Berawal dari paksaan.
It's Happen Before...
Naruto POV
Hari itu aku sedang duduk-duduk di café bersama teman-temanku. Saat ini jam kuliah kami sedang kosong, dan aku sama sekali tak menyangka bahwa hari yang damai ini akan mengubah banyak hal dalam hidupku. Semua bermula dari sini, Sasuke Teme Uchiha, teman tapi rivalku, musuh sekaligus sahabatku, orang yang paling ku benci sekaligus orang yang paling kucintai, memaksaku dengan tatapan tajamnya mengikutiku menuju taman kampus dibawah pohon sakura. Menyudutkanku dan menatapku sengit.
"Jadilah pacarku dan aku tak menerima penolakan" ucapnya dingin. Bicara apa dia? Mengigau?
"Kau gila!" desisku dan menatapnya sengit, dan dibalas tak kalah dingin olehnya.
"Aku mencintaimu, dan aku tak mau tahu. Kau adalah kekasihku mulai detik ini" keputusan sepihak Sasuke membuat kedua bola mataku membola. Dia gila! Sejak kapan pernyataan cinta bisa berubah dari manis menjadi begitu menyebalkan.
"Kau payah. Begitukah caramu menyatakan cintamu? Kau gila, menyatakan cintamu seperti ingin memusuhiku" makiku padanya. Sasuke benar-benar stress, dia pasti sudah tak waras sekarang.
"Dasar bodoh" umpatnya dan menarik kepalaku, menempelkan bibirnya ke bibirku dan aku hanya bisa menatap terpaku seperti orang bodoh. Jantungku, oh jantungku mengapa berdebar begitu kencang?
"Wajahmu memerah, seperti orang bodoh saja" dan pemandangan paling aneh seumur hidupku tersaji di hadapanku, Sasuke tertawa dengan sangat elegan dan menggoda. Debaran jantungku semakin menggila karena pesona sang bungsu Uchiha, gila aku sudah gila. Semakin lama, jeratannya semakin berbahaya.
"Kau menyebalkan" bisikku dan memeluknya, membenamkan wajahku yang merona dalam pelukannya, merasakan debaran jantung yang sama kencangnya dengan degup jantungku, menghentak dengan irama yang terdengar indah ditelingaku.
Dan beginilah awal kisahku dan Sasuke, bermula dari pernyataan cinta bodohnya di bawah pohon sakura di musim semi. Tempat yang cukup romantis andai kalimat yang digunakannya juga romantis, tapi ini Sasuke yang kita bicarakan, tak mungkin ia berubah seperti itu bukan?
Tak banyak yang berubah setelah aku dan Sasuke resmi pacaran, hanya beberapa penggemar Sasuke yang histeris karena pria idaman mereka tak single lagi. Dan satu hal lagi, aku tak tahu betapa Pervert-nya seorang Sasuke Uchiha sebelum aku pacaran dengannya. Sasuke dengan lihai selalu mencari kesempatan untuk mencium atau sekedar menyentuhku, seperti yang terjadi saat ini di sudut perpustakaan.
Aku tak tahu bagaimana bisa aku terjebak di sini di bawah kurungan Sasuke. Yang ku ingat aku hanya ingin mengambil beberapa bahan bacaan untuk makalah yang sedang aku kerjakan. Dan dengan kurang ajarnya, si brengsek Uchiha ini datang bak malaikat penolong berhati iblis. Pura-pura membantuku mengerjakan makalah, dan berakhir dengan aku yang terpojok di sudut sepi perpustakaan.
"Hei dengar, ini tempat umum. Bisakah kau melihat situasi Mr. Pervert" dengusku tak percaya dengan sikap Sasuke yang seenaknya dan tengah menatapku lapar.
"Kalau begitu kau mau melakukannya di tempat yang lebih privasi? Baiklah apartemenku bagaimana?" ucapnya dengan seringai jahil yang muncul di bibirnya yang selalu terlihat menggiurkan untuk di kecup.
"Kau―Damn it. Datang ke apartemenmu sama saja dengan mempersembahkan tubuhku pada iblis mesum sepertimu. Aku tak bisa jamin aku akan selamat keluar dari sana"
"Entahlah, kita tak akan tahu sebelum mencoba" Sasuke semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku, menempelkan hidung mancungnya di hidungku. Wajahku semakin merona, mataku di penuhi oleh wajah Sasuke yang menatap bibirku dengan pandangan yang menggoda.
"Jangan coba-coba" bisikku yang entah kenapa terdengar seperti desahan yang tertahan di telingaku. Sasuke semakin merapatkan bibirnya ke bibirku, hingga ujung bibir kami bertemu.
"Nikmati saja"bisiknya, bibirnya menggelitik bibirku saat ia bicara dan perlahan Sasuke melumat pelan bibirku, mengulumnya dan memberikan sengatan-sengatan listrik aneh di sekujur tubuhku. Sasuke memelukku erat, mengerakkan kepalanya mencari posisi yang nyaman. Aku meraih tubuhnya, membawa ia lebih rapat lagi ke tubuhku. Aku menyukai sensasi saat tubuhnya menempel erat ditubuhku, ada perasaan aneh didadaku yang membuatku menginginkannya.
