First story:

Taeoh baru saja berulang tahun ke empat—usia Koreanya—sekitar enam hari yang lalu. Sedikit perayaan dilakukan oleh Jongin dan Kyungsoo di rumah. Beberapa kado pun diberikan padanya. Bahkan Chanyeol dan Baekhyun memberikan benda yang cukup berlebihan pada Taeoh—sebuah satu set game console. Padahal jika dipikir-pikir Taeoh sendiri belum mengerti bagaimana cara memainkannya.

Beberapa hari ini game console itu menjadi perkara di rumah Kyungsoo. Karena selama Jongin mendapatkan bebas kerja selama dua minggu, ia terus-terusan duduk di depan layar televisi dengan game console yang menyala. Ia bermain sendirian, dan itu sudah cukup membuat Kyungsoo geram. Apalagi jika Jongin sudah berteriak karena kalah atau semacamnya.

Kemarin Chanyeol dan Baekhyun datang ke rumah mereka beserta kedua anaknya, Jin dan Taehyung. Jin sendiri yang berusia delapan tahun sebenarnya berniat untuk bermain game console tersebut, tapi karena ibunya mendelikkan mata, ia tak berani berkutik dan memilih untuk mengasuh Taeoh dan Taehyung. Selama disana, Baekhyun dan Kyungsoo hanya bisa memperhatikan kedua suaminya bermain permainan sepak bola di game console itu layaknya anak SMA yang baru pulang sekolah. Bahkan kedua pria tersebut tidak menggubris istri-istrinya yang sesekali meminta bantuan. Baekhyun sendiri tidak mengerti mengapa Chanyeol membelikan game console tersebut untuk Taeoh. Bahkan sekarang Baekhyun berniat untuk membakar benda tersebut.

Keesokan paginya—lebih tepatnya pagi-pagi sekali—Jongin sudah mandi dan bermaksud untuk bermain game console itu lagi. Bahkan disaat Kyungsoo belum bangun, ia sudah mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah. Tetapi ketika sampai disana, ia melihat sesuatu yang aneh.

"Sayang! Kau tahu dimana game console-nya?" tanya Jongin yang duduk di samping Kyungsoo yang masih tertidur.

"Hng?"

"Game console Taeoh, dimana?"

Kyungsoo membalikkan badan dan memunggungi Jongin, "Bersihkan rumah dulu dan kau akan tahu dia dimana."

Jongin menemukan game console tersebut berada di tempat sampah bercampur dengan sampah lainnya.

Second story:

Hari itu Jongin, Kyungsoo, dan Taeoh pergi ke dokter untuk melihat apa jenis kelamin anak keduanya. Di perjalanan Jongin dan Taeoh berdebat apakah si little bean—panggilan Jongin pada anak keduanya—perempuan atau laki-laki. Taeoh ingin adiknya laki-laki dengan alasan bisa diajak bermain. Tapi Jongin bersikukuh jika anak keduanya berjenis kelamin perempuan. Lagipula akan lebih baik jika anak keduanya perempuan.

Sesampainya di dokter dan memeriksakannya, mereka mendapatkan hasil jika si little bean berjenis kelamin perempuan. Jongin, yang menginginkan anak keduanya perempuan tersenyum dengan puas. Sedangkan Taeoh—sebenarnya Taeoh biasa saja, tapi Jongin terus-terusan menggodanya dan mengatakan Taeoh kalah darinya.

Taeoh yang sebal karena Jongin hampir menangis dan menghambur ke pelukan Kyungsoo ketika memasuki rumah. Ia mendaratkan wajahnya pada lekukan leher ibunya dan membisikkan bahwa, 'Adik Taeoh tidak akan pernah menyukai Appa karena Appa menyebalkan—' secara terus menerus. Jongin yang mendengar perkataan tersebut melirik Kyungsoo dan Taeoh dengan senyum jahilnya.

"Taeoh-ah, Appa minta maaf, hm?"

"Tidak mau!"

"Taeoh-ah, jangan seperti itu dengan Appa, ya?" bujuk Kyungsoo.

"Tapi, Eomma..."

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dengan senyum yang melekat. Dan Taeoh yang sebenarnya belum ikhlas menjadi lunak dan memaafkan ayahnya begitu saja. Mendengar Taeoh memaafkan dirinya, Jongin tertawa puas.

"Dan aku bisa mengalahkan Taeoh sekarang." Ucap Jongin ketika duduk di samping Kyungsoo.

"Kau tidak bisa mengalah darinya, huh?"

"Tidak akan pernah!"

Seru Jongin yang menghasilkan pukulan keras di kepala dari Kyungsoo.

Third story:

Jongin sedang sibuk membetulkan kran air di dapurnya pagi itu. Disaat matanya belum terbuka dan air liur masih meluber dimana-mana Kyungsoo sudah menyuruhnya untuk membenahi kran air di dapurnya dengan dalih agar bisa memasak.

