Garis Takdir

.

..

.

.

.

.

Setelah menyerahkan beberapa buronan Sakura kembali kerumahnya memutuskan untuk tidur beberapa jam, mengembalikan staminanya yang terkuras "jam 05.00 pagi" ucap Sakura menghela napas panjang lalu terlelap di karpet hitam beludrunya, Sakura merasakan badannya hampir remuk terakhir dia menangkap buronan dengan kemampuan khusus —hipnotis, dia hampir mati ketika mendapati kilasan masa lalu yang tidak dia ingat sama sekali namun begitu banyak darah dan air mata, bahkan menurutnya tsukuyomi Itachi tidak terasa menyakitkan jika dibandingkan dengan kilasan itu.

Wanita buronan komunitas bernama 'Barbara' itu pantas dijuluki sebagai si pirang yang mematikan, bagaimana tidak jika orang awam pasti sudah gila berhadapan dengan perempuan dengan kemampuan diatas rata-rata itu.

"Sakura sudah pagi waktunya kau—" Konan mengetuk dan masuk namun perkataannya terhenti ketika melihat Sakura yang sangat lelah, baju sekolah yang Sakura kenakan robek disana-sini juga beberapa luka goresan dikulit putihnya, akhirnya Konan memutuskan untuk membangunkannya lebih siang lagi.

Kini sakura berada di meja makan yang panjang bahkan lebih panjang dari pada meja bola teni.

"kau janji pada kami akan pulang jam 21.00 malam kan, Sakura?" oceh Deidara menunjuk-nunjuk Sakura dengan sendok yang ia kenakan untuk menyuap bubur

Sakura mengangguk "aku hanya menjalankan sedikit tugas,bahkan ketua tidak melarangnya.." Sakura mengunyah roti panggang yang ia buat beberapa menit lalu,setelah selesai ia berangkat dan mengucapkan terima kasih atas makanan yang disediakan.

"aku meletakan sesuatu di kamar senior" Sakura berbicara pada Kakuzu dengan senyum paling cerah dan berangkat ke sekolahnya.

Kakuzu mengangkat sebelah alis dan melesat kedalam kamarnya disusul oleh anggota yang lain kecuali pain,konan,dan itachi yang masih menyantap sarapan dengan tenang

Untuk kakuzu-senpai

Pergunakan ini untuk membayar semua biaya hidup ku,aku akan kembali dengan lebih banyak kantung lagi.

Sakura.

Tulis Sakura dalam selembar note yang berada di atas dua kantung tas berisi jutaan jennie sontak membuat Kakuzu tersenyum sangat senang "dia memang pemburu uang yang handal !" gumam kakuzu membuat anggota yang lain mengerutkan dahi.

.

.

.

.

.

.

.

Setahun berlalu kini Sakura telah menjadi Blacklist hunter, bahkan jasa yang dipergunakan untuk menyewanya sangat mahal, berbeda dengan anggota akatsuki yang berani berperang dengan bayaran yang murah, Sakura tidak mau dibayar dengan cuma-cuma walaupun hanya misi kecil sekali pun.

Sakura juga sudah bergabung dengan anggota inju namun menyamarkan nama dan penampilannya karena dia bukan tipe orang yang akan mengekspos diri nya kepada muka dunia, setahun mencoba mengorek informasi tentang keluarganya namun tidak ada hasil yang memuaskan.

Sakura memutuskan untuk tetap berada pada sandiwaranya, ini akan menguntungkan nya.

Ia tidak perlu melamar pekerjaan sebagai seorang part-time, ia bisa menghasilkan banyak uang hanya dengan membunuh atau menangkap perampok-perampok di kota, dia masih betah mengenakan seragam SMA nya kemana pun ia pergi

"Sakura kau lihat anak laki-laki berambut perak dua meter diarah jam dua belas, ia targetmu kali ini,bawa kepalanya kepada 10 Godfather, dia adalah salah satu pembunuh paling andal di kota, berhati-hati lah !" perintah atasan Sakura lewat speaker handphonenya, Sakura melihat dengan jelas kepala perak dan tangan yang memegang skateboard disebelah tangannya, sakura menyipitkan matanya.

