Lagi-lagi Jongin menatap dendam anak kecil di hadapannya itu. 'Hei, Jongin-ah, dia anakmu sendiri.' Untuk kesekian kalinya Taeoh mengalihkan perhatian Kyungsoo. Anak kecil itu membuat Jongin naik pitam. Dia tidak bisa memarahi Kyungsoo, karena itu merupakan kewajibannya sebagai seorang ibu, tapi dia merasa ingin menggigit anaknya karena Taeoh selalu mengganggu momennya bersama Kyungsoo.
Semua dimulai dari pagi itu saat Kyungsoo sedang memasak untuk sarapan anak dan suaminya. Karena hari itu hari libur, maka Jongin akan seharian di rumah. Dan dia juga memanfaatkan waktu ketika Taeoh masih tertidur sehingga dia bisa memasak dengan bebasnya. Disaat dia sedang sibuk berkutat di depan kompornya, tiba-tiba ada dua buah lengan melingkari pinggangnya.
"Yeobo, morning."
Dengan helaan nafas panjangnya, Kyungsoo menjawab, "YA! Kau selalu mengejutkanku, Jongin-ah."
"Hmm… mianhae. Aku tidak menemukanmu ketika terbangun. Makanya aku mencari dan menemukanmu disini." Ucap Jongin dengan sleepy voice-nya.
Jongin pun menyusupkan hidungnya ke tengkuk Kyungsoo dan sesekali menciumnya lembut. Akhir-akhir ini dia jarang berdua dengan istrinya karena pekerjaan yang sangat sibuk.
"Yeobo, lebih baik kau duduk dan menungguku selesai memasak. Makanan ini tidak akan cepat matang kalau kau terus-terusan menggelayut di punggungku begini."
"Hnggh… aku masih ingin memelukmu, noona-ya." Ujar Jongin manja.
"Jongin-ah, kau akan kelaparan nanti." Jawab Kyungsoo.
Tiba-tiba Jongin membalikkan badan istrinya dengan cepat. Kyungsoo yang terkejut hanya bisa mengerjapkan matanya dan memberikan tatapan penuh tanya. Dia tidak mengerti kenapa suaminya bertingkah layaknya anak kecil.
"Morning kiss, please." Kata Jongin seraya memberikan senyum mautnya.
"Hish, kau ini. Aku pikir kenapa." Ucap Kyungsoo seraya menyambar bibir Jongin sekilas.
"Ih, kau pelit sekali."
Jongin pun berusaha mengekang Kyungsoo yang ada di dekapannya. Semua berjalan sesuai keinginannnya hingga terdengar sebuah suara, "Eomma?"
Kyungsoo yang semula mengikuti apa mau suaminya langsung melepas dekapan Jongin dan menghampiri sumber suara.
"Aigoo… anak eomma sudah bangun?"
Taeoh yang masih setengah sadar langsung menghambur ke pelukan ibunya. Kyungsoo dengan senang hati langsung mengangkat anak lelakinya ke dalam gendongannya.
"Yeobo, bisa kau gendong Taeoh sebentar? Aku harus menyelesaikan masakanku terlebih dahulu." Ujar Kyungsoo.
Jongin hanya bisa pasrah dan menerima Taeoh ke dalam dekapannya, "Baiklah." Ucapnya dengan nada yang kecewa.
Selagi Kyungsoo menyelesaikan tugasnya, Jongin menggendong Taeoh – yang kembali tertidur – dengan menggerutu. Dia kesal karena Taeoh datang disaat yang tidak tepat. Tapi ketika melihat wajah polos dari anaknya yang sedang tertidur, sejenak Jongin memakluminya. Sudah naluri jika seorang anak akan mencari ibunya ketika bangun tidur.
Kekesalan Jongin kembali dimulai ketika mereka sarapan bersama. Taeoh yang duduk di samping Kyungsoo terus-terusan mencari perhatian pada ibunya. Bahkan Jongin harus mengambil makanannya sendiri tanpa bantuan istrinya. Disaat Jongin melancarkan protes, Kyungsoo hanya menjawab, "Kau jangan seperti anak kecil, Jongin-ah!"
