Disclaimer: Uta no Prince sama bukan milik Riren. You and I is my original story.
Rate: T
Pair : Jinguji Ren & Hijirikawa Masato
Genre : Romance, hurt/comfort, and friendship.
Warning: typo, gak sesuai dengan EYD, shonen ai romance, and many more.
.
.
.
.
You and I
RIREN18
.
.
.
.
"Onii chan mau kah kau berjanji akan kembali menemuiku lagi?"
"Aku tidak tahu. Aku tak bisa berjanji padamu."
"Kenapa?apa kau membenciku onii chan?"
"Tidak. Aku tidak membencimu. "Hanya saja aku tidak tahu apa kita bisa bertemu lagi."
Anak kecil yang memanggil Onii chan itu pun mulai menangis. Setetes air mata jatuh di pipinya putih dan sedikit tembab itu. Lalu sang Onii chan pun memeluk anak itu lalu berkata
"Jangan menangis. Aku hanya pergi sebentar. Aku yakin kita pasti bertemu lagi saat dewasa nanti."
"Ta...tapi... hiks...aku...hiks..tidak mau... Onii chan ... pergi...hiks."
"Dengarkan Onii chan. Sejauh apapun kita terpisah tetapi hatimu dengan hatiku akan selalu terhubung dan takdir akan mempertemukan kita kembali. Jadi jangan bersedih lagi, ya."
"Baiklah... aku tidak akan menangis lagi, Onii chan."
"Anak pintar. Aku..."
.
.
.
.
KRINGGGG
.
.
.
.
Suara alarm berbunyi nyaring mengisi ruang yang masih sunyi. Kedua kelopak mata terbuka, menampilkan sepasang bola mata berwarna biru kehijauan yang terbelalak. Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sama seperti sebelumnya. Sekilas ingatan yang terasa asing sekaligus terasa familiar.
"Masato? Kau sudah bangun?"
Merasa di panggil Masato menoleh ke sumber suara. Ranmaru, senior yang satu kamar dengannya dan Ren.
"Ya.. aku sudah bangun, Kurosaki san."
"Wajahmu terlihat agak pucat. Apa kau sakit?"
"Aku baik-baik saja."
"Baguslah kalau begitu. Kau libur hari ini?"
"Ya... hari ini libur. Bagaimana denganmu, Kurosaki san?"
"Aku ada interview bersama yang lain sore nanti."
"Souka."
"Oh, ya, mulai lusa aku dan yang lain akan tur keliling Jepang selama 1 tahun. Bagaimana dengan mu dan yang lain?"
"Soal itu belum ada kabarnya lagi dari pihak agensi."
"Begitu, ya."
"Ya."
"Masato, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Soal apa?"
"Apa hubunganmu dengan Ren?"
"Hanya teman dan rekan kerja."
"Apa kalian sudah berteman sejak kecil?"
"Kami pernah bertemu waktu kecil ketika usia kami baru 10 tahun. Kami bertemu hanya di pesta saja."
Seketika Masato merasa sedikit sakit pada kepalanya. Masato segera memegang kepalanya. Ranmaru pun sedikit terkejut dan khawatir dengan Masato yang terlihata agak kesakitan.
"Masato? Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa, Kurosaki san. Hanya sedikit merasa pusing."
"Perlu obat?"
"Ku rasa tidak perlu. Mungkin ini karena efek kelelahan dan asupan makanan ku yang tidak teratur."
"Baiklah. Tapi, kalau ada apa-apa, segera minta tolong padaku atau Ren atau yang lainnya, ok?"
"Ya. Terima kasih."
Masato pun bangun dari futonnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
.
.
.
.
Pintu kamar pun terbuka menampilkan seorang pemuda bersurai oranye. Wajahnya basah oleh keringat sehabis jogging. Nafasnya pun masih belum teratur dan tampak agak lelah wajahnya.
"Habis jogging, heh?"
"Ya, seperti yang kau lihat. Hijirikawa mana?"
"Mandi."
"Begitu ya. Oh, ya, Ran chan apa kau mendengar sesuatu saat malam hari?"
"Mendengar apa?"
"Igauan Hijirikawa. Yang memanggil Onii chan...Onii chan terus menerus selama beberapa hari ini. Masa kau tak mendengarnya?"