'itu hanya anak laki-laki berkisar 10 tahun, bagaimana bisa anak itu adalah seorang pembunuh?' ucapnya dalam hati

Namun sakura yang notebenya membunuh siapapun dan kapanpun tanpa ragu mulai melancarkan aksinya hanya dengan satu ayunan tangan dengan pedang cakra yang tak kasat mata dia bisa memotong syaraf-syaraf siapapun tanpa mengeluarkan darah hingga takan ada yang mengetahui kematian yang di alami orang itu.

Sakura mengikuti anak itu semakin dekat kearah toko makanan yang menjual 'tokorobon' saat beberapa langkah lagi dengan anak itu—dia menoleh kearah Sakura dengan cepat membuat mata Sakura terbelalak kaget.

Bahkan ketika sakura bertemu pandang dengan anak yang tidak lebih tinggi dari pinggang nya itu membuat perasaannya kalut, anak itu tersenyum sangat manis dan berkata "kakak aku pesan tokorobon satu dus" dengan wajah lucu layaknya anak kucing dia tersenyum cerah saat menyebut nama 'tokorobon'.

Tangan Sakura lunglai dia berlutut didepan anak itu—memegang bahunya "maaf, tapi aku bukan orang yang menjual makanan ini,namun aku akan membelikan untukmu bagaimana?" tawar Sakura tersenyum dia merasakan hal yang aneh menyelusup kedalam hatinya, perasaannya bagaikan terbang, berputar mengikuti rotasi bumi—saat bertemu anak ini.

"tapi kakak tidak akan menculikku, kan?" tanyanya menaikan sebelah alisnya Sakura menggeleng tanpa sadar menitikan air matanya, suaranya, matanya, bahkan wajahnya membuat sakura merasakan de javu, namun ia tidak bisa mengingat apapun, pikirannya bagaikan di buta kan, bagai ada tembok dnegan dinding beton berlapis tujuh yang menahan ingatannya.

"maaf,boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Sakura mengelus kepala anak itu.

"Killua.." jawabnya heran melihat gadis yang lebih mirip seorang kakak perempuan untuknya menangis didepan mata nya—Killua melihat rasa bersalah melihat emerald wanita itu, entah apa yang ia rasakan namun ia segera membuang perasaan aneh itu jauh-jauh.

Setelah mereka keluar dari toko tersebut mereka berdua berjalan dengan santai, keduanya terdiam namun masih berjalan dengan tenang.

"terima kasih, kakak mau membelikan makanan ini untukku ?!" Killua tersenyum cerah menggotong tokorobon miliknya "Killua, aku berharap kau meninggalkan kota ini secepatnya ?!" Sakura berbicara pada Killua dengan tatapan serius, bahkan sakura menyemakan tingginya dengan anak laki-laki itu, entah apa yang merasuki nya hingga tidak mampu menahan segala emosi ketika melihat mata biru tua milik nya, mereka berjalan kearah jalan setapak yang tidak ramai dengan orang-orang.

'jika aku memiliki keluarga mungkin aku akan memiliki adik seperti dia' ucap Sakura dalam hatinya,selama ini Sakura hanya membunuh orang-orang penting seperti laki-laki dan wanita dewasa, bahkan ia mengutuk dirinya untuk memikirkan anak laki-laki di depannya sebagai adik kecil nya, sakura benar-benar mulai gila.

Namun saat mendapat target seorang 'Killua' tangannya seakan tidak mau mengikuti kata hatinya untuk mencabik-cabik tubuh kecil anak itu, lagi pula Sakura berpikir jika dia adalah orang penting dia tak akan berjalan sendiri dan menatap toko yang menjual tokorobon sebegitu inginnya,kan?

Daun-daun bergesek dengan merdu ditiup angin, suasana dijalan itu semakin dingin karena atmosfer yang berubah pada keduanya "apa kakak termasuk orang-orang yang dipekerjakan ayah—atau orang-orang yang mengincar kepala ku untuk 1 milyar jennie?" Killua terlihat lebih dingin menatap Sakura.

Sakura tersentak namun berusaha menyembunyikan raut wajahnya, tatapan Sakura mengebor hingga bisa membaca hatinya, apa yang akan Sakura katakan, dan bagaimana jika ia salah mengatakan hal itu?.

