Hai minna. Sebelumnya Ai mau minta maaf banget nih udah ngebiarin fic ini lama sekali. Sebenarnya Ai udah coba tulis tapi tetap aja pikiran Ai blank pas buka , dan akhirnya ditutup lagi tanpa nulis satu huruf pun. Tapi karena takut kelamaan nggak update dan ini fic kehilangan terlanjur basi, Ai takut nantinya jadi men-discontinue. Semoga saja fic ini nggak ngebosanin dan terasa aneh. Karena jujur Ai ngetik tanpa dalam keadaan buntu ide.
Dari pada Ai cuap-cuap panjang lebar, selamat membaca ya.
Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto
You Are My Devil belong to Fukuzatsuna Ai
Deru nafas terengah ditengah malam panjang yang tengah mereka arungi berdua. Bergumul ditengah dinginnya malam di bulan Februari. Naruto dan Sasuke menikmati setiap detik penyatuan yang telah menjadi ritual wajib bagi keduanya. Sasuke yang menghujam tubuh Naruto hingga titik terdalam yang ia punya. Naruto yang terus menggumamkan melodi paling indah bahkan bagi sang mahluk penghuni neraka.
Sejuta fantasi melayang. Semua terasa berkabut saat penyatuan mereka mencapai puncaknya. Sasuke menggeram rendah, dan Naruto membenamkan seluruh wajahnya dalam tubuh Sasuke. nafas mereka yang tak beraturan membuat dada keduanya naik turun. Naruto tampak menawan dengan warna merah jambu menghiasi pipi si pemuda tan. Sasuke tampan maksimal dengan pandangan mata sayu dan menggoda.
Perlahan Sasuke mengecup pelan kening Naruto. Membiarkan bibirnya menempel lama dikening pemuda yang telah menjadikan dirinya sebagai seorang pelayan. Darah Naruto berdesir, entah kenapa perhatian Sasuke kali ini membuatnya semakin berdebar.
Rasa hangat perlahan mengalir dari kening Naruto keseluruh tubuhnya. Ia merasa nyaman dan aman. Benarkah Sasuke ini iblis dan bukannya malaikat yang tengah menyamar? Ia tak pernah merasa se aman ini sebelumnya dalam dekapan seseorang. Seingatnya terakhir kali ia merasakan pelukan yang sehangat ini adalah dalam dekapan ayah dan ibunya.
Tangan Naruto meraih pipi Sasuke, membelai lembut kulit sehalus sutera sang iblis penjaganya.
"Sasuke, benarkah kau ini iblis dari neraka?" Naruto menyuarakan pemikirannya.
Sasuke meraih tangan Naruto yang membelai wajahnya, menggenggam tangan pemuda yang saat ini tengah memandang mata onyxnya.
"Kenapa? Kau meragukanku?"
Naruto menggeleng lalu menatap dalam mata onyx yang kini balas menatapnya. Dengan gerakan perlahan tangannya terus mengelus pipi iblis berwujud pemuda tampan di hadapannya. Memperhatikan setiap lekuk wajah yang kini ia pahat dalam-dalam di ingatannya.
"Hei, Sasuke. Apakah surga itu benar-benar ada?"
Sasuke cukup terkejut dengan pertanyaan Naruto yang sungguh tidak terduga. Apakah Naruto mulai menginginkan surga setelah melakukan kontrak dengannya?
"Ada apa? Kenapa kau menanyakannya?"
"Tidak ada. Hanya penasaran saja. Kau ini iblis dari neraka bukan?"
Sasuke tidak langsung menjawab pertanyaan Naruto. ia membiarkan kata-kata itu mengambang untuk sementara dan mengamati ekspresi pemuda dalam dekapannya.
"Tentu saja surga itu ada. diperuntukkan bagi semua hamba tuhan yang setia. Dan tugaskulah untuk membuat mereka berpaling, dan membawa mereka ke neraka bersamaku. Kenapa? Apa kau menginginkan surga?"
Naruto memalingkan wajahnya, menghindar dari tatapan tajam Sasuke. "Tidak, tidak setelah semua yang aku lakukan bersamamu. Aku akan ikut denganmu bahkan ke neraka yang paling dalam sekali pun tak mengapa. Aku sudah terlalu terbiasa dengan hadirmu. Apakah neraka itu tempat yang sangat buruk?"
