Genre: Action (Real) dan Humor (Main), Sport (Car Racing & Tuning), Drama (Tidak yakin)

Rating: M (bahkan bisa saja MA)

Warning: Typo, OOC, Not canon, Non KBBI, Gaje, dll dsb

Pairing: Masih belum ada, sampai episode ini


Disclaimer:

Shutokou Battle dan Kaido Battle Series © Genki

Drift Spirits © Bandai Namco

High School DxD © Ichiei Ishibumi (Visual) & Miyama-Zero (Ilustrasi)

Initial D © Shuichi Shigeno

Wangan Midnight © Michiharu Kusunoki


"Drift": Talking / Bicara

'Drift': Thinking / Berpikir / Mental Communication / Telepati

Drift: Pesan / SMS / Telepon

*Drift*: Efek Suara

{Drift}: Talking / Bicara (Monster / Sejenisnya)

{Drift}: Thinking / Berpikir (Monster / Sejenisnya)

[Drift]: Legenda / Keterangan khusus

(Drift): Comment para pembaca / author / breaking the 4th wall comment


Akhirnya, chapter perdana ini selesai juga, sempat mencari beberapa refernsi untuk menemukan lawan yang pantas, namun karena nggak dapat, jadinya gua harus ya...begini dah.

Oke...disamping itu, gua cukup salut dengan view, walaupun baru satu review (sebenarnya dua, namun yang satu dari review forum DRSP (Drift Spirits) yang baru saja terbentuk, dan itu karena ceritanya nan langka (Seriously, Highschool DxD yang standarnya iblis punya sacred gear dan harem digabung dengan Initial D yang notabenenya fokus ke balapan?)

Dan, selain itu, mungkin gua akan membutuhkan beberapa bantuan dari para sesepuh-sesepuh penulis fanfic (Reader: Woi!; Author: Maaf) dalam masukan maupun saran.

Dan, oh waktunya menjawab review chapter kemarin (Reader: Kemarin ndasmu -_-) :

Running Until 300KMH : Harap maklum, memang disengaja oleh saya alurnya seperti itu, karena berfokus pada kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi Valletta. Semoga chapter berikutnya bisa memuaskan dahaga akan fanfic balap bahasa Indo (yang menurut saya kurang).

Oke...dengan itu, ayo kita mulai saja ceritanya


SHUTOKOU BATTLE: INTO FAITH

Arc 1: The Beginning of Legend (Awal Legenda)

Episode 1: Welcome (Selamat Datang)

Shiodome Underground PA, Tokyo

11:30 pm

Normal POV

Sebuah Nissan Skyline GT-R V-Spec ungu metalik terlihat sedang berkeliling di dalam sebuah PA tanpa tujuan.

'Dimana itu mobil Atenza?' pikir Valletta yang sedang kebingungan mencari sesuatu.

Setelah dua putaran penuh mengelilingi seluruh isi PA, tiba-tiba dia melihat sebuah mobil yang dia yakini sebagai Mazda Atenza di sebelah kirinya.

*SKITTTTTTTTTT!*

Dan dengan segera, Valletta langsung membelokkan mobilnya dan mengerem persis depan sebuah mobil yang dia duga sebagai Mazda Atenza hitam tersebut. Setelah mematikan mesin mobilnya, dia pun langsung keluar dari mobilnya. Didepannya menanti seorang pria berusia paruh baya yang benar saja duduk di depan mobil Atenza hitam tersebut.

"Ah...ternyata kau Valletta, aku kira kau keasyikan balapan di Tokyo Metro Highway tadi," gumam pria berusia paruh baya tersbut.

"Keasyikan?" tanya Valletta dengan nada meninggi sebelum dia menghela nafasnya, "Paman Tsuchi...lain kali sms saya kalo paman pake Atenza, kan ribet jadinya. Sampai-sampai gua harus mutarin seluruh area PA bawah tanah ini dua kali lagi untuk cari paman," lanjutnya.

Adapun pria paruh baya yang dikenal sebagai Paman Tsuchi ini hanya tersenyum simpul mendengar keluhan Valletta, "Maafkan aku Valletta-san, paman tadi keasyikan ngobrol dengan teman paman di atas jadinya lupa sms," ujarnya.

Valletta pun tersenyum mendengarnya, "Baiklah, maafkan saya atas emosi saya tadi. Hmmm, gua langsung to the point aja, apa paman akan mengantarkanku ke pemilik bengkel baru milik paman?" tanyanya to the point.

"Iya, akan paman antarkan menuju ke sana, tapi nanti pagi. Kamu pasti capek kan berkendara 12 jam nonstop dari Fukuoka?" balas paman Tsuchi yang melihat kondisi Valletta yang sudah letih.

