.
.
Disclaimer: Uta no Prince sama bukan milik Riren. But Dating With Tutor is my original story.
Rate: T
Pair : Kurosaki Ranmaru & Ai Mikaze Genre : Romance, school life, and friendship.
Warning: typo, OOC, gak sesuai dengan EYD, adult scene, and many more.
.
.
.
DATING WITH TUTOR
RIREN18
.
.
Langit tampak begitu biru dan matahari bersinar dengan hangat. Cuaca yang tepat untuk berpergian keluar rumah, baik bersama keluarga, sahabat, ataupun orang tercinta. Ai Mikaze, pemuda berwajah 'cantik' ini tampaknya sudah bersiap dengan 'perlengkapan'nya.
Dress selutut berwarna baby blue yang di padu dengan cardigan putih tampak serasi dengan kulit putih Ai. Rambut panjang Ai pun kini di hiasi bandana berwarna putih. Tak lupa Sebuah wedges 3 cm berwarna putih menghiasi kaki jenjang nan mulus milik Ai. Tak lupa Ai ber-make up natural yang tambah membuatnya semakin terlihat seperti perempuan. Tas putih kecil pun tersampir di bahu mungil pemuda manis itu.
Drrrt...Drrrrrt...
Ponsel milik Ai bergetar, menandakan sebuah email masuk datang. Ternyata dari Ranmaru...
From: Kuro_RanmaruRock
Subject: Ohayou ^_^
Ohayou Mikaze kaichou ^_^ sudah siap dengan kencan kita hari ini?. Pastikan kau tampil 'cantik' hari ini ya (*¯font face="Nimbus Mono L, monospace"span lang="zh-CN"︶/span/font¯*). Oh, ya, aku sudah di depan rumahmu.
Ai hampir saja ingin melempar handphone miliknya ketika mendapat email dari Ranmaru. Untung saja hari ini kedua orang tuanya sedang berlibur jadi Ai tidak perlu malu keluar dengan penampilan aneh seperti ini. Segera Ai mengunci seluruh rumahnya dan pergi keluar.
Setelah keluar gerbang, Ai melihat sebuah mobil sport berwarna hitam terpakir manis tak jauh dari pintu gerbang. Ranmaru pun telah menunggunya sambil bersender di dekat pintu penumpang.
"Yo... kau tampak 'cantik' hari ini, Mikaze kaichou."
"Terima kasih, Kurosaki. Bilang sekali lagi, ku pastikan kau akan berakhir di rumah sakit."
"I'm just kidding, right?. Tapi, aku tak menyangka jika kau cocok berdandan seperti ini."
"Sudah jangan membahas itu lagi. Kita jadi pergi atau tidak?"
"Tentu saja. Jika tidak maka aku akan meminta lebih dari ini."
"Apa maksudmu?"
"Rahasia. Nah... silahkan masuk, hime sama."
"Terima kasih, ouji sama."
Ai tersenyum manis dan tak lupa memberi sebuah injakan manis pada kaki kanan Ranmaru dan tentu Ranmaru langsung kesakitan saat wedges yang dipakai Ai mendarat mulus di kakinya. Dengan langkah agak pincang, Ranmaru segera naik ke mobilnya.
"Dasar sadis."
"Biarin. Siapa suruh mengataiku terus. Enak kan rasanya di injak dengan wedges yang ku pakai."
"Dasar menyebalkan. Awas saja nanti ku balas."
"Coba saja kalau berani."
Ai dan Ranmaru terus bertengkar sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan mereka.
.
.
Butuh waktu 1,5 jam untuk sampai di tempat tujuan mereka. Ya... mereka pergi ke sebuah taman ria yang cukup jauh dari Tokyo. Walau jauh dari kota besar tapi taman ria itu tidak kalah bagus dari taman ria yang sudah ternama. Setelah membayar tiket, Ai dan Ranmaru masuk ke dalam taman ria tersebut. Kini keduanya sedang menentukan ingin menaiki wahana pertama yang ingin mereka coba.
