Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Warning : words 8296, hati-hati matanya bakal juling, hihihi… (di lempar sendal), ada OTP dan side pair-nya author di sini (sebagiannya one side), gender bend, time line yang berantakkan, feel-nya kemungkinan nano-nano soalnya Ferl waktu nulis sambil dengerin lagu duetnya Kagakuro yang Onaji VANILLA no Kaze no Naka, padahal lagi nulis angst 6(=_=).
Di awal ia merasa berada di sebuah ruang hampa, lalu kemudian tubuhnya seperti tertarik kuat jatuh kebawah dan begitu sadar ia mendapati dirinya tengah berada di tengah-tengah rumpun mawar warna-warni, tepat di belakang sebuah bangunan besar khas jepang zaman dahulu. Dan di sana, di hadapannya terlihat bocah-bocah bersurai beraneka warna sedang asyik bercengkrama satu sama lain.
"Kuroko, coba kemarikan jarimu," ujar seorang bocah berambut merah menyala bergradasi, bocah berambut biru muda di sampingnya menelengkan kepalanya bingung sembari menyodorkan tangannya kepada sibocah merah.
Menyelipkan cincin yang terbuat dari tangkai bunga ke jari manis bocah yang satunya, bocah merah itu tersenyum lebar sembari berkata, "Kau suka?"
"Ha'i. cincinnya bagus, Kagami-kun," sahut Kuroko sembari memainkan kelopak bunga di jarinya.
Dengan seyuman yang semakin lebar, bocah merah yang dipanggil Kagami itu mengacak lembut surai biru muda bocah di sampingnya, lalu berkata, "Dengar ya, itu adalah cincin pertunangan kita. Jika kita sudah besar nanti, tunggu aku untuk melamarmu, oke!"
Terkejut dengan pernyataan tak terduga dari Kagami semua anak di sekitarnya langsung menatapnya aneh, sedangkan yang dilamar mendadak hanya menunduk tersipu.
"Kau tidak bisa begitu Kagamin! Tetsu-kun itu laki-laki, mana bisa laki-laki sama laki-laki menikah!" sergah satu-satunya bocah perempuan di kelompok itu.
"Memangnya ada yang salah dengan itu?! Aku 'kan suka sama Kuroko," sergah Kagami balik.
"Tentu saja salah! Tetsu saharusnya menikah dengan perempuan seperti Satsuki!" ujar bocah berkulit lebih gelap dari Kagami, Aomine Daiki, sambil menunjuk bocah perempuan di sebelahnya.
"Tapi aku tidak keberatan kok," gumam Kuroko malu-malu.
"Tetsu-kun, sou na…"
Melihat sirat putus asa dari Momoi, Aomine mencoba membelanya kembali, "Tapi Tetsu, pernikahan antar laki-laki itu tidak boleh!"
"Cinta 'kan tidak memandang gender-ssu!" dukungan tak terduga datang dari bocah pirang yang duduk di sebelah Aomine.
"Ki-chan kok gitu?!" seru Momoi tidak terima.
"Oi Kise! Sebenarnya kau memilih mendukung siapa?!"
"Tentu saja Kurokocchi!"
"Sudah-sudah tidak perlu berkelahi, Tetsuya saja tidak keberatan kenapa kalian malah yang berdebat," ujar bocah bersurai merah magenta yang duduk di sebelah Kuroko.
"Akashi-kun juga?!"
"Akashi! Masa kau mau membiarkan adikmu dinikahi sama Bakagami ini?!"
"Apa kau bilang Ahomine?!"
"Mou! Kagamin sama Dai-chan jangan berkelahi!" lerai Momoi.
"Kagami, seharusnya kau mencari perempuan untuk di lamar bukannnya Kuroko yang kau lamar. Kau juga Akashi, sebagai seorang kakak kau seharusnya mencegah mereka bukannya malah mendukung mereka," tegur bocah berambut hijau di samping bocah yang di panggil Akashi.
Menoleh menatap bocah di sampingnya dengan ekspresi tak terbaca, lalu menutup mata, bibirnya mungilnya melengkung membentuk senyuman lemah, "Aku hanya ingin melihat Tetsuya senang, dan jika itu artinya bersama dengan Taiga, kenapa tidak?"
"Ah!" pekik bocah ungu yang duduk di sebelah Kagami, mencuri perhatian anak-anak yang sibuk berdebat ke arahnya.
"Ada apa, Atsushi?" Tanya Akashi begitu melihat temannya melotot memandangi sebongkah kue mochi di tangannya.
"Nanti kalau sudah besar aku juga akan menikahi mochi-chin," ujar si surai ungu mantap.
"Kau tidak bisa menikahi sebuah kue, Murasakibara!" sergah Aomine gemas.
"Eh~ tapi aku suka mochi-chin."
"Atsushi, kalau kau sudah besar nanti kau bisa mencari seorang istri yang bisa membuatkan kamu kue, jadi kau bisa makan kue sepuasnya setiap hari."
"Arara~ Aka-chin benar juga, ja~" menoleh kearah Kagami, si ungu besar itu kembali berkata, "Kaga-chin, izinkan aku menikahi Muro-chin, ya."
"Hah?! Mana bisa begitu,"
Menjilati tangannya yang berlumur gula halus —sebagian sudah mengoroti yukata yang ia pakai—, bocah ungu itu kembali bergumam, "Aku suka Muro-chin~ soalnya dia pintar membuat kue dan suka memberikanku banyak sekali camilan,"
"Tapi Tatsuya 10 tahun lebih tua darimu!"
"Ja~ kalau begitu ketika aku besar nanti aku akan jadi lebih tinggi dari Muro-chin."
"Masalah tinggi tidak ada hubungannya dengan umur!" seru Kagami frustasi.
"Sudahlah Taiga, percayakan saja kakak sepupumu pada Atsushi," ujar Akashi sambil tersenyum geli.
"Hah?!"
"Aku bahkan tidak tahu lagi kalau pembicaraan ini cocok untuk anak-anak," ujar Midorima sembari menggelengkan kepala.
"Jangan bilang begitu Shintarou, kau jadi terdengar seperti orang tua,"
"Nan—?!" melihat wajah bocah hijau itu yang memerah teman-teman yang duduk di sekitarnya pun menertawakannya geli.
Scene berubah menjadi beberapa tahun kemudian, dimana ia bisa melihat bocah bersurai biru muda yang ia lihat tadi berubah menjadi sosok remaja yang sangat ia kenali, tengah terduduk bersandar di sebatang pohon seorang diri, mata terpejam, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Dari arah hutan Furihata bisa melihat sesosok pemuda bersurai merah bergradasi tengah berjalan mengendap-ngendap menghampiri pemuda itu.
"Te—tsu—ya~" bisik sebuah suara di sampingnya yang sukses menarik pemuda bersurai baby blue itu keluar dari trance yang ia alami. Mendongak ke arah sumber suara, Kuroko mendapati sang kekasih tengah tersenyum kearahnya, bau manis menguar dari arah pemuda itu.
"Hei," ujar pemuda itu sembari mengusap kepala Kuroko lembut.
"Kagami-kun, tolong jangan muncul tiba-tiba seperti itu, aku bisa marah loh!" ancamnya namun dari ekspresi datar yang ia tunjukan membuat kata-katanya tidak berarti sama sekali.
"Biasanya juga aku yang berkata seperti itu!" sergah pemuda yang di panggil Kagami.
Menghembuskan nafasnya sejenak, pemuda bersurai merah marun itu kemudian mengambil sebuah kantung dari sampingnya dan menyodorkannya tepat di depan hidung Kuroko, dari kantung itu bau manis yang ia cium tadi menguat, "Kau mau?"
"Apa ini?" Tanya si surai biru muda sembari membuka bungkusan yang ia terima dari si marun.
"Itu kue apel kering hasil eksperimenku dengan Tatsuya, aku ingin kau menjadi orang pertama yang mencoba kue itu sebelum kami memutuskan untuk memajangnya di toko roti Tatsuya," ujar Kagami seraya melipat tangannya di atas lutut lalu meletakkan kepalanya di sana, senyuman manis ia hadiahkan kepada sang kekasih.
"Kagami-kun walau pun punya wajah garang tapi hobinya cukup feminim juga, ya" ucap Kuroko blak-blakan, sembari memasukkan kue kering itu ke mulutnya.
"Huh?!" sentak Kagami tertohok sembari menegakkan tubuhnya kembali.
Tanpa menghiraukan reaksi sang kekasih, Kuroko kembali merogoh isi kantung kue itu untuk mengambil kue yang lain, seraya berkata, "Hm… rasanya enak, cocok di targetkan untuk anak-anak, mungkin sedikit lebih manis lagi maka kue ini akan sempurna."
Berusaha mengabaikan komentar menohok sang kekasih tadi, Kagami kemudian menghembuskan nafasnya pasrah sembari memutar bola matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke sebatang pohon, "Menurutmu begitu?" tanyanya kemudian.
"Mm-hm. Ngomong-ngomong tentang kue ini, bukankah Murasakibara-kun harusnya juga ada di situ, kenapa tidak ia saja yang di suruh mencicipi?" Tanya Kuroko sembari mendongak menatap ke arah Kagami.
Menghapus remah kue di ujung bibir Kuroko dengan ibu jari lalu menjilatnya, pemuda merah marun itu pun berkata, "Kau tahu sendiri kalau Murasakibara akan selalu menyukai apapun yang dibuat Tatsuya, itu sebabnya Tatsuya memintaku untuk memberikannya padamu, katanya akan lebih baik bila di tanyakan pendapat dari orang yang tidak terlalu mengenal kue," lalu mengambil sebuah kue dari kantung yang Kuroko letakkan di antara mereka berdua.