"Entahlah, bagiku neraka seperti tempat suram yang berisikan ketakutan dari setiap manusia. Menyenangkan sebetulnya melihat mereka tersiksa. Tapi lebih dari pada itu aku senang di sini. Ada banyak hal menarik yang bisa di perhatikan. Termasuk mengikat kontrak misalnya."
Naruto merenung sejenak, membayangkan bagaimana neraka itu sesuai dengan defenisi Sasuke. "Hm, apa nanti disana kau akan menyiksa aku juga, Sasuke?"
Pertanyaan itu meluncur dan membawa keduanya dalam keheningan. Sasuke tak pernah berpikir apa yang akan ia lakukan pada Naruto nantinya. Setahunya, saat ini ia menikmati saat-saat bersenang-senang bersama sang master.
"Entahlah, kau ingin aku menyiksamu disana?"
Mata Naruto teralih pada jendela kamar. Menatap ribuan bintang dari jendela yang belum tertutup tirainya. Entah bagaimana langit terlihar sangat gelap, membuat bintang-bintang yang sebelumnya enggan bersinar, kini mulai muncul tanpa adanya sinar sang bulan.
Naruto terngah berpikir. Menimang-nimang bagaimana rasanya nanti di neraka bersama Sasuke. Bagaimana Sasuke mungkin akan menyiksanya nanti. Dan semburat merah perlahan muncul di wajahnya saat membayangkan penyiksaan yang dilakukan Sasuke pada tubuhnya. Pandangan penuh tanya dilayangkan oleh sang iblis.
"Kalau iblis penyiksaku itu kau kurasa hukumannnya tak akan jauh-jauh dari hal-hal mesum"
Seulas seringai terpampang jelas di wajah Sasuke. "Dan aku tahu kau menyukai kemesumanku itu bukan, Naruto?"
Semburat kemerahan itu terus menyebar keseluruh wajah Naruto dengan warna yang semakin pekat. Meski sudah sering menghadapi sang iblis namun tetap saja tubuhnya selalu bereaksi sama setiap kali sang iblis menggodanya. Memerah, dan memanas.
"Katakan padaku, Sasuke. Akankah kau terus menjagaku andai aku bukan seseorang yang mengikat kontrak denganmu?"
Naruto menatap wajah Sasuke yang entah mengapa semakin membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tangan yang tadi membingkai wajah sang iblis kini di turunkan. Enggan sang iblis mengetahui betapa ia tengah gemetar dengan degupan jantung yang tak beraturan mendengar pertanyaannya sendiri. Rasanya seperti ia menjadi seorang perempuan lemah.
"Aku bukan malaikat yang hobi menolong orang, Naruto. Harusnya kau tahu itu sebelum menanyakannya. Kenapa? Kau ingin aku menjadi seperti pangeran yang selalu menolong sang tuan puteri saat ia dalam kesulitan?"
"Damn it, Aku bukan perempuan?"
"Dan kau juga bukan tuan puteri dan aku juga bukan pangeran" jeda sejenak Sasuke memasang senyum menggoda miliknya "Tapi kau terdengar seperti perempuan yang sedang jatuh cinta bagiku. Katakan padaku, apakah kau mencintaiku Naruto?"
Detakan pada jantung Naruto kian bertalu. Wajahnya memanas dan tak sanggup menatap kelamnya onyx yang kini menatap mata safirnya tajam, takut tenggelam dalam kegelapan onyx di hadapnnya, Naruto memutar tubuh membelakangi Sasuke, bermaksud menghindari pertanyaan yang satu itu. Belum siap untuk memberikan jawaban apapun pada sang iblis.
"Sudah malam, aku mau tidur." Adalah kalimat penutup yang disampaikan Naruto pada Sasuke. mencoba memejamkan mata tapi tak bisa. Jantungnya tak bisa tenang. Dirasakannya pergerakan diatas ranjang dan kemudian tangan kekar Sasuke membawa tubuh telanjangnya kedalam pelukan erat Sasuke. kulit bertemu kulit, terasa panas yang membakar dan sesak yang menyenangkan. Pikiran Naruto semakin liar membuatnya semakin tidak bisa memejamkan mata. Terlebih dengan tangan Sasuke yang bermain-main diperutnya. Menggelitik dan menaikkan libidonya yang tadi sudah teredam.
