Pengumuman!
Ada ralat pada chapter 2 dan chapter 3. Di chapter 2, seharusnya Ryeowook menyebut Kangin dengan sebutan "Kangin ssi", bukan "Kangin hyung". Di chapter 3, saat Kyuhyun memanggil "Donghae ah", seharusnya "Donghae ssi"
Whatever anyone says
Even when I'm born again
Even if you already love someone else
When you ask again, it's only you for me
Trapped
Pairing : KyuWook
Rate : T
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.
Genre : Drama / Romance
Warning : AU, OOC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain
Kyuhyun duduk di ruang tamu apartemennya dengan jantung berdebar. Dua tahun ia mengenal Kim Ryeowook, setengah tahun ia mencintai namja itu—dan ditolak mentah-mentah setiap kali menyatakan—, dan sudah tiga bulan mereka tinggal bersama, namun baru kali ini mereka pergi berdua—bukan sekedar pergi main, ini kencan lho! Kyuhyun tidak ingat sejak kapan wajahnya memasang senyum bodoh, yang ia ketahui adalah senyumnya langsung menghilang saat melihat penampilan Ryeowook. Tidak, ia tidak tampil seperti gelandangan—Kyuhyun ragu malaikat di hadapannya bisa tampil seperti gelandangan. Justru ia tampil sebagai…Ryeona. Ya, Ryeowook mengenakan dress one piece selutut dipadukan dengan cardigan dan riasan natural tipis. Ia terlihat manis—manis sekali, benar-benar seperti malaikat. Namun Kyuhyun tidak senang dengan penampilan itu.
"Umm…Ryeona…? Tunggu, kenapa kamu punya pakaian yeoja selain untuk bekerja?"
Ryeowook menatap Kyuhyun dengan wajah merah padam karena malu. Ryeowook membuka mulutnya dan menjelaskan dengan terbata-bata. "S-Sungmin hyung yang memilih…dan Ryeona…katanya…manis…banyak namja tertarik…pasti…mengajak kencan…butuh pakaian…"
Namja mungil itu mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun, masih dengan wajah merah padam. Ingin rasanya Kyuhyun membatalkan rencana kencan mereka dan memutuskan untuk memakan Ryeowook—yang sangat manis menurutnya—waktu ini juga, saat tiba-tiba ide jahil muncul di otak Kyuhyun. Dengan sengaja, Kyuhyun mendekati Ryeowook dan memaksanya bertatapan. Ryeowook menggigit bibir bawahnya karena malu, membuat Kyuhyun tertawa kecil dalam hati.
"Hmm, jinjja?"
Ryeowook mengangguk, dan mencoba mengalihkan tatapannya sekali lagi—namun Kyuhyun masih ingin bermain-main dengannya. Ryeowook hanya bisa mendesah pasrah. Kyuhyun tersenyum kecil dan berbisik, "Kamu yakin ini bukan hobimu? Cross dressing, maksudku."
Ryeowook membuka kedua bibirnya untuk menyangkal, namun dengan cepat Kyuhyun menempelkan bibirnya pada milik Ryeowook, menelan semua ucapan yang akan Ryeowook lontarkan. Namja mungil itu hanya mendesah pasrah dan menyerah saat Kyuhyun meminta akses masuk dengan menjilat bibir bawahnya. Perlahan, kedua lengan Ryeowook melingkar di leher Kyuhyun. Ciuman mereka begitu intens hingga Ryeowook tak menyadari bahwa Kyuhyun telah melepas wignya. Ia baru menyadari saat bibir mereka telah terpisah.
"Aku tidak bermaksud menghina Ryeona,"
Kyuhyun menarik pergelangan tangan Ryeowook, membuat namja mungil itu terpaksa mengikuti bosnya dari belakang. Ia mencoba menyamakan langkah mereka—sesuatu yang sulit mengingat perbedaan tinggi yang berpengaruh pada panjang kaki masing-masing. Ia pikir Kyuhyun akan menariknya ke kamar untuk melakukan hal lain yang lebih intens dan berbau dewasa—namun namja tampan itu justru menariknya ke kamar mandi. Itu tidak terlalu membuatnya kaget, yang membuatnya kaget adalah segayung air yang tiba-tiba disiramkan oleh Cho Kyuhyun padanya.
"Ya, Cho Kyuhyun! Kenapa kamu menyiramku!?"