Lagi-lagi Jongin dibuat uring-uringan ketika dia harus mencuci piring sehabis sarapan karena Taeoh yang mengeluh sakit perut dan ingin ke kamar mandi. Bahkan Kyungsoo meninggalkannya sendirian di meja makan tanpa memperdulikan kehadiran Jongin sama sekali. Sebenarnya Jongin bisa mengerti, tapi kali ini dia benar-benar tidak mau mengalah dari anak lelakinya.
Siang harinya ketika mereka duduk di depan televisi, perang dingin antara Taeoh dan Jongin – untuk merebutkan perhatian Kyungsoo – kembali dimulai. Suasana yang awalnya tenang berubah karena Jongin yang terus-terusan menggerutu.
"Yeobo, aku ingin melihat pertandingan sepak bola di channel nomor sembilan. Bisa kau pindahkan?" pinta Jongin kepada Kyungsoo yang memegang remote-nya.
"Ah, geurae." Ucap Kyungsoo seraya menekan tombol di remote tersebut.
Ketika channel itu berpindah satu-persatu, tiba-tiba Taeoh berteriak, "Eomma! Robocar Poli! Poli! Poli!"
Well, ternyata ketika Kyungsoo memindahkan channel-nya satu persatu, dia melewatkan tayangan kesukaan anaknya, Robocar Poli.
"Taeoh-ah, kau bermain saja dengan mobil-mobilanmu. Atau mau appa ambilkan Lego mu?" tawar Jongin pada anaknya agar dia bisa melihat tayangan yang diinginkannya.
"Aniya, poli! Poli!"
"YA! Kim Taeoh!" seru Jongin kemudian.
Mendengar sang ayah yang berseru padanya, Taeoh langsung berdiri dan berlari ke arah Kyungsoo yang duduk – di sofa – di sebelah Jongin, "Eommaaaaa…" ucapnya sambil memegang lutut Kyungsoo seraya memberikan puppy eyes-nya.
"Yeobo, biarkan dia bermain di lantai. Toh sedari tadi dia sibuk dengan dunianya sendiri." Ujar Jongin meyakinkan istrinya.
"Eomma, poli…" kata Taeoh dengan nada yang memelas.
Kyungsoo menghela nafas panjangnya, "Jongin-ah, maafkan aku. Nampaknya rayuan anak kita lebih bekerja daripada ucapanmu."
Jongin hanya bisa memperlihatkan wajah tak percaya pada istrinya sendiri. Terlihat Kyungsoo tersenyum seraya membisikkan kata maaf dan bergerak memangku Taeoh yang perhatiannya tertuju pada layar televisi.
"Lagi-lagi aku dikalahkan olehnya. Taeoh-ah… kau ini…" gumam Jongin seraya menatap istri dan anaknya dengan tatapan nanar.
Sore harinya, terjadi cerita yang berbeda. Kali ini Jongin menginginkan susu rasa pisang yang ada di dalam lemari es. Sebenarnya dia sudah mengincar susu itu dari kemarin. Tapi karena kemarin malam dia terlalu mengantuk, maka dia melewatkan kesempatan untuk meminum susu itu.
"Yeobo! Dimana banana milk yang aku simpan disini?" tanya Jongin kepada Kyungsoo yang menemani Taeoh di depan mainannya.
"Banana milk?"
"Iya! Susu pisang aku simpan disini." Ujar Jongin yang masih celingukan di depan lemari es-nya.
"Yeobo, itu…" ucap Kyungsoo.
Jongin mengalihkan perhatiannya kepada Kyungsoo. Kemudian mereka berdua secara bersamaan menatap Taeoh yang mengedipkan matanya tak berdosa sambil menyesap sebuah botol bertuliskan 'Banana Milk'.
"Jongin-ah, mianhae…"
"Noona… kau tahu sendiri aku sangat menginginkan itu dari semalam…" ucap Jongin lemah.
"Mianhae, yeobo… Taeoh benar-benar ingin meminumnya sewaktu kau masih mandi. Aku tidak tega untuk menolaknya…"
"Kim Taeoh…" ujar Jongin dengan helaan nafasnya.
Sesaat kemudian lelaki itu berjalan dan berjongkok di depan Taeoh yang terduduk di hadapan Kyungsoo, "Taeoh-ah, apa susu itu enak?" tanya Jongin.
"Hmm!" jawab Taeoh dengan anggukan mantap.
"Bolehkah… appa memintanya sedikit saja? Hanya sedikit…" Pinta Jongin seraya memperagakannya dengan tangan.
