Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
"Jadi begitu…" gumam Hyuga. Tangan terlipat di dada dan mata tertuju ke lantai, termenung. Mereka baru saja selesai mendengarkan cerita Furihata tentang sejarah mansion yang mereka tempati sekarang dan orang yang bernama Kuroko Tetsuya.
"Aku pikir ia memiliki tujuan dengan memperlihatkan masa lalunya kepada Furi, seperti meminta kita untuk melakukan sesuatu," ujar Fukuda memberikan sugesti.
Riko yang dari tadi hanya terduduk diam di tempatnya dengan tangan memangku dagu mendongak memandang Fukuda, alis terangkat satu, "Seperti?"
"Seperti… apalah yang bisa membuat arwahnya tenang,"
"Andai saja kita bisa membantu, tapi kita cuma sekumpulan pelajar SMA, memangnya apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka?"
"Ada," dari arah pintu sosok Shigehiro muncul, berjalan menghampiri anak-anak Seirin yang berkumpul di ranjang Furihata dan Fukuda, "Masih ada yang bisa kalian lakukan untuk membantu Tetsuya-san," lanjutnya.
"Tetsuya-san?! Kau kenal Kuroko?!"
"Tentu saja, aku keturunannya. Dan lagi ia selalu menampakkan dirinya ketika waktu makan malam di taman, siapa pun yang tinggal atau menginap di sini pasti pernah bertemu dengannya," jelas Shigehiro.
"Jadi kau juga pernah bertemu dengannya?"
"Yah… saat aku pertama kali bermalam di mansion kakek, aku bertemu dengannya di taman…" ujar Shigehiro sembari mendongakkan kepalanya seakan mengingat-ingat kejadian pertama kali ia bertemu dengan Kuroko.
Ribuan bintang terhampar luas sejauh mata memandang mempercantik langit malam yang pekat dengan kilauannya bak permata, bulan bersinar terang tanpa ada awan yang berusaha menutupi, bersinar menerangi sosok pemuda yang tengah menyendiri di taman, angin berhembus lembut mempermainkan surai biru mudanya.
"Hei!" panggil Shigehiro sembari berlari mendekati sosok itu.
Merasa terpanggil pemuda itu menolehkan kepalanya hanya untuk membelalakkan mata ketika melihat wajah si pemanggil.
"Kagami-kun?" sentaknya.
"Hm? Tadi kau bilang apa?"
Tersentak dari trance-nya, pemuda itu menggelengkan kepala sembari tersenyum pahit, "I'e, maaf sepertinya aku salah mengenalimu dengan seseorang yang aku kenal."
"Begitu. Oh ya, kau sedang apa di sini? Sebentar lagi mau makan malam loh, tidak masuk?"
"Maaf, sepertinya aku akan menundanya, aku masih ingin di sini,"
Menganggukkan kepala mengerti, Shigehiro pun berucap kembali, "Oh… ya sudah. Eh, tapi setidaknya kalau kau ingin keluar pakailah pakaian tebal seperti jaket atau semacamnya, kau akan terserang masuk angin kalau hanya memakai pakaian setipis itu, ukh! Mana aku tidak bawa jaket lagi."
Mendengar celotehan Shigehiro, pemuda itu tiba-tiba saja menolehkan kepalanya ke belakang sembari membawa tangannya yang tertutup lengan lebar haori ke mulutnya, punggungnya terlihat bergetar hebat.
"Ada apa?" Tanya Shigehiro bingung melihat gelagat pemuda itu yang menurutnya aneh.
"Tidak, aku hanya berpikir kalau sikapmu mirip sekali dengan orang itu," ujar si surai biru muda sembari mengulum senyum.
"Apa orang yang kau maksud, orang yang sama dengan yang tadi?"
Tersenyum lembut penuh nostalgia pemuda itu hanya mengangguk meng-iyakan.
"Oh ya, karena kau masih ingin di sini, aku akan ke dalam dulu untuk mengambilkanmu jaket, tunggu aku, ya?" ujar Shigehiro sembari mulai beranjak dari tempatnya berdiri.
"Ah, tidak usah! Aku tidak apa-apa, lagi pula sebentar lagi makan malam 'kan? Kenapa tidak kau langsung pergi keruang makan saja."
"Begitu, ya sudah aku duluan masuk, cepatlah masuk sebelum kau kedinginan, oke?"
"Ha'i."
