MAAF! Maaf karena updatenya telat. banget.
Karena berbagai alasan author terpaksa hiatus. Dan walaupun chapter ini sejak berbulan-bulan yang lalu udah selesai, baru sempat di post sekarang :')

Maaf membuat kalian menunggu.. T-T

Chapter ini sengaja dibuat agak lebih panjang nih, dan disini 90% soal AoKi, jadi semoga cukup memuaskan buat kalian...

Enjoy!


Disclaimer.

© Tadatoshi Fujimaki


'-The Past, the Future and Us-'


-The Past of the Future- [03]


[Masa Lalu : -15]

Aomine bertemu dengan sosok iblis bernama Akashi Seijuurou yang mengancam akan memberitahukan identitasnya pada pihak kepolisian.

Demi melindungi rahasianya yang menyangkut keselamatan masa depan, Aomine terpaksa harus menceritakan identitas dirinya pada Akashi.

Tapi… Apakah itu keputusan yang tepat?


0-0-0-0-0


Aomine pulang dengan kesal. Sesampainya di rumah, Ia langsung merebahkan diri di tempat tidur. Hari yang benar-benar merepotkan bagi seorang Aomine Daiki.

Pertama, dia harus menghadapi Kise Ryouta yang ternyata sedang sakit dan hampir mati di rumahnya. Lalu dia bertemu bocah sialan bernama Akashi Seijuurou yang benar-benar menyebalkan sehingga Ia terpaksa menceritakan jati dirinya. Bukan hanya itu, saat Aomine selesai menceritakan kisahnya pada Akashi, Akashi pergi meninggalkannya begitu saja, sehingga Aomine terpaksa membayar pesanannya. Sayangnya, Ia tidak membawa uang sepeserpun, jadi Aomine terpaksa bekerja mencuci piring hingga café tutup untuk membayar pesanan Akashi.

Untung saja orang tuanya sedang ada urusan ke luar kota sehingga hanya ada Ia sendiri di rumahnya saat ini. Tidak perlu lagi Aomine pusing memikirkan tempat menyembunyikan senjatanya.

Mungkin Ia memang berlebihan, membawa senjata sebanyak itu. Tapi apa boleh buat? Bayangan "Kise Ryouta" yang ada di benaknya adalah seorang pemuda bengis yang siap membunuh kapan saja. Karena itu Aomine benar-benar kecewa saat mengetahui bahwa Kise Ryouta 15 tahun yang lalu hanyalah seorang pemuda lemah tak berdaya. Sia-sia sudah semua usahanya mati-matian mempelajari seni bela diri dan menguasai berbagai macam senjata selama 2 bulan demi memperkuat diri.

Lelah meratapi nasibnya yang begitu menyebalkan, Aomine menggumamkan kata "Ah sudahlah" sebelum akhirnya Ia memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.


0-0-0-0-0


Keesokan harinya, karena tidak ada rencana apapun, Aomine memutuskan untuk pergi menjenguk 'mangsa'nya, Kise Ryouta. Setidaknya dia harus memastikan agar targetnya itu tidak melarikan diri.

Kali ini Aomine tidak membawa seluruh senjatanya, untuk mencegah peristiwa seperti yang dialaminya dengan Akashi semalam. Ia hanya membawa sebuah pistol mini yang dapat dimasukkannya ke saku celananya. Sementara itu, sisa senjata lain disembunyikannya di sudut terpencil di dalam kamarnya.


0-0-0-0-0


Di tengah jalan menuju rumah Kise, secara tak terduga Aomine bertemu dengan teman-teman sekolah Kise yang pernah bertemu dengannya.

"Ah, hey! Kau temannya Kise-kun yang kemarin bukan?" tanya salah seorang gadis berambut pink panjang berseragam sekolah pada Aomine yang refleks terperanjat kaget.

"Hah? Eh? Apa? Aku?" tanyanya terbata-bata.

"Iya, kau. Bukannya semalam kita bertemu? Kau menanyakan alamatnya pada kami."

Aomine sudah bersiap membantah saat Ia mengingat kembali kejadian semalam.

"O-Oh, iya, aku… T-Temannya… Kise… Terima kasih untuk semalam…" jawab Aomine, berusaha terdengar sesopan mungkin.

"Apa sekarang kau juga ingin mengunjunginya?" tanya siswi itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala canggung dari Aomine.

"Wah! Kebetulan sekali! Sebenarnya aku dan teman-temanku juga ingin berkunjung, tapi saat kami menelepon tadi, Kise melarang kami datang karena dia sedang menunggu seseorang… Padahal kami sudah mempersiapkan bingkisan untuknya…" jelas siswi itu panjang lebar.

"Err… Jadi…?"

"Jadi, karena kami dilarang datang, maukah kau membawakan bingkisan kami dan memberikannya pada Kise nanti?"

Lagi-lagi, Aomine berusaha membantah. Tapi saat Ia melihat ukuran bingkisan yang cukup besar itu, sebuah pikiran licik muncul di benaknya.

Dengan sebuah senyuman yang terlalu dipaksakan, Ia menjawab,
"Ah, tentu saja. Kise pasti sangat senang menerima bingkisan dari kalian. Ah-ahahaha…"

"Kalau begitu, terima kasih banyak!" jawab siswi itu yang kemudian langsung pergi meninggalkan Aomine.

Aomine melanjutkan perjalanannya. Di tangannya kini terdapat sebuah bungkusan besar berisi buah-buahan, snack, coklat, dan beberapa helai bunga. Tentu saja, Aomine bertujuan untuk mengambil semua untuk dirinya sendiri.

Untuk apa dia berbaik hati pada mangsanya?


0-0-0-0-0


Aomine sampai di depan rumah Kise. Tanpa perlu mengetuk, Ia bisa saja dengan santai membobol gerbang serta pintu depan rumah Kise dan melangkah masuk seolah itu rumahnya sendiri, tapi Ia tidak melakukannya. Ada banyak orang di luar, dan Ia tidak mau dicurigai sebagai maling. Jadi Ia memutari rumah Kise dan masuk melalui pintu belakang.

Tidak seperti semalam, kini sang hewan buas tak perlu takut menghadapi mangsanya yang sudah dipastikan tergeletak lemah tak berdaya.

Sama seperti semalam, rumah Kise nampak sepi, gelap, dan kosong, seolah tidak ada orang yang tinggal di dalamnya. Aomine berjalan menuju kamar Kise dengan sedikit rasa enggan. Sesampainya di depan pintu, Ia tidak langsung masuk, melainkan mengintip terlebih dahulu.

