Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi.


Di saat fajar menyingsing, Furihata masih terbuai dalam mimpinya ketika suara gaduh dari bahan stylesteel saling beradu di ikuti suara pelatih mereka yang menggema di sepanjang lorong berhasil menariknya dari alam bawah sadar.

"Minna, cepat bangun! Kita akan lari pagi ke atas bukit. Cepat cuci wajah kalian dan temui aku di halaman!" seru sang pelatih. Dengan setengah hati Furihata membuka matanya dan bangkit dari tidurnya, kemarin malam ia baru bisa tidur jam 1 malam sehabis main poker bersama Kawahara dan Fukuda, itu pun ia masih terbangun beberapa kali gara-gara mimpi aneh yang ia dapat.

"Huh, maji ka yo… kita sudah harus latihan sepagi ini?" keluhnya sembari beranjak menuju kamar mandi.

Tidak butuh waktu lama tim Seirin sudah berkumpul di halaman. Riko mengedarkan pandangan ke arah timnya, menghitung jumlah tim yang sudah hadir sebelum kemudian berkacak pinggang sembari terseyum puas.

"Yosh! Sepertinya semuanya sudah hadir. Minna ii? Sebelumnya aku akan menjelaskan jadwal latihan kita hari ini. Pertama kita akan berkeliling di sekitar bukit lalu melakukan pemanasan dilanjutkan latihan menembak di sini, kita akan istirahat 15 menit sebelum sarapan, dan juga aku sudah mengajukan latih tanding dengan kapten Kaijou, Kasamatsu Yukio, yang mengadakan traning camp di sekitar daerah sini. Kita akan bertanding dengan mereka sekitar pukul 12 di lapangan terbuka," jelas Riko panjang lebar.

"Matte kantoku," sela Hyuga dengan perasaan was-was.

"Ha'i?"

"Yang kau maksud "di sekitar daerah" tepatnya seberapa jauh?"

"Hm… sekitar 1,5 kilometer dari kaki gunung."

"Ehh…!"

"Te-terus kita kesana naik apa?"

"Apa yang kau maksud "naik apa"? tentu saja kita lari, itu juga termasuk latihan footwork kalian," setelahnya tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan lebih jauh lagi, di kepala mereka serempak berucap, 'Kita akan pulang dengan keadaan sekarat.'


Malam menjelang anak-anak Seirin berkumpul di ruang santai untuk mengistirahatkan tubuh pasca latihan brutal mereka. Latihan hari ini benar-benar menguras tenaga mereka hingga tak tersisa bahkan seember es pun tidak akan membantu memulihkan otot-otot yang pegal dan nyeri.

Merenggangkan kakinya di bantu Kawahara, Furihata jadi teringat dengan kejadian kemarin malam ketika ia bertemu dengan seseorang yang mengaku dirinya sebagai Kuroko Tetsuya, Kenji memang pernah menyebutkan kalau ia punya cucu yang selalu berlibur kesini jadi Furihata mengasumsikan kalau pemuda itu cucu dari Kenji.

Tapi yang menjadi pertanyaan di benaknya kenapa ia tidak melihat pemuda itu seharian ini, masa ia menghabiskan liburan di mansion kakeknya hanya mengurung diri di kamarnya dan hanya keluar di malam hari? Dan juga Furihata memang menekankan pada dirinya sendiri kalau tidak perlu memusingkan masalah pribadi orang, tapi ia terlalu penasaran apa yang sebenarnya di cari pemuda itu di taman dan kenapa hanya di malam hari?

Terlalu larut dalam pemikirannya Furihata tidak menyadari kalau Kawahara sudah memanggilnya dari tadi, sampai pemuda plontos itu menepuk bahunya pelan, Furihata baru tersadar kalau ia sedang melamun.

"Oi Furi, kok melamun. gantian bantu aku merenggangkan kakiku dong."

"Ah? Iya gomen" merubah posisi mereka, Furihata mulai mendorong punggung Kawahara pelan.

"Oh ya, memang kamu tadi sedang melamunkan apa Furi, perasaan dari semalam sifatmu jadi aneh setelah kembali kedalam mansion, memang apa yang kau temui di luar?"

"Huh? Bukan apa-apa, aku hanya berbicara sebentar dengan seseorang."

"Seseorang? Siapa?"

"Tidak tahu, cucu dari Kuroko-san mungkin, soalnya orang yang kutemui itu mengaku bernama Kuroko Tetsuya."

Mengerutkan keningnya sembari mendongakkan kepalanya, Kawahara menyebutkan nama itu perlahan seakan berusaha mengingat sesuatu, "Kuroko… Tetsuya…?"

"Kenapa?" Tanya Furihata seraya menengokkan kepalanya memperhatikan wajah Kawahara dari samping.

"Tidak, hanya berpikir kalau aku pernah mendengar nama itu tapi aku lupa di mana,"

"Hm…"

"Kupikir tadi kau jadi aneh karena melihat penampakkan hantu atau semacamnya."

"Maaf membuatmu khawatir. Tapi apa itu tadi, memang benar ya ada penampakkan hantu di sini?"

"Kata Izuki-senpai sih begitu, yah walaupun nyatanya tidak ada, mansion sebesar ini pasti selalu di kait-kaitkan dengan hal mistis 'kan?"

