Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Pagi itu semuanya berkumpul di kamar sang pelatih, semua anak-anak Seirin menunggu gadis itu bangun dari pingsannya dengan gelisah. Setelah mendengar teriakan dari kamar Riko semua anak laki-laki itu bergegas keluar mendatangi kamar si pelatih hanya untuk mendapati sang kantouku sudah tak sadarkan diri di ambang pintu yang terbuka lebar, Kiyoshi lalu mengangkatnya dan memindahkannya ke tempat tidur.
"Eng…" erangan terdengar, bersamaan dengan kelopak mata yang terbuka, menampilkan sepasang bulir coklat besarnya, mengerjap sebentar mengumpulkan kesadaran, kelereng coklat itu kemudian terbelalak, dan gadis itu pun langsung bangkit mendudukkan diri dengan matanya yang menatap liar ke sudut-sudut ruangan.
"Kantouku, kau kenapa?" Hyuga yang merasa ada yang aneh dengan sikap sang pelatih mencoba menggoyangkan bahu gadis itu pelan.
Bagai terlempar dari trance yang ia alami, gadis itu menoleh ke arah Hyuga dengan mata masih terbelalak, "Hyuga-kun…?" lirihnya.
"Kau tadi kami temukan pingsan di ambang pintu, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?"
"Aku…" bayangan sebelum ia pingsan tadi terlintas di benaknya dan tanpa sadar tubuhnya merinding sendiri, menatap Hyuga kembali, gadis itu berucap, "Sepertinya aku melihat penampakan hantu."
"Ha—hah?! Bilang apa kau kantouku, tidak mungkin ada penampakkan di mansion ini, 'kan?"
"Kantouku, apa penampakkan hantu yang kau maksud itu seorang wanita berambut pink dengan kimono putih?"
"Eh?! Koga, kau juga pernah?"
"Em. Ingat tidak waktu kau menemukanku di bawah tangga? Sebenarnya pada tengah malamnya aku pergi mengambil air di dapur dan setelah hendak kembali ke lantai 2, aku melihat sosok wanita duduk di atas anak tangga sedang menangis, kupikir dia mungkin salah satu pelayan di mansion ini tapi setelah aku dekati ternyata ia… hi…~" tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya, Koganei memeluk dirinya sendiri sambil bergidik ngeri.
"Ja—jadi penampakkan hantu itu memang ada?!" gagap Fukuda ikutan ngeri
"Koganei-kun, apa sebelum kau pingsan kau sempat mendengarkan wanita itu berbicara?" Tanya Riko, dengan alis berkerut. Ekspresinya seperti ingin membuktikan sesuatu.
"Ah ya, soal itu… sebenarnya aku tidak ingin mengungkitnya karena mungkin ini cuma kebetulan saja, tapi… aku curiga dengan anak bernama Kuroko Tetsuya itu."
"Kuroko? Memang apa hubungannya Kuroko dengan kejadian penampakkan ini?"
"Soalnya aku ingat sekali. Sesaat sebelum aku pingsan wanita itu sempat menyebutkan sebuah nama."
"Nama?"
""Tetsu-kun" deshou ne?"
"Tetsu-kun? Eh, jangan bilang, Kuroko "Tetsuya"?"
"Tidak ada yang bisa memastikan itu benar atau hanya kebetulan. Yang hanya bisa kita lakukan sekarang adalah menanyakan langsung dengan orangnya."
Menggosok tengkuknya yang terasa dingin Hyuga pun membuat pengakuan, "Berbicara tentang Kuroko, sebenarnya kemarin malam aku sempat bertemu dengannya."
"Kau bertemu dengannya?!"
"Ya, setelah mendengarkan perkataan Furihata, aku iseng melihat keluar jendela dan menemukan bocah itu di tengah-tengah rumpun mawar, ketika aku turun menemuinya untuk mengajaknya masuk ke dalam mansion ia menolakku, ia bilang seseorang akan menjemputnya dan ia harus menunggunya di sana."
"Menunggu? Siapa yang ia maksud?"
"Entahlah, kemarin Kuroko tidak terlihat seperti dirinya yang biasanya, ada hawa aneh di sekitarnya, aku tidak berani bertanya lebih jauh lagi dan memutuskan untuk balik saja ke dalam mansion."
"I-ini jadi semakin aneh."
"Apa sebaiknya kita pulang saja, ya?"
