Tubuh mungilnya bergetar. Menahan perasaan takut yang menjalar. Dihadapannya telah ada sosok yang dicintainya telah terkapar bersimpuh darah diantara kerumunan orang. Pikirannya terlalu panik untuk mengambil sebuah langkah yang tepat. "Bian... Dengarkan penjelasanku..."
Suaranya bahkan masih begitu membekas dibenaknya. Dan ia hanya menatap kosong ambulance yang telah membawa tubuh wanita itu untuk mendapat pertolongan agar bisa terselamatkan.
.
.
Wanita cantik yang pernah mengisi hari-harinya dengan kasih sayang itu bernama Myoui Mina. Wanita cantik keturunan Jepang-Korea itu adalah wanita pujaan seorang Bian Baixian.
Namun Baixian bukanlah sosok yang mampu menyatakan perasaannya secara gamblang. Baixian hanya mampu mendampingi wanita cantik itu dan menjaganya seolah ia adalah barang berharga –faktanya memang seperti itu.
Namun pernyataan seorang Xi Luhan tadi siang mampu mematahkan keyakinan seorang Baixian. "Mina, Aku menyukaimu..." Baixian yang saat itu dapat melihat pancaran kasih sayang dari kedua belah pihak lebih memutuskan untuk menjauh.
"Ibu... Aku ingin kembali ke Seoul dengan ayah dan saudara kembarku.."
Sang ibu tidak rela. Saat itu sang ibu yang sedang fokus memasak langsung mematikan kompor dan berbalik. Menatap putranya yang terlihat sangat lesu. "Apa ada masalah?" namun Baixian menggeleng.
"Aku hanya merindukan mereka dan aku fikir..."
Baixian menelan ludah. "...Aku memilih menetap disana." Matanya mulai berkaca-kaca menatap ibunya. "Kumohon..."
Ibunya tidak menjawab. Ibunya lebih memilih menarik anak kesayangannya itu kedalam pelukannya. Memberikan pelukan hangat untuk pemuda mungil itu. "Kembalilah... Dan pintu rumah ini akan selalu terbuka"
Baixian membalas pelukan ibunya.
— Kau pengecut, Sialan!
.
.
"Aku berbohong –terpaksa pada saudara kembarku sendiri"
Byun Twins
"The Different"
Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, etc.
Genre: Family, Romance, Drama
Rating: T
Warn: TYPO(s) YAOI BOYXBOY
Baekhyun mengenal Chanyeol tidak hanya satu atau dua hari. Namun mereka saling mengenal setelah Baixian dan ibunya pergi meninggalkan Baekhyun sendiri —dengan ayahnya.
Baekhyun paham jika saat itu Chanyeol tidak ingin menonton film yang ingin Baekhyun tonton. Tapi Baekhyun tau, bahwa sahabat raksasanya itu pasti akan menurutinya layaknya puppy besar —Chanyeol menyebutnya seperti itu walau pada awalnya mereka akan bertengkar dan berakhir dengan mata sipit Baekhyun yang berkaca-kaca. Tapi Baekhyun cukup bersyukur karena ia memiliki Sehun yang faktanya akan langsung menuruti keinginannya tanpa harus lelah menunjukan sikap andalannya.
Baekhyun tersenyum tipis. Kadang ia merasa ia terlalu merepotkan kedua sahabatnya itu. Namun...
"Jangan pernah malu mengeluarkan sifat aslimu, Baek... Kita berteman denganmu karena nyaman dengan kepribadianmu"
—yeah mereka berteman karena mereka dapat menghargai masing-masing perbedaan sifat. "Baixian..." pemuda mungil bersurai merah muda itu memanggil sosok yang serupa dengannya. Mereka masih duduk dikursi tunggu jadwal tayang Bioskop. Baekhyun masih terus menggelayut manja pada lengan kembarannya itu. Baixian-pun tampak tidak keberatan. Yang disebut-sebut adik —Baixian memandang sang kakak dengan tatapan penuh tanya. "... aku iri denganmu" Baixian menoleh saat merasakan lingkar manja sang kakak mulai terlepas.
"Kau tumbuh menjadi sosok yang dewasa, Xianlie" Baekhyun mengepalkan jarinya dan memutar dipipi —tidak terlalu chubby milik Baixian dengan lembut. "Aku iri denganmu. Kau bisa terlihat lebih dewasa dariku. "
Chanyeol yang berada dihadapan dua saudara kembar itu tersenyum singkat menatap interaksi keduanya yang begitu manis. Chanyeol dapat melihat dengan jelas pancaran kasih sayang yang dikeluarkan oleh sahabat dekatnya.