Dengan wajah yang – super jahil – bisa membuat orang kesal, Taeoh menjawab, "Shireo! Appa tidak boleh minta!"
"Taeoh-ah…" gumam Jongin dengan wajah yang memelas.
"Yeobo, himnae…" kata Kyungsoo sambil mengusap punggung suaminya lembut.
"Apa Taeoh sudah tidur?" tanya Jongin pada Kyungsoo yang baru saja dari kamar mandi.
"Sudah dari tadi. Kenapa?"
Jongin yang memberikan senyum kemenangannya langsung menyeret Kyungsoo ke ranjang dan menindih di bawah tubuhnya. Dia berpikir bahwa pada malam hari adalah satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan perhatian Kyungsoo sepenuhnya.
"Yeobo, ada apa?" tanya Kyungsoo dengan polosnya.
"Apa kau tidak mengerti dengan yang kulakukan saat ini?"
"Ani. Apa?"
Jongin yang sedari tadi menahan tubuh dengan kedua tangannya mulai melancarkan serangannya. Sejujurnya dia juga merindukan saat-saat seperti itu. Seringkali ketika dia pulang bekerja, Kyungsoo sudah tertidur ataupun dia yang kelelahan. Maka dari itu dia ingin memanfaatkan momen tersebut. Tak berselang lama, suasana kamar tersebut berubah menjadi panas dan mulai dipenuhi suara-suara aneh. Nampaknya mereka menikmati kegiatan tersebut. Semua itu tak berlangsung lama ketika terdengar suara rengekan – lebih tepatnya teriakan – dari kamar yang ada di depan kamar mereka.
"Eomaaaa!"
Kyungsoo yang masih berada di bawah tubuh Jongin langsung mendorong suaminya hingga terjatuh dari ranjang mereka.
"Taeoh? Yeobo, mianhae!" seru Kyungsoo yang segera berlari menuju kamar anak lelakinya.
Jongin yang – sudah bertelanjang dada – terjatuh hanya bisa membulatkan matanya. Dia masih dalam proses mencerna apa yang baru saja terjadi. Jongin pun mendudukkan dirinya di tepi ranjang dan masih berusaha menahan apa yang menjadi keinginannya, dengan harapan Kyungsoo akan kembali dan meneruskan apa yang telah mereka mulai.
Tak lama setelah itu, Kyungsoo kembali. Tapi itu membuat Jongin terkejut dan kecewa. Karena apa, Kyungsoo kembali dengan Taeoh yang berada pada gendongannya.
"Yeobo, dia akan tidur dengan kita malam ini. Dia baru saja mimpi buruk sepertinya." Ucap Kyungsoo seraya mengelap keringat yang mengucur dari kening anaknya.
"What? Tapi, tapi…" jawab Jongin dengan ekspresi tidak percaya.
"Hanya malam ini. Apa kau tega melihat anak kita ketakutan?"
"Tapi bagimana denganku? Bagaimana dengan…" kata Jongin sambil memperhatikan bagian bawah tubuhnya.
Kyungsoo hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya seraya berkata, "Hmm… kamar mandi?" ucapnya – dengan wajah bersalah – dengan telunjuk yang menunjuk ke arah kamar mandi.
Jongin yang frustasi langsung mengacak-acak rambutnya. Dia tidak percaya satu-satunya kesempatan yang dimilikinya harus menguap karena kehadiran little devil-nya yang tiba-tiba terbangun dan meminta untuk tidur bersama mereka. Dengan langkah yang terseret dia bergegas ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda.
"Yeobo, maafkan aku. Kau harus berurusan dengan sabun malam-malam begini." Gumam Kyungsoo lemah.
"Selama tiga hari nanti abeoji dan eomma akan membawa Taeoh ke rumahnya. Katanya mereka merindukan Taeoh. Dan mereka baru saja meneleponku." Ucap Kyungsoo di suatu sore.
Mendengar apa yang beru saja diucapkan Kyungsoo, Jongin langsung bersemangat, "Benarkah?!"
"Hm! Kau terbebas darinya selama tiga hari. Kau puas?"
"Hei~ kenapa aku seperti seorang ayah yang tidak menginginkan anaknya."
"Kau selalu saja bertengkar dengannya. Bagaimana bisa aku hidup tenang?"
