minna, maaf ya Ai update lama, langsung baca saja ya,, see you in Aunthor Note


Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto

Berawal dari paksaan belong to Fukuzatsuna Ai


Sudah satu bulan lebih aku dan Sasuke menjalani hubungan yang katanya disebut pasangan 'kekasih' atau bagiku lebih pantas disebut pemaksaan dengan basis sekuhara dari pihak Sasuke. Aku tak pernah habis pikir bagaimana bisa aku mencintai pria pemaksa mesum dan brengsek itu. Hari ini aku beruntung, karena seharian ini belum melihatnya berada dalam jarak pandangku. Mungkin saja dia sudah lelah atau bosan menggangguku.

Dengan langkah kelewat bersemangat aku berjalan-jalan di koridor, meninggalkan kampus dengan senyuman. Tadinya sih begitu, sebelum sebuah tangan berwarna putih menarikku dalam sebuah rangkulan yang membuatku mendecih sebal.

"Mau kemana, Naru?" suara rendah di perpotongan bahuku membuatku bergidik.

"Lepaskan aku, Teme"

"Tidak sebelum kau memberikanku ciumanmu"

"Apa kau buta, ini di tempat umum bodoh"

"Ara, jadi kau akan memberikannya di tempat sepi? Wow pikiranmu mesum sekali, tapi aku suka"

"Aku tak sudi dikatai mesum oleh raja mesum"

"Kalau begitu kau ratunya"

"Aku bukan ratu mesum brengsek"

"Love you too, darling"

Aku mengumpatinya, namun tangan Sasuke tetap menarik paksa tanganku mengikuti langkahnya. Dan entah kenapa toilet adalah pilihannya. Apa di pikiran Sasuke adalah tempat nongkrong yang cocok untuk kami? Apa Sasuke punya hobi yang sama dengan makhluk halus dan sejenisnya?

"Nah sekarang sudah sepi sesuai keinginanmu. Kau bebas mau menciumku seperti apapun"

"Aku tak ingat pernah bilang ingin tempat sepi untuk menciummu."

"Kau mengatakannya, sayang. Sekarang cium aku atau― " Sasuke merendahkan suaranya dan mencubit pelan pinggulku. Aku menelan ludahku dengan gugup. Sasuke sialan, kalau begini terus bagaimana caranya aku bisa menolak titahnya yang tak pernah menguntungkanku? Dengan pelan aku menempelkan bibirku pada bibir sialannya. Dirasa cukup aku menariknya kembali.

"Kau sebut itu ciuman? Biar ku beritahu padamu seperti apa itu ciuman" lalu Sasuke kembali menarik wajahku, melumat bibirku, dan dengan gerakan lidahnya mencoba membuka belahan bibirku ingin akses yang lebih. Gemas dengan pertahananku gigi sialan itu berani menggigit bibirku hingga memberi akses bagi lidah mesumnya menjelajahi mulutku.

"Ugh,―" sebuah erangan yang sangat kusesali keluar dari pita suaraku. Menambah kadar kemesuman Sasuke yang sudah kelewat batas. Alarm bahaya berdering di otakku saat tangan Sasuke meremas payudaraku. Sekuat tenaga kudorong tubuhnya menjauh dariku.

"No sex beetween us, Sasuke. kuharap kau tak lupa dengan persyaratan yang ku minta padamu"

"Ayolah Naru, berikan aku kompensasi karena tak bersamamu seharian ini. Anggap saja ini hadiah untukku karena telah memberikan waktu bersama teman-temanmu yang berisik itu"

Aku mendelikkan mataku dengan malas, bicara soal hadiah ataupun hukuman artinya selalu sama bagi manusia mesum satu ini, tak akan jauh-jauh dari otaknya yang selalu berpikir rate 17+. Kadang aku heran bagaimana otak mesumnya berpikir lurus soal mata kuliahnya.

