Chapter 4 : Two Heart
"Rezda!" terdengar suara teriakan Davion manggil gue dari kejauhan.
"Lu kenapa? apa yang terjadi disini?!" tanyanya dengan nada panik.
Gue gak bisa berkata-apa, gue masih membatu dan terkejut dengan apa yang sudah terjadi dan yang gue lihat barusan.
"Hei Rezda Redmoon! lu ngapain diem gak jawab pertanyaan gue?! lu baik-baik aja kan?!" ucap Davion sembari goyang-goyangin badan gue kedepan kebelakang supaya gue sadar dari kebengongan gue ini.
"Hah? kok lu ada di sini?" tanya gue dengan polos nya.
"Lah di tanya malah balik nanya, gue panik pea! tadi gue denger dari jauh suara teriakan yang cukup kenceng, makanya gue langsung datang ke sini buat liat apa yang sebenernya sedang terjadi." ucap dia dengan masih terlihat gelihas, karena ngeliat gue kaya orang linglung.
Gue gak bales perkataan dia, gue cuma nunjuk ke arah mayat Varas yang tergeletak tak bernyawa di depan gue dan Dario.
"Ee..elu yang ngabisin tu varas?!" tanya Dario terkekut.
"Bukan" jawab gue dengan nada yang datar.
"Lantas siapa?"
Gue natap Darion dengan wajah yang masih terlihat seperti orang linglung.
"Kejadian itu sangat cepat dar" ucap gue.
"Ya udah ya udah, lebih baik kita balik ke markas, lu ceritain detailnya di asrama aja." kata dia yang udah berkurang rasa paniknya. "sebelumnya ayo kita ambil drop dari varas itu, mubazir kan kalo di biarin." tambah dia.
Gue cuma bisa ngangguk meng-ia-kan perkataan dario. Setelah mengambil drop varas kami berdua berjalan kembali ke benteng solus, dan menteleport diri kami untuk kembali ke markas.
Sesampainya di kamar asrama gue langsung rebahan di kasur gue, sambil masih terbayang-bayang kejadian di hutan crawler tadi. dan tiba-tiba Dario bertanya ke gue.
"Rez ceritain ke gue apa yang sebenarnya terjadi di sana tadi." tanya dario penasaran.
"Baiklah." ucap gue. "tadi pas gue lagi hunt ace meat clod, semuanya masih terlihat baik-baik aja Dar." kata gue mulai menjelaskan apa yang barusan gue alamin di hutan crawler tadi.
"Hmm,lalu?"
"Setelah gue ngalahin tuh monster cacing, perasaan gue kaya ada yang aneh, gue gak liat monster satu pun di daerah itu" jelas gue. "tanpa sadar gue udah bertarung sama tu cacing sampai masuk ke daerah wilayah Pit Boss Varas, yang memang bersarang di dekat situ." lanjut gue.
"Trus trus?" tanya dario yang semakin penasaran dengan cerita gue ini.
"Trus gue panik liat tu Varas mulai ngedeketin gue, dia mulai nyerang gue, awalnya gue bisa ngehindarin serangan-serangan dia. Sampai akhirnya pertahanan gue sedikit terbuka, gue pun telak kena serangan tu tante girang" jelas gue."di situ gue sangat ketakutan Dar, baru pertama kali itu rasanya kematian berjalan perlahan dan mendekat ke arah gue" lanjut gue sambil megangin kepala gue kaya orang ketakutan.
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?"
"Ya trus gue udah gak bisa ngapa-ngapain di situ, sampai ada sosok seseorang dengan jubah warna hitam, dan membawa dual sword berwarna merah muncul di hadapan gue dan nangkis serangan Varas itu dengan mudahnya." kata gue. "dia mulai menyerang Varas itu layaknya seseorang yang sedang menari, gue belum pernah ngeliat gaya bertarung kaya gitu sebelumnya, itu aneh dan mengejutkan."
"Hmmm" kata dario.
"Trus dia ngeluarin jurus yang juga ngga gue tau, tapi efek jurus itu ya yang lu liat tadi, sampai bikin Varas kebelah jadi empat bagian dan nyisahin dropnya aja di sana." ucap gue sambil masih ngerasa merinding buat ngebayanginya.
"Oh, jadi gitu, trus yang bikin lu terkejut dan linglung kaya orang kesurupan gini apa?" tanya dario lagi.
"Itu dia Dar, abis orang itu bunuh tu tante Varas, dia sempet ngelihat ke arah gue, walau wajah nya gak terlihat begitu jelas, tapi gue bisa ngeliat pancaran sinar yang keluar dari matanya." jelas gue.
"Matanya?" tanya dario heran.
"Ia matanya, mata orang itu sama kaya gue Dar." kata gue sambil ngeliat ke arah dario.
