I'm such a fool

I can't let go of you for a single day

Forgive me for trying to erase you

Please—so that I can breathe again


Trapped

Pairing : KyuWook

Rate : T

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.

Genre : Drama / Romance

Warning : AU, OOC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain


Ryeowook membuka kelopak matanya perlahan. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba menerima cahaya yang menusuk matanya. Tampaknya pagi ini kamarnya lebih terang dari biasanya, ia bisa merasakan sengatan panas matahari di kulitnya—tunggu. Ryeowook segera mencari ponselnya di meja nakas dan melihat waktu telah menunjukkan pukul 1 siang. Dengan terburu-buru, namja itu berlari ke kamar mandi—membilas tubuhnya sebersih mungkin, menghapus setiap jejak yang ditinggalkan lawan bermainnya di malam sebelumnya.

Ryeowook menatap pantulan dirinya dari cermin. Kulit pucat dengan bekas merah, sudut bibir yang terluka, tubuh yang kurus dan sedikit feminin. Tatapan mata yang mati, bibir yang tak lagi bisa tersenyum, pipi yang tak lagi terlihat rona merah kehidupan. Rasanya Ryeowook ingin tertawa—menertawakan dirinya yang begitu menyedihkan. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang terasa dingin. Masih ia ingat hangatnya—terlalu panas sesungguhnya bagi Ryeowook—lawan mainnya semalam. Kehangatan yang membuatnya merasa mual. Ryeowook mulai tertawa, ia terus tertawa hingga air matanya menetes.

"Pabboya, Kim Ryeowook." suaranya bergetar, air matanya tak berhenti menets. Ia menutupi matanya dengan telapak tangannya, dan mulai bermonolog dengan dirinya sendiri. "Kau sangat menyedihkan, tak pantas untuk dikasihani. Atau karena kau menyedihkan, kau ingin dikasihani? Kau terperangkap, dan tak berusaha untuk keluar. Sekarang kau mengharapkan bantuan seseorang, tapi tak ingin ia ikut terperangkap. Sebenarnya apa maumu?"

Ryeowook tertawa histeris hingga suaranya serak. Tatapan matanya yang tadinya mati kini berubah sendu. Hidungnya memerah, air matanya masih terus menetes. Sekali lagi, ia menatap pantulan dirinya. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Wae? Aku tidak mau memiliki hubungan lagi, aku tidak mau mencintai lagi. Tapi kenapa dia mulai masuk? Aku sudah menolaknya, namun dia tetap bersikeras—wae? Aku tidak mau ingatan ini hilang, aku tidak mau perasaan ini hilang. Aku tidak mau kehilangan sesuatu yang terakhir dari dia."

Tak ada yang menjawabnya—tentu, karena dia hanya bermonolog. Ryeowook juga tidak berharap orang lain menjawab kebimbangan hatinya. Ia ingin menemukan jawabannya sendiri, ia mengambil keputusan didasarkan nuraninya, bukan desakan orang lain. Melupakan realita untuk sementara, Ryeowook terjatuh dan menangis di depan cermin.


Seorang namja berusia tiga puluhan menatap ponselnya entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Wajahnya tampak frustasi, sedih, kesal, dan segala macam emosi negatif berusaha mendominasi. Yeoja yang duduk di sampingnya menatapnya kosong. Wajah yeoja itu pucat, jejak air mata masih telrihat di wajahnya—namun suaminya tampak tak menyadarinya. Ia tampak lebih tertarik dengan ponselnya dan putri mereka. Yeoja itu hanya bisa menangis dalam hati, karena air matanya sudah tak tertarik lagi untuk menetes.

"Yeobo, ada yang ingin aku bicarakan."

"Mmhmm…"

Yeoja itu menggigit bibirnya mendengar jawaban acuh tak acuh suaminya. Ini bukan hal yang baru—namun sampai kapanpun, rasa sakit bukanlah sesuatu yang membuat nyaman, benar? Dengan bibir bergetar, ia menarik sebuah senyum terpaksa. Senyum yang sudah biasa ia buat sejak menikah dengan namja yang dicintainya enam tahun lalu. Default smile.

"Aku hamil."

Wajah namja itu tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Ia tak terlihat senang—seperti calon ayah pada umumnya—juga tak terlihat sedih. Ia terlihat…tidak peduli dengan ucapan istrinya. Seakan itu hanyalah informasi tidak penting—masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Yeoja itu berusaha membendung air matanya melihat reaksi suaminya. Ia menunduk dan segera menggendong putri mereka yang tertidur di pangkuan appanya. Ia melangkah keluar dari kantor suaminya tanpa menatap balik.

"Ryeowook ah…" namja itu bergumam, matanya memandang jauh. Ingatan bahagia dari masa lalunya terlintas, membuat senyum kecil terbentuk. "Mianhae, chagiya. Aku tidak akan mengingkari janjiku lagi."

