Jaejoong datang pagi sekali hari ini. Namja bermata doe itu melihat ke arah meja Yunho.

Kosong.

Namja bermata musang itu belum datang ternyata.

Uhuk uhuk

Jaejoong menghela napasnya sehabis batuk dan mengambil koran hari ini di mejanya.

"Kim Corp dan Jung Corp mulai membaik oleh orang yang menjatuhkan kedua perusahaan tersebut. Cih.. mengada-ngada. Bukan salahku kok. Tapi namja bermarga Jung itu," ucap Jaejoong sarkatis. Tapi, dua hari tidak ke kantor, dia cukup merasa asing juga di rumah karena tidak bekerja.

Ehem.. sebenarnya bukan karena tidak bekerja, ntah mengapa dia merasa tidak enak bila tidak melihat Yunho.

'Bukan-bukan, itu bukan cinta namanya,' kata Jaejoong dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aigoo, tidak mengaku juga ternyata dia.

Ceklek

Pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebar, menampakkan namja bermata musang itu memakai scarfnya yang berwarna hitam sampai menutupi hidungnya. Tidak berbeda jauh dengan Jaejoong yang sedang memakai scarf berwarna navy yang menutupi bawah lehernya sampai ke hidung bangirnya.

"Selamat pagi," ucap Jaejoong ragu. Baru kali ini dia menyapa orang yang ada di depannya.

Jaejoong menundukkan kepalanya karena malu. Hatinya bertalu-talu saat Yunho menghadap ke arahnya. Namja cantik itu memilik untuk menyibukkan dirinya, lebih tepatnya berpura-pura.

"Pagi," ucap Yunho membalas sapaan Jaejoong.

Sontak mata Jaejoong bertemu dengan mata Yunho, namun tidak selang beberapa lama, Jaejoong mengalihkan pandangannya, seakan-akan menghindari Yunho.

"Sudah sehat?" tanya Yunho kepada namja cantik itu.

"Su-sudah. Seperti yang kamu lihat," ucap Jaejoong sambil menegakkan badannya.

Uhuk, suara berasal dari Jaejoong

"Ya, dengan scarf melingkar sampai ke hidungmu dan batukmu barusan," ucap Yunho sambil terkikik.

Oh Tuhan.

Permintaan Jaejoong saat itu hanyalah, berhentikan waktu.

Yunho tersenyum, bahkan tertawa kecil untuk pertama kalinya. Dan itu untuknya dan karenanya.

Rasanya ingin sekali dia merekamnya di handphone agar dia bisa memutarnya berkali-kali. Namun Jaejoong hanya terpaku pada Yunho, seakan semua gerakannya terhenti karena melihat senyuman Yunho. Mata musang yang menyipit dan bibir hati yang terangkat.

Suka.

Dia ingin terus melihat senyuman Yunho itu.

"E-ehem," Yunho berdeham ketika memergoki Jaejoong melamun sambil melihat ke arahnya.

"A-ah, maaf. Aku hanya bingung kenapa kamu memakai scarf juga," ucap Jaejoong sambil menunjuk scarf Yunho, mengalihkan pembicaraan tepatnya.

"Oh ini? Karena di luar udara makin dingin, jadi aku memakainya," ucap Yunho yang kemudian duduk di kursi direkturnya yang berwarna hitam dengan sandaran sampai melebihi kepala dan penyanggah tangan di sisi kanan dan kiri. Sama dengan kursi yang Jaejoong gunakan selama di Jung Corp.

Jaejoong menganggukkan kepalanya dan kemudian duduk di kursinya dan kemudian membuka laptopnya.

Uhuk, suara terdengar berasal dari Jaejoong lagi.

"Kamu sudah sarapan?" tanya Yunho tiba-tiba. Well, sepertinya es di antara mereka sudah mencair.

"Eum, sudah. Aku tidak bisa makan sembarangan sekarang ini."

"Oh.. aku membawa bubur kalau kamu mau. Omonimku sangat cerewet, memintaku makan bubur."

"Iya, tentu karena lambungmu bermasalah, jadi Omonimmu memintamu makan bubur. Lebih baik makan bubur itu, kalau kamu tidak mau sakit lagi."

"Iya, cerewet sekali kamu, sama seperti Omonimku."

