Chapter 7 : The Truth
Siang itu di sebuah ruangan di markas bellato.
"Ryan, ayolah jangan seperti ini, dia masih muda, dan dia anak sahabatmu juga kan!" ucap seseorang kepada bellatian yang di panggil Ryan itu.
"Lantas karna dia anak sahabatku, dia bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum? hah?!" balas orang yang di panggil Ryan itu.
"Bukan seperti itu, aku tidak memintamu untuk mencabut hukuman yang telah kau berikan pada anak itu." ucap pria itu dengan nada yang sedikit berat. "hukuman mati terlalu berlebihan Ryan." lanjutnya.
"Shin! kenapa dari dulu kau selalu saja membela anak itu?! bahkan dia bukanlah anak kandungmu" ucap Ryan.
Shin terlihat terdiam sebentar sehabis mendengar perkataan itu.
"Aku tau Ryan! aku tau! tapi ini adalah janji terakhirku kepada Davian, sahabat kita sejak masih di akademi." balas gue.
"Itu hanyalah sebuah janji! untuk apa kau ambil pusing, sudahlah ini sudah menjadi keputusan bersama dari para dewan." ucapnya.
"Tolonglah Ryan, aku mohon jangan hukum mati anak itu, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri sampai terjadi apa-apa dengan anak itu." ucap Shin dengan nada memelas. "aku tau kau masih belum bisa memaafkan Davian atas kejadian 20 tahun yang lalu, tapi anak itu bukanlah bukan Davian, kau tidak bisa melampiaskan kebencianmu pada anak itu." lanjutnya.
"Shin, kenapa kau harus ungkit-ungkit kembali kejadian itu." ucap Ryan dengan nada yang terlihat marah.
"Apa kau masih belum ikhlas dengan kepergian adikmu, Karin?" tanya Shin kepada Ryan.
"Sudah cukup Shin! tidak perlu kau teruskan!" bentaknya kepada Shin.
"Aku tahu itu sangat berat, kehilangin satu-satunya orang yang kau miliki, aku juga bisa merasakan itu Ryan, Karin istriku aku tau perasaan yang kau rasakan." jelas Shin.
"Kau tidak bisa terus menerus menyalahkan Davian atas kejadian itu, aku dan Karin pun tidak tau kalau hal menyeramkan itu akan terjadi, itu sebuah insiden yang tidak terduga Ryan, itu tidak di sengaja, Davian pun tidak ada niat untuk membunuh adikmu." jelas Shin dengan nada yang berat.
Orang yang di panggil ryan itu terlihat lemas, dan berjalan ke kursi di balik meja kerjanya kemudian duduk di sana dengan lemas.
"Kau tau kan Shin, Karin adalah keluarga gue satu-satunya, gue gak bisa memaafkan Davian atas apa yang dia lakukan kepada Karin, kau sebagai suaminya, kenapa malah membela Davian, dan bahkan sekarang kau merawat anak dari orang yang membunuh istrimu!" bentak Ryan kepada Shin.
"Ya aku tau Ryan, tapi asal kau tau, Karin mati karna berusaha melindungi anak itu juga, dia berusaha melindungi anak itu dari amukan Davian, kau harus tau itu!" bentak Shin dengan nada yang tidak kalah tinggi nya.
Ryan terlihat terkejut mendengar itu, dia tidak menyangka bahwa adiknya malah ikut melindungi anak itu sampai harus kehilangan nyawanya. dia langsung tertunduk di atas meja dengan kedua tangannya memegang kepalanya.
"Apa itu cerita yang sebenarnya?" tanya ryan memecahkan keheningan.
"Ya itu cerita yang sebenernya, aku bersumpah atas nama istriku yang juga adalah adikmu." ucap Shin dengan nada penuh keyakinan.
"Baiklah, kalo memang itu benar, aku akan berbicara pada anggota dewan yang lain untuk masalah ini" balas Ryan.
Shin terlihat senang dengan kepustusan sahabatnya Ryan, tapi disisi lain dia malah gusar karena melihat sahabatnya terlihat gelisah seperti itu.
"Ryan, kau tidak apa-apa?" tanya shin pada ryan.
"Aku tidak apa, dan bila sudah tidak ada yang di bicarakan lagi, anda boleh meninggalkan ruangan ini Maximus Shin." ucapnya.