'atau aku bunuh saja anak ini, dia bukan anak biasa' ucap Sakura dalam hati nya menyadari bagaimana anak itu menatapnya dnegan dingin, namun seklai lagi tangannya tidak ingin mengikuti kata hatinya, Sakura memilih untuk menundukan wajah dan memejamkan matanya.

'sial, mengapa sesulit ini membunih anak lemah seperti dia, kami-sama?!' Sakura menggelengkan kepalanya, Killua mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban wanita berambut musim semi itu.

"aku bergabung dengan inju,dan targetku adalah Killua saat ini—" Sakura membenarkan membuat Killua memasang kuda-kuda bersiaga, ucapannya meluncur bagaikan hujan deras yang turun ke bumi, mengalir turun dari dataran tinggi ke dataran terendah, sakura tidak mengerti mengapa Ia harus mengatakan rahasinya.

"namun aku merasa tidak sanggup melakukan perintah itu..." sambung Sakura lirih, dadanya terasa sesak mengatakan kebenaran yang pahit pada anak dengan rambut perak itu, Sakura melihat perubahan emosi yang sangat kentara diwajah mungil killua.

"karena aku anak kecil kan, heh?!" Killua kini menatap Sakura dengan tatapan benci Sakura hanya menatap Killua datar karena dia merasa 'perasaan akan mengacaukan semuanya seperti sekarang'.

Bahkan ketika killua menyadarinya sakura tidak bisa melakukan hal itu, kepalanya terasa sakit dan pikirannya berputar-putar, sakura menarik napas dengan berat.

"baiklah jika kakak ingin bermain denganku, akan aku layani—jadi aura membunuh yang sangat samar beberapa menit tadi adalah milik kakak, aku tidak menyangka kakak bisa menyembunyikannya dengan sangat baik !" Killua mengangkat sebelah alisnya dan menunjuk Sakura.

Sakura menganggukan kepalanya entah apa yang merasukinya tapi itu adalah kenyataan, hingga berkata bodoh dan membocorkan dengan mudah tentang siapa dia, apa pekerjaannya kepada anak dengan surai perak di depannya.

"namun setelah melihat Killua aku tidak sanggup melakukan hal itu, jika Killua ingin bermain denganku, tunggu saat aku sedang memiliki waktu luang, aku harus pergi dan memberikan laporan jika kamu sudah aku habisi, maka dari itu pergi lah dari kota ini ..." Sakura tersenyum mendekati Killua berniat untuk melihat lebih dalam iris biru tua yang kini memancarkan perasaan kebencian dan haus membunuh itu.

Untuk terakhir kalinya.

"kau hanya orang-orang yang ingin mengincar kekayaan, dibalik senyum itu kau hanya iblis wanita yang bekerja tanpa memikirkan lawan yang kau bunuh kan?" Killua sekarang berada didepan Sakura dan mengacungkan sebelah tangan dengan kuku-kuku yang tiba-tiba panjang dan tajam seperti silet.

'dia bukan anak biasa,tapi kenapa aku tidak bisa membunuhnya?!' ucap Sakura dalam hatinya, pikirannya selalu kembali kepada hal yang sama,ada sesuatu di hatinya yang berkata kepadanya untuk menggunakan pisau cakra dan mengakhiri semuanya sebelum terlambat.

namun ada juga yang berkata untuk lari dan menjauhi anak itu hingga anak itu hidup dan membiarkan misinya gagal, menerima hukuman tanpa di liputi rasa bersalah yang entah datang dari mana ketika menghabisi anak didepannya itu.

"itu benar Killua, tapi aku berharap kamu pergi dari kota ini ..." Sakura berbicara dan memutuskan namun ia merasakan kulit tanganya terobek sedikit demi sedikit saat ia berusaha menatap anak didepannya itu.

Langit berpendar jingga menandakan akhir dari hari yang mereka lewati, jalan-jalan terlihat terang dengan lampu-lampu hias yang dinyalakan disisi-sisi jalanan.

"jika kau tidak sanggup membunuhnya,akan kulakukan dengan tanganku sendiri ?!" suara laki-laki yang familiar dibelakang Sakura—mengagetkan Sakura,dengan sigap ia melindungi Killua—membawa Killua pada punggungnya.