Sadar atau tidak, saat Baekhyun mengusal kepalan tangannya dipipi Baixian, Baekhyun tampak lebih dewasa. Dan Baixian sadar.
"...hyung"
Ucapan itu lolos begitu saja tanpa disadari oleh Baixian. Baekhyun berbinar kecil. Dan Baixian tidak mengelak. Baixian mengakui pesona Baekhyun yang begitu kuat. Polos, kekanakkan dan dewasa disaat yang bersamaan menjadi daya tarik tersendiri. "Hey kau memanggilku hyung!"
Dan Baixian tersentak. Pandangannya kembali pada pandangan awalnya –datar. Melipat kedua tangannya didada. Enggan melihat kakak-nya yang begitu senang dipanggil hyung. "Lupakan." ucapan singkat Baixian menjadi penutup acara ngobrol singkat sikembar.
Baekhyun menarik bibirnya melengkung kebawah. Merasa dongkol pada adiknya yang memberikan harapan-harapan palsu. Dan bibirnya tambah melengkung saat melihat sosok jangkung idiot –menurutnya mengambil tempat disebelah kanan Baekhyun. "Hey, Baibai. Jangan terlalu jutek dengan kakakmu sendiri" Mendengar sapaan sok akrab itu, Baixian melirik sosok idiot itu melalui ekor matanya. Melepas lipatan tangannya dan menatap Chanyeol sinis. "Jangan sok akrab denganku." dan kemudian Baixian bangkit. Sedikit membenarkan letak tas punggung miliknya dan lebih memilih menghampiri Sehun yang tampak sedang melihat film-film yang akan segera dirilis.
Surai kemerahan itu bergerak seirama dengan langkah kakinya. Pandangannya begitu tajam. Bukan. Baixian sama sekali tidak berniat terlihat angkuh. Namun sifatnya memang seperti itu. Baixian menghentikan langkahnya tepat disamping Sehun. Baixian mengangkat tangan kanannya yang tersadapat jam tangan rolex miliknya. "Hey, Sehun-ah. Film dimulai sepuluh menit lagi"
Sehun sempat kaget dan akhirnya tersenyum tipis. "Mau masuk?" Baixian mengangkat kedua bahunya acuh. "Nanti saja. Tunggu intruksi dari Baekhyun"
Sehun mengangguk pelan. Terjadi keheningan selama beberapa detik. "Eum, Baixian, Mana Chanyeol dan Baekhyun?" Baixian memutar tubuhnya. Sedikit mengangkat dagunya. Membuat gestur menunjuk dua orang perbedaan tinggi disebrang sana. Baixian tersenyum tipis saat melihat kakaknya menepis tangan Chanyeol yang berkali-kali mencoba mengacak surai merah muda itu. "Sehun. Mereka sangat akrab, yah?" Baixian mendongak. Menatap Sehun mencoba meminta jawaban.
Namun Sehun hanya mengangguk. Dan merangkul Baixian untuk berjalan menghampiri kedua pemuda disebrang sana.
.
Baekhyun membola melihat Baixian yang bangkit meninggalkannya dengan seonggok pemuda jangkung kelebihan IQ sehingga menjadi begitu idiot. Baekhyun menoleh. Mencoba menatap Chanyeol sinis. Namun faktanya, itu terlihat menggemaskan. "Sedang apa kau disini?! aku masih marah denganmu, Chanyeol..." Sikap kekanakkan Baekhyun membuat pria yang lebih tinggi terkekeh.
Telapak tangan besarnya bergerak mengacak surai merah muda itu dengan gemas. Satu kali, Baekhyun membiarkannya.
Dua kali, Baekhyun mulai berdecak sebal.
Dan sekarang kedua telapak tangan itu bergerak mengusak surai merah muda dengan brutal. Jemari lentik Baekhyun berhasil menepis pergelangan tangan Chanyeol berkali-kali.
Namun lama-kelamaan kuwalahan juga.
"Yach!" Baekhyun mencengkram erat pergelangan tangan Chanyeol dengan nafas tersenggal. Surai merah mudanya terlihat acak-acakan. Chanyeol semakin terkekeh geli melihat ekspresi sahabat manisnya itu. "Aku lelah menata rambutku dan kau mengacaknya semaumu? Aku membencimu!" Namun tak berselang lama, Tatapan Baekhyun menjadi tak menentu –gugup. "...Apa?!"
Namun Baekhyun tak menyangka Chanyeol akan menciumnya tepat di pipi berisinya. "Maafkan aku, Tuan Putri. Kau terlalu menggemaskan" dan kemudian terkekeh melihat tatapan kosong sahabatnya.