Di sela ciuman kami tangan Sasuke bergerak turun menggoda punggungku yang sensitif, tak tahu aku belajar dari mana desahan sensual pun terdengar dari sela bibirku yang di bungkan oleh Sasuke. Dan kurasakan ia tersenyum di sela ciuman kami.
"Yakin tak ingin ke apartemenku" ucapnya seraya melepas ciuman kami, nafasku tersenggal dan dadaku naik turun membutuhkan oksigen. Aku menggeleng lemah tak ingin terbujuk rayuannya.
"Oh begitu" ucapnya dan lanjut menciumku lebih, buas dari sebelumnya. Sebelah tangannya menyusup kedalam kaosku dan aku melotot tak percaya dia berani melakukan itu di sini. Aku berusaha melepas tangannya dari payudaraku namun tangannya yang lain menahan kedua tanganku di belakang tubuhku. Ia melepaskan ciumannya dari bibirku hingga aku dapat melancarkan protesku, tapi apa yang ku katakana tak memberikan efek yang ku harapkan pada Sasuke. Suaraku hanya berupa desahan yang tertahan sementara dia semangat menyentuh dan membuat kiss mark di sana.
"Ssas―suke ple―ase, berh―hentih―"
"Yakin mau berhenti?" godanya lalu tangannya memaksa masuk kedalam celana dalamku, mencubit sesuatu di sana yang membuatku ingin menjerit nikmat, tapi kutahan dengan menggigit kuat bibir bawahku.
"Kau basah di bawah sini, dan aku lihat―"ujarnya sambil menatap kebawah, dan aku memandang Sasuke horror "Aku tegang di bawah sini, setidaknya bertanggung jawablah"
"Mati saja kau, cari saja perempuan lain" makiku setelah menemukan kembali sedikit kewarasan dan suaraku.
"Benarkah, kalau begitu aku akan memangil beberapa orang penggemarku" ucapnya dengan senyuman manis yang menyebalkan bertengger di wajah tampan nan menyebalkan miliknya.
"Coba saja dan setelah itu aku akan memotong benda kebanggaanmu itu hingga tak bisa digunakan" aku menyeringai menang, Sasuke menatapku tak percaya. "Kau mengerikan"
"Katakan itu pada dirimu sendiri tuan pemaksa" dengusku kesal dan merapikan kembali penampilanku, semuanya bisa ku buat terlihat kembali seperti semula, kecuali bibirku yang memerah dan bengkak. Dia benar-benar mengerikan.
"Kau sendiri menikmatinya bukan, miss tsundere" senyuman jahil itu kembali bertengger di wajahnya. Aku pun meninggalkannya yang masih tersenyum sendirian di antara rak-rak buku. Aku membawa beberapa buku yang tadi ku ambil dan mulai mengerjakan makalahku.
Tapi ditengah pekerjaanku memikirkan penyelesaian untuk tugasku pikiranku tanpa bisa ku cegah malah melayang pada Sasuke. Sasuke mungkin lelaki paling mesum yang pernah ku temui, dia juga tidak memiliki sisi romantis sama sekali, dan selalu sukses membuatku kesal sepanjang hari. Tapi dibalik itu semua dia adalah pria paling perhatian yang pernah ada, dan yang terpenting aku sangat menyadari betapa dia mencintaiku dan mengerti diriku di balik sikap angkuhnya itu.
Sesuatu yang dingin menempel dikepalaku dan menyadarkanku dari lamunanku. Sebuah cola dingin dengan bulir embun diluarnya tersaji di hadapanku. "Memikirkanku, dobe" tebaknya tepat sasaran dan mengambil posisi duduk di hadapanku.
"Kau terlalu percaya diri, teme. Apa kau buta hingga tidak melihat buku-buku yang berserakan dihadapanku" sungutku kesal seraya meraih cola yang diberikannya dan meneguknya rakus.
"Pelan-pelan, minumannya tak akan lari sekalipun kau menikmatinya dengan santai" dan ia membuka tutup cola miliknya dan meminumnya dengan santai. Lalu mengambil salah satu buku milikku dan mulai mencoret-coret sesuatu disana, tak lama ia menyodorkannya padaku.
"Arigatou ne, kau memang yang terbaik" pujiku dan memeluk lengannya erat dan ia hanya menggumam lalu menuju rak komik mengambil satu dan mulai membacanya, sedangkan aku mulai menyalin beberapa kalimat yang sudah ditandai Sasuke dan menjabarkannya.