'sial kenapa aku jadi kacau seperti ini, apa yang aku lalukan ini menentang perintah, tapi killua !'.

"apa alasan anda ingin menghabisi dia?" Tanya Sakura dengan nada datar berusaha memperlambat waktu dan berpikir jernih atas tindakannya, namun itu percuma akhirnya ia memutuskan membuat beberapa segel dari balik punggung nya, menahan killua sekeras mungkin agar anak itu tidak melakukan hal bodoh.

"itu alasan pribadi..." ucap laki-laki yang menjabat menjadi atasan Sakura itu.

"jika tidak ada alasan yang disebutkan dan tidak bisa dijelaskan, aku menolak hal itu—bahkan ditelepon tadi aku tidak mengatakan 'setuju', bukan? Aku tidak menyangka atasan ku sendiri yang mempekerjakan ku dengan pekerjaan semacam ini—membunuh seorang anak kecil ?!" Sakura mendadak berbicara lancang kepada atasannya, entah apa yang merasukinya hingga ingin melindungi anak dibalik punggungnya itu.

"karena keluarganya membunuh tunanganku !" jawabnya dengan geram, dengan cepat ia melewati Sakura dan mencekik Killua—Killua tidak tinggal diam dia menendang laki-laki itu hingga terpental bermeter-meter menabrak pohon.

"jadi dia atasan kakak, pasangan yang sama-sama kotornya—seperti wanitanya dulu" Killua tersenyum menatap dalam-dalam laki-laki yang kini berlari menyerangnya membabi buta.

Sakura melihat mereka saling menikam dengan pisau,saling memukul dengan tangannya—saling menjatuhkan.

"HENTIKAN ?!" Sakura berada ditengah keduanya menangkis pisau dan cakar Killua dengan katananya dari dimensi yang lain.

"bukankah ini misi ku? Mengapa anda ikut mencampurinya, terserah padaku dengan buruanku kan? !" Sakura berkata dingin pada pimpinan yang selama satu tahun ia hormati itu, ia tidak mengerti dalam beberapa menit ia bisa sekurang ajar begitu.

"ada apa ini?!" angin besar tiba-tiba muncul diantara mereka membuat suara laki-laki terdengar sayup-sayup dan mengerikan—mereka bertiga menoleh dan mendapati salah satu dari 10 anggota Godfather berdiri diatas katana Sakura.

Setelah Sakura menjelaskan semuanya—dengan jujur laki-laki dengan pertengahan usia 80 tahun itu mengangguk dan mengelus-elus janggut panjang nya "lalu apa keputusanmu, Sakura?" tanyanya dengan suara yang berat dan lirih pada Sakura.

"aku akan mengundurkan diri, karena kepercayaanku mulai hilang pada anggota ini.." jawab Sakura tenang di sambut anggukan salah satu dari 10 orang pilihan itu.

"pergilah, namun jika kau tidak memiliki tempat kembali aku akan menerimamu dengan tangan terbuka" ucapnya lagi disambung anggukan Sakura—yang pergi bersama Killua.

Sakura masih mencengkram tangan sakura agar anak itu tidak lari darinya

"bukankah kau mengundurkan diri secara tidak resmi ?" tanya Killua kini suaranya lebih rileks, saat ini ia duduk didepan Sakura dan bersila.

"aku tidak peduli, aku hanya ingin mencari sesuatu didalam organisasi itu, namun aku tidak menemukan apa-apa sudah selama ini, itu membuatku muak—aku akan mencari ketempat yang lain ..." ucap Sakura mengalirkan cakra hijau di wajah Killua membuat Killua merasa nyaman dengan cahaya yang berpendar hijau itu, killua tidak menolak dnegan apa yang ia sudah ketahui dari wanita itu.

"ah … sembuh" ucapnya menyentuh wajahnya yang kini mulus tanpa luka, jika killua tadi menakutkan, sekarang ia terlihat seperti anak-anak pada umumnya, sakura tersenyum samar.

"baiklah sampai jumpa lagi Killua, maaf untuk soal tadi ya ..." Sakura mengacak-acak rambut pirang Killua.

"UJIAN HUNTER ?!" ucap Killua dari belakang Sakura.