"Jangan konyol!" Riko turun dari ranjangnya dan melangkah beberapa langkah dari tempat tidur sebelum menoleh kebelakang dengan wajah serius, punggung menghadap anak-anak Seirin, "Kemasi barang-barang kalian dan pindah ke kamar dengan yang lain jika kalian merasa tidak aman tidur seorang diri, kita tinggal beberapa hari lagi di sini, tidak akan aku biarkan hanya karena urusan hantu seperti ini menghalangi latihan kalian."
"Kantouku…" gumam Hyuga takjub, anak-anak Seirin tidak kalah takjub menatap punggung kecil gadis itu. Namun sayangnya moment itu di hancurkan dengan komentar konyol dan sangat out-of-palace sekali dari Kiyoshi.
"Maaf kalau aku mengatakan ini Riko, tapi kau yang sekarang terlihat jantan sekali."
"Kiyoshi, kamu diam saja!"
Setelahnya anggota tim Seirin sepakat untuk langsung melakukan pemanasan dan latih tanding dan berharap kalau Kuroko muncul untuk mereka introgasi, namun ketika baru turun dari tangga menuju pintu keluar, mereka di kejutkan dengan kedatangan seorang tamu yang terlihat melompat memeluk pria paruh baya berjas butler di depannya.
"Shirogane-san! Lama tidak jumpa, bagaimana keadaanmu? Baik?" ujar pemuda itu.
"Haha… saya baik-baik saja, Shigehiro-dono, anda terlihat energic seperti biasa," jawab Shirogane, sembari membalas pelukkan sang tuan muda.
"Ji-chan tidak merepotkan kalian, 'kan?"
"Tentu saja tidak, Shigehiro-dono."
Melepaskan pelukannya dari sang butler, pemuda yang bernama Shigehiro itu menoleh ke arah anak-anak Seirin.
'Ah!' bulir kecoklatan Furihata membulat, 'Dia… memang sekilas tapi wajahnya mirip dengan pemuda berambut merah yang sering muncul di mimpiku,' batinnya terkejut.
"Hei! Kalian pasti anak-anak basket yang diceritakan ji-chan, 'kan? Salam kenal, namaku Ogiwara Shigehiro," ujar pemuda itu sembari mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Eer… Hyuga Junpei, kapten basket Seirin," ujar Hyuga sembari menyambut uluran tangan pemuda itu dengan perasaan canggung.
"Maaf, kalau boleh tahu yang kau sebut ji-chan itu, siapa?" Koganei yang merasakan ada yang aneh maju bertanya.
"Hm? Tentu saja pemilik rumah ini, Kuroko Kenji," mendengar pernyataan dari pemuda di depan mereka, anak-anak Seirin langsung saling melempar pandangan ke arah satu sama lain, bingung.
Tanpa memperdulikan kebingungan tim Seirin, Shigehiro melipat tangannya menumpu kepala, lalu berkata, "Seirin ka… kalau tidak salah kalian yang masuk liga kejuaraan di interhigh itu, kan? Enaknya~ tim kami bahkan gugur di babak penyisihan."
"yah~ walaupun begitu kami tetap gugur di liga kejuaraannya," sahut Hyuga.
"Eh! Sebentar, kau pembasket juga?" ujar Fukuda.
"Yup! SMA Meiko. Yah… walau pun sebenarnya aku masih duduk di bangku cadangan sih. Neh, kalian mau berlatih ya? Apa aku boleh ikut?"
"Yah… boleh saja sih," Riko menoleh ke arah timnya, meminta persetujuan. Setelah menerima anggukan dari yang lain gadis itu kembali menoleh ke arah Shigehiro dan mengangguk setuju, "Bolehlah, lagi pula kami kekurangan orang untuk latih tanding."
"Yosh! Kalau begitu aku akan meletakkan barang-barangku dulu di kamar, sampai bertemu di halaman," ujar pemuda itu sembari melambaikan tangan, lalu mulai menyeret kopernya ke lantai 2.
Menatap punggung Shigehiro, Tsuchida berkata, "Kalau dia cucu dari Kuroko-san, lalu siapa yang bermain dengan kita beberapa hari ini?"
Malam menjelang, anak-anak Seirin plus Shigehiro tengah berkumpul di ruang santai, menunggu waktu makan malam sembari melepas penat.
"Astaga, aku tidak pernah menyangka kalau latihan di Seirin itu benar-benar berat," keluh Shigehiro yang tiduran telentang di lantai.
"Yah, selamat datang di tim Seirin," sahut Hyuga yang bersandar di bawah sofa, kepala di letakkan di atas sofa, dan kaki di luruskan.
"Apa kalian menjalani latihan seperti ini setiap hari?"
"Begitulah."
"Yang benar?!"