Kise tidak sedang berbaring. Ia duduk di sisi tempat tidurnya dan menatap keluar jendela yang dibuka lebar, membiarkan sinar matahari menyinari wajahnya yang nampak pucat dan kurang gizi.

Sesaat, hanya sepersekian detik, rasa prihatin timbul dalam diri Aomine.

Aomine tidak masuk ke dalam. Ia tetap berdiri diam di luar pintu, mengintip ke dalam, mengamati seorang Kise Ryouta yang seharusnya akan mati di tangannya.

Kise tidak menyadari kehadiran Aomine. Ia bangkit berdiri sambil sesekali terbatuk-batuk. Ia berjalan menuju jendela dan menumpukan telapak tangannya di kaca jendela. Tatapannya menerawang keluar, ke gerbang rumahnya, seolah menantikan kedatangan seseorang. Seseorang yang sangat Ia rindukan hingga Ia mampu membuat ekspresi seperti itu.

"Kapan… Dewa kematian itu akan kembali… ya?"

Gumaman Kise itu sontak mengagetkan Aomine.
Bagaimana tidak? Kise menunggunya. Ia menunggu seseorang yang jelas-jelas akan membunuhnya. Ironis.

Namun, entah kenapa, sebuah senyuman kecil terbentuk di bibir Aomine.

"Heh. Dasar idiot."

Aomine tidak bermaksud mengatakannya keras-keras, tapi sepertinya Kise mendengarnya, karena Ia langsung berbalik dan bertanya keras-keras,
"Dewa kematian, kaukah itu?"

Aomine mendorong pintu kamar perlahan, hingga sosoknya kini terlihat jelas oleh Kise.
Mereka berdiri berhadapan. Aomine dengan cengiran mengejeknya, dan Kise dengan tatapan terkejutnya.

"Ya, ini aku."

Kise refleks tersenyum lebar, matanya berbinar-binar bagaikan anak anjing. Seolah-olah dia baru saja melihat malaikat penyelamat, bukannya dewa kematian yang akan membunuhnya.

"Kau… Kembali…" sahut Kise.

"Bodoh. Kau benar-benar idiot. Manusia mana yang senang bertemu dengan orang yang akan membunuhnya?"
Aomine menyilangkan tangannya di dada dan mendengus, antara kesal dan bingung.

"Kau benar-benar kembali…"
Kise seolah tidak mendengar perkataan kasar Aomine. Perlahan dia berjalan menyusuri kamar, menghampiri Aomine, diliputi rasa senang yang berlebihan.

"Hei, apa kau mendengarku? Seharusnya saat ini kau lari ketaku—"

Bruk.

Kise tiba-tiba ambruk ke lantai.

"Eh? O-Oi, Kise?"

Aomine terdiam di tempatnya.

Kise tiba-tiba ambruk di depannya. Napasnya tersengal-sengal.

Bukannya seharusnya Ia senang? Bukankah seharusnya saat ini Ia memanfaatkan kesempatan ini dan langsung menghabisi Kise, jadi Ia bisa kembali ke masa depan dan menikmati kehidupannya?

"Kise, kau kenapa? Oi!"

Lalu kenapa?
Kenapa saat ini Aomine malah menghampiri Kise diliputi rasa khawatir?

"Astaga, suhu badanmu tinggi sekali! Kau bisa mati!"

Bukankah itu hal yang bagus bagi Aomine?

"Tch."

Tapi kenapa Aomine malah bersusah payah menggendong Kise kembali ke tempat tidurnya?

"Ah, dasar bodoh. Kau seharusnya ke rumah sakit."

Mengapa Aomine malah mengambil segelas air dari dapur dan meminumkannya pada Kise?

"Hei, idiot. Cepat bangun."

Apa yang menyebabkan Aomine mau bersusah payah mengambil handuk kecil, merendamnya di ember berisikan air, dan menempelkannya di kening Kise?

Mengapa?

"Dewa kematian… Ada apa?"
Kise perlahan membuka sepasang kelopak matanya, menatap Aomine dengan tatapan sayu.
"Bukankah kau ingin membunuhku?"

"Ah…"

Aomine pun tersadar.

Benar. Mengapa? Mengapa Ia tiba-tiba khawatir akan keadaan Kise? Memang sudah tugasnya untuk membunuh Kise, jadi seharusnya kondisi Kise saat ini menguntungkan Aomine, kan?

Iya…kan?

"Yang sakit diam saja. Tidur sana."

Setelah mengatakan itu, Aomine berjalan keluar, tapi Kise menggenggam pergelangan tangannya. Tidak ada tenaga sama sekali dalam genggaman tangan itu.

"Tunggu. Dewa kematian, apa kau akan pergi?" tanyanya. Lagi-lagi, tatapannya diliputi kesedihan seolah dia akan kehilangan sesuatu yang berharga.

Aomine membenci tatapan itu.
Membuatnya ragu akan jati diri Kise Ryouta yang sangat jahat di masa depan. Tatapan itu membuatnya berpikir bahwa Kise tidak bersalah, dan Ia membenci dirinya sendiri yang berpikiran seperti itu.

"Aku tidak akan pergi." jawabnya, lirih.

Kise melepaskan genggaman tangannya dengan rasa lega yang berlebihan.

"Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku 'Dewa Kematian'. Aku punya nama. Aomine Daiki."

Aomine melangkah keluar kamar, sementara Kise hanya bisa tersenyum lebar di tempat tidurnya.
"Aomine… Daiki… ya?"


0-0-0-0-0


Aomine benar-benar tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Ia sama sekali tidak mengerti alasan mengapa Ia tiba-tiba peduli pada Kise Ryouta, orang yang paling dibencinya di dunia ini.

Semuanya dimulai saat Aomine mengintip Kise tadi.

Sosok Kise yang terpapar sinar matahari, menatap ke luar jendela dengan penuh harap, menunggu dirinya, bahkan hingga mengabaikan kondisinya sendiri…
Sosok itulah yang sesaat membuat Aomine takjub. Membuat Aomine berharap. Berharap bahwa ada seseorang yang benar-benar merindukannya.

Ha. Aomine tidak seharusnya menjadi lemah dan memikirkan hal-hal seperti itu. Tapi apa boleh buat? Di masa depan, semua orang yang disayanginya telah tiada. Tak ada satupun orang yang membutuhkannya, apalagi merindukannya. Tak pernah lagi dirasakannya kasih sayang dari orang lain.

