Chapter 3 : Mysterious Man [Rework]
20 tahun yang lalu...
Malam itu di planet novus yang terlihat sunyi dan begitu tenang, bulam novus terlihat begitu besar dan bersinar malam itu.
"Apa yang terjadi, seperti ada yang janggal malam ini" kata sesosok bellato..
"Hai Davian sedang apa kamu malam-malam begini di luar? tidak bersama istri dan anak mu?" sapa seseorang lainnya.
"Ah, hai Shin hai Reevian, tidak meraka sedang berada di rumah, kau sendiri mau kemana?" jawab orang yang di panggil Davian tersebut.
"Kebetulan aku dan istriku ingin ke rumahmu, 1 bulan anakmu lahir kan, apa kau tidak ingat?" ucap Shin.
"Oh,benar,aku hampir saja lupa, kalau begitu baiklah, lebih baik kita sama-sama saja kerumah ku" ucap Davian.
Mereka bertiga berjalan menuju rumah dari orang yang bernama Davian tersebut, tapi saat sudah di depan rumah Davian.
"Ngghh,arrghh" erangan terdengar dari Davian.
"Dav kau tidak apa-apa? kau kenapa?" tanya temannya Shin karena khawatir.
*NGGHHHHAARRRRGGGG*
Sebuah raungan keras keluar dari mulut pria bernama Davian tersebut, matanya yang tadinya berwarna merah darah kini mulai bersinar dan keluar aura pembunuh yang pekat dalam dirinya.
"Ma..mata itu!reevian cepat masuk ke rumah Davian, lindungi Karin dan anaknya! cepat" perintah Shin kepada istrinya.
"Davian apa yang kau lakukan! ada apa dengan mu!" lanjut Shin.
*NGGHHHHAARRRRGGGG*
Dengan tidak di sadari oleh Shin, Davian sudah berada di hadapannya dan akan menyerang dengan dua buah pedang kembar yang siap memotong setiap bagian tubuh Shin.
*KRAAANNKKK*
Terdengar suara benturan yang lumayan keras terdengar karena benturan dua benda tajam.
"Si..sial, kekuatan macam apa ini!" ucap Shin.
Devian yang sudah kehilagan kendali atas dirinya sendiri mulai membabi buta menyerang Shin dari segala arah, sampai akhirnya Shin terkena serangan telak di dadanya, dan terlempar lumayan jauh.
"Huaaah" teriak shin terkena tebasan kedua pedang Davian di kedua dadanya. "Dav hentikan, ada apa denganmu"
Tidak menggubris perkataan temannya, Davian pun berpaling dan hilang entah kemana. tidak menyia-nyakan kesempatan ini dan dengan menahan rasa sakit di dadanya, Shin mencoba untuk berjalan masuk kerumah Devian untuk memerintahkan istrinya membawa lari istri Davian dan anaknya.
Setelah dia memperingatkan istri dan karin istri Davian, ia berjalan menuju keluar rumah, dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang terjadi di luar, Shin belum lama masuk untuk memperingatkan istrinya dan Karin, tapi keadaan di luar benar-benar sangat mengerikan, seluruh rumah tempat kediaman clan redmoon menetap telah hancur, namun lebih jalan dipenuhi dengan simbahan darah, dan mayat berserakan dimana-mana.
Dan terlihat hanya tersisa sosok pria yang yang ia kenal berdiri memegang dua buah bilah pedang di tangannya dengan memancarkan mata merahnya dan dengan senyum kepuasan.
"Davian hentikan! apa yang telah kau perbuat dengan semua ini! apa kau akan membunuh anak dan istri mu sendiri!" teriak Shin.
*NGGHHHHAARRRRGGGG*
Lagi-lagi hanya raungan yang di terima oleh Shin, Davian langsung berlari menuju mereka dengan hawa membunuh yang pekat, dia berusaha mengincar Karin. aku ingin menolongnya, tapi tenagaku sudah terkuras banyak karna pertarungan tadi, dan lagI luka di dadaku ini.
