Hi semua, jumpa lagi di fict ini.
lansung saja...
Disclaimer: Naruto Belong Masashi Kishimoto. I just own this story.
Malam sunyi tanpa suara, di kediaman Uzumaki yang kini hanya ditinggali oleh dua pemuda bersama pelayan rumah yang sudah tidur terlelap. Deru angin bersemilir dari jendela yang sengaja di buka untuk sedikit meredakan rasa panas yang melanda ruangan seluas dua puluh meter persegi itu. Seorang pemuda pirang tampak bersandar pada tubuh pemuda lainnya, menjadikan pemuda itu bantalan untuk kepalanya. Sementara sang raven membalas mengusap lembut surai pirang pemuda yang baru saja disentuhnya itu. Tak ada kata diantara keduanya, mereka larut dalam pemikiran masing-masing. Terhanyut dalam suasana sunyi yang menenangkan.
Sesekali terdengar deru nafas tertahan dari Naruto, membuat Sasuke melirik pelan dengan ekor matanya, seolah berharap ada sesuatu yang menarik diantara ekspresi wajah lelaki yang ada dalam dekapannya.
Angin musim dingin kembali masuk dari jendela kamar, membuat Naruto semakin merapatkan tubuhnya pada Sasuke, berharap kehangatan yang lebih, tak berniat bergerak untuk menutup jendela dan juga tak ingin membiarkan sasuke menutup jendela dan meninggalkan ruang kosong di sisinya meski hanya sekejap saja.
Perlahan naruto mengalihkan pandangannya yang sedari tadi menatap keluar menghadap wajah Sasuke, perubahan posisi yang mendadak itu tak urung membuat sasuke bertanya, ia hanya membiarkan saja tuannya itu ingin melakukan apa. Naruto menatapnyalekat-lekat tak kuat ia pun memunggungi sasuke, timbul perasaan tak percaya dalam dirinya bahwa bibir itulah yang telah mengecupnya, mata itulah yang menatap dalam dirinya, dan wajah itulah yang beberapa hari ini dengan lancangnya menari indah di benaknya. Naruto tak mengerti dan tak ingin mengerti kenapa ia bisa mengenal mahluk yang ada dihadapannya. Dan Naruto pun tak ingin mengakui ada yang aneh dengan dirinya setiap disentuh lelaki ini, ia masih laki-laki dan ia pun masih berusaha meyakini dirinya normal meski kenyataannya ia sudah sedikit belok dari jalan yang benar, semua karena iblis ini. Tapi itu memang sudah tugasnya bukan?
Lalu mata naruto beralih menatap tangan pucat yang entah sejak kapan sudah memeluk perutnya dari belakang, dan kepala Sasuke kini sudah bertengger dengan indahnya di perpotongan bahu Naruto, dan tak bisa ia pungkiri bahwa deru nafas sasuke cukup menggelitik libidonya. Perlahan aliran darah berpacu pada wajahnya saat ia menyadari tingkahnya sendiri.
"Tubuhmu memanas, jantungmu berdetak lebih kencang, dan wajahmu memanas. Kukira aku paham dengan reaksi itu. Kau menyukaiku bukan?" bisik sasuke seraya membalikkan tubuh naruto sehingga wajah naruto berada tepat di hadapan wajah sasuke. Naruto melototkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sasuke. Dan sasuke balas menatap tajam kedalam matanya tak kuat dipandangi begitu naruto menggulirkan bola matanya kesamping tak ingin beradu pandang dengan iblis dihadapannya. "Dalam mimpimu!"
"Kurasa tidak, kau tahu aku sudah hidup cukup lama untuk hafal reaksi manusia sepertimu. Akui saja kau menyukaiku. Tak buruk juga, aku memang sangat tampan jadi wajar saja kau menyukaiku" Sasuke tersenyum menggoda setelah menyelesaikan deretan panjang kalimatnya. Naruto merona malu dan segera beranjak dari pangkuan sasuke, tak menyadari dirinya yang tak memakai penutup tubuh. Sasuke tertawa dan melemparkan selimut, dan Naruto mengambilnya dengan jengkel. "Huh, puas kau menggodaku." Dan setelah itu pintu kamar mandi berdebam dengan sangat kerasnya.