"Hm… sepertinya hubungan Murasakibara-kun dan Himuro-san sudah cukup erat, ya? Aku ikut senang untuk mereka."
"Maksudmu erat dalam kategori possessive? Aku sering sekali merasakan aura membunuh dari arah belakangku setiap kali aku bekerja dengan Tatsuya."
Kuroko mengirimkan tatapan tak terbaca ke arah Kagami sebelum berkata, "Kurasa itu wajar, memangnya siapa yang rela kekasihnya dekat dengan orang lain."
Kagami menatap Kuroko dengan ekspresi bingung selama beberapa menit, sebelum kemudian sesuatu mengklik di kepalanya, "Maksudmu aku dan Tatsuya?! Oi Kuroko, aku dan Tatsuya itu cuma saudara sepupu, tidak lebih!" sangkalnya gusar.
"Hm…" gumam Kuroko tidak peduli, tangannya sibuk memasukkan kue kering ke dalam mulutnya.
"Oke, aku paham sekarang. Jadi dari tadi kau bersikap acuh padaku karena belakangan ini aku dekat dengan Tatsuya? Asal kau tahu, aku hanya berniat mencari pengalaman di toko roti Tatsuya karena aku bercita-cita menjadi pembuat roti terkenal suatu saat nanti," jelas Kagami berharap Kuroko bisa memahami keinginannya, namun pada akhirnya Kuroko masih bersikap acuh dengan terus memakan kue keringnya tanpa menoleh ke arah Kagami.
Menyerah, Kagami menghembuskan nafasnya pasrah, yang ia tidak ketahui adalah Kuroko sedang menyembunyikan lengkungan tipis di bibirnya ketika mendengar perkataannya tadi.
Kagami Meraih pipi Kuroko dan menolehkan kepalanya ke arahnya, lalu mempertemukan dahi mereka, crimson bertemu aquamarine, "Hei. Kau harus tahu, mataku hanya tertuju padamu, tidak kepada yang lain bahkan kepada Tatsuya sekali pun bisa mengalihkan mataku darimu."
Memasukkan kue kering yang belum sempat ia makan ke mulut Kagami, Kuroko menjauhkan kepalanya dari Kagami sebelum berkata, "Aku tidak tahu kalau Kagami-kun pintar menggombal."
"OI!" sergah Kagami dengan wajahnya yang berubah merah padam.
Tersenyum lembut, Kuroko akhirnya membiarkan dirinya jatuh besandar di bahu Kagami, membiarkan kehangatan pemuda itu merengkuhnya.
"Aku tidak bermaksud mempermasalahkan kedekatanmu dengan kakak sepupumu, aku hanya berpikir bagaimana rasanya hidup bebas seperti Kagami-kun dan Murasakibara-kun," jelas Kuroko sembari memejamkan mata. Tanpa memberikan komentar, Kagami hanya mengeratkan pelukannya di pinggang Kuroko sembari menyatukan kepala mereka, mempersilahkan si surai biru muda untuk melanjutkan perkataannya.
"Bercita-cita, melakukan apa yang kau suka, menemukan kebebasan untuk dirimu sendiri, Terkadang aku berpikir jika aku terlahir sebagai orang biasa seperti apakah kehidupanku," Kuroko mendongakkan kepalanya membuat wajahnya dan Kagami hanya terpaut beberapa senti, hidung saling bersentuhan.
"…Tapi saat berpikir seperti itu aku langsung tersadar kalau jika aku terlahir sebagai orang lain apakah aku akan dipertemukan oleh Kagami-kun."
Jari jemari seputih pualam itu bergerak mengikuti rahang tegas sang kekasih sebelum kemudian menangkup pipinya dengan sebelah tangan, bibir melengkung membentuk senyuman tipis, "Karena itulah kurasa tidak apa terlahir sebagai aku yang sekarang, karena keberadaan Kagami-kun sudah menjadi wujud kebebasanku. Aku sangat bersyukur telah di pertemukan dengan Kagami-kun."
Menggaruk belakang kepalanya salah tingkah, Kagami meruntuk, "Dasar, kau suka sekali membuatku malu dari waktu-kewaktu."
"Hanya untuk mengingatkan, aku selalu serius dengan perkataanku."
Menghembuskan nafas mengalah, Kagami lalu menyatukan dahi mereka berdua, sebelum kembali berkata, "Aku juga akan membuat pengakuan," Lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi hingga bibir mereka saling bersentuhan.
"Aku pun sangat bersyukur telah di pertemukan denganmu," setelahnya, kedua belah bibir bersatu kedalam sebuah ciuman manis yang mereka bagi berdua.
Terkumpul di sebuah ruangan, para pria dari keluarga Kuroko duduk melingkar di atas tatami, "Kau harus mengerti Tetsuya. Kau adalah penerus yang akan membawa marga Kuroko, dan berhubungan dengan pemuda itu hanya akan membawa masalah besar pada keluarga ini," seorang pria dari perkumpulan berkata.
"Putuskan hubunganmu dengan pemuda itu! Ini demi kelangsungan keluarga kita!" ujar seorang pria lagi.
Menahan amarah yang meluap, Kuroko merenggut kain yukata-nya, lalu berkata, "Maaf paman, tapi aku tidak bi—."
"Tidak. Kau tidak boleh beralasan kalau kau tidak mampu! Kami membutuhkan keturunanmu agar keturunan Kuroko tidak terputus."
"Karena itu Tetsuya, kami akan menjodohkanmu dengan putri keluarga Momoi, dan jangan pernah berpikir kalau kau bisa lari dari perjodohan ini!"
Tersentak, Kuroko memandang pria-pria di sekelilingnya dengan pandangan tak percaya, "Tidak, kalian tidak bisa melakukan ini! Momoi-san adalah sahabatku, aku tidak bisa mencintainya, paman! Aku hanya akan menyakitinya bila aku menikahinya!"
"Pikirkan keluargamu, Tetsuya! Pemikiranmu akan berubah seiring berjalannya waktu bersamanya. Kami akan mengadakan perjamuan dengan keluarga mereka satu minggu dari sekarang, kuharap kau tidak mengacau. Kita bubar!" dan dengan satu kali sentakkan aba-aba, semua pria di pertemuan itu beranjak pergi dari ruangan itu.
Tanpa peduli, tanpa menoleh, satu persatu dari mereka terus berjalan keluar ruangan meninggalkan sosok pemuda malang itu di belakang, tertunduk lesu di tempatnya. Menggertakkan gigi dan kain yukata di pangkuan yang kumal akibat terus menerus dicengkram, Kuroko terpekur meratapi nasibnya.
…
Langit malam di atasnya begitu bersih berhiaskan ribuan bintang berwarna-warni yang terhampar luas sejauh matanya memandang, bulan pun bersinar terang tanpa ada awan yang menutupi, kontras dengan perasaan kelabu yang saat ini di rasakan oleh seorang pemuda yang kini terduduk seorang diri di perkarangan rumahnya tepat menghadap taman mawar milik sang ibu.
"Tetsuya," panggil seseorang dari arah samping. Menolehkan kepala, Kuroko dapat menangkap sosok pemuda bersurai merah magenta tengah berjalan menghampirinya, langkahnya yang tegap dan tenang membuat sosoknya terlihat memukau di kala sinar bulan menerangi.
"Akashi-kun," Sapa Kuroko ketika pemuda merah magenta itu sampai di hadapannya.
Pemuda yang di panggil Akashi itu tersenyum lembut ke arah sang adik tiri, membuat matanya menjadi semakin sipit, "Boleh aku duduk di sampingmu?"
"Tentu, silahkan."
Mendudukkan diri di samping Kuroko, pemuda itu membuka pembicaraan, "Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu seperti ini, ya?"
"Itu karena Akashi-kun selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bagaimana perasaanmu menjadi assisten pribadi otou-sama, sulitkah?"
"Tidak juga, mereka tidak terlalu sulit diatur."
"Begitukah."
"Ngomong-ngomong Tetsuya, bagaimana keadaanmu?" ujar Akashi sembari menoleh ke samping, sekilas tubuh pemuda di sampingnya itu menegang sebelum kemudian ekspresi wajahnya mengeruh.
Teringat dengan kejadian pertemuan beberapa waktu tadi, Kuroko menundukkan kepalanya sembari berucap getir, "…Aku baik-baik saja."
"…Begitukah? Aku dengar keluargamu mengadakan perjamuan untuk menjodohkanmu dan Satsuki, itu benar?"
"…Benar"
"Kau baik-baik saja dengan hal ini? Maksudku kau dan Taiga."
"Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memberi tahu Kagami-kun tentang perjodohan ini, sebenarnya aku tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa bertindak egois—"
"Tidak. Melakukan apa yang kau inginkan bukanlah hal yang egois,"
"Eh?"
"Kalau bisa di katakan, merekalah yang bersikap egois. Mereka berusaha menikahkanmu dengan seorang gadis hanya karena mereka takut kalau kau tidak memiliki keturunan maka separuh kekayaan dari Akashi tidak akan lagi jadi milik mereka. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri, mereka bahkan tidak memikirkanmu. Mereka tidak patut menjadi bagian dari keluarga Akashi," ujar Akashi dengan nada dingin di akhir bersamaan dengan ruby kembarnya yang juga berkilat dingin.