"Umm, karena aku lebih tertarik pergi kencan dengan Kim Ryeowook? Oh, kamu juga terlihat semakin seksi dengan pakaian basah."
Ryeowook menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya, yang hanya dibalas tawa ringan dan wajah pura-pura polos. Sepuluh detik adalah waktu yang dibutuhkan seorang Cho Kyuhyun untuk berlari dari kamar mandinya dalam rangka menghindari lemparan sepatu hak oleh Kim Ryeowook. Ryeowook mendengus kesal saat mendengar tawa Kyuhyun di luar kamar mandi. Ia melepas pakaian basahnya dan mandi untuk yang kedua kalinya hari ini.
Sebuah ketukan dan tawa jahil terdengar dari luar kamar mandi.
"Mianhae, Ryeowook ah. Saranghae!"
Tawa Kyuhyun terdengar semakin keras saat gayung yang Ryeowook lemparkan berbenturan dengan pintu kamar mandi.
Kyuhyun menanti Ryeowook sambil berbaring di tempat tidur. Ia tersenyum-senyum kecil sambil melirik ke arah kamar mandi. Diam-diam, ia mengirim pesan terima kasih kepada Sungmin—yang hanya dibalas tanda tanya oleh yang bersangkutan. Mungkin ini pertama kalinya ia berinteraksi secara normal dengan Ryeowook. Interaksi mereka sebelumnya tak lebih dari pekerjaan dan ranjang. Kyuhyun merasa hubungan ini mulai bergerak walau sedikit.
Merasa bosan menunggu Ryeowook, Kyuhyun memutuskan untuk memilih pakaian untuk asistennya. Ia tahu Ryeowook tidak membawa pakaian ke kamar mandi—mau bagaimana lagi, dia diseret, ingat? Seusai memilih pakaian, tatapan Kyuhyun tak sengaja terhenti pada ponsel Ryeowook di meja nakas. Kyuhyun tahu Ryeowook memiliki dua ponsel—ponsel berpelindung ungu itu tak pernah ia gunakan. Kyuhyun tak pernah melihat Ryeowook menyentuh ponsel itu selain untuk mengisi ulang baterainya. Ryeowook juga tampaknya tak pernah peduli dengan telepon yang setiap pagi masuk. Lalu, apa gunanya eksistensi ponsel itu bagi Ryeowook?
Baru saja Kyuhyun mau mengambil ponsel itu, ia mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia berpura-pura berbaring di tempat tidur dan menatap Ryeowook. Namja itu telanjang bulat, Kyuhyun harus berkali-kali mengalihkan pandangannya kemanapun selain Ryeowook agar rencana kencannya tidak gagal. Tanpa basa-basi, Ryeowook mengenakan pakaian yang Kyuhyun siapkan dengan cepat. Kyuhyun menghembuskan napas yang entah sejak kapan ia tahan. Meski ia sudah melihat tubuh telanjang bulat Ryeowook entah berapa kali, tetap saja debaran di dadanya dan nafsu yang ia miliki tidak berkurang.
"Jadi, kita mau pergi kemana?"
"Ke mal."
Ryeowook menatap Kyuhyun degan tatapan apakah-kamu-bercanda yang dibalas tatapan bukannya-sudah-jelas-tujuan-kita. Kyuhyun mengangkat tangannya saat Ryeowook hampir melempar sisir ke arahnya. Dalam hati, Kyuhyun bertanya pada dirinya—kenapa Ryeowook begitu sensitif hari ini? Kenapa sedikit-sedikit ia melempar barang-barang di sekitarnya ke arah Kyuhyun? Apa salah Kyuhyun? Baiklah, mungkin menggoda dan menyiram Ryeowook di pagi hari bukanlah ide yang bagus.
"Aku sudah bilang kita akan pergi belanja, kan?"
"Jadi, ke mal?"
"Kamu mau belanja dimana lagi? Kuburan?"
Lagi-lagi, ia harus berlari menghindari remot pendingin ruangan yang siap menghantam kepalanya. Cho Kyuhyun membuat catatan pada dirinya untuk tidak membuat Ryeowook kesal di pagi hari.
