To Find Out
Disclaimer :
The Five-Find-Outers (Pasukan Mau Tahu) and any characters in it © Enid Blyton
Plot and dialogues are my made-up
I gained no financial advantages from this fanfiction.
To Find Out
"What is destiny? To find out yours."
200
11. Bets dan Kancing Usang
Perlu diingat bahwa nama Bets adalah Elisabeth Hilton. Nama yang elegan dan anggun 'kan? Cocok dengan apa yang dilakukan Bets sekarang ini.
"Nona Hilton, meja nomor 7." Ujar sang pelayan sembari membimbing Bets menuju mejanya.
Bets tidak terlalu memusingkan soal sesuatu yang indah dan gemerlap. Tapi restoran Perancis langganannya ini adalah satu dari sedikit kemewahan yang sengaja Bets berikan pada dirinya sendiri. Interiornya klasik dan sarat lukisan dimana-mana. Baik tergantung di pigura atau terlukis langsung di langit-langit.
"Seperti biasa, ya." Kata Bets saat duduk di kursinya. Sang pelayan mengangguk hormat dan berlalu.
Alasan Bets datang kemari kali ini bukan karena pekerjaan. Justru Bets sengaja meminta cuti untuk menikmati pagi indah di musim semi. Sudah lama, sejak Bets terakhir kali melepaskan pekerjaannya demi kesenangan kecil seperti ini.
Lagipula ini hari yang istimewa.
Tangan Bets otomatis menyentuh sebuah kancing usang berwarna coklat di lehernya. Kancing itu sebagai pengganti bandul di kalung yang dipakai Bets.
Telunjuk dari Fatty, kenang Bets geli jika mengingat kepolosannya dulu. Ia tidak bisa menyebut petunjuk dengan benar. Fatty mengajarkannya untuk mencari berbagai jenis petunjuk untuk penyelidikan dan kancing yang ada di lehernya ini adalah salah satunya.
Ini bukan kancing usang. Bantah Bets. Ini adalah telunjuknya yang paling berharga.
.
.
.
12. Larry dan Imajinasi
Sel penjara ini dingin. Padahal walaupun Larry telah kehilangan hitungan harinya sejak berada di penjara, rasa-rasanya salah jika selnya bisa terasa sedingin ini. Di dalam selnya nyaris terasa bagai akhir musim gugur. Dingin dan membekukan tulang, walau tanpa salju.
Larry menggertakkan gigi dan berbaring menyamping di atas dipannya yang keras. Untung baginya, ia tidak harus berbagi dengan orang lain di sel ini.
Semuanya berkat Daisy.
Ia akui bahwa ia salah telah memutuskan untuk berhenti menjalin komunikasi dengan adiknya sejak ia pindah ke Greenpeak. Waktu itu, keputusannya untuk menyendiri berakar terlalu kuat dalam dirinya. Semuanya gara-gara keluarga itu.
Ada keluarga yang baru pindah ke Peterswood. Keluarga Mannering terdiri dari Philip, Jack, Lucy-Ann, dan Dinah. Semuanya masih bersaudara. Tapi, tidak ada orang tua. Mereka jelas cukup dewasa untuk membeli satu rumah di samping rumah keluarga Daykin.
Tidak ada wanita yang seperti Dinah. Ia adalah seorang desainer interior dan masuk akal sekali mengobrol dengannya. Seiring dengan seringnya mereka bertemu —Dinah bekerja di rumah, tumbuh rasa cinta di dalam hati Larry.
Tapi, gadis itu tidak merasakan hal yang sama. Dinah ternyata telah bertunangan dengan Jack Trent, orang yang dikira Larry adalah kakak laki-laki Dinah yang lain.
Saat itu, Larry tidak pernah merasa sesakit ini.
.
.
.
13. Daisy dan Dilema Bagian Tiga
Hanya semenit, Daisy. Tidak berat kok. Daisy mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ia gugup luar biasa ditambah tangannya menolak untuk berkoordinasi dengan baik.
Deringan pertama. Deringan kedua. Deringan ketiga..kelegaan mulai membanjiri Daisy. Mungkin Fatty tidak ada.
"Halo, Frederick Trotteville di sini."
Jantung Daisy nyaris copot saat mendengar suara itu. Aneh bahwa ia merindukan suaranya.
"Uh.." Daisy menggenggam gagang telepon erat-erat.
"Halo? Apa kau di sana?"
"Ya." Daisy memantapkan suara. "Ini aku, Fatty. Daisy."
"Oh.." Hening cukup lama. Dan suara Fatty mendadak terdengar aneh. "Ada apa, Daisy?"
Daisy sudah melatihnya berkali-kali, pasti akan terasa mudah. "Ini tentang Larry."
"Larry?" Daisy bisa membayangkan alis Fatty bertaut heran. Kini, nada suaranya berubah lagi. "Ada apa dengan Larry?"
Dan meluncurlah cerita dari bibir Daisy. Fatty mendengarkan dengan tekun, sesekali menyelipkan kata 'lanjutkan', agar Daisy tahu bahwa dirinya mendengarkan.
"Jadi, wanita bernama Dinah ini ditemukan tewas di apartemen Larry?"
