"A-Ah, a-aku ada sedikit urusan, j-jadi—"
"Anggap ini sebagai permintaan maafmu karena menabrakku barusan."
Glek.
Kalau Kuroko bisa 'mengintimidasi' Aomine dengan tatapan datar tanpa ekspresinya, maka Akashi juga bisa 'mengintimidasi' Aomine dengan tatapan tajam sepasang mata hetero miliknya.
Jadi, dengan terpaksa, dia pun menyerah dan mengikuti 'Kuroko berambut merah' itu.
0-0-0-0-0
"Jadi… Aomine Daiki…"
Akashi menyesap kopinya perlahan, menatap Aomine tajam seperti polisi yang sedang menginterogasi tahanannya.
"Y-Ya?"
Dan seperti tahanan yang sedang diinterogasi, Aomine menundukkan kepalanya, tidak berani menatap tatapan mata hetero yang benar-benar menusuk itu.
"Tatap mataku, Daiki."
Aomine bisa merasakan semacam aura negatif memancar keluar dari tubuh Akashi.
Oke, mungkin itu sedikit berlebihan. Tapi, seumur hidupnya, ini pertama kalinya Aomine merasa 'takut' pada orang lain.
Dan lagipula, sekarang ia benar-benar seperti tahanan yang tertangkap basah.
Aomine sepenuhnya sadar bahwa Akashi bukanlah tipe orang yang bisa dibohongi. Jadi, jika ia menanyakan alasan perubahan umur Aomine, mungkin Aomine terpaksa harus menceritakan alasan sebenarnya.
"E-Err… Boleh aku ke toilet?"
Akashi meletakkan kopinya kembali ke meja.
"Jangan bercanda. Ini sudah ke-tiga kalinya kau ingin ke toilet hanya dalam jangka waktu lima menit."
"A-Aku tau, tapi… K-Kali ini benar-benar serius…"
Akashi menghela napas dan kembali menatap Aomine lekat-lekat.
"Daiki. Aku tau kau hanya berusaha mengulur waktu untuk menghindari pertanyaanku."
Glek.
"Tapi seharusnya kau tau kalau aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawaban yang pasti dari dirimu."
"Yah, tapi kalau kau memang serius, silahkan. Ini yang terakhir. Setelah ini kau benar-benar harus menjawab pertanyaanku. Mengerti?"
"U-Umm."
Aomine menganggukkan kepalanya dengan canggung dan langsung berjalan ke toilet di sudut kafe.
0-0-0-0-0
Untungnya saat itu toilet sedang kosong.
Aomine berdiri di depan wastafel, memutar keran dan membiarkan air keran membasahi wajahnya.
"Argh. Sial!"
Dia meninju dinding toilet sekuat tenaga, meninggalkan sedikit memar di punggung tangannya.
…
"Sialan kau Akashi!"
"Bagaimana mungkin aku takut pada seorang bocah yang 15 tahun lebih muda dariku?!"
"Ahomine! Ada apa denganmu?!"
"Kau jauh lebih tua dan lebih kuat! Seharusnya kau melawannya!"
"Argh!"
"Baiklah. Aku akan langsung kabur dari sini."
"Tubuh kecil seperti itu tidak akan bisa mengalahkan kecepatanku."
…
Aomine menarik napas panjang, tapi buru-buru membuangnya setelah ingat bahwa yang dihirupnya adalah gas ammonia dari toilet pria ini.
Setelah terbatuk-batuk beberapa kali menyadari betapa baunya toilet pria itu, dengan mantap Aomine melangkah keluar, kali ini benar-benar bersiap untuk langsung mengambil tasnya dari bangku dan langsung berlari keluar, sejauh mungkin.
TA-PI…
Dia tau ada sesuatu yang tidak beres saat melihat Akashi duduk bersandar sambil melipat tangan, dengan sebuah seringai tajam yang menghiasi bibirnya.
Glek.
Seringainya semakin melebar saat melihat Aomine yang berjalan mendekat.
Aomine sudah bersiap menarik tasnya dan berlari keluar, saat dia menyadari sesuatu.
Oh, memang ada yang tidak beres di sini.
Tasnya yang dipenuhi dengan 'senjata' tidak ada di bangkunya.
Ia melihat sekeliling, tapi tidak melihat tasnya dimanapun.
"Oh? Apa kau mencari ini, Aomine Daiki?"
Akashi mengangkat tas Aomine dari bawah meja. Seringai di bibirnya berupa seringai licik, dan ia menatap Aomine dengan tatapan meremehkan.
Mata Aomine melebar melihat tasnya dalam genggaman Akashi. Terlebih lagi karena posisi resletingnya telah berubah — menandakan bahwa tas itu telah dibuka.