"Aku ingin mencoba naik wahana jet coaster."
"Dengan penampilan seperti itu, kau mau naik jet coaster?"
"Memangnya kenapa?"
"Penampilanmu nanti rusak lho."
"Penampilan ku?. Tidak masalah dan lagipula aku tidak memakai wig. Jangan bilang kau tidak mau naik jet coaster karena takut?"
"Si...siapa bilang aku takut. Ayo, kita segera mengantri."
Keduanya pun segera mengantri. Tak perlu waktu lama, Ai dan Ranmaru telah naik di atas kereta wahana roller coaster. Setelah kereta itu bergerak, riuh suara orang-orang yang menaikkinya pun terdengar dari kejauhan.
.
.
Setelah puas menaikki wahana yang menegangkan itu, terlihat reaksi yang berbeda dari Ai dan Ranmaru. Ai tampak baik-baik saja dan terlihat senang meski rambutnya agak berantakan. Sementara Ranmaru terlihat kurang baik. Wajahnya agak pucat dan agak lemas. Ai pun agak khawatir dengan keadaan Ranmaru.
"Kurosaki? Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak terlalu baik. Bisakah kita duduk sebentar?"
"Baiklah. Di situ ada sebuah kursi. Ayo kita duduk di situ."
Kini Ai dan Ranmaru duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih. Ai tidak menyangka jika Ranmaru tidak suka naik wahana yang identik dengan ketinggian dan memacu adrenalin seperti itu.
"Kurosaki, apa kau baik-baik saja?"
"Ya. Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit lemas."
"Syukurlah. Tunggu di sini, aku mau beli minum sebentar."
Ai pun pergi membeli minum untuk Ranmaru dan dirinya. Setelah 5 menit kemudian, dia kembali lagi sambil membawa 2 botol air mineral.
"Ini untukmu, Kurosaki."
"Sankyu."
Ranmaru pun meminum air yang di berikan oleh Ai. Setelah meminum hampir setengah botol, wajah Ranmaru sudah tampak lebih baik dari sebelumnya yang terlihat agak pucat.
"Lain kali kalau kau takut atau tidak suka bilang saja. Jangan memaksakan diri seperti itu."
"Aku tidak takut hanya saja aku sudah lama tidak naik wahana itu."
"Usotsuki."
"Baiklah. Aku agak kurang suka naik wahana itu. Kau puas sekarang, hah?"
"Jujur itu lebih baik, Kurosaki. Tapi, kenapa kau memaksakan diri untuk naik wahana tadi?"
"Karena kau mengejek ku makanya aku terpaksa menaikki wahana itu."
"Maaf kalau membuatmu jadi seperti ini. Tapi, salahmu juga mendengarkan ejekan dariku."
"Sebagai seorang laki-laki aku punya harga diri. Aku tak akan membiarkan seseorang meremehkan diriku terutama kau, Mikaze."
"Oh begitu. Tapi, pada akhirnya kau kelihatan lemah karena kena efek dari naik wahana tersebut. Harga dirimu tidak berarti apa-apa pada keadaanmu yang sekarang."
"Cih."
Orang-orang di sekitar mereka melihat mereka dengan berbagai macam pandangan. Ada pula yang berbisik-bisik tentang mereka berdua.
'Lihat-lihat mereka berdebat. Tapi, mereka pasangan yang serasi,ya. Perempuannya cantik dan laki-lakinya tampan.'
Karena tak tahan dengan keadaan sekitarnya. Ranmaru tanpa sadar menarik tangan Ai untuk pergi dari tempat mereka tadi. Sementara Ai hanya diam mengikuti ke mana Ranmaru membawanya.
.
.
"Selanjutnya kita mau naik apa, Mikaze?"
"Terserah kau saja, Kurosaki."
"Bagaimana kalau naik komedi putar?"
"Baiklah. Tak ku sangka kau suka naik wahana seperti itu."
