I'm a fool to have made you cry

I think, did I really love you?

Only unknown feelings remain

I'm trapped

Will you wake me up from this dream?


Trapped

Pairing : KyuWook

Rate : T

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.

Genre : Drama / Romance

Warning : AU, OOC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain


Tiga hari berlalu dengan cepat sejak kencan setengah gagal mereka. Ya, setengah gagal—tidak benar-benar berhasil karena kemunculan dia di luar rencana, namun tidak dapat dikatakan gagal. Tiga hari setelah kencan mereka, semuanay berjalan normal dan datar. Tak ada kontak seksual di antara keduanya—sama sekali. Ryeowook juga tidak keluar malam hari untuk mencari kesenangan dengan namja lain—satu hal yang membuat Kyuhyun lega. Changmin masih rajin datang mengganggu Kyuhyun di pagi hari, namun ia tak sekalipun menyebut nama Ryeona di obrolan pagi mereka. Jujur, ketenangan ini membuat Kyuhyun bimbang. Semua ini terasa seperti ketenangan sebelum badai melanda.

Kyuhyun menghela napas berat sambil membaca ulang dokumen yang tertera di layar laptopnya. Jujur, perhatiannya teralihkan oleh namja berpakaian yeoja yang duduk tidak jauh darinya. Beberapa menit—detik bahkan—sekali, Kyuhyun menyempatkan diri melirik Ryeowook. Terkadang langsung terbentuk senyum di wajahnya saat melihat wajah berpikir Ryeowook yang manis. Terkadang ingin rasanya ia langsung berlari mendekati Ryeowook untuk mengecup pipinya yang—secara tidak sadar—ia gembungkan. Yang paling sering terbentuk adalah senyum kecut karena beberapa hari ini, tatapan Ryeowook kosong. Kyuhyun tahu pikiran Ryeowook dipenuhi oleh dia. Oh, apakah Cho Kyuhyun sebenarnya memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Kim Ryeowook? Kyuhyun juga tidak tahu.

Dalam pikirannya, ingatan pada malam itu diputar ulang. Masih diingatnya betapa terburu-buru langkah Ryeowook memasuki apartemen mereka—Kyuhyun lebih tepatnya—meninggalkan Kyuhyun dengan tumpukan kantung belanja yang sulit untuk dibawa seorang diri. Namun Kyuhyun tidak berkata apa-apa dan membawa kantung-kantung belanja itu dengan susah payah. Seusai mengurus belanjaan mereka, Kyuhyun menemukan Ryeowook berbaring di kasur. Dapat Kyuhyun dengar isakan kecil dari namja mungil itu—hatinya serasa disayat pisau paling tajam. Dengan lembut, ia bertanya kepada Ryeowook. Ryeowook tidak mengatakan banyak hal, hanya mengatakan bahwa ia melihat seseorang dari masa lalunya.

"Tuan Cho?"

Tampaknya Kyuhyun terlalu sibuk dengan lamunannya hingga ia tidak sadar bahwa objek melamunnya sudah berdiri di depannya. Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan maniknya bertemu dengan manik heran milik asistennya. Seandainya Kyuhyun sedikit menajamkan ketelitiannya, ia pasti dapat melihat ekspresi khawatir di mata Ryeowook. Namun tampaknya Kyuhyun sudah berhenti untuk berharap lebih—apalagi mengingat insiden tiga hari yang lalu.

"Mwoya, Ryeona ssi?"

Ryeona ssi, panggilan yang begitu formal. Sejujurnya akhir-akhir Ryeowook merasa sedikit merinding setiap mendengar panggilan formal dan nada dingin keluar dari mulut Kyuhyun. Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun memanggilnya begitu, ini adalah hal yang normal di kantor. Jadi, kenapa rasanya ada sesuatu yang mengganjal dada Ryeowook? Apalagi mengingat insiden yang memalukan tiga hari lalu. Di hari selanjutnya, Ryeowook mengutuk dirinya yang begitu lemah hingga membuat Kyuhyun khawatir.