"Sebenarnya sih, hanya 4 jam paman. Itu pun juga saya dari Nagoya," jawab Valletta sekenanya.

"Ah...begitu ya," ujar Paman Tsuchi mendengarnya, "Oh, kalau begitu bagaimana bila Valletta-san menginap sebentar di rumah paman?" ajaknya.

"Apa tidak apa-apa nih Paman?" tanya Valletta yang ragu-ragu akan penawaran dari Paman Tsuchi.

"Tidak apa-apa...pasti Bibi Miwa akan senang dengan kedatanganmu kok," rayu Paman Tsuchi.

Setelah mempertimbangkan untung-ruginya, Valletta pun dengan segera langsung mengiyakan ajakan sang paman dan segera masuk ke dalam mobilnya. Beberapa saat kemudian, Valletta menghidupkan mesin mobilnya dan pergi mengikuti Paman Tsuchi yang mengendarai Mazda Atenza.


Rumah Paman Tsuchi, Hakone

00:40 am

Normal POV

Dua mobil terlihat menghadap didepan garasi yang persis berada disebuah rumah dengan desain sederhana khas orang Jepang. Dua mobil yang ternyata adalah mobil Skyline milik Valletta dan Atenza pinjaman milik Paman Tsuchi yang menunggu pintu garasi dibuka.

Dari garasi tersebut, terlihatlah seorang wanita paruh baya dengan mengenakan baju daster yang memberikan jalan untuk kedua mobil itu masuk.

"Ah...aku kira kau berbohong saat kau mengatakan ingin mengantar Valletta ke sini," ucap sang wanita yang membuka pintu.

"Astaga anata [1], aku tidak akan menipumu ketika aku mengatakan Valletta, apa kau pikir aku ini tukang tipu?" keluh Paman Tsuchi saat keluar dari mobilnya.

"Heh...aku kan tahu kalo kau biasanya sering keluyuran di Shibakoen [2], terus baru balik jam segini," balas wanita tersebut.

"Sebenarnya Bibi Miwa...Paman Tsuchi hanya lupa memberitahukan mobil yang dia akan bawa saat nanti ketemu, makanya saya datang agak terlambat," sanggahValletta sambil membela Paman Tsuchi.

"Astaga Valletta-san...bibi lupa. Bibi menyita kunci mobil Legacy Wagon milik paman payah ini," kata Bibi Miwa sambil menunjuk ke Paman Tsuchi.

"Hey!" teriak Paman Tsuchi, "Salah sendiri nyita kunci mobilku di saat Valletta-san akan datang," balasnya.

"Yeee...kupret. Lu sendiri bukannya tidur buat nyari nafkah besok malah keluyuran bareng teman-teman paman, minum bareng lagi," balas Bibi Miwa yang tak mau kalah.

"Wah wah wah wah, paman, bibi, jangan berantem disini, ntar tetangga pada bangun semua. Kalo bangun semua kan bisa berabe jadinya," lerai Valletta, "Lagipula gua mau tidur ini, udah ngantuk," lanjutnya.

Paman Tsuchi dan Bibi Miwa langsung menghentikan perang mulut di antara mereka sebelum mereka berdua menghela nafasnya untuk menenangkan diri mereka sejenak. Sejurus kemudian Bibi Miwa mulai membuka mulutnya.

"Ah, maafkan kami atas kejadian tak mengenakkan ini Valletta-san, mari masuk," ucap Bibi Miwa sambil menyikut bahu Paman Tsuchi. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah.

~Timeskip~

Rumah Paman Tsuchi, Hakone

06:40 am

Normal POV

[Alarm BGM: SUM 41 – Grab The Devil By The Horns and Fuck Him Up The Ass]

(Reader: Ini serius nih judul lagu?)

(Author: Ini serius bro, lagu instrumental sih)

(Reader: Eh buset -_-, judul lagu macam apa ini?)

(Author: Ya, jangan tanya gua...)

Bunyi alarm bernuansa heavy metal pun terdengar di sebuah kamar yang ditempati sementara oleh Valletta.

"Hoaaaaaaaaam, oh udah pagi," ujar Valletta saat tersadar dari tidurnya. Dia pun kemudian menatap bunyi heavy metal yang berasal dari hpnya dan kemudian menonaktifkannya.

'06:40 am ya...tumben gua agak sedikit telat,' gumamnya saat melihat jam yang ada di hpnya. Beberapa saat kemudian dia pun mendengar bunyi ketukan dari luar pintunya.