Baekhyun menurunkan tangannya yang mencengkram pergelangan tangan Chanyeol. Membuka resleting tas-nya dan mengambil Novel. Berniat melanjutkan membaca novelnya. "Yach... Setidaknya ucapkan sesuatu." Baekhyun menoleh kearah Chanyeol dan tersenyum polos.
"Mana sanggup aku marah pada Yeollie"
Chanyeol menggeram tertahan. Menahan rasa gemasnya pada sahabat masa kecilnya itu. Namun hal itu tidak dapat terelakkan. Chanyeol mencengkram pipi berisi Baekhyun dan menghentakannya kekanan dan kekiri secara acak. "Kau! Permen kapas berjalan!"
"Aw! Sakit!"
Dan tiba-tiba kepala Chanyeol terantuk ke belakang. Chanyeol menatap sinis sosok serupa dengan Baekhyun namun berbeda aura itu. "Kau menyakitinya bodoh!" Chanyeol mencibir pelan. Dan Sehun hanya mencoba melerai dengan mengajak teman-temannya itu masuk kedalam studio.
.
Keempat pemuda itu sedang berdiam diri pintu keluar mall. Menatap nanar hujan yang begitu deras. Tidak semua pemuda menatap nanar karena satu-satunya yang menatap penuh binar hanyalah Baekhyun. Namun beberapa detik kemudian ketiga pemuda yang lain kembali sibuk dengan aktifitasnya. Sehun yang asik memainkan ponsel, Chanyeol yang melirik-lirik sahabat merah mudanya –mencari ide untuk menjahili dan Baixian yang asik dengan earphone yang menggantung dikedua telinganya.
Telunjuk Chanyeol terangkat. Bermaksud untuk menyentuh tengkuk si merah muda untuk bermain-main. Namun...
"Oh My... Chanyeol!"
Telunjuk Chanyeol malah berbenturan dengan batang hidung Baekhyun. Yap. Tepat disaat telunjuknya mengenai Baekhyun, si mungil itu berbalik dan terjadilah tragedi-salah-tusuk. Namun Chanyeol hanya tersenyum lebar. "Maaf Baekkie, Aku sengaja" dan jemari lentik Baekhyun dengan ringan menampar kepala Chanyeol yang kosong itu.
Baekhyun berjalan menukar posisi sehingga sekarang ia ada disebelah kiri kembarannya. "Baixian... Aku diganggu terus..."
Baekhyun yang kesal karena diabaikan, menarik kasar earphone biru laut milik kembarannya itu. Baixian mendesis kesal. Melirik kearah kembarannya yang sedang cemberut sebal.
"Apa?" Baixian bertanya dengan polosnya.
Baekhyun mendesis jengkel. "Baixian... Chanyeol terus menggangguku!" Baixian mengerjapkan matanya pelan. "Come on... Kau ingin kusebut 'hyung' tapi jika terjadi sesuatu, aku yang menjadi tempat mengadu" kesal tak dapat pembelaan, Baekhyun hanya mendumel kesal.
"Baixian, Ayo kita terobos hujannya."
Mendengar ajakan Baekhyun, Ketiga pemuda yang lain menyernyit. "Apa?!" ketiganya tersentak kaget saat Baekhyun berteriak membentak. "Aku hanya mengajak Baixian. Jika kalian tidak mau ikut, yasudah! Aku tidak peduli"
Baekhyun membalikkan tubuhnya. Menggenggam erat kembarannya dan berlari menerobos hujan yang tengah mengguyur pusat kota itu. "Yach Yach! Baekhyun-ah!" Baixian menepuk-nepuk pergelangan tangannya yang digenggam erat oleh Baekhyun. Berniat melepaskan namun tetap saja gagal.
"Baekhyun... Daya tahan tubuh kita lemah saat suhu dingin kau lupa?"
Baixian masih terus merayu. Namun Baekhyun seolah bergerak tidak peduli. "Masa bodoh dengan hal itu" Baekhyun berbalik. Masih memegang kedua pergelangan kembarannya. Menatap Baixian dengan binar kekanakkannya. "Yang penting nantinya aku bisa berbagi pelukan hangan dengan kembaranku"
Baixian tersenyum mendengar ketulusan perkataan kakaknya. Dan iapun tidak bisa menolak. "Hey... Byun Twins... Tunggu kami" Itu Chanyeol yang berteriak dengan bodohnya. Berusaha menggapai pergelangan tangan Sehun. "Hey! Aku tidak ingin basah. –Yach!" dan kedua pemuda tampan itu berlari mengejar sikembar yang bermain lebih dulu di bawah derasnya hujan.
.
Baekhyun memangku cemilan yang tersedia diruang keluarganya. Mencicipinya dengan perlahan sesuai dengan aliran film yang sedang ia tonton.