Rasanya aneh. Sebelumnya, ia tidak peduli dengan perasaan Kyuhyun. Kenapa kini Ryeowook peduli? Kenapa ia merasa bersalah karena sudah menahan Kyuhyun? Bukankah pada detik ia menerima ajakan Kyuhyun untuk tinggal bersama, Ryeowook sudah menahan Kyuhyun? Kenapa perasaan bersalah baru muncul sekarang? Dan kenapa—dalam hatinya, kehangatan yang ia terima dari Kyuhyun mulai berusaha mendominasi. Ia tidak membenci kenyataan itu. Justru sedikit ia berharap, perasaan hangat itu akan mengalahkan rasa sakit yang ia pertahankan enam tahun ini.

Ryeowook menepis pikiran anehnya jauh-jauh. Jika ia berpikir terlalu jauh, kepalanya akan terasa pusing. Ia lalu mendiskusikan masalah pekerjaan dengan Kyuhyun untuk mengalihkan pikirannya. Berlari sebentar, mencoba kabur dari kenyataan, tidak masalah bukan?


Hari Sabtu berlalu begitu cepat, dan dalam sekejap telah datang hari Minggu. Ryeowook selalu terbangun sebelum Kyuhyun. Tanpa Kyuhyun ketahui, setiap pagi Ryeowook memiliki kebiasaan baru—mengecup dahi Kyuhyun. Namja mungil itu sendiri tidak tahu apa alasannya melakukan hal manis seperti itu—yang biasanya menjadi kebiasaan Kyuhyun. Mungkin waktu yang ia habiskan bersama Kyuhyun membuatnya tertular dengan kebiasaan namja tampan itu. Ryeowook turun dari tempat tidur dan memulai harinya dengan mandi pagi.

Ryeowook menatap pantulan dirinya di cermin. Meski sulit, ia mencoba membentuk senyum kecil di wajahnya. Beberapa hari yang lalu ia mengalami mental break down, namun kini ia mencoba menstabilkan emosinya. Sulit untuk Ryeowook akui, namun sesungguhnya sejak tinggal dengan Kyuhyun, mental break down yang dialaminya mulai berkurang frekuensinya. Dan mental break down terakhir yang dialaminya—yang melibatkan Kyuhyun di dalamnya—membuatnya semakin termotivasi untuk menjaga kestabilan emosinya.

Seusai mandi, Ryeowook melakukan aktivitasnya yang lain—memasak sarapan untuk dirinya dan Kyuhyun. Setiap membuka kulkas untuk mengambil bahan masakan, Ryeowook merasa sedikit bersalah mengingat bahwa ia tidak membantu Kyuhyun membawa belanjaan mereka. Tapi Kyuhyun tidak pernah membahas itu—tidak sekalipun. Ia tidak protes, ia bahkan tidak mendesak Ryeowook untuk bercerita lebih banyak tentang dia. Hal yang membuat Ryeowook merasa lega dan sedikit khawatir—apakah ketertarikan Kyuhyun padanya sudah mulai memudar?

Ryeowook menepis pikirannya yang khawatir dengan lunturnya perasaan Kyuhyun. Di awal minggu, ia baru saja mengatakan apda sahabatnya bahwa ia tidak peduli pada Kyuhyun—namun lihatlah dirinya sekarang. Minggu ini bahkan belum berlalu, namun ia sudah merasa khawatir perasaan Kyuhyun padanya luntur. Ia merasa plin-plan.

Setelah menyiapkan sarapan, Ryeowook kembali ke kamar mereka untuk membangunkan Kyuhyun. Ketika kakinya menapak di lantai kamar, tubuh Ryeowook sedikit membeku saat ia mendengar getaran dari ponsel berpelindung ungu yang selalu ia tinggal di meja nakas. Namun berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ponsel itu hanya bergetar tiga kali—menandakan ada pesan masuk. Ryeowook mengubah rencananya membangunkan Kyuhyun, dan memutuskan untuk melihat pesan yang masuk ke ponselnya.

Kim Ryeowook, saranghae.

Jantung Ryeowook seakan berhenti berdetak membaca pesan itu. Kali ini, rasa sakit yang ia pertahankan menang melawan kehangatan dari Kyuhyun dan mendominasi hatinya. Ryeowook menggigit bibirnya yang bergetar dan—entah kenapa—mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke sosok tertidur Kyuhyun. Air mata yang ia bendung sejak matanya membaca pesan tersebut menetes saat ia melihat wajah tertidur Kyuhyun. Ia terlihat begitu tenang, seakan tak ada beban. Jika sebelumnya ia menangis karena rasa sakit di hatinya, kini Ryeowook tidak mengerti lagi kenapa ia menangis. Apakah karena ia menyadari bahwa ia adalah beban bagi Kyuhyun? Sudah lama Ryeowook tidak melihat ekspresi setenang itu di wajah Kyuhyun saat terjaga—bahkan bisa dibilang tidak pernah.