Pagi itu salju kembali turun, tak begitu lebat hanya mereka melayang dengan lembut untuk membuat para penghuni bumi merapatkan kembali selimut yang sempat merenggang, tak terkecuali dengan Naruto, bedanya ia tak hanya merapatkan selimut tapi juga merapatkan pelukannya pada seseorang yang entah sejak kapan sudah menjadi guling hangatnya. Sasuke yang tak pernah tidur itu hanya tenang-tenang saja. Menatap wajah tidur naruto adalah hobi tersendiri baginya. Jangan bayangkan wajah tidur seseorang yang damai dan elegan karena itu jauh sekali dari pemuda ini. Naruto tidur seperti penari yang dalam beberapa waktu bisa mengitari seluruh tempat tidur andai tak ada Sasuke yang memeluknya, lalu dia juga mengorok dan terkadang igauan keluar dari bibirnya. Bahkan terkadang ada sesuatu yang keluar dari mulutnya yang terbuka, membuat Sasuke geram dan menutup paksa bibir Naruto dengan tangannya.
"Apa kau tak ingin bangun hn" gumam Sasuke pada pria yang masih menjelajahi alam mimpinya itu, yang pastinya mimpi itu pasti menyenangkan karena beberapa kali Naruto tersenyum dan wajahnya merona. Dengan hati-hati Sasuke melepaskan pelukan Naruto dari tubuhnya, mengecup kening tuannnya itu pelan dan segera meninggalkan kamar, tak ingin Naruto tahu bahwa ia sudah menemani tidurnya semalaman.
.
.
.
"Hari ini anda ada jadwal rapat dengan para pemegang saham sekalian acara perkenalan anda dengan mereka selaku pemilik perusahaan yang baru, dan setelah itu anda akan memiliki janji makan siang dengan beberapa pemimpin perusahaan."
Naruto yang tengah memakai kemeja biru laut itu menoleh malas pada Sasuke, rapat dan jamuan makan siang bukanlah hal yang akan disukainya. Sasuke yang mengerti arti tatapan Naruto tersenyum geli, lalu ia meraih dasi Naruto yang terpasang berantakan dan merapikannya.
"Aku akan menunjukmu sebagai sekretarisku, kau harus membantuku untuk semua ini" Sasuke mengangguk tanda mengerti dan setelah itu keduanya kembali tak bersuara. Mereka segera ke ruang tengah dimana pelayan telah membuatkan sarapan. Sasuke mengambilkan sebuah kursi untuk Naruto dan menariknya. Naruto menatap malas pada Sasuke karena ia merasa diperlakukan seperti seorang tuan putri.
"Aku bisa sendiri" ucapnya dan setelah itu semuanya hening, Sasuke hanya berdiri disisi Naruto, karena makanan manusia tak akan memiliki rasa apa-apa di lidahnya, hambar dan tidak mengenyangkan.
"Hasil keputusan rapat hari ini, berdasarkan pendapatan yang di peroleh Januari tahun lalu sampai desember kita sudah meraih keuntungan dua kali lipat dari modal awal, dan sesuai kesepakatan lima puluh persen dividen akan dibagikan dan sisanya akan dijadikan sebagai tambahan modal. Sekian rapat hari ini terima kasih" semua orang bertepuk tangan setelah Naruto mengakhiri rapat pertamanya, beberapa dari pemegang saham berdecak kagum pada Naruto yang masih muda namun sepertinya sudah memiliki bakat alami untuk memimpin perusahaan.
"Kerja bagus, My Master" puji Sasuke seraya menyerahkan air mineral yang telah di buka segelnya. Naruto mengambilnya dan meminumnya dengan rakus. "Segarnya" ungkapnya dan menyerahkan kembali botol air mineral itu pada Sasuke.
"Sebelum kita makan siang ada yang ingin kutanyakan padamu, bagaimana perkembangan penyelidikanmu tentang anggota akatsuki itu"
Sasuke menyeringai "Anda beruntung kali ini, salah satu dari pemimpin perusahaan yang akan anda temui nanti adalah salah satu anggota akatsuki, meski dia bukan termasuk anggota inti, tapi kurasa anda bisa mengorek sesuatu darinya"
Dan sebuah seringai terpampang diwajah tampan Naruto.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saat ini Naruto dan Sasuke tengah menikmati makan siang mereka, mungkin lebih tepatnya hanya Naruto yang menikmati karena Sasuke hanya terlihat mengaduk-ngaduk juice tomat pesanannya, alasannya simple saja warna tomat yang seperti darah itu yang menarik minatnya tapi tidak dengan rasanya yang hambar.