Di pertengahan jalan, Shigehiro berhenti sembari menepuk dahinya ketika ia ingat telah melewatkan sesuatu, berbalik menghadap Kuroko, pemuda itu pun bertanya, "Maaf, aku lupa menanyakan namamu, aku Ogiwara Shigehiro, kau?"
Pemuda itu terdiam sebentar sebelum kemudian membuka mulutnya, "…Kuroko Tetsuya…dessu…"
Mendengar nama itu Shigehiro terdiam di tempatnya untuk beberapa detik, sebelum kemudian menggumamkan nama itu dengan dahi berkerut, "Kuroko?"
"Dan setelahnya, aku baru ingat kalau hanya aku saja remaja yang menginap di sini," ujar Shigehiro menyelesaikan ceritanya.
Semua yang ada di ruangan itu langsung speechless dengan keringat besar menggantung di kepala mereka ketika mendengar cerita Shigehiro, "Ano, Ogiwara…"
"Bukannya itu terlalu lama untuk sadar?"
"Oh ya, ngomong-ngomong siapa hantu wanita berambut pink yang di temui kantouku dan Koganei-senpai, apa kau mengenalnya?"
"Ah, mungkin yang kau maksud itu Satsuki-san, dia memang sering menampakkan diri pada tamu-tamu yang menginap di sini, tapi dia tidak mempunyai maksud jahat kok. Seorang pelayan di sini mengatakan kalau dahulu ada seorang footman yang mengagumi kecantikkan Satsuki-san, dan jatuh depresi ketika mengetahui Satsuki-san tewas, katanya footman itu menyimpan sesuatu milik Satsuki-san sebagai harapan agar arwahnya tetap berada di mansion ini."
"Memangnya benda apa yang disimpan footman itu?"
"Entahlah, tidak ada yang tahu benda apa yang disembunyikannya yang pasti selama benda itu tidak ditemukan, kemungkinan Satsuki-san selamanya akan terkurung di mansion ini dan tidak bisa beristirahat dengan tenang."
"…Rumit juga, ya?"
Terdiam dengan ekspresi prihatin terpahat di wajahnya, Riko pun berujar, "Setelah mendengarkan cerita dari Furihata-kun tadi, aku jadi berpikir kalaupun sudah berabad-abad terlewati orang yang bernama Tetsuya itu masih tetap menunggu di taman itu, berharap kalau kekasihnya akan menjemputnya. Bukankah itu menyedihkan?"
"Tapi, bukannya mereka berdua sudah sama-sama meninggal, seharusnya mereka sudah bisa bertemu di alam sana, bukan?" ujar Kawahara.
"Tidak, kejadiannya tidak akan sesimpel itu. Bila kalian berpikiran kalau kematian dapat mempertemukan mereka berarti kalian naïf. Ambil contoh dari kejadian yang menimpa Tetsuya-san dan yang lainnya ini, apa setelah mereka menyusul yang lain arwah mereka bisa tenang? Tidak bukan?"
Seisi ruangan terdiam merenung sesaat, sampai Fukuda angkat bicara dengan kerutan di dahi, "…Bisakah kita melakukan sesuatu? Entah kenapa aku tidak suka membiarkan hal ini begitu saja."
"Em! Jika ada yang bisa kami bantu kami akan membantu, kau tahu sesuatu Ogiwara-kun? Seperti hal apa yang membuat mereka tertahan di dunia ini?"
"Seperti yang ku katakan tadi, memang benar ada cara untuk membuat arwah mereka tenang. Mungkin alasan mereka terikat di dunia ini memang berbeda-beda, tapi permasalahannya sama, yang harus kita lakukan adalah menemukan jasad Kagami-san dan menguburkannya dengan layak."
"Tapi bukankah mencari mayat yang sudah dikubur beratus-ratus tahun itu akan susah, bagaimana kita bisa menemukannya?"
"Pasti bisa! Selama bertahun-tahun ini orang-orang yang pernah tinggal di mansion ini mengaku hanya pernah di temui penampakkan-penampakkan tapi tidak ada di antara mereka yang mengatakan kalau mereka pernah bermimpi aneh berulang-ulang. Bila Tetsuya-san sampai sejauh itu menunjukannya di mimpi, dia pasti percaya kalau kalian bisa melakukan sesuatu."
"Tapi di mana kita harus memulai? Apakah ada petunjuk?"
