Sebelumnya aku mau minta maaf dulu, karena udah salah ngepos FF ini di Screenplay. Ketahuan deh saya newbie yang nggak berpengalaman. Maafkan saya reader semua. Sekarang saya akan post di tempat yang benar.
Semoga kali ini nggak ada yang salah,
Happy reading ya...
Berkas-berkas cahaya yang lembut menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi. Serpihan debu terlihat menari-menari dalam pancaran sinar yang bagai lampu sorot yang menerangi ruangan suram di sudut kota new york. Hembusan nafas yang teratur si pemuda blonde menjadi melodi yang indah untuk mengawali hari ini.
Akhir desember yang beku, bersama cahaya angin musim dingin dengan lancangnya menerobos masuk apartemen tua tanpa pemanas ruangan itu. Si pemuda blonde yang terlelap pun semakin mengeratkan selimut lusuh yang melekat pada tubuh ringkihnya. Berusaha menyamankan dan menghangatkan diri, seperti seekor anak kucing yang kedinginan.
Sang pemuda lusuh bergerak-gerak gelisah karena rasa dingin yang tak kunjung menghilang, padahal ia sudah mengeratkan selimutnya. Berusaha semampunya agar tetap hangat meski itu mustahil jika hanya menggunakan selimut tipis tanpa ada penghangat ruangan di apartemen itu. Ah, bodohnya dia.
"ARGHH, DAMN!" makinya dan melempar selimut tipis yang jadi tempat bernaungnya. "Brengsek, bahkan untuk tidur lebih lama saja aku tidak bisa" Makinya menghancurkan pagi yang damai di apartemennya.
"Kau berisik sekali Naruto" ucap sasuke yang tiba-tiba muncul di hadapan naruto. Kemunculan sasuke cukup mengejutkan naruto. Siapa yang tidak akan terkejut, saat terbangun dengan terpaksa karena udara dingin, kini ia harus melihat seorang laki-laki mengejutkannya hanya dengan memakai celana panjang tipis dan longar dan tanpa atasan. Top less di akhir desember bersalju adalah pilihan paling ektrim yang tidak akan pernah dilakukan naruto.
"Berisik, kenapa kau muncul tiba-tiba dan apa itu, tampil telanjang dada dihadapanku, pakai bajumu sana" maki naruto pada laki-laki di hadapannya.
"Well, katakan saja kau malu padaku. Atau, kau mungkin iri karena tubuhmu tak seindah tubuhku"bisik sasuke dengan suara seksi dan berat. Sengaja merendahkan nada pada akhir kalimatnya dan ingin menggoda tuan barunya.
"Kau pikir aku suka melihat tubuhmu. Ah, dan jangan pernah bermimpi aku iri dengan tubuhmu, karena tubuhku jauh lebih baik darimu. Lalu kau harus ingat posisimu di sini, kau adalah pelayanku dan jangan pernah menggodaku karena aku bukan pacarmu." Umpat naruto meninggalkan sasuke, tersenyum dengan mata berkilat semerah darah.
"My my, kau pemarah sekali" sasuke berujar. Sang pelayan tampan pun melipati selimut bekas pemuda uzumaki tanpa di suruh. Benar-benar pelayan yang rajin. Seperti tornador, sasuke bergerak kesana kemari merapikan apartemen naruto yang lumayan berantakan, jika tak mau di bilang seperti kapal pecah.
Si pirang hanya diam dan berlalu membiarkan pelayannya beres-beres rumah. Sepertinya benar-benar menikmati bagaimana rasanya punya pelayan setelah sekian lama harus dilaluinya dengan sangat sulit. Teringat kembali olehnya dimana hidupnya dulu selalu teratur. Ini itu sudah tersedia dan dia hanya butuh memanggil para pelayan untuk memenuhi kebutuhannya dirumah.
"Hei sasuke, setelah kau bersih-bersih cuci semua buatkan aku sarapan dan cuci semua pakaianku" ujar naruto sedikit mulai menikmati jasa pembantu gratis yang di sediakan sasuke.
"Waw, baru sehari aku bersamamu kau sudah mulai banyak maunya ya naruto" ucap sasuke dengan nada merajuk manja.
"Lakukan saja, karena ini perintah dariku. Dan jangan bicara seperti itu di depanku karena itu menjijikkan" ucap naruto dengan wajahnya yang memerah.
"Baiklah asalkan kau siapkan saja dirimu untuk bayarannya" ujar sasuke dan menyeringai nakal. Menampilkan deret gigi putih yang tersembunyi di balik bibir merahnya. Ah, sepertinya naruto melupakan satu hal. Jasa pembantu sasuke tidaklah gratis sama sekali.
