Sebelumnya di rekomendasikan buat download instrument "Sadness and Sorrow" dari toshiro matsuda (kalo gak salah inget), dikarenakan ada bagian cerita atau scene yang menggunakan iringan musik itu, tapi jika tidak juga tidak apa-apa. baiklah, terimakasih dan selamat membaca.
Chapter 6 : GoodBye
*TITTUIT TITTUIT*
Terdengar suara cronometer gue berbunyi, yang membuat gue terbangun dari tidur gue. tapi gue males banget rasa nya buat bangun, gue liat jam masih nunjukin jam '06.00'.
"Ah, masih jam 06.00, tidur lagi bentar deh, hoaaaam" ucap gue sambil menguap, tanpa memperdulikan cronometer gue yang tadi berbunyi.
*TITTUIT TITTUIT*
"Nggghh" ucap gue sambil bangun dan ngucek-ngucek mata gue. "jam berapa sekarang?" ucap gue ke diri gue sendiri.
"Jam 07.30!" kata gue kaget, gue baru inget kalo hari ini gue ada janji sama Sophie buat nemenin dia quest di Gurun Sette.
"Duh, kenapa gue bisa lupa gini, ah bego!" gue buru-buru lompat ke kamar mandi, tanpa memperdulikan cronometer gue yang bunyi untuk kedua kalinya.
*BYUR BYUR BYUR*
"Huft, ini mungkin rekor mandi gue yang paling cepet." ucap gue sambil ngeringin rambut gue pakai handuk.
"Eh, tadi cronometer gue bunyi, siapa ya yang ngirim pesan." gue baru sadar kalo tadi gue belum sentuh sama sekali tu cronometer sejak bangun tidur tadi, karena gue buru-buru mandi takut telat nyusul Sophie.
Gue berjalan ke arah meja buat ngambil cronometer gue, setelah itu gue buka cronometer gue. dan terlihat ada dua buah pesan masuk disana. ternyata kedua buah pesan itu dari Sophie semua.
"Mampus, kayanya emang gue bener-bener telat sampe Sophie ngirim dua pesan ke gue." ucap gue.
Gue coba buka pesan pertama yang dia kirim. 'Sayang bangun, kamu gak lupa kan hari ini ada janji buat nganter aku quest ke Gurun Sette? buruan bangun trus mandi dan jangan lupa sarapan, aku tunggu di dekat portal markas ya.'
itu isi pesan pertama yang gue terima, dan gue lihat di kirim pas jam 06.00.
"Sial ini kan pas gue tadi bangun, ah kenapa malah tidur lagi sih! sial sial sial!" ucap gue nyesel ke diri gue sendiri. kemudian gue buka pesan kedua yang dia kirim tadi.
'Sayang kayanya aku pergi duluan aja ya, keburu siang soalnya nanti keburu banyak accretia sama cora yang godain aku, hehehe. kalo udah bangun langsung mandi ya Sayang, jangan lupa sarapan. dan kalo sempat susul aku ke Sette ya :)." itu isi pesan kedua yang Sophie kirim.
"Arrrggghhh, kenapa gue bisa sebego ini sih, pake acara tidur lagi segala!" ucap gue kesel sambil mukul meja.
*BRUG*
"PANTAT DAGNUE TERBANG!" terdengar suara Dario setengah berteriak. "heh kuya lu ngapa sih pagi-pagi udah mukul-mukul meja,gangguin tidur gue aja!" lanjutnya
"Sorry Dar, gue cuma kesel aja karna gue tadi pagi udah bangun malah tidur lagi, dan ngebiarin Sophie jalanin quest sendirian di Sette." ucap gue.
"Ya udah sih, lu buruan ke sette temenin Sophie, kali aja belum jauh kan dari portal Sette. lagian bahaya cewe sendirian di Sette." balas Dario.
'Sette? Sendirian?' batin gue dalam hati. tiba-tiba gue teringat omongan orang misterius itu kemaren pas di festival. 'dan sebaiknya kau jangan pergi ke Gurun Sette nak'.