Sekarang hampir tengah malam dan simungil merah muda masih asyik menonton film box office ditelevisinya. Ayahnya dan saudara kembarnya telah tertidur dari satu jam yang lalu.
Beberapa detik kemudian, Kepalanya terantuk kedepan selama beberapa kali. Ia merasa sudah cukup mengantuk. Menutup toples, mematikan televisi tak lupa untuk mematikan lampu ruang santai dan akhirnya memutuskan untuk tidur. Langkah kaki mungilnya tergerak untuk memasuki kamar sang ayah terlebih dahulu. Tanpa mengetuknya, simungil itu bergerak memasuki kamar pria yang sangat dikagumi itu. Baekhyun menggerakkan tubuh sang ayah dengan pelan. Sehingga memaksa pria tua itu membuka kedua matanya yang sangat identik dengan anaknya itu. "Baixian atau Baekhyun?" Baekhyun sedikit mengerucutkan bibir tipisnya saat sadar kalau pikiran ayahnya tidak lagi hanya tertuju dengannya. Namun ia juga harus berbagi kasih sayang dengan kembarannya itu. "Ayah.. mana mau Baixian bersikap seperti ini dengan ayah.." dan beberapa detik kemudian, Ayahnya terkekeh pelan.
"Baekhyun.. Bayi besarku..."
Baekhyun sedikit kesal dengan panggilan sang ayah yang sedari dulu tidak pernah berubah. Bekhyun bergerak mendekati ranjang dan duduk ditepinya. Melipat kedua tangannya didepan dada. "Ayah.. aku tidak sendiri lagi di rumah ini. Aku memiliki adik jadi.. tolong berhenti memanggil aku Bayi Besar!" dan kemudian Byun Seungyoon –ayah Baekhyun terkekeh pelan. "ah jadi kau malu menjadi anak ayah, hm?" Baekhyun memutar bola matanya malas. Dan berjalan mendekati pintu keluar.
"Hey, Baekhyun... kau mengganggu acara tidur ayahmu yang tampan ini"
Baekhyun membuat gesture seolah ingin muntah. "Biasanya kau akan memeluk ayah sebagai ucapan selamat malam, Baekkie." Baekhyun sedikit berfikir. Namun akhirnya pemuda mungil itu berlari kecil menghampiri ayahnya. Yang tentu saja disambut hangat oleh Seungyoon. "Selamat Malam, Ayah.." Baekhyun mengusak wajahnya dipundak sang ayah. "Selamat Malam, Baekhyunnie... Ayah mencintaimu."
Baekhyun menarik dirinya untuk melepaskan pelukan keduanya. Byun Seungyoon mengusak kecil surai anak kesayangannya itu. "Mimpi indah dan Tumbuhlah dengan baik" Baekhyun mengangguk paham dan mulai melangkahkan kaki-kaki pendeknya keluar kamar. Menuju kamarnya dengan Baixian. Mengusap matanya perlahan yang mulai berair. Setiap malam Baekhyun selalu seperti ini. Berpelukan dengan sang ayah dan berakhir menangis karena merindukan pelukan sang ibu. "Aku harus lebih kuat lagi..."
Yah.. Karena sekarang ia mempunyai Baixian. Dan Baekhyun sama sekali tidak ingin terlihat lemah dihadapan sang adik yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk melindungi adik kembarannya itu.
.
Baekhyun mendorong pelan pintu kamarnya. Dan sedikit terkekeh saat melihat tidur kembarannya yang terlihat lebih rapih darinya. Namun dahinya berkerut saat melihat tubuh adiknya yang bergetar kecil; terlihat samar. Namun dengan penuh rasa khawatir, Baekhyun berjalan cepat menuju ranjangnya. Menyalakan lampu tidur dan terkejut saat melihat kembarannya berkeringat begitu banyak. Dirinya panik.
Baekhyun adalah seseorang yang mudah panik.
Baekhyun masih bergerak mondar-mandir sebelah kiri ranjang. Menggigit jari telunjuknyya pelan berusaha mencari langkah yang tepat. "aku tidak mungkin membangunkan ayah karena aku telah mengganggunya tadi..."
Baekhyun mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke tepi pelipisnya. "...Chanyeol. aku butuh Chanyeol" dan dengan cekatan, Baekhyun mengambil ponsel pintarnya. Tidak peduli sudah pukul berapa ini, namun apapun untuk Baixian. Ia rela. Bahkan jika Chanyeol membentak nya nant –"Baekhyunnie.. demi Tuhan ini masih pukul sebelas malam!" Baekhyun sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya saat Chanyeol meneriakinya disebrang sana.
"Chanyeollie.. Tolong aku..."