"Tidak, dan sekarang biarkan aku bebas Sasuke, aku lelah berdebat denganmu. Kau pulang sana, bersihkan dirimu dan bawa otak kotormu itu ke binatu"

"Kekasihku ini perhatian sekali, jaa kalau begitu―" bibirnya kembali mendarat di bibirku, melumatnya sebentar sebelum melepasnya. "Aku antar kau pulang. Ini sudah hampir malam, nanti kau diganggu lelaki hidung belang diluar sana"

"Haha, lucu mendengar kau mengatakannya sementara kau sendiri adalah raja dari para hidung belang yang paling mengancam keselamatanku"

"Kau mau ku telanjangi disini, Naru sayang." Matanya berkilat tajam memandangiku dengan tatapan seduktif yang membuat bulu kudukku merinding. "Bagus, tutup mulut pintarmu itu dan biarkan aku mengantarkanmu pulang, atau kau akan berakhir di love hotel bersamaku"

Tuh kan, Sasuke itu benar-benar pemaksa yang kemauannya yang harus selalu kuturuti. Sedikit-sedikit mengancam ini itu. Dari pada menjadi seorang kekasih, Sasuke itu lebih cocok menjadi seorang kriminal atau anggota mafia. Lihat saja tingkah lakunya yang sebelas dua belas dengan yakuza, ah pelaku penjahat kelamin juga cocok baginya, Sasuke itu kan mesum sekali.

"Jangan pasang tampang bodohmu itu, dobe kalau kau tak ingin kucium saat ini juga"

"Bisa tidak kau tak melibatkan kata mencium dalam setiap kalimatmu."

"Oh aku menyukainya, dobe. Dan aku tahu kau juga menyukai ciumanku jadi tak perlu malu mengakuinya. Kalau kau mau aku bisa memberikannya untukmu"

"Kau sudah tak waras" aku menggerutu mendahului Sasuke ke mobilnya meninggalkan pria itu yang terkekeh dibelakang.

"Kau sudah makan?" tanyanya saat kami sudah dalam mobil, dan mulai meninggalkan lahan parkir kampus.

"Aku belum makan apa pun sejak siang tadi. Tugas dari Yamato sensei membuatku tak bisa menikmati waktu istirahat dengan tenang"

"Kalau begitu kita singgah ke rumah makan dulu sebelum ke rumahmu. Katakan kau ingin apa? Selain ramen tentunya" Aku mendecih sebal saat Sasuke menginterupsiku yang akan mengatakan ramen dengan semangat. "Tidak ada ramen untuk hari ini, dobe. Kau belum makan dan ramen bukanlah hidangan yang tepat saat ini"

"Terserah kau saja"

Lalu mobil Sasuke berhenti di sebuah restoran keluarga yang terlihat nyaman dan sederhana. Aku bersyukur Sasuke memilih tempat ini, bukannya restoran Eropa dengan segala aturan table manner-nya yang sangat menyusahkan.

"Hallo Jiraiya, Jii-san." Seorang pria tua berambut putih panjang menyambut kedatanganku dan Sasuke. Kakek tua itu tersenyum menyeringai sebelum akhirnya meringis karena tangannya dipelintir oleh Sasuke.

"Jangan. Sentuh. Gadisku" kecam Sasuke dengan nada berbahaya. Aku menatap mereka berdua bingung. Sementara si pria tua hanya terkekeh pelan setelah Sasuke melepaskan tangannya.

"Kau pelit sekali Sasuke, belum juga ku sentuh."

Sasuke diam tak menjawab, sebenarnya apa yang akan kakek ini lakukan padaku? Lalu pandanganku teralih pada Sasuke dan melayangkan pandangan penuh tanya padanya. Namun Sasuke bergeming, alih menjawab pertayaanku dia justru meminta kakek itu menyediakan tempat untuk kami.

Aku dan Sasuke menempati sebuah ruangan yang terletak ditepi sebuah kolam ikan koi. Langit senja yang mulai temaram terbiaskan dari permukaan bening kolam ikan, memantulkan warna jingga yang berkerlap kerlip akibat riak air yang dibuat ikan-ikan yang berenang di dalam kolam. Sesekali suara bambu yang telah terisi oleh air terjun mini terdengar mengetuk-ngetuk berirama. Menimbulkan suasana damai yang menyejukkan jika saja perangai orang yang datang bersamaku bisa sedikit lebih terjaga. Lihat saja kelakuanya yang sengaja memepet duduk padaku. Salah apa aku di kehidupan sebelumnya hingga punya pacar seperti dia.

"Jangan melamun terus, Naruto" Lalu sesendok sup tahu nyampir masuk ke mulutku. Dan sang pelaku langsung membantuku menghabiskannya dengan berbagi ciuman basah karena kuah sup. Orang ini benar-benar mesum tingkat dewa!