"Akashi-kun…?" gumam Kuroko terperangah menatap Akashi. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada kakak tirinya belakangan ini, terkadang pemuda magenta itu bersikap lembut dan perhatian namun ada juga waktu di mana pemuda itu seperti berubah menjadi orang lain yang dingin dan tak berbelas kasih.
Melirik Kuroko lewat ekor mata, Akashi lalu berkata, "Kau berbeda denganku. Dia masih bisa kau gapai, perjuangkan. Tidak perlu mendengarkan orang-orang serakah itu. Aku sudah memerintahkan pelayan di sini untuk berjaga, jadi kau bisa menyelinap ke tempat Taiga dengan aman, tentukan langkah kalian."
Berdiri dari duduknya, Akashi kemudian meletakkan tangannya di bahu Kuroko, "Lakukanlah apa yang kau inginkan, aku akan selalu mendukung semua keputusanmu," dengan itu Akashi mulai beranjak pergi.
Tertegun sejenak, Kuroko buru-buru bangkit berdiri menghadap Akashi, "…Nii-san!" panggil Kuroko.
Akashi tersentak mendengar panggilan Kuroko untuknya, berpikir sudah berapa lama anak itu berhenti memanggilnya dengan sebutan itu. Ketika Akashi memutuskan berbalik menghadap Kuroko, ia mendapati pemuda itu tersenyum tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Membungkukkan tubuh, Kuroko pun lalu berucap, "Terima kasih," yang di balas Akashi dengan sebuah anggukan dan senyuman lembut sebelum kemudian kembali melangkah pergi.
…
Keluar dari garpura rumahnya, dengan haori tersampir di atas kepala, Kuroko menampaki jalan setapak menuruni kaki gunung, cahaya dari lentera yang ia bawa mengawalnya membelah gelapnya hutan di malam itu. Tanpa peduli dengan adanya hewan predator yang bisa muncul kapan saja ia tetap tak gentar terus melangkah melewati hutan, tujuannya hanyalah satu, menemui Kagami Taiga.
Sesampainya ke tempat tujuan, tanpa membuang waktu lagi Kuroko langsung mengetuk pintu rumah yang sekaligus toko roti milik Himuro Tatsuya itu.
'tok…tok…tok…'
Selang beberapa menit setelah mengetuk pintu Kuroko dapat mendengar langkah kaki ringan di sertai suara sahutan lembut dari dalam, dan ketika pintu mulai berayun terbuka, ia dapat melihat kakak sepupu dari sang kekasih dari balik pintu.
"Ah, Kuroko-kun? Tidak biasanya kau datang selarut ini, ada apa?" Tanya Himuro heran dengan kedatangan Kuroko yang tiba-tiba.
"Maaf sudah mengganggumu malam-malam begini, Himuro-san, tapi ada hal penting yang harusku sampaikan pada Kagami-kun," jelas Kuroko sembari membungkukkan tubuhnya sebagai permohonan maaf.
"Oh tidak apa-apa kok, tidak usah terlalu dipikirkan. Ayo masuk dulu, aku akan memanggilkan Taiga turun," ujar Himuro sembari memberikan jalan untuk Kuroko masuk.
"Are~ Kuro-chin, tumben datang ke sini, ada perlu apa?" sapa Murasakibara yang muncul dari balik dapur, di tangannya terdapat semangkuk besar yokan.
Mata biru besarnya memperhatikan punggung Himuro yang berjalan menaiki tangga sampai menghilang dari pandangan sebelum kemudian menoleh mengahadap Murasakibara yang sibuk memakan yokan dengan ukuran besar, lalu menjawab, "Aku ke sini karena ada yang harus aku sampaikan pada Kagami-kun."
"Hm~ begitu…" ujar Murasakibara sembari kembali menyendok potongan yokan kemulutnya, violet-nya lalu bergerak menatap semangkuk yokan yang sisa setengah di tangannya lalu menatap Kuroko, "Kuro-chin mau?" tawarnya sembari menyodorkan mangkuk yokan ke arah Kuroko.
"Tidak, terima kasih," tolak Kuroko.
"Hm~ ya sudah," gumam Murasakibara yang lalu melanjutkan makannya.
"Kuroko, Tatsuya bilang kau mau mengatakan sesuatu, ada apa?" Tanya Kagami yang tiba-tiba muncul dari arah tangga disusul Himuro di belakangnya.
"Kagami-kun, itu…" ragu dengan apa yang akan ia katakan dengan banyaknya orang di ruangan, Kuroko mencoba membuat kontak mata dengan Himuro, meminta agar ia ditinggalkan berdua saja dengan Kagami.
Mengerti dengan isyarat mata Kuroko, Himuro lalu meraih tangan Murasakibara dan menariknya bersamanya, sembari berkata, "Ayo kita pergi, Atsushi."
"Em? Oke~" gumam Murasakibara, membiarkan tangannya ditarik oleh Himuro menuju lantai atas.
Ketika mencapai setengah dari anak tangga, Himuro menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh kearah Kagami dan Kuroko di bawahnya. Menyadari Himuro berhenti menaiki tangga di belakangnya, Murasakibara pun berbalik dan mendapati kalau pria raven itu sedang memandangi Kuroko dan Kagami di bawah sana dengan alis berkerut.
"Tat-chin? Ada apa?" Tanya Murasakibara.
"Tidak, hanya saja entah kenapa aku punya firasat buruk tentang ini, semoga saja firasatku salah," ujar Himuro sembari menatap Murasakibara dengan seyuman lemah. Ia lalu membalikkan punggung Murasakibara dan mendorongnya menuju lantai atas, matanya sesekali memandang pasangan di bawahnya yang mulai berjalan menuju dapur.
Meletakkan segelas teh racikkannya di hadapan Kuroko, Kagami lalu menghempaskan diri ke kursi, berhadapan langsung dengan Kuroko.
"Lalu, apa yang ingin kau katakan padaku?"
"…Maaf aku tidak tahu harus memulai dari mana,"
"Hah?!"
"Tolong beri aku waktu untuk berpikir,"
"Sekarang?! Ya ampun, kau datang jauh-jauh ke sini tanpa memikirkan apa yang akan kau sampaikan?"
"Aku sudah tahu pasti apa yang ingin aku sampaikan, hanya saja aku tidak tahu cara untuk memulainya,"
"Ya sudah, gunakan waktumu untuk berpikir sementara aku akan membuat sesuatu untuk di makan, rasanya aku lapar sekali~ oh ya, kau mau apa?"
"Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang,"
"Hm…"gumam Kagami tidak jelas, hanya untuk konfirmasi bahwa ia mengerti.
Kuroko memandang punggung lebar Kagami yang mulai berkerja memotong sayuran sejenak sebelum kemudian memutuskan bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri Kagami hingga mereka berdiri bersebelahan, menatap wajah serius Kagami dari samping, selang beberapa menit kemudian, Kuroko meletakkan tangannya di punggung Kagami pelan, lalu berkata, "Ada yang bisa aku bantu Kagami-kun?"
"Woah, Kuroko! Jangan muncul tiba-tiba begitu! Kalau aku tidak sengaja memotong jariku bagaimana?!" sentak Kagami yang kaget dengan kehadiran Kuroko di sampingnya.
"Tapi aku sudah berdiri di sini dari tadi Kagami-kun, kau hanya tidak menyadariku,"
Kagami menghembuskan nafas gusar sembari memutar mata, "Ya, ya, kau memang sudah berdiri di sana dari tadi dan aku yang tidak menyadarinya, kau sudah mengatakan itu berkali-kali," gerutunya sembari melanjutkan memotong sayur, "Kau mau apa memangnya?" lanjutnya.
"Aku hanya ingin menawarkan bantuan, mau aku bantu memotong sayur?" tawar Kuroko lagi.
Terdiam sebentar menatap Kuroko, Kagami lalu meletakkan pisaunya di talenan dan menggeser tubuhnya kesamping, memberikan ruang untuk Kuroko bekerja, "Kalau begitu aku akan membuat adonannya, berhati-hatilah supaya tanganmu tak terluka, oke?"
"Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ujarnya sembari mulai mengiris kubis dengan kikuk.
Melihat sikap keras kepala sang kekasih Kagami pun terkekeh sembari menggelengkan kepala, lalu berucap, "Kau memang paling tidak suka mengalah, ya?"
"Aku tidak ingin di katai seperti itu oleh Kagami-kun," ucap Kuroko datar. Kagami baru saja hendak menggerutu kembali sebelum kemudian menyadari lengkungan tipis di bibir pemuda biru muda di sampingnya yang membuat bibirnya ikut melengkungkan senyuman tipis.
…
Beberapa menit kemudian setumpukan besar tempura kakiage tersaji di atas meja. Kagami lalu mengambil dua mangkuk berukuran sedang, mengisinya dengan nasi satu dalam porsi besar, satunya lagi dalam porsi kecil, meletakkan satu tempura di atas tumpukkan nasi, lalu meletakkan di depan Kuroko, satu yang berukuran besar ia letakkan di depannya.
"Aku 'kan sudah mengatakan tidak perlu, Kagami-kun," tolak Kuroko.
"Makan saja! Anggap saja sebagai pengganti energi setelah menuruni kaki gunung tadi,"
Menatap sebentar pada tumpukan nasi dan tempura di depannya, Kuroko lalu mendongak menatap Kagami sembari tersenyum dan berucap, "Terima kasih, Kagami-kun," yang disahut gumaman tak jelas dari Kagami.