Baekhyun merasa telinganya akan meledak. "Kau kenapa Baek? Aku akan kerumahmu sekarang!" mendengar ucapan Chanyol yang terdengar panik membuat Baekhyun ikut panik namun terkekeh geli. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya walau ia tau Chanyeol tak akan dapat melihat pergerakan kepalanya. "Tidak. Tidak perlu, Yeollie. Eum.. sebenarnya, Baixian sekarang sedang..." Baekhyun meneliti keadaan Baixian yang sekarang. Menusuri wajah yang sialnya sangat serupa dengannya. "... Tubuhnya bergetar, ia berkeringat dan terus-menerus merintih. Tolong Chanyeol.. ada apa dengan Baixian?"
Hening beberapa saat disebrang sana. "Eum, Baekkie. Sepertinya Baixian hanya terkena demam. Karena kau mengajaknya bermain hujan tadi.." Baekhyun melotot. Sekarang ia yang disalahkan? "Yach!"
Namun Chanyeol tak terlalu mementingkan protes Baekhyun. "Kau cukup mengompresnya dengan air hangat dan ucapkan kata penenang untuknya." Baekhyun mengangguk paham. See? Biarpun Chanyeol idiot, si jangkung itu masih bisa diandalkan. Baekhyun berjalan keluar kamar. Mengambil baskom kecil berisi air hangat dengan handuk kecil yang mengapung.
Telepon genggamnya masih setia ia pegang. Dan sambungannya masih terhubung dengan Chanyeol. Baekhyun mengisi baskom tersebut dengan airhangat yang cukup. Dan baru sadar kembali sambungan telepon masih aktif saat tak sengaja ia mlirik layar ponselnya. "Halo, Chanyeollie?" Baekhyun terkekeh pelan saat mendengar Chanyeol yang menguap. "Kau telah mengganggu tidurku, Permen Kapas! Kau harus bertanggung jawab" Baekhyun mengerucut pelan. Dasar pamrih –pikirnya. Baekhyun menyelipkan ponselnya diantara telinga dan pundak mungilnya. Berjalan pelan menghampiri kamarnya dan kamar Baixian. "Kau selalu meminta upah. Pantas badanmu sangatlah besar" dan bibir tipisnya semakin mengerucut saat mendengar gelak tawa dari ponselnya. "Walaupun aku besar, yang penting aku tinggi. Sehingga terlihat proposional..." Baekhyun menjerit tertahan saat pinggulnya tak sengaja menabrak buffet yang terdepat disebelah kiri ranjangnya. "Sialan...Kau menghinaku gemuk, begitu?"
Baekhyun yang terdengar sinis justru terlihat sangat menggemaskan. "Tak ada yang bilang kau gemuk, permen kapas." Baekhyun yang sudah menahan kesal sedari tadi akhirya memutuskan sambungan terlebih dahulu. Dan beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Menandakan telepon masuk. Namun tak Baekhyun hiraukan karena ia ingin merawat adiknya itu. "sst.. Baixian.. tenanglah. Hyung ada disini." Baixian masih menggeram tertahan –belum sadar jika hyungnya tengah merawatnya sekarang.
Perlahan, jemari lentiknya bergerak memeras handuk kecil secara perlahan. Jemarinya juga menyibak poni kemerahan sang adik yang basah karena keringat. Dan perlahan meletakkan handuk kecil tepat dikening sang adik. "Maafkan aku sudah mengajakmu bermain hujan-hujanan tadi. Aku memang kekanakkan. Aku baru ingat tubuhmu lebih sensitif terhadap hawa dingin..." Setelah selesai, Baekhyun Bangkit sedikit menundukan tubuhnya dan perlahan mengecup singkat kening sang adik yang terhalang oleh handuk. "...Maafkan aku. Tidur yang nyenyak. Hyung menyayangimu."
Pemuda bersurai merah muda itu mengambil ponselnya dan bergerak kedapur. Menggeser layar sentuh bergambar gagang telepon hijau diponselnya. Menandakan ingin mengangkat panggilan seseorang. "Hm, Yeollie" Baekhyun mengapit ponselnya diantara telinga dan pundaknya. Berjongkok berhadapan dengan kulkas. Mencari beberapa makanan yang dapat mengganjal perutnya. "Sedang apa? Sungguh, aku gagal tidur lagi" Namun Baekhyun tidak terlalu fokus. Karena menurutnya, perutnya lebih penting.
Padahal beberapa menit yang lalu ia mengemil makanan toples yang tadinya penuh dan sekarang hampir habis. "Aku sedang makan." Dan Baekhyun berhenti mengunyah saat mendengar Chanyeol tertawa disambungan telepon mereka. "Pantas kau bertambah gemuk, Baek. Makan malam hari dapat menambah berat badan." Baekhyun menggeram kesal.