Jaejoong mendengus dan kembali melihat grafik perusahaan mereka. Sudah lebih baik dari terakhir skandal Yunho. Berita tidak mengenakkna itu ternyata tidak terlalu digubris oleh pemegang sahamnya dan juga Jaejoong meminta pemegang saham Yunho juga tidak mengubris hal tersebut. Hasilnya, semua sudah mulai mereka, bahkan kabar merebak kalau Kim Corp dan Jung Corp sudah kembali akur.

Setelah lebih dari 4 minggu berkutat dengan pekerjaannya, Jaejoong sepertinya memilih untuk sedikit bersantai belakangan ini, apalagi semenjak insiden dirinya sakit.

Sekarang ini dia sedang menikmati teh Jasmine kesukaannya. Teh Jasmine tersebut membuat tenggorokannya hangat dan juga memberikan ketenangan.

Diliriknya Yunho yang mulai berkutat dengan pekerjaannya dan terhenti saat Yunho menyuap buburnya ke mulutnya.

"Aish panas," ucapnya karena lidahnya merasakan panasnya bubur buatan Omonimnya tersebut.

"Lebih baik kamu berhenti kerja dan kemudian makan buburmu dengan baik," ucap Jaejoong sambil melirik Yunho.

"Tidak bisa, aku harus mengecek pergerakan saham dan juga menelepon klien sebentar lagi."

"Tapi itu mengganggu tau, kamu bergerutu terus karena kepanasan."

"Kalau kamu tidak suka, keluar saja," ucap Yunho santai.

"Kamu! Ish!" Ucap Jaejoong langsung keluar ruangan dan membuat Yunho menghela napasnya.

"Padahal aku cuma tidak ingin lidahnya luka karena dia memakan buburnya seperti itu," gerutu Jaejoong sambil menuju ke arah sekretarisnya.

"Belikan aku permen lollipop, belikan 10. Lalu undang Changmin, Yoochun, dan Junsu untuk makan siang di kantor siang ini. Kamu pergilah ke rumahku, beritahu kepada kepala pelayanku untuk memberikan makanan yang sudah aku titipkan hari ini kepadamu, dan bawa ke sini. Kamu mengerti?" ucap Jaejoong dan langsung dicatat oleh Tiffany, sekretaris Jaejoong.

"Baik Direktur."

"Oh dan satu lagi, bawakan selimut tambahan, sekitar 3."

"Baik Direktur, saya permisi pergi dulu."

Jaejoong mengangguk dan memilih kembali ke ruangannya.

Namja cantik itu langsung masuk ke ruangan dan mendapati Yunho belum memakan buburnya sendari tadi. Terlihat buburnya masih mengebul. Dia langsung menarik kursi tamu ke sebelah Yunho dan kemudian mengambil bubur tersebut, lalu meniupkan bubur tersebut, agar menjadi hangat.

Yunho mengerutkan dahinya melihat Jaejoong yang langsung saja meniup-niupkan buburnya.

"Buka mulutmu," Jaejoong mengarahkan seseondok bubur tersebut ke mulut hati Yunho.

Yunho yang semula ragu, kemudian menyuap bubur yang diberikan Jaejoong.

Jaejoong tersenyum dan kembali meniup sesendok bubur lainnya.

Namja yang baru saja disuapi tersebut, melihat hal itu dan merasa desiran hangat pada dadanya.

"Siang ini kamu tetap makan makanan dariku dan tidak boleh makan apapun di luaran karena berbahaya bagi lambungmu. Aku juga sudah membelikan lollipop sebagai pereda rasa sakit pada lidahmu karena terkena panas tadi. Lalu aku juga sudah mengundang Yoochun, Changmin, dan Junsu untuk makan bersama kita hari ini. Nanti pakai selimut yang aku bawa juga agar tidak kedinginan. Satu lagi, aku tidak menerima protes," ucap Jaejoong mutlak. Seperti istri dari seorang Jung saja.

'Tuhan, katakan padaku kalau ini tidak benar,' ucap Yunho dalam hati sambil terus memperhatikan Jaejoong yang meniup-niupkan buburnya.

.

Dan...

Ketakutan Yunho terjadi sudah.

Dia terbaring di kamarnya hari ini.

