Kisah ini berawal dari seorang anak laki-laki berambut silver dengan gaya acak-acakan yang mengalami masalah dengan pelajaran disekolah. Tentu saja orang tuanya khawatir dengan keadaan akademis sang anak dan mereka pun mencoba mencari seorang tutor untuk putra mereka yang hanya satu-satunya itu. Pada akhirnya mereka pun mendapatkan tutor untuk putra mereka setelah satu minggu menyebarkan info lewat media sosial.

Mau tak mau sang anak menuruti perkataan kedua orang tuanya meski dalam hati terus menggerutu. Kurosaki Ranmaru, nama anak laki-laki yang akan mendapatkan tutor untuk belajar. Meski cukup berbakat di bidang musik dan olahraga, Ranmaru cukup payah dalam hal-hal ilmiah. Dia selalu mendapatkan nilai merah untuk pelajaran ilmiah seperti biologi.

Kini Ranmaru sedang menunggu sang tutor nya datang.

TOK... TOK...

Seseorang menggetuk pintu kamarnya. Segera Ranmaru membuka pintu kamarnya. Tak lama sesosok manusia di hadapannya sukses membuatnya terjengkang jatuh ke belakang. Ya... Ranmaru syok dan kaget atas kehadiran sosok di hadapannya.

"Tak ku sangka ternyata kau yang akan ku ajari."

Suara lembut bahkan terkesan agak feminim itu membuat Ranmaru kesal setengah mati. Segera Ranmaru bangkit dan menatap sosok yang lebih pendek darinya itu.

"Jangan bilang kau adalah tutor ku, Mikaze?"

"Kalau iya, memangnya kenapa?kau keberatan?"

"Tentu saja aku keberatan. Aku tidak sudi di ajari oleh orang sepertimu."

"Oh, begitu ya. Jika ingin protes, protes lah dengan orang tuamu."

"Ran chan, jaga kelakuan dan ucapanmu pada Ai chan."

Tiba-tiba ibunda Ranmaru datang menghampiri kedua pemuda itu.

"Ibu, aku tidak mau apabila tutor belajarku itu dia. Pokoknya aku tidak suka."

Ranmaru menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Ai pada sang ibunda.

"Ran chan, sudah ibu bilang jaga ucapan dan kelakuanmu pada Ai chan. Dia adalah anak dari sahabat ibu. Selain itu Ai chan adalah anak yang sopan dan pandai dalam bidang akademis maupun non akademis. Ibu percaya Ai chan bisa mengajarimu dengan baik dan ibu tidak mau mendengar penolakan darimu. Jika kamu menolak maka ibu dan ayah akan menyita segala fasilitas yang kamu pakai."

Ranmaru hanya bisa melongo mendengar ancaman dari sang ibunda. Secara terpaksa Ranmaru harus mau menerima Ai sebagai tutor nya untuk belajar. Senyum kemenangan pun muncul di wajah imut dan tampan milik Ai yang sukses membuat Ranmaru ingin memberinya bogem mentah di wajah itu.

Di mulai hari-hari keduanya yang nantinya penuh dengan berbagai cerita.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Uta no Prince sama bukan milik Riren. But My dear tutor is my original story.

Rate: M

Pair : Kurosaki Ranmaru & Ai Mikaze

Genre : Romance, school life, and friendship.

Warning: typo, OOC, gak sesuai dengan EYD, adult scene, and many more.

.

.

.

.

MY DEAR TUTOR

RIREN18

.

.

.

.

Ai Mikaze, pemuda berwajah manis dan berambut serta berwarna cyan ini merupakan Ketua OSIS di sebuah sekolah ternama di kota Tokyo. Selain memiliki wajah yang tampan dan manis, Ai juga memiliki IQ di atas rata-rata. Terlihat dari ujian nasionalnya yang menjadi nomor 1 se-Jepang. Selain itu Ai juga memiliki kepribadian yang sopan dan baik tutur katanya. Ai tidak hanya pandai di bidang akademis, tetapi juga pandai di bidang non akademis, terutama dalam musik.