Sementara tiga orang lainnya yang merupakan pemimpin dari perusahaan yang saat ini berkerja sama dengan perusahaan Naruto terlihat sudah menyelesaikan makanannya. Pria berambut putih Yakushi Kabuto Direktur perusahaan Oto yang bergerak di bidang Sains, ia hadir mewakili Orochimaru sang Direktur Utama yang tak bisa datang karena penelitiannya yang belum selesai dan membutuhkan perhatiannya. Lalu pria selanjutnya adalah Sabaku Gaara, pria berambut merah dengan tato eksentrik di dahinya, direktur muda dari perusahaan Otomotif, datang ditemani saudara perempuannya yang terlihat dingin dan tegas, Temari. Lalu terakhir, Nona muda Hyuga Hinata seorang gadis cantik yang memiliki sebuah perusahaan pangan terkemuka dengan berbagai brand yang telah merajai pasaran dengan satu merk dagang hyuuga corp. Perusahaan Namikaze sendiri merupakan Supplier tetap untuk ketiga perusahaan ini, bergerak di berbagai bidang membuat perusahaan Namikaze menjadi perusahaan terkemuka.
Pembicaran bisnis mereka sudah berakhir sebelum acara makan siang, dan dengan kelihaiannya Naruto berhasil meyakinkan mereka untuk tetap menjadikan perusahaannya supplier tetap perusahaan mereka meski kini berada dalam management baru.
"Kudengar perusahaan anda pernah berkerja sama dalam proyek penelitian tentang anatomi tubuh manusia dengan sebuah laboratorium ternama, saya cukup terkesan Mr. Yakushi" ungkap Naruto setelah menyelesaikan makannya. Kabuto menatap Naruto dengan pandangan menilai sebelum menjawab. "Kami hanya membantu sedikit"
"Tidak, anda tidak tahu betapa membanggakannya hal itu. Bekerja sama dengan Laboratorium akasuna yang terkenal itu sungguh luar biasa, tidak keberatan berbagi pengalaman dengan saya?" tanya Naruto dengan senyuman manis dibibirnya. Kabuto memandang Naruto tajam, mencoba memilah apa sebenarnya yang ingin diketahui pria muda di hadapannya ini.
"Tidak begitu menarik sebetulnya, kami meneliti tentang organ-organ orang yang sudah meninggal yang memungkinkan untuk tetap awet dalam jangka waktu lama agar bisa di simpan dan donorkan pada orang yang tepat. Ya, bisa di bilang melanjutkan penelitian yang sudah ada saja" jawab Kabuto sedikit santai dibawah dua tatapan tajam Naruto dan Sasuke, Naruto tersenyum.
"Kudengar, yang memimpin penelitian kalian adalah dari pihak akasuna ya, kalau tak salah Sasori" gumam Naruto sambil berpura-pura berpikir, tapi ia bisa melihat raut terkejut di wajah Kabuto, dan hal itu pun tak luput dari perhatian Sasuke, keduanya menampilkan segaris senyum yang sangat tipis.
"Mungkin anda keliru, Sasori memang anggota keluarga Akasuna, tapi dia seorang seniman. Saya rasa anda salah informasi" suara bicara Kabuto tak setenang awalnya, ada nada gugup yang tak terlalu kentara, tapi jelas ia sedang gugup.
"Pembicaraan kalian membosankan, apa bagusnya membahas organ-organ mayat. Itu terlalu menyeramkan untuk gadis seperti kami" sela Temari seraya melirik rekan sesame perempuannya Hinata.
"Kau benar" sambung Naruto, dan setelahnya obrolan santai pun mengalir dengan lancar, sesekali Naruto membalas obrolan sementara Sasuke tetap stay cool dengan gayanya.
Hari sudah menjelang malam, langit beku mulai menggelap menyisakan perubahan suhu yang kian turun mendekati nol derajat. Sisa-sisa malam tahun baru masih bertebaran di sepanjang jalan, spanduk-spanduk dan poster promosi. Menggunakan mobil sedan hitam Sasuke melaju membelah kota paling sibuk di amerika dengan kecepatan sedang. Di sebelahnya duduk Naruto yang tampak merenung sambil merapatkan coat yang membungkus tubuhnya, Sasuke melirik sekilas dan menyalakan pemanas mobil bagi tuannya itu.