Ryeowook mengerucutkan bibirnya lucu selama perjalanan. Kyuhyun bimbang antara harus tertawa, meminta maaf, atau langsung mencium bibir yang seakan mengundangnya itu. Ryeowook tidak mau bicara apapun selama perjalanan, hingga Kyuhyun menyerah dan memutuskan untuk meminta maaf. Ryeowook masih bersikeras tidak mau memaafkan Kyuhyun dan mengalihkan pandangannya keluar mobil. Ingin rasanya Kyuhyun menarik Ryeowook, memeluknya, menciumnya, sambil membisikkan kata-kata manis di telinga namja itu agar ia mau memaafkannya. Namun sayang, itu adalah hal yang sulit karena kali ini ia harus menyupiri mobilnya sendiri. Namun keuntungannya, ia tidak perlu khawatir orang lain akan mengetahui hubungan mereka. Hubungan yang sejujurnya tidak jelas statusnya.
"Mianhae, Ryeowook ah. Aku hanya bercanda."
Kyuhyun tersenyum senang saat mobilnya harus berhenti di lampu merah. Lampu merah bukanlah favoritnya, ia justru cenderung membencinnya karena menghambat perjalanannya—namun kali ini ia harus berterima kasih pada lampu merah. Ia bisa meanrik Ryeowook ke dalam pelukannya, dan mencuri satu kecupan kecil pada pipi Ryeowook. Tak lupa membisikkan kata-kata manis di telinganya, membuat hati Ryeowook sedikit luluh.
"Kamu tahu, sulit rasanya terus marah kepadamu. Kamu benar-benar mengerti caranya meluluhkan hatiku."
Lampu merah berubah menjadi hijau. Ryeowook tahu ucapannya barusan membentuk sebuah senyum kecil di wajah Kyuhyun. Namun ia berpura-pura tidak sadar dan mengalihkan pandangannya keluar mobil.
Tempat yang pertama mereka datangi adalah bagian pakaian. Keduanya berkeliling sambil melihat-lihat pakaian yang cocok untuk diri sendiri atau yang lainnya. Yang lebih sering menghentikan langkahnya untuk melihat pakaian adalah Ryeowook—Kyuhyun tidak terlalu mempedulikan pakaian di sekitarnya. Ia hanya peduli bahwa ia sedang berkencan dengan Ryeowook.
"Aku rasa pakaian ini cocok untukmu, Kyuhyun ah."
"Ah, jinjja."
"Kamu tidak tertarik? Aku rasa pakaian ini bisa menarik ketampananmu."
"Menarik ketampananku? Aku memang sudah dari sananya tampan, Ryeowook ah."
Lalu keduanya mulai berdebat masalah tidak penting. Mereka terus berjalan tanpa peduli ke arah mana—mereka bahkan tak sadar bahwa sesungguhnya mereka telah berjalan jauh hingga ke bagian pakaian khusus yeoja. Keduanya berhenti mengobrol dan berdebat saat tiba-tiba bahu Kyuhyun ditepuk. Keduanya berbalik, dan Ryeowook bisa merasakan wajahnya memucat.
"Kyuhyun ah, sedang apa di sini?"
"Ah…hei, Minho."
Ryeowook mengenal namja itu. Dia adalah salah satu teman Kyuhyun, sudah beberapa kali mereka bertemu—Ryeowook sebagai Ryeona tentunya. Ia melangkah perlahan untuk bersembunyi di belakang Kyuhyun. Memang ia tidak berpenampilan sebagai Ryeona hari ini, namun ia tidak mau mengambil resiko. Ia masih ingat namja itu pernah berkata bahwa ia tertarik pada Ryeona, dan Ryeowook tidak mau rahasianya terbongkar.
"Hei, ke sini dengan yeojachingumu?"
"Apa kamu buta? Jelas-jelas dia namja."
Ryeowook merasa keringat dingin membasahinya. Minho terus berusaha mendesak Kyuhyun agar dapat melihat Ryeowook, dan Ryeowook terus menarik pakaian Kyuhyun agar namja itu tetap menutupinya. Kyuhyun yang terjebak di tengah-tengah hanya bisa pasrah dan berusaha menjauhkan Minho. Namun Minho adalah orang yang pantang menyerah, dengan sengaja ia menarik pergelangan tangan Ryeowook, membuat mata Kyuhyun menyipit.
"Oh, ayolah! Jangan takut, aku tidak akan memakanmu."
Ryeowook menundukkan kepalanya, sekeras mungkin berusaha menghindari tatapan Minho. Namun namja itu benar-benar pantang menyerah—ia menarik dagu Ryeowook dan memaksanya bertatapan. Minho tidak dapat menutupi ekspresi kaget dan bingungnya saat melihat wajah Ryeowook.
