Aku tersenyum kecil memandang sahabatku yang berkulit pucat sedang berjalan beriringan dengan saudara kembaranku. Aku tidak menyangka, Baixian -kembaranku cukup cepat beradaptasi dengan keadaan disekolah ini. Apalagi yang aku tahu, sejak kejadian lima tahun lalu, kepribadian Baixian terlihat jauh berbeda.

Walaupun aku lebih tua beberapa menit darinya, namun bisa aku akui, dia jauh lebih dewasa dariku. Dahulu, Baixian akan selalu memberikan perlakuan yang terlihat manis padaku walau kata-katanya memang sedikit pedas. Tak jarang terkadang aku menangis saat disinggung olehnya saat masih pada sekolah dasar. Namun Baixian datang dan merobek selembar kertas dari buku tulis motif power rangerku dan kemudian menuliskan kata-kata penenang untuk aku yang menangis saat itu.

Aku mengenal Baixian bukan hanya setahun dua tahun. Namun sejak kami lahir bersama-sama, batin kami telah terikat.

Sampai pada akhirnya kedua orang tua kami memutuskan untuk bercerai. Tidak bercerai dengan cara kasar, namun secara baik-baik.

Mau tak mau, aku dan Baixian harus berpisah. Ayah memiliki hak asuh terhadap aku. Sedangkan ibuku memiliki hak asuh terhadap Baixian. Hingga marga Baixian yang dulunya sama sepertiku, berubah menjadi marga ibuku yang memang berasal dari wanita China.

Sosok Baixian yang dulunya bermulut pedas-manispun setelah kembalinya ia ke Korea berubah menjadi sosok yang serius dan berupa tegas namun dia tetap manis dimataku. "... Ibu memaksaku untuk mengizinkannya menikah lagi dengan pria yang jauh lebih muda darinya." Baixian mengutarakan alasannya kembali kemansion Byun saat kami sedang makan siang kemarin.

Aku sedikit kesal dengan ibu karena pasalnya, Ayahpun pernah mengaku padaku bahwa sosok pria kebangganku itu mengatakan ia masih sangat mencintai ibu. Tapi aku mencoba iklas. Mungkin ibu juga menginginkan kasih sayang seorang suami. Terbesit dipikiranku, mungkin jika aku jadi Baixian, Aku juga akan kabur karena tidak setuju.

"... Aku bukannya tidak setuju. Aku Setuju. Tapi aku meminta ibu untuk mengizinkan aku kembali ke Korea saja karena -demi Tuhan! Wajah pria itu benar-benar terlihat tidak menginginkan aku ada dirumah itu. Namun dasar Wanita sialan, dia mengizinkanku tanpa berfikir terlebih dahulu." Aku mengangguk paham saat itu. Namun aku langsung memukul kepalanya saat Baixian menyebut ibu dengan sebutan wanita Sialan. Tapi lagi-lagi, Baixian hanya menatap datar diriku.

Baixian juga mengaku bahwa sosok ibunya yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Ibunya yang dulu saat masih bersama dengan sang ayah. Baixian mengaku kurang kasih sayang dari sang ibu karena ibunya yang maniak kerja. Pada akhirnya aku tersenyum maklum. Sadar bahwa kembaranku bukan berubah tanpa sebab.

Aku sadar dari lamunanku. Aku bergerak menuju meja makan kantin yang terdapat Baixian dan Sehun -sahabat berkulit pucatku sedang mengobrol ringan.

Namun baru satu langkah aku memulai, aku merasakan sebuah rangkulan hangat. Kepalaku mendongak. Menatap sosok sahabat terdekatku yang juga tengah memandanku dengan memasang senyuman idiotnya. "Mau kemana?" Chanyeol -sahabat dekatku bertanya dengan nada jenaka. Aku membalasnya dengan senyum manis membentuk mata bulan sabit. Aku mengangkat tanganku dan menunjuk kearah Sehun dan Baixian. "Kesana..."

"... Mau ikut?"