"Valletta-san, makanan sudah siap," terdengar suara Bibi Miwa.

"Iya bi, saya segera turun," balas Valletta sambil meminum botol aqua yang masih disimpan dalam tasnya. Beberapa saat kemudian, dia pun keluar dari kamar tersebut untuk segera menyantap makanan.

Valletta tidak langsung menuju ke ruang makan namun menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Valletta pun menuju ke ruang makan. Sesampainya di sana, Valletta pun disambut oleh sayur sop.

"Wah...Bibi, beneran sayur sop ini?" tanya Valletta yang kaget karena Bibi Miwa bisa membuat masakan khas Indonesia.

"Hahaha...khusus untuk sepupu Toshihiro dari Indonesia. Yah sekali-kali buat masakan rumahan buatan para ibu-ibu Indonesia lah. Gini-gini Bibi juara kontes masakan khas Indonesia se-kota Hakone," balas Bibi Miwa.

"Wah...jadi malu saya...dibuatkan makanan oleh chef terbaik," ujar Valletta sambil terkekeh-kekeh, "Oh, Paman Tsuchi dimana?" tanyanya.

"Oh, dia...paling-paling paling sedang memanaskan mobil," ujar Bibi Miwa dengan sedikit datar. Dan benar saja, raungan mesin mobil pun terdengar. "Eh, Valletta-san jangan ditatap saja supnya, ayo makan," rajuk sang Bibi dengan senyum ramahnya sambil mengambil beberapa lauk.

"Baiklah Bibi..." Valletta pun kemudian mengambil nasi. Setelah mengambil beberapa lauk pauk, dia pun berdoa sejenak.

"Itadakimasu [3]," ucap Valletta dan Bibi Miwa bersamaan sambil menyantap makanan dihadapan mereka.

Beberapa saat kemudian, mereka menghabiskan makanan mereka dan segera membersihkan makanan mereka. Di saat itulah, Paman Tsuchi tiba.

"Valletta-san, ntar sebelum kau ke bengkel, pergilah terlebih akan ke Kuoh Academy dulu. Kau tidak keberatan ke Kuoh Academy kan?" tanya Paman Tsuchi.

"Nggak sih, tapi apa kaitannya Kuoh Academy dengan bengkel Paman di Hakone?" tanya Valletta.

"Oh, dia itu pemilik baru dari bengkel tersebut. Dan murid Paman itu merupakan pembina klub mekanik di Kuoh Academy. Dan dia juga masih berusia muda, kurang lebih sih sedikit lebih muda darimu. Dan dia yang pegang kunci bengkel," balas Paman Tsuchi.

"Oh, baiklah. Tapi mungkin ga sekarang, soalnya saya mau nyari rumah yang murah dekat sini buat tinggal, kasihan ntar Paman ama Bibi, masa saya jadi freeloader di sini," ujar Valletta.

"Eh, Valletta-san jadi mencari tempat tinggal baru?" bunyi Bibi Miwa agak keras sebab dia merasa cukup kaget akan perkataan Valletta barusan.

"Iya, Bi. Kebetulan saya ada cukup uang untuk mencari tempat tinggal baru. Soalnya saya tidak mau menyusahkan bibi," balas Valletta.

"Wah sayang, padahal bibi sudah menyiapkan kamar kosong buat Valletta-san," ujar Bibi Miwa dengan nada kecewa.

"Maaf ya bibi, terima kasih atas penawarannya tapi saya mau hidup mandiri..." balas Valletta, "Walaupun kalau ada sisa makanan segar yang dibuat boleh sih," lanjutnya sambil nyengir.

Bibi Miwa dan Paman Tsuchi pun tertawa mendengarnya.

'Dasar otak gratisan,' pikir Paman Tsuchi.

"Tenang saja, Valletta-san. Bibi akan usahakan mengirimkannya seminggu sekali...ga apa-apa kan?" tanya Bibi Miwa.

Mata Valletta pun berbinar-binar, "Wah, makasih Bibi. Itu juga sudah cukup," ujarnya.

"Oh...tidak apa-apa, ini juga ucapan kasih sayang Bibi untuk Valletta-san."

Seklias Paman Tsuchi tersenyum, namun ada perempatan di belakang kepalanya, 'Kampret...giliran dia dikasih, sedangkan gua malah disuruh masak sendiri. Toshihiro...Toshihiro, ga lu, Chinatsu, sampai-sampai dia pun dimanjain juga, kapan suamimu ini dimanjakan?' pikirnya kesal.

"Oh, Valletta-san jadi berangkat sekarang?" tanya Bibi Miwa yang merasa sedih karena Valletta harus pergi.

