"Eomma?"

"Aigoo, Taeoh-ah!" seru Kyungsoo.

"Eomma…"

Anak kecil yang baru saja bangun dari tidurnya itupun langsung menghambur ke pelukan ibunya yang sedang duduk di ruang tengah. Kim Taeoh, yang masih mengenakan baju tidur lengkap dan menyeret bonekanya, berjalan dengan mata yang setengah terpejam.

"Masih mengantuk?"

"Hng…" jawab Taeoh.

"Eomma ppoppo?"

Walaupun dengan nyawa yang belum kembali, Taeoh bersemangat mencium pipi ibunya. Anak lelaki itu memang super manja jika sudah bertemu ataupun bersama Kyungsoo. Selain itu, Kyungsoo sendiri selalu membela anaknya. Jadi sangat wajar jika Jongin sering protes dengan kebiasaan anak dan istrinya.

"Eomma… Appa sudah pergi?" tanya Taeoh.

Well, anak itu sepertinya sadar jika rumah lebih sepi daripada biasanya. Karena setiap pagi Taeoh selalu membuat keributan bersama ayahnya, Kim Jongin.

"Appa? Iya, Appa sedang pergi. Jadi, untuk beberapa hari ke depan, Taeoh hanya bersama eomma dirumah." Jelas Kyungsoo seraya membawa anaknya menuju kamar mandi.

"Appa pergi lama? Kemana?"

"Jauh. Jadi, selama Taeoh hanya bersama Eomma di rumah, Taeoh tidak boleh nakal. Apa anak Eomma ini mengerti?"

Dengan anggukan yang masih malas, Taeoh menjawab, "Hmm… mengerti, Eomma."


Sebelum Taeoh terbangun, pagi-pagi buta Jongin sudah berpakaian rapi. Dia harus berangkat ke Jepang untuk menyelesaikan proyek sebuah infrastuktur dari perusahaannya selama lebih dari seminggu. Walaupun sebenarnya dia super malas karena harus bangun lebih biasanya.

"Malasnya…" gumamnya yang kemudian merebahkan dirinya lagi di atas ranjang.

"YA! Jangan tidur lagi! Sudah cukup lelah aku menyetrika bajumu!" tegur Kyungsoo yang melihat Jongin tertidur di ranjang mereka.

"Hmm… Mianhae. Aku masih mengantuk." Jawab pria itu yang kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang.

"Cepat, yeobo. Satu setengah jam lagi pesawatmu sudah berangkat. Semua barang-barangmu sudah aku siapkan di ruang tengah. Sekarang berdiri," Kyungsoo menarik tangan suaminya, "dan segera berangkat. Lanjutkan tidur cantikmu itu di pesawat. Arachi?"

Jongin kemudian mengacak-acak rambut Kyungsoo, "Iya, sayang. Jangan mengomel lagi." Sergahnya.

Jongin yang keluar kamar tidak langsung mengambil barang-barangnya. Dia berjalan terus dan kemudian masuk ke dalam kamar Taeoh.

"Kau mau membangunkannya? Jangan membuat keributan!" cegah Kyungsoo yang megikuti Jongin dari belakang.

"Tidak. Aku hanya ingin melihat apa dia tidur nyaman atau tidak." Jongin kemudian berdiri di samping tempat tidur Taeoh, "Aigoo… lucunya. Mungkin aku akan merindukannya jika aku pergi lama begini."

"Kalaupun kau di rumah pasti bertengkar dengannya." Sindir Kyungsoo.

"AISH! Aku akan pergi lebih dari seminggu, kau akan merindukan pertengkaran kami."

"Bukannya kau sudah biasa tidak di rumah?"

"Tapi paling tidak biasanya aku masih bisa pulang tiga hari sekali. Kali ini tidak!"

Kyungsoo hanya tersenyum ketika mendengar jawaban suaminya yang ketus. Dia mengerti apa yang dirasakan Jongin. Mungkin karena mereka sering bertengkar, Jongin akan lebih merindukan anak lelakinya. Jongin akhirnya berhenti dan memandang Taeoh sejenak. Kemudian dia membenarkan posisi tidur dan selimut Taeoh yang berantakan.

