EDITED!
Makasih buat CLovKavg yang mengingatkan~
Everything is useless
The memories I tried to shut slip through the heart's door
I can't get over you even for a moment
Where are we?
Are we happy?
Trapped
Pairing : KyuWook
Rate : T
Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.
Genre : Drama / Romance
Warning : AU, OOC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain
"Ryeowook ah, aku lapar."
Mendengar ucapan Kyuhyun, tiba-tiba perut Ryeowook ikut mengeluarkan bunyi—seakan memberi konfirmasi bahwa kedua namja ini memang harus segera makan. Ryeowook memeriksa jam tangannya, dan benar ini sudah waktunya makan siang. Ryeowook mengedarkan pandangannya, mencari penjual makanan di sekitar mereka. Tiba-tiba, pergelangan tangannya ditarik oleh Kyuhyun dan keduanya berjalan menuju parkiran. Ryeowook menghentikan langkahnya, memaksa Kyuhyun ikut berhenti dan berbalik untuk menatapnya.
"Kita mau pergi kemana? Jangan bilang kita mau pulang?"
"Aku lapar, Ryeowook ah."
"Tapi bahan-bahan untuk memasak di rumah sudah habis, Kyuhyun ah."
Kyuhyun menatap lantai dengan alis bertaut. Ryeowook harus menahan tawanya melihat sisi kekanak-kanakan Kyuhyun. Cho Kyuhyun yang biasanya memasang wajah stoic di kantor, yang biasanya menjahili Ryeowook sesukanya, kini memasang wajah cemberut karena lapar. Sejujurnya Ryeowook juga merasa lapar dan perutnya sudah merengek minta diisi, namun tidak terlintas di kepalanya bahwa mereka harus segera pulang hanya untuk makan. Ayolah, mereka di mal.
"Bagaimana kalau kita makan di sini saja?"
"Tapi aku ingin makan masakanmu."
"Bersabarlah dulu, Kyuhyun ah. Setelah makan, kita belanja bahan-bahan untuk memasak."
"Setelah makan, kita ke arcade!"
"Arcade? Bukannya itu semacam tempat bermain game? Tadi kamu sudah membeli game, kan?"
"Permainan di arcade dan game yang kubeli itu berbeda, Ryeowook ah."
Ryeowook mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti akan obsesi Kyuhyun dengan game—dan apa bedanya game yang ada di game center dengan yang dibeli Kyuhyun? Keduanya sama-sama membuatnya senang, kan? Namun wajahnya segera berubah normal saat Kyuhyun menariknya ke salah satu restoran cepat saji.
Makan siang berjalan normal—normal dalam standar bersama seorang Cho Kyuhyun. Keduanya makan sambil mengobrol ringan—lebih tepatnya Kyuhyun beberapa kali memberi komentar jahil pada Ryeowook yang dibalas pelototan atau injakan keras di kaki Kyuhyun. Kyuhyun juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia beberapa kali menggoda Ryeowook dan membuat wajahnya merona—kombinasi malu dan kesal. Mereka tidak peduli dengan tatapan aneh yang diberikan pengunjung lain. Keduanya terlalu sibuk dalam dunia milik berdua.
Setelah makan siang dan membayar, Kyuhyun tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia segera menyeret Ryeowook ke lantai atas tempat arcadeberada.
"Pilih."
Kyuhyun menyeret Ryeowook dengan paksa ke arcade, dan kini keduanya berdiam di depan crane game. Ryeowook menatap Kyuhyun dan permainan di hadapan mereka bergantian. Dia tidak mengerti kenapa bosnya langsung membawanya ke permainan—yang bisa dibilang—kekanakan itu. Yang membuatnya semakin heran, biasanya namja menyuruh yeoja memilih tumpukan boneka dalam permainan itu, bukan namja yang lain. Dan—harus Ryeowook akui, walau memalukan—kenapa Kyuhyun tahu ia menginginkan sebuah boneka dari permainan tersebut? Ryeowook bimbang antara harus mengaku yang mana yang ia inginkan—dan membuang harga dirinya—atau menolak penawaran 'manis' Kyuhyun untuk mempertahankan harga dirinya.
Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengetuk sebelah kakinya. Wajah berpikir Ryeowook memang manis dan imut—namun menunggu dan bersabar bukanlah keahlian Cho Kyuhyun. Sejujurnya, ia benci permainan seperti ini—bukan karena ia tidak bisa tentunya, tapi karena menurutnya membosankan. Kyuhyun itu hebat, ia bisa dengan mudah mengambil semua boneka yang ada. Tapi di situlah poinnya, apa yang menyenangkan dari permainan seperti itu? Merasa tidak sabar, Kyuhyun memutuskan untuk mengambil semua boneka yang ditawarkan permainan tersebut, dan melemparkannya satu persatu kepada Ryeowook.
"Ya! Kyuhyun ah, kenapa kamu ambil semua?"
"Ini salahmu. Aku sudah memintamu untuk memilih. Aku tidak akan tahu kalau kamu tidak memberitahuku."
Bohong. Kyuhyun tahu ucapannya yang barusan adalah sebuah kebohongan. Dia tahu sedari tadi tatapan Ryeowook terfokus antara dirinya dan sebuah boneka jerapah dalam permainan tersebut. Dia tahu jerapah adalah hewan kesukaan Ryeowook—perlukah diulang bahwa Cho Kyuhyun mengetahui segalanya tentang Kim Ryeowook? Bahwa dia adalah penguntit yang handal? Namun ia dengan sengaja memilih seluruh boneka selain boneka jerapah. Ia ingin menggoda Ryeowook hingga namja itu menyerah dan mengatakan apa maunya—itu adalah hobinya.
"Uuh, baiklah—berhenti mengambil boneka secara sembarang—aku mau yang itu! Aku mau boneka jerapah itu!"
Kyuhyun menyeringai puas mendengar ucapan Ryeowook. Ia berhasil mendesak Ryeowook—oh, seandainya ia juga bisa mendesak Ryeowook untuk membalas perasaannya. Namun, bukankah kencan ini adalah salah satu strategi mendesak namja mungil itu agar membalas perasaannya? Kyuhyun tidak akan menyebut kencan ini sebagai desakan atau sogokan agar Ryeowook membalas perasaannya—mungkin hanya sedikit—karena sesungguhnya ia hanya ingin Ryeowook sedikit terbuka dengannya. Ia ingin Ryeowook bersenang-senang dengannya, melepaskan semua pikirannya tentang dia. Ia ingin Ryeowook memikirkan Cho Kyuhyun walau hanya satu hari ini.
Dengan mudah, Kyuhyun mengambil boneka jerapah yang diinginkan Ryeowook. Berbeda dengan perlakuannya terhadap boneka-boneka sebelumnya, Kyuhyun menyerahkan boneka itu kepada Ryeowook dengan senyum terbaiknya. Ryeowook mendengus dan menatap lima boneka lain yang ada di tangannya dengan ekspresi bingung—harus ia apakan boneka-boneka ini?
"Buang saja kalau kamu tidak mau."
"Yang benar saja, aku tidak setega itu. Ini adalah hadiah darimu—walau kamu memilihnya secara asal—aku akan menyimpannya. Tapi, bagaimana aku harus membawanya?"
Walau merasa senang dengan ucapan Ryeowook, Kyuhyun mengangkat bahunya tidak peduli dan meletakkan boneka jerapah itu di atas tumpukan boneka yang dibawa Ryeowook. Alhasil, boneka-boneka yang dibawa namja itu berhamburan di lantai. Ryeowook mengirim tatapan mematikan pada Kyuhyun—yang hanya dibalas senyum jahil.
"Ya! Cho Kyuhyun!"
Sebuah boneka gajah membuat kontak dengan kepala Kyuhyun.