"Iya, tapi abis mandi. Soalnya belum merapihkan kamar ama tas bawaan."

Bibi Miwa tertawa mendengarnya, "Pantas ada yang bau, belum mandi ya...hihihi. Kirain suamiku yang dodol [4] ini," ujarnya.

"Astaga! Woi, gua udah mandi coeg!" Teriak Paman Tsuchi yang kesal karena diledek oleh ucapan Bibi Miwa.

'Paman Tsuchi yang sabar ya. Mungkin Bibi Miwa agak gitu, tapi sebenarnya dia sayang kok sama Paman, yah bisa dibilang agak-agak tsundere sih,' pikir Valletta disertai tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

"Paman, Bibi, saya mandi dulu ya," ucap Valletta, sambil berlalu Paman Tsuchi dan Bibi Miwa menuju kamar mandi.


Kompleks Perumahan, Kuoh, Distrik Hiratsuka, Prefektur Kanagawa

02:40 pm

Normal POV

Dengan langkah santai, seorang pria muda dengan baju kaos oblong putih dan celana sport panjang hitam dan pria paruh baya berjalan menuju ke sebuah rumah standar bercat biru.

"Nah ini tempatnya," ujar pria muda tersebut yang ternyata adalah Valletta yang baru saja mendapatkan tempat tinggal barunya.

"Wah, tempatnya cukup strategis juga. Aku tidak menyangka kalau Valletta-san akan mendapat tempat sebagus ini dengan harga yang lumayan murah," puji pria paruh baya yang ternyata adalah Paman Tsuchi.

"Hahahaha...biasa saja Paman Tsuchi," ujar Valletta merendah.

"Ya, setidaknya lebih baik rumah sendiri daripada apartemen, sewanya ribet. Tapi sayang sih, agak lumayan juga jaraknya dari bengkel sih."

"Iya juga sih Paman Tsuchi, tapi kan Jepang macet ga separah di Indonesia macam Depok-Bekasi (Valletta: Walaupun juga itu sebenarnya lebih disebabkan karena meme-meme mengejek yang datang dari para penduduk daerah tersebut; Author: Lha, lu kan mantan daerah Depok; Valletta: Author, ngapain lu komment keluh kesah gua? Bukannya ngedit beberapa tulisan malah ngoment gue, sono balik; Author: Iye.). Ah Paman, bisa bantu aku untuk merapihkan rumah sebentar tidak?"

"Hmmm...baiklah. Daripada gua dibanteg ama istri gue hidup-hidup."

~Timeskip~

Kompleks Perumahan, Kuoh, Distrik Hiratsuka, Prefektur Kanagawa

04:52 pm

Normal POV

Dua jam berlalu setelah Valletta dan Paman Tsuchi memindahkan barang-barang bawaan yang sederhana dan membersihkan beberapa sudut rumah yang masih kotor, kini terlihatlah rumah baru milik Valletta yang bersih.

"Haaaah...gile, capek juga rebes-rebesin rumah," ujar Valletta yang kini berbaring di sebuah sofa.

"Ya, setidaknya sih, ini rumah sudah cukup bersih sebelum kau membelinya," balas Paman Tsuchi yang kini duduk bersila.

"Ah, Paman Tsuchi, mengenai karir Paman sebagai hashiriya, Paman beneran pensiun?" tanya Valletta secara tiba-tiba.

Orang yang ditanyakan hanya tersenyum mendengarnya, "Iya, Paman berencana untuk pensiun dari dunia balap jalanan. Jadinya, Paman serahkan kau untuk mengajari dan mengawasinya. Jangan salah, Paman tahu reputasimu sebagai pembalap berbakat daerah Fukuoka dari teman Paman, walaupun kau lebih berbakat sebagai mekanik karena kau lebih sering mengurus mobilnya Toshi dan Chinatsu."

Valletta pun tersenyum mendengar sedikit pujian dari Paman Tsuchi, "Aku mengerti maksud Paman," dia menghela nafasnya sejenak sebelum senyumnya berubah menjadi lebih sayu, "Tapi, kini mereka sudah meninggal karena kecelakaan tragis tersebut."

"Aku turut berduka cita atas kejadian tersebut, baik sebagai Paman maupun sesama hashiriya. Pasti sangat sulit bagimu untuk menerima kehilangan tersebut."

"Terima kasih atas ucapan belasungkawanya, Paman."

"Sama-sama."

Paman Tsuchi kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.

"Kau tidak apa-apa sendirian di sini?" tanya Paman Tsuchi sebelum membuka gagang pintu.