Setelahnya ruang dapur diliputi keheningan di saat dua orang di dalamnya memutuskan untuk diam dan hanya berfokus pada apa yang mereka makan, setidaknya itulah yang di coba Kagami, tapi sayangnya atensinya terlalu terpaut dengan garis lengkungan tipis di bibir sang kekasih.
"Oke Kuroko, ada apa dengan wajah terseyum itu, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Ah tidak, aku hanya berpikir kalau inikah rasanya makan malam bersama Kagami-kun,"
Kagami menumpu kepalanya dengan sebelah tangan, alis bercabangnya menungkik kebawah ketika melihat senyuman ganjil yang di tunjukkan sang kekasih, "…Ini tentang keluargamu 'kan? Mereka mau kita berpisah bukan?"
Menunduk menatap semangkuk nasi di depannya yang entah kenapa jadi lebih menarik dilihat dari pada harus menatap balik tatapan intens Kagami, "Sebelumnya maaf untuk hal yang akan kusampaikan ini Kagami-kun, sebenarnya… keluargaku merencanakan perjodohan antara aku dan Momoi-san."
Mendengar pernyataan dari Kuroko, untuk sesaat Kagami merasa bagai ada ombak besar menabrak tubuhnya, tubuhnya begitu kaku sampai tidak bisa memikirkan balasan kata yang tepat selain gumaman, "Oh…"
Memberanikan diri memandang mata Kagami dan menemukan kilatan syok dan sakit di sana, Kuroko kembali menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah, "Maaf karena aku tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat untuk menyampaikannya padamu, Kagami-kun."
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kagami mencoba mengerti dengan keadaan Kuroko dan menghiburnya, "Ah, tidak. Kau tidak perlu merasa bersalah, mau dikatakan dengan cara apa pun pada akhirnya pasti akan terasa sakit lagi pula aku bisa mengerti keputusan keluargamu, bagaimana pun juga mereka keluargamu, mereka pasti menginginkan yang terbaik untukmu—"
"Tidak, Kagami-kun salah. Mereka tidak pernah memikirkan yang terbaik untukku, yang mereka pikirkan hanyalah kebaikan mereka saja. Tadinya juga aku berpikir kalau aku memang harus mengikuti keinginan mereka untuk kebaikan keluarga, tapi Akashi-kun menyadarkanku kalau aku juga berhak menentukan pilihanku."
Mendongak menatap wajah Kagami yang terperangah melihatnya, dengan menunjukkan wajah determinasi, Kuroko berujar, "Mereka boleh memintaku melakukan apapun yang mereka mau, tapi tidak dengan membuatku berpisah dengan Kagami-kun. Karena itulah, aku ingin Kagami-kun membawaku pergi."
Butuh waktu lama bagi Kagami untuk memproses semua perkataan panjang yang tidak biasa dari sang kekasih. Satu kali matanya berkedip, dua kali berkedip, tiga kali berkedip, dan tangan menggebrak meja kemudian, "HAH!" sentaknya yang langsung berdiri dari kursi dengan tiba-tiba, membuat bangku yang ia duduki terjungkang kebelakang.
"Aku tahu ideku memang gila tapi tidak perlu seheboh itu kalau ingin menolaknya," ujar Kuroko datar seperti tak terpengaruh dengan reaksi yang ditunjukan Kagami.
"Bukan itu maksudku! Ah tidak, idemu memang gila dan akan ada konsenkuensi yang harus dipikirkan mengenai itu. Tapi yang ingin aku bahas di sini adalah apa kau tidak masalah meninggalkan semua yang kau miliki untuk bersamaku, aku hanyalah anak sebatang kara penjual roti yang menumpang tinggal di toko roti saudaranya, apa kau tidak keberatan dengan itu?" jelas Kagami mencoba memberi pengertian.
"Aku tidak masalah selama itu artinya bisa bersama Kagami-kun, lagi pula Murasakibara-kun juga pasti berpikir hal yang sama ketika memutuskan meninggalkan keluarganya demi Himuro-san," ujar Kuroko sembari tersenyum lembut ke arah Kagami.
"Baiklah, aku mengerti. Jadi apa rencanamu?"
"Keluargaku akan mengadakan perjamuan dengan keluarga Momoi-san minggu depan, saat makan malam di mulai aku akan menyelinap ke belakang taman, jemputlah aku di sana."
"Begitu, jadi aku akan mengambil jalan memutar kedalam hutan untuk menuju taman."
"Kumohon berhati-hatilah saat kau berjalan di dalam hutan nantinya, aku tidak mau gara-gara keinginan egoisku, Kagami-kun jadi—"
"Tidak, tolong jangan berkata seperti itu, aku akan melakukan apa pun demi kamu."
"…Perkataan Kagami-kun klise sekali."
"OI!"
"Tapi… aku sangat senang memikirkan kalau pada akhirnya aku bisa bersama Kagami-kun, aku jadi tidak sabar menunggu minggu depan."
"...Aku juga."
Seminggu kemudian, di hari yang sudah ditentukan. Seperti yang sudah di rencanakan, ketika makan malam hampir dimulai Kuroko meminta izin ke kamar kecil sebagai alasannya untuk keluar dari ruang makan itu, mengendap-endap menuju pintu keluar tanpa ada yang mengetahui.
Kuroko berjalan kepojok taman berdekatan dengan hutan dan berdiri berhadapan dengan rumpun mawar merah darah. Tempatnya yang tersembunyi membuatnya sukar ditemukan kecuali kalau dilihat dari atas dan berkat hawa keberadaannya yang tipis, Kuroko tidak perlu khawatir ia akan di temukan.
Menunggu dan menunggu, di setiap detiknya debaran jantungnya semakin menjadi, perasaan khawatir pada keadaan kekasihnya terlintas, namun ia berusaha yakin kalau Kagami hanya terlambat menjemputnya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, dan ia masih tetap menunggu, walaupun hujan mulai turun membasahi tubuh, walaupun hawa dingin mulai menusuk tulang, Kuroko tetap berdiri di sana berharap sang kekasih segera muncul dari arah hutan dan membawanya pergi.
"Ah bocchan, di sini anda rupanya," dari arah belakang sebuah suara berat terdengar.
Menoleh kebelakang Kuroko mendapati seorang pria tua berpakaian yukata berwarna abu-abu dan haori berwarna hitam yang Kuroko kenali sebagai kepala pelayan di rumahnya, Shirogane Kozou, sedang berdiri di hadapannya dengan payung di tangan.
"Shirogane-san…" lirih Kuroko sembari berbalik menghadap kepala pelayan itu. Ia tidak terkejut jika pria tua itu dapat dengan mudah menemukannya, karena semenjak dari kecil pria itulah yang selalu menemaninya kemana pun ia pergi, dan menjadi salah satu orang yang sudah terbiasa dengan hawa keberadaannya yang tipis setelah Akashi.
"Apa yang anda lakukan di sini? Ayo masuklah bersama saya ke dalam, semuanya sudah menunggu anda untuk memulai perjamuan makan malam ini," ajak pria tua itu sembari berjalan mendekati Kuroko lalu menyampirkan haori biru tua ke bahu Kuroko.
Merapatkan haori ke tubuhnya, dengan tangan yang bergetar kedinginan, Kuroko lalu berujar, "Maaf Shirogane-san, sepertinya aku akan melewatkannya, aku masih ingin di sini."
"Tapi bocchan, semua orang yang berada di dalam mengharapkan kehadiran anda," desak Kozou.
"Maaf, aku tidak bisa, dia bilang ia akan menjemputku di sini, jadi aku harus menunggunya," lirih Kuroko sembari menatap jauh ke dalam hutan dengan tatapan putus asa.
"Tapi bocchan—"
"Ia bilang ia akan menjemputku di sini! Jadi aku harus menunggunya!"
"Bocchan!"
Menundukkan wajah, Kuroko merenggut kain haori di bahunya, berharap bisa mengusir hawa dingin yang menggrogoti tubuh dengan lebih merapatkan haorinya, berkata dengan gigi bergemelutuk, "Maaf Shirogane-san, tapi aku benar-benar ingin tetap di sini, aku ingin tetap menunggu Kagami-kun di sini,"
Segaris air terlihat mengalir turun dari setengah wajahnya yang tertutup surai biru langitnya, turun melewati hidung, lalu terjatuh ke tanah setelah mencapai ujung hidung.
Di situ, Kozou yang berdiri di serong kiri sang tuan muda merasa terpaku di tempat. Sebagai orang terdekat sekaligus pengasuh Kuroko, Kozou tahu dengan pasti kalau pada dasarnya Kuroko adalah sosok pemuda yang tegar, pemuda itu jarang sekali menunjukkan sisi terlemahnya, bahkan bila di hadapkan di situasi paling rumit sekali pun.
"Kalau begitu, izinkan saya menemani anda di sini, bocchan," mengambil satu langkah ke depan mensejajarkan posisi mereka, pria tua itu ikut mengarahkan pandangannya jauh ke dalam hutan.
"Kau tidak perlu ikut menunggu denganku di sini, Shirogane-san. Bukankah pelayan-pelayan di dalam sana membutuhkan arahanmu."
"I'e. mereka semua sudah paham dengan peran mereka masing-masing, saya sudah cukup mengarahkan. Lagi pula keadaan anda juga merupakan prioritas utama bagi saya."
Kuroko mendongak menatap Kozou beberapa saat sebelum kemudian mengangguk sembari kembali memperhatikan hutan. Setelahnya tidak ada lagi pembicaraan yang tercipta, membiarkan keheningan yang membeku di antara mereka.