"Baiklah, aku berangkat sekarang." Ucap Jongin lirih.


Siang harinya, Kyungsoo menemani Taeoh bermain di ruang tengah. Anak kecil itu bermain di depan televisi dengan tenang. Tidak seperti siang biasanya yang dipenuhi dengan teriakan Jongin ataupun tangisan Taeoh jika pada akhir pekan. Ada saat Kyungsoo mengejar Taeoh yang ingin memanjat almari untuk mengambil Lego yang ada di rak paling atas.

"Sayang, jangan memanjat begini. Kalau jatuh pasti akan sakit." Ujar Kyungsoo.

"Eomma, Taeoh ingin mengambil Lego di atas. Taeoh ingin bermain dengan itu."

Kyungsoo berpikir sejenak. Dia sendiri juga tidak sampai karena Jongin menaruhnya di rak paling tinggi. Bukan tidak sampai, lebih tepatnya karena Lego itu terletak lebih tinggi dari Kyungsoo dan agak berat, maka Kyungsoo juga kesulitan untuk mengambilnya.

"Sebentar. Taeoh duduk disana ya. Biar eomma yang mengambilnya." Ucap Kyungsoo lembut.

Taeoh mengangguk dan menuruti perkataan ibunya. Anak itu selalu menurut dengan perkataan Kyungsoo. Sebenarnya dia juga menurut dengan Jongin, ah, lebih tepatnya takut dengan Jongin. Tapi tetap saja mereka tidak pernah akur layaknya Tom dan Jerry.

"Huh, susah juga kalau begini. Ini kenapa Jongin harus menaruhnya di rak paling tinggi seperti ini?" gumam Kyungsoo seraya berusaha meraih mainan anak lelakinya.

Setelah berhasil mengambilnya, "TADAA! Ini, sayang. Maaf jika eomma lama mengambilkannya." Ucap Kyungsoo.

Taeoh yang sudah menunggu langsung berlari menuju Kyungsoo yang membawa kotak berisi Lego itu, "Eomma, gumawoyo!" serunya.

Kyungsoo kemudian mendudukkan dirinya di sofa depan televisi lagi. Baginya, selama dia hanya berdua dengan Taeoh, dia bisa lebih bersantai karena tidak ada Jongin yang biasanya menyuruhnya kemana-mana.

"Eomma!" seru Taeoh seraya memberikan ponsel Kyungsoo.

"EH?" ada nama Jongin disana, "Halo?"

"Yeobo! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku sedari tadi?"

"Ah… aku sedari tadi sibuk berusaha mengambilkan Lego yang kau taruh di almari tengah. Kau tahu sendiri aku tidak setinggi itu, tapi kau malah menaruhnya disana."

Mendengar ucapan Kyungsoo, Jongin tergelak, "Mianhae, yeobo. Aku menaruh disana agar Taeoh tidak membuatnya berantakan."

"Arra, arra. Oh, ada apa? Kenapa tiba-tiba menelepon?"

"Tidak. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah sampai di Jepang dan akan melakukan beberapa kegiatan untuk hari ini. Ah, mungkin aku akan mengabarimu lagi nanti malam atau besok pagi."

"Okay, kau jangan lupa makan. Aku sudah memasukkan beberapa vitamin di kantong depan. Jangan lupa diminum!"

"Astaga. Iya, sayang. Aku tidak akan lupa. Tenang saja. Ah, aku pergi dulu. Aku harus berkumpul dengan yang lain. Annyeong~"

Setelah menutup teleponnya, Kyungsoo duduk di samping Taeoh yang sedang membuat roket dari legonya. Sejenak dia memperhatikan anaknya yang sangat mirip dengan suaminya itu.

"Jongin-ah, jika aku melihat anak ini, aku seperti melihat dirimu." Gumam Kyungsoo.

"Apa, eomma?" tanya Taeoh yang mendengar ucapan ibunya.

