Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Saat ia membuka matanya, yang ia temui pertama kali adalah langit biru yang megah di percantik dengan awan-awan putih yang terhampar luas sejauh matanya memandang. Di sekelilingnya terdapat pohon-pohon rindang seakan memayunginya dari sengatan sinar mata hari, di padukan dengan hembusan angin yang membelai lembut pipinya, sungguh suasana yang menenangkan.
'Ah… mimpi ini lagi' pikirnya sembari bangkit mendudukan diri. Dari samping, sebuah apel merah terlempar dan mendarat di pangkuannya bersamaan dengan sapuan kasar namun tidak terlalu bertenaga untuk menyakiti di kepala.
Akomodasi penglihatannya naik ke atas, menampakkan seorang pemuda dengan tubuh tinggi besar berkulit tan, iris merah marun pemuda itu menatapnya dengan tatapan lembut dan lengkungan tipis menghiasi wajah tampannya, "Untukmu," ucap pemuda itu sembari duduk di sampingnya.
Penglihatannya masih terfokus pada pemuda itu, menatap bagaimana surai merah marunnya yang bergradasi tertiup angin, mengagumi kontur wajahnya yang tegas, hidungnya yang bangir, alis uniknya yang bercabang, dan di setiap sentuhan bahunya dengan lengan kokoh pemuda itu, selalu dapat mendatangkan perasaan hangat di hatinya —atau tepatnya hati si pemilik tubuh yang ia tempati saat ini—
Lalu degupan jantung yang menjadi setiap kali ia mulai menyandarkan kepalanya ke bahu pemuda itu, bagaimana ia menyukai bunyi detakan jantung pemuda itu yang seperti bersatu padu dengan miliknya, dan ia tidak pernah menyangka bahwa wangi maskulin seperti mint dan cendana dari pemuda itu bisa membuatnya nyaman.
"Kau suka sekali bermanja-manja seperti ini, ya?" suara pemuda itu terdengar lagi bersamaan dengan sapuan lembut di kepalanya.
Bersamaan dengan pita suara yang bergetar, suara yang terasa familiar namun juga tidak, terdengar menyahut, "Itu karena hanya dengan Kagami-kun aku bisa bermanja-manja."
Ia merasakan kalau tubuh yang menjadi sandarannya menegang, lalu dengusan pun terdengar, "Takku… kau mudah sekali mengatakan sesuatu yang memalukan seperti itu."
Dengan tarikan yang terasa di bibir, pita suaranya kembali bergetar, "Dan Kagami-kun mudah sekali tersipu hanya karena kata-kata itu."
Pemuda yang di panggil Kagami itu mendelik kearahnya sebelum kemudian mendengus sembari menyatukan kepala mereka, meraih tangannya dan menggenggamnya erat, lalu menutup mata. Tarikkan di bibirnya semakin terasa melebar sebelum kelopak matanya menutup, setelahnya ia merasa seperti terlempar jauh dan kemudian seberkas cahaya menghujani matanya yang masih menutup.
Ketika ia kembali membuka kelopak matanya, hal yang pertama kali di lihatnya adalah platfon yang di cat putih, di percantik dengan garis emas di sisi-sisinya dan sebuah lampu Kristal berukuran sedang tergantung manis di tengah ruangan.
Mendudukkan diri Furihata memijat keningnya yang terasa pening, entah itu dari latihan neraka Riko atau karena mimpi yang baru saja ia alami. Ia tidak habis pikir kenapa dari awal mereka datang ke sini ia selalu mendapat mimpi yang sama dan berulang-ulang, dan kenapa di setiap mimpinya ia selalu melihat dari sudut pandang seseorang yang bahkan tidak ia kenali.
Dan lagi…
'tess…'
Furihata membawa tangannya ke pipi dan menyapu linangan air mata yang mulai mendingin, lalu mengerutkan keningnya sembari menatap tangannya yang basah dengan tatapan seperti melihat benda aneh. Setiap kali ia terbangun entah kenapa hal pertama yang ia dapati adalah linangan air mata di pipinya, entah apa hubungannya dengan mimpinya ia tidak pernah mengerti.
Menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur dan berniat untuk kembali tidur, Furihata di kagetkan dengan suara bahan stylesteel yang saling beradu dan suara sang pelatih yang menggelegar di sepanjang lorong.
"Minna cepat bangun, dan cuci muka kalian! Kita lari pagi sama-sama!"
"Kusooo!" umpat Furihata setengah berbisik takut di dengar pelatih, ia mulai berpikir apa penghuni mansion yang lain tidak merasa terganggu dengan kelakuan mereka yang semena-mena.