Naruto pun berlalu meninggalkan sasuke dengan wajah merah padam. Ia tak mengerti kenapa ia bisa jadi panas sendiri saat bersama sasuke. Perlahan tangannya meraba pipinya yang entah kenapa sampai saat ini masih bersemu merah. Ia merasa seperti anak perempuan yang baru matang. Yang tersipu karena digoda orang yang di cintainya. Oh, yang benar saja. Dia ini laki-laki, dan siapa juga yang mencintai sasuke. Mungkin dunia sudah gila bila ia mencintai iblis itu, dan terlebih si iblis adalah laki-laki.
Naruto hendak mengganti baju tanpa mandi sebelumnya. Mandi di suhu yang dingin ini tanpa air panas, seperti cari mati saja baginya. Mata biru naruto mengintai mengawasi tak ada si iblis mesum di sekitarnya. Perlahan di bukannya piyama kusut yang melekat pada tubuhnya. Terlihat tubuhnya yang mulai terbentuk walau masih belum sempurna. Dengan sebuah tato kupu-kupu hitam yang melekat di dadanya. Memberi tanda bahwa jantung ini adalah miliknya, milik sasuke. Perlahan jari-jari naruto menelusuri tato tersebut di dadanya dan tersenyum kecil.
"Huh, tidak kupu-kupu terlalu manis untuk orang se mesum dia?" gumam naruto pada dirinya sendiri. Dan melanjutkan aktivitasnya untuk mengganti pakaian. Di raihnya mantel orange yang tersampir di lemari pakaiannya sebagai sentuhan terakhir untuk menyempurnakan penampilannya.
"Ternyata, tubuhku memang jauh lebih seksi darimu" ucap sasuke yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarnya lengkap dengan seringai mesum di wajahnya."Dan kupu-kupu memang hewan yang cocok untuk melambangkan iblis setampan aku naruto"
"Apa yang kau lakukan disana? Tugasmu sudah selesai? Dan kenapa kau masih bertelanjang dada, iblis mesum" teriak naruto, merasa malu jika sedari tadi sasuke mengintipnya berganti pakaian.
"Aku hanya ingin meminta sedikit bayaranku, dan untuk tugas ya aku sudah menyelesaikan semuanya. Jadi bagaimana?" sasuke bergerak perlahan menuju naruto lengkap dengan senyum mesum dibibirnya. Dan jangan lupakan naruto yang mulai mengkeret di depan lemari pakaiannya. Jantungnya berdegup cepat, karena ia tahu si sasuke akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Ka-kau mau apa?" ucapnya dengan nada bergetar. Ia mengumpati dirinya yang tak bisa bicara dengan nada normal. Membuat seringai di wajah sasuke semakin tajam dan kelam.
"Men-ci-um-mu, naruto" bisik sasuke yang tiba-tiba sudah ada di depan matanya. Dengan jarak yang sangat dekat, dan sesuatu yang hangat yang menggelitik tengkuknya. Sasuke menatap mata naruto, mencoba memastika bagaimana emosi si pirang sebenarnya. Mata itu bersinar gugup, dan ada rasa malu yang besar di sana saat menatap sasuke. Mencoba melarikan diri dengan menangkap objek selain wajah sasuke.
Perlahan fokus mata naruto kembali pada wajah sasuke karena si pemuda yang mulai mengeliminasi jarak di antara mereka. Naruto terkejut dan merasa belum siap, cepat-cepat ia memejamkan matanya dan menunggu sasuke. Sasuke yang menyadari hal itu sengaja mempermainkan naruto dengan menghentikan gerakannya tepat saat bibir mereka akan bertemu. Sengaja membiarkan naruto bergerak-gerak tak nyaman karena menunggu ciuman darinya.
Naruto merasa aneh karena tak kunjung menerima sentuhan di bibirnya, perlahan membuka matanya mengintip dengan malu-malu apa yang sebenarnya terjadi. Kesempatan itu tak di sia-siakan oleh sasuke yang langsung menyambar bibir naruto tepat saat naruto membuka mata sepenuhnya. Naruto terbelalak, ia tak siap sepenuhnya.
