HAPPY KAISOO DAY, shippers~~~ ^^v
"Yeobo, aku akan mengajak Taeoh keluar sebentar, ya?" tanya Jongin yang sedang sibuk membetulkan kancing kemejanya.
"Kemana?" jawab Kyungsoo yang kemudian merapikan kerah Jongin.
"Membelikan sepatu untuknya. Aku melihat kakinya terluka ketika sedang berjalan-jalan."
"UH? Harus sekarang? Aku pikir kau ingin beristirahat hari ini."
"Jika tidak sekarang aku tidak akan sempat." Sergah Jongin.
"Aku ikut, eoh? Aku akan bersiap sekarang!"
Wajah Jongin berubah gugup seketika, "EH? N-no! I mean, kau tidak usah ikut. Aku ingin bersamanya saja. Jarang-jarang 'kan aku keluar berdua dengannya? Boys' day!" ucap Jongin.
'Tidak biasanya dia begini. Aneh.'
"Baiklah. Kalau itu maumu. Jangan membuat dia rewel, arra?"
Jongin hanya mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari kamar. Kemudian dia menggandeng Taeoh ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.
"Appa, kita akan pergi?" tanya Taeoh ketika Jongin masih memilihkannya pakaian.
"Iya, sayang. Kita akan membelikan Eomma sesuatu untuk ulang tahunnya."
"Bukannya kita sudah memberi Eomma kue kemarin?"
Jongin memakaikan baju pada Taeoh, "Kita akan memberikan kejutan yang lain hari ini. Apa Taeoh mau bekerja sama dengan Appa?"
Dengan anggukan yang berlebihan, "Hngh! Taeoh mau!" ucap anak lelaki itu bersemangat.
Jongin menggandeng Taeoh yang sudah bersiap untuk pergi. Dengan wajah cerianya, Taeoh terkikik sendirian. Jongin sekarang khawatir jika mulut anaknya akan membocorkan rahasianya mengingat Taeoh selalu mengatakan apapun pada Kyungsoo.
"Taeoh sayang, kenapa?" tanya Kyungsoo yang sedang duduk di ruang tengah.
'NO! Taeoh-ah, Appa mohon!'
"Ani, Appa baru saja menceritakan sesuatu yang lucu pada Taeoh." Ucapnya polos.
Jongin menghela nafasnya lega kali ini. Untuk pertama kalinya Taeoh bisa diajak kerja sama seperti sekarang. Biasanya setiap Jongin merencanakan sesuatu, mulut kecil Taeoh selalu membocorkannya. Dan efek dari hal tersebut adalah, Jongin menjadi keganasan emosi Kyungsoo. Apalagi lelaki itu benar-benar tidak bisa membantah apapun yang dikatakan istrinya jika sudah marah dan emosi.
"Yeobo, kami pergi dulu! Taeoh-ah, kajja!" ucap Jongin seraya menggandeng Taeoh keluar rumah.
Sepeninggal Jongin dan Taeoh, Kyungsoo pun merebahkan dirinya di tempat tidurnya. Akhir-akhir ini dia sering merasa ingin tidur sepanjang hari. Bahkan dia lebih banyak bermalas-malasan jika Jongin sedang tidak di rumah.
Ketika dia sedang memainkan ponselnya, dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Bergegas dia mencari nama di salah satu kontak di ponselnya, "Halo?"
"Eoh, Kyungsoo-ya, ada apa?"
"Unnie! Bisakah kita keluar sebentar saja? Aku ada perlu denganmu."
Jongin menggandeng Taeoh untuk berjalan-jalan di daerah sebuah pusat perbelanjaan. Sesekali dia memikirkan apa yang harus dia berikan untuk Kyungsoo di ulangtahunnya kali ini. untungnya, Taeoh tenang dan well -behaved sekarang. Tidak seperti biasanya yang berlarian kesana kemari, dia justru mengikuti kemana langkah Jongin pergi.
Beberapa kali dia menghentikan langkahnya dan berhenti di sebuah toko. Tapi lagi-lagi dia merasa bukan itu yang harus diberikan untuk istrinya. Disaat di sedang berjalan dan memikirkan apa yang harus dibeli, tiba-tiba Taeoh menarik tangannya.
"Appa!" panggilnya.
"Hm?" Jongin berjongkok dan menyejajarkan dirinya dengan Taeoh, "Apa, sayang?"
"Itu! Kita kesana!" ujar Taeoh sambil menunjuk sebuah toko.