Uhuk

Oh, namja bermata musang itu sepertinya ketularan Jaejoong karena virus batuk dari namja cantik itu setelah menyuap bubur yang ditiupkan oleh Jaejoong untuknya.

Yunho juga menjadi demam karenanya.

"Apakah Yunho ada di kamarnya?" sayup-sayup Yunho mendengar namanya di sebut.

"Baik, terima kasih." Ucap orang itu kemudian, sepertinya Yunho tau siapa yang datang.

Tok tok

Hening

Tok tok

Merasa tidak dijawab ketukan pintunya, orang itu langsung masuk ke kamar Yunho.

"Ah Yunho," ternyata Jaejoonglah yang datang.

Jaejoong terdiam saat melihat Yunho yang bergelung di bawah selimut.

Namja cantik itu merasa bersalah ketika melihat Yunho yang menyembunyikan kepalanya di balik selimut hitamnya yang tebal.

"Yunho... bagaimana kabarmu?" tanya Jaejoong sambil berjongkok di sebelah ranjang Yunho.

Yunho tidak menyahut.

Oh tidak, namja cantik itu makin merasa bersalah kali ini.

Jaejoong terdiam di samping ranjang Yunho, bahkan dia baru saja mengusap matanya dengan lengan baju miliknya.

Yunho tidak mau berbicara dengannya.

Jaejoong menghela napasnya dan Yunho mendengar itu.

"Baiklah, aku pulang dulu," ucap Jaejoong sambil menaruh sesuatu di atas meja nakas milik Yunho.

Jaejoong kemudian beranjak dan lanngsung saja keluar dari kamar Yunho, menyisakan Yunho yang melihat ke arah obat yang ditaruh oleh Jaejoong di meja nakasnya. Obat batuk dan pereda demam.

Yunho menghela napasnya, " Apa aku sudah keterlaluan kepadanya?"

Yunho keluar dari kamar dengan niat untuk melihat Jaejoong, namun sepertinya Jaejoong sudah tidak ada.

"Tuan Muda Jaejoong sudah pulang, Tuan," ucap Bibi Hwang, kepala pelayan keluarga Jung.

"Saran saya tuan, cobalah bersikap ramah kepada Tuan Muda Jaejoong. Tuan Muda Jaejoong datang ke sini terburu-buru dan saya bahkan tidak melihat kalau ada mobil yang mengantarnya. Apalagi sekarang sedang dingin sekali di luar mengingat ini sudah pergantian musim gugur ke musim dingin. Tuan Muda Jaejoong bahkan hanya berbalut jas dan scarf saja saat datang, tanpa mantelnya."

Yunho terpaku.

Dia memang baru saja mengabari kantor sekitar 1 jam yang lalu bahwa dia tidak masuk karena sakit.

Oh Tuhan, dia benar-benar makin merasa bersalah sekarang. Bahkan dia tadi mengacuhkan Jaejoong yang sudah datang membawakan obat untuknya.

"Tuan, cobalah berbicara dengan Tuan Muda Jaejoong besok. Tadi saya lihat mata Tuan Muda Jaejoong yang memerah."

"Terima kasih Ahjumma." Yunho menatap pintu gerbangnya. Udara dingin mulai membuat para dedaunan gugur dengan cepat.

.

"Selamat pagi," Yunho menyapa Jaejoong saat direktur bermarga Jung itu masuk ke ruangannya dan Jaejoong.

Terlihat Jaejoong memakai kacamata hitam hari ini.

"Apakah hari ini menyilaukan sekali sampai kamu memakai kacamata itam seperti itu?" Jaejoong bersikap tidak acuh dan memilih terus berkutat dengan pekerjannya, tidak menghiraukan ocehan dari Yunho.

Yunho tersenyum kecut, Jaejoong tidak mau berbicara dengannya kali ini.

Uhuk

Uhuk Uhuk

Uhuk

Terdengar suara batuk yang saling bersahut-sahutan. Kedua namja tersebut berdiam diri kembali tanpa ada niat untuk memulai pembicaraan mereka. Bahkan Yunho terlalu gengsi untuk meminta maaf mengenai kejadian kemarin.