"Baiklah tuan archon, terima kasih atas kesediaan tuan, saya permisi." ucap Shin sembari memberi hormat kepada Ryan yang ternyata ada archon bellato yang saat itu menjabat. Shin memilih diam dam pergi karena dia tau apa yang sedang sahabatnya itu rasakan sekarang.
"Karin apakah yang di ucapkan Shin benar, apa kau juga berusaha melindungi anak itu?" ucap Ryan sembari masih tertunduk di atas meja dengan kedua tangannya masih di kepalanya.
.
.
.
.
"Nnngghh, dimana ini?" ucap gue sembari megangin kepala kue karena terasa sakit.
"Lu udah bangun Rez, syukurlah." terdengar suara Dario yang kemudian menghampiri gue.
"Udah berapa lama gue disini?" tanya gue ke Dario.
"Udah seminggu lu pingsan dan terkapar disini." jelasnya. dia terlihat terluka, karena gue ngeliat ada perban yang membalut pundak kiri sampai perutnya.
"Lu kenapa Dar? dan dimana Sophie?" tanya gue dengan nada polos.
Dario sedikit terkejut mendengar pertanyaan gue.
"Lu gak inget apa yang lu alamin waktu itu?" tanya nya ke gue.
Gue cuma bisa menggelengkan kepala buat menjawab pertanyaan Dario. Dario sempat terdiam beberapa saat, dia kelihatan gak yakin buat ngelanjutin omongannya. tapi akhirnya dia kembali buka mulut untuk berbicara.
"Lu yang udah ngelakuin ini ke gue Rez." ucap Dario.
Gue terkejut denger ucapan dia, 'gue yang ngelakuin itu? gue ngelukain sahabat gue sendiri? itu gak mungkin' batin gue.
"Dan Dophie..." ucapnya teputus di nama Sophie.
"Kenapa dengan Sophie Dar? kenapa?" tanya gue dengan nada panik.
"Dia meninggal, dan sudah dikuburkan 6 hari yang lalu." jawab nya dengan nada yang lemas setelah berkata demikian.
'So.. Sophie meninggal' batin gue. tiba-tiba kepala gue terasa sakit, gue pegangin kepala gue dengan kedua tangan gue.
"Rezda lu kenapa? Dokter.. Dokter" teriak Dario sembari berlari kearah pintu.
Dengan masih menahan rasa sakit di kepala gue, tiba-tiba gue melihat kilas balik yang terjadi saat itu, gue melihat Sophie yang di tusuk perutnya oleh Accretia Punisher itu, sampai gue melihat saat Sophie tergeletak tak bernyawa di pangkuan gue.
Gue bisa inget dengan jelas semuanya sekarang, apa yang terjadi di sette saat itu, tanpa di sadari air mata gue mulai mengalir dengan deras karena mengingat kejadian yang di alami Sophie saat itu.
Rasa sakit di kepala gue pun perlahan mulai menghilang. gue udah gak bisa nahan lagi air mata gue buat keluar dari mata gue.
"Rez, lu gak apa-apa Rez?" tanya Dario yang terdengar panik.
".." gue gak jawab pertanyaan dia.
Beberapa saat kemudia dokter datang dengan perawat bersama nya.
"Tuan mohon anda keluar, saya akan memeriksa kondisi pasien." ucap Dokter itu, dan Dario pun berjalan pergi meninggalkan ruangan.
Tapi sebelum dario pergi, "tidak Dokter, tolong tinggalkan saya dan teman saya berdua di ruangan ini sekarang." ucap gue.
"Tapi kondisi kondisi anda sedang tidak baik sekarang." ucap Dokter itu.
"Saya mohon Dokter, dengan sangat." ucap gue dengan nada serius kepada Dokter itu.
"Baiklah, tapi jika terjadi seseuatu tolong cepat panggil saya tuan Dario, apa anda mengerti?" tanya Dokter itu pada Dario.
"Daik Dokter, saya mengerti" balas Dario.
"Ada apa Rez? apa yang terjadi?" tanyanya ke gue.
"Gue udah inget semua kejadian itu Dar, gue ngeliat Sophie mati di pangkuan gue." ucap gue dengan air mata yang masih mengalir.
"Yang sabar Rez, ikhlas kan lah agar dia tenan di sana, mungkin ini sudah takdir takdirnya." ucap nya.
"Ya mungkin lu bener Dar, itu juga kata-kata yang di ucapkannya sebelum dia tiada." balas gue.