Kyuhyun dan Ryeowook berjalan menuju toko buku sambil membawa kantung berisi boneka di satu tangan masing-masing. Keduanya mengobrol kecil—dari hal yang sangat tidak penting sampai hal yang masih tidak penting. Dalam hatinya, Ryeowook baru kali ini merasa beruntung mengenal Cho Kyuhyun. Bukannya selama ini ia merasa sial menjadi asisten Kyuhyun—bosnya itu sangat hebat dalam hal pekerjaan. Beruntung di sini maksudnya ia baru menyadari betapa tulus perasaan Kyuhyun kepadanya. Ia bertanya—kenapa dia bisa begitu buta? Padahal namja tampan di sampingnya ini benar-benar ingin menyembuhkannya, ingin membetulkan senyum Kim Ryeowook. Mungkin karena Ryeowook terlalu menggantungkan dirinya dengan masa lalu. Ia tersenyum getir selama beberapa detik, sebelum ucapan Kyuhyun kembali mengalihkan perhatiannya.
Setelah menitipkan barang bawaan mereka—satu kantung berisi game yang Kyuhyun beli dan yang lainnya berisi boneka—keduanya mengelilingi toko buku tanpa tujuan yang jelas. Tampaknya hari ini berjalan tanpa arah adalah kegiatan utama mereka. Saat tak ada mata tertuju pada mereka, Kyuhyun akan sembunyi-sembunyi mengaitkan jemari mereka. Sebuah gerakan kecil yang membuat hatinya hangat—perasaan yang mencoba mengambil alih dominasi rasa sakit yang ia rasakan di hatinya. Saat mereka benar-benar berada di luar jangkauan orang lain, Kyuhyun tidak akan menahan dirinya untuk tidak memberi kecupan manis pada wajah Ryeowook—dahi, pipi, hidung, bibir.
Namun kontak kehangatan yang manis itu harus berhenti saat perhatian Kyuhyun teralihkan oleh majalah yang berisi informasi game. Ryeowook melipat tangannya di dada dan menggeleng menyerah—ia tidak mau mengaku bahwa ia merasa sedikit cemburu dengan perhatian yang Kyuhyun berikana pada game. Seperti insiden toko game sebelumnya, Ryeowook memilih untuk menenggelamkan dirinya di antara buku-buku musik. Sebuah senyum kecil menghias wajahnya. Ia benar-benar mencintai musik, dan merindukannya. Namun satu hal yang menahannya untuk bermain musik—untuk siapa dia memainkannya? Sudah jelas bukan untuk dia. Apakah ia siap memberikan musiknya pada Kyuhyun—saat ia masih meragukan hatinya sendiri?
Saat sebuah tangan memeluknya dari belakang, perhatian Ryeowook kembali teralihkan.
"Aku serius."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan membelikanmu piano jika kamu meminta."
"Sudah kubilang, jangan bicara aneh-aneh. Kamu juga sudah janji akan membawaku ke rumahmu jika aku ingin bermain piano. Untuk apa membeli yang baru?"
Kyuhyun menyembunyikan senyumnya dengan membenamkan wajahnya di tengkuk Ryeowook. Rasa senang yang dirasakannya ia ekspresikan dengan kecupan kecil di tengkuk namja yang lebih pendek itu—membuat Ryeowook merasa geli. Kyuhyun tidak akan berbohong pada dirinya. Ia benar-benar senang mendengar ucapan Ryeowook. Namja yang ia cintai itu setuju diajak ke rumahnya—walau dalam hatinya ia tahu ucapannya hanyalah untuk menahan agar Kyuhyun tidak membuang-buang uangnya untuk sebuah piano yang menurutnya tidak perlu. Cinta—benar-benar sesuatu yang hebat.
Ryeowook bermain-main dengan tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya. Ia memutar kepalanya agar bertatapan dengan Kyuhyun. "Bagaimana kalau kita menonton sekarang?"
Ryeowook hanya bisa tertawa melihat anggukkan antusias dari Kyuhyun.
"Kamu serius mau menonton yang itu?"
"Aku dengar dari yeojadeul di kantor, katanya film ini bagus."
"Yang benar saja—sudah jelas ini lebih menarik."
"Itu film horor, Kyuhyun ah. Andwae."
"Jangan khawatir, kamu boleh memelukku kalau takut."
"Nanti terbawa mimpi."
"Kita kan tidur bersama, peluklah aku sepuasmu."