"eeh ?!" Sakura menoleh, menatap killua yang berdiri di belakangnya, rambut peraknya tertiup angin sore, wajahnya berpendar bersama dengan matahari senja.

"mungkin di ujian hunter tahun ini kita bisa bermain bersama lagi, aku akan menunggu ?!" Killua mengatakan hal itu sambil menggamit kedua tangannya dibelakang tubuhnya membuat Sakura semakin menyukai sosok Killua yang malu-malu, Sakura mengangguk dan melesat pergi meninggalkan Killua yang sedari tadi memegang rambutnya 'hangat' ucap Killua merasakan jejak jari Sakura yang semakin menghilang dikepalanya.

.

.

.

.

Sakura melihat baju seragamnya yang kembali robek, ia berjalan mendekati toko busana terdekat dan membeli kaos oblong yang pas dengan tubuhnya, juga celana jeans selutut dengan sepasang sepatu skat—karena Sakura kurang menyukai sepatu berhak tinggi.

Ia berjalan di pinggir trotoar, banyak mobil dan kendaraan lain yang berlalu lalang, kemudian sakura berbelok ke arah gang sempit di salah satu apartemen.

Ada banyak orang di gang yang memadati sebuah toko kecil "ada apa ?" Sakura bertanya kepada salah satu orang yang dikiranya pembeli.

"apa kau tidak tahu, kami sedang mengambil pendaftaran utnuk menjadi peserta hunter ?!" ucap laki-laki itu meninggalkan Sakura—bergabung pada antrian lainnya.

'ujian hunter ya?' ucap Sakura dalam hati lalu pergi mengikuti antrian itu.

Dia memang seorang blacklist hunter namun saat itu ketika ia menghadapi ujian hunter, semuanya sudah diatur rapih dari mulai pendaftaran dan yang lainnya, untuk kali ini Sakura ingin melakukannya sendiri tanpa ada campur tangan dari anggota yang lain.

Dan dia akan bermain dengan killua, menurutnya itu bukan lah sesuatu hal yang salah.

"kembalikan tiga hari lagi, saat ujian akan berlangsung" ucap seorang laki-laki pada peserta didepan Sakura dengan senyuman ramah diwajahnya yang dikenali Sakura sebagai penguji sebelumnya pak satotsu.

"wah Sakura, apa kau berminat mengikuti ujian hunter lagi ?" tanyanya berbisik.

"iya, dan rahasiakan—anggap aku seperti orang yang lain, aku ingin memulainya lagi, kebetulan aku sedang senggang." balas Sakura berbisik mengambil selembar kartu dengan pertanyaan-pertanyaan didalamnya 'harus mendapat persetujuan dari anggota keluarga ya?' ucap Sakura dalam hatinya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

.

.

.

"apa kau bodoh memutuskan secara sepihak untuk keluar dari organisasi itu, kau menghancurkan kerja sama kami ?!" bentak deidara pada Sakura.

"tapi itu pilihanku, aku takan menerima alasan dia, setelah kuselidiki tunangannya adalah penjual organ-organ dalam manusia bahkan dia membantunya, bukankah itu menjijikan?!" balas Sakura pada deidara dengan tenang karena menghormati anggota yang lainnya—yang sekarang tidak berada dirumah itu,sakura tidak menjelaskan apa-apa soal killua dan salah stu godfather yang datang dan memberikan ia izin juga tidak membuka hal tersebut pada anggota yang lain.

"setidaknya kau bisa tahu diri,kami semua memikirkanmu—jika kau berpikir berapa banyak uang yang kami habiskan untukmu, namun kau malah berbuat seenaknya ?!" balas deidara dengan sengit membuat gejolak amarah dihati Sakura yang terpendam lama menggolak bagai lautan api.

"dan berapa banyak aku harus membunuh orang-orang juga memberikan kertas yang tak ternilai harganya kepadamu, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku kala membunuh seorang ayah dan ibu juga merenggut mereka dari anak-anaknya, jadi semua yang sudah kulakukan menunjukan ketidaktahuan diriku ya, Jika itu maumu jangan cari aku, jangan pedulikan aku. Ambil ini ?!" Sakura melemparkan buku tabungannya, berisi triliunan uang yang tersimpan rapih dibank—Sakura lari menuju kamarnya menjejalkan asal pakaian dan semua alat yang ia butuhkan lalu pergi melewati jendela, dia tidak menyangka deidara akan berkata demikian.