*DEG*
Perasaan gue tiba-tiba jadi gak enak karna mengingat perkataan orang misterius itu kemaren. kaya bakalan ada sesuatu yang terjadi di sana.
"Sophie!" ucap gue lirih dengan nada panik. gue buru-buru buka lemari baju dan mulai memakai pakaian dan peralatan gue.
"Eh lu kenapa Res, kaya nya panik gitu?" tanya Dario heran liat expresi gue yang tiba-tiba berubah.
"Perasaan gue gak enak dar, gue harus buru-buru nyusul Sophie." ucap gue sambil masih nyiapin peralatan gue. "gue berangkat dulu." lanjut gue ke Dario.
"Eh eh, tu..tunggu Res, gue ikut." ucap Dario ke gue, tapi gue gak gubris ucapan dia, gue langsung berlari ke arah tangga dan kemudian dengan sekuat tenaga gue berlari ke arah portal markas buat neleportin diri gue ke Sette.
'Semoga ini cuma perasaan gue aja' batin gue sambil terus berlari. sesampainya di portal gue langsung ngebutin tujuan gue "SETTE DESSERT!".
.
.
.
.
*ZWING* *SETTE DESSERT 08.00 NOVUS TIME*
Sesampainya di portal Gurun Sette, gue langsung lari sprint ke arah selatan, tepatnya kearah pusat dari Gurun Sette yang di tandai dengan ada nya kuil kuno disana, karena daerah Bulky Lunker berada tidak jauh dari tengah Sette.
'Semoga tidak terjadi apa-apa' kalimat itu yang terus-menerus terucap dari mulut gue, selama di perjalanan.
"Gh itu dia gapura menuju tempat Bulky Lunker." ucap gue sambil melihat gapura besar yang menjulang tinggi dengan ornamen-ornamen aneh.
Gue langsung berlari masuk ke dalam gapura itu. setelah gue sampai di daerah Bulky Lunker, gue melihat hal yang paling gak pengen gue lihat, yang sedari tadi gue ucapin sepanjang jalan menuju ke tempat ini.
Gue ngeliat dengan jelas, dua sosok Accretia di depan Sophie yang terduduk di pinggir tebing dengan Hora Sword menancap di perutnya. yang satu terlihat seperti Punisher dan satunya lagi Mercenary.
Gue ngerasa sesek, seakan seluruh udara di atmosfer novus ini terhirup semua oleh paru-paru gue, mata gue panas dan air mulai mengalir di kedua pipi gue.
"SOPHIE! KALENG BAJINGAN!" teriak gue dengan penuh emosi, gue berlari kearah kedua Accretia itu dengan kalap, gue ambil senjata UZI gue dari tas 4 dimensi gue, gue genggap erat senjata gue.
*FAST SHOT*
gue serang kedua Accretia itu dengan jurus Fast Shot gue, accretia itu mencabut senjatanya dari tubuh Sophie dan melompat menghindari serangan gue dengan mudah.
*FAST SHOT*
Gue serang Accretia Punisher yang menggunakan Hora Sword itu sambil berdiri di depan Sophie buat ngelindungin dia, dia melopmat ke belakang buat ngehindarin serangan gue.
*FAST SHOT*
Kembali gue serang dia dengan jurus yang sama, sekarang dia menangkis serangan gue menggunakan Hora Sword nya. *TRING TRING TRING*
*FAST SHOT*
Tanpa henti gue keluarin jurus yang sama ke Accretia itu, tapi Accretia itu dengan mudah menghindari dan menangkis semua serangan gue.
Rasanya gue frustasi, marah, takut, sedih, kecewa. semuanya benar-benar bercampur aduk sekarang, gak ada dari serangan gue yang melukai Accretia Punisher yang menyerang Sophie itu, boro-boro melukai, ngegores pedang Accretia itu aja engga. yang sedari tadi di pake buat nangkis serangan gue.