Maka dari itu, saat melihat sosok Kise… Secercah harapan muncul dalam diri Aomine.

Oh, mungkinkah Kise tidak pergi ke rumah sakit karena Ia ingin menunggu kedatangan Aomine?

"Ah, sial."

Aomine membenturkan kepalanya ke dinding. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman lebar yang refleks terbentuk saat pikiran itu muncul.

"Bodoh. Ahomine. Hentikan itu. Kau harus fokus pada misimu. Fokus."

Namun Aomine gagal fokus. Di benaknya terus melekat bayangan sosok Kise. Kise yang merindukannya, Kise yang ingin bertemu dengannya, Kise yang—

"Sial!"

Lagi-lagi, Aomine membenturkan kepalanya ke dinding.

"Fokus. Ingat tragedi itu. Ingat kembali kesedihan yang kau rasakan, Aho. Ingat kembali berapa banyak nyawa yang hilang karena ulah bocah itu."

Aomine menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya.
Dia terlalu berusaha mengingat segalanya, hingga semua bayang-bayang mengerikan tragedi itu mengalir kembali dalam ingatannya bagaikan air terjun, menyerangnya dengan berbagai ingatan buruk yang sebenarnya ingin dilupakannya.

Sebagai hasil, air mata menggenang di pelupuk matanya.

Sebelum Ia sempat menghapus air matanya, suara –bruk- cukup keras terdengar dari kamar Kise, membuat Aomine langsung berlari menghampirinya tanpa sempat berpikir ulang.


0-0-0-0-0


Kise terjatuh dari tempat tidurnya saat Ia berusaha keras untuk bangun. Suhu tubuhnya benar-benar tinggi. Napasnya terengah-engah, kepalanya terasa sangat sakit seolah dipukuli oleh benda tajam. Pandangannya kabur dan seluruh tubuhnya terasa kebas.

Saat Ia berusaha bangkit dengan susah payah, pintu kamarnya dibanting terbuka, menampakkan sosok Aomine Daiki, sosok orang yang didambanya.

Seketika itu juga, sebuah senyuman otomatis terbentuk di bibir Kise. Untuk sesaat, Ia melupakan seluruh rasa sakit di tubuhnya.
"A-Aominecchi…" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Aomine tampak sangat panik. Ia berlutut di samping Kise dan berusaha menggendong tubuhnya kembali ke tempat tidur.
"Bodoh. Sudah kubilang yang sakit tidur saja kan? Apa yang kau pikirkan hah?!"

Ia membaringkan tubuh Kise di tempat tidurnya dan menempelkan tangannya di kening Kise.
"Tch. Kau demam parah. Harus segera dibawa ke rumah sakit."

Saat Aomine panik, Kise perlahan mengangkat sebelah tangannya dan mengusap air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata Aomine, hampir jatuh mengalir membasahi pipinya.
"Jangan menangis…" bisiknya dengan suara parau.

Mata Aomine melebar saat rasa paniknya digantikan dengan sesuatu yang lebih menyakitkan.
"Ah…"

Berbagai kenangan buruk menghantam dirinya.

Kejadian ini sama persis seperti kejadian di masa depan.


Saat tragedi itu terjadi.
Kuroko berada di ambang kematian, dengan setengah bagian tubuh tertimpa reruntuhan bangunan dan darah mengucur dari kepalanya. Aomine beruntung bisa selamat dari ledakan besar itu. Ia hanya bisa berlutut di samping Kuroko sambil menangis meraung-raung, berteriak meminta pertolongan.

Namun sia-sia saja. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah lautan api yang melahap habis apapun yang ada di hadapannya, dengan mayat bergelimpangan dimana-mana.

Saat itu, saat Aomine merasa dunianya hancur, dan saat semua miliknya telah direnggut paksa dari dirinya, dengan sisa tenaga yang dimilikinya Kuroko mengangkat sebelah tangannya dan mengusap air mata Aomine.

"Jangan menangis…" bisiknya dengan suara parau.
Dan Kuroko pun pergi, menghilang selamanya dari dunia Aomine.

Pergi ke dunia lain dimana Aomine tidak akan bisa menggapainya…


Aomine serasa dilempar kembali, dihadapkan kembali pada dunia nyata. Dunia nyata miliknya dimana dia tidak memiliki apapun lagi.

Trauma. Rasa takut dan kesedihan itu menumpuk menjadi satu, dan tanpa Ia sadari, air matanya mengalir semakin deras. Ia menangis bagai anak kecil.

Di hadapan Kise Ryouta, orang yang menghancurkan hidupnya.


0-0-0-0-0


Kise tidak mengatakan apapun. Ia hanya bisa diam, sambil sesekali mengelus kepala Aomine yang menangis di sisi tempat tidurnya.

Ia tahu benar bahwa air mata itu bukan ditujukan untuk dirinya. Namun ada suatu perasaan dalam dirinya yang membuatnya merasa bersalah. Mungkin Ia memang bersalah. Tanpa sadar, sepertinya Kise telah membuat Aomine mengingat sesuatu yang seharusnya telah dilupakannya. Sesuatu yang sangat, sangat menyakitkan hingga membuat Aomine menangis meraung-raung seperti anak kecil. Terlebih lagi, Aomine menangis di depan dirinya, seorang Kise Ryouta yang menjadi objek kebenciannya.

Seberapa menyakitkan kah hal itu hingga Aomine mau menangis di hadapannya?

Aomine tidak peduli lagi keadaan di sekitarnya. Ia tidak peduli lagi bahwa Ia sedang menangis di hadapan Kise Ryouta. Atau lebih tepatnya, Ia tidak punya tenaga untuk memikirkan hal-hal itu sekarang.

Pikiran Aomine dipenuhi oleh kenangan-kenangan buruk yang selama ini selalu menghantuinya. Kenangan buruk itu mengalir deras tanpa henti bagaikan air terjun yang menghantamnya dengan berbagai rasa pahit, rasa sakit yang rasanya mencabik-cabik tubuhnya, membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Meskipun saat ini Aomine sadar bahwa penyebab semua rasa sakit itu adalah Kise Ryouta, orang yang sedang mengelus-elus kepalanya dengan lembut saat ini, tapi Ia tidak berniat untuk melepaskan diri. Ia membiarkan Kise, sementara Ia masih menangis tersedu-sedu di pinggir tempat tidur.