"Jangan benci aku…"

Sebulir air mata menetes.


Ryeowook menghela napas berat. Matanya terasa berat akibat menangis terlalu lama. Ini bukan hal yang baru baginya—menangis tanpa henti, bermonolog ria—semuanya hanya karena dia. Hanya mendengar nama dia sudah cukup sebagai pemicu mental break down bagi seorang Kim Ryeowook. Namja itu membenci dirinya yang terlalu lemah, yang sedikit-sedikit menangis hanya karena satu orang, yang sedikit-sedikit merasa hatinya teriris hanya karena satu orang itu. Cinta—sesuatu yang sangat menakutkan. Namun mental break down yang dialaminya kali ini membuatnya sedikit bingung. Karena kali ini, Cho Kyuhyun menjadi salah satu penyebab—mungkin lebih tepatnya menjadi salah satu yang ia pikirkan.

Mungkinkah Ryeowook mulai menerima Kyuhyun di hatinya?

Dadanya terasa sakit menyadari kemungkinan tersebut. Segera ia tepis jauh-jauh pikiran—yang menurutnya—buruk itu. Ia segera mengubah dirinya menjadi Ryeona dan bersiap pergi ke kantor—tak peduli seberapa terlambat dirinya. Mungkin Kyuhyun akan memaafkan keterlambatannya—ini juga salah bosnya karena tidak membangunkannya. Ayolah, mereka tinggal di apartemen yang sama, tidur di kamar yang sama. Apanya yang sulit membangunkan Ryeowook?

Saat Ryeowook sampai di pintu depan dan menyadari pintu itu terkunci, ia segera mengutuk Kyuhyun. Ia segera mencari kuncinya di seluruh sudut rumah, namun hasilnya nihil. Bukannya kunci yang ia temukan, ia justru menemukan sebuah catatan kecil tertuju padanya. Dari tulisannya, ia segera mengenal pesan itu berasal dari Kyuhyun.

Istirahatlah hari ini. Jangan mencoba kabur, atau aku akan marah. Saranghae.

Ingin rasanya ia meremas kertas itu, menyobek-nyobek menjadi serpihan kecil, membakarnya, dan membuang abunya pada Kyuhyun. Namun ia tidak tega pada kertas tidak berdosa itu, dan—meski ia tidak mau mengaku—ada sedikit perasaan hangat di hatinya melihat pesan penuh perhatian itu. Senyum kecil terbentuk selama beberapa detik. Dapat ia rasakan matanya mulai berair—ah, dia memang sangat cengeng. Namun sebelum air mata itu menetes, ia usap matanya. Ia tidak mau mengakui—paling tidak untuk saat ini—bahwa keberadaan dan perhatian Kyuhyun merupakan kekuatannya.

"Pabbo namja…"


Ruangan Kyuhyun begitu kacau. Karena satu orang absen—asisten pribadi Cho Kyuhyun lebih tepatnya—dan keinginan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan dua hari sekaligus dalam satu waktu, Donghae terpaksa harus jungkir balik. Pagi ini tiba-tiba saja bosnya mengatakan bahwa asistennya izin tidak masuk karena yeoja itu tidak enak badan. Untuk itu, Donghae harus bisa menerimanya walau setengah hati. Sejak Ryeona menjadi asisten pribadi Kyuhyun, pekerjaan Donghae menjadi jauh lebih ringan. Namun tiba-tiba saja bosnya mengatakan bahwa ia ingin mengambil cuti satu hari dan—sebagai bos yang baik—ia tidak ingin menunda pekerjaannya, maka ia menyeret Donghae untuk mengerjakan pekerjaan dua hari dalam satu hari itu. Hahaha, bos yang baik.

"Tuan Cho, tolong tanda tangani dokumen ini."

"Donghae ssi, tolong periksa dokumen ini."

"Donghae ssi, tolong periksa jadwalku tanggal XXX."

"Donghae ssi, bagaimana persiapan rapat untuk tanggal XXX?"

"Donghae ssi—"

"Tuan Cho, saya butuh konfirmasi anda untuk undangan tanggal XXX."

Dan blablabla. Lihat, satu banding tiga! Donghae mulai merasa pusing dan setengah gila. Sudah dua tahun sejak Ryeona menjadi asisten pribadi Kyuhyun, dan Donghae mulai menikmati ringannya pekerjaannya. Ia lupa betapa kerasnya ia harus berjungkir balik dalam pekerjaanya dua tahun yang lalu. Donghae merasa berterima kasih pada Ryeona, dan berjanji pada dirinya akan mentraktir yeoja itu makan di lain waktu.

