To Find Out
Disclaimer :
The Five-Find-Outers (Pasukan Mau Tahu) and any characters in it © Enid Blyton
Plot and dialogues are my made-up
I gained no financial advantages from this fanfiction.
To Find Out
"What is destiny? To find out yours."
150
6. Bets dan Buster
"Ssst.. Buster!"
Bets menoleh dan mendapati asistennya Diana Layton masuk ke ruangannya sembari memegang gagang sapu. Konsentrasi Bets langsung buyar. Segala analisnya mendadak lenyap dari kepalanya. Dengan sedikit merengut, ia menatap asistennya itu.
"Maafkan saya, Nona Hilton. Anjing anda menerobos masuk." Ucap Diana sedikit terbata-bata takut kena marah Bets.
Si anjing spaniel hitam itu langsung melompat ke pangkuan sang majikan dan dengan agresifnya berusaha menempelkan lidahnya di segala tempat.
"Tidak apa-apa, Diana." Mendadak segaris senyum muncul di wajah Bets. Ia lalu menggaruk perut Buster. "Boy, kau rindu aku ya?"
Buster menggonggong satu kali. Diana tersenyum melihat kejadian itu dan menawarkan untuk menjaga Buster, tapi Bets menolak.
"Tidak usah, Diana. Biarkan saja Buster di dalam sini."
Diana mundur dan akhirnya keluar dari ruangan. Bets mengesampingkan berkas-berkasnya dan menggendong si anjing ke sofa.
Ah.. mendadak ia merindukan Fatty. Dimana ya, Fatty sekarang? Apa dia masih punya anjing sesetia Buster ini? benaknya bertanya-tanya.
.
.
.
7. Larry dan Telepon
"Dua menit. Cuma dua menit."
Sang sipir penjara mendorong Larry masuk ke sebuah bilik telepon di sudut ruangan. Bilik itu sangat kotor dan menjijikan. Tapi, Larry mengabaikan detil itu. Tidak ada gunanya bertindak perfeksionis di saat-saat seperti ini.
"Aku tahu. Jangan mendorong-dorongku." Desisnya kesal. Ia meraih gagang telepon dan segera menekan nomor yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Hanya dua detik, sebelum ada suara seorang wanita menyapa di ujung sana. "Keluarga Daykin di sini."
"DAISY!" Larry tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak.
"Larry? Apa kabar? Kukira kau sudah lupa kau punya adik.."
Larry langsung memotong. "Daisy, aku dipenjara."
"..dan gaunnya.. APA?! Kau apa, Larry?"
"Aku dipenjara, Daisy. Aku dituduh melakukan pembunuhan."
"Larry, bagaimana bisa?"
"Kirimi aku pengacara, Dee. Aku tidak bisa cerita banyak sekarang. Keadaannya sangat rumit di sini. Minta bantuan Fatty jika perlu."
"Larry, tapi kau tidak.."
"Demi Tuhan, tentu saja, tidak!"
"Baik, akan kuusahakan."
Larry mendesah lega.
.
.
.
8. Daisy dan Dilema Bagian Dua
Menurut Daisy, novel itu payah. Sungguh. Segala hal yang ditulis di novel-novel itu sangat berlebihan. Apalagi jika novel roman.
Ia pernah sengaja mengecek koleksi novel Bets saat gadis itu pulang ke Peterswood saat libur Natal. Novel Bets beragam. Mulai dari karangan Ian Fleming, hingga Sidney Sheldon. Pokoknya jika masuk ke kamar Bets, rasanya seperti di surga —bukan surga Daisy tentu.
Ia mengambil sebuah buku dan tanpa membaca deskripsi isinya langsung membuka ke halaman pertama.
Bab Pertama.
Dunia runtuh di balik kelopak matanya. Segala rencana, cita-cita, dan mimpi seolah terhempas. Hancur lebur.
Sekarang, Daisy paham bahwa hal itu memang bisa terjadi. Dulu, ia hanya terlalu muda untuk mengerti.
Larry dipenjara karena membunuh. Bukan, dituduh membunuh lebih tepatnya. Dan apa yang dimintanya tadi?
Kirimi aku pengacara. Mudah. Tapi apalagi kata Larry tadi?
Minta bantuan Fatty jika perlu.
Sanggupkah ia? Sanggupkah Daisy meminta bantuan laki-laki itu? Dan maukah laki-laki itu membantunya?
Demi Larry?
.
.
.
9. Pip dan Tuksedo
"Kau tampan sekali, Pip." Nyonya Hilton nyaris menangis karena terharu saat menatap figur anaknya yang sudah dewasa dalam balutan tuksedo. Laki-laki itu bukan lagi Pip cilik yang suka berkeliaran menyelidik kesana-kemari dan menganggu Pak Goon. Kini Pip adalah seorang pelukis kontemporer yang karyanya sudah melanglangbuana melampaui Inggris. Putranya yang sudah sukses bahkan sebentar lagi akan menikah.
"Ibu jangan menangis, dong." Pip memeluk Ibunya. Ibunya mengeluarkan suara antara tertawa dan menangis secara bersamaan.
Dengan pelan Ibunya berbisik, "Coba saja, Bets bisa melihat kakaknya sekarang."
Pip mencibir. "Ya ampun, Bu. Aku ragu dia mau pulang untuk hadir di pernikahanku. Kerjanya di Interpol 'kan banyak. Gila kerja benar, si Bets itu."
Ibunya melambaikan tangan seolah hendak meralat ucapan Pip. Pip melepaskan pelukannya dan kembali mematutkan diri di kaca.
Wow, Pip memang tampan. Pantas rasanya bersanding dengan Daisy yang cantik. Pip tertawa sendiri dalam hati.
Ah! Rasanya tidak sanggup, masih harus menunggu sebulan lagi!
.
.
.
10. Fatty dan Teh Chamomile
Rasanya menyenangkan sekali bisa menapakkan kaki di bumi Eropa setelah sekian lama merasa seperti tersesat di Mesir. Angin sejuk ini, wah.. segar sekali. Inilah yang dirindukan Fatty.
Pemandangan malam kota London yang terbentang di hadapannya menyajikan sesuatu yang membuat perasaannya campur aduk. Bahagia, sedih, senang, terluka..
Ah, Fatty jadi ingat saat kunjungan Paskahnya ke Peterswood setahun yang lalu, saat ia pertama kali bertemu Daisy setelah sekian lama berpisah.
Ia hanya ingin pulang dan menyapa teman-teman lamanya. Pip, Bets, Larry, dan Daisy. Tapi, hanya Daisy yang berhasil ditemuinya. Pip sedang ada di Perancis. Larry bekerja di Jerman. Bets bersekolah di Amerika. Hanya Daisy.
Dan ia tidak pernah tahu bahwa secangkir teh chamomile bisa terasa begitu enak jika ditemani canda tawa Daisy.
Fatty menyesap kopinya. Teh Chamomile jelas ada dalam daftar hitamnya sekarang. Tidak ada kenangan semanis dan seharum itu lagi. Kini hanya ada kepahitan tertuang dalam cangkir hidupnya. Sepahit kopinya ini.