"Masa bodoh dengan gemuk. Yang penting aku bahagia"
Dan terdengar kembali suara tawa sumbang di sebrang sana. "Baekkie, ayo bernyanyi untukku." Baekhyun menggeleng pelan. "Shiro."
Baekhyun terkikik pelan saat mendengar Chanyeol menggeram kesal."Bersabarlah, Yeollie. Aku harus kekamar dulu." Hening mendadak dan Baekhyun paham kalau Chanyeol sedang menunggunya. Setelah sampai dikamar, Baekhyun berbaring dengan ponsel yang berada disampingnya. "Berbaringlah, Yeol. Aku akan mulai bernyanyi"
Baekhyun mendengus singkat. "Aku tidak menyangka aku akan menyanyikan lagu untukmu tiap malam. Aku ingin bayarannya besok." Dan Baekhyun tersenyum tipis saat mendengar tawa sahabat masa kecilnya itu. Dan Baekhyun mulai bernyanyi.
Tak lama kemudian, Baekhyun tertidur.
Meninggalkan ponselnya yang masih terhubung dengan Chanyeol. Terdengar dari speaker handpone, Chanyeol terkekeh. "Apa-apaan? Dia tertidur sebelum clientnya" hening sejenak. "Selamat Malam, Baekhyunee. Mari bertemu dialam mimpi. Aku mencintaimu"
Cinta...
BYUN TWINS
Kelopak mata itu mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang mulai masuk kemata sipitnya. Mata bulan sabitnya dapat melihat kembarannya sedang berhadapan dengan meja bercermin dan meneliti penampilannya. "Baekhyun..." dan yang dipanggil pun menoleh dengan semangatnya. "ah.. selamat pagi, Baixian." Namun Baixian hanya tersenyum tipis. Pemuda bersurai kemerahan itu kembali memejamkaan matanya. Kepalanya masih pening. Sehingga ia tidak dapat membuka matanya seratus persen.
Baixian menyernyitkan keningnya saat tau si merah muda mengecup keningnya. "Kau tidak perlu kesekolah hari ini. Suhu tubuhmu masih tinggi. Maafkan aku kemarin mengajakmu bermain hujan..." Baekhyun mengusap rambut sang adik yang berkeringat. Baekhyun benar-benar merasa ia adalah kakak saat ini. Dan kemudian berbalik mulai melangkah meninggalkan sang adik. Namun langkahnya terhenti saat lengannya ditarik lembut oleh sosok yang serupa dengannya itu. "Tak perlu meminta maaf. Aku bahagia..."
"Karena kau mau merawatku..." Baixian tersenyum singkat walau terasa sulit. "Terimakasih, Hyung.." Baekhyun terkekeh kecil dan mengangguk pelan. Dan tubuh mungilnya menghilang dibalik pintu.
.
Baekhyun membenarkan letak jam tangannya dan bergegas memasuki kamar mandi. Sedikit membasuh wajahnya yang masih terlihat mengantuk itu –ia sudah mandi, aku berani menjamin karena Baekhyun orang yang cinta kebersihan. Baekhyun sedikit mengecek ponselnya dan mendapati pesan dari Chanyeol dan Sehun yang menanyakan keadaannya. Dengan lihai, jemari lentiknya bergerak menyentuh keyboard sentuh secara tenang. Dan kemudian sedikit terkekeh saat melihat pesan balasan Chanyeol yang aneh itu.
Masih dengan memegang ponselnya serta menyangkutkan headset ditelinganya, Baekhyun berjalan dengan mata terpaku pada ponselnya. Dan langkahnya berhenti mendadak saat dari arah berlawanan. Baekhyun hanya sedikit menggeser posisinya dan berjalan keluar dari toilet.
Sedangkan sosok yang bertabrakan –secara tidak langsung pada Baekhyun menoleh. Mengikuti gerak tubuh mungil itu yang semakin menjauh. Dan kemudian menyeringai kecil. "Aku tau kau ada disini..." dan bergerak memasuki toilet.
.
Baekhyun memfokuskan pandangannya pada Choi Saem yang menjabat sebagai guru fisika sekarang. Baekhyun adalah salah satu sosok siswa teladan sehingga dibalik kepribadiannya yang hangat dan ramah, sifat teladan itu pula yang mampu menaikkan pamor baik pada Baekhyun. Dan ayahnya sendiri mengaku bangga karena Baekhyun bukanlah sosok pemuda labil yang jika mengalami depresi harus mampir ke klub malam atau mengadakan balapan liar. Baekhyun satu kelas dengan Chanyeol dikelas 11-B sedangkan kembarannya satu kelas dengan Sehun dikelas 11-A.