Yunho menghela napasnya. Dia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Mereka memang sudah bertengkar sendari awal, namun belakangan ini mereka sudah mulai banyak berbicara, dan dia tidak ingin hal tersebut rusak karena kegengsian mereka berdua.

"Jae, aku ingin bicara."

"Maaf, aku sibuk, aku harus menemui pemegang saham," terlihat Jaejoong yang langsung membereskan barang-barangnya.

"Hanya sebentar Jae, aku mohon."

"Maaf Yunho, aku terburu-buru."

"Jae!" Yunho menarik kasar tangan Jaejoong dan sontak membuat Jaejoong kaget.

"Apa maumu huh?" desis Jaejoong yang tidak suka tangannya ditarik olehh Yunho. Tangan namja yang berwarna putih pucat itu sudah berubah warna menjadi kemerahan karena cengkraman tangan Yunho di tangannya.

"Tidak bisakah aku meminta waktumu hanya 5 menit saja?"

"Apalagi yang ingin kamu bicarakan? Kamu ingin bilang kalau aku sedang sakit mata karena aku memakai kacamata hitam huh?" ucap Jaejoong dengan tersulut emosi.

"Tidak! Tentu saja tidak! Mengapa kamu berasumsi seperti itu?"

"Karena memang kamu selalu seperti itu, Tuan berhati es!" ucap Jaejoong penuh penekanan pada akhir.

Yunho terdiam.

Seperti itukah dia? Apakah kata-katanya terlalu menyakitkan bagi Jaejoong?

"Sekarang lepaskan aku, Tuan Muda Jung! Kamu benar-benar membuatku terlambat!" ucap Jaejoong dengan sedikit meronta meminta tangannya dilepaskan.

"Tidak bisakah kamu diam!? Bahkan aku belum bicara, Jae!"

"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Lebih baik kita kembali berdiam seperti biasanya dan bekerja sampai semua keadaan kembali normal. Selama itu aku mohon jangan ganggu aku!"

"Lepas kacamata hitammu dna tatap aku ketika sedang berbicara!"

"Tidak mau! Ini bukan urusanmu!"

Yunho menarik paksa kacamata hitam berlabel Gucci tersebut, namun Jaejoong tetap mempertahankan kacamata hitam itu bertengger di hidungnya.

Krak

Tangkai kacamata hitam malang itu akhirnya patah di pangkalnyackarena tarik-menarik kedua namja itu. Bahkan walaupun sudah patah, mereka tetap tarik-menarik.

Sret

"Akh!"Akhirnya Jaejoong melepaskan kacamata itu ketika parahan itu mengenai pelipis Jaejoong.

Yunho yang mendengar Jaejoong terpekik kemudian sadar dan melihat kondisi Jaejoong.

Ada lecet di sebelah kanan pelipis Jaejoong karena terkena patahan tersebut.

"See? Karena kamu tidak mau melepasnya, kamu jadi luka begitu," ucap Yunho berdecak. Hendak dia ingin mengambil plester miliknya, namun gerakannya terhenti saat melihat mata sembab dan merah Jaejoong.

"Jae, apa yang terjadi?"

"Ini semua salahmu Jung! Kenapa kamu selalu membuatnya sulit huh!? Dari awal memang kamu selalu saja membuatku emosi dan frustasi karena kata-kata tajammu!"

"Tapi kamu juga melakukan itu kepadaku! Kamu juga Tuan Emosian! Jadi jangan pernah bilang hanya aku yang emosi di sini!"

Habis sudah kesabaran Jaejoong. Dia hendak meninju Yunho, namun Yunho terlebih dahulu mendorong tubuh yang lebih kecil darinya itu ke arah tembok. Kemudian dengan cepat Yunho mencodongkan wajahnya ke arah Jaejoong dan mencium bibir cherry itu dengan kasar.

Jaejoong kaget dan kemudian meronta hendak dilepaskan, namun, ciuman kasar itu berubah menjadi lumatan kasar dan jilatan pada bibir Jaejoong, seakan Yunho tidak ingin melepaskannya.

Air mata Jaejoong sudah tidak tertahankan. Sendari tadi dia menahannya, mencoba untuk tidak menangis. Bahkan, namja yang terkenal gengsi ini menangis semalam. Dia merasa bersalah kepada Yunho karena membuat namja bermata musang itu sakit. Hanya saja, Jaejoong tidak ingin menunjukan sisi lemahnya kepada Yunho.