Chanyeol mengangguk pelan dan kami berjalan berdampingan menuju meja yang ditunjuk olehku.

.

.

.

Byun Twins

meyswcox proudly present

Main Cast: Baekhyun, Chanyeol, Baixian & Sehun

Support Cast: EXO member and Others

Genre: School Life, Romance, Complicated Love Story

Rate: T

A/N: Maaf telat update karena sehabis update psikis, aku langsung cuzz liburan. Selama liburan pun aku malas pegang handpone maupun laptop(?) but, thanks for review! Untuk sosok Baixian kalian bisa bayangkan Baekhyun berambut merah pas di MV lightsaber (karena dia terlihat sedikit manly disitu. Manly dikit, girly banyak/?) Nah untuk Sosok Baekhyun kalian bisa bayangkan Baekhyun yang berambut berwarna pink karena he's so damn cute! Kayanya cocok sm sosok dia disini ya.

Maaf kalo chapter ini pendeek banget soalnya aku ngebut bikinnya. ga cek dulu jadi maaf klo banyak typo. sebenernya agak ga pede juga buat upload chapter ini muehehe.

Yaudah, silahkan dibaca! Maaf kalo tidak memuaskan. dan jangan lupa review. kalo memenuhi target atau lebih banyak dr prolog langsung aku post chap selanjutnya

.

Here We Go

...

.

.

.

Walau kita sama, tapi sifat kita bertolak belakang. So, Park Chanyeol, Who would you choose?

.

.

.

Chapter 2 (Who's Baixian?)

.

.

Baixian berjalan berdampingan dengan sosok teman barunya dikelas. Walaupun pemuda pucat ini juga mengaku sahabat kembarannya, Namun ia tak peduli. Sehun adalah orang yang tenang dan itu masuk kategori tipe ideal menjadi seorang teman Bian Baixian. Setelah kedua pasang mata itu menjelajah sekeliling kantin -untuk mencari meja kosong dan akhirnya mata pemuda yang lebih sipit melihat meja kosong disekitar tengah-tengah kantin. Mereka berdua -Sehun dan Baixian langsung duduk ditempat itu.

Dengan tenang, Baixian membuka buku daftar menu. Meneliti makanan-makanan yang dapat mengisi perut kosongnya. Hingga ia tidak sadar sosok dihadapannya sedang memandangnya intens. Hening menghampiri keduanya. "... Aku tidak tau kalau Baekhyun memiliki kembaran" pria yang lebih tinggi mulai bersuara. Baixian tampak tidak minat. Namun Baixian tetap menyahut. "Kau tak diberitahu olehnya?" Baixian masih terpaku pada buku menu. Namun sesaat ia melirik Sehun dan melihat Sehun yang menggeleng pelan.

Baixian mengedikkan bahu. "...Mungkin Aku adalah aib baginya" Baixian kembali melirik pemuda dihadapannya yang sedang menatapnya tajam. "Apa?" Baixian berbisik.

"Baekhyun bukan orang yang seperti itu." Baixian memutar bolamatanya malas mendengar perkataan Sehun. "... Kau baru datang dari China tapi kau bersikap tau segalanya tentang Baekhyun." mata bulan sabit Baixian mendelik tajam.

"Berapa lama kau kenal Baekhyun?"

Baixian menghembuskan nafasnya saat melihat Sehun yang hanya bergeming. "Jika kau mengenal Baekhyun sejak bocah itu SMP, Maka aku mengenal Baekhyun sejak ia masih dalam ruang kehangatan yang dimiliki ibu kami..." Baixian masih memandang Sehun dengan datar. Tanpa ekspresi. "...Kami sudah saling mengenal sejak kami masih berada di rahim ibu kami..."

"Aku paham sifatnya. Aku merasakan apa yang ia rasakan karena..."

Baixian berkata sambil mencatat pesanannya. Berusaha mengendalikan emosi dari titik sensitifnya saat membicarakan tentang ibu. "...Batin kami terikat. Batin kami masih dan akan selalu terikat." Baixian tersenyum singkat. Tipis.