Dengan tangan bergetar, ia kembalikan ponsel itu ke tempat semula. Tampaknya Ryeowook harus membuat ulang rencananya hari ini—ia berencana sarapan berdua dengan Kyuhyun, lalu mengajak namja itu kencan untuk mengganti kencan mereka sebelumnya. Namja mungil itu menghela napas berat dan mengusap air matanya. Dengan lembut, ia mendekati Kyuhyun dan bermain dengan rambut cokelatnya. Ia mengecup kecil bibir Kyuhyun, sebelum senyum getir terbentuk di wajahnya. Ryeowook segera bangun dari posisinya dan mengenakan jaketnya. Sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah catatan kecil di meja nakas.

Saat ia melangkahkan kakinya keluar gedung, Ryeowook dapat merasakan dinginnya angin pagi membelai wajahnya.

Aku pergi sebentar, jangan cari aku.


Kyuhyun meremas kertas kecil itu. Ekspresi khawatir dikombinasikan perasaan kesal mendominasi wajahnya. Hari ini adalah hari Minggu, hari dimana Cho Kyuhyun terbebas dari tumpukan pekerjaan yang seakan menghantuinya. Hari dimana ia bisa menghabiskan seluruh waktunya untuk menghujani Ryeowook dengan cintanya. Namun semua itu berubah saat ia tidak berhasil menemukan namja mungil itu di setiap sudut apartemen.

Pagi itu Kyuhyun terbangun dengan segar—tak ada bunyi mengganggu dari ponsel Ryeowook, yang membuatnya sedikit heran. Ia tidak melihat sosok Ryeowook di tempat tidur—bukan hal yang baru. Ia baru menyadari bahwa dirinya hanya seorang diri di apartemen saat melihat sarapannya di meja sudah dingin dan tak ada suara air terdengar dari kamar mandi. Kyuhyun langsung uring-uringan mencari Ryeowook di seluruh sudut apartemen, namun yang ia temukan hanyalah secarik kertas berisi pesan di meja nakas.

Namja tampan itu mengacak rambutnya dan memakan sarapannya dengan setengah hati. Perutnya sudah merengek minta diisi, namun hatinya sedang tidak dalam kondisi yang terbaik. Namun Kyuhyun tidak mau menyia-nyiakan makanan, apalagi yang disiapkan oleh Ryeowook. Meski merasa khawatir, Kyuhyun menuruti ucapan Ryeowook. Ia tidak akan mencari namja mungil itu, ia akan memberikan waktu sendiri untuknya. Mungkin perlu diulang—Cho Kyuhyun bukanlah orang yang bisa menurut begitu saja, namun ia bisa berubah 180 derajat jika berhadapan dengan Kim Ryeowook.

Namun Ryeowook hanya memintanya untuk tidak mencarinya, kan? Ryeowook tidak melarangnya untuk memantau keadaannya bukan?

Sambil tersenyum kecil pada kejeniusannya, Kyuhyun mengambil ponselnya. Ia cari seseorang yang handal dalam hal tersebut, senyumnya merekah saat ia berhasil menemukan kontak orang yang bersangkutan.

"Yeoboseyo, Taemin ah? Aku ingin kamu membantuku."


Ryeowook menatap pemandangan di luarnya. Kini ia sedang duduk di bus—entah sudah berapa lama. Ia tidak tahu kemana tujuan bus yang ia tumpangi—ia bahkan tidak tahu kemana dirinya ingin pergi. Ryeowook hanya menatap pemandangan di luarnya kosong. Ia bahkan tidak peduli saat pemandangan laut menyapa dirinya—menandakan bahwa ia sudah pergi begitu jauh dari tempat tinggalnya. Setelah membaca pesan tadi, pikiran Ryeowook berantakan seperti kapal pecah. Ia membutuhkan waktu sendiri, karena itu ia meninggalkan pesan singkat pada Kyuhyun untuk tidak mencarinya. Ryeowook bahkan tidak membawa ponselnya. Saat kondektur bus mengatakan bahwa mereka telah sampai pada pemberhentian terakhir, Ryeowook melangkah keluar bus dengan langkah berat.