Kyungsoo sendiri sekarang duduk di ruang tengah dan menyisir rambut Taeoh yang sedang menonton televisi dengan beberapa potong apel di mangkok kesayangannya. Rambut Taeoh sudah terlampau panjang dan poninya selalu turun menutupi mata Taeoh. Kyungsoo sebenarnya ingin membawa Taeoh untuk memotong rambut, tapi Taeoh selalu sulit dan merengek tidak mau—ini selalu berhasil membuat Kyungsoo membatalkan niatnya.

Setelah selesai menyisir Kyungsoo menemani Taeoh menonton televisi. Anak kecil itu duduk di antara kedua kaki Kyungsoo dengan tenang. Untuk sementara.

"Eomma, susu?"

Kyungsoo menunjuk lemari es yang ada di dapur, "Di kulkas, sayang. Bisa ambil sendiri?" tanya Kyungsoo yang dijawab anggukan dari Taeoh.

Dengan langkah kecilnya Taeoh menuju lemari es dan mengambil susu yang ada di pintu. Sebelum ia kembali ke tempatnya, ia tiba-tiba menghampiri Jongin dan menatap ayahnya yang sedang sibuk.

"Hm? Apa, sayang?' tanya Jongin dengan perhatian yang masih pada pipa-pipa di hadapannya.

Taeoh tertawa tiba-tiba, "Appa terlihat kotor dan jelek."

"YA!" Jongin mendelik ke arah Taeoh yang melarikan diri ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo yang mendengar teriakan Jongin—dan melihat Taeoh tertawa—mengerutkan alis tidak mengerti. Dan Taeoh yang berlari tiba-tiba memeluk Kyungsoo seakan meminta perlindungan.

"Ada apa? Kenapa Appa berteriak?"

"Taeoh bilang kalau Appa kotor dan jelek."

Semuanya berakhir dengan Kyungsoo memandikan ulang Taeoh karena Jongin yang basah kuyup—dan kotor—tiba-tiba datang dan memeluk Taeoh.

Fourth story:

Seperti biasa Kyungsoo memasak untuk sarapan dua orang troublemaker-nya. Kali ini ia memasak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dengan nyanyian yang terlantun dari mulutnya, ia merasa dirinya sedang dalam mood yang baik. Sesekali ia tertawa sendiri karena menurutnya ia bertingkah seperti seorang gadis SMA yang sedang jatuh cinta saja.

Disaat sedang sibuk dengan apa yang ada di hadapannya, tiba-tiba dua buah lengan berkulit coklat melingkar di pinggangnya—yang sekarang agak sulit untuk dipeluk karena ukuran perutnya.

"Morning, sunshine."

Kyungsoo berjengit jijik mendengar apa yang dikatakan Jongin padanya, "Itu menjijikkan, kau tahu. Morning, by the way." Ucapnya yang dibarengi sedikit kecupan pada pipi Jongin.

"Kau tidak membangunkanku?" ujar Jongin yang mendaratkan hidungnya pada lekuk leher Kyungsoo.

"Aku pikir akan butuh dua tahun untuk membangunkanmu ketika pagi begini."

"Hei... aku tidak seperti itu!"

Kyungsoo menghela nafasnya dalam-dalam, "Lepaskan aku, Jongin-ah. Jika tidak kau akan terlambat sarapan pagi ini."

"Aku sudah bilang untuk tidak bekerja terlalu keras karena aku tidak ingin kau cepat lelah."

"Jongin, aku mohon—"

"Kau pakai sabun yang aku belikan? Aromanya sangat cocok untukmu."

"Jongin, lepaskan tanganmu atau—"

"Kau menggemaskan sekali pagi ini sampai-sampai aku ingin memakanmu—"

"JONGIN! KAU! YA!"

Jongin meringis kesakitan karena spatula mendarat tepat di pucuk kepalanya.

Fifth story:

Hari itu Kyungsoo dijemput Baekhyun pagi-pagi sekali. Ia pergi untuk membantu Baekhyun memasak karena saudara-saudara Baekhyun akan datang ke rumahnya. Sebenarnya Jongin dan Taeoh juga ingin ikut kesana, tapi Kyungsoo melarang dan berdalih bahwa mereka hanya akan mengganggu saja.

Semua daftar tugas yang harus dilakukan Jongin sudah ditinggalkan oleh Kyungsoo. Sebenarnya ia khawatir jika harus meninggalkan mereka berdua sendirian. Tapi semua keraguannya hilang ketika ingat bahwa Jongin bisa melakukan itu beberapa bulan yang lalu.

"Semuanya baik-baik saja?" tanya Baekhyun pada Kyungsoo yang baru saja menelepon Jongin.