"Aku tidak mendengarnya. Sungguh. Memangnya Masato memiliki kakak laki-laki?"
"Tidak. Setahuku Hijirikawa hanya memiliki seorang adik perempuan."
"Lalu siapa yang di panggil Onii chan olehnya?"
"Entahlah. Mungkin orang lain."
"Ya, mungkin saja."
"Ran chan buatkan aku sarapan. Aku lapar."
"Buat saja sendiri. Kau kan bisa masak juga."
"Tapi, aku ingin omerice buatan Ran chan."
"Cih... menjijikan. Buat saja sendiri sana."
"Uh... Ran chan pelit. Yasudah, aku mau buat sendiri saja. Padahal tadi aku ingin mentraktirmu di restoran Steak yang dekat Tokyo Tower itu."
"Baiklah. Aku akan membuatkannya untukmu dan Masato. Tapi, aku tagih janjimu tadi."
Ranmaru langsung keluar tanpa memberi kesempatan pada Ren untuk kembali berbicara. Kini Ren tiduran di sofa, menunggu Masato selesai mandi sambil memejamkan mata.
.
.
.
.
"Jinguji... Jinguji..."
Tak ada respon. Ren menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Lalu dia mengigaukan sesuatu...
"Maafkan aku. Ku mohon jangan pergi."
Sebuah tepukan lembut dari Masato pada pipi sukses membuat Ren membuka matanya. Keringat mulai mengalir deras. Ekspresi kaget pun mendominasi wajah Ren sekarang. Tangan Masato pun di pegang erat sekali. Masato meringis sedikit karena tangannya terlalu di genggam erat oleh Ren.
"Jinguji, bisakah kau lepaskan tanganku?"
"Maaf..."
Segera Ren melepaskan tangan Masato yang kini terlihat memerah bertanda genggamannya barusan. Suasana hening dan agak canggung pun melanda keduanya.
"Kau tidak apa-apa, Jinguji?"
"Aku tidak apa-apa. Hanya mimpi."
"Begitu ya. Mana Kurosaki san?"
"Ran chan sedang membuat sarapan untukku, kau, dan diri sendirinya."
"Dasar kau ini. Jangan merepotkan orang lain dan dia adalah senior kita. Bersikap sopanlah padanya."
"Benar apa kata Masato. Sekali-sekali bersikaplah seperti Masato, Ren."
Ranmaru membawa sebuah troli makanan yang berisi makanan dan minuman mereka untuk sarapan. 3 piring omerice dan 1 teko ukuran sedang berisi orange juice.
"Aku dan Hijirikawa adalah orang yang berbeda dan berbeda pula sikap dan sifat kami. Tak mungkin sama."
"Terserah kau saja. Lebih baik kita makan sekarang. Perutku sudah lapar."
Ranmaru, Ren, dan Masato menikmati sarapan mereka dengan tenang. Perlahan dan tanpa di sadari waktu pun kembali ke masa lalu...
.
.
.
.
.
.
Tanpa terasa sang surya sudah hampir kembali ke peraduannya. Langit biru pun berubah menjadi jingga ketika malam datang menjelang. Ren dan Masato pun sibuk dengan hal yang mereka lakukan masing-masing. Masato sibuk duduk bersimpuh sambil menulis sesuatu di atas kertas untuk kaligrafi. Sementara Ren hanya bermain darts dengan tatapan bosan.
"Hei Hijirikawa..."
"Apa?"
"Apa kau percaya dengan takdir?"
"Takdir?"
"Iya, takdir. Di mana takdir akan membawamu pada sesuatu atau seseorang yang telah jauh darimu di masa lalu."
"Dari masa lalu?"
"Ya. Dari masa lalu. Aku percaya dengan takdir karena takdir kembali mempertemukanku dengan yang telah hilang di masa lalu."
"Baguslah jika be..."
"Namun, sayangnya takdir tidak sepenuhnya adil padaku. Sesuatu yang hilang itu berada dekatku namun terasa sangat jauh."
"Sesuatu?apa itu? Lalu kenapa bisa seperti itu?"
"Aku sulit menceritakannya tapi itulah yang ku rasakan saat ini pada sesuatu yang hilang itu."