"Hentikan Sasuke biarkan aku tidur dengan nyenyak malam ini"
Pagi itu berlangsung dengan damai di mansion yang telah direbut kembali oleh Naruto bersama Sasuke. Naruto sarapan pagi ditemani sepiring penekuk beselai madu yang terasa lezat di lidah. Tidak ada lagi Naruto yang dahulu terlunta-lunta dijalanan, yang untuk makan dua kali sehari saja begitu susahnya. Inilah hidupnya, inilah seharusnya yang dimilikinya sejak dahulu. Harusnya ayah dan ibunya ada di dekatnya saat ini. Harusnya mereka sarapan dengan hangat saat ini. Harusnya begitu. Segalanya yang terjadi selalu mengingatkannya akan kenyaataan yang tak dapat di rubahnya.
"Jadi apa rencanamu hari ini, Naruto" Bariton yang telah menjadi pelayannya itu terdengar menginterupsi lamunannya.
"Selidiki lebih dalam lagi tentang Sasori. Kita mulai dari bocah kecil penyuka boneka itu" Sendok dan garpu dilepaskan dari tangan. Naruto meraih serbet untuk membersihkan sisa makanan di mulutnya.
"Baiklah"
Sasuke pergi meninggalkan Naruto yang bingung harus melakukan apa lagi pagi ini. Menonton serial romantis di pagi hari atau melihat tayangan berita tentang berbagai kasus yang terjadi di negeri ini, atau pun sekedar membaca koran pagi. Apa pun itu ia ingin merasa sibuk. Otaknya terasa penuh dengan segala kejadian telah terjadi. Ia tak tahu harus melangkah seperti apa andai tak ada Sasuke bersamanya. Ia ingin segera menemukan pelaku yang telah membunuh keluarganya. Setidaknya ia ingin tahu kenapa keluarganya harus mengalami semua ini. Apa mereka memang layak menerima semua itu.
Televisi terus bercerita entah tentang tayangan apa, dan koran digelar tampa satu huruf pun yang terbaca. Televisi dan koran pagi nampaknya tidak berhasil menarik minat Naruto.
Si pirang pun berakhir duduk di kursi malas, dengan pemikiran yang semeraut. Apa yang harus dilakukannya? Apa yang akan terjadi? Dan bagaimana semua ini akan berakhir nanti? Semuanya berputar dalam sel-sel otak Naruto seperti mau memberontak untuk keluar.
Rasanya Naruto ingin menghilangkan kepalanya. Semua ini terlalu berat untuk ia terima.
Kapan Sasuke akan kembali? Sungguh Naruto butuh iblis itu saat ini. Sebagai sandaran agar ia dapat berdiri dengan gagah tanpa harus memperlihatkan sisi rapuhnya pada dunia.
Berpikir tentang sang iblis membuat perasaan Naruto semakin campur aduk. Ia sadar bahwa ia telah melibatkan terlalu banyak perasaan saat berhadapan dengan iblis yang menjadi pelayannya itu. Ada getaran yang asing yang ia rasakan saat bersama Sasuke. Sebuah rasa yang harusnya terlarang ia berikan untuk Sasuke. Rasanya membuatnya hampir gila dengan segala kebutuhan dan ketergantungannya terhadap Sasuke. Apakah ini baik-baik saja untuknya? Harusnya ia bisa mengendalikan hati dan pikirannya saat bersama iblis itu, hingga ia tidak kelepasan dan terbawa perasaan saat berinteraksi dengan Sasuke. Bagaimana pun Sasuke itu adalah iblis, meski rupanya saat ini seperti manusia tampan.
Dentang jam menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sudah hampir satu jam semenjak kepergian Sasuke. Tidak biasanya Sasuke pergi meninggalkannya selama itu. Apakah Sasuke mendapatkan informasi yang bagus?
Umur panjang, baru saja di pikirkan datang dengan seulas seringai di wajahnya. Tidak salah lagi Sasuke pasti mendapatkan informasi yang berharga. Atau setidaknya begitu.
"Jadi kemana saja kau, lama sekali"
"Baru ku tinggal sebentar saja kau sudah merindukanku, my master?" tanya Sasuke terdengar menggoda.