Sehun yang mendengar itu tersenyum teduh. Baixian telah selesai mencatat pesanannya. Rambut merah cerah itu bergoyang pelan saat sang pemilik menggerakan kepalanya untuk mendongak. "Nah, Sehun. Kau mau memesan apa?"

Namun Sehun terdiam menatap lensa mata Baixian yang berwarna abu-abu. "Kalian sangat mirip. Tapi aku bisa membedakan kalian dari warna mata kalian." Baixian mengerutkan dahinya. Merasa perkataan Sehun bukanlah jawaban dari apa yang ia tanyakan. "Sehun-ah. Kau ingin memesan apa?"

Sehun menggeleng pelan. Berusaha menyadarkan lamunannya yang semakin tak tentu arah. "A-Ah. Maaf. Aku ingin nasi goreng kimchi dengan..." Sehun meletakan jari telunjuknya dibawah bibirnya -berfikir.

"...Dan Minumnya cukup teh berasa lemon." Baixian mengangguk mendengar perkataan Sehun.

Baixian menangkat tangan kanannya, berniat memanggil pelayan kantin. Setelah memberikan daftar pesanan, Baixian kembali mematap Sehun yang sedang terpaku pada handponenya. Sehun yang merasa ditatap menoleh. Melihat Baixian yang melamun membuat Sehun terkekeh geli. Biarpun Baixian terlihat lebih kaku dibanding Baekhyun yang sangat friendly, tapi tetap saja, teman barunya itu sangat mirip dengan Baekhyun disaat seperti ini. Melamun dengan binar polos dimatanya. Sangat Cute. Sehun melambaikan tangan kanan-nya. Mencoba menyadarkan Baixian dari lamunannya.

Baixian tersentak kaget. Sejenak, pria mungil itu mengerjapkan matanya. Mencoba bersatu lagi dengan pikirannya. "Jangan melamun, Xian" Baixian tersenyum canggung. Sehun terkekeh pelan merasakan kecanggungan yang entah sejak kapan telah datang. "Kau sangat mirip dengan Baekhyun jika sedang melamun. Sangat mirip."

"Eiy, Ada yang membicarakanku." Sosok serupa dengan Baixian tiba-tiba muncul mengejutkan kedua pemuda yang sedang duduk tenang. Dengan langkah riang, pemuda bersurai merah muda itu duduk tepat disamping kembarannya. "Hai Sehunnie" Sehun tersenyum kecil saat sahabat mungilnya itu menyapa dengan teramat cute. Binar polos matanya benar-benar menjadi daya tarik tersendiri. Memang benar, Baekhyun kekanakkan dan dewasa disaat yang bersamaan. "... Halo, Baibai"

Baixian memutar bola matanya malas. "Kau memanggil Sehun dengan begitu manisnya sedanhkan kau memanggilku dengan panggilan aneh itu." ketus Baixian malas. Namun Baekhyun hanya mengulurkan tangannya merangkul leher pada pemuda yang serupa dengannya itu. "Itu kan panggilan sayangku untukmu, Baixian" dan diakhiri kecupan singkat yang Baekhyun berikan di pipi Baixian. Keduanya terhenti saat mendengar suara hushky tertawa pelan -namun sayangnya tetap terdengar.

"Oh astaga. Kalian seperti Brother Complex" Baekhyun mengerucut sedangkan Baixian menatap datar pemuda jangkung dihadapannya. "... Yeollie, kami kan saling menyayangi" Chanyeol yang masih tertawapun berusaha menghentikan tawanya.

"Oke, aku mengalah." Chanyeol memajukan wajahnya cepat mendekati wajah pemuda bersurai kemerahan -Baixian. Empat orang dimeja itu menahan nafas. Ah ya, kecuali Baixian karena dengan cepat telapak tangannya menyingkirkan wajah idiot sahabat kesayangan Baekhyun itu. "Baixian, jangan terlalu dekat dengan Baekkie. Dia milikku, tau!" ucapan Chanyeol yang cukup kencang itu mampu atmosfer di meja nomor kosong empat itu menjadi canggung. "... Milik apasih, yeollie" Baekhyun menggerakan bola matanya tal tentu arah. Salah tingkah.