"Eumh!" Jaejoong mengerang minta dilepaskan di serla-sela tangisnya.

Merasakan asin di indera pengecapannya, Yunho menarik wajahnya. Hal pertama adalah dia melihat Jaejoong menangis dengan mata dan pipi yang memerah.

"Ja-Jae, aku..," Yunho merasa bahwa dia manusia yang jahat kali ini. Dia sudah berbuat tidak sopan dan sekarang dia malah menyakiti namja itu lebih dalam lagi. Dia refleks melakukan itu semua, karena dia ingin menenangkan Jaejoong.

Jaejoong hanya menangis dalam diam dan kemudian berlalu dari tempat dimana Yunho berdiri dengan terburu-buru, sedangkan Yunho mengusap wajahnya kasar.

"Luka apa lagi yang kamu torehkan kepadanya Yunho," ucap Yunho lirih.

.

Seminggu berlalu setelah kejadian itu.

Keduanya tetap ke kantor, perusahaan mereka sudah kembali seperti semula. Nama baik perusahaan sudah dibersihkan, bahkan banyak investor baru yang masuk karena kerja kedua direkrur muda itu.

Namun, mereka sama sekali tidak berbicara ketika bertemu dan juga terdapat aura tidak enak pada mereka berdua. Hal ini tidak hayal semua karyawan menggosipkan mereka kalau mereka bertengkar hebat.

Keduanya sudah sembuh dari sakit batuk dan beraktifitas seperti biasa. Seperti sekarang ini, Yunho hendak menemui investor baru. Tampak sekretarisnya membawakan laptop dan semua berkas miliknya untuk dibawa ke mobil. Hari sudah menunjukkan pk. 15.00.

Jaejoong menghela napasnya ketika Yunho sudah keluar dari ruangan. Segera dia ber-skype dengan Yoochun, Junsu, dan Changmin, untuk sekedar curhat.

"Dia sudah pergi?" tanya Yoochun yang terlihat sedang bekerja di perusahaannya.

"Sudah. Sampai sekarang kami belum mengobrol lagi, sejak insiden itu."

"Hmm.. kenapa kamu tidak menyapanya duluan, hyung?" ucap Junsu sambil bersender di sofa rumahnya. Namja berpantat montok itu bekerja di rumah hari ini.

"Mana mungkin dia mau, dia sudah termakan oleh gengsi," terlihat Changmin sedang berada di area sport club, dia sedang melepaskan bajunya yang basah karena keringat, hendak berenang.

Perkataan sang magnae membuat Jaejoong mengerucutkan bibir plumnya. Kata-kata Changmin selalu saja pedas, tapi selalu sesuai dengan fakta. Well, Jaejoong mengaku kalau dia terlalu dimakan gengsi.

"Cobalah berbicara dengannya malam ini hyung. Ajak dia makan di luar. Kabarnya dia akan kembali ke kantor malam ini setelah menemui investor baru, karena besok kami akan bertemu membahas proyek dan dia ingin mempersiapkannya di kantor," saran Yoochun.

"Haruskah?"

"Jangan gengsi lagi kali ini. Atau masalah ini tidak akan selesai-selesai," ucap Changmin bersiap untuk masuk ke kolam renang.

"Betul hyung. Makanya jangan gengsi terus," Junsu menyuapkan sandwich ayam ke dalam mulutnya.

"Ya! Aku tidak gengsi kok," ucap Jaejoong tidak mau mengaku.

"Sudah lah mengaku saja," ucap ketiga sahabatnya itu serempak dan membuat Jaejoong mengerucutkan bibirnya.

.

Jaejoong menunggu Yunho kali ini di ruangannya. Dia mengikuti saran teman-temannya itu. Bahkan karena dia mengantuk, dia sedang bersender pada sofa.

"Hoam.. aku mengantuk," ucap Jaejoong yang kemudian berbaring di sofa dan tak lama terdengar dengkuran halus dari namja cantik tersebut.

Ceklek

Tak lama setelah Jaejoong tertidur, Yunho kembali ke ruangannya.

Dia melihat Jaejoong di atas sofa ruangan mereka dan kemudian melirik jam dinding yang ada di atas Jaejoong. Pk. 23.00.

