We met for ten years

However we still separated

Now I have become pitiful

It's time to erase you and all the memories, right?


Trapped

Pairing : KyuWook

Rate : T

Disclaimer : Saya hanya meminjam nama tokoh. Hanya cerita ini yang dapat saya akui sebagai milik saya.

Genre : Drama / Romance

Warning : AU, OOC, OC, Shounen-ai, Typo (s), bahasa menyimpang dari EYD, dan lain lain


Ryeowook menyandarkan kepalanya pada dada Kyuhyun. Dapat ia dengar detak jantung Kyuhyun yang lebih cepat daripada normal. Namun bunyi itu membuat perasaannya tenang—perasaan Kyuhyun padanya masih belum luntur. Dapat ia rasakan jantungnya berdebar, detakannya kini mengikuti kecepatan Kyuhyun. Tangannya ia letakkan di atas lengan Kyuhyun yang melingkar erat di pinggangnya. Semua perasaan gelisah dan takut—karena dia, karena perasaannya yang tidak jelas—menghilang. Ryeowook merasa nyaman berada dalam pelukan erat Kyuhyun.

"Kyuhyun ah…"

"Ne."

"Apa aku tidak berat?"

"Ani."

"Hmm…"

Ryeowook sedikit mengubah posisinya dalam pangkuan Kyuhyun. Ia berbalik agar dapat bertatapan dengan bosnya. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Kyuhyun. Kini tangannya juga melingkar di tubuh Kyuhyun. Ia memeluk namja itu erat.

Sejak keduanya menginjakkan kaki di apartemen, Kyuhyun tidak mau melepaskan Ryeowook barang satu detikpun. Dia tidak mengizinkan Ryeowook untuk memasak—walau yang lebih mungil sudah merengek—dan memilih untuk memesan makanan di restoran langganannya. Kyuhyun bahkan tidak membiarkan Ryeowook memakan makanannya sendiri—ia memaksa Ryeowook untuk menerima suapannya, membuat namja itu malu setengah mati. Hampir saja Kyuhyun mengikut saat Ryeowook ke kamar mandi jika namja mungil itu tidak mengancamnya. Namun saat Ryeowook kembali dari kamar mandi, Kyuhyun kembali menempel pada Ryeowoook.

Kini keduanya sedang menikmati waktu berdua dengan Kyuhyun duduk di sofa dan Ryeowook di pangkuannya. Tak ada kata yang terucap dari keduanya—namun mereka menikmati keheningan ini. Sesekali Ryeowook menggambar lingkaran di dada Kyuhyun. Terkadang Kyuhyun mengecup puncak kepala Ryeowook. Keduanya terus bertahan pada posisi tersebut hingga Ryeowook menguap, menandakan tubuhnya menyerah dan membutuhkan istirahat. Dengan senyum kecil menghias wajahnya, Kyuhyun mengecup puncak kepala Ryeowook dan menggendong tubuh mungilnya ke kamar mereka. Dengan gerakan paling lembut, Kyuhyun membaringkan tubuh Ryeowook dan menyelimutinya. Ia memberikan ciuman selamat malam di dahi Ryeowook.

"Jaljayo. Semoga mimpi indah."

Setelah memastikan Ryeowook sudah benar-benar tertidur, Kyuhyun mematikan lampu kamar. Ia melangkah keluar kamar dan mengeluarkan ponselnya. Dengan wajah datar, Kyuhyun mencari kontak seseorang dan segera menelponnya. Ia mendekatkan posel itu ke telinganya, dan ia menunggu orang di seberang sana membalasnya dengan tidak sabar. Satu kakinya mengetuk lantai dengan tidak sabar, hingga terdengar jawaban dari seberang.

[Yeoboseyo? Kyuhyun ah, kenapa menelpon malam-malam begini?]

"Yeoboseyo, Sungmin hyung. Aku tidak akan basa-basi. Beritahu aku kemana Ryeowook dan dia pergi kencan di hari Minggu."

