Step 1:

'Be a gentleman.'

Taeoh sudah tertidur malam itu. Disisi lain, Jongin dan Kyungsoo menghabiskan malam mereka dengan menonton beberapa film dari DVD yang baru saja Kyungsoo beli beberapa hari yang lalu. Ia bilang jika ia ingin menikmati hari-hari libur Jongin dengan menonton film; melahap camilan; dan cuddling. Wanita tersebut berdalih jika calon adik Taeoh membuatnya manja. Seperti kali ini, dengan punggung yang terdampar di dada Jongin dan tangan penuh dengan potato chips, Kyungsoo memasang matanya pada layar yang sedang menampilkan film yang sangat ingin ditonton ulang olehnya; The Conjuring. Sesuai dengan prinsip Jongin yang ingin menjadi seorang pria gentle, tentu ia tidak ingin terlihat pengecut di depan istrinya sendiri. Ia juga menonton film tersebut tanpa komentar dan tanpa berkedip. Sesekali jika Kyungsoo berjengit kaget, ia akan mengusap pundak istrinya. Sungguh gentle, bukan?

'Gentle, huh?'

Setelah film tersebut selesai dan mereka beranjak tidur, Jongin tiba-tiba menarik tangan Kyungsoo perlahan, "Sayang? Bisa kau temani aku buang air kecil?"

Step 2:

'Talk openly.'

Kyungsoo pagi itu sudah dibuat uring-uringan karena kimchi yang dibelinya hanya menyisakan separuh saja. Ia memang sangat menyukai kimchi semenjak hamil kali ini. Bahkan ia tidak ingin kimchi kesayangannya disentuh oleh orang lain—read: Kim Jongin. Entah mengapa kali ini ia ingin membuat kimchi spaghetti seperti yang dimakan Jongin beberapa hari yang lalu. Sebenarnya Jongin sudah menawarkan padanya, tapi—tunggu!

"Jongin-ah!"

Dengan mata yang masih setengah terpejam, "Apa, sayang?"

"Kau tahu kenapa kimchi yang aku simpan di lemari es tinggal separuh?"

Badan Jongin menegang, "A—aku tidak tahu."

"Benarkah?" Kyungsoo membangunkan badan Jongin, "Kau tidak berbohong, 'kan?"

"Ti—tidak!" Jongin menggeleng dengan mata membulat.

Kyungsoo mendecakkan lidahnya, "Lalu, darimana kau mendapatkan kimchi ketika membuat spaghetti beberapa hari yang lalu?"

Lelaki itu terdiam dan kemudian tersenyum kikuk, "Aku hanya mengambilnya sedikit. Hanya... sedikit sekali."

Wanita itu memicingkan mata tidak percaya pada suaminya yang baru saja terbangun dari tidur, "Baiklah! Aku mengambil banyak untuk spaghetti-ku."

Pengakuan itu berujung dengan Kyungsoo yang mengabaikan Jongin sepanjang hari.

Step 3:

'Be patient.'

Jongin bersama Kyungsoo dan Taeoh berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan hari itu. Kyungsoo bilang ia ingin melihat-lihat untuk keperluan anaknya nanti—Kyungsoo bersikeras jika anaknya perempuan—walaupun sebenarnya perutnya pun belum terlihat membesar. Karena Kyungsoo sudah memohon dan mengeluarkan jurus puppy eyes-nya, Jongin benar-benar tidak bisa menolak. Dengan Taeoh yang berada di gendongannya, Jongin mengikuti kemanapun kaki Kyungsoo melangkah. Ia merasa lelah, selain karena harus berjalan terus-menerus, Taeoh juga menempel padanya. Anak kecil itu mengatakan jika ia mulai mengantuk.

Sudah toko ke sepuluh yang mereka kunjungi. Tapi Kyungsoo belum mendapatkan apapun untuk dibeli. Jongin pun akhirnya mendudukkan diri dengan Taeoh yang meringkuk di pangkuannya. Sesekali ia mengusap keringat yang ada di kening anak lelakinya tersebut.

"Ayo kita pergi." Ucap Kyungsoo yang baru keluar dari toko ke sepuluhnya.

Jongin menghela nafas, "Ke outlet yang mana lagi?" keluhnya.

"EH? Aku ingin pulang sekarang."

Lelaki berkulit coklat itu membelalakkan matanya, "Pulang?"