'Hell, sebuah toko perhiasan. Anak ini benar-benar berotak uang seperti Eomma-nya.' Batin Jongin setelah melihat kemana telunjuk Taeoh mengarah.
"Taeoh ingin Appa membelikan seseuatu untuk Eomma dari sana?"
Taeoh mengangguk, "Hngh!"
Jongin tersenyum dibuatnya, "Baiklah, sekarang naik ke gendongan Appa. Kita pergi kesana!"
Jongin tidak mengira jika Taeoh akan memilih sebuah toko perhiasan. Di dalam hatinya dia yakin bahwa Kyungsoo akan memilih toko yang sama jika mereka berjalan-jalan bersama. Tapi bagi Jongin itu tidak akan menjadi masalah jika itu untuk istri dan anaknya. Walaupun begitu, dia sadar bahwa dia harus bekerja keras untuk menuruti keinginan mereka.
'Jika Kyungsoo bilang dia lebih mirip aku dari segi sifat, dia akan lebih mirip Eomma-nya jika bermasalah dengan uang. Astaga… anak Appa…' batinnya ketika melihat Taeoh yang sedang menjilat lollipop di gendongannya.
Ketika masuk ke dalam toko tersebut, lagi-lagi Jongin mencuri perhatian pegawai disana. Apalagi dengan seorang anak kecil – Taeoh maksudnya – yang jika dilihat wajahnya sangat mirip, tentu semua wanita disana merasa bahwa Jongin merupakan sesosok pria yang suami-able, bukan?
Beberapa kali wanita-wanita mengalihkan perhatiannya pada Jongin yang sibuk memilih. Bahkan beberapa wanita disana melakukan fangirl-ing ketika Jongin mengajak Taeoh berbicara – dengan bahasa yang menyesuaikan balita tentu saja – untuk meminta pendapatnya.
"Kenapa lelaki itu begitu menawan, huh?" ucap salah satu pegawai disana.
"Apa itu anaknya?" jawab temannya.
"Aku rasa begitu. Wajahnya benar-benar mirip. Huh… beruntung sekali siapapun yang menjadi istrinya. Apalagi dia pasti kemari dengan tujuan membelikan sesuatu untuk istrinya, bukan?"
"Aku iri pada wanita yang menjadi istrinya…"
"Aku juga! Apalagi anaknya juga lucu begitu!"
"Jika kau memperhatikan anaknya… aku berarti sedang salah fokus karena lebih mengamati sang Appa. Astaga~ apa masih ada lelaki seperti itu untukku?"
Jongin yang sudah selesai memilihkan barang pun segera membayarkannya. Tidak lupa Taeoh yang bertengger di gendongannya.
"Whoa, istrimu benar-benar beruntung, Tuan." Ucap wanita itu.
Jongin tertawa kecil, "Semoga dia merasa begitu."
"Aku yakin begitu. Apalagi kau mau berbelanja dengan membawa anak lelakimu begini. Semua karyawanku sedari tadi membicarakanmu."
Lelaki itu melihat sekelilingnya. Memang benar, wanita-wanita disana sedang mengamatinya. Beberapa diantara mereka malah tersenyum kepada Jongin. Dengan perasaan yang kikuk, Jongin pun membalas senyuman mereka.
"Adik kecil, siapa namanya?" tanya wanita tersebut.
Taeoh mengeluarkan lollipop yang ada di mulutnya, "Taeoh. Kim Taeoh imnida." Ucapnya.
"Ahh~ lucu sekali! Benar-benar menggemaskan!" ujari si wanita seraya mengusap pipi Taeoh.
"Jangan tertipu dengan tampang polosnya. Dia ini benar-benar trouble maker." Kata Jongin terkekeh.
Wanita itu menyerahkan barang beserta kelengkapan lainnya, "Mungkin dia bersikap begitu jika hanya bersamamu, Tuan. Aku yakin dia seorang anak yang well-behaved jika diluar."
Jongin meraih barang tersebut dan mengeluarkan credit card-nya, "Kau benar-benar bisa membaca situasi nampaknya. Tebakanmu sangat tepat." Ucapnya dengan senyum.
"Sebagian besar anak kecil akan bersikap manja jika bersama orang tuanya." Wanita tersebut menyerahkan credit card Jongin, "Terima kasih, Tuan." Ucapnya.
"Ah, sama-sama. Kami pergi dulu." Jongin menganggukkan kepalanya, "Taeoh-ah, lambaikan tanganmu pada Noona." Ucap lelaki itu yang diakhiri dengan lambaian tangan dari anaknya.