"Ya. Wanita itu tertikam di ruang kerja Larry." Suara Daisy menjadi serak. Betapa leganya ia saat Fatty menanggapi beritanya dengan baik. Tanpa rasa sungkan atau tidak enak hati. "Tapi, Larry tidak mungkin melakukan itu, Fatty. Aku mengenalnya.."
"Aku juga." Sahut Fatty pendek. "Jangan khawatir. Aku akan membantu kalian."
"Terima kasih, Fatty." Dan maafkan aku atas segalanya…
.
.
.
14. Pip dan Undangan
"Oh, jadi kau berhasil mengguna-gunai Daisy, Pip?" Adiknya terkikik di ujung telepon. Pip memastikan dengusannya terdengar ke telinga Bets.
"Diamlah, Bets."
"Jangan marah dong." Bets tertawa. "Kapan upacaranya?"
"Sebulan lagi." Pip melirik kalender di sebelah telepon.
"Hmm.." Terdengar keresak di ujung sana. Bets sepertinya sedang melihat-lihat jadwalnya.
Duh, masa Bets setega itu melewatkan pernikahan Pip. Sejak Bets aktif bekerja sebagai analis kriminal di Interpol, adiknya jarang pulang ke Inggris. Paling hanya sekali saat libur Natal, itupun hanya sebentar. Sepertinya obsesi Bets untuk menjadi penyelidik semakin menguat saat mengetahui bahwa Fatty bekerja di Scotland Yard.
"Kurasa bisa kukosongkan seminggu dalam agendaku." Sambung Bets pada akhirnya. "Oh, ya, apa Fatty juga akan datang?"
Pip langsung memanfaatkan kesempatan ini. "Wah, wah, kau masih naksir Fatty rupanya. Tentu saja, dia akan datang. Ini akan jadi reuni Pasukan Mau Tahu yang pertama, tahu."
"Ku.." Sepertinya Bets hendak mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. "Baguslah. Dia butuh liburan juga."
"Aduh, Bets. Dia kemarin pulang ke sini, saat Paskah. Sayangnya dia cuma bisa ketemu Daisy."
"Hmm.." Bets kembali menggumam. Terdengar samar-samar suara dering interkom dari sambungan Bets. Ada suara-suara saat Bets menjauhkan telepon dari mulutnya. Dan saat ia bicara pada Pip, nadanya berubah.
"Oke, Pip. Aku akan datang."
.
.
.
15. Fatty dan Escargot
"Kau yakin ini enak?" Fatty menatap piringnya dengan sangsi. Dia orang Inggris dan bisa dibilang sudah menjelajah seluruh benua Eropa. Bahkan rasanya bertugas cukup lama di Paris. Tapi, sumpah, Fatty belum pernah mencicipi Escargot.
"Ini enak, Fatty." Orang yang ada di hadapannya tertawa lepas. Ia mencungkil daging siputnya dan langsung melahapnya. "Rasanya seperti kerang."
Fatty bergidik. Dia memang suka makan. Dan menurut deskripsi kandungan gizi di menunya, sepertinya memang Escargot bukan sesuatu yang harus dihindari. Ih, tapi Fatty tidak mau mencoba makanan itu.
"Ih.. Bets. Pesan yang lain sajalah."
Bets tertawa. Untuk sesaat dunia Fatty berhenti. Wow, ia tidak pernah mengira bahwa Bets bisa bertumbuh menjadi wanita seanggun dan semempesona ini. Jika mengingat masa kecilnya, sepertinya mustahil. Walaupun untuk soal Bets yang bekerja di Interpol itu bukan hal baru lagi. Sejak dulu, Bets memang sudah tertarik pada dunia kriminal dan hukum. Dunia yang dikenal Fatty dengan baik.
"Oke, kau mau pesan apa?" Bets menawarkan menu kepada Fatty. Bagus sekali, tidak ada cincin. Eh? Kenapa dia berpikiran seperti itu sih?
Fatty menolak. "Kau saja yang pesan. Asal jangan moluska."
"Baiklah." Bets tertawa lagi. Dan tanpa sengaja mata Fatty tertumbuk pada kalung yang dipakai Bets. Sepertinya benda yang tidak asing baginya.
Kancing?
.
.
.
A/N :
Ini challenge untuk diri sendiri yang terinspirasi dari obrolan beberapa orang di grup. Yang katanya kalo nulis drabble itu harusnya cuma 100 kata. Dan selama ini, aku belum nyobain.
Lima chapter(?) pertama ini, jumlahnya pas 100. Tapi kok, plotnya jadi lambat? Nah itulah kenapa seiring berkembangnya cerita nambah 50 kata. Terus gitu siklusnya, dan berganti tiap lima nomor (lima main chara). Ternyata sulit ya, mengompres cerita kalo batas katanya ditentuin :''3
Ada yang pernah baca Pasukan Mau Tahu? / Aku kaget ternyata nggak ada satupun arsip yang berbahasa Indonesia di FFn (Aku ngeceknya di Fandom Enid Blyton). Dan pas aku mau masukin ini, eh ternyata ada fandomnya tersendiri : Five-Find-Outers. Dan aku satu-satunya yang punya fic di sana huehehe
Dari dulu, aku gatahan buat nggak ngeship FattyxBets. Ah, how unyu mereka ini wkwk X')
Btw, karena chap selanjutnya masih WIP, berkenan untuk RnR? XD Lumayan untuk moodboster wkwk