"Hng!" Kyungsoo tersenyum, "Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Tidak ada yang menarik untukku."

Malam harinya Kyungsoo mengomel karena Jongin mengeluh sakit punggung terus-terusan.

Step 4:

'Your child is your little fairy.'

Sudah bukan hal yang mengherankan jika Taeoh menangis ketika sedang menonton layar televisi. Memang jika Taeoh dan ayahnya tidak pernah akur ketika acara sedang sama-sama bagusnya. Sebenarnya Jongin bisa melakukannya di kamar, tapi ujung-ujungnya televisi tersebut malah bergantian menontonnya yang tertidur pulas. Terkadang Jongin berhasil mengalihkan perhatian Taeoh dengan cara memberinya makanan ataupun menggelar semua mainannya di lantai, tapi kali ini usahanya gagal ketika Krong muncul di layar tersebut. Akhirnya Jongin membiarkan Taeoh dengan pikiran jika Pororo selesai maka ia bisa menonton siaran MotoGP dengan tenang. Senyum Jongin—yang sedari tadi menyibukkan diri dengan ponselnya—mengembang ketika mendengar lagu closing dari Pororo terlantun. Dengan semangat ia menaruh ponsel ke sofa dan menegakkan badannya untuk bersiap mengganti channel televisinya.

Belum semangatnya luntur, tiba-tiba Jongin membelalakkan matanya, "Oh my God. NO."

Lagu opening Robocar Poli mulai diputar.

Step 5:

'The most precious thing in this world is watching your wife and son sleeping soundly.'

Jongin menenggak cappuccino-nya seraya menonton babak kualifikasi piala Euro. Karena kali ini tim kesayangannya sedang bertanding, maka ia rela harus begadang—tim kesayangannya bermain pada pertandingan kedua. Kyungsoo sendiri sebenarnya tidak menyukai kebiasaan Jongin dan melarangnya. Tapi Jongin sendiri keras kepala untuk hal tersebut. Kyungsoo dan Taeoh tentu saja sudah tertidur dari berjam-jam yang lalu. Kali ini Taeoh tidur di kamar orang tuanya setelah berjuang membujuk Jongin habis-habisan—diselingi death glare dari Kyungsoo tentu saja. Pertandingan yang dilaksanakan dini hari seperti ini agaknya membuat Jongin tenang karena Taeoh tidak mengganggunya sama sekali. He found his peacefulness.

Mood-nya tidak begitu baik ketika tim kesayangannya harus berbagi skor dengan si lawan. Dengan langkah yang terseret, ia bergegas menuju pintu kamarnya yang ditutup Kyungsoo rapat-rapat untuk mencegah Jongin berteriak kencang jika sedang menonton sepak bola. Ketika membuka pintu kamarnya, ia mendapati Kyungsoo dan Taeoh yang sudah tertidur pulas. Sayangnya, Taeoh yang suka tertidur dengan posisi yang kemana-mana berhasil mengklaim sisi dimana ia harus tidur. Dengan perlahan ia mengangkat Taeoh dan menempatkannya ke posisi yang benar. Semua berjalan sempurna hingga kepala Taeoh terantuk—dengan keras—headboard dari ranjang mereka sehingga menyebabkan anak tersebut menangis dengan kencang.

"Ini selimut dan bantalmu, sayang." Ucap Kyungsoo yang kemudian mendorong Jongin untuk tidur di sofa ruang tengah.

Step 6:

'Be sincere.'

Sepulang dari kantor Jongin membawa sebuah bungkusan besar dengan isi ayam berbumbu seperti yang ia inginkan beberapa hari lalu. Ia sengaja membawa dengan jumlah yang lumayan banyak karena Kyungsoo dan Taeoh juga menyukainya. Langkah ringannya diiringi senyum yang terpasang di wajah tampannya. Ia sudah membayangkan memakan ayam tersebut seraya menonton film dari DVD-DVD Kyungsoo.

Ketika membuka pintu ia sudah disambut dengan Taeoh yang berlari dan menghambur ke pelukannya. Dengan cerianya, ia menceritakan semua kegiatannya seraya menggelayutkan lengan pada leher sang ayah. Tak lupa ia bertanya bungkusan apa yang dibawa Jongin. Dan dengan antusias ia bergegas ke ruang tengah dan membagi ayam tersebut dengan ibunya, Kyungsoo. Jongin sendiri pun hanya bisa tersenyum dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah selesai dan dengan rambut yang masih basah, Jongin keluar dari kamar mandinya.