"Iya juga sih," setelahnya, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan sebelum kemudian Fukuda datang menghampiri mereka dengan sekotak katu poker di tangannya.

"Oi minna, main poker yuk!" ajak Fukuda seraya duduk bersila di antara Furihata dan Kawahara.

Mereka berdua saling berpandangan sebentar sebelum mengangguk setuju, "Bolehlah. Tapi sebentar saja, setelah ini aku ingin berendam dan tidur, tubuhku pegal semua ini," ujar Kawahara sembari merenggangkan tubuhnya.

"Oke."


"Ah~ yappa, ofuro wa saikyou~" gumam Furihata sembari menggosok rambutnya yang basah sehabis berendam. Melewati jendela yang menghadap taman seperti malam sebelumnya, iseng Furihata menengokkan kepalanya memperhatikan taman di luar, sedikit berharap orang yang ia temui kemarin kembali berada di sana, namun sayangnya tidak ada orang sama sekali.

"Hm… kalau tidak salah, kemarin aku melihatnya di jam-jam begini…"

"Kau sedang mencari siapa?" tegur sebuah suara monotone di belakangnya, terkesiap Furihata dapat merasakan jantungnya seperti jatuh ke perut, ia berani bersumpah kalau ia tadi tidak merasakan ada yang mendekat tapi entah bagaimana pemuda yang ia lihat semalam sudah berdiri di hadapannya.

"Ku—Kuroko?" gagap Furihata sembari tanpa sadar mundur beberapa langkah ke belakang.

"Doumo."

"Se—sejak kapan kau berada di sini?"

"Aku tadi melihatmu keluar dari kamar mandi dan berniat menyapamu tapi tiba-tiba saja kau berhenti berjalan dan menengok ke luar jendela."

"Maji ka yo?! Jadi dari tadi kau sudah berjalan bersamaku?"

"Ha'i."

"Ta—tapi kenapa aku tidak menyadari kau berada di sampingku?"

"Ah itu, sejak kecil hawa keberadaanku memang sudah tipis, orang-orang biasanya tidak menyadari keberadaanku kalau aku tidak menegur mereka terlebih dulu."

"O-oh gitu…"

"Lalu, apa yang tadi kau perhatikan di luar?"

"Itu… kupikir tadi kau ada di luar, sudah hampir makan malam jadi aku berniat mengajakmu ke ruang makan bersama."

"…Sepertinya aku akan menundanya, ada yang harus kulakukan sebelumnya."

"Memangnya kamu mau ke mana?"

"Ke kamarku."

"Kalau begitu bagaimana kalau kita jalan bersama, kamarmu lantai 3 kan? Searah dengan ruang makan."

Mata biru besarnya menatap Furihata sebentar sebelum kemudian menganggukkan kepala, "Boleh."

Berjalan beriringan Furihata menoleh kesebelahnya, memperhatikan figure pemuda yang hanya pendek beberapa senti darinya. Kalau diperhatikan baik-baik kulit pemuda di sampingnya ini bisa di bilang putih pucat seperti jarang bersentuhan dengan sinar matahari.

"Ettoh, aku jarang sekali melihatmu di mansion ini, apa selama ini kau lebih sering mengurung diri di kamarmu?" Tanya Furihata membuka percakapan.

"Tidak juga. Aku juga sering keluar mansion, bahkan tadi pagi aku keluar menonton kalian latihan."

"Eh? Maji de?"

"Ha'i, maji dessu."

Tertawa hambar Furihata bergumam, "Yah, mengingat kejadian tadi aku tidak akan terkejut lagi kalau kami tidak menyadari keberadaanmu."

"Saat latihan tadi Furihata-kun dan yang lainnya terlihat sangat bersenang-senang ya, aku jadi iri."

"Apa maksudmu dengan "bersenang-senang" sementara kenyataanya kami sedang menghadapi latihan neraka."

"Aku sangat ingin bermain seperti kalian tapi tubuhku terlalu lemah untuk berolah raga berat seperti yang kalian lakukan."

"Hm… ja, bagaimana kalau kau ikut dengan kami latihan besok, kebetulan kami kekurangan satu orang untuk latih tanding? Kalau hanya bermain sebentar pasti tidak apa, 'kan?"

"Ii dessu ka?"

"Tentu, nanti aku akan meminta izin pada kantoku kami untuk memasukkanmu kedalam tim."

"Ah, terima kasih."

Menganggukkan kepala Furihata balas tersenyum, "Sama-sama— ah, sudah sampai."

"Kalau begitu kita pisah di sini,"

"Ya. Kalau urusanmu sudah beres cepatlah turun untuk makan malam."

"Ha'i," membungkukkan punggungnya pamit Furihata memperhatikan punggung kecil pemuda itu sampai menghilang di belokan sebelum memutuskan untuk menuruni tangga.


Author note :

chapter dua sudah hadir~

semoga kalian terhibur dengan update-an fic ini

btw Ferl mengganti genrenya jadi supernatural-angst soalnya ceritanya sendiri kayaknya lebih condong ke angst dari pada horror

tapi penampakkan hantunya bakalan ada kok tapi cuma beberapa chapter aja, hehe...

beward for the next chap!

see you \(^0^)/

di mohon kritik sarannya, ya!