Aomine tidak peduli kalau dia adalah Kise Ryouta. Saat ini Ia hanya ingin membiarkan dirinya hanyut dalam perasaannya. Rasa sedih dan pahit yang ditahannya selama ini dibiarkannya tumpah. Tumpah di hadapan pemuda berambut pirang yang sudah menghancurkan dunianya, namun sekarang malah memberinya secercah harapan dan menyelimuti Aomine dengan ketenangan dan kehangatan dari kepeduliannya — dari tangannya yang mengelus kepala Aomine dengan lembut dan sesekali mengusap punggunya, membisikkan kata-kata penghiburan, yang walaupun tidak dapat ditangkap oleh Aomine di tengah tangisannya, namun masih memberi ketenangan yang diperlukannya.


...

Saat itu, sebuah pertanyaan muncul di benak Aomine,

'Akankah aku sanggup membunuh pemuda ini nantinya?'

...


Saat Aomine membuka matanya, Ia ada di sofa.

Ia membuka matanya dengan malas, melihat sekelilingnya, dan merasa bingung dengan suasana yang hampir terasa familiar baginya namun juga terasa asing.

Perlu waktu beberapa detik hingga tatapan Aomine tertuju pada pemuda berambut pirang yang nampaknya sedang tertidur pulas di tempat tidurnya, berseberangan dengan letak sofa di ujung kamar.

"Kise?"

Oh.

Saat itulah baru Aomine mengingat kejadian sebelumnya.
Ia menangis. Parah. Dan Kise menemaninya meskipun kondisinya sendiri sama sekali jauh dari kata 'baik'. Tak lama kemudian, sepertinya Aomine tertidur di sela-sela tangisnya.

Apa Kise yang memindahkannya ke sofa ini?

"Ah, si bodoh ini."

Aomine menggaruk kepalanya, kesal. Namun saat Ia melihat sosok Kise yang tertidur pulas, sebuah senyuman kecil terbentuk di bibirnya. Entahlah, mungkin sang hewan buas ini kehilangan nafsu makannya dan memutuskan untuk membiarkan mangsanya bebas sementara? Mungkin.

Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju tempat tidur. Aomine menunduk dan menempelkan tangannya ke kening Kise. Hangat. Tidak sepanas sebelumnya, tapi sama sekali belum bisa dibilang membaik. Napas Kise masih sedikit tersengal-sengal dan wajahnya masih terlihat pucat.

Aomine melihat sekelilingnya dan menghela napas panjang.

Astaga, kamar ini benar-benar berantakan.

Aomine berpikir sejenak sebelum akhirnya berjalan keluar kamar, merasa sedikit ringan karena sebagian kecil bebannya telah terlepas. Jujur saja, Ia sedikit menghargai Kise yang tetap diam dan tidak menanyakan apapun soal dirinya yang tiba-tiba menangis. Malahan Kise berusaha menenangkannya di tengah rasa sakitnya sendiri.

Lagi-lagi, sebuah senyum terbentuk di bibir Aomine.


...

Karena bahkan seekor hewan buas tahu cara berterima kasih.

...


Saat Kise membuka matanya, Ia ada di atas tempat tidurnya.

Pandangannya kabur, dan Ia harus mengedipkan dan mengusap matanya beberapa kali untuk bisa melihat dengan jelas. Kepalanya masih terasa pusing, namun tidak separah sebelumnya. Kini tubuhnya terasa hangat, padahal tadi terasa sangat panas.

Mulutnya terasa pahit. Saat Ia mengecap mulutnya, Ia merasakan rasa pahit yang lumayan familiar, lalu mengernyit.

Obat. Obat yang biasa diminumnya. Tapi seharusnya obat itu sudah habis dua hari yang lalu dan Kise sama sekali tidak menyimpan persediaannya. Lagipula, kenapa rasa obat itu tiba-tiba terasa di mulutnya?

Kise menggerutu, mengomentari bagaimana penyakitnya mungkin sudah membuatnya berhalusinasi. Ia memutar tubuhnya di tempat tidur untuk menghadap sisi kamarnya, namun apa yang dilihatnya seketika membuatnya terkesima, diikuti dengan sebuah senyum lalu sebuah tawa kecil.

Kamarnya — yang seharusnya sangat, sangat berantakan — kini sudah rapi. Barang-barang disusun di tempat yang sesuai, dan tidak ada pakaian kotor yang berceceran di lantai. Memang tidak terlalu rapi, tapi setidaknya jauh lebih rapi dan lebih layak ditempati daripada kondisi sebelumnya. Pada meja di samping tempat tidur terdapat sebotol obat.
Lantainya sudah disapu bersih, dan jendela yang tadinya berabu kini sudah bersih mengkilap. Penghangat ruangan yang tadinya tidak ada kini bertengger di tengah kamar, memancarkan suhu hangat yang benar-benar nyaman. Dari jendela tampak suasana di luar yang sudah mulai gelap.

Kise menggeliat di tempat tidurnya, menikmati kenyamanannya. Ia baru menyadari ada beberapa lapis selimut baru di tempat tidurnya. Dan walaupun flunya sedikit menggangu penciumannya, Kise bisa mencium aroma pengharum ruangan baru yang diletakkan di meja di ujung kamar.

Sebuah senyum merekah di bibirnya. Siapa lagi yang mau melakukan semua ini untuknya?

Ia mengedarkan pandangannya dan sedikit kecewa saat sofa tempat Aomine sebelumnya berada sekarang sudah kosong. Dan Ia mulai panik saat menyadari bahwa rumahnya terasa sepi dan kosong. Seberapa keraspun Ia berusaha mendengarkan, tidak ada suara sama sekali dari luar. Kosong. Ia sendirian. Lagi.

Seketika, rasa takut meliputinya. Ia benci sendirian. Ia takut. Hari sudah malam dan keadaannya bisa memburuk kapan saja. Kise takut. Takut membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada yang bisa menolongnya saat Ia sekarat nanti. Dalam keadaannya saat ini, Ia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong dirinya sendiri, dan Kise sadar kalau penyakitnya ini bukanlah penyakit biasa.

Rasa takut itu memacu jantungnya, membuatnya sedikit sulit untuk bernapas. Dengan sedikit tergesa-gesa, Kise bangkit dari tempat tidurnya. Namun gerakan tiba-tiba itu mengganggu aliran darahnya dan seketika mengaburkan pandangannya. Kise semakin panik. Kepalanya berdenyut parah dan pandangannya tetap kabur meskipun Ia sudah mengedipkan matanya berkali-kali. Napasnya memburu dan seketika tubuhnya terasa berat untuk digerakkan. Matanya melebar saat Ia menyadari beberapa helai rambut yang rontok di bantalnya.