"Suka-suka aku mau naik apa. Lebih baik itu daripada wahana menyeramkan macam jet coaster dan teman-temannya."
"Ya, ya. Ayo segera ke sana."
.
.
Setelah mengantri hampir setengah jam, akhirnya mereka mendapat giliran namun yang masih tersisa hanya satu patung kuda saja yang bisa di naikki.
"Kau saja yang naik, Kurosaki. Aku akan menunggu di luar."
"Tidak bisa. Kau harusnaik bersamaku."
Ranmaru pun menaikkan Ai ke atas kudanya dan dia pun ikut naik dan kinu berada tepat di belakang Ai. Jika di lihat mereka berdua tampak seperti pangeran dan putri ala negeri dongeng.
"Mama... lihat ada pangeran dan putri sedang naik kuda."
Kata seorang anak kecil ketika melihat Ai dan Ranmaru. Kini Ai merasa malu karena banyak orang melihat dia dan Ranmaru. Untung saja penyamarannya berguna. Tanpa Ai ketahui Ranmaru tersenyum simpul melihat reaksi Ai yang lucu.
"Ternyata Mikaze hime bisa malu juga."
"Urusai. Hime janai yo, baka!"
Ranmaru hanya tertawa renyah ketika mendengar balasan dari Ai.
.
.
Tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat dan perut sudah mulai berteriak minta di isi makan. Itulah yang di rasakan oleh Ranmaru dan Ai. Keduanya pun memutuskan untuk makan di cafe kecil.
"Selamat datang di Kotobuki Family Restaurant. Anda sudah siap memesan tuan dan nona?"
Ranmaru dan Ai secara bersamaan menoleh ke sumber suara. Ya, Reiji, teman sekelas Ranmaru dan Ai.
"Reiji? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku?. Tentu saja membantu orang tuaku bekerja di restoran milik keluargaku."
"Jadi ini restoran keluargamu, ya?"
"Ya begitulah Ai-Ai. Kau tahu? Kau tampak manis hari ini. Apa kau sedang berkencan dengan Ran-Ran?"
"Aku tidak terkejut jika kau mengetahuinya. Soal itu bisa di bilang seperti itu."
"Aku lapar. Bisakah kau merekomendasikannya untukku dan Mikaze?"
"Kebetulan ada menu baru yaitu kare daging spesial. Apa kalian mau mencobanya?"
"Aku mau. Bagaimana denganmu, Mikaze?"
"Aku mau salad buah dan ice lemon tea saja. Lalu strawberry parfait untuk dessertnya."
"Ok. Kau mau minum apa Ran-Ran?"
"Ice lemon tea."
"Baiklah. 1 salad buah, 1 kare daging spesial, 2 ice lemon tea, dan 1 strawberry parfait. Ada tambahan lagi?"
"Tidak."
"Baiklah. Tunggu 15 menit lagi ya. Terima kasih sudah memesan."
Setelah mencatat pesana kedua temannya, Reiji pun segera pergi ke dapur. Kini hanya tinggal mereka berdua.
"Kau yakin kenyang hanya dengan salad buah?"
"Tentu saja kenyang. Aku tak sepertimu yang selalu berlebih memakan makanan yang banyak mengandung banyak lemak dan karbohidrat."
"Biar saja. Lagipula aku masih dalam masa pertumbuhan. Kau sendiri seperti orang kekurangan gizi."
"Matamu katarak, ya?. Aku sangat memperhatikan makanan yang ku makan."
"Mataku masih normal tahu. Sudahlah aku malas berdebat denganmu."
"Yang memulai duluan siapa memangnya?"
"Aku. Kau puas sekarang?"
Ai hanya menampilkan senyum kemenangan di wajahnya. Keduanya terdiam sampai hidangan mereka tiba.
.
.
Kini keduanya sedang menikmati makanan mereka masing-masing. Ranmaru tampak menikmati kare pesanannya dan Ai juga tampak menikmati salad yang di pesannya.
"Kurosaki ada kuah kare yang menempel di pipi mu."
"Di mana?"