Berbeda dengan Kurosaki Ranmaru, pemuda berwajah tampan nan garang yang memiliki rambut berwarna silver dengan gaya acak-acakan serta memiliki mata heterokom yang cukup menawan. Jika di tanya soal IQ, Ranmaru memiliki IQ yang rata-rata, tidak lebih dan tidak kurang. Hanya saja nilainya selalu merah pada pelajaran ilmiah tapi selalu mendapat nilai tinggi di pelajaran olahraga dan musik. Berbeda dengan Ai, Ranmaru memiliki kepribadian yang agak kurang baik.

Hubungan antara Ai dan Ranmaru bisa di bilang kurang baik akibat kejadian seminggu yang lalu. Di mana kejadian itu membuat Ranmaru ingin memberikan bogem mentah pada muka manis Ai yang terlihat menyebalkan baginya.

Flashback

Suasana kantin saat itu tengah damai-damai saja seperti biasa. Para siswa sedang menikmati makanan yang merek pesan. Begitupula dengan Ranmaru dan beberapa temannya. Tiba-tiba secara tidak sengaja seseorang menumpahkan jus ke bajunya. Ranmaru segera menoleh ke arah seseorang yang telah menumpahkan jus ke seragamnya. Orang tersebut hanyalah seorang siswa culun yang kini ketakutan melihat Ranmaru yang geram.

"Hei... Kau! Berani sekali kau menumpahkan jus mu ke seragamku. Sekarang seragamku jadi kotor. Aku minta ganti rugi atas kelakuanmu padaku."

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Sungguh aku tidak sengaja. Ku mohon maafkan aku."

"Cih... kau kira minta maaf saja sudah cukup, hah!. Cepat berikan uang yang kau punya padaku. Cepat!"

Siswa itu mengeluarkan dompetnya dan memberikannya pada Ranmaru. Dengan kasar Ranmaru mengambil dompet itu dari tangan pemuda yang ketakutan. Ranmaru pun langsung terlihat marah saat melihat isi dompet sang pemuda yang hanya berisi beberapa lembar uang dan kartu pelajar saja.

"Apa-apaan ini?hanya segini saja uang yang kau punya, hah?. Mana bisa mengganti seragam ku yang telah kau kotori ini. Jadi, kau mau membayar ganti ruginya dengan apa, hah?"

"Sudah cukup, Kurosaki."

Ucapan seseorang membuat Ranmaru tambah kesal dan segera Ranmaru menoleh ke sumber suara. Ternyata Ai lah yang berkata demikian.

"Mau apa kau, Mikaze? Mau jadi pahlawan untuk anak ini, hah?"

"Aku hanya ingin memghentikan kekerasan yang kau lakukan padanya. Sebagai ketua OSIS, aku tidak bisa diam saja melihat kelakuanmu padanya yang hanya gara-gara masalah yang sangat sepele."

"Kau bilang sepele? Kau tidak lihat apa jika baju ku kotor karena ketumpahan jusnya?"

"Aku melihatnya dan aku rasa itu bukanlah masalah yang harus di besar-besarkan. Jika seragamu kotor maka kau tinggal mencucinya atau membeli seragam yang baru. Ku rasa kau juga sanggup untuk membeli seragam baru."

"Mana bisa begitu, Mikaze. Jika begitu dia tidak bertanggung jawab atas perbuatannya."

"Dia sudah minta maaf padamu, Kurosaki. Kau tega memalak seorang siswa yang keadaannya ekonominya jauh di bawahmu hanya untuk sebuah seragam yang terkena jus. Kau sangat kejam sekali, Kurosaki."

"Kau mau cari ribut denganku, Mikaze?"

"Tidak. Aku hanya sedang menjalankan tugasku sebagai ketua OSIS. Aine, tolong bawa dia ke tempat lain dan pastikan dia aman dari orang ini dan teman-temannya."

"Baiklah. Sisanya ku serahkan padamu, Ai."

Aine, kakak kembar Ai pun membawa siswa tadi menjauh dari Ranmaru dan teman-temannya.

"Teman-teman, maaf atas keributan yang terjadi dan membuat kalian merasa tidak nyaman. Kurosaki, jika ingin berkelahi atau apapun itu kita lakukan di tempat lain saja."

"Temui aku di lapangan belakang."

"Baiklah."