"Eh? Bukannya kamu Ryeona ssi—"
"Kim Ryeowook imnida!"
Minho mengerjapkan matanya dan melepas Ryeowook. Dengan pikiran setengah panik, Ryeowook segera mengambil sembarang pakaian dan menarik Kyuhyun ke ruang ganti.
"Kyuhyun ah, temani aku mencoba pakaian ini! Permisi!"
"Tunggu! Itu kan—"
Minho menatap punggung keduanya yang menghilang saat tirai ruang ganti tertutup. Dengan wajah bingung, Minho menatap ruang ganti tempat Ryeowook dan Kyuhyun masuk.
"…Kenapa dia mau mencoba pakaian untuk yeoja?"
Minho menggeleng dan menganggap teman Kyuhyun yang satu itu adalah seorang cross dresser. Dalam ruang ganti, Kyuhyun harus menggigit bibirnya keras untuk menahan ledakan tawa yang siap keluar dari mulutnya saat Ryeowook menyadari bahwa pakaian yang diambilnya adalah dress untuk yeoja.
Setelah insiden memalukan di bagian pakaian, kini Ryeowook mengikuti Kyuhyun sambil menggerutu. Kyuhyun tidak mau berhenti tertawa dan itu membuat Ryeowook kesal. Rasa kesalnya kali ini tidak berhasil Kyuhyun kurangi dengan sekedar kecupan di pipi maupun bisikkan kata-kata manis. Untuk mendapatkan maaf dari Ryeowook, Kyuhyun membawanya ke tempat perhiasan perak. Bukannya terlihat senang, Ryeowook justru mengerutkan dahinya.
"Mau apa kita ke sini?"
"Beli perhiasan, tentu saja."
"Hmm…"
Keduanya mengelilingi toko itu. Kyuhyun terus merengek untuk membeli perhiasan yang berpasangan, dan Ryeowook terus-terusan menolak. Walau Kyuhyun berniat membeli dengan uangnya, jika Ryeowook menolak, ia tidak akan memaksa. Keduanya melihat-lihat seluruh isi toko dan memutuskan untuk tidak membeli apapun. Keduanya keluar dari toko perhiasan tersebut dan memikirkan tujuan mereka selanjutnya.
"Hmm, bagaimana kalau melihat-lihat game? Ada game keluaran terbaru yang ingin aku mainkan."
"Dan membiarkanmu sibuk dengan duniamu sendiri, tidak mempedulikan eksistensiku, huh? Terima kasih atas kencan yang manis, Cho Kyuhyun."
Kyuhyun mengangkat bahunya dan tertawa kecil. Lalu ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku celananya dan menyerahkannya pada Ryeowook. Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah kalung perak dengan bandul potongan puzzle. Kalung itu tidak terlalu mewah namun tidak terkesan murahan. Ryeowook menatap Kyuhyun dengan sebelah alis terangkat, yang dibalas senyum lembut. Ryeowook tertawa kecil, ekspresi wajahnya melembut.
"Bukannya tadi kamu tidak beli apa-apa? Tapi…umm, gomawo…"
"Biar aku bantu."
Kyuhyun memasangkan kalung itu di leher Ryeowook. Ia tersenyum kecil dengan bangga. Satu hal yang tidak Ryeowook ketahui—kini Kyuhyun mengenakan kalung dengan bandul potongan puzzle yang merupakan pasangan puzzle miliknya.
Setelah berdebat entah berapa lama dan berjalan tanpa arah, keduanya terdampar di depan toko game. Daripada disebut terdampar, mungkin lebih tepat Kyuhyun menggiring Ryeowook ke toko game dengan wajah polos seakan ia hanya berjalan tanpa tujuan. Ryeowook bisa saja menyeret Kyuhyun ke tempat lain—namun wajah memohon dan puppy eyes yang jarang Kyuhyun keluarkan adalah sesuatu yang sulit untuk ditolak. Dengan berat hati—dan kesal pada dirinya yang terlalu baik—Ryeowook membiarkan Kyuhyun masuk ke tempat sakral dalam kamus Cho Kyuhyun. Ryeowook tertawa kecil melihat Kyuhyun yang langsung berjalan cepat—namja tampan itu terlihat seperti anak anjing yang baru saja diizinkan bermain di tempat kesukaannya.