"Sebelah kiri."
Ranmaru mencoba membersihkan kuah kare itu tapi salah tempat.
"Sini biar aku yang bersihkan."
Ai pun membersihkan kuah kare dari pipi Ranmaru dengan sebuah tisu. Entah kenapa Ranmaru merasakan detak jantungnya mulai tidak normal ketika tangan Ai menyentuh pipinya. Secara tak sengaja mata keduanya bertemu. Heterekom bertemu dengan sepasang cyan. Tapi, tak lama keduanya saling melempar pandangan ke arah lain.
"Terima kasih, Mikaze."
"Sama-sama."
.
.
Setelah selesai makan, kini Ai dan Ranmaru berniat untuk melanjutkan tur mereka yang tertunda.
"Kau mau mencoba wahana apa, Kurosaki?"
"Entah. Kau ada ide, Mikaze?"
"Bagaimana kalau rumah hantu?"
Seketika tubuh Ranmaru kaku saat Ai menyebutkan nama wahana yang sangat di takuti oleh Ranmaru. Tapi, Ranmaru tak mau di remehkan lagi oleh Ai. Mau tak mau Ranmaru menyetujui untuk mencoba wahana itu.
"Baiklah. Ayo, kita ke sana."
Sesampainya di sana, mereka langsung masuk ke dalam wahana tersebut. Pada awalnya Ranmaru mencoba untuk tetap stay cool dan menahan rasa takutnya. Sementara itu hanya memasang wajah biasa saja. Semakin ke dalam tampak semakin menyeramkan dengan efek-efek suara yang menyeramkan.
"Kau takut, Kurosaki?"
"Ti... tidak. Siapa bilanh aku takut."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Tiba-tiba ada sebuah tangan memegang bahu Ranmaru. Seketika Ranmaru merasa merinding dan menoleh perlahan ke belakang. Tangan yang memegang bahunya ternyata adalah...
"Obakeeeeeeeee..."
Ranmaru jatuh terduduk karena lemas. Sebenarnya Ai ingin tertawa namun dia tahan karena melihat wajah Ranmaru yang pucat dan ketakutan.
"Kurosaki? Daijobu desuka?"
Tak ada respon. Sekarang Ai mulai merasa khawatir dengan keadaan Ranmaru. Ketika memegang bahu Ranmaru, Ai dapat merasakan bahu Ranmaru masih gemetar ketakutan. Tanpa aba-aba, Ai memeluk Ranmaru untuk membuatnya tenang.
"Daijobu. Itu hanya bohongan jadi kamu perlu takut, ya."
Setelah Ai berkata seperti itu, gemetar di tubuh Ranmaru pun berhenti. Setelah di rasa sudah tenang keduanya pun berjalan menuju pintu keluar wahana.
.
.
Setelah keluar dari rumah hantu, keduanya pun memutuskan untuk membeli ice cream. Keduanya pun berjalan-jalan mengitari taman bermain.
"Hei Mikaze kau makan es krim seperti anak kecil."
"Apa maksudmu, Kurosaki?"
Secara tiba-tiba Ranmaru menjilat sudut bibir Ai. Tentu saja Ai merasa kaget atas perlakuan Ranmaru. Kini Ai dapat merasakan ada getaran aneh dalam hatinya. Belum lagi detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
"A... apa yang kau lakukan, aho?"
"Aku hanya menjilat es krim yang ada di sudut bibirmu, baka."
"Kau kan bisa membersihkannya memakai sapu tangan atau tisu."
"Maaf, tapi aku tidak memiliki barang seperti itu sekarang."
"Dasar aho no hentai."
"Terserah apa katamu."
.
.
Waktu pun bergulir dan membawa matahari kembali ke peraduannya. Kini sang rembulan sudah merajai langit malam. Angin pun berhembus dengan lembut.
Kini Ai dan Ranmaru sedang berjalan-jalan di atas pasir pantai. Mereka ke sini atas paksaan Ranmaru. Tentu saja wajahnya Ai cemberut karena keinginannya untuk naik kincir harus gagal karena Ranmaru membawanya secara paksa ke sini.