"Bukan begitu, aku hanya berusaha mendapatkan perhatianmu. Itu saja." Ucap Jongin membela dirinya sendiri.
"Astaga, Jongin-ah. Kau memang tidak berbeda dengan Taeoh." Jawab Kyungsoo seraya menggelengkan kepalanya.
Jongin sangat bersemangat kali ini. Paling tidak selama tiga hari dia bebas melakukan apapun dengan istrinya. Sekarang dia hanya berharap supaya kantor tidak memberikan tugas-tugas berat agar dia bisa memanfaatkan kesempatan langka tersebut.
Memang apa yang diinginkan Jongin berjalan sempurna. Selama dua hari, saat pagi dia bisa berlama-lama dengan Kyungsoo. Sepulang bekerja pun dia bisa melakukan apa yang dia mau. Dia juga berhasil membuat badan Kyungsoo remuk dan kesakitan.
Pagi hari – di hari ketiga – Jongin terbangun dan menemukan istrinya masih terbaring di sampingnya. Padahal biasanya dia sudah berkutat di dapur ataupun membereskan rumah.
"Yeobo, kau masih tidur?" tanyanya.
"Kau… badanku sakit semua." Ucap Kyungsoo.
Jongin hanya bisa tertawa kikuk, "Maafkan aku. Nampaknya aku terlalu keras padamu."
"Bukan keras. Kau liar!"
Disaat mereka masih bercengkrama di ranjang, tiba-tiba ponsel Kyungsoo berbunyi. Wanita itu langsung menyambar ponselnya dan menjawab telepon tersebut.
"Ah, iya eomma. Tapi apa bajunya cukup? Baiklah…" ucapnya seraya menutup hubungan telepon tersebut.
"Siapa?" tanya Jongin penasaran.
"Eomma. Eomma bilang kalau akan membawa Taeoh ke Jeju dan mungkin baru akan pulang hari Rabu nanti."
"Berarti… masih seminggu lagi?"
"Iya. Jangan senang dulu. Aku tidak akan melakukan apapun padamu nanti. Bahkan ini saja masih terasa ngilu."
Jongin pun menggaruk bagian tengkuknya, "Mianhae…" ucapnya sembari tertawa kikuk.
Hari itu hari Sabtu. Hari kesekian Jongin menghabiskan harinya bersama istrinya sendiri. Sore itu, karena dia sedang libur, dia memutuskan untuk bersantai di ruang tengah sambil menonton tayangan kesukaannya tanpa ada yang mengganggu.
"Kau sangat santai tampaknya." Ucap Kyungsoo yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Iya. Aku bingung harus melakukan apa."
"Tidak ada teman bertengkar, huh?" goda Kyungsoo.
"Taeoh maksudmu?"
"Memangnya kau punya yang lain di rumah ini? Kau ini. Kalau dia ada di rumah kau seperti benar-benar ingin mengusirnya, tapi kalau ditinggal begini kau mencarinya."
"Aku tidak ingin mengusirnya, kau tahu. Terkadang aku hanya tidak ingin mengalah saja."
"Bukan terkadang, tapi kau selalu begitu."
"Aku hanya ingin mendapatkan perhatianmu, sayang~" goda Jongin pada istrinya.
Kali ini Jongin sadar jika dia merasa kesepian. Jika biasanya dia berebut acara yang ada di televisi, sekarang dia bisa menontonnya sendirian tanpa ada yang mengganggu. Tapi dia sadar jika tidak ada anak lelakinya itu, rumah akan terasa sepi.
"Kapan Taeoh pulang ke rumah?" tanya Jongin.
"Kata eomma hari Rabu. Tapi mungkin Selasa sudah kembali dari Jeju."
"Oh… apa eomma dan abeoji mengantarkan pulang atau kita yang menjemput?"
"Lebih baik kita menjemputnya saja. Kau ini kenapa, huh?"
"A-ani."
Kyungsoo tersenyum mendengar apa yang dikatakan suaminya. Dia tahu jika Jongin merindukan Taeoh, anak mereka. Hanya saja Jongin terlalu gengsi untuk mengakui itu.
"Aku pulang!" ucap Jongin sepulang dari kantor malam itu.
Ketika dia sedang berusaha melepas sepatunya, tiba-tiba ada dua lengan kecil yang melingkar di lehernya.