Baixian yang melihat itu menyernyit jijik. "Kau itu siapa? Kau bahkan hanya seonggok orang idiot yang mengaku menjadi sahabat kembaranku."

"Bukan aku yang mengaku tapi Baekhyunie yang mengakui" Baixian menaikkan alis sebelah kanannya. "... Bitch Please. Tau apa kau tentang Baekhyun" Baekhyun menepuk dahinya pelan saat lagi-lagi saudaranya itu mengucapkan kata-kata pedas.

Baixian menyeruput Jus Jeruk yang ia pesan. Baekhyun menyernyit saat melihat minuman berwarna oranye tersebut. Pasti rasanya masam. "Sudahlah, Baixian, Ch anyeollie. Jangan bertengkar" Baixian menatap kembarannya bingung. "Memang ada yang bertengkar, Baek? tidak ada."

Dan dengan tenang, Baixian melanjutkan acara makannya.

.

Pelajaran matematika adalah pelajaran yang dibenci oleh seluruh umat manusia. Walaupun manusia itu mengatakan kalau ia menyukai Matematika, tapi percayalah, Pasti ia pernah membenci matematika.

Seperti saat ini. Seorang pemuda mungil bersurai merah muda terus menguap menahan kantuk. Sebelum guru matematika kelas 11-C diganti, Baekhyun sangat menyukai Matematika karena dulu, Gurunya menjelaskan dengan telaten. Tidak seperti guru yang sekarang.

Baekhyun menoleh kearah teman sebangkunya yang menepuk bahunya pelan. Dengan wajah sayu, Baekhyun menatap sosok sahabatnya. "Baekkie, daripada tidur, ayo kita bercerita" Chanyeol -teman sebangkunya berbisik. Dan Baekhyun pikir itu tidak buruk, jadi akhirnya Baekhyun mengangguk. Baekhyun ikut berbisik. "Bercerita tentang apa?"

Chanyeol terdiam mencoba mencari topik yang menarik. "Bagaimana tentang kembaranmu itu? Aku kira ia friendly sepertimu, tapi ternyata ia tampak seperti Naga berkepala merah. Mulutnya sangat panas dalam berkata-kata" Mendengar perkataan polos Chanyeol membuat Baekhyun terkekeh. "Baixian memang bermulut pedas. Tapi sebenarnya dia sangat manis asal kau tau?" Baekhyun masih mencoba menahan kekehannya agar guru yang sedang menjelaskan tidak merasa terganggu. "Tapi aku tidak percaya" Chanyeol masih menampakkan wajah tidak setuju. Baekhyun menatap Sahabatnya datar. "Dia memang seperti itu. Tapi dia akan berlaku manis padaku walau penyampaiannya yang terkadang terlihat kasar" Chanyeol menatap Baekhyun penuh minat. Mencoba menuntut pernyataan lebih. "Dia sangat misterius" Chanyeol menyela pembicaraan Baekhyun yang masih terus membicarakan kembarannya. Baekhyun menoleh, tersenyum lebar hingga matanya melengkung cantik. Melihatnya membuat Chanyeol ikut tersenyum.

"Menurut kalian, Baixian adalah orang yang misterius. Tapi menurutku, Baixian tidak seperti itu..." Baekhyun dengan perlahan menempelkan pipi berisinya di meja mereka. Dah hebatnya, tanpa sadar Chanyeol mengikuti langkah sahabatnya. "... Mungkin ia tidak terlalu mengerti aku, tapi aku adalah kakaknya. Aku mengerti semua tentang perasaan dan sikapnya"

Namun sedetik kemudian, bibir tipis Baekhyun yang berwarna senada dengan rambutnya mengerucut. "Tapi dia jauh lebih tampan dari pada aku" Dan kemudian, Chanyeol tertawa. "By The Way, menurutmu Baixian akan mengambil eskul apa?" Baekhyun berfikir. Meneliti hobby keseharian kembarannya itu. "Mungkin, Hapkido? Baixian sangat menyukai ilmu bela diri"

Senyum Chanyeol mengembang.