Si sasuke bermain curang, itulah yang di pikirkan naruto. Sengaja mempermainkannya seperti ini. Sengaja membuat ia melihat bagaimana sasuke menyerangnya. Seolah ingin memamerkan betapa beraninya dia. Perlahan sasuke melumat bibir naruto dan langsung membuat si pemilik bibir merah muda itu lumer di pelukannya. Seperti gadis-gadis yang langsung kehabisan tenaga di ciuman pertamanya. Dan naruto tidak terima hal itu, sekali lagi dia bukan gadis dan lagi ini juga bukan ciuman pertamanya. Ia tak separah itu hingga tak laku-laku. Waktu masih di SHS banyak siswi yang mengejarnya, meski ia selalu menolaknya. Dan terkadang mengerjai mereka dengan mencium mereka terlebih dahulu sebelum menolaknya. Naruto akui, ia cukup brengsek dalam hal ini.
Naruto memberontak saat ia merasa membutuhkan asupan udara yang menipis di paru-parunya. Sasuke seperti orang brengsek yang mengambil seluruh udara di sekitarnya, tak mengizinkan naruto untuk mengambil nafas. Sengaja menyiksa pemuda kurus dalam dekapannya. Naruto yang jengkel akhirnya menggigit bibir sasuke sebagai pelampiasan.
"Well, kau sadis sekali padaku naruto" ucap sasuke seraya menyeka salifa dibibirnya yang entah milik siapa.
"Kau... hosh.. breng..sekk.. hosh.. hosh" nafas naruto tersenggal-senggal. Sepertinya pasokan oksigen memang benar-benar telah menipis di paru-parunya. Wajahnya merah padam mengingat apa yang sudah ia lakukan tadi cukup panas. Sepertinya sasuke sudah sangat lihai dalam berciuman, sudah berapa banyak orang yang di cium sasuke? Apakah dia tidak pilih-pilih dalam menjadikan target ciumannya? Memikirkan hal itu membuat dada naruto sedikit sesak. Oh Damn! Kenapa juga ia harus sesak memikirkan sudah berapa orang yang di cium sasuke sebelum dia? Demi Tuhan, dia dan sasuke laki-laki. Sepertinya dia memang berbakat menjadi iblis dan mempengaruhi hatiku.
Sasuke melihat naruto yang sesak nafas karena ulahnya hanya tersenyum iblis. Seraya melipat ke dua tangannya di dada. Tersenyum meremehkan pada manusia di hadapannya yang terlihat payah. Namun entah kenapa seolah menarik bagi sasuke, jujur saja ini pertama kalinya bagi sasuke untuk menerima seorang laki-laki menjadi bidak permainannya. Menjadikannya teman di neraka kelak, well merubah seseorang menjadi slasher bukankah itu prestasi yang cukup bagus juga baginya. Terlebih lelaki yang menjadi korbannya adalah seorang yang msih polos dan hijau, yang terombang-ambing karena kejamnya kehidupan di dunia.
"Sarapanmu hari ini sudah siap naruto, hari ini aku memasakkan omelet untukmu dengan segelas air puti sebagai minumannya" sasuke berjalan keluar dari kamar naruto dan menuju ruang multy fungsi milik naruto. Naruto pun mengekor di belakang sasuke, tak ingin berdebat karena perutnya yang sudah lapar. Naruto pun duduk meraih omelet di hadapannya dan mengambil sedikit roti yang ada di depan meja. Sedikit mendengus kesal, karena meski sudah punya pembantu, makanannya tetap tak berubah menjadi sedikit lebih mewah.
"Sebagai pelayanku, tidak bisakah kau menyediakan aku makanan yang sedikit lebih enak dari ini, Sasuke" sindir naruto pada si pelayan yang duduk di sofanya.
"Akh, aku rasa kau lupa naruto. Kau hanya memiliki sedikit sekali persediaan makanan dalam lemari pendinginmu. Jadi aku hanya membuat apa yang bisa aku buat dengan bahan yang sangat terbatas itu. Dari pada mengeluh begitu, bukankah lebih baik kau berusaha merebut kekayaanmu? Ah, iya saat kau tidur aku sudah menyelidiki pamanmu itu. Namanya tobirama Uzumaki, usia 40 tahun. Ia merupakan kakak dari ayahmu dan saat ini merupakan seorang duda beranak satu. Anaknya uzumaki Karin adalah anak sangat di banggakannya. Saat ini ia bekerja sebagai pemimpin di Lime Corp. Yang seharusnya dipimpin oleh ayahmu namun di ambil alih olehnya saat ayahmu meninggal karena kau pada saat itu dirasa belum mampu mengurusi perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi itu" ucap sasuke panjang lebar, dan naruto hanya mengangguk sebagai jawabannnya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya sasuke lagi, tak puas dengan tanggapan naruto yang standar seolah tak ada minat membahas tentang pamannya itu.