****!
Panik.
Kata yang tepat untuk menggambarkan Aomine saat ini. Berbagai kata makian memenuhi kepalanya.
Aomine tak mampu bereaksi.
Akashi PASTI sudah melihat isi tas itu. Rahasia terbesar Aomine Daiki.
Kalau ia gegabah dan melakukan satu kesalahan, rahasia itu akan terbongkar dan semuanya akan hancur. Dia gagal. Masa depan akan hancur.
"Tidak usah terlihat tegang begitu, Daiki. Duduklah."
Saat ini Akashi tidak bisa dibantah. Aomine terpaksa harus menuruti perkataan iblis kecil ini demi menyelamatkan semuanya.
Dengan perasaan bercampur aduk, Aomine kembali duduk. Tatapannya terus melekat pada tasnya, takut kalau Akashi tiba-tiba melakukan hal-hal gila.
Sekedar informasi, di tas itu terdapat berbagai model senapan, pedang, pisau, dan bom. Jika Akashi seenaknya melemparkan tas itu, tekanan dalam tas kemungkinan dapat memicu bom itu dan meledakkannya. Jika ditambah dengan jumlah mesiu dalam tas itu, entah seberapa besar ledakan yang mungkin timbul.
"Apa maumu?" tanya Aomine dengan nada dingin.
"Hmm? Bukankah itu seharusnya menjadi pertanyaanku?"
"Aomine Daiki, apa yang akan kau lakukan dengan senjata sebanyak ini?"
Akashi memelankan suaranya, hampir seperti bisikan.
Aomine yakin Akashi pasti merencanakan sesuatu.
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawab?"
Akashi menaikkan sebelah alisnya, cukup kaget mendengar jawaban Aomine.
"Kau yakin?"
Akashi mengambil ponsel dari sakunya, mengetik nomor kantor polisi setempat dan memamerkannya pada Aomine.
"Apa kau tau? Dengan senjata sebanyak ini, jika kau kulaporkan ke polisi, kau bisa dipenjara, atau… Mungkin dihukum mati?"
"Aku hanya tinggal menekan tombol hijau ini untuk menghancurkan rencanamu dengan senjata-senjata ini."
"Kalau ini memang sesuatu yang sangatlah penting, bukankah akan lebih baik menceritakannya padaku, hmm?"
"Ah, tenang saja. Aku hanya sedang bosan, dan dirimu saat ini kebetulan menarik perhatianku. Aku akan menjaga rahasia ini."
Aomine menggertakkan giginya, menggeram marah.
"Kau…"
"Dasar iblis!"
Akashi hanya tertawa kecil dan mengangkat pundaknya,
"Kuterima pujianmu itu."
"Jadi? Apa kau mau menceritakannya padaku, atau haruskah aku yang bercerita pada para polisi?"
…
"Tenang, Daiki!"
"Kalau kau membiarkannya menang, semuanya akan berakhir!"
"Masih ada hal yang harus kau lakukan, jangan berhenti di sini!"
"Tidak ada cara lain."
"Aku akan menceritakannya, dan berharap agar iblis ini tetap diam."
…
Aomine menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.
"Oh? Apa kau akan bercerita sekarang?"
"Hanya jika kau benar-benar mau tutup mulut soal ini. Aku serius akan membunuhmu kalau kau sampai membocorkan hal ini."
Akashi mendengus. Tidak terlihat takut sedikitpun.
"Tentu."
Aomine merapatkan diri ke meja, merendahkan suaranya, dan mulai menceritakan siapa dia dan apa tujuannya ke sini.
...
Aomine tidak tau iblis seperti apa Akashi itu.
Ia belum menyadari bahwa seorang Akashi Seijuurou 'jauh' lebih mengerikan dari Akashi yang dilihatnya.
Saat itu…
Aomine tidak tau…
Bahwa pilihan yang dibuatnya benar-benar berakibat fatal…
Dan…
…Mungkin akan lebih baik kalau Ia tetap diam dan menyerahkan diri ke polisi…
…Daripada menyerah pada sosok Iblis bernama Akashi Seijuurou…
...
...
-E-N-D-O-F-C-H-A-P-T-E-R-0-2-
...
se-ki-an!
*evil laugh* ada yang bisa nebak siapa Akashi sebenarnya?
menunggu chapter 3 di update, silahkan menebak-nebak lanjutan ceritanya~ :D
pokoknya, di chapter 3 nanti lebih banyak soal AoKi :v
*ehem* ada kemungkinan ini fic jadi bergenre 'romance' *ehem*
ketik kritik, saran, dan komentar kalian di kotak review yaa ^^