Kedua lelaki itu melanjutkan perjalanannya. Kali ini Jongin melaksanakan tujuan keduanya, membelikan sepatu untuk anak lelakinya. Dia teringat bagaimana tumit Taeoh yang terluka karena ukuran sepatunya yang sebenarnya baru saja dibeli sudah kekecilan. Hal ini membuat Jongin merasa sedih. Bukan karena harus membelikan Taeoh sepatu baru, tapi dia menyadari bahwa Taeoh benar-benar sudah bertambah besar.
Ketika sampai di toko sepatu, Taeoh benar-benar merasa girang. Berulang kali dia meminta Appanya untuk mengambilkan sepatu yang dia inginkan. Tapi kali ini Jongin memaksa Taeoh untuk memakai sebuah sepatu outdoor untuk anak-anak. Walapun awalnya Taeoh menolak, tapi akhirnya dia mau karena melihat wajah Appa-nya yang berubah serius.
"Appa, kenapa Appa membelikan Taeoh sepatu yang seperti itu?"
Jongin mengusap rambut anaknya, "Sepatu itu akan hangat jika dipakai. Walaupun sedikit berat, tapi itu akan nyaman dan akan melindungi kaki Taeoh dari batu yang tajam."
"Benarkah? Apa Iron Man juga memakai sepatu yang sama?"
'Astaga…'
Jongin terkekeh, "Iya, sayang. Iron Man juga memakai sepatu seperti itu."
Lelaki itu tidak mengerti mengapa Taeoh selalu terobsesi dengan Iron Man. Sampai-sampai semua barang di rumahnya berbau superhero tersebut. Jongin sempat protes terhadap obsesi anaknya itu pada Kyungsoo, tapi jawaban istrinya, 'Lebih baik dia terobsesi dengan Iron Man daripada dengan Elsa.', membuatnya diam dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Mereka berdua memutuskan untuk pulang siang itu. Karena Taeoh mengeluh mengantuk dan lelah, maka Jongin bertanggung jawab untuk pulang sebelum perang dunia pecah jika Kyungsoo tahu. Taeoh sempat tertidur ketika di dalam mobil. Padahal mereka baru saja beberapa jam keluar. Jongin patut disalahkan kali ini, dia terlalu lama berpikir dan tidak menyiapkan rencana sebelumnya.
Sebelum pulang, Taeoh juga sempat merengek untuk membelikan dia dan Eomma-nya fish cake. Dia bilang Kyungsoo sudah menginginkan fish cake dari kemarin. Tapi karena Jongin takut jika Kyungsoo akan meledak nanti, maka dia memutuskan untuk tidak menuruti keinginan Taeoh yang itu.
"Kami pulang!" seru Jongin dengan Taeoh yang ada di dekapannya.
"EH? Eomma dimana, sayang?" tanya Jongin.
Rumah sepi kali ini. Entah kemana Kyungsoo pergi, Jongin tidak tahu. Kyungsoo sendiri juga tidak memunculkan tanda-tanda akan keluar rumah sebelum dia dan Taeoh pergi. Akhirnya Jongin mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ada di kantong kirinya. Dilihatnya ada sebuah pesan disana.
From: Taeoh's Eomma
12.14 p.m.
'Aku sedang pergi bersama Luhan Unnie dan mungkin akan pulang sekitar pukul dua. Kalau kau belum pulang, beli saja makan siang di luar. Tapi kalau sudah terlanjur, masih ada sup untuk Taeoh. Untukmu, kau bisa makan Ramyeon saja, 'kan? Maafkan aku, sayang! ^^v bye~'
Dengan langkah yang berat dia menghangatkan sup untuk Taeoh dan membuat Ramyeon untuk dirinya sendiri. Dia agak kesal karena Kyungsoo keluar tanpa sepengetahuannya. Lagipula jam sudah menunjukkan pukul setengah dua, tentu sebentar lagi istrinya akan pulang.
Setelah itu dia mengganti pakaiannya dan milik anaknya. Pekerjaan itu dirasa lebih sulit dari biasanya karena Taeoh yang sudah memejamkan matanya di sofa ruang tengah. Such a deep sleeper, karena beberapa kali Jongin membangunkan, Taeoh tetap dalam posisi tidurnya.
"Sayang, ayo kita makan." ucap Jongin pada Taeoh.
Anak kecil itu langsung membuka matanya dan duduk, "Ayo, Appa!"
'Geez, kenapa disaat makan saja dia bersemangat?'