"In your dream. Percaya diri sekali, kapan aku merindukanmu?"
"Setiap saat tentunya. Setiap kau lepas dari pandanganku, dan saat itulah kau akan merindukanku. Aku tahu itu dari tatapanmu. Jujurlah, kau merindukanku?"
"Enak saja. Aku tidak merindukanmu, Jerk. Sudah sekarang katakan apa yang kau dapat."
"Selalu menyenangkan menggodamu, my master"
"Sasuke―"
"Aku membuntuti Sasori seharian ini. Dan nasib baikku dia sedang menuju rumah bedah tempat dia biasa melakukan operasi. Tadi saja aku melihatnya mengambil jantung, ginjal dan mata milik seorang gadis belia. Dengan modus menjadikan gadis itu teman kencannya, Sasori meracuni gadis itu hingga terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Dan rencananya malam ini orang yang akan membeli organ curian itu akan datang menemui Sasori di rumah bedah miliknya itu. Dan si pelanggan adalah kepala rumah sakit swasta yang sudah menjadi pelanggan Sasori sejak lama."
Naruto menggeram, kekesalan terlihat di wajahnya. "Kejam sekali, memanfaatkan penampilannya yang seperti bocah untuk tindakan sesadis itu, lalu mayat gadis itu bagaimana?"
Sasuke menyeringai memandang Naruto "Diawetkan, siapa tahu ada pelanggan lain yang membutuhkan organ, Sasori tak pernah membuang semua mayat yang di bunuhnya. Ia selalu mengawetkannya. Dan mayat-mayat yang telah kosong tinggal kulit dan tulang itu akan di balsam dan di jadikan patung lilin dengan teknik yang dikuasainya. Jadi dengan begitu tak akan diketahui kemana mayat-mayat itu"
"Jadi, patung-patung karyanya itu adalah―"
"Ya, itu adalah mayat korbannya yang telah ia modifikasi sedemikian rupa"
"That fucking bastard, orang seperti dia pantasnya masuk neraka saja"
"So, wanna go to kill him to night, my master?"
"Pastikan besok Sasori dan pelanggannya itu tak akan lagi bernafas. Manusia seperti mereka tak pantas menghirup udara yang sama dengan kita"
Sebuah seringai kejam terukir di wajah Sasuke. Auranya berubah menjadi sepekat malam. Tuannya kali ini benar-benar menarik. Ia memang beruntung telah meninggalkan neraka gelap nan membosankan, dimana semuanya terasa kaku dan suram.
"Ok, I'll do it, my master"
Udara dingin di penghujung Januari menyambut Naruto dan Sasuke begitu keluar dari mansionnya. Uap-uap kecil mengepul keluar dari hidung. Salju menumpuk di halaman akibat hujan salju yang terjadi dini hari tadi. Naruto mengkeret beku, sepertinya suhu hari ini terlalu dingin untuk di atasi oleh jaket tebal yang membungkus tubuhnya.
Mata Naruto berpaling pada iblis di sampingnya yang tengah memperhatikan bawaannya, sebuah koper dengan sejumlah uang di dalamnya. Berencana untuk menipu Sasori dan menjadi pelanggannya. Sasuke hanya memakai selembar jaket dan sebuah syal menggantung dirinya. Dan sepertinya iblis itu tak merasa dingin sama sekali. Padahal Naruto yang sudah terlihat seperti buntalan dengan baju berlapis tiga masih kedinginan.
Langkah mereka terayun ke arah halte bus terdekat. Enggan menggunakan mobil yang rawan kecelakaan, meski Sasuke sudah mengatakan akan menyetir dengan aman. Namun bus lebih menarik perhatian Naruto untuk bepergian aman versi dirinya sendiri.
Bus terus melaju menuju Street 101, sepanjang perjalanan beberapa penumpang naik dan turun di beberapa halte. Toko-toko mulai bertebaran dengan pernak pernik merah jambu. Banyak mahkluk yang bernama wanita terutama remaja yang memadati kawasan pertokoan. Sekedar melihat cokelat, kue atau pun boneka yang lucu. Berharap dapat membeli sesuatu atau dibelikan sesuatu.
