Merry - belated - Christmas and happy new year yeorobun~~~
^^


Siang itu ada yang berbeda dari rumah keluarga Kim. Jongin dan Kyungsoo terlihat sibuk menata pohon natal yang dipasang di ruang tengah. Anak mereka, Taeoh sedang sibuk memperhatikan kedua orang tuanya yang dengan susah payah menghias pohon cemara berlampu itu.

"Appa! Nyalakan lampunya!" seru Taeoh kepada ayahnya yang masih kebingungan bagaimana cara memasang pernak-pernik pohon tersebut.

"Sebentar, Taeoh-ah. Appa masih harus memasang yang lain dulu." Jawab Jongin dengan konsentrasi yang masih pada hiasan pohon natalnya.

"Appa! Ayolah nyalakan…"

Kyungsoo yang melihat Jongin mulai mengerutkan keningnya langsung menghampiri Taeoh, "Sayang, Appa sedang sibuk. Apa Taeoh mau menunggu sebentar? Kurang sedikit lagi pohon natalnya selesai. Jika Taeoh terus-terusan seperti itu, Appa bisa marah. Mengerti?" ucap Kyungsoo dengan lembut.

Taeoh yang mendengar ucapan ibunya langsung menganggukkan kepala dengan lucunya. Anak itu kemudian memberikan senyum berlesung pipinya.

"Sekarang, apa Taeoh mau membantu Eomma dan Appa?" tanya Kyungsoo.

"Membantu Eomma dan Appa?" ucap Taeoh yang dibalas dengan anggukan ibunya.

"Aniyo, Taeoh ingin menonton Pororo saja." Jawab Taeoh seraya – menjulurkan lidah – mengalihkan perhatiannya pada layar TV yang ada dihadapannya.

Kyungsoo hanya bisa membulatkan matanya ketika mendapat jawaban dari anak semata wayangnya itu. Dia tidak menyangka jika anak lelakinya yang berusia tiga tahun tersebut menjawab dengan sikap jahilnya. Sejenak kemudian Taeoh melirikkan matanya – untuk melihat ekspresi Kyungsoo – dan dengan tawa yang ditahan.

"Arraseo, Taeoh akan membantu Eomma." Taeoh menghadap Kyungsoo, "tapi tidak dengan Appa."

Jongin yang mendengar perkataan Taeoh langsung berseru, "YA! Kau!"

Taeoh hanya menjulurkan lidahnya pada Jongin dan kemudian berlari ke dalam kamarnya. Entah apa yang akan dilakukan disana, tapi yang jelas dia ingin melarikan dirinya dari sang Appa yang mulai terlihat mengeluarkan asap dari kepalanya.

"AISH! Dasar setan kecil!" gerutu Jongin.

"YA! Itu anakmu! Jangan menyebutnya seperti itu!"

"Tapi benar-benar… YA! Aku tidak mengerti kenapa dia sejahil itu."

Kyungsoo hanya menatap suaminya dengan tatapan layaknya orang tidak percaya. Beberapa detik kemudian dia beranjak dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan, dia kembali menuju Jongin yang masih struggling dengan pohon natalnya.

"Kau tidak mengerti? Ini," Kyungsoo menghadapkan sesuatu pada pria itu, "Ini yang membuat Taeoh bersifat seperti itu. Sudah melihat? Di cermin itu ada bayangan seseorang. Dan dialah penyebabnya."

Jongin yang melihat sebuah cermin besar menghadap ke arahnya langsung memberikan senyum paksa dan menggaruk tengkuknya sendiri. Memang benar jika anak lelakinya, Kim Taeoh, memiliki sifat jahil seperti itu karena keturunan dari ayahnya, Kim Jongin.

"Meskipun begitu… aku ini suamimu." Ucap Jongin dengan imutnya yang dibuat-buat.

'What?'

"Meskipun begitu, dia anakmu, Tuan Kim." Ujar Kyungsoo sarkastik.

'Okay, checkmate.' Ucap Jongin dalam hati.


"Taeoh-ah! Ayo kita makan, sayang!" seru Kyungsoo pada Taeoh yang sedang membaca – lebih tepatnya melihat gambar – di ruang tengah.

Jongin dan Kyungsoo yang sudah duduk di meja makan pun menunggu anak lelakinya. Taeoh yang terlalu bersemangat itu pun berlari menuju ruang makan.