Menunggu dan menunggu. Detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam, dan hingga hari berganti minggu. Sampai dimana hari pernikahannya yang sudah di tentukan berlangsung, sampai dimana keluarganya mengirimnya ke tempat yang jauh dengan paksaan, meninggalkan tempat di mana ia dibesarkan, meninggalkan janji yang belum jua di tepati.
Bahkan di detik-detik terakhir keberangkatannya pun ia masih menunggu, berharap bisa melihatnya untuk terakhir kali barang sekilas, namun orang itu tidak pernah datang…
Beberapa tahun kemudian. Di sebuah taman zen, seorang pria tengah berdiri di atas gekkan, angin sejuk berhembus menerpa wajahnya lembut, surai baby blue-nya menari-nari dipermainkan angin.
"Tetsu-kun," panggil sebuah suara di belakangnya.
Berbalik menghadap si pemanggil, lengkungan garis tipis terbentuk menyambut —lengkungan garis tipis menjadi kata kunci, karena pada kenyataannya senyuman pria itu bahkan tidak pernah mencapai mata biru langitnya yang kini kosong.
"Satsuki-san," sahutnya.
Mengembalikan gesture, wanita bersurai baby pink itu pun ikut tersenyum, sesekali ia menepuk lembut pantat bayi yang kurang dari satu tahun itu di pelukkannya lalu berkata, "Jinriksha-nya sudah siap, kita berangkat sekarang?"
"Ah, ha'i," berjalan menghampiri sang istri, Kuroko lalu merangkul bahu wanita itu dan menuntunnya menuju perkarangan rumah.
…
"Kurokocchi!" segera setelah Kuroko menuruni jinriksha, dengan penuh semangat Kise melompat, menerjang lurus ke arah Kuroko, hanya untuk terjatuh ke tanah saat Kuroko dengan sengaja menghindarinya tepat waktu.
"Hidoi!" rengek Kise yang dengan segera bangkit menghadap Kuroko.
Bagai tak terpengaruh dengan tingkah Kise, Kuroko menyapanya datar, "Apa kabar Kise-kun, sudah lama tidak bertemu, ya?"
"Ki-chan. Ettoh, kamu tidak apa-apa?" Tanya Satsuki agak prihatin dengan keadaan Kise.
"Dahi dan hidungku sakit-ssu," rajuk Kise sembari mengelus dahinya yang benjol.
"Biarkan dia, Ryouta. Tetsuya dan Satsuki baru saja datang setelah dari perjalanan panjang, mereka pasti sangat lelah," ujar seseorang dari arah pintu masuk.
"Akashi-kun," sapa Kuroko sembari membungkukkan punggungnya.
"Okaeri, Tetsuya," sahut Akashi sembari menepuk bahu sang adik, lalu ruby kembarnya berpindah ke samping mempertemukan orb delimanya dengan kelereng kembang gula milik Satsuki.
"Okaeri, Satsuki," sapanya sembari mengangguk, memberikan gesture kalau ia menyadari keberadaannya.
"Tadaima, Akashi-kun," balas Satsuki sembari membalas gesture Akashi.
Bulir ruby si surai magenta bergulir ke arah bayi bersurai biru langit seperti milik kuroko di gendongan Satsuki, sembari mengelus lembut pipi chubby bayi itu dengan jari telunjuknya, Akashi pun berkata, "Kelihatannya Kishou sehat-sehat saja, ya."
"Ah, iya. Kami sangat bersyukur sekali bahwa Kishou tumbuh menjadi bayi yang sehat."
"Aw~ mau di lihat bagaimanapun dia mirip sekali dengan Kurokocchi waktu kecil dulu, boleh aku menggendongnya Satsukicchi ?"
"Boleh," ujar Satsuki lalu menyerahkan bayinya untuk di gendong Kise.
Menimang bayi di pelukannya, Kise pun berujar gemas, "Anak bayi memang imut ya?"
"Kau ingin punya bayi juga Ryouta?" ujar Akashi sambil tersenyum menatap Kise.
Tersentak salah tingkah, Kise pun menjawab tergagap, "Wa—?! Bu-bukan begitu maksudku Akashicchi!"
"Kalian berdua terlihat akur, ya?" ucap Satsuki sembari terkekeh geli menatap interaksi Akashi dan Kise.
"Bagaimana dengan keadaan okaa-san?"
"Keadaan Setsuna-san sudah agak membaik, kau tidak usah terlalu khawatir, Shintarou sudah merawatnya dengan baik."
"Sou ka? Syukurlah kalau begitu."
"Mari kita ke dalam, para pelayan sudah menyiapkan makan siang untuk menyambut kalian."
Keesokkan harinya, ketika pagi menjelang. Satsuki terlihat sedang terduduk di depan kaca, berkutat menyelesaikan sanggul rambutnya, merapikan peralatan rias, lalu berdiri menepuk kimono yang ia pakai, setelahnya berjalan menghampiri futon yang ditiduri putranya.
Pintu kamar tiba-tiba bergeser menampakkan sosok Kuroko yang lalu beranjak memasuki ruangan, "Kau mau kemana sepagi ini Satsuki-san?" tanyanya ketika melihat dandanan istrinya yang sudah rapi.
"Mumpung kita di sini aku berencana berkunjung ketempat keluargaku bersama Kishou, hitung-hitung memperkenalkanya pada keluarganya yang lain," jawab Satsuki sembari menggendong putranya lalu beranjak menghampiri Kuroko.
"Begitu, haruskah aku ikut bersamamu?"
Menggelengkan kepala, si surai pink itu pun berkata "Em-mm, tidak usah. Tetsu-kun temui saja ibumu, kemarin kau hanya bisa menemuinya sebentar 'kan?"
"Baiklah, semoga perjalanan kalian menyenangkan kalau begitu," ucap Kuroko. Dengan mengumpulkan keberanian Satsuki meraih lengan yukata Kuroko dengan kelereng sewarna bunga sakuranya menatap lurus ke arah bulir biru muda milik Kuroko.
Mengerti dengan gesture yang di tunjukkan oleh Satsuki, Kuroko pun hanya tersenyum lemah sembari sebelah tangannya meraih bahu wanita itu, menundukkan kepala, dan mengecup lembut dahi Satsuki, hanya dahi, Satsuki sudah belajar untuk tidak menginginkan lebih.
Wanita itu sudah tahu pasti bahwa walaupun pernikahan mereka sudah menginjak yang ke 6 tahun, hati pria di depannya ini hanya akan tertambat pada orang itu dan tidak akan pernah berubah untuknya.
Tersenyum lemah menutupi kesedihan, wanita itu menepuk-nepuk pelan pantat bayi di pelukkannya sebagai peralihan, "…Akan aku usahakan untuk pulang sebelum makan malam, ittekimassu."
"Ha'i, itterasai," dan pintu kamar bergeser tertutup, meninggalkan sosok Kuroko yang berdiri terpaku memandang pintu.
…
Kuroko berjalan menyulusuri lorong menuju kamar sang ibu. Sesampainya ia di depan pintu kamar, belum tangannya sampai menarih pintu, tiba-tiba saja pintu itu bergeser menampakkan seorang wanita bersurai raven belah tengah yang di kepang kesamping, kelereng biru keperakan wanita itu membulat terkejut untuk keseperkian detik lalu kemudian berganti dengan binar kegembiraan.
"Are~ Tet-chan, apa kabar? Sudah lama, ya? Terakhir kali kita bertemu waktu pernikahanmu dengan Satsuki, 'kan ya? Aduh… kau jadi tampan sekali sekarang! Jadi hilang deh imej imutmu," berondong wanita itu sembari bergantian menepuk —ralat, memukul— bahu dan wajah Kuroko brutal dengan tangannya yang bebas.
"Em anu, maaf… Midorima-san?" gumam Kuroko bingung memanggil wanita itu dengan sebutan apa karena seingatnya terakhir mereka bertemu marga wanita itu masih memakai nama Takao.
Menepuk bahu Kuroko untuk yang terakhir kali, wanita itu berujar, "Ah! Kau ini selalu saja berbicara formal, panggil Kazuki saja tidak apa-apa kok!"
"Kalau begitu… Kazuki-san?"
"Em! Itu lebih baik. Kau ke sini mau menjenguk Setsuna-san, 'kan? Masuklah, aku baru membantunya mandi," ujar Kazuki sembari memberi gesture dengan baskom kecil di tangannya.
"Ah, terima kasih sudah merawat ibuku, Kazuki-san," ujar Kuroko sembari menundukkan punggungnya sedikit.
"I'e, i'e, bukan apa-apa kok, aku hanya melakukan tugasku," sampai di situ wanita itu menatap Kuroko lama dengan ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya, namun ketika Kuroko akan menanyakan kenapa, wanita itu hanya menepuk bahunya sembari berucap.
"Masuklah, aku yakin Setsuna-san juga sudah menunggumu di dalam," dan lalu beranjak meninggalkan Kuroko yang masih di liputi kebingungan dengan tingkahnya.
Angin sejuk berhembus mengantarkan aroma segar menenangkan khas embun pagi, seorang pria bersurai merah magenta terlihat sedang mendudukkan diri di atas pelataran dengan sebuah cangkir sake di tangan, pandangan lurus ke depan memperhatikan para tukang kebun yang berkerja merawat kebun bunga mawar.
"Apakah aku tidak pernah mengingatkanmu kalau kau tidak boleh meminum sake?" tegur sebuah suara di sampingnya.