Baekhyun iri dengan Baixian karena kembarannya itu dapat satu kelas dengan Sehun. Dan mendecak miris begitu mengingat ia sekelas dengan Chanyeol. Masalahnya, Chanyeol itu berisik. Dan ia akan menularkan hukuman pada siapapun terutama Baekhyun. Sedikit flashback...
Saat itu pelajaran Mrs. Audrey yang membidangi mata pelajaran sastra inggris. Dan kemudian membagi kelompok dan sialnya, Chanyeol dan Baekhyun menjadi satu. Baekhyun sih oke-oke saja namun...
"Baiklah anak-anak. Tugas kalian cukup mencari sebuah kalimat dengan grammar –"
"Baekhyun, apa kau menonton drama School 2015 semalam? Aku ingin membunuh kang soyoung rasanya" ya. Chanyeol mengajak Baekhyun mengobrol saat Mrs. Audrey sedang menjelaskan. Namun bodonhnya –" benarkah? Apa dia begitu menyebalkan? Aku menyesal ikut ayah menemui rekan perusahaannya. Kau tau sendiri kalau aku sangat menyukai adegan fighting Go eunbyul deng –" yah. Baekhyun menanggapi.
Dan berakhir ketika Mrs. Audrey melempar keduanya dengan penghapus kayu dan mengurangi nilai bintang mereka. Chanyeol sih masa bodo. Dia dikurangi nilai bintang yang bagaimana? Dia saja tidak pernah dapat bintang
Jika mengingat itu, Baekhyun hanya mampu tersenyum kecil. Sudah cukup nostalgianya. Ia ingin fokus belajar.
.
Bel istirahat berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong berebut didalam kantin sehingga untuk sesaat, kantin terasa ricuh. Namun ketiga pemuda berbeda itu –Chanyeol, Sehun dan Baekhyun hanyalah duduk tenang. Kalau kalian menyangka mereka mendadak bos –menyuruh nerd disini membelikan makanan, itu pemikiran yang salah karena faktanya...
Mereka itu siapa?
Mereka lebih memilih mencari tempat duduk terlebih dahulu. Baru setelah lumayan sepi, mereka akan memesan makanan. Kan percuma jika makanan telah ada namun kita hanya bisa menikmati makanan dengan berdiri. Ewh. Itu bukan gaya mereka. Sambil menunggu kerumunan sepi, Baekhyun berniat untuk kekelas sebentar mengambil minumannya yang tertinggal. Namun gerakannya terhenti saat telinga mungilnya mendengar seseorang yang menyebut-nyebut nama saudara kembarnya dengan ponsel di telinganya. Baekhyun menyernyit. Mencoba menguping pembicaraan mereka. "Kau benar. Ia ada di Seoul" Baekhyun mulai menerawang maksud dari percakapannya.
"hm. Tadi pagi aku bertemu dengan Baixian namun dia seperti tidak mengenalku..." Baekhyun masih mencoba berfikir. Sedikit mengintip untuk mempertajam penglihatannya "hey.. tadi aku bertemu dengannya di toilet saat pagi hari.." Baekhyun meletakkan telunjuk lentiknya didagu runcing miliknya –berfikir. "oh jadi dia menganggap aku Baixian..." dan Baekhyun terkikik geli setelahnya.
"Ya... Cepat atau lambat, aku akan menghancurkannya"
Dan kemudian mata sipit Baekhyun membola. "Kau siapa?" gumamnya pelan. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Menahan amarah yang akan membuncah. "hm... kudengar Baixian juga bolos kelas hari ni. Hey yah! Aku juga satu kelas dengannya. Dia masih berandal seperti dulu." Mendengar ucapan orang asing itu membuat Baekhyun menepuk keningnya.
Kaki kecilnya mulai melangkah menjauh. "Astaga... aku lupa memberi tahu guru piket" Baekhyun menepuk keningnya pelan. "kalian tidak akan bisa mencelakai Baixian..."
"Dia mempunyai saudara kembar?" namun Baekhyun tak sempat mendengar ucapan itu. Kaki munginya kembali bergerak melanjutkan langkahnya kekelas dan kembali ke kantin.
Baekhyun menyeringai. "Tak akan bisa selama aku ada disisinya.." dan baru kali ini Chanyeol dan Sehun melihat Baekhyun yang tertawa sinis duduk dihadapan mereka. "Baekhyun-ah.. terjadi sesuatu?" Baekhyun mendongak. Menatap kedua pemuda tampan itu. Lalu menggeleng pelan. "Kalau tiba-tiba sikapku dan sikap Baixian berubah secara bersamaan, menurut kalian –" Baekhyun menunjuk kedua temannya itu " –apa ada suatu hal?"