"Aniya. Taeoh-ah, ayo kita makan siang!" seru Kyungsoo seraya mengangkat Taeoh ke gendongannya.


Sudah empat hari Jongin di Jepang dan meninggalkan rumah. Memang dia tetap menghubungi Kyungsoo, itupun hanya pada malam sebelum tidur ataupun pada pagi hari. Beberapa kali pria itu mencari anaknya untuk sekadar bercanda. Sayangnya, saat Jongin menelepon Kyungsoo, Taeoh sudah tidur ataupun belum terbangun dari tidurnya.

Kyungsoo yang hanya di rumah dengan Taeoh memang lebih santai daripada biasanya. Karena dia tidak perlu menyiapkan sarapan atau perlengkapan Jongin ketika pria itu harus berangkat bekerja. Dia bahkan bisa bangun lebih siang untuk beberapa hari.

"Halo?" jawab Kyungsoo yang ponselnya berbunyi.

"Kau belum bangun? Astaga, kenapa kau begitu pemalas jika aku tidak di rumah?" tanya Jongin di seberang.

Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, "Hngh… setidaknya tidak ada yang merepotkan aku di rumah untuk sementara waktu." Jawab Kyungsoo.

"YA! Kau ini!"

"Maafkan aku, yeobo. Aku bangun sekarang." Kyungsoo mendudukkan dirinya di samping Taeoh yang tidur bersamanya, "Taeoh belum bangun. Kenapa kau tidak mencoba untuk menelepon lebih siang?" tanyanya seraya merapikan rambutnya yang berantakan.

"Kegiatanku padat jika siang hari tiba. Apa dia tidur bersamamu?"

"Hmm. Dia tidur di sampingku. Aku tidak mengerti kenapa kebiasaan tidurnya sangat mirip denganmu. Selalu berputar kemana-mana." Ucap Kyungsoo sembari membetulkan posisi tidur Taeoh yang sudah berada di tepi tempat tidur.

"Jika dia seperti itu, maka tidak perlu melakukan tes DNA untuk membuktikan apa dia anakku atau bukan." Ujar Jongin terkekeh.

Kyungsoo yang beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi pun itu tergelak, "Kau ini. Wajah Taeoh dan caranya berekspresi saja sangat mirip denganmu, bagaimana bisa dia anak orang lain?"

"Geurae. Memang dia anakku. Anakku satu-satunya. Walaupun untuk sementara waktu."

Pipi Kyungsoo memerah, "YA! Apa maksudmu?"

"Kita lihat saja nanti ketika aku sudah kembali dari Jepang. Kau ingin anak laki-laki lagi atau perempuan?"

"Kim Jongin!" seru Kyungsoo yang dibalas dengan tawa Jongin yang meledak.

Disaat Kyungsoo menelepon Jongin, tiba-tiba ada sesuatu yang terantuk pada pahanya. Ketika dia menoleh, ternyata ada Taeoh yang menyandarkan kepalanya.

"Ah, jagoan Eomma!" serunya, "Yeobo, dia sudah bangun. Mau berbicara dengannya?" ucap Kyungsoo pada Jongin yang masih pada sambungan telepon.

"Eomma…"

"Taeoh-ah, ini appa. Mau berbicara?" ucap Kyungsoo seraya mengangkat Taeoh pada gendongannya.

Taeoh yang masih belum sadar mendekatkan telinganya pada telepon, "Appa?" sapanya dengan suara parau.

"Anak appa sudah bangun?"

"Aku baru saja bangun, appa…"

Jongin tertawa ketika mendengar suara anaknya yang masih mengantuk, "Taeoh-ah, appa akan pulang empat hari lagi. Anak appa minta dibelikan apa?"

Kyungsoo kembali menarik teleponnya, "Yeobo, dia tidur lagi. Ah, dia lucu sekali…" ujar Kyungsoo gemas.