"Setelah aku selidiki lebih lanjut mengenai kabuto, aku tahu dia adalah salah satu asisten Sasori dalam bisnisnya. Dan pengakuan kabuto tentang proyek mereka yang membahas tentang organ manusia itu cukup untuk meyakinkanku bahwa Kabuto ikut dalam memasarkan organ manusia yang telah mati itu." Ungkap Sasuke memecah kesunyian, sementara Naruto hanya diam tak menjawab ia tampak tengah berpikir.
"Apa yang ada dalam pikiranmu saat ini Naruto?"
Naruto tersentak dari lamunanya. Ia lalu menoleh pada Sasuke yang masih fokus menatap jalanan yang sepi dan licin karena salju. "Aku hanya bingung, hal apa yang membuat ayahku dan para akatsuki ini bisa berhubungan. Lalu bisnis yang di lakukan para akatsuki itu, perdagangan senjata, perdagangan wanita, pembunuh bayaran, mafia narkoba, merakit dan meledakkan bom, perdagangan organ manusia, detektif dan mata-mata. Menurutku hal itu semua tak mungkin bisa berhubungan dengan ayah yang merupakan warga Negara Amerika yang baik."
Sasuke diam, tak ingin menjawab karena sepertinya Naruto hanya sedang bicara pada dirinya sendiri. Dari sudut matanya Sasuke melihat Naruto yang memiringkan wajahnya kejendela dengan pandangan sendu.
"Kupikir, mungkin saja salah satu dari bisnis ayah mengganggu atau menghambat kegiatan mereka, tapi bisnis yang mana? Kurasa ayah tak pernah berbisnis dengan dunia bawah tanah?" gumamnya lagi. Sasuke menghentikan laju mobil dan membukakan pintu, Naruto terkejut tak menyadari bahwa dirinya telah sampai di rumah, dengan langkah angkuh dia meninggalkan Sasuke begitu saja.
"Ada apa dengannya?" gumam Sasuke dan kembali melajukan mobil menuju garasi.
Detak jam diruang tengah mengalun merdu seiring dentingan jarum detik yang terus bergerak. Pukul tujuh lewat dua puluh satu menit, Naruto menyelesaikan makan malamnya. Para pelayan bergegas merapikan meja makan besar yang hanya di tempati satu orang tersebut, menyisakan ruang hampa yang cukup menyakitkan di hati Naruto, bahkan sekilas ia bisa melihat bayangan marah ibunya saat ia makan sambil bicara, atau pun senyuman charming sang ayah melihat kelakuannya. Tak bisa ia tahan, bulir-bulir hangat yang ingin keluar dari pelupuk matanya pun menetes perlahan dari kedua matanya. Sasuke yang selalu berdiri di samping Naruto pun menyadari hal itu, lalu dia memeluk leher Naruto yang sedang duduk terpaku dan menenangkan pria yang tengah bersedih itu. "Tenanglah, kau masih memiliki aku disini"
"Terima kasih, Sasuke" jawab Naruto. Pria itu sadar betapa dia membutuhkan Sasuke, meski awalnya hanya untuk balas dendam, tapi rasanya sekarang agak sedikit berbeda baginya. Ia butuh Sasuke untuk bersandar dan tempatnya mengadu. Mungkin ini sudah sedikit keterlaluan bahwa faktanya saat ini ia merasa tak bisa hidup tanpa Sasuke. Wajah Naruto perlahan memanas mengingat pikirannya yang berubah picisan dan kondisi saat ini dimana Sasuke tengah melakukan back hug yang cukup romantis menurutnnya. Dengan wajah merona Naruto melepas paksa tangan Sasuke.
"Hei, Kau jangan curi kesempatan, jerk" makinya dan langsung meninggalkan Sasuke yang mematung karena tingkah Naruto.
"Ada apa dengannya? Tadi sedih, sekarang marah-marah. Sedang PMS-kah?" piker Sasuke bingung sendiri, lalu menyusul tuannya yang sepertinya menuju ke ruang kerja. Disana Sasuke melihat Naruto yang membenamkan seluruh wajahnya di atas meja.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke dan buru-buru Naruto mengangkat wajahnya, memasang ekspresi datar yang di pelajarinya dari iblis di hadapannya.
"Tidak ada, hanya memikirkan cara untuk melawan akatsuki itu. Ah, kau pernah bilang kakakmu itu juga anggota mereka, bukankah kita bisa menyerangnya terlebih dahulu. Atau setidaknya kau bisa menghubunginya dan mengorek informasi."
