Chapter 8 : Hole In Heart

Sejak kemarin gue masih belum bisa tidur, masih tersirat dengan jelas kejadian saat itu. Gue masih merasa bersalah atas kematian Sophie, karena gue terlalu lemah, gue gak bisa ngelindungin dia dari kedua accretia itu.

"Gue harus jadi lebih kuat lagi." ucap gue lirih sambil mengepalkan tangan gue.

Ruangan Pasien ini begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung-burung novus yang bersenandung di pagi ini. Gue bangun dari tempat tidur dan berjalan ke arah jendela ruang pasien ini.

Entah hanya perasaan gue atau memang langit novus hari ini terlihat sedikit mendung, seperti terlihat murung akan sesuatu. "ah damn, apa ia langit aja tau prasaan gue saat ini." ucap gue, rasa nya malas untuk melalui hari-hari seperti biasa setelah kejadian itu.

*tok* *tok*, "Rezda apa kamu sudah bangun?" ucap seseorang. "ya aku sudah bangun yah,masuklah." balas gue yang tau bahwa yang bertanya adalah ayah angkat gue.

"Bagaimana keadaanmu nak? maaf aku tidak bisa menjengukmu kemarin, karna ada panggilan tugas dari tuan Archon." ucap nya dengan wajah murung.

"Ah tak apa yah, aku baik-baik saja kok."

"Syukurlah kalo seperti itu, tadi aku sudah bertanya kepada Dokter, kamu boleh pulang minggu depan."

"Oh, baguslah yah." ucap gue sekenanya. Entah kenapa obrolan kami terasa sangat canggung, gue tetep melihat keluar jendela tanpa melihat ayah gue.

"Apakah ada yang mengganggumu nak? bicaralah pada ku bilang memang ada yang mengganjal di hatimu." tanya nya sambil memegang pundak gue.

"Ah tidak yah, sekarang aku hanya ingin sendiri."

"Baiklah kalo gitu, Ayah pamit dulu, semoga kamu lekas pulih nak." balas ayah sembari berjalan menuju pintu ruang pasien. Saat mendengar kata-kata Ayah barusan kenapa dada gue terasa sesak, dia hanya menghawatirkan gue, kenapa gue malah bersikap seperti itu.

"Ayah tunggu." gue balikan badan dan sekarang mengharap Ayah gue.

"Maaf untuk yang barusan, aku hanya... " entah kenapa gue gak kuasa buat nerusin kalimat gue.

"Hmmm, tidak apa nak Ayah tau, kejadian yang lalu memang teralu berat untuk mu, Ayah mengerti itu." balas Ayah dengan senyumnya, saat melihat senyum Ayah entah kenapa sesak di dada ini terasa mulai menghilang.

"Terima kasih yah." balas gue dengan senyum pula. "Bisa Ayah di sini sebentar, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada mu yah."

"Tentu nak, utarakan saja apa yang mengganjal di hatimu." ucap nya.

Sebenarnya yang ingin gue tanyakan pada ayah, tentang pria berjubah yang kerap muncul di hadapan gue dan nolong gue.

"Maaf sebelumnya kalo aku menanyakan ini yah, a... apakah ayah kandungku masih hidup?" ucap gue dengan gugup.

Wajah ayah gue terlihat kaget setelah mendengar pertanyaan barusan.

"Memang nya kenapa kamu tanyakan itu nak, kan aku sudah menceritakan semua nya padamu." ucap Ayah.

"Ya aku tau itu, tapi tempo hari aku bertemu dengan seseorang mengenakan jubah hitam, dia selalu datang saat aku dalam bahaya, dan lagi ia membawa dua buah pedang kembar berwarna merah seperti yang dulu ayah ceritakan padaku. aku memang tidak begitu yakin, tapi apa ada kemungkinan kalau Ayah kandungku masih hidup?" tanya gue setelah menjelaskan apa yang terjadi.

Ayah terlihat diam sejenak, sampai akhir nya dia mulai berbicara.

"Rezda, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan kepadamu, dan mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk mengatakannya." ucap nya, gue terlihat bingung dengan kata-kata Ayah barusan, masih terdapat tanda tanya besar di kepala gue yang belum terjawab dan sekarang apa lagi yang ingin Ayah sampaikan.

Gue hanya diam tanpa menanggapi perkataan ayah barusan, karna gue sendiri gak tau apa yang harus gue katakan, tapi gue rasa memang ada yang Ayah sembunyikan dari gue selama ini dan gue gak tau apa itu.

"Sebelumnya aku ingin minta maaf, apa pun yang kamu dengar setelah ini, itu adalah kenyataan yang sebenarnya terjadi." jelas Ayah, gue merasa tambah bingung dan curiga, apa memang ada sesuatu yang ayah sembunyikan selama ini dari gue? lagi-lagi gue hanya diam tanpa menanggapi pernyataannya.

"Baiklah, dulu aku pernah mengatakan padamu kan, ada seseorang dari clan Redmoon yang membantai seluruh anggota clan itu sampai habis dan hanya kamu yang selamat." ucapnya, gue hanya membalas dengan anggukan.