" A..apaa?! lu serius?! lu gak ngelindur kan waktu itu?!" ucap dario terkejut."Jadi ada orang lain dari clan lu yang masih hidup?" terus nya
"Gue sendiri gak bisa berargument demikian, gue juga gak yakin apa emang itu orang salah satu yang masih hidup dari pembantaian clan gue, mungkin aja itu sebuah kebetulan atau apalah itu, tapi perasaan gue bilang kalo gue kenal sama orang itu, bahkan sangat dekat." jelas gue.
"Gue rasa dia yang telah ngebantai clan gue, tapi gue heran kenapa dia nolong gue tadi, dan kenapa dia gak ngehabisin gue." ucap gue dengan nada heran.
"Entahlah Rez, mungkin ada maksud lain dari kejadian yang lu alami tadi." ucap Dario.
"Ya tidak menutup kemungkinan Dar, tapi gue bingung Dar, gue bingung apa yang gue harus lakuin sekarang." jawab gue dengan ngerubah posisi tiduran gue agak miring ke arah tembok kamar.
"Hmm, kayanya lebih baik lu ceritain hal ini ke ayah lu deh. mungkin dia tau sesuatu." usul Dario ke gue.
"Entahlah Dar, gue ragu mau cerita masalah ini ke ayah gue." jawab gue.
Sejenak suasana kamar jadi sunyi...
"Ya udah lu istirahat aja,gue mau mandi trus beli makan buat kita berdua." ucapnya sembari berjalan ke kamar mandi.
"Ia dar, thanks udah mau denger cerita gue." jawab gue.
"Gak masalah, kita kan sahabat." ucap dia sembari ngacungin jempolnya ke atas.
Tanpa di sadari gue udah mulai mengantuk, mungkin karna lelah dengan kejadian yang gue alamin tadi, dan gue mulai tertidur.
.
.
.
.
"Dimana gue?" tanya gue dalam hati.
"Hei kau lemah!" kata seseorang dari arah belakang gue. Otomatis gue langsung nengok ke arah sumber suara itu.
"Si..siapa disana?! dimana ini?!" jawab gue panik.
Secara perlahan orang itu mulai menampakan dirinya yang berjalan dari kegelapan (yak kegelapan,soalnya di sini kaya ruangan kosong gitu, penerangan nya terbatas).
Betapa terkejutnya gue setengah mati, ngelihat sosok yang sekarang dengan jelas bisa gue lihat dengan mata gue. dia adalah diri gue sendiri dengan mata merah darah yang menyala!
"Si..siapa lu!" bentak gue karna gue sangat terkejut ngeliat sosok di hadapan gue.
"Siapa aku? kau sangat lucu anak lemah, huahahaha" jawab dia dengan tertawa.
"Ke..kee..kenapa ketawa! siapa lu dan kenapa lu mirip sama gue!" jawab gue ketakutan.
"Aku adalah Rezda Redmoon" jawab dia dengan tatapan yang mengerikan.
"Ti..tidak mungkin, gue ya gue, hanya ada satu Rezda di dunia ini!" ucap gue panik dengan nada yang setengah berteriak.
"Huahahaha, kau hanyalah bayangan ku bodoh, aku lah Rezda yang asli" ucap dia masih dengan tatapan yang sama.
"Jaa..jangan bercanda dasar bajingan!" kata gue..
"Haha, kau terlalu banyak bicara sebagai orang yang lemah, sekarang aku akan menghabisi mu dengan menyiksamu terlebih dahulu" ucap dia dengan nada bicara bak seorang pysico yang siap membunuh orang di hadapannya.
Dia mulai berlari kearah gue, gue berusaha menghindar dan melawan, tapi gue gak bisa ngegerakin tubuh gue sama sekali, berasa kaku seluruh tubuh gue, gue berusaha berteriak, tapi aneh mulut gue pun berasa terkunci. tak sepatah kata pun keluar dari mulut gue.
Dan sampai tiba-tiba dia sudah di hadapanku, dia mengarahkan senjatanya yang berbentuk seperti trisula itu ke arah gue.
"Mati kau,huauaua" ucap dia dengan tawanya.
" TI.. TI ..TIDAAAAAAAAK" teriak gue dalam hati.
*ZLEEEBBB*
.
.
.
.
"TIDAAAAAAAAAKK, HAH HAH HAH" teriak gue sambil bangun dari tidur gue.
"Itu tadi hanya mimpi?! hah hah hah" ucap gue dengan nada kaya orang habis di kejar-kejar Dagnue.
"Ti..tidak, itu tadi terasa begitu nyata" ucap gue sambil megangin dada gue tepat di bagian jantung.
Gue segera berlari ke arah westafle kamar mandi buat nyuci muka gue. "I..itu benar-bener bukanlah sebuah mimpi" ucap gue lirih sambil ngeliat diri gue di depan kaca.