"HUAAAAAAAARRRGGGGG!" teriak gue dengan kencang karna sangkin frustasinya gue. tanpa ba-bi-bu gue serang kedua accretia dengan emosi yang udah gak jelas dan udah bener-bener kalap.
*FAST SHOT*
Kembali gue serang Punisher dengan jurus basic itu, tapi kali ini rasanya berbeda, di bawah kaki gue kerasa ada aura berwarna merah yang sangat kuat yang naik keatas tubuh gue dan kemudian berkumpul di tangan dan senjata gue sebelum jurus gue terlepas. dan saat gue lepasin jurus gue, terlihat peluru dari senjata gue berubah warna menjadi berwarna merah, seperti terselimuti sebuah force.
Accretia yang membawa Hora Sword itu terlihat agak mundur kebelakang dan dengan sigap dia menahan peluru itu dengan Hora Sword nya, mata opticnya terlihat menyala ketika puluru itu mendorong senjata dan tubuhnya kebelakang dengan sangat kuat. Accretia itu berusaha bertahan dan akhirnya dia dapat bertahan, walau sudah terdorong lumayan jauh.
"Hmmm, not bad for a basic level bellato." ucap Accretia itu dengan bahasa yang gak gue ngerti.
Dengan jarak yang lumayan jauh, dia berlari ke arah gue dengan mengayunkan pedangnya kesamping. gue gak bergerak karna gue udah bener-bener kalap sekarang, rasanya gue pengen pretelin kedua Accretia ini sampai jadi rongsokan. terutama si Accretia Punisher brengsek itu!
Saat jarak gue dan Accretia itu hampir dekat, tanpa gue sadar gue ngucapin jurus yang seharusnya belum gue kuasain di tingkatan gue sekarang.
*AIMING SHOT*
Tiba-tiba waktu seakan melambat saat itu, dan muncul seperti lingkaran target di depan gue yang memfokuskan kearah Accretia Punisher itu, seperti Fast Shot tadi, ada aura berwarna merah keluar dari sekitar kaki gue dan berjalan keatas berkumpul di tangan dan senjata gue.
Dan saat gue melepaskan jurus itu, waktu kembali seperti semula, serangan jurus gue langsung melesat menuju dada Accretia Punisher itu dengan mengeluarkan aura yang sama seperti Fast Shot tadi.
"What!" ucap Accretia Punisher itu.
Dia terlihat goyah saat melihat jurus gue meluncur kearah nya, dia berusaha menghindar kearah kanan, tapi dia telat sepersekian dekik, sampai akhirnya serangan gue mengenai lengan kirinya. dia terjatuh dan menahan tubuhnya dengan Hora Sword nya yang dia pegang dengan tangan kanannya. terlihat percikan-percikan api keluar dari bagian yang terkena serangan tadi.
"Haha, interesting, now i would really seriously!" ucapnya lagi dengan nada mengejek.
Tanpa mencoba mengerti apa yang dikatakan kaleng rongsokan itu,gak pake basa basi gue lanjutin serangan gue selanjutnya. gue jongkok dengan kedua tangan gue menyilang di dada gue dengan aura yang lebih banyak dari jurus gue sebelumnya. kemudian gue berteriak.
*WILD SHOT*
Lagi-lagi terucap jurus yang seharusnya belum gue kuasain, dan bahkan ini adalah jurus yang hanya di kuasai oleh orang yang sudah berada di tingkat elite.
Gue melompat berputar ke udara, dan mengeluarkan ratusan peluru dengan cepat dari berbagai arah, dan semua peluru itu langsung mengarah ke Accretia Punisher itu.
"RN-00, protect me!" ucap Accretia Punisher itu. dengan cepat Accretia Mercenary yang sedari tadi hanya diam itu sudah ada di depan Punisher itu. dan kemudian dia mengeluarkan sebuah jurus.
"Shield Mastery!" ucapnya, dan kemudian keluar sebuah aura yang menutupi perisainya.