Setelah itu Ranmaru dan teman-temannya meninggalkan kantin. Tak lama Ai mengikuti mereka menuju lapangan belakang. Sesampainya di sana, Ai telah di sambut oleh Ranmaru yang sudah mengambil kuda-kuda untuk bertarung.

"Jika kau berani lawan aku, Mikaze."

"Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi, one by one, teman-temanmu tidak boleh ikut dalam pertarungan ini."

"Baiklah. Hei... kalian kembali ke kelas duluan saja. Aku bisa menghadapinya sendirian."

Teman-teman Ranmaru pun meninggalkan Ai dan Ranmaru di lapangan tersebut. Tanpa aba-aba Ranmaru segera menyerang Ai tapi dengan cepat Ai bisa menghindarinya.

"Ternyata kau lumayan juga. Apa kau bisa menghindari gerakanku yang selanjutnya, Mikaze?"

"Kau lihat saja nanti, Kurosaki."

"Baiklah. Akan ku buat kau tidak bisa bangun lagi, Mikaze."

Setelah itu Ranmaru segera memberikan serangan berikutnya pada Ai yang ternyata hanya bisa melukai pipi Ai saja. Tak lama Ai pun membalasnya dan berakhir dengan terkaparnya Ranmaru di atas tanah. Ai mengalahkan Ranmaru hanya dengan satu gerakan saja. Ranmaru tidak tahu jika Ai telah memegang gelar tertinggi dalam olahraga bela diri.

"Bagaimana Kurosaki? Sekarang lihat siapa yang tidak bisa bangun lagi?. Menyedihkan sekali."

Setelah itu Ai pun segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan Ranmaru yang kini menatapnya kesal dan penuh amarah.

End of flashback.

.

.

.

.

.

Sudah hampir 3 bulan Ai menjadi tutor Ranmaru. Perlahan nilai Ranmaru dalam pelajaran ilmiah mulai membaik. Ai mengajari Ranmaru dengan keras. Tak jarang bibir sewarna cherry miliknya mengeluarkan kata-kata yang cukup menyakitkan hati. Kini Ai sedang mengadakan tanya jawab soal tentang hewan invertebrata.

"Pertanyaan selanjutnya, apa yang terjadi pada planaria apabila dia di potong?"

"Tentu saja dia akan mati."

Jawaban yang mirip dengan script pada sebuah anime itu sukses membuat Ranmaru mendapatkan sebuah gulungan tebal menabok kepalanya. Ya.. Ai memukulnya dengan sekuat tenaga menggunakan sebuah buku.

"Ittai, bakayaro."

"Urusai, aho. Soal mudah seperti itu saja kau tidak bisa menjawabnya dengan benar. Aku jadi kasihan sama orang tuamu karena memiliki anak bodoh sepertimu."

"Kau yang bodoh. Di mana-mana jika suatu hewan di potong pasti dia akan mati."

"Kau ini sudah bodoh, keras kepala pula. Biar ku jelaskan padamu. Planaria jika di potong tubuhnya dia tidak akan mati. Jika kau memotong tubuhnya maka dia akan menciptakan individu baru."

"Dasar hewan aneh."

"Kau yang aneh, bukan mereka. Sekarang kau ambilkan minum untukku sebagai hukuman tidak bisa menjawab dengan benar."

"Kau kira kau siapaku, hah?"

"Gurumu, Kurosaki. Jika tidak aku akan melaporkan pada ibu atau ayahmu jika kau tidak mau belajar."

"Beraninya main ancaman. Awas saja aku akan membalasmu, Mikaze."

Ranmaru pun pergi ke bawah untuk mengambil minum. Sementara itu Ai merasa suhu tubuhnya agak naik. Ai merasa tidak enak badan sejak tadi malam. Tak lama Ranmaru kembali membawa nampan yang berisi dua gelas kecil dam satu teko berisi air dingin. Ranmaru meletakannya di atas meja kecil di samping meja belajarnya.

"Hei Mikaze itu minumnya sudah ku ambilkan. Ku bilangin ya, aku tidak mau lagi di suruh olehmu. Kau mengerti kan?"

Ai tidak menjawab pertanyaan Ranmaru karena pandangannya sudah mulai berputar-putar. Tak lama Ai pun tak sadarkan diri dan jatuh tergeletak di atas lantai. Ranmaru pun terkejut karena Ai tiba-tiba tak sadarkan diri.