"Dario, sekarang tolong lu ceritain dengan jelas, apa yang terjadi setelah Accretia itu berusaha nyerang gue lagi." ucap gue ke Dario.
"Daiklah, akan gue ceritain." ucap Dario.
"Pada saat itu..."
.
.
.
.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi, kayanya Rezda buru-buru banget." ucap gue. "gue harus nyusul dia, kayanya bakal terjadi sesuatu yang gak di inginkan." lanjut gue.
Gue pergi ke kamar mandi buat segera mandi dan bersiap-siap menyusul Rezda ke Gurun Sette.
*BYUR BYUR BYUR*
Setelah selesai mandi gue langsung nyiapin peralatan gue dan mulai berangkat nyusul Rezda, karena gue takut terjadi apa-apa sama tu anak. gue berlari ke arah portal markas dan kemudian mengucap tempat tujuan gue *Sette Dessert*.
*ZWING* *SETTE DESSERT 09.00 NOVUS TIME*
Sesampainya di portal Gurun Sette, gue berusaha berlari buat nyusul Rezda dan Sophie di tempat Bulky Lunker.
"Loh, jalan ke arah tempat Bulky Lunker lewat mana ya?" ucap gue sambil garuk-garuk kepala.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang berasal dari satu tempat di utara dari tempat gue berada sekarang.
"suara apa itu?" ucap gue, dan kemudian gue langsung aja berlari ke arah sumber suara itu.
Tapi betapa terkejutnya gue ngelihat apa yang terjadi di sana, gue ngeliat Rezda terduduk lesu dengan Sophie terbaring di pangkuannya, yang terlihat terdapat luka yang menganga di bagian perutnya. dan masih belum selesai keterkejutan gue sampai disitu, gue ngelihat muncul dua sosok Accretia muncul dari balik asap yang mungkin terjadi akibat ledakan tadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini." ucap gue perlahan, dan masih sambil memperhatikan apa yang terjadi.
Terlihat Accretia itu berbicara ke Rezda, tapi gue gak bisa denger apa yang di ucapkannya.
Setelah dia selesai berbicara dia dan rekannya berlari ke arah Rezda dengan senjata mereka masing-masing. gue terkejut ngelihat kejadian itu, 'gue harus bantuin Rezda' pikir gue.
"Sial!" ucap gue sembari berlari kearah mereka. tapi sebelum gue sampai, muncul seperti kubah berwarna hitam yang menutupi tubuh Rezda dan Sophie.
Gue merasa heran dengan apa yang terjadi, kedua Accretia itu pun sama bingungnya. setelah beberapa lama terdiam, Accretia yang menggunakan Hora Sword itu kembali menyerang, dan sekarang targetnya adalah kubah yang melindungi Rezda dan Sophie.
Accretia itu melompat dan mengayunkan senjatanya keatas, kemudian dia menghantamkan pedanganya dengan kuat ke arah kubah itu, dan terjadi ledakan kecil saat senjata Accretia dan kubah itu beradu, muncul kepulan asap karena ledakan itu.
Tapi betapa terkejutnya gue ngeliat malah Accretia itu yang terpental setelah menyerang kubah itu.
Dia terpental cukup jauh, sehingga teman accretianya ikut melompat untuk menahan temannya itu.
Gue kembali ngeliat kubah itu, secara perlahan kubah itu pecah seperti kaca yang mulai berjatuhan sedikit demi sedikit.
Mulai terlihat sosok Rezda yang berdiri dengan membawa sebuah Trisula yang memancarkan aura berwarna merah di tangannya. dan yang bikin gue ngeri adalah saat ngelihat wajah dia, wajahnya sangat tenang tanpa expresi sedikitpun, ada sebuah topeng yang hanya separuh saja menempel di wajahnya.
Terlihat Rezda mulai berjalan perlahan menuju kedua Accretia itu. kedua Accretia itu pun tidak tinggal diam, mereka berdua secara bersamaan mulai menyerang Rezda dengan mantap.
Punisher itu mulai serangan pertama, dari yang gue denger dia berteriak "Kinetic Web" dan setelah itu muncul jaring listrik di bawah kaki Rezda yang menahan langkahnya.
Setelah itu, Punisher itu berlari lagi ke arah resda dan melancarkan jurus pleasure boom. terjadi ledakan yang hebat setelah Hora Sword Accretia itu mengenai tanah tempat Rezda berpijak tadi.