"Ah! Soal itu sebenarnya aku menemukan sebuah buku catatan milik Tetsuya-san, dan mungkin di sana bisa di jadikan petunjuk,"
"Benarkah? Lalu di mana buku itu?"
"Err… itu masalahnya. Kau tahu 'kan tidak banyak yang menginap di mansion ji-chan, dan banyak kamar yang tidak terpakai di mansion ini, jadi aku sering berpindah-pindah kamar dan sepertinya tanpa sengaja menghilangkan buku itu di sesuatu tempat, hehe…" ujar Shigehiro terkekeh canggung sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal, meninggalkan yang lain di ruangan itu kembali speechless.
"OI GAKI!" raung Riko sembari mencengkram kepala Shigehiro kuat, "KAU BILANG BUKU ITU PENTING, DAN KAU BERANI MENGHILANGKANNYA BEGITU SAJA?!" lanjutnya.
"DAN BERANI-BERANINYA KAU MENAMBAHKAN 'HEHE'!" raung Hyuga ikut mencengkram kepala Shigehiro.
"Uwaa! Maaf, itai! Maaf ampun…" jerit Shigehiro panik. Dalam hati ia berucap ngeri, 'pelatih dan kapten Seirin benar-benar menyeramkan."
…
"Shitakanai, sepertinya kita harus mencarinya di seluruh ruangan di mansion ini, Ogiwara-kun, ada petunjuk?"
"Emm… seingatku, aku meletakkannya di laci meja, em… atau di atas meja, atau di dalam lemari…"
"Bicaranya yang jelas, mou!"
"Eh! Maaf aku lupa spesifiknya yang mana, tapi sepertinya ada di antara yang kusebutkan tadi,"
"Takku… ya sudah kita berpencar saja kita bagi menjadi 2 tim, tim pertama mencari di lantai 2 tim ke dua mencari ke lantai 3,"
"Aku juga akan meminta beberapa pelayan untuk membantu mencari buku jurnal itu,"
"Bagus! Itu akan memudahkan kita untuk mendapatkan buku itu,"
"Tu-tunggu kantouku, kita harus mencarinya sekarang?"
"Tentu saja lebih cepat, lebih baik"
"Ta-tapi ini masih jam 3 pagi!"
"Shitakanai deshou? Kita tinggal 2 hari lagi di sini sebelum papaku menjemput, apa lagi pencarian ini kemungkinan akan memakan waktu yang lama. Lagi pula kalian juga pasti tidak akan bisa tidur lagi setelah mendengarkan cerita ini, 'kan?"
"Tapi ini sama saja dengan mempercepat tes keberanian," keluh Hyuga lemas.
"Ma~ ma~ Hyuga, don't mind!" seru Izuki seraya menepuk-nepuk bahu Hyuga jenaka.
"Berisik Izuki!"
"Tes keberanian?" ucap Shigehiro penasaran.
"Yah, klub basket kami punya tradisi kalau disaat akhir traning camp, kami akan melakukan tes uji keberanian," jelas Koganei.
"Wah, seru juga,"
"Kalian berdua, jangan mengobrol! Ayo kumpul, kita akan mengundi siapa yang dapat tim pertama dan kedua,"
"Eh, ha'i!"
Seusainya pengundian tim, terbentuklah 4 tim yang bekerja 2 tim dalam satu lantai sekaligus, satu di bagian barat satunya lagi memeriksa di bagian timur dengan alasan untuk mempersingkat waktu.
Tim 1 lantai 2 bagian barat : Tsuchida, Mitobe, & Koganei.
"Oujamashimassu," salam Tsuchida begitu ia melangkah masuk kedalam kamar, diikuti Koganei dan Mitobe di belakangnnya.
"Yah~ ruangan-ruangan kamar di sini memang luas ya? Apa bisa kita memeriksa semuanya dengan cuma bertiga?" ujar Koganei sembari membuka laci nakas asal.
"Itu sebabnya kita harus bergegas, masih banyak lagi ruangan yang harus kita periksa,"
"Ada apa Mitobe? …oh! Benar juga dari pada mencarinya dengan membabi buta, lebih baik kita membagi tugas saja, kau jenius Mitobe!" puji Koganei sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya. Sedangkan di sudut ruangan Tsuchida terpekur memandangi interaksi —one side— MitoKoga.
'Mereka tadi sedang ngobrol?' pikir Tsuchida bingung.