"Oi, Mikaze. Kau kenapa?. Oi, ayo bangun, Mikaze."

Ranmaru segera memeriksa keadaan Ai.

"Ya ampun, badannya panas sekali. Dasar merepotkan kau, Mikaze."

Ranmaru pun menggendong Ai ala bridal style dan menaruhnya di atas ranjang tidurnya.

"Sial, kenapa dia harus seperti ini di saat para pembantuku sedang tak ada di rumah. Tapi, kalau ku biarkan kasihan juga dia. Kau akan membayar kebaikkan ku setelah kau sembuh."

Ranmaru segera menempelkan plester penurun demam di kening Ai. Jika boleh jujur Ranmaru merasa agak kasihan melihat keadaaan Ai sekarang.

"Hei Mikaze, apa kau sudah makan?"

Tidak ada jawaban dari Ai. Ranmaru pun memutuskam untuk membuat bubur untuk Ai agar Ai bisa minum obat.

.

.

.

.

.

"Oi, Mikaze. Ayo bangun."

Ranmaru mencoba membangunkan Ai dengan mengguncangkan tubuh Ai perlahan. Perlahan mata Ai pun terbuka. Kini Ai menatapnya dengan tatapan lemah.

"Kurosaki... apa yang terjadi padaku?"

"Kau demam. Sekarang kau makan bubur ini lalu minum obat. Sehabis itu kau segera beristirahat."

"Arigatou, Ranmaru."

Seketika Ranmaru merasa detak jantungnya berdetak lebih cepat saat Ai memanggilnya dengan nama kecilnya. Ai pun mencoba bangun tapi tidak bisa karena demamnya belum turun.

"Aku akan menyuapimu. Aku melakukannya bukan karena aku peduli padamu hanya saja aku ingin kau tidak merepotkan ku lagi."

"Dasar tsundere."

"Cih..."

Ranmaru pun menyuapi Ai dengan hati-hati. Ai cukup terkejut melihat sisi lain dari seorang Kurosaki Ranmaru yang terkenal akan sifat sombong dan sok premannya itu. Secara tak sadar, Ai merasa nyaman dengan hal itu.

"Hei, Kurosaki. I can't believe it you have another personality like this."

"Shut up, Mikaze."

"Baiklah. Terima kasih dan aku akan melakukan apapun untuk membalas kebaikkan mu ini."

"Akan ku tagih perkataanmu saat kau sembuh nanti, Ai."

.

.

.

.

Setelah selesai makan, Ranmaru menyuruh Ai untuk minum obat. Tapi, ternyata untuk mengangkat kepalanya saja terasa berat bagi Ai. Akhirnya Ranmaru pun memiliki ide untuk memasukkan obat ke tubuh Ai. Ranmaru memasukkan obat penurun demam itu ke dalam mulutnya beserta air. Setelah itu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Ai. Ai pun terkejut saat Ranmaru mendorong kepalanya mendekat ke wajah Ranmaru. Tak lama bibir keduanya saling bersentuhan dan Ranmaru mencoba memasukkan air dan obat itu dari mulutnya ke mulut Ai. Mau tak mau Ai pun menelan obat itu.

Ai dan Ranmaru menyadari jika tadi mereka berciuman, yah... walaupun tujuannya untuk memasukkan obat agar Ai cepat sembuh. Hanya ada hening setelah kejadian itu.

"Tidurlah. Aku akan menemanimu di sini."

"Ya. Oyasumi."

"Hn."

Tanpa mereka sadari telah tumbuh sebuah perasaan terlarang yang tak seharusnya mereka miliki. Namun, jika seseorang telah jatuh cinta dia tidak akan pandang apapun, termasuk gender.

Perlahan Ai mulai terlelap dan Ranmaru menemani di sampingnya. Ranmaru melihat wajah tidur Ai yang terlihat damai sekaligus imut. Ranmaru pun menyentuh bibirnya yang beberapa saat lalu menyentuh bibir pemuda yang kini telah terlelap. Ranmaru tidak bisa melupakan bibir Ai yang terasa lembut dan halus. Entah kenapa membuat Ranmaru merasa kecanduan akan bibir Ai.

.

.

.

.

.