"Taeoh-ah, jangan berla-ASTAGA!" seru Kyungsoo.

"EOMMAAA!"

Tangis Taeoh pun menjadi. Anak lelaki itu terantuk meja makan – dengan lumayan keras – karena dia yang berlarian dan tidak melihat bahwa meja makan sudah ada di hadapannya. Jongin, yang ada di samping anak itu langsung mendirikan anaknya – yang roboh – dan kemudian menggendongnya.

"Sudah Appa bilang berkali-kali, jangan berlarian jika di rumah." tukas Jongin seraya mengusap kepala anaknya terbentur meja.

Taeoh yang masih ada di gendongan Jongin pun mulai berhenti menangis dan meninggalkan sesenggukkannya saja. Anak lelaki itu membenamkan wajahnya di leher sang ayah dan mengeratkan dekapannya.

"Sekarang duduk dengan Eomma. Kita makan."

Taeoh yang masih bermuka merah itu segera menempatkan dirinya di samping Kyungsoo. Tak lama kemudian dia memeluk ibunya seakan mencari perlindungan dari ucapan ayahnya yang ketus sebelumnya.

"Ada apa, sayang?" tanya Kyungsoo.

"Appa… Appa marah?" ucap Taeoh lirih.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya dan menatap Jongin yang memberikan ekspresi tidak mengerti.

"Ani, Appa tidak marah. Appa hanya mengingatkan agar Taeoh tidak berlarian lagi di rumah. Kalau Taeoh berlarian lagi, bisa terbentur seperti ini. Sakit bukan?"

"Sakit, Eomma…"

Jongin tersenyum melihat anak lelakinya seperti itu. Bukan tersenyum senang, melainkan menganggap tingkah anakya itu lucu.

"Hey, jagoan Appa, jangan menangis lagi. Ah, dan jangan berlarian lagi di rumah. Janji?" ucap Jongin seraya menyodorkan jari kelingkingnya pada Taeoh.

Taeoh yang melihat jari kelingking ayahnya itu langsung berkata, "Tidak mau."

Anak kecil itu lagi-lagi menggoda ayahnya. Sesaat setelah mengucapkan itu dia tertawa dan membenamkan wajahnya pada pelukan Kyungsoo.

"YA! Taeoh-ah!" seru Jongin yang dibarengi dengan tawa istrinya.


"Eomma, apa Santa akan datang malam ini?" tanya Taeoh pada Kyungsoo yang menemaninya agar cepat tertidur.

"Hmm… Santa akan datang pada anak yang bersikap baik dan tidak nakal. Apa Taeoh bersikap begitu tahun ini?"

"Iya! Taeoh anak Eomma yang paling baik!" ucap anak kecil itu seraya menatap Kyungsoo yang merengkuhnya.

"EH? Tapi Appa sering marah, bukan? Apa itu sudah menjadi anak yang baik?"

"Hmm… tapi Taeoh sayang pada Appa. Sangat sayang!"

"Benarkah? Semoga Santa akan datang dan memberikan kado pada anak Eomma. Kita lihat saja apa ada kado di bawah pohon natal besok pagi. Sekarang," Kyungsoo menaikkan selimut Taeoh, "anak Eomma tidur. Santa tidak suka dengan anak yang tidur terlalu malam. Eomma akan menemani Taeoh disini."

Ucapan Kyungsoo selalu menjadi perintah pada Taeoh. Dalam sekejap anak kecil itu langsung terlelap. Ketika melihat anaknya sudah memejamkan mata dan nafasnya teratur, Kyungsoo dengan perlahan beranjak dari ranjang dan keluar menemui suaminya yang sedang menonton tayangan TV di ruang tengah.

"Dia sudah tidur? Ah, aku sudah membungkus kadonya." kata Jongin pada Kyungsoo yang mendudukkan diri di sampingnya.

"Sudah. Dia sudah tidur. Terima kasih bantuannya!" ujar Kyungsoo seraya mengecup pipi pria itu sekilas.

"Aku heran, kenapa dia selalu menuruti semua perkataanmu, dan membantah jika aku yang berbicara."

Kyungsoo pun tergelak mendengar keluhan pria disampingnya itu, "Dia tidak membantah, sayang. Dia sebenarnya takut denganmu. Hanya saja dia sangat suka menggodamu. Aku pikir jika dia sudah beranjak dewasa nanti, pasti kalian akan sering berdebat."