"Ya, orang itu adalah Ayahmu Rezda." lanjutnya dengan suara agak tertahan.

Gue kaget dengar perkataan Ayah barusan, "A...apa maksudmu Ayah?!" tanya gue dengan nada yang mulai meninggi.

"Tolong dengarkan ceritaku dulu sampai selesai nak." ucap nya dengan halus tapi masih dengan suara yang tertahan, dan dia mulai melanjutkan ceritanya.

"Saat itu aku dan istriku Reevina ingin mengunjungi rumah Ayah dan Ibu kandungmu, karna kami ingin merayakan 1 bulan kelahiranmu. tapi di tengah jalan kami bertemu dengan Davian Ayahmu, dia sedang terlihat berjalan seorang diri." jelasnya.

"Kami sempat ngobrol beberapa saat, sampai akhir nya Davian mengajak kerumah nya bersama-sama. Tapi terjadi sesuatu yang aneh saat kami sampai di depan rumah, tiba-tiba saja Davian berlutut memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan." jelasnya. Entah kenapa gue teringat cerita yang di ceritakan Dario tentang gue kemarin, mata gue berubah menjadi merah sebelum gue gak sadarkan diri, apa itu semua ada hubungannya dengan cerita ayah ini.

"Aku sendiri kaget setelah mendekatinya, aku melihat mata Ayahmu Davian berubah menjadi berwarna merah darah dengan hawa membunuh yang sangat pekat. Aku pernah mendengar cerita tentang clan Redmoon, anak laki-laki pertama dari keturunan khusus clan Redmoon mewarisi darah terkutuk, yang akan bangkit bila terjadi bulan purnama atau karna amarah yang tidak terbendung." jelasnya dengan wajah tertunduk, "Aku terlambat menyadari hal itu, Aku memerintahkan istriku untuk memeriksa Ibumu dan kamu untuk membawa kalian menjauh dari tempat itu. Ayahmu mulai kehilangan akal sehatnya, tanpa di sadari dia sudah berada di hadapanku membawa dua buah pedang berwarna merah dan mulai menyerangku."

"Aku belum pernah melihat kekuatan yang begitu besar seperti itu, Ayahmu menyerang membabi buta, aku terkena serangannya dan terlempar beberapa meter. Setelah itu entah kemana Ayahmu tiba-tiba menghilang, aku tidak membuang waktu, aku menghampiri Istriku dan Ibumu untuk segera pergi dari tempat itu."

"Saat kami keluar dari rumah, kami terkejut melihat apa yang terjadi, beberapa rumah terlihat hancur dan banyak mayat yang terbaring di jalanan. kami hanya melihat Ayahmu yang berdiri di persimpangan jalan dengan memegang pedangnya yang penuh dengan darah. Setelah itu ayah mu membunuh Istriku dan Ibumu, bahkan dia ingin membunuhmu kalau saja..." Tiba-tiba cerita Ayah terhenti, suaranya terdengar berat. "Kalau saja apa?" tanya gue karna semakin penasaran,apa yang terjadi selanjutnya.

"Kalau saja aku tidak membunuh Davian." Jantung gue serasa mau berhenti mendengar kalimat terakhirnya, badan gue bergetar, kepala gue terasa berat dan panas.

"Aku yang membunuh Davian, Aku yang membunuh Ayah kandungmu saat dia ingin menusukan pedang nya kearahmu." Gue hanya terdiam kaya patung denger akhir cerita dari Ayah angkat gue.

"Itulah kebenarannya nak, aku sangat kaget mendengar pertanyaanmu sebelumnya, tapi tidak mungkin Ayah kandung mu masih hidup sekarang, karna aku sendiri yang menguburkan Ayah dan Ibumu." jelas nya, "Aku tau kamu akan membenciku setelah mendengar kebenaran ini, aku tidak menyalahkanmu, karna memang ini kesalahanku, aku selalu di hantui rasa bersalah ini sepanjang hidupku, terlebih lagi saat aku melihatmu nak, aku benar-benar minta maaf atas semuanya, aku minta maaf karna telah menyembungikan kenyataan ini." jelasnya mengakhiri cerita itu.

"Tolong..."

"Tolong tinggalkan aku sendiri..." ucap gue dengan datar.

"Ba...Baiklah." jawabnya sambil melangkah keluar dan menutup pintu.

Tanpa gue sadari air mata mulai mengalir deras di pipi gue.

"KENAPA!KENAPA SEMUA INI TERJADI SAMA GUE!ARRRGGGGHHHHH"

To Be Continue...


Alhamdulillah setelah sekian lama akhirnya bisa update lagi walaupun cuma sedikit dan dengan judul yang bikin stres dan terkesan aneh,hehe

Maaf sebelumnya buat pembaca dan teman2 author karna baru bisa update, ya maklum nya kendala ide yang susah muncul mengakibatkan tejadi nya konflik di otak yang gak gede2 amat ini,hahaha *ngomong apa sh* -_-

sekali lagi mohon maaf ya hahahaha

ok sekian dulu dari saya, dan semoga suka sama cerita nya. doakan semoga cerita ini gak mati di tengah jalan dan masih bisa lanjut :D

Selamat membaca dan terima kasih :)