Sakura menjinjing tas yang dibawanya lalu berlari sangat kencang di tengah hutan 'kenapa hatiku terasa sangat sakit, bahkan air mata ini tidak mau berhenti keluar. Ini perasaan yang aneh' ucap Sakura dalam hatinya tidak menyadari bahwa sekarang hatinya terluka sangat hebat.

"Sakura,Sakura" Sakura mengenali dua suara itu dan dia berhenti diatas dahan lalu dari dalam dahan pohon yang lebih besar keluar sosok orang yang menyerupai tanaman—zetsu

"jangan hiraukan deidara, dia memang seperti itu"

"ya jangan hiraukan dia,kau jangan pergi"

Ucap zetsu putih dan hitam Sakura mengangguk "aku tidak apa-apa namun aku akan mencoba mencari apa yang aku cari selama ini—tanpa bantuan mereka, maafkan aku..." ucap Sakura menyeka air matanya

"jangan menangis lagi—kau akan terlihat jelek"

"baiklah jika itu keputusanmu kami tidak akan melarang—jika kau membutuhkan apa-apa datanglah kesini maka aku akan datang membantumu.."

Ucap keduanya membuat Sakura kembali tersenyum, Sakura mengingat ketika dia sangat ketakutan melihat sosok zetsu pertama kalinya, namun seiring berjalannya waktu Sakura menjadi terbiasa dengan kehadiran zetsu, zetsu banyak mengajarkan bagaimana menemukan daun dan buah untuk dimakan atau untuk membuat racun atau penawar racun—obat.

Bahkan Sakura menyukai saat mereka berdua mulai berbeda pendapat dan berdebat—dua dalam satu itulah zetsu.

"bagaimana aku akan melupakan itu senpai—bisakah kau menandatangani form ini? Aku ingin mengikuti ujian hunter sekali lagi" Sakura menyerahkan form itu pd zetsu

"biar aku yang tanda tangan"

"dia memintaku,jadi aku yang akan bertanda tangan"

Sakura kembali tersenyum lalu mengeluarkan dua pulpen "bagaimana jika keduanya—adil kan?" zetsu tersenyum lalu menandatanganinya dan melambai berkata hati-hati kepada Sakura yang terus menjauh.

"dia akan menjadi wanita yang kuat dan cantik"

"kali ini aku sependapat denganmu"

.

.

.

Sakura memutuskan untuk menginap dihotel, keesokan paginya ia mencari pekerjaan yang normal dan menghibur dirinya—bernyanyi dan memainkan alat musik, dalam hitungan jam banyak orang yang berdatangan mendengar alunan biola miliknya—yang dipinjamnya dari salah satu toko yang diminta untuk dipromosikan.

Tiga hari berlalu dan tibalah hari dimana ia akan menghadapi ujian hunter, Sakura membawa tas namun tidak mengenakan seragam sekolah, dia memutuskan memakai jubah tanpa lengan yang menjuntai melindungi seluruh tubuhnya, sampai akhir ujian, lalu berkumpul dititik yang dijanjikan penguji—pelabuhan.

Ternyata sudah banyak peserta yang menaiki kapal—Sakura mengikuti mereka dan memilih untuk menjauh dari peserta yang mayoritas laki-laki itu.

'ternyata ada nahkoda tanpa awak kapal, cuaca yang sangat tenang dilaut dan bau basah yang benar-benar kentara—badai akan datang dalam hitungan jam'

Sakura kini duduk di trails yang dijadikan pegangan dan penyangga agar penumpang tidak jatuh, Sakura melihat dua orang yang berlari—satu anak kecil dan satu lagi terlihat seperti om-om mereka berteriak meminta tunggu namun tidak didengarkan oleh si nahkoda—mereka berdua terus berlari, anak kecil berambut jabrik seusia killua memakai baju hijau yang aneh itu mengulurkan kail—menarik mereka berdua masuk dalam kapal, hanya dalam hitungan detik mereka sampai di kapal dengan decak kagum para peserta lain.