Tim 2 lantai 2 bagian timur : Shigehiro, Kawahara, & Tanaka (footman).
"Oi Ogiwara, kau ingat bagaimana rupa bukunya?" Tanya Kawahara sembari memeriksa isi lemari.
"Hm… kalau tidak salah buku jurnal itu berukuran kecil berwarna krim dengan garis horizontal berwarna hijau lumut dengan nama Tetsuya-san di belakang cover."
Seperti mengingat sesuatu Kawahara tersentak di tempat lalu berbalik menghadap Shigehiro, "Aku ingat sekarang! Pantas saja waktu itu aku merasa familiar dengan nama Kuroko Tetsuya."
"Kau pernah menemukkannya?"
"Ha'i, tidak salah lagi! Coba ikut aku," serempak tim 2 keluar dari kamar.
Tim 3 lantai 3 bagian barat : Riko, Hyuga, & Kiyoshi.
"Woah… tempat ini lebih luas lagi dari pada kamar-kamar yang lain," komentar Hyuga kagum.
"Di lantai tiga inikan memang di peruntukkan untuk kamar keluarga, jadi tidak heran kalau kamar-kamar di sini lebih luas dari kamar yang lain. Ngomong-ngomong kamar Kuroko-san berada di dekat sini, jadi kalian tidak boleh berisik oke?" jelas Riko.
"Ha'i, ha'i, tahu kok."
"Ngomong-ngomong Riko."
"Ha'i?"
"Ini kamar siapa, ya?"
"Oh, katanya sih ini kamar putri Kuroko-san, tapi karena beliau sudah pindah bersama suaminya, kamar ini jadi tidak terpakai lagi."
"Begitu…"
"Memangnya ada apa Kiyoshi?"
"…Tidak, hanya saja aku merasa ada hawa aneh di sini," aku Kiyoshi sembari membuka lemari baju.
"Hah? Apanya yang an—," belum sempat Hyuga menyelesaikan perkataannya, dari arah lemari, Kiyoshi tiba-tiba melompat kebelakang sambil berteriak kesetanan.
"WOAAA!"
"Oi Kiyoshi, ada ap—mbuh!" dan sekali lagi kata-katanya terpaksa tertelan kembali ketika dengan tiba-tiba Kiyoshi memeluknya erat.
"Hei! Sudah kubilang kalian jangan berisik!"
"Kamu kenapa sih, lepasin!"
"Di-di sana…" gagap Kiyoshi dengan tangan bergetar menunjuk ke arah lemari, mau tidak mau membuat Hyuga yang berada dipelukkannya ikut merasa gugup.
"A-apanya?"
"Di-di sana… ada tikus…" lapor Kiyoshi dengan masih memasang ekspresi horor menunjuk arah lemari, Hyuga speechless.
"Daho!"
'Bletak!'
"Itte!"
"Kupikir tadi apa ternyata cuma tikus, tegakkan punggungmu! Masa sama tikus saja kau takut!"
"Tapi 'kan kau tahu sendiri aku paling trauma dengan namanya tikus," kilah Kiyoshi sembari lebih memeluk Hyuga dengan erat, wajah di benamkan di bahu Hyuga.
"Akh! Sudah lepaskan!" omel Hyuga sembari berusaha membebaskan diri dari pelukan beruang Kiyoshi dengan mendorong dada pemuda itu.
"Tapi aku merasa aman kalau memelukmu, Hyuga."
"Geez… kalian ini berisik sekali," menggelengkan kepala, Riko mencoba mengabaikan keberisikkan KiyoHyuu dan memfokuskan perhatiannya kepenjuru ruangan hingga bulir hazelnya bersirobok dengan sebuah lukisan yang tertempel di dinding di sudut ruangan dekat meja nakas.
Lukisan itu sendiri adalah lukisan cat air bunga sakura dengan beberapa tulisan sajak di sampingnya, walaupun warna kanvasnya sudah menguning termakan waktu, tidak lantas mengurangi keindahan dari lukisan itu.
Terpesona dengan keindahannya, tanpa melepaskan pandangannya, Riko menghampiri lukisan itu dengan perasaan kagum, "Wah… cantik sekali…" ujarnya, lalu menempelkan jari jemari lentiknya ke kaca yang melindungi lukisan itu.
Menyusuri frame lukisan itu dengan jari telunjuknya, tanpa sengaja hazelnya menemui sesuatu yang ganjil. "Teppei, apa kau membawa sesuatu seperti benda tajam atau semacamnya?"