Sehun yang menjawab pertama. "Mungkin kalian bertukar posisi?" dan Baekhyun mengangguk paham " –ya... bisa jadi sih." Dan kembali dilanjutkan dengan Baekhyun yang menyeringai singkat.
.
Baekhyun mendorong pintu rumahnya dengan kasar. Mata sipitnya melirik kearah ruang santai mereka dan melihat saudara kembarnya sedang menonton acara berita harian Korea Selatan. Dan tanpa dosa, Pemuda bersurai merah muda itu menarik lengan saudara kembarnya. Menaiki tangga dan memaksa pemuda itu untuk berpakaian rapih.
Baekhyun sendiri masih memakai seragam sekolah namun ia rasa itu tak apa jika dibandingkan kembarannya yang hanya memakai piyama. Setelah kembarannya keluar dari kamar, Dengan cepat Baekhyun kembali menarik pergelangan tangan surai merah pekat. Memasuki mobil dan berjalan menembus keramaian kota Seoul.
.
Kedua saudara kembar itu sekarang sedang berada disalon yang sama dan tempat duduk yang bersebelahan. Baixian masih dengan raut wajah terburuknya mendesah kesal saat penampilannya dimake over abis-abisan. Rambut merah pekatnya telah berubah menjadi cokelat muda sedangkan saudara kembarnya merubah warnanya menjadi warna hitam. Dan yang lebih parahnya, rambutnya sedikit di curly [bisa bayangkan baekhyun di TLP Japan] sehingga sekarang Baixian lebih memilih menutup matanya.
"Buat ia begitu mirip denganku"
Yeah. Itu perintah mutlak dari sang kakak.
Matanya mulai pegal karena terpejam. Namun satu persatu beban dikepalanya mulai terangkat. Baixian membuka matanya. Menatap cermin dan membuka mulutnya seperti orang dungu. "Wow Baixian... Aku sangat mirip denganmu!" itu suara lengkingan dari Baekhyun. Dan Baixian hanya mengangguk untuk membalasnya. Baekhyun menjentikkan jarinya meminta salah satu pelayan. "Aku ingin kontak lensa yang sama dengan mataku.." Baekhyun menunjuk matanya. "... dan tolong pasang pada mata sosok serupa denganku itu."
Baixian masih tidak paham...
.
...
..
Baixian dipaksa bangun pagi-pagi hai oleh sang kakak. "Baekhyun.. jangan terlalu tebal!" Baixian terus mengoceh pada sang kakak yang dengan seenaknya memoleskan beberapa makeup pada wajah naturalnya. "Selesai" Baekhyun memekik kegirangan. Mereka sama-sama memandang sosok mereka di cermin. Dan secara serempak, keduanya memutar tubuh. Saling berhadapan. Baekhyun –bersurai hitam memiringkan kepalanya dan Baixian –Bersurai cokelat muda melipat kedua tangannya dibawah dada menatap sosok dihadapannya dengan lekat pula. "Aku benar-benar heran..." jemari Baekhyun terangkat menelusuri pipi sang kembaran. "kau sangat mirip denganku." Baixian tertawa kecil –mengejek. "Kita itu kembar, Baek" Baekhyun terkekeh kecil. Mengangguk tanda setuju.
"Dengar Baixian..." masih dengan raut angkuhnya, Baixian mencoba mendengar perkataan Baekhyun. "Ayo kita bertukar peran." Baixian membolakan matanya.
.
.
" Apa maksudmu?"
.
.
Baekhyun melepas pelan nametag yang tertera didada sebelah kirinya. Dan perlahan memasangkan nametagnya pada seragam sang adik "Kau berpura-puralah menjadi aku dan aku akan berpura-pura menjadi kau"
.
.
Baixian menyentak tangan Baekhyun. Mencoba mencegah hyungnya memasangkan nametag dengan hangul ' Byun Baek Hyun ' itu. Namun sayang, Nametag telah terpasang dengan rapih. "Aku hanya ingin melindungimu..."
.
.
Karena kau adalah adik kesayanganku
.
.
...
To Be Continued...
...
..
.
A/N : Agak mirip sama drama Who Are You tapi bukan berarti keseluruhannya sama ya. Padahal awalnya Cuma pengen bikin fic ringan yg gaada konflik tapi... kayanya garing ah kalo gada konflik. Dan satu lagi mungkin FF ini gakan panjang-panjang kali ya... paling soal chap dibawah 10 . review please? Ga sempet check ulang jadi maap banyak typo xV