"Kenapa kau tak mendekat pada sesuatu itu apabila terasa jauh?"
"Sulit. Semakin aku mendekat maka akan terasa semakin jauh."
"Apa kau akan menyerah jika keadaannya tetap seperti itu?"
"Aku tidak akan menyerah karena sangat berarti dan berharga untukku."
"Begitu ya. Ku harap secepatnya dia mendekat padamu."
Ren hanya menatap sendu Masato yang berbicara seperti itu. Masato tidak tahu apabila dia lah yang menjadi bahan pembicaraan dengan Ren barusan. Entah bagaimana reaksi Masato jika mengetahui hal ini. Ren terkadang merasa lelah dengan keadaan ini tapi apa daya apabila sesuatu itu pun tidak pernah menganggapnya lebih. Menyakitkan tentu untuk Ren. Tapi, Ren tidak akan menyerah dan berharap takdir mempersatukan mereka.
.
.
.
.
.
Waktu pun bergulir tanpa ada yang bisa menghentikannya dan musim sudah berganti menjadi musim dingin. Bulan Desember hampir habis dan hampir menutup tahun ini. Tinggal 3 hari lagi sebelum pergantian tahun. Hari ini adalah hari spesial bagi Masato. Hari di mana sang ibundanya melahirkan dirinya ke dunia. Tak terasa sudah hampir 19 tahun dia hidup di dunia dan selama itu pula banyak terjadi di hidupnya.
Ren dan teman-teman yang lain merencanakan kejutan untuk Masato. Hanya sebuah pesta kecil untuk yang berbahagia di hari bahagianya. Mereka semua berbagi tugas. Ren mendapat tugas untuk membuat sebuah kue untuk Masato. Ren pun membuat sebuah kue yang unik dan enak untuk Masato. Kue yang khusus di buat Ren untuk Masato. Ren pun berharap Masato menyukai kue buatannya.
.
.
.
.
.
KRIET
.
.
.
.
Pintu aula utama pun di buka oleh seseorang. Ya... Masato baru pulang dari pemotretan sebuah produk kosmetik terbaru. Tiba-tiba...
PRAK...PRAK...
Suara kertas crape yang di ledakkan yang di iringi lantunan lagu Happy Birthday yang di nyanyikan oleh seseorang dalam suasana yang gelap. Suara yang tak asing lagi baginya. Suara Ren. Ren menyanyikan selamat ulang tahun untuknya.
"Make a wish?"
Masato pun memejamkam mata seraya meminta doa. Setelah itu dia meniup lilin yang terdapat angka 1 dan 9 yang saling bersisian. Suara riuh tepuk tangan dan bersamaan dengan lampu yang menyala. Terlihat banyak yang hadir di situ. Mulai dari teman-teman satu personilnya hingga Tsukimiya sensei hadir dalam pesta itu. Masato merasa sangat bahagia.
Tiba saatnya pemotongan kue ulang tahun. Para tamu undangan mulai tak sabar mencicipi kue tersebut. Tapi...
"Aku akan membagi 3 piring pertama untuk 3 orang yang berarti dan penting untukku. Yang pertama aku akan memberikan pada Tsukimiya sensei yang selalu membimbing ku dan teman-teman yang lain hingga kini."
Potongan kue tart dengan cream matcha itu pun di berikan pada guru laki-laki tapi cantik itu. Berikutnya Masato memberikan kue keduanya kepada seseorang.
"Piring yang kedua untuk komposer kami yang hebat dan berbakat serta selalu mengerti apa yang aku dan yang lain mau dalam bermusik yaitu Haruka Nanami."
Perempuan berambut peach itu pun menerima kue itu dengan sepenuh hati. Tak lupa dia mengucapkan selamat ulang tahun dan terima kasih karena Masato telah menganggapnya sebagai orang yang penting untuk Masato.
"Lalu, piring terakhir akan ku berikan pada..."
"Pada?"
"Roomatte ku yang terkadang menjengkelkan tapi memiliki hati yang baik meski sedikit genit. Jinguji Ren."
Ren pun menghampiri Masato dengan langkah seperti biasa. Keduanya saling menatap sebentar hingga sebuah suara berceletuk iseng pada keduanya...