Tak lama waktu berselang hari sudah sore, dan tugasku pun rampung. Kulirik Sasuke sudah mendengkur pelan disebelahku. Mungkin dia terlalu bosan menungguiku mengerjakan makalah, tapi siapa suruh dia tak pulang saja duluan. Kupandang wajah tertidurnya yang entah mengapa begitu menenangkan. Saat tertidur dia tidak terlihat 'berbahaya' malah terlihat manis dan menggemaskan. Mata onyx yang biasa menatap tajam kini terpejam rapat, dan bibir yang biasa mengucapkan sesuatu yang sangat menyebalkan itu kini terkatup rapat. Iseng kucubit pelan pipinya menariknya kesamping menimbulkan ekspresi lucu di wajah tidur Sasuke.
"Puas dengan apa yang kau lakukan? Sekarang izinkan aku balas dendam" ujarnya dengan mata tertutup, dan aku terkejut.
"Kau bangun" aku bergerak gelisah ingin beranjak.
"Hanya orang bodoh yang tak bangun saat pipinya di tarik seperti itu, dobe" seringainya dan langsung menarik punggungku, menempelkan bibirnya ke bibirku. Ya ampun, dia ini benar-benar tak kenal tempat, siapa pun bisa saja memergoki kami jika begini, meski perpustakaaan sedang sepi karena kebanyakan mahasiswa sudah pulang,tapi tetap saja―
"Bisakah kalian mencari tempat yang pas untuk berbuat mesum?" suara seseorang menginterupsi ciuman Sasuke, dan aku tertunduk malu dengan wajah merah karena kelakuan kekasihku ini.
"Kau mengganggu saja, Nara" ucap Sasuke dan menarik tanganku paksa.
"Hei, setidaknya biarkan aku membereskan bukuku dulu, teme. Ah, sedang apa kau di sini Shka― eh, Nara-kun" kurasakan tatapan menusuk Sasuke saat aku memanggil shikamaru dengan nama kecilnya. Dia tak pernah suka aku memanggil lelaki lain dengan nama kecilnya.
"Aku sudah tidur di sini sedari tadi, dan suara rebut kalian benar-benar mengganguku, cari hotel sana, dasar" Shikamaru menguap bosan dan merapikan buku-buku yang sudah dijadikannya bantal
"Kalimat itu berlaku untukmu, pustaka bukan tempat tidur jika kau belum tahu" dengusku tak terima diperlakukan seperti pasangan mesum.
"Ya, ya terserah kalian saja. Aku mau pulang, jika kalian sudah benar-benar tak tahan setidaknya tutup dulu pintu ya. Dah" Shikamaru pun berlalu meninggalkan kami berdua, aku merasa panas dan berasap. Aku dipermalukan tanpa bisa berbuat banyak, ini semua karena si Mr. Pervert sialan ini. Sedang aku memandang kepergian Shikamaru penuh amarah dan rasa malu, sedang si tuan muka tembok ini hanya menatap datar pada pintu dan kemudian menarik tanganku keluar perpustakaan.
"Sasuke, kau keterlaluan. Bagaimana jika semua orang tahu dan gossip kau dan aku mesum di perpustakaan tersebar?" aku menatapnya sengit sedangkan dia stay cool dengan wajah datarnya.
"Apa salahnya, itukan hanya gossip" aku menatapnya tak percaya. Ya tuhan, apa dia memang se santai itu?
"Ya itu memang hanya gossip, dan aku akan di bunuh oleh ayah dan kakakku setelah itu" gerutuku dan meninggalkannya di belakangku.
"Kau pulang bersamaku, aku akan mengantarkanmu" lalu menarik tanganku menuju sepeda motor miliknya.
"Kapan aku setuju untuk pulang bersamamu?" aku menatapnya tak suka, dia selalu begitu. Pemaksa.
"Kau lupa, sejak paman Minato menyetujuiku sebagai kekasihmu aku memiliki tanggung jawab menjagamu termasuk mengantarmu pulang dan pergi ke kampus. Atau perlu ku telepon ke rumahmu dan minta Kyuubi saja yang menjemputmu pulang?" dan seringai menyebalkannya kembali muncul.
Jika pulang bersama Sasuke adalah salah satu hal paling menyebalkan plus menyenangkan, maka pulang bersama Kyuubi-nii adalah mimpi buruk. Dia seenaknya, suka ngebut, suka nyelip bahkan di tempat yang tak memungkinkan bagi orang lain menyelip, dan yang terparah dia suka rem mendadak hingga sesekali roda belakang motornya terangkat atau bahkan sepeda motornya berputar beberapa derajat.
"Ayo pulang" aku memasang wajah datarku dan duduk di belakang Sasuke, berdoa dalam hati semoga dia tak membawaku keluyuran dulu.
"Good girl" serunya dan mulai melajukan motornya, meninggalkan pelataran kampus Tokyo University. Selama perjalanan aku hanya menyandarkan wajahku di punggung Sasuke. Punggungnya nyaman, senyaman bantal bulu yang mampu membuatku tertidur.
TBC
ok Guys, sesuai permintaan ini Ai lanjut chap[ 2,, hehe.. semoga berkenan memberikan review...