"Furi, kau mau ke mana?" tegur Fukuda ketika melihat Furihata beranjak ke arah pintu.
"Ke toilet sebentar."
"Oh, ya sudah," ujar Fukuda lalu melanjutkan telentangnya.
…
Selesai dengan urusannya Furihata berjalan melalui koridor sampai menemukan jendela yang sudah familiar untuknya, melongokkan kepala berusaha menemukan sosok Kuroko di antara rerumpunan mawar namun tidak berhasil ia temukan.
"Ternyata tidak ada," ujarnya kecewa, selama seharian ini ia sama sekali tidak melihat Kuroko, bahkan saat latihan pun ia tidak pernah muncul, apa iya ya yang di katakan senpai-tachi itu benar.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tegur sebuah suara berat di belakangnya.
"Uwa! Eh? Shi-Shirogane-san?" gagapnya. Gara-gara melamun ia tidak menyadari kehadiran pria paruh baya itu.
"Maaf sudah mengagetkan anda, saya lihat tadi anda menengokkan kepala anda ke depan jendela, apa yang sedang anda cari?"
"Err… itu, bo-bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?"
"Tentu, silahkan tuan."
"O-orang yang selalu berdiri di rerumpunan mawar itu, Kuroko Tetsuya. Si-siapa sebenarnya dia?" begitu mendengar nama yang di sebutkan, ekspresi pria tua itu berubah antara sedih dan sesal.
"Sepertinya benar," ucapnya sembari ikut mendekati jendela itu dan menolehkan kepalanya ke luar.
"Eh?"
"Anda sudah bertemu dengannya. Nampaknya saya memang harus menceritakannya pada anda."
"Menceritakan?"
"Sebelumnnya, perlu anda ketahui bahwa Kenji-sama adalah generasi terakhir yang menyandang nama Kuroko."
"E-eh…?!"
"Bangunan awal dari mansion ini sebenarnya menyerupai bangunan jepang pada umumnya yang di peruntukkan bagi istri kedua dan ahli waris dari pengusaha terkenal pada jaman itu, Akashi Masaomi. Kuroko Tetsuya adalah ahli waris pertama dari bangunan ini." Furihata tidak kuasa menahan keterkejutannya ketika mendengar nama orang yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu di sebutkan.
"Ahli waris pertama?! Tapi itu berarti…" tanpa sanggup melanjutkan perkataannya, Furihata hanya bisa terdiam syok.
Mengangguk membenarkan, Shirogane pun berkata, "Tetsuya-sama adalah kakek buyut dari Kenji-sama."
Furihata terpengkur di tempat, otaknya seperti tidak bisa menerima informasi yang baru saja di katakan Shirogane tentang pemuda yang baru di kenalnya itu.
Mendapat reaksi syok dari Furihata, Shirogane memutuskan untuk melanjutkan ceritanya sembari menolehkan wajah menghadap jendela, "Tetsuya-sama dikatakan sejak kecil mempunyai ketahanan tubuh yang lemah dan lebih mudah lelah. Kakak tirinya, Akashi Seijuurou, berinisiatif membawa teman-temannya untuk menemani sang adik agar ia tidak kesepian, namun sayangnya ketika mereka beranjak dewasa, Tetsuya-sama malah jatuh cinta pada salah satu sahabatnya yang seorang pemuda."
Furihata menatap lantai dibawahnya, dari mimpi yang beberapa kali ia alami, ia tahu persis siapa yang dimaksud oleh pria paruh baya itu.
"Seluruh keluarga Kuroko yang tahu tentang hubungan mereka menganggap itu sebuah aib dan berencana memisahkan mereka, lalu diadakanlah pertemuan dengan keluarga Momoi untuk membicarakan perjodohan Tetsuya-sama dengan putri dari keluarga itu, Momoi Satsuki, yang juga sahabat karib Tetsuya-sama. Dan pada malam perjamuan itu, di saat orang-orang berkumpul untuk makan malam, Tetsuya-sama menyelinap keluar menuju taman bunga, di mana sang kekasih seharusnya menjemputnya…"
Shirogane meletakkan telapak tangannya yang berbalut sarung tangan putih ke kaca jendela dengan mata menatap jauh ke luar jendela. Mengikuti arah yang di tatap Shirogane, Furihata membelalakkan matanya ketika dari taman, dengan tiba-tiba dan entah dari mana sosok Kuroko muncul, berdiri membelakanginya.
Melihat sosoknya yang di sinari cahaya bulan dan temaram lampu taman entah kenapa mendatangkan perasaan tidak enak baginya, sama persis dengan perasaan tertekan yang ia rasakan ketika pertama kali bertemu dengan pemuda itu.