"Ayamku?" tanyanya.

Kyungsoo dengan tersenyum polos, "Habis. Aku akan menggantinya besok, sayang." Jawabnya seraya mencium pipi Jongin yang terdiam di tempat.

Step 7:

'You have to love them no matter what.'

Sudah hari keempat Jongin tidak pulang ke rumah. Proyek pembangunan gedung perkantoran di daerah Gangnam mengharuskan ia untuk menginap di kantor karena deadline yang mengejar. Tugasnya kurang sedikit lagi akan selesai dan ia bisa pulang ke rumah. Ia merindukan suasana rumahnya yang gaduh—tangisan Taeoh lebih tepatnya. Selain itu ia juga sangat ingin menyantap masakan istrinya yang sudah beberapa hari ini sudah tidak ia nikmati. Dan Jongin juga ingin segera tidur di ranjang karena beberapa hari ini ia meringkuk di meja studionya.

Walaupun lelah, langkah Jongin serasa ringan karena rumah sudah ada di depan matanya. Baru pukul tiga sore hari itu. Ia juga sudah mengingatkan Kyungsoo bahwa ia akan pulang. Beban di pundaknya serasa menguap ketika ia membayangkan suasana rumahnya.

Ketika ia membuka pintu, ia melihat Taeoh yang duduk di depan televisi. Bedak bayi terlihat menempel di pipinya yang gemuk. Di tangannya ia menggenggam sebotol susu strawberry yang akhir-akhir ini menjadi obsesinya.

Taeoh yang mendengar suara pintu terbuka langsung berteriak, "APPA!"

Jongin melebarkan kedua tangannya untuk menyambut Taeoh yang berlari padanya. Tak lupa ia menghujani Taeoh dengan ciuman-ciuman di pipinya. Jongin menghirup bau bayi pada badan anaknya. Ia tidak mengerti mengapa Kyungsoo masih memberikan Taeoh sabun, bedak, dan yang berhubungan dengan bayi seperti itu.

"Eomma?" tanya Jongin.

Taeoh menunjuk Kyungsoo yang sibuk di dapurnya. Sepertinya wanita tersebut terlalu sibuk sehingga tidak tahu jika Jongin sudah pulang ke rumah. Jongin—dengan Taeoh di gendongannya—menghampiri Kyungsoo dan secara tiba-tiba mengecup pipi wanita tersebut.

"Aku pulang." Ucapnya dengan senyum yang mengembang.

"OH—" kyungsoo membelalakkan matanya, "Kau sudah pulang? Ah, maafkan aku. Aku terlalu sibuk dengan ini semua. Aku memasakkan apa yang kau inginkan sejak beberapa hari yang lalu. Sebentar lagi semuanya matang, sayang."

"Kau tidak usah terburu-buru." Jongin menurunkan Taeoh dan membiarkannya berlari ke depan televisi lagi, "Aku harus membersihkan diriku dulu. Aku masih bisa menunggu."

Setelah selesai, Jongin makan bersama Kyungsoo dan Taeoh. Jongin menatap istri dan anaknya yang ada di hadapannya. Benar, meskipun selama ini ia menjadi bulan-bulanan jika sedang di rumah, ia merindukan mereka. Ia merindukan bagaimana Kyungsoo mengoceh karena kebiasaan buruknya; merindukan rasanya mengerjai Taeoh hingga menangis; dan yang paling penting, ia merindukan 'rumah'. Rumah baginya bukan hanya bangunan yang melindunginya dari terik maupun hujan, tapi 'rumah' yang menjadi sambutan hangat ketika ia lelah, dan menjadi tempatnya bersandar disaat jenuh. Ia sadar, meskipun terkadang ia mengeluh lelah dengan semua pekerjaannya, Jongin tahu bahwa ia berkerja untuk dua orang—yang sebentar lagi bertambah menjadi tiga—yang paling ia sayangi. Selain itu Jongin juga sadar, meskipun banyak kekurangan dari keluarga kecil yang ia punya, ia sangat menyayangi mereka tanpa memperdulikan semua masalah yang datang padanya.

.

.

.

END.