Memantulkan bola beberapa kali, Furihata lalu memasang pose menembak dan meleparkan bola ke ring, hanya untuk melihat bola itu memantul di bibir ring dan jatuh ke tanah.
"Ah… aku memang payah sekali dalam menembak," keluhnya sembari menghampiri bola hendak mengambilnya.
"Furihata-kun," tegur sebuah suara monotone di belakang, kaget dengan kemunculan Kuroko yang tiba-tiba Furihata hampir saja menjatuhkan bola yang baru saja ia ambil. Sudah satu minggu ini anak itu ikut bermain dengan mereka tapi Furihata dan yang lainnya masih saja belum terbiasa dengan keberadaan pemuda itu yang sangat tipis, hingga sering kali anak-anak Seirin harus mengalami sport jantung ketika pemuda itu muncul tiba-tiba di hadapan mereka.
"Ku-Kuroko! Huf.. kau membuatku kaget saja, ada apa?" Tanya Furihata sembari berbalik menghadap Kuroko.
Pemuda bersurai biru muda itu menatap Furihata sejenak dengan mata biru besarnya tanpa berkedip selama beberapa detik sebelum mengajukan pertanyaan, "Aku hanya ingin bertanya, apa Furihata-kun baik-baik saja?"
"Eh? Ten-tentu saja, aku merasa baik-baik saja kok, ada apa memangnya?" ujar Furihata bingung mendapat pertanyaan seperti itu.
"Tadi saat menembak aku lihat Furihata-kun seperti sedang memikirkan sesuatu, biasanya walaupun kau payah dalam shooting, kau masih bisa memasukkan beberapa ke dalam ring, ingin berbagi cerita denganku?"
"Er… itu…"
"…Tidak apa, aku mengerti kok. Aku akan menunggu sampai Furihata-kun mau bercerita."
"Kuroko… baiklah. Nanti akan aku ceritakan, tapi bukan sekarang, kau juga berbagilah cerita denganku bila ada perasaan yang mengaganggumu, oke? Kita teman 'kan?" ujar Furihata.
Kuroko memandang Furihata sejenak sebelum kemudian tersenyum sembari mengangguk, lalu berkata, "Ha'i."
'PRIIIT!'
"Oke. Latihan akan di mulai, semuanya cepat berbaris!"
"Ha'i!"
…
Dari arah mansion, seseorang tengah memperhatikan mereka dengan alis yang berkerut.
"Kaori, sedang apa kau? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk mengantar taplak meja bersih ke ruang makan," tegur suara berat di belakangnya, terkesiap wanita pelayan ber-yukata merah dengan obi berwarna biru gelap yang bernama Kaori itu berbalik menghadap sipenegur yang tidak lain adalah kepala pelayan di mansion itu.
Dengan tergagap Kaori membungkuk sedikit sembari berkata, "Shi-Shirogane-san?! Ma-maaf bukannya saya lupa cuma…"
"Cuma?" tuntut pria yang di panggil Shirogane itu.
Kaori kembali menoleh keluar jendela memperhatikan anak-anak Seirin yang sedang berlatih basket, "Entah ini perasaan saya saja kalau dari beberapa hari yang lalu mereka semua jadi sering terlihat berbicara sendiri."
Mengerutkan kening pria paruh baya itu ikut memperhatikan keluar jendela di mana ia melihat salah satu dari pemain melemparkan bola ke ruang kosong, lalu bola itu terpantul ke tanah, dan kemudian disambut oleh pemain yang lain, "Ah… mungkin ini perbuatan orang itu."
Melemparkan pandangan Tanya pada sang butler, pelayan itu bertanya bingung, "Siapa… maksud anda."
"Pemilik pertama dari mansion ini. Kakek buyut dari Kenji-sama…"
Malam menjelang, anak-anak Seirin berkumpul di ruang makan untuk menyantap hidangan yang sudah di sediakan.
"Ngomong-ngomong Furihata. Aku tidak pernah melihat Kuroko makan malam bersama kita, memangnya apa yang biasa ia lakukan malam-malam begini?" Tanya Fukuda sembari menyendok dessert-nya, pudding buah.
Meletakkan jusnya, Furihata menjawab, "…Entahlah, aku tidak pernah menanyakan alasan sebenarnya, tapi kalau malam-malam begini ia sering berada di taman belakang."
"Di taman? Apa yang ia lakukan di sana?" Tanya Riko dengan satu alis terangkat.
"Aku pernah menanyakannya, tapi ia hanya mengatakan padaku kalau ia sedang mencari sesuatu, lalu karena aku berpikir kalau itu menyangkut urusan pribadi, aku tidak berani menanyakan lebih jauh lagi, lagi pula saat itu kami belum sama-sama kenal," jelas Furihata, menerawang kejadian pertemuannya dengan Kuroko.