"hufft hampir saja ?!" ucap anak kecil itu.

"hei gon kau mau membuatku terserang penyakit jantung dan mati di awal ujian ini !" omel laki-laki yang bersama anak itu, laki-laki dengan rambut hitam jabrik mungkin tingginya beberapa senti dari tinggi badan sakura, ia mengenakan jas dan membawa koper, persis pegawai kantoran.

"hehe maafkan aku leorio tapi akhirnya kita sampai disini, bukan?!" ucap gon menggaruk kepalanya dan tertawa riang, melihat itu Sakura ikut tertawa kecil.

Sakura kembali melihat langit biru yang terbentang diatasnya, aroma laut yang ia rindukan juga suara burung-burung camar yang saling bersahutan namun Sakura merasakan firasat buruk 'benar-benar badai yang sangat besar' ucapnya menatap kearah barat.

Sakura memutuskan untuk memberitahu sang nahkoda bahwa badai besar akan melanda perjalanan mereka—jika mereka melanjutkan perjalanan itu, ia mulai berjalan ke dek atas tempat nahoda mengemudikan perahunya namun sakura berhenti ketika mendengar seseorang bergumam.

"aneh lautnya begitu tenang, dan burung-burung terlihat ketakutan..." ucap gon menatap laut, Sakura tersenyum "badai besar akan datang, benar yang dikatakan anak ini" sambung Sakura membuat beberapa pasang mata dikejutkan olehnya

'ti-tidak mungkin'

'dia cantik ?!'

'dia masih sangat muda,pasti dia akan kalah pada babak pertama—buang-buang waktu saja'

'tapi diujian ini umur tidak dipermasalahkan'

Sakura mendengar komentar peserta satu-persatu dibelakangnya, dia memilih diam "hahaha kita lihat apa yang akan terjadi, ayo semuanya jangan bermalas-malasan,kembangkan layarnya .." perintah sang nahkoda disusul teriakan patuh para peserta yang menyiapkan semua peralatan untuk menghadapi badai.

"kau bukankah yang menangkap pria it—" ucap pemuda yang kini berada disampingnya "jangan berkata apa-apa, disini kau, aku dan yang lainnya adalah peserta pemula..." Sakura memotong perkataan pemuda itu, pemuda yang tempo lalu ia temui di hutan.

"kau bisa memanggilku kurapika,aku mengerti " balasnya disusul anggukan Sakura.

'kau itu istimewa,Sakura'

Suara pain terdengar samar—delusi Sakura. Sakura kembali menatap awan hitam yang terus mendekat kearah perahu yang ia tumpangi,dengan sigap nahkoda memerintahkan untuk mengembangkan layar lebih tinggi lagi "a-apa, Bukankah kita harus menepi ?!" protes kurapika pada sang nahkoda.

"lebarkan saja layarnya pak, supaya kita cepat sampai !" balas leorio kini menjawab pertanyaan kurapika "hei ! itu berbahaya, ini badai besar, kau mau bunuh diri ?!" kini kurapika sedikit marah, Sakura bisa merasakan badai semakin mengamuk, kapal oleng karena ombak dan gelombang yang terus menghantam perahu.

Sakura segera melebarkan layar, sementara itu ia melihat leorio dan kurapika saling beradu pedang di bawah dek.

'orang-orang bodoh itu ?!' ucap sakura menaiki tiang, layar yang ia buka sepertinya terbelit tali, sakura tidak suka dengan keadaan ini.

Kemudian sakura melihat anak laki-laki yang bernama gon berlari dan melemparkan kail pancing nya hingga terlilit kuat di tiang yang menyangga layar.

"aku akan naik, nona tolong papah aku di bahu nona ?!" ucap gon memegang kail pancingnya, bahkan dalam keadaan seperti ini ia akan terbawa arus dan angin.

Sakura mengangguk kemudian memberi isyarat agar gon naik ke bahu nya, dalam hitungan detik gon melesat bagaikan elang yang melawan badai dan duduk di bahu sakura.

"baiklah gon, aku akan menahan tubuhku, sementara kau betulkan layar nya..." ucap sakura pada gon.

"baiklah ?! " ucapnya dengan optimis.