"Apa yang kau lakukan, Teme!"

"Menyuapimu dan membantumu menghabiskan makananmu, Dobe"

"Sial"

"Perempuan tak bagus mengumpat, Dobe"

"Pacar macam apa yang mengatai kekasihnya bodoh, Teme"

"Pacar macam aku tentunya."

"Kau menye―" lalu Sasuke menciumku singkat. Sialan, kata-kataku terpaksa tertelan bersama ciumannya.

"Nah, diam lebih manis Naru-chan"

Tak dapat ku pungkiri wajahku memerah karena kata-katanya barusan. Sasuke memang sangat pintar mengubah suasana hatiku. Dia yang bisa membuatku kesal dan dia juga yang bisa membuatku merasa bahagia dan berbunga-bunga. Kadang jantungku berdetak kencang karena kesal akan tingkah menyebalkannya. Namun kadang juga berdetak kencang karena sikapnya, atau berdetak kencang karena kemesumannya. Pokoknya jantungku pasti berdetak kencang setiap bersama Sasuke.

Selesai makan kali ini Sasuke serius ingin mengantarkan aku pulang. Sejujurnya aku tak ingin orang-orang dirumah tahu aku sudah punya pacar. Karena mereka semua akan beraksi berlebihan jika mengetahuinya.

"Ayahku pasti akan menginterogasimu kalau tahu aku membawa laki-laki ke rumah"

"Baguslah, anggap saja sebagai latihan sebelum melamarmu" Sasuke ber-smirk ria dihadapanku.

"Ibuku akan sangat cerewet, kau tahu. Bukannya kau benci orang yang berisik"

"Aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu yang selalu berisik, sayang. Menambahkan ibu mertua sebagai salah satu tambahan daftar orang cerewet tidak akan terlalu menjadi masalah buatku"

"Aku tidak berisik, dan siapa yang akan menikah denganmu"

"Kau berisik, dan tentu saja kau yang akan menjadi pengantinku nanti"

"Kau bermimpi"

"Terserah, yang penting aku tetap mengantarmu pulang dan bertemu keluargamu"

"Kakak perempuanku menggigit loh, Sasuke" bantah Naruto yang sepertinya sudah kehabisan akal.

"Kau baru saja menyamakan kakak perempuanmu dengan anjing galak dobe."

"Asal kau tahu saja, kakak perempuanku bahkan lebih sadis dari anjing galak. Dia seperti rubah"

"Aku jadi penasaran seperti apa sebenarnya keluargamu, sayang" Entah kenapa hati Naruto selalu tergelitik dengan panggilan sayang dari Sasuke.

"Sesukamu saja lah. Jangan salahkan aku bila aku tak mengingatkanmu. Ngomong-ngomong soal keluarga, bagaimana dengan keluargamu?"

Senyum yang sempat bertengger di wajah Sasuke terlihat pudar. Wajahnya berganti ke poke face mode yang biasa ia perlihatkan pada orang-orang. Terlihat menyebalkan di mataku.

"Keluargaku? Aku anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahku seorang pekerja kantoran yang super sibuk dan kaku. Ibuku wanita yang anggun dan hangat, kakak laki-lakiku seorang pria yang usil dibalik penampilannya yang selalu tampil sok keren, menyebalkan sebenarnya melihat dia bertingkah seperti itu. Itachi Uchiha mahasiswa tingkat akhir fakultas kedokteran di kampus kita, kau tahu?"

"Hm, jadi Itachi-nii kakakmu? Pantas saja kalian begitu mirip. Dia sering ke rumah, menjahili Kyuu-nee." Cukup mengejutkan mendengar fakta yang satu ini. Atau aku saja yang tak sadak akan kenyataan di sekitarku. Mereka bedua mirip bahkan sama-sama Uchiha

"Jadi, Itachi sering ke rumahmu? Kenapa?" sepertinya Sasuke juga terkejut dengan apa yang aku katakan.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas setiap dia ke rumah Kyuu-nee akan mengamuk marah-marah. Bahkan Kaa-san dan Tou-san sering geleng-geleng kepala lihat tingkah keduannya. Dan yang paling mengejutkan adalah kenyataan bahwa mereka memiliki sebuah hubungan romantis. Mau bagaimana lagi, Kyuu-ne tipe tsundere sih"

"Kau juga tipe tsundere"

"Aku tidak tsundere, Teme"

"Ya kau tidak tsundere, tapi sukanya bilang tak mau padahal ingin"

"Contohnya?"