Jongin menghela nafasnya, "Aku belum siap untuk itu." ucapnya singkat.

"Maksudmu?" tanya Kyungsoo sembari merebahkan punggungnya pada dada Jongin.

"Aku tidak ingin dia cepat dewasa. Aku ingin dia berukuran sekecil itu terus menerus. Kalau perlu aku menjadikan dia bonsai. Ah! Mungkin lebih baik aku menyuruhnya minum formalin agar dia awet seperti itu."

"YA! Kau tega padanya!"

Jongin tertawa mendengar reaksi istrinya, "Maafkan aku. Aku tidak mau dia dewasa dulu, sayang. Aku masih suka dengan dia yang sekarang. Aku berharap waktu berjalan lambat agar aku bisa melihatnya berlarian dan mendengar ocehannya yang lebih menjurus ke bahasa alien itu."

"Waktu berjalan cepat, huh?"

Pria itu menganggukkan kepalanya, "Sangat cepat. Rasanya baru kemarin aku mendorongnya di kereta bayi. Dan rasanya baru kemarin dia membangunkan kita dengan tangisannya."

"Sekarang dia sudah bisa berlarian kemana-mana sampai kita lelah mengejarnya."

"Hm~ Jika dulu dia membangunkan kita karena haus, sekarang dia mengganggu kesempatan kita setiap malam. Such a cockblocker." Gerutu Jongin yang dibalas dengan tawa Kyungsoo.


Di suatu siang Kyungsoo terlihat sibuk menyiapkan sesuatu. Beberapa kali dia harus menggerutu karena ulah Jongin dan anak lelakinya. Mereka berdua dengan santainya duduk di ruang tengah sambil melahap apel yang sudah Kyungsoo kupas sebelumnya.

"Yeobo, bantu aku!" seru Kyungsoo.

"Kau bisa menyiapkannya besok. Toh bepergian kesana tidak butuh banyak barang, bukan?"

"Bukan itu! Beli makanan lagi! Kalian sudah menghabiskan separuh dari makanan yang harus kita bawa besok. Kau tahu sendiri jika kalian berdua selalu makan dengan porsi menjijikkan, perjalanan selama beberapa jam pasti membutuhkan banyak makanan."

"Kita bisa membeli di jalan." Ujar Jongin seraya merebut apel yang ada di tangan Taeoh.

"EOMMAAAA!"

Kyungsoo mengalihkan perhatiannya. Taeoh, dengan wajah yang sudah siap menangis, mulai merengek. Terlihat Jongin sedang mengunyah sesuatu. Kemudian wanita itu menatap mangkok yang ada dihadapan mereka. Akhirnya Kyungsoo sadar penyebab Taeoh merengek seperti itu. Apel yang dimakan Jongin adalah potongan yang terakhir.

"Kim Jongin…" gumam Kyungsoo.

"Ada apa? Huh?" tanya Jongin tak mengerti.

Kyungsoo yang sedang emosi langsung berjalan ke arah Jongin. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa suaminya begitu malas hari ini. Sebenarnya dia tahu jika suaminya menikmati hari libur untuk natal dan tahun baru, tapi bukan berarti harus malas seperti itu, bukan?

"KAU!" seru Kyungsoo sambil memukulkan bantal sofa pada Jongin.

Jongin yang berusaha melakukan blocking dengan kedua tangannya, "ACK! Apa-apaan ini?! Sayang!"

"Jangan pura-pura tidak berdosa! Kau sudah menghabiskan makanan, membuat Taeoh rewel juga! Benar-benar tidak membantu sama sekali!" seru Kyungsoo yang masih menghujani Jongin dengan pukulan bantalnya.

"ACK! IYA! Aku berdiri dan belanja sekarang!" ucap Jongin yang kemudian langsung melarikan diri.

Disisi lain Taeoh hanya mengedipkan matanya yang bulat dengan tidak berdosanya. Dia menatap Kyungsoo dan kemudian bergegas memeluk kaki ibunya.

"Eomma?"

"Duduk disana, sayang. Eomma harus menyiapkan keperluan untuk pergi besok." Ucap Kyungsoo yang kemudian melangkah pergi.

"Eomma!" panggil Taeoh lagi.