"Kyuhyun ah, andwae."
"Tiket untuk film ini—dua orang."
"Ya! Cho Kyuhyun!"
Ryeowook melipat tangannya kesal. Dengan langkah berat, ia mengikuti Kyuhyun memasuki ruangan tempat mereka menonton. Bibirnya masih mengerucut lucu saat keduanya duduk di kursi. Ia bahkan tak mau menatap namja tampan di sampingnya—yang bukannya meminta maaf malah tertawa puas. Namun ekspresi kesal yang ia kenakan perlahan berubah menjadi ekspresi ketakutan saat film yang mereka tonton sudah diputar di layar.
Kyuhyun menatap layar di hadapan mereka dengan bosan. Ia bahkan menguap beberapa kali karena bosan. Film yang diputar di layar itu memang cukup menyeramkan—namun belum cukup untuk membuat Cho Kyuhyun merasa takut. Ia melihat Ryeowook yang memasang ekspresi takut. Daripada menonton film membosankan itu, Kyuhyun memutuskan untuk menatap ekspresi ketakutan Ryeowook. Menurutnya itu lebih menarik, apalagi kini namja mungil itu memeluk lengannya. Meski ia beberapa kali meringis karena Ryeowook meremas tangannya keras, Kyuhyun menikmati kedekatan mereka.
"AAAAHHHH!"
Ah, ingin rasanya Kyuhyun mencium Ryeowook. Ingin rasanya ia memasukkan lidahnya ke dalam lubang di antara dua bibir Ryeowook. Ingin rasanya ia membuat Ryeowook melupakan semua yang ada di sekitarnya—Kyuhyun ingin menguasai pikiran Ryeowook. Ia tidak menyadari tubuhnya bergerak mengikuti nafsunya hingga—
PLAK
—sebuah tangan yang ia kenal dengan jelas menamparnya. Dengan sangat keras. Menampar wajah Cho Kyuhyun. Jangan lupakan kenyataan bahwa tamparan itu meninggalkan jejak merah di wajah tampan miliknya.
"Kyuhyun ah, jangan marah."
Dari serangkaian insiden yang terjadi selama kencan mereka, baru kali ini Kyuhyun memilih untuk berjalan mendahului Ryeowook. Ia kesal—dan malu—karena bisa-bisanya Ryeowook menamparnya dalam bioskop. Entah Kyuhyun sedang dalam masa bodoh atau apa, ia tidak menyadari ini semua adalah salahnya sendiri. Padahal di awal Ryeowook sudah mati-matian menolak tapi Kyuhyun bersikeras agar mereka menonton film horor—yang pada kenyataannya membuatnya bosan. Mungkin inilah akibatnya, sebuah tamparan yang berbekas di wajah tampannya.
Kyuhyun berhenti berjalan saat tak mendengar langkah Ryeowook mengikutinya. Saat ia berbalik, wajahnya berubah masam. Ternyata Ryeowook telah menyerah setelah sepuluh menit mencoba mengikutinya dan memutuskan untuk berbelanja di supermarket. Kyuhyun menggeleng dan memutuskan untuk menghentikan akting kesalnya. Ia membuat catatan pada dirinya sendiri bahwa Ryeowook bukanlah tipe yang mau mengejar. Kyuhyun menyusul Ryeowook ke supermarket, dan dengan segera kedua matanya menyipit saat melihat Ryeowook memasukkan hal yang ia benci ke dalam keranjang belanjaannya. Sayuran.
"Jangan beli itu."
"Oh, sudah tidak marah?"
"Aku mau daging."
"Jangan pilih-pilih."
Kyuhyun tetap keras kepala. Ia berkali-kali berusaha mengeluarkan setiap sayuran yang Ryeowook ambil—yang berakhir dengan perdebatan kecil di antara keduanya. Seakan-akan ingin menantang Ryeowook, Kyuhyun mengambil makanan instan sebanyak mungkin untuk menyaingi sayur yang Ryeowook ambil. Kedua alis Ryeowook menyatu, dan keduanya kembali berdebat kecil.