Mengangkat kepalanya dari bahu Hyuga, tanpa terpengaruh dengan pemberontakkan yang dilakukan Hyuga di pelukkannya Kiyoshi menjawab, "Hm? Aku bawa cutter, memangnya ada apa?"
"Boleh aku meminjamnya? Ada sesuatu yang ingin aku periksa dari lukisan ini." ujar Riko sembari melepaskan lukisan yang ia temukan dari dinding dan membawanya ke tempat tidur.
Seperti melupakan rasa takutnya tadi, dengan entengnya Kiyoshi melepaskan pelukkannya dari Hyuga, menghampiri Riko, lalu mendudukkan diri di samping gadis itu sembari menyodorinya cutter kecil yang ia keluarkan dari kantong celana.
"O-oi kantouku kau mau apa?! Itu properti mansion ini!" cegah Hyuga ketika melihat Riko mulai menguraikan lukisan itu dari frame-nya.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, lihat, kanvasnya dijahit ulang. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan hingga membutuhkan kanvas tambahan," ujar Riko sembari mulai memotong benang yang mengikat kanvas itu dengan hati-hati.
Selesai menguraikan benang perlahan Riko menggoyangkan lukisan itu kebawah hingga sesuatu terjatuh dari lukisan itu.
'plop'
Hyuga yang pertama kali melihat benda yang terjatuh dari lukisan itu langsung terperanjat naik ke atas tempat tidur tepat di samping Riko, seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa panas-dingin. Benda itu sendiri sebenarnya hanyalah sepucuk amplop kecil berwarna coklat, tapi yang menyebabkan reaksi ngeri dari Hyuga adalah adanya warna merah kehitaman mencurigakan di beberapa sudut amplop itu.
Tanpa memperdulikan bercak-bercak mencurigakan tersebut Riko memungut amplop tersebut dari lantai dan memeriksanya bolak balik.
"O-oi jangan diambil! Bagaimana kalau amplop itu berisi kutukan!" ujar Hyuga ngeri.
"Jangan yang aneh-aneh! Memangnya apa yang janggal dari amplop ini?" sergah Riko sembari membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.
Ketika sepucuk kertas di keluarkan dari amplop itu bau aneh menyengat menyerbak menyerang penciuman membuat ketiganya secara reflecks menutup hidung mereka, Riko yang memeganginya terpaksa menjauhkan kertas itu dari mereka. Dengan jarak sepanjang tangan Riko membuka lipatan kertas itu perlahan, takut merobeknya tanpa sengaja.
Ketika lipatan kertas itu sudah terbuka ketiganya bisa melihat beberapa kalimat yang tertulis dikertas itu dan sebagiannya menghilang tertutup noda merah kehitaman yang sama dengan yang ada di amplopnya, dari situ, di benak mereka bertiga asumsi yang sama terbentuk tentang bercak merah-kehitaman itu : darah.
"A-apa-apaan ini?! Un-untuk apa seseorang menyimpan benda seperti ini?!"
"Untuk menahan arwah pergi ke peristirahatan terakhir," jawab Riko, dengan ekpresi tak terbaca di wajahnya.
"Ha-hah?"
Menoleh ke arah Hyuga dengan ekspresi belum berubah, Riko menjelaskan, "Kau pasti masih ingat yang dikatakan oleh Ogiwara-kun 'kan? Tentang seorang footman yang menyimpan sesuatu milik Satsuki-san untuk menahan arwahnya tetap di sini, sepertinya benda yang di maksud adalah ini."
"Kurasa itu masuk akal, bagaimanapun tidak akan ada yang mencurigai kalau benda ini di simpan di dalam lukisan, bukan?" ujar Kiyoshi membenarkan.
Menganggukkan kepala menyetujui perkataan Kiyoshi, Riko lalu mengembalikan perhatiannya ke arah kertas itu, "Sepertinya ini surat dari Tetsuya-san untuk Satsuki-san dan jika benar darah yang tertempel di kertas ini milik Satsuki-san, kemungkinan kertas ini berada di dekatnya ketika ia bunuh diri."
"Dan footman itu langsung mengambilnya ketika pelayan lain berusaha membersihkan kamar Satsuki-san," timpal Kiyoshi sembari menganggukkan kepala seperti membenarkan hipotensi miliknya.