"Kita kerumahnya, dan kau ku perintahkan untuk mendesaknya se demikian rupa agar dia menyerah dan memberikan hak ku yang telah dirampasnya. Buat dia merasakan bagaimana rasanya hidup terlunta-lunta di jalanan. Buat anaknya merasakan bagaimana rasanya menjalani hidup yang aku rasa. Buat mereka terluka jauh melebihi apa yang aku rasakan" ucap naruto dan mengakhiri sarapannya.
"Ok, I'll do it. My master" dan seringai iblis pun kembali tercetak sempurna di bibirnya. Membiarkan naruto yang berlalu meninggalkannya.
Mereka memutuskan untuk keluar saat sasuke sudah menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan tak lupa naruto megunci apartemen kecilnya sebelum mereka keluar. Mereka berjalan beriringan keluar dari lingkungan apartemennya. Hamparan putih salju langsung menyambut mereka bagaikan kapas yang lembut, namun dingin.
Pernak-pernik natal menghiasi sepanjang jalan. Bahkan pamflet-pamflet untuk perayaan natal betebaran dimana-mana. Membujuk setiap pengunjung agar mengunjungi toko-toko mereka di saat natal. Lagu-lagu bertema natal pun mengalun mengudara dengan indahnya. Beberapa pria tambun berkostum santa tampak menjual permen dan memberikannya pada anak-anak, menjanjikan kebahagiaan pada mereka yang sangat menyayangi sang sinterklas.
"Huh, natal ya" komentar naruto, terkesan dingin. Bahkan melebihi dinginnya salju di sekeliling mereka. Seolah natal bukanlah momen yang membahagiakan bagi naruto.
"Kenapa, kau juga merayakan natal?" tanya sasuke sakarstik. Seolah meremehkan mereka yang merayakannya. Seolah itu adalah perayaan yang paling menggelikan buat sang iblis.
"Jangan bercanda" jawab naruto ketus, dan sasuke tersenyum tipis menanggapinya. Seolah sangat menyukai jawaban naruto.
"Kau percaya pada Tuhan?" tanya sasuke, mencoba memancing naruto.
"Kalau dia ada, tak mungkin aku hidup seperti ini. Apakah dia tidak melihat, anak sepertiku. Bahkan aku sampai bersekutu dengan mahkluk sepertimu, ia bahka tak melarangku." Maki naruto seraya menendang salju di hadapannya. Sasuke menyeringai, manusia di hadapannya ini menarik, rapuh dan tegar di saat bersamaan, benar-benar tipe manusia kesukaannya. Dan kelihatannya ia juga membenci apa yang ia dan para iblis lain benci.
"Ah, bagaimana kalau kita buat perayaan natal kita sendiri malam ini. Menikmatinya dengan segelas wine bersama pamanmu yang baik hati itu" tawar sasuke saat mereka sampai di halte bus untuk menunggu bus untuk ke tempat paman naruto tercinta.
"Kurasa idemu tidak buruk juga, dan sebaiknya kita segera pergi berpesta kalau begitu" ujar naruto seraya menaiki bus yang sudah berhenti di hapannya. Dengan langkah yang mantap menemui sang paman yang telah melukainya. "Tunggu aku paman" desisnya lengkap dengan seringai iblis di wajah manisnya. Dan lagi-lagi sasuke tersenyum misterius melihat kelakuan tuannya. Kau memang menarik uzumaki naruto, batinnya.
TBC
Huft... akhirnya selesai nih chapter dua. Gimana ceritanya, apakah membosankan? Saya harap tidak. Huft, ini cerita saya bikin ngebut, soalnya saya senang ada yang baca dan perhatian sama fanfic ini. Saya jadi semangat buat bikin chapter duanya deh.
Pertama saya mau balas dulu review dari teman-teman semua.
Dillauchiha95
trims buat reviewnya, iya begitulah. Naruto emang dikit pemalu, tapi mau. #Plakk
Mami Fate Namikaze
Polos sih, tapi juga galak loh, apa lagi didepan sasuke. Ini kelanjutannya udah di pubish.
Changmomo2
Terima kasih masukannya, iya nih nggak sadar bikinnya di screenplay. Padahal jelas-jelas ini FF naruto. Maaf ya udah salah pos dan mungkin juga bikin bingung.
Najiha Hizaki Anzu
Terima kasih iya aku juga newbie,ini udah diperbaiki
HimekaruLI
Iya, ini bukan one shoot. Ini multy chapter. Ini udah dilanjut. Sama-sama, saya juga suka sasunaru, jadinya ya buat ffnya deh.
Laxyovrds
iya, trims buat masukannya
trus trims juga udah fav/follow cerita ini
Buat reader lainnya Mohon tinggalkan jejak ya.
Swink ;)