Perdebatan keduanya tidak berhenti bahkan saat mereka berjalan ke kasir. Mereka baru berhenti berdebat saat mengeluarkan barang belanjaan, namun dengan segera perdebatan baru dimulai saat mereka berebut siapa yang harus membayar. Perdebatan itu berakhir dengan kemenangan Kyuhyun, membuat Ryeowook menggerutu.
Kedua tangan Kyuhyun dan Ryeowook dipenuhi oleh belanjaan. Kyuhyun menggerutu kesal karena ia tidak bisa menggandeng tangan Ryeowook—kenapa Ryeowook harus berbelanja sebanyak ini? Toh mereka hanya tinggal berdua. Keduanya berjalan menuju tempat parkir mobil dengan sedikit kesulitan. Setelah meletakkan barang belanjaan mereka di belakang, keduanya masuk ke mobil—Kyuhyun di bagian supir, dengan Ryeowook duduk di sampingnya—dan mengenakan sabuk pengaman masing-masing.
Saat mobil mereka keluar dari daerah mal, keduanya baru menyadari bahwa hari sudah malam.
"Aku lapar."
"Aku juga. Tapi aku terlalu malas untuk memasak. Bagaimana kalau kita ke restoran langgananku dan Sungmin hyung?"
"Beri tahu aku jalannya."
Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama. Ryeowook turun dari mobil terlebih dahulu untuk memesan makanan mereka—Kyuhyun harus mencari tempat parkir yang menurutnya nyaman. Senyum terbentuk di wajah manis namja mungil itu saat ia dapat mencium bau masakan yang familiar baginya. Namun senyumnya tak bertahan lama pada detik kakinya memijak ke dalam restoran. Tatapan matanya terfokus pada seorang namja yang memunggunginya. Ryeowook tidak perlu melihat wajah namja itu untuk mengenalinya—dia.
Dapat Ryeowook rasakan matanya berair saat melihat dia sedang menikmati makan malam dengan keluarganya yang baru. Tubuhnya sedikit bergetar karena ia mencoba membendung air matanya. Bibirnya ia gigit dengan keras—hampir saja ia melukai bibirnya jika tidak tiba-tiba sebuah tangan menutup kedua matanya. Dapat ia rasakan lengan Kyuhyun melingkar di pinggangnya—dan pada detik itu air mata Ryeowook menetes.
Kyuhyun membisikkan kata-kata manis untuk menenangkan Ryeowook. Namja tampan itu tersenyum meminta maaf pada setiap orang yang menatap mereka bingung. Tanpa pikir panjang, ia segera menarik Ryeowook keluar dari restoran itu dan membawanya kembali ke mobil.
Semua rasa lapar dan nafsu makan yang mereka rasakan sebelumnya menghilang. Perjalanan menuju ke apartemen Kyuhyun begitu hening—keheningan yang Kyuhyun benci. Sebagian besar karena perhatian Ryeowook—yang kini menatap jalanan dengan kosong—didominasi oleh dia. Ingin rasanya Kyuhyun membenci dia—kenapa dia harus muncul di saat yang tidak tepat begini? Namun rasanya tidak adil, Kyuhyun bahkan tidak mengenal dia. Kenapa dia harus membenci orang yang tidak dia ketahui sifatnya? Apakah rasa sakit yang dia torehkan untuk Ryeowook cukup sebagai alasan? Rasanya alasan itu terlalu kekanakan.
"Jelaskan padaku di rumah nanti."
Ryeowook masih menatap jalan dengan tatapan kosong.
To be continued
Haloo, maaf terlambat update. Banyak hal terjadi (SBMPTN, lebaran, persiapan daftar ulang, inspirasi mengabur /?) yang membuatku harus menunda update chapter ini T.T
Maafkan aku jika chapter ini mengecewakan, apalagi bagian akhir yang aku rasa sangat fail, super duper amat sangat fail /?/ -_-
Seperti biasa, makasih banyak untuk yang review di chapter terakhir (cho loekyu07, Bee Coco, hanazawa kay, choi yewon11, Kim Hyeni, aidapinky)
Aku harap kalian masih mau menemaniku~see you next chapter (I hope?)