[Kamu menelponku hampir tengah malam begini hanya untuk bertanya itu? Tidak bisakah kamu menunggu sampai besok?]

"Jawab pertanyaanku, hyung."

[Dasar tidak sabar. Tapi…bukannya kamu baru kencan dengan Ryeowook ah hari Rabu kemarin? Apakah kencan kedua ini tidak terlalu terburu-buru? Bukankah kamu yang bilang mau pelan-pelan saja?]

"Kencan pertama kami gagal, hyung—tidak benar-benar gagal, tapi tetap saja tidak berakhir mulus. Aku ingin menghapus kenangan buruk dalam ingatan Ryeowook tentang kencan kami."

[Gagal? Apa maksudmu, Kyuhyun ah?]

"Aku tidak tahu apakah dewi keberuntungan membenciku, tapi tiba-tiba dia muncul. Tadinya aku dan Ryeowook berencana untuk makan malam di restoran langganan kalian, tapi tiba-tiba dia muncul. Hyung tahu sendiri bagaimana Ryeowook bereaksi terhadap dia."

[Aneh—dia tidak suka makan di restoran seperti itu. Kenapa dia bisa ada—]

"Sudahlah, tidak penting kenapa dia bisa ada di sana. Sekarang jawab pertanyaanku, hyung. Aku bukan orang yang sabar."

[Ck, kamu benar-benar hanya manis di depan Ryeowook. Baiklah, pada hari Minggu mereka kencan di—]

Setelah mendapatkan jawaban dari Sungmin, Kyuhyun langsung memutus sambungan telpon mereka. Ia segera menghapus kontak Sungmin dari call history. Hanya untuk jaga-jaga jika suatu saat nanti Ryeowook melihat-lihat isi ponselnya.

Ryeowok tidak perlu tahu kenyataan bahwa Kyuhyun mengetahui masa lalunya dari Sungmin. Kyuhyun dan Sungmin hanya perlu berpura-pura bodoh hingga Ryeowook memutuskan untuk menceritakan masa lalunya pada Kyuhyun. Dan sebentar lagi, mungkin Kyuhyun dapat mencapai tujuannya. Mungkin, karena tak seorangpun dapat melihat masa depan yang menanti.


Pagi hari telah tiba. Hari baru di minggu yang juga baru telah datang. Seorang namja tampan tampak sedang menikmati kopi paginya ketika gadis kecil berlari ke arahnya. Namja itu tersenyum lembut pada putri kecilnya dan segera menariknya dalam pangkuan. Gadis kecil itu tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya pada dada appanya. Appanya meletakkan kepalanya di puncak kepala gadis kecil itu, sambil sesekali memberi kecupan.

"Appa?"

"Mwoya, Ryoko ah?"

Ryoko berdiri di pangkuan appanya dan menjulurkan lengan kecilnya. Tangan kecilnya mencoba meraih sebuah foto yang selalu menghias meja kerja appanya. Sambil tertawa kecil, namja itu membantu putrinya mengambil foto itu. Ryoko mencengkeram erat foto itu namun berusaha hati-hati—takut foto yang sangat disayangi appanya itu rusak di tangannya. Tangan kecilnya mengelus sosok appanya yang ada di foto. Dalam foto itu, ia masih terlihat muda—mungkin kurang dari dua puluh tahun. Di sampingnya, berdiri seseorang yang asing bagi Ryoko.

"Nugu appa?"

Namja itu tertawa kecil mendengar pertanyaan anaknya yang penuh kepolosan. Tanpa susah payah, namja itu mengubah posisi Ryoko. Ia tempelkan dahi mereka dan ia kecup ujung hidung putrinya. Lalu pandangannya berpindah ke foto itu. Senyum lembut dan tulus menghias wajahnya—membuat putrinya memiringkan kepalanya sebelah, karena baru kali ini ia melihat appanya tersenyum seperti itu. Namun senyum itu tidak menutupi perasaan sedih yang mendominasi tatapannya. Ryoko menyentuh pipi appanya untuk mengalihkan perhatiannya, lalu mengecup kecil appanya di bibir. Namja itu tersenyum kecil dengan kelakuan manis anaknya.