Ia mengibaskan tangan nya kearah asap akibat ledakan tadi untuk melihat apa yang terjadi, betapa terkejutnya dia melihat bahwa dia hanya menyerang angin.
Dia berusaha mencari Rezda dengan menengok ke kanan dan kekiri, namun ada suara yang sepertinya memanggil Accretia Punisher itu.
"RN-99.." terdengar suara seperti radio yang sudah rusak, yang ternyata pemilik suara itu adalah Accretia Mercenary rekan dari Punisher itu.
Gue pun gak kalah terkejut dengan Accretia itu, Rezda tiba-tiba sudah berada di belakang Mercenary itu, dan menusukan Trisula nya di perut Mercenary itu.
"RN-00! you bastard!" terdengar suara teriakan dari Accretia Punisher itu yang gak gue ngerti apa artinya.
Dia kembali berlari dan berusaha menyerang Rezda untuk kesekian kalinya. Rezda melemparkan tubuh Mercenary itu dan pun ikut maju untuk menerjang Punisher itu.
"Hyaaaaa, i will kill you now bellato!" ucap Punisher itu lagi. Rezda tidak menjawab apa-apa, dan masih dengan expresi muka yang sama.
Terjadi pertarungan pedang yang sangat cepat, sampai gue pun gak bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi, gue cuma bisa mendengar suara ledakan dan suara benda tajam saling beradu.
Setelah tidak lama pertarungan itu terjadi, terlihat Accretia itu sudah merasa kelelahan, dia terlihat tidak kuat lagi untuk bertarung. tapi sebaliknya, Rezda masih terlihat berdiri dengan gagahnya sembari memegangi Trisulanya itu.
Accretia itu terlihat panik karena kondisinya sekarang merasa terpojok, dan sudah tidak bisa melawan lagi. dia berhenti sejenak, mungkin untuk berfikir.
Setelah beberapa saat terdiam, Accretia itu mengeluarkan jurus Kinetic Webnya lagi dan berlari kearah yang berlawanan, ia berlari ke arah Sophie. melihat itu expresi Rezda yang tadi nya tenang tanpa expresi berubah seketika menjadi seperti seorang sayko yang haus akan darah.
Accretia itu masih berlari ke arah Sophie sembari melihat kearah belakang, dia berhenti saat melihat Rezda tidak lagi berada di tempatnya tadi.
Gue pun terkejut melihat Rezda tiba-tiba hilang, gue tadi masih ngeliat Rezda berdiri di sana.
Dan saat accretia itu ingin kembali berlari ke arah Sophie, tiba-tiba Rezda sudah berada di belakang Punisher itu dan menusukan Trisulanya kearah dada Accretia Punisher itu.
Rezda menusukan Trisula nya secara perlahan, seakan dia menikmati kematian dari Accretia itu. Rezda terlihat tersenyum puas karena telah membunuh Accretia itu.
Rezda nengok ke arah gue sekarang, masih dengan expresi saykonya itu. dia melemparkan Accretia itu kaya bareng rongsongkan dan kemudian dia menghilang.
Gue ngerasa perasaan gue gak enak, kaya ada seseorang di belakang gue, pas gue coba lihat kebelakang gue liat Rezda bersiap benyambetkan Trisulanya ke arah gue.
Gue berusaha menghindar sekuat tenaga dengan lompat ke belakang, tapi gue telat sampai akhir nya dada dan perut gue pun terkena sabetan dari Trisulanya.
Gue pegangin bagian yang terkena serangan Rezda tadi, memang tidak terlalu dalam, tapi tetap aja perih rasanya.
"Uggghhh, sial!" ucap gue. "Rezda hentikan ini gue Dario, temen lu." lanjut gue berusaha menyadarkan Rezda.
Tapi Rezda tidak menggubris perkataan gue, dia mulai berlari dan kembali ingin menusukan trisulanya ke arah gue.
gue udah gak bisa menghindar lagi sekarang, dengan luka yang gue dapet sebelumnya. gue memejamkan mata berharap kematian gue tidak terasa sakit dan lama.
"Tak apa kalo gue harus mati di tangan sahabat gue sendiri." ucap gue lirih.