.

Bel pulang berdentang lebih cepat kali ini. Isu-isu tentang guru yang akan mengadakan rapat adalah hal yang paling dinanti oleh siswa. Termasuk empat orang dengan perbedaan sifat. Sikembar byun lalu jangan lupa Chanyeol dan Sehun.

Mereka berniat untuk mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan di Seoul. Semua yang merencanakan adalah yang paling cerewet diantara mereka, Byun Baekhyun. Baekhyun mengangguk-angguk pelan menikmati alunan musik yang disediakan pihak mall. Sedangkan sosok serupa dengannya yang berdampingan dengan Sehun matanya menjelajah setiap sudut mall. Tanpa sadar, matanya berbinar. "Baixian, apakah mall di China serupa dengan mall di Seoul?" Sehun sedikit menunduk agar dapat melihat wajah simungil. Sedangkan yang ditanya tersenyum kecil.

"Sama, kok. Hanya saja jika berjalan ke mall, aku hanya sendiri. Tidak ada teman" Baixian mengedikkan bahunya. "... Jadi disini lebih nyaman. Aku punya teman, walaupun hanya kau, Sehun-ah" Baixian tersenyum tulus. Sehun yang pertama kali melihat Baixian tersenyum seperti itu, Menjadi gemas. Dengan cekatan, Sehun mengusak pelan surai kemerahan disampingnya. Tidak menyadari dua orang didepannya memandang Sehun dan Baixian sambil menyeringai.

"Astaga... Kalian sangat cute!" yang lebih pendek berbicara seperti biasa. Berusaha mengompori. Namun mata bulan sabit yang paling cerewet kembali tersenyum saat melihat kembarannya menggerakkan bola matanya tak tentu arah.

Baekhyun terkekeh pelan. "Baibai..." dan berbisik singkat.

Dan keempatnya melanjutkan jalan dengan berganti posisi. Sikembar berjalan berdampingan didepan sedangkan dua yang lain berjalan dibelakangnya.

Baekhyun masih terus berceloteh mengenai barang-barang mewah yang mereka jumpai. Tangannya masih menggandeng lengan Baixian dengan erat. Tak jarang Baekhyun akan tertawa saat Baixian membuat lelucon dengan wajah datarnya. "Eum.. Baibai?" Baekhyun melepas gandengannya dan berganti menjadi sebuah rangkulan. "... Aku ingin mengganti warna rambut. Menurutmu, warna apa yang cocok untukku?"

Baixian menoleh. Menatap aneh kembarannya. Menggigit bibirnya pelan saat melihat wajah cute Kembarannya yang terkadang membuatnya iri. Kakaknya ini sangat awet muda "Ungu."

Baekhyun kembali tertawa. Padahal Baixian mengucapkan itu -lagi lagi menggunakan nada yang sangat datar. "Kenapa tertawa bodoh?" Baekhyun masih tertawa. Ia meredam tawanya dengan menenggelamkan wajahnya disekitar tas punggung milik kembarannya. "Kau sangat lucu."

Baixian mendesah malas. Baekhyun sangat menyebalkan. "Jangan mengganti warna rambutmu. Itu sudah cocok." Baekhyun tersentak saat mendengar ucapan Baixian yang terdengar ketus. Namun Baekhyun tersenyum singkat.

"Aku terlihat tampan yah?"

Baixian menyernyit jijik. "Tampan? Seorang pemuda tampan tidak akan mewarnai rambutnya dengan merah muda" sekarang dua kembar itu duduk disalah satu kursi foodcourt. Menunggu Sehun dan Chanyeol memesan makanan. Baixian menyentuh ujung poni rambutnya yang berwarna merah. Menyisirnya pelan kemudian menatap Baekhyun. "Pemuda tampan adalah pemuda yang mewarnai rambutnya dengan warna merah kelam agar terlihat gentle. Seperti aku" Baekhyun mengerjap pelan mendengar ucapan Baixian yang tiba-tiba mendadak terlalu percaya diri.