"Ngomong-ngomong tulisan di surat ini mirip buku teks, ya" dan komentar OOP darinya kembali berhasil menurunkan tensi di ruangan itu.
"Kiyoshi, serius sedikit, dong!" protes Hyuga.
Kembali menggelengkan kepalanya pasrah, Riko berusaha memfokuskan penglihatannya ke tulisan yang ada di surat itu.
Dari apa yang tertulis di sana yang masih bisa ia baca, Riko mengambil kesimpulan bahwa Tetsuya menyatakan penyesalannya karena pada akhirnya ia tetap tidak mampu mencintai Satsuki dan menyesal tidak bisa membahagiakannya, di situ juga Riko mengambil kesimpulan kalau surat itu di tulis sebelum Tetsuya memutuskan menembak mati dirinya sendiri terlihat dari tulisannya yang terkesan tergesa-gesa.
Meletakkan kertas surat itu di pangkuannya, Riko pun berujar dengan ekspresi prihatin tergambar jelas di wajah, "Andai saja semua berjalan seperti yang di harapkan oleh Kagami-san dan Tetsuya-san, setidaknya tidak akan ada yang tersakiti, setidaknya pelayan pria itu bisa memperjuangkan cintanya pada Satsuki-san dan Satsuki-san bisa mendapatkan cinta yang di dambakannya," lirihnya.
Hyuga yang mendengar perkataan Riko terperangah dengan apa yang di ucapkan gadis itu. Sejauh yang ia tahu gadis itu memang mudah merasa iba dengan cerita roman di buku-buku novel tapi tidak sampai sangat bersedih hingga hampir menangis, namun pada akhirnya ia mencoba memaklumi dan beranggapan kalau Riko juga mempunyai batas toleransi di mana ia juga bisa menangis bila mendengar cerita-cerita sedih.
Menepuk bahu sang pelatih pelan, Hyuga berusaha memberi pengertian, "Sudahlah kantouku, yang sudah terjadi tidak bisa di sesali lagi, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, 'kan?"
Yang tidak Hyuga duga adalah Riko menjatuhkan kepalanya ke bahunya dan membawa tangannya menangkup wajah.
"Loh, kantouku? Hei kau tidak apa?" Tanya Hyuga bingung sembari menggoyangkan bahu gadis itu.
"Riko?" panggil Kiyoshi ikut menggoyangkan bahu gadis itu khawatir.
"Hiks…" sejurus Hyuga membelalakan matanya menghadap Kiyoshi, tengkuknya terasa dingin dan tubuhnya terasa kaku. Riko di pelukkannya terasa seperti bukan dirinya.
"Hiks… tolong…" lirih gadis itu terisak, wajah Hyuga berubah pucat seiring tubuhnya yang bergetar.
"…Kau Satsuki-san?" Tanya Kiyoshi, sebuah anggukkan sebagai jawaban.
"Ada yang ingin kau sampaikan pada kami."
"Tolong aku… hiks… aku ingin pulang… hiks… kenapa aku harus terkurung di tempat ini?! Aku ingin bertemu Tetsu-kun! Aku hanya ingin bertemu Tetsu-kun!" jeritnya diakhir sembari merenggut kaos Hyuga kuat.
Memegangi tangan Riko supaya tidak berbuat lebih anarkis lagi pada kaos Hyuga, Kiyoshi pun membujuknya dengan suara lembut, "Kami akan berusaha mencari cara untuk memulangkanmu."
Mata kecoklatan gadis itu bergulir ke arahnya, "Kau bersedia memulangkanku?"
"Ha'i, bisa beritahu kami bagimana caranya?"
Menyodorkan kertas dan amplop di pangkuannya, gadis itu kembali berujar lirih, "Musnahkan kedua benda ini, hanya inilah yang mengikatku di tempat ini."
"Baik akan kami lakukan,"
"Terima kasih," usai mengucapkan dua kata itu Riko kembali menjatuhkan kepalanya ke bahu Hyuga dengan kedua matanya yang tertutup, pingsan.
Selang beberapa menit, tiba-tiba pintu kamar bergeser menampakkan seorang pemuda berpakaian pelayan, "Ah, ketemu! Hyuga-dono, Kiyoshi-dono, Ai— loh ada apa dengan Aida-dono?" ujar pemuda bersurai raven tersebut bingung.
"Tadi kami mendapat sedikit kejutan, memangnya ada apa Tanaka-san?"