"Dia teman lama appa."

"Hee? Eonnie neomu yeppo, appa!"

"Bukan, Ryoko ah. Dia bukan perempuan. Panggil dia oppa—atau ahjusshi, karena dia teman appa."

"Kenapa Ryoko tidak pernah bertemu ahjusshi?"

Manik besar Ryoko mengerjap lucu. Appanya tersenyum sedih dan mengecup dahi putrinya. Dia kembalikan foto itu pada tempat asalnya. Ia eratkan pelukannya dan dengan suara bergetar karena menahan tangis, ia berkata. "Ahjusshi benci appa, Ryoko ah. Appa telah berbuat jahat pada ahjusshi."

Ryoko mengalungkan lengan kecil di leher appanya. Berkali-kali ia memberi kecupan manis di wajah appanya. Dengan wajah serius, ia menghapus air mata yang entah sejak kapan menetes.

"Jangan khawatir appa, Ryoko tidak akan benci appa."

Senyum manis terbentuk di wajah namja itu. Bagaimana mungkin ia tidak tersenyum merasakan kasih sayang tulus yang diberikan putrinya yang berusia empat tahun itu? Tapi sayang, tampaknya ia terlalu buta untuk merasakan kasih sayang yang diberikan istrinya. Yang kini menangis sedih di luar ruangan, menyadari bahwa suaminya tak pernah sekalipun melirik ke arahnya.


Ryeowook terbangun dari tidurnya dengan senyum manis menghias wajahnya. Dapat ia rasakan lengan Kyuhyun melingkar di pinggangnya dan dapat ia rasakan namja itu membenamkan wajahnya pada punggung Ryeowook. Dengan perlahan—mencoba untuk tidak membangunkan namja tampan itu—Ryeowook berbalik. Ia tersenyum lembut melihat wajah tertidur Kyuhyun.

Kyuhyun memang tampan. Ini bukan kali pertama Ryeowook menyadarinya namun—namja itu memang benar-benar tampan. Rambut cokelatnya berantakan dan sedikit menutupi dahinya. Matanya terpejam, tak ada kerutan di antara kedua alisnya. Kulitnya begitu putih—bahkan lebih putih dari Ryeowook—hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang sedikit terbuka. Pipinya tidak terlalu chubby atau tirus. Sempurna—Cho Kyuhyun benar-benar sempurna. Ah, kapankah Ryeowook terakhir menganggap orang lain sempurna—selain dia? Apakah kini Kyuhyun mulai menggantikan dia?

Tangan Ryeowook bermain-main dengan rambut Kyuhyun. Matanya masih terfokus pada wajah tampan Kyuhyun. Ia tak bisa mendengar bunyi selain napas teratur yang Kyuhyun hembuskan. Ryeowook bisa merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ah, kembali Ryeowook bertanya pada dirinya—kapankah terakhir kali ia merasa seperti ini? Mungkin enam tahun lalu—atau sepuluh tahun lalu, masa dimana ia baru menjalin hubungan dengan dia.

Ryeowook menepis pikirannya dan tangannya bergerak turun menuju wajah Kyuhyun. Ujung jarinya menelusuri wajah Kyuhyun, tanpa melupakan satu tempatpun—seakan-akan ingin menanam ingatan kesempurnaan wajah tersebut. Ryeowook mengecup dahi Kyuhyun dan melepas pelukan Kyuhyun di pinggangnya. Terdengar suara protes kecil dari namja yang masih tertidur itu, namun ia tidak terbangun. Ia melanjutkan perjalanannya di alam mimpi.

Ryeowook melangkah masuk ke kamar mandi dan berhenti di depan cermin untuk menatap pantulan dirinya. Kini ia melihat dirinya dari masa lalu dalam pantulan cermin. Dirinya yang masih ceria, masih penuh tawa, masih bersama dengan dia. Saat bayangan dia muncul dari belakang, Ryeowook menahan napasnya. Ia melihat dirinya di masa lalu dalam pelukan hangat dia. Mereka terlihat begitu bahagia dalam dunia mereka sendiri. Namja mungil itu berpikir—mungkin yang ia lihat bukanlah pantulan dirinya di cermin, maupun masa lalunya. Mungkin yang ia lihat adalah masa depan yang selalu ia harapkan, masa depan yang merupakan idealnya.