Bus berhenti di halte paling ujung dari Street 101, hanya tertinggal Naruto dan Sasuke di sana. Keduanya turun, dan bus kembali berputar tanpa ada penumpang yang naik. Naruto melihat sekitar jalan yang sepi. Keduanya ada di penghujung jalan di pinggiran New York. Hanya ada beberapa gudang tua yang sepertinya jarang di gunakan. Dan beberapa rumah penduduk yang tidak bisa di katakan rapat seperti di pusat kota.
Naruto mengikuti Sasuke melangkah menuju bangunan gudang, terus melangkah hingga akhirnya mereka sampai di hutan di pinggir kota. Salju yang tebal menghalangi langkah Naruto di hutan yang sepertinya jarang di tempuh oleh manusia. Melihat kesulitan yang di alami tuannya itu Sasuke berinisiatif ingin menggendong Naruto, yang di tolak mentah mentah oleh sang tuan dengan alasan dia bisa sendiri dan dia bukan perempuan yang harus diperlakukan seperti itu. Jadilah Sasuke hanya menggenggam tangan tuannya agar tidak jatuh atau pun salah melangkah.
Lima belas menit menyusuri hutan, pohon yang tumbuh mulai terlihat jarang dan sebuah bangunan bercat putih terlihat bersembunyi di tengah hamparan salju. Dua orang terlihat tengah berjaga di depan pintu masuk.
Sasuke melangkah dengan tenang seanggun langkah singa jantan yang hendak menerkam mangsanya. Perlahan dan tenang, agar sang buruan tak menyadarinya.
"Siapa kalian" adalah kalimat pertama yang menyambut mereka. Naruto menggerutu dalam hati, betapa tidak sopannya orang-orang ini.
"Kami membutuhkan hati untuk adikku ini, dia kena kanker hati" dusta Sasuke dengan lugas, tanpa kecurigaan sedikit pun sang penjaga melepaskan Sasuke dan Naruto dari prasangkanya.
"Tunggulah di dalam, tuan Sasori sedang ada tamu yang lainnya."
"Thanks"
Sasuke dan Naruto melangkah menyusuri ruangan yang sepertinya merupakan sebuah ruang tunggu. Tak lama, seorang wanita berambut hitam berpakaian perawat datang menghampiri keduanya.
"Jadi siapakah disini yang membutuhkan hati?" tanya sang perawat to the point. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan praktek haram yang di jalankan oleh Sasori ini.
"Dia, adikku. Dia di diagnosis kena Kanker hati, dan sedang dalam perawatan. Rumah sakit tempat kami berobat sedang menunggu pendonor hati untuk adikku, tapi aku tak ingin adikku menderita lebih lama lagi. Dan aku mendengar disini aku bisa mendapatkan transplantasi hati untuk adikku secepatnya." Kebohongan Sasuke mengalir dengan alami. Tak akan seorang pun percaya bahwa kata-kata Sasuke barusan adalah dusta. Naruto menggelengkan kepala, bersumpah dalam hati untuk selalu mengingat bahwa Sasuke adalah iblis, jangan pernah termakan omongannya, karena dustanya mengalir sama seperti sebuah kejujuran.
"Kalau begitu mari ikut saya untuk pemeriksaan awal"
Mengambil sebuah kursi roda, si perawat menyuruh Naruto untuk duduk. Kursi di dorong meninggalkan Sasuke di ruang tunggu. Naruto membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar dengan telinga tajam Sasuke.
"Lakukan tugasmu dengan baik"
"Of course, my master"
TBC
A/N : Akhirnya selesai juga, dada Ai berasa lapang dikit karena udah bisa nyicil utang satu.
Buat yang protes ini fic kependekan Ai minta maaf, kemampuan Ai buat nulis Cuma segitu dulu. Dan seperti biasa, Ai selalu Update barengan sama Fic Ai yang lain. Yang berkenan silahkan di baca.
Trus buat yang nunggu Aku, Kamu dan Kakakku, Ai usaha in buat update segera, ceritanya baru jadi separuh.
Bagi yang berkenan Ai minta reviewnya, karena bagaimana pun review kalian semua adalah semangat bagi Ai buat nulis.
Maaf belum sempat balas review.. nanti Ai usahain balas satu satu via ponsel. Soalnya Ai ngga bisa lama2 di warnet.. Gomen ne
Special Thanks buat yang review fav/follow