Tanpa menoleh ke samping, Akashi menutup matanya sembari terseyum kecil, lalu berucap, "Shintarou ka? Aku hanya meminum sedikit, tidak apa, 'kan?"
"Kau tidak diperbolehkan meminum itu walaupun hanya sedikit! Kau seharusnya lebih memperhatikan penyakitmu Akashi!"
"Ha'i, ha'i, aku akan berhenti minum," meletakkan gelas sake ke nampan kecil di sampingnya, Akashi lalu mendongak menatap Midorima yang berdiri menjulang di sampingnya.
"Sebagai gantinya, maukah kau menemaniku di sini?" lanjutnya.
"Aku hanya akan bersedia duduk bersamamu kalau kau menyingkirkan minuman itu."
Mendorong nampan yang berisi botol sake berserta cangkirnya menjauh darinya, Akashi memperhatikan Midorima yang mendudukkan diri di sampingnya sebelum berujar, "Kau jadi lebih cerewet dari biasanya Shintarou."
"Bukannya aku yang lebih cerewet, tapi kamu yang susah diperingatkan," ujarnya sembari mendengus, tangan disimpan kedalam lengan haori.
"Tidak juga, bukankah aku selalu menuruti apa yang kau katakan?"
Menatap Akashi sejenak, Midorima lalu membuang wajah kearah taman mawar di depannya, "…Kau tadi sedang berpikir untuk mengatakan masalah Kagami pada Kuroko bukan? Kau tahu apa yang akan terjadi bila mengatakannya, melihat dari ketahanan mentalnya yang sekarang, kejadian ini akan berpengaruh besar untuknya."
Menolehkan wajah ke depan, dengan ekpresi tak terbaca Akashi berujar lirih, "Aku tahu, aku sendiri sudah memikirkan hal itu."
Terdiam sejenak, lalu kembali berujar, "Tapi kita juga tidak bisa membiarkannya berlarut seperti ini, cepat atau lambat Tetsuya akan mengetahui hal yang sebenarnya. Dan juga jika di tunggu lebih lama lagi dampak yang akan ditimbulkan akan semakin besar. Dia sudah terlalu lama menunggu."
Midorima menunduk menatap lantai, lalu bergumam lirih, "…Semakin besar harapan itu tumbuh, semakin sulit juga untuk melepasnya jika hal yang terjadi tidak sesuai dengan yang diinginkan…"
Akashi mengangguk membenarkan perkataan Midorima sebelum menambahkan, "Malah di dalam beberapa kondisi, harapan itu juga bisa membuat seseorang lepas kontrol dan berbuat gegabah."
"Dan sayangnya Kuroko adalah salah satu dari orang-orang itu," desah Midorima di akhir sembari menutup mata.
Menatap ke depan dengan tatapan sendu, Akashi berujar lirih, "Aku tahu, aku bukanlah orang yang berhak untuk memberikan komentar tentang nasib yang menimpa mereka karena aku juga tidak tahu bagaimana rasanya bila berada di posisinya, walaupun kami dihadapkan dengan masalah yang serupa, tapi aku masih bisa melihat orang yang aku cintai walaupun tidak bisa bersamanya."
Sekejap Akashi melirik kearah Midorima dengan tatapan sendu lalu buru-buru mengembalikan tatapannya ke depan sebelum Midorima menyadari tatapannya.
"Kurasa semua kejadian ini juga separuhnya salahku, seandainya dulu aku mencegah hubungan mereka mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi."
Tersenyum lemah, Akashi kembali menambahkan, "Berbicara soal keinginan naïf seorang kakak."
Menunduk menatap Akashi di sampingnya, lalu berujar, "Dari awal tindakkanmu memang salah, tapi aku juga tidak menyalahkanmu. Sebagai seorang kakak, kau pasti menginginkan agar adikmu tetap aman dan berbahagia walaupun kau tidak bisa setiap waktu menemaninya, dan keberadaan Kagami di samping Kuroko membuat anak itu tetap disibukkan dengan dunianya."
Akashi agak terkesima dengan penuturan Midorima, karena sejauh dari apa yang ia ingat, Midorima adalah salah satu orang yang menentang keras hubungan Kagami dan Kuroko. Tersenyum, mengetahui bahwa bahkan seorang yang kaku seperti Midorima pun bisa luluh dengan keteguhan cinta mereka. Dan ia bersyukur berkat kata-kata dari pria di sampingnya itu, beban di pundaknya terasa terangkat.
Menghela nafas lalu mendongak ke atas langit sembari, berucap, "Tidak ku sangka kejadiannya akan serumit ini. Yang kuharapkan hanyalah kebebasan anak itu, tapi yang terjadi malah di luar kendaliku,"
"Kau tidak bisa memperkirakan apa yang terjadi di masa depan, Akashi. Pada akhirnya kau tetaplah seorang manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, kau bukanlah dewa."
"…kami ka… tentu saja…" gumam Akashi lirih dengan seyuman lemah di akhir.
"Sei-chan…" panggil sebuah suara di belakang mereka. Serempak ia dan Midorima menolehkan wajah ke belakang dan mendapati sosok wanita bersurai raven dengan kimono hijau dan obi kuning kehijauan tengah berdiri di hadapan mereka dengan kepala tertunduk.
Berjalan menghampiri wanita itu di ikuti oleh Midorima, ia pun berkata, "Kazuki, pekerjaanmu sudah selesai?"
"…Ha'i, sudah…"
"Begitu, terima kasih atas kerja kerasnya."
"Ha'i. ano… Sei-chan."
"Ada apa?"
"Haruskah… kita merahasiakan ini pada Tet-chan? Maksudku, bukankah tidak adil baginya tidak boleh mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
"Kita bukan merahasiakannya, tapi menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Saat ini kondisi mentalnya masih rapuh, mengatakan kejadian ini sama saja menghancurkan apa yang tersisa pada dirinya," jelas Midorima.
Melihat ekspresi sulit dari Kazuki, Akashi pun meletakkan tangannya di bahu wanita itu, lalu menambahkan, "Tenang saja, bila waktunya sudah tepat, aku sendiri yang akan mengatakannya pada Tetsuya," setelahnya ia pun beranjak pergi meninggalkan pasangan suami-istri itu yang terdiam di tempat memandangi punggungnya yang menjauh.
"Shin-chan…"
"Kazuki. Bagaimana kalau kau pergi temui Kouhaku, jangan sampai ia berulah lagi dengan memakaikan kimono pada Hiroyuki."
Malam menjelang, suara-suara jangkrik menyambut, bagai memeriahkan suasana malam dengan suaranya yang nyaring. Di depan pelataran seorang pria terduduk seorang diri, angin malam berhembus lembut menerpa wajah, memainkan surai biru mudanya, tangan tersimpan di dalam lengan haori dan mata biru langitnya menatap jauh ke atas langit, sedangkan pikirannya tengah berkelana entah ke mana.
Dari arah samping, seorang pria bersurai emas berjalan mendekat dengan tangannya yang juga tersimpan di dalam lengan haori, seyuman lebar senantiasa tertoreh di wajahnya yang tampan.
"Kurokocchi," sapa si surai emas.
"Kise-kun?"
"Boleh aku duduk di sampingmu-ssu?"
"…Tentu"
"Terima kasih-ssu"
Sejenak, keheningan melingkupi keduanya. Angin malam berhembus mengantarkan kesejukan, membuat keduanya terhanyut dengan pikiran mereka masing-masing, sampai saat si surai emas memutuskan memecah keheningan itu, "Tidak terasa sudah 6 tahun ya-ssu, keadaan sudah banyak berubah sekarang."
Tanpa menoleh, Kuroko berujar lirih, "…Ha'i."
Kise menolehkan kepalanya menatap wajah Kuroko dari samping sebelum kemudian kembali menatap ke depan, "Aku senang kau terlihat sehat-sehat saja-ssu."
"Kise-kun sendiri, bagaimana keadaanmu?"
"Baik-ssu. Minggu lalu saat kami mengunjungi kalian ke Kyoto, Akashicchi menyempatkan mengajakku pergi mengunjungi kuil Kinkakuji dan kuil Ryoanji lalu kami juga sempat mengunjungi Shugakujin Imperial Villa walaupun hanya sebentar, penjagaan di sana ketat sekali-ssu," cerita Kise panjang lebar.
Tersenyum lembut mendengarkan cerita Kise, Kuroko pun berujar, "Kelihatannya kalian mulai akrab, ya? Aku ikut senang. Mulai sekarang tolong jaga kakakku dengan baik untukku."
"Ku-Kurokocchi kenapa bicara begitu-ssu, kau mengatakannya seperti kami punya hubungan khusus saja."
"Bukannya begitu?"
"Ten-tentu saja tidak-ssu! Ka-kami hanya teman baik."
"Benarkah?"
Berdehem menutupi rasa malu, Kise berusaha mengalihkan pembicaraan, "Ka-kalau tidak salah, minggu depan ulang tahun Kishou yang pertama 'kan-ssu? Selamat ya."
"Terima kasih."
"Menurut Kurokocchi, Kishou mau diberikan hadiah apa, ya-ssu?"
"Apapun tidak masalah Kise-kun,"
"Hm… kalau Kurokocchi sendiri?"
"Aku? Bagiku kehadiran kalian semua pun sudah cukup."
"Kalau begitu nanti aku akan mengajak yang lainnya ke sini-ssu."
"Ngomong-ngomong soal itu, dari semalam aku tidak melihat Aomine-kun ke sini, kupikir kemarin ia akan menyambut kami datang, apa ia sedang berhalangan hadir? Dan juga…" berhenti sesaat sebelum Kuroko kembali berucap.