Dia langsung berlari menuju Karin dan istriku, saat pedang itu akan menancap di dada Karin, Reevian mendorong Karin dan pedang itu langsung menembus tubus Reevian.
"Re..reeviaaaaaaaaaaan! Davian hentikan!" teriak Shin penuh rasa frustasi,melihat sahabatnya menjadi seperti monster dan membunuh istrinya di depan matanya, ingin sekali menghajar dan menghentikan Davian sahabatnya itu, tapi apa daya dia sudah tidak kuat untuk bergerak.
Davian tidak memperdulikan perkataan Shin sahabatnya, dia melemparkan tubuh Reevian dan beralih ke Karin dan anaknya. dengan mudah nya ia membunuh Karin istrinya sendiri dengan sadis. dan sekarang hanya tinggal anaknya yang mungkin bahkan akan dia bunuh juga.
Davian mengangkat satu pedangnya keatas seolah bersiap untuk mencabut anak sematawang nya yang hanya bisa menangis dan bahkan belum bisa berbuat apa-apa.
Melihat istrinya di bunuh Shin sahabat seperjuangannya, dadanya mulai berasa sesak dan matanya mulai panas, ia tidak melihat lagi sosok sahabat yang sejak dulu bersamanya, melainkan ia melihat sosok monster yang mengerikan.
Tanpa menghiraukan rasa sakit di dadanya, ia berusaha bangkit dengan di bantu pedang hora sword nya dan dengan kalap mulai berlari ke arah sahabatnya.
*Zleeebb*
Shin menusukan pedangnya tepat di jantung sahabatnya, sebelum davian menghujamkan pedangnya kearah anaknya.
"Uhkk" darah keluar dari mulut davian. cahaya di mata Davian mulai memudar, dan Shin merasakan hawa pembunuh dari Davian mulai menghilang sedikit demi sedikit, sampai akhirnya benar-benar hilang.
Kesadaran Davian sidikit demi sedikit mulai kembali kedalam dirinya. dan betapa terkejutnya dengan apa yang ia lihat, semuanya hancur tak bersisa, ia melihat istrinya tergeletak tak bernyawa dan melihat anaknya yang menangis.
Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, ia tidak mengingat sedikitpun apa yang sudah terjadi sebenarnya. ia merasakan ada caritan dingin mengalir keluar di bagian dadanya, tidak kalah terkejutnya ia melihat pedang Hora sword yang sangat ia kenali. ya, pedang milik sahabat nya sendiri Shin menancap di dadanya tepat di jantungnya.
Dengan terbata-bata ia berkata "a..apa..yang..telah..terjadi..di..sini! uhkk" ucapnya.
Tidak ada jawaban, ia hanya mendengar isak tangis dari belakang tubuhnya.
"S..shin,a..pa yang sudah terjadi" ucap nya lagi. "a..apa aku yang telah melakukan ini semua?" tanya Davian pada Shin.
"Ma..ma..maafkan aku Davian" ucap Shin sambil terus menangis. ia tak sanggup berkata apa-apa lagi setelah apa yang ia lihat dan ia alami. belahan jiwanya nya tewas di tangan sahabatnya dan sekarang ia harus membunuh sahabatnya di tangan nya sendiri.
"Ti...tidak Shin, maafkan aku telah *ukkhh* hah..hah.. maafkan aku telah membunuh istrimu bahkan kau harus melihat semua ini" ucap Davian yang mulai melemah.
"Shi...n, saudaraku, ak...u memiliki satu permintaan kepada mu *uhhk*" ucap Davian.
"a...apa itu..?"
"ak..u tak meminta mu untuk memaafkan ku atas apa yang telah ku perbuat *uhkk* aku tau dosa ku mungkin sudah tak terampuni.. tapi tolong, jagalah dan rawatlah anak ku, aku mohon untuk terakhir kalinya sebagai sahabatmu *uhhkk*" ucap Davian yang mulai kehilangan kesadarannya.