Kise memejamkan matanya, meringis kesakitan saat rasa nyeri menyebar ke seluruh tubuhnya.
Rasa sakit, takut dan panik bercampur menjadi satu, dan Kise tidak mempunyai tenaga untuk menghentikan air mata yang membasahi pelupuk matanya dan mulai mengalir membasahi pipinya.

"Ao..mine..cchi…"

Di tengah rasa sakit yang menggerogoti setiap jengkal tubuhnya, yang ada di pikirannya hanyalah sesosok pemuda berambut biru. Pemuda yang datang entah darimana, yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya, yang sangat misterius namun dapat memberikan rasa aman pada dirinya yang tak berdaya.

Seorang Aomine Daiki yang entah kenapa selalu melekat di dalam pikirannya. Di saat Ia sendirian tanpa ada seorang pun yang datang menjenguknya, orang asing ini malah datang dan seenaknya saja masuk ke dalam kehidupannya. Ia memberikan setetes warna baru dalam kehidupan Kise. Suatu campuran warna yang aneh, namun entah kenapa, Kise enggan menghapus warna itu dari hidupnya.

"A..o..mi..ne..cchi…"

Gumaman yang keluar dari mulutnya terdengar sangat serak, bahkan hampir tidak terdengar. Ia menangkupkan kepala di lututnya dan menggeram, menahan rasa sakitnya.

Bagaikan dapat merasakan kesedihannya, langit malam di luar mulai kehilangan cahayanya. Awan menutupi cahaya bulan dan bintang, gemuruh petir samar-samar terdengar di kejauhan, dan rintik-rintik tetesan air hujan pun turun perlahan.

Di tengah isakan tangisnya, Kise melingkarkan tangannya di tubuhnya, mencoba untuk meredam setidaknya sedikit saja rasa sakit yang dirasakannya. Tetes hujan yang tadinya hanya berupa gerimis lama-kelamaan turun semakin deras. Suara dentuman air memenuhi kesunyian rumahnya, menciptakan keributan yang tidak menenangkan, melainkan terasa menakutkan bagi Kise yang sedang tidak berdaya. Suara hujan meredam semua suara, bahkan suara mobil yang lalu lalang saja hampir tidak terdengar lagi.

Seolah itu saja belum cukup menyiksanya, sumber cahaya di kamarnya saat itu mendadak redup. Kini lampu itu hanya memancarkan cahaya remang-remang yang hanya bisa menyinari sebagian kecil kamarnya.

Kise tersentak, rasa takut tiba-tiba menyerangnya seiring dengan kegelapan yang datang mendadak. Ia menengadah, mengedarkan pandangannya ke penjuru kamarnya, mencari sumber cahaya pengganti apapun yang bisa menggantikan lampunya yang sepertinya akan padam beberapa saat lagi.

Namun usahanya sia-sia. Pandangannya yang masih agak buram dan kondisi kamarnya yang gelap membuatnya tidak bisa mengenali barang-barang di kamarnya. Bayangan-bayangan benda mulai terlihat seperti makhluk-makhluk menyeramkan. Ia menggigit bibir bawahnya yang gemetaran seraya mencoba perlahan untuk menggerakkan tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Saat Ia baru saja menapakkan kakinya di lantai dan mencoba untuk berdiri, seketika rasa sakit menyerang setiap saraf di tubuhnya, membuat Kise meringis kesakitan. Kakinya yang tidak kuat menopang beban tubuhnya terasa bagaikan ditusuk ribuan jarum dan kepalanya berdenyut begitu hebat hingga Kise kehilangan tenaganya dan jatuh terjerembab di lantai kamarnya.
Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk bangun.

Kemana perginya semua orang saat Ia membutuhkannya?

Rasa sakit di sekujur tubuhnya sangat menyiksanya; kegelapan yang mendadak datang membuat rasa takut menyelimutinya; kesunyian, kesepian, dan kesendiriannya mencampurkan rasa takut, sakit, dan panik menjadi satu, membuatnya benar-benar tak berdaya. Ia hanya bisa menangis…

…Hingga pintu kamarnya terbuka, menampakkan sesosok pemuda berambut biru yang membawa harapan baru bagi dirinya.

"Kise!"


...

Oh, dewa kematian memang selalu tepat waktu…

...


Karena hujan yang mendadak turun, Aomine mempercepat langkahnya. Satu tangan berusaha menutupi kepalanya dari tetesan hujan, sementara yang satunya lagi menenteng beberapa kantong plastik. Ia berlari di trotoar dengan hati-hati, sesekali mengecek isi kantong plastik yang dibawanya; berhati-hati agar isinya tidak terkena hujan.

Saat rumah sederhana berplat 'Kise Ryouta' itu sudah dalam sudut pandangnya, Ia tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya. Buru-buru Aomine membuka gerbang dan melangkah masuk dari pintu depan. Setelah kembali mengunci pintu, Ia membuka jaketnya yang sudah basah total dan meletakkannya sembarang di sofa, lalu berjalan ke dapur dan meletakkan kantong plastiknya di meja makan.

Sambil bersiul ringan, Ia mengeluarkan satu per satu isi kantong yang dibawanya; beberapa jenis obat-obatan, beberapa kotak susu, beberapa botol air mineral, dan bubur.

Aomine mengambil satu mangkok berukuran sedang dari rak piring dan mulai memindahkan bubur. Saat Ia baru saja akan menuangkan susu ke gelas yang diambilnya, Aomine tersentak kaget saat tiba-tiba lampu di ruangan itu redup. Ia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali kotak susu itu dan cepat-cepat melangkah keluar. Hanya ada satu hal di benaknya saat itu,

"Kise…"

Rasa khawatir meliputinya saat Ia mendengar isak tangis dari arah kamar Kise. Sebelumnya Aomine mengira Kise masih tertidur pulas, dan Ia bermaksud untuk menyediakan makan malam terlebih dahulu sebelum membangunkannya. Tapi apa Ia pergi terlalu lama? Apa Kise baik-baik saja?

Berbagai pikiran berkelebat di benaknya, hingga suara debaman terdengar dari dalam kamar dan Aomine terdiam sesaat sebelum memperlebar langkahnya menuju kamar Kise.