Dapat ia rasakan hembusan angin laut menyapa tubuh mungilnya. Senyum kecil terbentuk di wajahnya. Mungkin bermain di pantai pada musim gugur bukan ide buruk. Ia ingin membersihkan pikirannya, dan kondisi itu tidak terlalu ekstrim—paling tidak menurutnya. Dengan langkah ringan, Ryeowook berlari ke arah laut. Sepatunya ia lepaskan dan ia lemparkan ke sembarang tempat—ia tidak membutuhkan alas kaki jika ingin bermain dengan air laut. Tidak dipedulikannya tatapan aneh orang-orang yang melintas. Ryeowook ingin bersenang-senang, ingin melupakan semuanya untuk sementara. Ia ingin lari—lagi—dari kenyataan. Kenapa harus peduli dengan penilaian orang lain?

Tanpa Ryeowook ketahui, seseorang tengah memantaunya dari jauh. Orang itu memantau setiap gerak-gerik Ryeowook, dan melapor setiap kegiatan yang Ryeowook lakukan pada yang memerintahnya melalui ponselnya. Dapat ia dengar perasaan lega orang di seberang sana saat ia beritahu bahwa Ryeowook baik-baik saja dan sedang menikmati kesendiriannya dengan bermain di pantai. Dari sudut pandangnya, dapat ia rasakan perhatian yang begitu dalam dari client nya pada Ryeowook. Namun ia tidak mau membaca terlalu jauh. Tugasnya hanyalah memantau Ryeowook.


Waktu berlalu begitu cepat. Jam makan siang telah lama lewat, namun entah kenapa Ryeowook tidak merasa lapar. Entah berapa jam lamanya ia bermain dengan air laut hingga jari-jari kakinya keriput. Kini Ryeowook tengah duduk di pasir dan menatap ombak yang bergulung-gulung. Meski matanya tertanam pada lautan luas di hadapannya, sesungguhnya pikirannya melayang entah kemana. Satu detik pikirannya memutar ulang kenangan dengan dia, namun detik yang lain pikirannya terpusat pada Kyuhyun. Dia dan Kyuhyun seakan-akan bertarung memperebutkan kuasa atas pikiran Ryeowook. Bukan hanya pikirannya, di hatinya juga terasa ada perang antara kehangatan dari Kyuhyun dengan rasa sakit yang ia pertahankan dalam enam tahun. Siapakah yang akan menang? Ryeowook juga tidak tahu.

"Hei."

Ryeowook mengangkat kepalanya dan menatap namja manis di hadapannya dengan tatapan bingung bercampur curiga. Siapa dia? Apakah dia salah satu pekerjanya? Tapi—bagaimana mungkin dia tahu Ryeowook ada dimana? Bahkan ia yakin Kyuhyun tidak tahu posisinya—walau sebenarnya itu salah. Dengan kaku, Ryeowook membalas senyum yang diberikan namja itu.

Namja itu tidak berkata apa-apa lagi, dan duduk di samping Ryeowook. Ia tidak melirik Ryeowook atau sejenisnya, matanya tertuju pada lautan luas di hadapan mereka. Ryeowook masih terus menatap namja asing itu selama beberapa detik, sebelum mengikutinya dan menatap lautan luas. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Suasana begitu hening, hanya terdengar bunyi ombak yang mendekati mereka bergantian. Namun suasana hening itu pecah saat perut Ryeowook merengek minta diisi.

"Ah…"

Ryeowook pikir namja di sampingnya akan menertawakannya, atau menatapnya jijik, atau diam saja. Ia tidak menyangkan namja itu akan menepuk pundaknya dan tersenyum padanya. Senyumnya bukan senyum jahil atau senyum mengejek—Ryeowook dapat melihat ketulusan pada senyum itu.

"Pulanglah. Ada orang yang menunggumu di rumah."

Mendengar ucapannya, pikiran Ryeowook langsung tertuju pada sebuah nama. Kyuhyun. Ryeowook tidak sadar sebuah senyum hangat menghias wajahnya. Yang ia rasakan hanyalah kehangatan yang mulai memenangkan hatinya. Tanpa berpikir dua kali, Ryeowook segera berpamitan dengan namja asing itu dan melangkah menuju halte bus. Namja manis itu menatap punggung Ryeowook, lalu segera mengontak clientnya. Senyum kecil terbentuk di wajahnya saat ia mendengar respon dari clientnya.