"Tidur? Hmm…" gumam Jongin kecewa, "Yeobo, mungkin aku akan pulang empat hari lagi. Semoga bisa lebih cepat dari itu. Jika proyek ini selesai, maka dua hari lagi aku bisa pulang. Kalau saja aku tidak menghubungimu malam nanti atau besok pagi, berarti aku sedang lembur."

"Jaga kesehatanmu…" ucap Kyungsoo lirih.

Sejenak ada gurat kesedihan di wajah wanita itu. Dia merasa kasihan dengan suaminya yang harus bekerja keras. Meskipun Jongin sendiri sangat mencintai pekerjaannya, tapi tetap saja Kyungsoo tidak tega jika tahu bahwa Jongin harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Aku akan menjaga kesehatanku. Tenang saja. Ah, aku harus menyiapkan presentasiku sekarang. Aku akan mengirimkan pesan untukmu nanti."

Kyungsoo menutup telepon itu dan kembali sibuk dengan anak lelakinya yang tertidur di gendongannya. Dia mengusap rambut Taeoh perlahan. Sangat cepat baginya melihat Taeoh sudah sebesar itu. Padahal bagi Kyungsoo rasanya baru kemarin dia harus mendorong Taeoh di kereta bayinya.


Siang itu Kyungsoo memutuskan untuk mengajak Taeoh keluar walaupun sekadar ke tempat makan. Sebenarnya Taeoh tidak mau pergi, tapi Kyungsoo memaksa karena dia merasa bosan jika harus di rumah seharian penuh. Kemudian dia mengajak Baekhyun untuk menemaninya.

"Baek, aku benar-benar bosan di rumah." Keluh Kyungsoo.

"Bukannya kau sudah terbiasa ditinggal Jongin begini?"

"Tapi tidak jarak jauh begini. Entah, rasanya benar-benar berbeda."

"Dia pergi untuk mencari uang, Soo-ya. Jadi… bersabarlah."

Kyungsoo mengangguk seraya mengusap kepala Taeoh yang sedang menjilati permen lollipop-nya. Dia merasa Taeoh agak well behaved selama Jongin tidak ada di rumah. Anak lelaki itu lebih tenang dan tidak pernah menangis. Dia sadar jika anaknya bersikap seperti little brat ketika Jongin ada di rumah.

Sore harinya, Kyungsoo menyibukkan diri di kamar mandi bersama anak lelakinya. Dia sedang memandikan Taeoh rupanya.

Ketika sedang bermain dengan gelembung sabunnya, Taeoh bertanya, "Eomma, kapan Appa pulang?"

"Hmm… mungkin beberapa hari lagi. Kenapa? Apa Taeoh merindukan Appa?" tanya Kyungsoo yang dijawab anggukan dari Taeoh.

"Tapi, kenapa Taeoh selalu bertengkar dengan Appa? Appa sering berteriak pada Taeoh, bukan?"

"Itu karena appa menyebalkan, Eomma." Jawab Taeoh polos.

Kyungsoo tersenyum mendengar jawab anaknya, "Tapi Appa sayang pada Taeoh…"

"Taeoh juga sayang Appa!" seru Taeoh dengan wajahnya yang serius.

"EH? Hanya Appa saja?"

"Tidak. Taeoh sayang Eomma dan Appa." Jawab Taeoh sambil memamerkan senyum berlesung pipinya.


Sudah hari ketiga Jongin tidak menghubungi Kyungsoo. Wanita itu berusaha tenang dan tidak memikirkan hal yang aneh-aneh, walaupun sebenarnya dia merasa khawatir dengan keadaan Jongin saat itu. Dia berusaha menghubungi Jongin, tapi hasilnya nihil. Jongin tidak pernah mengangkat teleponnya. Bahkan sekarang, dia tidak bisa mengubungi Jongin karena nomornya tidak aktif.

"Huh, apa dia sesibuk itu sampai-sampai tidak bisa dihubungi?" gerutu Kyungsoo.