"Ciuman denganku"

"Aku tak pernah ingin dicium olehmu"

"Benarkah?"

Lalu Sasuke menepikan mobilnya, menatap tajam pada mataku dan menampilkan sebuah senyuman miring yang menyebalkan sekaligus menyeramkan. Tanganku menggapai hendak membuka pintu yang sayangnya sudah dikunci oleh manusia mesum ini.

"Katakan bahwa kau benar-benar tidak ingin dicium olehku Naru. Dan akan aku buktikan padamu betapa munafiknya kata-kata itu." Ucapnya dengan suara rendah tepat di hadapan wajahku. Rasa hangat dari nafasnya menggelitik pipiku.

"Kau bilang kau akan menjagaku dari para hidung belang, Sasuke. Kenapa sekarang kau berubah menjadi hidung belang yang hendak membahayakanku" suaraku mengecil, jujur saja aku tak ingin ia berbuat mesum padaku di mobil yang sempit ini.

"Katakan" perintahnya dengan suara serak yang rendah. Aku meneguk ludah yang entah mengapa terasa tercekat di kerongkonganku.

"Baiklah aku memang meyukai ciumanmu, tuan pemaksa" lalu ekspresi Sasuke berubah geli. Dan dengan cepat ia menciumku sekedar menempelkan bibir dengan bibir lalu tersenyum dan mengacak-acak rambutku.

"Kuberikan hadiah yang kau sukai dan dengan senang hati akan kuberikan padamu setiap waktu" lalu ia kembali mengendarai mobilnya menuju rumahku.

"Hadiah atau bukan juga, kau selalu menciumku Sasuke"

"Hn, lalu kau ingin aku menghukummu?"

"Hukumanmu juga selalu berbau hal mesum, Sasuke. Jadi, tidak usah memberikan hadiah atau hukuman untukku, karena semuanya pasti akan berbau pelecehan seksual bagiku"

Sasuke terkekeh pelan mendengar kata-kataku. Disela denting tawanya ia berucap "Tapi kau suka kan dilecehkan olehku"

"Sialan kau"

"Katakan padaku kau maukan aku mem

perkosamu saat ini juga, dan menusukmu hingga titik terdalam hingga kau merasakan kenikmatan luar biasa bersamaku. Kalau kau meminta aku tak akan keberatan untuk memberikanmu pelayanan memuaskan. Penisku cukup panjang jika kau mau tahu"

"Brengsek kau. Siapa juga yang ingin diperkosa olehmu. Nikahi aku dulu, brengsek"

Lalu kali ini ia benar-benar tertawa karena berhasil mengerjaiku dan membuatku merona malu. Orang ini apa tidak malu selalu berkata hal-hal tak pantas seperti itu? Atau memang urat malunya sudah putus dan yang tinggal hanya kemaluannya yang katanya panjang itu ―argh, sekarang apa yang aku pikirkan? Ini semua salahnya. Manusia disebelahku ini benar-benar sukses menodai pikiran polosku.

"Penasaran dengan penisku. Tinggal kau minta saja dan aku dengan senang hati memperlihatkannya padamu" goda Sasuke yang sepertinya belum puas melihatku merona.

"Tak bisakah kau berhenti membanggakan penismu itu. Aku tak mau tahu tentang penis sialanmu, Jerk"

"Sayang sekali, padahal ia besar dan gemuk loh. Kau pegang saja dari luar pasti dia akan berdiri menyapamu"

"hentikan semua omong kosongmu itu, Teme. Atau kupotong penis kebanggaanmu itu" Sasuke memandangku horror. Kali ini sepertinya aku berhasil membungkamnya. Sungguh wajahku sudah berasap dan nafasku terasa sesak karena percakapan yang tak senonoh ini.

"Kau akan kehilangan salah satu kenikmatan hidup jika kau memotongnya, Naru" ucapnya yang sepertinya masih berniat melanjutkan konversasi tak bermutu ini.