"EH? Kalian sudah pulang?" ucap seseorang yang baru saja masuk.
"YA! Kau darimana saja?" seru Jongin.
Kyungsoo terkekeh, "Aku baru saja mengajak Luhan Unnie jalan-jalan sebentar. Kau benar-benar makan ramyeon? Eung… mianhae~" ucapnya seraya mengecup pipi Jongin sekilas.
"Kau aneh, yeobo." Jawab Jongin yang masih sibuk dengan makanannya.
Tak lama setelah itu, Kyungsoo, yang sudah mengganti pakaianya dengan pakaian yang lebih santai mendudukkan dirinya di samping Taeoh yang sedang makan. Wanita tersebut hanya diam dan memperhatikan suami serta anaknya makan siang disana.
"Kau sudah makan?" tanya Jongin.
"Sudah. Luhan Unnie mengajakku makan tadi. Maafkan aku, aku harus pergi makan bulgogi tadi." Jawab Kyungsoo terkekeh.
Reaksi yang sama langsung diberikan Jongin dan Taeoh. Secara bersamaan mereka membelalakkan matanya pada Kyungsoo yang dengan bangganya bercerita.
"Eomma makan bulgogi?" tanya Taeoh dengan wajah yang memelas.
'Kau membuat anakmu menangis, yeobo. Good girl.'
"EH? A-ani, Eomma juga makan ramyeon seperti Appa tadi."
"Eomma bohong…"
Kyungsoo mulai panik, "Tidak, sayang. Eomma benar-benar makan ramyeon."
"Appa…"
Jarang sekali Taeoh meminta perlindungan pada Jongin. Dan kali ini, Taeoh, yang sudah hampir menangis, meminta Jongin untuk memeluknya. Dengan wajah yang kesal, – yang ditunjukkan pada Kyungsoo – Jongin mengangkat dan mendudukkan Taeoh di pangkuannya.
"Kau harusnya berpikir dulu." Ucap Jongin.
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Aku tidak mengira dia akan begitu."
"Jangan kau kira dia bisa terus-terusan kau bohongi, sayang. Dia sudah makin besar dan bisa berpikir mana yang bohong mana yang tidak sekarang."
"Hng… Mianhae." Kyungsoo beranjak dan berjongkok di depan Taeoh yang ada di pangkuan Jongin, "Taeoh-ah, Eomma minta maaf, eoh? Besok Eomma akan membelikan Taeoh bulgogi sebanyak yang Taeoh mau. Bagaimana?"
Dengan wajah yang masih cemberut, "Apa Eomma berjanji?"
"Janji." Jawab Kyungsoo seraya mengamitkan jari kelingkingnya pada jari mungil anak lelakinya.
"Jadi, Taeoh dan Appa jalan-jalan kemana?" tanya Kyungsoo yang duduk di ruang tengah bersama Taeoh.
"AH! Sebentar Eomma!" Taeoh berlari mengambil tas berisi sepatunya, "Appa membelikan Taeoh sepatu! Ini!" ucap anak lelaki itu bersemangat.
"Woah~ bagus sekali!" seru Kyungsoo menanggapi.
'Sepatu ini mahal sekali. Kenapa Jongin membelikan yang seperti ini?' batin Kyungsoo kesal.
Jongin, yang baru saja dari kamar, langsung mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo. Dia terkejut melihat istrinya yang mendelik padanya.
"Apa?" tanya Jongin tak berdosa.
"Kenapa kau membelikan dia sepatu yang mahal? Kau tahu jika ukuran kakinya cepat berubah. Akan rugi jika kau membelikannya sepatu seperti ini."
"SSST!" Jongin menempelkan jari telunjuknya pada bibir istrinya, "Jangan mengoceh. Aku membelinya dengan uang hasil kerjaku. Tidak akan rugi jika aku memakainya untuk anakku, sayang."
"Hish, kau ini!" jawab Kyungsoo yang membuat Jongin tergelak.
"Ah! Yeobo!" Jongin mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru, "Ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Aku dan Taeoh sebenarnya berjalan-jalan untuk membeli ini untukmu. Bukalah."
Kyungsoo membuka kotak tersebut dan menemukan sebuah kalung berwarna putih disana. Senyumnya melengkung ketika melihat benda tersebut. Tetapi sesaat kemudian dia menatap Jongin sendu.
"Kau selalu menghabiskan uangmu." Ucapnya lemah.