"Ah!" pekik Izuki, serempak semua orang menoleh kepadanya dengan pandangan penasaran.
"Bocah hitam di malam yang gelap, terkubur di malam yang gelap, kitakore!" dan dengan serempak pula semuanya membuang wajah dari Izuki dengan ekspresi, 'Seharusnya-aku-sudah-tahu.' Terpahat jelas di wajah mereka.
"Dicuekin!"
Menghembuskan nafas, Riko bangkit dari duduknya dan beranjak pergi. Ketika mencapai ambang pintu gadis itu berbalik dan berucap, "Jangan tidur terlalu malam, besok kita masih ada lari pagi bersama," lalu menghilang di balik pintu.
…
Hyuga berjalan menaiki tangga menuju kamarnya namun langkahnya terhenti setengah jalan ketika ia melihat jendela kaca yang seingatnya tepat menghadap taman. Teringat dengan perkataan Furihata tadi, iseng ia melongokkan kepalanya, mencari surai baby blue di antara puluhan rumpun bunga mawar beraneka warna.
"Ah! Ternyata benar ada," ujar Hyuga, ketika menemukkan apa yang ia cari. Berpikir tidak ada salahnya keluar dan menyapa Kuroko, ia pun kembali menuruni tangga menuju pintu keluar.
…
"Oi, Kuroko!" panggil Hyuga ketika jarak mereka sudah dekat, ia bisa melihat bahu kecil di depannya mengedik sebelum kemudian berbalik menghadapnya.
"Hyuga-san?" gumam Kuroko.
Sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana, ia mengurangi laju langkahnya dan menghampiri Kuroko hingga mereka berdiri bersebelahan menghadap serumpun mawar merah darah. Menoleh ke arah Kuroko, ia pun berujar, "Makan malam sudah lewat loh, kamu belum makan, 'kan?"
"Maaf, aku akan melewatkannya, aku masih mau di sini."
"Memangnya apa yang kau lakukan di sini? Ayo ikut aku kedalam, udara malam tidak baik untuk tubuh."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku harus tetap di sini, dia bilang ia akan menjemputku di sini."
"Hah? Apa maksud—"
"Dia bilang akan menjemputku di sini! Jadi aku harus menunggunya!" terkejut dengan nada membentak dari Kuroko, tanpa sadar Hyuga mundur beberapa langkah kebelakang dan meneguk ludah. Entah perasaannya saja atau hawa di sekitar Kuroko memang berubah jadi dingin.
"Be—begitukah? J-ja kalau begitu aku balik duluan, bye!" selesai mengucapkan kata itu, tanpa berani menoleh kebelakang lagi Hyuga langsung lari dari tempat itu, di dalam hati ia berkata, 'Ada apa dengan anak itu."
Keesokkan harinya, saat sang surya baru menampaki cakrawala, Riko sudah siap dengan busana traning-nya, mengambil dua buah mangkuk stylesteel dari meja nakasnya, Riko pun bergegas menuju pintu, berniat untuk membangunkan yang lain. Namun yang tidak pernah ia duga ketika ia membuka pintu, seorang wanita berambut pink acak-acakan, memakai kimono putih transparan sudah berdiri tepat di depannya.
Wajah wanita itu tampak mengerikan dengan orb baby pink-nya yang melotot nyaris keluar, lingkaran hitam membingkai matanya yang meneteskan air mata darah, kulit wajahnya membiru dengan urat-urat terlihat di kedua pipinya, kulit bibirnya yang juga membiru dan koyak dengan sudut kiri bibir sedikit sobek membentuk kurva ke bawah. Terpampangkan tepat beberapa senti dari wajah Riko dengan ekspresi kemarahan.
"DI MANA TETSU-KUN!" tuntut wanita itu dengan suara seraknya penuh kemurkaan.
"A-aa-ah… i-iIIYAAA…!"
Chapter 4 update!
Untuk lelucon Izuki di atas Ferl sebenarnya mengambil dari arti nama Kuroko. Nama Kuroko Tetsuya jika diartikan tanpa melihat kanji dan hiragana yang di pakai maka artinya akan menjadi "bocah hitam di tengah malam atau bocah hitam di malam yang gelap" jadi Ferl mencoba bikin lelucon dari sana, tapi kayaknya garing, ya? (-_-)?
Oh ya, di chapter 3 Ferl bilang penampakkan hantunya mulai muncul, 'kan? Tapi apa benar baru muncul pas di chapter 3 saja? Menurut kalian?
Oke Ferl udahin dulu celotehnya
Di tunggu keritik sarannya ya?
Bye~
sampai jumpa di chapter yang akan datang ~ \(^0^)/