"Tidak apa-apa, lagipula mau nyoba buat makan sendiri sekalian mencari beberapa barang," ujar Valletta santai, "Oh, sebelum Paman pergi, saya mau nanya nama pemilik baru bengkel Paman siapa ya?"

"Haruka, Miyazaki Haruka."

"Baiklah, hati-hati di jalan paman."

Beberapa saat kemudian, Paman Tsuchi pun berlalu dan menutup pintu rumah, meninggalkan Valletta seorang diri yang kemudian meneteskan air matanya.

'Maafkan aku Paman. Sebenarnya, ini adalah rumah Toshihiro dan Chinatsu saat mereka masih berada di Kuoh,' gumam Valletta sambil merenung. Usut punya usut, kunci rumah itu ternyata adalah isi dari kotak yang diberikan oleh Toshihiro sebelum ajalnya (bersama Chinatsu) yang tragis. Dia pun kemudian meletakkan kotak tersebut di dekat TV kemudian membuka telepon genggamnya dari dalam tasnya. Sesaat dia membaca isi konten dalam telepon genggam tersebut sebelum dia tersenyum.

"Hmmm...mungkin melihat balapan lokal setelah makan malam kelihatannya akan bagus, sekalian liat situasi," gumamnya sambil melihat jam.


Taikan Pass (Toyo Tires Turnpike), Hakone

10:52 pm

Normal POV

Nissan Skyline yang dikemudian oleh Valletta berhenti di sebuah tanah yang agak luas, dimana hanya sedikit orang yang berada di sana. Beberapa saat kemudian, Valletta keluar dari mobil tersebut.

"Yap, di sini tempat yang cukup bagus untuk mengamati," gumamnya sambil menganggukkan kepalanya.

Valletta kemudian mengambil termos minuman dan menuangkan air panas dari dalam termos ke dalam sebuah gelas berisi kopi instan yang sudah dia tuang sebelumnya. Baru saja dia hendak mengambil sendok untuk mengaduk, mendadak scanner radio yang dia pasang di dalam mobilnya berbunyi.

"Jun, disini checkpoint tiga, Hakone Emperor alias Mirage Valletta masih berada di depan dari Okami. Jarak mereka cukup jauh, sekitar 1 setengah mobil," bunyi suara dalam radio tersebut.

'Anjtit, Mirage Valletta? Kampret, ada yang pake nama gua sebagai nama pembalap,' Valletta terkejut saat mendengarnya. Beberapa saat kemudian...

*VROOOOMMM! VROOOOOOOOOOMMM!*

Terdengar bunyi raungan mobil mendekati tempat yang sedang Valletta tempati, yang ternyata adalah sebuah mobil yang merupakan replika dari salah satu mobil balap D1GP musim 2015. Spontoan saja, mata Valletta membulat melihat mobil yang melewatinya.

'Demi Gunung Taikan! Fuck, itu kan mobilnya Yoichi Imamura di season 2015! Sejak zaman kapan Hakone Emperor mengendarai mobil yang dimodif kaya gitu! Udah mesin supercharger PH9, 690 hp (700 ps) lagi, ya kelar si Okami.' pikir Valletta dalam hatinya.

Beberapa saat setelah melihat mobil tersebut, Valletta langsung kembali ke kopi instan yang belum dia seduh tanpa memperhatikan mobil lawannya yang melintas.

"Haah...Langsung balik aja gua, abis gua minum kopi ini," gumam Valletta pelan sambil meminum kopinya.


The next day

Kuoh Academy, Kuoh, Distrik Hiratsuka, Prefektur Kanagawa

01:52 pm

Normal POV

Kuoh Academy, sekolah ini dulunya adalah sekolah prestisius yang dikhususkan untuk anak perempuan. Namun sejak beberapa bulan terakhir, sekolah bergaya Eropa ini menerima murid laki-laki tanpa diketahui alasannya. Walaupun begitu, sekolah ini masih didominasi oleh perempuan dengan perbandingan 7:3 dan dikenal sebagai salah satu sekolah dengan prestasi terbaik, baik secara akademis maupun non akademis.

'Ini Kuoh Academy? Anjrit, gua malah berpakaian kaya gini lagi, kupret,' pikir Valletta sambil menggelengkan kepalanya melihat sekolah yang dimaksud oleh Paman Tsuchi.

Baru beberapa detik setelah dia menggelengkan kepalanya, dia disambut oleh seorang murid perempuan berambut bob hitam.

"Permisi," ucap perempuan tersebut dengan sopan, "Ada keperluan apa sampai anda datang ke Kuoh Academy?"