Ryeowook tidak menangis. Ia juga tidak bermonolog ria. Ia hanya menahan napasnya di depan cermin hingga dadanya terasa sesak. Kenapa—kenapa sulit baginya untuk bergerak? Kenapa ia tidak bisa berjalan menuju masa depan dan meninggalkan masa lalunya? Kenapa—apakah karena perasaan yang disebut cinta ini? Tapi bukankah banyak orang yang mengalami hal yang jauh lebih buruk namun tetap hidup dan bergerak menuju masa depan? Banyak orang yang harus kehilangan sosok terkasihnya dalam keadaan lebih tragis darinya—pergi dari dunia ini, misalnya. Tapi kenapa Ryeowook masih tidak bisa bergerak setelah enam tahun berlalu? Selemah itukah dirinya? Sedalam itukah pengaruh dia dalam hidup Ryeowook?

Perlahan, bayang-bayang yang menurutnya manis dan menakutkan itu berubah kembali menjadi dirinya. Ia kembali melihat pantulan dirinya dalam cermin. Jika dibandingkan dengan dirinya di masa lalu—ia benar-benar tampak menyedihkan. Ryeowook tersenyum getir dan mengusap air mata yang hampir menetes dari sudut matanya. Mungkin Kyuhyun berhasil menyelinap masuk ke dalam hatinya dan mengambil suatu tempat kecil. Namun tetap saja namja itu belum berhasil mengalahkan dominasi dia di sana.

"Seandainya perasaanku dapat berubah menjadi benci, tentu semuanya akan lebih mudah."


Kyuhyun membuka matanya saat mendengar getaran yang familiar. Dia mendesah kesal dan bangun setengah hati. Mengingat ponsel itu tidak membuat getaran menyebalkan pada hari sebelumnya, Kyuhyun sedikit berharap hal yang sama akan terulang hari ini. Namun tampaknya ia salah. Setelah benar-benar terbangun, Kyuhyun turun dari tempat tidurnya dan melangkah malas menuju kamar mandi. Dia tidak menghabiskan waktunya dengan mencarai Ryeowook—ia tahu asistennya pasti sudah berangkat ke kantor.

Seusai mandi, namja tampan itu tidak langsung keluar dari kamar mandi. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin, dan baru melangkah keluar setelah dirasa penampilannya sudah sempurna. Kyuhyun melangkah menuju dapur dan melihat sarapan untuknya telah siap di atas meja makan. Ia segera menghabiskan sarapannya dan bersiap berangkat ke kantor, ketika tiba-tiba ponsel berpelindung ungu itu bergetar lagi, namun hanya sekali. Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya bingung—baru kali ini ponsel itu menerima dua kontak sekaligus. Rasa penasaran yang Kyuhyun rasakan lebih besar daripada penghormatan terhadap privasi Ryeowook, hingga ia memutuskan untuk membuka pesan tersebut.

Ryeowook ah, saranghae. Jeongmal saranghae. Bogosipeo, chagiya.

Hampir saja Kyuhyun membanting ponsel itu agar hancur berkeping-keping. Namun ia tahan amarahnya, dan dengan segera ia hapus pesan tersebut dengan tatapan penuh kebencian. Kyuhyun sudah memutuskan bahwa ia membenci dia, meski mereka tidak pernah bertemu. Jika Kyuhyun tidak mengetahui kenyataan bahwa dia sudah memiliki keluarga namun masih mengejar Ryeowook, mungkin ia tidak akan membencinya. Namun ia mengetahui kenyataan itu—karena berkaitan dengan Ryeowook—sehingga ia memutuskan tak ada yang salah dengan rasa benci yang tumbuh di dalam dirinya.