Jongin tertawa, "Aku bekerja untuk kalian berdua. Bukankah wajar jika aku menghabiskan uangku untuk kalian? Lagipula aku tidak selalu membuang-buang uang, 'kan? Occasionally~" ucapnya.
Kyungsoo memeluk Jongin erat-erat, "Ah~ terima kasih. Tak kusangka meskipun kau lebih muda dariku, tapi kau sangat dewasa menyikapi sesuatu."
Jongin melepas pelukannya, "Kau tahu, Taeoh yang memilihkan kalung itu, iya 'kan, sayang?" tanya Jongin yang dibalas anggukan dari Taeoh.
"Benarkah?"
"Hm! Bahkan awalnya aku masih bingung harus membelikan apa. Tapi karena Taeoh mengajakku ke toko itu, mau tak mau aku kesana. Aku pikir untuk masalah uang dia benar-benar mirip denganmu. Dia tahu mana barang yang mahal mana yang tidak." Ucap Jongin.
"YA! Kau malah mengatakan hal itu sekarang! Jangan membuatku menyesal karena kau sudah membelikan ini." balas Kyungsoo dengan bibir yang mengerucut.
"Tenang saja. Dia benar-benar tahu apa yang aku mau, yeobo." Jongin mendudukkan Taeoh ke pangkuannya, "By the way, kau dan Luhan baru darimana?"
Kyungsoo yang masih meneliti kalung tersebut, "OH? Kami? Baru dari rumah sakit." Ucapnya enteng.
"Luhan Noona sedang sakit?"
"Ani." Jawab Kyungsoo dengan perhatian yang belum teralih.
"Lalu? Kau? Sakit? Sakit apa? Kau kenapa?" tanya Jongin panik.
Kyungsoo sekarang menatap Jongin dengan ekspresi datarnya, "Aku tidak sakit, Jongin-ah."
"Lalu? Kenapa kalian ke rumah sakit?"
Kyungsoo menghela nafasnya, "Harapan kalian berdua untuk tahun baru ini terkabul."
"Maksud Eomma?" tanya Taeoh.
"Taeoh-ah, apa Taeoh berjanji untuk menjadi kakak yang baik?"
Jongin masih mencerna kata-kata Kyungsoo. Dia terdiam dan mengerutkan alisnya. Pandangan matanya berlari kesana kemari karena belum mengerti.
"Wait! Kau…"
Kyungsoo memutar kedua bola matanya, "Well, sebagai kado ulang tahunmu esok hari, hmm... selamat menyambut anak kedua mu, Jongin Appa." Ucapnya.
Jongin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kyungsoo. Dia sama sekali tidak mengira jika itu akan terjadi. Kemudian dia memutar Taeoh yang ada di pangkuannya sehingga menghadap dirinya.
"Bersiaplah menjadi pelindung untuk adikmu, Jagoan Appa!" seru Jongin yang menyebabkan Taeoh tertawa riang.
"Tak kukira kalian akan segirang ini." Ujar Kyungsoo seraya tertawa kecil.
"Sudah berapa lama?" tanya Jongin.
"Dua minggu. Kau benar-benar tidak peka. Akhir-akhir ini aku sering bermalas-malasan. Untung saja aku tidak menderita morning sickness seperti Taeoh dulu. Atau mungkin belum."
Tiba-tiba Jongin teringat sesuatu, "AH! Pantas saja Taeoh berkata padaku kalau kau menginginkan fish cake…"
"Taeoh mengatakan itu?" tanya Kyungsoo tidak percaya.
Taeoh mengangguk mantap, "Iya, Eomma. Tapi Appa tidak mau membelikan fish cake untuk Eomma. Appa bilang Eomma akan marah jika Appa membelinya."
"What? YA!" Kyungsoo menghardik Jongin yang menampilkan mimik terkejutnya, "Belikan aku fish cake. Sekarang."
"Sekarang? Nanti saja, yeobo…"
Kyungsoo menyandarkan punggungnya pada sofa dan melipat tangannya di dada, "Kau benar-benar tidak peka. Bahkan anakmu yang berusia tiga tahun saja tahu kalau aku menginginkan fish cake."
"Tadi aku hanya takut kau akan marah jika kami pulang terlambat, sayang." Ujar Jongin memelas.
"Padahal ini untuk anakmu sendiri. Kau bilang kau tidak akan masalah jika menghabiskan uang untuk anak dan istrimu, tapi-"
Jongin berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, "AKU BERANGKAT SEKARANG!" serunya yang menyebabkan Kyungsoo dan Taeoh terkikik berdua.
.
.
END.