Malam itu, sebelum tidur, dia mencoba menghubungi Jongin untuk yang kesekian kalinya. Setelah banyak kali, dan nomor Jongin tetap tidak aktif, dia memutuskan untuk menemani Taeoh yang sudah tertidur di tempat tidurnya dengan perasaan yang kesal. Bagaimana tidak, Jongin sama sekali tidak ada inisiatif untuk meneleponnya sekalipun.

Disaat Kyungsoo membetulkan posisi tidurnya, tiba-tiba Taeoh terbangun, "Eomma? Wae?"

"Hm?"

Taeoh pun meringkuk di samping Kyungsoo, "Sedari tadi Eomma diam. Kenapa?"

"Tidak. Ayo tidur Taeoh-ah. Ini sudah malam." Ucap Kyungsoo mengalihkan perhatian Taeoh.

"Iya, Eomma. Eomma, apa Appa sudah tidur sekarang?"

Kyungsoo diam. Dia merasa mendidih ketika mendengar pertanyaan anak lelakinya. Jika dia bisa menjawab dengan jujur, dia pasti akan mengumpat. Tapi karena Taeoh yang bertanya, maka mau tidak mau dia harus tenang.

"Sudah. Pasti Appa sudah tidur. Sekarang Taeoh tidur. Appa tidak suka jika Taeoh tidur terlalu malam, kan?"

Taeoh mengangguk dan kemudian memejamkan matanya, "Eomma, jaljayo…"


"Hngh…"

Kyungsoo mulai memutar badannya dan membuka matanya sedikit demi sedikit. Badannya sedikit sakit karena kaki Taeoh yang menendangnya ketika tidur. Dia yang awalnya masih mengantuk tiba-tiba langsung membulatkan matanya saat melihat seseorang tidur di sisi kiri Taeoh – Kyungsoo di sisi kanan.

'WHAT?! Sejak kapan dia masuk ke rumah?' batinnya.

Well, yang dimaksud Kyungsoo adalah suaminya sendiri, Jongin. Pria itu sudah meringkuk di samping Taeoh dengan wajah yang penuh lelah. Kyungsoo sendiri sudah siap memburu Jongin dengan banyak pertanyaan. Dengan perasaan kesal dia mendudukkan dirinya dan kemudian mengikat rambutnya yang berantakan. Sesaat kemudian dia langsung keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi.

"Apa maksudnya anak itu? Tidak mengabariku beberapa hari dan BAM! Dia sudah dengan santainya tidur di kamar." Gumam Kyungsoo dengan sikat gigi yang masih di mulutnya.

Sebenarnya Kyungsoo senang ketika melihat Jongin baik-baik saja. Tapi di dalam hatinya dia masih kesal karena Jongin sama sekali tidak menghubunginya.

Karena Jongin sudah di rumah, Kyungsoo memutuskan untuk segera pergi membereskan rumah. Yah, walaupun dengan perasaan yang masih kesal. Mungkin jika Jongin bangun nanti, Kyungsoo sudah siap untuk berteriak di depan wajah lelaki itu.

Ketika sedang sibuk, tiba-tiba dia mendengar teriakan dari dalam kamarnya, "APPAAA!"

Kyungsoo yang mendengar teriakan itu langsung berlari kembali ke kamar karena merasa kaget dan khawatir dengan suara anak lelakinya yang menggegerkan rumah pagi hari. Ketika dia menengok apa yang terjadi, dia melihat Taeoh yang duduk di atas perut ayahnya sembari melakukan poking pada wajah sang ayah.

"APPA! Appa bangun!" seru Taeoh kegirangan.

Jongin yang awalnya masih tertidur langsung berusaha mengumpulkan kesadarannya, "Aigoo, Taeoh-ah…"

Taeoh yang menyadari Kyungsoo berdiri di depan pintu, "Eomma! Appa sudah pulang!" serunya.

"OH? Kau sudah bangun?" tanya Jongin yang sedang berusaha duduk dan memangku Taeoh.

Kyungsoo kemudian bergerak dan duduk di tepi ranjang dekat Jongin dan Taeoh, "Sudah. Sedari tadi." Jawabnya singkat.

Jongin tersenyum mendengar jawaban Kyungsoo. Dia sadar kenapa ada nada ketus pada jawab istrinya.