Beberapa detik berlalu, gue gak ngerasain ada benda tajam yang nusuk tubuh gue, gue coba buka mata gue buat ngelihat apa yang terjadi. betapa terkejutnya gue ngelihat sesorang Bellatian berjubah hitam di hadapan gue, dan menahan serangan Rezda.
"Cepat nak, kau menjauh ketempat wanita itu." ucap sosok pria itu.
"Ba.. baik." jawab gue sambil berusaha berlari ke arah sophie walau terasa sakit dada dan perut gue.
Setelah gue di tempat Sophie berada, gue liat orang itu bertarung dengan Rezda dengan dua buah pedang yang berwarna merah juga sama seperti warna Trisula yang Rezda bawa.
Mereka bertarung dengan imbang, Rezda dengan hawa pembunuh yang keluar dari tubuhnya berusaha menyerang dan membunuh pria itu, tapi pria itu bisa menahan semua serangan yang Rezda lancarkan kearahnya.
Mereka berdua beradu senjata dan kemudian melompat mundur mengambil jarak antar masing-masing. Rezda membuat kuda-kuda seakan ingin menusuk dan dia berteriak "Lightning Thrust Trident".
Rezda berlari kearah pria itu dengan menusukan Trisulanya yang terlihat mengeluarkan energi listrik yang sangar kuat dengan cepat, pria itu pun sama menyiapkan kuda-kudanya dan menyilangkan kedua pedangnya di belakang tubuhnya dan berteriak "Shadow Blade Dance".
Pria itu melaju ke arah Rezda dengan gaya seolah seperti seorang yang sedang menari. setelah meraka berhadapan, kedua senjata mereka pun beradu dan terjadi ledakan yang sangat dasyat, yang menimbulkan asap yang banyak.
Setelah beberapa saat berlalu asap itu pun mulai menghilang, dan gue ngeliat pria itu memegang kepala Rezda dan mengucapkan sebuah kata yang gak bisa gue denger karena jarak gue jauh dari meraka.
Tiba-tiba aura membunuh Rezda mulai menghilang, topeng dan Trisula nya pun ikut menghilang secara perlahan. Rezda telihat pingsan setelah itu.
Pria itu mempapah Rezda kearah gue, dan menidurkannya di sebelah Sophie.
"Cepat panggil bala bantuan, dan bawa meraka kembali kemarkas." ucap pria itu ke gue.
"Te..terima kasih tuan." ucap gue ke pria itu, dan ia pun kemudian berjalan menjauh dari kami.
.
.
.
.
"Begitulah yang terjadi Rez." ucap Dario mengakhiri cerita nya.
"Jadi pria itu datang lagi." ucap gue.
"Jadi lu tau siapa pria berjubah itu?" tanya dario.
"Ya, gue sering bertemu dia, tapi gue belum tau siapa dia." jawab gue. "tapi mungkin gue tau sekarang siapa dia sebenarnya." lanjut gue.
"Ya sudah lu sebaiknya istirahat, kondisi lu lagi gak baik sekarang, gue juga harus kembali ke asrama buat menjalani quest besok." ucapnya sambil membereskan barang-barangnya.
"Ya baiklah." ucap gue.
"Ya udah, gue balik dulu ya, nanti ayah lu datang kok buat nungguin lu." ucap nya sambil berjalan ke arah pintu. tapi sebelum dia pergi gue panggil dia.
"Dar." panggil gue.
"Ya?"
"Terima kasih buat semuanya, karena lu selalu ada buat gue, lu emang sahabat gue yang paling berharga." ucap gue dengan senyum tulus di wajah gue.
"Ya sama-sama, cepat membaik." ucapnya dengan senyuman.
'Kenapa semua ini terjadi kepada gue, apa salah gue sampai harus menerima hal-hal semacam ini' batin gue dalam hati.
To Be Continue
"it does not matter if I must to die at the hand of my best friend." Dario Cardoni
alhamdulillah chapter 7 juga selesai di hari yang sama dengan chapter 6, ya mungkin kalian berfikir saya mengupdate cerita terlalu cepat, tapi ya dari pada inspirasinya ilang lagi, mending langsung di buat aja.
oke baiklah, seperti biasa, saya ucapkan terima kasih buat para author dan para pembaca yang masih stay nunggu cerita saya update, saya benar-benar berterima kasih.
oke cukup sekian, selamat membaca dan nantikan kisan selanjutnya dari perjanan Rezda,chaooo
"pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak di setiap bacaan yang dia baca" -author