"Oh, saya ingin bertemu dengan pembina klub mekanik di sini. Apakah dia masih ada?"

"Oh, nona Haruka. Untuk keperluan apakah bapak..." perkataan murid perempuan tersebut sebelum terpotong.

"Nona, jangan panggil saya bapak, Valletta saja cukup, lagipula saya masih muda," potong Valletta. Sejenak murid perempuan tersebut bingung ketika Valletta memperkenalkan namanya.

"Er, kenapa?"

"Oh, maafkan saya, Valletta-san," respon murid perempuan tersebut sambil meminta maaf, "Valletta-san ada keperluaan apa dengan nona Haruka?" tanyanya.

"Oh, ini mengenai bengkel milik Paman Tsuchi."

"Oh...Paman Tsuchi yang instruktur mekanik itu," ujar murid perempuan tersebut, "Baiklah akan saya antarkan."


Gedung Klub Mekanik, Kuoh Academy, Kuoh, Distrik Hiratsuka, Prefektur Kanagawa

02:00 pm

Normal POV

"Valletta-san di sini tempatnya. Saya pamit dulu, ada urusan lain yang harus kuselesaikan," ujar murid perempuan tersebut.

"Ah, terima kasih...ummmm..."

"Souna. Nama saya Souna Shitori, kebetulan saya ketua OSIS di sini," ujar murid perempuan tersebut yang memperkenalkan dirinya sebagai Souna Shitori.

"Ah, terima kasih Souna...apa boleh saya memanggilmu dengan Souna-san?" tanya Valletta yang tampak masih mencoba untuk menghilangkan rasa ragunya.

"Tidak apa-apa, Valletta-san. Saya pamit dulu," ujar Souna yang kemudian berlalu meninggalkan Valletta.

Sesaat setelah kepergian sang ketua OSIS (aka Souna), Valletta segera mengetuk pintu.

"Sebentar, kubukakan pintunya," terdengar suara dari dalam pintu. Kemudian pintu terbuka dan tampaklah seorang wanita berambut panjang dengan diikat ponytail mengenakan baju khas mekanik yang masih merapihkan bajunya.

"Ah Valletta, untung saja..." ucap perempuan tersebut sebelum terpotong melihat siapa yang berada di depan pintunya.

"..."

"..."

Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain sebelum akhirnya sang mekanik perempuan menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.

"Ah, maaf...maaf," ucapnya panik, "Aku kira anda adalah Valletta."

"Er...Miyazaki Haruka," ucap Valletta dengan gugup.

"Eh, darimana anda mengetahui nama lengkap saya?" tanya mekanik perempuan alias Haruka dengan terkejut.

"Er...sebenarnya Paman Tsuchi memberitahukan saya," balas Valletta.

"Hmmm...Tsuchi-sensei ya," ucap Haruka sambil menganggukan kepalanya, "Apakah anda ingin memberikan surat tantangan balap kepada Valletta?" tanyanya kembali sebelum dia tersadar akan sesuatu.

"Kau...kau orang yang dimaksud oleh Tsuchi-sensei sebagai guru pembina?" Teriak Haruka yang baru sadar atas maksud kedatangan orang di depannya.

"Sebenarnya sih, yang dimaksud Paman Tsuchi adalah mekanik bengkel milik Paman Tsuchi, er...maksudku milik Haruka-san."

"Ma...maaf, silahkan masuk..." ucap Haruka memohon maaf sambil mempersilahkan pemuda di depannya (Valletta) masuk.

Valletta pun masuk kedalam gedung tersebut. Pemandangan interiornya cukup standar untuk kelas bengkel sederhana. Dia pun kemudian melihat sebuah mobil Mazda Roadster berwarna merah dengan penampilan standar dan sebuah mobil Nissan Fairlady Z S30 (tampilan standar juga) berwarna kuning orange. Namun yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah mobil yang diapit di tengah-tengah kedua mobil tersebut.

'Hah, itu kan mobil yang tadi malam balapan di Taikan, kenapa ada di sini?' pikir Valletta. Dia berniat untuk mendekati mobil itu, namun dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan memilih untuk mengikuti Haruka sebelum akhirnya mempersilahkannya duduk di sebuah kursi lipat sederhana. Adapun Haruka mengambil kursi lipat yang sama dan kemudian mengambilkan dua gelas yang diisi air putih.

"Er...sebelumnya mohon maaf bila bengkel agak berantakan, Valletta suka ngumpet di sini selama jam sekolah," ucap Haruka sambil duduk dan meminum airnya. "Ngomong-ngomong, paman mekanik baru yang dimaksud Tsuchi-sensei ya?"