Kyungsoo yang kembali sibuk dengan pekerjaannya itu segera menatap Taeoh. Anak lelakinya yang duduk di depan TV itu secara tiba-tiba mengacungkan jempolnya.

"HM? Untuk apa?" tanya Kyungsoo tidak memgerti.

"Karena sudah memukul Appa." Jawab Taeoh yang membuat Kyungsoo menghela nafasnya panjang-panjang.


"Sudah kubilang kita memang tidak perlu pergi." Ucap Jongin sambil mengusap punggung Kyungsoo.

Wanita itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya seraya mengedarkan pandangannya keluar jendela rumah mereka. Terlihat bagaimana salju yang menutup jalan dan menimbulkan tumpukan disana. Wajah Kyungsoo meringsut karena kecewa yang dirasakannya. Untuk yang ketiga kali dia tidak merasakan tahun baru di rumah bersama orang tuanya karena Jongin yang sering sibuk meskipun akhir tahun. Dan saat ini ketika Jongin sedang santai, badai salju malah datang dan menyebabkan rencananya batal terlaksana.

"Prediksi cuaca hari ini buruk, sayang. Kau harus terima kenyataan kali ini." Ujar Jongin seraya merebahkan punggungnya di sofa ruang tengah.

"Apa kita benar-benar tidak bisa pergi?" tanya Kyungsoo yang berusaha meyakinkan dirinya.

"Apa kau tega jika Taeoh berpergian di cuaca seperti ini?"

"Tidak…"

"Sudahlah. Sekarang..." Jongin berjongkok di depan Kyungsoo dan memegang kedua lutut wanita itu, "Bangunkan dan mandikan dia. Ini sudah siang. Aku akan buatkan coklat hangat untuk kalian. Tahun baru kali ini kita bisa menghabiskan di rumah bersama-sama. Lagipula kapan terakhir kita merayakan tahu baru bersama? Aku saja sudah tidak ingat."

"YA!" Jongin tergelak, "Ya sudah, aku bangunkan Taeoh dulu." Ucap Kyungsoo yang kemudian beranjak menuju kamar anak lelakinya.


"Kita tidak jadi pergi, Eomma?" tanya Taeoh yang duduk di pangkuan Kyungsoo di ruang tengah.

"Ani. Lihat, salju sangat tebal di luar sana. Pasti dingin."

"Oh…"

Tiba-tiba wajah Taeoh berubah ceria. Dan kemudian dia berlari menuju meja makan dan mengambil tas yang berisi makanan. Dia bersemangat, bersemangat karena bisa memakan semua makanan yang sudah disiapkan Kyungsoo kemarin.

"Apa Taeoh bisa memakan ini, Eomma?" tanya Taeoh.

"AH! Ayo kita buka!" seru Kyungsoo sembari meraih tas yang dibawa Taeoh dengan susah payah.

"Ada apa ini?" tanya Jongin yang baru saja dari kamar mandi.

"Taeoh ingin memakan bekal makan yang aku siapkan kemarin. Apa kau mau?"

"Apa masih ada biskuit keju yang aku beli kemarin?"

"Ada. Ini untukmu." Ujar Kyungsoo seraya menyodorkan sebungkus biskuit keju pada Jongin.

"Appa! Aku mau!" seru Taeoh yang kemudian berlari menuju ke arah sang ayah.

Jongin menghela nafas panjangnya. Dia berharap bisa menikmati biskuit keju itu sendirian. Itu adalah biskuit kesukaannya, maka dari itu, dia merasa kecewa ketika anak lelakinya menginginkan itu juga.

"KAU. HARUS. BERBAGI. DENGAN. TAEOH." Bisik Kyungsoo dengan pandangan Satan-Soo nya.

"Appa?" ucap Taeoh dengan tatapan puppy eyes.

Kali ini Jongin harus mengalah. Ah, sudah kesekian kalinya Jongin mengalah lagi. Dengan wajah yang kisut di memberikan makanan itu pada Taeoh yang menunggunya sedari tadi.

"Kenapa anak ini punya makanan kesukaan yang sama denganku?" gumam Jongin yang juga melahap biskuit miliknya.

"HM? Bisa dibilang dia ini cetakan versi dua mu, yeobo." Ucap Kyungsoo terkikik.