"Kau tampan? Chanyeollie jauh lebih tampan"

Baixian menghela nafasnya. "Oh, Chanyeollie si pangeran idiotmu itu" Baekhyun memukul pelan kepala merah itu. "Dia hanya sahabatku"

Namun wajahnya yang merona tidak dapat membohongi Baixian.

.

Setelah selesai makan siang, keempat pemuda berbeda itu melanjutkan perjalanannya untuk menonton Bioskop. Sekarang ada dua pemuda tinggi dan satu pemuda bersurai merah muda sedang berdebat mengenai film yang akan mereka tonton.

Baixian hanya melipat tangannya dibawah dada. Menonton ketiga orang dihadapannya menunggu siapa yang akan memenangkan perdebatan ini. Walau ia tau pasti pemenangnya adalah saudara kembarnya. "... Chanyeol aku tidak mau horror! Kau tau sendiri aku sangat takut hal berbau mistis?!" yang paling mungil adalah yang paling keras.

Apa yang keras?

Sehun yang berusaha menengahi mereka hanya dapat mengusap wajahnya kasar. "... Ayolah Yeol... Ayo menonton Starwars!" Baekhyun masih keras kepala.

Chanyeol memandang Baekhyun intens. "Film horror itu hanya settingan Baek. Hantunya hanya orang biasa. Manusia Baek, Manusia!"

Sehun panik saat melihat mata Baekhyun mulai berkaca-kaca. Dan jangan lupakan Baixian yang juga terlonjak kaget. "Yach! Baekhyun!" Sehun menarik pergelangan tangan pemuda bersurai merah muda itu. Sehun membungkukkan tubuhnya menyamai setara dengan pemuda mungil. "Aku akan menemanimu, okay?"

Sedetik kemudian, binar mata kekanakkan Baekhyun telah kembali. Baekhyun menarik dirinya untuk masuk kedalam pelukan Sehun. Ia menenggelamkan wajahnya. Dengan senyum yang berbinar, Baekhyun mendongak. "Terima Kasih, Hunnie. Ayo beli tiketnya!" Sehun yang gemas pun mengecup kening Baekhyun singkat. Namun Baekhyun terlihat biasa saja.

Kecuali dua orang dihadapan mereka yang menatap keduanya aneh. "Sehunnie, kita akan duduk disebelah mana?" Baekhyun menarik Sehun menjauh dari dua orang berbeda tinggi yg lainnya, Chanyeol dan Baixian.

Baekhyun tersenyum pada Baixian. "Ayo Baibai" Baixian hanya mengangguk dan membiarkan kembarannya menggandeng lenganya. Namun saat dua kembar itu melewati Chanyeol, pemuda bersurai merah muda itu melirik sinis pemuda jangkung itu dengan menggunakan sudut mata sipitnya.

Chanyeol menghela nafas. Baekhyun, kekanakkan sekali. Hatinya berkata demikian dan kemudian terkekeh.

Disampingnya telah ada Sehun yang membawa dua bungkus popcorn. "Bro, kau akan menonton apa?" Chanyeol mengedikkan bahunya singkat.

"Kau tau, Baekhyun tidak akan kalah kan? Kau bahkan kalah hanya dengan mata berkaca-kaca yang ia keluarkan. Padahal itu hanya gertakan" keduanya tertawa. Melanjutkan langkahnya untuk menyusul sikembar yang sedang memesan tiket.


To Be Continued...

.

Review Please?

.

Thanks To:

[HoshinoChanB][ChanBaekLuv][ ][byun-bi][ParkHyun47][parklili][parkbyun][chanbaeqiss][kukuri][Honeybbh][biggirldiary][anon18][yousee][bcdhl][leeminoznurhayati][not a wacko][RismaSbila][SeiraCBHS][VampireDPS][Fazamy][HyunBee][Aya Nadyaa][ ]