"Iya." Jawab Valletta sekenanya. "Jadi, apakah Haruka-san pemilik bengkel baru milik Paman Tsuchi?" tanyanya balik.

"Ah, iya," balas Haruka dengan lirih namun masih terdengar oleh Valletta. Namun, setelah beberapa saat Haruka mengucapkannya, dia sempat menghela nafasnya sejenak sebelum kembali berbicara, "Tsuchi-sensei merasa bahwa kemampuanku perlu ditingkatkan namun dia karena ingin pensiun dan berniat untuk rujuk dengan..." ucap Haruka sebelum perkataannya dipotong.

"Ah itu, dia bukan rujuk Haruka," potong Valletta dengan santai. "Sebenarnya Paman Tsuchi diterima sebagai instruktur mengemudi aman di daerah Hakone, yang kebetulan dekat dari rumahnya. Dan jadwalnya full tiap hari, makanya dia nggak bisa. Selain itu Paman Tsuchi sempat ada sedikit masalah dengan Bibi Miwa perihal masalah Paman Tsuchi yang sering terlambat, padahal pas kutanyakan Paman Tsuchi-nya sendiri, sebenarnya dia sedang berbicara soal waktu kerja dengan kenalannya yang kebetulan di Shiodome. Makanya Paman Tsuchi manggil gua," lanjutnya.

"Oh...begitu, aku kira dia mau rujuk dengan istrinya," bunyi Haruka saat mendengar alasan Valletta.

"Istrinya masih sayang, cuman...agak tsundere dan...ya, you know lah...jatah..." ucap Valletta sambil mengangkat bahunya,

"Jatah?" Beo Haruka sebelum sadar apa yang dimaksud oleh Valletta, "EEEEHHHHHHHHHHH?! Ma...maksud paman yang 'itu'?" teriaknya kaget disertai dengan mukanya yang mulai memerah bagai kepiting rebus. Untungnya pendengaran Valletta masih berfungsi dengan baik setelah teriakan nyaring tersebut.

"Ya, begitulah. Bibi Miwa minta jatah uang buat biaya sekolah anaknya." Balas Valletta santai.

"Syukurlah, aku kira jatah yang 'itu'," ucap Haruka dengan nafas lega, namun mukanya masih memerah (walaupun tidak semerah yang barusan) sambil memainkan tangannya yang membuat Valletta melongo bingung dan hanya garuk-garuk kepala.

'Nih mekanik apa pikirannya mesum atau dia yang lagi sange[5] ya?' pikir Valletta sebelum akhirnya dia bertanya kembali, "Gua mau nanya, usia Haruka berapa?"

"22...3 bulan lagi 23," balas Haruka. Kontan saja, Valletta kembali melongo.

'Dengan tinggi badan seperti itu? Gua kira usia lu masih 18 hadueh,' pikir Valletta sambil menggelengkan kepalanya

"Um...usia paman berapa?"

"Haruka, ga perlu pake paman juga kaleee," balas Valletta lebay, "Usia gua sebenarnya 24, jadi bisa dibilang masih agak muda...muda-muda menuju tua sih," lanjutnya sambil nyegir kuda.

Dan respon akhir dari jawaban Valletta?

"Awawawawawawawawawawa..."

Benar, cue respon gaje dari Haruka. Dan Valletta pun tepok jidat melihatnya.

"Er...Haruka?"

"Awawawawawawawawawawa..."

"Haruka?"

"Awawawawawawawawawawa..."

Valletta pun garuk-garuk kepala, melihat respon Haruka, "Er...Haruka, gua mau nanya tentang mobil yang diapit oleh Roadster dan S30Z. Apa itu mobilmu?" tanyanya, berharap bahwa dia akan menemukan siapa pemilik mobil yang dilihatnya kemalin malam.

"Eh...maaf, er...anda bertanya apa tadi?" Tentu saja, itu sukses membuat Haruka tersadar dari respon gaje mode-nya, namun hal ini membuat Valletta harus kembali menghela nafasnya.

"Hadueh." Valletta menarik nafasnya sebentar, sebelum kembali bertanya sambil menunjuk mobil yang diapit oleh Roadster dan S30Z, "Mobil biru itu milikmu apa bukan?"

Haruka yang melihat apa yang ditunjuk Valletta sempat menatapnya sebentar, sebelum langsung mengembangkan senyum bangganya didukung oleh background shining seakan-akan masalah panik gaje karena usia Valletta tadi hanya angin lalu.

'Eh buset, lu langsung semangat pas gua tanya mobil itu, serius?' pikir Valletta yang tidak percaya akan perubahan 180 derajat dari sifat Haruka tadi dan sekarang.