"Ah, kalian dipanggil ke bawah, katanya Kawahara-dono sudah menemukan buku jurnalnya,"
"Benarkah?"
"Ha'i."
Mengalungkan lengan Riko ke lehernya, bersiap menggendongnya dengan gaya bridal style Kiyoshi mendongak menatap Hyuga yang terduduk lemas dengan wajahnya yang memucat, "Kau tidak apa-apa Hyuga?"
"… Aku tidak apa-apa," sahut Hyuga yang lalu berusaha mengangkat tubuhnya hanya untuk terjatuh kembali setelah mendapati kalau kakinya terlalu lemas untuk menumpu tubuhnya, rupanya disandari oleh Riko yang kerasukan tadi sudah menguras energinya.
Melihat Hyuga yang terjatuh kelantai, pelayan pria yang bernama Tanaka itupun dengan sigap memangku Hyuga berdiri, lalu ke empatnya bergegas meninggalkan ruangan.
Sementara itu, tim 4 di lantai 3 bagian timur : Fukuda, Furihata, & Izuki.
"Minna bagaimana kalau kita memeriksa ruangan-ruangan ini dengan berpencar, dengan begitu kita bisa mempersingkat waktu," usul Fukuda, ketika mereka berada di ujung lorong lantai 3 menghadap 3 pintu di kanan dan kiri mereka.
"Kurasa tidak ada salahnya mencoba, bagaimana Furihata?" Tanya Izuki sembari menoleh ke arah Furihata.
"Em, aku pikir juga begitu,"
"Baiklah sudah di tentukan, kalau begitu aku akan memilih ruangan ini," ujar Izuki sembari menunjuk pintu di belakangnya.
"Kalau aku yang ini, ya?" ucap Fukuda sembari menunjuk pintu ruangan di sebelah Izuki.
"Kalau begitu aku yang ini," ujar Furihata sambil menunjuk pintu di belakangnya, bersebrangan dengan ruang yang di pilih Fukuda.
Dengan satu anggukkan sebagai aba-aba, mereka bertiga serempak memutar knop pintu yang sudah mereka pilih lalu melangkah masuk. Setelah pintu terayun menutup, Furihata memperhatikan ruangan di sekelilingnya, ada banyak prabotan yang telah rusak seperti, sofa, kasur, kursi, lampu ruang, dan lainnya tersusun rapi di sudut-sudut ruangan, jadi Furihata berasumsi kalau ruangan itu adalah gudang.
Di ujung ruangan, ia dapat melihat beberapa jendela kaca besar tersusun rapi tepat menghadap luar mansion. Berjalan mendekat, Furihata bisa melihat halaman mansion dan hutan yang mengelilinginya di bawah.
"Woah, hebat~," ujarnya kagum dengan pemandangan di depannya, sampai benaknya menyadari sesuatu.
'Tu-tunggu, bukankah ini tempat aku melihat sosok itu,' pikirnya horor, ketika ia teringat dengan kejadian pertama kali datang ke sini. Memang dari tempatnya berdiri ia bisa melihat dengan jelas tempat di mana mereka dulunya memarkirkan mobil dan mengeluarkan muatan, di tempat itu juga ia tanpa sengaja menangkap sosok bayangan yang berdiri di depan jendela.
'Tidak salah lagi,' pikirnya lagi dengan masih perasaan ngeri, kalau ruangan ini gudang lalu untuk apa seseorang berada di sini hanya untuk memperhatikan mereka? Furihata tanpa sadar melangkahkan kakinya mundur menjauhi jendela.
Atmosphere ruangan tiba-tiba memberat bersamaan dengan hawa di ruangan yang entah kenapa berubah dingin, cahaya lampu-lampu nylon yang melekat di atas platfon tiba-tiba berkedip beberapa kali sebelum kemudian meredup lalu mati, bau busuk menyerang entah darimana menggantikan bau apek di ruangan itu padahal Furihata yakin sekali kalau pintu gudang sudah ia tutup rapat, dan di ruangan pun tidak ada fentilasi udara, jadi seharusnya tidak akan ada bau yang masuk ke ruangan itu.
Tidak ingin sesuatu hal tak diinginkan terjadi padanya, melupakan tujuan awalnya memasuki ruangan itu, Furihata berbalik dan bersiap untuk pergi, namun baru saja beberapa langkah diambil, sebuah suara yang begitu familiar terdengar lirih.