Namja bermata musang itu terlalu lama dinner dengan investor barunya ternyata.

Dia menghampiri Jaejoong, mencoba membuang semua ego dan gengsinya. Dengan pelahan dia mengelus surai Jaejoong yang berwarna almond.

"Mianhae," bisiknya dan membuat Jaejoong menggeliat pelan. Tak lama dia menyadari kalau Jaejoong merapatkan tubuhnya, seperti kedinginan.

Sudah tidak ada selimut lagi di ruangannya karena sedang dicuci oleh Lee Ahjussi.

Dia mengambil jas Jaejoong yang ada di kursi namja cantik itu dan kemudian menyelimuti bagian kaki Jaejoong, sedangkan jas yang dikenakan Yunho, di gunakan untuk menyelimuti bagian atas tubuh Jaejoong sampai ke lehernya.

Kemudian Yunho mengunci ruangan miliknya dan Jaejoong karena tidak mau diganggu oleh siapapun. Namja berwajah tampan itu kemudian menuju ke Jaejoong lagi dan memperhatikan namja cantik yang sedang tidur tersebut.

"Maafkan aku," ucap Yunho lagi. Kali ini dia mengelus bibir Jaejoong dengan ibu jari kanannya. Dengan perlahan, dia memberanikan diri untuk mengecup bibir plum tersebut dan kemudian mencium dahi Jaejoong dengan lembut.

Jaejoong kembali menggeliat sebentar lalu tidur lagi.

Yunho menguap, tanda dia harus tidur. Mungkin besok dia harus membatalkan janjinya dengan Yoochun. Ada hal penting yang harus dia urus.

Yunho berbaring di sebelah Jaejoong dan memeluk namja cantik itu agar Jaejoong tetap hangat. Jaejoong membalas pelukannya, bahkan namja cantik itu sudah menyerukkan wajahnya ke leher Yunho.

"Jaljayo, my love," ucap namja tampan itu sambil menutup matanya, menyusul cintanya ke dalam mimpi.

.

Namja cantik itu mengelenguh saat mendapati cahaya matahari masuk ke retina mata miliknya saat dia membuka manik hitam itu.

"Hangatnya," ucap Jaejoong yang kemudian mengeratkan pelukannya pada sesuatu.

Merasa ada yang berbeda, dia langsung melihat apa yang dia peluk dan membuatnya nyaman semalam tadi.

"Oh?" Jaejoong terbengong mendapati Yunho memeluknya erat.

Jaejoong memberanikan dirnya untuk mengecup singkat pipi Yunho.

Oh-oh, Jaejoong berani melakukannya sekarang. Dia sadar kalau memang dia mencintai namja yang sedang memeluknya ini.

Kembali dia mengecup-kecup pipi Yunho dengan mata tertutup, tanpa menyadari kalau Yunho sudah terbangun dan menarik wajah Jaejoong serta mengecup bibir plum itu lembut.

Mata Jaejoong langsung terbelalak dan melihat Yunho memejamkan matanya, menikmati ciuman lembut mereka. Bahkan Yunho sudah melumat dan menghisap bibir Jaejoong seperti sedang menghisap permen lollipop.

Tak lama Jaejoong juga menikmati ciuman mereka dan membalas lumatan Yunho. Sampai akhirnya 1 menit berlalu dan mereka melepaskan tautan mereka, sampai saliva mereka membentuk benang dan itu malah dijadikan Yunho sebagai penyambung tautan mereka kembali. Dia menjilat benang itu dan terus menitinya sampai bertemu dengan bibir Jaejoong lagi. Dia melimat, menjilat, dan bahkan sudah memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jaejoong.

Tok Tok

Tok Tok

Tok Tok

"Tuan?"

Suara ketukan dan panggilan menghentikan kegiatan mereka. Dengan malas dan setelah merapikan dandanannya, dia membuka pintu. Lee Ahjussi yang mengetok-ngetok pintunya.

"Maaf Tuan, saya mengantarkan kopi."

"Terima kasih Lee Ahjussi," ucap Yunho sambil mengambil nampan dengan 1 teko kopi dan dua cangkir lengkap dengan gula dan krim.

"Sama-sama Tuan."