"Kenapa wajahmu masih cemberut begitu?"
"Cih."
"Aku bertanya baik-baik padamu, Mikaze. Bisakah kau menjawab pertanyaan ku ?"
"Aku tidak mau."
"Dasar childish."
"Diam kau, dasar banci."
"Kau tidak salah bicara ?"
"Tidak. Kau adalah laki-laki yang takut naik wahana yang seru dan takut ketika masuk ke dalam rumah hantu. Berarti artinya kau itu banci."
"Kau mau cari ribut denganku lagi, Mikaze?"
"Iya. Tapi, nanti kau yang rugi karena bisa-bisa kau yang di pukuli oleh orang lain."
"Sial."
Keduanya pun terdiam setelah itu. Hanya ada suara debur ombak yang mengisi gendang telinga keduanya.
"Meski kau menyebalkan tapi aku ingin mengucapkan terima kasih untuk hari ini. Aku senang sekali bisa bermain ke taman ria lagi."
"Ya, sama-sama. Kau juga menyebalkan tapi aku tak menyangka kau begitu perhatian padaku hari ini. Terima kasih juga untukmu."
"Si... siapa bilang aku perhatian padamu, Kurosaki."
"Dasar tsundere."
"Kau juga tsundere, baka."
"Tidak. Sebelum pulang maukah kau berfoto bersamaku ?"
"Tidak mau."
"Kenapa ?"
"Nanti kau menyebarkan fotoku dengan penampilan seperti ini kepada orang lain."
"Tidak. Aku akan menyimpannya baik-baik. Ayolah kapan lagi aku bisa berfoto bersama Mikaze kaichou yang sedang ber cosplay perempuan yang kawaii?"
"Awas saja kalau berani menyebarkan foto itu ke orang lain. Aku berani jamin hidupmu akhir berakhir saat itu juga."
"Tenang saja. Aku juga masih sayang nyawaku. Lebih baik kita cepat berfoto biar cepat juga kita pulang."
"Ya."
Keduanya berfoto dengan background pemandangan laut dan langit malam hari. Ranmaru pun melingkarkan tangannya ke bahu Ai dan pipi keduanya saling bersentuhan. Tak lupa keduanya bergaya peace.
Setelah puas berfoto, Ai pun segera melangkahkan kakinya menuju tempar parkir tapi tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menahan tangannya. Ya... Ranmaru menggenggam tangannya.
"Ada apa Kurosaki? "
Ranmaru hanya diam saja. Ai mulai kesal karena Ranmaru tak menjawab pertanyaannya.
"Bisakah ka..."
"Apa jawabanmu jika aku mengatakan aku menyukaimu?"
Hanya suara angin berhembus dan debur ombak yang mengusik kesunyian di antara keduanya. Pertanyaan Ranmaru sungguh membuat Ai terkejut bukan main hingga membuat Ai tak bisa menjawabnya. Apa jawaban Ai untuk Ranmaru?
Lihat jawaban Ai di chapter selanjutnya ya.
.
.
.
To be continue
.
.
.
Author Note :
Halo minna san Riren balik lagi nih :D. Rasanya udah lama Riren gak update cerita yang satu ini akibat banyak tugas kuliah dan aktifitas Riren di kampus *curhat*. Jujur aja agak bingung mau di lanjut kayak gimana ceritanya soalnya belum dapat insprasi untuk cerita ini. Untuk Yuuki chan, Riren udah buat kelanjutannya khusus untuk Yuuki chan dan para pecinta pair yang satu ini.
Untuk kali ini Riren cukup kan bicaranya soalnya udah malem banget dan besok harus latihan di kampus. Riren mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam ff yang Riren buat dan Riren mohon review nya untuk ff ini karena review dari kalian adalah semangat untuk Riren untuk belajar menulis.
Oyasumi minna san. Matta ne ^_~
Riren