"Ayo Ren suapi Masa. Kau kan yang membuat kue untuk bintang utama hari ini. Kalian setuju kan teman-teman?"
Ternyata Otoya yang berceletuk dan yang lain menganggukan kepala tanda setuju dengan ide Otoya. Tentu Masato langsung memasang ekspresi wajah tanda tak setuju. Tapi, mau tak mau Masato lakukan karena jika tidak maka akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari di suapi sesendok kue dari roomatte nya itu.
"Tak apa-apa, Jinguji. Hanya satu suapan saja, aku tak masalah."
"Baiklah. Pasti kau akan terpesona dengan kue yang kue buat ini."
Ren pun menyuapi sesendok kue ke Masato. Ren memasuki potongan kue itu dengan hati-hati ke atas lidah Masato. Rasa cream matcha nya begitu terasa dan pas sekali. Belum lagi kuenya yang terasa seperti rasa...
"Jinguji, jangan bilang yang di balik cream ini adalah..."
"Seperti yang kamu pikirkan. Makanan kesukaanmu. Roti melon."
Seketika sekilas bayangan kenangan dari masa lalu berputar dalam pikiran Masato.
'Kamu sangat suka roti melon ya?'
'Iya. Aku sangat suka roti melon. Onii chan juga suka roti melon?"
'Ya. Aku lumayan suka tapi sepertimu yang maniak roti melon.'
Rasa sakit segera menyergap kepala Masato. Tapi Masato berusaha menepis rasa sakit itu dengan mengalihkan rasa sakitnya dengan berbincang dengan para sahabatnya. Secara tak sadar Masato tersenyum manis ketika sedang berbicara dengan Otoya dan Cecil membuat Ren di buat doki-doki melihatnya. Pesta sederhana itu pun berlanjut hingga subuh datang menjelang.
.
.
.
.
Tiba saatnya menuju pergantian tahun. Para personil STARISH pun tidak bebas dari pekerjaan meski sedang menjelang tahun baru. Terutama Masato dan Ren yang masih bekerja meski sudah menunjukkan pukul 10 malam. Keduanya sudah hampir selesai dari sesi pemotretan yang terakhir untuk brand terbaru suatu pakaian khusus laki-laki.
Hari ini Masato agak terlihat pucat setelah pemotretan terakhir. Ren pun merasa khawatir dengan keadaan Masato. Ren pun mendekati Masato.
"Hijirikawa, apa kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik-baik saja, Jinguji."
Ren merasa tidak yakin dengan jawaban Masato. Ren pun menempelkan keningnya ke kening Masato. Terkejut bukan main tentunya serta membuat jantung Masato berdegup sangat cepat dari biasanya. Wajah keduanya tampak sangat dekat hingga bisa merasakan nafas masing-masing.
Tiba-tiba sekilas bayangan dari masa lalu muncul di pikiran Masato.
'Masato kun? Apa kamu baik-baik saja?'
Masato merasa kepalanya semakin pusing setelah sekilas bayangan itu muncul. Membuat Masato mencoba mengingat siapa yang berbicara padanya itu. Secara refleks, Masato membelalakan matanya. Menatap Ren dengan tatapan penuh keterkejutan.
"Apa yang kau lakukan, Jinguji?"
Ren pun menjauhkan wajahnya dari wajah Masato. Lalu menjawab pertanyaan Masato.
"Aku hanya memeriksa keadaanmu. Kau demam, Masato. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang sebelum menjadi tambah parah."
"Aku tidak demam. Aku baik-baik saja dan tidak perlu ke rumah sakit."
Masato langsung berdiri dari kursi yang dia duduki lalu berjalan menuju pintu. Tapi, baru beberapa langkah tubuh Masato hampir jatuh ke depan secara tiba-tiba. Ren pun dengan sigap menangkap tubuh Masato dan segera membawa tubuh Masato dan menggendong bridal Masato menuju mobilnya untuk pergi ke rumah sakit terdekat.
.
.
.
.
.
Kini Ren sedang menunggu dokter yang masih memeriksa Masato di dalam IGD. Sudah hampir 15 menit belum ada tanda dokter akan keluar. Ren pun berdoa semoga Masato baik-baik saja.