"…Namun pada akhirnya dia tidak pernah datang…" lanjutnya.
"Dia… tidak pernah datang?" gumam Furihata sembari melempar pandangan tak percaya kearah Shirogane. Furihata tidak tahu kenapa ia merasa kecewa, ada perasaan tidak percaya kalau Kagami mengingkari janjinya dan memutuskan tidak datang.
"Setelahnya Tetsuya-sama berhasil di nikahkah dengan Satsuki-sama dan mereka di pindahkan ke daerah Kyoto. Setelah kepergian mereka hal-hal ganjil mulai terjadi di mana pada beberapa bulan kemudian sahabat mereka yang juga saudara sepupu dari Satsuki-sama, Aomine Daiki, di temukan bunuh diri di kamarnya. Dan di susul setelah itu Kagami Taiga yang merupakan kekasih Tetsuya-sama di nyatakan menghilang."
Mendengar pernyataan Shirogane barusan, tanpa sanggup berkata apapun, Furihata kembali melempar pandangan tidak percaya pada Shirogane, entah kenapa ia sudah tahu kelanjutan dari cerita itu namun ia tidak suka dengan jalan cerita yang terlintas di kepalanya
Menghembuskan nafas sembari menutup mata, Shirogane melanjutkan ceritanya, "Dikatakan setelah berita tersebar ke penjuru daerah sini, seorang dari pelayan di tempat ini membuat kesaksian kalau ia pernah melihat Kagami-dono dan Aomine-dono pernah ke sini sebelum pernikahan Tetsuya-sama dan Satsuki-sama di langsungkan."
"Setelah di telusuri, mereka menemukan sebuah haori dengan bercak darah menodai kain yang di duga kepunyaan Kagami-dono dan sebuah genangan darah kering menodai lantai gudang, sayangnya sampai kasusnya di tutup dan Kagami Taiga di nyatakan meninggal, mereka belum bisa menemukan jasadnya hingga sekarang."
"La-lalu, apa yang terjadi dengan Kuroko-san? Apa reaksinya ketika mendengar kejadian itu?"
"Tidak ada yang tahu kalau Tetsuya-sama mengetahuinya dan dari mana ia tahu tapi, setelah beberapa tahun kemudian, Tetsuya-sama kembali ke sini dengan membawa istri dan putranya setelah mendengar ibunya sakit, dan beberapa hari kemudian mereka menemukannya tewas bunuh diri di kamarnya."
"E-EH?!"
"Dan menyusul beberapa bulan kemudian istrinya yang depresi memutuskan bunuh diri dengan memotong urat nadinya hingga ia tewas kehabisan darah, meninggalkan putranya yang akhirnya dirawat oleh keluarga Kuroko."
"…Benar-benar kisah yang tragis."
"Cerita ini sendiri diturunkan dari generasi ke generasi keluarga Kuroko untuk menjadi peringatan bahwa keegoisan dan keserakahan dapat menghancurkan keluarga ini. Tetsuya-sama adalah korban dari orang-orang tak bertanggung jawab yang hanya mengutamakan harta dan kekuasaan,"
Menatap punggung kecil Kuroko di luar sana dengan tatapan prihatin, Furihata bertanya, "Lalu, apa selama itu juga ia berdiri di sana? Menanti kekasihnya yang tidak pernah datang?"
"Ya. Bahkan setelah bangunan ini direnofasi menjadi bangun permanen seperti yang sekarang ini oleh generasinya yang kelima, beberapa pelayan di sini masih sering melihat ia berkeliaran di lorong mansion, kami percaya bahwa ia tengah mencari jasad kekasihnya yang tidak pernah ia temukan,"
Mendengar pernyataan Shirogane, Furihata menyadari apa yang dimaksud Kuroko ketika pertama kali mereka bertemu.
"Terima kasih sudah mau menceritakan cerita ini pada saya, Shirogane-san."
"Saya pun merasa senang karena anda sudah mau mendengarkan pria tua ini bercerita,"
"Kalau begitu saya akan langsung keruang makan, teman-teman pasti sudah menunggu di sana,"
"Silakan, tuan,"
"Permisi" melirik sekilas keluar jendela, Furihata lalu beranjak menjauh dari tempat itu.
Chapter 5 Update~ (^0^)/
Dari sini sisa 3 chapter lagi ini fic bakalan selesai.
Di mohon reviewnya, Ferl lagi butuh dukungan buat menyelesaikan chap 6 ini (^u^)
Sampai jumpa di chapter depan~