"To..long jaga dia baik-baik"
"ba..baiklah saudaraku" balas sih masih dengan tangis yang terisak. "siapa nama anakmu?" tanya Shin sambil berusaha menahan tangisannya.
"Rezda, Rezda Redmoon" ucap Davian seraya tersenyum mengucapkan kata terakhirnya, dan dia pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum di wajahnya.
.
.
"Hiaaah fast shot!" ku keluarkan jurus ku untuk membunuh monster gaff di hadapanku, walaupun dengan susah payah akhirnya aku berhasil membunuh monster itu.
"Rez gimana udah kelar quest lu?" tanya Dario.
"Baru aja kelar ni, balik yuk capek gue" jawab gue.
"Ayok dah, tapi kita kudu laporan hasil quest kita ke pak Chris kan?" tanya Dario ke gue.
"Ah bener juga, hampir lupa gue, ya udah kita kasih laporan dulu ke dia" ucap gue yang kemudian berlari ke arah portal solus untuk kembali ke markas bellato.
Sesampainya di markas, gue sama dario langsung berlari ke barrack pelatihan ranger untuk menyerahkan laporan hasil quest yang baru saja gue kerjain.
"Hah hah hah, lapor pak" ucap gue tegas sambil memberi hormat.
"Ada apa prajurit?" ucap pak Chris.
"Lapor kami sudah menyeselesaikan quest untuk membunuh 20 gaff di solus, dan ini laporannya" kata gue kemudian nyerahin semacam catatan virtual kepada dia.
"Hmm, bagus kalian mengerjakannya dengan baik" ucap pak Chris. "tunggu sebentar" tambahnya.
ia melangkah ke arah rak senjata dan mengambil 2 buah handgun.
"ini raward untuk kalian, karena menyelesaikan quest dengan baik" katanya.
"terima kasih banyak pak" jawab kami berdua sambil memberi hormat.
"sekarang kalian boleh kembali ke asrama dan beristirahatlah" ucapnya.
"Siap, pak!" jawab kami dengan memberi hormat lagi. kemudian kami pun langsung kembali ke asrama untuk istirahat..
.
.
.
"Rez bangun rez, noh liat ada yang nyariin lu tuh" kata Dario seraya bangunin gue.
"Apaan sih, ini hari libur kuya gue pengen istirahat dengan tenang" jawab gue dengan masih keadaan mengantuk.
"Oh, beneran nih, yang nyariin sophie loh, kalo gitu buat gue aja ah" ucap Dario dengan nada menggodanya.
"Sophie?" denger nama itu sontak gue langsung bangun dari tempat tidur gue. "iya Dar gue bangun Dar selow aja kali" jawab gue sambil menuju kamar mandi.
"Gue keluar ye mau nyari sarapan, tuh si Sophie nunggu lu di loby lantai bawah" teriak Dario dari luar kamar mandi.
"Iywa bwilwangwin sbwentawr lwagwi gwue twuruwn" balas gue sekenanya karna lagi gosok gigi.
Setelah mandi gue langsung siap-siap turun buat nemuin Sophie di loby.
"Hei Soph, udah nunggu lama ya?" tanya gue.
"Eh e..engga kok Rez, aku baru aja dateng" jawab dia.
"Maaf ya udah buat lu nunggu, oya tumben lu kesini pagi-pagi ada apa?" tanya gue lagi.
"I..ini aku buatin sarapan buat kamu" jawab dia, muka nya mulai memerah udah kaya twister rebus.
"Serius buat gue?" ucap gue dengan nada heran,padahal dalam hati seneng banget di buatin sarapan sama cewe yang gue sukain XD.
"I..iya, itu buat kamu" balas dia masih dengan muka yang malu-malu.
"Wih makasih banyak Soph, lu baik banget ama gue" jawab gue girang.
"Iya sama-sama, kalo gitu aku pulang dulu ya, dahhh" kata dia sambil berlari keluar loby asrama.
"Huaaah, di buatin sarapan ama Sophie, berasa kejatuhan dalant segepok" ucap gue pelan sambil cengar cengir kaya anak flem.