"Taeoh-ah." Taeoh menoleh pada Jongin, "Sini." Ucap Jongin seraya melebarkan kedua tangannya agar Taeoh duduk di pangkuannya.

'Eh? Bukannya dia sedang kesal? Kenapa tiba-tiba bersikap begitu?' batin Kyungsoo.

Taeoh yang dipanggil oleh Jongin langsung menggerakkan badannya dan duduk di kaki ayahnya yang sedang bersila, "Ada apa, Appa?"

"Ani. Appa hanya ingin Taeoh duduk di pangkuan Appa saja."

Taeoh pun tersenyum mendengar perkataan Jongin. Setelah itu dia kembali mengalihkan perhatiannya pada SpongeBob yang sedang tayang di televisi.

"Ada apa denganmu, yeobo? Kenapa kau tiba-tiba begitu?" tanya Kyungsoo yang merasa penasaran dengan sikap suaminya.

"Tidak." Jongin mengusap rambut Taeoh, "Kau ingat percakapan kita beberapa hari yang lalu? Dan sekarang aku sadar dia benar-benar sudah besar."

"Kenapa? Kau menyesal tidak banyak menghabiskan waktumu dengannya?"

Jongin mengangguk, "Lumayan. Aku banyak melewatkan momen darinya. Bahkan aku tidak tahu kapan dia melangkahkan kakinya untuk pertama kali karena sibuk bekerja. Dan tiba-tiba dia sudah berjalan kemana-mana."

"Kau harus bisa memanfaatkan waktu seperti ini." ucap Kyungsoo yang kemudian duduk di samping Jongin.

"Maka dari itu, tidak berpergian juga menguntungkan bagiku. Jarang sekali kita bisa menghabiskan waktu bertiga seperti ini." ujar Jongin yang kemudian dibalas anggukan dari istrinya.

Ketika sedang melihat tayangan di televisi, tiba-tiba Taeoh tergelak, "Taeoh-ah, kenapa?" tanya Jongin seraya menyejajarkan kepalanya dengan Taeoh.

"Itu lucu sekali." Ucap Taeoh dengan pandangan yang belum teralih.

Jongin langsung menatap istrinya, "Padahal aku yakin dia belum mengerti apa yang dia lihat." Gumamnya.

"Taeoh-ah," panggil Kyungsoo dan menyebabkan Taeoh berpindah duduk ke pangkuan ibunya, "sebentar lagi tahun baru. Apa yang Taeoh inginkan? Mainan baru? Atau yang lain?" tanya Kyungsoo dengan tatapan penuh perhatian pada anak lelakinya.

Taeoh menatap Jongin seakan meminta jawaban. Melihat anaknya seperti itu, Jongin membisikkan sesuatu dengan gerakan bibirnya, "Taeoh-ah, dongsaeng!" bisiknya.

Melihat jawaban ayahnya, Taeoh pun tergelak. Dengan tawa dari anaknya, Kyungsoo segera mengalihkan perhatiannya pada Jongin yang sedang berpura-pura tidak tahu apa-apa.

"EH? Kenapa?" tanya Jongin dengan wajah tak berdosa.

"Eomma," Kyungsoo kembali menatap Taeoh yang ada di pangkuannya, "Taeoh ingin… dongsaeng. Adik perempuan."

Jongin menahan tawanya ketika mendengar jawaban anak lelakinya tersebut, 'Aih! Anak pintar!' batinnya.

Kyungsoo hanya bisa membulatkan matanya ketika mendengar jawaban Taeoh. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Jongin yang sedang menahan tawanya.

"KAU! Kau pasti mengajarinya untuk menjawab begitu, bukan?" tanya Kyungsoo dengan wajah kesal.

"EH? Tidak! Iya kan, Taeoh-ah?" tanya Jongin yang dibalas anggukan dari Taeoh.

Kyungsoo hanya bisa menghela nafas panjang. Dia tidak menyangka jika suami dan anak lelakinya kompak ketika melakukan hal seperti itu.

"Taeoh-ah!" Jongin menyejajarkan wajah dengan Taeoh, "Good job!" ucapnya seraya mengacak-acak rambut Taeoh dan melakukan tos tangan.

"YA! Kalian!" seru Kyungsoo yang membuat Taeoh bergerak menuju Jongin dan tertawa berdua.

Well, badai salju tidak seburuk itu kan, keluarga Kim?
.

.

END.