"Sudah lama aku mengenal Kyuhyun hyung, namun baru kali ini aku melihatnya benar-benar mencintai seseorang."


Kyuhyun segera berlari keluar dari apartemennye menuju halte bus terdekat. Dengan napas terengah-engah, Kyuhyun berhasil mencapai halte bus sejauh dua blok dari apartemennya. Kegiatan yang berhubungan dengan fisik memang bukan keahlian Kyuhyun—namun tidak masalah. Ini semua demi Ryeowook, jika ia harus berlari sejauh tiga puluh kilometer sekalipun akan ia lakukan. Kyuhyun menatap jam tangannya dan sedikit menggerutu—sudah sepuluh jam lamanya ia tidak bertemu dan berkontak dengan Ryeowook. Hal itu membunuhnya perlahan.

Saat Ryeowook melangkah keluar dari bus, seluruh perasaan negatif yang Kyuhyun rasakan menghilang. Ia segera berlari untuk memeluk namja mungil itu—yang direspon dengan teriakan kecil.

"Kyuhyun ah…"

"Mianhae."

Kyuhyun membenamkan wajahnya di bahu Ryeowook sambil menahan bendungan air mata yang siap menetes beberapa detik yang akan datang. Cho Kyuhyun bukanlah orang yang cengeng maupun sentimental, namun Kim Ryeowook selalu berhasil membuat Cho Kyuhyun keluar dari karakternya. Saat tangan Ryeowook mengelus punggungnya, air mata Kyuhyun tidak dapat ditahan lagi. Ia mengeratkan pelukannya dan terdengar isakan kecil dari bibirnya.

Ryeowook mengelus punggung Kyuhyun khawatir. Tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya bukanlah fokus utamanya—Kyuhyun yang menangis sambil memeluknya erat adalah fokus utamanya. Baru kali ini ia melihat sisi lemah Kyuhyun. Namun ia masih tidak mengerti kenapa Kyuhyun meminta maaf padanya—ia bahkan baru bertemu namja itu detik ini di hari ini. Bukankah seharusnya ia yang meminta maaf karena meninggalkan Kyuhyun—karena ia begitu lemah dan tidak siap menghadapi kenyataan?

"Mianhae, Kyuhyun ah…"

Mereka terus berada dalam posisi itu untuk beberapa menit. Tak ada kata terucap dari mulut mereka—hingga perut Ryeowook kembali merengek untuk diisi. Ryeowook mengalihkan pandangannya—merasa malu—dan beberapa detik kemudian, ia mendengar tawa Kyuhyun. Dengan kesal, ia melepas pelukan Kyuhyun dan mengirimnya tatapan sebal. Tentu saja ia tidak benar-benar kesal—Kyuhyun yang normal lebih baik daripada Kyuhyun yang menangis. Ryeowook benci orang yang menangis—apalagi jika orang itu menangis karena dirinya. Dan—entah kenapa—jika Kyuhyun yang menangis, hatinya terasa lebih sakit. Lebih sakit daripada perasaan sakit saat berpisah dengan dia.

"Ayo kita makan. Aku juga belum makan siang."

"Aku belum makan dari pagi."

"Ya! Kim Ryeowook, apa kamu tidak lelah membuatku khawatir?"

Keduanya memulai perdebatan tidak penting sambil berjalan bergandengan kembali ke rumah.

To be continued


Seharusnya aku belum mem-posting chapter ini karena aku belum mengetik chapter 11, tapi sudahlah. Aku tidak mau membuat kalian menunggu terlalu lama, karena aku tahu rasanya menunggu suatu fanfiksi untuk update. Berdoa saja otakku mau kembali pada mood untuk mengetik chapter selanjutnya :"

~I guess I'm going to stuck in writing oneshot~

Tbh, aku berpikir untuk pindah ke aff. Tapi aku ingat bahasaku (Inggris dan Indonesia) sangat ecek-ecek, jadi yasudahlah /Someone help meeeh/

Makasih banyak untuk yang sudah meninggalkan jejak di chapter terakhir Alexiandra Hyoya | Kim HyeNi | CLovKavg | Hanazawa Kay | Bee coco | choi yewon11

Aku harap chapter ini tidak mengecewakan kalian *bow*