"Appa!" serunya dengan suara yang super lucu.
"Oh? Jagoan appa sudah di rumah?" ucap Jongin sambil mengangkat anaknya itu tinggi-tinggi.
Taeoh hanya tertawa dengan tawanya yang lucu. Dia memang sangat suka kalau diangkat seperti itu, "Hng!" ucapnya dengan anggukan yang mantap.
"Apa liburan Taeoh menyenangkan?"
"Ne! sangat senang!"
"Kenapa Taeoh belum tidur? Hm?" tanya Jongin lagi.
"Taeoh menunggu appa pulang!"
"Benarkah? Whooa… memang Taeoh benar-benar anak appa!"
Ketika mereka sedang sibuk bercengkrama, tiba-tiba Kyungsoo yang baru saja keluar dari kamar langsung berdiri di samping Jongin yang menggendong anak lelakinya.
"Kalian sudah akur? Hm?" goda Kyungsoo pada suaminya.
"Bukankah kami sudah akur dari dulu?"
"Benarkah? Aku tidak percaya. Kita lihat saja berapa lama kalian akan akur begini."
Larut malam pun tiba. Jongin dan Kyungsoo bersiap-siap untuk tidur setelah Kyungsoo berhasil membuat Taeoh tertidur pulas. Mungkin anak lelakinya lumayan lelah setelah beberapa hari berlibur dengan halmeoni dan harabeoji-nya.
"Yeobo~" ucap Jongin sambil mengusap-usapkan hidungnya pada leher Kyungsoo.
"Apa yang kau mau, Jongin-ah?"
"Apa kau tidak paham, hm? Kita bisa memanfaatkan Taeoh yang sudah tidur..."
Kyungsoo selalu pasrah jika Jongin sudah begini. Dia sadar jika tidak bisa melawan tenaga suaminya. Tapi dia benar-benar tidak mengerti dengan Jongin. Jongin benar-benar lelaki dengan otak super pervert yang gampang terpengaruh dengan hal sedikit. Contohnya malam ini, Kyungsoo hanya memakai celana pendek dan kaos yang cukup – sebenarnya sangat – kebesaran. Itu saja sudah membuat tangan Jongin menjamah tubuhnya. Padahal sebenarnya Kyungsoo tidak berniat untuk melakukan hal itu.
Tanpa sadar kaos putih yang dikenakan Kyungsoo sudah terlempar entah kemana. Dia juga tahu kalau lehernya akan dipenuhi bekas-bekas merah. Sebenarnya dia ingin protes, besok harinya dia harus pergi bersama Baekhyun dan Luhan. Kyungsoo sudah yakin jika akan menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya.
Ketika mereka sedang sibuk melakukan kegiatannya, "Appa? Eomma?" tanya Taeoh yang – tiba-tiba datang – memegang bonekanya.
"YA! Bagimana kau bisa masuk kemari!" seru Jongin sambil menarik selimutnya.
"Taeoh-ah, bisa keluar sebentar? Astaga! Jongin-ah! Ambilkan kaosku!" ucap Kyungsoo yang meraih kaos di tangan Jongin dan memakainya.
"Appa, eomma, Taeoh tidur disini ya?"
"Astaga! Andwe!" seru Jongin.
"Eommaaa…" rengek Taeoh.
"Yeobo, bagaimana ini? Biarkan dia tidur disini, ya?" pinta Kyungsoo dengan wajah yang memelas.
"Tapi, tapi ini sudah separuh jalan! Oh my God, bagaimana nasib 'adikku'?"
"Yeobo, mianhaeyo. Dia sudah menangis begini."
"Tapi, astaga. KIM TAEOH!" ujar Jongin geram.
"EOMMA…" tangis Taeoh semakin menjadi.
"Jongin-ah, kamar mandi?"
Dengan rambut yang dijambak sendiri, "Astaga, adikku… maafkan aku…"
Jongin terbangun dan bergegas menuju kamar mandi untuk yang kesekian kalinya untuk menyelesaikan urusannya sendiri. Untuk kali ini Kyungsoo menatap punggung suaminya dengan wajah dan pandangan yang tidak tega. Eh, apa benar dia tidak tega? Ternyata itu salah, setelah beberapa detik kemudian Kyungsoo terkikik geli ketika mendengar suara aneh dari kamar mandi.
END.