"Ah, itu adalah Toyota 86 yang kureplikasi dari Falken Petronas OTG86 dari musim D1GP 2015 milik Yoichi Imamura. Tentu saja semua spesifikasinya sama, dan dengan kutambahkan nos, mobil itu mampu memiliki tenaga kuda sampai 751 ps (740 hp)[6]. Dan mobil ini adalah mobil yang paling kubanggakan, sebab karena mobil ini, ketua klub ini, yaitu Valletta atau kusebut saja Mirage Valletta[7], sang Hakone Emperor baru," ujar Haruka dengan bangga sambil menepuk dadanya yang berukuran lumayan besar yang dibalas oleh anggukkan kepala Valletta sambil melihat mobil dan aset Haruka yang menurutnya lumayan (Valletta: Author masih memikirkan tiga ukuran dari Haruka sampai sekarang, mohon dimaklumi ya para pembaca).

"Er...Haruka, Mirage Valletta itu sebenarnya hanya julukan pas dia lagi balap kan?" tanya Valletta.

"Sebenarnya iya sih. Er, kenapa?" tanya balik Haruka.

Valletta menghela nafasnya sejenak sebelum memperkenalkan dirinya, "Baiklah, aku lupa memperkenalkan diriku karena keasyikan ngobrol tadi, namaku adalah Jean Grandia Armaline Yvalline y Valletta di Vucinic. Dan nama panggilanku adalah Valletta, salam kenal Miyazaki Haruka-san."

"Eh...Eeeh...EEEEEHHHHHHHHHHHHHHH?!"


Keterangan/Translation

[1]: Sayang

[2]: Shiba Park (Jalur masuk daerah C1 dan merupakan salah satu starting ramp populer baik di MT, maupun Shutokou Battle)

[3]: Selamat makan

[4]: Plesetan bodoh

[5]: Horny

[6]: 1 PS = 0,986 hp dan 1 hp = 1,014 PS

[7]: Bagi para pemain Drift Spirits, titel ini adalah titel yang diberikan ketika masuk ke area 5 (Kagetora, bagian chapter 5-1), tentu saja, pemain harus membaca isi keseluruhan chapternya. Dan menurut saya, nama belakang setelah Mirage adalah nama ID pemain (mohon koreksi bila ada kesalahan)


Yap, akhirnya selesai juga...

Dan akhirnya, salah satu karakter High School DxD, yakni Sona akhirnya muncul juga dalam cerita...walaupun screen time masih singkat karena masih berfokus pada OC kita. Tapi tenang, author akan memberikan beberapa plot twist mengejutkan mengenai Sona ini, yang jelas masih rahasia.

Dan bila ada yang berminat untuk gabung ke forum DRSP aka Drift Spirits, (baca: ver International yang baru resmi pada akhir tahun 2015 yang benar-benar berfokus pada Drift Spirits) silahkan cek di google dengan nama driftspirts forum atau driftspirits proboards (tidak berniat promosi, hanya sekedar informasi).

(PS: Author sudah join, tapi tidak akan memberitahukan username, sehingga silahkan cari sendiri)

Oh, selain itu bila ada yang berniat untuk menambahkan OC ke dalam cerita ini (bisa satu atau lebih), silahkan kirimkan PM ke saya dengan format sbb:

Nama: ...(bebas, tapi ga boleh ada nomor dan huruf besar kecil alias alay)
Usia: ... (bebas)
Gender: Laki/Perempuan
Penampilan: ... (Gambar boleh, tapi wajib ada deskripsi penampilan, baju kesukaan boleh dimasukkan bila dirasa perlu)
Mobil: ... (Harus mobil yang pernah diproduksi disertai dengan asal mobil (baik dari game maupun situs) dan gambar tampak samping depan dan samping belakang sangat diperlukan)
Parts: ... (Body part yang ada dalam game/situs secara lengkap (juga merangkup ukuran velg juga dan carbon fiber), bila ada Engine swap wajib dituliskan dengan engine swap mesin apa, AWD, FWD, atau RWD Conversion juga wajib ditulis)
Biodata singkat: ... (bebas, tapi harus merangkup hobi , hal yang disukai dan tidak disukai, sifat-sifat, dan three sizes (ukuran badan))
Team: ... (tidak ada (main solo)/team manapun, bebas)
Track favorit: ... (Asalkan di daerah Jepang, untuk yang satu ini, silahkan berkonsultasi dengan author)

Nah, sekian dari fanfic saya.

Dan jangan lupa silahkan review, fav dan follow.