Serangan gue mulai menghujani perisai mercenary itu, ia terdorong beberapa meter kebelakang bersama Punisher itu, karena menahan serangan gue. dan setelah itu terjadi sebuah ledakan hebat.
*BOOOOMMMM*
Terlihat banyak asap yang menutupi kedua accretia itu, gue terduduk lemas karena mengeluarkan ketiga jurus tadi.
(setel lagu yang sudah di download tadi ya)
Tanpa buang waktu gue berjalan ke arah Sophie masih dengan perasaan yang campur aduk. setelah itu gue angkat tubuh dia di pangkuan gue.
"So.. Sophie! bertahanlah!" ucap gue sambil nangis di hadapan dia.
"Sa.. Sayang." *uhuk* ucap sophie terbata-bata dengan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Te.. terima kasih ya kamu udah mau nyusul aku" *uhuk* kembali darah segar keluar dari mulut nya.
"Maafkan aku, karna kebodohan ku, kamu harus mengalami hal seperti ini!" ucap gue dengan penuh rasa bersalah dan dengan tangis yang semakin menjadi.
"Ti.. tidak Sayang, ja.. jangan berkata seperti itu, ini mungkin sudah takdir yang harus aku lalui." ucapnya.
"Tapi..!" balas gue.
"Su.. sudahlah Sayang, aku akan tetap bersama mu sampai kapanpun, ak.. aku akan selalu menjaga mu setiap saat, da.. dan aku pun akan selalu melihatmu tersenyum dari surga." ucapnya dengan senyuman di wajahnya, sambil memegang pipi gue.
"Jangan berkata seperti itu! kamu gak akan kenapa-kenapa, kamu bilang mau nikah sama aku! kamu sudah janji Sophie, kamu sudah janji!" ucap gue dengan nada sedikit berteriak dan masih dengan tangisan gue yang semakin mengeras.
"Ma.. maafkan aku soal itu ya Sa.. Sayang" *uhuk* "aku gak bisa nepatin janji ku, ak.. aku minta maaf" ucapnya dengan nada tertahan.
"Ta.. tapi, satu hal yang harus kamu tau, ak.. aku ak.. akan se.. selalu sa.. sayang ka.. kamu Rezda Redmoon." ucapnya dengan senyuman bahagia, dan kemudian menjatuhkan tangannya yang tadi megang pipi gue.
"SO... SOPHIE! SOPHIE BANGUN SOPHIE! JANGAN TINGGALIN GUE SOPHIE!" teriak gue yang udah gak bisa nahan luapan emosi yang ada di dada gue ini.
"HUAAAAAAARRGGGG! SOPHIE!" lanjut gue teriak sekuat tenaga gue melihat orang yang gue sayangin dan mungkin satu-satunya orang yang berharga dalam hidup gue mati di hadapan gue sekarang..
Gue bener-bener gak percaya dengan apa yang terjadi barusan, gue tampar-tampat pipi gue, supaya gue bangun dari mimpi gue, karna gue yakin ini semua hanyalah mimpi. tapi tidak terjadi apa-apa.
Gue tetep melihat sosok Sophie gak bernyawa di pangkuan gue. gue cuma bisa meluk dia dan nangis di pelukan Sophie.
(cukup buat lagunya sampai di sini)
Kepulan asap yang tadi meledakan Accretia itu mulai menghilang. dan dari dalam asap itu terlihat samar-samar dua orang yang berdiri. pada saat asap itu mulai menghilang, terlihat kedua Accretia itu masih hidup setelah menerima serangan tadi.
Ternyata mereka berdua selamat karena jurus yang di gunakan Mercenary tadi buat nahan serangan gue, buktinya perisai yang di gunakan Mercenary itu hancur dan hanya tinggal separuh yang dia pegang di tangannya.
"Just Bellato from clan Redmoon that can make us 'Two Rhinos' like this, I never thought there are still remaining from Redmoon clan massacre." ucap Accretia itu yang gak gue gubris perkataannya.
"But, now you will soon follow other members of your clan!" lanjut Accretia itu, dan kemudia kedua Accretia itu berlari menerjang kearah gue.