Kyuhyun membaca pesan yang masuk pada hari sebelumnya. Ia mendecak kesal menyadari bahwa pesan yang tertera di ponsel tersebut adalah penyebab Ryeowook pergi kemarin. Dalam hatinya, ia mengutuk dia dan Ryeowook. Kenapa mereka harus memberi pengaruh begitu dalam pada yang lain? Ya, Kyuhyun tahu dia masih mencintai Ryeowook dan sebaliknya. Ia juga tahu perpisahan mereka adalah sesuatu yang dipaksakan—perpisahan yang tidak diinginkan oleh dia maupun Ryeowook. Namun ia tidak peduli dengan dia, karena namja tampan itu hanya ingin mengganti eksistensi dia di hati Ryeowook dengan eksistensinya. Kyuhyun benar-benar mencintai Ryeowook dan berharap perasaannya dibalas. Apakah itu salah?

Menepis amarahnya jauh-jauh, Kyuhyun mengatur agar pesan yang masuk ke dalam ponsel itu terkirim juga ke dalam ponselnya. Ia mengembalikan ponsel itu ke tempat semula dan berangkat menuju kantornya. Dalam mobil, ia segera mengetik dan mengirim sebuah pesan ke ponsel Sungmin.


Sungmin berhenti mengetik ceritanya saat ponsel dalam kantung celananya bergetar. Dengan setengah kesal karena pekerjaannya terganggu—sebagai novelis yang baru saja memaksakan sebuah ide untuk bukunya yang baru karena ia tidak memiliki inspirasi, ponsel yang bergetar dapat mengganggu konsentrasinya dan membuyarkan pikirannya—ia membuka pesan itu. Ia langsung menggerutu melihat siapa yang mengiriminya pesan di saat tidak tepat itu. Cho Kyuhyun.

Hyung tidak berbohong saat mengatakan Henry Lau sebagai pianis favorit Ryeowook, kan? Karena kalau hyung berbohong dan Ryeowook tidak menikmati kencan kita, aku tidak akan menjamin keselamatan hyung.

Sungmin menghela napas berat menyadari ancaman dari Kyuhyun. Dengan kesal, ia hapus semua hal yang berhasil ia ketik. Ia memang kesal pada Kyuhyun, namun ia tidak berani menyuarakan kekesalannya. Cho Kyuhyun adalah namja yang menakutkan. Ia tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Ancaman yang ia lontarkan tidak pernah kosong. Sungmin memijat pelipisnya—mendadak kepalanya terasa pusing. Ia meminum secangkir teh yang ada di mejanya dan menatap sebuah foto yang selalu menghias mejanya. Fotonya dengan sahabatnya di masa lalu, di masa saat mereka bisa tersenyum lebar tanpa memikirkan masalah dunia.

"Kyuhyun memang menakutkan, tapi aku percaya dia bisa mengembalikan senyumanmu. Mianhae Ryeowook ah, aku tahu aku mengkhianati kepercayaanmu. Aku hanya ingin mengembalikanmu, sekalipun aku harus mempertaruhkan kepercayaanmu. Jeongmal mianhae."

To be continued


EVERYBODY I'M BACK

Ada yang kangen? Nggak ya? Ya sudahlah~

Jadi akhirnya datang juga ide untuk fanfiksi ini, TAPI KENAPA MALAH MENYIMPANG JAUH DARI IDE AWAL AAAHHH! Maafkan aku *bow*

Aku tidak bisa membayangkan seperti apa fanfiksi ini akan berakhir, karena terlalu banyak penyimpangan (?) dari ide awal, tapi tenanglah, tidak akan ada death chara di sini...mungkin.

Kabar baik, aku sudah memutuskan siapa yang menjadi dia. Jangan bertanya dulu, tunggu saja di chapter depan~

Makasih banyak untuk aidapinky | Bee Coco | elferani | hanazawa kay | chataryna | eryeoziie | choi yewon11

Aku harap chapter kali ini tidak terlalu mengecewakan *bow*