*TITUIT TITUIT*
Gue denger suara cronometer gue berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk. gue langsung berjalan kearah meja buat ngambil cronometer gue. gue lihat pengirim pesan itu, "Sophie?" tanya gue lirih.
Ada apa dia ngirim gue pesan sore-sore gini, pikir gue. kemudian gue buka pesan itu.
'rezda ini aku sophie, bisa gak kita ketemu malam ini jam 9 di taman? ada sesuatu yang ingin aku katakan, aku harap kamu bisa datang malam ini.' itu lah yang tertulis di pesan singkat yang dia kirimkan.
"Ada apa ya sophie ngajak gue malem-malem buat ketemu ya?" tanya gue ke diri gue sendiri. "ah sudahlah, lebih baik gue sekarang mandi, trus cari makan". ucap gue.
"Eh ngomong-ngomong ni kuya dario kemana ya? katanya sebelum gue tidur mau beli makan, lah sampe sekarang belum balik tu kuya." tanya gue heran. "ah udahlah palingan lagi godain mbak-mbak kantin lagi".
Gue pun pergi ke kamar mandi untuk kemudian nyari makan setelahnya.
Malam harinya.
Gue masih memikirkan tentang mimpi yang tadi sore gue alami, apa arti dari mimpi itu sebenarnya, dan siapa orang yang mirip gue di mimpi gue tadi. *Arrrkkkhh* pusing pala gue mikirin kejadian aneh, yang dua kali gue alami hari ini. ucap gue dalam hati.
"ASTAGA NAGA INDO...MIE PAKE TELOR! gue lupa malam ini kan Sophie nyuruh gue ke taman!" ucap gue kaget, karena baru teringat kalau ada janji sama Sophie, gue langsung liat jam dan nunjukin jam 9.30 sekarang.
Sontak gue langsung ganti pakaian dan buru-buru berlari sekuat tenaga ke taman di utara bellato HQ ini, yang lumayan jauh dari asrama pria.
"Hah hah hah" gue lihat sophie udah nunggu gue dengan wajah yang nampak gelisah, kayanya udah dari tadi, ucap gue dalam hati. taman ini kalo malem emang sepi, paling cuma ada satu dua orang, itu juga lagi mojok.
"Hai Soph, sorry gue baru dateng, gue baru inget kalo ada janji malam ini sama lu" ucap gue menyesal sambil nundukin kepala gue, karna ngerasa bersalah udah ngebiarin cewe yang notabene gue suka nunggu di taman yang sepi ini sendirian.
"Ah, ia gak apa-apa kok Rez" ucap dia sambil tersenyum. keadaan berasa sangat canggung malam itu, padahal katanya ada yang mau dia omongin ke gue.
Gue pun duduk di kursi taman,pas di sebelah sophie, dengan agak deg-dengan gue coba beraniin ngebuka obrolan. supaya gak sepi gitu.
"Hmm, Soph kata lu ada yang mau lu omongin ke gue?" tanya gue dengan perasaan yang gugup.
"Ah, i...iya Rez, maaf udah minta kamu ke sini malam-malam gini" ucapnya.
"Haha, gak apa-apa kok, biasa aja kali, lagian gak ada kerjaan juga di asrama" ucap gue setenang mungkin ke Sophie, supaya gak keliatan banget tegangnya.
"Jadi, nggghh, anu Rez" ucap Sophie yang keliatan ragu-ragu buat ngomong.
"Kenapa? gak papa lagi, bilang aja kalo ada yang mau di sampein." jawab gue, dia keliatan nampak gelihah mau ngomong. "gak papa kok soph, bilang aja kalo ada yang mau lu omgongin" jelas gue, supaya dia gak tegang lagi.
"A...aku" ucap dia gugup.
"Ya?"
"A..aku, aku suka sama kamu!" ucap dia dengan lantang.
*JDEEERRRRR JDEEERRRRR JDEEERRRRR*
Kaya berasa di samber Lightning Chain (nama force element petir) berkali-kali badan gue, gemeteran semua rasanya, muka gue langsung berubah jadi merah denger pernyataan yang barusan gue denger dari mulut Sophie, cewe gue suka, cewe yang gak sengaja ketemu sama gue pas mau pergi ke perndaftaran saat itu, sekarang malah nyatain perasaannya ke gue. OH MY GOD...
Suasana seketika menjadi hening, hanya ada suara serangga-serangga malam yang terdengar saat itu dan lampu yang menyinari di atas kepala kami. gue bener-bener terkejut ngedengernya, gue cowo men, gue di tembak sama cewe, dimana harga diri gue semabagai seorang pria sejati! batin gue dalam hati.