"Apakah ada kabar dari Kagami-kun? Kuharap keadaannya baik-baik saja," ujarnya lirih.
Kuroko tahu seharusnya ia merasa kecewa karena Kagami sudah mengingkari janjinya untuk membawanya pergi, tapi ia menekankan dalam hati bahwa Kagami bukanlah tipe orang yang bisa mengingkari janjinya tanpa alasan yang jelas jadi jika ia tidak bisa datang itu berarti ada sesuatu yang menghalanginya. yang ia harapkan hanyalah Kagami baik-baik saja di mana pun ia berada.
Namun perubahan ekspresi dari Kise membuat perasaannya menjadi khawatir, ada yang tidak beres dengan gelagat pria itu terlihat dari caranya menggigit bibirnya dan kain yukata di pangkuannya yang di cengkram erat.
"Ada apa Kise-kun?"
Menundukkan kepala hingga sebagian wajah tertutup surai keemasannya, Kise pun berujar perlahan, "…Sebenarnya… aku tidak diperbolehkan untuk mengatakan hal ini padamu-ssu, tapi kurasa akan tidak adil kalau kau tidak mengetahui yang sebenarnya."
"Mengetahui apa?"
"Sebenarnya… Aominecchi dan Kagamicchi… mereka sudah meninggal 6 tahun yang lalu…"
Seakan dunia membeku, ketika perkataan Kise sampai di pendengarannya, Kuroko terpaku di tempat dengan bola-bola aquamarine-nya yang terbelalak lebar, tubuhnya bergetar hebat, sedangkan pikirannya berkecamuk dengan berbagai bersitan sangkal seakan menolak informasi yang baru ia dapat tadi.
Tidak bisa mengontrol emosinya lagi tanpa sadar Kuroko berdiri menghadap Kise, tangannya yang bergetar hebat terkepal erat, "Uso… bagaimana… bagaimana ini bisa terjadi? Sebenarnya apa yang sudah terjadi saat aku pergi?!"
Ikut berdiri, Kise meletakkan tangannya ke bahu Kuroko, berharap menenangkan emosi yang tidak biasa dari pria di depannya, "Ku-Kurokocchi tenang dulu-ssu, sebenarnya tidak ada yang bisa memastikan kalau Kagamicchi sudah meninggal-ssu, mereka hanya…"
"Hanya apa Kise-kun?!"
"Mereka hanya menemukan haori Kagamicchi di gudang belakang mansion ini-ssu," ujar Kise dengan hati-hati, meninggalkan fakta tentang keadaan haori itu saat ditemukan.
"Gudang belakang…? Mansion ini…? Aku… tidak mengerti, kenapa di tempat ini?"
Mendorong perlahan bahu Kuroko duduk, Kise pun menjelaskan, "Kami juga tidak mengerti-ssu sampai kasusnya di tutup pun, kami tidak menemukan temuan lain selain haorinya-ssu, atau pun motif kejadian, bahkan menemukan tubuhnya pun tidak, Kagamicchi seperti menghilang begitu saja seperti di telan bumi-ssu, jadi kami hanya membuat asumsi dari barang bukti satu-satunya yang ada kalau Kagamicchi sudah tewas-ssu."
Terduduk lemas di tempat, Kuroko berusaha tenang dengan mengatur nafasnya perlahan, lalu mendongak menatap Kise sembari berkata, "Maaf Kise-kun, bisakah kau mengatakan detail kejadiannya, lalu Aomine-kun juga, apa yang terjadi padanya?"
Kise tersenyum lemah, kelebatan memori di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika beberapa orang mengangkat tandu jasad Aomine kembali mengusik, membuka luka lamanya yang belum juga tertutup sempurna.
"Tidak ada yang tahu masalah apa yang di hadapi Aominecchi sampai ia melakukan tindakan drastis itu-ssu, tapi tepat satu bulan pernikahan kalian Aominecchi melakukan bunuh diri dikamarnya-ssu, lalu tidak lama setelah kasus bunuh diri Aominecchi, Himuro-san mendatangi kami satu persatu dan mengabarkan kalau Kagamicchi menghilang-ssu."
"Aomine-kun… bunuh diri…?" gumam Kuroko, ada rasa tidak percaya kalau Aomine bisa bertindak senekat itu tanpa ada alasan yang jelas. "Apakah benar-benar tidak ada motif sama sekali yang di temukan?"
Menggelengkan kepala, Kise menjawab perlahan, "Yang bisa di temukan hanyalah tulisan kata 'Maaf' yang di tulis dengan darah di samping mayatnya."
"Maaf?" ulang Kuroko lalu terdiam memikirkan perkataan terakhir Aomine di tunjukan untuk siapa namun tidak ada yang muncul di dalam benaknya.
"Lalu, satu bulan. Apakah Kagami-kun baru dinyatakan menghilang setelah satu bulan pernikahanku?"
"Tidak, sebenarnya sebelum itu Kagamicchi sudah dinyatakan menghilang-ssu tapi Himuro-san dan Murasakibaracchi mencoba mencarinya di tempat-tempat terdekat dahulu, dan ketika tidak ada juga tanda-tanda keberadaan Kagamicchi, mereka baru mendatangi kami-ssu," jelas Kise sembari mengingat kembali kejadian bagaimana Himuro yang menangis frustasi di pelukan Murasakibara ketika menanyakan keberadaan Kagami padanya.
"Lalu ketika berita hilangnya Kagamicchi sampai ke telinga Akashicchi, Akashicchi lalu mendatangi tempat ini-ssu untuk menanyakan apa mereka ada sangkut pautnya dengan kejadian ini dan dari keterangan seorang pelayan di sini kami tahu kalau Kagamicchi dan Aominecchi pernah ketempat ini-ssu," lanjut Kise.
Kuroko mengerutkan keningnya tidak mengerti, "Aomine-kun dan Kagami-kun pernah ke sini? Kapan? Dan lagi bukankah Kagami-kun seharusnya tidak di perbolehkan untuk datang ke sini?" ujarnya sembari mengingat betapa murkanya keluarganya ketika mengetahui hubungannya dengan Kagami, dan mengusir pemuda itu dari mansion mereka, itu sebabnya ia dan Kagami memutuskan untuk selalu bertemu di hutan.
"Katanya satu hari sebelum perjamuan makan-ssu, ketika pelayan itu menegur mereka Aominecchi mengatakan kalau ia dan Kagamicchi datang untuk membantu, dan karena situasi saat itu sedang sibuk-sibuknya pelayan itu akhirnya membiarkan mereka-ssu."
"Dari kesaksian pelayan itulah, Akashicchi mengerahkan pelayan di sini untuk memeriksa seluruh ruangan di mansion ini-ssu. Setelahnya kami…" berhenti sejenak, Kise melempar pandangan ke arah Kuroko yang tetap terduduk diam di tempatnya, mata tertuju ke arahnya dengan tatapan determinasi dan ingin tahu yang kuat.
Kise berpikir keras menemukan cara terbaik untuk mengatakan yang sebenarnya ke pada Kuroko namun tetap tidak menemukan kata apapun yang bisa di pakai, "Kami… menemukan jejak darah dan haori Kagamicchi di gudang-ssu…" lirihnya hati-hati, memperhatikan gelagat pria di sampingnya dengan khawatir.
Walaupun sikapnya tetap tenang, Kise bisa melihat dari mata pria itu kalau berita ini sudah memberikan dampak yang sangat besar baginya.
"Ta-tapi sampai saat ini tidak ada yang bisa menemukan jasad Kagamicchi jadi mungkin kita masih—"
"Kise-kun sudah, tidak apa-apa. Aku mengerti," sela Kuroko sembari tersenyum lemah kearah Kise.
"Lalu bagaiman dengan keadaan Himuro-san sekarang? Apa ia masih membuka toko roti di sekitar sini?" ujar Kuroko merubah subjek.
Kise menggelengkan kepala, "Setelah berita di temukannya haori Kagamicchi, Himuro-san memutuskan menutup toko rotinya dan pindah dari daerah sini bersama Murasakibaracchi,"
Menundukkan kepala sembari terseyum sendu, Kuroko pun berkata, "Sekarang Himuro-san pasti membenciku, karena gara-gara akulah Kagami-kun jadi—"
"Kurokocchi jangan berkata seperti itu-ssu! Himuro-san tidak pernah membenci Kurokocchi kok-ssu. Dia hanya kecewa dengan perlakuan keluarga Kurokocchi pada kalian berdua."
Dengan wajah masih tertutup surai biru mudanya, Kuroko lalu berdiri limbung, "Maaf Kise-kun, kelihatannya aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi, tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing jadi aku akan langsung pergi ke kamar untuk beristirahat."
"Kurokocchi…"
"Terima kasih sudah memberitahukanku tentang Kagami-kun, Kise-kun. Aku menghargainya, aku pergi dulu," pamit Kuroko yang lalu tanpa menoleh lagi ia pun langsung beranjak pergi.
Buru-buru berdiri dari duduknya, Kise mengangkat tangannya berusaha mencegah Kuroko pergi, "Tung— Kurokocchi!" namun pria biru muda itu sudah berjalan menjauh darinya.
Menurunkan tangannya yang menggantung di udara, Kise hanya bisa terdiam memandangi punggung Kuroko dari jauh, dalam hati ia berkata, bijakkah sudah keputusannya mengatakan hal itu pada Kuroko?