2 minggu setelah kejadian itu. Kini Ai telah sehat kembali. Seperti biasa, Ai menjalankan tugasnya sebagai ketua OSIS dan tutor nya Ranmaru. Entah kenapa belakangan ini, Ranmaru bersikap aneh padanya. Mulai dari tidak mau menatap dirinya lama-lama jika di ajak bicara dan selalu marah-marah apabila Ai terlalu dekat dengan wajahnya ketika menerangkan hal yang tidak di mengerti olehnya.

Tapi, Ai tak mau ambil pusing soal itu. Perlahan tapi pasti nilai-nilai Ranmaru mulai membaik. Ai merasa jika Ranmaru sudah bisa belajar sendiri, sudah tidak perlu di bantu olehnya lagi.

"Oi, Mikaze..."

"Apa?"

"Aku ingin menagih janjimu yang kau ucapkan saat sakit."

"Oh, yang itu ya. Baiklah, kau mau aku melakukan apa?"

"Hm... ah! Bagaimana kalau kau berkencan denganku?"

"Excuse me?"

"Aku mau kau berkencan denganku. Kau ini tuli ya?"

"Aku tidak tuli. Tapi, aku tidak mau berkencan denganmu, Kurosaki."

"Begitu ya? Katanya kau mau melakukan apapun untuk membalas kebaikkan ku yang telah merawatmu ketika sakit. Dasar tidak tahu terima kasih."

Seketika Ai merasa ada panah imajiner menusuk tepat di hatinya.

"Baiklah. Aku mau tapi hanya satu hari saja. Deal?"

"Ok. Tapi, aku ada satu permintaan lagi. Aku mau kau berdandan seperti perempuan. Itu berguna juga bukan agar kau tidak ketahuan oleh yang lain."

"Tapi, kenapa harus berdandan seperti perempuan?"

"Jadi, kau merasa baik-baik saja melihat orang-orang memandang aneh pada kita?"

"Tentu saja tidak baik-baik saja. Tapi, aku bisa dapat baju perempuan dari mana?"

"Soal itu aku sudah menyiapkannya untukmu. Tenang saja, bajunya milik adik sepupuku."

Ranmaru mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Tak lama dia memberikan Ai sebuah goodie bag berisi 'perlengkapan' untuk kencan mereka besok.

"Kau harus memakainya dan dandan yang cantik, ya, Mikaze kaichou."

Seketika Ai ingin membuat wajah Ranmaru menjadi kesetan kamar mandi. Tapi, Ai teringat akan ucapannya yang akan melakukan apapun untuk membalas kebaikkan Ranmaru. Mau tak mau harus di lakukan meskipun memalukan.

.

.

.

.

.

Bagaimana dengan kencan mereka berdua? Apakah berjalan dengan damai atau malah sebaliknya? Akankah cinta tumbuh di hati keduanya?. Nantikan di chapter selanjutnya ya minna san.

.

.

.

.

.

Author Side:

Konbanwa minna san!

Riren hadir lagi nih hehehehe XD . Ff kali ini Riren persembahkan untuk sahabat Riren tercinta yaitu AkaiYuuki27 *tiup terompet kerajaan* #PLAK XD. Yuuki chan requestnya ff dengan pair Ranmaru X Ai. Jika boleh jujur agak sulit membuatnya dan sempat kebingungan mau memakai jalan cerita yang bagaimana. Lalu pada akhirnya sebuah ide pun muncul setelah Riren habis membaca shoujo manga. Riren harap semoga Yuuki chan menyukai ff yang Riren buat khusus untuknya. Maaf banget apabila abang Ran-ran dan abang Ai-ai nya jadi OOC parah T^T tapi ceritanya gak bakal jalan kalau pakai karakter asli mereka. Untuk kali ini Riren tidak bisa berkata-kata apalagi selain terima kasih kepada Yuuki chan yang telah me-request cerita ini yang tentunya membuat Riren menjadi tambah semangat untuk menulis lebih baik lagi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para reader dan para reviewer karena tanpa kalian Riren tidak akan bisa seperti ini. Riren juga mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam cerita-cerita yang Riren.

Sekian dulu dari Riren. Sampai bertemu di chapter selanjutnya ya. Jaa nee minna san ^_^

Riren18