Saat Ia membuka pintu, di hadapannya tampak sosok Kise yang jatuh terjerembah di lantai. Isakan tangis dapat terdengar, dan Aomine dapat melihat dengan jelas tubuhnya yang gemetaran, keringat dingin yang mengucur dari pelipisnya, dan ekspresi kesakitan di wajahnya.

"Kise!"

Dengan sigap Ia menghampiri Kise yang tergeletak lemas. Ia menempelkan punggung tangannya ke kening Kise dan meringis saat merasakan rasa hangat yang hampir sama seperti sebelumnya. Aomine mengangkat tubuh Kise dengan hati-hati dan menidurkannya kembali di tempat tidur.

Cahaya kilat dari luar yang masuk dari jendela sekilas menerangi seluruh isi kamar, diikuti dengan gemuruh petir yang memekakkan telinga, dan tepat saat itu juga, seluruh lampu di rumah itu padam seketika. Meninggalkan mereka berdua di kegelapan malam.

Aomine tidak bisa melihat apa-apa. Jantungnya berdegup kencang, panik meliputi dirinya. Di tengah kegelapan, Ia mengecek kembali keadaan Kise dengan tangannya. Detak nadinya mulai melemah, demamnya belum membaik, tubuhnya gemetaran, keringat dingin membasahi tubuhnya, dan walaupun Ia sedang demam parah, telapak tangannya terasa dingin, sangat dingin.

"Bertahanlah…"

Aomine meringis saat Ia tidak mendengar jawaban apapun, melainkan hanya berupa isak tangis yang hanya bisa samar-samar didengarnya di tengah derasnya suara hujan yang menggema di seluruh penjuru rumah.

Ia mengedarkan pandangannya, berusaha membiasakan penglihatannya dengan kegelapan rumah saat itu. Aomine menggenggam erat kedua tangan Kise dan berkata,

"Tunggu sebentar, aku akan mencari lilin. Kau, tetaplah disini. Jangan. Turun. Dari. Tempat. Tidur. Lagi."

Aomine memberi penekanan pada setiap kata, menyatakan sebuah perintah absolut. Mengingat bahwa ini kedua kalinya Ia menemukan Kise jatuh tergeletak di lantai, Ia tidak mau tindakan ceroboh itu nantinya malah semakin memperburuk keadaan bocah ini.
Namun seketika itu juga, suaranya melembut dan Aomine melonggarkan genggaman tangannya seraya menghela napas panjang dan berkata,

"Kumohon."

Sebuah senyum kecil terbentuk di bibirnya saat Ia samar-samar melihat Kise menganggukkan kepalanya. Aomine melepas genggaman tangannya dan bangkit berdiri, berjalan menelusuri kamar sambil meraba-raba, mencari apapun itu yang dapat dijadikan penerang di tengah kegelapan ini. Sesaat Ia mengutuk dirinya sendiri karena meninggalkan ponselnya di rumah.

Tidak menemukan apapun di dalam kamar, Aomine berjalan ke luar. Dari kegiatan bersih-bersihnya tad, Ia sudah cukup mengenal rumah ini. Cukup sederhana. Setidaknya Aomine sudah tahu dimana letak barang-barang, jadi dia tidak akan bertabrakan di kegelapan ini.

Di ruang depan Ia menemukan sesuatu yang bergelimang di sofa. Saat menghampirinya, Aomine tersenyum lebar saat mengetahui bahwa itu adalah mancis. Sebuah mancis berukuran sedang dengan ukiran-ukiran kayu aneh ditempel pada kacanya yang berwarna hijau terang.

Entah kenapa terasa familiar.

Aomine mengambil mancis itu dan menimangnya di tangannya. Keningnya mengerut saat ingatannya mengenali benda milik Kise yang seharusnya belum pernah dilihatnya ini.

"Dimana aku pernah melihat ini ya..?"

Aomine menelusuri ukiran di mancis unik itu dengan jarinya. Gerakannya terhenti saat sampai di bagian bawah, dimana terdapat ukiran lengkungan membentuk lambang zodiak Cancer.

"Eh, bukannya ini milik Midorima…?"


"Hei, Midorima. Aku tidak tahu kalau kau merokok."

"Hah? Aku tidak merokok-nanodayo."

"Jadi kenapa kau membawa mancis hijau aneh itu kemana-mana?"

"Mancis ini pemberian ibuku. Lihat, ukiran kayu yang ditempel disini diukir olehnya. Ini, di dasarnya ada lambang Cancer, bintangku. Mancis keberuntungan ini hanya ada satu di dunia-nanodayo. Beliau meninggal di ledakan besar itu, jadi aku selalu membawa ini kemanapun."

"Oh.. Maaf."


Kerutan di kening Aomine kian bertambah. Kenapa milik Midorima bisa ada di rumah Kise? Isi di dalamnya masih ada setengah, dan kalau ingatan Aomine tidak salah, terakhir kali Ia melihat mancis ini di masa depan, isinya juga tinggal setengah, sama banyaknya dengan sekarang.

Gemuruh suara petir yang menyambar-nyambar menyadarkan Aomine dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya dan membawa mancis itu dalam genggamannya seraya berjalan ke dapur untuk mengambil lilin.


0-0-0-0-0


Aomine kembali ke kamar dengan lilin yang menyala di tangannya. Ia meletakkan lilin itu di meja kecil di samping tempat tidur Kise dan kembali berjalan ke dapur untuk mengambil bubur dan susu yang tadi sudah disiapkannya.

Kise hanya bisa menunggu dalam diam. Tubuhnya menolak untuk bergerak dan tenggorokannya terlalu sakit untuk memproduksi suara. Ia hanya bisa menunjukkan sebuah senyuman saat Aomine kembali ke kamarnya dengan semangkok bubur di satu tangan dan segelas susu di tangan satunya lagi.

Aomine menarik sebuah kursi ke samping tempat tidur lalu duduk.

"Kau pasti kelaparan. Ini bubur dan susu. Di dapur masih ada buah-buahan dan snack, pemberian teman-teman sekelasmu. Aku juga sudah membeli obat-obatan, walaupun, yah… Aku belum tahu pasti apa penyakitmu, jadi aku tidak yakin itu akan membantu atau tidak."

Kise membuka mulutnya, mengucapkan 'terima kasih', namun yang keluar hanyalah suara serak yang tak dapat dimengerti. Aomine membalasnya dengan sebuah senyuman.

"Kau bisa makan sendiri?" tanya Aomine.