"…Tetsu…ya…" dan ia terpaku di tempat, tengkuknya tiba-tiba terasa dingin ketika dirasa ada seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Berbalik kembali menghadap jendela, dan jantungnya terasa jatuh ke perut begitu melihat sesosok pemuda berpakaian yukata biru gelap tengah berdiri tepat di depan jendela di mana ia berdiri beberapa detik yang lalu.
Sinar bulan yang menyinari sosok itu dan mata royal blue-nya yang menatap tajam ke arahnya, menambahkan perasaan tertekan pada diri Furihata, namun yang menjadi perasaan ngeri bukanlah cuma keberadaannya saja yang muncul tiba-tiba, tapi pada apa yang ada di tangan kecoklatan pemuda bersurai biru gelap tersebut yang mengacung kearahnya, pistol revolver.
Belum sempat Furihata bereaksi, suara ledakan dari pistol berdenging di telinganya, dan selanjutnya perasaan sakit yang membakar datang di dada lalu menyusul perasaan bau amis menggumpal di mulut dan Furihata terjatuh berlutut.
Yosh~ kita stop dulu di situ, ya~
Sengaja cliffhanger biar pembaca penasaran soalnya, hnyahahaha… (dilempar kursi)
Setelah banyak pengulangan Ferl memutuskan untuk mempostingnya semoga saja tidak mengecewakan, sempat galau pas nulis adegan Riko kerasukan Momoi soalnya perasaan kurang greget gimana gitu (T^T).
Ngomong-ngomong bila ada yang menanyakan kalau Tanaka itu siapa, dia yang jadi saingan Kise nge-jugling(ini tulisannya benar gak?) bola di season 1 episode 23 di bagian awal, terus yang seorang footman yang suka sama Momoi, dia Nijimura Shuuzou.
Ps : footman : pelayan pria
Balesan review :
Henry :
terima kasih udah mau review henry-san :DD
untuk pertanyaan henry-san, kalau tidak salah revolvel pertama kali di produksi sekitar tahun 1849, sedangkan di cerita ini sendiri time line kisedai sekitar akhir abad 18-an (specifiknya antara 60-70). Dan walaupun pada abad itu seharusnya kebudayana barat sudah masuk ke jepang ada kemungkinan revolver belum masuk ke jepang, Ferl punya headcanon sendiri buat nambel lubang di plot itu.
Di chapter 5 Shirogane pernah bilang kalau Akashi Masaomi itu pengusaha 'kan? Cuman tidak di jelaskan ia berada di bidang apa. Jadi Akashi Masaomi itu punya perusahaan koleksi kimono terkenal, tapi ia juga punya usaha sampingan sebagai penyelundupan senjata illegal ke jepang dan sudah punya langganan kelompok yakuza. Dan Akashi dan Kuroko sebagai calon penerus usaha keluarga keselamatannya selalu terancam oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan Akashi Masaomi, itu sebabnya mereka punya senjata api untuk melindungi diri mereka sendiri.
Sebenarnya Midorima dan Aomine juga punya, mereka bertindak sebagai body guard Akashi dan Kuroko.
Dan untuk pernyataan henry-san benar atau tidaknya kita rahasiakan dulu entar spoiler, hehehe…
Terus yang terakhir akan Ferl akan usahakan biar wordnya tidak terlalu panjang :D
Sekali lagi terima kasih udah mau me-review fic Ferl henry-san
Nanti mampir lagi ya~ :DD.
Wako : Wako-san terima kasih udah mau review \(^v^)/
iya ini ferl udah update :D
terus untuk pertanyaan Wako-san, iya Momoi memang meninggal bunuh diri, di chapter 5 ada kok di jelaskan ia meninggalnya gimana, tapi maaf gak bisa nerangin lebih spesifik lagi gimana ia bunuh diri soalnya 'kan di chapter 6 itu ceritanya tentang kenangan kuroko secara personal jadi ceritanya harus terhenti saat kuroko bunuh diri, tapi nanti kalau ada yang mau tahu bagian Momoi, Ferl bisa kok buat chapter tambahan tentang dia :D.
terima kasih udah mau me-review fic Ferl,Wako-san
Nanti mampir lagi ya~
Bye~ (^0^)/
Yang reviewnya pakai akun bakalan Ferl balas di pm.
Minna-san sudah siap untuk chapter terakhir?
Review please~
Bye~