"Akan ku cari lelaki lain kalau begitu"

"Coba saja, dan aku akan benar-benar memotong penisnya dihadapanmu, lalu memberikannya pada anjing liar" Sasuke menyeringai kejam ala psikopat. Membuat bulu kudukku berdiri.

"Kita sudah sampai, Naru. Dan ngomong-ngomong sepertinya teriakanmu soal memotong penisku tadi terdengar sampai kedalam." Senyum setan setiap menghiasi wajah menyebalkan Sasuke.

"Sejak kapan kita sampai di rumah?" tanyaku memicing tajam. Ini salahku yang tak memerhatikan sekitar jika sudah berdebat dengan Sasuke.

"Sejak kau berteriak minta aku nikahi, Naru-chan" seringai Sasuke benar-benar menyebalkan kali ini.

"Mati aku" aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Sementara Sasuke dengan senyuman iblisnya menyeretku keluar untuk masuk ke rumah, yang di pintu depannya sudah berdiri Kaa-san dengan wajah tenang dan senyuman yang entah kenapa terlihat mengerikan.

"Ayo, kenalkan aku pada keluargamu. Biar aku bisa benar-benar menikahimu, dobe"

"Sialan kau, Sasuke"

"Aku tahu itu, kau sudah sering mengatakannya Naru-chan"

"Kuharap aku bisa membunuhmu, Sasuke"

"Sayangnya kau terlalu mencintaiku untuk bisa melakukannya, sayang"

"Dan sayangnya kali ini kau benar, Teme. Dosa apa aku hingga bisa mencintaimu"

"Kau berdosa karena sudah mencuri hatiku, dobe"

"Gombal"

"Ehem" Suara Kaa-san menginterupsi pertengkaran kecil antara aku dan Sasuke. Aku terpaku didepan pintu. Tatapan menyelidik ia layangkan pada Sasuke yang tetap berdiri tenang disampingku.

"Katakan, siapa kamu dan ada hubungan apa kau dengan anakku juga Itachi yang ada disana itu? Kalian terlihat mirip" aku mengintip celah pada pintu yang ditunjukkan oleh Kaa-san, ada Itachi-nii yang sedang duduk di sofa bersama ayah.

"Perkenalkan, calon ibu mertua aku Sasuke, kekasih Naruto calon suaminya kelak. Dan manusia keriput di sana, maaf aku tak mengenalnya"

Aku terbatuk mendengar kata-kata Sasuke. Sementara di dalam kudengar kata-kata yang saling beradu antara Kyuu-nee, Tou-san, dan Itachi-nii.

"Bertambah lagi Uchiha sialan yang akan mengganggu hidupku"

"Oh, Uchiha lagi"

"Baka Otouto, kau tahu keriputku dan bilang tak mengenalku. Kyuu-chan, aku tak pernah mengganggu hidupmu"

Lalu suara Kyuu-nee kembali terdengar "Dengan kau menampakkan wajahmu dihadapanku saja kau sudah menggangguku, sialan. Pulanglah kehabitatmu, sebelum ku tendang bokongmu"

"Ah, Kyuu-chan suka main bokong rupanya"

"Tou-san tolong usir dia"

Kami hanya bisa sweatdrop mendengar percakapan absurd di dalam sana. Kenapa rasanya, sikap kedua Uchiha ini sebelas dua belas ya antara kakak dan adiknya.

"Ternyata sikapmu memang mirip dengan kakakmu, Naru." Bisik Sasuke

"Kalian yang mirip, Sasuke. Sama-sama mesum"

"Kau juga"

"Ehem" suara Kaa-san terdengar lagi. "Masuklah, lanjutkan pertengkaran kalian di dalam"

Bagaimanakah aku harus berekspresi karena kata-kata ibuku? Oh Tuhan, sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang bagiku.


TBC

A/N: Akhirnya tokoh fav. Ai muncul...

Buat yang protes ini fic kependekan Ai minta maaf, kemampuan Ai buat nulis Cuma segitu dulu. Dan seperti biasa, Ai selalu Update barengan sama Fic Ai yang lain. Yang berkenan silahkan di baca.

Maaf ngga sempat balas review dulu. Tapi Ai baca kok,,, jangan kapok nge review ya... karena bagaimana pun review kalian semua adalah semangat bagi Ai buat nulis.

Special Thanks buat yang review fav/follow