Setelah dia mengucapkan hal tersebut, Yunho menutup pintu ruangannya dan menaruh kopinya di meja tamu.

"Siapa?"

"Lee Ahjussi mengantarkan ini," ucap Yunho sambil berjalan ke arah kamar mandi, hendak mencuci mukanya, sementara Jaejoong menuangkan kopi miliknya ke cangkir dan menuangkan dua blok gula dan sedikit krim.

Dia mengaduk kopi tersebut, sambil mempertanyakan bagaimana bisa Yunho sebegitu lembut kepadanya. Cukup lama dia melamun, sampai akhirnya kedua lengan kekar memeluknya dari belakang.

"Melamunkan apa mm?" tanya Yunho sambil menyenderkan dagunya pada bahu Jaejoong.

"Melamunkan kamu," ucap Jaejoong sambil membalikkan tubuhnya.

"Ada apa denganku?"

"Apa kamu terantuk sesuatu sampai kamu bisa selembut ini kepadaku?"

"Erm.. itu..," Yunho salah tingkah. Jaejoong terdiam menunggu jawaban Yunho.

"Jawaban yang sama ketika kamu tidak menolak saat aku menciummu," ucap Yunho sambil menatap mata Jaejoong, "apa yang kamu rasakan saat kamu aku cium?"

"Eum.. itu.. Jantungku berdetak seperti ini," ucap Jaejoong sambil mengarahkan tangan Yunho ke dadanya.

"Berarti detakan kita sama," ucap Yunho yang juga mengarahkan tangan Jaejoong ke dada bidangnya.

"Berarti.." mulai Jaejoong.

"Itu karena..," sambung Yunho sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong.

"Kita saling mencintai," ucap mereka bersamaan dan kembali mereka memulai ciuman mereka kembali.

Setidaknya kali ini mereka sudah mengalahkan gengsi mereka sendiri untuk mengucapkan kata cinta tersebut.

"Maafkan aku karena aku selalu membuatmu sakit," ucap Yunho sambil mengelus pipi putih jaejoong.

"Tidak apa-apa, Yunnie," ucap Jaejoong sambil meringsut ke pelukan Yunho.

"Yunnie? Kalau aku Yunnie, lalu kamu apa?"

"Panggil aku Boo~ Artinya pacar heehehe,"

"Arraseo my Boo Jaejoongie. Lehermu sudah tidak sakit kan? Lehermu waktu itu sangat sakit tapi masih bisa saja memarahiku."

"Tentu saja waktu itu itu rasanya sakit sekali. Kamu tau kan kalau sakit tenggorokan itu tidak enak. Mau tidak mau aku berdebat denganmu karena kamu benar-benar keterlaluan. Dingin sekali sih," ucap Jaejoong sambil memanyunkan bibirnya dan langsung dikecup oleh Yunho.

"Oh ya? Maafkan aku sayang.. Apakah masih sakit?" tanya Yunho sambil mengecup-kecup leher Jaejoong dan menghisapnya pelan.

"Ish hentikan beruang mesum," ucap Jaejoong langsung mendorong Yunho pelan dan hanya terkekeh melihat tingkah Jaejoong, "tentu sudah tidak."

"Aku juga berterima kasih karena sudah membawa handphoneku waktu itu dan juga maaf sudah menularkan batuk kepadamu," ucap Jaejoong sambil tertunduk.

"It's ok my baby.. yang lalu biarlah berlalu. Maafkan aku juga sudah mendiamkanmu waktu kamu ke rumahku," ucap Yunho sambil mengecup kening Jaejoong dan kemudian mengecup dan melumat pelan bibir Jaejoong yang seakan candu baginya.

"Admit it, you love my lips huh?" ujar Jaejoong setelah mereka berciuman.

"Admit it, you need my love."

"And admit it, we love each other.

.

FIN

.

Hello! Ini f tercepat update yang pernah saya buat haahahah

Bagaimana ceritanya? Apakah agak aneh? Maaf ya kalau rada gaje XD

Ditunggu komen, vote, review, fav, etc dari kalian semua.

And FYI, Holding Back The Tears akan tamat 1 chapter lagi ^^

See you again and Happy 12 th Anniversary DB5K #12thTVXQJYJDay