Kise menoleh ke tubuhnya yang kini malah mati rasa setelah serangan rasa sakit tadi. Ia mencoba mengangkat tangannya, namun tangannya gemetaran dan kembali jatuh ke tempat tidur.

Ia menggelengkan kepalanya.

"Baiklah, tidak masalah."

Aomine menopang tubuh Kise perlahan untuk mendudukkannya di tempat tidur. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, seperti mengangani barang pecah belah yang mudah hancur.

Dengan perlahan pula Aomine mengambil sendok demi sendok bubur itu dan menyuapkannya ke mulut Kise yang makan dengan lahap.

Hangat.

Entah darimana rasa hangat itu berasal. Bagi mereka berdua, hujan deras, petir, dan angin malam sudah tidak terasa dingin lagi. Di tengah kegelapan malam itu, segalanya terasa hangat. Kehangatan yang sangat menenangkan, menghilangkan segala rasa takut dan sakit dari diri mereka.

Di saat-saat seperti ini, untuk sesaat, Aomine meragukan dirinya sendiri dan tujuannya kembali ke masa lalu.


...

Apa dia benar-benar harus membunuh Kise Ryouta?

Apa Kise memang dalang di balik tragedi di masa depan itu?

Tidak adakah cara lain untuk memperbaiki semuanya?

Bagaimana kalau dia memberitahu Kise tentang masa depan?

Akankah ada yang berubah?

...


"Hey… Kise…"

Aomine meletakkan mangkuk yang sudah kosong ke meja di sampingnya dan menyodorkan segelas susu pada Kise yang langsung meminumnya dalam satu tegukan.

"Ya?" jawabnya dengan suara yang hampir kembali normal.

"A-Apa… Apa kau tertarik… Atau tahu sesuatu tentang… bom nuklir…?"

Kata per kata diucapkan Aomine dengan hati-hati. Ia duduk dengan gelisah, dan Ia bahkan tidak sanggup menatap pemuda di hadapannya itu.

Kise memiringkan kepalanya. Wajah polosnya menunjukkan ekspresi bingung.
"Bom nuklir? Uhh, setidaknya aku tahu itu apa. Tapi aku tidak tertarik."

"Bukan itu, maksudku… Apa kau tahu sesuatu tentang bom nuklir yang benar-benar ada? Atau yang sedang dibuat, atau… Uhh, intinya, bom nuklir yang mungkin akan meledak atau diledakkan beberapa tahun lagi… Apa kau tahu sesuatu soal itu?"

Aomine menggigit bibirnya. Ia sedang meracau. Seharusnya misinya ini menjadi rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapapun. Tapi mengapa Ia malah bertanya pada sang pelaku? Bagaimana kalau Kise yang dikenalnya ini hanya berpura-pura polos? Bagaimana kalau sebenarnya Aomine malah sudah jatuh ke dalam perangkapnya?

Aomine memejamkan matanya. Jantungnya berpacu dengan napasnya yang memburu. Ia gugup. Gugup menantikan jawaban dari Kise. Di satu sisi Ia berharap kalau Kiselah pelakunya, supaya Ia bisa cepat menyelesaikan misi ini dan kembali ke masa depannya yang akan menjadi cerah. Di sisi lain, Ia tidak ingin pemuda ini yang menjadi orang yang sudah menghancurkan hidupnya. Tidak, semoga bukan dia. Sisi manusiawi Aomine mengasihani Kise yang sudah memberi kehangatan pada dirinya yang jatuh dalam kegelapan dan kesendirian.

"E-Eh? Bom nuklir yang akan meledak? H-Hey, itu berbahaya kan? Apa akan ada bom nuklir yang meledak? W-Wah, Aominecchi, apa kau serius?"

Wajah polos Kise menunjukkan ekspresi kaget dan panik. Tak ada sedikitpun kebohongan tersirat dalam wajah maupun perkatannya.

Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Aomine. Pikirannya dipenuhi segala kemungkinan, namun wajahnya refleks membentuk sebuah senyuman kecil. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.

Aomine tidak tahu harus melakukan apa. Tugasnya adalah membunuh Kise Ryouta yang memanfaatkan sebuah bom nuklir untuk menghancurkan sebagian kepulauan Jepang tanpa alasan yang jelas. Asal usul bom itu sendiri tidak diketahui, dan bagaimana cara pemuda sepertinya bisa mendapatkan barang berbahaya itu pun tidak diketahui. Semua kejadian itu penuh misteri, namun satu hal yang pasti adalah bahwa pelaku utamanya adalah Kise Ryouta.

Namun Kise Ryouta yang ada di hadapan Aomine sekarang hanyalah seorang pemuda polos yang sedang sakit parah, tanpa pengetahuan sedikitpun tentang bom nuklir.

Bagaimana mungkin Aomine bisa membunuhnya? Bagaimana kalau semua ini hanyalah sebuah kesalahpahaman besar? Mungkin saja Kise ditipu oleh orang lain. Mungkin saja ada pihak lain yang terlibat, mungkin—

"Aominecchi? Kau baik-baik saja?"

Suara Kise menyadarkan Aomine dari lamunannya. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Kise yang dipenuhi sorot rasa khawatir.

"Kise…"

—Mungkin… Aomine hanya perlu memastikan agar semua itu tidak akan terjadi…

"Kise… Berjanjilah satu hal padaku."

Kise tampak kaget mendengar perkataan Aomine. Namun melihat wajahnya yang serius dan terlihat sedih, Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.

"Berjanjilah untuk tidak pernah berhubungan dengan bom atau senjata lainnya. Jangan dekati hal-hal berbahaya seperti itu. Kumohon. Kumohon berjanjilah untuk tetap menjadi pemuda biasa yang tidak tahu-menahu soal kekejaman dunia ini. Berjanjilah untuk tetap menjadi dirimu yang seperti ini, Kise… Kumohon…"

Aomine kembali meracau. Ia tahu kata-kata yang diucapkannya hanyalah omong kosong belaka. Siapa saja bisa mengucapkan janji, tapi hanya ada sedikit yang betul-betul bisa melaksanakan janji.

Kise terdiam. Aomine terlihat begitu sedih. Ia tidak ingin melihat kesedihan itu di wajah penyelamatnya.
Mengapa? Apa yang telah melukainya begitu dalam? Kise bersedia melakukan apapun untuk menghapus kesedihan itu. Ia ingin, sekali saja, melihat Aomine tertawa. Ia ingin melihat pria ini bahagia. Apa yang bisa dilakukannya?