Sasuke meringis membayangkan ide Naruto, entah kenapa ada raut tak suka di wajahnya. "Aku ingatkan kau Naruto, ini adalah kakakku yang tengah kau bicarakan. Dia cukup hebat dikalangan iblis sekalipun, dia cukup pintar dan berbelit-belit jika kau ingin menginterogasinya. Dan juga dia bukan orang yang mudah untuk di ajak kompromi. Aku bahkan heran, apa yang telah di perbuat akatsuki itu sehingga kakakku mau bergabung dengan mereka, bahkan sampai jadi anggota intelligent amerika."
"Tapi bukankah kau pernah bilang kelemahan kakakmu adalah kau?" Tanya Naruto dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
"Ya, kau benar tapi ada cara untuk membuat kakakku lemah terhadapku dan itu cukup menggelikan. Dia brother complex kalau kau mengerti maksudku"
Naruto memandang Sasuke dengan sedikit binar di matanya. "Bukankah itu bagus, kau hanya tinggal bilang aku ingin ini dan tampilkan wajah aku-adik-baik-yang-menyayangi-kakakku dan aku yakin kakakmu pasti luluh"
"Tidak akan semudah itu membujuk kakakku bodoh" umpat Sasuke.
"Hey, mana ada pelayan yang memaki majikannya brengsek" maki Naruto.
"Majikan ku saja yang terlalu bodoh, dan aku ini pelayan elit. Derajatku tinggi, dan aku ini iblis"
"Tapi tetap saja, aku ini bos mu"
Tak sadar keduanya sudah melupakan obrolan serius mereka hari ini, keduanya sibuk memperdebatkan hal kecil yang sebenarnya tak patut di perdebatkan. Dan entah bagaimana caranya kini keduanya sudah berada di atas kasur dan bertarung dengan pertarungan yang lebih bagus dari pertarungan mereka sebelumnya.
TBC
Gomen gomen gomen…
Ai baru update. Jujur Ai bingung mau lanjutin ceritanya kayak apa, tiba-tiba aja mood nulis Ai hilang dan semua inspirasinya terbang melayang. Mungkin ini kali ya, yang orang bilang WB.
Tapi syukurlah setelah dibaca lagi ceritanya berkali-kali Ai bisa update sekarang. Kira-kira ada yang punya pemikiran nggak nih gimana Naruto membalaskan dendam?
Nah, sekarang Ai nunggu komentar Readers sekalian di kolom review, biar Ai lebih semangat nulis lanjutannya.
Trus seperti biasa Ai mau ngucapin terima kasih buat Angel Muaffi AprilianyArdeta ChubbyMinland Dahlia Lyana Palevi Dinda Clyne Eun810 HyunnK.V Indah605 Ineedtohateyou InmaGination Juniel Is A Vampire Hybrid Khioneizys Lhacalala Mami Fate Kamikaze Meraina Neterya Potter-Snape MimiTao Namikaze Otorie Plincess-silent reader Princess of Darkness.2351 RisaSano Ryuu Suke Naru Part II Ryuusuke583 SJoy137 SNlop Zara Zahra alkuma4 alta0sapphire andika yoga atika chan depdeph dillauchiha95 fuJOshi07 kyuubi no kitsune 4485 lolipopkwon88 nelsonthen52 norfatimah96 sakuranatsu90 saphire always for onyx shikakukouki777 .11 sivanya anggarada uzumakinamikazehaki yukiko senju zadita uchiha yang udah Favoritkan cerita ini
Juga buat Akasuna no Akemi AprilianyArdeta AriKazeMachi ChubbyMinland Dahlia Lyana Palevi Dinda Clyne Eun810 Fukuzatsuna Ai Indah605 InmaGination Jasmine DaisynoYuki Juniel Is A Vampire Hybrid Khioneizys Lhacalala Princess of Darkness.2351 RisaSano Ryuu Suke Naru Part II Ryuusuke583 SJoy137 Shin-chan Yuuichi TheopilaMax Zara Zahra alkuma4 alta0sapphire amakusa007 aokiaoki95 aqizakura changmomo2 chennie21 choikim1310 dillauchiha95 himekaruLI 85 julihrc kyuubi no kitsune 4485 laxyovrds nelsonthen52 norfatimah96 saphire always for onyx shikakukouki777 .11 zadita uchiha zukie1157 yang udah Follow
Dan juga buat yang review akan ai balas reviewnya via PM.