Kuroko berjalan linglung menyusuri lorong dengan wajah tertunduk lesu dan pikiran yang berkecamuk, berpikir apa yang akan ia perbuat setelah mengetahui kejadian sebenarnya, sampai seseorang menepuk bahunya pelan dan ketika menoleh ke samping, Kuroko bisa melihat kazuki yang tersenyum kearahnya, di pelukannya ada seorang bayi mungil yang kurang lebih berumur 2 tahun bersurai hitam legam.
"Kau mau kemana, Tet-chan? Makan malam sudah mau dimulai," tegurnya, senyuman lebar secerah sinar matahari senantiasa terukir di wajah jelitanya.
Tersenyum lemah, Kuroko pun menjawab, "Maaf Kazuki-san sepertinya aku akan melewatkannya, ada yang ingin aku lakukan sebelumnya."
"Begitukah? Memangnya kau mau kemana?"
"Ke kamarku,"
"Baiklah kalau begitu, tapi nanti kalau urusanmu sudah selesai datanglah ke ruang makan, oke?"
"…Ha'i…"
Mengerutkan kening ketika merasakan ada yang aneh pada Kuroko, Kazuki pun bertanya khawatir, "Tet-chan, kau baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa Kazuki-san, maaf aku harus pergi sekarang," pamitnya lalu beranjak pergi.
Kazuki menatap punggung Kuroko dengan alis yang berkerut, menduga-duga apa yang sebenarnya sedang dipikirkan pria itu.
"Kazuki," panggil seseorang dari belakang. Menolehkan kepala, ia bisa menangkap sosok suaminya yang sedang berjalan kearahnya bersama putra pertama mereka di gendongan.
"Shin-chan," sahut si wanita.
Mengerutkan alis ketika mendapati ekspresi tak biasa dari sang istri, Midorima pun bertanya, "Ada apa?"
"…Entahlah… hanya saja, perasaanku tidak enak, ada yang aneh dari sikap Tet-chan," jawab wanita itu ragu, mata biru keperakannya kembali memperhatikan lorong dimana Kuroko lewat tadi, di ikuti oleh Midorima yang juga menatap arah yang sama.
Begitu pintu bergeser menutup, Kuroko menyandarkan punggungnya ke pintu lalu beringsut jatuh ke lantai, tangannya ia bawa mencengkram pelan surai biru mudanya, satunya lagi ia lipat di atas lututnya dan menjatuhkan kepala di sana, membiarkan lengan haorinya basah oleh air mata, menumpahkan rasa sakit di dadanya yang seakan mencekiknya hingga sulit bernafas.
Ia merasa sudah menjadi pengkhianat karena sudah menikahi Satsuki tanpa mengetahui keadaan Kagami terlebih dahulu. Seseorang tolong katakan bagaimana ia harus menebus perbuatannya ini, tolong katakan bagaimana ia bisa menghilangkan perasaan sakit ini.
Di tengah kekalutannya, Kuroko menetapkan keputusan. Buru-buru berdiri, ia lalu menghapus air mata yang tersisa, dan bergegas menuju laci belajarnya mencari sesuatu.
Sementara itu, di lain tempat, terlihat Kise sedang berlari di sepanjang koridor menuju tempat di mana ia tahu kamar Akashi berada. Sesampainya pada tujuan, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu atau sekedar memberi tahu kedatangannya, Kise menggeser pintu di depannya dengan terburu-buru.
"AKASHICCHI!"
Selesai menulis surat, Kuroko memasukkannya ke amplop kecil berwarna coklat lalu meletakkannya di bawah bantal, berdiri mengambil langkah mundur, Kuroko beringsut turun setelah punggungnya menyentuh dinding. Ia lalu mengangkat tangannya yang bergetar, membuka genggaman dan terlihatlah sebutir peluru di sana.
Wajahnya tetap terlihat kosong walaupun air mata kembali mengalir di kedua kelereng aquamarine-nya, memasukkan peluru kelubang pistol revolver-nya, memutarnya beberapa kali lalu mengarahkan moncong pistol itu ke kepalanya sendiri.
Bertepatan dengan pintu kamarnya yang bergeser terbuka, jarinya menarik pelatuk.
"Tetsu… TETSUYA!"
'DORRR!'
"WOAAA!" Furihata tersentak bangun dari tidurnya, tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya yang memucat diliputi syok dan ketakuatan.
Fukuda yang tidur di samping Furihata mau tidak mau terbangun akibat teriakan Furihata tadi, "…Furi? Oi Furi, kau kenapa?" Tanya Fukuda panik begitu melihat temannya bergetar ketakutan mencengkram rambutnya sendiri.
Dari arah pintu suara langkah kaki terdengar, "Oi kalian ke— loh Furihata, kau kenapa." Ujar Hyuga yang muncul dari arah pintu bersama Kiyoshi, disusul oleh Riko dan seorang maid yang langsung bergegas menghampiri Furihata di tempat tidurnya.
"Furihata-kun, hei kau kenapa?!" Tanya Riko sembari duduk di samping Furihata lalu menggoncang bahunya pelan.
"Ada apa ini, Fukuda?" Tanya Hyuga pada Fukuda yang berada di sampingnya sembari mengelus punggung Furihata yang bergetar hebat, dari sampingnya yang lain, Kiyoshi datang membawa handuk basah, memberikan satu pada Hyuga lalu mulai melap kaki Furihata sementara Hyuga sendiri melap wajah dan telapak tangan Furihata, berharap bisa meredakan ketegangan yang dialami pemuda itu.
"Aku juga tidak tahu senpai, tiba-tiba saja Furihata terbangun lalu berteriak," jelas Fukuda.
"Aida-san, ini airnya," ucap gadis pelayan berpakaian yukata tipis sembari menyodorkan segelas air pada Riko.
"Terima kasih, yuri-san," ujar Riko seraya menyambut gelas air dari yuri, lalu mencoba meminumkannya pada Furihata yang bersandar di bahunya.
Dengan tangan bergetar, Furihata mencoba meraih gelas yang disodorkan padanya lalu meminum isinya namun karena tubuhnya belum siap menerima benda asing masuk, dia pun tersedak minumannya.
"Minumnya pelan-pelan saja, Furihata-kun," ujar Riko sembari kembali mengelus punggung Furihata diikuti oleh Hyuga yang masih memasang wajah khawatir pada kouhainya.
"Minna, ada apa ribut-ribut— loh ada apa dengan Furihata?!" dari arah pintu Izuki berlari kecil mendekati tempat tidur di ikuti anak-anak Seirin yang tersisa.
"Kelihatannya ia mengalami serangan panik," jawab Riko yang lalu agak tersentak kecil ketika merasakan beban di bahunya menghilang, menoleh ke arah Furihata, ia bisa melihat pemuda itu menunduk, menyembunyikan kelereng brownies-nya di balik surai kecoklatan itu.
Terdiam sejenak, tanpa mendongakkan kepala, Furihata berujar lirih, "…Minna, ada yang ingin aku sampaikan pada kalian…"
Alhamdullillah akhirnya chapter 6 selesai~
(sujud syukur)
Duh! Lega banget deh rasanya setelah berminggu-minggu mentok di satu chapter akhirnya Ferl bisa move on! (tebar bunga di rumah tetangga #dilempar baskom).
Sebenarnya di chapter ini cuma cerita selipannya aja buat menyempurnakan cerita masa lalunya Kuroko tapi Ferl gak nyangka bisa sepanjang ini padahal udah banyak yang dipotong =_= , tadinya juga Ferl udah niat mau dibagi dua aja tapi udah janji kalau di chapter 8 bakalan selesai, jadi terpaksa diterusin.
Oh ya, di chapter kemarin-kemarin Ferl lupa menyebutkan kalau butler di timeline Furihata dan yang lainnya itu bernama Shirogane Eiji pelatih tim Rakuzan sedangkan yang Shirogane Kozou di sini ia adalah pelatih tim Teikou.
Lalu percakapan Kuroko di fic ini berdasarkan dari residual energy dari percakapannya sendiri bersama orang lain di masa lampau (di chapter ini), jadi mungkin kalian akan merasakan déjà vu saat membaca kalimat yang sama berulang-ulang dari satu chapter ke chapter lain.
Dan untuk umur Kuroko waktu bertemu Furihata, umurnya tetap 16 tahun (di umur di mana ia menunggu Kagami) walaupun seharusnya ia berumur 22 tahun ketika meninggal, lalu untuk di scene pertama pas mereka lagi anak-anak umur mereka adalah : Murasakibara 10, Kagami, Aomine, Kise, Momoi, Midorima, dan Akashi 9, dan Kuroko 6.
Oke dari pada author notenya nanti tambah panjang lebih baik Ferl sudahin dulu sampai di sini.
Lagi mulai ngerjain draf chapter tujuh nih, kayaknya bakalan panjang lagi (tepar) _(:'3_/ /)_, do'ain Ferl supaya bisa cepat nyelesain chapter 7, ya~
Balesan review :
Xxxlovers
Wai~ xxxlovers-san, terima kasih sudah mau review,
Buat pertanyaan xxxlovers-san, nanti semuanya bakalan di beri tahu di chapter tujuh kok, dan untuk pelatihan Riko, Ferl pikir karena mereka ayah dan anak jadi cara pelatihan mereka nggak akan jauh-jauh amat cuman Kagetora-san pake pistol kalau mau melatih XDD. terima kasih atas dukungannya dan terima kasih udah mau review, mampir lagi ya (~^w^)~
Di mohon reviewnya ya minna ~
Selamat tahun baru minna (~ ^w^)~
Bye ~