Kyungsoo menghela nafasnya, "Taeoh menangis saat aku menelepon tadi. Benar-benar, aku tidak mengerti Jongin selalu menggoda Taeoh. Dan ketika aku bertanya mengapa, ia malah tertawa terbahak-bahak."

Baekhyun terkikik, "Hei, tapi terkadang aku iri dengan tingkah Jongin. Chanyeol oppa selalu clumsy jika berhadapan dengan anak-anak. Meskipun Jongin seperti itu, tapi ia bisa mengatasi Taeoh dengan baik, 'kan?" tanya Baekhyun yang dijawab anggukan dari Kyungsoo.

Ketika sore tiba, Kyungsoo akhirnya pulang. Baekhyun mengantarkannya karena semua urusan sudah selesai.

"Aku pulang—ASTAGA."

Kyungsoo mendapati Jongin dan Taeoh tertidur di sofa ruang tengah. Taeoh sendiri mendarat di dada sang ayah yang lengannya dengan sangat protektif memeluk Taeoh. Mereka berdua, terlihat acak-acakan karena banyak warna tertempel di wajah mereka. Kyungsoo sebenarnya ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya lebih lanjut karena takut jika jantungnya menolak untuk bertahan. Tapi sesaat senyumnya mengembang karena tahu apa yang mereka lakukan.

Di lantai yang biasanya tergelar karpet sekarang diganti dengan sebuah kertas putih besar. Sebenarnya tidak putih karena sudah banyak jejak tangan dan kaki berwarna-warni disana. Perhatian Kyungsoo kemudian teralih pada empat buah kaos yang dijemur di samping rumahnya. Terlihat gambaran-gambaran aneh terpapar di kaos-kaos tersebut.

"Apa ini?" tanya Kyungsoo yang kemudian terkikik geli.

"Eomma?" Taeoh terbangun.

Kyungsoo membalikkan badan dan melebarkan lengannya. Taeoh segera turun dari dekapan sang ayah dan memeluk Kyungsoo. Kyungsoo sendiri dengan gemas mencium kedua pipi gemuk dari anak lelakinya.

"Kau sudah pulang?" tanya Jongin dengan suara seraknya.

"Jelaskan padaku tentang semua ini, Appa." Ucap Kyungsoo.

"Eomma... jangan marah, huh?" Kyungsoo mengalihkan perhatiannya pada Taeoh yang berada pada pelukannya, "Tadi, Taeoh dan Appa melukis baju-baju itu. Tapi Taeoh belajar dulu di kertas ini. Sekarang bajunya ada disana, Eomma." Taeoh menunjuk jemurannya, "Appa bilang baju itu akan menjadi kering jika mereka dibiarkan disana."

"Aigoo..." Kyungsoo menggendong Taeoh dan duduk di samping Jongin, "Dari mana kau dapat kaos putih itu? Hm?"

"Aku membelinya beberapa hari yang lalu. Dan kebetulan kau sedang pergi jadi aku membuatnya bersama Taeoh. Karena aku pikir kau akan marah jika aku membuat rumah acak-acakan begini." Jongin tertawa, "Dia sangat bersemangat, kau tahu. Apalagi ketika dia tahu jika salah satu baju itu milik adik perempuannya."

Kyungsoo tertawa, "Benarkah? Taeoh menggambar baju itu untuk adik Taeoh?" tanyanya pada Taeoh yang sekarang duduk di pangkuan Jongin.

"EUNG! Baju yang paling kecil itu punya adik Taeoh. Appa bilang kalau nanti adik Taeoh bisa memakainya jika dia sudah keluar—"

Jongin dan Kyungsoo hanya bisa tertawa ketika anak lelakinya mengoceh. Bahkan sesekali Kyungsoo merasa gemas dengan cara bicara Taeoh yang masih belum bisa dibedakan mana 's' dan mana 't'. Pipi gemuknya yang berwarna-warni membuat Kyungsoo ingin mencubitnya hingga menangis—well, Kyungsoo tidak sesadis Jongin jika sedang gemas. Baiklah, meskipun Taeoh akhir-akhir ini menginginkan adik laki-laki seperti Taehyung dengan alasan bisa diajak bermain mobil-mobilan, tapi tampaknya ia tetap antusias jika adiknya lahir nanti; itu membuat Kyungsoo lega. Dan meskipun Jongin bertingkah seperti anak kecil, tapi Kyungsoo sadar jika ia tidak akan menemukan seseorang yang mau menerima dia apa adanya selain Jongin sendiri.

"Hei, tadi kenapa Taeoh menangis, huh?"

Taeoh mengerucutkan bibirnya, "Karena Appa mengecat pipi Taeoh!" jawabnya yang membuat Jongin dan Kyungsoo tertawa terbahak-bahak.

.

.

.

END.


give me suggestions buat nama adik Taeoh dong~