Tidak berbeda jauh dengan Donghae, Kyuhyun juga merasa setengah gila. Tampaknya ia terlalu meremehkan pekerjaannya—atau menganggap dirinya terlalu hebat. Ia tahu ia memang hebat, ia adalah seorang jenius, ia adalah orang yang mengagumkan. Namun tampaknya mengerjakan porsi dua hari pekerjaan dalam satu hari terlalu berlebihan dan sulit, bahkan bagi Cho Kyuhyun. Dengan pekerjaan yang bertumpuk, Kyuhyun merasa panas—meski pendingin ruangan berjalan dengan normal—hingga ia ingin melepas semua pakaiannya dan berlari-lari telanjang di kantor sambil menjerit histeris. Namun setiap mengingat malaikat—terserah tanggapan orang—yang menantinya atau lebih tepatnya ia sekap di rumah, sebuah senyum menghias wajahnya.


Ryeowook terbangun dari keadaan setengah tidurnya saat mendengar pintu apartemen dibuka. Ia menghabiskan harinya di apartemen—bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, membaca buku, tidur sebentar. Ia menanti Kyuhyun sambil menonton televisi dengan bosan. Ryeowook tidak ingat sejak kapan setengah kesadarannya menghilang—ia juga tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah Kyuhyun yang kembali ke rumah dalam keadaan mabuk, bekas lipstik di wajah dan kemejanya, dan bau parfum yeoja yang membuatnya mual. Ryeowook mengernyit dan menyipitkan matanya kesal—tidak, ia tidak cemburu. Kenapa ia harus cemburu? Dia tidak punya hak melarang Kyuhyun bermain-main dengan siapapun semaunya—dirinyapun begitu. Dia hanya kesal karena Kyuhyun menyekapnya, dan dirinya sendiri bermain-main di luar sana. Ya, hanya begitu—Ryeowook memantapkan hatinya.

"Kamu menyekapku, dan pulang ke rumah jam dua pagi setelah bermain-main dengan pelacur pilihanmu, huh?"

"Ryeowook ah, saranghae~"

Kyuhyun menjatuhkan dirinya pada tubuh mungil Ryeowook—membuat yang lebih kecil meringis. Kyuhyun menciumi wajah Ryeowook dan tertawa kecil. Namja tampan itu mulai berbicara tidak jelas akibat pengaruh alkohol. Ryeowook hanya bisa mendesah kesal dan membantu—menyeret—Kyuhyun ke kamar. Namja itu masih tidak berhenti berbicara tidak jelas hingga detik Ryeowook mencoba membantunya berganti pakaian. Satu hal yang dapat Ryeowook tangkap dari ucapan Kyuhyun.

"Saranghae, jeongmal saranghae, Kim Ryeowook."

Tak ada yang bisa menahan agar wajah Ryeowook tidak merona. Bahkan rasa sakit di dadanya, dan kenangan dengan dia. Karena malam ini dunianya dipenuhi dengan Kyuhyun.


Kyuhyun membuka matanya dan merasakan sakit kepala hebat. Pekerjaan yang ia kerjakan pada hari sebelumnya membuatnya setengah gila, sehingga ia memutuskan untuk minum-minum di bar langganannya. Melihat kamar yang familiar baginya, Kyuhyun mengerutkan dahinya heran. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa pulang ke rumah dengan selamat. Namun ia menepis pikirannya—toh ia sudah kembali dengan selamat, hanya itu yang penting. Kyuhyun segera meminum aspirin yang ada di meja nakas.

Matanya menyipit mendengar ponsel berpelindung ungu yang bergetar di meja nakas lainnya, menandakan ada yang mengontak pemilik ponsel. Berbicara soal pemilik ponsel, dimana orangnya? Kyuhyun mengedarkan pandangannya, nihil. Ia melirik kamar mandi, namun kamar mandi terbuka. Tak terdengar bunyi air mengalir. Dimana Ryeowook?

Harum masakan dari dapur menjawab pertanyaan Kyuhyun. Dengan segera, namja itu melangkah keluar dari kamar menuju dapur—tak mengacuhkan ponsel yang terus bergetar. Senyum menghias wajahnya saat melihat punggung Ryeowook. Namja mungil itu tampak sibuk menyiapkan sarapan sambil mengenakan apron. Ini adalah pemandangan yang langka baginya—Ryeowook selalu bangun lebih pagi dan telah selesai menyiapkan sarapan saat Kyuhyun terbangun. Mereka bahkan tidak pernah sarapan bersama—berangkat bersama ke kantorpun hanyalah angan-angan. Ryeowook menekankan bahwa ia tak ingin orang kantor tahu bahwa mereka tinggal bersama. Kyuhyun hanya menurut—membujuk Ryeowook setuju tinggal bersama dengannya membutuhkan waktu tiga bulan, ia tidak mau merusak kerja kerasnya karena keinginan egois.

"Pagi, Ryeowook ah."