"HEI KALIAN BERDUA JIKA TIDAK MAU MATI BANTU KAMI, AMBIL KEMUDI DAN KITA AKAN MELAWAN BADAI ?!" ucap sakura berteriak, ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, dua hal yang mutlak pada saat ini yaitu mereka akan hidup bersama atau mati bersama.

Sakura melihat keduanya menghela napas, kemudian kurapika membuang pisaunya dan meminta maaf pada leorio, pun sebaliknya dnegan leorio.

Mereka menuju ke dek pengemudi dan mengambil alih kemudi, tidak lama badai berangsur pergi bersama dengan matahari senja yang datang menyingsing, sakura turun ke depan kapal bersama dengan gon.

Bahkan setelah melewati situasi yang sulit anak laki-laki itu masih bisa tersenyum dengan optimis, sakura melihat dari mata sewarna madu nya.

"kerja bagus, gon ..." ucap sakura menepuk punggung kecil gon, sementara itu gon tersentak namun ia membalas sakura dengan senyuman dan anggukan.

"siapa nama kakak ?" tanya gon menghadap sakura, sakura bisa melihat wajah nya terpantul pada manik madu anak seusia killua itu.

Sakura berjongkok menyamakan tingginya "haruno, sakura haruno ..." ucap sakura menyerahkan sebelah tangannya, dengan antusias gon menjabatnya.

"salam kenal, aku gon ... kak sakura" ucap nya membuat sakura tersenyum.

Kemudian nahkoda kapal yang sebelumnya hilang menyuruh mereka untuk masuk, di dalam dek bagian bawah sakura melihat banyak peserta ujian yang masuk laut, bahkan mereka muntah dan berbaring lemah.

"aku akan membantu menyiapkan air hangat ..." ucap gon mengepalkan tangannya, sakura kembali tertawa kecil melihat ke antusiasan anak ini.

"baiklah aku akan merawat mereka, aku adalah calon dokter" ucap leorio bangga, kurapika tidak percaya dengan apa yang di katakan laki-laki itu, namun ia memilih diam.

"aku akan membuat bubur dan obat, aku adalah seorang dokter ..." ucap sakura membuat leorio melotot kaget, bahkan kurapika terlihat tertawa sinis.

Kurapika berinisiatif memberikan air dan obat selama perawatan sampai mereka tiba di pelabuhan untuk menepi.

"kerja kalian sangat baik, sebagai seorang hunter kita tidak boleh panik, tidak boleh berpikir pendek dan tidak boleh menyerah. Sebagai seorang hunter kalian harus tangguh, kuat, dan memiliki jiwa yang baik, itulah hunter sejati. Dan aku umumkan untuk orang-orang yang bertahan dan tidak melarikan diri disini, kalian lulus ujian tahap pertama. Aku adalah salah satu penguji disini." Ucap nahkoda tua itu memperlihatkan kartu lisensi hunter.

Semua orang berteriak histeris kecuali sakura dan kurapika, tidak lama setelahnya mereka sampai di pelabuhan.

"perhatian, bagi peserta ujian hunter yang lolos babak pertama, harap turun dan berkumpul untuk mengikuti ujian hunter tahap selanjutnya, sekali lagi ..."

Ucap suara wanita yang bergema melalui speaker dari balon udara yang ada di atas mereka.

"baiklah ayo kita menuju ujian babak selanjutnya ?!" ucap gon bersemangat, di sambut anggukan sakura, kurapika dan leorio.

Tanpa sadar ikatan di antara mereka terjalin bersama dengan ujian yang akan mereka lalui.

'killua, ayo tepatijanji kita ?!' ucap sakura menatap langit senja dengan optimis, rambut merah mudanya berkibar berani.

..

..

..

..

..

TBC

A/N :

Maafkan saya yang sudah hiatus selama ini, saya banyak mengurusi praktek, ujian dan pasien.

Namun ketika membuka kembali fanfiksi saya sangat sennag mendapatkan review positif, jadi saya langsung menulis lanjutannya dan meng-update nya secepat mungkin.

Saya masih dengan kesibukan untuk wisuda namun saya akan menyempatkan menulisnya, karena saya sangat senang ada yang menunggu dan menyukai tulisan ini.

Terima kasih untuk teman-teman yang mereview dan meninggalkan jejak nya.