Gue kembali keatas ke kamar gue buat menyantap sarapan pemberian sophie tadi.
"Gue pulang" ucap Dario.
"Lu dari mana aja kuya, beli sarapan aja lama bener" jawab gue.
"Lah sebagai teman yang pengertian gue kan memberikan kesempatan elu buat berdua sama si Sophie, terima kasih kek atau apa" balas dia dengan nada membela.
"Ngeles mulu lu, paling abis godain mbak-mbak kantin kan" ejek gue.
"Eh engga lah, ngapain godain mbak-mbak, mending godain Sophie,huahahaha" goda dia sambil ketawa.
"Lu macem-macem sama Sophie gue jadiin sate flem lu!" jawab gue garang.
"Eh eh, selow bos becanda" jawab dia ketakutan. "garang ye kalo orang lagi jatuh cinta,hahaha" tambahnya masih dengan ketawa ala orang sayko -_-
"Btw bulan depan kita akan ada ujian pergantian class kan? lu mau ngambil class apa Dar?" tanya gue.
"Hmm mungkin gue pengen jadi sniper aja, soalnya di class lanjutan kedua gue mau ngambil inflitator, supaya bisa intip-intip, huahaha" jawab dia dengan muka mesum.
"Dasar penjahat kelabang lu" balas gue.
"Normal boss, emang elu suka batangan, trus lu sendiri mau ngambil class lanjutan apa?" tanya Dario.
"Hmm" gue diem sejenak buat mikir, "kaya nya gue ambil desperado deh, gue pengen jadi hiddensoldier legendaris, bahkan melebihi kemampuan archon kita sekarang, hehe" jawab gue dengan yakin.
"Wah wah ketinggian mimpi lu bro, jatuh pedih ntar" ucap Dario.
"Lah ya biarin, gue ini yang jatoh" jawab gue ketus.
Pagi itu di lewatin dengan rutinitas yang membosankan, membersihkan kamar, menyuci seragam, dan rutinitas membosakan lainnya.
"Dar gue bosen nih, kita hunt aja yuk di solus, siapa tau kita dapat barang bagus" ajak gue.
"Ayuk, emang bosen juga sih di asrama mulu, ya udah gue siapin barang-barang gue dulu" jawab Dario.
"oke gue juga"
Setelah kami selesai menyiapkan barang-barang kami, kami pun langsung pergi menuju solus, gue ngusulin buat hunt di hutan crawler karena di sana banyak monster yang 1 tingkat di atas level kami, jadi mungkin presentase drop barang berharga lebih tinggi.
"Huft sampai juga akhirnya" kata Dario.
"Ya lumayan jauh juga ternyata" jawab gue.
"Oke kita mau hunt monster apa nih?" tanya Dario.
"Gimana kalo Ace Meat Clod aja, gue denger-denger katanya banyak dropnya, lagian gak terlalu banyak monster disini, cuma ada assasin builder itu pun monster tipe passive.
"Oke baiklah, gimana kalau kita berpencar, supaya hasil buruan kita bisa lebih banyak" usul Dario.
"Ide bagus, kalo gitu jam 16.00 kita ketemu lagi disini" jawab gue.
"Siap"
Kami pun mulai berpencar dan mulai mencari target buruan kami masing-masing. sepertinya disini tempat yang strategis, ada lapang luas jadi gue bisa lebih leluasa ngehindarin serangan serangan monster itu, pikir gue.
"Yosh kita mulai, come to papa cacing!" ucap gue sebelum melancarkan serangan ke meat clod buruan gue.
*FAST SHOOT* tiga buah peluru dengan tepat mengenai kepala dari Ace meat clod itu, tapi sepertinya monster tipe ace ini memang agak sulit untuk tumbang, karna memiliki kekuatan yang lebih besar dari yang normal.
"Sial, susah amat ni mosnter mati" rutuk gue.