*DEG DEG*
*DEG DEG*
*DEG DEG*
Semuanya tiba-tiba menjadi gelap seketika, dan gue mendengar seseorang berbicara dari depan gue.
"Haha, dasar lemah, dasar payah." terdengar suara yang sebelumnya gue denger dalam mimpi gue. "melindungi seorang wanita saja kau tidak mampu, kau memang orang yang benar-benar lemah huahaha." lanjutnya.
".." gue cuma diam dan dengan tatapan kosong kearah Sophie.
"Sudah ku bilang, kau adalah Rezda yang palsu, kau lemah, kau tidak pantas menyandang nama REDMOON!" ucapnya dengan nada mengejek.
"Peduli setan dengan nama Redmoon atau apalah itu" balas gue dengan nada yang dingin. "kalau lu memang Rezda yang asli, kalahkan kedua Accretia itu sekarang." lanjut gue.
"Haha, untuk apa aku harus melakukan itu? apa untungnya bagi ku? hah? dasar lemah dasar payah, huahaha." ucapnya dengan nada yang masih mengejek dan tertawa.
"Gue bilang kalahkan kedua accretia itu, atau..." ucap gue lagi.
"Atau apa hah? haha" ucapnya.
"Atau gue akan ngabisin lu sekarang juga..." balas gue..
"Hah? apa aku tidak salah dengar? menghabisiku? hahahaha." ucapnya dengan tawa yang semakin keras. "kau yang hanya bisa menangis mau ngebunuhku? haha." lanjutnya.
"Kau hanya bisa manangis di hadapan wanita malang tak berguna itu, haha" kata dia dengan menghina Sophie.
"JANGAN PERNAH BERKATA SEPERTI ITU PADA SOPHIE, ATAU GUE AKAN NGEBUNUH LU SEKARANG JUGA!" teriak gue dengan menatap wajar orang itu. mata gue menyala dan bersinar, warna merah darah mata gue semakin pekat bersinar.
Melihat mata gue, Rezda itu terkejut dan berlutut di hadapan gue dan berubah wujud menjadi sebuah trisula yang sebelumnya gue lihat di mimpi gue.
"Baiklah tuan, saya akan menurutin perintah anda." ucap trisula itu.
Tiba-tiba suasana tadi jadi putih, dan disana gue ngeliat kejadian singkat yang gua alamin sama Sophie, dari awal bertemu pada saat ingin mendaftar di akademi sampai gue dan dia menyatakan perasaan masing-masing kemudian menjalin sebuah hubungan yang sangat singkat ini. hubungan yang mungkin sangat berarti di kehidupan gue.
Tanpa sadar gue tersenyum melihat kejadian-kejadian itu, air mata bahagia pun mulai mengalir dari mata gue.
Tasanya hangat, gue ngerasa sophie masih bersama gue, dia memeluk gue dan mendorong gue untuk terus maju dari belakang.
Gue percaya dia akan selalu ada buat gue.
"Aku akan selalu menyayangimu Sophie, selalu dan selamanya." ucap gue dengan tersenyum, sampai semuanya menjadi gelap kembali dan menghilang.
To Be Continue
"I will always be with you until whenever, I will always take care of you all the time, and I will always see you smilling from heaven" Sophie Sullivan to Rezda Redmoon.
Alhamdullilah akhirnya saya bisa menyelesaikan chapter ini dengan baik dan lancar, dan terimakasih untuk para author dan para pembaca yang berkenan membaca cerita kecil saya ini, dan masih bersedia memberikan review nya,saya ucapkan terima kasih.
dan maaf untuk bahasa inggris yang berantakan di chapter ini,soalnya saya cuma sedikit bisa bahasa inggris dan sisanya ya tau lah,nnya sama om google.
oke cukup sekian dari saya,dan jangan lupa terus ikuti kelanjuta kisah Rezda ya,byee.
"Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak disetiap bacaan yang dia baca" -author