Mengetahui kebiasaan Kyuhyun melupakan yang lainnya jika sudah berhadapan dengan game, Ryeowook berbalik melihat toko alat musik yang terletak tidak terlalu jauh dari toko game tersebut. Tanpa memandang balik, Ryeowook melangkah menuju toko alat musik tersebut—kalau Kyuhyun sibuk dengan game nya, bukan hal yang salah jika Ryeowook memilih sibuk dengan musik. Ryeowook berkeliling sebentar di toko alat musik yang relatif sepi itu. Matanya memandang lembut alat-alat musik di sekitarnya—hingga perhatiannya terfokus pada sebuah piano di pusat ruangan.
Ryeowook tersenyum pada dirinya, pikirannya terlintas pada masa lalu. Musik adalah sesuatu yang ia cintai, sesuatu yang merupakan hartanya. Dadanya terasa sakit mengingat bahwa dia sangat menikmati setiap musik yang Ryeowook mainkan. Dadanya terasa semakin sakit mengingat bahwa setiap musik yang ia mainkan di masa lalu selalu berlandaskan pikiran untuk dia. Namun semua perasaan sakit itu digantikan oleh perasaan hangat saat sebuah lengan yang familiar melingkar di pinggangnya. Ia menahan senyumnya saat merasakan kepala Kyuhyun di kepalanya.
"Kamu mau aku belikan piano itu?"
Ryeowook meletakan tangannya di atas tangan Kyuhyun. Ia tidak peduli komentar orang-orang yang melihat mereka—ia bahkan tidak yakin ada banyak orang di sekitar mereka. Ia bisa merasakan kecupan kecil yang Kyuhyun taruh di bahunya. Dadanya terasa hangat—meski perasaan sakit itu masih ada, dan kini keduanya berusaha mendominasi hatinya.
"Kalau kamu beli itu, mau ditaruh dimana? Jangan berpikiran aneh-aneh."
"Hmm, kalau kamu mau bermain piano, aku bisa membawamu ke rumahku lain kali."
Kyuhyun tersenyum kecil. Ia tahu Ryeowook mencintai musik, dan namja mungil itu sangat suka bermain piano. Jika dikatakan Cho Kyuhyun mengetahui segalanya tentang Kim Ryeowook, itu bukan hal berlebihan—itu adalah fakta. Bahkan Kyuhyun tahu hari ini Ryeowook mengenakan celana dalam apa—karena dia yang memilihkan pakaian Ryeowook, ingat? Ya, Kyuhyun tahu segalanya tentang Ryeowook. Bahkan tentang dia yang selalu mengontak Ryeowook di pagi hari, yang kini mendominasi pikiran Ryeowook. Kyuhyun tahu siapa itu dia, meski Ryeowook tidak pernah memberitahunya. Oh, Cho Kyuhyun adalah penguntit handal. Namun ia tidak menunjukkan semua itu. Ia ingin Ryeowook membuka dirinya perlahan, dan Kyuhyun akan terus berpura-pura bodoh.
Kyuhyun menarik tangannya dan merangkul Ryeowook. Ia mengecup pipi namja mungil di sampingnya dan menariknya keluar toko alat musik tersebut. Tidak ia pedulikan tatapan penjaga toko dan pengunjung di sekitar mereka. Yang ia pedulikan hanyalah Ryeowook yang ada di sampingnya. Hanya Kim Ryeowook, dunianya.
To be continued
Dari semua chapter yang sudah kuketik, personally I love this one the most. Maybe because there's less drama~
Aku harap aku tidak membuat kalian menunggu terlalu lama, walau aku tidak yakin ada yang menunggu fanfiksi abal-abal ini. Jujur aku sedikit kesulitan memikirkan apa yang harus aku ketik untuk chapter 10, karena motivasiku hilang. Otak ini tidak mau berhenti memberi ide cerita oneshot dimana salah satu (Kyu atau Wook) akan mati. Tembak aku, tembak aku sekarang T.T
Mungkin aku juga sedikit tertekan karena sedang menunggu pengumuman SBMPTN ;w;
Makasih banyak buat choi yewon11 | sugarplum137 | hanazawa kay | cho loekyu07 | Bee Coco | aidapinky yang bersedia meninggalkan jejak di chapter sebelumnya. Semoga chapter ini tidak membuat kalian kecewa \^^/