Dengan susah payah gue terus menerus nyerang monster itu dengan cepat, sambil menghindari setiap serangan nya. di sini gue yang lebih di untungkan, soalnya meat clod ini tipe monster yang gerakan nya lambat, jadi gue punya waktu lebih buat ngehindarin serangan-serangannya.
Setelah melalui pertarungan sengit, monster itu pun tumbang, dan gue mulai mengambil drop yang terjatuh dari tubuh monster cacing itu.
"Hmm, Banyak juga dropnya, gue dapat Vulcan lumayan seperti yang gue harapkan" kata gue.
Namun gue rasa seperti ada yang aneh, kemana monster monster itu pergi, terlihat sepi di sini. dan teryata, damn! gue udah masuk ke wilayah sarang dari Pit boss Varas, mampus pikir gue.
"Anjir apa yang harus gue lakuin, gue gak mungkin ngelawan pitboss ini" rutuk gue.
Varas itu mulai menyerang gue dengan senjatanya yang berbentuk menyerupai kipas *BLUM BLUM BLUM* gue cuma bisa menghindari ledakan yang di akibatkan serangan mosnter itu. sampai akhir nya gue lengah dan serangan itu tepat mengenai tubuh gue.
"Arrgghh" gue terpental lumayan jauh karna kekuatan varas yang mulai mendekat dan sudah bersiap mencabut nyawa gue.
Gue udah gak bisa apa-apa lagi sekarang, tangan varas itu mulai bergerak keatas seraya siap menhembuskan kipas nya untuk membunuh gue.
Tapi betapa kagetnya gue, tiba-tiba muncul sesosok dengan jubah hitam di hadapan gue, dan menangkis serangan varas itu dengan kedua buah belah pedang kembarnya yang berwarna merah,orang misterius itu langsung menyerang Varas dengan gaya bertarung yang gue sendiri baru pertama kali melihatnya, tidak itu tidak terlihat seperti orang sedang bertarung, melainkan orang yang sedang menari dengan dua buah pedang.
Varas mulai itu kewalahan menerima serangan demi serangan yang dilancarkan sosok misterius itu kearahnya, dan sampai akhirnya orang itu seperti akan mengeluarkan jurus pamungkasnya, dia seperti terdiam sejenak dengan posisi menyilangkan kedua belah pedangnya di belakang tubuhnya,dan kemudian dia berteriak "Shadow Blade Dance", dari pedangnya keluar seperti cahaya menyerupai huruf X dan berputar perlahan sampai akhirnya mengenai tubuh varas itu.
Tidak terjadi apa-apa, pikir gue. semua tiba-tiba menjadi hening, sampai akhirnya teriakan dari varas memecahkan keheningan itu.
Betapa terkejutnya gue, melihat tubuh varas itu terbelah menjadi 4 bagian seperti huruf X, "ke..kekuatan macam apa itu" ucap gue lirih.
"Siapa anda, kenapa anda menolong saya" tanya gue.
Dia tidak menjawab, dia menengok dan melihat ke gue dan kemudian dia menghilang seperti angin.
Gue terkejut dan hanya bisa membatu, sampai akhirnya gue baru sadar dengan apa yang gue lihat barusan, orang itu memiliki mata merah darah, sama persis seperti mata gue.
Gue terkejut setengah mati menyadari hal ini. apa masih ada lagi yang masih hidup dari clan gue, yang notabene telah di bantai oleh seseorang, atau jangan-jangan orang itu yang telah melakukan semua itu?. tapi kenapa dia nolong gue barusan. siapa dia sebenarnya. tanya gue dalam hati dengan beribu tanda tanya di dalamnya.
to be continue..
Hmmm,selesai juga setelah berjuang keras memikirkan untuk chapter ini haha (alhamdullilah)
dzofi : makasih senior,saya akan berusaha lebih baik lagi,mempertahankannya.
hafidz : wih yang penting jangan demen ama empunya aja,masih normal :v
okeh mungkin sekian dari saya,selamat menikmati ^^ dan tetap nantikan kelanjuta cerita rezda ya