"Kumohon, Kise."

Kise menepuk kepala Aomine dengan tangannya dan mengelus-elus rambutnya. Ia memasang senyuman terbaiknya dan berkata, "Aku berjanji."

Dua kata itu secara ajaib sanggup mengangkat beban Aomine yang selama ini mengekangnya dengan rasa takut. Dua kata itu mampu menyebarkan rasa hangat di sekujur tubuhnya. Hanya kata-kata sederhana yang bisa diucapkan siapa saja, namun bagi Aomine itu sangat berarti. Mungkin Ia terlalu naïf karena terlalu mempercayai kata-kata seperti itu, namun Aomine bisa merasakan kejujuran di balik suara serak Kise. Pemuda ini tidak akan berbohong.

Aomine mengangkat tangan Kise dari kepalanya dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Ia menatap Kise dalam-dalam, dan sebuah senyuman mulai terbentuk di bibirnya. Senyuman yang akhirnya berubah menjadi sebuah cengiran lebar yang memancarkan kebahagiaan bagaikan anak kecil yang diberi kado.

"Terima kasih, Kise."


0-0-0-0-0


Saat Aomine membuka matanya, Ia ada di sofa.

Ia membuka matanya dengan malas dan menguap lebar.

Perlu waktu beberapa detik hingga tatapan Aomine tertuju pada pemuda berambut pirang yang nampaknya sedang tertidur pulas di tempat tidurnya, berseberangan dengan letak sofa di ujung kamar.

Bibirnya refleks membentuk sebuah senyuman kecil.

Aomine bangkit dari sofa dan berjalan ke jendela lalu membukanya. Sinar matahari pagi yang menyilaukan memaksanya untuk menyipitkan mata, membiasakan diri dengan cahayanya.

Di luar hujan sudah berhenti. Angin pagi berhembus sepoi-sepoi, tanaman menitikkan sisa air hujan dan udara terasa begitu segar.

Aomine berjalan ke tempat tidur Kise dan menempelkan tangannya ke kening Kise. Hangat. Untunglah demamnya sudah menurun. Wajahnya terlihat begitu damai dalam tidurnya. Tanpa suara Aomine berjalan ke dapur dan menyiapkan segelas susu hangat. Tak lupa diambilnya beberapa butir vitamin yang semalam dibelinya. Apoteker bilang vitamin itu bisa meredakan rasa sakit, jadi Aomine membelinya.

Kembali ke kamar, Ia duduk di sisi tempat tidur. Dengan perlahan Ia mengguncang pundak Kise sambil berbisik, "Kise, hey, sudah pagi. Bangunlah."

Kise menggeliat di tempat tidur sebelum akhirnya membuka matanya dengan malas. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Aomine, dan Ia refleks tersenyum mengatakan, "Selamat pagi, Aominecchi."

Aomine membantu Kise bangun dan mendudukkannya di tempat tidur. Ia menyodorkan vitamin dan segelas susu pada Kise yang meskipun mengernyit melihat obat-obatan itu, namun akhirnya memakannya juga.

"Hey, aku akan pergi sebentar membeli sarapan. Kau ingin makan apa?" tanya Aomine dengan lembut.

Entah sejah kapan mengurus Kise yang sedang sakit menjadi hal yang biasa baginya. Kise sudah berjanji, tapi Aomine tidak bisa pergi kembali ke masa depan begitu saja. Setidaknya Ia harus memastikan kalau pemuda ini sehat kembali sebelum Ia kembali.

"Hmm… Sup." jawab Kise singkat.

"Baiklah."

Aomine bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya. Setelah memastikan bahwa keadaan kamar Kise sudah cukup nyaman untuk ditempati, Ia berjalan ke pintu.

"Hey… Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, jadi untuk beberapa hari ini sepertinya aku akan tinggal disini. Jadi aku akan kembali sebentar ke rumahku untuk mengambil beberapa barang. Mungkin akan memakan waktu, tapi aku janji tidak akan terlalu lama."

Melihat ekspresi sedih di wajah Kise, Aomine menghela napas dan kembali menghampirinya. Ia mengelus kepala Kise sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Aku berjanji aku akan kembali. Tidak akan lama. Tolong jaga dirimu baik-baik. Jangan memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur, oke? Kalau kau merasa sakit, obat yang kuletakkan di meja ini bisa mengurangi rasa sakitmu. Aku akan segera kembali. Jangan khawatir."

Kise tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. Ia tahu Aomine tidak akan berbohong, namun sebuah firasat dalam dirinya menyuruhnya untuk menahan pemuda itu agar tidak pergi. Sebuah firasat buruk muncul dalam dirinya, dan itu membuatnya khawatir.

"A-Aominecchi!"

Panggilan Kise memberhentikan Aomine di langkahnya menuju pintu. Ia menoleh pada Kise.
"Ya?"

Kise membuka mulutnya, namun kalimat 'jangan pergi' yang ingin diucapkannya tertahan di tenggorokannya dan yang keluar hanyalah, "Berhati-hatilah."

Perkataan Kise dibalas dengan tawa dari Aomine.
"Hey, yang sakit tidak berhak menyuruhku berhati-hati."

Aomine pun berjalan keluar. Tak lupa Ia memastikan untuk mengunci semua pintu dan jendela di dalam rumah. Setelah memastikan bahwa semua sudah aman, barulah Aomine melangkah keluar.

Semuanya sepertinya baik-baik saja. Setelah Kise sembuh, Aomine akan kembali ke masa depan. Di masa depan yang cerah itu pun nantinya dia akan bisa bertemu dengan Kise, juga Kuroko yang tidak akan mati.

Dengan langkah ringan Aomine melangkah keluar.

Semuanya baik-baik saja.


0-0-0-0-0


Satu hal yang tidak mereka sadari adalah sosok misterius yang selalu memperhatikan mereka dari jauh.

"Tch. Si bodoh itu benar-benar tidak berguna."

Dan juga, sesuatu yang mengerikan sudah menunggu mereka berdua…


...

-E-N-D-O-F-C-H-A-P-T-E-R-0-3-

...


selesai!

gimana? apa chapter ini cukup memuaskan?

Sekali lagi author minta maaf karena delay yang terlampau lama untuk updatenya. T-T

Mulai chapter berikutnya ada banyak konflik, mungkin ada adegan berantemnya juga. Tapi author tetap gak bisa janji bisa cepet update sih... T-T

silahkan sampaikan kritik, saran, komentar kalian di kotak review :)