"Maaf, apakah anda keluarga dari saudara Masato?"
"Saya temannya Masato. Bagaimana keadaan teman saya, sensei?"
"Saudara Masato baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan kurang istirahat. Anda tenang saja kami sudah menangani demamnya. Kini dia sedang tertidur dan anda boleh menjenguknya ke dalam. Jika besok keadaannya sudah pulih maka saudara Masato di perbolehkan pulang."
"Terima kasih, sensei."
"Sama-sama. Saya permisi dulu. Selamat malam."
"Selamat malam, sensei."
Ren pun masuk ke dalam kamar perawatan Masato. Di atas ranjang Masato terlihat begitu tenang dan damai dalam tidurnya. Jarum infus pun menghiasi punggung tangan kirinya. Ren kini duduk di kursi tepat di samping kiri ranjang Masato tidur.
Dengan hati-hati dan perlahan Ren menggenggam tangan Masato dan mengangkatnya. Di ciumnya dengan penuh kasih sayang punggung tangan Masato. Ren merasa sedih apabila keadaan Masato yang seperti ini.
"Maafkan Onii chan tidak bisa jujur padamu. Tapi, Onii chan janji mulai sekarang akan selalu bersamamu sampai kapan pun. Onii chan juga berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Apapun yang terjadi."
.
.
.
.
.
.
Sementara itu Masato bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat pemandangan yang terasa familiar. Sebuah ladang hijau dengan sebuah pohon besar di atas bukit kecil di ladang itu. Dalam kedua tangannya terdapat sebuah foto dirinya dengan seorang anak laki-laki yang setahun lebih tua darinya. Tapi, Masato tidak begitu ingat siapa anak laki-laki itu. Tapi, entah kenapa wajahnya terasa familiar bagi Masato.
"Hijirikawa..."
"Jinguji?"
"Maafkan aku yang tak bisa jujur padamu dan maaf baru bisa mengatakan ini padamu. Masih ingat pada janji kita berdua untuk bertemu lagi ketika dewasa nanti?"
Seketika bayangan masa lalu berputar seperti film lama. Samar-samar Masato mengingat sosok yang tidak asing baginya namun dia tidak pernah ingat siapa dia. Semakin ingin Masato mengingat sosok itu semakin sakit yang di rasakan Masato di kepalanya.
"Apa kau lupa padaku, Hijirikawa?lupa pada janji kita berdua ketika usia kita baru 6 dan 5 tahun?"
Masato mencoba kembali mengingatnya. Seberkas ingatan pun muncul dam sosok itu kini terlihat jelas. Seorang anak laki-laki berambut jingga dengan mata sewarna langit cerah. Ya... anak itu...adalah... Ren. Onii chan yang selalu hadir dalam mimpinya.
"Apa kau adalah Onii chan yang ku kenal?"
"Iya. Ini aku, Onii chan yang kau kenal."
Tanpa aba-aba Masato segera memeluk Ren dengan erat. Ren pun membalas pelukan Masato. Perlahan setitik air mata jatuh ke pipi putih Masato.
"Kenapa?kenapa kau tak pernah bilang padaku jika kamu adalah Onii chan yang ku kenal dulu."
"Sebenarnya aku ingin bilang padamu tapi sepertinya kau tidak mengingatku. Apakah terjadi sesuatu padamu?"
"Jika tidak salah ketika berusia 8 tahun, aku mengalami kecelakaan lalu lintas dan membuat ku menderita amnesia sebagian. Oleh sebab itu, aku tidak begitu mengingatmu tapi kau selalu hadir di mimpiku. Sekarang aku benar-benar mengingatmu dan setiap kenangan yang kita buat di masa lalu."
"Ternyata begitu, ya. Tapi, yang penting sekarang kau sudah kembali mengingatku."
"Ya. Ne... Jinguji, boleh aku bilang sesuatu padamu?"
"Tentu saja. Silahkan."
"Sejak dulu, aku memiliki perasaan khusus padamu. Perasaan yang hanya ku berikan untukmu saja. Karena kamulah aku merasakan hal yang penuh rasa itu. Aku menyukaimu. Baik dirimu yang dulu maupun yang sekarang. Maaf atas sifatku yang suka kasar padamu."