Ryeowook terlihat kaget mendengar sapaan Kyuhyun. Ia berbalik dan—bukan membalas senyum dan sapaan Kyuhyun—menatap namja tampan itu heran. "Kenapa sudah bangun?"

"Ponselmu berisik."

Percakapan mereka terhenti sampai di situ. Ryeowook tidak pernah membuka mulutnya mengenai seseorang misterius yang selalu mengontaknya di pagi hari, Kyuhyun juga tidak pernah mencoba bertanya. Sedekat apapun keduanya, mereka selalu menjaga jarak—lebih tepatnya Ryeowook selalu menjaga jarak, dan Kyuhyun hanya menuruti kemauannya. Cho Kyuhyun bukanlah tipe orang yang menyerah dengan mudahnya pada orang lain. Hanya seorang Kim Ryeowook yang berhasil membuatnya bertekuk lutut.

"Hari ini tidak usah bekerja."

Ryeowook yang sedang menyiapkan kopi pagi untuk Kyuhyun menghentikan aktivitasnya beberapa detik. Ia menatap Kyuhyun sebentar, sebelum melanjutkan aktivitasnya. Ia meletakan sarapan Kyuhyun di meja dan menatap bosnya dengan sebelah alis terangkat. Kyuhyun menyeruput kopinya sedikit dan melanjutkan, "Kemarin aku mengerjakan porsi pekerjaan hari ini—oh, kamu tidak tahu betapa gilanya aku dan Donghae kemarin—dan berhasil. Hari ini kita cuti—mungkin lebih tepatnya aku cuti, karena kamu masih terhitung izin karena tidak enak badan."

Ryeowook duduk di hadapan Kyuhyun dan menatap namja itu bingung. "Apakah hari ini hari spesial? Tunggu—itu tidak menjelaskan kenapa kamu pulang dalam keadaan mabuk."

"Ayolah, pekerjaan itu membuatku gila, aku butuh bersenang-senang."

"Bermain-main dengan yeoja?"

"Kim Ryeowook, jangan memulai. Aku tidak protes dengan kebiasaanmu tidur dengan sembarang namja, walau kamu tahu perasaanku."

Kyuhyun menggigit pipinya dari dalam melihat Ryeowook menggigit bibir bawahnya. Perasaan kecewa, tersakiti, dan terkhianati terbaca di wajah keduanya. Namun dengan mudah keduanya menutupi ekspresi mereka dan menatap satu sama lain dengan mata menyipit. Melihat bibir Ryeowook bergetar, Kyuhyun menghela napas berat dan memijat pelipisnya. "Tidak, aku tidak melakukan apapun dengan yeoja di bar itu. Mereka seenaknya mendekatiku—sudahlah, bukan ini yang mau kubicarakan. Hari ini kita akan kencan."

"Kencan?"

"Ne, kencan. Aku tidak menerima penolakan—kamu tahu, aku bekerja mati-matian kemarin demi hari ini."

"Eodi?"

Kyuhyun tersenyum dan menyeruput kopinya lagi. Dalam hatinya, ia tersenyum karena Ryeowook tak terlihat kesal dengan keputusan sepihak yang dibuatnya. Ia merasa puas dan bangga karena jungkir balik yang ia lakukan kemarin tidak sia-sia. Jarinya mendekati jari Ryeowook perlahan, dan ia tautkan tangannya. Ia mainkan jemari mungil Ryeowook, membuat Ryeowook tertawa geli dengan kelakuan Kyuhyun yang menurutnya bodoh. Namja tampan itu menarik tangan Ryeowook, dan mengecup jemari lentik itu satu persatu.

"Hari ini kita akan pergi belanja, dan menonton film."

Mungkin hari ini—mungkin—Ryeowook bisa menjalani hari tanpa memikirkan dia.

To be continued


Aku rasa ini termasuk update kilat? Aku harap chapter ini tidak membuat kalian kecewa, apalagi saat rasanya Ryeowook banyak berubah dari chapter sebelumnya. Banyak yang penasaran siapa itu dia, aku juga tidak tahu ._.

Aku tidak ada niat membocorkan siapa itu dia sampai chapter terakhir, karena sampai detik ini aku memang belum memutuskan siapa itu dia. Otakku masih berdebat di antara dua orang. Tapi dia di sini hanyalah bayang-bayang masa lalu, walau kadang akan aku munculkan. Jujur, aku paling merasa kasihan pada istri dia, tapi sudahlah. Cerita ini akan aku fokuskan pada Kyuwook (mungkin, kalau otakku tidak tiba-tiba memutuskan untuk mengubah skenario awal).

Makasih banyak buat 26 | Bee Coco | hanazawa kay | sugarplum137 | Kim Hyeni | aidapinky

Semoga aku bisa memuaskan kalian semua sampai fanfiksi ini selesai (dan semoga aku bisa mengetiknya sampai selesai) \^^/