"Re..Rez kamu marah ya?" ucap sophie gelisah, tapi masih dengan tatapan dan wajahnya yang tertunduk, yang nyadarin gue dari ke-keterkejutan gue barusan.
"Ng..ngga kok, gue cuma terkejut denger kata-kata lu barusan" jawab gue yang masih syok dengan muka kaya merah kaya queen crook rebus.
"Ma.. maaf rez, kalo aku salah ngomong, maafin aku!" ucap dia ketakutan dan penuh penyesalan.
Gue ngeberaniin diri buat mandang ke arah dia, gue angkat kedua pundaknya dan gue arahin ke arah gue. sekarang gue dan dia sudah dengan posisi berhadap-hadapan dan masih dengan tangan gue yang megangin pundak nya.
Gue kumpulin seluruh keberanian yang gue punya buat ngomong ke sophie, walaupun sebenernya gue gemeteran, sampai buat buka mulut aja rasanya berat baget.
"S...soph, sebenernya gue juga udah suka sama lu dari awal kita ketemu, tapi gue takut buat ngomongin hal ini ke lu" jelas gue.
"Karna mungkin lu udah tau latar belakang clan gue, keluarga gue, gue takut lu malah menjauh dari gue, gue takut lu ninggalin gue, gue takut gue kehilangan lu" ucap gue dengan natap dalam-dalam mata cewe yang ada di hadapan gue.
Terlihat air mata Sophie mulai keluar sedikit dari mata nya yang indah itu.
"Dan sekarang gue tau apa yang lu rasain ke gue, gue seneng banget dengernya, tapi..." ucap gue terhenti.
Sophie terlihat udah gak bisa lagi nahan tangisnya, air mata dia udah mulai mengalir di kedua pipinya.
"Tapi gue malu sama diri gue sendiri yang ngebiarin elu yang cewe malah nyatain perasaan lu duluan ke gue, gue malu Soph" ucap gue sambil tertunduk.
"Tapi sekarang izinkan gue buat ngomong sesuatu ke elu" ucap gue.
"A..apa itu?*hiks hiks hiks*" ucap nya sambil menangis.
"Ma...maukan... Ee..elu.. Ja.. jadi.. Pa..pacar gue" tanya gue yang udah hampir pingsan dengan muka yang udah merah karena nahan rasa malu yang udah mau meledak di kepala gue.
Sophie terkejut ngedenger kata keramat yang barusan gue ucapin, muka dia tampak kaya pengen nangis se kenceng-kencengnya. dia spontan nutup mulutnya pake kedua tangannya, dia cuma ngangguk buat jawab pertanyaan gue tadi.
"Ja..Jadiii?" tanya gue dengan perasaan yang bener-bener bahagia, mungkin ini satu-satunya moment yang paling berarti yang pernah gue alamin dalam hidup gue.
"I..iya aku mau" jawab dia masih sambil menangis dan tersenyum kearah gue.
Gak bilang apa-apa lagi gue langsung meluk dia, karena sangking seneng nya gue denger jawaban dia.
"Gue..gue gak akan nyakitin loe Soph, gue bakalan jagain lu dengan seluruh dengan seluruh nafas gue, gue janji!" ucap gue dengan mantap.
"I..iya aku percaya sama kamu Rez" *hiks hiks hiks* ucap dia sambil terisak.
"Gue sayang sama lu Soph" ucap gue sambil natap dalam-dalam matanya.
"A..aku juga sayang sama kamu Rez" jawab dia.
Tanpa di sadari, tangan gue ngeraih dagu dia, dan ngedeketin wajah kita berdua supaya saling berdekatan, dan kemudian *tiiiitttttttttttttt* (sensor penonton :v)
To be continue...
yah,setelah kemaren sempet ngedown, karna ch 3 yang berantakan, akhirnya alhamdulillah saya bisa bangkit lagi karna dukungan teman-teman author buat ngeremake ch 3 kemaren, alhasil ya lumayan memuaskan. terima kasih senpai.
untuk pakde mie,hehe itu masih menjadi sebuah misteri pakde,haha (padahal gak ada pandangan kedepanya tentang nama-nama clan itu XD).
hehe,namanya juga anak baru,jadi ya semangatnya masih menggebu-gebu buat pengen cepet-cepet update.
untuk masalah tanda baca saya pribadi masih suka banyak yang kelewatan,dan sering juga dapet teguran dari dzofi karna masalah tanda baca,tapi saya bakalan memperbaikinya dengan sebaik baiknya semampu saya.
dan terima kasih buat review ya pakde mie,itu sangat berarti buat saya yang masih newbie ini XD.
dan terima kasih juga buat para teman-teman author,teman-teman pembaca yang masih setia disini,sekali lagi terima kasih. dan jangan sampai ketinggalan kelanjutan dari kisah Rezda selanjutnya, chaaouuu :D