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Perasaanmu dan perasaanku itu sama. Aku juga menyukaimu sejak dulu. Aku harap kamu tidak menganggapku kakak lagi karena aku ingin kamu jadi pasangan sehidup sematiku. Bersediakah dirimu menjadi pasangan hidupku, Hijirikawa Masato?"
Wajah Masato merona hebat setelah mendengar pernyataan cinta dari Ren dan ungkapan untuk melamarnya. Tentu Masato sangat bahagia mendengarnya. Masato pun menjawab pertanyaan Ren.
"Aku mau jadi kekasihmu dan pasangan hidupmu, Ren."
Ren pun memeluk Masato dengan lembut dan penuh kasih sayang. Masato membalas pelukan Ren.
"Masato... bolehkah aku menciummu?"
Dengan malu-malu Masato menganggukan kepalanya tanda setuju. Tanpa melepaskan pelukan mereka, perlahan Ren mendekatkan wajahnya pada wajah Masato. Mengeliminasi jarak dan hingga pada akhirnya kedua bibir itu bertemu. Keduanya berciuman dengan lembut, tidak ada hasrat untuk menuntut lebih. Sensasi yang lembut dan memabukkan. Hanya 10 detik mereka berciuman tapi bagi keduanya terasa sangat spesial terutama untuk Masato.
.
.
.
.
.
Masato pun membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Masato pun bermimpi yang sangat indah sekaligus aneh. Lalu, dia merasa tangan kirinya terasa hangat dan agak berat. Masato menoleh. Ternyata Ren sedang menggenggam tangannya sambil tertidur di kursi dengan wajah di sisi ranjang rawatnya. Masato pun membalas genggaman tangan Ren tapi hal itu malah membuat Ren tergugah dari tidurnya.
"Kamu sudah sadar, Masato?"
"Ya. Seperti yang kamu lihat. Terima kasih sudah menjaga merawatku. Maafkan aku jika aku banyak merepotkanmu."
"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan jika di beratkan oleh kekasihku sendiri."
"Eh?kekasih?siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan kamu, Hijirikawa Masato. Kena amnesia lagi?"
"Aku hanya bercanda."
"Dasar kamu ini. Apa kamu masih merasa sakit?"
"Tidak. Aku sudah merasa sangat sehat."
"Syukurlah kalau begitu. Aku bahagia mendengarnya. Oh, ya, sarapanmu baru saja di antarkan tadi. Sekarang kamu makan dulu ya. Aku suapi."
"Ta...tapi..."
"Tidak apa-apa. Tidak usah malu-malu begitu."
"Dasar hentai."
"Masato, hidoi."
Masato memalingkan mukanya sambil menahan tawa. Tak lama tawa Masato pecah melihat wajah Ren yang terlihat tidak terima tapi lucu saat Masato menyebutnya hentai. Ren pun ikut tertawa bersama Masato.
.
.
.
.
.
Sementara itu para personil STARISH yang lain hanya bisa berdiam diri di depan pintu kamar. Mereka tak ingin mengganggu kemesraan pasangan yang baru jadi ini. Mereka merasa bahagia karena sahabat mereka sudah menemukan kebahagiaannya.
.
.
.
.
.
Author note:
Hello minna san ^O^ berjumpa lagi dengan Riren. Riren harap para readers tidak bosan dengan Riren ya. Akhirnya libur telah tiba pada Riren setelah melewati masa kritis ujian UAS. Rasanya lega sekali hohoho #PLAK. Kali ini Riren membuat cerita berdasarkan request atau permintaan dari sahabat Riren yang satu kampus. Riren pun mencoba membuatnya setelah tadi sore di kasih requestnya oleh orang yang bersangkutan. Riren harap ff ini bisa memuaskanmu ya ヽ(^。^)ノ. Riren mohon maaf apabila masih ada banyak kekurangan di cerita Riren. Riren harap para readers memberikan review untuk cerita ini karena review dari kalian membuat Riren menjadi semangat untuk menulis lebih baik lagi di ff. Sekian dari Riren ya, soalnya udah malem banget ini dan Riren belum tidur. Konbanwa minna san. Jaa ne matta ashita.
Please review my story and thanks for reading my story.