"Kau marah padaku?" tanya Jongin dengan suara yang masih malas.

"Tidak. Aku tidak marah."

"Kau bohong~" goda Jongin.

"TIDAK!" seru Kyungsoo.

Taeoh yang sedari diam akhirnya ikut angkat bicara, "Eomma, Appa sudah pulang. Jangan marah."

Kyungsoo memberikan senyum pada anak lelakinya. Tapi sedetik kemudian dia memberikan tatapan Satan-Soo nya pada Jongin.

"Yeobo, mianhae. Aku sengaja melakukan itu untuk memberikan kejutan untukmu dan Taeoh. Jangan marah~"

"Tapi bukan begitu caranya."

"Ayolah~ jangan marah~" godanya sekali lagi.

Kyungsoo yang salah tingkah terlihat menahan senyumnya. Sesaat kemudian dia berdiri dan berjalan keluar. Tapi dia memutuskan untuk berbalik arah sekali lagi.

"Kalau kau ingin cepat makan, bantu aku membersihkan rumah!" serunya dengan ketus yang dibuat-buat.

"Aigoo~ siap, nyonya besar! Taeoh-ah, ayo kita bantu Eomma!" ucap Jongin seraya mengangkat Taeoh dalam gendongannya.

Ketika melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Taeoh pun bertanya, "Appa membelikan aku oleh-oleh tidak?"

"Ah! Iya, ayo kita ambil!"

Jongin dan Taeoh yang semula berniat untuk membantu Kyungsoo malah pergi menuju kamar lagi dan siap membongkar koper miliknya. Taeoh terlihat senang ketika Jongin menunjukkan mainan dan segala macam barang yang dibelikan untuknya.

"NARUTO!" seru Taeoh ketika mengangkat sebuah action figure dari dalam koper ayahnya.

"Taeoh suka?"

"Hng! Sangat suka!" ucapnya dengan anggukan mantap.

Jongin yang merasa gemas langsung menghujani Taeoh dengan ciuman di pipi anak lelaki itu. Dia sangat merindukan anak lelakinya. Selama seminggu dia sudah tidak bertemu dan tidak bertengkar dengan little devil-nya tersebut.

Ketika sedang asik membongkar semua oleh-olehnya, tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, "KIM JONGIN! Kalau kau tidak membantuku sekarang, jangan harap ada jatah makan untukmu!"

Jongin yang mendengar teriakan itu langsung berlari keluar kamar. Dia langsung menemui Kyungsoo yang sedang menyedot debu di bawah kursi ruang tengah.

"Kau tidak memberikan aku jatah makan? Tidak apa. Asalkan kau memberiku jatah yang lain nanti malam." Ucapnya seraya merebut penyedot debu itu dari tangan Kyungsoo.

"Jangan harap! Jatah makan saja tidak akan aku berikan, apalagi jatah-jatah lainnya!"

"Ayolah, noona~ aku mau jatah yang itu~"

Kyungsoo menahan tawanya ketika melihat Jongin melakukan aegyo padanya. Dia sadar betapa dia merindukan lelakinya yang ada di hadapannya itu.

Mereka berdua kemudian dikejutkan dengan pertanyaan Taeoh yang tiba-tiba duduk di kursi ruang tengah seraya membawa action figure barunya, "Eomma? Apa Taeoh boleh meminta jatah juga pada Eomma seperti Appa?" ucapnya polos.

Jongin yang mendengar pertanyaan itu langsung tertawa terbahak-bahak. Berbeda dengan Jongin, Kyungsoo hanya bisa membulatkan kedua matanya.

"Yeobo, jawab!" seru Kyungsoo pada Jongin.

"Kau jawab saja sendiri. Aku sedang sibuk~" goda Jongin yang langsung menyibukkan dirinya.

Dengan puppy eyes-nya, "Eomma? Apa boleh?" tanya Taeoh lagi.

Well, pikirkan jawaban yang tepat, Kim Kyungsoo~

.
.

END.